Anda di halaman 1dari 7

PEMBAGIAN KUH.

PERDATA

HUKUM PERKAWINAN
LANDASAN :

Buku Kesatu

: Tentang Orang.

UU NO. 1 Tahun 1974

Buku Kedua

: Tentang Kebendaan.

PP NO. 9 Tahun 1975

Buku Ketiga

: Tentang Perikatan.

Aturan Terkait lainnya


Untuk melihat persoalan perkawinan dan yang
berkaitan, patokannya adalah tanggal 1 Oktober
1975, saat UUP berlaku efektif.

Buku Keempat : Tentang Pembuktian


dan Daluwarsa.

KUH.Perdata memandang Hukum Keluarga itu


Bagian dari Hukum Orang

Hukum Orang dalam arti luas di dalamnya


termasuk Hukum Keluarga.
Dalam arti sempit Hukum Orang itu mengatur
al : tentang nama, domisili, nasionalitas, dan hak
hak kepribadian.
Hukum Keluarga adalah hukum yang mengatur
tentang hubungan hubungan yang muncul dari
hubungan kekeluargaan.

UUP diundangkan tgl. 2 Januari 1974.


PP 9 tahun 1975 diundangkan tgl.1 April 1975.
Hukum yang dipakai sebelum UUP berlaku
efektif adalah hukum-hukum lama
Hukum lama berarti terdapat Pluralitas Hukum

HUKUM LAMA YANG PLURAL :


1. Hukum Adat

Yang dinamakan keluarga pada umumnya


adalah mereka mereka yang mempunyai ikatan
satu sama lainnya atas dasar perkawinan dan
keturunan (hubungan darah).

2. Hukum Islam
3. KUH.Perdata
4. HOCI S. 1933 No. 74

Satu bagian yang amat penting dalam Hukum


Keluarga adalah Hukum Perkawinan.
Hukum Perkawinan dibagi dalam dua bagian,
yaitu : Hukum Perkawinan, dan Hukum Harta
Kekayaan Perkawinan.

HUBUNGAN
HK KELUARGA
PERKAWINAN HKP :

HK

5. GHR. S. 1898 No. 158.


6. Ketentuan lainnya.
Ketentuan-Ketentuan
Yang
Dalam PP No. 9 Tahun 1975 :

Belum

Diatur

Harta Benda Perkawinan.

Hak dan kewajiban antara orang tua dan

anak.

Kedudukan anak.

Perwalian.

Ketentuan-ketentuan yang belum diatur


dalam PP 9 tahun 1975 tsb menurut Surat
MA No. MA/Pemb/0807/75 tertanggal 20
Agustus 1975, dinyatakan belum berlaku
efektip.

Dengan demikian ketentuan yang belum


berlaku efektip dengan Pasal 66 UUP
diberlakukan Hukum Lama.

ASAS ASAS PERKAWINAN :

Tujuan perkawinan adalah membentuk


keluarga yang bahagia dan kekal.

Suatu perkawinan adalah sah bilamana


dilakukan menurut hukum masing masing
agamanya dan kepercayaannya itu; dan tiap
tiap
perkawinan harus dicatat menurut
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku.

Asas monogami tidak mutlak.

Prinsip bahwa calon suami isteri harus telah


masak jiwa raganya.

Prinsip mempersukar perceraian.

Hak dan kedudukan suami isteri seimbang.

Bidang perkawinan termasuk salah satu


bidang keperdataan yang mempunyai sifat
sensitif dan konflik, selain bidang tanah dan
waris.

UUP lebih merupakan produk politik.

Dalam
implementasinya
menimbulkan

sering

pro kontra di masyarakat.


