Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN

ANTENATAL CARE

Di Susun Oleh :

Amalia Solikha
16.0361.N

PRODI PROFESI NERS


STIKES MUHAMADIYAH PEKAJANGAN
PEKALONGAN
2016

ANTENATAL CARE (ANC)

A. Pengertian
Antenatal Care adalah perawatan yang ditujukan kepada ibu hamil, yang
bukan saja bila ibu sakit dan memerlukan perawatan, tetapi juga pengawasan
wanita hamil agar tidak terjadi kelainan sehingga ibu dan anak sehat
(Mochtar, 1998). Pelayanan antenatal adalah untuk mencegah adanya
komplikasi obstretri dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini
mungkin (Saifuddin, dkk., 2002)
Pelayanan antenatal adalah pelayanan terhadap individu yang bersifat
preventif care untuk mencegah masalah yang kurang baik bagi ibu maupun
janin agar melalui persalinan dengan sejat dan aman, diperlukan kesiapan
fisik dan mental ibu sehingga ibu dalam keadaan status kesehatan oftimal,
karena kesehatan ibu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
janinnya ( Departemen Kesehatan, 2007)
Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi,
edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu
proses kehamilan dan persalianan yang aman dan memuaskan (Handaya,
2008).

B. Tujuan
Secara umum antenatal care bertujuan untuk menjaga agar ibu hamil
dapat melalui masa kehamilan, persalinan, dan nifas dengan baik dan selamat
serta menghasilkan bayi yang sehat (Depkes RI, 1994). Secara rinci tujuan
antenatal care adalah:

1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan


tumbuh kembang janin
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial
ibu.
3. Mengenali dan mengurangi sedini mungkin adanya penyulit/komplikasi
yang dapat muncul selama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup builan dan persalinan yang aman
dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar nifas

berjalan

dengan

normal

dan

mempersipkan ibu agar dapat memberi asi secara eksklusif.


6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin
agar tumbuh kembang secara normal
7. Mengurangi angka kematian bayi prematur, kelahirran mati dan kematian
neonatal.

C. Standar pelayanan antenatal


Pelayanan antenatal mengacu pada konsep 7T yaitu:
1. Timbang badan dan ukur badan, tujuannya adlah untuk mengetahui
sesuai tidaknya berat badan ibu. Pemeriksaan berat badan dilakukan
setiap berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan. Selama triwulan I
berat badan ibu harus naik 0,5 sampai dengan 0,75 kg setiap bulan, pada
triwulan ketiga harus naik 0,25 kg setiap minggunya. Dan pada
trisemester III berat badan ibu harus naik sekitar 0,5 kg setiap
minggunya, atau secara umum berat badan meningkat sekitar 8 kg selama
kehamilan.
2. Ukur tekanan darah. Tujuannya untuk mendeteksi apakah tekanan
darah normal atau tidak. Pemeriksaan ini juga dilakukan pada setiap

kunjungan. Tekanan darah yang tinggi dapat membuat ibu keracunan


kehamilan, baik ringan maupun berat bahkan sampai kejang-kejang.
Sementara tekanan darah yang rendah menyebabkn pusing dan lemah.
3. Skrinin status imunisasi Tetanus Toxoid (TT). Tujuannya untuk
melindungi ibu dan bayi yang dilahirkan nanti dari tenanus neonatorum.
Imunisasi TT diberikan pada kunjungan antenatal I, TT2 deberikan empat
minggu setelah TT1, TT3 diberikan setelah enam bulan TT2, TT4
diberikan 1 Tahun setelah TT3, dan TT5 diberikan setelah setahun TT4
4. Ukur tinggi fundus uteri. Tujuannya untuk melihat pembesaran rahim,
dilakukan dengan cera meraba perut dari luar, selain itu untuk
mengetahui presentasi janin, serta mengetahui posisi janin dalam rahim.
Pada pemeriksaan ini juga dilakukan pngukuran tinggi puncak rahim
untuk kemudian disesuaikan dengan umur kehamilan. Jika diperoleh
besarnya rahim tidak sesuai dengan umur kehamilan maka direncanakan
pemeriksaan lanjutan.
5. Pemberian tablet besi (90 Tablet) selama kehamilan. Pemberian tablet
besi diberikan sesuai dengan kebijakan nasional yang berlaku diseluruh
puskesmas di Indonesia. Pemberian satu tablet besi sehari sesegera
mungkin setelah rasa mual hilang pada awal kehamilan
6. Temu
wicara/
pemberian
komunikasi
interpersonal
konseling. Untuk
komunikasi

menghindari

dengan

suami

kesalahan
dan

penanganan

keluarga

atau

kehamilan,

diperlukan

gunan

mempersiapkan rujukan nantinya. Dengan manajemen rujukan yang


benar, cepat, dan tepat maka ibu dan janin akan memperoleh pelayanan
persalinan dan kelahiran yang benar sehingga membantu menurunkan

angka kematian ibu dan bayi. Program ini lebih diutamakan pada tempat
pelayanan kesehatan terpencil dan jauh dari akses transfortasi yang
memadai
7. Test laboratorium sederhana (Hb,Protein, dan Urine) berdasarkan
indikasi (HbsAg, sifilis, HIV, malaria, tuberkulosis paru (TBC) ,
PMS). Wanita yang sedang hamil merupakan kelompok dengan risiko
tinggi terhadap penyakit menular seksual yang dapat menimbulkan
kematian pada ibu dan janin yang dikandungnya.

D. Tanda dan Gejala Kehamilan


1. Tanda presumsi
a. Subyektif:
1) Amenorrhea.
Dapat disebabkan oleh: gangguan endokrin, abnormalitas sistem
saraf, penyakit infeksi, anemia, obstruksi servikal, atau
ketegangan emosi
2) Kelemahan/dan keletihan, dapat diakibatkan karena anemia atau
infeksi.
3) Mual dan muntah (morning sickness)
Merupakan respon awal tubuh terhadap tingginya kadar
progesteron, dapat disebabkan karena gangguan pada saluran
cerna atau alergi. Terjadi antara minggu ke-2-6 dan menghilang
pada minggu ke-12.
4) Perubahan payudara
Terasa penuh dan nyeri, hiperpigmentasi areola mammae,
perubahan nipple, sekresi kolostrum, pelebaran vena.
5) Peningkatan sekresi berkemih.
Kongesti darah pada organ-organ pelvik meningkatkan
sensitivitas

jaringan,

tekanan

karena

pembesaran

uterus

menstimulasi saraf dan mentrigger keinginan untuk berkemih


selama hamil. Dapat pula disebabkan oleh penyakit infeksi
saluran kencing, trauma dan pertumbuhan tumor vesika urinaria.
6) Perubahan mood: letih, pusing, sakit kepala.
7) Leukorea Quickening
Sensasi adanya gerakan dapat dirasakan pada minggu ke- 22
pada primipara dan minggu ke-20 pada multipara.
b. Obyektif (probabilitas)
1) Perubahan fisiologi dan anatomi
2) Peningkatan temperatur basal tubuh (basal body temperature)
3) Perubahan kulit: Striae gravidarum dan pigmentasi (kloasma,
linea nigra)
4) Perubahan payudara
5) Pembesaran abdomen
6) Perubahan rahim dan vagina
c. Tanda kemungkinan hamil
Merupakan tanda-tanda yang dapat diobservasi oleh pemeriksa. Bila
digabung dengan tanda dan gejala presumsi, maka tanda
kemungkinan memberi dugaan kuat adanya kehamilan. Tandanya
meliputi:
1) Pembesaran rahim
2) Uterin shouffle adalah goyangan, desiran nadi yang terdengar di
atas uterus ibu hamil.
3) Kontraksi Braxton Hicks
4) Ballotement pantulan yang terjadi ketika bayi pemeriksa
mengetuk janin yang mengapung dalam uterus, menyebabkan
janin berenang menjauh dan kemudian kemudian kembali ke
posisinya semula.
5) Hegar sign : melunaknya segmen bawah rahim
6) Goodell sign : melunaknya serviks.
7) Test kehamilan positif.
d. Tanda positif kehamilan (absolut)
1) Terlihat bentuk tubuh janin melalui USG dan rangka janin pada
X-Ray

2) Terdengar detak jantung janin


3) Teraba bagian-bagian janin
4) Teraba gerakan janin.

