Anda di halaman 1dari 29

Proposal Penelitian

PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO


(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pohon Bintaro sering disebut juga sebagai Mangga Laut, Buta Badak,
Babuto, dan Kayu Gurita. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai Sea
Mango sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) Bintaro dinamai sebagai Cerbera
Manghas(Faiz, 2011). Buah bintaro merupakan buah drupa (berbiji) dengan serat
lignoselulosa yang menyerupai buah kelapa (Handoko, 2012). Pohon Bintaro
yang mengandung racun mematikan ini, banyak tumbuh di Kota Surabaya, Jawa
Timur. Pohon Bintaro, memiliki daun bulat telur dengan warna hijau tua tersusun
berselingan. Bunganya harum bermahkota dan berdiameter tiga sampai lima
centimeter.

Bentuknya

pun

seperti

terompet

dengan

pangkal

merah

muda.Ironisnya, hanya untuk penghijauan kota, pohon ini dibudidayakan oleh


Pemkot Surabaya dengan menanamnya di pingir-pinggir jalan dan buahnya yang
mirip mangga mentah kerap dijadikan mainan anak-anak tanpa tahu racun di
dalam buah tersebut.Hal ini sempat diungkap peneliti di bidang pertanian, Trisno
Wardani, warga Jalan Darmo Permai Selatan, Surabaya. Beliau mengungkapkan
bahwa pohon berbuah menyerupai mangga ini mengandung racun yang sangat
berbahaya dan bisa merusak lingkungan di sekitarnya (Wardani, 2015).
Kandungan selulosa pada buah bintaro membuat buah ini sangat
berpotensi sebagai sumber bahan baku suatu produk yang memanfaatkan selulosa
seperti bioetanol dan selulosa asetat. Pada penelitian sebelumnya, Handoko dkk.,
2012, menghidrolisis serat selulosa dalam buah bintaro dan memperoleh hasil
kandungan selulosa dan lignin buah bintaro berturut-turut adalah 36,945% dan
38%. Selain kandungan selulosa tersebut, kandungan kimia racun cerberrin dalam
buah Bintaro dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida seperti yang telah dilakukan
oleh Kartimi, 2015, yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemberian
ekstrak bintaro berpengaruh secara signifikan terhadap mortalitas tikus, sedangkan

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Khikmah dkk., 2012, memanfaatkan buah bintaro sebagai biodiesel dan
memperoleh rendemen minyak sebesar 52,59%.
Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti ingin membuat inovasi baru dari
tanaman bintaro tersebut menjadi bahan baku pembuatan selulosa asetat. Hal ini
dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa perkembangan industri tekstil dari
bahan baku selulosa asetat meningkat tiap tahunnya. Namun sangat disayangkan
Indonesia yang merupakan negara penghasil bahan baku selulosa asetat (pulp)
masih mengimpor selulosa asetat tersebut (Zarlis, 2009). Penelitian mengenai
pembuatan selulosa asetat sudah banyak dilakukan
I.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengolah buah bintaro menjadi selulosa
asetat dengan terlebih dahulu dilakukan pretreatment basa menggunakan NaOH
untuk proses delignifikasi.
I.3 Manfaat Penelitian
a. Dapat memberikan nilai lebih pada buah bintaro dengan memanfaatkannya
menjadi selulosa asetat
b. Sebagai informasi ilmiah mengenai proses pemanfaatan buah bintaro sebagai
bahan baku pembuatan selulosa asetat.

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Tanaman bintaro merupakan salah satu tanaman mangrove yang dapat
tumbuh di tanah yang kurang nutrisi dan tersebar hampir diseluruh wilayah
Indonesia sehingga mudah untuk dibudidayakan (Greg dan Tony, 2011).Tanaman
Bintaro memiliki buah dengan bentuk bulat telur dan diameternya bisa mencapai 5
hingga 10 cm dengan warna merah gelap bila sudah masak. Buahnya sering juga
disebut Cerbera karena bijinya dan semua bagian pohonnya mengandung racun
yang disebut cerberin yaitu racun yang dapat menghambat saluran ion kalsium
di dalam otot jantung manusia, sehingga dapat mengganggu detak jantung dan
dapat menyebabkan kematian (Soesanto, 2011). Di negara India, racun dari buah
Bintaro ini sering digunakan sebagai sarana bunuh diri. Di Indonesia, suku Banjar
dan suku Dayak sering memanfaatkan racun dalam buah ini untuk membasmi
serangan tikus, nyamuk, meracun ikan di sungai hingga disapukan di ujung anak
panah saat berburu binatang di hutan. Sejumlah penelitian pun menjelaskan
bahwa asap yang timbul dari pembakaran daun dan dahan kayu pohon Bintaro
mampu mengakibatkan keracunan untuk manusia ataupun hewan yang
menghirupnya.
Di sektor pertanian, manfaat buah Bintaro bisa dimanfaatkan sebagai
biopestisida yaitu pestisida yang berasal dari bahan alam untuk membunuh
serangga dan hewan pengganggu tanaman pangan. Buah Bintaro sangat efektif
digunakan membasmi ulat grayak pada tanaman padi yang terkenal kebal terhadap
semprotan pestisida kimia. Buah Bintaro pun hebat untuk menghalau serbuan
tikus. Makhluk pengerat yang satu ini selalu saja membuat jengkel petani dan ibuibu yang rumahnya kotor akibat ulah tikus.
Manfaat buah Bintaro bisa juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan
biodiesel. Untuk yang ini digunakan biji yang terdapat di dalam buah Bintaro. Biji

