Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar (80%) menyerang paru-paru.
Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang paru dan sebagian kecil organ
tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat khusus, yakni tahan terhadap asam pada
pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis. Sehingga
disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Sumber penularan adalah penderita TB
BTA positif pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).1
Pada tahun 2005, World Health Organizatio (WHO) memperkirakan
bahwa jumlah kasus TB baru terbesar terdapat di Asia Tenggara (34 persen
insiden TB secara global) termasuk Indonesia. Jumlah penderita diperkirakan
akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penderita acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS) oleh infeksi human immunodeficiency virus
(HIV). Satu hingga lima persen penderita TB, mengalami TB osteoartikular.
Separuh dari TB osteoartikular adalah Spondilitis TB.2
Indonesia menempati peringkat ketigasetelah India dan China sebagai
negaradengan populasi penderita TB terbanyak. Setidaknya hingga 20 persen
penderita TB paru akan mengalami penyebaran TB ekstra paru. TB ekstra paru
dapat berupa TB otak, gastro intestinal, ginjal, genital, kulit, getah bening,
osteoartikular, dan endometrial. Sebelas persen dari TB ekstraparu adalah TB
osteoartikular, dan kurang lebih setengah penderita TB osteoartikular mengalami
infeksi TB tulang belakang.2 Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada
539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif
sekitar 110 per 100.000 penduduk.3 Prevalensi nasional Tuberkulosis paru tahun
2007 adalah 0,99%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis
paru di atas prevalensi nasional dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
menduduki peringkat ke-2 dengan prevalensi 2,05% setelah papua barat dengan
prevalensi 2,55% sebagai propinsi dengan prevalensi TB tertinggi di Indonesia.
Prevalensi TB cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur, dan prevalensi
tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada
1

laki-laki dibandingkan perempuan, tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan


perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan
pendidikan tinggi.4 Di Provinsi NTT tahun 2007, TB terdeteksi dengan prevalensi
18 per 1000 tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota. Prevalensi kasus TB di
kota kupang tahun 2007 adalah 0,2%.5
Pada kasus-kasus pasien dengan tuberkulosa, keterlibatan tulang dan
sendi terjadi pada kurang lebih 10% kasus. Walaupun setiap tulang atau sendi
dapat terkena, akan tetapi tulang yang mempunyai fungsi untuk menahan beban
(weight bearing) dan mempunyai pergerakan yang cukup besar (mobile) lebih
sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain. Dari seluruh kasus tersebut,
tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang
(kurang lebih 50% kasus)(Gorse et al. 1983), diikuti kemudian oleh tulang
panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki, sedangkan tulang di lengan
dantangan jarang terkena. Area torako-lumbal terutama torakal bagian
bawah(umumnya T 10) dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling
seringterlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing
mencapaimaksimum, lalu dikuti dengan area servikal dan sakral. Defisit
neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis tuberkulosa. Di
negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab paling sering
untuk kondisi paraplegia non traumatik. Insidensi paraplegia, terjadi lebih tinggi
pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak. Hal ini berhubungan dengan
insidensi usia terjadinya infeksi tuberkulosapada tulang belakang, kecuali pada
dekade pertama dimana sangat jarang ditemukan keadaan ini.6

BAB II
2

LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien
Nama

: Tn. AL

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tanggal lahir/Umur

: 20 September 1945/70 tahun

Alamat

: Keutapang

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pekerja Bangunan

Suku

: Aceh

CM

: 1-06-50-55

Ruangan

: Geulima 2

Tanggal Masuk

: 20 September 2015

Tanggal Pemeriksaan

: 21 September 2015

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Sesak nafas
Keluhan Tambahan
Batuk, demam dan nyeri dada
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD dengan keluhan Sesak nafas yang dirasakan
memberat sejak 2 hari yang lalu. Sebelumnya pasien telah dirawat dirumah sakit
swasta di Banda Aceh dengan keluhan sesak nafas disertai demam Sejak 2 minggu
yang lalu namun dirasa semakin memberat sejak 2 hari terakhir. Demam terjadi
tanpa dipengaruhi cuaca dan turun setelah mengkonsumsi obat penurun demam.
Pasien juga mengeluhkan batuk dan nyeri pada dada bagian kanan. Pasien
mengalami penurunan nafsu makan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat hipertensi, sedangakan diabetes melitus tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada di keluarga yang mengalai sakit seperti ini.
Riwayat Penggunaan Obat

Pasien mengkonsumsi parasetamol ketika demam.


