Anda di halaman 1dari 35

REPORT BOOK

PRAKTIKUM BK PRIBADI SOSIAL


Judul Buku : Bimbingan Dan Konseling Perkawinan
Pengarang : Prof.Dr.Bimo Walgito

Dosen Pembina : Sri Murni, S.Pd, M.Pd.

Disusun Oleh:
Juairiah Almi

14110048

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2016

DAFTAR ISI

A. IDENTITAS BUKU
Bagian I. Pendahuluan
1. Bimbingan dan Konseling Perkawinan
2. Prof.Dr.Bimo Walgito
B. STRUKTUR DAN ISI BUKU
1. Struktur Buku :
Penulis membagi menjadi XI BAB yaitu :
1) BAB I Pengantar
2) BAB II Perkawinan
3) BAB III Peran Umur Dalam Perkawinan
4) BAB IV Peranan Faktor Fisiologis Dalam Perkawinan
5) BAB V Peranan Faktor Psikologis Dalam Perkawinan
6) BAB VI Peranan Agama Dalam Perkawinan
7) BAB VII Peranan Komunikasi Dalam Perkawinan
8) BAB VIII Hubungan Seksual Atau Koitus
9) BAB IX Ejakulasi Prematur
10) BAB X Impotensi
11) BAB XI Frigiditas
2. Isi Buku :
BAB I Pengantar
a. Pengertian Bimbingan Dan Konseling
b. Latar Belakang Diperlukannya Bimbingan Dan Konseling
Perkawinan
BAB II Perkawinan
a. Pengertian Perkawinan
b. Tujuan Perkawinan
c. Latar Belakang Perkawinan
d. Beberapa Syarat Dalam Perkawinan
BAB III Peran Umur Dalam Perkawinan
a. Hubungan Umur Dengan Faktor Fisiologis Dalam
Perkawinan
b. Hubungan Umur Dengan Keadaan Psikologis Dalam
Perkawinan
c. Hubungan Umur Dengan Kematangan Sosial,Khususnya
Sosial Ekonomi Dalam Perkawinan
d. Umur Yang Ideal Dalam Perkawinan
e. Perbedaan Umur Antara Suami Isteri
BAB IV Peranan Faktor Fisiologis Dalam Perkawinan
a. Kesehatan Pada Umumnya
b. Masalah Keturunan
c. Kemampuan Mengadakan Hubungan Seksual

BAB V Peranan Faktor Psikologis Dalam Perkawinan


a. Kematangan Emosi Dan Pikiran
b. Sikap Toleransi
c. Sikap Saling Antara Suami Dan Isteri
d. Sikap Saling Pengertian Antara Suami isteri
e. Sikap Saling Dapat Menerima Dan Memberikan Cinta
Kasih
f. Sikap Saling Percaya Memperyai
BAB VI Peranan Agama Dalam Perkawinan
a. Pentingnya Agama Dalam Perkawinan
b. Pasangan Yang Berbeda Agama
BAB VII Peranan Komunikasi Dalam Perkawinan
a. Sifat Komunikasi Dalam Keluarga
b. Sikap Dalam Hubungannya Dengan Komunikasi
c. Komunikasi Dalam Kaitanya Dengan Pengubahan Dan
Pembentukan Sikap
BAB VIII Hubungan Seksual Atau Koitus
a. Dorongan Seksual
b. Timbulnya Minat Mengadakan Hubungan Seksual
c. Fase-Fase Koitus
BAB IX Ejakulasi Prematur
a. Pengertian Ejakulasi Prematur
b. Sebab-Sebab Terjadinya Ejakulasi Prematur
c. Proses Ejakulasi Prematur
d. Cara Mengatasi
BAB X Impotensi
a. Pengertian Impotensi
b. Sebab-Sebab Terjadinya Impotensi
c. Tingkatan-Tingkatan Impotensi
d. Cara Mengatasi
BAB XI Frigiditas
a. Pengertian Frigiditas
b. Sebab-Sebab Terjadinya Frigiditas
c. Cara Mengatasi

Bagian 2. Rangkuman BaB


BAB I Pengantar
1. Pengertian Bimbingan Dan Konseling
Bantuan
yang
diberikan
kepada
individu
untuk
mengembangkan kemampuan-kemampuanya dengan baik
agar individu itu dapat memecahkan masalahnya sendiri dan
dapat mengadakan penyesuaian diri dengan baik.

2. Latar Belakang Diperlukannya Bimbingan Dan Konseling


Perkawinan
Ada beberapa hal yang melatar-belakangi mengapa
diperlunya bimbingan dan konseling perkawinan ini.
a. Masalah Perbedaan Individual
b. Masalah Kebutuhan Individu
c. Masalah Perkembangan Individu
d. Masalah Latar Belakang Sosio-Kultural.
BAB II Perkawinan
1. Pengertian Perkawinan
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Tujuan Perkawinan
Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa.Namun tujuan yang tidak sama antara suami isteri akan
merupakan sumber permasalahan dalam keluarga.
3. Latar Belakang Perkawinan
Manusia adalah makhluk hidup mempunyai kebutuhankebutuhan seperti makhluk hidup yang lain,baik kebutuhan
untuk melansungkan eksistensi sebagai makhluk.Karena itu
pada umumnya kebutuhan-kebutuhan itu dklasifikasikan
untuk dapat lebih mudah melihat secara menyeluruh.
4. Beberapa Syarat Dalam Perkawinan
Persyaratan yang bersifat umum yaitu persyaratan yang
harus
ada
dalam
perkawinan,persyaratan
yang
mutlak,persyaratan yang lebih berkaitan dengan persyaratan
formal.Syarat-syarat itu harus dipenuhi agar perkawinan
dapat berlangsung.
BAB III Peran Umur Dalam Perkawinan
1. Hubungan Umur Dengan Faktor Fisiologis Dalam
Perkawinan
Umur dalam hubungannya dengan perkawinan tidaklah
cukup dikaitkan denga segi fisiologis semata-mata tetapi
juga perlu dikaitkan dengan segi psikologis dan segi
sosial,karena perkawinan hal-hal tersebut tidak dapat
ditinggalkan tetapi ikut berperan.

2. Hubungan Umur Dengan Keadaan Psikologis Dalam


Perkawinan
Dilihat dari segi psikologis sebenarnya pada anak wanita
umur 16 tahun belum dikaitkan bahwa anak tersebut telah
dewasa secara psikologis.Demikian pula pada anak pria
umur 19 tahun belum dapat dikatakan bahwa mereka sudah
masak secara psikologis.
3. Hubungan Umur Dengan Kematangan Sosial,Khususnya
Sosial Ekonomi Dalam Perkawinan
Kematangan sosial ekonomi pada umumnya juga berkaitan
erat dengan umur individu.Makin bertambahnya umur
seseorang untuk kematangan dalam bidang sosial ekonomi
juga akan makin nyata.
4. Umur Yang Ideal Dalam Perkawinan
bahwa umur yang sekian itu yang paling baik.Kalau
sekiranya itu ada hanyalah merupakan patokan yang tidak
bersifat mutlak.
5. Perbedaan Umur Antara Suami Isteri
Perbedaan umur antara suami dan isteri akan membawa
perbedaan dalam segi perkembangan maupun dalam segisegi yang lain.
BAB IV Peranan Faktor Fisiologis Dalam Perkawinan
1. Kesehatan Pada Umumnya
Untuk dapat mengetahuinya ini dengan tepat,maka apabila
seseorang akan melaksanakan perkawinan disarankan
untuk dapat memeriksakan kesehatanya pada dokter.
2. Masalah Keturunan
Dalam kehidupan keluarga sudah barang tentu keluarga
atau suami isteri menginginkan memperoleh keturunan yang
baik,yang sehat,keturunan yang tidak mengalami cacat
3. Kemampuan Mengadakan Hubungan Seksual
Dalam perkawinan masalah hubungan seksual merupakan
masalah yang cukup rumit.Hubungan seksual ini dapat
menjadi sumber masalah dalam perkawinan dan dapat
berakibat runyamnya kehidupan keluarga sampai pada
perceraian.
BAB V Peranan Faktor Psikologis Dalam Perkawinan
1. Kematangan Emosi Dan Pikiran
Bila seseorang telah matang emosinya,telah dapat
mengendalikan emosinya maka individu akan berpikir secara
matang berpikir secara baik dan berpikir secara objektif