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
buah Bintaro selanjutnya dilakukan ekstraksi untuk menghasilkan bahan bakar
alternatif. Dilaporkan bahwa untuk membuat 1 kg minyak biodiesel hanya
diperlukan sebanyak 1,8 kg biji buah Bintaro. Tentunya hal ini sangat
menggembirakan mengingat pohon Bintaro mampu berbuah sepanjang tahun dan
tak mengenal musim (Anonim, 2015).
Tanaman Bintaro tersebar luas di kawasan tropis indo fasifik termasuk
Indonesia. Habitat aslinya adalah daerah pantai dan hutan mangrove (bakau).
Namun kini Bintaro banyak ditanam sebagai pohon penghijauan penyerap
karbondioksida (CO2).
Klasifikasi tanaman bintaro :
1. Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
2. Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
3. Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
4. Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
5. Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
6. Sub Kelas : Asteridae
7. Ordo : Gentianales
8. Famili : Apocynaceae
9. Genus : Cerbera
10. Spesies : Cerbera manghas L.
Ciri-ciri tanaman bintaro:
1) Habitus: Pohon, tinggi, 20 m. Batang Tegak, berkayu, bulat, berbintikbintik, hitam
2) Daun: Tunggal, tersebar, lonjong, tepi rata ujung dan pangkal meruncing,
tipis,licin, pertulangan menyirip, panjang 15-20 cm, lebar, 3-5 cm, hijau
3) Bunga: Majemuk, berkelamin dua, di ujung batang, tangkai silindris,
panjang 11 cm, hijau, kelopak tidak jelas, tangkai putik panjang 22,5cm, jumlah empat, kepala sari coklat, kepala putik hijau keputihputihan, mahkota bentuk terompet, ujung pecah menjadi lima, halus, putih.
4) Buah: Kotak, lonjong, masih muda hijau setelah tua kehitaman
5) Biji: Pipih, panjang, putih
6) Akar: Tunggang, coklat.
Kandungan kimia tanaman bintaro:

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Daun, buah dan kulit batang bintaro mengandung saponin, daun dari
buahnya juga mengandung polifenol, disamping itu kulit batangnya mengandung
tanin.Buah bintaro terdiri atas 8% biji dan 92% daging buah. Bijinya sendiri
terbagi dalam cangkang 14% dan daging biji 86%. Biji bintaro mengandung
minyak antara 35-50% (bandingkan dengan biji jarak yang 14% dan kelapa sawit
20%). Semakin kering biji bintaro semakin banyak kandungan minyaknya.
Minyak ini termasuk jenis minyak nonpangan, diantaranya asam palmitat
(22,1%), asam stearat (6,9%), asam oleat (54,3%), dan asam linoleat (16,7%).
(Fasula, 2011)
II.1.1 Lignoselulosa
Bahan lignoselulosa merupakan biomassa yang berasal dari tanaman
dengan komponen utama lignin, hemiselulosa dan selulosa. Ketersediaannya yang
cukup melimpah, terutama sebagai limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan,
menjadikan bahan ini berpotensi sebagai salah satu sumber energi melalui proses
konversi baik proses fisika, kimia maupun biologis. Lignoselulosa mengandung
tiga komponen penyusun utama, yaitu lignin (13-30 % /berat), hemiselulosa (1535 % /berat) dan selulosa (30-50 % /berat).
1. Lignin
Merupakan zat organik yang memiliki polimer banyak dan merupakan hal
yang penting dalam dunia tumbuhan. Lignin tersusun atas jaringan polimer
fenolik yang berfungsi merekatkan serat selulosa dan hemiselulosa sehingga
menjadi sangat kuat. Berbeda dengan selulosa yang terbentuk dari gugus
karbohidrat, struktur kimia lignin sangat kompleks dan tidak berpola sama. Gugus
aromatik ditemukan pada lignin, yang saling dihubungkan dengan rantai alifatik,
yang terdiri dari 2-3 karbon. Proses pirolisis lignin menghasilkan senyawa kimia
aromatis berupa fenol, terutama kresol.

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

Gambar 1 . Satuan penyusun lignin


Lignin merupakan salah satu komponen utama sel tanaman, karena itu lignin
juga memiliki dampak langsung terhadap karakteristik tanaman. Misalnya saja,
lignin sangat berpengaruh pada proses pembuatan pulp dan kertas. Struktur kimia
lignin mengalami perubahan di bawah kondisi suhu yang tinggi dan asam. Pada
reaksi dengan temperatur tinggi mengakibatkan lignin terpecah menjadi partikel
yang lebih kecil dan terlepas dari selulosa (Agus, 2013).
Di alam keberadaan lignin pada kayu berkisar antara 25-30%, tergantung
pada jenis kayu atau faktor lain yang mempengaruhi perkembangan kayu. Pada
kayu, lignin umumnya terdapat di daerah lamela tengah dan berfungsi pengikat
antar sel serta menguatkan dinding sel kayu. Kulit kayu, biji, bagian serabut kasar,
batang dan daun mengandung lignin yang berupa substansi kompleks oleh adanya
lignin dan polisakarida yang lain. Kadar lignin akan bertambah dengan
bertambahnya umur tanaman.
Fungsi Lignin:
Pada batang, lignin berfungsi sebagai bahan pengikat komponen penyusun
lainnya, sehingga suatu pohon bisa berdiri tegak (seperti semen pada sebuah
batang beton).lignin sangat berpengaruh pada proses pembuatan pulp dan kertas.
Kebutuhan bahan kimia untuk memasak kayu dihitung berdasarkan kandungan
ligninnya. Kandungan lignin pada pakan ternak ruminansia sangat perpengaruh
pada kemudahan pakan itu untuk dicerna. Pakan yang rendah kandungan
ligninnya mudah dicerna oleh binantang. Tapi, kalau pakan yang diberikan terlalu
banyak kandungan ligninnya, ternak bisa mencret.Kandungan lignin serupakan
salah satu penghambat biokonversi lignoselulosa menjadi etanol. Lignin
melindungi selulosa, sehingga selulosa sulit untuk dihidrolisis ( Mulyani,2014).

