Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang


telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas selesainya
penulisan

makalah

kami

yang

berjudul

Teori

Belajar

Behavioristik, Kognitif, Humanisme Dan Konstruktiviktif.Makalah


ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas terstruktur dari
mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Oleh

karena

itu,

pada

kesempatan

ini

kami

ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang


turut serta membantu dalam penyusunan makalah ini baik
secara langsung maupun tidak langsung. Atas bantuan dan
kebaikan semua pihak kami hanya dapat mendoakan semoga
Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan mereka dan
menjadi amal baik di hari akhir kelak Amin. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi kami.
Dalam penulisan makalah ini, kami merasa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan dam masih banyak kekurangan
baik dari teknis penulisan maupun materinya. untuk itu kritik dan
saran

dari

semua

pihak

sangat

kami

harapkan

demi

penyempurnaan makalah ini.


Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................1
C. Tujuan.................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................3
A. Teori Belajar.......................................................................................3
1. Teori belajar behavioristik...............................................................3
2. Teori belajar kognitif........................................................................4
3. Teori belajar humanisme.................................................................5
4. Teori belajar konstruktivistik............................................................6
B. Prinsip-prinsip dasar dari teori belajar...............................................7
1. Prinsip dasar behavioristik..............................................................7
2. Prinsip dasar kognitif......................................................................7
3. Prinsip dasar humanisme...............................................................8
4. Prinsip dasar konstruktivistik..........................................................8
C. Aplikasi teori-teori belajar...................................................................9
1. Aplikasi teori-teori belajar behavioristik..........................................9
2. Aplikasi teori-teori belajar kognitif.................................................10
3. Aplikasi teori-teori belajar humanisme..........................................10
4. Aplikasi teori-teori belajar konstruktivistik.....................................11
BAB III PENUTUP......................................................................................13

A. Kesimpulan.......................................................................................13
B. Saran................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belajar menduduki peran yang sangat penting dalam
konteks kehidupan umat manusia sehingga manusia dituntut
untuk belajar dan terus belajar agar kehidupan meraka dapat
terus berlangsung.
belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan
adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan ini dapat
ditunjukan

dalam

pengetahuanya,

berbagai

sikap

dan

bentuk,
tingkah

seperti
laku,

perubahan

keterampilan,

kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya


penerimaanya. Jadi belajar merupakan suatu proses yang
aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada
siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada
suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada
siswa. Oleh karena itu, dalam suatu pembelajaran juga perlu
didukung oleh adanya suatu teori belajar.
Secara psikologis, teori belajar dapat diartikan sebagai
sebuah konsep yang disusun untuk memperkuat motivasi
dalam jiwa manusia melalui penjelasan dari beberapa fakta
dan penemuan yang berkaitan dengan proses belajar (Nafia).
disamping itu, Secara pragmatis, teori belajar dapat dipahami
sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling
berhubungan dan merupakan penjelasan atau sejumlah fakta
dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar
(Fazliana, 2013).

Seiring
pendidikan,

dengan
muncul

berkembangnya
beberapa

fsikologi

teori-teori

dalam
tentang

pembelajaran, diantaranya adalah teori belajar behavioristik,


teori belajar kognitif, teori belajar humanistik dan teori belajar
konstruktivistik.
Berkenaan dengan perkembangan teori belajar di atas,
maka dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai prinsipprinsip, kelebihan dan kekurangan, penerapan dan lain
sebagainya mengenai teori-teori belajar diatas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu teori belajar behavioristik, kognitif, humanistik dan
konstruktivistik?
2. Bagaimana prinsip-prinsip dari teori belajar behavioristik,
kognitif, humanistik dan konstruktivistik?
3. bagaimana aplikasi dari teori-teori belajar behavioristik,
kognitif, humanistik dan konstruktivistik?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang teori belajar behavioristik, kognitif,
humanistik dan konstruktivistik.
2. Mengetahui prinsip-prinsip dari teori belajar behavioristik,
kognitif, humanistik dan konstruktivistik.
3. Mendiskusikan aplikasi dari teori-teori belajar behavioristik,
kognitif, humanistik dan konstruktivistik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Belajar
Teori

merupakan

sebuah

konsep

atau

definisi

yang

menggambarkan sesuatu dari sudut pandang tertentu terhadap


sebuah

fenomena

secara

sistematis

dengan

cara

menghubungkan berbagai variabel di dalamnya. Sedangkan


belajar sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses yang
menuntun pada perkembangan berfikir ataupun perubahan
perilaku dalam psikologi belajar dapat berperan sebagai suatu
proses dan dapat pula sebagai suatu sistem (Nafia).

