Anda di halaman 1dari 44

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN RETARDASI MENTAL


1.1 DEFINISI
Sebastian, C.S. (22 Okt 2013). Pediatric Mental Retardation. http://emedicine.medscape.com/article/289117overview
Retardasi mental adalah keadaan defisitnya perkembangan, dimulai pada awal masa anak-anak yang
menyebabkan terbatasnya intelektual atau kognisi secara signifikan dan buruknya adaptasi sebagai kebutuhan
setiap hari. Ketidakmampuan intelektual bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan konsekuensi dari proses
pathogen
http://www.psychologytoday.com/conditions/mental-retardation
Retardasi mental (RM) adalah kondisi yang didiagnosis sebelum usia 18 tahun, biasanya pada anakanak atau bayi baru lahir yang mempunyai fungsi intelektual secara keseluruhan dibawah rata-rata dan
kurangnya kemampuan penting untuk kehidupan sehari-hari.
Jika onset terjadi pada usia 18 tahun atau lebih, disebut dengan dementia, yang dapat disertai dengan
diagnosis RM. Tingkat intelektual RM berada di bawah 70 dan kemampuan untuk beradaptasinya kurang. Hal
ini penting karena membedakan diagnosis MR dari individu dengan skor IQ rendah yang mampu beradaptasi
dengan tuntutan kehidupan sehari-hari. Pendidikan, pelatihan kerja, dukungan dari keluarga, dan karakteristik
individu seperti motivasi dan kepribadian semua dapat berkontribusi pada kemampuan individu dengan MR
untuk beradaptasi.
Ciri-ciri perilaku lain yang terkait dengan MR (tapi tidak dianggap kriteria untuk diagnosis MR)
termasuk agresi, ketergantungan, impulsif, pasif, cedera diri, keras kepala, rendah diri, dan toleransi frustrasi
rendah. Beberapa juga mungkin menunjukkan gangguan mood seperti gangguan psikotik dan kesulitan
perhatian, meskipun orang lain yang menyenangkan, orang yang sehat. Kadang-kadang ciri-ciri fisik, seperti
sesak dalam sosok dan malformasi elemen wajah, dapat mengatur individu dengan MR terpisah, sementara yang
lain mungkin memiliki penampilan yang normal.

1.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalens retardasi mental pada anak-anak di bawah umur 18 tahun di negara maju diperkirakan mencapai 0,52,5% , di negara berkembang berkisar 4,6%. Di indonesia 1-3% penduduknya menderita kelainan ini. Insidens
retardasi mental di negara maju berkisar 3-4 kasus baru per 1000 anak dalam 20 tahun terakhir. Angka kejadian
anak retardasi mental berkisar 19 per 1000 kelahiran hidup.1 Banyak penelitian melaporkan angka kejadian
retardasi mental lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. (Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3,
Desember 2000: 170 177)

1.3 ETIOLOGI
Sebastian, C.S. (22 Okt 2013). Pediatric Mental Retardation. http://emedicine.medscape.com/article/289117overview
Penyebab retardasi mental (RM) dapat dikelompokkan dari tersering sampai terjarang :
Alterasi atau perubahan perkembangan embrionik, seperti karena abnormalitas kromosom atau fetal terkena
obat atau racun
Masalah lingkungan dan kelainan mental lain, seperti autism
Masalah selama masa kehamilan dan perinatal, seperti malnutrisi fetal, hipoksia, infeksi, trauma atau lahir
premature
Abnormalitas herediter, seperti inborn error metabolism atau aberasi/penyimpangan kromosom
Kondisi medis pada masa anak-anak, seperti infeksi atau trauma pada sentral nervous system (CNS) atau
keracunan
menurut American Association on Mental Retardation :
PRENATAL
1

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

1. KELAINAN GENETIK
Kelainan genetic prenatal dikarakteristik dengan perubahan materi genetic, yang dapat diturunkan oleh
orangtua atau tidak diturunkan.
a. Penyimpangan/aberasi Kromosom
Down syndrome merupakan contoh terbaik pada kelainan genetic prenatal. Pada 95% kasus,
down syndrome disebabkan karena trisomy 21, yang mana kelebihan kromosom 21 pada sel telur atau
sel sperma tersebut tidak memisah (nondisjunction) pada tahap meiosis. Ketika gamet terfertilisasi,
fetus akan memiliki kromosom tambahan 21 pada tiap selnya, sehingga totalnya 47 kromosom.
Dalam sekitar setengah dari kasus translokasi, orang tua (biasanya ibu) memiliki translokasi
seimbang, yaitu, 45 kromosom dengan t (14; 21). Jika seorang anak memiliki translokasi sindrom
Down, orang tua harus diperiksa untuk kehadiran translokasi seimbang. Hal ini penting dalam konseling
genetik karena ketika ibu atau ayah memiliki di (14; 21) translokasi, kemungkinan memiliki anak
dengan sindrom Down adalah 1 di 10 jika pada ibu atau 1 dalam 20 jika di ayah.
Pada varian lain, mosaicism, beberapa sel memiliki 47 kromosom dan yang lain memiliki 46
karena kesalahan dalam salah satu pembelahan sel pertama dari telur yang telah dibuahi. Fenotip
karakteristik sindrom Down pada dasarnya sama dalam trisomi 21 dan translokasi. Fitur utama adalah
fisura palpebra atas-miring, jembatan rendah hidung dengan lipatan epicanthal, mulut dan telinga kecil ,
simian crease (lipatan simian), jembatan hidung datar, telapak tangan pendek dan lebar, dan
karakteristik pola dermatoglyphic.
Hilangnya bagian dari kromosom ini disebut delesi. Contoh paling terkenal adalah cri-du-chat
syndrome, yang ditandai dengan suara bernada tinggi dan disebabkan oleh delesi dalam kromosom 5p3.
Perhatikan bahwa kebanyakan janin dengan penyimpangan kromosom tidak layak. Sekitar 40-50% dari
janin yang aborsi spontan memiliki anomali kromosom. Hanya 2 dari 10 janin dengan sindrom Down
lahir hidup.
Sebuah metode baru menggunakan probe DNA dan fluoresensi hibridisasi in situ telah
membawa cahaya baru bagi banyak sindrom malformasi yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai
dviketahui asalnya. Delesi submicroscopic (microdeletions) DNA telah dilaporkan dalam kromosom
15q11-12 pada Prader-Willi dan sindrom Angelman, meskipun fakta bahwa sindrom ini memiliki
fenotipe yang berbeda. Karena mekanisme pencetakan, hasil sindrom Prader-Willi ketika mikrodelesi
berada dalam kromosom asal ayah dan hasil sindrom Angelman bila asal ibu.
Orang dengan sindrom Prader-Willi memiliki nafsu makan yang berlebihan dan kebiasaan
makan sembarangan, sehingga menyebabkan obesitas. Karena sindrom ini tidak memiliki fitur
patognomonik yang jelas, mungkin tetap tidak terdiagnosis, dan orang tersebut bahkan mungkin dirujuk
untuk perawatan psikiatris karena gangguan makan. Jelas, faktor psikologis bukanlah penyebab utama
di sini, tapi psikoterapi suportif mungkin bisa membantu. Pengobatan ini didasarkan pada modifikasi
perilaku, lembaga batas lingkungan yang ketat pada asupan makanan, dan program pendidikan dan
habilitative diperlukan. Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan dengan
hormon pertumbuhan meningkatkan defisit somatik dan perilaku dalam pasien ini
b. Kelainan dengan autosomal-dominan herediter (diturunkan)
Tuberous sclerosis adalah contoh dari gangguan dalam kelompok ini, yang mungkin terkait
dengan keterbelakangan mental. Hal ini disebabkan oleh mutasi pada gen yang mempengaruhi
pembentukan lapisan ektodermal embrio. Karena kulit dan SSP berkembang dari lapisan ini, kelainan
yang terlihat dapat pada keduanya.
Lesi kulit termasuk angiofibroma dalam bentuk makula di pipi (adenoma sebasea), dengan
distribusi kupu-seperti, terutama setelah pubertas. Caf au lait atau daerah berbentuk daun abu tidak
berpigmen juga ditemukan. Keterbelakangan mental, epilepsi, dan kalsifikasi di otak terlihat, seperti
tumor. Serangan epilepsi sering mulai sebagai kejang infantil, yang harus diwaspadai oleh dokter untuk
mencari gejala lain dari gangguan ini.
Jika tuberous sclerosis didiagnosis, kedua orang tua harus dicermati karena mutasi diwariskan
pada sekitar 28% kasus. Karena pewarisan dominan, risiko kekambuhan adalah 50% untuk setiap
kehamilan. Ekspresi mutasi gen ini bervariasi dari perubahan warna kulit kecil (yang mungkin
menunjukkan bahwa anak tersebut carrier) ke beberapa kondisi penonaktifan. Ini adalah gangguan yang
relatif jarang (prevalensinya 1 dalam 30.000 sampai 1 dalam 50.000 kelahiran hidup), tetapi dapat
ditemukan pada sekitar 0,5% dari orang dengan keterbelakangan mental yang berat.
2

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

c. Kelainan dengan autosomal-resesif herediter (diturunkan)


Kebanyakan gangguan metabolisme termasuk dalam kategori ini. Mereka disebabkan oleh gen
bermutasi tunggal yang mengganggu metabolisme dengan aktivitas enzim kekurangan. Risiko orang tua
pembawa sehat memiliki anak yang menderita adalah 25% untuk setiap kehamilan. Diagnosis dibuat
dengan deteksi produk metabolisme abnormal dalam urin, darah, atau jaringan dan / atau oleh aktivitas
enzim yang rendah atau tidak ada.
Fenilketonuria (PKU) adalah yang paling dikenal dan paling umum dari gangguan
metabolisme, dengan prevalensi sekitar 1 dari 10.000 kelahiran hidup. Defek enzimatik yang terjadi
adalah berkurangnya aktivitas fenilalanin hidroksilase, yang mengarah ke kadar fenilalanin serum yang
tinggi, yang mempengaruhi, antara lain, mielinisasi SSP. Hal itu dijelaskan pada tahun 1934 oleh
Folling 10 anak dengan keterbelakangan mental, hypertonia, dan hyperreflexia, dengan bau apak dalam
urin dan keringat. Kejang dan tremor yang umum, seperti eksim dan manifestasi psikotik.
Gejala klinis dapat dicegah dengan menggunakan diet rendah fenilalanin segera setelah lahir. Di
sebagian besar negara maju, semua bayi baru lahir diperiksa untuk PKU. Diet rendah fenilalanin seumur
hidup dianjurkan untuk mencegah kerusakan di fungsi kognitif. Wanita dengan PKU yang berhasil
diobati tidak memiliki manifestasi klinis diri mereka sendiri tetapi masih memiliki tingkat darah
fenilalanin cukup tinggi untuk menyebabkan kerusakan otak pada janin jika mereka hamil. Untuk
menghindari hal ini, mereka harus mulai mengikuti diet lagi sebelum mereka hamil.
d. Retardasi Mental X-linked
Sindrom Fragile X adalah bentuk herediter paling umum dari retardasi mental dan, setelah
sindrom Down, bentuk genetik yang paling umum. Hal ini terkait X, dengan pewarisan dominan, dan
penetrasi lebih rendah pada wanita. Karena penyempitan di lokasi Xq27.3, tampak seolah-olah
kromosom yang rapuh dan bagian dari kromosom tersebut pecah.
Anak laki-laki prapubertas dengan sindrom ini terlihat cukup normal. Mereka sering resah dan
hiperaktif dan memiliki rentang perhatian yang pendek. Tahap perkembangan mereka, terutama
perkembangan bicara, yang tertunda. Setelah pubertas, fitur phenotypical karakteristik mungkin
muncul, yaitu termasuk wajah lonjong, telinga yang menonjol dan rahang, dan macroorchidism.
Sebagian besar memiliki keterbelakangan mental moderat, tetapi retardasi lebih parah pada lainnya.
Carrier laki-laki tidak memiliki keterbelakangan mental. Wanita dengan sindrom X rapuh yang memiliki
mutasi penuh dan bergejala biasanya memiliki cacat atau keterbelakangan mental ringan belajar. Gejala
perilaku telah dijelaskan pada individu-individu, yaitu, hiperaktif dan penarikan sosial di sekitar 50%
dan depresi pada sekitar 25%.
2. KERUSAKAN/CEDERA PADA FETUS
a. Infeksi Maternal
Infeksi virus pada ibu dapat mengganggu organogenesis, dan semakin awal infeksi pada
kehamilan terjadi, semakin lebih parah efeknya, seperti yang dicontohkan oleh rubella bawaan. Infeksi
rubella selama bulan pertama kehamilan mempengaruhi organogenesis dari 50% dari embrio. Infeksi
pada bulan ketiga kehamilan masih mengganggu perkembangan 15% dari janin. Berbagai sistem yang
terpengaruh, dan sebagai hasilnya, gejala dan gangguan dapat bervariasi dan termasuk keterbelakangan
mental, mikrosefali, pendengaran dan gangguan penglihatan, penyakit jantung bawaan, dan masalah
perilaku. Untungnya, kejadian rubella kongenital telah sangat menurun karena ketersediaan imunisasi
bagi calon ibu.
Infeksi sitomegalovirus kongenital dapat mengakibatkan mikrosefali, gangguan pendengaran
sensorineural, dan retardasi psikomotor. Antibodi terhadap sitomegalovirus ditemukan pada sekitar 80%
dari orang dewasa. Tergantung pada populasi, infeksi primer terjadi selama 2-5% dari kehamilan. Badan
Cytomegalovirus inklusi terlihat pada spesimen urin bayi baru lahir yang terinfeksi sebelum lahir.
Toksoplasmosis kongenital dapat mengakibatkan masalah yang signifikan pada sekitar 20%
bayi yang terinfeksi (misalnya, hidrosefalus, mikrosefali, retardasi psikomotor, visi dan gangguan
pendengaran) dan dalam masalah yang lebih ringan perkembangan di kemudian hari. Infeksi virus
immunodeficiency bawaan manusia telah meningkat penting. Dalam sebuah penelitian di Jerman dari
41 anak yang lahir dari ibu yang positif terinfeksi HIV, gejala-gejala neurologis yang digambarkan pada
usia 1-7 tahun. HIV ensefalopati ditandai dengan microcephaly, kerusakan neurologis progresif,
keterbelakangan mental, gejala cerebellar, dan perubahan perilaku. Terapi imunoglobulin intravena
3

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
profilaksis dengan dan tanpa AZT sering mampu mencegah regresi. Peningkatan terlihat dengan
pengobatan AZT.

