Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 2.1
SKENARIO 6: Apakah Salahku?

Arie Van Diemen Sitinjak


Adis Novilia
Ayunda Sartika
Ferlina Fitrah
Lukmanul
Nadia Khair
Putri Fannysa

Tutor:
dr. Ifdelia Suryadi
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS

MODUL 6

SKENARIO 6 : APAKAH SALAHKU?

Ina 28 tahun telah menikah selama lima tahun, tapi tak kunjung dikaruniai keturunan.
Dari anamnesis didapatkan di dua tahun awal perkawinannya,Ina memakai kontrasepsi suntik
KB tiap bulan untuk menghindari kehamilan karena kesibukan di lingkungan kerjanya. Ina
dan suaminya berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn konsultan fertilitas. Dari hasil
anamnesis dan pemeriksaan terhadap Ina, didapatkan riwayat dismenorea, USG memberikan
gambaran sesuai dengan kista endometriosis pada ovarium kanan ukuran 7x8 cm. Hasil
pemeriksaan analisis sperma suaminya didapatkan kesan Oligoasthenoteratozoospermia.
Dokter menyarankan dilakukan tindakan pengangkatan massa kista sekaligus uji patensi tuba
pada Ina dan suaminya dianjurkan berkonsultasi pada dokter spesialis andrologi.
Kakak sepupu Ina dan suaminya juga telah menikah selama tujuh tahun, dan juga
belum mempunyai keturunan. Selama ini menstruasinya tidak teratur, hanya 1 kali dalam 2
atau 3 bulan. Ia sering menduga dirinya hamil karena terlambat haid, akan tetapi sayangnya
plano test selalu negatif . Suaminya juga telah menjalani analisis sperma dengan hasil
normospermia, akan tetapi suaminya sering mengeluhkan ejakulasi dini setiap kali
berhubungan intim. Pada pemeriksaan USG didapatkan folikel-folikel kecil >10 buah dengan
diameter kurang dari 1,8mm seperti gambaran roda pedati pada kedua ovarium. Kakak
sepupu Inadisarankan memperbaiki gaya hidup dengan cara berolahraga teratur dan
perbaikan diet untuk mengatasi penyakitnya sehingga memperbesar peluang untuk
kehamilan. Jika tidak berhasil dengan cara alami, kemungkinan dapat dipertimbangkan
Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB).
Bagaimana Saudara menjelaskan apa yang terjadi pada kedua pasangan suami istri tersebut?

I.

Identifikasi Terminologi
1. Kontrasepsi :
Upaya penundaan kehamilan atau suntik hormon estrogen dan progesteron.
2. Dismenore :
Nyeri haid dibagi atas primer dan sekunder karena peningkatan kadar prostaglandin dan
mengakibatkan gangguan aktivitas.
3. Kista endometriosis :
Jaringan yang tertanam di luar rahim.
4. Oligoasthenoteratozoospermia :
Sperma jumlah sedikit, gerakan sperma berkurang, bentuknya abnormal.
5. Spesialis Andrologi :
Bidang Ilmu yang mempelajari alat reproduksi pria baik normal maupun patologis.
6. Uji Patensi Tuba :
Pemeriksaan untuk melihat adanya hambatan/sumbatan pada tuba falopii.
7. Plano test :
Tes kehamilan untuk mendeteksi adanya HCG..
8. Normospermia :
Kualitas dan kuantitas spermanya normal.
9. Ejakulasi Dini :
Kondisi dimana air mani dikeluarkan dalam waktu singkat pada waktu hubungan seksual.
10. TRB :
Terapi bagi orang infertilitas untuk dapat hamil.

II. Rumusan Masalah


1. Mengapa Ina setelah 5 tahun menikah belum memiliki keturunan?

2. Apa saja Jenis Kontrasepsi?


3. Kenapa setelah kontrasepsi dihentikan tidak kunjung hamil?
4. Bagaimana mekanisme kontrasepsi KB suntik dapa mencegah kehamilan?
5. Apakah ada hubungan dismenore dengan kontrasepsi yang dipakai?
6. Hubungan dismenore dan kista endometriosis dengan tidak memiliki keturunan?
7. Kenapa bisa terjadi oligoasthenoteratozoospermia?
8. Kenapa dilakukan uji patensi tuba?
9. Kenapa Menstruasi tidak teratur?
10. Apakah ada hubungan keadaan Ina dengan kakak sepupunya?
11. Kapan Menstruasi dikatakan teratur?
12. Hubungan menstruasi tidak teratur dengan infertilitas kakak dan suaminya?
13. Apa hasil dari USG?
14. Apakah ejakulasi dini berpengaruh terhadap susah hamil?
15. Apa saja jenis-jenis dari teknologi reproduksi berbantu?
16. Apakah Ina masih bisa hamil?
17. Apa tatalaksana yang dilakukan terhadap kondisi Ina?
18. Bagaimana hubungan perbaikan gaya hidup dengan peluang kehamilan?

III.

Brainstorming
1. - Kista Endometriosis
: Ovulasi terganggu
- Pemakaian suntik KB : Terhambat masa subur
- Oligoasthenozoospermia
2. - Hormonal
: Suntik KB/Pil, Intrauterin (IUD)
- Non Hormonal
: Kondom
- Tanpa Alat /obat: Senggama terputus
- Dengan Alat
: Kondom, diafragma, KB suntik, implan
3. - Kista
- OAT
- Kontrasepsi

4. - Estrogen dan Progesteron : Feedback negatif terhadap GnRH Penurunan GnRH


menyebabkan penurunan LH dan FSH
Penurunan FSH Menghambat pematangan folikel
Penurunan LH Menghambat terjadinya ovulasi
5. Tidak ada hubungannya
6. - Dismenore Primer
- Dismenore Sekunder
7. - Radiasi

: Karena adanya Endometriosis


: Kelainan genetik sperma

- Stress
- Pola makan
8. Uji Patensi Tuba

: Ada sumbatan pada tuba Menghambat pergerakan sperma

9. Tidak terjadinya ovulasi/ovulasi tidak sesuai dengan siklus, perdarahan patologis


USG Polikistik Ovarium Sindrom : Perkembangan folikel terganggu
Amenore Sekunder

: Menstruasi 3 bulan sekali ganngguan saluran keluar,

gangguan kompartemen ovarium, gangguan hipotalamus, gangguan stress.


