Anda di halaman 1dari 15

STATISTIK HUKUM

Oleh :
DADIN E. SAPUTRA,S.H.,M.HUM

BAB I
ARTI DAN KEGUNAAN STATISTIK BIDANG HUKUM
A. PENDAHULUAN
Jumlah pelanggaran hukum daam berbagai bidang seperti dalam bidang ekonomi :
penyelundupan, pencurian, perampokan, penipuan (kredit macet), lalu lintas (melanggar
rambu-rambu lalu lintas, SIM sudah kadaluarsa, sopir lupa membawa SIM dan STNK),
pelanggaran politik, sosial budaya/etika, menunjukkan kecenderungan yang meningkat.
Statistik bidang hukum berkenaan dengan aspek kuantitatif dari peristiwa-peristiwa
hukum seperti jumlah pelanggaran lalu lintas, jumlah pelanggaran menurut tingkat
pendidikan para pelanggar, berapa persen pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sarjana
hukum yang nota bene sudah tahu tentang hukum, di mana (secara geografis) terjadi banyak
pelanggaran hukum, di bidang apa saja (ekonomi, lalu lintas, politik, sosial budaya).
Dalam beberapa contoh Nyata peristiwa hukum :
1. Perampokan Dan Pembunuhan (Suara Pembaruan, 20/2/1994). In Casses Di
Balik Perampokan Rumah Bos Cordova Motor.
Tiga oknum Polresta Surabaya Selatan terpaksa diamankan. In casses tiga oknum yang
bersangkutan kena tipu oleh penjahat yang diketahui sebagai pembunuh Ny. Suratmin
(57) pembantu rumah tangga di kediaman Adi Pranoto (50) di komplek perumahan
yayasan Kas Pembangunan (YKP), Jalan Rungkut Kidul, Sby, Rabu, siang.
Cerita berawal ketika salah seorang dari tiga pelaku pembunuhan ini yang
mengaku sebagai SDR alias SAN berupaya membawa harta benda Adi Pranoto
pemilik show room Cordova Motor Sby. Pelaku yang agak kesulitan membawa
barang jarahannya terpaksa memisahkan diri dengan dua rekannya untuk
mencarter taksi angkutan serba guna (Angguna)yang kebetulan mangkal di dekat
Perumahan YPK depan sebuah pasar swalayan (supermarket).
Tanpa menawar ongkos yang disodorkan pengemudi Angguna bernama
Muhammad Ali, SDR langsung menyetujui untuk membawa barang-barang hasil
kejahatannya ke arah Ngiden [daerah Sby].
Adalah Muhammad Ali pengemudi Angguna Nopol L-3218-AJ merasa heran
campur curiga. Pertama ongkos Rp 5.000,00 yang disodorkannya relatif mahal,
namun penumpangnya yang berambut gondrong tersebut langsung saja
menerimanya. Kedua, baru saja keluar dari rumah mewah di Komplek Perumahan
YKP, tempat penumpangnya yang membawa serta tiga buah tv, satu video-tape,
dan satu laser disc, terlihat resah dan bingung. Lelaki tersebut langsung
membatalkan tujuan semula ke arah Ngiden dan minta diantarkan langsung ke
Jalan Dinoyo. Ia pun tak bisa menolak. Selama dalam perjalanan, pengemudi taksi
Angguna yang sering nonton serial film action di televisi itu tanpa membuangbuang waktu mencoba mencari-cari, kalau-kalau ada petugas Polri sedang

berpatroli di jalan. Begitu melihat Koptu RML di pinggiran jalan, langsung saja ia
melaporkan kecurigaannya terhadap lelaki yang mencarter taksi Anggunanya.
Koptu RML tersebut langsung dengan sigap bertindak cekatan dan menanyai
SDR.
SDR yang berbdan tegap kendati mencoba tetap tenang mengakui, bahwa barangbarang miliknya itu akan diperbaiki (service) karena rusak, namun masih saja
terkesan gugup. SDR yang terjepit terpaksa tidak mampu menolak ketika Koptu
RML yang terlanjur curiga lalu mengajaknya ke rumah atasannya, Lettu (Pol)
UNT di Jalan Raya Trosobo dengan menumpang Angguna lain. Sedangkan
Muhammad Ali yang merasa was-was segera melaporkan kejadian yang baru
dialaminya ke Pos Polisi terdekat.
Muhammad Ali mengaku sangat terkejut setelah mengetahui bahwa di rumah Adi
Pranoto, tempat keluarnya lelaki yang mencarter taksi Anggunanya di siang
bolong, ternyata menjadi korban perampokan. Ketika ia diajak petugas kepolisian
bertandang ke rumah korban, terlihat di rumah tempat keluarnya SDR sudah
dipadati petugas kepolisian. Ia semakin terkesima setelah diberi penjelasan bila
kasus perampokan siang bolong itu juga meminta korban jiwa seorang pembantu
rumah tangga.
Setiba di rumah Lettu (Pol) UNT, SDR yang dikawal Koptu RML tetap
memberikan pengakuan yang sama. Lebih dari itu ia bersedia pulang ke rumah
guna mengambil surat-surat asli dari barang-barang yang dibawanya sebagai
bukti, bahwa tiga pesawat teve dan satu video tersebut bukan hasil dari kejahatan.
UNT yang sehari-hari bekerja pada divisi Logistik merasa kurang profesional
dalam menangani masalah kriminal. Ia yang kebetulan bertetangga dengan Letda
(Pol) HER mencoba meminta pendapat rekannya yang dipastikan lebih
berpengalaman darinya.
Letda (Pol) HER berembuk dan bersepakat dengan Lettu (Pol) UNT agar SDR
diambil fotonya dan baru kemudian dipersilahkan pulang mengambil surat-surat
bukti pemilikan atas barang-barang yang dibawanya. Foto-foto SDR tersebut
mereka maksudkan untuk memudahkan pencarian apabila lelaki yang dicurigainya
tersebut ternyata kabur. Sekian lama ketiga oknum tersebut menunggu. Akan
tetapi SDR tidak juga kembali membawa surat-surat bukti pemilikan barangbarang elektronika yang diamankan sementara di rumah Lettu (Pol) UNT. Baik
Lettu (Pol) UNT, Lettda (Pol) HER, dan Koptu (Pol) RML baru menyadari
terkecoh mentah-mentah tersangka SDR setelah beberapa petugas Provost Polwil
Tabes SBY menciduk mereka untuk didengar kebenarannya.
Secara terbuka baik Lettu (Pol) UNT, Lettda (Pol) HER, dan Koptu (Pol) RML
menyatakan keterangan senada. Ketiganya mengaku mencurigai tersangka SDR
namin apa boleh buat mereka terlanjur melepaskan SDR guna menangambil suratsurat buku pemilikan yang diakui tersangka masih tertinggal dirumahnya. Mereka
bertiga mengaku lalai namun demikian mereka masih sempat mengambil foto
SDR untuk memudahkan pelacakan dan penangkapan.
2. Kredit Macet (Bidang Ekonomi/Perbankan), Suara Pembaruan 23/2/94.