2. Sikap Toleransi
Dengan adanya sikap toleransi ini berarti antara suami dan
isteri mempunyai sikap saling menerima dan saling
memberi,saling tolong menolong,tidak hanya suami saja
yang memberi dan isteri yang menerima atau sebaliknya.
3. Sikap Saling Antara Suami Dan Isteri
Keluarga yang baik harus dihidupkan sikap yang saling
antara suami dan isteri,diantaranya saling hormat
menghormati,saling
memadu
kasih,saling
bertukar
pendapat,saling mencurahkan isi hatinya.
4. Sikap Saling Pengertian Antara Suami isteri
Antara suami isteri dituntut adanya sikap saling pengertian
satu dengan yang lain;suami harus mengerti mengenai
keadaan isterinya,demikian pula sebaliknya.
5. Sikap Saling Dapat Menerima Dan Memberikan Cinta Kasih
Seperti yang dikemukakan oleh Maslow bahwa salah satu
kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan rasa cinta,kasih
sayang (love needs).Dorongan menerima dan memberikan
rasa cinta tidak hanya terdapat pada anak-anak ataupun
masa remaja,tetapi pada masa dewasapun kebutuhan itu
ada dan ingin dipenuhinya.
6. Sikap Saling Percaya Memperyai
Baik suami ataupun isteri dalam kehidupan berkeluarga
harus dapat menerima dan memberikan kepercayaan
kepada dari masing-masing pihak.Suami harus dapat
menerima kepercayaan yang diberikan oleh isteri dan dapat
memberikan kepada isteri,demikian pula sebaliknya isteri
harus dapat menerima dan memberi kepercayaan kepada
suaminya
BAB VI Peranan Agama Dalam Perkawinan
1. Pentingnya Agama Dalam Perkawinan
Bahwa dasar dari perkawinan adalah Ketuhanan Yang Maha
Esa.Dengan adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang tercermin dalam agama yang dianutnya,akan
memberikan tuntunan ataupun bimbingan kepada orang
yang memeluknya.
2. Pasangan Yang Berbeda Agama
Pandangan atau pendapat mengenai Perkawinan yang
berbeda agama,kiranya akan bijaksana bila dipertimbangkan
lagi sebelum mengambil keputusan terakhir kalau pasangan
mempunyai agama yang berbeda.

BAB VII Peranan Komunikasi Dalam Perkawinan


1. Sifat Komunikasi Dalam Keluarga
Dengan komunikasi yang saling terbuka diharapkan tidak
akan ada hal-hal yang tertutup,sehingga apa yang ada pada
diri suami juga diketahui oleh isteri,demikian sebaliknya.Sifat
keterbukaan tersebut sampai kepada hal sekecil-kecilnya
untuk mengindari hal-hal yang tidak dikehendaki.
2. Sikap Dalam Hubungannya Dengan Komunikasi
Suatu sikap selain menjadi salah satu pendorong yang akan
mewarnai seseorang dalam
bertindak juga adanya
perasaan yang timbul yang menyertai sesuatu sikap tertentu
itu.
3. Komunikasi Dalam Kaitanya Dengan Pengubahan Dan
Pembentukan Sikap
Untuk mengubah dan membentuk dapat ditempuh secara
langsung,dengan tukar pikiran,dengan tatap muka,tetapi
dapat juga secara tak langsung,yaitu dengan cara
menciptakan suasana yang dikehendaki atau dengan
melalui media masa,misalnya melalui TV,radio,surat
kabar,majalah dan sebagainya.
BAB VIII Hubungan Seksual Atau Koitus
1. Dorongan Seksual
Seseorang yang dalam klasifikasi mempunyai dorongan
seksual sedang,tetapi kalau mendapat pasangan yang
mempunyai dorongan seksual tinggi,ia akan dinilai rendah
oleh pasangannya
2. Timbulnya Minat Mengadakan Hubungan Seksual
Untuk mengadakan koitus,diperlukan adanya minat atau
gairah untuk mengadakan hubungan seksual dari kedua
belah pihak,khususnya dari pihak pria.
3. Fase-Fase Koitus
Fase persiapan koitus
Fase koitus sebenarnya
Fase follow up atau fase setelah koitus
BAB IX Ejakulasi Prematur
1. Pengertian Ejakulasi Prematur
Yang dimaksud dengan ejakulasi prematur ialah keadaan
seorang pria telah mencapai puncak dalam hubungan
seksual.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Ejakulasi Prematur

a. Kebiasaan mengadakan hubungan seksual sebelum


perkawinan.
b. Adanya rasa cemas,merasa tidak dapat memuaskan
isteri pada waktu hubungan seksual,dapat menjadi sebab
terjadinya ejakulasi prematur
3. Proses Ejakulasi Prematur
Ejakulasi tidak terjadi begitu saja,tetapi terjadi melalui suatu
proses sehingga terjadi ejakulasi itu.
4. Cara Mengatasi
Untuk mengurangi atau mengatasi ejakulasi prematur dapat
dikemukakan usaha-usaha sebagai berikut:
a. Mengurangi masuknya stimulus seksual yang mengacu
ke arah hubungan seksual itu,misalnya dengan
mengarahkan perhatian kebidang lain,yang pada
prinsipnya pikiran-pikiran yang mengarah ke hubungan
seksual diperlambat atau dialihkan.
BAB X Impotensi
1. Pengertian Impotensi
Tidak adanya kemampuan organ genetal pria untuk
berfungsi secara normal untuk mengadakan hubungan
seksual.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Impotensi
a. Impotensi karena faktor psikologis
b. Impotensi karena obat-obatan
c. Impotensi karena faktor fisiologis
3. Tingkatan-Tingkatan Impotensi
a. Ereksi yang kurang sempurna
b. Ejakulasi prematur
c. Impotensi total masih ada minat untuk mengadakan
hubungan seksual
d. Impotensi total dan tidak adanya minat untuk
mengadakan hubungan seksual.
4. Cara Mengatasi
Cara pengatasan terhadap impoten ini sudah barang tentu
tergantung kepada sebabnya.Bila sebab terletak pada segi
fisiologis maka pendekatan pengatasan juga dari segi
fisiologis,terutama disini dokter yang lebih berperan
disamping ahli lain.Sebaliknya bila sebabnya bersifat
psikologis,maka psikolog akan lebih berperan dari pada
dokter.
BAB XI Frigiditas
1. Pengertian Frigiditas

2.
a.
b.
c.
3.

Frigiditas merupakan keadaan dimana wanita tidak mampu


menimbulkan atau mempertahankan dorongan seksual,tidak
mempunyai minat untuk mengadakan hubungan seksual
atau koitus.
Sebab-Sebab Terjadinya Frigiditas
Frigiditas karena faktor psikologis
Frigiditas karena obat-obatan
Frigiditas karena fisiologis
Cara Mengatasi
Bila sebabnya terletak pada obat-obatan ataupun pada segi
fisiologis jelas peranan dokter tidak dapat ditinggalkan
disamping peranan ahli yang lain.Karena sebagian besar
sebab terjadinya frigiditas terletak pada segi psikologis,maka
dalam
hal
ini
peranan
psikologis
tidak
dapat
ditinggalkan,disamping itu kerjasama antara ahli-ahli
tersebut sangat diharapkan.

Bagian 3. Pengulasan Buku


Bimbingan dan konseling perkawinan berguna dalam
membina kehidupan keluarga sesuai dengan perkembangan
keadaan,khususnya dalam era globalisasi.
Agar dapat membantu para pembaca dalam mengarungi
kehidupan berkeluarga dan semoga dapat membentuk
keluarga yang bahagia dan sejahterah.
1. Implikasi Terhadap BK Pribadi Sosial
BK pribadi sosial cenderung mempelajari hubungan individu
Dengan orang banyak (umum),sedangkan BK perkawinan
hubungan individu dengan pasangan hidup,yang kelak
mendampingi sampai usia lanjut. Perkawinan adalah ikatan sosial
atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk
hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam
budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang
biasanya intim dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan
diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan
dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Tergantung budaya setempat bentuk perkawinan bisa berbedabeda dan tujuannya bisa berbeda-beda juga. Tapi umumnya
perkawinan itu ekslusif dan mengenal konsep perselingkuhan
sebagai pelanggaran terhadap perkawinan. Perkawinan umumnya

dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga. Umumnya


perkawinan harus diresmikan dengan pernikahan.

