Anda di halaman 1dari 29

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan

merupakan

hasil

penginderaan

manusia,

atau

hasil

tahu

seseorang terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera

manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman diri sendiri

maupun orang lain, media massa maupun lingkungan (Notoadmojo, 2010).

Menurut Wawan & Dewi (2010) pengetahuan merupakan domain yang sangat

penting

untuk

terbentuknya

tindakan

seseorang

(overt

behavior).

Pengetahuan

dipengaruhi oleh pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan

pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi, maka orang

tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan,

bahwa bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan

rendah pula. Hal ini mengingat

bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak

diperoleh melalui pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu

objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini

akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang

diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu.

2.1.1 Tingkat Pengetahuan

Menurut

Notoadmodjo

(2010)

pengetahuan

seseorang

terhadap

objek

mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi

dalam 6 (enam) tingkatan, yaitu :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam tingkatan ini adalah mengingat kembali

terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkatan

pengetahuan yang paling rendah.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui yang dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau pada kondisi yang sebenarnya.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu objek ke

dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi

tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis

menunjukkan

pada

suatu

komponen

atau

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berk2aitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoadmodjo, 2007).

2.1.2 Cara Memperoleh Pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari Notoadmodjo (2007) adalah

sebagai berikut :

1. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

a. Cara coba salah (Trial and Error)

Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan bahkan mungkin

sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan

menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila

kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain

sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.

b. Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber

pengetahuan

cara

ini

dapat

berupa

pemimpin-pimpinan

masyarakat

baik

formal

atau

informal,

ahli

agama,

pemegang

pemerintah,

dan

berbagai

prinsip

orang

lain

yang

menerima

mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas,

tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik

berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri.

c. Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai Upaya memperoleh

pengetahuan

dengan

cara

mengulang

kembali

pengalaman

yang

pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi

masa lalu.

2. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut

metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon

(1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya

lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan

penelitian ilmiah (Notoadmojo, 2007)

2.1.3 Proses Perilaku Tahu

Menurut Rogers yang dikutip oleh Notoadmodjo (2007), perilaku adalah

semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati langsung dari maupun

tidak apat diamati oleh pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru di

dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :

1. Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam

arti mengetahui

terlebih dahulu terhadap stimulus (objek)

2. Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian

dan tertarik

pada stimulus.

3. Evaluation

(menimbang-nimbang)

individu

akan

mempertimbangkan

baik

buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap

responden sudah lebih baik lagi.

4. Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru

5. Adaption, dan sikapnya terhadap stimulus

Pada penelitian selanjutnya, menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku

yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang

positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (ling lasting) namun sebaliknya

jika perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku

tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia dapat

dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek fisik, psikis dan sosial yang secara terinci

merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi,

persepsi,

sikap

dan

sebagainya

yang

ditentukan

dan

dipengaruhi

oleh

faktor

pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial budaya.

2.1.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengetahuan

1. Faktor Internal

a.

Pendidikan

Pendidikan

berarti

bimbingan

yang

diberikan

seseorang

terhadap

perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan

manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan

dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya

hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip Notoadmojo (2007), pendidikan dapat

mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup

terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan

(Nursalam, 2003) pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin

mudah menerima informasi.

b. Pekerjaan

Menurut

Thomas

yang

dikutip

oleh

Nursalam

(2003),

pekerjaan

adalah

kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan

kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupakan cara mencari nafkah yang, berulang dan banyak tantangan.

Sedangkan

bekerja

umumnya

merupakan

kegiatan

yang

menyita

waktu.

Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

c. Umur

Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2003), usia adalah umur

individu

yang

terhitung

mulai

saat

dilahirkan

sampai

berulang

tahun.

Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur, tingkat kematangan

dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari

segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari

orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman

dan kematangan jiwa

2. Faktor Eksternal

a. Faktor Lingkungan

Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam lingkungan merupakan

seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat

mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

b. Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari

sikap dalam menerima informasi.

c. Informasi

Pengetahuan diperoleh melalui informasi yaitu kenyataan (fakta) dan melihat

dan mendengar sendiri. Seseorang yang yang mempunyai sumber informasi

yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas.

2.2 Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap

suatu stimulus atau objek (Notoadmodjo, 2007).