10. Ada hubungannya dengan riwayat dismenore
11. Siklus 25-32 hari
12. Ovulasi tidak teratur Tidak bisa menetukan waktu ovulasi yang tepat agar dapat hamil
Kekurangan Hormon
13. Polikistik Ovarium Sindrom karena penumpukan estrogen
14. - Bisa saja jumlah sperma yang dikeluarkan belum cukup, sperma belum matang
- Belum ada bukti ejakulasi dini terhadap infertilitas
- Hormon untuk membuka portio dihasilkan ketika gland bertemu portio
15. - IUI (Intrauterine Insemination)
- IVF (In Vitro Fertilization)
- ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)
16. Bisa, ovarium ada 2
Masih ada kemungkinan sperma yang normal
17. Pengangkatan kista dan konsultasi

18. Berhubungan dengan konsumsi makanan


Lemak yang banyak menyebabkan obesitas

IV.SKEMA

Suami Ina
OAT
Ina 28 tahun
Menikah 5
tahun

Kista
Endometriosis

Kontraspesi

Uji Patensi

Belum punya
keturunan

Dismenor

Kakak
Sepupunya tidak
memiliki
keturunan

Suami Kakak
sepupunya
normospermia
Ejakulasi

Amenore
Perbaikan gaya
Polikistik Ovarium
Sindrom
TRB

V. Learning Objective
1. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Amenore & Dismenore
2. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Kontrasepsi pada wanita & pria (Indikasi
3.
4.
5.
6.

Kontrasepsi dan Konseling KB)


Mahasiswa Mampu Menjelaskan Teknologi Reproduksi Berbabantu
Mahasiswa Mampu Menjelaskan Infertilitas pada pria & wanita
Mahasiswa Mampu Menjelaskan Perdarahan Uterus Abnormal
Mahasiswa Mampu Menjelaskan Gangguan seksual pada pria & wanita

VI. Belajar Mandiri

1. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Amenore & Dismenore


A. Dismenore
1 Definisi dismenore
Dismenore didefinisikan sebagai sensasi nyeri yang seperti kram pada abdomen
bawah sering bersamaan dengan gejala lain seperti keringat, takikardia, sakit
kepala, mual, muntah, diare dan tremor. Dismenore dapat mendahului menstruasi
beberapa hari atau dapat bersamaan dengan menstruasi, dan biasanya menghilang
dengan berhentinya menstruasi.
2

Klasifikasi dismenore
Dismenore dikalsifikasikan sebagai dismenore primer atau sekunder Dismenore
primer terjadi beberapa tahun pertama setelah menarke dan menjangkit lebih dari
50% remaja post-pubertas.

Dismenore primer
didefinisikan sebagai nyeri menstruasi pada wanita dengan anatomi pelvik yang
normal dan biasanya dimulai pada masa remaja. Nyeri ini dikarakteristikan
dengan nyeri pelvik seperti kram yang dimulai sesaat sebelum atau pada onset

dari menstruasi dan berakhir satu atau tiga hari setelahnya.


Dismenore sekunder
didefinisikan sebagai nyeri menstruasi yang diakibatkan adanya anatomi ataupun
makroskopik yang patologis dari pelvik, seperti yang terjadi pada wanita dengan

endometriosis atau pelvic inflammatory disease (PID) yang kronik. Kondisi yang
paling sering terjadi pada wanita usia 30-45 tahun
3

Gejala dismenore
Gejala utama dismenore adalah nyeri yang terkonsentrasi pada abdomen bawah,
regio umbilikal atau regio suprapubik dari abdomen. Dismenore juga sering
dirasakan pada abdomen kiri atau kanan. Nyeri ini dapat menjalar ke paha atau
punggung bawah. Gejala lain yang menyertai berupa mual dan muntah, diare,
sakit kepala, capek, pusing dan pada kasus berat nyeri menstruasi dapat
menyebabkan seseorang pingsan. Gejala dismenore biasanya terjadi beberapa jam
sebelum berawalnya menstruasi dan dapat berlanjut sampai beberapa hari.
4

Etiologi dan faktor resiko


Pada suatu studi ditemukan bahwa merokok, menarke awal (<12 tahun), siklus
menstruasi yang panjang, jumlah darah menstruasi yang berlebihan, usia kurang
dari 30 tahun, BMI yang rendah, nulliparitas, sindroma premenstrual, sterilisasi,
secara klinis diduga adanya pelvic inflammatory disease (PID), penyimpangan
seksual dan gejala psikologis berhubungan dengan dismenore.
faktor resiko untuk dismenore diantaranya

usia dibawah 20 tahun


nulliparitas
perdarahan menstruasi yang berat
usaha untuk menurunkan berat badan
merokok
depresi atau ansietas
gangguan jaringan social
obesitas
riwayat keluarga positif untuk dismenore
Endometriosis
Adenomyosis
leiomyomata (fibroids)
intrauterine device (IUD)
karsinoma endometrium
kista ovarium
malformasi pelvik congenital
stenosis serviks

Patofisiologi
Prostaglandin dikeluarkan selama menstruasi, karena luruhnya dinding
endometrium beserta isinya. Dismenore diduga akibat pengeluaran prostaglandin
di cairan menstruasi, yang mengakibatkan kontraksi uterus dan nyeri. Kadar
prostaglandin endometrium yang meningkat selama fase luteal dan menstruasi
menyebabkan kontraksi uterus. Selama periode menstruasi, kadar prostaglandin
meningkat, kemudian pada permulaan periode, kadar prostaglandin tetap tinggi,
dengan berlanjutnya masa menstruasi, kadar prostaglandin menurun, hal ini
menjelaskan mengapa nyeri cenderung berkurang setelah beberapa hari pertama
periode menstruasi. Vasopressin juga berperan pada peningkatan kontraktilitas
uterus dan menyebabkan nyeri iskemik sebagai akibat dari vasokonstriksi.
Adanya peningkatan kadar vasopressin telah dilaporkan terjadi pada wanita
dengan dismenore primer. Teori lain yang menyebabkan dismenore primer yaitu
dari faktor kejiwaan, faktor konstitusi dan faktor alergi. Dari faktor kejiwaan
dinyatakan bahwa gadis remaja yang secara emosional belum stabil jika tidak
mendapat penjelasan yang baik dan benar tentang menstruasi mudah untuk timbul
dismenore. Sedangkan dari factor konstitusi dinyatakan bahwa faktor ini dapat
menurunkan ketahanan terhadap nyeri, seperti kondisi fisik lemah, anemia,
penyakit menahun dan lain sebagainya. Teori dari faktor alergi dikemukakan
setelah adanya hubungan antara dismenore dengan urtikaria, migren atau asma
bronkiale

Pengobatan
Pengobatan dismenore diantaranya medikamentosa dan teknik lain untuk
mengurangi nyeri. Jika penyebab dismenore ditemukan, pengobatan difokuskan
pada menghilangkan penyebab. Pada beberapa kasus, mungkin diperlukan
pembedahan untuk menghilangkan penyebab atau mengurangi nyeri.