Bagian 4. PENUTUP
1. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENGANTAR
1. Pengertian Bimbingan Dan Konseling
Bantuan
yang
diberikan
kepada
individu
untuk
mengembangkan kemampuan-kemampuanya dengan baik agar
individu itu dapat memecahkan masalahnya sendiri dan dapat
mengadakan penyesuaian diri dengan baik.
Pengertian bimbinga ini seperti yang telah disinggung
dimuka terkandung adanya aktivitas yang sepihak,yaitu dari
yang memberikan bimbingan.Bimbingan diberikan lebih bersifat
tuntutan,bersifat pencegahan agar masalah-masalah jangan
sampai timbul,sekalipun juga tidak lepas sama sekali dari segi
pemecahan masalah.
Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada
individu dalam memecahkan masalah dengan interview.
Jones membedakan antara Guidance dan Counseling,tetapi
Blum dan Balinsky menyamakan arti Guidance dan Counseling.
Namun demikian sehubungan pengertian bimbingan dan
konseling memang ada segi yang sama ,tetapi juga adanya
segi-segi yang berbeda.

Persamaanya ialah adanya bantuan dari seseorang kepada


orang lain sedangkan perbedaanya ialah:
1. Konseling pada prinsipnya dijalankan secara individual
antara
klien
dan
konselor
walaupun
dalam
perkembangannya
kemudian
adanya
group
counseling,sedangkan bimbingan lebih secara kelompok
sekalipun juga dapat diberikan secara individual.
2. Dalam konseling telah adanya masalah yang akan
dipecahkan bersama antara konselor dan klien,sehingga
sifatnya lebih penyembuhan sekalipun segi pencegahan
secara tak langsung juga ada.Pada bimbingan lebih
bersifat pencegahan sekalipun dalam bimbingan juga
terdapat segi penyembuhan.
3. Konseling merupakan salah satu teknik bimbingan
(Jones,1963).
Karena itu pengertian bimbingan akan lebih luas dari
pengertian konseling.Konseling memang merupakan
bimbinga,tetapi tidak semua bimbingan merupakan
konseling.
Karena pengertian bimbingan dan pengertian konseling
satu dengan yang lain saling kait mengait,bimbingan
mengkait
konseling
dan
konseling
mengkait
bimbingan,maka oleh karenanya digunakan juga istilah
bimbingan dan konseling disamping bimbingan dan
istilah konseling.
2. Latar Belakang Diperlukannya Bimbingan Dan Konseling
Perka
Ada beberapa hal yang melatar-belakangi mengapa diperlunya
bimbingan dan konseling perkawinan ini.
a. Masalah Perbedaan Individual
Seperti telah diketahui bahwa masing-masing individu
berbeda satu dengan yang lainnya.Akan sulit didapatkan
dua individu yang benar-benar sama,sekalipun mereka
merupakan
saudara
kembar.Masing-masing
individu
mempunyai sifat-sifat yang berbeda satu dengan yang
lain,baik dalam segi fisiologik maupun dalam hal segi
psikologik.
Masing-masing
individu
mempunyai
perasaan,tetapi
perasaan satu dengan yang lain akan berbeda.Demikian
pula masing-masing individu mempunyai kemampuan untuk
berfikir,namun bagaimana kualitas berfikirnya satu dengan
yang lain akan berbeda-beda.

Didalam menghadapi masalah,bagaimana cara individu


mencari pemecahannya,masing-masing individu juga
mempunyai kemampuan yang berbeda-beda.Ada yang
dapat memecahkan dengan cepat ,tetapi yang lain dengan
lambat,sedangkan mungkin tidak dapat memecahkan
masalah tersebut.Bagi individu yang tidak dapat
memecahkan
masalah
yang
dihadapinya,maka
ia
membutuhkan bantuan orang lain untuk ikut memikirkan dan
memecahkan masalah tersebut.dengan kata lain individu
yang
tidak
dapat
memecahkan
masalah
yang
dihadapinya,perlu bantuan orang lain atau bimbingan
konseling.Bagi individu yang mampu mengatasi sendiri
masalahnya tanpa bantuan orang lain.
b. Masalah Kebutuhan Individu
Manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai
kebutuhan-kebutuhan
tertentu.Kebutuhan
merupakan
pendorong timbulnya tingkah laku.Tingkah laku individu
ditunjukan untuk mencapai suatu tujuan yang akan dikaitkan
dengan kebutuhan individu yang bersangkutan.Dalam hal
perkawinan kadang-kadang justru sering individu tidak haru
bertindak bagaimana.Dalam hal seperti ini maka individu
yang bersangkutan membutuhkan bantuan orang lain,atau
membutuhkan bimbingan dan konseling yang berperan
membantu mengarahkan ataupun memberikan pandangan
individu yang bersangkutan.
c. Masalah Perkembangan Individu
Individu merupakan makhluk yang berkembang dari masa
kemasa.Akibat dari perkembangan yang ada pada individu
maka individu akan mengalami perubahan-perubahan.
Dalam mengarungi perkembangan ini,kadang-kadang
individu mengalami hal-hal yang tidak dapat dimengerti oleh
individu yang bersangkutan khususnya dalam hubungan
antara pria dan wanita.Akibat dari keadaan ini dapat
menimbulkan berbagai macam kesulitan yang menimpa diri
individu yang bersangkutan. karena itu untuk menghindarkan
diri dari hal-hal yang tidak diinginkan itu diperlukan bantuan
orang lain untuk pengarahanya,atau dengan kata lain
dibutuhkan bimbingan dan konseling.
d. Masalah Latar Belakang Sosio-Kultural.
Perkembangan keadaan menimbulkan banyak perubahan
dalam kehidupan masyarakat seperti perubahan dalam
aspek
sosial,politik,ekonomi,industri,sikap,nilai
dan
sebagainya.Keadaan ini juga mempengaruhi kehidupan

seseorang baik sebagai individu maupun sebagai anggota


masyarakat.kalau dilihat pada waktu sekarang ini,individu
dihadapkan pada perubahan-perubahan yang begitu
kompleks,sehingga keadaan ini dapat menimbulkan
berbagai macam tantangan atau tuntutan terhadap
kebutuhan individu.Keadaan yang demikian menuntut
individu untuk dapat lebih mampu untuk menghadapi
berbagai macam keadaan yang ditimbulkan oleh keadaan
jaman ini misalnya dengan masuknya kebudayaan dari luar.
Bagi individu yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan
baik,baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap
lingkungannya,dibutuhkan bimbingan dan konseling.

BAB II
PERKAWINAN
1. Pengertian Perkawinan
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam perkawinan adanya ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami isteri.Dengan ini jelas
bahwa yang diikat dalam perkawinan sebagai suami isteri adalah
seorang wanita dan seorang pria.
Dalam perkawinan adanya ikatan lahir dan batin yang berarti
bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut.Ikatan
lahir adalah ikatan yang nampak ,ikatan formal sesuai dengan
peraturan-peraturan yang ada.Ikatan formal ini adalah nyata,baik
yang mengikat dirinya,yaitu suami dan isteri,maupun bagi orang
lain yaitu masyarakat yang luas.Oleh karena itu perkawinan pada
umumnya diinformasikan kepada masyarakat yang luas agar
masyarakat dapat mengetahuinya.Cara memberikan informasi
dapat berbagai macam sesuai dengan keadaan masyarakat dan
kemauan dari yang bersangkutan,misalnya dengan pesta
perkawinan ataupun memasang iklan dengan media massa.
Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara
langsung,merupakan ikatan psikologis.Antara suami isteri harus

