Anda di halaman 1dari 30

1

KULTUR
Sampel Rectal Swab
Penderita Penyakit Diare

Oleh

Cut Indriputri (PO.71.4.203.13.2.009)


Dewi Masitah (PO.71.4.203.13.2.010)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MAKASSAR
PRODI D.IV ANALIS KESEHATAN
2016
Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Isolasi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau
memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya sehingga diperoleh
kultur murni atau biakan murni.
Identifikasi merupakan usaha atau metode yang dilakukan untuk
mengetahui secara rinci tentang bakteri, seperti; morfologi bakteri, bentuk
koloni, sampai jenisnya. Identifikasi bakteri biasanya dilakukan dengan
cara pengecatan, penanaman pada media plate dan uji biokimia.
Hasil isolasi dan identifikasi ini sangat dipengaruhi oleh; tenaga atau
pelaksana (teknisi) yang memiliki pendidikan, keterampilan, pengalaman
dan sifat pekerjaan, mutu specimen, media dan reagensia, metode yang
digunakan, peralatan dan kelengkapannya serta pembacaan hasil tes
untuk pelaporan pengeluaran hasil pemeriksaan.
B. Maksud Praktikum
Praktikum ini dimaksudkan agar mahasiswa mampu mengetahui cara
mengisolasi dan mengidentifikasi dengan benar.

C. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengisolsi dan mengidentifikasi bakteri
dari sampel rektal swab, dengan hasil diagnosis penyakit diare.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Rektal Swab
Rektal swab merupakan apusan yang dilakukan pada daerah rectum
+ 2-3 cm diatas lubang anus. Kuman-kuman pathogen penyebab
gastroenteritis dapat diisolasi dari swab rectum. Kuman-kuman yang
ditemukan dari swab rectum juga terdapat pada saluran pencernaan.
Cara Pengambilan Spesimen dari Rektal Swab
Orang yang hendak diambil swabnya diminta bersimpuh dan
menungging di atas tempat tidur. Tangan kiri petugas pengambil swab
membuka lubang anus dan tangan kanan memasukan lidi kapas seteril ke
dalam lubang anus dengan cara memutar sampai kurang lebih 2-3 cm ke
dalam lubang anus. Setelah itu lidi kapas ditarik ke luar dengan sambil
tetap diputar. Selanjutnya lidi kapas tadi dimasukkan dalam media carry
and blir sampai terbenam ke dalam media. Apabila lidi/ tangkainya terlalu
panjang, kita potong sehingga botol bisa ditutup dengan rapat. Setelah
diberi label, specimen kita bawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Kemungkinan Bakteri yang ditemukan pada Rektal Swab
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Vibrio sp
Salmonella sp
Shigella sp
Escherichia coli
Clostridium sp
Campylobacter sp
Bacillus cirius

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

B. Diare
Pengertian
Diare (bahasa Inggris: diarrhea) adalah sebuah penyakit di saat tinja
atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling
sedikit tiga kali dalam 24 jam. Di negara berkembang, diare adalah
penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga membunuh
lebih dari 2,6 juta orang setiap tahunnya.

Penyebab
Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga
seringkali akibat dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan
dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya
sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu
minggu. Namun untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat
menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam jiwa bila tanpa
perawatan.
Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentri,
kolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis
seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak
mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu.
Diare juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan,
terutama dalam seseorang yang tidak cukup makan.
1. Virus
Virus (terutama rotavirus) dan spesies bakteri Escherichia coli dan
Campylobacter adalah penyebab utama gastroenteritis. Akan tetapi,
banyak agen infeksi lain yang dapat menyebabkan sindrom ini. Penyebab

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

non-infeksi kadangkala terlihat, tetapi lebih jarang daripada etiologi virus


atau bakteri. Risiko infeksi lebih tinggi pada anak-anak karena kurangnya
kekebalan mereka dan kebersihan yang relatif buruk.
Virus yang diketahui menyebabkan gastroenteritis meliputi rotavirus,
norovirus, adenovirus, dan astrovirus.
Rotavirus adalah penyebab gastroenteritis yang paling umum pada anakanak, dan mengakibatkan tingkat insiden yang serupa baik di negara maju
maupun negara berkembang. Virus mengakibatkan sekira 70% episode
diare menular pada kelompok usia anak-anak. Rotavirus lebih jarang
menjadi penyebab pada orang dewasa karena kekebalan alami mereka.
Norovirus adalah penyebab utama gastroenteritis pada orang dewasa di
Amerika, mengakibatkan lebih dari 90% wabah. Epidemi lokal ini biasanya
terjadi jika sekelompok orang berada dalam jarak fisik yang berdekatan,
seperti di kapal pesiar, rumah sakit, atau di restoran.[1] Orang-orang
mungkin tetap bisa menularkan virus bahkan setelah sembuh dari
diarenya. Norovirus adalah penyebab dari kira-kira 10% kasus pada anakanak.
2. Bakteri