Medikamentosa
Obat seperti OAINS (obat anti-inflamasi non steroid) menghambat pembentukan
prostaglandin. Hal ini mengurangi rasa kram. Obat ini juga mencegah gejala
seperti mual dan diare. OAINS bekerja maksimal jika diberikan pada permulaan
timbulnya gejala dan biasanya dikonsumsi hanya selama 1 atau 2 hari.

Pengobatan jangka panjang dengan progesterone juga mengurangi nyeri


menstruasi.
b

Kontrasepsi oral
Kontrasepsi oral dosis rendah terbukti efektif mengurangi dismenore pada remaja
wanita pada studi terhadap76 pasien. Hormon-hormon pada kontrasepsi
membantu mengontrol pertumbuhan dinding uterus sehingga prostaglandin
sedikit dibentuk. Akibatnya kontraksi lebih sedikit, aliran darah lebih sedikit dan
nyeri berkurang.

Pembedahan

Terapi nutrisi
Perubahan pada pola makan atau diet dapat membantu mengurangi atau
mengobati nyeri menstruasi:
1) Peningkatan masukan makanan seperti serat, kalsium, makanan dari bahan
kedelai, buah-buahan dan sayuran.
2) Mengurangi konsumsi makanan yang memicu sindrom premenstrual seperti
kafein, garam dan gula.
3) Berhenti merokok karena memperburuk kram.
4) Mengkonsumsi suplemen multi-vitamin dan mineral yang mengandung kadar
magnesium dan vitamin B6 (piridoksin) yang tinggi setiap hari, dan suplemen
minyak ikan (fish oil).adanya peningkatan permeabilitas kapiler oleh vitamin C
akan meningkatkan efek vasodilatasi dari niasin. Vitamin E menghambat
pelepasan tromboksan A2 dan menstimulasi sintesis prostasiklin, sedangkan
magnesium mempunyai efek vasodilator dan efek merelaksasikan otot serta
menghambat sintesis prostaglandin F2 alfa (PGF2).

B. Amenorea
Amenore adalah tidak terjadinya atau abnormalitas siklus menstruasi seorang
wanita pada usia reproduktif. Secara umum amenore dibedakan menjadi 2 yaitu
amenore primer dan sekunder.
a

Amenore primer

adalah tidak terjadinya menstruasi pertama kali (menarche) pada usia 13 tahun
dengan pertumbuhan seks sekunder normal atau tidak terjadinya menarche dalam
waktu lima tahun setelah pertumbuhan payudara, apabila terjadi sebelum usia 10
tahun.
b

amenore sekunder
adalah berhentinya siklus menstruasi yang teratur selama 3 bulan atau
berhentinya siklus menstruasi yang tidak teratur selama 6 bulan.

2. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Kontrasepsi pada wanita & pria (Indikasi


Kontrasepsi dan Konseling KB)
A. Konsep Kontrasepsi
1. Definisi Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti melawan atau
mencegah dan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dengan
sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara
sel telur yang matang dengan sel sperma. Untuk itu, maka yang membutuhkan
kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan intim/seks dan
kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki
kehamilan. (Suratun, 2008)
2. Macam-macam Metoda Kontrasepsi
a. Kontrasepsi Sederhana
1) Kondom
Kondom merupakan selubung/sarung karet tipis yang dipasang pada
penis sebagai tempat penampungan sperma yang dikeluarkan pria pada
saat senggama sehingga tidak tercurah pada vagina. Cara kerja kondom
yaitu mencegah pertemuan ovum dan sperma atau mencegah
spermatozoa mencapai saluran genital wanita. Sekarang sudah ada jenis
kondom untuk wanita, angka kegagalan dari penggunaan kondom ini 521%.

2) Coitus Interuptus
Coitus interuptus atau senggama terputus adalah menghentikan
senggama dengan mencabut penis dari vagina pada saat suami
menjelang ejakulasi. Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan
alat/obat sehingga relatif sehat untuk digunakan wanita dibandingkan
dengan metode kontrasepsi lain, risiko kegagalan dari metode ini cukup
tinggi.
3) KB Alami
KB alami berdasarkan pada siklus masa subur dan tidak masa subur,
dasar utamanya yaitu saat terjadinya ovulasi. Untuk menentukan saat
ovulasi ada 3 cara, yaitu : metode kalender, suhu basal, dan metode
lendir serviks.
4) Diafragma
Diafragma merupakan suatu alat yang berfungsi untuk mencegah sperma
mencapai serviks sehingga sperma tidak memperoleh akses ke saluran
alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi). Angka kegagalan
diafragma 4-8% kehamilan.
5) Spermicida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat mematikan dan
menghentikan gerak atau melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina,
sehingga tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat berbentuk
tablet vagina, krim dan jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu KB. Cukup
efektif apabila dipakai dengan kontrasepsi lain seperti kondom dan
diafragma.
B. Kontrasepsi Hormonal
1) Pil KB
Suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk pil atau tablet yang berisi
gabungan hormon estrogen dan progesteron (Pil Kombinasi) atau hanya terdiri
dari hormon progesteron saja (Mini Pil). Cara kerja pil KB menekan ovulasi