ada ikatan ini,harus saling cinta mencintai satu dengan yang


lain,tidak ada paksaan dalam perkawinan.Bila perkawinan dengan
paksaan tidak ada rasa cinta kasih satu dengan yang lain,maka
berarti bahwa dalam perkawinan tersebut tidak aadanya ikatan
batin.Kedua ikatan tersebut yaitu ikatan lahir dan batin keduanya
dituntut dalam perkawinan.Bila tidak ada salah satu,maka ini akan
menimbulkan
persoalan
dalam
kehidupan
pasangan
tersebut.Kawin paksa pada umumnya tidak dapat bertahan
lama,sehingga perceraian biasanya merupakan hal yang sering
terjadi (Hasting,1972).
2. Tujuan Perkawinan
Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.Namun tujuan yang
tidak sama antara suami isteri akan merupakan sumber
permasalahan dalam keluarga.Misalnya ada suami yang benarbenar ingin membentuk keluarga yang bahagia namun sebaliknya
isteri justru ingin sekedar hidup bersama untuk memenuhi
kebutuhan biologisnya atau sebaliknya.
Perlu ditekankan bahwa antar suami isteri demi untuk membentuk
keluarga yang bahagia perlu mempersatukan tujuan yang akan
dicapai dalam perkawinan.Hal ini memang tidak mudah tetapi itu
tidak berarti bahwa tidak dapat dilaksanakan.
Tujuan yang sama harus benar-benar diresapi oleh anggota
pasangan dan harus disadari bahwa tujuan itu akan dicapai secara
bersama-sama,bukan hanya isteri saja atau pun suami saja.
Tanpa adanya kesatuan tujuan didalam keluarga,tanpa adanya
kesadaran bahwa tujuan itu harus dicapai bersama-sama,maka
dapat dibayangkan bahwa keluarga itu akan mudah mengalami
hambatan-hambatan yang akhirnya akan dapat menuju keretakan
keluarga yang dapat berakibat lebih jauh.Karena itu tujuan akan
merupakan titik tuju bersama yang akan diusahakan untuk dapat
dicapai secara bersama-sama.
Disamping tujuan perkawinan itu membentuk keluarga yang
bahagia,tetapi juga bersifat kekal.Ini berarti bahwa dalam
perkawinan perlu diinsafi sekali untuk seterusnya,berlangsung
untuk seumur hidup,untuk selama-lamanya.Pasangan suami isteri
akan berpisah bila salah satu pasangan tersebut meninggal
dunia.Karena itu diharapkan agar pemutusan ikatan suami isteri itu
tidak terjadi kecuali karena kematian;sedangkan pemutusan ikatan
suami isteri dalam bentuk perceraian hanyalah merupakan jalan
yang terakhir,bila usaha-usaha lain memang benar-benar telah
tidak dapat memberikan pemecahan.

3. Latar Belakang Perkawinan


Manusia adalah makhluk hidup mempunyai kebutuhan-kebutuhan
seperti makhluk hidup yang lain,baik kebutuhan untuk
melansungkan eksistensi sebagai makhluk.Karena itu pada
umumnya kebutuhan-kebutuhan itu dklasifikasikan untuk dapat
lebih mudah melihat secara menyeluruh.Pada umumnya dalam
mengklasifikasikan itu mendasarkan diri pada sifat hakekat
manusia.
Menurut Gerungan (1966) ada tiga macam kelompok kebutuhan
manusia itu yaitu kebutuhan yang berhubungan dengan segi
biologis,sosiologis dan theologis.
Disamping itu Maslow (1970) mengemukakan pendapat bahwa
adanya beberapa kebutuhan yang ada pada manusia.
Kebutuhan-kebutuhan yang ada pada manusia itu adalah.
a. Kebutuhan yang bersifat fisiologis dan kebutuhan-kebutuhan
ini merupakan kebutuhan yang paling kuat di antara
kebutuhan-kebutuhan yang lain.
b. Kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan rasa aman.
c. Kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan dengan orang
lain,merupakan kebutuhan sosial.
d. Kebutuhan yang berkaitan dengan penghargaan.
e. Kebutuhan yang mengaktualisasikan diri.
Sedangkan menurut Murray kebutuhan-kebutuhan yang ada
pada manusia dikelompokkan menjadi dua kelompok
besar,yaitu primary needs dan psychogenic needs.
primary needs adalah kebutuhan yang berhubungan dengan
kebutuhan yang bersifat bilogis,kebutuhan yang berkaitan
dengan
eksistensi
organisme,misalnya
kebutuhan
makan,minum,seks,udara.Sedangkan psychogenic needs
adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan yang
bersifat psikologis.
Mengingat pendapat yang telah dikemukakan diatas maka dapat
dikemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan yang ada pada manusia
itu digolongkan menjadi :
1.
2.
3.
4.

Kebutuhan Fisiologis dan Perkawinan


Kebutuhan Psikologis Perkawinan
Kebutuhan Sosial dan Perkawinan
Kebutuhan Religi dan Perkawinan.

4. Beberapa Syarat Dalam Perkawinan


a. Persyaratan Umum

Persyaratan yang bersifat umum yaitu persyaratan yang harus


ada dalam perkawinan,persyaratan yang mutlak,persyaratan
yang lebih berkaitan dengan persyaratan formal.Syarat-syarat
itu harus dipenuhi agar perkawinan dapat berlangsung.
1. Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai
umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16
tahun.
b. Persyaratan Khusus
Nama,umur,agama,alamat,suku dan perkerjaan/jabatan.
Persyaratan yang bersifat pribadi ini cukup bervariasi,tetapi
persyaratan-persyaratan tersebut dapat diklasifikasikan dalam
beberapa golongan yaitu yang menyangkut segi :
1. Kejasmanian misalnya tinggi badan,berat badan,umur,warna
kulit atau aspek fisiologis.
2. Segi psikologis misalnya setia,jujur,ramah,sayang keluarga
dan terbuka.
3. Segi sosial misalnya sarjana,karyawati,jejaka,gadis,janda
4. Segi agama misalnya islam,katolik,dan sebagainya.

BAB III
PERAN UMUR DALAM PERKAWINAN
1. Hubungan Umur Dengan Faktor Fisiologis Dalam Perkawinan
Umur dalam hubungannya dengan perkawinan tidaklah cukup
dikaitkan denga segi fisiologis semata-mata tetapi juga perlu
dikaitkan dengan segi psikologis dan segi sosial,karena perkawinan
hal-hal tersebut tidak dapat ditinggalkan tetapi ikut berperan.
2. Hubungan Umur Dengan Keadaan Psikologis Dalam
Perkawinan
Dilihat dari segi psikologis sebenarnya pada anak wanita umur 16
tahun belum dikaitkan bahwa anak tersebut telah dewasa secara
psikologis.Demikian pula pada anak pria umur 19 tahun belum
dapat dikatakan bahwa mereka sudah masak secara psikologis.
Perlu dikemukakan bahwa umur bukanlah suatu patokan yang
mutlak,tetapi sebagai ancar-ancar tersebut.Pada umumnya para
ahli tidak jauh berbeda pendapatnya mengenai permulaan masa
dewasa yang ada pada individu,yaitu pada sekitar umur 21,yang
disebut dewasa awal.
Dengan bertambahnya umur dari seseorang diharapkan keadaan
psikologisnya juga akan makin bertambah matang.Perkawinan
pada umur yang masih muda akan banyak mengundang masalah
yang tidak diharapkan,karena segi psikologisnya belum
matang.Tidak jarang pasangan mengalami keruntuhan dalam
rumah tangganya karena perkawinan masih terlalu muda.
3. Hubungan Umur Dengan Kematangan
Sosial Ekonomi Dalam Perkawinan