SASARAN BELAJAR

b. Bahan Beracun
Yang paling penting dari zat teratogenik adalah etanol, yang merupakan penyebab sindrom
alkohol janin (FAS). Prevalensi sindrom ini bervariasi di seluruh dunia, namun kejadian di negaranegara industri diperkirakan sekitar 1 dari 1000 bayi baru lahir. Ketika digunakan berat selama
kehamilan, alkohol menyebabkan kelainan pada 3 kategori utama: (1) fitur dismorfik, yang berasal dari
periode organogenesis; (2) retardasi pertumbuhan prenatal dan postnatal, termasuk microcephaly; dan
(3) disfungsi SSP, termasuk keterbelakangan mental ringan sampai sedang, keterlambatan dalam
perkembangan motorik, hiperaktif, dan defisit perhatian. Tingkat keparahan gejala yang berhubungan
dengan jumlah alkohol tertelan.
c. Toxemia Kehamilan dan Insufisiensi Plasenta
Pertumbuhan terbelakang intrauterine memiliki banyak penyebab, yang paling penting adalah
toksemia ibu dengan konsekuensinya, berakhir pada penghinaan terhadap SSP. Prematuritas mungkin
berasal dari ibu atau janin. Ketika terhubung dengan penyimpangan perkembangan janin, prognosis
tergantung pada kondisi umum bayi. Prematuritas dan terutama pertumbuhan terbelakanh intrauterine
predisposisi komplikasi perinatal, yang dapat mengakibatkan penghinaan terhadap SSP dan masalah
perkembangan.
PERINATAL
Periode ini adalah 1 minggu sebelum dan 4 minggu setelah kelahiran
1. Infeksi
Selama periode neonatal, infeksi yang paling penting, dari sudut pandang gejala sisa pembangunannya,
adalah herpes simpleks tipe 2. neonatus terinfeksi selama persalinan dan dapat menjadi ensefalitis dalam
waktu 2 minggu. Pengobatan dini dengan asiklovir dapat mengurangi hasil, yaitu, mikrosefali, retardasi
mental yang mendalam, dan defisit neurologis. Infeksi bakteri Neonatal mungkin mengakibatkan sepsis dan
meningitis, yang, pada saatnya, dapat menyebabkan hydrocephalus.
2. Masalah dalam Persalinan
Selama kelahiran, asfiksia adalah faktor yang paling penting yang menyebabkan penghinaan terhadap
SSP. Ini menyebabkan kematian sel, yang mungkin ditunjukkan dengan teknik neuroimaging sebagai
leukomalacia. Bayi prematur dan mereka yang memiliki hambatan pertumbuhan dalam kandungan beresiko
khusus untuk kerusakan pada korteks atau thalamus, yang, selain mempengaruhi kecerdasan, menyebabkan
berbagai gejala cerebral palsy (CP) dan gangguan kejang, tergantung pada lokasi dari kondisi patologis. Yang
penting, perhatikan asfiksia itu saja tidak menyebabkan keterbelakangan mental. Gejala neurologis selama
periode neonatal memiliki hubungan yang kuat dengan penyimpangan perkembangan prenatal dan integritas
neurologis kemudian dan tingkat intelektual. Untuk alasan ini, bayi dengan masalah perinatal memerlukan
pemeriksaan menyeluruh untuk fitur dismorfik dan tindak lanjut dekat karena beberapa cacat mungkin
menjadi jelas di kemudian hari.
3. Lainnya
Retinopati prematuritas (sebelumnya disebut fibroplasia sebagai Retrolental) terlihat sering ketika
penggunaan oksigen 100% pada neonatus masih umum, yang mengakibatkan kebutaan. Hal ini sering
dikaitkan dengan kerusakan SSP lainnya, keterbelakangan mental, dan masalah perkembangan lainnya.
Bayi dengan berat lahir sangat rendah berisiko untuk perdarahan intrakranial dan hipoglikemia akibat
kurangnya penyimpanan glikogen hati. Masalah-masalah neonatal mungkin memiliki hasil yang sama
dengan asfiksia.
Hiperbilirubinemia mungkin akibat dari kehancuran peningkatan sel darah merah (misalnya, hemolisis
karena ibu-anak golongan darah ketidakcocokan) atau penurunan ekskresi bilirubin (misalnya, karena
adanya ketidakmatangan fungsi hati).
Kerusakan otak yang mungkin terjadi mengakibatkan manifestasi dari berbagai tingkat, termasuk CP,
gangguan pendengaran sensorineural, dan keterbelakangan mental.
POSTNATAL
4

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

1. Infeksi
Infeksi bakteri dan virus pada otak selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan meningitis dan
encephalitis dan mengakibatkan kerusakan permanen. Jumlah dari komplikasi ini mengalami penurunan
karena peningkatan pengobatan dan ketersediaan imunisasi (seperti untuk campak).
2. Zat beracun (Toxic)
Keracunan timbal masih merupakan penyebab penting dari keterbelakangan mental di Amerika Serikat.
Sumber yang paling sering memimpin adalah pica (yaitu, tertelannya hasil mengelupas, lama, timbal yang
berbasis cat). Sumber-sumber lain dari timbal adalah semprotan tertentu untuk buah-pohon, bensin
bertimbal, beberapa tembikar mengkilap, dan asap dari pembakaran baterai mobil. Gejala gastrointestinal
mendominasi keracunan akut. Sakit kepala dapat berhubungan dengan tekanan intrakranial meningkat, yang
bahkan dapat menyebabkan koma. Manifestasi akhir termasuk keterbelakangan perkembangan, ataksia,
kejang, dan perubahan kepribadian.
3. Penyebab Lain
Di antara keganasan pada masa kanak-kanak, tumor otak merupakan no.2 dalam frekuensi setelah
leukemia. Dari jumlah tersebut, 70-80% adalah glioma, gejala yang sebagian besar tergantung pada
lokasi. Beberapa bersifat jinak dan dapat diobati, namun sebagian besar memiliki efek merusak,
sehingga berakibat berbagai gejala neuropsikiatri tergantung pada lokasi dan luasnya. Selain itu,
pengobatan seperti pembedahan dan radiasi dapat mempengaruhi integritas dan fungsi otak.
Kecelakaan lalu lintas , tenggelam, dan trauma lainnya adalah penyebab paling umum kematian selama
masa kanak-kanak. Lebih besar adalah jumlah anak-anak yang menjadi cacat. Hampir tenggelam sering
menghancurkan, tetapi bahkan dalam kasus ini, peningkatan kapasitas fungsional dapat dicapai dengan
rehabilitasi karena perkembangan otak memiliki kemampuan untuk pulih.
4. Masalah Psikososial
Tingkat perkembangan individu tumbuh tergantung pada integritas SSP dan pada faktor-faktor
lingkungan dan psikologis. Pentingnya stimulasi lingkungan untuk perkembangan anak telah dihargai karena
penelitian pada anak-anak di lembaga menunjukkan bahwa pembangunan mengalami dampak yang parah di
lingkungan merampas, bahkan jika perawatan fisik yang memadai diberikan. Kemiskinan merupakan
predisposisi anak untuk banyak risiko perkembangan, seperti kehamilan remaja, gizi buruk, penyalahgunaan,
perawatan medis miskin, dan kekurangan.
Penyakit mental yang berat pada ibu merupakan faktor risiko. Ibu dengan penyakit yang berat dan
kronis mungkin mengalami kesulitan memberikan perawatan dan stimulasi yang memadai. Depresi ibu
selama kehamilan dan postpartum telah terbukti berhubungan dengan keterlambatan perkembangan pada
anak-anak di usia 18 bulan.
Anak-anak dari ibu yang memiliki skizofrenia beresiko untuk pengembangan defisit kognitif, meskipun
ini mungkin tidak menjadi sekunder untuk penyakit ibu, tetapi mungkin merupakan predisposisi genetik
bertekad untuk skizofrenia. Penyakit psikotik pada anak telah terbukti berhubungan dengan penurunan
kemampuan kognitif.
5. Penyebab Tidak Diketahui
Meskipun penilaian rinci, penyebabnya tidak dapat diidentifikasi pada sekitar 30% kasus retardasi mental
yang berat dan di 50% kasus retardasi mental ringan. Ini, tentu saja, mencerminkan ketidakcukupan teknik
diagnostik, daripada kurangnya sebab-akibat.

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

SASARAN BELAJAR

1.4 KLASIFIKASI DAN MANIFESTASI

Kategori

Nilai IQ* (SD


Proportion
dibawah rataMR/ID
rata)

Ringan

50-55 to 70

85%

Educational
level/adaptive skills

Intensity of
supports required

Up to about 6th grade;


vocational

Intermittent,
especially under
stress

Prevalensi
pada populasi
total
0.9-2.7%

(2-3)

Sedang

35-40 to 50-55 10%

up to about 2nd grade;


Limited;
unskilled or semi-skilled,
supervised

(3-4)

Berat

0.3-0.4%

usually supervised

20-25 to 35-40 4%

May learn words;


elementary self-care
skills

Extensive; closely
supervised group or
family home

Little to no self-care
skills

Constant aid and


supervision

(4-5)

Sangat
Berat

< 20-25 (>5)

1%

*IQ scores are considered +/-5 points due to measurement error.


http://emedicine.medscape.com/article/1180709-overview#a0101
6

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 2003; Wolery & Haring, 2004 pada
Exceptional Children, sixth edition, p.485-486, menyatakan:
Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan
abstrak, dan selalu cepat lupa apa yang dipelajari tanpa latihan yang terus menerus.
Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat.
Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak dengan retardasi mental berat mempunyai
ketebatasan dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun dengan
bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangat sederhana, sulit menjangkau
sesuatu, dan mendongakkan kepala.
Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit
untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu
memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahita ringan dapat bermain bersama dengan
anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak melakukan hal tersebut. Hal itu
mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan
main.

SASARAN BELAJAR

1.
2.
4.
5.

6.
7.

Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang
merupakan stigmata congenital yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom
penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental,
yaitu :
a) Kelainan pada mata :
ii) Kejang pada masa neonatal
i) Katarak
(1) Arginosuccinic asiduria
(1) Sindrom Cockayne
(2) Hiperammonemia I dan II
(2) Sindrom Lowe
(3) Laktik asidosis, dll.
(3) Galactosemia
c) Kelainan kulit
(4) Sindrom Down
i) Bintik caf-au-lait
(5) Kretin
(1) Atakasia-telengiektasia
(6) Rubella Pranatal, dll.
(2) Sindrom bloom
ii) Bintik cherry-merah pada daerah
(3) Neurofibromatosis
macula
(4) Tuberous selerosis
(1) Mukolipidosis
d) Kelainan rambut
(2) Penyakit Niemann-Pick
i) Rambut rontok
(3) Penyakit Tay-Sachs
(1) Familial laktik asidosis dengan
iii) Korioretinitis
Necrotizing ensefalopati
(1) Lues congenital
ii) Rambut cepat memutih
(2) Penyakit Sitomegalovirus
(1) Atrofi progresif serebral hemisfer
(3) Rubella Pranatal
(2) Ataksia telangiektasia
iv) Kornea keruh
(3) Sindrom malabsorbsi methionin
(1) Lues Congenital
iii) Rambut halus
(2) Sindrom Hunter
(1) Hipotiroid
(3) Sindrom Hurler
(2) Malnutrisi
(4) Sindrom Lowe
e) Kepala
b) Kejang
i) Mikrosefali
i) Kejang umum tonik klonik
ii) Makrosefali
(1) Defisiensi glikogen sinthesa
(1) Hidrosefalus
(2) Hipersilinemia
(2) Neuropolisakaridase
(3) Hipoglikemia,
terutama
yang
(3) Efusi subdural
disertai glikogen storage disease I,
f) Perawakan pendek
III, IV, dan VI
i) Kretin
(4) Phenyl ketonuria
ii) Sindrom Prader-Willi
(5) Sindrom malabsobrsi methionin,
2) Distonia
dll.
i) Sindrom Hallervorden-Spaz
b)
c)

Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000


7

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

1. Retardasi mental ringan


d) Retardasi mental ringan dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dididik (educable). Anak
mengalami gangguan berbahasa tetapi masih mampu menguasainya untuk keperluan bicara sehari-hari
dan untuk wawancara klinik. Umumnya mereka juga mampu mengurus diri sendiri secara independen
(makan, mencuci, memakai baju, mengontrol saluran cerna dan kandung kemih), meskipun tingkat
perkembangannya sedikit lebih lambat dari ukuran normal. Kesulitan utama biasanya terlihat pada
pekerjaan akademik sekolah, dan banyak yang bermasalah dalam membaca dan menulis. Dalam
konteks sosiokultural yang memerlukan sedikit kemampuan akademik, mereka tidak ada masalah.
Tetapi jika ternyata timbul masalah emosional dan sosial, akan terlihat bahwa mereka mengalami
gangguan, misal tidak mampu menguasai masalah perkawinan atau mengasuh anak, atau kesulitan
menyesuaikan diri dengan tradisi budaya.
e)
2. Retardasi mental sedang
f) Retardasi mental sedang dikategorikan sebagai retardasi mental dapat dilatih (trainable). Pada
kelompok ini
g) anak mengalami keterlambatan perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa, serta pencapaian
akhirnya terbatas. Pencapaian kemampuan mengurus diri sendiri dan ketrampilan motor juga
mengalami keterlambatan, dan beberapa diantaranya membutuhkan pengawasan sepanjang hidupnya.
Kemajuan di sekolah terbatas, sebagian masih bisa belajar dasar-dasar membaca, menulis dan
berhitung.
h)
3. Retardasi mental berat
i) Kelompok retardasi mental berat ini hampir sama dengan retardasi mental sedang dalam hal gambaran
klinis, penyebab organik, dan keadaan-keadaan yang terkait. Perbedaan utama adalah pada retardasi
mental berat ini biasanya mengalami kerusakan motor yang bermakna atau adanya defisit neurologis.
4. Retardasi mental sangat berat
j) Retardasi mental sangat berat berarti secara praktis anak sangat terbatas kemampuannya dalam mengerti
dan
k) menuruti permintaan atau instruksi. Umumnya anak sangat terbatas dalam hal mobilitas, dan hanya
mampu pada bentuk komunikasi nonverbal yang sangat elementer.
l)
m)
Zeldin, A.S. et al. (3 Feb 2014). Intellectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/1180709overview
n)
Gejala yang muncul dan tanda-tanda MR / ID biasanya mencakup keterampilan kognitif keterlambatan,
keterlambatan bahasa, dan keterlambatan dalam keterampilan adaptif. Keterlambatan perkembangan bervariasi
tergantung pada tingkat MR / ID dan etiologi. Misalnya, dalam ringan nonsyndromic MR / ID, penundaan
mungkin tidak penting sampai usia prasekolah, sedangkan dengan MR berat atau mendalam terkait dengan
sindrom atau prematuritas ekstrim, misalnya, penundaan yang signifikan dalam tonggak dapat dicatat sejak
lahir.
Terlambat berbahasa: termasuk bahasa ekspresif (bicara) dan bahasa reseptif (pemahaman). Tanda merah
(parah) termasuk tidak dapat berbicara mama / papa / mengoceh dalam 12 bulan, tidak ada frase 2-kata
pada usia 2tahun, dan orang tua melaporkan mereka prihatin bahwa anak mungkin tuli.
Tertundanya motorik halus/adaptif
penundaan yang signifikan dalam kegiatan seperti makan sendiri, toilet, dan berpakaian biasanya
dilaporkan pada anak-anak dengan MR / ID.
makan dengan menggunakan jari berantakan dan lama serta terdapat air liur (mengiler) adalah tandatanda inkoordinasi oral-motor
Keterlambatan kognitif: Anak-anak dengan MR / ID mengalami kesulitan dengan memori, pemecahan
masalah dan penalaran logis. Hal ini dapat dinyatakan sejak awal dengan kesulitan preacademic atau
kesulitan mengikuti petunjuk (terutama arah multi).
Penundaan sosial: Anak-anak dengan MR mungkin menunjukkan kurangnya minat dalam mainan yang
sesuai dengan usia dan keterlambatan dalam bermain imajinatif dan bermain timbal balik dengan rekanrekan seusianya. Bermain mencerminkan tingkat perkembangan mereka.
motorik kasar