untuk mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur, mengentalkan lendir
mulut rahim sehingga sperma sukar untuk masuk kedalam rahim, dan
menipiskan lapisan endometrium. Mini pil dapat dikonsumsi saat menyusui.
Efektifitas pil sangat tinggi, angka kegagalannya berkisar 1-8% untuk pil
kombinasi, dan 3-10% untuk mini pil.
2) Suntik KB
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3
bulan (DMPA). Cara kerjanya sama dengan pil KB. Efek sampingnya dapat
terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat, perubahan berat badan,
pemakaian jangka panjang bisa terjadi penurunan libido, dan densitas tulang.
3) Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit, biasanya
dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung
levonogestrel. Keuntungan dari metode implant ini antara lain tahan sampai 5
tahun, kesuburan akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya
sangat tinggi, angka kegagalannya 1-3%.
4) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / IUD
AKDR adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya
bermacam-macam, terdiri dari plastik (polyethyline), ada yang dililit tembaga
(Cu), dililit tembaga bercampur perak (Ag) dan ada pula yang batangnya hanya
berisi hormon progesteron. Cara kerjanya, meninggikan getaran saluran telur
sehingga pada waktu blastokista sampai ke rahim endometrium belum siap
menerima nidasi, menimbulkan reaksi mikro infeksi sehingga terjadi
penumpukan sel darah putih yang melarutkan blastokista, dan lilitan logam
menyebabkan reaksi anti fertilitas. Efektifitasnya tinggi, angka kegagalannya 1%.
C. Metoda Kontrasepsi Mantap (Kontap)
1) Tubektomi Suatu kontrasepsi permanen untuk mencegah keluarnya ovum
dengan cara mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba fallopi
(pembawa sel telur ke rahim), efektivitasnya mencapai 99 %.

2) Vasektomi Vasektomi merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk


menghalangi keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran
mani (vas defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat senggama,
efektifitasnya 99%. (Suratun, 2008)

3. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Teknologi Reproduksi Berbantu


Teknologi Reproduksi Berbantu adalah penanganan terhadap gamet (ovum, sperma),
atau embrio (konsepsi) sebagai upaya untuk mendapatkan kehamilan diluar cara
alami, tidak termasuk tindakan kloning atau duplikasi manusia TRB terbagi atas :
A. INTRA UTERINE INSEMINATION (IUI)
1. Pengertian
Intra uterine insemination (IUI) adalah cara memasukkan sel-sel sperma yang
telah di preparasi (pencucian sperma supaya lebih aktif) langsung kedalam
rongga rahim dengan suatu kateter pada saat menjelang ovulasi (masa subur).
2. Indikasi dilakukan IUI
a. Gangguan penyampaian sel-sel sperma kedalam vagina karena kerusakan
anatomis pada enis atau vagina, disfungsi seksual pada pria/wanita, atau
ejakulasi retrograd (tertahan).
b. Hasil uji pasca senggama yang buruk yaitu kemampuan sel-sel sperma untuk
hidup dan berenang didalam cairan rahim wanita kurang baik.
c. Gangguan faktor lendir dan leher rahim. Dengan IUI, sperma dikirim
langsung ke rahim tampa menyentuh vagina.
d.Berkurangnya

jumlah,

bentuk

dan

gerakan

sel-sel

sperma

(oligoasthenozoospermia) tingkat sedang. Dengan IUI, perjalanan sel sperma


melawati organ reproduksi wanita akan terbantu. Namun keberhasilan IUI
masih sangat ditentukan olehjumlah jumlah sperma (Idealnya masih di atas
20 juta sperma/ml).
e. Ganguan hormon seperti gangguan fase luteal atau sindroma LUF dan setelah
dicoba dengan pengobatan selama beberapa bulan tidak berhasil.
f. Endrometriosis minimal.

g. Infertilitas yang belum diketahiu sebabnya.


3. Syarat dilakukannya IUI
a. Pasangan suami istri yang sah dengan usia istri tidak lebih dari 45 tahun. Tapi
idealnya usia istri sebaiknya dibawah 35 tahun kemungkinan berhasilnya
lebih tinggi.
b. Tidak ada kontra indikasi untuk hamil.
c. Reproduksi istri dapat merespon terhadap obat pemicu ovulasi.
d. Kedua tubafalopi normal.
e. Bebas dari infeksi TORSH-KM, hepatitis, sifilis,dan HIV/AIDS
4. Pemeriksaan / Persiapan awal IUI
a. Anamnesis : data diripasien, riwayat kehamilan, siklus haid 6 bulan terakhir
b. Pemeriksaan ginekologis
c. Pemeriksaan USG transvaginal
d. Pemeriksaan HSG untuk melihat keadaan sel telur dan rahim
e. Pemeriksaan hormonal untuk melihat FSH, LH, Prolaktin, dan E2. Namun
biasanya ini dilakukan pada wanita dengan siklus haid tak teratur, amenorea,
dan kurang respon terhadap obat-obat pemicu ovulasi
f. Trial sonding (sondase rahim) untuk mengetahui arah panjang leher dan
rongga rahim
g. Analisa sperma pada suami (termasuk pemeriksaan antibodi sperma ) untuk
melihat apakah memungkinkan dilakukan IUI.
h. Pada istri diberi obat untuk memicu ovulasi (pemberian tergantung kasus)
i. Pasangan suami istri normal hanya diberi klomifen sitrat (seropene dll) mulai
hari ke 3-5 menstruasi selama 5 hari.
j. Pasangan suami istri dengan masalah seperti anovulasi atau gangguan hormon
diberi HMG atu FSH untuk memicu perkembangan sel telur. Dosis ini
umumnya diberikan pada hari ke 5-9.
k. Pemeriksaan USG vagunal unuk melihat perkembangan volikel
l. Setelah dilihat dan sel telur ukurannya sudah mencapai minimal 18 mm maka
akan diberikan suntikan HCG.
m. Pada hari perkiraan IUI, suami harus menahan ejakulasi setidaknya 2-3 hari
untuk mendapatkan jumlah dan kualitas yang baik pada sperma.

n. Minimal 2 jam sebelum IUI, cairan sperma sudah diberikan kelaboratorium


untuk dipreparasi (dicuci). Disarankan untuk dikeluarkan di klinik infertil
( ada tempat khususnya ). Proses preparasi atau pencucian tersebut dilakukan
untuk menghitung konsentrasi, mortilitas, dan morfologi sel sperma. Melalui
pencucian jumlah dan kualitas sperma akan sedikit meningkat.
o. Tahap pelaksanaan yaitu pemasukan sel-sel sperma yang telah di preparasi
kerongga rahim 36 jam setelah suntik HCG.
5. Pelaksanaan
a. Pasien berbaring di meja periksa khusus ( meja untuk pemeriksaan obstetric
dalam ibu hamil).
b. Pasien tidur dengan posisi pinggang lebih tinggi dari badan dan kepala. Kaki
dalam posisi terbuka dan tergantung pada penyangga kiri dan kanan.
c. Dokter memasukan spekulum kedalam vagina sampai tampak mulut rahim.
d. Sperma dimasukan melalui kateter ujung kateter dimasukan melalui cervix,
canalis servikalis sampai ke kavum uteri secara hati-hati untuk menghindari
cidera rongga rahim.
e. Setelah ujung kateterberada di rongga rahim paling luas sperma disemprotkan
dari dalam kateter lalu kateter yang kosong di tarik kembali.
f. Pasien berbaring dengan posisi sama selama kurang lebih 1 jam. lalu
diperbolehkan pulang (sebaiknya tetap dilakukan bedrest)

Tingkat keberhasilan IUI hanya sekitar 10% jika gagal lebih baik tidak diulang lebih
dari 1 kali lagi (jadi IUI hanya boleh dilakukan 2 kali) . hal ini didasarkan kepada
hasil penelitian bahwa IUI yang dilakukan 3 kali atau lebih akan tetap memberikan
kegagalan pada pelaksanaan selanjutnya.
B. IVF (InVitro Fertilization)
1

Pengertian
Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri
kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer
ke rahim istri.