Salmonella enterica serovar Typhimurium (ATCC 14028) seperti


terlihat pada mikroskop dengan pembesaran 1000 kali dan pewarnaan
Gram.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

Di negara maju, Campylobacter jejuni menjadi penyebab utama


gastroenteritis bakteri, dimana separuh dari kasus ini terkait dengan
pajanan terhadap unggas. Pada anak-anak, bakteri merupakan penyebab
dari sekitar 15% kasus, dengan jenis yang paling umum meliputi spesies
Escherichia coli, Salmonella, Shigella, dan Campylobacter. Bila
makanan terkontaminasi dengan bakteri dan berada pada suhu ruangan
selama beberapa jam, bakteri berkembang biak dan meningkatkan risiko
infeksi

pada

orang-orang

yang

mengonsumsi

makanan

tersebut.

Beberapa makanan yang umum dikaitkan dengan penyakit ini yakni


daging mentah atau daging yang kurang matang, ayam, makanan laut,
dan telur; kecambah mentah; susu yang belum dipasteurisasi dan keju
lunak; serta jus jeruk dan sayuran. Di negara berkembang, khususnya
Afrika subwilayah Sahara dan Asia, Vibrio cholera adalah penyebab
umum gastroenteritis. Infeksi ini biasanya ditularkan melalui air atau
makanan yang terkontaminasi.
Clostridium difficile toksigenik adalah penyebab utama diare yang
lebih sering terjadi pada manusia berusia lanjut. Bayi dapat menjadi
pembawa bakteri ini namun tidak berlanjut ke arah munculnya gejala. Ini
adalah penyebab diare yang umum pada mereka yang dirawat inap dan
sering

dikaitkan

dengan

penggunaan

antibiotik.

Diare

infeksi

Staphylococcus aureus juga mungkin terjadi pada mereka yang


menggunakan antibiotik. "Travelers diarrhea" biasanya merupakan jenis
gastroenteritis bakteri. Obat penekan asam tampaknya meningkatkan
risiko infeksi secara signifikan setelah terpajan sejumlah organisme,
termasuk

spesies

Clostridium

difficile,

Salmonella,

dan

Campylobacter. Risiko ini lebih tinggi bagi mereka yang menggunakan


penghambat

pompa

proton

dibandingkan

dengan

mereka

yang

menggunakan antagonis H2.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

3. Parasit
Beberapa protozoa dapat mengakibatkan gastroenteritis paling umum
adalah Giardia lamblia tetapi spesies Entamoeba histolytica dan
Cryptosporidium juga terlibat. Sebagai sebuah kelompok, agen ini
mencakup sekitar 10% kasus pada anak-anak. Giardia lebih umum terjadi
di negara berkembang, tapi agen etiologi ini menyebabkan jenis penyakit
ini dengan jumlah tertentu hampir di semua tempat. Ini lebih umum terjadi
pada orang-orang yang pernah bepergian ke tempat-tempat dengan
prevalensi tinggi, anak-anak di penitipan anak, laki-laki yang berhubungan
seksual dengan laki-laki, dan dalam keadaan setelah terjadinya bencana.

Gejala
Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus
menerus disertai mual dan muntah. Tetapi gejala lainnya yang dapat
timbul antara lain pegal pada punggung,dan perut berbunyi.
Patogenitas Diare
Hal ini terjadi ketika cairan yang tidak mencukupi diserap oleh usus
besar. Sebagai bagian dari proses digestasi, atau karena masukan cairan,
makanan tercampur dengan sejumlah besar air. Oleh karena itu makanan
yang dicerna terdiri dari cairan sebelum mencapai usus besar. Usus besar
menyerap air, meninggalkan material yang lain sebagai kotoran yang
setengah padat. Bila usus besar rusak / radang, penyerapan tidak terjadi
dan hasilnya adalah kotoran yang berair.

C. Shigella

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

Shigella adalah bakteri patogen usus yang dikenal sebagai agen


penyebab penyakit Disentri Basiler. Bakteri ini menginfeksi saluran
pencernaan dan menyebabkan berbagai gejala, dari diare, kram, muntah,
dan mual.
Shigella merupakan penyebab diare disentri yang paling sering pada
anak usia 6 bulan sampai 10 tahun di Amerika Serikat dan negara
berkembang.