Dalam bagian lain Notoadmodjo (2007) mengutip pendapat Allport (1954)

menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni :

a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.

b. Kehidupan emosional dan evaluasi emosional terhadap suatu objek.

c. Kecenderung untuk bertindak (trend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total

attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berfikir, keyakinan, dan

emosi memegang peranan penting.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan,

yakni :

a. Menerima

(Receiving),

diartikan

bahwa

orang

(subjek)

mau

dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. (Responding),

Merespon

memberikan

jawaban

apabila

ditanya,

mengerjakan

dan

menyelesaikan

tugas

yang

diberikan

adalah

suatu

indikasi dari sikap.

c. Menghargai (Valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu

indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (Responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang

paling tinggi.

2.3 Air Susu Ibu (ASI)

2.3.1 Pengertian ASI

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan kompisi yang seimbang

dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan yang

sempurna baik secara kualitas maupun kuantitasnya dengan tatalaksana mneyusui

yang benar. ASI sebgai bahan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi

normal sampai usia 6 bulandan ketika diberikan amakanan padat dapat diteruskan

sampai usia 2 tahun atau lebih (Soetjiningsih, 2007)

ASI merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi, yang bersifat

alamiah.

ASI

mengandung

berbagai

zat

gizi

yang

dibutuhkan

dalam

proses

pertumbuhan dan perkembangan bayi (Prasetyono, 2009).

ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam-

garam organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai

makanan utama bagi bayi (Nugroho, 2011).

2.3.2 Pengertian ASI Eksklusif

Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

450/MENKES/SK/IV/2004, ASI Eksklusif atau lebih tepatnya pemberian ASI secara

Eksklusif adalah pemberian ASI saja kepada bayi mulai ia lahir sampai berumur 6

bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh dan air

putih serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur

nasi dan nasi tim (Roesli, 2005).

Menurut Suradi (2004), ASI Eksklusif merupakan makanan terbaik yang

harus diberikan kepada bayi, karena di dalamnya terkandung hampir semua zat gizi

yang dibutuhkan oleh bayi. ASI dapat menurunkan risiko bayi mengidap berbagai

penyakit. Apabila bayi sakit akan lebih cepat sembuh bila mendapatkan ASI. ASI

juga

membantu

pertumbuhan

dan

perkembangan

kecerdasan

anak.

Menurut

penelitian, anak – anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ (Intellectual Quotient).

2.3.3 Komposisi ASI

Menurut Kristiyanasari (2011) komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam

yaitu :

1. Kolostrum

ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir.

Kolostrum merupakan cairan agak kental bewarna kekuning kuningan, lebih

kuning

dibandingkan

dengan

ASI

mature,

bentuknya

agak

kasar

karena

mengandung butiran lemak dan sel-sel epitel dengan khasiat kolostrum sebagai

berikut :

a. Sebagai pembersih selaput usus bayi baru lahir sehingga saluran pencernaan

siap untuk menerima makanan.

b. Mengandung kadar protein yang tinggi terutama gama globulin sehingga dapat

memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi.

c. Mengandung zat antibodi sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari berbagai

penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai dengan 6 bulan.

2. ASI masa transisi

ASI yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari kesepuluh.

3. ASI mature

ASI yang dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai seterusnya.

2.3.4 Kandungan ASI

Banyak sekali zat gizi yang ada dalam ASI. Kandungan yang terdapat di

dalam ASI antara lain :

1. ASI mengandung 88,1% air sehingga ASI yang diminum bayi selama pemberian

ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan bayi dan sesuai dengan kesehatan bayi.

Bayi baru lahir yang hanya mendapat sedikit ASI pertama (kolostrum) tidak

memerlukan tambahan cairan karena bayi dilahirkan dengan cukup cairan di dalam

tubuhnya. ASI dengan kandungan air yang lebih tinggi biasanya akan keluar pada

hari ketiga atau keempat.

2. ASI mengandung bahan larut yang rendah. Bahan larut tersebut terdiri dari 3,8%

lemak, 0,9% protein, 7% laktosa, dan 0,2% bahan-bahan lain. Salah satu fungsi

utama air adalah untuk menguras kelebihan bahan-bahan larut melalui air seni.

