Anda di halaman 1dari 18

ANATOMI FISIOLOGI PENYAKIT MENTAL

MAKALAH
Memenuhi tugas untuk mengikuti UAS
KKPMT IIIA
yang dibina oleh PJMK Ibu dr. Endang Sri Dewi H.S.,M.QIH

Oleh :
Deo Aprilofaas Prabandaru

1504000065

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


DIPLOMA III PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa, atas berkah dan
rahmat-Nya makalah yang berjudul Anatomi Fisiologi Penyakit Mental ini dapat diselesaikan
dengan baik.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan penyakit terkait dengan sistem
saraf pusat, sistem saraf tepi, sistem otak, dan sumsum tulang belakang. Selain itu, penulisan
makalah ini juga bertujuan untuk menyelesaikan penugasan untuk dapat melaksanakan UAS
(Ujian Akhir Semester) yang dibimbing oleh PJMK Ibu dr. Endang Sri Dewi H.S.,M.QIH.
Dalam penyelesaian makalah ini penyusun mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ibu dr. Endang Sri Dewi H.S.,M.QIH selaku Klasifikasi, Kodefikasi Penyakit dan

Masalah Terkait Kesehatan IIIA (KKPMT IIIA)


2. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya
makalah ini.
Terdapat banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Oleh karena itu,
diharapkan adanya kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sehingga
makalah ini bisa lebih baik dan bermanfaaat.
Terima kasih.
Malang,

2016

Penulis

DAFTAR ISI
ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................................ii


DAFTAR ISI ...................................................................................................................iii
DAFTAR DAFTAR GAMBAR ......................................................................................iv
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan ...........................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN ...............................................................................................................3
2.1 Anatomi Sistem Otak.......................................................................................3
2.2 Pengertian Gangguan Mental...........................................................................6
2.3 Tanda-Tanda atau Gejala Gangguan Mental....................................................9
2.4 Klasifikasi Gangguan Mental........................................................................10
BAB III
PENUTUP ......................................................................................................................13
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................v

DAFTAR GAMBAR
2.1 Struktur Meningen Otak .............................................................................................5
iii

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Istilah kesehatan mental diambil dari konsep mental hygiene. Kata mental
diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahas latin
yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Kesehatan mental merupakan bagian dari
psikologi agama, terus berkembang dengan pesat. jadi dapat diambil kesimpulan
bahwa mental hygiene berarti mental yang sehat atau kesehatan mental. Sedangkan
yang dimaksud Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan
gangguan mental baik berupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap
lingkungan sosial).
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (Penyebab
terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari
tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. Noto Soedirdjo,
menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki kesehatan mental adalah Memiliki
kemampuan

diri

untuk

bertahan

dari

tekanan-tekanan

yang

datang

dari

lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan


seseorang terhadap stressor berbeda-beda karena faktor genetic, proses belajar dan
budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh
seseorang dengan orang lain juga berbeda.
Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik sekalipun tidak bisa bebas
dari kecemasan dan perasaan bersalah. Dia tetap mengalami kecemasan dan perasaan bersalah
tetapi tidak dikuasai oleh kecemasan dan perasaan bersalah itu. Ia sanggup
menghadapi masalah-masalah biasa dengan penuh keyakinan diri dan dapat
memecahkan masalah-masalah tersebut tanpa adanya gangguan yang hebat pada
struktur dirinya.
Dengan kata lain, meskipun ia tidak bebas dari konflik dan emosinya
tidak selalu stabil, namun ia dapat mempertahankan harga dirinya. Keadaan yang
demikian justru berkebalikan dengan apa yang terjadi pada orang yang mengalami
kesehatan mental yang buruk.
Mengingat

semakin

pesatnya

usaha

pembangunan,

modernisasi

dan

industrialisasi yang mengakibatkan semakin kompleknya masyarakat, maka banyak


muncul masalah-masalah sosial dan gangguan/disorder mental di kota-kota besar.
Makin banyaklah warga masyarakat yang tidak mampu melakukan penyesuaian diri
1

dengan cepat terhadap macam-macam perubahan sosial. Mereka itu mengalami


banyak frustasi, konflik-konflik terbuka/eksternal dan internal,ketegangan batin dan
menderita gangguan mental.
1.2