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

2. Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan polisakarida yang mempunyai berat molekul lebih
kecil daripada selulosa. Berbeda dengan selulosa yang hanya tersusun atas
glukosa, hemiselulosa tersusun dari bermacam-macamjenis gula. Lima gula
netral, yaitu glukosa, mannosa, dan galaktosa (heksosan) serta xilosa dan
arabinosa (pentosan) merupakan konstituen utama hemiselulosa. Berbeda dari
selulosa yang merupakan homopolisakarida dengan monomer glukosa dan derajat
polimerisasi yang tinggi (10.00014.000 unit), rantai utama hemiselulosa dapat
terdiri atas hanya satu jenis monomer (homopolimer), seperti xilan, atau terdiri
atas dua jenis atau lebih monomer (heteropolimer), seperti glukomannan. Rantai
molekul hemiselulosa pun lebih pendek dari pada selulosa.
Molekul hemiselulosa lebih mudah menyerap air, bersifat plastis, dan
mempunyai permukaan kontak antar molekul yang lebih luas dari selulosa.
Hemiselulosa merupakan istilah umum bagi polisakarida yang larut dalam alkali.
Hemiselulosa sangat dekat asosiasinya dengan selulosa dalam dinding sel
tanaman (Agus, 2013).
Fungsi Hemiselulosa:
Fungsi hemiselulosa adalah sebagai penguat dinding sel sebagaimana manfaat
selulosa bagi dinding sel tumbuhan.Hemiselulosa memiliki sifat non-kristalin dan
bukan serat, mudah mengembang, larut dalam air, sangat hidrofolik, serta mudah
larut dalam alkali. Kandungan hemiselulosa yang tinggi memberikan kontribusi
pada ikatan antar serat, karena hemiselulosa bertindak sebagai perekat dalam
setiap serat tunggal. Pada saat proses pemasakan berlangsung, hemiselulosa akan
melunak, dan pada saat hemiselulosa melunak, serat yang sudah terpisah akan
lebih mudah menjadi berserabut ( Mulyani,2014).
3. Selulosa

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Selulosa merupakan polimer yang tersusun dari unit-unit -1,4-glukosa yang
dihubungkan dengan ikatan -1,4-D-glikosida. Selulosa merupakan polisakarida
yang terdiri atas satuan-satuan dan mempunyai massa molekul relatif yang sangat
tinggi, tersusun dari 2.000-3.000 glukosa. Rumus molekul selulosa adalah
(C6H10O5)n. Sifat fisik selulosa adalah zat yang padat, kuat, berwarna putih, dan
tidak larutdalam alkohol dan eter. Kayu terdiri dari 50 % selulosa, daun kering
mengandung 10-20 % selulosa, sedangkan kapas mengandung 90 % selulosa.
Selulosa digunakan dalam industri pulp, kertas, dan krayon (Agus, 2013).
II.1.2 Pre-treatment Lignoselulosa
Pada lignoselulosa, senyawa yang sebetulnya ingin dimanfaatkan adalah
hemiselulosa dan utamanya selulosa. Hemiselulosa dan selulosa sebagai
polisakarida bisa dipecah menjadi monosakarida (gula sederhana) yang nantinya
bisa digunakan sebagai bahan utama pembuatan bahan kimia (glukosa, xilosa,
cilitol, furfural, dll), bahan bakar (bioetanol), biopolimer (selulosa dan
turunannya), bahan pakan, dan produksi enzim.
Selain merusak struktur lignin, pretreatment juga dapat mengubah struktur
kristalin selulosa menjadi struktur yang lebih renggang (amorph).

Gambar 2. Pretreatment Lignoselulosa


Pretreatment Lignoselulosa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu
secara kimiawi, fisis, dan mikrobiologis. Masing-masing metode memiliki

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
kelebihan dan kekurangan. Efisiensi dan efektivitas penggunaannya bisa berbedabeda, bergantung pada sumber bahan dan tujuan prosesnya.
1. Pretreatment secara kimiawi adalah metode yang paling umum digunakan
karena lebih mudah, lebih efektif, lebih cepat dan tidak memakan energi
terlalu tinggi. Namun demikian, penggunaan senyawa kimia secara
berlebihan tentunya akan berdampak buruk bagi lingkungan.
2. Pretreatment secara fisis diantaranya adalah penggilingan, radiasi, pemberian
suhu tinggi, dan steam explosion. Pretreatment jenis ini cukup efektif dalam
memecah lignin, hanya saja aplikasinya membutuhkan energi yang sangat
tinggi sehingga bisa meningkatkan biaya produksi.
3. Pretreatment mikrobiologis sebelumnya kurang banyak diaplikasikan karena
membutuhkan waktu pretreatment yang lama untuk bisa mendegradasi lignin
secara sempurna. Selain itu, pretreatment mikrobiologis juga bisa
menyebabkan degradasi selulosa dan hemiselulosa sehingga jumlah selulosa
dan hemiselulosa yang bisa dimanfaatkan menjadi berkurang.
(Ileana, 2014)
II.1.3 Selulosa
Selulosa adalah molekul terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen, dan
ditemukan dalam struktur selular materi tanaman. Selulosa adalah molekul yang
terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen, dan ditemukan dalam struktur selular
hampir semua materi tanaman. Senyawa organik ini, yang dianggap paling
melimpah di bumi, bahkan diekskresikan oleh beberapa bakteri. Selulosa adalah
rantai panjang molekul gula yang dihubungkan satu sama lain untuk memberikan
kekuatan pada kayu yang luar biasa. Selulosa adalah komponen utama dari
dinding sel tumbuhan, dan bahan bangunan dasar bagi banyak tekstil dan kertas.
Kapas adalah bentuk alami murni selulosa. Di laboratorium, kertas ashless filter
adalah sumber selulosa hampir murni. Selulosa adalah polimer alam, rantai
panjang yang dibuat dengan menghubungkan molekul yang lebih kecil. Link
dalam rantai selulosa adalah jenis gula: -D-glukosa. Dua molekul tidak tertaut -