Jadi

teori

belajar

merupakan

sebuah

konsep

yang

menggambarkan suatu proses perkembangan dan perubahan


yang disusun secara sistematis dengan menghubungkan bagianbagian yang tersedia dalam proses tersebut.
Teori belajar merupakan teori yang pragmatik dan eklektik
(Rachman, 2015). Teori dengan sifat demikian ini hampir
dipastikan tidak pernah mempunyai sifat ekstrim atau mutlak.
Tidak ada teori belajar yang secara ekstrim memperhatikan
aspek mahasiswa saja, misalnya. Atau teori belajar yang hanya
mementingkan

aspek

dosen

saja,

kurikulum

saja,

dan

sebagainya.
Secara umum teori belajar dapat dikelompokkan menjadi
empat golongan, yaitu teori belajar behavioristik (tingkah laku),
kognitif, humanistik, dan konstruktivistik.
1.

Teori belajar behavioristik


Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah

perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara


konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang
menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan
hukum-hukum mekanistik. Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah
apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon
berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Faktor lain yang dianggap penting
oleh

aliran

(reinforcement).

behavioristik
Bila

adalah

penguatan

faktor

ditambahkan

penguatan
(positive

reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila

respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka


respon pun akan semakin kuat.
Teori

belajar

berorientasi

behavioristik

pada

hasil

yang

dalam

proses

pembelajaran

dapat

diukur

dan

diamati.

Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang di


inginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari
penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu
perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat
penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat
penghargaan negative. Evaluasi atau penilaian hasil belajar
didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru
tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang
diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi
(Teori Belajar Behavioristik, Humanistik Dan Kognitif, 2012).
Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical
conditioning dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak
terkondisi dalam diri seseorng serta gerak refleks setelah
menerima
penting

stimulus.

dalam

Menurut

Pavlov,

mengkondisikan

penguatan

munculnya

berperan

respons

yang

diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus


hanya

ditampilkan

sendiri,

maka

respons

terkondisi

akan

menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons


tersebut dapat muncul kembali (Hasanudin, 2010).
Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan
bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi
terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat
melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang
tidak benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu
respons akan memperkuat kemungkinan munculnya respons.

Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali


yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.
Ciri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsurunsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan
lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,
menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme
hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil
belajar

yang

diperoleh

adalah

munculnya

perilaku

yang

diinginkan (Hasanudin, 2010).


2.

Teori belajar kognitif


Istilah Cognitive berasal dari kata cognition artinya adalah

pengertian, mengerti. Pengertian cognition (kognisi) sangat luas,


mencakup perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.
Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini
menjadi

populer

sebagai

salah

satu

wilayah

psikologi

manusia/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk


pengenalan

yang

meliputi

setiap

perilaku

mental

yang

berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan,


memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan

masalah,

pertimbangan,

membayangkan,

memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang


berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak)
dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa (Rachman,
2015).
Teori

belajar

kognitif

lebih

menekankan

pada

belajar

merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran


manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa
Belajar

adalah

suatu

aktivitas

mental

atau

psikis

yang

berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang

menghasilkan

perubahan-perubahan

dalam

pengetahuan

pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat


secara relatif dan berbekas.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar
adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental
yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses
interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu
perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah
laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan
berbekas (Hasanudin, 2010).
Menurut teori belajar kognitif, belajar merupakan prosesproses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Adapun tujuan teori ini adalah:
a. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah
laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka sendiri
secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya.
b. Membantu guru untuk memahami orang lain, terutama
muridnya, dan membantu dirinya sendiri.
c. Mengkonstruksi

prinsip-prinsip

ilmiah

yang

dapat

diterapkan dalam kelas dan untuk menghasilkan prosedur


yang memungkinkan belajar menjadi produktif.
d. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang
mencapai pemahaman atas diri dan lingkungannya lalu
menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya merupakan
faktor yang saling berkaitan.

