Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman
Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu
saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal,
pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke
saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena
adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang
terbentu di dalam divertikel uretra.
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara
berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai
batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan
mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 %
penduduk menderita batu saluran kemih.
Batu dapat menyebabkan infeksi berulang, gangguan ginjal, atau hematuria. Obstruksi
akut menyebabkan kolik ginjal dengan nyeri pinggang yang berat, seringkali menyebar ke
selangkangan, dan kadang disertai mual, muntah, rasa tidak nyaman di abdomen, disuria, nyeri
tekan ginjal, dan hematuria.Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan
dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mendapatkan gambaran lebih jelas
tentang bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Ny. F 55 tahunYang Mengalami batu ginjal
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah mengetahui konsep dasar penyakit dan
secara kasus tentang asuhan keperawatan dengan urolithiasis (batu ginjal).
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan umum:
Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada klien denganurolithiasis.
Tujuan khusus

a)

Mampu mengidentifikasi pengertian, etiologi, tanda dan gejala, klasifikasi, patofisiologi,


penatalaksanaan, pemeriksaan diagnostik urolithiasis..

b) Mampu mengiidentifikasi proses keperawatan dengan urolithiasis,meliputi:


oPengkajian
oDiagnosa Keperawatan
oIntervensi dan Rasionalisasi
1.4Manfaat Penulisan
1. Mahasiswa:
o Mahasiswa memahami penyakit urolithiasis sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah sistem
Perkemihan.
o Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam
persiapan praktik di rumah sakit.
2. Institusi:
o Dapat membantu perkembangan ilmu keperawatan khususnya proses

keperawatan dengan

urolithiasis di institusi kelompok melakukan studi.


o Dijadikan acuan dan bahan bagi penulis/kelompok lain yang berminat untuk menulis makalah
tentang asuhan keperawatan dengan urolithiasis.
3. Masyarakat:
o Masyarakat mampu memahami apa itu urolithiasis, beserta penyebab dan akibatnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep dasar penyakit
1. Anatomi fisiologi ginjal
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua sisi
vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3.Bentuk ginjal seperti biji kacang.Ginjal
kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang besar.

a)
b)
c)
d)

Fungsi ginjal
memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
mempertahankan suasana keseimbangan cairan,
mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
Struktur Ginjal.
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex
renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang
berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex.Bagian medulla berbentuk kerucut yang
disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang
kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh
darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus..Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin
yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masingmasing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores Struktur halus ginjal terdiri
dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam
setiap ginjal. Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan
tubulus urinarius.
Persarafan Ginjal.

Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis(vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk
mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan
pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
2. Definisi
Batu di dalam saluran kemih (Urinary Calculi) adalah massa keras seperti batu yang
terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan
aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam
kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis
renalis, nefrolitiasis).
Batu ginjal (urolitiasis) adalah bentuk deposit mineral, paling umum oskalat C a2+ dan
fosfat Ca2+ , namun asam urat dan kristal lain juga pembentuk batu. Meskipun kalkulus ginjal
dapat terbentuk dimana saja dari saluran perkemihan, batu ini paling umum ditemukan pada
palvis dan kalik ginjal. Batu ginjal dapat tetap asimtomatik sampai keluar kedalam ureter
dan/atau aliran urine terhambat (Doengoes, 2000. Hal 686).
Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapatnya batu (kalkuli) di ginjal.batu yang terbentuk
di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi
pelvis serta seluruh kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal
memebrikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu staghorn (muttaqin, arif.
20012)
Batu ginjal adalah batu yang terdapat di saluran kemih, batu yang sering dijumpai
tersusun dari Kristal-kristal kalsium (Elizabeth J. Corwin, 2009). Batu ginjal adalah adanya batu
dalam sistem perkemihan sebanyak 60% kandungan batu ginjal terdiri atas kalsium oksalat, asam
urat. Magnesium, amonium, dan fosfat atau gelembung asam amino. (dr.nursalam dkk. 2009)
3. Etiologi
Secara epidemiologis, terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
faktor intrinsik
a. Faktor genetik
Faktor genetik berperan penting dalam terjadinya batu ginjal pasa seseorang. Menurut
Mange K.C (1999), seseorang yang mempunyai keluarga penderita batu ginjal mempunyai risiko

mengalami penyakit batu ginjal sebesar 25 kali dibandingkan dengan seseorang yang tidak
mempunyai garis keturunan penyakit batu ginjal. Hiperkalsiuria idiopatik ( penyebanya tidak
diketahui) bersifat familial atau genetik. Berdasarkan penelitian dilaporkan bahwa 50% pasien
dengan hiperkalsiura idiopatik bersifat diturunkan.
b. Riwayat sakit batu ginjal sebelumnya
Penyakit batu ginjal bersifat kumat-kumatan. Artinya, pasien yang pernah menderita batu
ginjal sekalipun batunya pernah keluar secara spontan atau dikeluarkan oleh dokter, suatu saat
nanti dapat mengalami kekambuhan.
c. Umur; paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
d. Jenis kelamin; jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.
e. Kelainan anatomi ginjal dan salurannya
Isidensi batu ginjal lebih sering terjadi pada seseorang yang mengalami kelainan anatomi
ginjal. Hal ini berhubungan dengan terlambatnya aliran air kemih. Misalnya pada ginjal tapal
kuda (horseshoe kidney), penyempitan ureter, penyempitan dikaliks, dan sebagainya.
faktor ekstrinsik
a. Jumlah minum sedikit
Kurang minum, aktivitas yang banyak mengeluarkan keringat, dan cuaca/iklim panas
menyebabkan volume cairan tubuh berkurang. Akibatnya, jumlah air kemih yang terbentuk juga
lebih sedikit. Keadaan ini juga menciptakan supersaturasi atau kejunuhan ginjal.
b. Meningkatnya konsentrasi mineral pembentuk batu dalam air kemih
Pengeluaran mineral yang berlebihan melalui air kemih menciptakan kejenuhan air kemih
dan berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal. Misalnya :hiperkalsiura (pengeluaran
kalsium yang berlebihan bersama air kemih), hiperoksaluria (pengeluaran oksalat yang
berlebihan bersamaan air kemih), dan hiperuricosuria (pengeluaran asam urat yang berlebuhan
c.

bersamaan air kemih).


Jenis pekerjaan dan hobi yang memicu dehidrasi
Seseorang dengan pekerjaan sehari0hari lebih banyak menggunakan kekuatan fisik dan
yang terlebih lagi tinggal di daerah yang beriklim panas serta terpapar matahari memiliki
peluang lebih besar untuk mendapatkan batu ginjal. Mereka yang mempunyai hobi berolah raga
tanpa diimbangi dengan jumlah minum yang memadai yang termasuk golongan yang berpotensi

menderita batu ginjal.


d. Kosumsi obat-obatan
Beberapa jenis obat-obatan seperti efedrin, obat pelancar kecing, obat kejang, dan obat
e.

anti virus (indinavir) berpotensi memudahkan terbentuknya batu ginjal.


Penyakit dan gangguan metabolik

Kelainan metabolik tertentu menyebabkan pembuangan mineral tubuh meningkatkan


misalnya penyakit hiperparateriodisme (terjadi hiperkalsiura, penyakit rematik asam urat/gout
artritis (terjadi hiperuricosuria), penyakit usus (menurunnya kadar sitrat), dan penyakit asidosis
f.

tubuler ginjal (kehilangan sitrat melalui air kemih).


Geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah

lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)


g. Diet; diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
Menurut arif muttaqin, 2012 mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang
memungkinkan terbentuknya bat pada saluran kemih yaitu :
a.

Hiperkalsiuria adalah kelainan metabolik yang paling umum.

b. Pelepasan ADH yang menurun dan peningkatan jonsentrasi, kelarutan, dan pH urin.
c.

Infeksi saluran kemih

d. Lamanya kristal terbentuk di dalam urin, dipengaruhi mobilisasi urin.

4. Manifestasi klinis

(Elizabeth J. Corwin, 2009)


Nyeri. Sering bersifat kolik atau ritmik, terutama bila batu terletak di ureter atau dibawah. Nyeri

dapat terjadi secara hebat tergantung dari lokasi letak batu


Batu di ginjal dapat menimbulkan obstruksi atau infeksi
Hematuria. Disebabkan oleh iritasi dan cidera struktur ginjal yang disertai batu
penurunan pengeluaran urin
terjadi obstruksi aliran pengenceran urin karena kemampuan ginjal memekatkan urin terganggu

oleh pembengkakan yang terjadi disekitar kapiler peritubulus


Distensi pelvis ginjal.
Rasa panas dan terbakar di pinggang.
Peningkatan suhu (demam).

Perubahan dalam Buang air kecil dan warna urin


Salah satu Fungsi ginjal adalah membuat air kencing (urin) ,apabila ginjal manusia
mengalami gangguan,maka akan terjadi lah gangguan pada pembentukan urin,baik dari
warna,bau dan karakterisitiknya. Akibat dari gangguan ini,maka terjadilah perubahan dalam
frekuensi buang air kecil.mungkin buang air kecil lebih sering dan lebih banyak dari pada

biasanya dengan warna urin yang pucat. Dan mungkin buang air kecil dalam jumlah sedikit dari
biasanya dengan urin yang berwarna gelap

Tubuh mengalami pembengkakan


Ketika ginjal gagal untuk melakukan fungsinya, yakni mengeluarkan cairan atau toksin
dalam tubuh , maka tubuh akan dipenuhi cairan yang mengakibatkan pembengkakan terhadap
beberapa bagian tubuh , diantaranya di bagian kaki, pergelangan kaki, wajah dan atau tangan

Tubuh cepat lelah / kelelahan


Ginjal yang sehat memproduksi hormon yang disebut dengan erythropoietin yang
mempunyai fungsi sebagai memerintahkan tubuh untuk membuat oksigen yang membawa sel
darah merah. Ketika tubuh mengalami gagal ginjal, maka ginjal hanya memproduksi sedikit.
Dengan demikian karena sel-sel darah merah pembawa oksigen tadi berkurang sehingga otot dan
otak tubuh menjadi cepat lelah. Kondisi ini disebut juga sebagai anemia. Oleh karena itu,
apabila mengalami anemia yang berkelanjutan, hati-hati karena hal tersebut bisa saja merupakan
gejala penyakit ginjal.

Bau Mulut / ammonia breath


Penumpukan limbah dalam darah (disebut juga sebagai uremia) karena adanya gagal
ginjal dapat membuat rasa tidak enak dalam makanan dan bau mulut yang busuk.juga bisa
mendadak berhenti menyukai daging dan kehilangan berat badan drastis. Di beberapa kasus ada
juga yang merasa bau mulutnya seperti meminum cairan besi

Gangguan gastrointestinal: Rasa Mual dan Ingin Muntah


Gejala penyakit ginjal yang lainnya adalah rasa mual berkelanjutan dan selalu ingin
muntah. Gejala ini muncul disebabkan karena uremia tadi (penumpukan limbah dalam darah).
Gejala ini berhubungan dengan gejala penyakit ginjal sebelumnya yakni bau mulut. Karena bau
mulut,akan mengalami mual yang berakibat sulit makan dan kehilangan berat badan yang sangat
drastis.
Menurut arif muttaqin, 2012 mengatakan ada beberapa gejala yaitu ;

a.

Obstruksi.

b. Peningkatan tekanan hidrostatik.


c.

Distensi pelvis ginjal.

d. Rasa panas dan terbakar di pinggang.


e.

Kolik.

f.

Peningkatan suhu (demam).

g. Hematuri.
h. Gejala gastrointestinal; mual, muntah, diare.
i.

Nyeri hebat
Tanda dan gejala berdasarkan tempat atau lokasi :

1. Batu pada pelvis renalis


a.
b.
c.
d.

Nyeri yang dalam, terus menerus pada area CVA


Pada wanita ke arah kandung kemih, pada laki-laki kearah testis
Hematuria, piuria
Kolik renal : nyeri tekan seluruh CVA, mual dan muntah

2. Batu yang terjebak pada ureter


a. Gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik menyebar ke paha dan genetalia
b. Merasa ingin berkemih keluar sedikit dan darah
c. kolik ureteral
3. Batu yang terjebak pada kandung kemih
a.
b.
c.
d.
e.

Gejala iritasi
Infeksi traktus urinarius
Hematuria
Obstruksi
retensi urine

5. Klasifikasi
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur: kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam
urat, magnesium-amonium-fosfat (MAP), xanthyn dan sistin. Pengetahuan tentang komposisi
batu yang ditemukan penting dalam usaha pencegahan kemungkinan timbulnya batu residif.
1) Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu
sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah:

Hiperkasiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena
peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan
reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi
tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.

Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien
pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft
drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.

Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat
bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat
dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme
endogen.

Hipositraturia: Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga
menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada
penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide
dalam jangka waktu lama.

Hipomagnesiuria: Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat


timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi
magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium ddengan oksalat.

2) Batu Struvit
Batu struvit disebut juga batu sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini dipicu
oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan pemecah urea
(uera splitter seperti: Proteus spp., Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan
Stafilokokus) yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah urine menjadi basa melalui
hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam magnesium,
amonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amonium fosfat (MAP) dan karbonat
apatit.
3) Batu Urat
Batu asam urat meliputi 5-10% dari seluruh batu saluran kemih, banyak dialami oleh
penderita gout, penyakit mieloproliferatif, pasein dengan obat sitostatika dan urikosurik
(sulfinpirazone, thiazide dan salisilat). Kegemukan, alkoholik dan diet tinggi protein mempunyai
peluang besar untuk mengalami penyakit ini. Faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu
asam urat adalah: urine terlalu asam (pH < 6, volume urine < 2 liter/hari atau dehidrasi dan
hiperurikosuria.
6. Patofisiologi
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih.
Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi
yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau

hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses
ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal).
Mekanisme pembentukan batu ginjal atau saluran kemih tidak diketahui secara pasti, akan
tetapi beberapa buku menyebutkan proses terjadinya batu dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai
berikut :
a. Adanya presipitasi garam-garam yang larut dalam air seni, dimana apabila air seni jenuh akan
terjadi pengendapan.
b. Adanya inti ( nidus ). Misalnya ada infeksi kemudian terjadi tukak, dimana tukak ini menjadi
inti pembentukan batu, sebagai tempat menempelnya partikel-partikel batu pada inti tersebut.
c. Perubahan pH atau adanya koloid lain di dalam air seni akan menetralkan muatan dan
meyebabkan terjadinya pengendapan.
Teori Terbentuknya Batu Saluran Kemih:
1. Teori nukleasi: Batu terbentuk di dalam urine karena adanya inti batu atau sabuk batu (nukleus).
Partikel-partikel yang berada dalam larutan kelewat jenuh akan mengendap di dalam nukleus itu
sehingga akhirnya membentuk batu. Inti bantu dapat berupa kristal atau benda asing saluran
kemih.
2. Teori matriks: Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin dan
3.

mukoprotein) sebagai kerangka tempat mengendapnya kristal-kristal batu.