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Keterlambatan perkembangan motorik kasar jarang mengikuti kognitif, bahasa, dan motorik halus /
penundaan adaptif baik yang terkait dengan MR / ID kecuali hasil kondisi yang mendasarinya baik
MR / ID dan cerebral palsy.
penundaan halus dalam akuisisi motorik kasar, atau kejanggalan, dapat diidentifikasi dalam penilaian
perkembangan.
Gangguan Perilaku
Bahkan sebelum usia di mana psikopatologi dapat diidentifikasi, bayi dan balita yang dapat memiliki
MR / ID mungkin lebih cenderung memiliki temperamen sulit, hiperaktif, gangguan tidur, dan kolik.
perilaku yang berhubungan mungkin termasuk agresi, melukai diri, pembangkangan, kurangnya
perhatian, hiperaktif, gangguan tidur, dan perilaku stereotip.
Abnormalitas Neurologi dan Fisik
Prevalensi MR meningkat antara anak-anak dengan gangguan kejang, mikrosefali, makrosefali,
riwayat pertumbuhan terbelakang intrauterin atau postnatal, prematuritas, dan anomali kongenital.
Dalam proses menangani masalah somatik, penilaian kemampuan kognitif anak sering diabaikan.
o)
1.5 DIAGNOSIS
p)
Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000
q)
Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja, melainkan
juga dari riwayat
r) penyakit, laporan dari orangtua, laporan dari sekolah, pemeriksaan fisis, laboratorium, pemeriksaan
penunjang. Yang perlu dinilai tidak hanya intelegensia saja melainkan juga adaptasi sosialnya. Dari
anamnesis dapat diketahui beberapa faktor risiko terjadinya retardasi mental.
s)
Pemeriksaan fisis pada anak retardasi mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada
anak normal, karena anak retardasi mental kurang kooperatif. Selain pemeriksaan fisis secara umum
(adanya tanda-tanda dismorfik dari sindrom-sindrom tertentu) perlu dilakukan pemeriksaan neurologis,
serta penilaian tingkat perkembangan. Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes
intelegensia.
t)
Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu menilai adanya kalsifikasi
serebral, perdarahan intra kranial pada bayi dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan
laboratorium dilakukan atas indikasi, pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan
sebagai screening PKU. Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan
kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang lain dapat
dilakukan untuk membantu seperti pemeriksaan BERA, CT-Scan, dan MRI.
u)
Kesulitan yang dihadapi adalah kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun, karena
kebanyakan tes psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. Pada bayi dapat dinilai perkembangan
motorik halus maupun kasar, serta perkembangan bicara dan bahasa. Biasanya penderita retardasi
mental juga mengalami keterlambatan motor dan Bahasa.
v)
w)
Zeldin, A.S. et al. (3 Feb 2014). Intellectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/1180709overview
A. ANAMNESIS
x) a. Wawancara dengan anak (auto anamnesa)
y)
Dilakukan pada anak yang memiliki kemampuan berbicara (disesuaikan dengan kemampuan
anak) untuk mengetahui gangguan kesehatan inteligensi atau gangguan lain.
z) b. Wawancara dengan orang terdekat anak (allo anamnesa)
aa)
Dilakukan untuk mendapat informasi secara jelas tentang perkembangan anak, baik fisik
maupun psikologis, serta mengetahui pola asuh dan stimulasi/intervensi yang telah diberikan oleh orangtua
dan mendapat informasi tentang penyebab gangguan lain yang dialami anak.
ab)
Anamnesis pada ibu pasien, sebagai berikut:
ac) 1.
Riwayat kehamilan dan persalinan ibu?
ad) 2.
Apakah kehamilannya diharapkan atau tidak?
ae) 3.
Adakah usaha-usaha untuk menggugurkan kehamilannya?
af) 4.
Apakah waktu hamil ibu mengalami perdarahan, minum obat-obat yang bukan anjuran dokter?
ag) 5.
Sakit apa saja yang pernah diderita ibu sewaktu hamil?
ah) 6.
Apakah ibu mengontrolkan kehamilannya secara teratur?
ai) 7.
Riwayat perkembangan anak?
9
SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Adanya penyakit keturunan atau penyakit lain yang pernah didapat?
Adanya hubungan darah antar kedua orang tuanya?
Latar belakang sosiokultural?

SASARAN BELAJAR

aj) 8.
ak) 9.
al) 10.
am)
B. PEMERIKSAAN FISIK
an)
Penilaian Perkembangan
The American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining perkembangan untuk semua anak secara
berkala. Metode meliputi beberapa survei orangtua, seperti Evaluasi Orang Tua 'untuk Status Perkembangan
(PEDs), Abad dan Tahapan Kuesioner (ASQ) dan Perkembangan Anak Persediaan (CDI). Pemeriksaan
lainnya memerlukan pengamatan langsung, seperti Bayley Bayi perkembangan saraf Screener, Battelle
Developmental Inventory, Awal Bahasa Milestone Skala, dan Brigance Screens.
kunci pengamatan perilaku adlaah harus fokus pada niat komunikatif anak, keterampilan sosial, kontak mata,
kepatuhan, rentang perhatian, impulsif, dan gaya bermain.
Untuk diagnosa gangguan perkembangan dan MR / ID, pemeriksaan perkembangan saraf dan psikologis
yang luas diperlukan. Berbagai tes dapat diberikan untuk menilai pemahaman bahasa, ekspresi bahasa,
kemampuan kognitif nonverbal, motorik halus dan kemampuan adaptif, rentang perhatian, memori,
keterampilan motorik kasar, dan perilaku adaptif. Tes psikologis yang paling umum untuk anak-anak
termasuk Bayley Scales of Infant Development-III, Intelligence Scale Stanford-Binet, Skala Intelijen
Wechsler untuk Anak-IV, Wechsler Preschool dan Skala Primer Intelijen-Revisi, dan Perilaku Timbangan
Vineland Adaptive -II.
ao)
ap)
Fisik
Lingkar kepala: Pengukuran dari semua parameter pertumbuhan harus mencakup lingkar kepala.
Microcephaly berkorelasi tinggi dengan defisit kognitif. Macrocephaly dapat menunjukkan hidrosefalus dan
berhubungan dengan beberapa kesalahan metabolisme bawaan dan juga dapat dilihat pada awal beberapa
anak kemudian didiagnosis dengan autisme.
Tinggi badan: Perawakan pendek mungkin menunjukkan kelainan genetik, sindrom alkohol pada janin, atau
hipotiroidisme. Perawakannya tinggi mungkin menunjukkan sindrom X rapuh (FRAX), sindrom Soto, atau
sindrom pertumbuhan berlebih lain yang terkait dengan MR / ID.
Neurologis: Pemeriksaan ini harus mencakup penilaian pertumbuhan kepala (untuk mikro / macrocephaly),
tonus otot (untuk hipotonia atau kejang-kejang), kekuatan dan koordinasi, refleks tendon dalam, refleks
primitif gigih, ataksia, dan gerakan abnormal lainnya seperti dystonia atau athetosis .
Sensorik: penglihatan dan pendengaran harus selalu diuji dalam kasus dugaan MR / ID. Anak-anak
penyandang cacat dan MR / ID lebih mungkin dibandingkan anak-anak lain untuk memiliki gangguan
penglihatan (kesalahan bias, strabismus, ambliopia, katarak, pigmentasi retina abnormal, dan kebutaan
kortikal) dan defisit pendengaran, khususnya di antara orang-orang dengan gangguan parah.
Kulit: Temuan Cutaneous sebagai etiologi mencakup hiperpigmentasi dan hipopigmentasi makula, seperti
caf-au-lait makula (terkait dengan neurofibromatosis tipe 1), dan bintik-bintik abu-daun (yang berhubungan
dengan tuberous sclerosis), fibromas, dan pola pigmentasi yang tidak beraturan.
Ekstremitas: Periksa untuk fitur dismorfik dan disfungsi sistem organ indikasi sindrom. Meskipun MR / ID
dengan beberapa anomali kongenital dan malformasi utama menyumbang hanya 5-10% dari semua kasus,
sebagian besar individu ini mempengaruhi memiliki 3-4 anomali minor, terutama melibatkan wajah dan
angka.
aq)
ar) Penilaian Inteligensi kesehatan terdiri dari beberapa tahap pemeriksaan :
as) 1. Tahap pertama
at) Pelaporan pemeriksaan tahap awal adalah pelaporan pemeriksaan check list perkembangan anak dilihat
dari penilaian fisik yang dilakukan dengan cara menyeluruh (tinggi badan, berat badan dan lingkar
kepala) serta fungsi panca indera. Sedangkan penilaian fungsional dilakukan dengan mengetahui fungsi
inteligensi yang dapat diukur dengan instrumen neuropsikologi (sensomotorik,praksis,dan
representatif). Keadaan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak secara keseluruhan,
serta deteksi tentang kelebihan atau gangguan yang dimiliki anak. Tahap ini dilakukan oleh kader di
posyandu dan pos sehat dan cerdas, serta tenaga PAUD.
au) 2. Tahap kedua
av) Apabila anak dicurigai mengalami masalah kesehatan inteligensi, maka akan dilakukan pemeriksaan
lanjutan sesuai dengan diagnosis kerja dari dokter puskesmas. Berdasarkan hasil pemeriksaan pada

10

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
tahap kedua ini diharapkan dapat diketahui tindak lanjut dan rujukan terhadap anak tersebut.
Pemeriksaan potensi kecerdasan inteligensi adalah pemeriksaan instrumen penilaian perkembangan
inteligensi untuk mendeteksi gangguan perkembangan inteligensi yang berkaitan dengan perkembangan
struktur dan fungsi otak. Kemampuan potensi majemuk secara umum yang dimiliki seorang anak.
Setiap kecerdasan didasarkan pada potensi biologis, yang kemudian diekspresikan sebagai hasil dari
faktor-faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu, pada tahap ini
sekaligus dapat menilai anak yang tumbuh (sesuai dengan tahap perkembangannya) dan anak yang
mendapatkan stimulasi baik akan dapat menjadi modal mendukung perkembangan inteligensi majemuk,
yang terdiri dari inteligensi kinestetik, verbal, musik, spasial, logika-matematika, interpersonal,
intrapersonal, natural dan eksistensialisme.
aw) Pemeriksaan lanjutan berikutnya dapat dilakukan oleh tenaga professional (psikolog dan dokter
spesialis) yang terdapat di RS kabupaten atau propinsi pada anak yang diduga mempunyai masalah
kesehatan inteligensi yang tidak dapat ditangani oleh dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas.
Memberikan rekomendasi rujukan untuk penanganan lebih lanjut yaitu antara lain berupa penilaian
potensi kecerdasan majemuk (multiple intelligence) ke pusat pelayanan sekunder di RS pronpinsi.
ax) Penilaian ini diharapkan dapat mengetahui potensi-potensi inteligensi anak berkebutuhan khusus dan
dengan potensi yang ada diharapkan dapat membantu anak potensi untuk dioptimalkan.
ay)
az) Tanda-tanda Fisik Atipik yang Dapat Dihubungkan dengan Bertambahnya Insiden Retardasi Mental
ba) 1.
Rambut
bb)
Keriting ganda
bc)
Halus, mudah putus, cepat abu-abu atau putih menyeluruh
bd)
Jarang atau tanpa rambut
be)
bf) 2.
Tangan
o Metakarpal ke-4 atau ke-5
pendek
o Jari-jari tangan pendek, gemuk
o Jari-jari tangan panjang, tipis,
meruncing
o Ibu jari tangan lebar
o Klinodaktili
(jari
kelima
melengkung ke dalam akibat
hypoplasia phalanx media)
o Kelainan dermatoglifik (misalnya triradius distal)
o Garis kult telapak tangan melintang
o Kelainan kuku
bg)
bh) 3.
Mata
Mikroftalmia (ukuran keseluruhan mata
terlalu kecil. Bola mata mungkin hanya
dua pertiga dari ukuran normal. Kelainan
ini sering terjadi dengan kelainan lainnya
pada mata. Seringkali disebabkan karena
infeksi ibu saat bayi sedang berkembang
dalam rahim, seperti cytomegalovirus
(CMV) atau toksoplasmosis.)
bi)
Hipertelorisme (jarak antara kedua mata sangat lebar,
lebih dari 3cm)
Hipotelorisme
Miring ke atas dan ke luar atau ke bawah dan ke luar
Lipatan epikantus sebelah dalam dan sebelah luar
( kelopak mata di daerah kulit yang menutupi sudut
dalam pandangan mata.)
bj)
11
SASARAN BELAJAR

SASARAN BELAJAR

Koloboma iris atau retina

bk)
Bintik-bintik Brushfield (brushfield spot)
bl)

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

bm)
bn)

Pupil terletak eksentris (tidak berada ditengah


sebagaimana mestinya)
bo)
bp)

bq)

br)
Nistagmus (Nistagmus (nystagmus) adalah gerakan ritmik tanpa kontrol pada mata yang terdiri dari
tremor kecil yang cepat ke satu arah dan yang lebih besar, lebih lambat, berulang-ulang ke arah
yang berlawanan. Nistagmus bisa horizontal, vertikal, atau berputar.)

bs)

12

SASARAN BELAJAR

bt)
bu)
bv) 4.
Kaki
bw)
Metatarsal ke-4 atau ke-5
bx)
Jari kaki tumpang tindih
by)
Jari kaki pendek, gemuk
bz)
Ibu jari kaki besar dan lebar
ca)
Garis kulit yang mengarah dari
kaki pertama dan kedua, terlihat dalam
cb)
Kelainan dermatoglifik
cc)
cd) 5.
Telinga
ce)
Pinna letak rendah
cf)
Pembentukan heliks sederhana
atau abnormal
cg)
ch)
ci)
cj)
ck)
cl)

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

pendek

sudut jari

13

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

SASARAN BELAJAR
cm) 6.
Genetalia
cn)
Genetalia yang tidak jelas
co)
Mikropenis
cp)
Testis besar
cq)
cr) 7.
Hidung
cs)
Jembatan
hidung rata
ct)
Ukuran kecil
cu)