Kredit bermasalah Kanindo group yang dipimpin Tjahyadi yang mencapai jumlah Rp 1,5
triliun ternyata lebih besar dari kredit macet Golden Key Group pemimpin Eddy Tansil
senilai Rp 1,3 triliun, demikian dikatakan anggota Komisi VI DPR, Ir.
Bambang warih Kusuma.
Bambang Warih Kusuma mengatakan untuk pembangunan pabrik tenun sekitar Rp
650.000,- spindel (mata pintal) raja tekstil Indoensia, Robby Tjahyadi tersebut pernah
meminjam uang dari Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) sebesar Rp 900 miliar
(US$ 450 juta). Setelah jumlah tersebut macet, Robby Tjahyadi melalui seseorang
yang tidak tahu masalah tekstil, menambah lagi pinjaman sebesar US$ 300 jt (sekitar
Rp 600 miliar). Ir Bambang Warih Kusuma mengatakan hal itu kepada wartawan di
gedung DPR Senayan Jakarta, hari selasa. Pinjaman tersebut seharusnya untuk
menambah memperbaiki performance pabrik tekstil. Tetapi ternyata judtru digunakan
untuk mengembangkan usaha di bidang industri properti seperti hotel (Papandayan
dan Century Park) yang juga mengalami kerugian.
saya akan membuktikan ucapan ini smpai ke pengadilan sekalipun. Sebab ini
menyangkut uang negara sehingga pemerintah harus segera menangani secara serius
dan sungguh-sungguh, ujarnya.
Ia menjelaskan pinjaman total Kanindo Group sudah lebih dari kredit macet Eddy
tansil (Golden key Group) yaitu sekitar Rp 1,5 triliun. Sayangnya pinjaman itu tidak
digunakan untuk memberesi pabrik tekstil, tetapi membangun usaha baru di bidang
properti. Angota Komisi yang membidangi perindustrian, pertambangan dan energi
ini menjelaskan karena prospek pabrik tekstil Kanindo ini jelek sehingga dibeli
(akuisisi) 70% dari mayatexdian, yang hanya memiliki sekitar sekitar 30.000 spinder
(mata pintal) dibandingkan dengan milik Robby Tjahyadi sebesar 650.000,-.
kalau Mayatexdian yang hanya memiliki 5% dari total mata pintal itu consulidated
ke Kanido karena mayatexdian sudah 100% go public. Robby Tjahyadi bisa
mengeluarkan lagi right issue dan saham emisi sebesar 95%. Masalahnya, kredit
macet sebesar Rp 900 miliar itu akan ditutup dari mana? Duit masyarakat ini yang
akan di apusi besar-besaran 49% asing (dana asing) dan 51% nasional, tandasnya.
Dikatakan hal ini akan menjadi skandal nasional dan menyebabkan pasar bursa kita
rontok karena semua sistem akan berantakan. Menurut Bambang yang paling bagus
adalah Kanindo harus mengganti manajemennya. sudah waktunya industri-industri
nasional yang besar itu melakukan asset and management reform. Kalau memang
mau menyelamatkan negara ini. Jangan lagi ditangani pera spekulan. Tetapi serahkan
kepada para profesional. Karena di tangan merekalah industri di tanah air maju dan
berkembang pesat, tandasnya.
Ia mencontohkan Astra diselamtkan oleh tangan-tangan profesional misalnya Tedy
Rachmat, Rusdianto, dan masih banyak lagi tenaga profesional lainnya. mengenai
perusahaan Robby Tjahyadi yang ada di Meksiko, katanya memang mengalami
kerugian karena tidak mampu bersaing dengan Korea. Karena dia menjual benangnya
dengan harga 1,80 US$ per kilo sedangkan Korea memasarkan benangnya dengan
harga 1,64 US$ per kilo.
saya sudah melihatnya ketika ke New York, Meksiko saya jamin dalam satu hari dia
mengirim 20 kontainer. Nyata-nyata dalam satu bulan hanya bisa mengirim 2
kontainer, tandas Bambang.