IVF juga merupakan salah satu TRB yang fertilisasinya terjadinya diluar tubuh
wanita.
2. Prosedur pengambilan ovum dan proses pelaksanaannya
Yaitu ovum yang sudah di stimulasi sehingga mengahsilkan banyak ovum dari
jumlah normalnya melalui obat-obatan tertentu seprti clamifen, ovum yang berhasil
diproduksi kemudian dipindahkan dari ovarium dengan memasukan jarum melalui
dinding vagina (menggunakan USG sebagai pedoman), lalu ovum tersebut
(3-4 ) ovum dicampur dengan sperma pasangan (200.000 sperma motil) dalam
cawan peti.
Embrio dari hasil fertilisasi dimasukan kedalam uterus. Proses pemasukan 1-2 embrio
tersebut dilakukan dengan 6 hari setelah fertilisasi, dengan menggunakan kateter
tipis melalui serviks ke uterus ( biasanya menggunakan USG sebagai panduan). Oleh
sebab itu IV F tidak membutuhkan laparaskopi. Embrio yang dimasukan sebelum
dilakukan proses pemasukan embrio kedalam uterus wanita tersebut harus diberi
progesteron, sehingga endometriumnya menebal dan siap menerima implantasi
3. IVF dapat dilakukan jika:
a. Terdapat hambatan pada tuba falopi pasangan wanita / malah tidak memiliki
tuba valopi sama sekali atau
b. Jika terdapat abnomalitas ringan pada sperma pasangan pria.
c. Pada pasangan infertil yang belum diketahui penyebab dari infertilitasnya.
d. Serta pasangan yang telah mencoba IUI namun tetap belum berhasil.
Dibandingakan dengan cara TRB lain IVF lebih dahulu ditemukan sehingga lebih
banyak penelitian yang dilakukan pada metode IVF ini. Berdasarkan penelitian ini
diketahui sebagian besar anak lahir dari proses IVF ini sehat. Namun memiliki
riwayat kontak dengan pelayanan kesehatan. (rumah sakit, operasi atu intervensi
medis lainnya) lebih banyak dari pada anak yang lahir dengan kondisi alamiah.
4. Syarat-syarat IVF sebagai berikut :
a.

Telah dilakukan pengelolaan infertilitas selengkapnya.

b.

Terdapat indikasi yang sangat jelas.

c.

Memahami seluk beluk prosedur konsepsi buatan secara umum

d.

Mampu membiayai prosedur bayi tabung ini

C. ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)


ICSI merupakan salah satu TRB yangdapat mengatasi masalah infertilitas pria
seperti jumlah atau kemampuan motilitas sperma yang rendah vas deferens yang
rusak serta pria yang pernah melakukan vasektom.
Prosedur pengambilan ovum wanita pada ICSI sama dengan prosedur lainnya.
Namun tidak seperti metode lain yang membiarkan sperma menembus dinding
ovum dengan tenaga sendiri. Pada ICSI spermadisuntikan kedalam sitoplasma
ovum. Embrio yang dihasilkan kemudian dimasukan kedalam uterus wanita.
Karena metode ICSI ini memungkinkan suatu sperma abnormal untuk membuahi
ovum terdapat kekhawatiran bahwa anak yang dihasilkan melalui metode icsi ini
memiliki kesehatan atau perkembangan terganggu seperti BBLR, abnormalitas
kromosom Y , dan resiko keterbelakangan mental.

5. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Infertilitas pada pria & wanita


Infertilitas atau ketidaksuburan adalah suatu kondisi di mana pasangan suami istri
belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak
2-3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat
kontrasepsi dalam bentuk apapun. Secara medis infertilitas di bagi atas 2 yaitu :

1. Infertilitas primer berarti pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah
memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu
tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
2. Infertilitas sekunder berarti pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak
sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun
berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat
kontrasepsi dalamn bentuk apapun.
Sebanyak 60%-70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada tahun
pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun ke-2 dari
usia pernikahan. Sebanyak 10-20% sisanya akan memiliki anak pada tahun ke-3 atau
lebih atau tidak akan pernah memiliki anak (Djuwantono,2008).
Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertile, bukan tidak mungkin kondisi
infertile sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut
dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya
seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama
tersebut mengandung arti bahwa dua factor yang harus dipenuhi adalah: (1) suami
memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan
menyalurkan sel kelami pria (spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri dan (2)
istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan
sel kelamin wanita (sel telur atau ovum) yang dapat dibuahi oleh spermatozoa dan
memiliki rahim yang dapat menjadi tempat perkembangan janin, embrio, hingga bayi
berusia cukup bulan dan dilahirkan. Apabila salah satu dari dua factor yang telah
disebutkan tersebut tidak dimiliki oleh pasangan suami-istri, pasangan tersebut tidak
akan mampu memiliki anak.
Berdasarkan hal yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
pasangan suami-istri dianggap infertile apabila memenuhi syarat-syarat berikut
(Djuwantono,2008)
1. Pasangan tersebut berkeinginan untuk memiliki anak
2. Selama 1 tahun atau lebih berhubungan seks, istri belum mendapatkan kehamilan.
3. Frekuensi hubungan seks minimal 2-3 kali dalam setiap minggunya
4. Istri maupun suami tidak pernah menggunakan alat atau metode kontrasepsi, baik
kondom, obat-obatan, dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.