Penghambat kristalisasi: Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal
yakni magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu atau
beberapa zat ini berkurang akan memudahkan terbentuknya batu dalam saluran kemih.
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran
kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan
miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter
atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses
ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal).
Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan urolitiasis belum
diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu antara lain :
Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan
bahan-bahan organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk
pembentukan batu.Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan faktor lain
mendukung pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah solute

dalam urin dan jumlah cairan urin. Masalah-masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi
pembentukan batu asam urat.pH urin juga mendukung pembentukan batu. Batu asam urat dan
batu cystine dapat mengendap dalam urin yang asam.Batu kalsium fosfat dan batu struvite biasa
terdapat dalam urin yang alkalin.Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju tulang akan
terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang akan diekskresikan. Jika
cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau pengendapan semakin bertambah dan
pengendapan ini semakin kompleks sehingga terjadi batu.Batu yang terbentuk dalam saluran
kemih sangat bervariasi, ada batu yang kecil dan batu yang besar. Batu yang kecil dapat keluar
lewat urin dan akan menimbulkan rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah
dalam urin. Sedangkan batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang
menimbulkan dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akibat yang fatal
dapat timbul hidronefrosis karena dilatasi ginjal. Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan
mengakibatkan kerusakan pada organ-organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis
karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara normal. Maka dapat terjadi penyakit
GGK yang dapat menyebabkan kematian.
Menurut muttaqin, 2012 mengatakan pelepasan ADH menyebabkan peningkatan
konsentrasi zat pembentuk batu melalui peningkatan konsentrasi urin.Kelarutan bergantung pada
pH urin.Fospat mudah larut dalam urin yang asam, tetapu sukar larut pada urin yang alkalis.Jadi,
fospat baru bisa hanya ditemukan pada urin yang alkalis.
Sebaliknya, asam urat lebih mudah larut jika terdisosiasi dari pada yang tidak terdisosiasi,
dan asam urat baru lebih cepat terbentuk pada urin yang asam.Jika pembentukan Nh3 berkurang,
urin harus lebih asam untuk dapat mengeluarkan asam, dan hal ini meningkatkan pembentukan
batu garam asam urat. Faktor lain yang juga penting adalah beberapa lama sebenarnyakristal
yang telak terbentuk tetap berada di dalam urin yang sangat jenuh. Lama waktu bergantung pada
diuresis dan kondisi aliran dari saluran kemih bagian bawah, misal dapat menyenankan kristal
menjadi terperangkap.Batu yang terletak pada ureter maupun sistem pelviskalises yang
menimbulkan obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur saluran kemih sebelah
atas. Obstruksi saluran kemih akan terjadi hidronefritis. Pada keadaan yang lanjut dapat terjadi
kerusakan ginjal apabils berlanjut menyebabkan gagal ginjal permanen.
7. Pemeriksaan diagnostik

1) Pemeriksaan Laboratorium

Sedimen urin / tes dipstik untuk mengetahui sel eritrosit, lekosit, bakteri (nitrit), dan pH urin.
Kreatinin serum untuk mengetahui fungsi ginjal.
C-reactive protein, hitung leukosit sel B, dan kultur urin biasanya dilakukan pada keadaan

demam.
Natrium dan kalium darah dilakukan pada keadaan muntah.
Kadar kalsium dan asam urat darah dilakukan untuk mencari faktor risiko metabolik.
Urinalisasi
Warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan SDM, SDP, kristal
( sistin,asam urat,kalsium oksalat), ph asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat) alkali
( meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin,
asam urat kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan
ISK, BUN/kreatinin serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder
terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis. Warna : normal
kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine,
kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal).PH : normal 4,6 6,8 (rata-rata 6,0), asam
(meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium,
atau batu kalsium fosfat), Urin 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin
mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5
20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang
bemitrogen. Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai
1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang

bemitrogen.
Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
2) Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang reabsobsi
kalsiumm dari tulang, meningkatkan sirkulasi s\erum dan kalsium urine.
3) Foto Rntgen: Menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal dan
sepanjang urewter.
4) IVP: Memberukan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri,abdominal atau
panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
5) Sistoureterokopi: Visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau efek
obstruksi.
6) USG ginjal: Untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu.
Pemeriksaan radiologi khusus yang dapat dilakukan meliputi :

a. Retrograde atau antegrade pyelography


b. Spiral (helical) unenhanced computed tomography (CT)
c. Scintigraphy
8.

Penatalaksanaan
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera
dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk melakukan
tindakan pada batu saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial.
Batu dapat dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui

a.

tindakan endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.


ESWL/Lithotripsi: Adalah prosedur non-invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di
khalik ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir sisa-sisa batu

tersebut dikeluarkan secara spontan.


b. Metode Endourologi Pengangkatan Batu
Ini merupakan gabungan antara radiology dan urologi untuk mengangkat batu renal tanpa
pembedahan mayor. Nefrostomi Perkutan adalah pemasangan sebuah selang melalui kulit ke
dalam pelvis ginjal. Tindakan ini dilakukan untuk drainase eksternal urin dari kateter yang
tersumbat, menghancurkan batu ginjal, melebarkan striktur.Ureteruskopi mencakup visualisasi
dan akses ureter denganmemasukkan suatu alat Ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat
dihancurkan dengan menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik, atau ultrasound lalu
diangkat.
Larutan Batu. Nefrostomi Perkutan dilakukan, dan cairan pengirigasi yang hangat dialirkan
secara terus-menerus ke batu. Cairan pengirigasi memasuki duktus kolekdiktus ginjal melalui
ureter atau selang nefrostomi.
c. Pengangkatan Bedah Nefrolitotomi. Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu. Dilakukan jika
d.
e.
f.
g.

batu terletak di dalam ginjalPielolitotomi. Dilakukan jika batu terletak di dalam piala ginjal.
Istirahat cukup
Perbanyak masukan cairan air putih
Diet rendah kalsium dan rendah garam
Disesuaikan jenis batu misal: Batu kalsium yang perlu dibatasi: ikan teri, bayam, coklat, kacang,
teh, strowberry. Batu asam urat yang perlu dibatasi: jeroan, otak, makanan yang banyak
mengandung purin.
Makanan yang boleh diberikan :

a. Sumber hidrat arang, nasi, makanan gelas sehari, roti 4 potong, kentang, ubi, singkong, kue,
dari tepung maizena, hunkwe, tapioca, agar-agar, selai, dan sirop.

b.
c.
d.
e.