Rumusan Masalah
1.2.1 Jelaskan anatomi sistem otak?
1.2.2 Jelaskan pengertian gangguan mental?
1.2.3 Jelaskan tanda-tanda atau gejala gangguan mental?
1.2.4 Jelaskan klasifikasi gangguan mental?

1.3

Tujuan Penulisan
1.3.1 Memahami tentang anatomi sistem otak.
1.3.2 Memahami tentang gangguan mental.
1.3.3 Memahami tentang tanda-tanda atau gejala gangguan mental.
1.3.4 Mampu mengklasifikasi penyakit pada gangguan mental

1.4

Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Mahasiswa
a. Menambah informasi tentang anatomi pada sistem otak.
b. Menambah informasi tentang gangguan mental.
c. Menambah informasi tentang tanda-tanda atau gejala gangguan mental.
d. Dapat mengklasifikasi penyakit pada gangguan mental.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Anatomi Sistem Otak


2

Otak terdiri atas otak besar atau serebrum dan otak kecil atau serebelum.
Disamping itu ada bangunan berbentuk tabung yang letaknya di bagian inferior
disebut batang otak (brainstem) yang terdiri atas midbrain, pons dan medulla
oblongata yang berisi pusat-pusat vital.
2.1.1 SEREBRUM
Serebrum dibagi oleh falks serebri menjadi 2 bagian yang serupa disebut
hemisfer serebri kiri dan kanan. Didalam hemisfer serebri substansia grisea terdapat
dipermukaan (terbalik dengan medula spinalis), berupa korteks serebri dan
dibawahnya terdapat substansia alba dan lebih kedalam lagi terdapat nukleus. Di
dalam substansia grisea dan nukleus terdapat perikarion, dan di dalam substansia alba
terdapat akson bermielin. Secara histologis, serebrum terdiri atas 6 lapisan yaitu :
1. Lapisan Molekular, terutama terdiri atas serat-serat yang berasal dari
sel-sel lapis lebih dalam, yang berjalan paralel terhadap permukaan dan sedikit
badan sel saraf yang dikenal sebagai sel horisontal (Cajal). Sel ini berukuran
kecil dengan bentuk pipih (gepang) dengan akson dan dendritnya berjalan
sejajar permukaan dan berkontak dengan dendrit sel piramid dan fusiform
serta akson sel stellate.
2. Lapis granular luar, terdiri terdiri atas badan-badan sel saraf kecil
berbentuk segitiga/piramid

yang berukuran 10-50 mikrometer. Dendritnya

mengarah ke lapisan molekular dan bercabang-cabang, sementara aksonnya


mengarah ke lapisan di bawahnya dan substansia alba. Sel lainnya yang
terdapat pada lapisan ini adalah sel stellate (sel granular) yang berukuran kecil
(8 mikrometer) dan berbentuk poligonal. Akson sel granular ini panjang dan
mengarah ke lapisan molekular, sementara dendritnya pendek mengarah ke
lapisan di bawahnya.
3. Lapis sel-sel pyramid luar, terdiri atas sel-sel piramid yang ukurannya
makin ke dalam semakin bertambah besar. Dendritnya mengarah ke lapisan
molekular sementara aksonnya menuju ke arah substansia alba
4. Lapis granular dalam, terdiri atas sel-sel granula bercabang (stelata)
halus dan sel-sel pyramid
5. Lapis pyramid dalam atau lapis ganglion terdiri atas sel-sel piramid
besar dan sedang. Disamping itu juga terdapat sel stellate dan sel Martinotti.
Sel Martinotti merupakan sel saraf multipolar berukuran kecil, dengan dendrit
yang pendek mengarah ke lapisan di atasnya, sedangkan aksonnya berjalan ke
arah lateral.
3