Anggota Komisi VI itu mengatakan ia memiliki data tentang maslaah tersebut. Ia


mengharapkan kepada pemerintah agar masalah-masalah yang berkaitan dengan
perusahaan Robby Tjahyadi harus diselesaikan seperti halnya Eddy Tansil. Tujuan
utamanya adalah menyelamatkan uang negara yang juga merupakan uang rakyat demi
suksesnya pembangunan nasional, ujar Bambang.
tetapi sudah kami selesaikan pada kahir tahun 1993 lalu, kata Hakim Wijaya [Wakil
Presiden PT. Kanindo Group]. Hakim selanjutnya dengan tegas mengatakan bahwa
dia menjamin, Kanindo tidak benar terlibat kredit macet di bapindo sebesar Rp 200
miliar. Berulangkali Hakim meyakinkan, kreditnya di Bapindo tidak mengalami
kemacetan. jika kredit kami macet, pasti ada surat teguran dari bank yang
bersangkutan atau dari Bank Indonesia. Nyatanya sampai saat ini kami tidak
menerima surat semacam itu, kata Hakim. Dalam kesempatan itu ia juga
menjelaskan bahwa karena bisnis yang dikelola Robby Tjahyadi saat ini cukup sukses
dan mudah memperoleh pinjaman kredit, maka banyak pihak yang usil dan sering
mengkaitkannya dengan Mbk Tutut.
3. Kematian Para Pelaku Kejahatan (Harian Republika, 3/3/1994)
Sampai hari Jumat, 25 Pebruari 1994, sudah hampir 20 orang pelaku kejahatan tewas
ditembak polisi di wilayah Polda Metro Jaya, sehingga menggenapi angka kematian
mereka sejak awal 1992, menjadi tidak kurang dari 134 orang yang mati diterjang
peluru polisi.
Dalam tahun 1993 sedikitnya 82 penjahat ditembak. Tindakan tegas yang diambil
Polri bukan karena polisi bertindak diluar kewenangannya melainkan berdasarkan
beberapa prinsip dan pertimbangan yang jelas. Pertimbangan-pertimbangan itu antara
lain : penjahat yang ditembak merupakan musuh masyarakat, penembakan sudah
secara teknis benar dan tdak mengandung unsur sadisme, dibenarkan menurut
hukum, serta untuk menyelamatkan diri dari ancaman yang membahayakan petugas.
Agaknya sikap dan tindakan penembakan yang sebagian mengakibatkan kematian
pelaku kejahatan memang sudah menjadi bagian dari kebijaksanaan penanggulangan
kejahatan oleh polri.
Dalam hubungan itu, diduga terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi langkahlangkah pemberantasan kejahatan melalui cara tersebut, antara lain: meningkatnya jenis-jenis
kejahatan tertentu secara menyeluruh , khusus di wilayah hukum Polda Metro Jaya kenaikan
jenis-jenis kejahatan terhadap harta benda dan kejahatan dengan kekerasan.
Sementara itu proses peradilan pidana yang diharapkan dapat bekerja menghadapi
tantangan perkembangan kejahatan tidak memadai, oleh karena memerlukan prosedurprosedur hukum yang tidak seimbang dengan laju pertumbuhan kejahatan. Penembakanpenembakan terhadap penjahat jelas menunjukkan kecenderungan kian sulitnya polisi untuk
lebih berperan dalam bidang penegakkan hukum (law enforcement) sehingga lebih memilih
penggunaan kekerasan dalam rangka pelaksanaan fungsi polisi sebagai pemeliharaan
ketertiban (order maintenance).

Pengutamaan peran order maintenance dengan segala aspek diskresi kepolisian (


diskresi adalah suatu kekuasaan atau wewenang yang dilakukan berdasarkan hukum atas
pertimbangan dan keyakinan serta lebih menekankan pertimbangan-pertimbangan moral dari
pada pertimbangan hukum.1 Diskresi menyangkut pengambilan keputusan yang tidak sangat
terikat oleh hukum, di mana penilaian pribadi juga memegang peranan. Diskresi kepolisian
adalah suatu wewenang menyangkut pengambilan suatu keputusan pada kondisi tertentu atas
dasar pertimbangan dan keyakinan pribadi seorang anggota kepolisian. 2 Menurut Prof.
Satjipto Raharjo, tindakan diskresi oleh polisi dibatasi oleh :
a. Asas keperluan, bahwa tindakan itu harus benar-benar diperlukan
b. Tindakan yang diambil benar-benar untuk kepentingan tugas kepolisian
c. Asas tujuan, bahwa tindakan yang paling tepat untuk meniadakan suatu gangguan
atau tidak terjadinya kekhawatiran terhadap akibat yang lebih besar
d. Asas keseimbangan, bahwa dalam mengambil tindakan harus diperhitungkan
keseimbangan antara sifat tindakan atau sasaran yang digunakan dengan besar
kecilnya gangguan atau berat ringannya suatu obyek yang harus ditindak. ), termasuk
penggunaan kekerasan, tentu mempunyai konsekuensi-konsekuensi tertentu, paling
tidak meliputi :
Pertama, adanya pelanggaran atas prosedur-prosedur tetap di lingkungan intern
Kepolisian, Kode Etik Polri (Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indoensia
Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik
Indonesia, maupun asas-asas serta prosedur yang berlaku menurut Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Kedua, timbulnya cerita tentang tidak memadainya sumber daya kepolisian dalam
menghadapi kecenderungan peningkatan kejahatan yang seharusnya dihadapi dengan
peningkatan kapasitas kelembagaan Polri serta profesionalisme individual anggota
polri juga fungsionalisme optimal unsur-unsur organisasinya.
Ketiga, mendorong tumbuhnya reaksi kekerasan dari para pelaku kejahatan, dalam
arti derajat kekerasan yang dilakukan oleh pelaku kejahatan akan meningkat
sebanding dengan kualitas ancaman kekerasan yang dijalankan atau diantisipasikan
akan dilakukan oleh para penegak hukum.
Di dalam praktek seringkali terjadi, rakyat kecil sering menjadi korban hukum
misalnya, seperti contoh di atas karyawan mogok karena diperlakukan tidak adil, upah
mereka masih di bawah upah minimum, tetapi mereka di tahan atau dipecat atau bahkan
mungkin di penjara karena disalah kan melanggar peraturan. Para petani menuntut ganti
rugi tanah yang akan dipergunakan untuk membuat lapangan golf, yang dihargai terlalu
rendah, maka protes, berdemonstrasi, dengan tujuan agar harga tanah mereka dinaikkan akan
tetapi, sebaliknya mereka di tahan, diintimidasi, dipersalahkan melanggar peraturan bahwa
demonstrasi di larang atau lupa meminta ijin untuk berdemonstrasi. Berapa kali hal seperti ini
terjadi ?
1 M. Faal, Penyaringan Perkara Pidana Oleh Polisi (Diskresi Kepolisian), Pradnya Paramita,
Jakarta, 1991, hlm. 23.