Zat-zat yang dapat larut (misalnya sodium, potasium, nitrogen, dan klorida)

disebut sebagai bahan-bahan larut. Ginjal bayi yang pertumbuhannya belum

sempurna hingga usia 3 bulan mampu mengeluarkan kelebihan bahan larut lewat

air seni untuk menjaga keseimbangan kimiawi di dalam tubuhnya. Karena ASI

mengandung sedikit bahan larut maka bayi tidak membutuhkan banyak air seperti

layaknya anak-anak atau orang dewasa (Yuliarti, 2010).

2.3.5 Manfaat ASI

Menurut Yuliarti (2010) ASI memberikan manfaat tak terhingga pada anak

antara lain :

1. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang dibutuhkan

2. Bayi mendapat zat-zat imun, serta perlindungan dan kehangatan melalui kontak

dari kulit ke kulit dengan ibunnya.

4. Mengurangi perdarahan, serta konservasi zat besi, protein dan zat lainnya,

mengingat ibu tidak haid sehingga menghemat zat yang terbuang.

5. Penghematan karena tidak perlu membeli susu.

6. ASI eksklusif dapat menurunkan angka kejadian alergi, terganggunya pernafasan,

diare, dan obesitas pada anak.

7. Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak

2.3.6 Keuntungan Menyusui

Menurut Ramaiah (2006) keuntungan menyusui yaitu :

1. Bagi Bayi

a.

ASI

mengandung

protein,

lemak,

vitamin,

mineral,

air

dan

enzim

yang

dibutuhkan oleh bayi, karena ASI mengurangi risiko berbagai jenis kekurangan

nutrisi.

b. ASI

mengandung

semua

asam

lemak

penting

yang

dibutuhkan

bagi

pertumbuhan otak, mata dan pembuluh darah yang sehat.

c. ASI selalu berada pada suhu yang paling cocok bagi bayi, karena tidak

membutuhkan persiapan apapun.

d. Bayi bisa mencerna dan menggunakan nutrien dalam ASI secara lebih efisien

daripada yang terdapat dalam jenis susu lainnya.

e. ASI itu steril, artinya artinya tidak terkontaminasi oleh bakteri atau kuman

penyakit lainnya.

f. Menyusui

mencegah

terjadinya

anemia

pada

bayi,

karena

zat

besi

yang

terkandung dalam ASI diserap secara lebih baik daripada sumber zat besi

lainnya.

g. Kekurangan nutrisi tidak dapat terjadi pada bayi yang disusui karena ASI

memenuhi kebutuhan energi bayi sampai enam bulan yang pertama

h. Kolostrum

kaya

akan

antibodi

dan

substansi

anti

infeksi

lainnya

yang

melindungi bayi dari infeksi. Antibodi adalah substansi yang dikeluarkan oleh

tubuh ketika penyebab penyakit memasuki tubuh. Karenanya antibodi sangat

penting untuk menghancurkan penyebab penyakit.

i. Kolostrum juga mengandung pertumbuhan seperti faktor pematang epidermal.

Faktor ini melapisi bagian dalam saluran pernafasan dan mencegah kuman

penyakit memasuki saluran pernafasan

j. Antibodi yang ada dalam kolostrum juga melindungi bayi yang baru lahir dari

alergi, asma, eksem dan lain-lain.

k. Kolostrum kaya akan vitamin A, yang mencegah infeksi dan vitamin K, yang

mencegah perdarahan pada bayi baru lahir.

l. ASI mengandung faktor pematang usus yang melapisi bagian dalam saluran

pencernaan dan mencegah kuman penyakit serta protein berat untuk terserap ke

dalam tubuh.

m. ASI

mendorong

pertumbuhan

bakteri

sehat

dalam

usus

yang

disebut

Lactobacillus bifidus. Bakteri ini mencegah bakteri penyebab penyakit lainnya

untuk bertumbuh dalam saluran pencernaan dan mencegah diare.

n. ASI mengandung zat yang disebut laktoferin, yang dikombinasikan dengan zat

besi dan mencegah pertumbuhan kuman penyakit.

2. Bagi Ibu

a.

Menyusui

menolong

rahim

mengerut

lebih

cepat

dan

mencapai

ukuran

normalnya dalam waktu singkat, mengurangi banyaknya perdarahan setelah

persalinan dan karena itu mencegah anemia.