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
D-glukosa digambarkan pada gambar dibawah. Unit gula terkait ketika air
dihilangkan dengan menggabungkan -OH dan H yang disorot dalam dengan
warna abu-abu. Hubungan dua dari gula ini menghasilkan disakarida yang disebut
selobiosa. Selulosa adalah polisakarida yang dihasilkan dengan menghubungkan
gula tambahan dalam cara yang persis sama. Panjang rantai bervariasi, dari
beberapa ratus unit gula pada bubur kayu sampai lebih dari 6000 pada katun.

Gambar 3. Selulosa
Rantai selulosa pada bulu dengan kelompok -OH polar. Kelompok-kelompok
ini membentuk banyak ikatan hidrogen dengan gugus OH pada rantai yang
berdekatan, rantai digabung secara bersama-sama. Rantai juga disusun teratur di
beberapa tempat untuk membentuk bagian keras, stabil daerah kristalin yang
memberikan rantai yang terbungkus memiliki kestabilan dan kekuatan yang lebih.
Selulosa adalah komponen utama kayu. Serat selulosa dalam kayu terikat
dalam lignin, polimer kompleks. Pembuatan kertas meliputi pengolahan bubur
kayu dengan alkali atau bisulfit untuk menghancurkan lignin, dan kemudian
menekan bubur kertas pada matte serat selulosa bersama-sama.
Selulosa ditemukan dalam jumlah besar di hampir semua tanaman, dan
berpotensi sumber makanan utama. Sayangnya, manusia tidak memiliki enzim
yang diperlukan untuk membelah hubungan antara gula dalam selulosa. Bahkan,
selulosa kristal ditambahkan ke beberapa makanan untuk mengurangi nilai kalori
(Mulyana, 2015).

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Jenis Jenis Selulosa :
1. Selulosa

(Alpha Cellulose) adalah selulosa berantai panjang, tidak larut

dalam larutan NaOH 17,5% atau larutan basa kuat dengan DP (derajat
polimerisasi) 600 - 1500. Selulosa a dipakai sebagai penduga dan atau
penentu tingkat kemumian selulosa.
2. Selulosa (Betha Cellulose) adalah selulosa berantai pendek, larut dalam
larutan NaOH 17,5% atau basa kuat dengan DP 15 - 90, dapat mengendap
bila dinetralkan.
3. Selulosa (Gamma cellulose) adalah sama dengan selulosa , tetapi DP nya
kurang dari 15.
Selain itu ada yang disebut Hemiselulosa dan Holoselulosa yaitu: polisakarida
yang bukan selulosa, jika dihidrolisis akan menghasilkan D-manova, D-galaktosa,
D-Xylosa, L-arabinosa dan asam uranat. Holosefulosa adalah bagian dari serat
yang bebas dan sari dan lignin, terdiri dari campuran semua selulosa dan
hemiselulosa.
Selulosa merupakan kualitas selulosa yang paling tinggi (mumi). Selulosa
> 92% memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan
propelan dan atau bahan peledak. Sedangkan selulosa kualitas dibawahnya
digunakan sebagai bahan baku pada industri kertas dan industri sandang/kain
(serat rayon). Selulosa dapat disenyawakan (esterifikasi) dengan asam anorganik
seperti asam nitrat (NC), asam sulfat (SC) dan asam fosfat (FC). Dari ketiga unsur
tersebut, NC memiliki nilai ekonomis yang' strategis daripada asam sulfat/SC dan
fosfat/FC karena dapat digunakan sebagai sumber bahan baku propelan/bahan
peledak pada industri pembuatan munisi/mesin dan atau bahan peledak.
(Sofah, 2013)

II.1.4 Acetobacter Xylinum


Acetobacter xylinum adalah salah satu jenis bakteri yang banyak bermanfaat
dalam dunia industri seperti nata de coco, nata de cassava, nata de soya, tepung

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
mocaf,

dan

lain-lain.

Acetobacter

xylinum

merupakan

bakteri

yang

menguntungkan dan tidak berbahaya. Bakteri ini mampu memfermentasi bahan


menghasilkan bahan selulosa. Acetobacter xylinum telah banyak berjasa
menghasilkan produk bernilai ekonomis sehingga perlu dikembangkan terus
pemanfaatannya dalam bioeteknologi diberbagai bidang. Bakteri ini merupakan
jenis

bakteri

asam

yang

mudah

pertumbuhannya

dan

mudah

batang

pendek,

pengembangbiakannya.
Acetobacter

xylinum

merupakan

bakteri

berbentuk

mempunyai panjang kurang lebih 2 mikron dan permukaan dindingnya berlendir.