3.

Teori belajar humanisme


Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan

ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri.


Menurut

teori

humanisme,

tujuan

belajar

adalah

untuk

memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika


pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia
mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk
mengembangkan

dirinya,

yaitu

membantu

masing-masing

individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia


yang unik dan mambantu dalam mawujudkan potensi-potensi
yang ada dalam diri mereka. Selain itu Tujuan dasar pendidikan
humanistik adalah mendorong siswa menjadi mandiri

dan

independen, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran


mereka, menjadi kreatif dan tertarik dengan seni, dan menjadi
ingin tahu tentang dunia di sekitar mereka (Fazliana, 2013).
Teori humanistik sangat mementingkan apa yang dipelajari
dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak
berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk
manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam
bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih
tertarik pada pengertian belajar dalam bentuknya yang paling
ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana
apa adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar
lainnya.
Pemahamanan terhadap belajar yang diidealkan menjadikan
teori humanistik dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal
tujuannya untuk memanusiakan manusia. Hal ini menjadikan

teori humanistik bersifat elektik. Tidak dapat disangkal lagi


bahwa setiap pendirian atau pendekatan belajar tertentu, akan
ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Teori humanistik akan
memanfaatkan teori-teori apapun, asal tujuannya tercapai, yatu
memanusiakan

manusia.

Manusia

adalah

makhluk

yang

kompleks. Banyak ahli di dalam menyusun teorinya hanya


terpaku pada aspek tertentu yang sedang menjadi pusat
perhatiannya [6]..
4.

Teori belajar konstruktivistik


Salah satu pendekatan yang dalam tiga dakade terakhir

dijadikan

landasan

dalam

pengembangan

dan

penelitian

pembelajaran adalah konstruktivisme. Pendekatan ini lebih


banyak dibicarakan dalam konteks pembelajaran bagi anak-anak,
sementara

pembelajaran

orang

dewasa

lebih

sering

dari

piaget.

menggunakan pendekatan learning cycle.


Konstruktivisme

merupakan

teori

belajar

Konstruktivisme juga merupakan bagian dari teori kognitif. Teori


ini dikembangkan oleh piaget pada abad ke- 20. Konstruktivisme
sangat berpengaruh dibidang pendidikan dan memunculkan
metode dan strategi mengajar baru (Sari, 2012).
Menurut

Karli

dan

Margaretha,

model

pembelajaran

konstruktivistime merupakan proses pembelajaran yang di awali


dengan konflik kognitif, yang pada akhirnya pengetahuan akan
dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman dan hasil
interaksi

dengan

lingkungannya.

Model

pembelajaran

ini

menekankan pada pengembangan pengetahuan, keterampilan


dan pemikiran siswa.
Tobin dan Timmons menegaskan bahwa pembelajaran yang
berlandaskan pandangan konstruktivistime harus memperhatikan

empat hal, yaitu berkaitan dengan pengetahuan awal siswa,


belajar melalui pengalaman, melibatkan interaksi sosial dan
pemahaman (Sutisna, 2013).
Teori-teori baru dalam fsikologi pendidikan dikelompokan
dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of
learning). Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan
sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek
informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan tersebut tidak lagi sesuai bagi siswa agar
benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
mereka

harus

bekerja

memecahkan

masalah,

menemukan

segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah


dengan ide-ide.
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling
penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak
hanya sekedar memberikan pengetahuan terhadap siswa. Siswa
harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.
Guru dapat memberikan untuk proses ini, dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan
ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan
secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Menurut teori pembelajaran konstruktivistik, pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari fikiran guru ke fikiran
siswa. Artinya siswa harus aktif secara mental membangun
struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang
dimilikinya.
Ciri-ciri pembelajaran secara konstruktivistik adalah sebagai
berikut :
a. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan
baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.