6. Lapis sel-sel multiform atau polimorf, terdiri atas sel-sel dengan


macam-macam bentuk. Kebanyakan sel yang terdapat disini adalah sel
fusiform dengan dendritnya yang panjang mengarah ke arah lapisan di atasnya.
Semua lapis ini tidak mempunyai batas yang tegas dan semuanya juga berisi
neuroglia. Substansia alba terdiri atas gabungan serat saraf bermielin yang menyebar
kesegala arah. Serat-serat ini ditunjang oleh neuroglia dan secara fungsional terdiri
atas 3 kelompok:
Serat menghubungkan macam-macam bagian korteks pada satu
hemisfer disebut serat asosiasi.
Serat yang menghubungkan bagian korteks hemisfer kiri dan kanan
disebut serat komisural.
Serat yang menghubungkan korteks serebri dengan nukleus (pusatpusat) dibawahnya disebut serat proyeksi.
Serebrum atau otak besar mempunyai fungsi untuk menyimpan memori, berperan
penting dalam proses berpikir, belajar, rasa bertanggung jawab, analisa sintesa dan
berperan dalam proses moral. Serebrum juga berperan untuk menerima, mengolah dan
memberikan respon jawaban terhadap rangsangan sensoris seperti pengaturan
temperatur tubuh, rasa rabaan, penglihatan, pendengaran, penghidu, rasa / kecap.
Disamping itu bagian otak ini berfungsi untuk mengontrol kontraksi otot-otot sadar
( skeletal )
2.1.2 SEREBELLUM
Serebelum terbagi dua kiri dan kanan oleh bangunan seperti cacing bewarna abuabu yang disebut vermis. Permukaannya berlipat-lipat disebut folia (=daun) yang
tersusun paralel terhadap fissura (alur) utama. Substansia grisea serebelum terdapat di
permukaan berupa korteks tipis. Di bawahnya terdapat substansia alba yang juga
berisi kelompokan kecil perikarion membentuk pusat-pusat (nukleus).

Korteks serebellum terdiri atas 3 lapisan, yaitu


1. Lapisan Molekular yang merupakan lapisan terluar. Lapisan ini berisi sedikit
sel saraf kecil dan banyak serat saraf tidak bermielin.
2. Lapisan sel Purkinje atau disebut juga lapisan ganglioner, berisi sel Purkinje
yang tampak

besar, dengan dendritnya bercabang seperti tanduk menjangan dan

letaknya dalam satu bidang masuk kedalam lapisan molekular, dengan satu akson
yang masuk kedalam lapis dibawahnya.
3. Lapisan Granular, berisi banyak perikarion kecil. Sel saraf dari lapisan
granular ini kecil-kecil dengan 3-6 dendrit yang naik kedalam lapisan molekular, dan
disini ia terbagi atas 2 cabang lateral yang terdapat sepanjang suatu folium.
2.1.3

LAPISAN

PEMBUNGKUS

(MENINGES)
SSP dilindungi oleh dari trauma luar oleh otot
dan tulang yaitu tulang tengkorak dan vertebra. Di
samping itu SSP juga dilindungi oleh selubung
jaringan ikat atau meninges. Selubung ini dari
luar ke dalam sebagai berikut:
1. Duramater (dura=keras, mater= ibu)
merupakan lapisan terluar yang membungkus
medula spinalis dan otak. Lapisan duramater
medula spinalis dan otak berbeda susunannya. Pada
medula spinalis permukaan dalam ruang vertebra

Gambar 2.1 Meninges

dilapisi jaringan ikat padat disebut duramater periosteum.