2 F. Anton Susanto, Kepolisan dalam Upaya Penegakan Hukum di Indonesia, Rineka


Cipta Jakarta., 2004, hlm. 12

Contoh-contoh peristiwa seperti di atas merupakan contoh aspek kuantitatif di dalam


bidang hukum yang berkenaan dengan angka-angka yang bisa berupa jumlah, rata-rata,
persentase, seperti jumlah pelanggaran, rata-rata pelanggaran yang dilakukan per
pelanggar, persentase pelanggar yang sudah dikenakan sanksi hukum, persentase keputusan
pengadilan yang salah (dalam contoh)3.
1. Peristiwa Karta & Sengkon melalui Putusan MA No. 6 PK/Kr/1980 tanggal 31
Januari 1981 (putusan Sengkon dan Karta) yang dalam amarnya menghukum
Sengkon bin Yakin dan Karta al. Karung al. Encep bin Salam bersalah
melakukan tindak pidana pembunuhan (doodslag) terhadap Sulaiman bin
Nasir dan Siti Haya binti Abu dengan alasan/latar belakang suatu perbuatan
rasa kesal, tidak puas ataupun sakit hati karena tersangka bermaksud pinjam
uang sebesar Rp 5.000,00 akan tetapi di tolak/tidak diberikan dan hanya
diberikan uang sebesar Rp 500,00 yang diancam dengan hukuman menurut
Pasal 338 KUHP sehingga menjatuhkan hukuman penjara masing-masing 12
(dua belas) tahun dan 7 (tujuh) tahun, kemudian diperkuat dengan putusan
Pengadilan Tinggi Bandung tanggal 25 Mei 1978 No. 38/1978/Pid/PTB yang
dalam amar putusannya menyatakan tertuduh Sengkon bin Yakin dan Karta al.
Karung al. Encep bin Salam dengan hukuman penjara masing-masing 12 (dua
belas) tahun dan 7 (tujuh) tahun. Dalam bagian pertimbangannya bahwa
Putusan Pengadilan Tinggi Bandung tersebut telah diberitahukan kepada Para
Pemohon Peninjauan Kembali/Para Terhukum pada tanggal 13 Oktober 1978
dan oleh karena para Pemohon/Para Terhukum tidak mengajukan permohonan
untuk pemeriksaan tingkat kasasi, maka Putusan Pengadilan Tinggi Bandung
tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap [in kracht van de rechten].
Kemudian tertanggal 9 November 1980 No.52/BHP/K/XII/80 dari kuasa
pemohon Peninjauan Kembali H. Sumrah,S.H., dan Murtani,S.H. yang dalam
hal ini Mahkamah memutuskan dalam amarnya diputuskan tanggal 24 Januari
1981 MEMUTUSKAN :
a. Menerima permohonan peninjauan kembali dari pemohon Sengkon
bin Yakin dan Karta bin Salam tersebut;
b. Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung tanggal 25 Mei
1978 No.38/1978/Pid/PTB, dan putusan Pengadilan Negeri Bekasi
tanggal 20 Oktober 1977 tersebut; dan MENGADILI SENDIRI :
c. Menyatakan kesalahan Sengkon bin Yakin dan Karta bin Salam
tersebut atas tuduhan tidak terbukti secara sah;
d. Membebaskan mereka oleh karena itu dari segala tuduhan tersebut;
e. Memerintahkan agar barang-barang bukti tiga buah golok dan
beberapa pentungan dari kayu dikembalikan kepada yang berhak;
f. Membebankan biaya perkara dalam semua tingkat peradilan
kepada Negara.
Hal mana putusan ini diberikan, dalam pertimbangannya disebutkan :
Ad.a : dengan terdapatnya dua keputusan oleh Pengadilan Negeri yang sama
kemudian, atas kejahatan yang mengakibatkan matinya seseorang, telah
didapatkan keadaan yang dinyatakan terbukti oelh Pengadilan Negeri Bekasi
dengan putusannya No.2/KTS/Bks 1977 tanggal 20 Oktober 1977 yang
dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Bandung No.38/1978/Pid/PTB tanggal 25
Mei 1978 atas diri terhukum Sengkon bin Yakin dan Karta bin Salam, yang
3 Adami, Chazawi, 2010, Lembaga Peninjauan Kembali (PK) Perkara Pidana : Penegakan Hukum
dalam Penyimpangan Praktik dan Peradilan Sesat, Sinar Grafika, Jakarta, hlm.198-229.

ternyata bertentangan dengan putusan Pengadilan Negeri Bekasi


No.6/1980/Pid/PN Bks tanggal 15 Oktober 1980 dan Putusan Pengadilan
Negeri Bekasi No.7/1980/Pid/PN Bks tanggal 13 November 1980, masingmasing terhadap terhukum :
g. Gunel bin Kuru
h. Siih bin Siin
i. Warnita bin Jaan
Dan terhukum :
j. Elli bin H. Senam
k. Nyamang bin Naing
l. Jabing bin H. Paih
Ad.b : terdapat pengakuan dari Gunel bin Kuru, Siih bin Siin, Warnita
bin Jaan, dan Elli bin H. Senam, Nyamang bin Naing, M. Cholid bin H. Nair
dan Jabing bin H. Paih dalam perkara masing-masing No.6/1980/Pid/PN Bks
tanggal 15 Oktober 1980 dan No.7/1980/Pid/PN.Bks tanggal 15 November
1980, bahwa merekalah yang terlibat dalam perbuatan kekerasan yang
mengakibatkan matinya Sulaiman dan istrinya, putusan-putusan pengadilan
negeri tersebut di atas dijatuhkan sesudah adanya putusan terhadap Sengkon
bin Yakin dan Karta bin Salam di mana mereka dipersalahkan melakukan
perbuatan-perbuatan kekerasan di tempat dan waktu yang sama mengenai
korban yang sama, pengakuan yang dilakukan oleh Gunel dan kawan-kawan,
dan Elli dan kawan-kawan tersebut diakui sebagai novum seperti yang
dimaksudkan dalam Pasal 9 ayat (1b) Peraturan Mahkamah Agung No.1 Tahun
1980 sehingga pengakuan-pengakuan itu apabila diketahui pada waktu sidang
dalam perkara Sengkon bin Yakin dan Karta bin Salam masih berlangsung,
akan menimbulkan persangkaan yang kuat bahwa putusan yang akan
dijatuhkan terhadap Sengkon bin Yakin dan Karta bin Salam akan
mengandung pembebasan mereka dari segala tuduhan.
Menimbang, bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas putusan
Pengadilan Tinggi Bandung tanggal 25 Mei 1978 No.38/1978/Pid/PTB dan
putusan Pengadilan Negeri Bekasi tanggal 20 Oktober 1977
No.2/KTS/Bks/1977 harus dibatalkan, dan Mahkamah Agung mengadili
sendiri;
2. Peristiwa yang menimpa David Eko Priyatno dan Imam Chambali melalui
putusan Pengadilan Negeri Jombang No.48/Pid.B/2007PN Jmb dan
No.49/Pid.B/2007/PN Jmb masing-masing tanggal 8 Mei 2008 dalam perkara
atas Pasal 340 KUHP (Pembunuhan yang di rencanakan terdahulun), yang
dalam amarnya memutuskan mempidana Imam 17 (tujuh belas) tahun penjara
dan mempidana Devid 12 (dua belas) tahun penjara. Dalam putusan MA No.89
PK/PID/2008 dan No.90 PK/PID/2008 masing-masing tanggal 3 Desember
2008 dengan amarnya yang MEMUTUSKAN membebaskan oleh karena itu
kepada Terpidana dari segala dakwaan, memulihkan hak Terpidana dalam
kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya.
Dalam pertimbangannya Mahkamah Agung :
Ad.1 : bahwa alasan peninjauan kembali tersebut dapat dibenarkan,
oleh karena Judex Factie (Pengadilan Negeri) salah menerapkan hukum,
dengan pertimbangan sebagai berikut :
a. Adanya bukti-bukti PK-4, PK-13, dan PK-14, yang menjelaskan
bahwa korban mati yang digali dari kebun rumah Ryan ternyata