Sumber protein hewani : daging, 50 gr atau telur 2 butir sehari dan susu
Lemak : minyak, mentega, dan margarine
Sumber protein nabati : kacang-kacangan kering 25 gr, tahu, tempe, atau oncom 50 gr/hari
Sayuran : semua jenis sayuran paling sedikit 300 gr/hari
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih harus segera dikeluarkan
agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat.Indikasi untuk melakukan tindakan pada batu
saluran kemih adalah telah terjadinya obstruksi, infeksi atau indikasi sosial.Batu dapat
dikeluarkan melalui prosedur medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan
endo-urologi, bedah laparoskopi atau pembedahan terbuka.

Tindakan-tindakan khusus pada berbagai jenis batu yang berbentuk meliputi


1) Batu Kalsium : Paratirodektomi untuk hiperparatiroidisme, menghilangkan susu dan keju dari
diit, kalium fosfat asam ( 3 6 gram tiap hari) mengurangi kandungan kalsium di dalam urine,
suatu dueretik ( misalnya 50 mg hidroklorotiazid 2 kali sehari) atau sari buah cranberry ( 200ml,
2)

4 kali sehari ) mengasamkan urin dan membuat kalsium lebih mudah larut dalam urin.
Batu Oksalat diet rendah oksalat dan rendah kalsium fosfat ( 3 5 gram kalium fosfat asam

setiap hari), piridoksin ( 100 mg, 3 kali sehari).


3) Batu metabolic : sistin dan asam urat mengendap di dalam urin asam (pH urine harus dianikan
menjadi lebih besar dari 7,5 dengan memberikan 4 8 ml asam nitrat 50%, 4 kali sehari) dan
menyuruh pasien untuk diet mineral basa, batasi purin dalam dit penderita batu asam urat
( berikan pulka 300mg alopurinal ( zyloprin ) sekali atau dua kali sehari). Pada penderita
sistinura, diet rendah metionin dan penisilamin ( 4 gram tiap hari ).
9.
1)
2)
3)

Komplikasi
Sumbatan atau obstruksi akibat adanya pecahan batu.
Infeksi, akibat diseminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi.
Kerusakan fungsi ginjal akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan atau pengangkatan

batu ginjal.
4) Obstruksi
5) Hidronephrosis.
10. Asuhan keperawatan teori
1. Pengkajian
A. Identitas
Nama

: Dengan inisial

Umur

: Paling sering 30 50 tahun

Jenis kelamin : Lebih banyak pada pria

Alamat

: Tinggal di daerah panas

B. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
Biasanya keluhan utama klien merasakan nyeri, akut/kronik dan kolik yang menyebar ke paha
dan genetelia.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien yang menderita penyakit batu ginjal, pernah menderita penyakit infeksi saluran
kemih.
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga menderita batu ginjal dan hipertensi
C.Fungsional Gordon
1. Pola persepsi dan management
Pola ini akan menjelaskan bagaimana penderita batu ginjal ini mengatasi penyakit yang di
deritanya,apakah langsung di bawa ke rumah sakit atau tidak.
2. Pola nutrisi dan metabolic
Menjelaskan bagaimana makan klien, apakah mengalami muntah. Dan biasanya klien sering
mengalami hidrasi
3. Pola eliminasi
Klien akan mengalami gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Dan biasanya klien
terserang diare
4. Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas dan latihan klien akan terganggu, karena klien mengalami nyeri dan bengkak pada
tungkai
5. Pola kognitif dan perceptual
Biasanya klien yang menderita batu ginjal tidak mengalami gangguan pada penglihatan, dan
pendengaran
6. Pola istirahat dan tidur
Biasanya tidur dan istirahat klien terganggu, karena merasakan nyeri yang sangat hebat pada
daerah tungkai
7. Pola konsep diri dan persepsi

Biasanya klien sering merasa cemas akan penyakitnya


8. Pola peran dan hubungan
Klien lebih sering menutup diri, dan sering mengabaikan perannya baik sebagai suami, maupun
ayah
9. Pola reproduksi dan seksual
Biasanya klien yang menderita batu ginjal mengalami gangguan reproduksi dan seksual nya,
sehingga iya tidak dapat memenuhi kebutuhan seksualnya
10. Pola coping dan toleransi
Klien yang menderita batu ginjal cenderung stres, karena cemas memikirkan penyakitnya, yang
tak kunjung sembuh
11. Pola nilai dan keyakinan
Klien agak susah melakukan aktivitas ibadah nya, karena dirumah sakit klien menggunakan
kateter
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji
adalah:
a. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
1. Riwayat pekerjaan monoton, aktivitas fisik rendah, lebih banyak duduk
2. Riwayat bekerja pada lingkungan bersuhu tinggi
3. Keterbatasan mobilitas fisik akibat penyakit sistemik lainnya (cedera serebrovaskuler, tirah
baring lama)
b. Sirkulasi
Tanda:
1. Peningkatan TD, HR (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
2. Kulit hangat dan kemerahan atau pucat
c. Eliminasi
Gejala:
1. Riwayat ISK kronis, obstruksi sebelumnya
2. Penurunan volume urine
3. Rasa terbakar, dorongan berkemih
4. Diare
Tanda:
1. Oliguria, hematuria, piouria
2. Perubahan pola berkemih
3. Makanan dan cairan:
d. Nutrisi
Gejala:
1. Mual/muntah, nyeri tekan abdomen

2. Riwayat diet tinggi purin, kalsium oksalat dan atau fosfat


3. Hidrasi yang tidak adekuat, tidak minum air dengan cukup
Tanda:
1. Distensi abdomen, penurunan/tidak ada bising usus
2. Muntah
e. Nyeri dan kenyamanan:
Gejala:
1. Nyeri hebat pada fase akut (nyeri kolik), lokasi nyeri tergantung lokasi batu (batu ginjal

1.
2.
f.
1.
2.
g.
1.
2.
3.

menimbulkan nyeri dangkal konstan)


Tanda:
Perilaku berhati-hati, perilaku distraksi
Nyeri tekan pada area ginjal yang sakit
Keamanan:
Gejala:
Penggunaan alkohol
Demam/menggigil
Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
Riwayat batu saluran kemih dalam keluarga, penyakit ginjal, hipertensi, gout, ISK kronis
Riwayat penyakit usus halus, bedah abdomen sebelumnya, hiperparatiroidisme
Penggunaan antibiotika, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinul, fosfat, tiazid, pemasukan
berlebihan kalsium atau vitamin.
2. Diagnosa keperawatan (NANDA, NOC, NIC )
DIAGNOSA

Defenisi :

dan
yang

tidak
menyenangkan

Menilai factor penyebab


Menilai gejala dari nyeri
Gunakan tanda tanda

dan

Intrevensi yang akan dilakukan :


Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif
vital

memantau perawatan
Laporkan tanda / gejala nyeri pada

tenaga kesehatan professional


Gunakan catatan nyeri
yang
muncul
Tingkat Kenyamanan
dari kerusakan
jaringan secara Klien diharapkan mampu untuk :
aktual

Manajemen Nyeri

Klien diharapkan mampu untuk :

Pengalaman
sensori

NIC

Kontrol Nyeri

Nyeri akut

emosional

NOC

dimulai dari lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,


kualitas, intensitas dan penyebab.
Evaluasi bersama pasien dan tenaga kesehatan
lainnya dalam menilai efektifitas pengontrolan
nyeri yang pernah dilakukan
Bantu pasien dan keluarga mencari dan
menyediakan dukungan.
Gunakan metoda penilaian yang berkembang