E. Perubahan Fisiologi Kehamilan


1. Sistem kerja hormone
a. Sistem endokrin
Kelenjar dari sistem endokrin menghasilkan bahan-bahan kimia yang
mempengaruhi seluruh tubuh. Selama kehamilan, banyak perubahan
yang terjadi pada kelenjar ini.
1) Kelenjar tyroid
Selama masa kehamilan, basal metabolik rate (BMR) meningkat
hampir 20% dan kelenjar tyroid membesar, tetapi jumlah
hormon yang dihasilkan tetap sama. Ukurannya meningkat
karena pertumbuhan sel-sel acinar, dan meningkatnya metabolic
rate disebabkan karena oksigen yang digunakan lebih banyak.
2) Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid ukurannya meningkat selama kehamilan,
terutama selama minggu ke-15 sampai ke-30 ketika kebutuhan
kalsium dan vitamin D janin lebih besar. Hormon paratiroid
penting untuk mempertahankan kecukupan kalsium dalam
darah, tanpa hormon tersebut metabolisme tulang dan otot
terganggu.
3) Pankreas
Insulin dihasilkan oleh kelompok sel-sel kecil yang disebut
pulau langerhans, yang terjadi di seluruh jaringan pankreas.
Selama masa kehamilan sel-sel ini tumbuh dan menghasilkan
lebih banyak insulin untuk memenuhi kebutuhan yang

meningkat.

Walaupun

demikian,

karena

keterbatasan

penyimpanan glikogen, wanita sehat yang hamil kurang mampu


mengatasi jumlah gula yang lebih banyak, sehingga beberapa
dari mereka mengeluarkannya ke dalam urine. Bagi ibu yang
diabetes,

kehamilan

merupakan

hal

yang

riskan

dan

membutuhkan pengawasan medis yang berkelanjutan.


4) Kelenjar pituitari
Lobus anterior dari kelenjar pituitari mengalami sedikit
pembesaran selama kehamilan dan terus menghasilkan semua
hormon tropik, tetapi juga dengan jumlah yang sedikit berbeda.
Follicle stimulating hormone (FSH) ditekan oleh chorionic
gonadotropin (hCG) yang dihasilkan dalam plasenta. Hormon
pertumbuhan berkurang dan hormon melanotropok meningkat,
menyebabkan peningkatan pigmentasi puting susu, wajah, dan
abdomen. Pembentukan prolaktin meningkat dan berlanjut
setelah persalinan selama menyusui.
Sebagaimana bayi telah matur, pembentukan prolaktin oleh
lobus

posterior

meningkat

dan

menyiapkan

perannya

menstimulasi kontraksi otot uterus dalam proses persalinan.


5) Kelenjar adrenal
Ukuran kelenjar adrenal meningkat selama kehamilan, terutama
bagian kortika yang membentuk kortin. Jumlah ion natrium dan
kalium dalam darah diatur oleh kortin. Bagian medula dari
kelenjar adrenal mensekresi epinephrin, hormon yang sangat
penting. Kehamilan tidak mengubah ukuran atau fungsi bagian
medula.

Hormon-hormon yang signifikan dalam kehamilan:


a) hCG (human chorionic gonadotropin)
dihasilkan oleh sel-sel trofoblast
puncaknya pada minggu ke-9 13
mempertahankan korpus luteum sampai plasenta

mengambil alih
hPL (human placental lactogen)
Dihasilkan oleh sel-sel synsitio tropoblas
Kerjanya berlawanan dengan insulin
Mempunyai pengaruh peningkatan asam lemak bebas

dan menurunkan metabolisme glukosa


b) Estrogen
Dihasilkan oleh ovarium dan plasenta.
Berperan dalam perkembangan uterus dan mammae,
meningkatkan pigmen kulit, meretensi Na+ dan air,
serta menurunkan hidrokloric asam lambung.
c) Progesteron
Dihasilkan oleh korpus luteum, plasenta dan ovarium
Berperan
dalam
mempertahankan
kehamilan,
memlihara endometrium, dan merelaksasikan otot-otot
uterus
Menurunkan tonus dan motilitas lambung dan saluran
cerna
Merelaksasikan otot-otot kaki dan pembuluh darah
ekstremitas
Relaksin
Dihasilkan oleh korpus luteum, plasenta, dan desidua
Berfungsi untuik menurunkan kontraksi uterus,
melunakkan serviks, dan pengubahan kolagen
d) Prostaglandin
Substansi lipid yang disimpan dalam desidua selama hamil
dan juga terdapat dalam cairan semen. Berperan kompleks
untuk memulai persalinan.
b. Ovarium dan plasenta

Ovarium merupakan sumber estrogen dan progesteron pada wanita


tidak hamil. Pada saat konsepsi, perubahan dramatis terjadi. Korpus
luteum tempat ovum berasal mulai menghasilkan estrogen dan
progesteron. Segera setelah plasenta terbentuk dengan baik, ia
menjadi sumber utama kedua hormon tersebut. Plasenta juga
membentuk steroid dan tiga jenis hormon lainnya: human chorionic
gonadotropin (hCG), human placental lactogen (hPL) juga disebut
chorionic somatomotropin (hCS), dan human chorionic thyrotropin
(hCT).
2. Perubahan berat badan
Kenaikan BB selama trimester rata-rata kenaikan hanya 12,5
kgkemudian meningkat 0,30,5 kg perminggu, dibawah rata-rata pada
wanita. Peningkatan berat progresif bertahap pada dua trimester terakhir
umumnya merupakan peningkatan jaringan lemak dan tidak berlemak.
Selama trimester kedua, peningkatan terutama terjadi pada ibu,
sedangkan trimester ketiga kebanyakan merupakan pertumbuhan
janin (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2005).
Kenaikan BB selama kehamilan sangat penting, BB yang kurang
selama kehamilan memudahkan resiko lahir kecil untuk masa
kehamilan. Tidak adekuat kenaikan BB selama lebih dari masa
kehamilan akan melahirkan bayi preterm. Resiko ini terjadi jika total
kenaikan tidak sesuai dengan yang dianjurkan.

3. Perubahan uterus

Perubahan yang amat jelas pada anatomi maternal adalah


pembesaran uterus untuk menyimpan bayi yang sedang tumbuh. Uterus
tumbuh dari kecil, organ yang hampir padat menjadi berdinding tebal,
kantung muskular yang mengandung janin, plasenta dan sekitar 1000 ml
air ketuban. Beratnya meningkat 20 kali dan kapasitasnya meningkat
500 kali. Peningkatan ukuran ini disebabkan oleh pertumbuhan serabutserabut otot dan jaringan yang berhubungan, termasuk jaringan
fibroelastik, darah dan saraf.
Tabel 1. Perbandingan ukuran uterus wanita hamil dan tidak hamil
pada minggu ke- 40
Ukuran
Panjang

Tidakb hamil
6,5 cm

Hamil
32 cm

Lebar

4 cm

24 cm

Kedalama

2,5 cm

22 cm

60-70 gram

1100-1200

Berat

10 ml

gram

volume
(Bobak, 2005).