Shigella

tahan

terhadap

keasaman

lambung

dan

membutuhkan inokulum yang kecil untuk menyebabkan diare sehingga


mudah ditularkan ke orang lain. Penularan terjadi dalam kondisi banyak
orang berkumpul dalam satu tempat seperti di penitipan anak, panti
asuhan atau tempat penampungan. Shigella menginvasi dan berproliferasi
di dalam epitel kolon. Kemudian menghasilkan suatu toksin dengan efek
sekretori

dan

sitotoksik

dan

menyebabkan

ulkus

sehingga

tinja

mengandung lendir dan darah, secara mikroskopis ditemukan leukosit dan


eritrosit.
Epidemiologi
Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah
kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009
terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan
kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB
diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73
orang (CFR 1,74 %.). Berdasarkan isolasi penderita diare dari RS
Karantina Jakarta pada tahun 1980--1985 spesies terbanyak dari Shigella
ialah Sh. Jlexneri (47,1%) lalu menyusul Sh. dysentriae (27.4%).
Taksonomi
Kingdom

: Bacteria

Filum

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma proteobacteria

Ordo

: Enterobacteriales

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

Famili

: Enterobacteriaceae

Genus

: Shigella

Spesies

: Shigella flexneri, Shigella dysenteriae, Shigella boydii


dan Shigella sonnei

Struktur antigen
Shigella mempunyai susunan antigen yang kompleks, terdapat
tumpang tindih dalam sifat serologik berbagai spesies, dan sebagian
besar bakteri ini mempunyai antigen O yang juga dimiliki oleh bakteri
enterik lainnya. Antigen somatik O Shigella adalah liposakarida.
Kekhususan serologiknya tergantung pada polisakarida. Terdapat lebih
dari 40 serotipe. Klasifikasi Shigella didasarkan pada sifat-sifat biokimia
dan antigenic.

Klasifikasi (Serogrouping)
Shigella dibagi dalam empat serogrup berdasarkan komponen-komponen
utama antigen O yaitu:
1. Grup A: Shigella dysenteriae (10 serotype : Sh. Shigae, Sh. schmitzii/
Sh. ambiqua )
2. Grup B: Shigella flexneri

(8 serotipe : Sh. New Castel, dan Sh.


Manchester)

3. Grup C: Shigella boydii

(15 serotype)

4. Grup D: Shigella sonnei


Setiap serogrup dibagi lagi dalam serotip berdasarkan komponen
minor antigen O.
Grup A-C secara fisik serupa; S. sonnei (grup D) dapat dibedakan
berdasarkan biochemical metabolisme assays. Tiga kelompok Shigella
adalah spesies-spesies penyebab penyakit utama : S. flexneri adalah
spesies yang menyumbang 60% dari kasus-kasus di negara-negara

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

10

berkembang; S. sonnei penyebab 77% kasus di negara maju dan 15% di


negara-negara berkembang, dan S. dysenteriae biasanya merupakan
penyebab dari wabah disentri, terutama dalam populasi yang dibatasi
seperti kompleks pengungsian.
Gejala
Gejala Shigella yang paling umum adalah gejala diare, demam, mual,
muntah, kram perut, perut kembung, dan sembelit. Kotoran mungkin akan
mengandung darah, lendir atau nanah.

Gejala memerlukan waktu

selama satu minggu untuk muncul, tetapi paling sering dimulai dua sampai
empat hari setelah proses menelan. Sering disertai muntah-muntah dan
bisa menyebabkan dehidrasi.
Bakteri menyebabkan penyakit dengan menyusup ke dalam lapisan
usus, menyebabkan pembengkakan dan kadang kadang luka dangkal.
Gejala dimulai dalam 1-4 hari setelah terinfeksi.
Pada anak-anak yang lebih muda, gejala dimulai secara tiba-tiba
dengan demam, rewel, perasaan mengantuk, hilangnya nafsu makan,
mual dan muntah, diare, nyeri perut dan kembung dan nyeri pada saat
buang air besar.
Setelah 3 hari, tinja akan mengandung nanah, darah dan lendir.
Buang air besar menjadi lebih sering, sampai lebih dari 20 kali/hari.
Bisa terjadi penurunan berat badan dan dehidrasi berat. Pada orang
dewasa tidak terjadi demam dan pada mulanya tinja sering tidak berdarah
dan tidak berlendir. Gejalanya dimulai dengan nyeri perut, rasa ingin
buang air besar dan pengeluaran tinja yang padat, yang kadang
mengurangi rasa nyeri. Episode ini berulang, lebih sering dan lebih berat.
Toksin
Shigella sp. dapat menyebabkan penyakit karena bakteri tersebut
mampu menghasilkan toxin (racun). Ada 2 macam racun, yaitu:
1. Endotoksin