Lubang
hidung

menghadap ke atas
cv)
cw)
cx) 8.
Kulit
cy)
Bintik-bintik cafe-au-lait (bercak coklat terang)
cz)
Nevus depigmentasi
da)
db) 9.
Wajah
dc)
Panjang filtrum bertambah
dd)
Hipoplasia maksila atau
mandibular
de)
df)
dg)
dh)
di)
dj)
dk)
dl)
dm)
dn)
do)
dp)
dq)
dr)
ds)
dt)
du)
dv) 10.
Gigi
Bukti adanya kelainan pembetukan email (enamelogenesis) (suatu keadaan heriditer pembentukan email
yang tidak sempurna, suatu kelainan autosomal dominan atau X-linked. Ciri-cirinya adalah terjadinya
hipoplasia maupun hipokalsifikasi email. Email tipis dan mudah pecah atau aus sampai ke daerah
serviks dan berwarna kecoklatan. Email menjadi berlubang, seperti kapur, kadang-kadang terdapat
daerah yang sama sekali tidak ada emailnya lagi.)

dw)
Kelainan odontogenesis
dx)
14

SASARAN BELAJAR

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

dy)
dz) 11.
Mulut
ea)
Bentuk bibir atas
V terbalik
eb)
Lengkungan
palatum lebar atau
ec)
tinggi
ed)
ee) 12.
Kepala
Mikrokranium
M akrokranium
ef)
eg)
eh) (Behrman, 2009)
ei)
ej)
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
ek)
Pemeriksaan Lab
Hibridisasi genetik komparatif (CGH) atau "microarray" semakin digunakan dalam evaluasi MR / ID dan
harus dipertimbangkan dalam karya-up dari semua anak dengan MR / ID baik setelah atau sebagai lini
pertama bukannya tinggi berbasis Array resolusi kariotipe dan pengujian rapuh-X. Hasilnya mungkin
setinggi 20%; Namun, tingkat positif palsu yang tinggi juga dapat mengacaukan interpretasi. Resolusi tinggi
kariotipe (pada tingkat 650 band resolusi minimal) harus diselesaikan pada semua anak dengan MR / ID.
Kelainan kromosom (trisomi 21 dan lain-lain) dapat menjelaskan sebanyak 50% dari mereka yang terkena
dampak parah mendalam MR / ID.
Pengujian Fragile X (yaitu, analisis DNA dari wilayah FraXpromoter) harus dilakukan pada semua anak
dengan MR / ID. Pada periode pascapubertas, manifestasi klinis dari sindrom Fragile X cenderung mudah
terlihat, sehingga analisis DNA dapat dilakukan dengan lebih selektivitas pada populasi ini. Seks kromosom
aneuploidi terlihat pada sebanyak 5% dari anak-anak dengan ringan MR / ID atau anak dengan
ketidakmampuan belajar.
Pemeriksaan FISH, sebagai berikut :

Prader-Willi/Angelman syndrome
Smith-Magenis syndrome
CATCH 22
Williams syndrome
Wolf-Hirschhorn syndrome
Cri du chat syndrome
Langer-Giedion (trichorhinophalangeal) syndrome
Miller-Dieker syndrome
Mengingat hasil yang rendah, laboratorium metabolik tidak secara rutin dilakukan kecuali ada indikasi klinis
metabolik atau skreening metabolik bayi baru lahir belum selesai atau hasilnya tidak tersedia
Plasma amino acids (aminoacidopathies)
Urinary organic acids (organic acidopathies)
Urinary mucopolysaccharides and oligosaccharides (mucopolysaccharidoses)
Plasma 7-DHC (Smith-Lemli-Opitz syndrome)
Thyroid function tests
Very-long-chain fatty acids (peroxisomal disorders)
Creatine kinase (in the assessment of profound central hypotonia versus myopathy)
el)
em)
Pemeriksaan Pencitraan
MRI Otak
15

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Pencitraan otak harus dilakukan dalam setiap anak dengan keterlambatan perkembangan global atau
MR / ID. Hasil akan lebih tinggi dalam pengaturan pemeriksaan abnormalneurologic (misalnya,
mikrosefali, temuan neurologis fokal dan / atau dysmorphisms wajah).
MRI otak lebih dipilih daripada CT memindai karena lebih memiliki resolusi yang besar dan
meningkatkan deteksi kelainan pada perkembangan dan waktu mielinisasi, demielinisasi, dan materi
abu-abu heterotopic.
CT scan Kepala
en) Ini adalah studi pencitraan pilihan untuk kalsifikasi yang dapat diidentifikasi dengan infeksi TORCH
(yaitu, toksoplasmosis, infeksi lain, rubella, CMV, herpes simpleks), ketika tuberous sclerosis diduga, atau
jika craniosynostosis adalah kekhawatiran.
Skeletal Films
eo) Ini membantu dengan deskripsi fenotipik, karakterisasi sindrom, dan penilaian pertumbuhan.
ep)
eq) Pemeriksaan Lain
Bayley Scales of Infant Development
o
Normal untuk usia 2-49 bulan
o
Nilai subtest untuk Bahasa ekspresif dan reseptif, motoric kasar, motoric halus, kemampuan
memecahkan masalah/kognitif, dan perhatian yang berkelanjutan
Stanford-Binet Intelligence Scale
o
Normal untuk usia 2 tahun- 23 tahun
o
Lima belas subyek untuk penilaian dari 4 bidang utama kemampuan kognitif: penalaran verbal,
abstrak / penalaran visual, memori kuantitatif, dan memori jangka pendek
er)
Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-R)
o
Normal untuk usia 3tahun 7.25tahun
o
12 subtest untuk pemeriksaan terhadap intelegensi verbal dan nonverbal
Wechsler Intelligence Scale for ChildrenIV (WISC-IV)
o
Untuk usia 6tahun-16tahun 11 bulan
o
Nilai Intelegensi verbal dan nonverbal dari 12 subtest
Vineland Adaptive Behavior Scales-II
o
Untuk neonates dewasa
o
Pengukuran kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang diperlukan untuk
kecukupan pribadi dan sosial; perilaku adaptif atau fungsional dinilai dengan mewawancarai pasien atau
orang tua / pengasuh
o
Kekurangan minimal 2 bidang keterampilan adaptif yang diperlukan untuk memenuhi kriteria
diagnostik MR / ID
es)
1.6 DIAGNOSIS BANDING
et) Zeldin, A.S. et al. (3 Feb 2014). Intellectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/1180709overview
Disleksia
eu)
Anak mempunyai kesukaran dalam berbicara dan mengucapkan kata-kata segera setelah
disekolahkan. Kerusakan terletak di lintasan integratif antara sirkuit visual dan sirkuit auditorik, mereka
dapat berpikir tetapi mewujudkan pikirannya dalam bentuk kata-kata atau tulisan dirasa sangat sulit.
Sindroma Ertzam
ev)
Gangguan dalam berhitung dan menulis. Motorik mereka terganggu dalam melaksanakan
gerakan komplek dimana gerakan diperlukanseperti dalam hal menulis. Namun demikian ia dapat
membaca dengan lancar.
Sindroma Gertsman
ew)
Tidak dapat mengenal benda-benda dengan sensibilitasnya. Mereka mendapat banyak
kesukaran dalam menulis karena tidak mampu menyusun pemikiran. Juga berhitung adalah sukar bagi
mereka. Lesi serebral yang bertanggung jawab atas gangguan tersebut adalah girus angularis.
Sindroma diskontrol
ex)
Lambat sekali dalam mengekspresikan kehendaknya dan lambat bereaksi trerhadap stimulus
dunia luar. Mereka dapat berbahasa, penglihatannya tidak terganggu dan pendengarannya baik. Namun
SASARAN BELAJAR

16

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
mereka lambat diperintah atau tidak bereaksi bila diperintah. Lesi serebral yang mendasari gangguan ini
tidak diketahui, tetapi pengobatannya dengan perangsang amphetamine dapat memperbaiki keadaan.
Afasia dan Afonia
ey)
Afasia timbul sebagai akibat manifestasi lesi serebral di area brocca dan atau wernicke.
ez)Afonia adalah bisu tidak dapat mengeluarkan kata-kata karena anak ini tuli sebelum ia belajar
berbahasa.
fa) Afasia motorik akibat lesi di area brocca dengan gejala tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk
mengutarakan pikirannya dan afasia sensoris akibat lesi di area wernicke dengan gejala tidak mampu untuk
mengerti bahasa lisan atau tulisan.
Attention Deficit Hyoperactivity Disorder (ADHD)
fb)Kelainan perkembangan yang diturunkan secara genetik akibat adanya gangguan pada gen transporter
dopamin dan gen reseptor dopamin D4. Gangguan tersebut terjadi pada sistem dopaminergik dan noradrenergik yang menyebabkan adanya disfungsi pre-frontal dan sirkuit fronto-striatal.
o Manifestasi Klinis:
fc)
Anak dengan ADHD dapat memperlihatkan gejala inatensi, hiperaktifitas dan
implusivitas. Inatensi dapat berupa keluhan susah konsentrasi, mudah sekali teralih
perhatiannya, sering lupa akan barang-barang pribadinya dan bahkan lupa pada tugas-tugas
yang harus dikerjakannya. Bila sedang berjalan anak sering menabrak benda-benda di
sekitarnya sehingga seringkali, dengan perilakunya yang seperti itu, akan menyebabkan
barang-barang yang berada di dekat anak berjatuhan. Hal tersebut penting karena sebagian
besar penderita ADHD memiliki IQ normal, bahkan diantaranya ada yang diatas rerata.
Dampak bagi individu ADHD itu sendiri yaitu adanya gangguan emosi, rasa rendah diri, dan
pada saat dewasa akan tampak memiliki kepribadian yang sulit.
fd)
1.7 TATALAKSANA
fe) Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000
Tatalaksana Medis
ff) Obat-obat yang sering digunakan dalam pengobatan retardasi mental adalah terutama untuk menekan
gejala-gejala hiperkinetik. Metilfenidat (ritalin) dapat memperbaiki keseimbangan emosi dan fungsi
kognitif. Imipramin, dekstroamfetamin, klorpromazin, flufenazin, fluoksetin kadang-kadang
dipergunakan oleh psikiatri anak. Untuk menaikkan kemampuan belajar pada umumnya diberikan
tioridazin (melleril), metilfenidat, amfetamin, asam glutamat, gamma aminobutyric acid (GABA)
fg)
Rumah Sakit/Panti Khusus
fh) Penempatan di panti-panti khusus perlu dipertimbangkan atas dasar: kedudukan sosial keluarga, sikap
dan perasaan orangtua terhadap anak, derajat retardasi mental, pandangan orangtua mengenai prognosis
anak, fasilitas perawatan dalam masyarakat, dan fasilitas untuk membimbing orangtua dan sosialisasi
anak. Kerugian penempatan di panti khusus bagi anak retardasi mental adalah kurangnya stimulasi
mental karena kurangnya kontak dengan orang lain dan kurangnya variasi lingkungan yang memberikan
kebutuhan dasar bagi anak.
fi)
Psikoterapi
fj) Psikoterapi dapat diberikan kepada anak retardasi mental maupun kepada orangtua anak tersebut.
Walaupun tidak dapat menyembuhkan retardasi mental tetapi dengan psikoterapi dan obat-obatan dapat
diusahakan perubahan sikap, tingkah laku dan adaptasi sosialnya.
fk)
Konseling
fl) Tujuan konseling dalam bidang retardasi mental ini adalah menentukan ada atau tidaknya retardasi
mental dan derajat retardasi mentalnya, evaluasi mengenai sistem kekeluargaan dan pengaruh retardasi
mental pada keluarga, kemungkinan penempatan di panti khusus, konseling pranikah dan pranatal.
fm)
Pendidikan
fn) Pendidikan yang penting disini bukan hanya asal sekolah, namun bagaimana mendapatkan pendidikan
yang cocok bagi anak yang terbelakang ini. Terdapat empat macam tipe pendidikan untuk retardasi
mental.
fo) Kelas khusus sebagai tambahan dari sekolah biasa
SASARAN BELAJAR

a.

b.

c.

d.

e.

17

SASARAN BELAJAR
fp)
fq)
fr)
fs)
ft)

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

Sekolah luar biasa C


Panti khusus
Pusat latihan kerja (sheltered workshop)

Zeldin, A.S. et al. (3 Feb 2014). Intellectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/1180709overview


fu)
FARMAKOTERAPI
fv)
STIMULAN SSP
A. Methylphenidate hydrochloride (Ritalin, Metadate ER)
Penggunaan
fw)Attention Deficit Hyperactivity Disorder
a. <6 years: Safety and efficacy not established
b. 6 years:
- Methylin, Ritalin (immediate-release tablets, chewable tablets, and oral solution): 5 mg PO q12hr;
may increase by 5-10 mg/day weekly; not to exceed 60 mg/day divided BID/TID
- Metadate ER, Methylin ER, and Ritalin SR: May be given in place of immediate-release products
once the daily dose is titrated and the titrated 8-hour dosage corresponds to SR or ER tablet size;
not to exceed 60 mg/day
- Metadate CD, Ritalin LA: Initial, 20 mg PO qAM; may increase by 10 mg (Ritalin LA) or 10-20
mg (Metadate CD) qWeek to not to exceed 60 mg/day
- Quillivant XR (6-12 years): 20 mg PO qAM initially; may titrate at weekly intervals by 10- to 20mg increments; not to exceed 60 mg/day
fx) Weight-based dosing

Initial: 0.3 mg/kg/dose PO before breakfast and lunch; may increase by 0.1 mg/kg/dose qWeek
Maintenance: 0.3-1 mg/kg PO before breakfast and lunch; not to exceed 2 mg/kg/day PO divided q12hr
fy)
fz) Concerta (methylphenidate-nave)

Trilayer core tablets; extended-release core with immediate release


Initial: 18 mg PO qDay; dosage may be increased by 18 mg/day at weekly intervals
Do not exceed 54 mg/day in children (6-12 years) and 72 mg/day in adolescents (13-17 years)
ga)
gb) Concerta (patients taking methylphenidate)

18 mg PO qAM (if switching from methylphenidate 5 mg PO q8-12hr)


36 mg PO qAM (if switching from methylphenidate 10 mg q8-12hr)
54 mg PO qAM (if switching from methylphenidate 15 mg PO q8-12hr)
72 mg PO qAM (if switching from methylphenidate 20 mg PO q8-12hr)
gc)
gd) Transdermal patch (Daytrana)

Indicated for adolescents aged 13-17 years


Recommended starting dose for patients new to or converting from another formulation of
methylphenidate is 10 mg
Apply patch on hip 2 hours before desired onset; remove after 9 hours; alternate application site
Dose titration, final dosage, and wear time should be individualized according to the needs and response
of the patient
18

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Titrate to effect for best results, following are Manufacturer's recommendations
Week 1: 10 mg (12.5 cm patch); releases 1.1 mg/hr
Week 2: 15 mg (18.75 cm patch); releases 1.6 mg/hr
Week 3: 20 mg (25 cm patch); releases 2.2 mg/hr
Week 4: 30 mg (37.5 cm patch); releases 3.3 mg/hr

SASARAN BELAJAR

ge)
gf)
gg)