dari hasil sampel darah adalah anak pasangan Dwi Mentari dan
Djalal yang bernama Asrori;
b. Korban yang dikebun tebu adalah anak dari pasangan Suyati yang
bernama Suyatno;
c. Terdakwa didakwa telah melakukan pembunuhan terhadap Asrori
sedangkan dalam kasus perkara itu kemudian ditemukan
tersangka yang mengakui bernama Ryan adalah pelakunya,
sebagaimana terangkum dalam bukti-bukti (PK-6, PK-7, dan PK8);
d. Sesuai bukti-bukti PK-9, PK-10, PK-11, dan PK-12 ternyata mayat
yang ditemukan oleh masyarakat teridentifikasi bernama Moh.
Asrori sebagai korban pembunuhan Ryan, sedangkan kemudian
ternyata korban mati yang dikebun tebu adalah Fauzin Suyanto
alias Antonius.
Bidang apapun, sepanjang itu menyangkut angka yaitu aspek kuantitaifnya, temasuk
bidang hukum, memerlukan pengetahuan statistik baik dalam arti sempit sebagai data
ringkasan (jumlah, rata-rata, persentase) maupun dalam arti luas sebagai ilmu yang
mempelajari cara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data termasuk cara
pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian (uncertainty)
berdasarkan konsep probability.
B. BEBERAPA HAL TENTANG PENGERTIAN HUKUM
Dalam hal ini sebatas membahas beberapa hal/segi hukum yang bisa dikuantitatifkan,
seperti jumlah pelanggaran menurut bidang yang dilanggar (ekonomi, politik, sosial budaya,
perburuhan/tenaga kerja, lalu lintas).
1) Tiada Kemungkinan Dibuat Definisi Tentang Hukum
Apa sebetulnya hukum itu ? Inilah pertanyaan pertama yang seharusnya dikemukakan
oleh mereka yang mulai mempelajari hukum.
Menurut Van Apeldoorn tidak mungkinlah dibuat definisi mengenai hukum. Hukum
mengatur hubungan anggota masyarakat yang seorang dengan yang lain, begitu pula
hubungan antara anngota itu dengan masyarakat.
Hukum merupakan gejala kemasyarakatan, gejala sosial. Jadi, agar ada hukum maka
perlu ada masyarakat orang. Bilamana tiada masyarakat orang, maka tentu tidak akan ada
hukum. Sebab, hubungan yang diatur hukum ada seribu satu macam, dan demikian juga
halnya dengan segi-segi hukum itu, maka tidak mungkinkah dibuat definisi yang meliputi
segala segi hukum.
2) Hukum Sebagai Gejala Sosial
Dari sejak lahir sampai meninggal dunia, manusia itu hidup di tengah manusia lain,
yakni setiap manusia dalam pergaulan dengan yang lain. Manusia adalah anggota masyarakat.
Telah pada zaman kuno seorang filsuf bangsa Yunani, yaitu Aristoteles, berkata manusia itu
zoon politicon, makhluk yang bergaul.
Masing-masing anggota masyarakat mempunyai kepentingan yang berbeda dan
kepentingan mereka sering bertentangan. Misalnya, kepentingan penjual dan kepentingan
pembeli berbeda. Kepentingan penjual itu mendapat pembayaran, kepentingan pembeli ialah