Acetobacter xylinum mampu mengoksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan
asam organik lain pada waktu yang sama, dan mempolimerisasi glukosa sehingga
terbentuk selulosa. Acetobacter xylinum memiliki ciri-ciri antara lain merupakan
gram negatif pada kultur yang masih muda, sedangkan pada kultur yang sudah tua
merupakan gram positif, bersifat obligat aerobic artinya membutuhkan oksigen
untuk bernafas, membentuk batang dalam medium asam, sedangkan dalam
medium alkali berbentuk oval, bersifat non mortal dan tidak membentuk spora,
tidak mampu mencairkan gelatin, tidak memproduksi H2S, tidak mereduksi nitrat
dantermal death pointpada suhu 65-70C.
Acetobacter xylinum mengalami pertumbuhan sel secara teratur, mengalami
beberapa fase pertumbuhan sel yaitu fase adaptasi, fase pertumbuhan awal, fase
pertumbuhan eksponensial, fase pertumbuhan lambat, fase pertumbuhan tetap,
fase menuju kematian, dan fase kematian. Acetobacter xylinum akan mengalami
fase adaptasi terlebih dahulu jika dipindahkan ke dalam media baru. Pada fase ini
terjadi aktivitas metabolisme dan pembesaran sel, meskipun belum mengalami
pertumbuhan. Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi.
Fase pertumbuhan awal dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah.
Fase ini berlangsung beberapa jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari.
Pada fase ini bakteri mengeluarkan enzim ektraseluler polimerase sebanyak-

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
banyaknya untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa. Fase pertumbuhan
lambat terjadi karena nutrisi telah berkurang, terdapat metabolit yang bersifat
racun yang menghambat pertumbuhan bakteri dan umur sel sudah tua. Pada fase
ini pertumbuhan tidak stabil, tetapi jumlah sel yang tumbuh masih lebih banyak
dibanding jumlah sel mati. Fase pertumbuhan tetap terjadi keseimbangan antara
sel yang tumbuh dan yang mati. Matrik nata lebih banyak diproduksi pada fase
ini. Fase menuju kematian terjadi akibat nutrisi dalam media sudah hampir habis.
Setelah nutrisi habis, maka bakteri akan mengalami fase kematian. Pada fase
kematian, sel dengan cepat mengalami kematian tidak baik untuk dijadikan strain
nata.
Pertumbuhan Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain adalah kandungan nutrisi meliputi jumlah karbon dan nitrogen, tingkat
keasaman media, pH, temperatur, dan udara (oksigen). Suhu optimal pertumbuhan
bakteri Acetobacter xylinum pada 2831C, pH optimal 3-4, memerlukan oksigen
sehingga dalam fermentasi tidak ditutup dengan bahan kedap udara sehingga tidak
memungkinkan udara masuk sama sekali, tutup untuk mencegah kotoran masuk
ke dalam media yang dapat mengakibatkan kontaminasi (Anonim, 2015).
II.1.5Asam Asetat
Asam

asetat,

asam

etanoat

atau

asam

cuka

adalah

senyawa

kimiaasamorganik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam
makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali
ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni
(disebut asam asetat glasial) adalah cairanhigroskopis tak berwarna, dan memiliki
titik beku 16.7C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana,
setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam
lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam
asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan bakuindustri yang penting. Asam

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
asetat digunakan dalam produksipolimer seperti polietilena tereftalat, selulosa
asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam
industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman.
Sifat Fisik Asam Asetat
Rumus kimia
Massa molar
Penampilan
Bau
Densitas
Kelarutan dalam air
Keasaman (pKa)
Kebasaan (pKb)
Viskositas

C2H4O2
60.05 g mol1
Cairan tak berwarna atau kristal
Pungent/Vinegar-like
1.049 g cm3
Miscible
4.76
9.24 (basicity of acetate ion)
1.22 mPa s

Sifat Kimia Asam Asetat


Keasaman
Atom hidrogen (H) pada guguskarboksil (COOH) dalam asam karboksilat
seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H + (proton), sehingga
memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah monoprotik dengan nilai
pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO). Sebuah larutan 1.0 M
asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki pH
sekitar 2.4.

Dimer siklis

Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hidrogen.

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Struktur kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul-molekul asam
asetat berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen.
Dimer juga dapat dideteksi pada uapbersuhu 120 C. Dimer juga terjadi pada
larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada
cairan asam asetat murni. Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan
hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.066.0
kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154157 J mol 1 K1 Sifat dimerisasi ini juga
dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.
Sebagai Pelarut
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan
etanol. Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2, sehingga
ia bisa melarutkan baik senyawa polar seperi garamanorganik dan gula maupun
senyawa non-polar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodin. Asam
asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar lainnya
seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari
asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia.
(Anonim, 2015)
II.1.6Selulosa Asetat
Selulosa asetat merupakan ester yang paling penting yang berasal dari
asam organik. Selulosa asetat tidak mudah terbakar, berbentuk padatan putih,
tidak beracun, tidak berasa, tidak berbau, dan umumnya digunakan untuk
pembuatan serat. Selulosa asetat telah dipakai secara luas, diantaranya sebagai
material membran, filter rokok, tekstil, plastik dan industri makanan serta farmasi
(Damayanti, 2012).
Selulosa asetat merupakan golongan ester selulosa yang dimodifikasi
untuk memperbaiki sifat fisik dan kimianya untuk keperluan tertentu. Selulosa
asetat dihasilkan dari selulosa melalui tahap aktivasi dengan asam asetat glasial