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

11

Saat terjadi autolisis, semua shigella melepaskan lipopolisakarida


toksik. Endotoksin ini mungkin berperan dalam menimbulkan iritasi dinding
usus.
Infeksi hampir selalu terbatas pada saluran pencernaan, invasi ke
aliran darah sangat jarang dan sangat menular. Infeksi di usus akut ini
adalah disentri basiler/Shigellosis yang dapat sembuh sendiri. Reaksi
peradangan

yang

hebat tersebut

merupakan

faktor utama

yang

membatasi penyakit ini hanya pada usus. Selain itu juga menyebabkan
timbulnya gejala klinik berupa demam, nyeri abdomen, tenesmus ani
(mulas berkepanjangan tanpa hasil pada hajat besar). Waktu terjadinya
autolysis semua bakteri Shigella sp mengeluarkan lipopolisakaridanya
yang toksik. Endotoksin mungkin akan menambah iritasi pada dinding
usus.

2. Eksotoksin
Eksotoksin merupakan protein yang antigenik (merangsang produksi
antitoksin) dan mematikan hewan percobaan. Aktivitas enterotoksin
terutama pada usus halus yang berbeda bila dibandingkan dengan
disentri basiler klasik dimana yang terkena adalah usus besar. Sebagai
eksotoksin zat ini dapat menimbulkan diare sebagaimana enteroktoksin
yang tidak tahan panas.
Pada manusia eksotoksin menghambat absorbsi gula dan asam amino
pada usus kecil. Neurotoksin ini juga ikut berperan dalam menyebabkan
keparahan

penyakit

dan

sifat

infeksi

Shigella

dysenteriae,

serta

menimbulkan reaksi susunan saraf pusat (meningismus, koma).


Sifat biakan
Semua Shigella meragikan glukosa. Bakteri ini tidak meragikan
laktosa kecuali Shigella sonei. Ketidakmampuannya meragikan laktosa
membedakan bakteri-bakteri Shigella pada perbenihan diferensial. Bakteri

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

12

ini membentuk asam dari karbohidrat, tetapi jarang menghasilkan gas.


Bakteri ini juga dibagi menjadi bakteri yang meragikan manitol dan yang
tidak.
Aerob dan fakultatif anaerob, pH pertumbuhan 6,4 7,8 dan suhu
pertumbuhan optimum 37oC kecuali Shigella sonnei dapat tumbuh pada
suhu 45oC.
Test-test yang menunjukkan hasil negative : fermentasi sukrosa dan
laktosa, H2S, Motility, Simons Citrade, Arginine dihidrolysa, Lysine
decarboxylase, Malonate broth, Phenylalanine deaminase, Urease, Dnase, gelatinase, Oxidase, Voges Proskauer, KCN Broth.
Test-tes yang menunjukkan hasil positif

: Reduksi nitrate, Methyl

Red test.
Patogenitas
Infeksi Shigella hampir selalu terbatas di saluran cerna; jarang terjadi
invasi ke aliran darah. Shigella sangat mudah menular; dosis infektifnya
sekitar 103 organisme (sedangkan dosis infektif salmonella dan vibrio
biasanya 105-108). Proses patologis yang penting adalah invasi ke sel epitel
mukosa (misalnya sel M) melalui fagositosis terinduksi, keluarnya shigella
dari vakuola fagositik, perbanyakan diri dan penyebaran shigella di dalam
sitoplasma sel epitel, dan masuknya bakteri tersebut ke sel yang
berdekatan. Mikroabses pada dinding kolon dan illeum terminalis
menyebabkan

nekrosis

membran

mukosa,

ulserasi

superficial,

pendarahan, dan terbentuknya pseudomembran pada area yang


mengalami ulserasi. Mikroabses ini terdiri atas fibrin, leukosit, debris sel,
membran mukosa nekrotik dan bakteri. Saat proses ini mereda, jaringan
granulasi mengisi ulkus dan terbentuk jaringan parut.
Shigella tidak seperti Vibrio cholera dan sebagian besar Salmonella
spesies. Shigella resistan terhadap asam dan bertahan di lambung hingga