Melaporkan Perkembangan Fisik


untuk memonitor perubahan nyeri serta
Melaporkan
perkembangan
potensial
atau
mengidentifikasi faktor aktual dan potensial dalam
kepuasan
menunjukkan
Melaporkan
perkembangan mempercepat penyembuhan

adanya
kerusakan

psikologi
Mengekspresikan perasaan dengan
lingkungan fisik sekitar
Menekspresikan kepuasan dengan
Kontrol nyeri

Pemberian Obat Penenang


Intrevensi yang akan dilakukan :
Kaji riwayat kesehatan pasien dan riwayat
pemakaian obat penenang

Tanyakan kepada pasien atau keluarga tentang


Tingkatan Nyeri
pengalaman pemberian obat penenang sebelumnya
Klien diharapkan mampu untuk:
Melaporkan Nyeri
Lihat kemungkinan alergi obat
Ekspresi nyeri lisan
Tinjau ulang tentang contraindikasi pemberian
Ekspresi wajah saat nyeri
Melindungi bagian tubuh yang obat penenang
Pemberian Analgesic
nyeri
Perubahan frekuensi pernapasan
Intrevensi yang akan dilakukan :
Tentukan lokasi , karakteristik, mutu, dan
intensitas nyeri sebelum mengobati pasien
Periksa order/pesanan medis untuk obat, dosis,
dan frekuensi yang ditentukan analgesik
Kekurangan
Volume Cairan

Keseimbangan Elektrolit Asam

dan Basa
Klien diharapkan mampu untuk:
Defenisi :
Denyut jantung
Irama jantung
Keadaan
Pernapasan
Irama napas
individu
yang
Kekuatan otot
mengalami
Keseimbangan Cairan
penurunan
Klien diharapkan mampu untuk:
Tekanan darah
cairan
Tekanan arteri
intravaskuler,
Tekanan vena sentral
Palpasi nadi perifer
interstisial, dan
Kesimbangan intake & output
atau
intrasel.
(24jam)
Diagnosis
ini
Kestabilan berat badan
Konfusi yang tidak tampak
merujuk
ke
Hidrasi kulit
dehidrasi yang Hidrasi
Klien diharapkan mampu untuk:
merupakan

Cek riwayat alergi obat


Manajemen Elektrolit
Intrevensi yang akan dilakukan :
Monitor serum elektrolit abnormal
Monitor manifestasi imbalance cairan
Pertahankan kepatenan akses IV
Berikan cairan sesuai kebutuhan
Catat intake dan output secara akurat
Manajemen Syok
Intrevensi yang akan dilakukan :
Monitor tanda dan gejala perdarahan yang
konsisten.
Catat pendarahan tertutup pada pasien.
Cegah kehilangan darah (ex : melakukan
penekanan pada tempat terjadi perdarahan)
Berikan cairan IV, yang tepat/
Catat Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan

kehilangan
cairan saja tanpa
perubahan
dalam natrium.

Hidrasi kulit
Kelembaban membran mukosa
Haus yang abormal (-)
Perubahan suara napas (-)
Napas pendek (-)
Mata yang cekung (-)
Demam (-)
Keringat

darah sesuai indikasi.


Berikan tambahan darah (ex : platelet, plasma)
yang sesuai.
Monitor faktor koagulasi, termasuk waktu
protombin (PT), PTT, fibrinogen, degrtadasi fibrin,
den jumlah platelet, jika diperlukan.
Gunakan celana MAST jika perlu.
Pemantauan Cairan
Intrevensi yang akan dilakukan :
Kaji tentang riwayat jumlah dan tipe intake
cairan dan pola eliminasi
Kaji kemungkinan factor resiko terjadinya
imbalan cairan (seperti : hipertermia, gagal
jantung,

Gangguan
Eliminasi
Defenisi :
disfungsi dalam
eliminasi urine

Eliminasi urin
Klien diharapkan mampu untuk:
Pola eliminasi
Bau urin
Jumlah urin
Warna urin
Partikel urin yang bebas
Kejernihan urin
Pencernaan cairan yang adekuat
Keseimbangan intake dan output
dalam 24 jam
Urin yang keluar disertai nyeri
Urin yang tak lancar keluar
Urin yang keluar dengan tergesagesa
Pengawasan urin
Pengosongan kandung kemih
dengan lengkap

diaforesis,

diare,

muntah,

infeksi,

disfungsi hati)
Monitor BB, intake dan output
Monitor nilai elektrolit urin dan serum
Monitor osmolalitas urin dan serum
Monitor denyut jantung, status respirasi
Manajemen cairan
Intrevensi yang akan dilakukan :
Timbang BB tiap hari
Hitung haluran
Pertahankan intake yang akurat
Pasang kateter urin
Monitor status hidrasi (seperti :kelebapan
mukosa membrane, nadi)
Monitor TTV
Monitor adanya indikasi retensi/overload cairan
(seperti :edem, asites, distensi vena leher)
Monitor perubahan BB klien sebelum dan
sesudah dialisa
Monitor status nutrisi

Tahu akan keluarnya urin

BAB III
TINJAUAN KASUS
Skenario
Ny. F (55 tahun) seorang karyawan swasta MRS dengan keluhan nyeri pinggang kanan.
Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik. Ny. F mengaku
4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat
penghilang easa nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak
menghilang dengan obat yang biasa dimakan, selanjutnya Ny. F dibawa oleh suami ke RS. Ny. F
juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam dan air
kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah sekitar 400ml/24 jam. Ny. F mengaku BAB dan Bak
selama ini tidak ada masalah. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Kondisi umum= gelisah
dan tampak meringis namun nyeri nonkolik; TD= 120/90 mmHg; HR= 102x/mnt RR= 28x/mnt ;
Suhu= 38,70C ; abdomen: inspeksi=flatuensi (+), palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
perkusi: timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+), auskultasi : bising usus
menurun. Pada pemeriksaan lab didaptkan : Hb=14gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum=
24mg/dl, creatinin =2,5 mg/dl. Pada pemeriksaan penunjang USG menunjukkan hidronefrosis
dextra. Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra, fungsi
ginjal masih baik namun terdapat hidronefrosis ren dektra grade II.
A. Pengkajian

a.

Identitas
Nama : Ny. F
Umur : 55 Tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta

b. Riwayat Keperawatan
1) Keluhan utama
Ny. F (55 tahun) seorang karyawan swasta MRS dengan keluhan nyeri pinggang kanan.
2) Riwayat Sekarang
Nyeri hilang timbul dan menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik.Nyeri
dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang biasa
dimakan, selanjutnya Ny. F dibawa oleh suami ke RS. Ny. F juga mengeluh mual dan muntah
sekitar 4-5 kali sejak 1 hari yang lalu dan demam dan air kencing keruh dan 0liguri (+) dg jumlah
sekitar 400ml/24 jam. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Kondisi umum= gelisah dan
tampak meringis namun nyeri nonkolik; TD= 120/90 mmHg; HR= 102x/mnt RR= 28x/mnt ;
Suhu= 38,70C ; abdomen: inspeksi=flatuensi (+), palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+),
perkusi: timpani pada abdomen dan nyeri ketok CVA dexter (+), auskultasi : bising usus
menurun. Pada pemeriksaan lab didaptkan : Hb=14gr/dl, leukosit = 15.000/mm3, ureum=
24mg/dl, creatinin =2,5 mg/dl. Pada pemeriksaan penunjang USG menunjukkan hidronefrosis
dextra. Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra, fungsi
ginjal masih baik namun terdapat hidronefrosis ren dektra grade II.
3) Riwayat Dahulu
Ny. F mengaku BAB dan Bak selama ini tidak ada masalah.
4) Riwayat Keluarga ; c.