Riwayat Kebiasaan Sosial
Pasien merokok sudah 30 tahun.
2.3 Pemeriksaan Fisik
2.3.1 Pemeriksaan Tanda Vital (Vital Sign)
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang, tidak menggunakan otot bantu


napas

Kesadaran

: Compos mentis (E4M6V5)

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 120 x/menit

Pernapasan

: 28 x/menit

Suhu

: 36,70C

2.3.2 Status Generalis


1. Kulit
1) Warna

: Kecoklatan

2) Turgor

: Cepat kembali

3) Sianosis

: (-)

4) Ikterik

: (-)

5) Edema

: (-)

2. Kepala
1) Bentuk

: Onormocephall

2) Rambut

: Hitam, sukar dicabut

3) Wajah

: Simetris, edema (-), deformitas (-), pucat (-), keringat (-)

4) Mata

: Pucat (-/-), ikterik (-/-), sekret (-/-), reflek cahaya (+/+),

pupil isokor
5) Telinga

: Dalam batas mormal, serumen (-/-)

6) Hidung

: Sekret (-). Napas Cuping Hidung (-)

7) Mulut
7.1 Bibir

: Bibir kering (-), mukosa kering (-), sianosis (-)

7.2 Lidah

: Tremor (-). hiperemis (-)

7.3 Tonsil

: Hiperemis (-/-), T1-T1

3. Leher
1) Inspeksi

: Simetris, retraksi (-), jejas (-), tumor (-), deviasi trakea (-)

2) Palpasi

: Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid

(-),

distensi vena jugularis (+)


4. Toraks (anterior-posterior) Paru-paru
1) Inspeksi

: Normochest, pergerakan dinding dada (statis-dinamis)

simetris kanan dan kiri, retraksi supraklavikular-interkostal (-) ,


penggunaan otot bantu napas (-).
2) Palpasi

: Nyeri tekan (-), pergerakan dinding dada (statis-dinamis)

simetris kanan dan kiri, stem fremitus dada kiri normal dan dada kanan
meningkat.
3) Perkusi

: Sonor memendek pada dada sebelah kanan dan sonor pada

dada kiri.
4) Auskultasi

: Vesikuler menurun pada dada kanan , rhonki paru pada

lapangan paru disebelah kanan, wheezing tidak ada di kedua lapangan


paru.
5. Jantung
1) Inspeksi

: Pulsasi iktus kordis tidak terlihat

2) Palpasi

: Iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikula sinistra

3) Perkusi

: Batas jantung kanan pada ICS IV linea parasternal

dekstra, batas jantung kiri pada ICS V linea axilaris anterior sinistra, batas
atas jantung pada ICS III linea midklavikula sinistra.
4) Auskultasi

: Bunyi jantung I > bunyi jantung II regular, tidak terdapat

murmur.
6. Abdomen
1) Inspeksi

: Simetris, perut membesar.

2) Palpasi

: Nyeri tekan (-), Hepar/Lien/Renal tidak teraba

3) Perkusi

: Suara timpani di seluruh lapangan abdomen, peranjakan

batas paru-hati relatif-absolut sebesar dua jari, undulasi (-), shifting


dullness (-).
4) Auskultasi

: Peristaltik usus normal

7. Ekstremitas

1) Superior

: Tidak ada edema pada tangan kanan dan tangan kiri ,

tidak ada pucat dan kebiruan pada tangan kanan dan tangan kiri
2) Inferior

: Tidak ada edema pada kaki kanan dan kaki kiri , tidak

ada pucat dan kebiruan pada kaki kanan dan kaki kiri
2.4 Pemeriksaan Penunjang
1.Pemeriksaan Laboratorium ( 20 September 2015)
Pemeriksaan
Hemoglobin

16 September 2015
15,2

Rujukan
14,0-17,0 g/dL

Hematokrit

46

45-55 %

Eritrosit

5,8

4,7 6,1 106/mm3

Leukosit

18,0*

4,5-10,5 103/mm3

Trombosit
Eosinofil

313
0

150-450103/mm3
0-6 %

Basofil

0-2%

N. Batang

1*

2-6 %

N. Segmen

78*

50-70%

Limfosit

15*

20-40%

Monosit

2-8%

Natrium (Na)

140

135-145 mmol/L

Kalium (K)

3,5

3,5-4,5mmol/L

Klorida (Cl)