 

b.

Menyusui mengurangi risiko kehamilan sampai enam bulan setelah persalinan

c.

Menyusui mengurangi risiko kanker payudara dan indung telur

 

d.

Menyusui menolong menurunkan kenaikan berat badan berlebihan yang terjadi

selama kehamilan, dan menurunkan risiko obesitas.

3. Bagi Keluarga

Menurut (Wulandari & Handayani, 2011) manfaat ASI bagi keluarga di tinjau

dari

a. Aspek Ekonomi

ASI tidak perlu dibeli sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli

susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. Kecuali itu penghematan

juga disebabkan karena bayi yang mendapatkan ASI lebih jarang sakit sehingga

mengurangi biaya berobat.

b. Aspek Psikologis

Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga

suasana kejiwaan ibu baik, dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.

c. Aspek Kemudahan

Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja, kapan saja.

Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol dan dot yang harus

diberikan serta minta pertolongan orang lain.

4. Bagi Negara

a. Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi

Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi

bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian

epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak daripenyakit

infeksi, misalnya diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan akut bagian

bawah.

b. Menghemat devisa negara

ASI

dianggap

sebagai

kekayaan

nasional.

Jika

semua

ibu

menyusui

diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya

dipakai untuk membeli susu formula.

c. Mengurangi subsidi rumah sakit

Subsidi untuk rumah sakit berkurang, rawat gabung akan memperpendek lama

rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial

serta menggurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak

yang mendapatkan ASI lebih jarang di rawat di rumah sakit dibandingkan anak

yang mendapatkan susu formula.

d. Anak yang mendapatkan ASI dapat tumbuh kembang secara optimal sehingga

kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.

2.3.7 Nilai Nutrisi Air Susu Ibu

ASI

mengandung

komponen

makro

dan

mikro

nutrisi.

Yang

termasuk

makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien adalah

vitamin dan mineral

a. Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu

sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua kali

lipat dibandingkan laktosa yang ditemukan dalam susu sapi atau susu formula.

Namun demukian jarang ditemukan kejadian diare pada bayi yang mendapat ASI.

Hal ini disebabkan penyerapan laktosa ASI lebih baik dibandingkan laktosa susu

sapi atau susu formula

b. Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein

yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein

whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak

mengandung protein casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi

c. Lemak

Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibandingkann dengan susu sapi dan susu

formula.

Kadar

lemak

yang

lebih

tinggi

ini

dibutuhkan

untuk

mendukung

pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. ASI juga mengandung asam

lemak

rantai

panjang

diantaranya

asam

dokosaheksanoik

(DHA)

dan

asam

arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina

mata.

d. Karnitin

Karnitin mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan

untuk

mempertahankan

metabolisme

tubuh.

Konsentrasi

karnitin

bayi

yang

mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.

e. Vitamin

Vitamin terdiri dari : (1) Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang

berfungsi sebagai faktor pembekuan untuk mencegah terjadinya perdarahan. (2)

Vitamin D untuk mencegah penyakit tulang pada bayi. Walaupun pada ASI

vitamin D sedikit tetapi tidak perlu dikuatirkan karena bayi dapat dijemur pada

pagi hari maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar

matahari. (3) Vitamin E. ASI memiliki kandungan vitamin E yang tinggi terutama

pada kolostrum dan ASI transisi awal. Vitamin E berfungsi untuk ketahanan

dinding sel darah merah. (4) Vitamin A selain berfungsi untuk kesehatan mata,

vitamin A juga berfungsi untuk mendukung pembelahan sel, kekebalan tubuh dan

pertumbuhanan

f. Mineral

Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih mudah

diserap dibandingkan dengan mineral yan terdapat di dalam susu formula (IDAI,

2008).