10

b. Mengembangkan
menggunakannya

ide

yang

diawali

sebagai

oleh

panduan

murid

dan

merancang

pengajaran.
c. Menyokong pembelajaran secara koperatif.
d. Membentuk sikap dan pembawaan murid.
e. Mengembangkan kajian bagaimana murid belajar sesuatu
ide.
f. Mengembangkan dan menerima usaha dan pribadi murid.
g. Menggairahkan murid bertanya dan berdialog dengan
murid dan guru.
h. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang
sama penting dengan hasil pembelajaran.
i. Mengembangkan proses inkuiri murid.
B. Prinsip-prinsip dasar dari teori belajar
1.

Prinsip dasar behavioristik


Prinsip-prinsip dasar teori belajar behavioristik dirumuskan

sebagai berikut :
a. Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri,
bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang
abstrak.
b. Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk
fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
c. Penganjur utama adalah Watson : overt, observable
behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu
psikologi yang benar.
d. Dalam perkembangannya,

pandangan

Watson

yang

ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist


dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan
akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak
seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor
internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap
terjadi.

11

e. Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya


yang

terkontrol

dan

bersifat

positivistik

dalam

perkembangan ilmu psikologi.


f. Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode,
yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
2.

Prinsip dasar kognitif


Prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan

sebagai berikut :
a. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan
dengan berpikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah,
dan kesadaran
b. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku
dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus
memperhatikan

perilaku

siswa

yang

tampak,

seperti

penyelesaian tugas rumah, hasil tes, disamping itu juga


harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan
psikologisnya.
c. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berpikir setiap
orang tidak sama dan tidak tetap dari waktu ke waktu.
3.

Prinsip dasar humanisme

prinsip-prinsip pendidikan humanistik disajikan sebagai berikut :


a. Siswa harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari.
Guru humanistik percaya bahwa siswa akan termotivasi
untuk mengkaji materi bahan ajar jika terkait dengan
kebutuhan dan keinginannya.
b. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk
belajar dan mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa
harus memotivasi dan merangsang diri pribadi untuk
belajar sendiri.
c. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relavan dan
hanya

evaluasi

diri

(selfevaluation)

12

yang

bermakna.

Pemeringkatan mendorong siswa belajar untuk mencapai


tingkat tertentu, bukan untuk kepuasan pribadi. Selain itu,
pendidik

humanistik

menentang

tes

objektif,

karena

mereka menguji kemampuan siswa untuk menghafal dan


tidak memberikan umpan balik pendidikan yang cukup
kepada guru dan siswa.
d. Pendidik humanistik percaya

bahwa,

baik

perasaan

maupun pengetahuan, sangat penting dalam proses belajar


dan tidak memisahkan domain kognitif dan afektif.
e. Pendidik humanistik menekankan perlunya siswa terhindar
dari tekanan lingkunngan, sehingga mereka akan merasa
aman untuk belajar. Setelah siswa merasa aman, belajar
mereka menjadi lebih mudah dan lebih bermakna.
4.

Prinsip dasar konstruktivistik


prinsip pembelajaran dalam konstruktivisme dapat disarikan

sebagai berikut:
a. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
b. Pengetahuan tidak dapat dipindakhan dari guru ke murid,
kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk
menalar.
c. Murid aktif

mengkonstruksi

secara

terus

menerus,

sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.


d. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi
agar proses konstruksi berjalan lancar.
e. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
f. Struktur pembelajran seputar konsep utama pentingnya
sebuah pertanyaan.
g. Mencari dan menilai pendapat siswa.
h. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan
siswa.

13

C. Aplikasi teori-teori belajar


1.

Aplikasi teori-teori belajar behavioristik


Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi

arah

pengembangan

teori

dan

praktek

pendidikan

dan

pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini


menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai
hasil

belajar.

Teori

behavioristik

dengan

model

hubungan

stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai


individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya
perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan
akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat
materi

pelajaran,

karakteristik

siswa,

media

dan

fasilitas

pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan


berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa pengetahuan
adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah
terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan
pengetahuan,

sedangkan

mengajar

adalah

memindahkan

pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau


siswa. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang
sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang
dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami
oleh murid.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran
dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi
pebelajar

untuk

mengembangkan
pembelajaran

berkreasi,
kemampuannya

tersebut

bersifat

14

bereksperimentasi
sendiri.

dan

Karena

sistem

otomatis-mekanis

dalam

menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti


kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu
untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri
mereka.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan
pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi
aktivitas

mimetic,

yang

menuntut

pebelajar

untuk

mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari


dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi
pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau
akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga
aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku
wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan
kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan
evaluasi menekankan pada hasil belajar.
2.