Pola Fungsional
Pola Fungsional
Pola Aktivitas
Pola Sirkulasi

Hasil
TD= 120/90 mmHg; HR= 102x/mnt RR= 28x/mnt ; Suhu=

Pola Nutrisi

38,70C
Ny. F juga mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 kali sejak 1

Pola Eliminasi

hari yang lalu


Ny.F mengatakan air kencing keruh dan oliguri dg jumlah sekitar

Pola Istirahat
Pola Kenyamana

400ml/24 jam.
Ny.F mengeluh nyeri pinggang kanan. Nyeri hilang timbul dan
menjalar ke perut dan tidak dipengaruhi mobilitas fisik. Nyeri

dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang


dengan obat yang biasa dimakan. Kondisi umum= gelisah dan
tampak meringis namun nyeri nonkolik.
-

Pola Koping
Pola Keyakinan
Pola Kognitif
Pola Seksual
d. Pemeriksaan Penunjang
1) Keadaan umum

Kondisi umum = gelisah dan tampak meringis namun nyeri nonkolik.


Pemeriksaan Fisik

Hasil

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Flatuensi (+)
Nyeri tekan kuadran kanan atas (+)
Timpani pada abdomen dan nyeri ketok

Auskultasi

CVA dextra (+)


Bising usus menurun

2) Tanda-Tanda Vital
TTV
TD

Nilai Normal
Bayi : 70-90/50 mmHg

Nadi

Abnormalitas
Meningkat : Apabila terjadi

Anak : 80-100/60 mmHg

penyakit

Remaja

hormonal, keadaan emosi yang

90-110/66

ginjal,

kelainan

mmHg

tak menentu.

Dewasa muda : 110-

Menurun : Pelebaran pembuluh

140/60-90 mmHg

darah,

Dewasa
RR

Nilai Pasien
120/90 mmHg

tua

150/80-90 mmHg.
Bayi ; 30-40 x/i

130-

efeksamping

obat,

anemia, hati, dehidrasi, kurang


28x/i

nutrisi.
Meningkat : Apabila terjadi

Anak : 20-30 x/i

susunan tulang yang abnormal,

Dewasa : 16-20x/i

kekurangan cairan, emosi yang

Lansia : 14-16 x/i


Bayi : 120-130 x/i

102 x/i

tidak stabil
Meningkat : penyakit jantung,

Anak : 80-90 x/i

peningkatn

keton,

Dewasa : 70-100 x/i

volume darah

penuruna

Lansia : 60-70 x/i


Suhu

36,5- 37,5 0C

Penurunan ; tidak elastisnya


38,70C

dinding arteri.
Mneingkat : demam dapat
disebabkan

infeksi

maupun

kompensasi dari tubuh.


Menurun : terjadi penurunan
produksi

panas,

gangguan

hormon tiroid atau pituitary,


gangguan

hipotalamus,

kelelahan dan krang cairan.


3) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan
Hb

Nilai normal
Wanita : 12-16 gr/dl

Hasil
14 gr/dl

Pria: 14- 18 gr/dl

Abnormalitas
Penurunan : anemia, penyakit ginjal,
obat seperti antibiotik, aspirin

Anak-anak : 10-16
gr/dl

Peningkatan : dehidrasi, gagal jantung,

Bayi baru : 12-24


Leukosit

gr/dl
5000- 10.000 mm3

15.000/

Meningkat : proses inflamasi, misal

mm3

pneumonia, tuberculosis, tonsil dan


lain-lain,

antibiotik

terutama

ampicillin
Menurun : Infeksi terutama oleh virus,
Ureum

24 mg/dl

malaria, alkohol, obat-obatan.


Meningkat : Penurunan aliran darah ke
ginjal. Syok, dehidrasi, peningkatan
katabolisme protein, leukemia, cidera,
obstruksi saluran kemih, urtrhra yang
menghambat ekskresi.
Menurun : nekrotik hepatik akut,
malnutrisi protein, obat fenotiazin.

Kreatini

Wanita : 0,5 0,9 2,5

Meningkat : penurunan fungsi ginjal,

mg/dl

gagal ginjal, kanker, serangan jantung,

mg/dl

Pria ; 0,6- 1,3 gr/dl

obat-obatan

dapt

meningkatkan

Anak : 0,4 1,2

kreatinin.

mg/dl

Menurun: distrofi otot, myasthenia


gravis, kerusakan pada ginjal.

Pemeriksaan Diagnostik
USG
BON-PIV

Hasil
Hidronefrosis dextra
Tampak bayangan radio opak Lumbal III
dektra, fungsi ginjal masih baik namun terdapat
hidronefrosis ren dektra grade II.

B. Data Fokus
Data Subjektif
Data Objektif
1. Pasien mengeluh nyeri pinggang kanan 1. Pasien tampak meringis dan gelisah
2. Pasien menegatakan 4 bulan yang lalu
2. Leukosit 15.000 mm3
3. Creatinin 2,5 mg/dl
sering mengalami nyeri yang sama dan
4.
Pada
pemeriksaan
penunjang
USG
nyeri hilang setelah diberi obat penghilang
menunjukkan hidronefrosis dextra.
rasa nyeri
5.
Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak
3. Ny.F mengeluh mual dan muntah sekitar
bayangan radio opak Lumbal III dektra, fungsi
4-5 x sejak 1 hari yang lalu.
ginjal masih baik namun terdapat hidronefrosis
4. Pasien mengatakan air kencing keruh dan
ren dektra grade II.
oliguri dg jumlah sekitar 400ml/24 jam.
6. RR 28x/i
5. Pasein mengatakan demam
7. Nadi 102 x/i
8. palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+)
9. Bising usus menurun
10. Suhu 38,70C
C. Analisis Data
Data
DS :

Etiologi
Gangguan

1. Pasien menegatakan 4 bulan yang lalu sering mengalami viseral


nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah diberi obat ginjal
penghilang rasa nyeri.
2. Pasien mengeluh nyeri pinggang kanan.

Masalah
Nyeri kronik

DO :
1. Pasien tampak meringis dan gelisah
2. palpasi: nyeri tekan kuadaran kanan atas (+)
DS :

Disfungsi

1. Pasien mengatakan air kencing keruh dan oliguri dg jumlah ginjal

Kelebihan
volume

sekitar 400ml/24 jam.

cairan

DO :
1.
2.
3.
4.

Pasien tampak gelisah


RR 28 x/i
Creatini 2,5 gr/dl
Pada pemeriksaan

5.

hidronefrosis dextra.
Pada pemeriksaan BNO-PIV : tampak bayangan radio opak

penunjang

USG

menunjukkan

Lumbal III dektra, fungsi ginjal masih baik namun terdapat


hidronefrosis ren dektra grade II.
DS :

Hipertermi

1. Pasien mengatakan demam


DO :
1.
2.
3.
4.

