Anda di halaman 1dari 8

WASIAT WAJIBAH BAGI ANAK HASIL ZINA

1. LATAR BELAKANG
Salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dan
masyarakat pada umumnya adalah yang berkaitan dengan harta.
Manusia

dan

masyarakat,

apapun

alasannya,

tidak

mungkin

dilepaskan dari aspek tersebut. Harta, menjadi salah satu dari apaapa yang digeluti manusia. Oleh karena manusia dilengkapi hawa
nafsu, maka Al-Qur'an mengingatkan bahwa harta kekayaan adalah
fitnah atau cobaan. Amat banyak sekali masalah-masalah yang
timbul akibat dari harta tersebut.
Menurut ajaran Islam, pemilikan seseorang terhadap harta
tidak terlepas dari hubungannya dengan kepentingan-kepentingan
sosial. Oleh karena itu berkaitan dengan harta, Islam membawa
seperangkat hukum syari'at, yakni antara lain syari'at tentang
Kewarisan, Zakat, Infaq, Shadaqah, Hibah, Wakaf dan Wasiat.
Adanya syari'at Islam tentang Kewarisan, Zakat, Infaq, Shadaqah,
Hibah, Wakaf dan Wasiat merupakan hal yang tidak terpisahkan dari
iman dan akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa Islam telah siap
dengan sebuah konsep untuk menghadapi problema-problema
dalam masyarakat, terutama yang bersangkutan dengan masalah
kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
Wasiat adalah satu dari bentuk-bentuk penyerahan atau
pelepasan harta dalam syari'at Islam. Wasiat memiliki dasar hukum
yang sangat kuat dalam syari'at Islam.
Wasiat juga di sebut testamen adalah pernyataan kehendak
seseorang mengenai apa yang akan kelak di lakukan terhadap

hartanya setelah ia meninggal dunia kelak. Pelaksanaan wasiat ini


baru akan dilakukan setelah pewaris meninggal dunia.
Allah SWT berfirman :






Artinnya :
Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu
menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka
hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di
antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan
kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu
ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu
sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka
keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu raguragu: "(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah
ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang),
walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami
menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau
demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa".(Qs
5:106)1
Konsep wasiat harta dalam islam ditujukan kepada kerabat jauh
atau kerabat yang tak mendapat hak peroleh waris dan juga
terhadap orang lain. Dari pemahaman inilah berkembang teori
penalaran hukum atas hukum wasiat hingga sampai pada penalaran
tentang kedudukan hukumnya. Dan terakhir menyangkut wasiat
wajibah yaitu kapan wasiat wajibah terjadi dan mengapa ia mesti
1

Terjemah Kementrian Agama Republik Indonesia

diadakan. Atas dasar ini pula kompilasi hukum islam menunjuk


wasiat wajibah terjadi pada anak angkat bukan pada cucu seperti
yang ada di Mesir dan umum Negara mayoritas islam di timur
tengah. Sebab para cucu dalam kompilasi hukum islam telah
mendapat bagian mereka melewati waris penggantian.
Kompilasi
demikian

untuk

hukum

islah

telah

menempatkan

menjembatani

anak

angkat

kenyataan

hanya

dalam

perwasiatan harta bukan melewati hak kewarisan sepertis ebagian


pendapat yang mengambil dasar pada hukum adat.2
Dalam al-Quran kata wasiat dan yang seakar dengan itu
mempunyai

beberapa

arti

diantaranyaa

berarti

menetapkan 3

memerintahkan4 dan mensyariatkan5. Wasiat wajibah merupakan


kebijakan penguasa yang bersifat memaksa untuk memberikan
wasiat kepada orang tertentu dalam keadaan tertentu. 6 Wasiat
wajibah adalah suatu wasiat yang diperuntukan kepada ahli waris
atau kerabat yang tidak memperoleh bagian harta warisan dari
orang

yang

wafat,

karena

adanya

suatu

halangan

syara 7.

Suparman dalam bukunya Fiqh Mawaris (Hukum Kewarisan Islam),


mendefenisikan

wasiat

wajibah

sebagai

wasiat

Makalah Wasiat Wajibah, Naveda Della. Academia. Com

Q.S al-Anam 144

Q.S Lukman 31

Q.S an-Nisa 12

Fatchur Rahman, Ilmu Waris, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hal. 63.

Abdul Aziz Dahlan. Ensiklopedi Hukum Islam. (Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van
Hoeve, 2000), Jilid 6, hal.1930.

yang

pelaksanaannya tidak dipengaruhi atau tidak bergantung kepada


kemauan atau kehendak si yang meninggal dunia.8
Dalam wasiat orang yang memberi wasiat adalah orang yang
masih hidup dengan sukarela memberi wasiat, telah baligh, berakal,
jika diwasiatkan harta tidak boleh melebihi 1/3 harta waris 9, ahli
waris tidak berhak menerima harta wasiat, kecuali wasiat bukan
berupa harta10. Orang yang diberi wasiat masih hidup, ijab kabul
yang jelas, dan wasiat diberikan setelah yang berwasiat meninggal
dunia. Jika dilihat dari syarat-syarat tersebut maka mestilah wasiat
diberikan kepada yang berhak dan wajib akan tetapi dalam hal ini
ada satu hal yang harus dibahas mengenai wasiat wajibah terhadap
anak hasi zina yang tidak mempunyai nasab kepada ayahnya dan
hanya memiliki nasab kepada ibunya.
Wasiat wajibah yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam juga terdapat dalam
Undang-Undang Waris Mesir No. 71 Tahun 1946 Pasal 76-79 dan Undang-Undang Ahwal
Asy-Syakhsiyah di Suriah pasal 257. 11 Adapun wasiat wajibah yang diberlakukan di Mesir
adalah bagi mereka yang tidak mendapatkan warisan dari dzawil arham, seperti cucu laki-laki
garis perempuan dan cucu perempuan garis perempuan. 12 Sementara dalam Kompilasi
Hukum Islam Pasal 209 Ayat 2 disebutkan Terhadap anak angkat yang tidak menerima
8