Aplikasi teori-teori belajar kognitif


Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran, guru

harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa


yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan
awal sekolah dasar belajar.
Menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat
dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola
atau

logika

menciptakan

tertentu

dari

pembelajaran

sederhana
yang

kekompleks,

bermakna,

guru

memperhatian

perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.


Dari

penjelasan

diatas

jelas

bahwa

implikasinya

dalam

pembelajaran adalah seorang pendidik, guru ataupun apa


namanya mereka harus dapat memahami bagaimana cara
belajar siswa yang baik, sebab mereka para siswa tidak akan

15

dapat memahami bahasa bila mereka tidak mampu mencerna


dari apa yang mereka dengar ataupun mereka tangkap.
3.

Aplikasi teori-teori belajar humanisme


Aplikasi teori humanisme lebih menunjuk pada ruh atau

spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metodemetode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran
humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan
guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar
dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar
kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan
pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang
memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan
siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya
secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat
negatif.
Tujuan

pembelajaran

lebih

kepada

proses

belajarnya

daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui


adalah :
a. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
b. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak
belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif.
c. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan
siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri.
d. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai
proses pembelajaran secara mandiri.
e. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat,
memilih

pilihannya

sendiri,

diinginkan dan menanggung

melakukkan

apa

yang

resiko dariperilaku yang

ditunjukkan.
f. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami
jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi
16

mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala


resiko perbuatan atau proses belajarnya.
g. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan
kecepatannya.
h. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan
prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk
diterpkan

pada

materi-materi

pembelajaran

yang

bersifat

pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan


analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan
aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif
dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan
sikap atas kemauan sendiri.
4.

Aplikasi teori-teori belajar konstruktivistik


Peranan

Siswa

(Si-Belajar).

Menurut

pandangan

konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan


pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa
belajar.

Ia

harus

aktif

melakukan

kegiatan,

aktif

berfikir,

menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang


sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil
prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang
optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling
menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa
sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya
kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
Peranan Guru. Dalam belajar konstruktivistik guru atau
pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian
pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru hanya membantu
siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut
lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam

17

belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara


yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah
pengendalian, yang meliputi:
a. Menumbuhkan

kemandiriran

dengan

menyediakan

kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.


b. Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan
bertindak,

dengan

meningkatkan

pengetahuan

dan

ketrampilan siswa.
c. Menyediakan

sistem

dukungan

yang

memberikan

kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal


untuk berlatih.
Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan
bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas
siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala
sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan
fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut.

Siswa

diberi

kebebasan

untuk

mengungkapkan

pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya.


Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk
berfikir

sendiri,

memecahkan

masalah

yang

dihadapinya,

mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan


pemikirannya secara rasional.
Evaluasi

belajar.

Pandangan

konstruktivistik

mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung


munculnya

berbagai

pandangan

dan

interpretasi

terhadap

realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain


yang

didasarkan

pada

pengalaman.

Hal

ini

memunculkan

pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.


Ada perbedaan penerapan evaluasi belajar antara pandangan

18

behavioristik

(tradisional)

yang

obyektifis

konstruktivistik.

Pembelajaran yang diprogramkan dan didesain banyak mengacu


pada obyektifis, sedangkan Piagetian dan tugas-tugas belajar
discovery

lebih

mengarah

pada

konstruktivistik.

Obyektifis

mengakui adanya reliabilitas pengetahuan, bahwa pengetahuan


adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan
telah

terstruktur

menyampaikan

dengan

pengetahuan

rapi.

Guru

tersebut.

bertugas

Realitas

dunia

untuk
dan

strukturnya dapat dianalisis dan diuraikan, dan pemahaman


seseorang akan dihasilkan oleh proses-proses eksternal dari
struktur dunia nyata tersebut, sehingga belajar merupakan
asimilasi objek-objek nyata. Tujuan para perancang dan guruguru tradisional adalah menginterpretasikan kejadian-kejadian
nyata yang akan diberikan kepada para siswanya.