Pengertian Perkawinan :
Pasal 1 :
Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara
seorang laki dan seorang perempuan untuk
membentuk keluarga yang bahagia serta kekal
berdasarkan Ketuhanan YME.
Pasal 1 tsb mengandung :
- Pengertian perkawinan.
- Tujuan ideal perkawinan
- Tidak ada perkawinan sejenis.
- Terkait dengan sisi kerokhaniaan.
Keabsahan Perkawinan
Pasal 2 :
(1). Perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut
hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaan
nya itu.
(2). Tiap tiap perkawinan dicatat menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Keabsahan perkawinan bisa dilihat dari :
A. Hukum Agama.
B. Hukum Negara / formal

SYARAT SYARAT PERKAWINAN


Syarat syarat Materiil :
Yaitu syarat-syarat mengenai orang-orang yg
hendak kawin dan izin-izin yang harus diberikan
oleh pihak ketiga.
Syarat Materiil Mutlak :
Syarat yg harus dipenuhi oleh setiap orang yg
hendak kawin dengan tidak memandang dengan
siapa ia hendak kawin
(Pasal, 6, 7, 11 UUP).
1. Perkawinan harus didasarkan persetujuan
kedua calon suami isteri.
2. Seoarang yg belum 21 tahun harus mendapat
ijin kedua orang tua.
3. Perkawinan diijinkan jika pria 19 th, wanita 16 th.
4. Bagi wanita yang putus perkawinan berlaku
waktu tunggu:
a. Karena kematian : 130 hr.
b. Karena perceraian : tiga kali suci, min 90 hr.
c. Dalam keadaan hamil, sampai melahirkan.
d. Karena cerai tanpa hubungan badan, tdk
ada waktu tunggu.
Syarat Materiil relatif :
Yaitu syarat-syarat bagi yang hendak dinikahi
(Pasal : 8, 9, 10 UUP).
1. Perkawinan dilarang antara dua orang yang :

a. Berhubungan darah dalam garis


keturunan atas bawah.
b. Berhubungan menyamping, antara
saudara, dengan saudara orang
tua, saudara neneknya.
c. Berhubugan semenda : mertua,
anak tiri, menantu, ibu-bapak tiri.
d. Berhubungan sesusuan : orang tua
susuan, anak susuan, dan bibi
susuan.
e. Berhubungan
saudara
dengan
isteri, atau sebagai bibi atau
kemenakan dari isteri, dalam hal
suami poligami.
f. Yang mempunyai hubungan yang
oleh agamanya atau peraturan lain
yang berlaku dilarang kawin.
2. Seorang yang masih terikat tali perkawinan
dengan orang tidak dapat kawin lagi, kecuali dalam
hal pasal 3 dan 4.

3. Apabila suami dan isteri yang telah cerai


kawin lagi dan bercerai lagi untuk yang kedua kali,
maka di antara mereka tidak boleh dilangsungkan
perkawinan lagi, sepanjang hukum agamanya tidak
menentukan lain.

Yang pro mendasarkan pada ketentuan


Pasal 66 UUP

KCS menolak melaksanakan perkawinan


campuran interreligius, dengan dasar :

Keppres No. 12 tahun 1983 dan Surat Edaran


Mendagri tgl. 17 April 1989.

Syarat Formil :
Merupakan formalitas-formalitas yang mendahului
perkawinannya (Pasal 3 9 PP 9/75) :

PERKAWINAN DI LUAR INDONESIA

Pasal 56 (1): perkawinan yg dilangsungkan


di luar Indonesia antara dua orang WNI atau
antara WNI dan WNA adl sah bilaman
dilakukan menurut hukum yg berlaku di
negara tempat pkw dilangsungkan, dan bagi
WNI tidak melanggar ketentuan undang
undang ini.

(2). Dalam waktu 1 tahun setelah suami


isteri itu kembali ke Indonesia, surat bukti
pkw mereka harus di daftarkan di kantor
pencatatan perkawinan tempat tinggal
mereka.

a. Pemberitahuan kepada pegawai pencatat


b. Penelitian syarat-syarat perkawinan.
c. Pengumuman tentang pemberitahuan untuk
melangsungkan perkawinan.
Pasal 57 UUP :
Perkawinan campuran yaitu perkawinan antara
dua orang yang di Indonesia tunduk kepada hukum
yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan
dan salah satu berkewarganegaraan Indonesia.

PENCEGAHAN DAN PEMBATALAN PERKAWINAN

Kesimpulan :
UUP menganut pengertian perkawinan campuran

Pencegahan Perkawinan diatur dalam Pasal


13 s/d 21 UUP. Merupakan filter kedua, stlh
filter pertama berupa penelitian syarat syarat
perkawinan.

