Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN

DENGAN BATU GINJAL


LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN BATU GINJAL

Oleh
Meyria Sintani
NIM : 2012.C.04a.0314

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman
Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu
saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal,
pielum, ureter, kandung kemih dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian
turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu kandung kemih (VU) karena hiperplasia prostat atau
batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan
merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69)
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara
berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai
batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan
mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 %
penduduk menderita batu saluran kemih.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam makalah ini kami akan membahas tentang beberapa materi yang ada dalam
Sistem Perkemihan
1.
2.
3.
4.

Apa definisi batu dari ginjal?


Apa saja etiologi dari batu ginjal?
Bagaimana patofisiologi batu ginjal?
Apa saja manifestasi klinis batu ginjal?

5.
6.
7.
8.
9.

Apa saja faktor penyebab batu ginjal?


Apa saja komplikasi dari batu ginjal?
Apa saja pemeriksaan penunjang bagi batu ginjal?
Apa saja penatalaksanaan bagi batu ginjal?
Bagaimana pencegahan terjadinya batu ginjal?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah agar kita dapat lebih mengetahui tentang Batu
Ginjal.
1.3.2

Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah agar para mahasiswa keperawatan
mengetahui, memahami, dan mengerti dari Batu Ginjal di antaranya:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Untuk mengetahui apa definisi batu dari ginjal?


Untuk mengetahui apa saja etiologi dari batu ginjal?
Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi batu ginjal?
Untuk mengetahui apa saja manifestasi klinis batu ginjal?
Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab batu ginjal?
Untuk mengetahui apa saja komplikasi dari batu ginjal?
Untuk mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang bagi batu ginjal?
Untuk mengetahui apa saja penatalaksanaan bagi batu ginjal?
Untuk mengetahui bagaimana pencegahan terjadinya batu ginjal?

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan para
mahasiswa keperawatan, khususnya keluarga besar STIKES EKA HARAP agar dapat lebih
mengetahui dan mengerti tentang Batu Ginjal.

1.5 Metode Penulisan


Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode pustaka. Metode
Pustaka adalah metode dengan cara membaca dan mengumpulkan data-data dari buku yang
menyangkut pembahasan.

BAB 2
TINJAUN PUSTAKA
1.1 Pengertian
Batu ginjal adalah satu keadaan terdapat suatu atau lebih batu didalam pelvis atau calyces
ginjal atau disaluran kemih (Pratomo, 2007). Batu ginjal disaluran kemih (kalkulus uriner)
adalah masa keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan
nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam
ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandng kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan
batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis).
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (nefrolithiasis), sudah dikenal sejak
zamanBabilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih
mummi.Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem
kaliksginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di
ginjalkemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran
kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena
hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.Batu ginjal adalah
batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,infundibulum, pelvis ginjal dan
bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal danmerupakan batu slauran kemih yang
paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69).
1.2 Etiologi
Batu ginjal mempunyai banyak jenis nama dan kandungan zat penyusunnya yang berbedabeda. Menurut Arimaudi (2007), ada empat jenis utama dari batu ginjal yang masing-masing
cenderung memiliki penyebab yang berbeda, diantaranya:

a. Batu Kalsium
Sekitar 75 sampai 85 persen dari batu ginjal adalah batu kalsium. Batu ini biasanya
kombinasi dari kalsium dan oksalat, timbul jika kandungan zat itu terlalu banyak didalam urin,
selain itu jumlah berlebihan vitamin D, menyebabkan tubuhh terlalu banyak menyerap kalsium.
b. Batu Asam Urat
Batu ini terbentuk dari asam uric, produk sampingan dari metabolisme protein.
c. Batu Struvite
Mayoritas ditemukan pada wanita, batu struvite biasanya diakibatkan infeksi saluran
kencing kronis, disebabkan bakteri. Batu ini jika membesar, akan menyebabkan kerusakan serius
pada ginjal.
d. Batu Sistin
Batu ini mewakili sekitar 1 persen dari batu ginjal. Ditemukan pada orang dengan kelainan
genetic, sehingga ginjal kelebihan jumlah asam amino.
1.3 Patofisiologi
Batu ginjal dapat disebabkan oleh peningkatan pH urin (misalnya batu kalsium bikarbonat)
atau penurunan ph Urin (batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang tinggi
didalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau konsumsi obat tertentu, juga dapat
merangsang pembentukan batu sehingga menghambat aliran urin dan menyebabkan stasis atau
tidak ada pergerakan urin dibagian manapun dari saluran kemih sehingga terjadi kemungkinan
pembentukan batu (Elizabeth J. Corwin, 2009).
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran
kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan
miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter
atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses
ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal). (Price & Wilson,
1995).
1.4 Manifestasi Klinis