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
dan tahap asetilasi dengan anhidrida asetat. Kadar asetil untuk selulosa yang saat
ini dijual umumnya memiliki derajat asetilasi antara 1,7 - 3. Asetilasi pada
selulosa merupakan reaksi subtitusi gugus hidroksil dengan gugus asetil. Asetilasi
dapat dilakukan dengan amida, ester, anhidrida karboksilat, dan halida asam.
Namun, amida dan ester bereaksi sangat lambat sedangkan halida asam
reaktivitasnya sangat tinggi. Oleh karena itu, umumnya dipilih anhidrida asetat
karena menghasilkan rendemen yang baik. Perubahan utama yang diharapkan
dengan penambahan gugus asetil pada selulosa adalah sifat kelarutannya serta
sifat fisik dari selulosa asetat hasil modifikasi. Selulosa asetat dapat larut pada
berbagai pelarut bergantung kadar asetilnya. Kelarutan selulosa asetat
memungkinkannya untuk dibentuk atau dicetak menjadi film atau membran.
Perubahan ciri lain yang dikehendaki adalah membuka peluang pemanfaatan yang
lebih luas dibandingkan dengan material induknya yaitu selulosa (Mustaqim,
2011).
Secara komersial selulosa asetat dibuat dengan menggunakan bahan baku
pulp kayu berkualitas tinggi. Salah satu masalah dalam produksi selulosa asetat
dari pulp kayu adalah rendahnya kualitas dan kemurnian selulosa kayu karena
pulp kayu masih mengandung hemiselulosa dan lignin. Selulosa mikrobial adalah
jenis selulosa yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Selulosa mikrobial
merupakan salah satu alternatif sebagai sumber selulosa pada pembuatan selulosa
asetat (Anonim, 2015). Selulosa mikrobial bersifat renewable (dapat diperbarui),
mempunyai karakteristik yang unik dan relatif lebih murni dibandingkan dengan
selulosa kayu.

Gambar 4. Struktur Selulosa Asetat

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
(Kirk Othmer, 1998dalamTanata, 2012)

Sifat dan Karakteristik Serat Selulosa Asetat


Serat asetat merupakan serat berharga yang dibuat dengan biaya rendah
dan kualitas yang baik. Sifat dari asetat membuat serat ini dikenal sebagai serat
yang bagus. Serat asetat digunakan dalam proses pembuatan kain statin, kain
brokat, dan kain taffeta untuk menonjolkan sifat yang cantik dan baik.
Karakteristik dari serat asetat:
1.
2.
3.
4.

Bersifat selulosa dan termoplastik.


Absorbsi selektif dan menghilangkan zat organik tingkat rendah.
Dapat berikatan dengan plasticizers, tahan terhadap panas dan tekanan.
Dapat larut dalam berbagai pelarut (terutama aseton dan beberapa pelarut

organik lainnya.
5. Bersifat hidrofilik; setat mudah basah dengan perpindahan cairan yang baik
dan absorbsi yang bagus; dalam keadaan kering ketahanan setat berkurang.
6. Serat asetat bersifat hipoalergenik.
7. Luas permukaan yang tinggi.
8. Dibuat dari sumber yang dapat diperbarui.
9. Dapat dijadikan kompos dan diincenerasi.
10. Lemah terhadap larutan alkali kuat dan agen oksidator kuat.
Kegunaan utama selulosa asetat :
1. Bidang pakaian : blus, gaun, perabot rumah, gorden, kain pelapis.
2. Penggunaan bidang industri : rokok, tinta untuk pena dengan ujung serat.
3. Produk dengan daya serap tinggi : popok dan produk bedah.
(Tanata, 2012)

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
II.2 Landasan Teori
II.2.1 Pre-treatment Basa
Pretreatment secara kimiawi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
pelarutan dalam larutan basa atau pelarutan dalam larutan asam. Diantara kedua
tipe pelarut, pelarut yang lebih efektif memecah lignin adalah pelarut basa.
(Ileana, 2014)
II.2.2 Asetilasi
Langkah

kedua

adalah

langkah

asetilasi

yang

bertujuan

untukmemproduksi selulosa asetat primer (TAC). Beberapa reaksi yang terjadi


selama asetilasi, yaitu sebagai berikut;
a. Asam sulfat dan asetat anhidrid bereaksi untuk membentuk asam asetilsulfat
2H2SO4(l) + (CH3CO)2O(l) 2CH3COOSO3H(l)+ H2O(l)

b. Asam sulfat juga bereaksi dengan selulosa, menggantikan gugus -OH dengan
gugus OSO3H...
diyakini bahwa asam sulfat tidak tersisa dalam larutan, kebanyakantelah bereaksi
dengan selulosa dan menghasilkan sebagai berikut :

Pada proses asetilasi ini, kebanyakan dari gugus sulfat digantikan oleh gugus
asetil. Pada esterifikasi yang komplit, mayoritas gugus sulfat yang tersisa terikat
dihidroksi primer pada selulosa. Setelah reaksi pembentukan selulosa asetat
primer terjadi, maka asam sulfat dalam sistem akan ternetralisasi secara sempurna.
( Carolina, 2010 )
II.2.3 Hidrolisis
Langkah ketiga adalah menghidrolisis sisa reaktan asetat anhidridmenjadi
asam asetat. Reaksi asetilasi dihentikan dengan menambahkanair yang
dimasukkan sebagai larutan asam asetat dengan kandungan air5-30% (w). Jumlah

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
gugus asetil saat akhir proses asetilasi kurang menjadi 3,0dan turun hingga sekitar 2,4
, jumlah gugus asetil dan gugus sulfatberkurang oleh hidrolisis asam yang
dipengaruhi oleh waktu,temperatur, dan keasaman. ( Carolina, 2010 )

II.2.4 Flake Recovery (precipitation-washing-drying)

Ini dilakukan berdasarkan spesifikasi produk yang diinginkan. Saattahap


flake precipitation, larutan selulosa asetat terhidrolisis dicampur dengan larutan
asam asetat dengan kandungan air 5-30%. Penambahan asam asetat dilakukan
dengan cepat dan diadukdengan putaran yang cepat. Untuk mendapatkan endapan
powder,larutan

yang

telah

diaduk

dicampur

dengan

perlahan

hingga

terbentukendapan. ( Carolina, 2010 )


II.3 Hipotesis
Buah Bintaro dapat dijadikan sebagai selulosa asetat dengan peningkatan
kadar selulosanya menggunakan pre-treatment basa.