Sosial,Khususnya

Kematangan sosial ekonomi pada umumnya juga berkaitan erat


dengan umur individu.Makin bertambahnya umur seseorang untuk
kematangan dalam bidang sosial ekonomi juga akan makin nyata.
Pada umumnya dengan bertambahnya umur seseorang akan
makin kuat dorongan untuk mencari nafkah sebagai
penopang.Karena itu dalam hal perkawinanmasalah kematanga
ekonomi perlu juga mendapatkan pemikiran,sekalipun dalam batas
yang minimal.
Hubungan yang telah berani membentuk keluarga melalui
perkawinan segala tanggung jawab dalam hal menghidupi keluarga
itu terletak pada pasangan tersebut bukan pada orang lain
,termasuk orang tua.Karena itu,maka dalam perkawinan masalah
kematangan sosial-ekonomi perlu dipertimbangkan secara matang
karean itu akan berperan sebagai penyanggah dalam kehidupan
keluarga yang bersangkutan.Anak yang masih muda misalnya
pada umur 19 tahun pada umumnya belum mempunyai sumber
penghasilan atau penghidupan sendiri.Kalau pada umur yang
demikian muda telah melangsungkan perkawinan,maka dapat
diperkirakan bahwa kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan
sosial-ekonomi akan segera muncul,yang dapat membawa akibat
yang cukup rumit.
4. Umur Yang Ideal Dalam Perkawinan
Ukuran umum kiranya tidak ada yang memandang umur sekian itu
sebagai umur yang ideal dalam perkawinan.Artinya bahwa umur
yang sekian itu yang paling baik.Kalau sekiranya itu ada hanyalah
merupakan patokan yang tidak bersifat mutlak.
Namun untuk memberikan jawaban persoalan umur berapakah
merupakan umur yang ideal dapat dikemukakan beberapa hal
sebagai bahan pertimbangan yaitu:
a. Kematanga fisiologis atau jasmani
Untuk melakukan tugas sebagai akibat dari perkawinan
dibutuhkan keadaan jasmani yang cukup matang,cukup
sehat,pada umur 16 tahun pada wanita dan umur 19 tahun pada
pria kematangan ini telah tercapai.
b. Kematangan psikologis
Seperti yang telah dipaparkan maka dalam perkawinan itu
dibutuhkan kematangan psikologis.Seperti yan diketahui banyak
hal yang timbul dalam perkawinan yang membutuhkan
pemecahannya dari segi kematangan psikologis ini.Adanya
kebijakan dalam keluarga misalnya,hal tersebut menuntutnya
adanya kematangan psikologis.Demikian segi-segi atau

masalah-masalah yang lain.Kematangan ini pada umumnya


dapat dicapai setelah umur 21 tahun.
c. Kematangan sosial khususnya sosial ekonomi
Diperlukan dalam perkawinan,karena hal ini merupakan
penyangga dalam memutarkan roda keluarga sebagai akibat
perkawinan.Pada umur yang masih muda,pada umumnya
belum mempunyai pegangan dalam hal sosial ekonomi.Padahal
kalau seorang telah memasuki perkawinan,maka keluarga
tersebut harus dapat berdiri sendiri untuk kelangsungan
keluarga itu,tidak menggantungkan kepada pihak lain termasuk
orang tua.
d. Tinjauan masa depan atau jangkauan kedepan
Pada umumnya keluarga menghendaki adanya keturunan yang
dapat melangsungkan keturunan keluarga itu.Disamping itu
umur manusia terbatas yang pada sewaktu waktu akan
mengalami kematian.Sudah barang tentu orang tua tidak ingin
melihat anaknya atau keturunanya sengsara pada waktu orang
tua telah cukup usia.karena itu sejauh mungkin diusahakan bila
orang tua telah lanjut usia anak-anaknya telah dapat berdiri
sendiri tidak lagi menjadi beban orang tua.Oleh karena itu
pandangan kedepan perlu dipertimbangkan dalam perkawinan.
e. Perbedaan antara perkembangan pria dan wanita
Perkembangan antara wanita dan pria tidaklah sama artinya
kematangan pada wanita tidak akan sama jatuh waktunya
denga pria.Seorang wanita yang umurnya sama dengan
seorang pria tidak berarti bahwa kematangan segi psikologis
juga sama.Sesuai dengan segi perkembangan pada umumnya
wanita lebuh dahulu mencapai kematangan dari pada pria.
5. Perbedaan Umur Antara Suami Isteri
Perbedaan umur antara suami isteri adalah suatu kejadian yang
wajar namun sebaliknya persaamaan umur antara suami isteri pun
merupakan keadaan yang dapat dijumpai pula.Perbedaan umur
antara suami dan isteri akan membawa perbedaan dalam segi
perkembangan maupun dalam segi-segi yang lain.Dengan
demikian bila suami lebih tua dari isteri diharapkan akan dapat
memberikan bimbingan kepada keluarga dengan secara bijaksana.
Bagaimana justru kalau isteri umurnya lebih tua dari suami.hal
tersebut pada umumnya kurang disarankan.Keadaan itu dapat
ditinjau bahwa kalau isteri lebih tua dari suami,maka
perkembangan psikologis dari isteri jauh akan mencapai
keamatangan
lebih
dahulu
sehingga
demikian
besar

kemungkinannya pandangan,sikap maupun pendapat mengenai


sesuatu akan jauh berbeda.
Adanya perbedaan pandangan,sikap,pendapat akan memawa
kesulitan,karena
memang
adanya
perkembangannya
berbeda.Disamping itu juga dapat dilihat dari kemampuan dalam
bidang fisiologis,isteri akan lebih dahulu menurun misalnya dalam
hubungan seksual.Bila suami tidak dapat mengerti tentang
keadaan tersebut,hal itu akan merupakan sumber persoalan dalam
kehidupan keluarga yang bersangkutan.Kebahagian memang tidak
terletak pada perbedaan umur antara suami isteri.Namun kalau
isteri lebih tua dari suami,kemungkinan timbulnya permasalahan
dalam keluarga akan lebih mudah terbuka.
Dengan apa yang dikemukakan diatas dapat ditegaskan bahwa bila
ada perbedaan umur antara suami dan isteri lebih disarankan
bahwa suami sebaiknya lebih tua dari isteri dan perbedaan umur
antara suami dan isteri jangan sampai terlalu jauh.Dengann
demikian suami akan dapat membimbing isterinya dengan penuh
pengertian untuk menuju kearah tujuan yang dicita-citakan dalam
perkawinan tersebut.Namun perlu juga dikemukakan bahwa
penyimpangan dari hal-hal tersebut diatas tidaklah melanggar
ketentuan-ketentuan yang telah digarikan.

BAB IV
PERANAN FAKTOR FISIOLOGIS DALAM PERKAWINAN
1. Kesehatan Pada Umumnya
Untuk dapat mengetahuinya ini dengan tepat,maka apabila
seseorang akan melaksanakan perkawinan disarankan untuk dapat
memeriksakan kesehatanya pada dokter.Dengan pemeriksaan
akan dapat diketahui kelemahan-kelemahanya sehingga dengan
demikian akan dapat dicari cara-cara untuk mengatasinya.Hal
tersebut tidak akan dapat dilihat kalau sebelumnya tidak diketahui
bagaimana kondisi kesehatanya.Dengan mengetahui kelemahan
atau kekurangan-kekurangannya maka langkah-langkah yang lebih
tepat akan dapat diambil sedini mungkin.
2. Masalah Keturunan
Dalam kehidupan keluarga sudah barang tentu keluarga atau
suami isteri menginginkan memperoleh keturunan yang baik,yang
sehat,keturunan yang tidak mengalami cacat.karena itu sebelum
melaksanakan perkawinan,disarankan agar pasangan dapat
berkonsultasi dengan dokter untuk dapat mengetahui bagaimana
keadaan kesehatanya pada umumnya,khusus yang berkaitan
dengan kemungkinan untuk mendapatkan keturunan.
3. Kemampuan Mengadakan Hubungan Seksual
Dalam perkawinan masalah hubungan seksual merupakan
masalah yang cukup rumit.Hubungan seksual ini dapat menjadi
sumber masalah dalam perkawinan dan dapat berakibat
runyamnya kehidupan keluarga sampai pada perceraian.
Contohnya cukup banyak dan dapt diikuti melalui media massa