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

13

mencapai usus. Sesampainya disana, aksi patogenitas yang mendasar atau yang
utama adalah menginvasi mukosa usus manusia. Hal ini memicu inflamasi
akut dengan respon ulserasi mukosa dan abses.
Shigella mulanya menyebrangi membran mukosa dengan cara
memasukan folikel yang bergandengan dengan sel M dari usus, yang mana
menyebabkan rusaknya brush border dari enterosit absorbtif. Shigella
berikatan secara selektif ke sel M dan transcytose melalui gabungan sel
fagosit. Bakteri di dalam sel M dan makrofag dapat menyebabkan
kematian dengan mengaktivasi program apoptosis (kematian sel yang
normal). Bakteri dilepaskan dari sel M dan kemudian mengadakan kontak
dengan sisi basorateral dari enterocytes dan memulai proses invasi yang
difasilitasi oleh antigen invasi plasmid (IpaA, IpaB, IpaC). Dalam kontak
dengan enterocytes, antigen tersebut di masukkan oleh sistem sekresi
dan masing masing mempunyai peran yang spesifik. Hal ini termasuk alat
tambahan sel, penyusunan kembali sitoskeleton, polimerisasi aktin, dan
induksi apoptosis.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

14

Gambar 1. Invasi Shigella dan Salmonella (Sumber: Sherris Medical


Microbiology An Introduction of Infectious Diseases, Fourth Edition)
Invasi oleh Shigella flexneri dan Salmonella typhi. Shigella dan
Salmonella menunjukkan invasi di sel M usus tetapi mengunakan jaur
yang berbeda setelah lepas dari vakuola endosit. Shigella membelah diri
di sel dan mendorong dirinya sendiri untuk melewati sitoplasma untuk
menginfasi sel yang berdekatan, dan Salmonella melewati sel menuju
submukosa, dimana hal ini di terima oleh makrofag. Typhi serotip mampu
membelah diri di dalam makrofag dalam limfa dan retikuloendotelial.
Kedua organisme menstimulasi apoptosis sel host. Dalam kasus Shigella,
organisme ini menyebabkan luka pada mukosa, sedangkan Typhi
mengalir dalam darah dan menyebabkan demam typhoid.
Bakteri tertelan, masuk dan berada di usus halus, menuju ileum
terminal dan kolon kemudian melekat pada permukaan mukosa,
berkembang biak, reaksi peradangan hebat, sel-sel terlepas, timbul Ulkus,
terjadi disentri basiler (tinja lembek, bercampur darah, mukus dan pus,
nyeri abdomen, mules, tenesmus ani).

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

15

Masa inkubasinya adalah 2-4 hari, atau bisa lebih lama sampai 1
minggu. Oleh seseorang yang sehat diperlukan dosis 1000 bakteri
Shigella untuk menyebabkan sakit. Penyembuhan spontan dapat terjadi
dalam waktu 2-7 hari terutama pada penderita dewasa yang sehat
sebelumnya, sedangkan pada penderita yang sangat muda atau tua dan
juga pada penderita dengan gizi buruk penyakit ini akan berlangsung
lama. Pernah ditemukan terjadinya septicemia pada penderita dengan gizi
buruk dan berkhir dengan kematian.
Cara Penularan
Penyebaran Shigella adalah dari manusia ke manusia lain, dimana
karier merupakan reservoir kuman. Dari karier ini Shigella disebarkan oleh
lalat, juga melalui tangan yang kotor, makanan yang terkontaminasi, tinja
serta barang-barang lain yang terkontaminasi ke orang lain yang sehat.

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
MEDIA
ALAT

Sampel

Pemupuk
Isolasi

Difrensial

Biokimia

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

16

Urea

Ose

SCA

Lampu spritus

MR/ VP

Objek gelas
Mikroskop
Tissu
Pipet tetes

Rectal Swab

GN Broth

SSA

BHIB

MCA

APW

BA

MIO
KIA

Laktosa
Sukrosa
Glukosa

Inkubator

Manitol

Rak Tabung

Maltosa

B. Prosedur Kerja
1) Hari I
Dilakukan pewarnaan Gram pada sampel X Coccus gram (+)
Sampel X dari media transport kemudian diinokulasikan pada
media penyubur (GN Broth, BHIB dan APW)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.
2) Hari II
Dilakukan pembacaan hasil;
- Gn Broth
: (+)
- BHIB
: (+)
- APW
: (-)

Dilakukan pewarnaan gram;


- Gn Broth
: basil gram (-)
- BHIB
: basil gram (-) dan coccus gram (+)
Penanaman pada media selektif (SSA, MCA, BA)
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.
3) Hari III
Dilakukan pembacaan hasil;
- SSA
: koloni jernih, bulat, kecil-kecil, smooth, keping.
- MCA
: koloni jernih, bulat, kecil-kecil, smooth, keping.
- BA
: koloni keabuan, bulat, kecil-sedang, smooth,
cembung, anhaemolysis.
Dilakukan pewarnaan gram;
- SSA
: basil gram (-), pendek-pendek.
- MCA
: basil gram (-)
- BA
: basil gram (-)
Dilakukan penanaman pada media differensial (KIA)
Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

17

Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.