96

90-110mmol/L

ELEKTROLIT

Bilirubin total

0,3-1,2 mg/dL

Bilirubin direct

<0,52 mg/dL

Bilirubin indrec
AST/SGOT

56

<35 U/L

AST/SGPT

67

<45 U/L

Albumin

3.5-5.2 g/dL

Ureum

37

13-43 mg/dL

Creatinin

0,81

0,67-1,17 mg/dL

Asam urat

5,5

3,5- 7,2 mg/dl


6

2.5 Diagnosa Banding


- Pneumonia
- Penyakit PAru Obstruksi Kronik (PPOK)
- TB paru
2.6 Diagnosa Kerja
Pneumonia + Penyakit Paru Obstruktif Kronik
2.7 Penatalaksanaan
Tanggal 21 september 2015
1. O2 6 liter/menit
2. IFVD Ringer laktat 10 gtt/i
3. Nebule Ventolin ( salbutamol) /6jam
4. Nebule Pulmicort (budesonide)/12jam
5. Ranitidine/ 12 jam
6. Levlofoxasin 750 mg/24 jam
7. Codein Tab 20 mg/8 jam
8. Cetirizin tab/ 24 jam
2.8 Prognosis
Quo Ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo Ad functionam

: Dubia ad bonam

Quo Ad sanactionam : Dubia ad bonam


Follow up harian

Tanggal/Hari Rawatan
21/09/2015

Catatan
S/ Sesak nafas, batuk, demam, nyeri dada
O/ TD: 130/90 mmHg
HR: 90 x/i
RR: 30 x/i
T : 36,7C
PF/

Kepala : Normocephali
Mata : Konj.palp.inf pucat (-/-)
Skleraikterik (-/-)
T/H/M : dalam batas normal
Leher : pemb. KGB (-)
Thoraks:
I : Simetris, retraksi intercostal (-)
P : SF kiri > SF kanan
P : Sonor/Sonor memendek
A : Ves (+/+), Wh (-/-), Rh (+/-)
Cor : BJ I>BJ II, reg, bising (-)
Abdomen:
I : simetris
P : soepel, H/L/R tidak teraba
P : Timpani (+)
A : peristaltik usus (+)
Ektremitas : pucat (--/--),edema (--/--)
Ass/ Pneumonia + COPD + hipertensi
1. O2 6 liter/menit
2. IFVD Ringer laktat 10 gtt/i
3. Nebule Ventolin ( salbutamol) /6jam
4. Nebule Pulmicort (budesonide)/12jam
5. Ranitidine/ 12 jam
6. Levlofoxasin 750 mg/24 jam
7. Codein Tab 20 mg/8 jam
8. Cetirizin tab/ 24 jam
8

Tanggal/Hari Rawatan
22/09/2015

Catatan
S/ Sesak nafas, batuk
O/ TD: 120/80 mmHg
HR: 80 x/i
RR: 24 x/i
T : 36,3C
PF/
Kepala : Normocephali
Mata : Konj.palp.inf pucat (-/-)
Skleraikterik (-/-)
T/H/M : dalam batas normal
Leher : pemb. KGB (-)
Thoraks:
I : Simetris, retraksi intercostal (-)
P : SF kiri > SF kanan
P : Sonor/Sonor memendek
A : Ves (+/+), Wh (-/-), Rh (+/-)
Cor : BJ I>BJ II, reg, bising (-)
Abdomen:

I : simetris
P : soepel, H/L/R tidak teraba
P : Timpani (+)
A : peristaltik usus (+)
Ektremitas : pucat (--/--),edema (--/--)
Ass/ Pneumonia + COPD + hipertensi
1. O2 6 liter/menit
2. IFVD Ringer laktat 10 gtt/i
3. Nebule Ventolin ( salbutamol) /6jam
4. Nebule Pulmicort (budesonide)/12jam
5. Ranitidine/ 12 jam
6. Levlofoxasin 750 mg/24 jam
7. Codein Tab 20 mg/8 jam
8. Cetirizin tab/ 24 jam

Tanggal/Hari Rawatan
24/09/2015

Catatan
S/ Sesak nafas, batuk
O/ TD: 120/70 mmHg
HR: 80 x/i
RR: 24 x/i
T : 36,6C
PF/
Kepala : Normocephali
Mata : Konj.palp.inf pucat (-/-)