Narcolepsy

a. <6 years : Safety & efficacy not established


b. >6 years
Methylin, Ritalin (immediate-release tablets, chewable tablets, and oral solution): 5 mg PO q12hr; may

increase by 5-10 mg/day weekly; not to exceed 60 mg/day


Metadate ER, Methylin ER, and Ritalin SR: May be given in place of immediate-release products once

the daily dose is titrated and the titrated 8-hour dosage corresponds to SR or ER tablet size; not to
exceed 60 mg/day
gh)
ES :

Headache

Anxiety

Hypertension

Anger

Nausea

Agitation

Nervousness

Irritability

Toxic psychosis

Vertigo

Seizures

Fatigue

Tachycardia

Erythema multiform

Angina

Hyperhidrosis

Cardiac arrhythmia

Rash

Cerebral occlusion

Urticaria

Increased/decreased pulse

Exfoliative dermatitis

Cerebral arteritis

Dysmenorrhea

Cerebral hemorrhage

Constipation

Raynaud's phenomenom

Xerostomia

Vasculitis

Vomiting
19

Weight loss

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2
Necrotizing vasculitis

Erectile dysfunction

Increased cough

Muscle tightness

Dyspnea

Paresthesia

Sinusitis

Blurred vision

Upper respiratory tract infection

SASARAN BELAJAR

KI :

Hypersensitivity
Glaucoma
Riwayat keluarga Tourette's syndrome, motor tics
Marked anxiety, tension, agitation
Within 2 weeks of taking MAOIs: Risk of severe hypertensive reaction

Farkamokinetik :
Cara kerja : belum diketahui, dapat menghalangi pengambilan kembali Norepinefrin dan dopamine
pada neuron presinapsis, dapat menstimulasi SSP (sama seperti amfetamin), dapat menstimulasi
kortex serebral dan struktur subkortial
Absorpsi :
- Bioavailability: ~30%; large individual differences (11-52%)
- Duration: 3-6 hr (IR); 3-8 hr (ER, SR); 8-12 hr (CD, LA, Concerta)
- Peak plasma time: 6-8 hr (PO); 7.5-10.5 hr; (patch)
- Peak plasma concentration: 3.7 ng/mL (PO); 0-114 ng/mL (patch)
Onset Aksi :
- Immediate release: ~2hr
- Sustained-release tablet: 4-7 hr
- Extended-release tablet (Concerta): 1-2 hr
- Transdermal: ~2 hr; applied heat may expedite onset
Distribusi :
- Ikatan protein : 10-33%
- VD: d-Methylphenidate (2.65 L/kg); l-methylphenidate (1.80 L/kg)
Metabolism : kebanyakan di metabolism menjadi fenil-2-piperidine asam asetat (PPAA)
Eliminasi :
- Eksresi : urin 90%, kebanyakan dalam bentuk PPAA
- T1/2 : d-Methylphenidate 3-4jam, l-Methylphenidate 1-3jam

B. Dextroamphetamine sulfate (Dexedrine) and racemic amphetamine (Adderall)


Penggunaan :
ADHD
a. <3 years: Not recommended
b. Age 3-6 years: 2.5 mg/day; may increase by 2.5 mg qWeek; not to exceed 40 mg qDay or divided q8hr; use
intervals of 4-6 hr between additional doses
c. >6 years: 5 mg PO qDay or q12hr; may increase by 5 mg qWeek; not to exceed 40 mg qDay or divided
q8hr; use intervals of 4-6 hr between additional doses
20

SASARAN BELAJAR
Extended release

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

>6 years: Initial, 5-10 mg PO qAM if needed; may increase by 5-10 mg/day qWeek; not to exceed 30
mg/day
13-17 years: Initial, 10 mg PO qAM; may increase to 20 mg/day after 1 week if symptoms not
controlled; doses up to 60 mg/day used but no evidence that higher doses increase effectiveness

Narcolepsy

a. <6 years: Safety and efficacy not established


b. 6-12 years: 5mg/day PO initially in divided doses; may increase by 5 mg/day qWeek; not to exceed 60 mg
qDay or divided doses with intervals of 4-6 hr between doses
c. >12 years: 10 mg/day PO initially; may increase by 10 mg/day qWeek; not to exceed 60 mg given qDay or
divided doses with intervals of 4-6 hr between d

ES :
Abdominal pain (11-14%)
Headache (<26%)
Insomnia (12-27%)
Loss of appetite (22-36%)
Weight loss (4-11%)

KI :

Hypersensitivity
Hyperthryroidism
Glaucoma
Hypertension, advanced arteriosclerosis, symptomatic CVD
Symptomatic cardiovascular disease
Moderate-to-severe hypertension
Agitated states, history of drug abuse
MAO inhibitors given within 14 days (risk of severe hypertensive reaction)

Farmakokinetik :
Cara kerja : amine simpatomimetik yang menghasilkan pelepasan dopamine dan norepinefrin dari sisi
penyimpanannya pada saraf terminal presinapsis, dapat juga memblok pengambilan kembali
katekolamin dengan menghambat kompetitif
Absorpsi : baik
- Onset aksi : 30-60menit
- Durasi : 4-6jam
- Vd: 3.5-4.6 L/kg (distributes into CNS; mean CSF concentrations are 80% of plasma)
- Peak plasma time: 3 hr (Adderall); 7 hr (Adderall XR)
Metabolism : Hepatic via glucuronidation and CYP450 mono-oxygenase
Eliminasi :
- Half-life elimination (children) :

6-12 years: 9 hr (d-amphetamine); 11 hr (l-amphetamine)


12.18 ears: 11 hr (d-amphetamine); 13-14 hr (l-amphetamine)
21

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

SASARAN BELAJAR
-

Half-life elimination (adults)

d-amphetamine: 10 hr

l-amphetamine: 13 hr
Eksresi : urin, bergantung pH urin

OBAT ANTIPSIKOTIK

C. RISPERIDONE (RISPEDAL)
Penggunaan :

Schizophrenia

<13 years: Safety and efficacy not established


>13 years: 0.5 mg/day PO in morning or evening initially; may be increased in increments
of 0.5-1 mg/day at intervals 24 hr to recommended dosage of 3 mg/day; dosage range: 1-6
mg/day (dosages >3 mg/day have not been provedmore effective and are associated with
increased incidence of adverse effects)
If persistent somnolence occurs, daily dose may be divided q12hr

Bipolar Mania

<10 years: Safety and efficacy not established


>10 years: 0.5 mg/day PO in morning or evening initially; may be increased in increments
of 0.5-1 mg/day at intervals 24 hr to recommended dosage of 2.5 mg/day; dosage range:
0.5-6 mg/day (dosages >2.5 mg/day have not been proved more effective and are
associated with increased incidence of adverse effects)
If persistent somnolence occurs, daily dose may be divided q12hr

ES :

Somnolence (40-45%)

Fatigue (18-31%)

Insomnia (26-30%)

Parkinsonism (28-62%)

Agitation (20-25%)

Akathisia (5-11%)

Anxiety (10-15%)

Increased appetite (4-44%)

Headache (10-15%)

Vomiting (10-20%)

Rhinitis (10-15%)

KI : hipersensitivitas
Farmakokinetik :
Cara kerja : meredakan gejala negative psychoses dan menurunkan insidensi EPS
Absorpsi :
- bioavaibilitas 70%
- peak plasma time : Extensive metabolizers, 3 jam; poor metabolizers, 17jam
distribusi :
- Protein bound: Risperidone, 90%; metabolite, 77%
- Vd: 1-2 L/kg
22

PUTRI MUFRIDA RAHMAH


1102014215/ B-2

SASARAN BELAJAR
Metabolism :
- Di liver oleh CYP2D6
- Metabolit : 9-hydroxyrisperidone (paliperidone)
Ekskresi : urin 70%, feses 14%

D. ARIPIPRAZOLE (ABILIFY)
Penggunaan :

Schizophrenia

13-17 years: 2 mg/day PO initially; increased to 5 mg/day after 2 days; increased to


recommended dosage of 10 mg/day after additional 2 days; may subsequently be increased
by 5 mg/day; maintenance: 10-30 mg/day

Bipolar Mania

Acute manic or mixed episodes, either as monotherapy or as adjunct to lithium or valproate


10-17 years: 2 mg/day PO initially; increased to 5 mg/day after 2 days; increased to
recommended dosage of 10 mg/day after additional 2 days; may subsequently be increased
by 5 mg/day; maintenance: 10-30 mg/day

ES :

Berat badan bertambah (8-30%)

Nausea dan muntah (11-15%)

Sakit kepala (27%)

Akathisia (10-13%)

Agitation (19%)

Lightheadedness (11%)

Insomnia (18%)

Constipation (10-11%)

Anxiety (17%)

23

KI : hipersensitifitas
Farmakokinetik :
Cara kerja : antipsikotik atipikal
Absorpsi :
- Bioavailability: 87% (tablet); 100% (IM)
- Peak plasma time: 1-3 hr (IR); 5-7 hr (ER); 3-5 hr (tablet)
Distribusi :
- Protein bound: 99%
- Vd: 404 L (4.9 L/kg)
Metabolism :
- Metabolized by CYP2D6 and CYP3A4
- Metabolites: Dehydroaripiprazole (40%)
Eliminasi :
- Half-life: 75 hr (parent drug); 94 hr (metabolite); 30-47 days (IM); 146 hr (poor metabolizers)
- Excretion: Feces (55%), urine (25%)

1.8 PENCEGAHAN
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001523.htm
Genetic : konseling genetic dan screening selama masa kehamilan dapat membantu orangtua untuk
memahami risiko dan membuat rencana serta keputusan
Social : program nutrisi dapat menurunkan ketidakmampuan yang berhubungan dengan malnutrisi.
Intervensi dini dalam situasi buruk dapat membantu
Toxic : mencegah terpaparnya diri dari timbal, mercury, dan zat beracun lain dapat menurunkan risiko RM.
Mengajarkan wanita tentang bahaya alcohol dan obat-obatan selama kehamilan dapat menurunkan risiko
Penyakit infeksius : beberapa infeksi dapat menyebabkan RM. Mencegah penyakit tersebut dapat
menurunkan risko. Sebagai contoh, sindrom rubella dapat dicegah dengan vaksinasi. Mencegah paparan
kfeses kucing dapat menutunkan toxoplasmosis selama kehamilan

Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3, Desember 2000


Pencegahan retardasi mental dapat primer (mencegah timbulnya retardasi mental), atau sekunder
(mengurangi
manifestasi klinis retardasi mental). Sebab-sebab retardasi mental yang dapat dicegah antara lain
infeksi, trauma, intoksikasi, komplikasi kehamilan, gangguan metabolisme, kelainan genetik.

1.9 PROGNOSIS

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001523.htm
prognosis bergantung pada :
- Tingkat keparahan dan penyebab RM
- Kondisi lain
- Terapi

Banyak orang menjalani kehidupan yang produktif dan belajar untuk berfungsi sendiri. Lainnya
membutuhkan lingkungan yang terstruktur untuk menjadi yang paling sukses.

2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK DAN


REMAJA

PERIODE PERTUMBUHAN ANAK DAN REMAJA

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 2000).

Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur
dengan ukuran berat (gram, kilogram) dan ukuran panjang (cm, meter), sedangkan perkembangan adalah
bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh bagian tubuh
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan
tingkah laku sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungannya (Kania, 2006).

a. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan

Secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu:

1) Faktor genetik
Faktor genetik ini yang menentukan sifat bawaan anak tersebut. Kemampuan anak merupakan
ciri-ciri yang khas yang diturunkan dari orang tuanya (Kania, 2006).

2) Faktor lingkungan
Yang dimaksud lingkungan yaitu suasana di mana anak itu berada. Dalam hal ini lingkungan
berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang sejak dalam kandungan
sampai dewasa. Lingkungan yang baik akan menunjang tumbuh kembang anak, sebaliknya
lingkungan yang kurang baik akan menghambat tumbuh kembangnya (Kania, 2006).
a) Faktor lingkungan pranatal
Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih dalam kandungan. Faktor
lingkungan pranatal yang berpengaruh pada tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai
lahir. Antara lain gizi ibu pada waktu hamil, mekanis, toksik atau zat kimia, endokrin, radiasi,
infeksi, stres, imunitas dan anoksia embrio (Soetjiningsih, 2000).
b) Faktor lingkungan posnatal
Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang
sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya, ke suatu sistem yang tergantung pada
kemampuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri. Lingkungan post natal yang
mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi (Soetjiningsih,
2000):
1.
2.
3.
4.

Lingkungan biologis.
Lingkungan fisik
Faktor psikososial
Faktor keluarga dan adat istiadat.

b. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak.

Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri
tersebut adalah sebagai berikut (Rusmila, 2008):
1) Perkembangan menimbulkan perubahan. Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan.
Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada
seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya. Setiap
anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak
akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri
anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan
perkembangan selanjutnya.
3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda. Sebagaimana pertumbuhan,
perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun
perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.

4) Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan. Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat,


perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain.
Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
5) Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua
hukum yang tetap, yaitu: a. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju
ke arah kaudal/anggota tubuh (pola sefalokaudal); b. Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah
proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai
kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
6) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan. Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola
yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih
dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri
sebelum berjalan dan sebagainya.

1. Pertumbuhan Anak

Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran sel atau organ tubuh sedangkan perkembangan
adalah bertambahnya fungsi organ tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Artinya untuk perkembangan yang normal diperlukan pertumbuhan yang selalu bersamaan
dengan kematangan fungsi. Sebuah organ yang tumbuh atau menjadi besar karena sel-sel jaringan yang
mengalami proliferasi atau hiperplasia dan hipertrofi. Pada awalnya organ ini masih sederhana dan
fungsinya pun belum sempurna. Dengan bertambahnya umur atau waktu, organ tersebut berikut
fungsinya akan tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan seorang anak memberikan gambaran tentang
perkembangan keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi seorang anak untuk
berbagai proses biologis termasuk untuk tumbuh (Harahap, 2004).

Periode pertumbuhan dan perkembangan anak mulai di dalam kandungan ibu sampai umur 2
tahun disebut masa kritis tumbuh-kembang. Bila anak gagal melalui periode kritis ini maka anak
tersebut sudah terjebak dalam kondisi point of no return, artinya walaupun anak dapat dipertahankan
hidup tetapi kapasitas tumbuh-kembangnya tidak bisa dikembalikan ke kondisi potensialnya (Buku saku
gizi, 2010).