4) Hari IV
Dilakukan pembacaan hasil;
TSIA
: Alkali, Acid, gas (-), H2S (-)
Dilakukan pewarnaan gram
TSIA
: basil gram (-)
Penanaman pada media uji biokimia
- Ferementasi Karbohidrat Glukosa, sukrosa, manitol, laktosa,
maltosa
- SCA, Urea, MIO, MR/VP
Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.
Dilakukan uji :
- Uji Katalase
:+
- Uji Oxidase
:+
5) Hari V
Dilakuka pembacaan hasil;
- Glukosa : +
SCA : - Sukrosa : Urea : - Laktosa : MIO : M : (-) I : (-) O : (+)
- Manitol
:+
MR : +
- Maltosa : +
VP
:Dicocokkan dengan tabel Uji.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Hari I
Hasil Pewarnaan Gram (media transport)

Coccus gram (+)


Hari II
Hasil media pemupuk

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

19

GN Broth (+)

BHIB (+)

APW (-)

Hasil pewarnaan Gram (media pemupuk)

GN Broth
Basil Gram (-)

BHIB
Basil Gram (-) dan (+)

Hari III
Hasil pembacaan media selektif

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

20

SSA (+)

MCA (+)

BAP (+)
Hasil pewarnaan Gram (media selektif)

SSA
Basil Gram (-)

MCA
Basil Gram (-)

BAP

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

21

Basil Gram (-)

Hari IV
Hasil pembacaan media differensial (KIA)
Alkali/Acid
Gas : - H2S : -

KIA
Hasil uji Katalase

Katalase (+)

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

22

Hasil uji Oksidase

Oksidase (+)

Hari V
Hasil pembacaan uji Biokimia

glu (+)

SCA (-)

mal (+)

man (+)

UREA (-)

MR (+)

lac (-)

suc (-)

VP (-)

MIO (-)(-)(+)

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

23

B. Pembahasan
Media SSA (Salmonella Shigella Agar)
Ciri-ciri koloni yang tumbuh pada media ini yaitu: koloni jernih, bulat,
kecil-kecil, smooth, keping.
Dengan ciri-ciri tersebut, dapat diduga bahwa bakteri yang terkandung
dalam sampel tersebut adalah Salmonella atau Shigella. Koloni dalam
media ini tumbuh dengan subur disebabkan dalam media terkandung
campuran bile salt, Na Citrat, dan brilliant green yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri coliform lainnya dan bakteri gram (+). Bakteri yang
tidak meragikan laktosa membentuk koloni yang jernih.
Berikut kandungan media SSA;
a. Campur ekstrak daging dan pepton, menyediakan kebutuhan nitrogen
b. Vitamin, mineral, dan asam amino, diperlukan untuk pertumbuhan
c. Campuran bile salt, sodium sitrat, dan brilliant green menghambat
bakteri gram positif, sebagian besar baktei coliform dan pertumbuhan
swarming dari Proteus sp sehingga kuman Salmonella sp dan
Shigella sp dapat tumbuh dengan baik.
d. Neutral red, sebagai indicator
e. Ferric citrate, mendeteksi adanya H 2S yang dihasilkan bakteri seperti
proteus dan beberapa strain dari salmonella akan terbentuk koloni
dengan titik hitam di tengah.
Media MCA (Mac Concey Agar)
Ciri-ciri koloni pada media ini yaitu; koloni jernih, bulat, kecil-kecil,
smooth, keping.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

24

Koloni yang tumbuh pada media ini tidak meragikan laktosa yang
ditandai dengan pertumbuhan koloni yang jernih.
Berikut kandungan media SSA;
a. Pepton, sebagai sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan
b.
c.
d.
e.

bakteri
Laktosa, sebagai sumber energy dan bahan karbohidrat
Bile salt dan Kristal violet sebagai penghambat bateri gram positif
NaCl sebagai pengatur keseimbangan tekanan osmosis pada media
Neutral red, sebagai indicator untuk mengetahui terbentuk tidaknya

asam karena pemecahan karbohidrat


f. Agar, sebagai bahan pemadat media dan tempat tumbuhnya mikroba.
Media BAP (Blood Agar Plate)
Ciri-ciri koloni pada media ini yaitu; koloni keabuan, bulat, kecilsedang, smooth, cembung, anhaemolysis.
Media Differensial (KIA)
Pada uji KIA warna media slant berubah menjadi merah, ini terbentuk
karena adanya proses oksidasi dekarboksilasi protein membentuk amina
yang bersifat alkali dengan adanya phenol red maka terbentuk warna
merah. Ini menandakan bahwa bakteri ini tidak memfermentasi laktosa
dan sukrosa. Pada media daerah butt media berubah berwarna kuning ini
menandakan bakteri memfermentasi glukosa yang bersifat asam sehingga
terbentuk warna kuning.
H2S dan Gas tidak terbentuk pada media ini, menandakan bakteri
tidak mempunyai enzim desulfurase yang dapat memecah protein-protein
yang mengandung sulfur seperti (lysin dan metionin), menjadi H 2S serta
tidak mempunyai enzim tiosulfat reductase yang dapat menghidrolisis Na
tiosulfat menjadi ion sulfit dan gas H2S.
Dugaan sementara adalah bakteri Shigella.
Uji fermentasi karbohidrat