10

Skleraikterik (-/-)
T/H/M : dalam batas normal
Leher : pemb. KGB (-)
Thoraks:
I : Simetris, retraksi intercostal (-)
P : SF kiri > SF kanan
P : Sonor/Sonor memendek
A : Ves (+/+), Wh (-/-), Rh (+/-)
Cor : BJ I>BJ II, reg, bising (-)
Abdomen:
I : simetris
P : soepel, H/L/R tidak teraba
P : Timpani (+)
A : peristaltik usus (+)
Ektremitas : pucat (--/--),edema (--/--)
Ass/ Pneumonia + COPD + hipertensi
1. O2 6 liter/menit
2. IFVD Ringer laktat 10 gtt/I
3. Nebule Ventolin ( salbutamol) /6jam
4. Nebule Pulmicort (budesonide)/12jam
5. Ranitidine/ 12 jam
6. Levlofoxasin 750 mg/24 jam
7. Codein Tab 20 mg/8 jam
8. Cetirizin tab/ 24 jam

11

Tanggal/Hari Rawatan
28/09/2015

Catatan
S/ Sesak nafas berkurang, batuk berkurang
O/ TD: 110/80 mmHg
HR: 100 x/i
RR: 21 x/i
T : 36,6C
PF/
Kepala : Normocephali
Mata : Konj.palp.inf pucat (-/-)
Skleraikterik (-/-)
T/H/M : dalam batas normal
Leher : pemb. KGB (-)
Thoraks:
I : Simetris, retraksi intercostal (-)
P : SF kiri > SF kanan
P : Sonor/Sonor memendek
A : Ves (+/+), Wh (-/-), Rh (+/-)
Cor : BJ I>BJ II, reg, bising (-)
Abdomen:
I : simetris
P : soepel, H/L/R tidak teraba
P : Timpani (+)
A : peristaltik usus (+)
Ektremitas : pucat (--/--),edema (--/--)

12

Ass/ Pneumonia + COPD + hipertensi


1. O2 6 liter/menit
2. IFVD Ringer laktat 10 gtt/i
3. Nebule Ventolin ( salbutamol) /6jam
4. Nebule Pulmicort (budesonide)/12jam
5. Ranitidine/ 12 jam
6. Levlofoxasin 750 mg/24 jam
7. Codein Tab 20 mg/8 jam
8. Cetirizin tab/ 24 jam

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi Spondilitis Tuberculosa
Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah
peradangan granulomatosa yg bersifat kronis destruktif oleh Mycobacterium
tuberculosis. Dikenal pula dengan nama Potts disease of the spine atau
tuberculous vertebral osteomyelitis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada
vertebra T8 L3dan paling jarang pada vertebra C1. Spondilitis tuberkulosis
biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus vertebra.
Spondilitis tuberkulosa merupakan bentuk paling berbahaya dari
tuberculosis muskuloskeletal karena dapat menyebabkan destruksi tulang,
deformitas dan paraplegia. Kondisi umumnya melibatkan vertebra thorakal dan
lumbosakral. Vertebra thorakal bawah merupakan daerah paling banyak terlibat
(40-50%), dengan vertebra lumbal merupakan tempat kedua terbanyak (35-45%).
Sekitar 10% kasus melibatkan vertebra servikal.7
3.2 Epidemiologi Spondilitis Tuberculosa
Diperkirakan 1-2% dari total kasus tuberculosis dapat berkembang menjadi
Spondilitis Tuberculosis. Tuberkulosis pada tulang dan jaringan ikat adalah
kira kira 10% dari kasus Tuberculosis ekstra pulmonalis. Spondilitis
Tuberculosis adalah manifestasi umum dari tuberculosis musculoskeletal, kira
kira 40-50% total kasus.
Frekuensi kasus Spondilitis Tuberculosis berhubungan dengan factor
sosioekonomi dan juga riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi. Rasio
perbandingan spondilitis tuberculosis pada pria dan wanita adalah 1,5-2
berbanding dengan 1. Pada Negara berkembang, spondilitis tuberculosis adalah
lebih banyak ditemukan pada dewasa dan anak anak tua.
Kasus Spondilitis Tuberculosis banyak ditemukan di India, Cina, Indonesia,
Pakistan dan Bangladesh. Tetapi akhir akhir ini ditemukan peningkatan kasus di
Perserikatan Soviet dan sub Sahara Afrika sehubungan dengan penyebaran HIV.