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

BAB III
RENCANA PENELITIAN
III.1 Bahan Baku
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Buah Bintaro
NaOH
Acetobacter Xylinium
CH3COOH
Asam Asetat Glacial
H2SO4
Aquadest
2-Propanol
Diklorometan
ZnCl2

III.2 Alat Penelitian


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Gilingan
Mesh Screening
Timbangan Digital
Gelas ukur 100 ml, 1 buah
Gelas ukur 10 ml, 1 buah
Beaker Gelas 2000 ml
Beaker Gelas 200 ml
Erlenmeyer 500 ml, 6 buah
Kertas pH
Ketas Saring
Batang Pengaduk
Labu Ukur
Pipet Tetes
Autoklaf

III.3 Peubah
1.
2.
3.
4.

Massa bahan baku


: 50 gram
pH
:45
Jumlah starter Acetobacter Xylinium : 100 mL, 150 mL, dan 200 mL
Perbandingan antara massa selulosa dan volume asam asetat glasial
yaitu 1 g:16 mL dan 1 g:32 mL

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
III.4 Cara Kerja
A. Pre-treatment Basa
1. Memotong buah bintaro menjadi potongan kecil-kecil, kemudian
dikeringkan selama 10 hari.
2. Menggiling potongan buah bintaro yang sudah kering hingga halus
dan diayak dengan menggunakan ayakan.
3. Menimbang 50 gram buah bintaro, dimasukkan kedalam erlenmeyer
ukuran 500 ml.
4. Menambahkan 500 ml larutan NaOH 1%, kemudian diinkubasi
dalam autoklaf pada suhu 85 0C selama 1 jam.
5. Menyaring sampel dan mencucinya hingga pH netral kemudian
dikeringkan pada oven pada suhu 105 0C.
6. Mengambil sebanyak 4 gram sampel untuk menghitung jumlah
lignin yang hilang dengan metode ZnCl2-CH3COOH.
B. Tahap Hidrolisa
1. Hasil pre-treatment dimasukkan kedalam erlenmeyer 500 ml dan
ditambahkan 100 ml aquadest.
2. Lalu dipanaskan di dalam autoklaf pada suhu 100 0C selama 30
menit.
3. Bubur buah bintaro dibiarkan menjadi dingin.

C. Pembuatan Selulosa Mikrobial Buah Bintaro


1. Bubur buah bintaro kemudian disaring untuk diambil konsentratnya.
2. Konsentrat tersebut dipanaskan dengan suhu 100 0C hingga
mendidih, kemudian ditambahkan gula pasir 10% dan (NH4)2SO4
2,5% diaduk lalu didinginkan dan atur pH = 4.
3. Dimasukkan starter Acetobacter Xylinium ke dalam campuran
tersebut dengan variasi jumlah starter Acetobacter Xylinium : 100
mL, 150 mL, dan 200 mL.
4. Pada penelitian ini digunakan waktu inkubasi selama 9 hari,
sehingga dihasilkan nata berupa gel berwarna keputih-keputihan
dengan ketebalan 3 mm hingga 8 mm dan permukaannya licin.

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
D. Pemurnian Selulosa Mikrobial
Proses pemurnian selulosa mikrobial dilakukan dengan merendam
nata ke dalam lariutan NaOH 4% selama 24 jam. Perendaman dengan
NaOH bertujuan untuk menghilangkan komponen-komponen non
selulosa dan sisa bakteri, dimana komponen-komponen non selulosa ini
akan menghalangi ikatan hidrogen yang terjadi antar rantai molekul
selulosa. Perendaman dilanjutkan dengan menggunakan CH3COOH 4%
selama 24 jam. Tujuan dari perendaman ini adalah untuk menetralkan
NaOH yang masih terdapat pada selulosa mikrobial. Setelah direndam
dengan asam asetat, selulosa mikrobial direndam dalam air berulang kali
untuk menghilangkan bau asam serta mengurangi kandungan asamnya,
selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari dan dilanjutkan dengan
proses pembuatan selulosa asetat.
E. Pembuatan Selulosa Asetat
Proses pembuatan selulosa asetat terdiri atas tiga tahap, yaitu :
tahap swelling, tahap asetilasi, dan tahap hidrolisis. Tahap swelling
bertujuan untuk aktivasi pulp, aktivator yang digunakan adalah asam
asetat glacial. Pada tahap ini dilakukan. Reaksi swelling akan
memperluas

permukaan

selulosa

asetat

dan

akan

membantu

meningkatkan reaktivitas selulosa asetat terhadap reaksi asetilasi.