Hal-hal yang paling penting dalam berhasil atau tidaknya pengobatan infertilitas
antara lain (Permadi,2008)
1. Ketepatan diagnosis penyebab infertilitas
2. Kondisi penyakit yang menjadi penyebab infertilitas
3. Usia pasien
4. Ketepatan metode pengobatan
5. Kepatuhan pasien dalam berobat
A. FAKTOR PENYEBAB INFERTILITAS
Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:
1. Umur
Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini
dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah
masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan
untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase
menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang
ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya
tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di
sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi
pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti.
Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.
Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami
menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu
pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar
400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi
perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil
menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat
keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur
habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi.
Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau
USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.
2. Lama infertilitas

Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan
masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua,
penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis
pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.
3. Stress
Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan
hormon reproduksi.
4. Lingkungan
Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap,
silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional
(rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein
terkandung dalam kopi dan teh.
5. Hubungan Seksual
Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi,
posisi, dan melakukannya tidak pada masa subur.
6. Frekuensi
Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan
setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang
dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi
sperma dalam jumlah cukup dan matang.
7. Posisi
Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan
dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi.
Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan,
yang nantinya akan bertemu sel telur yang menunggu di saluran telur wanita.
Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi
(disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal
dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di
bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan,
setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam

bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk
bertemu sel telur.
8. Masa Subur
Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual
wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur
dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak
dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap
menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut
ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama
kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
9. Kondisi Reproduksi Wanita
Kelainan terbanyak pada organ reproduksi wanita penyebab infertilitas

adalah

endometriosis dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang
kejadiannya adalah mioma uteri, polip, kista, dan saluran telur tersumbat (bisa satu
atau dua yang tersumbat.) gangguan pada wanita
Masalah vagina
Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian adalah adanya

sumbatan

atau peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan


sumbatan anatomik dapat karena bawaan atau perolehan.

Masalah serviks
Masalah serviks yang berpotensi mengakibatkan vertilitas adalah terdapat berbagai
kelainan anatomi serviks yang berperan seperti terjadi cacat bawaan (atresia), polip
serviks, stenosis akibat trauma, peradangan dan sineksia.
Masalah uterus
Masalah penyebab infertilitas yang dapat terjadi di uterus adalah distorsia kavum uteri
karena sineksia, mioma atau polip, peradangan endometrium, dan gangguan
kontraksiuterus
B. PENYAKIT PENYEBAB INFERTILITAS
1. Endometriosis

Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan


paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain.
Endometriosisbisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium)
yang disebut jugaadenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur,
atau bahkan dalam rongga perut.Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri
yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim,
serta tentu saja infertilitas.
2. Infeksi Panggul
Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita
bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding
dalam panggul. Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke
bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih,
demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau. Infeksi panggul
memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan
panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
3. Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di
rahim.Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan
tengah, atau lapisan dalam rahim.Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan
infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan
endometrium). Mioma uteribiasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita
dalam usia reproduksi sehingga -saat menopause- mioma uteri akan mengecil atau
sembuh.
4. Polip
Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya
diakibatkan olehmioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi
rahim.Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan
sperma-sel telur dan lingkunganuterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah
tumbuh.
5. Saluran Telur yang

Tersumbat

Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel
telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.Pemeriksaan
yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG

(Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan rntgen (sinar X) untuk


melihat rahim dan saluran telur.
6. Sel Telur
Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya
merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan
puluh

persen

penyebab

gangguan

ovulasi

adalah

sindrom

ovarium

polikistik.Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid


yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc
dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu
semua, maka sebaiknya beliau memeriksakan diri ke dokter.
C. PENGOBATAN INFERTILITAS
1. Pemberian antibiotic
Pemberian antibiotik diberikan pada pria yang memiliki gangguan infeksi traktus
genitalis yang menyumbat vas deferens atau merusak jaringan testis.
2. Pembedahan
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada pasien mioma dan tuba yang
tersumbat.Tindakan pembedahan ini akan meninggalkan parut yang dapat
meyumbat atau menekuk tuba sehingga akhirnya memerlukan pembedahan untuk
mengatasinya.
3. Terapi
Terapi dapat dilakukan pada penderita endometriosis. Terapi endometriosis terdiri
dari menunggu sampai terjadi kehamila sendiri, pengobatan hormonal,atau
pembedahan konservatif.
4. Tindakan pembedahan/operasi Varikokel.
Tindakan yang saat ini dianggap paling tepat adalah dengan operasi berupa
pengikatan pembuluh darah yang melebar (varikokel) tersebut. Suatu penelitian
dengan pembanding menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66 % penderita
berupa peningkatan jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan dengan hanya 10
% pada kelompok yang tidak dioperasi.
5. Memberikan suplemen vitamin
Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya merupakan masalah bermakna karena
meliputi 20 % penderita. Penanggulangannya berupa pemberian beberapa macam
obat, yang dari pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan kualitas sperma. Usaha
menemukan penyebab di tingkat kromosom dan keberhasilan manipulasi genetik
tampaknya menjadi titik harapan di masa datang.

6. Tindakan

operasi

pada

penyumbatan

di

saluran

sperma

Bila sumbatan tidak begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat diusahakan
koreksinya. Pada operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada atau tidaknya
produksi sperma di buah zakar.
7. Menghentikan obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan sperma.

5. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Perdarahan Uterus Abnormal


A. Pengertian
Perdarahan Uterus Disfungional (PUD) adalah perdarahan uterus abnormal yang
didalam maupu diluar siklus haid,yang semata mata disebabkan gangguan
fungsional mekanisme kerja hipotalamus hipofisis ovarium endometrium
tanpa kelainan organik alat reproduksi PUD paling banyak dijumpai pada usia
perimenars dan perimenopause.(Manuaba,1998)
PUD adalah suatu keadaan yang ditandai perdarahan banyak,berulang dan
berlangsung lama yang berasal dari uterus namun bukan disebabkan oleh
penyakit

organ

dalam

panggul,penyakit

sistemik

ataupun

kehamilan.