4. Perubahan vagina dan vulva

5000 ml

Sampai minggu kedelapan, meningkatnya vaskularisasi pada vagina


menyebabkan tanda kehamilan yang khas disebut tanda chadwicks,
corak yang berwarna keunguan yang dapat terlihat oleh pemeriksa.
5. Serviks
Segera setelah periode tidak terjadinya menstruasi pertama serviks
menjadi lebih lunak sebagai akibat meningkatnya suplay darah (tanda
Goodells). Kanalis servikalis dipengaruhi oleh mukus yang kental
disebut operkulum.
6. Payudara
Salah satu petunjuk pada wanita yang menandakan bahwa ia hamil
adalah rasa kesemutan, nyeri tekan pada payudara, yang secara bertahap
mengalami pembesaran karena peningkatan pertumbuhan jaringan
alveolar dan suplay darah. Puting susu menjadi lebih menonjol dan keras,
dan pada awal kehamilan keluar cairan jernih, (kolostrum). Area
berpigmen disekitar puting, areola, tumbuh lebih gelap, dan kelenjarkelenjar montgomery menonjol keluar.
7. Sistem perkemihan
Di bawah keadaan yang normal, peningkatan kegiatan penyaringan
darah bagi ibu dan janin yang tumbuh tidak membuat ginjal dan ureter
bekerja ekstra. Keduanya menjadi dilatasi karena peristaltik ureter
menurun. Sebagai akibat, gerakan urine ke kandung kemih lebih lambat.
Stasis urine ini meningkatkan kemungkinan pielonefritis.
8. Sistem pernapasan
Sejalan dengan pertumbuhan janin dan mendorong diafragma ke
atas, bentuk dan ukuran rongga dada, berubah tetapi tidak membuatnya
lebih kecil. Kapasitas paru terhadap udara inspirasi tetap sama seperti
sebelum hamil atau mungkin berubah dengan berarti. Kecepatan

pernapasan dan kapasitas vital tidak berubah. Volume tidal, volume


ventilasi permenit, dan ambilan oksigen meningkat. Karena bentuk dari
rongga thoraks berubah dan karena bernapas lebih cepat, sekitar 60%
wanita hamil mengeluh sesak napas.
9. Sistem integumen
o Pigmentasi: disebabkan oleh hormon pituitari anterior melanotropin
yang meningkat selama kehamilan.
o Fasial melasma : chloasma atau topeng kehamilan adalah bentuk
seperti jerawat, merupakan hiperpigmentasi, berwarna kecoklatan
diatas pipi, hidung dan kening.
o Linea nigra : merupakan garis pigmentasi yang terentang dari simfisis
pubis sampai ke ujung atas fundus pada garis tengah tubuh.
o Striae

gravidarum

tanda

regagangan

disebabkan

kerja

adenokortikosteroid yang terlihat pada abdomen, paha dan payudara.


o Angioma atau telangiektasis (vascular spiders): ujung arteriola yang
berdenyut dan menonjol berwarna kebiruan dan tidak hilang bila
ditekan. Biasanya ditemukan pada leher, dada, wajah dan lengan.
10. Muskuloskeletal
Selama masa kehamilan wanita membutuhkan kira-kira sepertiga
kalsium dan fosfor. Dengan diet yang seimbang kebutuhan tersebut
terpenuhi dengan baik. Caries gigi tidak disebabkan oleh dekalsifikasi,
sejak kalsium gigi telah terbentuk. Terdapat bukti bahwa saliva yang
asam pada saat hamil membantu aktivitas penghancuran email yang
menyebabkan caries.

Di lain pihak, sendi pelvik pada saat kehamilan sedikit dapat


bergerak. Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan
karena janin membesar dalam abdomen. Untuk mengkompensasi
penambahan berat ini, bahu lebih tertari ke belakang dan tulang belakang
lebih

melengkung,

sendi

tulang

belakang

lebih

lentur,

dapat

menyebabkan nyeri punggung pada beberapa wanita.


11. Sistem kardiovaskuler
o Hipertropfi

kardia

atau

dilatasi

bersifat

sekunder

dengan

meningkatnya volume darah dan curah jantung.


o Perubahan auskultasi berhubungan dengan perubahan dalam ukuran
dan posisi jantung. Peningkatan volume darah dan CO juga
memberikan perubahan hasil auskultasi yang umum terjadi pada
kehamilan, bunyi splitting S1 dan S2 lebih jelas terdengar, S3
terdengar setelah usia kehamilan 20 minggu.
o TD arteri bervariasi sesuai usia, tingkat aktifitas dan adanya masalah
kesehatan. Faktor lain perlu dipertimbangkan; posisi maternal,
kecemasan yang dialami dan ukuran manset.
o Selama trimester II terjadi penurunan pada sistolik dan diastolik
sekitar 5-10 mmHg sebagai akibat vasodilatasi perifer karena
perubahan hormonal selama kehamilan.
12. Sistem gastrointestinal
Sistem gastrointestinal terpengaruh dalam beberapa hal karena
kehamilan. Tingginya kadar progesteron mengganggu keseimbangan
cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah, dan melambatkan kontraksi

otot-otot polos. Sekresi saliva menjadi lebih asam dan lebih banyak dan
asam lambung menurun. Pembesaran uterus lebih menekan diafragma,
lambung, dan intestin.
F. Perubahan-Perubahan Psikologis
Kehamilan adalah saat-saat kritis, saat terjadinya gangguan, perubahan
identitas dan peran bagi setiap orang: ibu, bapak, dan anggota keluarga.
1. Penyesuaian awal terhadap kehamilan
Ketika wanita pertama kali mengetahui dirinya mungkin hamil, ia
merasa syok dan menyangkal. Respon yang umum adalah: suatu hari,
tapi tidak sekarang. Walaupun ketika kehamilan tersebut direncanakan,
periode awal ketidaknyamanan adalah hal yang umum terjadi.
Reaksi pertama pria ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan
menjadi seorang bapak adalah kekacauan antara kebanggaan tentang
kemampuannya memberikan keturunan dan perhatiannya tentang
kesiapan untuk menerima peran sebagai bapak dan memberikan nafkah
pada keluarganya.
Awal dari syok yang disebabkan karena kehamilan diikuti oleh rasa
bingung dan preocupation dengan masalah yang mengganggu, selama
periode ini, berbagai alternatif seperti aborsi atau adopsi mungkin
dipertimbangkan pada konsekuensi legal, moral dan ekonomi mereka.
Akhirnya, dicapai keputusan dan rencana tindakan dibuat. Kadangkadang tindakan tersebut, pada kenyataannnya hanya tinggal rencana,
sampai kenyataan tentang kehamilan tidak dapat disangkal lagi dan
diterima. Karena pengalaman adalah terus dipertimbangkan dan ditinjau
ulang, terjadi proses belajar.
2. Persepsi terhadap peristiwa