Dilanjutkan pada tahap asetilasi dengan menambahkan H2SO4 pekat
yang berfungsi sebagai katalis dan diaduk kontinyu selama 24 jam.
Kemudian ke dalam selulosa hasil asetilasi ditambahkan air dingin dan
dilakukan pengadukan selama 1 jam. Tahap ini disebut sebagai tahap
hidrolisis yang bertujuan untuk menguraikan asam asetat glacial menjadi
asam asetat. Hasil yang diperoleh dari pengendapan ini adalah berupa
gumpalan-gumpalan selulosa asetat berwarna putih kekuning-kuningan.
F. Preparasi dan Pencetakan Membran
Pada tahap awal preparasi membran selulosa asetat, dilakukan
dengan menyaring gumpalan-gumpalan putih kekuningan hasil reaksi
hidrolisis dengan menggunakan kertas saring dan dilakukan pencucian

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
berkali-kali menggunakan aquadest dan etanol yang bertujuan untuk
mengurangi bau asam dan kandungan asam. Dilanjutkan dengan proses
vacum

pump

dan

pencampuran

dengan

diklorometan

untuk

mendapatkan larutan dope.


Pada proses pencetakan membran, digunakan lapisan pendukung
berupa poliester. Pencetakan membran dilakukan di atas pelat kaca.
Poliester dihamparkan di atas kaca, diselotip dengan ketebalan tertentu
kemudian dope selulosa asetat dicetak di atasnya dan diratakan dengan
batang silinder lalu diangin-anginkan di udara terbuka selama 15 menit.
Setelah itu, pelat kaca dimasukkan ke dalam koagulan 2-propanol
selama 24 jam. Proses tersebut bertujuan untuk mendapatkan struktur
membran yang lebih rapat. Membran yang telah terbentuk dicuci
berkali-kali dengan air yang mengalir untuk menghilangkan seluruh
pelarut dan aditif.

III.5 Diagram
A. Pre-treatment Basa

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

B. Hidrolisa

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

C. Pembuatan Selulosa Mikrobial Buah Bintaro

D. Pemurnian Selulosa Mikrobial

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

E. Pembuatan Selulosa Asetat

F. Preparasi dan Pencetakan Membran

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
DAFTAR PUSTAKA
Keyendh,Faiz.2011.Tanaman

Bintaro

(Cerbera

Manghas).

(http://fasula.blogspot.co.id/2011/06/tanaman-bintaro-cerberamanghas.html?m=1)
Handoko, Tony dkk.2012.Hidrolisis Serat Selulosa dalam Buah Bintaro.
(http://citation.itb.ac.id/pdf/jurnal/jtki/)
Wardani, Trisno.2015. Bintaro, pohon beracun yang dijadikan tanaman hijau di
Surabaya. (http://m.merdeka.com/peristiwa/bintaro-pohon-beracun-yangdijadikan-tanaman-hijau-di-surabaya.html)
Kartimi.2015.Pemanfaatan Buah Bintaro Sebagai

Biopestisida

Dalam

Penanggulangan Hama Pada Tanaman Padi Di Kawasan Pesisir Desa


Bandengan

Kabupaten

Cirebon.(http://biology.unm.ac.id/101-

111/kartimi)
Khikmah, Nurul dkk.2012.Pembuatan Bioetanol Berbahan Dasar Biji Bintaro.
(http://dokumen.tips/documents/biodiesel-biji-bintaro.html)
Zarlis,Almy.2009.
Selulosa
Asetat
Di

Indonesia.

(http://almyzarlis.blogspot.co.id/2009/03/selulosa-asetat-diindonesia.html?m=1)
Greg dan Tony.2011.Pengolahan Buah Bintaro sebagai Sumber Bioetanol dan
Karbon Aktif.(http://citation.itb.ac.id/pdf/jurnal/jtki/)
Soesanto,Triyono.2011.Bahaya
dan
Manfaat
Buah

Bintaro.

(http://arurasameru.wordpress.com/2011/06/24/bahaya-dan-manfaatbuah-bintaro/)
Anonim.2015.Manfaat

Buah

Bintaro

dan

Manfaatnya.

(http://blogsistah.blogspot.co.id/2015/02/manfaat-buah-bintaro-danbahayanya.html?m=1)
Mulyani,Sri.2014.Komponen

Kimia

Kayu.

(http://srimuliyani.blogspot.co.id/2014/01/komponen-kimia-kayu.html?
m=1)
Ileana.2014.Pretreatment

Bahan

(http://cropstechnology.wordpress.com/author/ileana4/)

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya

Lignoselulosa.

Proposal Penelitian
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI BUAH BINTARO
(Cerbera Manghas) DENGAN PRETREATMENT BASA
(NaOH)
Mulyana,Ardi.2015. Pengertian Selulosa. (http://www.sridianti.com/pengertianselulosa.html)
Sofah.2013.Molekul

Selulosa.(http://nsofah.blogspot.com/2013/04/molekul-

selulosa.html?m=1)
Anonim.2015.Karakteristik Dan Pemanfaatan Bakteri Acetobacter Xylinum.
(http://agrotekno-lab.blogspot.co.id/2015/04/karakteristik-danpemanfaatan-bakteri.html?=1)
Damayanti,Alia.2011.Pemanfaatan Selulosa Asatat Eceng Gondok Sebagai
Bahan

Baku

Pembuatan

Membran

Untuk

Desalinasi.(http://digilib.its.ac.id)
Mustaqim.2011.Pemanfaatan Limbah Kertas sebagai Bahan Baku Selulosa
Asetat

dalam

Pembuatan

Membran.

(http://taqimvino13.blogspot.com/2011/06/pemanfaatan-limbah-kertassebagai-bahan-baku-selulosa-asetat-dalam-pembuatan-membran)
Anonim.2015.Perancangan Proses Pembuatan Selulosa Asetat dari Selulosa
Mikrobial untuk Membran Ultrafiltrasi.(http://repository.ipb.ac.id)

Program Studi S-1 Teknik Kimia


Fakultas Teknologi Industri-UPNVETERANJatim Surabaya