Untuk
menghindari
ketidakpastian
pelaksanaan pkw ditentukan batasan
batasan
pihak
yg
bisa
melakukan
pencegahan perkawinan.

Pencegahan diajukan ke Pengadilan, dan


pemohon juga memberitahukan pada
Pegawai Pencatat, Pegawai Pencatat lalu
memberitahukan pada calom mempelai.

Pencegahan dapat dicabut dengan putusan


pengadilan atau ditarik kembali oleh
pemohon.

Perkawinan tidak dapat dilangsungkan


selama pencegahan belum dicabut.

internasional dalam arti sempit


Tidak mengatur perkawinan campuran
antaragama
(interreligius)

Pengertian tsb berbeda dengan pengertian


menurut menurut GHR S. 1898 No 158.

Pasal 1 :
Perkawinan campuran yaitu perkawinan antara
orang orang yang di Indonesia tunduk pada hukum
yang berlainan.

Hukum yang berlainan ini meliputi :

1. Perkawinan campuran antar warga negara


(internasional)
2. Perkawinan campuran antar golongan
(intergentil)
3. Perkawinan campuran antar tempat (interlocal)
4. Perkawinan
(interreligius)

campuran

antar

Perkawinan

Sama
dg
pencegahan
perkawinan,
pembatalan perkawinan dilakukan bila
syarat syarat perkawinan tidak dipenuhi.
Namun untuk pembatalan perkawinan masih
ada lagi, yaitu :

Perkawinan dilangsungkan dimuka pegawai


pencatat yg tidak sah, wali nikah yang tidak
sah, tanpa dihadiri dua orang saksi, juga

Perkawinan yang dilangsungkan dibawah


ancaman yang melanggar hukum atau

agama

Bagaimana praktik perkawinan campuran


interreligius di Indonesia ?
Yang
menolak
mendasarkan
ketentuan Pasal 2 jo 8 f UUP.

Pembatalan
Pasal 22 - 28 UUP

pada

terjadi salah sangka mengenai diri suami


atau isteri. Dalam hal ini jika ancaman itu
telah berhenti atau yang bersalah sangka
telah menyadari keadaannya, dan dalam
jangka waktu 6 bulan masih hidup sebagai
suami isteri dan tidak menggunakan haknya,
maka hak untuk mengajukan pembatalan
perkawinan gugur.

3. Timbulnya hubungan antara orang tua dan


anak.

Putusnya Perkawinan

Menimbulkan pewarisan

Akibat Pembatalan Perkawinan


Pasal 28 UUP :
(1). Batalnya suatu pkw dimulai setelah putusan
mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku
sejak perkawinan dilangsungkan.
(2). Keputusan tidak berlaku surut terhadap :
a. Anak anak yang dilahirkan dari
perkawinan
b. Suami atau isteri yang bertindak dengan
iktikat baik, kecuali terhadap harta bersama bila
pembatalan
perkawinan
didasarkan
adanya
perkawinan lain yang lebih dahulu,

1. Karena Kematian :

2. Karena Perceraian :
Menimbulkan perwalian dan pembagian harta
kekayaan perkawinan

3. Akibat Keputusan Pengadilan :


Dalam hal ini adalah pembatalan perkawinan,
perkawinan dianggap tidak pernah ada

Perceraian
Perceraian hanya dapat dilakukan melalui sidang
pengadilan.

POLIGAMI

Hal yang perlu diperhatikan dalam perceraian :

Salah satu asas hukum pkw adl monogami tdk


mutlakdengan demikian dalam UU ini dimungkinkan
adanya poligami.

- Alasan (Pasal 19 PP & Pasal 116 KHI)

Poligami diatur dalam Pasal 3 s/d 5 UUP.


Pasal 3 UUP, intinya : pada dasarnya seorang pria
hanya boleh beristeri seorang dan seorang wanita
hanya boleh bersuami se- orang. Pengadilan dapat
mengijinkan poligami jika dikehendaki pihak pihak
yang berkepentingan.
Pasal 4 ayat (2) jo Pasal 41 (a) PP No. 9 tahun
1975
mengatur alasan poligami, yaitu :
1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sbg
seorang isteri.
2. Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang
tidak dapat disembuhkan.

