Anda di halaman 1dari 5

Drama Pertempuran Surabaya

Dialog:
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti
senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan
korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar,
tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di
Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam
AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu,
dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang
ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara
Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi
pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies
Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan
tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan
rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
A.W.S Mallaby
: Wellcome to Surabaya.
Istri Mallaby
: untuk apa lagi kita kemari?
A.W.S Mallaby
: Kita akan menguasai negeri ini my wife
Istri Mallaby
: Apa you yakin?
A.W.S Mallaby
: you tenang saja, kita akan menjadi orang terkaya jika mampu
menguasai negeri ini.
Istri Mallaby
: Really?
A.W.S Mallaby
: Of Course.
Gubernur Jawa Timur pun segera mendengar kabar kedatangan pihak Inggris di
Surabaya. Gubernur R.M.T.A Suryo segera menemui Mallaby dan pasukannya. Gubernur
Suryo bermaksud menanyakan apa maksud kedatangan pasukan Inggris ke Surabaya.
Akhirnya, setelah pertemuan singkat tersebut, terbentuklah kesepakatan antara pasukan
Inggris dengan pihak Indonesia. Isi perjanjiannya adalah 1) Pasukan Inggris akan melucuti
senjata Jepang.
2)Inggris tidak akan mengikuti angkatan perang Belanda. 3) Indonesia
dan Inggris akan menjalin kerja sama untuk menciptakan keamanan.
Gubernur Suryo dan A.W.S Mallaby pun segera menandatangi perjanjian tersebut.
Dan pemerintah Jawa Timur memberikan izin kepada pihak Inggris untuk memasuki wilayah
Surabaya.
Namun, setelah diperkenankan memasuki Kota Surabaya pada tanggal 26 Oktober
1945 pihak Inggris ternyata mengingkari perjanjian yang telah disepakati bersama dengan
pemerintah Jawa Timur.
Rakyat 1
: Heh rek, Koyoke inggris iki mbujuki wong Suroboyo
Rakyat 2
: Maksudmu opo?
Rakyat 1
: koyoke inggris iki kerjasama ambek wong londo.
Rakyat 3
: kok isok?
Rakyat 1
: La winginane inggris iku nyerang penjara Kalisosok trus mbebasno wong
londo teko penjara.
Rakyat 2
: Iyo saiki yo Inggris wes oleh panggonan strategis nang suroboyo
Rakyat 3
: wah gak bener iki

Rakyat 1
: iyo, onok maneh rek iki inggris nyebarno pamflet kanggo Tentara supoyo
mbalekno senjata seng disita.
Rakyat 3
: wah nek ngono kudu madul nang pak gubernur saiki.
Rakyat 2 dan 1: iyo ayo.
Rakyat pun segera menemui Gubernur Suryo dan melaporkan Pengingkaran yang
dilakukan oleh pihak Inggris. Melihat perilaku Inggris tersebut Gubernur Suryo dan rakyat
Surabaya sangat marah. Gubernur suryo pun segera menemui Mallaby dan pasukannya.
Suasana makin memanas. Amarah rakyat tak dapat dibendung. Pertempuran demi
pertempuran pun semakin hari semakin sering terjadi.
Di sisi lain pihak Inggris segera membebaskan pasukan Belanda yang ditawan oleh rakyat
Surabaya. Banyak pasukan Belanda yang dibebaskan dan lupa diri. Mereka pun berniat untuk
menjatuhkan Surabaya dan mengembalikan Surabaya ke tangan mereka. Pasukan Para
Interniran belanda segera menuju hotel Yamato. Bangsa Belanda langsung mengadakan pesta
kebebasan mereka dan tentara Belanda berniat untuk mengganti nama hotel Yamato menjadi
Hotel Oranje.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal
18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-PutihBiru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel
Yamato, sisi sebelah utara.
Ploegman
: Prajurit..
Belanda 3
: Siap kapten
Ploegman
: You segera siapkan bendera belanda. Kita mau kibarkan diatas hotel
Belanda 3
: Siap laksanakn kapten.
Istri Plugman : (mengipas-ngipas didepan hotel)
Ploegman dan pasukannya pun segera mengibarkan bendera Belanda di atas hotel Yamato.
Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka
menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan
kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih
yang sedang berlangsung di Surabaya.
Rakyat 5
: Opo iku? (bingung)
Rakyat 6
: Ono opo lek?
Rakyat 5
: Iku lho de, ono bendera londo neng Hotel Yamato.
Rakyat 6
: Yo ora mungki tho lek, wong londone neg penjara.
Rakyat 5
: lha iyo yo, lha iku opo tho de? (menunjuk kearah bendera)
Rakyat 6
: Walah lha iyo yo, wes oraniso dikandani iki Londo. Seenak udele dewe.
Rakyat 7
: Ono opo lek?
Rakyat 8
: Jenang ketan makane panas-panas, Londone edan harus diberantas .
Rakyat 5
: (berlari terburu-buru)
Rakyat 7
: Arep nyang ngendi de?
Rakyat 5
: nang Rasiden Sudirman, arep ngelapor ben iso ngelabrak iku londo edan.
Rakyat 8
: Ati-ati de. Yo wes, ayo kita siapin bamboo runcing. Kita berantas iku
Londo-londo.
Rakyat 6
: Aku arep kasih tau yang lain dise
Sesampainya di Rasiden Surabaya, Rasiden Sudirman pun ikut marah karena telah muncul
maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1