(Rahman,2008)
PUD adalah perdarahan abnormal dari uterus, biasanya berhubungan dengan
kegagalan ovulasi, dengan tidak adanya lesi organik lainnya terdeteksi.
(Kadarusman,2005)
B. Penyebab
Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara menarche
dan menopause.tetapi,kelainan ini lebih sering dijumpai pada masa permulaan dan
pada masa akhir fungsi ovarium. Pada usia perimenars,penyebab paling mungkin
adalah faktor pembekuan darah dan gangguan psikis.
Pada masa pubertas sesudah menarche,perdarahan tidak normal disebabkan oleh
gangguan atau terlambat proses maturasi pada hipotalamus,dengan akibat bahwa
pembuatan releasing faktor dan hormon gonadotropin tidak sempurna. Pada wanita
dalam masa premenopause ,proses terhentinya proses ovarium tidak selalu berjalan
lancar.(Kadarusman,2005)
C. Tanda dan gejala
1. Perdarahan pervagina diantara siklus menstruasi
2. Siklus menstruasi yang abnormal
3. Siklus menstruasi yang bervariasi (biasanya kurang dari 28 hari diantara siklus
menstruasi )

4. Variable menstruasi flow ranging from scanty to profuse


5. Infertill
6. Mood yang berfluktuasi
7. Hot Flashes
8. Kekeringan vagina
9. Hirsutism
10. Nyeri
D. Komplikasi
1. Infertilitas akibat tidak adanya ovulasi
2. Anemia berat akibat perdarahan yang berlebihan dan lama
3. Pertumbuhan endometrium yang berlebihan akibat ketidakseimbangan
hormonal merupakan faktor penyebab kanker endometrium .(Rahman,2008)

6. Mahasiswa Mampu Menjelaskan Gangguan seksual pada pria & wanita


A. Gangguan seksual pada pria
Gangguan seksual atau biasa juga disebut disfungsi seksual adalah tidak
berfungsinya secara normal salah satu atau beberapa sistem dalam tubuh yang
menyebabkan ketidakpuasan saat melakukan aktifitas seksual, baik itu sendiri
maupun bersama pasangan, dimana ketidakpuasan tersebut dapat menurunkan
kualitas hidup yang bersangkutan dan bisa menjadi penyebab ketidakharmonisan
dalam rumah tangga.
Gangguan seksual pada umumnya disebabkan oleh dua hal yakni fisik dan
psikologi. Penyebab fisik adalah gangguan seks yang disebabkan karena adanya
penyakit, baik itu penyakit bawaan yang sifatnya permanen maupun penyakit yang
non-permanen, yang biasanya akan sembuh setelah diobati.
Gangguan seks karena penyebab psikologi adalah gangguan yang disebabkan oleh
faktor-faktor kejiwaan seperti cemas, takut, depresi, stres atau bahkan takut gagal
yang menyebabkan kemampuan seksual menurun drastis. Penanganan gangguan
seks jenis ini dilakukan dengan konseling di terapis seks dan kemungkinan
konsumsi beberapa jenis obat penenang (anti depresan).

Di dunia kedokteran, dikenal 4 jenis gangguan seksual yang paling sering dialami
kaum pria, yaitu gangguan libido, gangguan ereksi, gangguan orgasme dan
gangguan ejakulasi. Berikut ini penjelasan dari masing-masing gangguan seksual
pada pria tersebut.
1. GANGGUAN LIBIDO
Libido atau gairah seks adalah hasrat seksual yang muncul dalam bentuk energi
psikis dan emosional, yang dipengaruhi oleh hormon-hormon seks dan berkaitan
dengan insting biologis manusia untuk memiliki keturunan/bereproduksi. Jika
hasrat seksual tersebut tidak berada pada tingkat rata-rata maka berarti ada
gangguan libido. Libido yang terlalu rendah disebut low libido dan libido terlalu
tinggi disebut kecanduan seks, atau Nymphomaniac pada wanita.

Penyebab libido rendah bermacam-macam, bisa karena hormon testosteron yang


rendah, ada penyakit, pengaruh obat, kurang tidur dan karena stres. Untuk
mengobati hasrat seksual yang menurun anda perlu memperbaiki gaya hidup
dan memperhatikan pola makan anda. Hasrat seksual hanya muncul dari tubuh
yang sehat karena itu fokus utama agar libido normal kembali adalah dengan
menjaga kesehatan tubuh secara umum. Konsultasi ke dokter bisa
dipertimbangkan jika libido rendah yang diderita sudah sangat akut dan
berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Libido rendah adalah jenis gangguan seks yang paling sulit diatasi karena
penderita kadang merasa normal dan tidak memiliki keinginan untuk sembuh
karena tidak merasa sakit. Biasanya pria penderita libido rendah baru ke dokter
untuk berobat setelah istri menuntut atau ada kemungkinan rumah tangga jadi
retak.
2. GANGGUAN EREKSI (Disfungsi Ereksi)
Disfungsi ereksi atau impotensi adalah jenis keluhan pria dimana penis tidak
dapat ereksi full (minimal 70%) untuk bisa melakukan penetrasi vaginal atau
ketidakmampuan pria mempertahankan ereksinya tetap keras ketika hubungan
seks berlangsung. Para ahli menyepakati waktu 3 bulan berturut-turut tidak
dapat ereksi keras sebagai parameter disfungsi ereksi.

Gangguan ereksi terbagi 3 yaitu disfungsi ereksi ringan, sedang dan berat. Pada
kategori ringan, hubungan seks kadang masih berlangsung tetapi kadang juga
gagal. Beberapa kali gagal menyebabkan pikiran menjadi negatif dan
membuatnya bertambah sering gagal. Gangguan ereksi ringan yang jika tidak
segera diobati akan menjadi berat.
Disfungsi ereksi berat ditandai dengan ketidakmampuan penis ereksi di pagi
hari dan selalu gagal dalam semua kesempatan seks penetratif. Kondisi ini
biasanya berkaitan dengan penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah
seperti diabetes, stroke dan jantung. Dokter memiliki beberapa alternatif
pengobatan untuk menangani disfungsi ereksi yang berat, mulai dari vacuum,
pompa dan bahkan operasi.

Gangguan ereksi lain adalah Priapismus atau Priapism, kebalikan dari masalah
disfungsi ereksi Priapismus adalah sebuah keadaan dimana terjadi ereksi penis
secara terus menerus tanpa adanya rangsangan seksual. Ereksi bisa terjadi
selama berjam-jam dan berpotensi merusak jaringan penis secara permanen.
Priapismus terjadi akibat tertahannya darah dalam penis dalam waktu lama
menyebabkan penis terus mengalami ereksi. Priapismus biasanya bisa
disembuhkan dengan bantuan obat-obat penenang.