Hariyanto (2008) menyatakan bahwa besar dan lokasi batu bervariasi, rasa sakit di
sebabkan oleh obtroksi merupakan gejala utama. Batu yang besar dengan permukaan yang besar
masuk kedalam ureter akan menambah frekuensi dan memaksa kontraksi uruter secara otomatis.
Rasa sakit dimulai dari pinggang bawah menuju kepinggul, kemudian kearah kelamin luar bisa
merupakan puncak dari kesakitan.
Handriandi (2006) menyatakan apabila batu berada di pasu ginjal dan di calix, rasa sakit
menetap dan kurang intensitasnya. Sakit pinggang terjadi bila batu yang mengadakan obtruksi
berada di dalam ginjal. Sedangkan rasa sakit yang parah pada bagian perut terjadi bila batu telah
pindah ke dalam ureter. Mual dan muntah selalu mengikuti rasa sakit yang berat. Penderita batu
ginjal kadang-kadang juga mengalami panas, kedinginaan, adanya darah didalam urin jika batu
melukai ureter, disenti perut, nanah dalam urine.
Batu terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu didalam kandung kemih
bisa menyebabkan nyeri diperutbagian bawah. Batu yang menyebab ureter, kolik renalis (nyeri
kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang datang-timbul, biasanya di
daerah antara tulang rusuk pinggang, yang menjarar ke perut, kemaluan dan daerah paha sebelah
dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut mengelembung, demam, menggigil, dan
darah didalam air kemih. Penderita mungkin menjari sering berkemih, terutama ketika batu
melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat saluran
kemih, bakteri akan teperangkap didalam aliran kemih yang terkumpul diatas penyumbatan,
sehingga terjadinya infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama air kemih akan mengalir
balik ke saluran di dalam ginjal menyebabkan penekanan yang akan mengelembungkan ginjal
(hidronefrosis) dan pada akhirnya akan terjadi kerusakan ginjal (Jarot, 2008).
1.5 Faktor-faktor Penyebab Batu Ginjal
Penyakit batu gijal banyak di alami oleh penduduk Indonesia, terutama kaum pria. Adapun
faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu ginjal/ kandung kemih meliputi ras,
keturunan, jenis kelamin, bakteri, kurang minum, air jenuh mineral, pekerjaan, makanan dan
suhu tempat kerja.
Batu ginjal/kandung kemih lebih banyak diderita penduduk dari ras Afrika dan Asia
(termasuk Indonesia) di bandingkan penduduk Amerika dan Eropa. Jika berdasarkan keturunan,
peluang terkena batu ginjal/kandung kemih lebih besar seandainya terdapat riwayat penderita
batu ginjal/kandung kemih dalm kelurga. Sedangkan berdasarkan dari sisi jenis kelamin, pria