Pada dasarnya pertumbuhan dibagi dua, yaitu; pertumbuhan yang bersifat linier dan
pertumbuhan massa jaringan. Dari sudut pandang antropometri, kedua jenis pertumbuhan ini
mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan linier menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada
saat lampau, dan pertumbuhan massa jaringan menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat
sekarang atau saat pengukuran (Supariasa dkk, 2002).
a. Pertumbuhan linier
Ukuran yang berhubungan dengan tinggi (panjang) atau stature dan merefleksikan pertumbuhan
skeletal. Contoh ukuran linier adalah panjang badan, lingkar dada dan lingkar kepala. Ukuran linier
yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang
diderita waktu lampau. Ukuran linier yang paling sering digunakan adalah tinggi atau panjang badan
(Supariasa dkk, 2002; Yayuk H dan Tryanti, 2008).
b. Pertumbuhan Massa Jaringan
bentuk dan ukuran massa jaringan adalah massa tubuh. Contoh ukuran massa tubuh adalah berat
badan, lingkar lengan atas (LLA), dan tebal lemak bawah kulit, apabila ukuran ini rendah atau kecil,
menunjukkan keadaan gizi kurang akibat kekurangan energi dan protein yang diderita pada waktu
pengukuran dilakukan. Ukuran massa jaringan yang sering digunakan adalah berat badan (Supariasa
dkk, 2002).
c. Tahap pertumbuhan anak
Tahap perkembangan anak berangsur-angsur mulai dari (Harahap, 2004):
1) Pertumbuhan yang cepat sekali dalam tahun pertama, yang kemudian mengurang secara
berangsur-angsur sampai umur 3-4 tahun.
2) Pertumbuhan yang berjalan lamban dan teratur sampai masa akil balik.
3) Pertumbuhan cepat pada masa akil balik (12-16 tahun).

4) Pertumbuhan kecepatannya mengurang berangsur-angsur sampai suatu waktu (kira-kira umur 18


tahun) berhenti. Dalam tahun pertama panjang badan bayi bertambah dengan 23 cm (dinegeri
maju 25 cm), sehingga anak pada umur 1 tahun panjangnya menjadi 71 cm (75 cm di negeri
maju).Kemudian kecepatan pertambahan panjang badan kira-kira 5 cm per-tahun (Harahap,
2004).

2. Perkembangan Anak

Perkembnagan (development) adalah bertambahnya kemapuan (skill) dalam struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses
pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organorgan dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi
fungsinya (Soetjiningsih, 2000).

Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuntitatif,
melainkan kualitatif. Jadi perkembangan itu adalah proses terjadinya perubahan pada manusia baik
secara fisik maupun secara mental sejak berada di dalam kandungan sampai manusia tersebut
meninggal. Proses perkembangan pada manusia terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan
dan proses belajar dari waktu ke waktu. Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu
dikarenakan adanya perkembangan dan pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang
beranjak menjadi dewasa akan mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya.

Perkembangan Anak (Perkembangan Fisik, Perkembangan Motorik, Perkembangan Kognitif,


Perkembangan Psikososial) Periode ini merupakan kelanjutan dari masa bayi (lahir usia 4 th) yang
ditandai dengan terjadinya perkembangan fisik, motorik dan kognitif (perubahan dalam sikap, nilai,
dan perilaku), psikosial serta diikuti oleh perubahan perubahan yang lain (Administrator, 2010).

Deteksi dini perkembangan anak dilakukan dengan cara pemeriksaan perkembangan secara
berkala, apakah sesuai dengan umur atau telah terjadi penyimpangan dari perkembangan normal. Empat
parameter yang dipakai dalam menilai perkembangan anak adalah:
1.
2.
3.
4.

Gerakan motorik kasar (pergerakan dan sikap tubuh).


Gerakan motorik halus (menggambar, memegang suatu benda dll).
Bahasa (kemampuan merespon suara, mengikuti perintah, berbicara spontan).
Kepribadian/tingkah laku (bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya).

a. Jenis jenis Perkembangan


1) Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak
lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena
bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya
(Administrator, 2010)
2) Perkembangan Motorik Kasar
a) Perkembangan Motorik Kasar

Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan
anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk,
berdiri, dan sebagainya (Rusmil, 2009). Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih
halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak anak terlihat lebih
cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya
(Administrator, 2010).
b) Perkembangan Motorik Halus

Untuk memperhalus ketrampilan ketrampilan motorik, anak anak terus melakukan


berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Gerak

halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otototot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat seperti mengamati sesuatu, menjimpit,
menulis, dan sebagainya. Disamping itu, anak anak juga melibatkan diri dalam aktivitas
permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll (Administrator, 2010;
Rusmil, 2009).
c) Tahap Perkembangan Motorik

Berikut tahapan-tahapan perkembangannya Admin (2010):

Usia 1-2 tahun

merangkak
berdiri dan berjalan beberapa
langkah
berjalan cepat
cepat-cepat duduk agar tidak jatuh
merangkak di tangga
berdiri di kursi tanpa pegangan
menarik dan mendorong bendabenda berat
melempar bola

Motorik Kasar

Motorik Halus

mengambil benda kecil dengan ibu jari


atau telunjuk
membuka 2-3 halaman buku secara
bersamaan
menyusun menara dari balok
memindahkan air dari gelas ke gelas lain
belajar memakai kaus kaki sendiri
menyalakan TV dan bermain remote
belajar mengupas pisang

Usia 2-3 tahun

Motorik Kasar

melompat-lompat

berjalan mundur dan jinjit

menendang bola

memanjat meja atau tempat tidur

naik tangga dan lompat di anak tangga

terakhir

berdiri dengan 1 kaki

Motorik Halus

mencoret-coret dengan 1 tangan


menggambar garis tak beraturan
memegang pensil
belajar menggunting
mengancingkan baju
memakai baju sendiri

Usia 3-4 tahun

Motorik Kasar

melompat dengan 1 kaki


berjalan menyusuri papan
menangkap bola besar
mengendarai sepeda
berdiri dengan 1 kaki

Usia 4-5 tahun

Motorik Halus

menggambar manusia
mencuci tangan sendiri
membentuk benda dari plastisin
membuat garis lurus dan lingkaran cukup
rapi

Motorik Kasar

menuruni tangga dengan cepat


seimbang saat berjalan mundur
melompati rintangan
melempar dan menangkap bola
melambungkan bola

Motorik Halus

menggunting dengan cukup baik


melipat amplop
membawa gelas tanpa menumpahkan
isinya
memasikkan benang ke lubang besar

d) Fungsi Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam
perkembangan individu secara keseluruhan. Beberapa pengaruh perkembangan motorik
terhadap konstelasi perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut
(Perdani, 2009):
1. Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan
senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka,
melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.
2. Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulanbulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak
dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini
akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.
3. Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat
dilatih menulis, menggambar, melukis, dan barisberbaris.
4. Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau
bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak
untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkankan atau
menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
5. Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan selfconcept atau
kepribadian anak.
e) Uji Perkembangan Motorik

Berikut adalah beberapa tes perkembangan motorik yang sering digunakan dalam
menilai perkembangan anak, yaitu (Narendra, 2006) :
1. Brazelton Newborn Behaviour Assessment Scale, berfungsi menaksir kondisi bayi, refleks
dan interaksi. Skala ini digunakan untuk anak umur neonatus
Uzgiris-Hunt Ordinal Scale, berfungsi menaksir stadium sensorimotor menurut Piaget,
yang digunakan pada anak umur 0-2 tahun.
2. Gesell Infant Scale dan Catell Infant Scale, berfungsi terutama menaksir perkembangan
motorik pada tahun pertama dengan beberapa perkembangan sosial dan bahasa,
digunakan pada umur 4 minggu-3,5/6 tahun.
3. Bayley Infant Scale of Development, berfungsi menaksir perkembangan motorik dan
sosial, digunakan pada usia 8 minggu 2,5 tahun.
4. The Denver Developmental Screening Test, berfungsi menaksir perkembangan personal
sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar pada usia 1 bulan 6 tahun.
5. Yale Revised Development Test, berfungsi menaksir perkembangan motorik kasar,
motorik halus, adaptif, perilaku sosial dan bahasa, diguanakn pada usia 4 minggu 6
tahun
6. Geometric Forms Test, berfungsi menaksir perkembangan motorik halus dan intelektual.
7. Motor Milestone Development

Kartu perkembangan motorik anak merupakan kartu yang digunakan Depkes dan
dokter anak. Kurva perkembangan anaknya hanya mencantumkan satu titik kemampuan

gerak anak yang merupakan hasil perhitungan modus sejumlah anak pada umur tertentu
pada studi perkembangan anak di luar negeri. Secara alamiah setiap anak dalam
perkembangannya memiliki variasi kemampuan gerak (motorik milestone) pada umur
yang dicapai.

Pusat Penelitian dan pengembangan Gizi dan. Makanan Bogor pada pertengahan
tahun 2003; telah me1akukan penelitian studi motorik milestone untuk pembuatan KMS
perkembangan anak. Penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban karena menurut
kronologis kemampuan motorik milestone serta variasinya menurut umur anak, sehingga
mendapatkan suatu kurva perlcembangan anak yang sesuai dan relevan dengan program
nasional gizi dan kesehatan.

Hasil penelitiannya menghasilkan sutau Irurva perkembangan anak yang merupakan


cikal bakal untuk kurva perkembangan anak. Kurva perkembangan anak yang terbentuk
ini merupakan gambaran dari perkembangan anak sehat Indonesia, Berikut ini,
antropometri yang digunakan untuk mengukur motorik bayi dengan mengggunakan
Milestone Perkembangan Motori :

Pengukuran Milestone Perkembangan Motorik yang dikembangkan oleh Depkes.

3) Perkembangan Kognitif

Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur angsur.
Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka
pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan
objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium
belajar (Administrator, 2010).

Menurut teori Piaget, pemikiran anak anak usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional
Konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek
objek peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi
terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai
kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya
(Administrator, 2010).

b. Ciri Ciri Perkembangan

Perkembangan memiliki karakteristik yang dapat diramalkan dan memiliki ciri-ciri sehingga
dapat diperhitungkan. Ciri-ciri tersebut, sebagai berikut Soetjiningsih (2000):

1) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan, Perkembangan adalah proses yang kontinue dari
konsepsi sampai maturasi. Perkembangan sudah terjadi sejak didalam kandungan, dan setelah
kelahiran merupakan suatu masa dimana perkembangan dapat dengan mudah diamati.
2) Dalam priode tertentu ada masa percepatan dan ada masa perlambatan. Terdapat 3 (tiga) periode
pertumbuhan cepat adalah pada masa janin, masa bayi 0 1 tahun, dan masa pubertas.
3) Perkembangan memiliki pola yang sama pada setiap anak, tetapi kecepatannya berbeda.
4) Perkembangan dipengaruhi oleh maturasi system saraf pusat. Bayi akan menggerakkan seluruh
tubuhnya, tangan dan kakinya.
5) Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan
volunter tercapai.

Sumber :

repository.unhas.ac.id/bitstream/123456789/400/3/BAB%20II.docx

http://idai.or.id/downloads/CDC/Kurva-pertumbuhan-CDC-2000-lengkap.pdf

Skala Yaumil-mimi
Perkembangan Mental Anak
(Gerakan-gerakan Kasar&Halus,Emosi,Sosial,Perilaku,Bicara).
Perkembangan anak balita:
Sangat penting sebagai dasar untuk perkembangan selanjutnya yakni prasekolah, sekolah, akil balig dan
remaja
Untuk perkembangan yang baik dibutuhkan:1. Kesehatan & gizi yang baik dari ibu hamil, bayi dan anak
prasekolah2. Stimulasi/ rangsangan yang cukup dalam kualitas dan kuantitas
Keluarga dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) mempunyai peran yang penting dalam pembinaan fisik,
mental sosial anak balita
Dari lahir sampai 3 bulan:
Belajar mengangkat kepala
Belajar mengikuti objek dengan matanya
Melihat ke muka orang dengan tersenyum
Bereaksi terhadap suara/ bunyi
Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
Menahan barang yang dipegangnya
Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
Dari 3 bulan sampai 6 bulan:
Mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan bertopang tangan
Mulai belajar meraih benda-benda yang ada dalam jangkauannya atau di luar jangkauannya.
Menahan benda-benda di mulutnya
Berusaha memperluas lapangan pandangan
Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain
Mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang
Dari 6 bulan sampai 9 bulan:
Dapat duduk tanpa dibantu
Dapat tengkurap dan berbailik sendiri
Dapat merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
Memegang benda kecil daengan ibu jari dan jari telunjuk
Bergembira dengan melempar benda-benda
Mengeluarkan kata-kata tanpa arti
Mengenal muka anggota-anggota keluarga dan takut kepada orang asing/ lain
Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-sembunyian
Dari 9 bulan sampai 12 bulan:
Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu
Dapat berjalan dengan dituntun
Menirukan suara
Mengulang bunyi yang didengarnya
Belajar menyatakan satu atau dua kata
Mengerti perintah sederhana atau larangan
Memperlihatkan minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya, ingin menyentuh apa saja dan
memasukkan benda-benda ke mulutnya (memasuki fase oral sepertinya)
berpartisipasi dalam permainan
Dari 12 bulan sampai 18 bulan:
Berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
Menyusun 2 atau 3 kotak
Dapat mengatakan 5-10 kata
Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing
Dari 18 sampai 24 bulan:

Naik turun tangga


Menyusun 6 kotak
Menunjuk mata dan hidungnya
Menyusun dua kata
Belajar makan sendiri
Menggambar garis di kertas atau pasir
Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil/ kencing
Menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang-orang yang lebih besar
Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka
Dari 2 sampai 3 tahun:
Belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki
Membuat jembatan dengan 3 kotak
Mampu menyusun kalimat
Mempergunakan kata-kata saya, bertanya, mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya
Menggambar lingkaran
Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya
Dari 3 sampai 4 tahun:
Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
Berjalan pada jari kaki
Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
Menggambar garis silang
Mengenal 2 atau 3 warna
Menggambar orang hanya kepala dan badan
Bicara dengan baik
Menyebut namanya, jenis kelamin dan umurnya
Banyak bertanya
Bertanya bagaimana anak dilahirkan
Mengenal sisi atas, sisi bawah, sisi muka, dan sisi belakang
Mendengarkan cerita-cerita
Bermain dengan anak lain
Menunjukkan rasa sayang kepada saudara-saudranya
Dapat melakasanakan tugas-tugas sederhana
Dari 4 sampai 5 tahun:
Melompat dan menari
Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan dan badan
Menggambar segi empat dan segi tiga
Pandai bicara
Dapat menghitung jari-jarinya
Dapat menyebut hari-hari dalam seminggu
Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
Minat kepada kata baru dan artinya
Memprotes bila dilarang apa yang diingininya
Mengenal 4 warna
Memperkirakan bentuk dan besarnya benda, membedakan besar dan kecil
Menaruh minat kepada aktivitas orang dewasa
Pendidikan/ stimulasi yang perlu diberikan:
Akademik sederhana: pengenalan ruang, bentuk, warna, persiapan berhitung
Pendidikan alam sekitar, sosialisasi, mengenal lingkungan masyarakat
Bermain bebas untuk mengembangkan fantasi dan memperkaya pengalaman
Menyanyi, menggambar
Bahasa: bercakap-cakap, membaca gambar, bercerita, mengucapkan syair sederhana
Melatih daya ingat dengan antara lain bermain jualan, menyampaikan berita
Menggambar
Membuat permainan dari kertas
Mengenal tugas, larangan-larangan

3.