Setiap wanita membayangkan kehamilan dalam pikiran-pikirannya


sendiri tentang seperti apa wanita hamil dan seorang ibu. Ia membentuk
bayangan ini dari ibunya sendiri, pengalaman hidupnya, dan kebudayaan
tempat ia dibesarkan. Persepsi ini mempengaruhi bagaimana ia berespon
terhadap kehamilan. Beberapa wanita berpikir kehamilan sebagai cara
untuk melestarikan alam suatu penghargaan atau emansipasi dari kontrol
parental. Mereka mungkin menyamakan kehamilan dengan penyakit,
kejelekan, memalukan, atau mereka mungkin memandang kehamilan
sebagai suatu periode kreatifitas dan pemenuhan tugas.
Bayangan pria tentang kehamilan adalah bagaimana menjadi bapak
dan seperti apa seorang bapak itu. Ia membentuk bayangan ini dari
bapaknya, pengalaman hidupnya, dan kebudayaan tempat ia dibesarkan.
Persepsi ini mempengaruhi bagaimana ia memperhatikan ibu dari anakanaknya. Banyak pria menjadi sangat khawatir terhadap ibu dari anaknya
dan mengambil peran yang aktif dalam memberikan perawatan medis
untuknya. Beberapa pria mengalami gejala-gejala seperti wanita seperti
ngidam, agak malas, atau sakit. Fenomena ini oleh beberapa ahli sejarah
medis disebut midleiden atau menderita bersama.
Kehamilan merupakan pengabadian garis keluarga. Oleh karenanya
nama dan jenis kelamin menjadi suatu yang amat penting. Untuk banyak
orang, secara ideal harapan dari kehamilan, khususnya yang pertama
adalah lahirnya anak laki-laki. Bagi orang yang demikian, lahirnya anak
permepuan pada kehamilan pertama adalah suatu kegagalan untuk
meneruskan nama keluarga. Sehingg setiap anggota keluarga mempunyai

pandagan

yang

berlainan

tentang

kehamilan.

Persepsi

tersebut

mempengaruhi resolusi krisis.


3. Dukungan situasional
Faktor kedua yang mempengaruhi bagaimana mengatasi krisis
adalah dukungan situasional yang mereka harapkan. Dukungan ini
merupakan orang-orang dan sumber-sumber yang tersedia untuk
memberikan keluarga atau penggantinya, seringkali memenuhi peran
yang penting ini.
4. Mekanisme koping
Faktor ketiga yang mempengaruhi derajat keberhasilan dalam
menyelesaikan krisis adalah keterampilan koping yang dimiliki
seseorang. Keterampilan koping tersebut merupakan kekuatan dan
keterampilan seseorang untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi
stress. Mereka mungkin melakukan aktifitas seperti menceritakannya
pada teman, melakukan olah raga yang berat, mendengarkan musik,
menangis, menulis puisi, dan lain-lain.
Mekanisme pertahanan diri adalah cara mempertahankan diri
(seperti menyangkal) tetapi mungkin dapat membantu dalam mengurangi
kecemasan untuk sementara waktu. Metode koping tersebut dapat
digunakan oleh calon orang tua dan anggota keluarganya utnuk
menyesuaikan terhadap realitas kehamilan dan mencapai keseimbangan
dalam kehidupan mereka yang terganggu.
5. Keluhan pada Masa Kehamilan
Keluhan pada masa hamil adalah suatu kondisi bersifat subyektif
dimana pada individu yang hamil terjadi proses adaptasi terhadap
kehamilannya (Depkes RI, 1994). Keluhan-keluhan tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut:

a. Keluhan pada triwulan I (usia kehamilan 1 3 bulan)


1) Mual dan muntah : Terutama terjadi pada pagi hari dan akan
hilang menjelang tengah hari (morning sickness).
2) Perasaan neg atau mual: Terutama bila mencium bau yang
menyengat.
3) Pusing terutama bila akan bangun dari tidur, hal ini terjadi
karena adanya gangguan keseimbangan, perut kosong.
4) Sering kencing: Karena tekanan uterus yang membesar dan
menekan pada kandung kencing.
5) Keputihan (lekorea): Pengaruh peningkatan hormon kehamilan
(estrogen dan progesteron) yang mempengaruhi mukosa serviks
dan vagina.
6) Pengeluaran

darah

pervaginam:

Bila

terjadi

perdarahan

pervaginam perlu diwaspadai adanya abortus.


7) Perut membesar.
8) Psikologis: Perasaan gembira dengan penerimaan kehamilan
akan mempengaruhi penerimaan ibu terhadap kelainan-kelainan
yang timbul. Sebaliknya karena menolak kehamilan, keluhan
tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman dan menimbulkan
antipati

terhadap

kehamilannya.

Pada

masa

ini

sering

timbulkonflik karena pengalaman baru, sehingga ibu hamil perlu


mendapatkan perhatian dan dukungan suami.
b. Keluhan pada triwulan II (usia kehamilan 4 6 bulan).
Pada masa ini keluhan yang bersifat subyektif sudah berakhir,
sehingga bila ada ibu hamil masih mendapatkan keluhan seperti pada
trimester I, perlu diwaspadai kemungkinan adanya faktor psikologis.
Pada triwulan ini sering ditandai adanya adaptasi ibu terhadap
kehamilannya, perasaan ibu cenderung lebih stabil, karena keluhan
yang terjadi pada triwulan I sudah terlewati. Ibu merasakan

pengalaman baru, mulai merassakan gerakan bayi, terdengarnya DJJ,


melalui alat doptone atau melihat gambar/posisi melalui pemeriksaan
USG. Triwulan II juga dikatakan fase aman untuk kehamilan,
sehingga aktifitas ibu dapat berjalan tanpa gangguan berarti.

c. Keluhan pada triwulan III (usia kehamilan 7 9 bulan).


Kejadian yang sering timbul antara lain:
1) Pusing disertai pandangan berkunang-kunang. Hal ini dapat
menunjukkan kemungkinan terjadi anemia dengan Hb < 10 gr%.
2) Pandangan mata kabur disertai pusing. Hal ini dapat digunakan
rujukan kemungkinan adanya hipertensi.
3) Kaki edema. Edema pada kaki perlu dicurigai karena sebagai
salah satu gejala dari trias klasik eklamsi. Sesak napas pada
triwulan III perlu dicurigai kemungkinan adanya kelainan letak
(sungsang).
4) Perdarahan. Pada triwulan III bisa terjadi perdarahan pervaginam
perlu dicurigai adanya placenta praevia atau solusio plasenta.
5) Keluar cairan di tempat tidur pada siang atau malam hari, bukan
pada saat kencing, perlu diwaspadai adanya ketuban pecah dini.
6) Sering kencing. Akibat penekanan pada kandung kencing akibat
masuknya kepala ke pintu atas panggul.
7) Psikologis: Kegembiraan ibu karena akan lahirnya seorang bayi.
d. Komplikasi sebagai akibat langsung kehamilan
1) Hiperemisis gravidarum
2) Hipertensi dalam kehamilan
3) Perdarahan trimester I (abortus)
4) Perdarahan antepartum
5) Kehamilan ektopik
6) Kehamilan kembar