- Tata Cara
- Kewenangan pengadilan (perpindahan agama)
- Kedudukan laki laki & perempuan (jender)
KEDUDUKAN
(Pasal 42-44 UUP)

ANAK

Pasal 42 UUP : anak yang sah adalah anak yang


dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan
yang sah.
Pasal 43 UUP
(1). Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya
mempunyai hubungan perdata dengan ibunya
dan keluarga ibunya.
(2). Kedudukan anak tsb ayat 1 akan diatur dalam
PP

3. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.


Alasan di atas bersifat alternatif

Putusan MK No. 46/PUU-VIII/2010 :

Akibat Perkawinan :

Anak yang dilahirkan di luar perkawinan

Perkawinan yang sah menurut hukum akan


menimbulkan akibat sbb :

mempunyai hubungan perdata dengan

1. Timbulnya hubungan antara suami isteri.


2. Timbulnya harta benda dalam perkawinan.

ibunya dan keluarga ibunya serta dengan


laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibukti
kan berdasarkan ilmu pengetahuan dan

teknologi dan/alat bukti lain menurut hukum

keluarga baik keluarga sedarah maupun semenda.

mempunyai hubungan darah termasuk

Untuk menghitung derajad patokannya adalah :

hubungan perdata dengan keluarga ayahnya.

1. Cari titik pangkal yang sama


2. Setiap kelahiran dihitung satu derajad

Pengakuan Anak Luar Kawin


Dengan pengakuan menimbulkan adanya
hubungan perdata antara sianak dan bapak yang
mengakui.
Pengakuan bisa dilakukan dengan 4 jalan:
1. Dengan mencatat pengakuan dalam akta
kelahiran si anak.
2. Dengan akta otentik.

Antara P dengan A2 atau B2 merupakan


keluarga
garis lurus ke bawah dalam derajad ke 3.
Antara A1 dengan B1 (saudara sepupu) adalah
keluarga sedarah garis menyamping dalam derajad
ke 4.

3. Dalam akta perkawinan orang tuanya.


4. Dgn membuat sebuah akta dihadapan Peg
KCS
Pengesahan Anak Luar Kawin :
Pengesahan seorang anak luar kawin adalah alat
hukum untuk memberi kepada anak itu kedudukan
(status) sebagai anak sah.
Pengesahan terjadi dengan dilangsungkan
perkawinan orang tuan si anak, atau dengan surat
pengesahan; setelah sianak diakui lebih dahulu.
Pasal 272 : anak luar kawin akan menjadi anak
sah apabila orang tuanya kawin da sebelum mereka
kawin, mereka telah mengakui anaknya lebih
dahulu.

Harta Kekayaan Perkawinan Menurut UUP


- Harta benda perkawinan dalam UUP tidak
diatur lebih lanjut dalam PP nya.
- Pasal 37 UUP menunjuk hukum lama dalam
penyelesian pembagian harta perkawinan akibat
perceraian.
Harta bersama dalam UUP hakikatnya
mengambil operkonsep harta perkawinan yang ada
dalam hukum adat khususnya yang bersifat
parental.
- Dalam praktik penerapan UUP bagi WNI Asli
tidak menimbulkan masalah.
Pasal 35 UUP :

Perderajadan Dalam Kekerabatan


Perderajadan dalam kekerabatan merupakan
perhitungan derajad untuk menetukan sejauh
mana
hubungan antara seorang dengan orang lain
dalam

(1). Harta benda yang diperoleh selama


perkawinan menjadi harta bersama.
(2). Harta bawaan dari masing masing suami &
isteri dan harta benda yang diperoleh masing
masing sebagai hadiah atau warisan, adalah
dibawah penguasaan masing masing sepanjang
para pihak tidak menentukan lain.

Harta Bersama :

Adalah harta yang diperoleh selama perkawinan.


Jadi yang menjadi dasar adalah harta yang
diperoleh sejak tanggal perkawinan sampai
putusnya perkawinan.

Komponen harta bersama adalah :

a. Harta yang diperoleh suami.


b. Harta yang diperoleh isteri.