2.3.8 Volume Produksi ASI

Pada

bulan

terakhir

kehamilan,

kelenjar-kelenjar

pembuat

ASI

mulai

menghasilkan ASI. Dalam kondisi normal, pada hari pertama dan kedua sejak lahir,

air susu yang dihasilkan sekitar 50-100 ml sehari. Jumlahnya pun meningkat hingga

500 ml pada minggu kedua. Dan produksi ASI semakin efektif dan terus-menerus

meningkat pada hari 10-14 hari setelah melahirkan. Bayi yang sehat mengonsumsi

700-800 ml ASI setiap hari. Setelah memasuki masa enam bulan volume pengeluaran

air susu mulai menurun (Prasetyono, 2009)

2.3.9 Lama dan Frekuensi Menyusui

Pada hari pertama setelah persalinan, biasanya ASI belum keluar, bayi cukup

disusukan selama 4-6 menit, untuk merangsang produksi ASI dan membiasakan

puting susu di isap oleh bayi. Setelah hari ke 4-5, boleh disusukan selama 10 menit,

setelah produksi ASI cukup. Bayi dapat

lebih dari 20 menit).

disusukan selama 15 menit (jangan sampai

Menyusukan selama 15 menit bisa dilakukan jika prosuksi ASI cukup dan

ASI keluarnya lancar.

Jumlah ASI yang terisap bayi pada 5 menit pertama adalah

kurang lebih 112 ml, 5 menit kedua kurang lebih 64 ml dan 5 menit terakhir kurang

lebih 16 ml (Soetjiningaih, 1997).

2.3.10 Masalah-Masalah dalam Menyusui Menurut PERINASIA (2003)

a. Masa Antenatal

Pada masa antenatal masalah yang sering timbul adalah kurang atau salah

informasi dan puting susu datar atau terbenam.

1). Kurang atau Salah Informasi

Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih

baik dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI

kurang. Petugas kesehatan juga masih banyak yang tidak memberikan informasi

pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi. Sebagai contoh

banyak ibu atau petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa: (a) bayi pada

minggu-minggu pertama defekasinya encer, sehingga dikatakan bayi menderita

diare

dan

seringkali

petugas

kesehatan

menyuruh

menghentikan

menyusui.

Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat kolostrum memang demikian karena

kolostrum bersifat laksans. (b) ASI belum keluar pada hari pertama sehingga bayi

dianggap perlu diberikan minuman lain, padahal bayi yang lahir cukup bulan dan

sehat mempunyai persediaan kalori dan cairan yan dapat mempunyai persediaan

kalori dan cairan yang dapat mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa

hari. (c) Karena payudara berukuran kecil dianggap kurang menghasilkan ASI

padahal ukuran payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau tidak.

2).Puting Susu Datar atau Terbenam

Puting yang kurang menguntungkan seperti ini sebenarnya tidak selalu menjadi

masalah. Yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah hisapan

langsung bayi yang kuat

b. Masa Pasca Persalinan Dini

Pada masa ini kelainan yang sering terjadi adalah: Puting susu datar atau

terbenam, puting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat dan mastitis

atau abses

1). Puting Susu Lecet

Pada keadaan ini sering kali ibu menghentikan menyusui karena puting susu sakit.

Yang perlu dilakukan adalah: (a) Olesi puting susu dengan ASI akhir, jangan

sekali-kali memberikan obat lain seperti krim, salep dan lain-lain. (b) Puting susu

yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 24 jam, dan

biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam. (c) Selama putting

susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan, dan tidak

dianjurkan alat pompa karena nyeri. (d) Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak

dibenarkan untuk menggunakan sabun

2). Payudara Bengkak

Pada payudara bengkak tampak payudara udem, sakit, puting kencang, kulit

mengkilat walau tidak merah dan bila diperiksa atau diisap ASI tidak akan keluar.

Untuk mencegah hal itu terjadi maka diperlukan (a) Menyusui dini. (b) Perlekatan

yang baik. (c) Menyusui bayi harus lebih sering

3). Mastitis atau Abses Payudara

Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak

yang diikuti nyeri dan panas serta suhu tubuh meningkat. Keadaan ini disebabkan

kurangnya ASI diisap atau dikeluarkan atau penghisapan yang tidak efektif. Dapat

juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju

atau BH.

c. Masa Pasca Persalinan Lanjut

Yang termasuk dalam masa pasca persalinan lanjut adalah sindrom ASI

kurang dan ibu bekerja.

1). Sindrom ASI Kurang

Ibu merasa ASI-nya kurang, padahal sebenarnya cukup, hanya saja ibu yang

kurang yakin dapat memproduksi ASI yang cukup.