lebih beresiko terkena batu ginjal/kandung kemih dibanding wanita. Di perkirakan sekitar 80%
dari pria berusia 70 Tahun mengalami gijala tersebut (Pratomo, 2008).
Pratomo (2008) menyatakan bahwa bakteri juga dapat menimbulkan pembentukan batu
ginjal. Saluran urine yang terinfeksi bakteri pemecah urea pada urin akan mentimulasikan
pembentukan batu pada kandung kemih. Jika kurang minum, maka kepekaan urin meningkat
(konentrasi semua substansi dalam urin meningkat), sehingga mempermudah pembentukan batu.
Lantas air jenuh mineral, terutama kalsium, berpengaruh besar dalam pembentukan batu.
Pekerjaan dari pekerjaan keras yang banyak bergerak, misal buruh dan petani lebih besar
beresiko mengidap batu ginjal/kandung kemih dibandingkan pekerjaan yang lebih banyak duduk.
Konsumsi makanan juga berpengaruh, seperti pada masyarakat ekonomi rendah (kurang makan
putih telur) sehingga menderita batu saluran kemih. Makanan dengan kadar oksalat, natrium, dan
kalsium yang tinggi dan protein hewan dengan purin tinggi memicu terbentuknya batu ginjal.
Lantas suhu, yaitu tempat dengan suhu panas semisal daerah tropis (Indonesia) dan kamar mesin,
dimana banyak mengeluarkan keringat akan mempermudah pembentukan batu ginjal/kandung
kemih. Sebisa mungkin kita harus bisa mencegahnya karena batu ginjal sulit untuk disembuhkan.
Seringkali penyakit ini bersifat permanen karena penyakit ginjal adalah penyakit kambuhan,
dimana batu ginjal bisa datang lagi setelah penderita diobati atau dioperasi. Tidak jarang
penderita merasa frustasi untuk berobat karena seringnya penyakit ini kambuh.
1.6 Komplikasi
Jika batu dibiarkan dapat menjadi sarang kuman yang dapat menimbulkan infeksi saluran
kemih, pylonetritis, yang akibatnya yang akhirnya merusak ginjal, maka timbul gagal ginjal
dengan segala akibatnya yang jauh lebih parah (Abdul Haris Awie, 2009).
1. Sumbatan atau obstruksi akibat adanya pecahan batu.
2. Infeksi, akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi.
3. Kerusakan fungsi ginjal akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan atau pengangkatan batu
ginjal.
1.7 Pemeriksaan Penunjang
1.7.1 Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi wajib dilakukan pada pasien yang dicurigai mempunyai batu. Hampir
semua batu saluran kemih (98%) merupakan batu radioopak.
Pemeriksaan radiologi khusus yang dapat dilakukan meliputi :
1. Retrograde atau antegrade pyelography
2. Spiral (helical) unenhanced computed tomography (CT)

3. Scintigraphy
1.7.2 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin meliputi:
1. Sedimen urin / tes dipstik untuk mengetahui sel eritrosit, lekosit,bakteri (nitrit), dan pH urin.
2. Kreatinin serum untuk mengetahui fungsi ginjal.
3. C-reactive protein, hitung leukosit sel B, dan kultur urin biasanya dilakukan pada keadaan
4.
5.
1.8
1.
2.

demam.
Natrium dan kalium darah dilakukan pada keadaan muntah.
Kadar kalsium dan asam urat darah dilakukan untuk mencari faktor risiko metabolik.
Penatalaksanaan Medis
Peningkatan asupan cairan meningkatkan aliran urin dan membantu mendorong adanya batu.
Modifikasi makanan yang dapat mengurangi kadar pembentuk batu bila kadungan batu

teridentifikasi.
3. Ubah pH urin sedemikian untuk meningkatkan pemecahan batu.
4. Litotripsi (terapi gelombang kejut) ekstrakorporeal/ di luar tubuh atau terapi laser yang
digunakan untuk memecah batu .
5. Bila diperlukan lakukan tindakan bedah untuk mengangkat batu yang besar atau untuk
meningkatkan setelah disekitar batu untuk mengatasi obstruksi.
1.9 Pencegahan
Kesulitan dari pencegahan penyakit batu ginjal adalah gejalapenyakit ini muncul ketika
keadaan sudah parah atau ketika batu gijal sudah terbentuk besar dan banyak. Rasa sakit mulai
timbul ketika batu ginjal sudah terbentuk besar dan banyak. Rasa sakit mulai timbul ketika batu
ginjal sudah mencapai saluran kencing (Alam 2008).
Gejala awal dari batu ginjal adalah adanya rasa sakit yang biasanya mulai dari lambung
atau daerah samping perut dan berlahan-lahan rasa sakit yang biasanya dimulai dari lambungatau
di daerah samping lambung atau daerah samping perut dan perlahan-lahan rasa sakit bergerak
menuju daerah pangkal paha. Batu ginjal yang baru terbentuk tersebut dapat menyebabkan rasa
nyeri yang sangat ketika batu tersebut dipaksa keluar dari saluran kemih. Hal ini biasanya terjadi
ketika batu gijal yang cukup besar sudah termausuk kedalam ureter yang menyebabkan tekanan
dari air kencing yang terhambat dan menyebabkan senssi yang sangat menyakitkan.
Dalam khasus yang ekstrim air kencing bisa berwarna merah karena bercampur berwarna
merah karena kerusakan dari ureter. Hal ini bisa mengakibatkan keadaan menjadi lebih parah
karena timbulnya komplikasi seperti infeksi yang lebih lanjut. Selain itu kekurangan darah dapat
menjadi masalah serius karena pendarahan terus terjadi akibat kerusakan ureter. Untuk
menghindari hal ini maka perlu dilakukan pencegahan terbentuknya batu gimjal (Alam 2008).