3. GANGGUAN ORGASME
Tidak bisa orgasme saat berhubungan seks bisa terjadi karena adanya hambatan
seksual, pengetahuan yang masih kurang dan juga faktor-faktor psikologis yang
mungkin saja timbul saat hubungan berlangsung seperti perasaan bersalah,
cemas, takut tidak bisa memuaskan, dan faktor trauma seksual di masa lalu.
Faktor lain yang mungkin menyebabkan munculnya gangguan orgasme adalah
kurangnya stimulasi yang diterima, baik itu stimulasi fisik maupun mental.
Kelebihan hormon serotonin juga menyebabkan tidak bisa orgasme. Beberapa
obat anti depresan, obat-obat anti ejakulasi dini memiliki efek samping yaitu
pria tidak bisa orgasme atau terlalu lama orgasme.

4. GANGGUAN EJAKULASI
Gangguan ejakulasi umumnya disebabkan oleh faktor psikis, meskipun juga
bisa terjadi karena penyebab fisik. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan
saraf dan pembuluh darah dapat menyebabkan timbulnya gangguan ejakulasi.
Menurut Dr. Nugroho Setiawan dari klinik Grasia, ada 5 jenis gangguan
ejakulasi yang umum terjadi pada pria, yaitu:
Anejakulasi, yaitu tidak berejakulasi tapi rasanya seperti sudah ejakulasi.
Ejakulasi retrogade, yaitu sperma masuk ke kantung kemih setelah ejakulasi
terjadi. Diketahui dengan memperhatikan air seni yang mengandung sperma.
Ejakulasi incomplete yaitu ejakulasi tidak lengkap, biasanya karena seks yang
terburu-buru dan perasaan tidak nyaman saat ejakulasi terjadi.
Ejakulasi dini, yaitu ejakulasi yang terjadi terlalu cepat. Beberapa ahli medis
memberi batasan hubungan seks yang selesai di bawah 2 menit termasuk
ejakulasi dini. Ada juga yang mengkategorikan pada kepuasan pasangan, jadi
jika pasangan sudah puas meski hubungan seks baru terjadi 30 detik, dan pria
berejakulasi setelah 1 menit maka si pria tidak termasuk ejakulasi dini.
Kesimpulannya ejakulasi dini adalah jika anda melakukan hubungan seks yang
terlalu cepat yang menyebabkan anda dan pasangan sama-sama tidak puas
karena masih ingin berlama-lama.
Ejakulasi terhambat, adalah kebalikan ejakulasi dini yaitu ejakulasi yang tidak
kunjung keluar meski hubungan seks sudah berlangsung lama. Hubungan seks
seperti ini sangat menyiksa, baik pihak wanita maupun pria.

B. Disfungsi Seksual Pada Wanita


Sebelum pembahasan ini menjabarkan lebih jauh, perlu sekiranya untuk mengetahui
latar belakang apa itu definisi dari disfungsi seksual pada wanita.

Definisi konvensional disfungsi seksual acapkali dikaitkan dengan keinginan, pikiran,


dan fantasi seksual. Namun setelah diadakan penelaahan lebih mendalam untuk
mengkaji secara komprehensif kasus disfungsi seksual pada wanita, definisi tesebut
kini telah berkembang
The American Academy of Family Physician (AAFP) mengklasifikasikan penyebab
faktor disfungsi seksual pada wanita menjadi:
Gangguan keinginan, gangguan stimulasi.
Gangguan orgasme.
Dan gangguan nyeri seksual (termasuk di dalamnya rasa nyeri saat melakukan
hubungan seksual atau akibat vaginismus.
Untuk mengeksplorasi masalah yang mendasari terjadinya disfungsi seksual pada
wanita, perlu ditinjau masing-masing dari sudut psikologis dan medis yang dapat
mempengaruhi. Diantaranya adalah:
Faktor Psikologis :
Konflik intrapersonal meliputi:
Keyakinan yang bersifat tabu, merasa terasing, konflik identitas seksual, rasa bersalah
(misalnya pada janda dengan pasangan baru).
Faktor sejarah meliputi:
Pengalaman dilecehkan (seksual, verbal, fisik), perkosaan, belum pernah mendapat
pengalaman seksual.
Konflik interpersonal meliputi:
Konflik hubungan, perselingkuhan, baru saja mengalami pelecehan secara fisik,
verbal atau seksual, libido seksual, perbedaan keinginan dengan pasangan, kurangnya
komunikasi seksual.
Faktor Depresi dalam hidup / Stress meliputi:
Kondisi keuangan, keluarga atau masalah pekerjaan, penyakit atau kematian anggota
keluarga, depresi

Faktor Medis :
Faktor fisiologis meliputi:
Menjelang masa menopause, terjadi perubahan pada organ-organ yang terlibat dalam
penerimaan stimulasi seksual.
Kondisi kulit meliputi:
Penurunan aktivitas kelenjar keringat dan kelenjar minyak, penurunan sensasi raba.
Kondisi payudara meliputi:
Penurunan lemak, kurang optimalnya pembengkakan payudara dan ereksi puting
payudara sebagai respon terhadap stimulasi seksual.
Vagina
Vagina yang memendek dan yang kehilangan elastisitasnya. Sekresi fisiologis
(lubrikasi) berkurang. Peningkatan pH vagina dari 3,5 menjadi 4,5 hingga > 5,
penipisan lapisan luar (epitel) dinding vagina.
Organ reproduksi bagian dalam
Kandung telur (ovarium) dan saluran telur (tuba faloppi) mengecil, folikel ovarium
tidak tumbuh dan berkembang, terbentuk jaringan parut/skar pada ovarium, berat
rahim menurun 30-50%, leher rahim mengecil, dan penurunan produksi lendir
Kandung kemih
Segitiga uretra dan kandung kemih mengecil.
Patologis (penyakit) :
Selain faktor fisiologis, disfungsi seksual juga dapat terjadi karena faktor patologis:
Peradangan pada vagina
Peradangan kandung kemih
Endometriosis (biasa ditandai dengan nyeri haid hebat)
Hipotiroid (kadar hormone tiroid rendah)

Diabetes mellitus (DM)


Multiple sclerosis
Muscular dystrophy
Tindakan pembedahan yang menimbulkan keluhan nyeri saat berhubungan seksual:
pengangkatan rahim, pengangkatan payudara, luka sayatan saat persalinan.
Kelainan lain pada organ seksual (massa/tumor, infeksi, atrofi, jaringan parut, dsb).
Terdapat juga obat-obatan tertentu yang dalam dosis tertentu dapat mengakibatkan
disfungsi seksual, yaitu:

Kontrasepsi oral
Antihipertensi
Antidepressant
Obat penenang