September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah
Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota
Surabaya.
Rakyat 9
: Arep ketemu sopo de?
Rakyat 5
: Rasiden Sudirmane ono?
Rakyat 9
: Ono de, mlebuo de.
Rakyat 5
: Matursuwun.
Rakyat 9
: sami-sami.
Di dalam ruangan rasiden Sudirman.
Rakyat 5
: Assalamualaikum.
Sudirman
: Waalaikumussalam wr.wb. ono opo de?
Rakyat 5
: Saya kemari ingin melaporkan bahwa Pasukan Belanda telah mengibarkan
bendera kebangsaannya di atas hotel Yanamo, rasiden.
Sudirman
: La sek wani wanine wong londo iku ngibarno bendera nang Suroboyo.
Wong wes onok perintah teko Jakarta dikongkon ngibarno bendera merah putih.
Rakyat 7
: Maaf rasiden, tapi sepertinya mereka ingin menguasia Surabaya lgi.
Sudirman
: Yowes, saiki dulur-dulure awakdewe perintahno siap-siap. Ayo nemui
belanda di hotel Yamato.
Sudirman yang dikawal Sidik sdan Haryono segera menuju Hotel Yamato dengan membawa
surat perintah 1 September 1945 mengenai Bendera Merah Putih. Sesampainya di Hotel
Yamato telah banyak rakyat Surabaya yang berkumpul dan berniat untuk membakar hotel
Yamato.
Rakyat 9
: Rasiden Sudirman datang.
(semua menoleh ke arah Sudirman).
Rakyat 4
:Westah Ayo di bakar ae hotel Yamato iki.
Rakyat 5
: Benar, jarno londo-londo iki ben mati kepanggang nang jero hotel.
Sudirman
; Tenang saudar-saudara. Kita harus bisa menahan amarah kita.
Rakyat 2
: Tapi rasiden, mereka telah menginjak-injak harga diri kita.
Sidik
: Kita harus berpikir dengan tenang dan jernih.
Rakyat 5
: ahh kesuwen..
Hariyono
: Kalau kita asal bunuh dengan kekerasan. Apa bedanya kita dengan mereka.
Kita ini bukan tukang jagal sepererti mereka. Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil
keputisan.
Sudirman
: tenanglah saudara-saudara, kita pasti bisa menurunkan bendera itu.
Sekarang kami akan menemui pihak belanda saya harap saudara-saudara bisa tenang sedikit.
Sudirman, Sidik, dan haryono pun segera masuk ke dalam hotel yamato. Namun, pada
saat sedang berada di dalam hotel mereka ditertawai oleh pasukan Belanda yang tengah
menyiapkan acara pesta.
Belanda 3
: coba lihat teman-teman, kita kedatangan tamu istimewa.
Belanda 1
: Mau apa you you semua datang kemari?
Belanda 2
: Jangan seperti itu, apakah you mau ikut minum bersama kami?
Sudirman
: Mana pimpinan kalian?
Belanda 3
: Pimpinan kami? Seertinya dia lagi menyiapkan strategi untuk
membunuhmu. Haha.
Sidik : Jangan banyak bicara kamu, cepat panggil pemimpinmu.