7) Molahydatidosa
8) Inkompatibilitas darah
9) Kelainan dalam lamanya kehamilan
10)Penyakit serta kelainan plasenta dan selaput janin.
e. Penyakit yang tidak langsung berhubungan dengan kehamilan
1) Penyakit dan kelainan alat kandungan
2) Penyakit kardiovaskuler
3) Penyakit endokrin (DM)
4) Infeksi
5) Asma
6) Penyakit ginjal
7) Penyalahgunaan obat/psikosis
8) Penyakit darah
9) Penyakit GIT
f. Kenyamanan pada Ibu Hamil
a. Pakaian hamil
Pakaian yang menyenangkan, yang longgar paling baik, celana,
BH, dan ikat pinggang, celana panjang, kos kaki, celana dalam,
korset dan pakaian ketat harus dihindari. Memakai celana yang
berlebihan menekan perineum vagina sehingga menjadi panas,
mengganggu sirkulasi dikaki yang dapat menyebabkan varices.
Korset maternity yang lebih baik yang dapat digunakan untuk
menyangga sakit pinggang. BH ibu hamil apa yang paling baik
yang dapat membantu menambah berat payudara. Lingkaran
dada dan ukuran jaringan payudara (dibawah ketiak), serta
mempunyai penutup puting susu yang lebih penting lagi yag
dapat mencegah sakit punggung dan sakit leher.
Kaos kaki yang elastis dapat membantu ibu yang varices vena
yang besar atau bengkak kaki. Sepatu yang dapat memberikan
dukungan yang kuat dan meningkatkan sikap yang baik dan
keseimbangan, seperti menggunakan sepatu yang hak rendah.
b. Mandi dan berenang

Mandi di bak mandi, diizinkan pada kehamilan tua sebab air


tidak dapat masuk kedalam vagina kecuali di bawah tekanan,
mandi dan shower hangat dapat menjadi terapeutik sebab dapat
merilekskan ketegangan otot, membantu mencegah insomma
dan membuat ibu hamil merasa segar.
c. Aktivitas fisik dan istirahat
Aktifitas fisik disesuaikan dengan umur kehamilan yang dapat
memperbaiki sirkulasi, membantu relaksasi dan istrahat serta
mencegah kebosanan, seperti melakukan senam hamil secara
teratur. Ibu hamil dianjurkan untuk merencanakan periode
istrahat, berbaring miring dianjurkan untuk meningkatkan
perfusi uterin dan oksigenisasi, fetoplacenta, dengan tekanan
pengeluaran dari vena cava asendens dan aorta desendens.

K.
1.

Anjuran untuk Ibu Hamil


Nutrisi dalam kehamilan
Kebutuhan kalori untuk ibu hamil sebanyak 300 500 kkal/hari,
tergantung berat badan sebelum hamil, aktifitas, dan tipe kehamilan (1
bayi atau kembar). Peningkatan BB yang normal selama kehamilan
adalah 6,5 16 kg. Jenis makanan yang sehat dan veriativ selama
kehamilan diantaranya adalah:
Buah dan sayuran

Makanan mengandung karbohidrat seperti nasi, roti, kentang

Protein seperti ikan, daging, kacang

Susu dan keju.


Suplemen yang dianjurkan selama kehamilan:

Asam folat.
Asam folat dikonsumsi sebelum hamil dan selama hamil
melindungi dari gangguan saraf janin (anansefali, spina bifida).
Wanita hamil dianjurkan mengkonsumsi asam folat 400 g/hari
selama 12 minggu kehamilan.

Zat besi.

Zat besi adalah komponen utama dari hemoglobin yang bekerja


mengangkut oksigen di dalam darah. Selama hamil, suplai darah
meningkat untuk kebutuhan janin. Kebutuhan zat besi adalah 30 50
mg/hari. Suplemen besi sebaiknya dikonsumsi diantara waktu makan
dengan perut yang kosong atau diikuti jus jeruk utnuk meningkatkan
penyerapan.

Kalsium.

Kalsium penting dalam mengatur kekuatan tulang wanita hamil dan


pertumbuhan tulang bagi janin. Kalsium yang disarankan sebanyak
1200 mg/hari. Kalsium sebaiknya dikonsumsi ketika sedang makan,
diikuti dengan jus buah yang kaya akan vitamin C untuk
meningkatkan penyerapan.
2.

Obat-obatan selama kehamilan

Dianjurkan kepada ibu hamil sebaimanapun keamanan suatu obat


untuk ibu hamil, disarankan untuk mengkonsumsi obat sesedikit
mungkin untuk mengurangi risiko efek samping obat terhadap janin.

3.

Olah raga selama kehamilan


Tips olah raga untuk wanita hamil hamil:

Berjalan kaki adalah olah raga terbaik untuk wanita hamil

Aerobic low impact

Dianjurkan latihan ringan sampai sedang 3 kali seminggu

Jangan melakukan olah raga yang mengakibatkan kelelahan atau


kehabisan napas dan hentikan olah raga bila mengalami gejala lelah,
pusing.

Pakailah sepatu olah raga yang nyaman

Lakukan istirahat secara teratur

Hindari olah raga yang melakukan gerakan berbaring dengan


punggung sebagai dasarnya terutama pada triwulan kedua dan ketiga.

Asupan makanan sebaiknya ditingkatkan dengan komposisi sesuai


dengan energi yang dikeluarkan ketika berolahraga

Hindari mengangkat beban berat di atas kepala dan melakukan


gerakan yang mengakibatkan peregangan dari otot punggung.
Kondisi dimana olah raga dilarang untuk wanita hamil adalah:

Hipertensi dalam kehamilan

Ketuban pecah dini

Perdarahan berkelanjutan pada triwulan II dan III

Pertumbuhan janin terhambat.

4.

Bekerja selama kehamilan


Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktivitas yang dijalaninya
tidak boleh terlalu berat, dan disarankan untuk menghentikan
aktivitasnya bila merasakan gangguan pada kehamilannya.

5.

Berhubungan seksual selama kehamilan


Pada umumnya sanggama diperbolehkan asalkan dilakukan dengan
hati-hati. Untuk wanita dengan riwayat kehamilan preterm, plasenta
praevia, atau abortus berulang dianjurkan untuk menghindari
berhubungan seks pada masa kehamilan demikian pula ketika kepala
sudah masuk rongga panggul dianjurkan untuk tidak melakukan
sanggama.

6.

Bepergian selama kehamilan


Hal-hal yang dianjurkan apabila seorang wanita hamil bepergian
adalah:

Duduk dalam jangka waktu lama harus dihindari karena dapat


menyebabkan peningkatan risiko terjadinya trombophlebitis.

Stoking penyangga sebaiknya dipakai apabila harus duduk dalam


jangka waktu lama di mobil atau di pesawat terbang.

Sabuk pengaman sebaiknya diletakkan di bawah perut ketika


kehamilan sudah besar.

7.

Merokok pada saat hamil


Wanita hamil dilarang merokok karena dapat menyebabkan BBLR,
lahir preterm, ketuban pecah dini, plasenta previa, dan kematian janin.
Etanol yang terkandung dalam alkohol dapat menembus plasenta yang
merupakan zat teratogen yang dapat menyebabkan risiko terbesar
adalah kecacatan pada janin.

L.

Pemeriksaan antenatal care


Asuhan antenatal harus dimulai sedini mungkin. Pada awal
pemeriksaan yaitu untuk menentukan apakah seorang ibu sedang
mengalami kehamilan. Diagnosa kehamilan ditentukan dengan
pemeriksaan laboratorium. Umumnya pemeriksaan yang dipakai yaitu
tes

untuk

mendeteksi

keberadaan

hCG. Human

Chorionic

Gonadotropin (HCG) dapat diukur dengan radioimunoesai dan deteksi


dalam darah enam hari setelah konsepsi atau sekitar 20 hari sejak
periode menstruasi terakhir. Keberadaan hormone ini dalam urin pada
kehamilan merupakan dasar dari berbagai tes kehamilan di berbagai
laboratorium dan kadang-kadang dapat dideteksu dalam urine 14 hari
setelah konsepsi (Ganong 1989 dalam Bobak, 2005).

TPP = tgl HPHT+7 3 bulan HPHT+ 1


tahun HPHT
atau
TPP = tgl HPHT +7 + 9 bulan dari HPHT

Dengan TPP adalah taksiran perkiraan partus.