Suhu 38,7 0C
Leukosit 15000 mm3
RR 28x/i
Nadi 102 x/i
DS:

Kurangnya

1. Ny. F mengaku 4 bulan yang lalu sering mengalami nyeri pengalaman

Defisiensi
pengetahuan

yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat


penghilang easa nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah
berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan obat yang
biasa dimakan,
DS :

Mual

1. Ny.F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 x sejak 1 hari muntah

dan Risiko
ketidakseimb

yang lalu.

angan nutrisi

DO ;

kurang

1. Bising usus menurun

kebutuhan
tubuh.

dari

D. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Kronik b.d gangguan viseral ginjal ditandai dengan Pasien menegatakan 4 bulan yang lalu
sering mengalami nyeri yang sama dan nyeri hilang setelah diberi obat penghilang rasa nyeri,
Pasien mengeluh nyeri pinggang kanan, Pasien tampak meringis dan gelisah, palpasi: nyeri tekan
kuadaran kanan atas (+).
2. Kelebihan volume cairan b.d disfungsi ginjal ditandai dengan Pasien mengatakan air kencing
keruh dan oliguri dg jumlah sekitar 400ml/24 jam, Pasien tampak gelisah, RR 28 x/i, Creatini 2,5
gr/dl, Pada pemeriksaan penunjang USG menunjukkan hidronefrosis dextra. , Pada pemeriksaan
BNO-PIV : tampak bayangan radio opak Lumbal III dektra, fungsi ginjal masih baik namun
terdapat hidronefrosis ren dektra grade II.
3. Hipertermi b.d yang ditandai dengan Pasien mengatakan demam, Suhu 38,7 0C, Leukosit 15000
mm3, RR 28x/i, Nadi 102 x/i.
4. Defisisensi pengetahuan b.d kurang pengalaman ditandai dengan Ny. F mengaku 4 bulan yang
lalu sering mengalami nyeri yang sama, dan nyeri hialang setelah diberikan obat penghilang easa
nyeri dari dokter. Nyeri dirasakan bertambah berat dalam 2 hari ini dan tidak menghilang dengan
obat yang biasa dimakan.
5. Risiko Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual dan muntah ditandai
dengan Ny.F mengeluh mual dan muntah sekitar 4-5 x sejak 1 hari yang lalu, Bising usus
menurun.

E. Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan KH
Nyeri Kronik b.d gangguan viseral Tujuan :

Intervensi
Hitung dan tentukan skala nyeri Dapat m
Kaji dan catat nyeri dan nyeri yan
ginjal ditandai dengan Pasien Dalam waktu 2x24 jam

Dapat
:lokasi,
menegatakan 4 bulan yang lalu masalah nyeri kronik teratasi karakteristiknya
kwalitas, frekuensi dan durasi
keperaw
sering mengalami nyeri yang sama KH ;
Berikan kompres hangat pada
Supaya
dan nyeri hilang setelah diberi Tampak rilex.
abdomen yang sakit
nyeri dap
obat penghilang rasa nyeri, Pasien
Mengatakan
ansietas
Ajarkan teknik distraksi dan

Agar
mengeluh nyeri pinggang kanan, menghilang.
relaksasi
pikirann
Pasien tampak meringis dan
Kolaborasi dengan tim medis untuk lain.
Partisipasi
dalam
gelisah,

palpasi:

nyeri

tekan

kuadaran kanan atas (+).

pemberian terapi analgesik

pengobatan.

Dapat

dirasakan

Pasien tidak merasakan

nyeri.
Ketidakefektifan volume cairan Tujuan :
b.d

disfungsi

ginjal

ditandai

dengan Pasien mengatakan air


kencing keruh dan oliguri dg
jumlah sekitar 400ml/24 jam,
Pasien tampak gelisah, RR 28 x/i,

Creatini

2,5

gr/dl,

Pada

pemeriksaan penunjang USG

menunjukkan hidronefrosis dextra.


, Pada pemeriksaan BNO-PIV :

tampak bayangan radio opak


Lumbal III dektra, fungsi ginjal

masih baik namun terdapat


hidronefrosis ren dektra grade II.

Ukur masukan dan pengeluaran


Menunj
BB m
Dalam waktu 2x 24 jam Timbang BB tiap hari, dan catat
masalah kelebihan volume peningkatan lebih dari 0,5 retensi c
Pen
kg/hari.
cairan teratasi
Awasi TD,dan JVD (distensi berhubun
KH :
vena jungularis).
cairan.
Intek=output

Awasi disritmia jantung,


Disr
Tidak ada edema
auskultasi bunyi jantung.
disebabk
Hasil lab dalam batasan

Kaji ekstremitas bawah/edema eletrolit.


Perpin
dependen.
normal.
Ukur lingkar abdomen setiap sebagai
Tanda-tanda vital dalam
hari.
penurun
batasan normal.
Dorong klien untuk tirah baring
Untuk
Terjadi
keseimbangan dengan posisi rekumben.
akumula
Batasi natrium dan cairan sesuai Posisi r
cairan dan elektrolit.
indikasi.

Berikan

albumin

bebas

diuresis.
Natrium

garam/plasma ekspander sesuai retensi


indikasi.
ekstravas

Alb

meningk

dalam ko
Hipertermi
dengan

b.d
Pasien

yang

ditandai Tujuan :

mengatakan Dalam

waktu

Pantau tekananan darah, RR,

1x24

Ketika

jam suhu
demam, Suhu 38,7 0C, Leukosit masalah hipertermi teratasi Pantau hasil lab

terhadap
Leuko

15000 mm3, RR 28x/i, Nadi 102 KH :

menyeab

Suhu dalam batas normal

Pantau terjadinya infeksi atau terdapat


Lihat
penyebab hipertermi.
360C-37,50C
sumbatan
Kaji penyebab demam
Klien tidak tampak pucat. Kolaborasi pemberian penuurun Dapat m
Memban
Tidak ada kemerahan.
panas

x/i.

Nadi Normal umur 1-6


bulan : 130x/i dewasa : 70-

Defisisensi
kurang

pengetahuan

pengalaman

100x/i).
Leukosit normal
b.d Tujuan :

ditandai Dalam

waktu

dengan Ny. F mengaku 4 bulan masalah

Kaji tingkat pengetahuan klien

Untuk

1x24

jam dan keluarga tentang proses keperaw


Dijelask
defisiensi penyakit

yang lalu sering mengalami nyeri pengetahuan teratasi

yang sama, dan nyeri hialang KH ;

Jelaskan tentang patofisiologi penyakit


Berika
penyakit, tanda dan gejala serta

tentang p
mengatakan penyebab yang mungkin
Libatk

Sediakan informasi tentang


easa nyeri dari dokter. Nyeri mengerti
tentang
kesalaha
kondisi klien
dirasakan bertambah berat dalam penyakitnya dan paham atas

Siapkan keluarga atau orang- Jelaskan


2 hari ini dan tidak menghilang pengobatan
orang yang berarti dengan perubaha
setelah diberikan obat penghilang

Pasien

dengan obat yang biasa dimakan.

informasi tentang perkembangan pasien.