supaya barang yang dibeli diserahkan kepadanya begitu juga dengan kepentingan majikan
dengan kepenntingan karyawannya.
Pertentangan antara kepentingan manusia dapat menimbulkan kekacauan dalam
masyarakat, yaitu bilamana dalam masyarakat tiada kekuasaan yaitu tata tertib yang dapat
menyeimbangkan usaha-usaha yang dilakukan masing-masing pihak supaya memenuhi
kepentingan mereka yang bertentangan itu.
Sebagai gejala sosial, hukum itu berfungsi yaitu melakukan tugas tertentu dalam
masyarakat. Terutama hukum itu berusaha memberi jaminan bagi seseorang bahwa
kepentingannya diperhatikan oleh setiap orang lain. Misalnya, Pasal-pasal 1474 dan 1513
KUH Perdata, ketentuan pertama memberi jaminan bagi pembeli bahwa barang yang telah
dibeli akan diserahkan kepadanya. Ketentuan kedua pembayaran membawa jaminan bagi
penjual bahwa ia akan menerima pembayaran. Kedua kepentingan itu disetarakan, sehingga
masing-masing pihak merasa puas.
3) Hukum Sebagai Segi Kebudayaan
R.H. Lowie membuat suatu definisi tentang kebudayaan sebagai berikut :
In the scientific sense culture.... mean (s)... the whole of social tradition. It
includes, as the great anthropologist of society. Culture includes all these
capabilities and habits in contrast to these numerous traits acqured otherwisw,
namely by biological heredity.
Teranglah sebagai gejala sosial maka hukum menjadi suatu aspek dari kebudayaan.
Seperti halnya dengan agama, kesusilaan, adat-istiadat dan kebiasaan yang masing-masing
menjadi anasir-anasir kebudayaan kita. Sebagai anasir kebudayaan maka hukum juga
memperlihatkan sifat dan corak kebudayaan yang bersangkutan.
4) Hukum Sebagai Kaidah (Norma)
Sebagai kaidah (norma) hukum dapat dirumuskan sebagai berikut : Hukum adalah
himpunan petunjuk hidup, perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam sesuatu
masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh karena
pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau
penguasa masyarakat itu.
Ternyata dari definisi yang disebut tadi, maka hukum sebagai kaidah bermaksud
mengatur tata tertib masyarakat. Di situlah tampak apa yang menjadi tanda hukum, yaitu
perintah atau larangan yang setiap orang seharusnya mentaatinya. Untuk itu orang wajib
bertindak (berkelakuan) demikian sehingga tata tertib masyarakat tetap terpelihara. Hukum
membuat bermacam-macam petunjuk yang menentukan sikap orang yang satu terhadap yang
lain. Hukum terdiri atas kaidah-kaidah yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat.
Hukum merupakan suatu himpunan kaidah-kaidah, dan kaidah-kaidah itu bermacammacam tetapi merupakan kesatuan pula : kamu tidak boleh mencuri barang milik orang lain
(yaitu kaidah yang tersimpul dalam pasal-pasal 362 dan yang berikutnya KUHPidana;
tersimpul juga dalam agama, dalam kesusilaan); jika kamu membeli barang maka harus
membayarnya (yaitu kaidah yang tersimpul dalam pasal-pasal 1513 KUHPerdata,
tersimpul juga dalam kesusilaan).
Tetapi tidak semua orang cenderung mentaati kaidah-kaidah itu. Agar sesuatu
petunjuk hidup ditaati, yaitu menjadi kaidah, maka petunjuk hidup itu harus dilengkapi atau
diperkuat dengan anasir yang memaksa. Kaidah adalah petunjuk hidup yang memaksa.
5) Pengaruh Agama, Kebiasaan atau Adat Istiadat dan Kesusilaan Atas Hukum

Kesusilaan ialah semua kaidah yang ada di dalam pergaulan kemasyarakatan dan
tidak merupakan hukum, kebiasaan atau adat-istiadat, dan agama. Perlu ditegaskan bahwa
susila tidak memuat penilaian tentang sesuatu, yaitu tidak mengatakan sesuatu itu baik
atau buruk. Seringkali pengaruh agama atas hukum yang berlaku pada suatu waktu dalam
sebuah masyarakat, besar sekali. Demikian juga terdapat beberapa kaidah agama yang berasal
dari agama Islam.
Hukum itu dapat juga dipengaruhi oleh kebiasaan atau adat istiadat yang diterima oleh
masyarakat. Biasanya sebagian kebiasaan dan adat lama-kelamaan menjadi hukum apabila
telah dicantumkan dalam keputusan penguasa masyarakat. Terutama bagi Indonesia.
Kebiasaan baru yang timbul dalam proses modernisasi sosial, menjadi sangat penting
untuk proses pembentukan hukum.
Suatu kebiasaan kadang-kadang dianggap lebih kuat daripada suatu kaidah yang telah
tercantum dalam suatu peraturan perundang-undangan. Juga menurut kesusilaan lebih kuat
daripada hukum. Dengan kata lain seringkali pelanggaran kesusilaan dirasa oleh pelanggar
lebih pedih daripada akibat suatu pelanggaran hukum, ex ; mengganggu orang lain apalagi
itu kawannya sendiri.
6) Sanksi Atas Pelanggaran Kaidah
Yang dimaksud dengan sanksi ialah akibat sesuatu perbuatan atau reaksi dari pihak
lain (manusia atau organisasi sosial) atau sesuatu perbuatan. Misalnya : pengemudi A kurang
berhati-hati sehingga mobilnya menabrak mobil B, yang telah diparkir di pinggir jalan, dan
karena itu mobil B rusak. Yang menjadi sanksi adalah untuk selanjutnya A dilihat oleh umum
sebagai seorang pengemudi yang tidak cakap dan dalam hal A itu seorang pengemudi taksi,
ada kemungkinan banyak orang tidak mau memakai taksinya. Bagi seorang yang ahli dan
pelajar hukum timbul pertanyaan : apakah pelanggaran sesuatu kaidah sosial dapat
dihukum (dipidana) atau tidak?.
7) Menurut Beberapa Sarjana Hukum Maka Hukum Bukanlah Suatu Himpunan
Kaidah-Kaidah
Sudah nyata dari apa yang dikatakan di atas ini, hukum itu suatu himpunan kaidahkaidah, yaitu himpunan yang terdiri dari atas bermacam-macam petunjuk hidup yang
memaksa orang berkelakuan menurut tata tertib yang ada dalam masyarakat.
Menurut HAMAKER : hukum itu suatu bukan suatu himpunan kaidah-kaidah, bukan
suatu himpunan peraturan-peraturan yang memaksa orang berkelakuan menurut tata tertib
masyarakat, tetapi suatu himpunan peraturan-peraturan yang menunjuk kebiasaan orang
dalam pergaulannya dengan orang lain di dalam masyarakat itu.
8) Tujuan dari hukum : hukum sebagai alat pengayoman
Kita boleh bertanya : apakah tujuan dari hukum itu?, pertanyaan ini tidak mudah
orang menjawabnya. Menurut Van Apeldoorn, maka tujuan hukum itu mengatur tata tertib
masyarakat secara damai dan adil. Anggapan ini boleh disebut suatu jalan tengah di antara
dua pendapat lain.
Anggapan yang pertama ialah suatu suatu pendapat yang semata-mata berdasarkan
etika (ethics). Menurut pendapat ini hukum bertugas hanya membuat adanya keadilan. Yang
mula-mula membuat anggapan ialah Aristoteles dalam buah pikirannya Ethica
Nicomacheia dan Rhetorica. Menurut orang filsuf Yunani kuno ini maka hukum
mempunyai tugas yang suci, yaitu memberi kepada setiap orang apa ia berhak menerima.
Tetapi anggapan semacam itu tidak mudah diselenggarakan, maklum tidaklah mungkin
dibuat peraturan hukum sendiri bagi tiap-tiap orang sendiri. Sebab, itu pula dilakukan hukum