3.3. Etiologi Spondilitis Tuberculosa

14

Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yg bersifat


acid-fastnon-motile ( tahan terhadap asam pada pewarnaan, sehingga sering
disebut juga sebagai Basil/bakteri Tahan Asam (BTA)) dan tidakdapat diwarnai
dengan baik melalui cara yg konvensional. Dipergunakan teknik Ziehl-Nielson
untuk memvisualisasikannya. Bakteri tumbuh secara lambat dalam media eggenriched dengan periode 6-8 minggu.
Produksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis dan
dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain. Spondilitis
tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh,
95 % disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik ( 2/3 dari tipe human dan
1/3 dari tipe bovin ) dan 5-10 % oleh mikobakterium tuberkulosa atipik.
Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal
bawah dan lumbal atas, sehingga diduga adanya infeksi sekunder dari suatu
tuberkulosa traktus urinarius, yg penyebarannya melalui pleksus Batson pada vena
paravertebralis. Meskipun menular, tetapi orang tertular tuberculosis tidak
semudah tertular flu.
Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yg cukup lama dan
intensif dengan sumber penyakit (penular). Menurut Mayoclinic, seseorang yg
kesehatan fisiknya baik, memerlukan kontak dengan penderita TB aktif
setidaknya 8 jam sehari selama 6 bulan, untuk dapat terinfeksi. Sementara masa
inkubasi TB sendiri, yaitu waktu yg diperlukan dari mula terinfeksi sampai
menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Bakteri TB akan cepat mati bila
terkena sinar matahari langsung. Tetapi dalam tempat yg lembab, gelap, dan pada
suhu kamar, kuman dapat bertahan hidup selama beberapa jam. Dalam tubuh,
kuman ini dapat tertidur lama (dorman) selama beberapa tahun.8
3.5. Patogenesis
Infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang selalu merupakan infeksi
sekunder. Berkembangnya kuman dalam tubuh tergantung pada keganasan kuman
dan ketahanan tubuhpenderita. Reaksi tubuh setelah terserang kuman tuberkulosis
dibagi menjadi lima stadium, yaitu:9
1. Stadium I (Implantasi)

15

Stadium ini terjadi awal, bila keganasan kuman lebih kuat dari daya tahan
tubuh. Pada umumnya terjadi pada daerah torakal atau torakolumbal soliter
atau beberapa level.
2. Stadium II (Destruksi awal)
Terjadi 3 6 minggu setelah implantasi. Mengenai diskus intervertebralis.
3. Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps)
Terjadi setelah 8-12 minggu dari stadium II. Bila stadium ini tidak diterapi
maka akan terjadi destruksi yang hebat dan kolaps dengan pembentukan
bahan-bahan pengejuan dan pus (cold abscess).
4. Stadium IV (Gangguan Neurologis)
Terjadinya komplikasi neurologis, dapat berupa gangguan motoris, sensoris
dan otonom.
5. Stadium V (Deformitas dan Akibat)
Biasanya terjadi 3-5 tahun setelah stadium I. Kiposis atau gibus tetap ada,
bahkan setelah terapi.

Gambar 1. Spondilitis tuberkulosis. A) Gibus thorakolumbar dengan hipertonus


erektor trunkus. Penderita menyandarkan diri pada ekstremitas atas;
B) 1. Rarefaksi bagian anterior vertebra mulai nampak penyempitan
diskus intervertebralis 2. Rarefaksi meluas, penyempitan jelas,
3. Kompresi vertebra bagian ventral, terjadinya gibus, kompresi
medulla spinalis.

16

Gambar 2. Pasien dengan gibus pada. Daerah yang biasanya terkena bagian
anterior

korpus

vertebra.

mengakibatkan kolaps

Destruksi

tulang

yang

progresif

vertebra dan kifosis. Kanal spinalis

menyempit karena adanya abses atau jaringan granulasi. Ini


mengakibatkan kompresi spinal cord dan defisit neurologis.
3.4. Faktor Risiko
Adapun faktor resiko dari penyakit ini antara lain: endemic tuberculosis,
kondisi sosial ekonomi yang kurang, infeksi HIV, tempat tinggal yang
padat, malnutrisi, alkoholisme, penggunaan obat-obatan kotikosteroid,
diabetes mellitus, dan gelandangan
3.5. Diagnosa
a. Onset penyakit biasanya beberapa bulan-tahun berupa kelemahan umum,
nafsu makan menurun, berat badan menurun, keringat malam hari, suhu
tubuh meningkat sedikit pada sore dan malam hari.
b. Nyeri pada punggung merupakan gejala awal dan sering ditemukan.
c. Gibus (deformitas pada punggung)
d. Cold abscess (pembengkakan setempat)
e. Abnormalitas neurologis terjadi pada 50% kasus dan meliputi kompresi
spinal cord berupa gangguan motoris, sensoris maupun autonom sesuai