Lakukan
klien
Diskusikan perubahan gaya pasien.
Dengan
hidup yang mungkin diperlukan
proses pe
untuk mencegah komplikasi di
Jelaska
masa yang akan datang dan atau apabila p
kontrol proses penyakit
Diskusikan tentang

Dengan
pilihan

diagnosa

tentang terapi atau pengobatan


yang dira
Jelaskan alasan dilaksanakannya

tindakan atau terapi.


Gambarkan komplikasi yang

mungkin terjadi.
Anjurkan
klien

untuk

melaporkan tanda dan gejala


yang

mual dan muntah ditandai dengan masalah

pada

petugas

kesehatan
Ukuran masukan diet harian

Risiko Ketidakseimbangan nutrisi Tujuan :


kurang dari kebutuhan tubuh b.d Dalam

muncul

waktu

2x24

risiko

jam dengan jumlah kalori.


Timbang BB setiap
ketidak

kebutuha
hari. BB dan

Ny.F mengeluh mual dan muntah seimabnagan nutrisi tidak Bandingkan perubahan status
nutrisi,ukur kulit.
sekitar 4-5 x sejak 1 hari yang terjadi.
Bantu dan dorong pasien untuk
lalu, Bising usus menurun.
KH :
makan sesuai diet.

Menunjukan peningkatan
Berikan makan sedikit tapi
berat badan,
sering.
Nilai laboratorium albumin Berikan makanan halus, hindari

Mem

nutrisi.
Diet

penyemb
Menin

Bruknya

mungkin

intraabdo
normal
Perdarah
makanan kasar sesuai indikasi.
Makanan yang dihidangkan
Berikan perawatan mulut terjadi pa
habis.
Meningk
sebelum makan
Bising usus normal

Tingkatkan periode tidur,


Penyim
Pasien mengatakan tidak
khususnya sebelum makan.
kebutuha
mual dan muntah.
meningk

KATA-KATA SULIT
1. Ureum :adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah
amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari.
Kadar ureum darah yang normal adalah 20 mg 40 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini
tergantung dari jumlah normal protein yang di makan dan fungsi hati dalam pembentukan
ureum.kamuskesehatan.com
2. Kreatinin : adalah produk limbah dari protein daging dalam makanan dan dari otot-otot
tubuh. Kreatinin dibuang dari darah oleh ginjal. Kreatinin dalam darah dan urin meningkat
bila ada gangguan ginjal. Batas normal kreatinin : 0,5 1,5 mg/dl. kamuskesehatan.com.
3. Oliguri: produksi urine sedikit, biasanya kurang dari 400 ml/hari pada orang dewasa.
4.

Kamuskesehatan.com
Hidronefrosis: pembengkakan ginjal yang terjadi sebagai akibat akumulasi urine disaluran
kemih bagian atas hal ini biasanya disebabkan adanya penyumbatan disuatu tempat

5.

disepanjang saluran kemih. Muttaqin, arif. Dkk. 2012


Flaktulensi: keluarnya gas melalui anus atau dubur akibat akumulasi gas dalam perut

terutama dari usus besar atau colon. Wikipidia_bahasa _indonesia.com


6. BNO: suau pemeriksaan diabdomen pelpis untuk mengetahui kelainan-kelainan khususnya
pada sistem urinaria. Wikipidia_bahasa _indonesia.com
7. Tympani:bunyi normal pada pemeriksaan fisik abdomen. Kamuskesehatan.com
8. USG: alat yang prinsip dasarnya mengunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak
dapat didengar oleh telinga.Kamuskesehatan.com
9. Nyeri nonkolik: nyeri yang datang mendadak. Kamuskesehatan.com
IDENTIFIKASI MASALAH
1. Menggapa pada klien mengeluh nyeri pinggang kanan?
Karena terjadi hidronefrosis dextra sehingga tekanan pada ginjal menjadi tinggi akibat refluk
urine.
2. Menggapa pasien mengeluh mual dan muntah?
Ureum dan kreatinin meningkat sehingga uruem mengiritasi lambung menyebabkan
peningkatan asam lambung.
3. Menggapa nyeri hilang timbul dan menjalar keperut?
Karena batu yang mengobstruksi terletak pada saluran kemih.
4. Menggapa kencing klien keruh?
Pengendapan ureum yang mengiritasi saluran kemih,sehingga terjadi peradangan.
5. Menggapa kreatinin dan ureum meningkat?
Karena adanya obstruksi saluran kemih menyebabakan urine terperangkap,sehingga terjadi
penumpukan ureum dan kreatinin dalam tubuh
6. Menggapa leukosit meningkat?
Karena adanya obstruksi saluran kemih akibat batu yang mengiritasi dan adanya bakteri yang
menumpuk pada tubuh dari urin.

7. Menggapa suhu meningkat?


Reaksi dari meningkatnya leukosit dalam tubuh akibat iritsi saluran kemih dan bakteri pada
tubuh
8. Menggapa bising usus menurun?
Karena adanya batu ginjal mengakibatkan spasme peristaltik
9. Menggapa nadi dan RR meningkat?
Hidronefrosis mengakibatkan aliran kapiler ginjal menurun,tubuh melakukan kompensasi
untuk memenuhi asupan darah pada kapiler ginjal
10. Menggapa terjadi hidronefrosis dexstra?
Karena adanya batu pada saluran kemih,terjadi refluks balik urin menyebabkan tek.pada
ginjal meningkat sehingga terjadi penggelembungan pada ginjal
11. Menggapa terjadi oliguri?
Karena urin pada ginjal tidak dapat keluar secara normal akibat adanya batu pada saluran
kemih

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Jadi batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan
merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi.
Batu ini terbentuk di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau
memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada
batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel
uretra.

Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara
berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak
dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status
gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari.
Pencegahan dari batu ginjal ini dapat dilakukan dengan menghindari dehidrasi dengan
minum cukup upayakan produksi urine 2 - 3 liter per hari, diet rendah zat/komponen
pembentuk batu, aktivitas harian yang cukup dan medikamentosa.
4.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang macammacam penyakit dan juga meningkatkan kemampuan dalam pembuatan asuhan keperawatan
pada pasien dengan Batu ginjal.
2. Bagi perawat
Diharapkan bagi perawat agar dapat meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan
keperawatan serta pengetahuannya sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang
optimal terkhususnya pada pasien dengan penyakit batu ginjal.
3. Bagi Dunia keperawatan
Diharapkan asuhan keperawatan ini dapat terus diperbaiki kekurangannya sehingga dapat
menambah pengetahuan yang lebih baik bagi dunia keperawatan, serta dapat diaplikasikan
untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2012. asuhan-keperawatan-batu-ginjal.wordpress.htm
Doengoes, E. M. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi Kedua. Jakarta: EGC.
Dr. Nursalam, pransisca. 2009. Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem
perkemihan.Salemba medika. Jakarta.
Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2011. Buku Satu Diagnosa Keperawatan Nanda NIC
NOC, Edisi 9.EGC. Jakarta
muttaqin arif &kumala sari. 2012. Asuhan keperawatan gangguan sistem perkemihan.Salemba
medika. Jakarta.
Price & Wilson. 2006, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.6, EGC,
Jakarta

Suharyanto, tato, & mudjid, abdul. 2009. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem perkemihan.Salemba Medika. Jakarta.