harus memuat peraturan umum. Kaidah hukum tidak diadakan untuk menyelesaikan
hanya satu perkara yang tersendiri. Kaidah hukum tidak menyebut nama seorang tertentu.
Kaidah hukum hanya mampu membuat suatu klasifikasi tertentu atas suatu kategori
tertentu, misalnya perempuan yang sudah kawin, anak yang masih di bawah umur,
hutang yang belum dibayar, barang yang diambil orang tanpa pengetahuan pemilik
barang itu, dsb. Demikian hukum itu harus tetap berguna. Agar tetap berguna, maka hukum
itu harus mengorbankan sedikit keadilan.
Anggapan kedua, diantaranya yang terkenal adalah anggapan BENTHAM ialah suatu
pendapat menuju ke arah barang apa yang berguna. Anggapan ini, yang mengutamakan
utilitas (apa yang berguna), disebut dengan teori utilitas. Menurut teori ini maka hukum
bertujuan mewujudkan semata-mata apa yang berfaedah bagi orang. Karena apa yang
berfaedah bagi orang yang satu mungkin merugikan orang lain, maka menurut pendapat ini
tujuan hukum dirumuskan sebagai berikut : hukum bertujuan menjamin adanya bahagia
sebanyak-banyaknya pada orang sebanyak-banyaknya. Kepastian oleh karena hukum bagi
individu adalah tujuan utama dari hukum. Dimana letak asas keadilan?
Sebagai alat pengayoman maka hukum itu melindungi masyarakat dan individu
terhadap perbuatan-perbuatan yang mengganggu tata tertib masyarakat, yang dilakukan oleh
individu-individu lain atau pemerintah sendiri (penyalahgunaan wewenang yang dilakukan
oleh para petugas negara) maupun pemerintah asing (agresi atau subversi yang dilakukan
oleh sesuatu pemerintah asing). Sebagai alat pengayoman maka hukum itu harus berusaha
menjadikan tiap-tiap anggota masyarakat suatu manusia yang berguna, tugas mengayomi
meliputi tugas menjadikan (dalam arti : mendidik orang menjadi manusia baik).
Tujuan pidana penjara ialah pemasyarakatan. Dari rumus ini terang bahwa tidak saja
masyarakat diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana, melainkan juga
orang yang telah tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai
warga yang berguna di dalam masyarakat.
9) Hukum Positif Dan Hukum Alam
Hukum Positif atau Hukum Berlaku yaitu hukum yang berlaku pada saat ini atau pada
saat yang tertentu di tempat tertentu.
Adakah hukum lain disamping hukum positif itu ? didunia barat pada masa yang
lampau ada ornag yang beranggapan selain dari hukum yang berlaku di dalam masyarakat
yang menjadi buatan manusia amsih ada hukum di alam yang berasal dari Tuhan, yaitu aturan
yang tercipta oleh Tuhan bersama-sama kodrat manusia. Hukum yang dicari di luar hukum
positif disebut dengan nama Hukum Alam. Hukum alam pada hakikatnya hanyalah
bayangan belaka mengenai suatu keadilan abadi, sedangkan hukum positif itu hukum
yang berlaku sungguh-sungguh.
10) Apa Sebab Maka Orang Mentaati Hukum? Kekuatan Dan Kekuasaan
Apa sebab hukum itu ditaati anggota masyarakat? Apakah sebabnya maka kita
mentaati hukum dengan sukarela, bahkan dalam hukum itu tidak sesuai dengan perasaan
hukum kita?
Ada bermacam-macam sebab maka maka ornag mentaati peraturan : sebagian
menerimanya, oleh karena peraturan itu benar-benar dirasanya sebagai hukum. Bagi
mereka peraturan itu sungguh-sungguh merupakan peraturan hukum. Mereka berkepentingan
sungguh-sungguh akan berlakunya peraturan tersebut, sebagai peraturan hukum.
Setengah orang lainnya menerima peraturan itu, oleh karena mereka merasa harus
menerimanya supaya ada ketentraman dalam masyarakat. Dengan demikian mereka
menganggap sebagai peraturan hukum. Jadi, disini ada penerimaan rasionil. Penerimaan