Suparman, et.all,. Fiqih Mawaris (Hukum Kewarisan Islam). (Jakarta: Gaya Media
Pratama,1997), hal. 163.
9

Rasulullah saw bersabda, sepertiga dan sepertiga itu banyak dan


sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih
baik daripada engkou tinggalkan mereka dalam kondisi fakir meminta-minta
kepada orang lain (mengharapkan pemberian) tgan mereka.(H.R Bukhori)

10

Dalam pasal 195 ayat (3) dan (4) KHI menyatakan bahwa wasiat kepada
ahli waris hanya berlaku dila disetujui pleh semua ahli waris, penjelasan
ini dibuat secara lisan dihadapan dua orang saksi atau tertulis dihadapan
dua orang sasi atau dihadapan notaris.
11

Wahbah Al-Zuhayly, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adilatuhu, Dar Al-Fikr, 1989, hal. 121

warisan diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua
angkatnya .

Penerima wasiat bukanlah ahli waris, kecuali jika disetujui


oleh para ahli waris lainnya. Seorang dzimmi boleh berwasiat untuk
sesama dzimmi, juga untuk seorang Muslim, sesuai dengan firman
Allah:












Artinya:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku
adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena
agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
(Q.S. Al-Mumtahanah: 8)
Wasiat bagi anak yang masih dalam kandungan adalah sah
dengan syarat bahwa ia lahir dalam keadaan hidup, sebab wasiat
berlaku seperti berlakunya pewarisan. Dan menurut ijma, bayi
dalam kandungan berhak memperoleh warisan. Karena itu ia juga
berhak menerima wasiat. Lantas bagaimanakah apabila anak
tersebut hasil zina dan dilahirkan diluar perkawinan.
Dalam kaitanyya dengan ini maka nasab sangatlah penting
untuk dipahami. Nasab merupakan salah satu fondasi dasar yang
kokoh dalam membina kehidupan rumah tangga yang bersifat
mengikat antarpribadi berdasarkan kesatuan darah. Agar nasab
terjaga, nikah disyariatkan untuk menjaga kemurnian nasab.
12

Ahmad Rafiq, Fiqh Mawaris hal. 185.

Adapun

tujuan

melangsungkan

mendasar
hidup

dan

dari

sebuah

kehidupan

pernikahan

serta

keturunan

adalah
umat

manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Selain itu, dalam rangka
mengikat dan menjalin kasih sayang antaranggota keluarga, Allah
SWT menjadikan nasab sebagai sarana utamanya. Tidak hanya itu,
nasab merupakan karunia dan nikmat paling besar yang diturunkan
oleh-Nya. Nasab juga merupakan hak paling pertama yang harus
diterima oleh bayi agar terhindar dari kehinaan dan keterlantaran,
sebagaimana adanya kewajiban bagi orangtua untuk menjaga
anaknya

agar

tidak

diambil

oleh

orang

lain

yang

bukan

kerabatnya.13
Oleh karena itu nasab merupakan hal yaang sangat penting
dan berpengaruh terhadap kelangsungan generasi berikutnya
dalam menjaga harta (hifzhul maal) atau yang disebt dengan harta
warisan.

Salah

satunya

anak

adalah

ahli

waris

yang

akan

mendapatkan haknya setelah ditinggalkankan oleh orangtuanya,


hal ini di atur dalam al-quran surah suarah An-Nisa ayat 11-12 yang
berbunyi:


Artinya:
13

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/32649 diakses jam


01.01 am 29-12-16

Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka


untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki
sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika
anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi
mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak
perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo
harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal
itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak
mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja),
maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu
mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat
seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah
dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar
hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu
tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat
(banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Pasal 100 BAB XIV Tentang Pemeliharaan Anak menyebutkan:
Anak

yang

lahir

diluar

perkawinan

hanya

mempunyai

hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya.14


Pasal 209 Ayat 2 disebutkan:
Terhadap anak angkat yang tidak menerima warisan diberi wasiat wajibah
sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya .15
Dari keterangan diatas, UU mengenai wasiat lebih banyak membahas tentang anak
angkat yang wajib mendapatkan wasiat atau wasiat wajibah, lantas yang menjadi persoalan
bagaimanakah nasib anak yang putus dari nasab ayahnya dikarenakan akibat hubungan yang
tidak sah atau lahir diluar perkawinan atau hasil perzinahan.

14

Kompilasi Hukum Islam

15

Ibid

Oleh karena alasan itu, penulis terasa termotivasi untuk


menulis karya tulis ilmiah ini dengan judul Wasiat Wajibah Bagi
Anak Hasil Zina Karena, penulis ingin meneliti system hukumhukum yang ada diIndonesia tentang bagaimana hukuman bagi
anak hasil zina dalam memperoleh hak hartanya.
2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah Wasiat wajibah bagi anak hasil zina dalam
hukum positif yang berlaku di Indonesia dan hukum Islam.
3. METODE PENELITIAN
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan yaitu
hasil telaah kepustakaan dan survey internet,yang mana dalam
penulisan

penelitian

ini

penulis

menggunakan

buku-buku

perpustakaan dan hasil pencarian di internet sebagai bahan


referensi dalam penelitian ini.