Menurut Abdul Bahri Saifuddin dalam Salmah dkk (2006)
kunjungan antenatal untuk pemantauan pengawasan kesejahteraan ibu
dan anak minimal empat kali pemeriksaan selama kehamilan dalam
waktu sebagai berikut:
a.

Trimester pertama (< 4 minggu) satu kali kunjungan

b.

Trimester kedua (14-28 minggu ) satu kali kunjungan

c.

Trimester ketiga (28-36 minggu) dan sesudah minggu ke 36 dua


kali kunjungan
kecuali jika ditemukan kelainan/faktor risiko yang memerlukan
penatalaksanaan medik lain, harus lebih sering dan intensif.
Menurut

Manuaba

(2000),

berdasarkan

standar

pemeriksaan

kehamilan ditentukan berulang dengan ketentuan sebagai berikut:

Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat


haid

Satu kali dalam sebulan sampai umur kehamilan 7 bulan

Dua kali sebulan sampai umur kehamilan 8 bulan

Setiap minggu sejak umur krhamilan 8 bulan sampai dengan bersalin.


Kunjungan/pemeriksaan kehamilan bertujuan:

1.

Kunjungan
kehamilan.

pertama,

mementukan

diagnosis

ada

tidaknya

2.

Kunjungan kedua, menentukan usia kehamilan dan perkiraan


persalianan.
Menentukan usia kehamilan dilakukan manuver Leopold:

Leopold I:
Untuk menemukan presentasi dengan cara mengidentifikasi bagian
tubuh fetus apa yang berada di fundus dan daerah pelvik.
Caranya: Menghadap ke kepala pasien, gunakan jari-jari kedua tangan
mempalpasi fundus uteri. Jika kepala yang berada di fundus maka
akan terassa keras, bulat dan melenting. Jika bokong teraba di fundus,
maka akan terasa lembut, tidak bulat dan gerakan kurang.
Leopold II
Untuk menemukan posisi janin (punggung janin).
Caranya: Menghadap pada kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi
abdomen. Letakkan tangan pada satu sisi dan tangan lain mempalpasi
sisi yang berbeda untuk menemukan bagian punggung janin. Jika
punggung akan teraba cembung dan resisten.
Leopold III:
Untuk mengidentifikasi bagian apa dari janin yang dekat dengan
daerah pelvik.
Caranya: Letakkan 3 jari pertama tangan yang dominan pada sisi abdomen di
atas simpisis pubis dan minta pasien menarik napas panjang dan
menghembuskannya. Pada saat mengeluarkan napas, gerakkan tangan
turun perlahan dan menekan sekitar daerah tersebut. Jika kepala akan

teraba keras, bulat, dan bergerak jika disentuh. Jika bokong akan
teraba lembut dan tidak beraturan.
Leopold IV
Untuk mengidentifikasi bagian yang menonjol dari bagian terendah
janin masuk ke pintu atas panggul.
Caranya: Menghadap ke kaki pasien dengan lembut gerakan tangan turun ke sisi
abdomen mendekati pelvis sampai salah satu tangan merasakan bagian
tulang yang timbul. Ada 3 keadaan yaitu: Konvergen yaitu jika bagian
yang masuk baru sebagian kecil, sejajar yaitu jika bagian yang masuk
baru setengah, divergen yaitu jika hampir sebagian besar dari tubuh
janin masuk ke dalam rongga panggul.
Perkiraan persalinan menggunakan rumus Naegele:

Hari +7, Bulan -3,Tahun +1 jika bulan HPHT bulan April s/d
Desember

Hari +7, Bulan +9,Tahun Tetap jika bulan HPHT bulan Januari
s/d Maret

3.

Kunjungan ketiga, menentukan status kesehatan ibu dan janin.

4. Kunjungan keempat, menentukan kehamilan normal atau abnormal,


serta ada/tidaknya faktor risiko kehamilan.
5.

Kunjungan

kelima,

menentukan

pemeriksaan/penatalaksanaan selanjutnya.
Pemeriksaan panggul luar
Tujuan :

rencana

1.

Mengetahui panggul seseorang normal atau tidak

2.

Memudahkan dalam mengambil tindakan selanjutnya

3.

Mengetahui bentuk atau keadaan panggul seseorang.


Pemeriksaan panggul dilakukan:

1.

Pada pemeriksaan pertama kali bagi ibu hamil.

2.

Pada ibu yang pernah melahirkan bila ada kelainan pada persalinan
yang lalu.

3.

Ibu

yang

akan

bersalin

bila

sebelumnya

belum

pernah

memeriksakan diri terutama pada primipara.


Ukuran-ukuran luar yang terpenting:
1.

Distansia spinarum : jarak antara spina illiaka anterior superior


kanan dan kiri ( normal: 23-26 cm).

2.

Distansia cristarum : jarak yang terpanjang antara crista illiaca


kanan dan kiri (normal: 26-29).

3.

Conjugata eksterna : (Boudelocque) : jarak antara pinggir atas


simpisis dan ujung prosessus spinosus (ruas tulang lumbal ke lima)
(normal: 10-20 cm).

4.

Lingkar panggul : jarak dari pinggir atas simpisis melalui spina


illiaca anterior superior kanan ke pertengahan trochanter mayor kanan
ke pertengahan trochanter mayor kiri ke pertengahan spina illiaca
anterior superior kiri kemudian kembali ke atas simpisis (normal : 8090 cm).

KONSEP KEPERAWATAN
ANTENATAL CARE

A.

Pengkajian Prenatal

1.

Aktivitas dan Istirahat


Tekanan darah agak lebih rendah daripada normal (8 12 minggu)
kembali pada tingkat pra kehamilan selama setengah kehamilan
terakhir.
Denyut nadi dapat meningkat 10 15 DPM.

Murmur sistolik pendek dapat terjadi sampai dengan peningkatan


volume episode singkope.
Varises
Sedikit edema ekstremitas bawah/tangan mungkin ada (terutama pada
trisemester akhir)
2.

Integritas Ego
Menunjukkan perubahan persepsi diri

3.

Eliminasi
Perubahan pada konsistensi / frekuensi defekasi
Peningkatan frekuensi perkemihan
Urinalisis: Peningkatan berat jenis
Hemoroid

4.
-

Makanan/Cairan
Mual dan muntah, terutama trisemester pertama; nyeri ulu hati
umum terjadi

Penambahan berat badan: 2 sampai 4 lb trisemester pertama,


trisemester kedua dan ketiga masing-masing 11 12 lb.

Membran mukosa kering: hipertropi jaringan gusi dapat terjadi


mudah berdarah

Hb dan Ht rendah mungkin ditemui (anemia fisiologis)

Sedikit edema dependen

Sedikit glikosuria mungkin ada

Diastasis recti (separasi otot rektus) dapat terjadi pada akhir


kehamilan.

5.

Nyeri dan Kenyamanan


Kram kaki; nyeri tekan dan bengkak pada payudara; kontraksi
Braxton Hicks terlihat setelah 28 minggu; nyeri punggung

6.

Pernapasan
Hidung tersumbat; mukosa lebih merah daripada normal
Frekuensi pernapasan dapat meningkat terhadap ukuran/tinggi;
pernapasan torakal.

7.

Keamanan
Suhu tubuh 98 99,5 F (36,1 37,6 C)
Irama Jantung Janin (IJJ) terdengar dengan Doptone (mulai 10 12
minggu) atau fetoskop (17 - 20 minggu)
Gerakan janin terasa pada pemeriksaan setelah 20 minggu. Sensasi
gerakan janin pada abdomen diantara 16 dan 20 minggu.
Ballottement ada pada bulan keempat dan kelima.