2). Ibu Bekerja

Seringkali alasan pekerjaan membuat ibu berhenti menyusui. Ada beberapa cara

yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja: (a) Susui bayi sebelum

bekerja. (b) ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat

bekerja. (c) ASI dapat disimpan di lemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi

dengan menggunakan cangkir pada saat ibu bekerja. (d) Pada saat ibu di rumah,

sesering mungkin bayi disusui dan jadwal menyusui diganti sehingga banyak

menyusui di malam hari. (e) Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal

menyusui sebaiknya telah dimulai sejak satu bulan sebelum kembali bekerja. (f)

Minum dan makan makanan yang bergizi selam bekerja dan menyusui

2.3.11 Alasan Pemberian ASI Eksklusif

Bayi normal sudah dapat disusui segera sesudah lahir. Lamanya disusui hanya

untuk satu atau dua menit pada setiap ibu yang melahirkan karena : (a) Air yang

pertama

atau

kolostrum

mengandung

beberapa

benda

penangkis

yang

dapat

mencegah

infeksi

pada

bayi.

(b)

Bayi

yang

minum

ASI

jarang

menderita

gastroenteritis . (c) Lemak dan protein ASI mudah dicerna dan diserap secara lengkap

dalam saluran pencernaan. ASI tidak menyebabkan bayi menjadi gemuk berlebihan.

(d) ASI merupakan susu buatan alam yang lebih baik dari pada susu buatan manapun

oleh karena mengandung benda penangkis, suci hama, segar, dan tersedia setiap

waktu (Wiknjosastro, 2005)

ASI

diberikan

kepada

bayi

karena

mengandung

banyak

manfaat

dan

kelebihan, diantaranya ialah menurunkan resiko terjadinya penyakit infeksi, misalnya

infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran pernafasan dan infeksi telinga.

Sebagian besar pertumbuhan dan perkembangan bayi ditentukan oleh ASI Eksklusif.

ASI mengandung zat gizi yang tidak terdapat di dalam susu formula. Komposisi zat

dalam ASI antara lain 88,1% air, 3,8% lemak, 0,9% protein, 7% laktosa serta 0,2 %

zat gizi lainnya yang berupa DHA, DAA dan shypnogelin (Prasetyono,2009).

2.4 Landasan Teori

Ibu menyusui bayinya secara eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan ataupun

minuman lainnya sejak lahir sampai bayi berumur 6 bulan. Cara pemberian makanan

pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir

sampai dengan umur 6 bulan, dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan.

Kementerian

Kesehatan

telah

menerbitkan

Surat

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di

Indonesia (Prasetyawati, 2011).

Menurut Notoatmodjo (2010) bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh

pengetahuan

(knowledge),

sikap

(attitude)

dan

tindakan

(practice).

Kurangnya

pengetahuan tentang menyusui dari satu generasi bahkan lebih akan menyebabkan

banyak ibu masa kini mendapati bahwa ibu dan nenek mereka rendah pengetahuan

tentang

menyusui

dan

tidak

mampu

memberikan

banyak

dukungan

terhadap

pemberian ASI sehingga pemberian ASI tidak dapat dilakukan (Welford, 2008).

Menurut Notoadmodjo (2010) sikap ibu mengenai ASI eksklusif merupakan sikap

terhadap faktor-faktor yang berkaitan tentang peningkatan pemberian ASI eksklusif

pada bayi sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit infeksi.

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Dalam Pemberian ASI Eksklusif :

1. Umur

Menurut Wawan & Dewi (2010) usia adalah umur individu yang terhitung

mulai

saat

dilahirkan

sampai

berulang

tahun.

Semakin

cukup

umur,

tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja.

Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang

yang belum tinggi kedewasaannya.

Menurut Rahayu (2007) bahwa umur dapat mempengaruhi sikap ibu dalam

pemberian ASI pada bayinya. Pada dasarnya ibu yang berumur muda tidak mau

memberikan ASI disebabkan karena takut merasa sakit pada saat menyusui dan takut

payudaranya akan rusak. Ibu yang berumur antara

26-30 tahun lebih mengerti

tentang pentingnya memberikan ASI pada bayinya. Wanita dewasa berumur antara

36-40 tahun yang tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya bukan berarti

mereka tidak mengerti akan manfaat pemberian ASI pada bayinya, tapi hal ini lebih

dihadapkan pada kurangnya produksi ASI.