Lapisan duramater fibrosa secara terpisah dan longgar membungkus medula
spinalis. Di antara duramater periosteum dan duramater fibrosa terdapat rongga
epidural yang lebar berisi jaringan ikat longgar, sel lemak dan pleksus venosa
epidural. Permukaan dalam duramater dilapisi oleh sel gepeng selapis yang
berhubungan erat dengan medula spinalis melalui ligamentum dentikulata.
Duramater otak pada awalnya terdiri atas 2 lapisan tetapi pada orang dewasa
kedua lapisan tersebut menyatu. Lapisan terluar adalah duramater periosteum yang
melapisi permukaan dalam tengkorak (endosteum) terdiri dari jaringan ikat padat
dengan banyak pembuluh darah. Lapisan dalam yaitu lapisan fibrosa kurang
mengandung pembuluh darah dan permukaan dalamnya dilapisi oleh epitel selapis
gepeng yang berasal dari mesoderm. Lapisan fibrosa ini terpisah dari lapisan luar pada
tempat-tempat tertentu untuk membentuk sinus-sinus venosus otak yang besar dan
juga membalik ke dalam dan terletak di dalam fisura-fisura besar di dalam otak
sebagai pemisah, misalnya falks serebri yang memisahkan serebrum kiri dan kanan,
falks serebelli yang memisahkan serebellum kiri dan kanan. Selain membentuk
5

lipatan-lipatan, lapisan fibrosa ini juga membentuk atap fosa hipofiseal (diafragma
sela). Durakranium dan dura spinal berhubungan pada foramen magnum.
2. Arachnoid (Arachnoid= menyerupai laba-laba)
Merupakan membran tipis, halus, avaskular yang melapisi duramater. Dari
arachnoid ini keluar trabekula jaringan ikat yang berjalan ke pia mater melintasi
ruangan yang terisi oleh banyak trabekula. Ruangan ini disebut ruang subarachnoid
yang berisi cairan serebrospinal (likuwor serebrospinal). Pada beberapa tempat
arachnoid menembus duramater sebagai villi arachnoid yang menonjol ke dalam
sinus venosus duramater. Fungsi villi arachnoid ini adalah untuk menyalurkan
cairan serebrospinal ke sinus venosus. Pada trauma kepala yang parah pembuluh
darah di pia mater dan di dalam otak akan pecah dan darah akan berkumpul dalam
ruang subarachnoid. Perdarahan ini disebut perdarahan subdural.
3. Piamater
Piamater adalah membran halus, lembut yang membungkus otak. Piamater
meluas masuk ke dalam sulkus serebri. Piamater terdiri atas 2 lapisan, yaitu bagian
luar tersusun dari anyaman serat kolagen, mengandung banyak pembuluh darah dan
bagian dalam terdiri atas anyaman serat retikular dan elastin halus yang melekat
pada jaringan saraf di bawahnya tetapi terpisah dari unsur-unsur saraf/otak oleh satu
lapis cabang-cabang neuroglia.
2.2

Pengertian Gangguan Mental

Gangguan mental adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorangkarena


hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan
sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001).
Gangguan

mental

adalah

gangguan

dalam

cara

berpikir

(cognitive),

kemauan(volition),emosi (affective), tindakan ( psychomotor) (Yosep, 2007).


Gangguan mental menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi
jiwa yangmenyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada
individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial.
Menurut Townsend (1996) gangguan mental adalah respon maladaptive terhadap
stressor dari lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan
tingkahlaku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu
fungsisosial, kerja, dan fisik individu.
B. Penyebab Timbulnya Gangguan Mental
6

Penyebab

gangguan

jiwa

itu

bermacam-macam

ada

yang

bersumber

dariberhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan


tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang
yangdicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan
jiwayang

disebabkan

faktor

organik,

kelainan

saraf

dan

gangguan

pada

otak (Djamaludin, 2001).


Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang sebab-sebab terjadinya gangguan
jiwa. Menurut pendapat Sigmund Freud dalam Maslim (2002),gangguan jiwa terjadi
karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (doronganinstinctive yang sifatnya seksual)
dengan tuntutan super ego (tuntutan normalsocial). Orang ingin berbuat sesuatu yang
dapat memberikan kepuasan diri, tetapi perbuatan tersebut akan mendapat celaan
masyarakat. Konflik yang tidak terselesaikan antara keinginan diri dan tuntutan
masyarakat ini akhirnya akan mengantarkan orang pada gangguan jiwa.
Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga,
secara somato-psiko-sosial. Gangguan mental artinya bahwa yang menonjolialah
gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwaunsur yang
lain tidak terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah
keturunan, usia dan jenis kelamin, keadaan fisik, keadaan psikologik, keluarga, adatistiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan,pernikahan dan kehamilan,
kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi,rasa permusuhan, hubungan antar
manusia, dan sebagainya.
Perkiraan jumlah penderita beberapa jenis gangguan mental yang ada dalam satu
tahun di Indonesia.

Psikosa fungsional 520.000.


Sindroma otak organik akut 65.000.
Sindroma otak organik menahun 130.000.
Retradasi mental 2.600.000.
Nerosa 6.500.000.
Psikosomatik 6.500.000.
Gangguan kepribadian 1.300.000.
Ketergantungan obat 1.000
Sumber penyebab gangguan mental dipengaruhi oleh faktor-faktor padaketiga

unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :


1.

Faktor-faktor somatik (somatogenik)


7

2.

Neuroanatomi
Neurofisiologi
Neurokimia
Tingkat kematangan dan perkembangan organik
Faktor-faktor pre dan peri - natal2.
Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
Interaksi ibu anak : normal (rasa percaya dan rasa aman)
atauabnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yangterputus

(perasaan tak percaya dan kebimbangan)


Peranan ayah
Persaingan antara saudara kandung
Inteligensi
Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau

rasa salah
Konsep diri : pengertian identitas diri sendiri versus peran yang tidak

3.

menentu
Keterampilan, bakat dan kreativitas
Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
Tingkat perkembangan emosi
Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
Kestabilan keluarga
Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas
kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
Pengaruh rasial dan keagamaan
Nilai-nilai

2.3

Tanda-tanda atau Gejala Gangguan Mental


1. Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam perasaan ini dapat
terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
2. Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn). Tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
3. Delusi atau Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal)
meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional,
namun penderita tetap meyakini kebenarannya. Sering berpikir/melamun yang
tidak biasa (delusi).

4. Halusinasi yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan misalnya


penderita mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak
ada sumber dari suara/bisikan itu.
5. Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-menerus.
6. Kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari walaupun pekerjaan
tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun.
7. Paranoid (cemas/takut) pada hal-hal biasa yang bagi orang normal tidak perlu
ditakuti atau dicemaskan.
8. Suka menggunakan obat hanya demi kesenangan.
9. Memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.
10. Terjadi perubahan diri yang cukup berarti.
11. Memiliki emosi atau perasaan yang mudah berubah-ubah.
12. Terjadi perubahan pola makan yang tidak seperti biasanya.
13. Pola tidur terjadi perubahan tidak seperti biasa.
14. Kekacauan alam pikir yaitu yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya, misalnya
bicaranya kacau sehingga tidak dapat diikuti jalan pikirannya.
15. Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan
semangat dan gembira berlebihan.
16. Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
17. Sulit dalam berpikir abstrak.
18. Tidak ada atau kehilangan kehendak (avalition), tidak ada inisiatif, tidak ada
upaya/usaha, tidak ada spontanitas, monoton, serta tidak ingin apa-apa dan serba
malas dan selalu terlihat sedih.
2.4

Klasifikasi pada Penyakit Mental


Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang psikologik
dari unsur psikis (Maramis, 1994). Macam-macam gangguan jiwa (Rusdi Maslim, 1998)
antara

lain Gangguan

skizotipal dan gangguan

jiwa

organik dan simtomatik, skizofrenia,gangguan

waham, gangguan

suasana

perasaan, gangguan

neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan


fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi
mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku dan emosional dengan
onset masa kanak dan remaja. Berikut penjelasannya :
1. Skizofrenia
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan
disorganisasi personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk
psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian
pengetahuan kita tentang sebab-musabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis,
1994).Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai kontak dengan realitas, sehingga
9

pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan
menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. Jarang bisa terjadi
pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan
personalitas yang rusak cacat (Ingram et al.,1995).
2.