BAB V
PERANAN FAKTOR PSIKOLOGIS DALAM PERKAWINAN
1. Kematangan Emosi Dan Pikiran
Bila seseorang telah matang emosinya,telah dapat mengendalikan
emosinya maka individu akan berpikir secara matang berpikir
secara baik dan berpikir secara objektif.
Mengenai kematangan emosi ada beberapa tanda yang dapat
diberikan yaitu diantaranya:
a. Bahwa orang telah matang emosinya dapat menerima baik
keadaan dirinya maupun keadaan orang lain seperti apa adanya
sesuai dengan keadaan objeknya.
b. Karena orang yang telah matang emosinya dapat berpikir
secara objektif,maka orang yang telah matang emosinya akan
bersifat sabar,penuh pengertian,dan pada umumnya cukup
mempunyai toleransi yang baik.
c. Orang yang matang emosinya akan mempunyai tanggung
jawab yang baik,dapat berdiri sendiri,tidak mudah mengalami
frustasi dan akan menghadapi masalah dengan penuh
pengertian.
d. Orang yang telah matang emosinya pada umumnya tidak
bersifat impulsif.Ia akan merespon stimulus dengan cara
berpikir baik,dapat menatur pikirannya untuk memberikan
tanggapan terhadap stimulus yang mengenainya.Orang yang
bersifat impulsif yang segera bertindak sebelum dipikirkan
dengan baik,suatu pertanda bahwa emosinya belum matang.
e. Orang yang telah matang emosinya akan dapat mengontrol
emosinya
dengan
baik
dapat
mengontrol
ekspresi
emosinya.Walaupun seseorang dalam keadaan mara,tetapi
kemarahan itu tidak ditampakan keluar,dapat mengatur kapan
kemarahan perlu dimanifestasikan.
2. Sikap Toleransi
Dengan adanya sikap toleransi ini berarti antara suami dan isteri
mempunyai sikap saling menerima dan saling memberi,saling
tolong menolong,tidak hanya suami saja yang memberi dan isteri
yang menerima atau sebaliknya.Sikap toleransi ini perlu
ditimbulkan dan dipupuk demi untuk kebaikan keluarga,dan hal-hal

kecil sampai ke hal-hal yang besar.Untuk mempersatukan dua


pribadi menjadi satu kesatuan perlu adanya toleransi ini.Dengan
sikap bertoleransi,masing-masing harus siap dan sedia berkorban
untuk kepentingan keluarga yang dibinanya.
Untuk mempunyai sikap toleransi yang baik memang bukan
suatu hal yang mudah,namun ini perlu dibina dan hal tersebut
dapat dilaksanakan kalau adanya pengertian dari masing-masing
pihak.Tanpa adanya toleransi satu dengan yang lain,mustahil dua
pribadi itu dapat bersatu dengan baik.Oleh karena itu pada umur
perkawinan yang masih muda,sering terjadi gejolak adanya
gelombang dalam keluarga yang muda itu,karena pada umunya
belum terbentuk sikap bertoleransi.
Masing-masing terkait pada kebiasaan-kebiasaan yang
dibawa
sebelum
perkawinan,misalnya
suami
bangun
siang,sedangkan isteri menghendaki bangun pagi-pagi,isteri
membuat sayur yang pedas,padahal suami tidak senang masakan
pedas.Bila masing-masing bertahan dan tidak mau mengalah satu
sama lain,hal tersebut dapat merupakan sumber dalam
perkawinan.
3. Sikap Saling Antara Suami Dan Isteri
Keluarga yang baik harus dihidupkan sikap yang saling antara
suami dan isteri,diantaranya saling hormat menghormati,saling
memadu kasih,saling bertukar pendapat,saling mencurahkan isi
hatinya.
Sikap saling ini akan dapat dilaksanakan kalau masing-masing
pihak,yaitu suami dan isteri dapat menyadari sepenuhnya tentang
keadaan masing-masing.Sudah tentu masing-masing pihak harus
dapat dan mau berkorban satu dengan yang lain seperti telah
dijelaskan diatas.Kalau salah satu pihak tidak mau berkorban dan
akan tetap mempertahankan egonya masing-masing seperti
sebelum
perkawinan
hal
tersebut
akan
mengundang
persoalan.Kalau ini terjadi berarti bahwa individu tersebut
sebenarnya belum masak untuk memasuki jenjang perkawinan.
Kalau sudah memasuki jenjang perkawinan,masing-masing individu
harus sudah siap bahwa adanya sesuatu yang kadang-kadang
perlu dikorbankan untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga.
4. Sikap Saling Pengertian Antara Suami Isteri
Antara suami isteri dituntut adanya sikap saling pengertian satu
dengan yang lain;suami harus mengerti mengenai keadaan
isterinya,demikian pula sebaliknya.Demikian pula suami isteri harus
dapat juga saling mengerti akan kebutuhan dari masing-masing

pihak,baik yang bersifat fisiologis maupun bersifat sosial.Suami


mengerti apa yang dibutuhkan isteri,demikian sebaliknya isteri
mengerti apa yang dibutuhkan suami.Dengan pengertian yang ada
pada masing-masing pihak,maka akan lebih tepat tindakan yang
diambilnya,sehingga baik suami maupun isteri akan lebih bijak
dalam mengambil langkah-langkahnya.
5. Sikap Saling Dapat Menerima Dan Memberikan Cinta Kasih
Seperti yang dikemukakan oleh Maslow bahwa salah satu
kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan rasa cinta,kasih
sayang (love needs).Dorongan menerima dan memberikan rasa
cinta tidak hanya terdapat pada anak-anak ataupun masa
remaja,tetapi pada masa dewasapun kebutuhan itu ada dan ingin
dipenuhinya.
Rasa cinta kasih,kasih sayang seorang remaja mungkin
diekspresikan dalam berbagai-bagai pernyataan,baik dengan lisan
misalnya saya cinta kepadamu,maupun dengan perbuatan
misalnya saling berpegangan,saling berpelukan dan pernyataan
yang lain menggambarkan curahan cinta kasih dari seseorang
untuk orang lain.Demikian pula pada pasangan suami isteri rasa
cinta kasih,dapat diekspresikan dalam berbagai macam bentuk.
6. Sikap Saling Percaya Mempercayai
Baik suami ataupun isteri dalam kehidupan berkeluarga harus
dapat menerima dan memberikan kepercayaan kepada dari
masing-masing pihak.Suami harus dapat menerima kepercayaan
yang diberikan oleh isteri dan dapat memberikan kepada
isteri,demikian pula sebaliknya isteri harus dapat menerima dan
memberi kepercayaan kepada suaminya.Memberi dan menerima
kepercayaan memang merupakan hal yang sulit.Bila tidak ada
unsur kepercayaan dalam keluarga,maka yang ada hanyalah rasa
curiga,kesemuanya itu akan menimbulkan rasa tidak tentram dalam
kehidupan keluarga.Misalnya suami pergi kekantor tetapi bila isteri
telah mempunyai rasa curiga maka hal tersebut akan merupakan
gangguan bagi isteri yang dapat berakibat lebih fatal.Namun
apabila kepercayaan yang telah ada itu kemudian dirusak,hal ini
akan sulit untuk dipulihkan kembali.Karena itulah perlu diingat
dengan baik,pertahankanlah kepercayaan yang telah ada jangan
sampai menjadi hilang,dengan hilangnya kepercayaan antara
suami isteri,maka ini suatu pertanda akan adanya kesulitan dalam
kehidupan keluarga itu.

BAB VI
PERANAN AGAMA DALAM PERKAWINAN
1. Pentingnya Agama Dalam Perkawinan
Bahwa dasar dari perkawinan adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dengan adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
tercermin dalam agama yang dianutnya,akan memberikan tuntunan
ataupun bimbingan kepada orang yang memeluknya.Agama akan
menuntun ke hal-hal yang baik,ke hal-hal yang tidak
tercela,sehingga dengan demikian dapat dikemukakan bahwa
makin kuat seseorang menganut agamanya,maka orang tersebut
akan mempunyai sikap yang mengarah kehal-hal yang
baik.Demikian pula kalau hal ini dikaitkan dengan perkawinan,maka
agama yang dianut oleh masing-masing anggota pasangan akan
memberikan tuntunan atau bimbingan bagaimana bertindak secara
baik.Dengan agama atau kepercayaan yang kuat,keadaan ini akan
dapatdigunakan
sebagai
benteng
yang
tangguh
untuk
menanggulangi perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji.
2. Pasanga Yang Berbeda Agama
Pandangan atau pendapat mengenai Perkawinan yang berbeda
agama,kiranya akan bijaksana bila dipertimbangkan lagi sebelum
mengambil keputusan terakhir kalau pasangan mempunyai agama
yang berbeda.
Perkawinan antara pasangan yang mempunyai agama yang
berbeda akan mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk
timbulnya masalah dibandingkan dengan perkawinan yang
seagama,yang dapat meningkat sampai perceraian.
Bila dalam mencari pasangan mendapatkan pasangan yang
berbeda agama,maka perlu dipertimbangkan secara masak,karena
hal tersebut dapat mempunyai akibat antara lain:
a. Adanya tekanan dari pihak keluarga,lembaga agama,karena
adanya penyimpangan dari keadaan yang biasa.
b. Setelah pasangan itu mempunyai anak,keadaan ini akan lebih
terasa,karena agama mana yang akan didikan kepada anak
menjadi persoalan.Dalam menentukan ini mungkin sekali terjadi
pertentangan antara suami dan isteri.
c. Dapat terjadi tidak bersatunya interprestasi mengenai
sesuatu,karena memang kerangka acuanya berbeda sehingga
hal ini kadang-kadang membawa kesulitan