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

25

Bakteri ini memfermentasikan glukosa, manitol, dan maltose menjadi


asam. Asam yang terbentuk kemudian menurunkan pH pada media
sehingga menyebabkan indicator Phenol Red berubah menjadi kuning.
Pada uji laktosa dan sukrosa memperlihatkan hasil yang negative yaitu
tidak terjadinya perubahan warna.
Uji MIO
Pada sampel yang telah ditanami menunjukkan hasil ;
Motility : (-) Indol : (-) Ornithin : (+). MIO merupakan media yang semi
solid yang dapat digunakan untuk mengetahui pergerakan bakteri,
pembentukan indol, dan reaksi Ornithin. Salmonella tidak membentuk
indol dan motility positif (Gani. A. 2003), sehingga semakin
menguatkan bahwa dalam sampel terkandung bakteri shigella.
Motility menunjukkan hasil negative yang menandakan bakteri
tidak mempunyai flagella.
Indol menunjukkan hasil negative yang menandakan bakteri tidak
menggunakan asam amino triptofan sebagai sumber energy. Asam
amino tryptofan merupakan komponen asam amino yang lazim
terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah dapat
digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. Dimana
asam amino triptofan apabila dihidrolisis oleh enzim triptofamase akan
menghasilkan indol dan asam pemuat.
Untuk uji ini, digunakan medium cair yang kaya akan triptofan
yaitu dalam bentuk tripton 1% sebagai sumber karbon. Indol yang
terbentuk akan berwarna merah dengan penambahan reagen Kovach
atau Erlich yang mengandung p-dimetilbenzaldehid. Dikatakan positif
apabila senyawa ini menghasilkan senyawa para amino benzaldehid
yang tidak larut dalam air dan membentuk warna merah pada
permukaan medium.
Mekanisme terjadinya reaksi dapat digambarkan sbb ;
HCl+ Amil alkohol
Indole + p-dimetilamino benzldehid

Rosindole dye

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

26

(berwarna merah ceri)


Ornithin menunjukkan hasil positif. Uji ini dilakukan untuk melihat
kemampuan bakteri dalam mengguraikan ornithine (asam amino)
menjadi amine.
Uji MR/VP
Uji MR yang dilakukan, diperoleh hasil (+) yaitu ditandai dengan
terjadinya perubahan warna indicator menjadi merah. Genus bakteri
Shigella mampu memfermentasikan glukosa dan menghasilkan
banyak sekali asam laktat, asetat, suksina dan format. Akumulasi
asam-asam ini menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang. Bila indicator
merah metil ditambahkan dengan pH serendah itu, maka indicator
tersebut menjadi merah.
Hal ini menandakan bahwa organism yang bersangkutan adalah
peragi asam campuran. (mixed acid fermenter).
Uji Voges-Proskueur bertujuan untuk mengidentifikasi jenis
bakteri

untuk

membedakan

bakteri

E.coli

dengan

Enterobacteraerogenes. Hasil uji ini negative, karena tidak terbentuk


warna merah pada medium setelah ditambahkan -naftol dan KOH,
artinya hasil akhir fermentasi bakteri Shigella bukan asetil metil
carbinol. (asetolin).
Uji

Voges-Proskueur

digunakan

untuk

mengidentifikasi

mikroorganisme yang melakukan fermentase dengan hasil akhir 2,3


butanadiol. Bila bakteri memfermentasikan karbohidrat menjadi 2,3
butanadiol sebagai produk utama, akan terjadi penumpukan bahan
tersebut dalam media pertumbuhan. Pada uji VP ini dilakukan
penambahan 40% KOH dan 5% larutan alfa naftol pada saat
pengamatan. Hal ini dapat menentukan adanya asetoin (asetil metil
karbinol), suatu senyawa pemula dalam sintesis 2,3 butanadiol.
Dengan adanya penambahan KOH 40 %, keberadaan setoin
ditunjukkan dengan perubahan warna medium menjadi merah, dan