2. Paritas

Pengalaman menyusui bagi ibu merupakan suatu riwayat menyusui yang akan

mempengaruhi proses menyusui selanjutnya. Menurut Nelson (2000) pengalaman

menyusui yang baik akan mendorong keinginan ibu untuk menyusui kembali pada

kelahiran bayi berikutnya. Sebaliknya pengalaman yang buruk akan membuat ibu

menjadi trauma untuk mulai menyusui kembali. Petugas kesehatan perlu mengetahui

pengalaman ibu sehubungan dengan pemberian makanan bayi. Hal ini berkaitan

dengan jumlah anak yang pernah disusui ibunya, di mana menurut Sajogyo et al.

(1994) perlu ada jarak antara kelahiran anak yang satu dengan kehamilan berikutnya

setidaknya 18 bulan sampai 2 tahun agar ibu memiliki kesempatan untuk menyusui.

Keadaan fisik ibu akan terlalu berat jika harus menyusui dan hamil lagi. Di samping

itu kehamilan juga akan mengurangi jumlah ASI yang dikeluarkan bahkan mungkin

berhenti sama sekali.

3. Pendidikan

Pendidikan

merupakan

penuntun

manusia

untuk

berbuat

dan

mengisi

kehidupan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, sehingga dapat

meningkatkan

kualitas

hidup

(Hidayat,

2005).

Menurut

Notoadmodjo

(2010)

sebagaimana

umumnya

semakin

tinggi

pendidikan

seseorang

semakin

mudah

mendapatkan informasi dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang.

Menurut Firmansyah dan Mahmudah (2012) yang mengutip pendapat Salfina

Tahun

2003

dalam

penelitiannya

mengatakan

bahwa

75,6%

ibu

yang

tidak

memberikan ASI eksklusif adalah ibu dengan pendidikan tamat SD, dan berstatus

sebagai pekerja lepas (buruh). Selain itu 13,33% ibu yang tidak memberikan ASI

eksklusif masih mengemukakan ASI tidak bermanfaat terhadap bayinya serta 23,02%

masih membuang kolostrumnya.

4. Pekerjaan

Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2003), pekerjaan adalah

kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan

kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak

merupakan cara mencari nafkah yang, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan

bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu

akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu bekerja menghabiskan

waktu

ditempat

kerja

sehingga

kecil

kemungkinan

untuk

menyusukan

atau

mempengaruhi terhadap intensitas menyusui, sedangkan ibu yang tidak bekerja dapat

dengan mudah meyusukan anak apabila anak membutuhkan

5. Informasi

Pengetahuan diperoleh melalui informasi yaitu kenyataan (fakta) dan melihat

dan mendengar sendiri. Seseorang yang yang mempunyai sumber informasi yang

lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas.

6. Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala informasi yang diperoleh dari pihak luar diri

subyek yang disertai pemahaman pada informasi yang diterima. Pengetahuan dapat

diperoleh

dengan

cara

bertanya

kepada

orang

lain,

pengalaman

sendiri,

mendengarkan cerita orang atau melalui media massa. Pengetahuan tentang manfaat

breastfeeding (menyusui) berpengaruh kuat terhadap awal dan periode menyusui. Ibu

yang

mempelajari

ASI

dan

tatalaksana

menyusui

sebelum

melahirkan

bayi

merupakan langkah mencapai keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif.

 

Suradi

(2004)

mengungkapkan

bahwa

salah

satu

faktor

yang

dapat

mempengaruhi seorang ibu mau menyusui karena ibu mengetahui cara menyusui

yang benar, manfaat, dan keunggulan ASI. Faktor tersebut merupakan pendorong

yang mampu memberikan dukungan kepada ibu untuk berhasil menyusui. Hal ini

sama dengan pendapat Widjaya (2002) bahwa faktor yang mengakibatkan seorang

ibu tidak termotivasi untuk menyusui bayi di antaranya karena kurangnya informasi

yang diperoleh ibu tentang manfaat dan keunggulan ASI serta ketidaktahuan ibu

untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas ASI pada masa menyusui. Kendala

dalam meningkatkan penggunaan ASI eksklusif adalah kurangnya pengetahuan

tentang menyusui di mana banyak ibu masa kini mendapati bahwa ibu dan nenek

mereka kurang pengetahuannya tentang menyusui dan tidak mampu memberikan

banyak dukungan (Welford, 2008).