Perbedaan agama antara suami dan isteri akan memberikan


lingkungan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan
anak.Banyak faktor yang menjadi pendorong perkawinan yang
demikian.Faktor-faktor tersebut antara lain dapat dikemukakan:
a. Yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa,juga adanya
agama yang beraneka ragam diindonesia.Hal ini akan sangat
berpengaruh dalam pergaulan sehari-hari dalam kehidupan
bermasyarakat,bergaul begitu erat dan tidak membedakan
agama satu dengan yang lain.
b. Makin meningkatnya pendapat bahwa adanya kebebasan
memilih calon pasangannya dan pemilihan tersebut
berdasarkan cinta.
c. Makin dirasa usang terhadap pendapat bahwa keluarga
mempunyai peran penentu untuk memilih calon pasangan bagi
anak-anaknya,bahwa mereka harus jawin dengan orang
mempunyai agama yang sama.
d. Dengan
makin
majunya
jaman,makinbanyak
anggota
masyarakat yang dapat menikmati pendidikan dan makin
banyak sekolah yang menggunakan sistem campuran,baik
campuran dalam sekse maupun campuran dalam agama yang
berarti tidak adanya batasan agama tertentu.
e. Dengan meningkatnya hubungan anak muda indonesia dengan
anak muda dari manca negara sebagai akibat dari globalisasi
dengan berbagai macam bangsa ,kebudayaan,agama serta
latar belakang yang berbeda,hal tersebut sedikit atau banyak
ikut menjadi pendorong atau melatar belakangi terjadinya
perkawinan beda agama.Sehingga bagi anak-anak muda kawin
dengan agama yang berbeda seakan-akan sudah tidak menjadi
masalah lagi.
Namun masih cukup ada orang yang meragukan mengenai
hal ini sebab belum tentu yang bersangkutan akan dapat
menjadi penganut agama yang baik.Karena mengubah
kepercayaan bukanlah suatu hal yang mudah,tidak seperti
menukar pakaian seperti telah dikemukakan diatas.Tetapi
bagaimana pun keadaanya demi untuk kebahagian
keluarga,kebahagian anak sebaiknya salah satu dari pasangan
itu harus rela berkorban menyerahkan kepercayaan
agamanya,untuk mengikuti agama pihak lain seperti yang telah
dijelaskan diatas.Sebab kalau tidak anak-anaknya akan menjadi
bingung agama mana yang mau diambil.
BAB VII

PERANAN KOMUNIKASI DALAM PERKAWINAN


Perkawinan adalah merupakan bersatunya seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri untuk membentuk keluarga.Dalam kaitanya
dengan hal tersebut maka peran komunikasi dalam keluarga sangat
penting.Antara suami dan isteri harus saling berkomunikasi dengan baik
untuk dapat mempertemukan satu dengan yang lain,sehingga dengan
demikian kesalah pahaman dapat dihindarkan.
Dengan berkembangnya keluarga,dengan hadirnya anak dalam keluarga
maka komunikasipun akan lebih meningkat,dalam pengertian harus pula
adanya komunikasi antara orang tua dengan anak dan demikian
sebaliknya.
1. Sifat Komunikasi Dalam Keluarga
Dengan komunikasi yang saling terbuka diharapkan tidak akan ada
hal-hal yang tertutup,sehingga apa yang ada pada diri suami juga
diketahui oleh isteri,demikian sebaliknya.Sifat keterbukaan tersebut
sampai kepada hal sekecil-kecilnya untuk mengindari hal-hal yang
tidak dikehendaki.
Sifat keterbukaan itu dalam batas-batas tertentu juga dilaksanakan
kepada anak,bila anak telah dapat berpikir secara baik,bila anak
dapat mempertimbangkan secara baik terhadap hal-hal yang
dihadapinya.Dengan demikian segala hal yang ada dalam keluarga
termasuk kesulitan-kesulitan keluarga dapat diketahui oleh anggota
keluarga dengan baik,sehingga dengan demikian akan dapat
secara bersama-sama mencari pemecahannya.
2. Sikap Dalam Hubungannya Dengan Komunikasi
Suatu sikap selain menjadi salah satu pendorong yang akan
mewarnai seseorang dalam bertindak juga adanya perasaan yang
timbul yang menyertai sesuatu sikap tertentu itu.Misalnya seorang
isteri mempunyai sikap senang terhadap sesuatu,maka dengan
sikap senang itu dari isteri untuk berbuat sesuai dan mendekati
kepada objek yang disenangginya itu,sebaliknya kalau isteri tidak
senang maka ia akan bertindak menjauhi dari apa yang ia tidak
senangi itu.
Ada 4 fungsi sikap menurut Katz yaitu:
a. Sikap sebagai instrument atau alat mencapai tujuan
Seseorang mengambil sikap tertentu terhadap sesuatu objek
karena atas dasar pemikiran sampai sejauh mana objek
tersebut dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang ingin
dicapainya.Kalau objek tersebut berguna untuk mencapai tujuan
maka sikap akan baik,akan positif begitu sebaliknya.Fungsi ini

juga sering disebut fungsi penyesuaian diri dengan mengambil


sikap tertentu,digunakan untuk menyesuaikan diri dengan
keadaan lingkungan agar dapat diterima oleh lingkungannya.
b. Sikap sebagai pertahanan ego
Kadang-kadang orang mengambil sikap tertentu karena hanya
untuk mempertahankan egonya.Karena merasa terdesak atau
terancam,maka seseorang mengambil sikap tertentu terhadap
objek.
c. Sikap berfungsi sebagai ekspresi nilai
Ialah bahwa sikap seseorang menunjukan bagaimana nilai-nilai
yang ada pada seseorang itu.
d. Sikap berfungsi sebagai pengetahuan
Bagaimana sikap seseorang terhadap sesuatu juga
mencerminkan keadaan pengetahuan dari orang yang
bersangkutan.
3. Komunikasi Dalam Kaitanya Dengan Pengubahan Dan
Pembentukan Sikap
Untuk mengubah dan membentuk dapat ditempuh secara
langsung,dengan tukar pikiran,dengan tatap muka,tetapi dapat juga
secara tak langsung,yaitu dengan cara menciptakan suasana yang
dikehendaki atau dengan melalui media masa,misalnya melalui
TV,radio,surat kabar,majalah dan sebagainya.
Para ahli sependapat bahwa dalam sikap akan terkandung
komponen-komponen:
a. Komponen Kognitif
Yang berkaitan dengan pengetahuan, pendapat, pandangan,
kepercayaan seseorang kepada objek sikap tertentu.Dalam
komponen ini menyangkut bagaimana individu mempersepsikan
objek sikap itu.
b. Komponen Afektif
Komponen yang berkaitan dengan perasaan yaitu bagaimana
perasaan yang timbul pada seseorang terhadap objek tertentu.
c. Komponen Konatif
Komponen tingkah laku sering pula disebut komponen psikomotor.Komponen ini berkaitan dengan sejauh mana sikap itu
akan mendorong
seseorang
dalam
perbuatan
atau
tindakannya,komponen ini berhubungan dengan kecendrungan
untuk bertindak.
Bila dalam pengubahan dan pembentukan sikap itu dengan melalui
komponen kognitif,ada beberapa jalan yang dapat ditempuh
sebagai berikut:
a. Sugesti

Memberikan gambaran apa yang dikehendak itu secara


berulang kali.
b. Persuasi
Merupakan cara membujuk untuk mengerjakan sesuatu seperti
apa yang dikehendaki.
c. Konformitas
Usaha untuk menjadikan konform dengan pihak lain.
d. Diskusi
Saling tukar pikiran antara suami dan isteri ataupun dengan
anggota keluarga yang lain,sehingga demikian akan
terbentuklah tentang suatu sikap tertentu seperti apa yang
dikehendaki.