Depresi

Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan
nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri (Kaplan, 1998). Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk
gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan,
ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari,
1997). Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan.
Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang
mendalam (Nugroho, 2000). Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood
mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan
bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidakberdayaan, harga diri
rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang. Depresi
menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari
situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa ketidaktahuan
akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan
tanda depresi (Rawlins et al., 1993). Individu yang menderita suasana perasaan (mood)
yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi
yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktifitas (Depkes, 1993). Depresi
dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak
sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana
sebagian besar orang mulai pulih (Atkinson, 2000).
3.

Kecemasan

Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap
orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaikbaiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai
bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993). Penyebab maupun
sumbernya biasa tidak diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari
kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi
10

rentang respon kecemasan ke dalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasan ringan,
sedang, berat dan kecemasan panik.
4.

Gangguan Kepribadian

Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan


gejala-gejala nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi
ataupun rendah. Jadi boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan
intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi.
Klasifikasi gangguan kepribadian : kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau
siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian axplosif, kepribadian anankastik atau
obsesif-konpulsif, kepribadian histerik, kepribadian astenik, kepribadian anti sosial,
Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequate (Maslim,1998).

5.

Gangguan Mental Organik

Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh
gangguan fungsi jaringan otak (Maramis, 1994). Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat
disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang terutama di
luar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka gangguan dasar mengenai
fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila
hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang
menentukan gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian
menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada
suatu penyakit tertentu dari pada pembagian akut dan menahun.
6.

Gangguan Psikosomatik

Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah


(Maramis, 1994). Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian
besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh
susunan saraf vegetatif. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang
dinamakan dahulu neurosa organ. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu,
maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik.
7.

Retardasi Mental

Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak
lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya rendahnya daya keterampilan selama
11

masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh,


misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial (Maslim,1998).
8.

Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja

Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan
permintaan, kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan
gangguan perilaku dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan.
Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan
tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada
anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala, ensepalitis, neoplasma dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi
perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan itu dapat diubah,
maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.
BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh Stressor (Penyebab
terjadinya stres) orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari
tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. Noto Soedirdjo,
menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki kesehatan mental adalah Memiliki
kemampuan

diri

untuk

bertahan

dari

tekanan-tekanan

yang

datang

dari

lingkungannya. Sedangkan menurut Clausen Karentanan (Susceptibility) Keberadaan


seseorang terhadap stressor berbeda-beda karena faktor genetic, proses belajar dan
budaya yang ada dilingkungannya, juga intensitas stressor yang diterima oleh
seseorang dengan orang lain juga berbeda.
Gangguan mental itu ditandai oleh:

Adanya penurunan fungsi mental


Terjadinya perilaku yang tidak tepat atau wajar.

Untuk menentukan kreteria adanya gangguan mental terdapat enam macam,


yaitu:

Orang yang memperoleh pengobatan psikiatris


Orang yang salah penyesuaian sosialnya
Hasil diaknosis psiatris
Ketidakbahagiaan secara subjektif
Adanya simptom-simptom psikologis secara objektif,
12

Kegagalan adaptasi secara positif.

13

DAFTAR PUSTAKA
http://manisolekransyling.blogspot.co.id/2014/12/gangguan-mental-danklasifikasinya.html
http://sayacintapsikologi.blogspot.co.id/2014/02/definisi-penyebab-jenis-tanda-dan.html
https://www.scribd.com/doc/94224456/MAKALAH-GANGGUAN-JIWA
http://tatangsupriadi.blogspot.co.id/2013/04/makalah-tentang-penyakit-mental.html