rasionil itu terjadi pula sebagai akibat adanya sanksi hukum, dan orang memilih supaya taat
saja daripada mendapat kesukaran akibat pelanggaran peraturan hukum. Akhirnya dapat
dikatakan bahwa sebagian kaidah-kaidah (sosial) ditaati karena ada paksaan (sanksi) sosial.
Misalnya : orang malu, orang takut, akan diejek orang lain atau dituduh orang lain sebagai
makhluk yang asosial.
Dari apa yang dikemukakan diatas maka ternyata bahwa bagi ilmu hukum ada dua
pengertian yang penting sekali, yaitu kekuasaan (authority) dan kekuatan (power).
kekuasaan itu pengertian hukum sedangkan kekuatan adalah pengertian politik.
Kekuatan adalah paksaan yang dilakukan suatu badan yang kedudukannya lebih
tinggi pada seseorang, biarpun orang itu belum menerima paksaan tersebut sebagai sesuatu
yang sah (sebagai bagian tata tertib hukum yang positif serta sesuai dengan perasaan
hukumnya. Kekuatan itu baru merupakan kekuasaan apabila diterima, oleh karena dirasa
sesuai dengan perasaan hukum orang yang bersangkutan, atau oleh karena badan yang lebih
tinggi itu diakui sebagai penguasa (authoritas, authority).
11) Pembagian Hukum Dalam Golongan-Golongannya
Walaupun tidak dapat dibuat suatu definisi tentang apa hukum itu, karena segiseginya banyak dan lapangannya luas sekali, masih juga dapat dibagikan hukum itu ke dalam
beberapa golongan, atau kategori berdasarkan beberapa ukuran.
a. Menurut jenisnya
Oleh karena itu sumbernya bermacam-macam, maka hukum itu dapat dibagi
dalam :
i.
Hukum undang-undang yaitu hukum yang tercantum dalam peraturan
perundangan-undangan.
ii.
Hukum kebiasaan dan hukum adat yaitu hukum yang terletak dalam suat
peraturan kebiasaan atau suatu peraturan adat istiadat, dan yang mendapat
perhatian dari para penguasa masyarakat (perhatian itu ternyata dari
keputusan para penguasa masyarakat itu).
iii.
Hukum traktat, traktat = perjanjian internasional, yaitu hukum yang
ditetapkan oleh negara-negara yang bersama-sama mengadakan suatu
traktat.
iv. Hukum jurisprudensi yaitu hukum yang terbentuk karena keputusan hakim.
v. Hukum ilmu yaitu hukum sebetulnya hanya saran-saran yang dibuat oleh
ilmu hukum dan yang berkuasa dalam pergaulan hukum. Jadi, hukum yang
terdapat dalam pandangan-pandangan ahli-ahli hukum yang terkenal dan
yang sangat berpengaruh.
Hukum undang-undang dan hukum traktat juga disebut hukum tertulis (written law).
Hukum undang-undang itu hukum tertulis kebiasaan, hukum adat, hukum jurisprudence dan
hukum ilmu disebut juga hukum tak tertulis (unwritten law). Sebagian hukum adat menjadi
hukum tertulis. Hukum kebiasaan itu ada dua macam : hukum kebiasaan nasional dan hukum
kebiasaan internasional.
b. Menurut Wilayah (lokal, nasional, internasional)
Oleh karena kadang-kadang satu hukum berlaku di wilayah beberapa negara,
maka di samping hukum nasional, yang hanya berlaku di wilayah satu negara saja,
ada juga hukum internasional.
c. Menurut Kekuatan Sanksinya
Menurut sanksinya maka hukum dapat dibagi dalam dua macam golongan,
yakni : hukum (yang bersifat) memaksa dan hukum (yang bersifat) mengatur
(dwingend recht atau regelend recht).

Hukum memaksa itu hukum yang dalam keadaan konkrit tidak dapat
dikesampingkan (disisikan) oleh perjanjian (kontrak) yang dibuat oleh kedua
belah pihak sendiri. Dengan kata lain hukum yang dalam keadaan bagaimanapun
juga harus ditaati, hukum yang mempunyai paksaan mutlak (absolut).
Hukum mengatur ialah hukum yang dalam keadaan konkrit dapat disisikan
oleh perjanjian yang dibuat oleh kedua belah pihak. Bilamana kedua belah pihak
dapat menyelesaikan soal mereka dengan membuat sendiri suatu peraturan, maka
peraturan hukum yang tercantum dalam pasal yang bersangkutan, tidak perlu
dijalankan. Maka hukum mengatur ialah hukum yang biasanya dijalankan,
bilamana kedua belah pihak tidak membuat sendiri suatu peraturan atau membuat
sendiri suatu peraturan tetapi tidak lengkap. Hukum mengatur disebut juga hukum
menambah.
Ex : KUHPerdata dan KUHDagang ----------- mengatur
KUHPidana ----------------------------------- memaksa
d. Menurut Isinya
Menurut isinya hukum itu biasanya dibagi dalam dua golongan yaitu hukum
publik dan hukum privat (sipil).
Hukum publik mengatur tata negara yaitu mengatur cara badan-badan negara
menjalankan tugas dan mengatur pula hubungan hukum yang diadakan antara
negara sebagai pemerintah dengan para individu atau yang diadakan antara
masing-masing badan negara itu.
Hukum privat mengatur tata tertib masyarakat mengenai famili (keluarga) dan
mengenai kekayaan para individu dan mengatur pula hubungan hukum yang
diadakan antara para indvidu yang satu dengan yang lain, antara individu dengan
badan negara bilamana badan negara itu turut serta dalam pergaulan hukum
sebagai, yaitu seolah-olah, individu.
Pembagian hukum menurut isinya dapat dimasukkan ke dalam rangka
(schema) yang berikut :4

Hukum negara dalam arti kata sempit


(hukum tata negara)
Hukum publik dalam arti kata sempit =
hukum negara dalam arti kata luas
4 E. Utrecht dalam Moh Saleh Djindang, 1983, Pengantar Dalam Hukum Indonesia.

hukum administrasi negara


hukum publik

hukum acara

hukum acara administrasi


hukum acara privat
hukum acara pidana

hukum perburuhan
hukum pajak
hukum (publik) internasional
hukum
hukum privat

hukum perdata
hukum dagang

hukum perselisihan

hukum perselisihan
nasional

hukum antar golongan


(integratif) hukum antar
agama, hukum interlokal,
hukum
antar
bagian
negara

hukum perselisihan internasional=hukum privat


internasional
hukum ekonomi
hukum pidana
hukum transitur
e. Menurut Fungsinya
Hukum materiil mengatur isi atau materi dari hubungan antara kedua belah
pihak atau menerangkan perbuatan-perbuatan mana yang dapat dihukum dan
dipidana apa yang dapat dijatuhkan. Ex : buruh wajib melaksanakan tugasnya
yang ditetapkan dalam perjanjian kerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
kecakapannya, dalam KUHP
Hukum Formil menunjuk cara mempertahankan atau cara menjalankan
peraturan-peraturan tersebut. Dalam hal perselisihan maka hukum formil itu
menunjuk cara bagaimana perjanjian perutangan (ikatan) atau perbuatan yang
bersangkutan dapat dilaksanakan dan dipertahankan. Hukum formil itu dapat juga
disebut hukum acara.
f. Agar dapat mencapai tujuannya maka ilmu hukum positif menggunakan hasil
penyelidikan beberapa cabang lain dari ilmu hukum pada umumnya. Cabangcabang tersebut boleh dianggap ilmu membantu bagi ilmu hukum positif sebagai
cabang ilmu hukum umum. Cabang-cabang lain itu :
i. Sejarah hukum;
ii. Sosiologi hukum;
iii.
Perbandingan hukum, dan;

iv.

Pembelajaran hukum umum.