8.

Seksualitas

Penghentian menstruasi

Perubahan respon /aktivitas seksual

Leukosa mungkin ada.

Peningkatan progresif pada uterus mis: Fundus ada di atas simfisis


pubis (pada 10 12 minggu) pada umbilikolis (pada 20 30 minggu)
agak ke bawah kartilago ensiform (pada 36 minggu)

Perubahan payudara: pembesaran jaringan adiposa, peningkatan


vaskularitas lunak bila dipalpasi, peningkatan diameter dan pigmentasi
jaringan arcolar, hipertrofi tberkel montgemery, sensasi kesemutan
(trisemester pertama dan ketiga); kemungkinan strial gravidarum
kolostrum dapat tampak setelah 12 minggu

Perubahan pigmentasi: kloasma, linea nigra, palmar eritema, spicler


nevi, strial gravidarum.

9.

Tanda-tanda Goodell, Hegar Schdwick positif.


Integritas Sosial
Bingung/meragukan perubahan peran yang dintisipasi.
Tahap maturasi/perkembangan bervariasi dan dapat mundur dengan
stressor kehamilan
Respons anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan
mendukung sampai disfungsional.

10. Penyuluhan/Pembelajaran
Harapan

individu

terhadap

kehamilan,

persalinan/melahirkan

tergantung pada usia, tingkat pengetahuan, pengalaman paritas,


keinginan terhadap anak, stabilitas ekonomik.
11. Pemeriksaan Diagnostik

DL menunjukkan anemia, hemoglobinipatis (mis: sel sabit)

golongan darah: ABO DAN Rh untuk mengidentifikasi resiko


terhadap inkompatibilitas

Usap vagina/rectal: tes untuk Neisseria gonorrhea, Chlamydia

Tes serologi: menentukan adanya sefilis (RPR: Rapid Plasma Reagen)

Penyakit Hubungan Kelamin lain (PHS) seperti diindikasikan oleh


kutil vagina, lesi, rabas abnormal.

Skrining: terhadap HIV, hepatitis, tuberculosis

Papanicolaow Smear: mengidentifikasi neoplasia, herpes simpleks


tipe 2

Urinalisis: skin untuk kondisi media (mis: pemastian kehamilan


infeksi, diabetes penyakit ginjal)

Ter serum/urin untuk gadadotropin karionik manusia (HCG) positif

Titer rubella > a : a O menunjukkan imunitas

Tes sonografi: ada janin setelah gestasi 8 minggu

Skin glukosa serum / 1 jam tes glukosa: < 140 jam mg/dl (biasanya
dilakukan antara 24 sampai 28 minggu. Evaluasi selanjutnya dari folus
pengkajian dilakukan pada setiap kunjungan prenatal.

B.

DIAGNOSA DAN RENCANA KEPERAWATAN


Trisemester I

1.

Nutrisi; Perubahan , kurang dari kebutuhan tubuh, resiko tinggi


terhadap b/d mual muntah
Tujuan:

Mengikuti diet yang dianjurkan


Mengkonsumsi suplemen zat besi/vitamin sesuai resep.

Tindakan:
1. Tentukan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu atau sekarang
dengan menggunakan batasan 24 jam. Perhatikan kondisi rambut,
kuku, dan kulit, Rasional: Kesejahteraan janin/ibu tergantung pada
nutrisi selama kehamilan sebagaimana selama 2 tahun sebelum
kehamilan
2. Dapatkan riwayat kesehatan: catat usia (khususnya kurang dari 17
tahun atau lebih dari 35 tahun), Rasional: Remaja dapat cenderung
malnutrisi/anemia dan klien lansia mungkin cenderung obesitas/DM
3. Berikan

informasi

tertulis

dan

verbal

yang

tepat

tentang

diet, Rasional: Materi referensi yang dapat dipelajari di rumah,


meningkatkan kemungkinan klien memilih diet seimbang
4. Timbang

berat

badan,

pastikan

berat

badan

pregravid

biasanya, Rasional: Ketidakadekuatan penambahan BB prenatal dan


atau di bawah berat badan normal masa kehamilan, meningkatkan
resiko retardasi pertumbuhan intraurine (IUGR) pada janin dengan
berat badan lahir rendah

5. Pantau kadar hemoglobin (Hb) / Ht, Rasional:

Mengidentifikasi

adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen


ibu
2.

Diagnosa; Resiko kekurangan volume cairan b/d muntah


Tujuan: Klien mengkonsumsi cairan dengan jumlah yang sesuai
setiap hari

Tindakan:
1.
Rasional:

Auskultrasi denyut jantung janin


Adanya denyut jantung memastikan adanya janin bukan mola
hidatidosa

2.
Rasional:

Tentukan frekuensi/beratnya mual atau muntah


Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Peningkatan
kadar

Hormon

Gonadotropin

Korionik

(HCG),

perubahan

matabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastric memperberat


mual dan muntah pada trisemester pertama.
3. Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain. (Misalnya
uklus, peptikum, gastritis, kolesistisis)
Rasional: Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain. Untuk mengatasi
masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi
4.

Kaji suhu dan turgor kulit, membran mukosa, TD, suhu, masukan
haluaran dan berat jenis urine.

Rasional:

Indikator dalam membantu untuk mengevaluasi tingkat/kebutuhan


hidrasi

5. Anjurkan peningkatan masukan minuman bikarbonat makan enam


kali sehari dengan jumlah yang sedikit dan makanan tinggi
karbohidrat
Rasional: membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan
keasaman lambung.
3.

Diagnosa: Kurang pengetahuan b/d kurang pemahaman terhadap


kehamilan.
Tujuan: Klien menunjukkan perilaku perawatan diri sendiri
Tindakan:

1.

Buat hubungan saling percaya antara perawat klien

Rasional: Memberikan informasi dan meningkatkan hubungan saling percaya


2.
Rasioal:

Klarifikasi kesalah pahaman


Ketakutan biasanya timbul dari kesalahpahaman informasi dan dapat
mengganggu pembelajaran selanjutnya.

3.

Tentukan derajat motivasi untuk belajar

Rasional: Klien dapat mengalami kesulitan dalam belajar tersebut jelas.

4.
Rasional:

Perrtahankan sikap terbuka terhadap keyakinan pasangan


Penerimaan penting untuk mengembangkan dan mempertahankan
hubungan.

5.

Jelaskan rutinitas kunjungan kantor dan rasional dari intervensi

Rasional: Menguatkan hubungan antara pengkajian kesehatan dan hasil positif


ibu/bayi.
4.
Tujuan:

Diagnosa: Cedera; resti terhadap janin


Klien menunjukkan prilaku yang meningkatkan kesehatan diri sendiri
dan janin.
Tindakan:

1.
Rasional:

Diskusikan pentingnya kesejahteraan ibu


Kesejahteraan

janin

secara

langsung

berhubungan

dengan

kesejahteraan ibu, khususnya selama trisemester pertama..


2.
Rasional:

Anjurkan klien untuk melakukan latihan secukupnya


Karena aktivitas keras dapat menurunkan aliran darah ke uterus.
Takikardia sementara, kemungkinan hiperkemia janin.

3.

Anjurkan klien untuk melakukan hubungan seks yang lebih aman


seperti pemakaian kondom

Rasional: Untuk mengurangi terjadinya penyakit hubungan seksual.


4.