Belanda 2
: Uuuu, you jangan marah seperti itu. Jangan berani-berani menantang kami.
Hariono
: Cepat panggil pemimpinmu kemari !
Sudirman
: mana pemimpin Belanda di sini? (kedua tangan di pinggang)
Ploegman
: I pemimpin disini, kapten Plugman. You semua mau apa kemari?
Sudirman
: Kamu bisa baca ini?
Ploegman
: peduli apa I dengan kertas rongsok itu, nggak ada gunanya. Mau apa you!
(sampil menepis kertas yang dibawa sudirman. Hingga kertas tersebut jatuh ke lantai)
Sudirman
: Kami mau kau turunkan bendera Belanda saat ini juga.
Ploegman
: dreaming
Sidik
: Apa kau bilang? Mimpi? Dasar londo gak tau diri!
Haryono
: Ini Negara kami,tidak sepantasnya kamu mengibarkan benderamu di Negara
kami.
Sidik
: Kau mau turunkan bendera itu sekarang juga, atau
Belanda 1
: Atau apa? jangan coba-coba you mengancam kami.
Haryono
: Jika kalian tidak mau menurunkan bendera itu baik-baik, kami yang akaan
menurunkan sendiri bendera itu secara paksa.
Belanda 3
: Kamu kira kamu mampu? Orang sepertimu itu hanya besar mulut saja.
Ploegman
: jangan kira kami akan menuruti orang-orang kampung macam kalian.
Rakyat bodoh
Sidik
: Kurang ajar. Mati kau Ploegman .
(Sidik pun segera mencekik leher Ploegman)
Ploegman pun segera mengeluarkan pistol dari dalam sakunya dan menembak sidik dari
belakang. Sidikpun meninggal di tempat. Sudirman dan Haryono pun tak lepas dari
pengeroyokan. Mereka pun bergegas lari keluar Hotel Yamato.
Rakyat 1
: Ada apa rasiden? Mengapa anda keluar? Bendera Belanda masih berkibar.
Haryono
: Situasi di dalam semakin memanas, Sidik tertembak mati. (Terengahengah)
Rakyat 2
: awak dewe gak oleh nyerah, ayo kita serang..MERDEKA..
Rakyat 7
: Merdeka kita usir londo edan teko suroboyo.
Rakyat 8
: TAK PATENI KOWE Ploegman.
Rakyat 9
: Tak gawe nyesal kowe Belanda tau nang suroboyo.
Rayat 4
: Merdeka !!! Serbuuuuuuuuuuuu .
(arek-arek Surabaya pun segera lari sambil mengacungkan bamboo runcing mereka).
Sudirman : Sebaiknya kita ikut kedalam.
Haryono : Benar rasiden
(Sudirman dam haryono pun kembali masuk ke dalam Hotel yamato).
Para pemuda menerobos masuk dan terjadilah perkelahian seperti di bar-bar, beberapa
orang belanda digebuki hingga mati. Ploegman pun jatuh bersimbah darah dengan luka
tusukan di perutnya, sehingga ploegman pun meninggal dalam insiden tersebut.
Di luar keadaan semakin memanas, beberapa orang pemuda naik ke atas dan merobek
warna biru bendera Belanda, lalu mengibakan sisa robekan bendera itu: Merah Putih, sekejap
rakyat Surabaya terdian lalu menangis, beberapa diantara mereka dengan semangat
menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan suara gemetar. Hari itu rakyat Surabaya memiliki
keIndonesiaannya.
Sejak Insiden Yamato itu kemudian pemuda menyerang pos-poss militer sekutu.
Perang kecil-kecilan terjadi, barulah pada akhir Oktober 1945 terjadi perang besar, Inggris
mengirimkan Newthorn untuk melobi Sukarno. Agar Sukarno mau memerintahkan gerakan
gencatan senjata pada arek-arek Surabaya. Sekutu sudah kewalahan. Buktinya, Mallaby

menghubungi markas pusat Sekutu se-Asia Tenggara di Singapura. Mallaby minta atasannya
itu mengusahakan genjatan senjata.
Setelah menerima laporan dari Mallaby, komandan tertinggi tentara Sekutu di
Singapura, D.C. Hawthorn, langsung terbang ke Jakarta. Yakni, untuk menemui Bung Karno
dan Bung Hatta. Hawthorn minta diberlakukan gencatan senjata. Waktu itu Bung Karno
belum genap tiga bulan menjadi presiden pertama Indonesia.
Tiba di Surabaya Bung Karno langsung melakukan konvoi keliling kota. Bung Karno
menyerukan agar tembak-menembak dihentikan. Bung Karno keliling kota seperti itu karena
tidak tahu bagaimana cara mencari para pimpinan pemuda Surabaya. Mereka semua sedang
berada di front yang berbeda-beda.