Adapun ada beberapa hal untuk mencegah terbentuknya batu ginjal, yaitu:
1.

Mengurangi minuman yang berkalsium tinggi atau minuman yang bervitamin C tinggi.
Pengkonsumsian yang terlalu sering akan mengakibatkan infeksi pada ginjal dan mengakibatkan

batu ginjal.
2. Mengurangi makanan atau minuman yang bersuplemen
3. Mengurangi makanan yang bisa menyebabkan asam urat, seperti jeroan sapi, kambing dan
sebagainya. Makanan ini banyak mengandung enzim yang dapat menimbulkan endapan pada
ginjal
4. Hindari diet ketat. Pada umumnya orang yang yang menjalankan diet ketat supaya langsing.
5.
6.
7.
8.
9.

Misalnya, diet ketat seperti itu bisa menimbulkan kristal pada ginjal.
Perbanyak minum air putih minimal 2 liter/hari
Menghindari kencing terlalu lama
Berolahraga secara teratur
Mengurangi kosumsi vitamin D secara berlebih
Hindari makanan dengan kadar oksalat, natrium, kalsium yang tinggi dan protein hewan dengan
purin tinggi, karena dapat memicu terbentuknya batu ginjal/kandung kemih.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji
adalah:

1. Aktivitas/istirahat:
-

Gejala:
Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk.
Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi.
Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah
baring lama)

2. Sirkulasi
-

Tanda:
Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal).
Kulit hangat dan kemerahan atau pucat

3. Eliminasi
Gejala:

Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya.


Penrunan volume urine.
Rasa terbakar, dorongan berkemih.
Diare
Tanda:

Oliguria, hematuria, piouria.


Perubahan pola berkemih

4. Makanan dan cairan:


-

Gejala:
Mual/muntah, nyeri tekan abdomen.
Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat.
Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup.
Tanda:
Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus.
Muntah.

5. Nyeri dan kenyamanan:


-

Gejala:
Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal

menimbulkan nyeri dangkal konstan)


Tanda:
Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi.
Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit

6. Keamanan:
-

Gejala:
Penggunaan alcohol.
Demam/menggigil

7. Penyuluhan/pembelajaran:
-

Gejala:
Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis.
Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme.
Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid,
pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.

3.2 Diagnosa
1. Nyeri kronis berhubungan dengan aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises, peregangan dari
2.

terminal saraf sekunder dari adanya batu pada ginjal.


Perubahan pola miksi berhubungan dengan retensi urine, sering BAK, hematuria sekunder dari

3.

iritasi saluran kemih.


Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah

4.

efek sekunder dari nyeri klonik.


Kecemasaan berhubungan dengan pronogsis pembedahan, tindakan invasif diagnostik.

5.

Pemenuhan informasi berhubungan dengan rencana pembedahan, tindakan diagnostik invasif

(ESWL), perencanaan pasien pulang.


3.3 Prioritas Masalah
1. Nyeri kronis berhubungan dengan aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises, peregangan dari
2.

terminal saraf sekunder dari adanya batu pada ginjal.


Perubahan pola miksi berhubungan dengan retensi urine, sering BAK, hematuria sekunder dari

3.

iritasi saluran kemih.


Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah
efek sekunder dari nyeri klonik.

3.4 Intervensi

No .
1.

Rencana Tindakan

Diagnosa Kep.