17

dengan beratnya destruksi tulang belakang, kifosis dan abses yang


terbentuk.
f. Tuberkulosis vertebra servikal jarang ditemukan tetapi mempunyai
kondisi lebih serius karena adanya komplikasi neurologis berat. Kondisi
ini khususnya diikuti dengan nyeri dan kaku. Pasien dengan penyakit
vertebra servikal bawah ditemukan dengan disfagia atau stridor. Gejala
juga meliputi tortikolis, serak dan defisit neurologis.
g. Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan medula
spinalis yang menyebabkan kekakuan padagerakan berjalan dan nyeri.
h. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN dan
adanya batas defisit sensorik setinggi tempatgibbus atau lokalisasi nyeri
interkostal
3.5.1. Pemeriksaan fisik
Nyeri punggung belakang adalah keluhan yang paling awal, sering tidak
spesifik dan membuat diagnosis yang dini menjadi sulit. Maka dari itu, setiap
pasien TB paru dengan keluhan nyeri punggung harus dicurigai mengidap
spondilitis TB sebelum terbukti sebaliknya. Selain itu, dari anamnesis bisa
didapatkan adanya riwayat TB paru, atau riwayat gejala-gejala klasik (demam
lama, diaforesis nokturnal, batuk lama, penurunan berat badan) jika TB paru
belum ditegakkan sebelumnya. Demam lama merupakan keluhan yang paling
sering ditemukan namun cepat menghilang (satu hingga empat hari) jika diobati
secara adekuat.24 Paraparesis adalah gejala yang biasanya menjadi keluhan utama
yang membawa pasien datang mencari pengobatan. Gejala neurologis lainnya
yang mungkin: rasa kebas, gangguan defekasi dan miksi.
Pemeriksaan fisik umum dapat menunjukkan adanya fokus infeksi TB di
paru atau di tempat lain, meskipun pernah dilaporkan banyak spondilitis TB yang
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi TB. Pernapasan cepat dapat diakibatkan
oleh hambatan pengembangan volume paru oleh tulang belakang yang kifosis atau
infeksi paru oleh kuman TB. Ini ltrat paru akan terdengar sebagai ronkhi, kavitas
akan terdengar sebagai suara amforik atau bronkial dengan predileksi di apeks
paru. Kesegarisan (alignment) tulang belakang harus diperiksa secara seksama.
Infeksi TB spinal dapat menyebar membentuk abses paravertebra yang dapat
18

teraba, bahkan terlihat dari luar punggung berupa pembengkakan. Permukaan


kulit juga harus diperiksa secara teliti untuk mencari muara sinus/i stel hingga
regio gluteal dan di bawah inguinal (trigonum femorale). Tidak tertutup
kemungkinan abses terbentuk di anterior rongga dada atau abdomen. 10 Terjadinya
gangguan neurologis menanda-kan bahwa penyakit telah lanjut, meski masih
dapat ditangani. Pemeriksaan fisik neurologis yang teliti sangat penting untuk
menunjang diagnosis dini spondilitis TB. Pada pemeriksaan neurologis bisa
didapatkan gangguan fungsi motorik, sensorik, dan autonom. Kelumpuhan berupa
kelumpuhan

upper motor neuron (UMN), namun pada presentasi awal akan

didapatkan paralisis l aksid, baru setelahnya akan muncul spastisitas dan rel eks
patologis yang positif. Kelumpuhan lower motor neuron (LMN) mononeuropati
mungkin saja terjadi jika radiks spinalis anterior ikut terkompresi. Jika
kelumpuhan sudah lama, otot akan atroi , yang biasanya bilateral. Sensibilitas
dapat diperiksa pada tiap dermatom untuk protopatis (raba, nyeri, suhu),
dibandingkan ekstremitas atas dan bawah untuk proprioseptif (gerak, arah, rasa
getar, diskriminasi 2 titik). Evaluasi sekresi keringat rutin dikerjakan untukmenilai
fungsi saraf autonom.
3.5.2. Pemeriksaan Penunjang
a.
b.
c.
d.