Perjanjian Kawin Menurut Pasal 29 UUP :


(1). Pada waktu atau sebelum perkawinan
dilangsungkan,
kedua pihak atas persetujuan
bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang
yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan,
setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak
ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
(2).
Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan
bilamana melanggar batas batas hukum, agama
dan kesusilaan.

c. Hasil dari harta pribadi.

Harta Pribadi :

Merupakan harta bawaan masing masing


suami atau isteri dan harta benda yang
diperoleh karena hadiah atau warisan.

Jadi meskipun harta itu diperoleh setelah


perkawinan, tetapi jika berupa hadiah atau
warisan, maka harta tsb tetap menjadi milik
pribadi sipenerima.

Terhadap harta pribadi UUP secara otomatis


telah memberikan perlindungan hukum.

(3). Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan


dilangsungkan.
(4). Selama perkawinan berlangsung perjanjian
tsb tidak dapat diubah, kecuali bila dari kedua
belah pihak ada perjanjian untuk mengubahdan
perubahan itu tidak merugikan pihak ketiga.

Penjelasan Pasal 29 UUP :

Selalu dalam posisi nol

Yang dimaksud dengan perjanjian dalam pasal


ini tidak termasuk taklik talak. Dengan demikian apa
yang dimaksud perjanjian kawin yang dimaksud
UUP ?

Tidak mungkin plus

Harta Perkawinan Menurut KUH.Perdata

Tidak mungkin minus

Menurut KUH.Perdata calon suami isteri


mempunyai kebebasan yang besar sekali untuk
menentukan sendiri akibat akibat perkawinannya
mengenai harta benda mereka.

Posisi Harta Pada Saat Perkawinan :

Pasal 36 UUP :
(1).. Mengenai harta bersama, suami atau isteri
dapat bertindak atas persetujuan kedua
belah pihak.
(2).

Pasal 119 KUH.Perdata :

Mengenai harta bawaan masing masing,


suami dan isteri mempunyai hak sepenuh
nya untuk melakukan perbuatan hukum
mengenai harta bendanya.

Bentuk
Penyimpangan
Perkawinan Menurut UU

Dalam UUP
isteri dapat

Terhadap

dimungkinkan

Harta

calon suami

mengatur sendiri harta kekayaan perkawinan


mereka menyimpang dari ketentuan yang ada
menurut UU.

Penyimpangan ini bisa dilakukan dengan


membuat perjanjian kawin.

Apabila calon suami dan isteri sebelum


perkawinan dilangsungkan, tidak dibuat perjanjian
kawin, dalam mana persatuan (campuran) harta
kekayaan dibatasi atau ditiadakan sama sekali,
maka demi hukum akan ada persatuan
(campuran) bulat antara harta kekayaan suami dan
isteri, baik yang mereka bawa dalam perkawinan,
maupun yang mereka akan peroleh sepanjang
perkawinan.

PERSATUAN HARTA KEKAYAAN BULAT


Persatuan harta kekayaan secara bulat ini terjadi
jika sebelum perkawinan dilangsungkan calon suami
isteri tidak dibuat perjanjian kawin.
Persatuan bulat ini terjadi demi hukum dan
berlaku sejak mulainya perkawinan, dan setelah itu
tidak boleh dilakukan perubahan meskipun atas
persetujuan suami isteri.

Persatuan bulat harta kekayaan suami isteri


merupakan akibat perkawinan yang paling
luas terhadap harta kekayaan mereka.

Hal ini karena dari yang semula merupakan


harta masing masing suami isteri sekarang
menjadi harta bersama, dan tidak diperlukan
penyerahan, balik nama atau perbuatan
hukum lainnya.

Sifat persatuan adalah


milik bersama
terikat (gebonden mede eigendom), yaitu
suatu bentuk milik bersama dimana suami
isteri secara bersama sama menjadi pemilik
harta persatuan perkawinan.

Hal ini berbeda dengan milik bersama


bebas (vrije mede eigendom). Dalam hal ini
beberapa orang secara bersama sama
menjadi pemilik suatu barang.

Bagian Bagian Persatuan Bulat


Persatuan harta kekayaan itu meliputi : segala
laba laba (aktiva) dan beban beban (pasiva) yang
dibawa dalam perkawinan maupun yang
diperoleh sepanjang perkawinan.