Agar

pemberian

ASI

eksklusif

dapat

berjalan

dengan

baik,

diperlukan

manajemen yang baik dalam menyusui, meliputi: perawatan payudara, praktek

menyusui

yang

benar,

serta

dikenalinya

masalah

dalam

laktasi

dan

penatalaksanaannya (Mansjoer et al. 2000). Dengan demikian ibu yang ingin berhasil

dalam

menyusui

sebaiknya

mempersiapkan

diri

dengan

mempelajari

sebanyak

mungkin pengetahuan dasar ASI eksklusif dan manajemen laktasi (Riordan dan

Auerbach 1998). Pengetahuan tentang manfaat dan keunggulan ASI eksklusif dari

berbagai penelitian sebenarnya sudah dikenal luas oleh masyarakat namun dari

penelitian tersebut terungkap bahwa hanya sedikit ibu yang mengetahui bahwa ASI

dapat mencegah penyakit tertentu. Hasil penelitian yang dilakukan di Semarang

menunjukkan

bahwa

wanita

dari

semua

tingkat

ekonomi

mempunyai

tingkat

pengetahuan yang baik tentang kegunaan ASI dan mempunyai sikap positif terhadap

upaya pemberian ASI, akan tetapi dalam prakteknya tidak selalu konsisten dengan

pengetahuan mereka, sehingga walaupun pengetahuan dan sikap masyarakat positif,

belum menunjukkan perilaku menyusui yang positif (Kasnodihardjo dan Budiarso

1996).

Pengetahuan

tentang

perawatan

payudara

perlu

diperhatikan

oleh

ibu

menyusui, hal ini diperlukan supaya ibu menyusui tidak mengalami kesulitan selama

masa

penyusuan

pada

bayinya.

Adapun

cara

melakukan

perawatan

payudara

dimaksudkan untuk memperbaiki sirkulasi darah dan cairan limfe di daerah payudara,

untuk merawat dan melatih puting susu, agar selalu bersih dan tahan terhadap

mekanisme gesekan waktu bayi menyusu, dan untuk memperlancar pengeluaran

kolostrum dan ASI. Untuk itu perawatan payudara sebaiknya sudah dilakukan sejak

ibu hamil pada trimester akhir masa kehamilan. Mengurut payudara juga sangat

diperlukan

pada

minggu-minggu

pertama

masa

menyusui

dan

sepanjang

masa

menyusui. Pengetahuan ini seharusnya dimiliki oleh para ibu hamil supaya nantinya

dapat memberikan ASI secara eksklusif.

7. Sikap

Sikap dapat memprediksi tingkah laku apa yang mungkin terjadi. Dengan

demikian sikap dapat diartikan sebagai suatu predisposisi tingkah laku yang akan

tampak aktual apabila kesempatan untuk mengatakan terbuka luas (Azwar, 2000).

Sikap baik yang dimiliki oleh seseorang khususnya ibu post partum dalam pemberian

ASI

yang

berpengaruh

bagi

pertumbuhan

dan

perkembangan

bayi

hendaknya

diterapkan dalam perilaku sehingga diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan

ibu dan anak.

2.5 Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep penelitian ini secara skematis dapat digambarkan

pada bagan berikut ini :

Variabel Independen

Variabel Dependen

Karakteristik Ibu

1. Umur

2. Paritas

3. Pendidikan

4. Pekerjaan

5. Tersedia Sumber informasi

Pengetahuan mengenai ASI Eksklusif

Pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan mengenai ASI Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif Sikap mengenai ASI Eksklusif Gambar 2.1. Kerangka Konsep

Sikap mengenai ASI Eksklusif

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI Eksklusif.

Variabel indepanden dalam penelitian ini adalah karakteristik ibu (umur, paritas,

pendidikan, pekerjaan, dan tersedianya sumber nformasi), pengetahuan mengenai ASI

eksklusif, dan sikap mengenai ASI eksklusif.