Tuberkulin skin test : positif


Laju endap darah : meningkat
Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) : basil tahan asam (+)
X-ray : destruksi korpus vertebra bagian anterior, peningkatan wedging

anterior, dan kolaps korpus vertebra.


e. CT scan : menggambarkan tulang lebih detail dengan lesi lytic irregular,
kolaps

disk

dan

kerusakan

tulang,

resolusi

kontras

rendah

menggambarkan jaringan lunak lebih baik, khususnya daerah paraspinal,


mendeteksi lesi awal dan efektif untuk menggambarkan bentuk dan
kalsifikasi dari abses jaringan lunak
f. F. MRI : standar untuk mengevaluasi infeksi disk space dan paling
efektif dalam menunjukkan perluasan penyakit ke dalam jaringan lunak
dan penyebaran debris tuberkulosis di bawah ligamen longitudinalis
anterior dan posterior, paling efektif untuk menunjukkan kompresi
neural.

19

3.6. Penatalaksanaan
Dalam penatalaksanaan Spondilitis tuberculosa (Spondilitis TB) dilakukan
dengan beberapa cara salah satunya dengan dengan terapi sebagai berikut:
a. Terapi konservatif
- Medikamentosa : Rifampisin 10-20 mg/kg BB maksimum 600 mg/hari,
Etambutol 15 mg/kg BB maksimum 1200 mg/hari, Piridoksin 25
mg/kgBB, INH 5-10 mg/kgBB maksimum 300 mg/hari. Semua obat
-

diberikan sekali dalam sehari.


Imobilisasi
Pencegahan komplikasi imobilisasi lama : turning tiap 2 jam untuk
menghindari ulkus dekubitus, latihan luas gerak sendi untuk mencegah
kontraktur, latihan pernapasan untuk memperkuat otot-otot pernapasan
dan mencegah terjadinya orthostatik pneumonia, latihan penguatan otot
bladder training dan bowel training bila ada gangguan, mobilisasi

bertahap sesuai dengan perkembangan penyakit.


Program aktivitas hidup sehari-hari sesuai perkembangan penyakit

b. Operatif
Indikasi operasi apabila terdeteksi adanya abses paravertebra, deformitas
yang progresif, gejala penekanan pada sumsum tulang belakang, gangguan
fungsi paru yang progresif, kegagalan terapi konservatif dalam 3 bulan,
terjadi paraplegia dan spastisitas hebat yang tidak dapat dikontrol. Kontraindikasi operasi apabila terdapat kegagalan pernapasan dengan kelainan
jantung yang membahayakan operasi. Secara garis besar tindakan operatif
dibagi menjadi:
-

Debridement : Dilakukan evaluasi pus, bahan kaseous dan


sekuestra tanpa melakukan tindakan apapun pada tulangnya.

Operasi radikal : Eksisi dilakukan dari atas sampai ke bawah


meliputi seluruh tulang belakang yang rusak, hingga mencapai
daerah yang sehat dan posterior mencapai duramater. Dilanjutkan
dengan grafting yang diambil dari kosta atau tibia. Pada umumnya
meliputi anterior radical focal debridement dan stabilisasi dengan
instrumentasi.

20

c. Fisioterapi
Prinsip utama dari penanganan fisioterapi pada kasus ini adalah
memperkuat otot melalui reedukasi dan mereduksi spastisitas atau rigiditas.
Latihan yang direkomendasikan untuk rehabilitasi penyakit spondilitis TB
meliputi stretching, balance training, gait training dan latihan untuk
kelompok otot menggunakan teknik proprioceptive neuromuscular
facilitation (PNF).
-

Isometric exercise
Penyakit spondylitis TB biasanya menyebabkan gejala neurologis
yang dapat diperburuk dengan latihan tanpa pengawasan. Oleh
karena itu penting untuk meningkatkan latihan dengan hati-hati.
Fisioterapi biasanya memulai dengan latihan isometrik. Tujuan dari
latihan ini adalah untuk mengembangkan kekuatan otot melalui
kontraksi tanpa gerakan. Dengan cara ini, kekuatan otot secara
bertahap terbentuk dengan meminimalkan resiko kerusakan lebih
lanjut. Setelah memperoleh cukup kekuatan dan ketangkasan
dengan latihan non-gerakan, maka dilanjutkan untuk tahap
berikutnya.

Stretching exercise
Teknik ini harus diaplikasikan dengan sangat hati-hati pada pasien
spondylitis TB. Sebagai aturan umum, hanya latihan gentle
stretching yang diperbolehkan. Bahkan sebelum menerapkan tahap
latihan ini pasien harus dibantu dengan latihan passive movement
terebih dahulu. Juga penting untuk menjaga stabilitas tulang
belakang ketika melakukan gentle stretching exercise tersebut.