Tujuan & Kriteria Hasil

Intervensi

Nyeri kronis berhubungan

Setelah dilakukan

Jelaskan dan bantu pasien dengan1. Pen

dengan aktivitas peristaltik

perawatan selama 1 x 24

tindakan preda nyeri

me

otot polos sistem kalises,

jam nyeri yang dirasakan

non

peregangan dari terminal

klien berkurang, hilang atau

nonfarmakologi dan noninvasif.


Lakukan manajemen nyeri

saraf sekunder dari adanya

teradaptasi.

batu pada ginjal.


1.

2.

3.

me

keperawatan:
dal
- Istirahankan pasien.
1.
Kriteria Hasil:
- Manajemen lingkungan tenang - Ist
Secara subjektif
dan batasi pengunjung.
keb
- Beri kompres hangat pada
melaporkan nyeri
seh
berkurang atau dapat
pinggang.
sup
diadaptasi. Skala nyeri 0-1 - Lakukan tehnik stimulasi per
- Lin
kutaneus.
(0-4).
me
Dapat mengindentifikasi - Lakukan masase sekitar nyeri.
- Dekatkan orang terdekat.
ekt
aktivitas yang
- Ajarkan tehnik
pas
meningkatkan atau
relaksasipernapasan dalam.
pem
menurunkan nyeri.
- Ajarkan tehnik destraksi pada saat
Ekspresi pasien rilaks.
me
nyeri.
- Tingkatkan pengetahuan tentang: kon
ber
sebab nyeri yang berhubungan
pen
berapa lama nyeri akan
diru
berlangsung.
kolaborasi dengan dokteruntuk
pas
- Va
pemberian analgetik.

me

kon

seh

stim

- Sa

unt

pen

enf

seb

unt
- Me

asu

me
- Di

per

stim

me

pro

eka

rese

dik

seh

nye
- Pe

dira

me

dap

me

pas

trap
2. Aln

nye

ber
2.

Perubahan pola miksi


berhubungan dengan retensi
urine, sering BAK,
hematuria sekunder dari
iritasi saluran kemih.

Setelah dilakukan tindakan1.

Kaji pola berkemih, dan catat

keperawatan selama 3x24

produksi urine tiap 6 jam.


Anjurkan pasien untuk minum

jamdiharapkan pola
eliminasi optimal sesuai

2.
3.

kondisi pasien.
Kriteria Hasil:

4.

1. Me

kan

frek
2.000 cc/jam.
2. Me
Hindari minum kopi, teh, kola dan
fun
alkohol.
sec
Kolaborasi

1. Frekuensi miksi dalam

terb

- Pemberian medikamentosa
- Tindakan extracorporeal

batas 5-8 X/24 jam.


2. Pasien mampu minum
Shockwave Lithottripsy (ESWL).
2.000 cc/24 Jam dan
- Tindakan Endourologi
kooperatif untuk
menghindari cairan yang - Pembedahan terbuka.
3.
mengiritasi saluran kemih.

alir

me

urin
Me

me

ber

kem
4.

- Ter

ditu

uku

dan

kel

dib

me

me

den

dan

me

salu
- Al

bat

pro

kem

inv

Bat

pra

seh

dik

kem

pec

kel

nye

hem
- Tin

tind

unt

salu

me

me

dal

dim

pad

pem

sec

me

ene

3.

Resiko ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan
dengan mual, muntah efek
sekunder dari nyeri klonik.

Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji status nutrisi klien, torgur

den
- Be
pas
gin
per
bel
pas
atau
ada
klin
pen
pem
1. Me

keperawatan selama 1x24

kulit, berat badan, dan drajat

der

jam diharapkan asupan

penurunan berat badan, intergritas

me

nutrisi klien terpenuhi.

mukosa oral, kemampuan

Kriteria Hasil:

menelan, riwayat mual/muntah

1. Klien dapat
mempertahankan status

dan diare.
2. Fasilitasi klien memperoleh diet

yan
2. Me

ind

asu
3. Be

asupan nutrisi yang

biasa yang disukai klien (sesuai

kee

adekuat.
indikasi).
2. Pernyataan motivasi kuat 3. Pantau intake dan output, anjurkan
untuk memenuhi kebutuhan
untuk timbang berat badan secara
nutrisi.
periodik (sekali seminggu).
4. Lakukan dan ajarkan perawatan
mulut sabelum dan sesudah
makan, dan sebelum dan sesudah
intervensi/pememriksaan peroral.
5. Fasilitasi pasien memperoleh diet
sesuai indikasi dan anjurkan
menghindari assupan dari agen
iritan.
6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menetapkan kombinasi dan jenis
diet yang tepat.
7. Kolaborasi untuk memberikan
anti-muntah.