1.
2.
3.

4.

Aktivitas sehari-hari: makan sendiri, minum sendiri, kontrol buang air besar (BAB), kontrol buang air
kecil (BAK).

Tumbuh Kembang Masa Remaja:

Wanita :

Laki-Laki :
Tumbuh Rambut halus
Tumbuh rambut halus
Payudara membesar
Keringat bertambah
Pinggul membesar
Kulit dan rambut berminyak
Kulit dan Rambut berminyak.
Dada bertambah besar dan bidang.
Bokong berkembang lebih besar.
Tumbuh jakun.
Pada vagina megeluarkan cairan.
Suara bertambah berat.
Menstruasi.
Mimpi basah.

(sumber : Soetjiningsih.(1995) Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC)

MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK DAN REMAJA


Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kecukupan gizi sangat
diperlukan oleh setiap individu, sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, masa remaja, hingga usia
lanjut. Zat besi merupakan salah satu komponen gizi mikro yang memiliki peranan penting dalam
proses tumbuh kembang khususnya pada anak. (Soekirman, 2000)

Fungsi zat-zat gizi. Jenis-jenis zat gizi penunjang perkembangan otak dan kecerdasan anak adalah:
Karbohidrat, dalam bentuk gula sederhana dan gula kompleks, dibutuhkan sebagai sumber energi untuk
membentuk sel-sel otak baru.
Protein, baik hewani maupun nabati, terdiri daru 25 jenis asam amino yang berperan penting bagi
terbentuknya neutrotransmitter, yaitu senyawa pengantar pesan dari sel otak satu ke sel otak yang lain.
Lemak, terutama dalam bentuk asam lemak, sebagai bahan baku pembentuk sel-sel otak baru. Sebanyak
60% dari otak terbentuk dari lemak. Jenis asam lemak yang paling utama adalah asam lemak tidak
jenuh rantai panjang, contohnya omega-3, EPA, dan DHA. Asam lemak omega-3 ini paling banyak
ditemukan dalam ikan laut, seperti ikan kod.
Vitamin dan mineral, sangat dibutuhkan untuk membantu fungsi kerja otak, menunjang kerja sistem
imun dan sistem saraf pusat.
Vitamin A meningkatkan daya tahan tubuh.
Vitamin D menjaga kesehatan tulang dan gigi.
DHA 224 mg/5 ml membantu perkembangan sel-sel otak.
Kecerdasan, keterampilan, dan perkembangan mental balita tidak lepas dari pertumbuhan dan
perkembangan sel-sel otak. Agar otak anak berkembang optimal, harus memenuhi aneka zat gizi
yang diperlukan. Apalagi, ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa otak terus tumbuh hingga anak
berusia dua tahun. Artinya, pada masa emas itulah, balita harus mengonsumsi makanan bergizi
lengkap dan seimbang, terutama untuk perkembangan otaknya.

Aneka zat gizi yang berperan penting bagi perkembangan otak, diantaranya adalah kelompok asam
lemak tak jenuh, kalori dan protein, zat besi, kelompok vitamin B, dan seng (Zn).

1. Asam lemak tak jenuh


Asam lemak tak jenuh sangat dominan dalam susunan sel-sel saraf di otak anak. Bahkan diketahui
bahwa 60% otak manusia terdiri dari aneka jenis lemak itu. Yang termasuk asam lemak tak jenuh itu
adalah:
a. DHA (asam dokosaheksaenoat) atau omega-3. Berperan besar dalam perkembangan sel saraf, otak, dan
penglihatan. Kekurangan omega-3 dapat mengganggu perkembangan sistem saraf. Akibatnya, terjadi
gangguan pada sistem daya tahan tubuh, daya ingat, mental, dan penglihatan.
b. AA (asam arakidonat) atau omega-6. Asam lemak ini berfungsi membantu pembentukan senyawa yang
bersifat seperti hormon, yaitu sebagai pengantar perintah dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya dalam
tubuh, termasuk ke otak.
Kedua asam lemak ini terdapat dalam ASI. Setelah mendapat asupan makanan, asam lemak ini bisa
diperoleh dari ikan tenggiri atau tuna, bayam, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.
(Moersintowati, 2008)


2. Kalori dan protein

Kekurangan kalori dan protein dapat menyebabkan otak anak tidak tumbuh optimal dan akan
mengakibatkan gangguan motorik dan kecerdasan. Kalori dibutuhkan dalam proses metabolisme
otak, sementara protein berperan dalam pembentukan sel-sel saraf baru, termasuk otak. Sumbersumber kedua zat gizi ini adalah daging sapi, ayam, ikan, telur, susu dan produk olahannya, minyak
ikan, tempe, tahu, dan kedelai.

3. Zat besi
Zat besi berperan besar dalam pembentukan sel-sel baru, termasuk otak, di mana mengangkut dan
mendistribusikan O2 paru-paru ke seluruh tubuh. Serta berperan dalam pembentukan eritrosit di
dalam sumsum tulang belakang. Sistem imun yang berfungsi dengan baik adalah tanda cukupnya zat
besi dalam tubuh. Sumber-sumbernya adalah hati, daging merah, ikan, telur, serealia, dan sayuran
berwarna hijau tua.

4. Kelompok vitamin B
Berbagai jenis vitamin B sangat besar peranannya dalam perkembangan otak anak, yaitu B1, B3, B6,
dan B12.
Vitamin B1 melindungi sel-sel saraf dalam jaringan sel pusat, B3 menjaga keseimbangan kerja selsel saraf, B6 berperan dalam proses pembentukan eritrosit, serta membantu tubuh dalam proses
penyerapan karbohidrat, protein, dan lemak; B12 berperan dalam membentuk senyawa kimia yang
mendukung pertumbuhan dan fungsi sel saraf dan pertumbuhan tulang belakang, serta mencegah
kerusakan saraf dan meningkatkan daya ingat. Bersama zat besi, vitamin B12 jga membantu
pembentukan eritrosit. Sumber vitamin B adalah serealia, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, ayam,
daging tanpa lemak, produk olahan susu, dan sayuran berwarna hijau.

5. Seng (Zn)
Seng berfungsi membantu otak dalam mengantar informasi genetik dalam sel. Selain itu, seng juga
bertugas membantu proses pembentukan sel-sel tubuh, termasuk otak. Kekurangan seng dapat
berpengaruh terhadap perkembangan kecedasan anak dan gangguan fungsi otak. Seng banyak
terdapat dalam daging, hati, ayam, seafood, susu, biji-bijian, dan kacang-kacangan. (Hurlock, 2007)

Jenis
Nutr
isi
Air

Prot
ein

Fungsi

Sumber

Pelarut untuk pertukaran seluler


Transportasi nutrien dan produk buangan
tubuh
Mengatur suhu tubuh
Menyediakan
asam
amino
untuk
pertumbuhan dan perbaikan jaringan
Menjaga keseimbangan osmotik
Membentuk hemoglobin, nukleoprotein,
glikoprotein, lipoprotein, enzim, dan
antibodi
Sebagai sumber energi
Membentuk glikogen dan lemak
Membantu pembentukan asam amino

Air, makanan

Susu, telur,
daging,
kacangkacangan,
padi-padian

Sebagai sumber cadangan energi


Melindungi pembuluh darah, saraf, dan
organ-organ tubuh
Melindungi tubuh dari perubahan suhu

Susu, padipadian, buah,


sirup, tepung,
sayuran
Susu,
mentega,
telur, daging,
ikan, minyak

Kar
bohi
drat

Lem
ak

Jenis
Vita
min

Vita
min
A

Vita
min
B
Thia
mine

sayur

(Nelson, 1999)

luar
Membantu penyerapan vitamin A, D, E,
dan K
Memperlambat
proses
pengosongan
lambung

Ribo
flavi
n

Fungsi

Sumber

Penglihatan
Perkembangan dan pemeliharaan jaringan
epitel
Diferensiasi sel-sel epitel

Susu, telur,
buah, sayur,
cod & halibut
liver oil

Niasi
n

Asa
m
Pant
othe
nat
Pirid
oksi
n

Sebagai koenzim dalam metabolisme


karbohidrat
Konduksi membran dan saraf
Sebagai komponen dalam koenzim FAD
dan FMN
Berperan sebagai kofaktor enzim, seperti
NAD dehidrogenase
Merupakan komponen dari hampir semua
zat-zat pembawa elektron dalam sel hidup
Berperan
dalam
berbagai
proses
metabolisme
Sebagai bagian dari koenzim A dan protein
pembawa asil
Sebagai koenzim piridoksal fosfat dan
piridiksamine fosfat
Koenzim dalam mitokondria dan sitosol
dalam metabolisme asam amino, purin,
dan nukleat
Kofaktor enzim sintesis DNA dan RNA

Padi-padian,
ragi, jeroan
Susu, telur,
daging,
kacangkacangan

Ikan tuna dan


halibut,
daging, sereal
gandum
Kuning telur,
susu, kacangkacangan
Daging, ikan,
tepung
kedelai, ragi
Sayuran
hijau, kacangkacangan,
telur, ikan
Telur, susu

Asa
m
Folat
Kob
alam
in
Vita
min
C

Sebagai antioksidan yang mempengaruhi


redoks potensial tubuh
Integritas epitel melalui kesehatan kolagen
Mekanisme imunitas
Mempercepat absorbsi besi
Sintesis hormon norepinefrin dan reseptor

Kacangkacangan,
sayuran hijau,
buah-buahan

Vita
min
D
Vita
min
E
Vita
min
K

neurotransmitter asetilkolin
Homeostasis kalsium dalam plasma
Mengatur sintesis protein yang mengatur
transpor Ca
Pembentukan garam Ca di jaringan yang
membutuhkan
Sebagai antioksidan alam paling kuat
Berperan dalam metabolisme selenium

Minyak ikan
laut, kuning
telur

Minyak bijibijian, buah,


sayur, lemak
Sayuran
hijau, sereal,
susu, telur

Sintesis protrombin, faktor VII, IX, dan X


Sebagai
kofaktor
enzim
yang
mempercepat reaksi karboksilase pada hati

Fungsi

Sumber

Membentuk struktur tulang dan gigi


Membantu proses kontraksi otot dan kerja
jantung

Susu, sayur
hijau, salmon,
kerang

Membantu koagulasi darah


Membantu keseimbangan asam basa
Membentuk HCl lambung

Pengaturan glikemia dan metabolisme


insulin

Ragi

Tersebar luas

Merupakan komponen pembentuk molekul


vitamin B12 dan eritropoietin
Penting untuk produksi sel darah merah,
transferin, dan hemoglobin
Membantu penyerapan besi

Fluo
rin
Iodi
um
Besi

Membentuk struktur gigi dan tulang

Merupakan komponen pembentuk hormon


T3 dan T4
Membentuk struktur hemoglobin, enzim
oksidatif, sitokrom C, dan katalase

Mag
nesiu
m
Man
gan

Membentuk struktur tulang dan gigi


Iritabilitas otot dan saraf
Kation intraseluler
Berperan dalam aktivasi enzim
Metabolisme karbohidrat

Moli
bden
um
Fosf
or

Komponen enzim santin oksidase


Mobilisasi feritin dalam hati

Hati, tiram,
daging, ikan,
butir
padi,
kacang
Air, makanan
laut
Garam,
makanan laut
Hati, daging,
kuning telur,
sayuran hijau
Biji-bijian,
kacang,
daging, susu
Sayuran
hijau,
bijibijian
Sayuran

Membantu pembentukan tulang dan gigi


Struktur nukleus dan sitoplasma sel

(Nelson, 1999)
Jenis
Mine
ral
Kalsi
um

Klor
ida
Khro
miu
m
Kob
alt
Tem
baga

Garam,
daging, susu,
telur

Susu, kuning
telur, kacang-

Kali
um

Sele
nium
Sulf
ur
Natr
ium
Seng

Berperan dalam kontraksi otot


Hantaran impuls saraf
Keseimbangan cairan dalam tubuh
Kofaktor glutation peroksidase

Unsur pokok protein seluler


Berperan dalam pembentukan melanin
Berperan dalam menjaga tekanan osmotik
Menjaga keseimbangan asam basa
Unsur pokok enzim

kacangan
Tersebar luas

Sayuran,
daging
Makanan
berprotein
Garam, susu,
telur
Daging, susu,
kacang

(Nelson, 1999)

1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.

1.
2.
3.
4.

Makanan yang Mempengaruhi Kecerdasan


Mempunyai anak dengan tingkat kecerdasan yang tinggi merupakan dambaan setiap orang tua.
Untuk mendapatkan kecerdasan anak yang optimal sebaiknya orangtua memperhatikan beberapa hal,
yang pertama yaitu pemberian Asi eksklusif, kemudian kecukupan zat gizi, lingkungan yang sehat
dan nyaman serta suasana keluarga yang harmonis. Berikut ini adalah 7 makanan yang baik untuk
kecerdasan anak :
Ikan salmon yaitu sumber asam lemak omega-3-DHA and EPA- yang keduanya penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak anak.
Telur, kuning telur padat kandungan kolin yaitu zat yang membantu perkembangan daya ingat.
Kacang tanah, merupakan sumber vitamin E. Vitamin ini membantu otak dan sistem saraf dalam
penggunaan glukosa untuk kebutuhan energi.
Susu dan yoghurt, protein dan vitamin B tinggi yang terkandung di dalamnya sangat penting untuk
pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter dan enzim.
Daging sapi tanpa lemak, selain mengandung zat besi daging sapi juga dapat memelihara daya ingat dan
kecerdasan anak.
Gandum murni, serat pada gandum, dapat membantu mengatur pelepasam glukosa dalam tubuh, selain
itu juga mengandung vitamin B yang berfungsi memelihara kesehatan sistem saraf. Gandum juga
mempunyai kemampuan untuk mendukung kebutuhan sediaan glukosa dari tubuh yang sifatnya
konstan.
Strawberry, cherry, blueberry. Buah-buahan ini kaya antioksidan kadar tinggi, khususnya vitamin C. Biji
dari buah berry kaya asam lemak omega-3 yang sangat penting untuk kecerdasan otak. Secara umum,
semakin kuat warnanya, semakin banyak nutrisinya.
(Hurlock, 2007)

Peranan dan Pengaruh Gizi dalam Perkembangan Inteligensi


Periode emas. Proses perkembangan otak anak terdiri dari serangkaian tahapan yang telah dimulai
sejak di dalam kandungan. Tepatnya, ketika kehamilan memasuki trimester ke-3. Tahapan itu
berlanjut setelah anak lahir dan perkembangan yang berlangsung hingga usia 2 tahun merupakan
periode emas atau periode pacu tumbuh otak.
Pada usia 6 bulan, perkembangan otak anak mencapai 50%.
Pada umur 2 tahun melonjak hingga 75%.
Pada umur 5 tahun perkembangan otak mencapai 90%.
Pada umur 10 tahun mencapai 99%.

a. KEBUTUHAN ZAT GIZI UNTUK PERTUMBUHAN ANAK DAN REMAJA

Masa remaja menurut WHO adalah antara 10 24 tahun, sedangkan menurut Monks
(1992) masa remaja berlangsung pada umur 12-21 tahun dengan pembagian masa remaja awal (12-15
tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan masa remaja akhir (18-21 tahun).


Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi remaja adalah
aktivitas fisik. Remaja yang aktif dan banyak melakukan olahraga memerlukan asupan energi yang
lebih besar dibandingkan yang kurang aktif.

Angka kecukupan gizi (AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 20002200 kkal, sedangkan untuk laki-laki antara 2400-2800 kkal setiap hari.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


1. Penyebab Langsung
Makanan dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi kurang tidak
hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapat cukup
makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang.
2. Penyebab tidak Langsung
Ada 3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :
a. Ketahanan pangan keluarga yang kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk
memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah
maupun mutu gizinya.
b. Pola pengasuhan anak kurang memadai. Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan
waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik,
mental dan sosial.
c. Pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Sistem pelayanan kesehatan yang ada
diharapkan dapat menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang
terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.

Penilaian Status Gizi Anak Sekolah Dasar


Penilaian Status Gizi Secara Antropometri
Supariasa, dkk (2002), mendefenisikan antropometri adalah ukuran tubuh. Jika dilihat dari tujuannya
antropometri dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Untuk ukuran massa jaringan : Pengukuran berat badan, tebal lemak dibawah kulit, lingkar lengan atas.
Ukuran massa jaringan ini sifanya sensitif, cepat berubah, mudah turun naik dan menggambarkan
keadaan sekarang.
b. Untuk ukuran linier : pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar dada. Ukuran linier sifatnya
spesifik, perubahan relatif lambat, ukuranya tetap atau naik, dapat menggambarkan riwayat masa lalu.

Parameter dan indeks antropometri yang umum digunakan untuk menilai status gizi anak adalah
indikator Berat Badan Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U), Indeks Massa
Tubuh menurut Umur (IMT/U) (Depkes RI, 2006).
1. Indeks Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberikan gambaran tentang massa
tubuh (otot dan lemak), karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak
misalnya karena penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunya makanan yang
dikonsumsi maka berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Berdasarkan sifatsifat ini, maka indeks berat badan menurut umur (BB/U) digunakan sebagai salah satu indikator
status gizi. Oleh karena sifat berat badan yang stabil maka indeks BB/U lebih menggambarkan status
gizi seseorang pada saat kini (current nutritional status).
Penggunaan indeks BB/U sebagai indikator status gizi memiliki kelebihan dan kekurangan yang
perlu mendapat perhatian.
Kelebihan indeks BB/U yaitu :
1. Dapat lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum.
2. Sensitif untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek.
3. Dapat mendeteksi kegemukan (Over weight).
Kelemahan dari indek BB/U adalah :
1. Dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat udema.
2. Memerlukan data umur yang akurat.
3. Sering terjadi kesalahan pengukuran misalnya pengaruh pakaian, atau gerakan anak pada saat
penimbangan.
4. Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat. Dalam hal ini
masih ada orang tua yang tidak mau menimbangkan anaknya karena seperti barang dagangan
(Supariasa, 2002).


2. Indeks Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang menggambarkan pertumbuhan skeletal.
Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan baru akan tampak pada saat yang cukup lama.
Kelemahan penggunaan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) yaitu :
1) Tidak dapat memberi gambaran keadaan pertumbuhan secara jelas.
2) Dari segi operasional, sering dialami kesulitan dalam pengukuran terutama bila anak mengalami
keadaan takut dan tegang (Jahari, 2002).

3. Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U)


Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan pelaksanaan perbaikan gizi adalah dengan
menentukan atau melihat. Komposisi tubuh mencakup komponen lemak tubuh (fat mass) dan bukan
lemak tubuh (non-fat mass) (Riyadi, 2004).
Pengukuran status gizi anak sekolah dapat dilakukan dengan indeks antropometri dan menggunakan
Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U) anak sekolah.

Rumus IMT :

IMT = BB (kg) : (TB (m) x TB (m))

(Soekirman, 2000)
Klasifikasi Status Gizi Berdasarkan Antropometri
Dalam penelitian status gizi, khususnya untuk keperluan klasifikasi diperlukan ukuran baku
(reference). Pada tahun 2009, Standar Antropometri WHO 2007 diperkenalkan oleh WHO sebagai
standar antopometri untuk anak dan remaja di dunia.

Indeks BB/U
Indeks TB/U
Indeks IMT/U
a. Normal : -2 SD
a. Normal : -2 SD
a. Sangat gemuk : > 3
s/d 2 SD
s/d 2 SD
SD
b. Kurang : -3 SD
b. Pendek : -3 SD
b. Gemuk : > 2 SD
s/d < -2 SD
s/d < -2 SD
s/d 3 SD
c. Sangat Kurang : <
c. Sangat pendek : <
c. Normal : -2 SD
-3 SD
-3 SD
s/d 2 SD

d. Kurus : -3 SD s/d
< -2 SD
e. Sangat kurus : < -3
SD

AKG Remaja
Urai
Perempuan
Laki laki

1
2

an
1313
20 6
0
6

1
9
th
4
1
5
9

Ener
gi
(kcal
)
Prote
in (g)
Kalsi

21

62

2
0
0
0
5
1
6

t
h
2
2
0
0
4
8
6

24

64

t
h
2
5
0
0
6
6
6

280

55

um
(mg)
Besi
(mg)
Vit.
A
(RE)
Vit.
E
(mg)
Vit
B1
(mg)
Vit C
(mg)
Folat
(mg)

70

0
0
2
5
5
0
0
8

19

50

1,0

1,
0

60

13

6
0
1
5
0

0
0
2
6
5
0
0
8

70

1
,
0
6
0
1
5
0

17

60

10

1,0

60

12

0
0
2
3
7
0
0
1
0

500

1
,
0
6
0
1
6
5

1,2

13

700

10

60

170

(Hurlock, 2007)

4. TANGGUNG JAWAB DAN KEWAJIBAN ORANGTUA PADA ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM

Menurut ajaran Islam, anak adalah amanah Allah dan tidak bisa dianggap sebagai harta benda yang
bisa diperlakukan sekehendak hati oleh orang tua. Sebagai amanah anak harus dijaga sebaik
mungkin oleh yang memegangnya, yaitu orang tua. Anak adalah manusia yang memiliki nilai
kemanusiaan yang tidak bisa dihilangkan dengan alasan apa pun.

1. Anak mempunyai hak untuk hidup.

Allah berfirman:

Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizqi
kepadamu dan kepada mereka. ( QS. Al-Anam: 151)

Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa orang tua mempunyai kewajiban agar anak tetap bisa hidup
betapapun susahnya kondisi ekonomi orang tua. Ayat itu juga memberi jaminan kepada kita bahwa Allah saw
pasti akan memberikan rizqi baik kepada orang tua maupun sang anak, asalkan berusaha.
2. Menyusui

Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah (QS AI
Baqarah: 233)









{233}

Artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama 2 tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan.

Bayi yang memperoleh ASI akan mempunyai daya kekebalan tubuh yang lebih baik. Seorang ibu
diwajibkan untuk menyusui anaknya sampai 2 tahun penuh, kecuali ada alasan yang dapat diterima oleh
hukum Islam. Menyusui anak sampai dua tahun ini akan menumbuhkan pengaruh positif terhadap sang anak
baik secara fisik maupun secara jiwani.

3. Memberi Nama yang Baik


Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam
memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua,
mendidiknya dengan al-Quran dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian,
maka perbaguslah nama kalian. (HR.Abu Dawud)

Islam mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah doa. Dengan memberi nama
yang baik, diharapkan anak kita berperilaku baik sesuai dengan namanya.

4. Mengaqiqahkan Anak

Menurut keterangan A. Hasaan aqiqah adalah; menyembelih kambing untuk (bayi) yang baru lahir,
dicukur dan diberi nama anak itu, pada hari ketujuhnya.

Rasulullah s.a.w. bersabda; Tiap-tiap seorang anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelih
(aqiqah) itu buat dia pada hari yang ketujuhnya dan di cukur serta diberi nama dia. (Diriwayatkan oleh
Ahmad dan Imam yang empat dan dishahihkan oleh At Tirmidzy, hadits dari Samurah ).

5. Mendidik anak
Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa
mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang
mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi
merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.
Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti
mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup
perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang
diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu,
kemuliaan dan kejayaan.
Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang sedikit
saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan
agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.

6. Memberi makan dan keperluan lainnya


Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita
kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warisan pun berkewajiban
demikian. Rasulullah s.a.w. bersabda;
Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan (tanggung jawab) memberi makan keluarganya. ( HR
Abu Daud)
7. Memberi rizqi yang thayyib
Rasulullah s.a.w. bersabda; Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca,
mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik. HR Al Hakim.

8. Mendidik anak tentang agama


Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik maka mereka akan
menyebabkannya masuk surga. ( HR Al Bukhary ).

Mengenai kekhassan kaum wanita, antara lain Rasulullah s.a.w. bersabda; Wanita itu bagaikan tulang rusuk.
Apabila anda biarkan begitu saja, dia akan tetap bengkok. Namun apabila anda luruskan sekaligus, dia akan
patah.

9. Mendidik anak untuk sholat


Rasulullah s.a.w. bersabda; Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan
pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur mereka (putra putri).
Maksudnya, kewajiban mendidik anak untuk mengerjakan sholat dimulai setelah anak berumur tujuh
tahun. Bila telah berusia sepuluh tahun anak belum juga mau mengerjakan sholat, boleh dipukul
dengan pukulan ringan, yang mendidik, bukan pukulan yang membekas atau menyakitkan.

10. Mendidik anak tentang adab yang baik

Islam mengutamakan pendidikan mental. Taqwa itu ada disini, kata Rasulullah seraya
menunjukkan kearah dadanya. Artinya hati manusia adalah sumber yang menentukan baik buruknya
perilaku seseorang.

11. Memberi pengajaran dengan pelajaran yang baik


Berkata shahabat Aly r.a.; Ajarilah anak anakmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman
yang berbeda dengan zamanmu.

12. Memberi pengajaran Al Quraan


Rasulullah s.a.w. bersabda;Sebaik baik kalian adalah barang siapa yang belajar Al Qur aan dan
mengajarkannya.
Nabi s.a.w. bersabda; Ilmu itu ada tiga macam. Selainnya adalah sekedar tambahan. Adapun yang
tiga macam itu ialah; Ilmu tentang ayat ayat ( Al Quraan) yang muhkamat, ilmu tentang Sunnah
Nabi, dan ilmu tentang pembagian warits. ( HR Ibnu Majah ).

13. Memberikan pendidikan dan pengajaran baca tulis


Rasulullah s.a.w. bersabda; Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis
baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik. HR Al
Hakim.

14. Memberikan perawatan dan pendidikan kesehatan


Rasulullah s.a.w. bersabda; Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan.
Sesungguhnya Allah SAW menegakkan Islam diatas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk sorga
kecuali orang yang memelihara kebersihan. ( HR At Thabarany ).
15. Memberikan pengajaran ketrampilan
Rasulullah s.a.w. bersabda; Sebaik baik makanan adalah hasil usaha tangannya sendiri.
Dalam sabdanya yang lain beliau mengatakan; Mengapa tidak kau ajarkan padanya (anak itu)
menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca? (HR An- Nasai).

16. Memberikan kepada anak tempat yang baik dalam hati orang tua
Hilangkanlah rasa benci pada anak apa pun yang mereka lakukan, doakan dia selalu, agar menjadi
anak yang sholeh, santunilah dengan lemah lembut, sabarlah menghadapi perilakunya yang tidak
baik, hadapi segalanya dengan penuh kearifan, jangan mudah membentak apalagi memukul tanpa
alasan, tempatkan dia dengan ikhlas pada hati, belailah dengan penuh kasih sayang nasehati dengan
santun.
Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini? Nabi
s.a.w. menjawab; Kau memberinya nama yang baik, memberi adab yang baik dan memberinya
kedudukan yang baik (dalam hatimu). ( HR At Tuusy )
17. Memberi kasih sayang
Kecintaan orang tua kepada anak tidak cukup dengan hanya memberinya materi baik berupa
pakaian, makanan atau mainan dan sebagainya. Tapi yang lebih dari pada itu adalah adanya
perhatian dan rasa kasih sayang yang tulus dari kedua orang tua.
Rasulullah s.a.w. bersabda; Bukanlah dari golongan kami yang tidak menyayangi yang lebih muda
dan (bukan dari golongan kami) orang yang tidak menghormati yang lebih tua.(HR At Tirmidzi).

18. Menikahkannya

Bila anak telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka
terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Doakan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak
perlu menunggu memasuki usia senja.

Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban berat
kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya,
sebagaimana firman-Nya,

Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya
kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang
yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya. (QS.
An-Nur:32)


19. Mengarahkan anak

Orang tua wajib mengarahkan anak-anak, serta menekankan mereka untuk memilih
kawan, teman duduk maupun teman dekat yang baik. Hendaknya orang tua menjelaskan kepada anak
tentang manfaat di dunia dan di akhirat apabila duduk dan bergaul dengan orang-orang sholeh, dan
bahaya duduk dengan orang-orang yang suka melakukan kejelekan ataupun teman yang jelek.

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak,
menanyakan tentang teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak temantemannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan jelek dan dosa di
hadapan teman-temannya.

Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan kerusakan, tidak
mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka
terpaksa melakukan salah satu bentuk perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan
mencegah kejelekan dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah k tidak menyukai
kerusakan.

Inilah kiranya sebuah kewajiban yang tak boleh dilupakan oleh setiap orang tua.
Hendaknya orang tua mengingat sebuah ucapan yang dituturkan oleh Amr bin Qais Al-Mala`I:

Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih mengutamakan untuk duduk
bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia
cenderung pada selain mereka, hampir-hampir dia rusak binasa. (Dinukil dari Lammud Durril
Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, bab Hukmus Salaf alal Mar`i bi Qarinihi wa Mamsyahu).

(Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, 2000)

DAFTAR PUSTAKA

Harold Kaplan & Benyamin Sadock. 2008. Sinopsis Psikiatri jilid 2. Jakarta. Karisma.

Hurlock, E.B. 2007. Perkembangan Anak. Jilid 1. Jakarta. Gramedia.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. 2000. Fiqih Bayi. Jakarta. Fikr Rabbani Group.

Nelson, Behrman, Kliegman, Arvin 2001. Ilmu Kesehatan Anak Essensial Edisi 6. Jakarta. EGC

Sularyo, T.S dan Kadim, M. 2000. Sari Pediatri, Vol. 2, No. 3 pp 170-177.

Sebastian, C.S. Pediatric Intelectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/289117overview

Soetjiningsih. 2014. Tumbuh Kembang Anak edisi 2. Jakarta. EGC.

Zeldin, A.S. et al. Intellectual Disability. http://emedicine.medscape.com/article/1180709-overview

http://idai.or.id/downloads/CDC/Kurva-pertumbuhan-CDC-2000-lengkap.pdf