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

27

perubahan ini makin jelas dengan penambahan alfa naftol beberapa


tetes.
Uji VP ini sebenarnya merupakan uji tidak langsung untuk
mengetahui adanya 2,3 butanadiol. Karena uji ini lebih dulu
menentukan asetoin, dan seperti yang kita ketahui bahwa asetoin
adalah senyawa pemula dalam sintesis 2,3 butanadiol, sehingga
dapat dipastikan bahwa dengan adanya asetoin dalam media berarti
menunjukkan adanya produk 2,3 butanadiol sebagai hasil fermentasi.
Mekanisme terjadinya reaksi pada Uji Voges-Proskueur dapat
digambarkan sebagai berikut :
40% KOH
Acetoin + -naftol

diasetil + keratin (kompleks pink)


Alkohol absolute

Uji SCA
Bakteri yang memfermentasikan sitrat sebagai sumber karbon
akan menghasilkan natrium karbonat yang bersifat alkali, dengan
adanya indicator BTB menyebabkan terjadinya warna biru. Pada
Shigella, tidak memfermentasikan sitrat, sehingga pada penambahan
media citrate hasilnya negative. (Gani. A. 2003).
Media ini merupakan medium sintetik dengan Na Citrat sebagai
satu-satunya sumber karbon, NHA+ sebagai sumber N, BTB sebagai
indicator pH.
Uji Katalase
Uji katalase menunjukkan hasil positif (+). Menandakan bahwa
bakteri mempunyai enzim katalase yang dapat mengkatalisasikan
penguraian hydrogen peroksida (H 2O2) menjadi air dan O2. Hidrogen
peroksida

terbentuk

sewaktu

metabolisme

aerob,

sehingga

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

28

mikroorganisme

yang

tumbuh

dalam

lingkungan

aerob

dapat

menguarikan zat toksik tersebut.


Penentuan adanya

katalase ini terlihat dari pembentukan

gelembung udara di sekitar koloni setelah ditambahkan larutan H 2O2


3%.
Reaksi kimiawi yang dikatalisasikan oleh enzim terlihat sebagai
berikut:
Katalase
H2O2

H2O + O2 (gelembung udara)


Peroksidase

Uji Oxidase
Uji oksidase bertujuan untuk menentukan adanya sitokrom
oksidase yang dapat ditemukan pada mikroorganisme tertentu.
Menurut teori yang kami baca pada salah satu buku, mengatakan
bahwa shigella memberikan hasil negative pada uji oksidase.
Sedangkan yang kami temui di lapangan tidak demikian. Di samping
itu, teori lain mengatakan bahwa mikroorganisme aerob dan anaerob
fakultatif memiliki enzim sitokrom oksidase dan oksigen sebagai
akseptor elektronnya. Shigella merupakan anaerob fakultatif.
Sesuai dengan sifat respirassi aerob, suatu sel akan masuk pada
tahap transfer electron dimana reaksi di dalamnya melibatkan
sitokrom oksidase. Dengan keberadaan oksigen, enzim oksidase akan
aktif dan mereduksi substansi-substansi organic yang terdapat pada
test strip sehingga meghasilkan molekul indofenol yang berwarna biru
violet.
Memungkinkan kesalahan terjadi pada saat penggoresan pada
media plate (SSA) dan KIA. Dimana pada saat menggores, media
terlalu lama terbuka di udara (banyak menggunakan oksigen)
sehingga mengaktifkan banyak enzim sitokrom oksidase.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

29

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan mulai dari pewarnaan gram sampai uji
biokimia, dapat disimpulkan bahwa bakteri yang diidentifikasi yaitu bakteri
Shigella flexneri. Adapun hasil dari beberapa uji yang tidak sesuai seperti
pada tes oksidase, bisa disebabkan dari cara penanaman pada media
selektif dan differensial.
B. Saran
Pada pewarnaan gram hendaknya dilakukan dengan teliti dan sesuai
prosedur yang ada agar bakteri yang seharusnya gram negative tidak
tampak seperti gram positif. Lebih teliti lagi dalam hal penggoresan.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES

30

DAFTAR PUSTAKA
Lisna Diana, 2015, Shigella spp dan Shigellosis, https://www.academia.
edu/19768488/Shigella_dan_Shigellosis, diakses 13 Desember 2016
Soemarno, Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinik, Akademi Analis
Kesehatan Yogyakarta : Yogyakarta, 2000.
Wikipedia, 2013, Diare, https://id.wikipedia.org/wiki/Diare, diakses 10
Desember 2016.
Wikipedia, 2013, Diare, https://map-bms.wikipedia.org/wiki/Diare, diakses
10 Desember 2016.

Laporan Bakteriologi_Kel2_D IV ANAKES