PNF techniques
Teknik ini pada awalnya dikembangkan untuk rehabilitasi pasien
post-paralysis. Keuntungan yang diperoleh dari PNF adalah
menstimulasi otot melalui aktifitas kelompok otot, penguluaran,
dan pemberian tahanan dengan cara melibatkan serangkaian
gerakan berulang.11

21

3.7. Prognosis
Spondilitis tuberculosa ini akan lebih baik bila ditangani lebih awal.
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan apabila dapat sembuh
secara spontan akan memberikan cacat pembengkokan pada tulang punggung.
Dengan jalan radikal operatif, penyakit ini dapat sembuh dalam waktusingkat
sekitar 6 bulan (Tachdjian, 2005). Prognosis dari spondilitis tuberkulosa
bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada tidaknya komplikasineurologis.
Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat, prognosisnya baik
walaupun tanpa operasi. Penyakitdapat kambuh apabila pengobatan tidak teratur
atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi resistensiterhadap
pengobatan (Lindsay, 2008). Untuk spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis
untuk kesembuhan saraf lebih baik sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir,
prognosis biasanya kurang baik.12

BAB IV
ANALISA KASUS

22

BAB V
KESIMPULAN
Spondilitis TB adalah merupakan masalah penyakit yang kompleks
dengan manifestasi klinis yang bervariasi. Pemeriksaan radiografi mutlak
diperlukan untuk menegakkan diagnosis serta follow up penyakit. Jika dalam
pemeriksaan didapatkan normal, salah satu pemeriksaan jaringan harus dikerjakan
untuk menyingkirkan spondilitis TB. Tata laksana ditentukan oleh ada tidaknya
paralisis atau paraplegi pada ekstremitas inferior sehingga pembedahan harus
segera dilakukan. Prognosis tergantung dari perjalanan penyakit, tata laksana dan
komplikasi yang menyertai.

23

DAFTAR PUSTAKA
1

Umar Fatimah,dkk.Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis.


Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI 2005.

Raka Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis


Tuberkulosis.CDK-208/ vol. 40 no. 9, th.2013.

Aditama Y. T., Kamao S., Baari C., Surya A. Tuberkulosis dan


Permasalahannya. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi
2 Cetakan Pertama. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta:
2009; 3-4.

Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007.


Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
RI. Jakarta : 2008; xiii

Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Provinsi Nusa


Tenggara Timur. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI. Jakarta : 2008; 80-81.

Amin S., Bahar A. Tuberkulosis Paru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid III. Edisi V. Jakarta Pusat : Interna Publishing: 2009; 2230.

Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (Tb).Menteri Kesehatan Republik


Indonesia.Nomor 364/menkes/sk/v/2009.

Pelatihan Penanggulangan Tuberkulosis bagi Tim DOTS Rumah Sakit.


Modul D Pengobatan Pasien TB di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia Direktorat Jenderal BIna Pelayanan Medik. Jakarta :
2009;2-8.

Moesbar Nazar. Infeksi Tuberkulosa pada Tulang Belakang.Sub


Departemen Orthopaedi dan Trauma Departemen Ilmu Bedah FKUSU/RSUP H. Adam Malik, Medan. Suplemen Majalah Kedokteran
Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006.

10 Hidalgo JA. Pott Disease. [Online]. 2008 Aug 29 [cited 2009 Aug 27];[17
screens]. Available from: URL:http:www.eMedicine.com/med/topic.
Dalam tinjauan pustaka Raka Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan
Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis.CDK-208/ vol. 40 no. 9,
th.2013.
11 Camillo FX. Infections of the Spine. Canale ST, Beaty JH, ed. Campbells
Operative Orthopaedics. edisi ke-11. 2008. vol. 2, hal. 2237.Dalam
tinjauan pustaka Raka Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan
Spondilitis Tuberkulosis.CDK-208/ vol. 40 no. 9, th.2013.
24

12 Nataprawira HM, Rahim AH, Dewi MM, Ismail Y. Comparation Between


Operative and Conservative Therapy in Spondylitiis Tuberculosis in Hasan
Sadikin Hospital Bandung. Majalah Kedokteran Indonesia. Vo.60.No.7
Juli 2010. Dalam tinjauan pustaka Raka Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan
Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis.CDK-208/ vol. 40 no. 9,
th.2013.

25