VIII
HUBUNGAN SEKSUAL ATAU KOITUS
1. Dorongan Seksual
Seseorang yang dalam klasifikasi mempunyai dorongan seksual
sedang,tetapi kalau mendapat pasangan yang mempunyai

dorongan
seksual
tinggi,ia
akan
dinilai
rendah
oleh
pasangannya.Karena itu bagaimana keadaan pasanganya akan
ikut menentukan bagaimana dorongan seksual orang tersebut
dalam kaitanya dengan pasanganya.Bila pasanganya itu
mempunyai dorongan seksual yang seimbang hal tersebut tidak
akan menimbulkan masalah.
2. Timbulnya Minat Mengadakan Hubungan Seksual
Untuk mengadakan koitus,diperlukan adanya minat atau gairah
untuk mengadakan hubungan seksual dari kedua belah
pihak,khususnya dari pihak pria.
3. Fase-Fase Koitus
a. Fase persiapan koitus
Fase ini dikenal dengan fase foreplay yang dapat berbentuk
rayuan.
b. Fase koitus sebenarnya
Fase ini merupakan proses koitus yang sebenarnya.
c. Fase follow up atau fase setelah koitus
Yaitu fase yang mengikuti setelah terjadinya koitus
sebenarnya,yang pada akhirnya pasangan tersebut kembali
kepada keadaan semula setelah melakukan koitus.

BAB IX
EJAKULASI PREMATUR
1. Pengertian Ejakulasi Prematur
Yang dimaksud dengan ejakulasi prematur ialah keadaan seorang
pria telah mencapai puncak dalam hubungan seksual.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Ejakulasi Prematur

a. Kebiasaan
mengadakan
hubungan
seksual
sebelum
perkawinan.
b. Adanya rasa cemas,merasa tidak dapat memuaskan isteri pada
waktu hubungan seksual,dapat menjadi sebab terjadinya
ejakulasi prematur.
3. Proses Ejakulasi Prematur
Ejakulasi tidak terjadi begitu saja,tetapi terjadi melalui suatu proses
sehingga terjadi ejakulasi itu.
4. Cara Mengatasi
Untuk mengurangi atau mengatasi ejakulasi prematur dapat
dikemukakan usaha-usaha sebagai berikut:
b. Mengurangi masuknya stimulus seksual yang mengacu
ke arah hubungan seksual itu,misalnya dengan
mengarahkan perhatian kebidang lain,yang pada
prinsipnya pikiran-pikiran yang mengarah ke hubungan
seksual diperlambat atau dialihkan.

BAB X
IMPOTENSI
1. Pengertian Impotensi
Tidak adanya kemampuan organ genetal pria untuk berfungsi
secara normal untuk mengadakan hubungan seksual.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Impotensi

Menurut Hastings sebab-sebab terjadinya


diklasifikasikan menjadi 3 sebab yaitu:
a. Impotensi karena faktor psikologis
b. Impotensi karena obat-obatan
c. Impotensi karena faktor fisiologis

impotensi

dapat

3. Tingkatan-Tingkatan Impotensi
Beberapa macam impotensi dapat mengambil bentuk:
a. Ereksi yang kurang sempurna
b. Ejakulasi prematur
c. Impotensi total masih ada minat untuk mengadakan hubungan
seksual
d. Impotensi total dan tidak adanya minat untuk mengadakan
hubungan seksual.
4. Cara Mengatasi
Cara pengatasan terhadap impoten ini sudah barang tentu
tergantung kepada sebabnya.Bila sebab terletak pada segi
fisiologis maka pendekatan pengatasan juga dari segi
fisiologis,terutama disini dokter yang lebih berperan disamping ahli
lain.Sebaliknya bila sebabnya bersifat psikologis,maka psikolog
akan lebih berperan dari pada dokter.

BAB XI
FRIGIDITAS
1. Pengertian Frigiditas
Frigiditas merupakan keadaan dimana wanita tidak mampu
menimbulkan atau mempertahankan dorongan seksual,tidak
mempunyai minat untuk mengadakan hubungan seksual atau
koitus.
2. Sebab-Sebab Terjadinya Frigiditas

a. Frigiditas karena faktor psikologis


b. Frigiditas karena obat-obatan
c. Frigiditas karena fisiologis
3. Cara Mengatasi
Seperti halnya pada impoten untuk mengatasi frigiditas perlu pula
dilihat segi penyebabnya.Bila sebabnya terletak pada obat-obatan
ataupun pada segi fisiologis jelas peranan dokter tidak dapat
ditinggalkan disamping peranan ahli yang lain.Karena sebagian
besar sebab terjadinya frigiditas terletak pada segi psikologis,maka
dalam hal ini peranan psikologis tidak dapat ditinggalkan,disamping
itu kerjasama antara ahli-ahli tersebut sangat diharapkan.
Bertitik tolak bahwa menghindari lebih baik dari pada mengobati
maka hal-hal yang dapat menimbulkan frigiditas seperti telah
dipaparkan
dimuka
sejauh
mungkin
dihindari.Perasaan
benci,perasaan jijik kepada suami sejauh mungkin jangan sampai
timbul,sebaliknya rasa kasih sayang harus selalu dipupuk agar
hubungan psikologis antara suami isteri dapat terjalin dengan baik.

Bagian 4. PENUTUP

1. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling perkawinan banyak keluarga menjadi
retak akibat kurang adanya pengertian di antara suami
isteri,yang kemudian mengakibatkan anak-anak menjadi
terlantar,perceraian,
dan
aneka
akibat
lain
yang
mengikutinya.Untuk menjaga agar hal-hal tersebut diatas tidak
terjadi,bimbingan dan konseling perkawinan memberikan jalan
keluarnya.Bimbingan dan konseling ini diharapkan akan dapat
memperkecil atau bahkan meniadakan hal-hal yang tidak

diharapkan dalam kehidupan keluarga,agar kebahagiaan dalam


keluarga dapat tercapai.
Pokok bahasan ini meliputi :
a. Hahikat perkawinan
b. Peranan umur dalam perkawinan
c. Peranan faktor fisiologis dalam perkawinan
d. Peranan faaktor psikologis dalam perkawinan
e. Peranan agama dalam perkawinan
f. Peranan komunikasi dalam perkawinan
g. Hubungan seksual atau koitus
h. Ejakulasi prematur
i. Impotensi
j. Frigiditas

DAFTAR PUSTAKA

Kinesey,A.C.,Pomeroy,W.B.,Martin,C.E. 1965. Sexual Behavior in The


Human Male.
Maslow,A.H.1970.Motivation and Personality.
Hurlock,E.B.1959.Developmental Psychology.
Jones,A.J.1963.Principles of guidance.
Gerungan,W.A. 1966.Psychologi Social.
Hannah & Stone,A.1968.A Marriage Manual.

Hasstings, D.W.1972.Sexual Expression in Marriage.


Blum, M.L.& Balinsky,B.1973.Counseling and Psychology.
Brederick,C.B. and Bernard,J.(eds).1969.The Individual,Sex and Society.
Crow, L.D.and Crow,A.1951.An Introduction to Guidance.
DeVito,J.A. 1995.The Interpersonal Communication Book.Seventh Edition.
Ford,C.S. and Beach, F.A.1951.Pattens of Sexual Behavior.
Klein, D.H.and White,J.H.1996.Family Theories An Introduction.
Secord,P.F. and Backman, C.W.1964.Social Psychology.
Poerwadarminta, W.J.S.1976.Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Naisbett,J.& Aburdenen,P.1990.Megatrends 2000.
Wantjik,S.K.1976.Hukum Perkawinan Indonesia.
Hite,S.1978.The Hite Report.A Nationwide Study Female Sexuality.
Widyantoro,W.1981.Pendidikan Seka Bagi Remaja,Dalam Sarwono,(Ed).
Kinesey,A.C.,Pomeroy,W.B.,Martin,C.E.,Gebhard,P.H.1953.Sexual
Behavior in The Human Female.
Hornby, A.A.S.,Gatenby,ME.V.,Wakefield,M.1957.The Advanced Learners
Mello de Sj,A. 1991. Burung Berkicau.