19

BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Teori belajar merupakan teori yang pragmatik dan
eklektik. Teori dengan sifat demikian hampir tidak pernah
mempunyai sifat ekstrim atau mutlak. Tidak ada teori belajar
yang secara ekstrim memperhatikan aspek mahasiswa saja,
misalnya. Atau teori belajar yang hanya mementingkan aspek
dosen saja, kurikulum saja, dan sebagainya. Secara umum
teori belajar dapat dikelompokkan menjadi empat golongan,
yaitu teori belajar behavioristik (tingkah laku), kognitif,
humanistik, dan konstruktivistik.
Teori belajar behavioristik menjelaskan, belajar adalah
perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai
secara

konkret.

Perubahan

terjadi

melalui

rangsangan

(stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif


(respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus
adalah

apa

saja

yang

diberikan

guru

kepada

siswa,

sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa


terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran,
sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang
dan berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa
pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah.

20

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar


merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran
manusia. proses usaha yang melibatkan aktivitas mental
yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses
interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh
suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman,
tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif
dan berbekas. Dalam pembelajaran teori kognitivisme, guru
harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa
yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah
dan awal sekolah dasar belajar.
Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai
dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu
sendiri. Menurut teori ini, tujuan belajar adalah untuk
memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika
pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia
mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Aplikasi teori humanisme lebih menunjuk pada ruh atau
spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metodemetode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran
humanistik

adalah

menjadi

fasilitator

dan

motivator

sedangkan siswa berperan sebagai pelaku utama (student


center)
sendiri.

yang

memaknai

Diharapkan

mengembangkan

proses

siswa

potensi

pengalaman

memahami

dirinya

belajarnya

potensi

diri,

positif

dan

secara

meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.


Dalam pandangan teori konstruktivistik, satu prinsip
yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah
bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan
terhadap

siswa.

Siswa

harus
21

membangun

sendiri

pengetahuan

di

dalam

benaknya.

Siswa

harus

aktif

melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan


memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Sedangkan guru atau pendidik berperan membantu agar
proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan
lancar..
B.Saran
Dari makalah yang telah kami susun tentunya terdapat
banyak kesalahan dan kekurangan baik dalam segi materi
maupun penulisan. Maka dari itulah kami dari pihak penyusun
berhadap

akan

kritik

dan

sarannya

demi

tercapainya

pencapaian tujuan hidup kami. Atas perhatiannya kami


ucapkan terima kasih.

22

DAFTAR PUSTAKA

Fazliana, R. (3013). Teori Belajar Behavioristik, Kognitif, dan


Humanistik. 1.
Hasanudin.

(2010).

Teori

Belajar

Behaviorisme,

Kognitif,

Konstruktivistik dan Humanistik. Bandung.


Khairunnisa. (2012). Teori Belajar Behavioristik, Humanistik dan
Kognitif. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Nafia, M. (t.thn.). Teori Belajar Kognitif dan Konstruktivistik .
Makalah pembelajaran kesiswaan, 1.
Rachman, M. (2015). Teori Belajar dan Motivasi. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
Sari, R. A. (2012). Teori Konstruktivistik (Konstruktivisme) dan
Aplikasinya.
Suprobo, N. (t.thn.). Teori Belajar Humanistik.
Sutisna, Y. (2013). Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA
Di

Sekolah

Dasar.

Bandung:

Universitas

Pendidikan

Indonesia.
(2012). Teori Belajar Behavioristik, Humanistik Dan Kognitif.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

http://riaarumsari.blogspot.co.id/2012/06/teori-konstruktivistikkonstruktivisme.html
http://www.slideshare.net/khairunnisamulyana5/teori-belajarbehavioristik-humanistik-dan-kognitif

23

https://dian75.wordpress.com/2010/07/29/teori-behavioristismekognitif-dan-konstruktivisme-serta-implikasi-ketiga-teori-tersebutdalam-pembelajaran/
http://www.perkuliahan.com/makalah-teori-belajar-kognitif-dankonstuktivistik/
http://hasanudin-bio.blogspot.co.id/2011/05/teori-belajarbehaviorisme-kognitif.html
http://rizkyfazliana.blogspot.co.id/2013/11/teori-belajarbehavioristik-kognitif.html

24