Catat masukan protein

Rasional: Masukan protein penting untuk perkembangan jaringan otak janin


5. Berikan informasi untuk menghindari kontak dengan orang yang
diketahui mengalami infeksi Rubella
Rasional: Pemajanan dapat mempunyai efek negative pada perkembangan janin,
khususnya pada trisemester I
6.

Anjurkan penghentian penggunaan tembakau

Rasional: Merokok mempengaruhi sirkulasi plasenta

Trisemester II
1.
Tujuan:

Diagnosa; Gangguan citra tubuh b/d persepsi perubahan biotik


Klien mengungkapkan penerimaan/adaptasi bertahap untuk mengubah
konsep diri.

Tindakan:
1.

Kaji sikap terhadap kehamilan

Rasional: Pada trisemester II perubahan bentuk tubuh telah tampak efek-efek


yang tampak, kloasma, strial, jerawat, perubahan emosi
2.
Rasional:

Berikan informasi tentang kenormalan perubahan


Informasi dapat membantu klien memahami/menerima apa yang
terjadi

3.

Anjurkan gaya dan sumber-sumber yang tersedia dari pakaian saat


hamil

Rasional: Situasi menandakan kebutuhan akan pakaian yang akan meningkatkan


penampilan klien untuk kerja dan melakukan aktivitas yang
menyenangkan
2.

Diagnosa: kep. Pola pernapasan, ketidakefektifan.


Tujuan:

Klien melaporkan penurunan frekuensi/beratnya

keluhan.
Tindakan:
1.

Kaji status pernapasan

Rasional: Menentukan luas/beratnya masalah yang terjadi pada kira-kira 60 %


klien prenatal, meskipun kapasitas vital meningkat. Fungsi pernapasan
diubah saat kemampuan diafragma untuk turun pada inspirasi.
Berkurang oleh pembesaran ulkus.
2.

Anjurkan sering istirahat

Rasional: Menurunkan kemungkinan gejala-gejala pernapasan yang disebabkan


kelebihan
3.

Anjurkan menggunakan posisi semi fowler untuk duduk

Rasional: Pengubahan posisi tegak meningkatkan ekspansi paru.


4.
Rasional:

Kaji Ht / Hb
Peningkatan kadar plasma pada gestas minggu ke 24 32
mengencerkan kadar Hb. Mengakibatkan kemungkinan anemia dan
menurunkan kapasitas pembawa O2.

3.
Tujuan:

Diagnosa; Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar)


Klien

mendemonstrasikan

perilaku

perawatan

diri

yang

mengakibatkan kesejahteraan.

Tindakan:
1.
Rasional:

Tinjau ulang perubahan yang diharapkan selama trisemester II


Pertanyaan timbul sesuai perubahan baru yang terjadi tanpa
memperhatikan apakah perubahan diharapkan atau tidak.

2.

Lakukan / lanjutkan program penyuluhan

Rasional: Pengulangan menguatkan penyuluhan dan bila klien belum melihat


sebelumnya, informasi bermanfaat pada saat ini.
3.

Identifikasi kemungkinan resiko kesehatan individu

Rasional: Membantu mengingatkan / informasi untuk klien tentang potensial


situasi resiko tinggi.
4.

Diskusikan adanya obat-obatan yang mungkin diperlukan untuk


mengontrol atau mengatasi masalah medis

Rasional:

Membantu dalam memilih tindakan karena kebutuhan harus


ditekankan pada kemungkinan efek berbahaya pada janin.

Trisemester III
1.
Tujuan:

Diagnosa kep. Kenyamanan


Klien melakukan aktivitas perawatan diri dengan tepat untuk
mengurangi ketidaknyamanan
Tindakan:

1.

Kaji secara terus-menerus ketidaknyamanan. Klien dan metode


untuk mengatasinya

Rasional: Data dasar terbaru untuk merencanakan perawatan


2.
Rasional:

Kaji status pernapasan klien


Penurunan kapasitas pernapasan saat uterus menekan diafragma,
mengakibatkan dispnea. Khususnya pada multigravida yang tidak
mengalami kelegaan dengan ikatan antara ibu dan bayi dalam
kandungan

3.

Perhatikan adanya keluhan ketegangan pada punggung dan


perubahan cara jalan, anjurkan memakai sepatu hak rendah

Rasional: Lordososis dan regangan otot disebabkan oleh pengaruh hormon pada
sambungan pelvis dan perpindahan pusat gravitasi sesuai dengan
pembesaran uterus.
4.

Perhatikan keluhan frekuensi BAK dan tekanan pada daerah


kandung kemih

Rasional:

Pemberian uterus trisemester III menurunkan kapasitas kandung


kemih, mengakibatkan sering berkemih

2.
Tujuan:

Cedera; resiko tinggi terhadap ibu


Klien mengungkapkan pemahaman tentang ennin-faktor resiko
individu yang potensial
Tindakan:

1.
Rasional:

Pantau TTV, periksa hipertensi


Berbagai derajat masalah kardiovaskular terjadi pada detensi
natrium/air secara negative mempengaruhi ginjal sirkulasi uterus, dan
fungsi ssp

2.
Rasional:

Dapatkan kultur vagina


Infeksi vaginal atau PHS yang tidak diobati menciptakan
ketidaknyamanan berat pada klien

3.

Tinjau ulang kebutuhan terhadap kelahiran

Rasional: Mencegah infeksi neonatus selama proses kelahiran


4.

Dapatkan Hb/Ht pada gestasi minggu ke 28

Rasional: Mendeteksi anemia dengan hipoksemia/anoksia potensial pada klien


dan janin
5.

Berikan pengawasan ketat dan terus-menerus terhadap klien diabetik

Rasional: Wanita paling cenderung terhadap terhadap masalah trisemester III


yang berhubungan dengan asupsi plasenta, ISK, lahir mati, penuaan
plasenta dan ketoasidosis
3.

Perubahan pola eliminasi urine


Tujuan:

Klien mengungkapkan pemahaman tentang kondisi

Tindakan:
1.
Rasional:

Berikan info tentang perubahan berkemih


Membantu klien memahami perubahan fisiologi dari frekuensi
berkemih.

2.

Anjurkan pada klien untuk melakukan posisi miring kiri saat tidur

Rasional: Meningkatkan perfusi ginjal memobilisasi bagian yang mengalami


oedema.

3.
Rasional:

Anjurkan klien untuk menghindari posisi tegak atau supine


Posisi ini memungkinkan terjadinya sindrom vena kava dan
menurunkan aliran ke vena

4.

Berikan info tentang bahaya menggunakan diuretik

Rasional: Kehilangan / pembatasan natrimn dapat sangat menurunkan regulator


ennin-angiotensin-aklosteron
dehidrasi.

dari

kadar

cairan,

mengakibatkan

DAFTAR PUSTAKA

Aprianawati dan Sulistyorini. 2003. Hubungan antara Dukungan Keluarga


dengan
Kecemasan
Ibu
Hamil
Menghadapi
Kelahiran
Anak.http://skripsistikes.files.wordpress.com/2009/08/56.pdf.
Diakses
tanggal 25 April 2010.
Bobak. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC: Jakarta.

Doenges. E. Marillin. (2001). Rencana Keperawatan Maternal/bayi. Edisi 2.


EGC: Jakarta
Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. EGC: Jakarta.
Manuaba. (1998). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC : Jakarta.
Raden. 2010. Proses persalinan. http://radenbeletz.com/proses-kehamilan.html.
Diakses tanggal 25 April 2010.
Salmah at all (2006). Asuhan kebidanan antenatal care. EGC: Jakarta