duk

dan

me

beb

har

ber

dib

me

epi

dan
4. Int

kaf

me

sara

me

lam

Pen

dih

me

me

bik

kar

net

dal

jug

par

me

dal

me

mu
5. Me

kan

ade

pen

dan

stat
6. Me
gas
me
asu
per

3.5 Implementasi
No.
1.

Implementasi
1. Menjelaskan dan bantu pasien dengan tindakan preda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif.
2. Melakukan manajemen nyeri keperawatan:
- Istirahankan pasien.
- Manajemen lingkungan tenang dan batasi pengunjung.
- Beri kompres hangat pada pinggang.
- Lakukan tehnik stimulasi per kutaneus.
- Lakukan masase sekitar nyeri.
- Dekatkan orang terdekat.
- Ajarkan tehnik relaksasipernapasan dalam.
- Ajarkan tehnik destraksi pada saat nyeri.

- Tingkatkan pengetahuan tentang: sebab nyeri yang berhubungan berapa lama nyeri akan berlangsung.
3. Mengkolaborasi dengan dokteruntuk pemberian analgetik.
2.

1.
2.
3.
4.

3.

1.

Mengkaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap 6 jam.


Menganjurkan pasien untuk minum 2.000 cc/jam.
Menghindari minum kopi, teh, kola dan alkohol.
Mengkolaborasi
Pemberian medikamentosa
Tindakan extracorporeal Shockwave Lithottripsy (ESWL).
Tindakan Endourologi
embedahan terbuka.
Mengkaji status nutrisi klien, torgur kulit, berat badan, dan drajat penurunan berat badan, intergritas mu

menelan, riwayat mual/muntah dan diare.


2. Memfasilitasi klien memperoleh diet biasa yang disukai klien (sesuai indikasi).
3. Memantau intake dan output, anjurkan untuk timbang berat badan secara periodik (sekali seminggu).
4. Melakukan dan ajarkan perawatan mulut sabelum dan sesudah makan, dan sebelum dan sesudah interv

peroral.
5. Memfasilitasi pasien memperoleh diet sesuai indikasi dan anjurkan menghindari assupan dari agen irita
6. Mengkolaborasi dengan ahli gizi untuk menetapkan kombinasi dan jenis diet yang tepat.
7. Mekolaborasi untuk memberikan anti-muntah.

3.6
1.
2.
3.
4.
5.

Evaluasi
Penurunan keluhan dan respons nyeri.
Terjadi perubahan pola miksi.
Peningkatan asupan nutrisi kurang.
Penurunan tingkat kecemasan.
Terpenuhinya informasi tentang rencana pembedahan, tindakan diagnostik invasif (ESWL), dan
perencanaan pasien pulang.

BAB 3
PENUTUP
4.1 Simpulan
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman
Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu
saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal,
pielum, ureter, kandung kemih dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian
turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu kandung kemih (VU) karena hiperplasia prostat atau
batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Batu ginjal dapat disebabkan oleh peningkatan pH urin (misalnya batu kalsium bikarbonat)
atau penurunan ph Urin (batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang tinggi
didalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau konsumsi obat tertentu, juga dapat
merangsang pembentukan batu sehingga menghambat aliran urin dan menyebabkan stasis atau
tidak ada pergerakan urin dibagian manapun dari saluran kemih sehingga terjadi kemungkinan
pembentukan batu (Elizabeth J. Corwin, 2009).
4.2 Saran
Setelah membaca dan memahami isi makalah ini, diharapkan perawat, mahasiswa calon
perawat atau para pembaca bisa mempelajari dan mengetahui apakah yang dimaksud dengan
Batu Ginjal.
Semoga makalah ini bermanfaat dan senantiasa mengalami perbaikan dalam setiap
pembuatan makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin, Arif, Kumala Sari. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:
Salemba Medika.
Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. EGC
Engram, Barbara. 1994. Buku Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC