Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah
(IKM) merupakan unit usaha yang dikelola kelompok masyarakat maupun
keluarga yang mayoritas pelaku bisnis Indonesia. Hampir di seluruh lokasi
dikota besar mudah menemukan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan
Industri Kecil Menengah (IKM) bahkan hingga ke pinggiran kota dan pedesaan.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM)
mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, sebab
selain memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga
dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.
Dalam menghadapi Asean Economic Community dan Asean Free Trade
Area 2015 Pemerintah harus bisa memfasilitasi Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) agar lebih berdaya saing. Hal ini
perlu dilakukan karena di dalam Asean Economic Community dan Asean Free
Trade Area 2015 para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan
Industri Kecil Menengah (IKM) di kawasan asia tenggara bebas melakukan
perdagangan tanpa batasan dan di bebani biaya pajak dan yang lainnya.
Pemerintah dalam hal ini

turut andil dalam

hal

pengelolaan

dan

pengembanganUsaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil


Menengah (IKM) sehingga di harapkan dengan adanya Asean Economic

Community dan Asean Free Trade Area 2015 akan membangun perekonomian
nasional terdepan di kawasan Asia Tenggara.
Kabupaten Ciamis merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Sesuai dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat (7) mengemukakan bahwa otonomi daerah
adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian jelaslah
bahwa dalam pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) di wilayah Kabupaten Ciamis
merupakan hak, wewenang dan kewajiban pemerintahan Kabupaten Ciamis.
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah
(IKM) di Kabupaten Ciamis dalam hal pengelolaan dan pengembangan yang
dilakukan oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan dinilai masih
belum optimal hal ini tercermin dengan kualitas dan inovasi produk UMKM
dan IKM yang relatif rendah, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM)
pelaku usaha, masih adanya UMKM dan IKM yang belum berbadan hukum
dan legitimasi usaha serta hukum atas aset, kurang berkembangnya sentrasentra industri daerah, dan masih rendahnya kapasitas ilmu pengetahuan dan
teknologi. Semisal industri makanan tahu bulat yang memasarkan produknya
dalam bentuk kantong besar (per-ball) belum ada inovasi untuk membuat
kemasan yang menarik sehingga dapat meningkatkan nilai jual produk tersebut.

Selanjutnya Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah yang telah


mumpuni dalam pengelolaan dan pengembangan yang dilakukan oleh Dinas
Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi kepada para pelaku Usaha Mikro
Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) hal ini
tercermin dengan kualitas dan inovasi produk UMKM dan IKM yang dapat
bersaing di pasaran, Sentra-sentra industri yang sudah dikenal luas oleh
masyarakat selaku konsumen, pelaku usaha memiliki ilmu pengetahuan dan
teknologi tepat guna dalam memproduksi produknya, dapat dibuktikan dengan
telah banyaknya desa-desa wisata yang didalamnya menjual berbagai macam
produk dari kegiatan UMKM dan IKM Kabupaten Bantul.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti melakukan studi komparatif
mengenai pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Ciamis dengan
Kabupaten Bantul.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) di Dinas Koperasi,
Perindustrian

dan

Perdagangan

Kabupaten

Ciamis

dan

di

Dinas

Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul?


2. Hambatan-hambatan apa saja yang ditemukan dalam pengelolaan dan
pengembanganUsaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil
Menengah (IKM) di Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan

Kabupaten Ciamis dan di Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi


Kabupaten Bantul?
3. Bagaimana upaya yang dilakukan kedua instansi terkait untuk mengatasi
hambatan-hambatan tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) di Dinas Koperasi,
Perindustrian

dan

Perdagangan

Kabupaten

Ciamis

dan

di

Dinas

Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul.


2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang ditemukan dalam
pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
dan Industri Kecil Menengah (IKM) di Dinas Koperasi, Perindustrian dan
Perdagangan Kabupaten Ciamis dan di Dinas Perindustrian, Perdagangan
dan Koperasi Kabupaten Bantul.
3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan kedua instansi terkait untuk
mengatasi hambatan-hambatan tersebut.

1.4 Kegunaan Penelitian


1. Bagi Dinas/Badan terkait di Kabupaten Ciamis sebagai bahan informasi dan
pertimbangan dalam merancang strategi untuk mengembangkan Usaha
Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM).
2. Bagi penulis merupakan sarana pengembangan wawasan serta pengalaman
dalam menganalisis permasalahan khususnya di bidang IKM dan UMKM.
3. Bagi kalangan akademisi dapat dijadikan bahan penyusunan penelitian yang
serupa dan lebih mendalam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengelolaan dan Pengembangan
Wardoyo (1980:41) memberikan definisi sebagai berikut pengelolaan
adalah suatu rangkai kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Harsoyo (1977:121) mengemukakan pengelolaan adalah suatu istilah
yang berasal dari kata kelola mengandung arti serangkaian usaha yang
bertujuan untuk menggali dan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki
secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan tertentu yang telah
direncanakan sebelumnya.
Berdasarkan definisi pengelolaan yang telah dipaparkan diatas maka
dapat disimpulkan bahwa pengelolaan adalah rangkaian kegiatan ataupun usaha
dalam memanfaatkan segala sumber daya dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Terry dan Rue (1985:1) mengemukakan pendapat bahwa Manajemen
adalah suatu kegiatan, pelaksanaannya adalah managing-pengelolaan-,
sedang pelaksananya disebut manager atau pengelola.Dalam beberapa konteks
keduanya mempunyai persamaan arti, dengan kandungan makna to control
yang artinya mengatur dan mengurus.

Pengelolaan berasal dari kata manajemen atau administrasi. Hal tersebut


seperti

dikemukakan

oleh

Husaini

Usman

(2004:3)

Management

diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.


Makmur (2009:9) berpendapat bahwa manajemen sebagai suatu konsep
pemikiran, tujuan utamanya adalah bagaimana melaksanakan suatu kegiatan
yang dimotori oleh manusia dengan menggunakan berbagai fasilitas yang
tersedia untuk mencapai suatu tujuan yang dapat memberikan manfaat dalam
kehidupan manusia. Dorongan konsep manajemen pada dasarnya berkembang
dari persoalan psikologi.Winardi (2006) berpandangan bahwa keberhasilan
dalam hal mencapai tujuan-tujuan keorganisasian hingga tingkat tertentu
tergantung pada faktor-faktor manusia, karena hanya manusia yang dapat
menciptakan, merubah, mengembangkan suatu konsep manajemen yang lebih
tepat dalam pengimplementasian menuju pencapaian tujuan secara berdaya
guna dan berhasil guna.
Silalahi (2002:4) manajemen didefinisikan sebagai proses perencanaan,
pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan dan pengontrolan untuk optimasi
penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai
tujuan organisasional secara efektif dan efisien. Adapun Allison (Mahmudi,
2007:35) mengemukakan pendapat terdapat tiga fungsi manajemen secara
umum yang berlaku bagi sektor publik maupun swasta yaitu :
1. Fungsi Strategi meliputi :
a. Penetapan tujuan dan prioritas organisasi
b. Membuat rencana operasional untuk mencapai tujuan
6

2. Fungsi manajemen komponen internal meliputi :


a. Pengorganisasian dan penyusunan staf
b. Pengarahan dan manajemen sumber daya manusia
c. Pengendalian kerja
3. Fungsi manajemen konstituen eksternal meliputi :
a. Hubungan dengan unit eksternal organisasi
b. Hubungan dengan organisasi lain
c. Hubungan dengan pers dan publik
Sedangkan menurut Terry dan Mainduh (Torang, Syamsir 2014:166)
bahwa manajemen memiliki fungsi dasar yaitu sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Perencanaan (Planning)
Pengorganisasian (Organizing)
Pengarahan atau pelaksanaan (Actuating)
Pengawasan (Controlling)

Menurut Robbins (Torang, Syamsir 2014:167) perencanaan adalah proses


pendefinisian sasaran organisasi, menetapkan strategi untuk mencapai tujuan
organisasi serta menyusun keseluruhan rencana kemudian diintegrasikan dan
dikoordinasikan

dengan

aktivitas

organisasi.

Kemudian

Robbins

mengemukakan (torang, syamsir 2014:168), ada 2 dimensi perencanaan yaitu


sasaran dan rencana. Sasaran adalah tujuan atau hasil yang akan dicapai oleh
organisasi sementara rencana adalah dokumen (alokasi sumber daya, jadwal,
dan tindakan) yang memuat cara dan strategi mencapai sasaran.
Manulang

(Torang,

Syamsir

2014:171)

berpendapat

bahwa

pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas yang akan dilakukan atau


pendistribusian tugas dan fungsi kepada setiap individu yang ada dalam
organisasi. Di samping itu, pengorganisasian juga dimaksudkan untuk
menentukan dan menetapkan kedudukan serta sifat hubungan antar masing7

masing unit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian


adalah seluruh aktivitas manajemen yang diimplementasikan dalam bentuk
pembagian tugas, fungsi, wewenang dan tanggungjawab setiap orang dalam
organisasi. Sementara itu Syamsir (2014:171) mengemukakan ada 4 hal yang
perlu dilakukan dalam aktivitas organizing, yaitu :
a)
b)
c)
d)

Membagi dan mengelompokkan pekerjaan


Menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan
Pendelegasian wewenang
Menyediakan tempat kerja dan teknologi pendukung

Menurut Terry (Syafiie, Inu Kencana 2011:101) actuating adalah suatu


tindakan untuk mengusahakan agar seluruh anggota kelompok berkenan
berusaha mencapai sasaran agar sesuai dengan perencanaan managerial dan
usaha-usaha organisasi. Kemudian Terry (Torang, Syamsir 2014:173)
mengungkapkan ada 4 dimensi yang menentukan keberhasilan actuating,
yaitu kepemimpinan (leadership), pengawasan (supervision), komunikasi dan
perintah (orders).
Pendapat Siagian (Torang, Syamsir 2014:176) yang mengungkapkan
bahwa pengawasan adalah proses pengamatan terhadap seluruh kegiatan
organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk lebih
meningkatkan optimalisasi controling, menurut Terry (Torang, Syamsir
2014:177) ada 4 faktor yang perlu diperhatikan, yaitu; standar pekerjaan,
pembiayaan (budgets), laporan eksekutif (executive process) dan biaya (cost).

*) Pengembangan
2.2 Usaha Mikro Kecil dan Menengah
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah Pasal 1 menjelaskan sebagai berikut :
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau
badan

usaha

perorangan

yang

memenuhi

kriteria

Usaha

Mikro

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.


2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai,
atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha
menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,
yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung
dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau
hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2.3 Peraturan mengenai Usaha Mikro Kecil dan Menengah
1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah;
2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian;
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan
Pengembangan Usaha Kecil;
9

5. Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 16 Tahun 2013 tentang


Pembinaan dan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;
6. Peraturan Bupati Ciamis Nomor 57 tahun 2012 tentang Tugas Pokok,
Fungsi, dan Tata Kerja Unsur Organisasi Dinas Koperasi, Perindustrian,
dan Perdagangan;
7. Peraturan Bupati Ciamis Nomor 33 Tahun 2013 tentang Unit Pelaksana
Teknis Dinas dan Unit Pelaksana Teknis Badan di Lingkungan Pemerintah
Kabupaten Ciamis;
8. Peraturan Bupati Ciamis Nomor 75 Tahun 2013 tentang Tugas, Fungsi, dan
Tata Kerja Unsur Organisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas Koperasi,
Perindustrian, dan Perdagangan pada Dinas Koperasi, Perindustrian, dan
Perdagangan;

10

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis.
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Ciamis
dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 12 Tahun
2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis
Nomor 17 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ciamis,
merupakan bagian dari Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ciamis yang
berkedudukan sebagai lembaga unsur penunjang pemerintah daerah, dipimpin
oleh seorang Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Bupati Ciamis melalui Sekretaris Daerah.
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Ciamis
sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 12 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 17 Tahun
2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ciamis mempunyai tugas
melaksanakan sebagian urusan pemerintah daerah meliputi urusan wajib Bidang
Koperasi dan UMKM dan urusan pilihan Bidang Industri dan Perdagangan
sesuai asas otonomi dan tugas pembantuan.
Struktur Organisasi Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan
Kabupaten Ciamis diatur berdasarkan Peraturan Bupati Ciamis Nomor 59 tahun
2012 tentang Tugas Pokok, Fungsi, dan Tata Kerja Unsur Organisasi Dinas
Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan adalah sebagai berikut:

Kepala Dinas

11

Sekretaris

Kasubbag
Proram

Ka.Bidang
Industri

Kasi
IKAHH

Kasubbag
Keuangan

Ka.Bidang
Perdagang
an

Kasi
Pengemban
gan
Usaha
Perdaganga
n

Kelompo
k
Jabatan
Fungsion

UPTD
Wil. Parigi

Ka.Bidang
Koperasi
dan UMKM

Kasi
Distribusi Barang
dan
Perlindungan
Kosumen

Kasi
ILMEA

UPTD
Wil.
Panganda
ran

UPTD
Wil.
Banjarsari

Kasubbag
Kepegawai
an dan
Umum

Kasi
Pembrday
aan
Kelembaga
an Usaha
Koperasi
dan UMKM

Ka.Bidang
Pengelolaan
Pasar

Kasi
Sarana
dan
Prasarana
Pasar

Kasi
Kasi
Pengawasan Pengembangan
UsahaPasar
dan
Fasilitasi
Pembiayaan
Koperasi dan
UMKM

UPTD
Wil.
Ciami
s

UPTD
Wil. Kawali

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Dinas Koperasi, Perindustrian, dan


Perdagangan Kabupaten Ciamis

a. Bidang Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah


Bidang Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
dipimpin oleh Kepala Bidang berada di bawah dan bertanggung jawab

12

kepada Kepala Dinas. Bidang Koperasi dan UMKM mempunyai tugas


melaksanakan penyusunan petunjuk teknis dan penyiapan perencanaan
program, bahan perumusan kebijakan teknis, pemberian bimbingan kepada
koperasi, pengusaha kecil dan menengah. Bidang Koperasi dan UMKM
menyelenggarakan fungsi:
a

Pelaksanaan

penyiapan

program,

data

dan

informasi

bidang

pengembangan koperasi dan UMKM, fasilitasi usaha koperasi dan


UMKM;
b

penyusunan petunjuk teknis perumusan kebijakan teknis, pemberian


bimbingan bidang koperasi dan UMKM;

pengendalian dan evaluasi kegiatan koperasi dan UMKM;

penyusunan laporan kegiatan di bidang tugasnya;


pelaksanaan tugas lain yang diberikan pimpinan sesuai tugas
dan fungsinya.

b. Bidang Industri
Bidang Industri dipimpin oleh Kepala Bidang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Bidang Industri mempunyai tugas
melaksanakan penyusunan petunjuk teknis serta pelaksanaan fasilitasi dan
bimbingan teknis pengembangan sarana usaha, produksi, kerjasama antar
lembaga

termasuk

pemantauan

dan

evaluasi.

Bidang

menyelenggarakan fungsi:
a)

13

P en yus un an progra m penge mbang an us aha indus tri ;

Industri

b)

P en yusunan petunj uk teknis s erta fasilitasi dan bimbingan


teknis pengembangan sarana, usaha dan produksi termasuk
pencegahan dan pemantauan pencemaran limbah industri;

c)

Bimbingan teknologi peningkatan mutu produksi, pengawasan


mutu, diversifikasi produk, dan inovasi teknologi industri;

d)

Pemantauan dan evaluasi perkembangan usaha industri serta


peningkatan kerjasama dengan usaha industri lainnya;

e)

Promosi produksi industri;

f)

Fasilitasi akses permodalan bagi industri melalui bank dan lembaga


keuangan bukan bank;

g)

Pemberian

fasilitas

usaha

dalam

rangka

pengembangan

industri kecil dan menengah (IKM);


h)

Pemberian perlindungan kepastian berusaha terhadap usaha


industri;

i)

Fasilitasi penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi pada


usaha industri;

j)

Pembinaan asosiasi industri;

k)

Pen yusunan laporan kegiatan di bidang tugasn ya;

l)

Pelaksanaan tugas lain yang diberikan pimpinan sesuai tugas dan


fungsinya.

14

Visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan kebijakan D inas Koperasi


Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Ciamis sebagai berikut :
a. Visi
Dinas

Koperasi,

Perindustrian,

Ciamismenetapkan visi tahun

dan

Perdagangan

Kabupaten

2014-2019 yaitu:Terwujudnya Koperasi,

Perindustrian, dan Perdagangan Di Kabupaten Ciamis Yang Maju dan


MandiriTahun 2019.
b. Misi
Misi ke-1 : Meningkatkan

Kualitas

Sumber

Daya

Manusia

Sektor

Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan;


Misi ke-2

Menumbuhkan Koperasi yang Sehat dan

Mengembangkan Sektor Industri yang

Mandiri;
Misi ke-3

Maju dan Berkualitas;


Misi ke-4

Meningkatkan Sarana dan Prasarana Perdagangan yang

Representatif;
Misi ke-5:

Menggali dan Mengembangkan Potensi Sektor Industri dan


Perdagangan yang Unggul dan Berkualitas.

c. Tujuan
1. Peningkatan kompetensi, kapasitas, dan profesionalitas
manusia sektor koperasi, perindustrian, dan perdagangan.

15

sumber daya

2. Untuk menghidupkan kembali koperasi yang sudah tidak berjalan dan


mengembangkan/mengoptimalkan yang sedang berjalan agar sehat dan
mandiri.
3. Perkembangan sektor industri secara kuantitas dan kualitas serta
berdampak kepada perekonomian masyarakat.
4. Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana perdagangan yang mendorong
terhadap kelancaran dan pertumbuhan sektor perdagangan.
5. Menginventarisasi dan menemukan potensi baru di sektor industri dan
perdagangan yang bisa dijadikan sebagai unggulan.
d. Sasaran
1. Meningkatnya kemampuan aparatur di bidang

teknis

koperasi,

perindustrian,dan perdagangan;
2. Meningkatkan daya dukung administrasi, sarana, dan prasarana kerja;
3. Meningkatnya peran koperasi, UMKM, dan lembaga keuangan non
perbankan dalam pengembangan perekonomian rakyat;
4. Meningkatnya kualitas pengelolaan kelembagaan dan usaha koperasi dan
UMKM;
5. Meningkatnya peran koperasi dan UMKM dalam pengembangan
ekonomi masyarakat;
6. Meningkatnya jaminan keberlangsungan usaha bagi koperasi dan
UMKM;
7. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur pendukung pengembangan
koperasi dan UMKM;
8. Peningkatan promosi dan pemasaran produk koperasi dan UMKM.
9. Meningkatkan distribusi produk domestik regional bruto (PDRB) sektor
perindustrian;
10. Meningkatnya peran perindustrian dalam pengembangan ekonomi
masyarakat;

16

11. Meningkatnya jaminan keberlangsungan usaha bagi Industri Kecil dan


Menengah (IKM);
12. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur pendukung pengembangan
Industri Kecil dan Menengah (IKM);
13. Peningkatan promosi dan pemasaran produk Industri Kecil dan Menengah
(IKM).
14. Mendorong berkembangnya pasar tradisional yang bernuansa pasar
modern;
15. Meningkatnya pedagang yang berjualan di pasar tradisional.
16. Meningkatnya kualitas pembinaan dan pelayanan terhadap pelaku dunia
usaha dalam upaya meningkatkan pertumbuhan sektor industri dan
perdagangan.
17. Berkembang dan bertambahnya jenis-jenis usaha di sektor industri dan
perdagangan.
e. Strategi
1. Meningkatkan pelaksanaan kewenangan dinas untuk mewujudkan visi
dan misi yang ada dengan dukungan kebijakan pemerintah;
2. Meningkatkan jumlah, kualitas, dan kreativitas SDM aparatur profesional
yang ada di dinas;
3. Meningkatkan program, kegiatan, dan fasilitas tehadap pelaku usaha agar
meningkatkan kualitas SDM pelaku usaha dan produk yang dihasilkan
dapat memiliki daya saing tinggi;
4. Pembentukan pusat informasi atau klinik bisnisdalam membantu pelaku
mengembangkan usahanya;
5. Meningkatkan partisipasi pelaku usaha terhadap program, kegiatan, dan
fasilitas dari pemerintah;
6. Tingkatkan pemahaman atas tugas, fungsi, dan peraturan yang berkaitan
dengan dunia usaha;
17

3.1.1

Pengelolaan dan PengembanganIndustri Kecil Menengah (IKM)dan Usaha


Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan
Koperasi Kabupaten Ciamis.
Pengelolaan dan Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) dan
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas Koperasi, Perindustrian
dan Perdagangan Kabupaten Ciamis dengan prosedur sebagai berikut :

Pendataa

Pembinaan

Pelatihan

Pengembang
an

a. Pendataan
Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Ciamis bekerja sama dengan aparat pemerintah setempat yaitu Kasi
Ekonomi dan Pembangunan di Kecamatan dan

Ekbang di Desa.

Dalam hal ini pemerintah setempat mengidentifikasi UMKM dan IKM


yang terbagi menjadi empat wilayah sebagai berikut:
1. Wilayah Kawali,
2. Wilayah Cikoneng,
3. Wilayah Banjarsari, dan
4. Wilayah Cinjeunjing.
Pendataan yang dilakukan meliputi:
1. Legalitas
2. Produk
3. Aset dan Omset
Usaha mikro dengan:
Aset permodalan 0-50 juta
Omset 0-300 juta/tahun
Usaha mikro kecil dengan :
Aset permodalan 50-500 juta
Omset 300 juta- 2,5 Milyar

18

Usaha Menengah dengan :


Aset 500 juta-10 Milyar
Omset 2,5 50 Milyar

b. Pembinaan
Dinas koperasi, perindustrian dan perdagangan kabupaten
ciamis melakukan pembinaan dengan menggali potensi yang dimiliki
oleh para pelaku usaha baik Usaha Mikro Kecil Menengah ataupun
Industri Kecil Menengah.
Menggali potensi ini dilakukan dengan program dicanangkan
pemerintah kabupaten ciamis yaitu menciptakan wirausaha baru.
Program tersebut diberintikan:
Pendidikan
Pendampingan
Bantuan peralatan
c. Pelatihan
Dinas koperasi, perindustrian dan perdagangan kabupaten
ciamis melaksanakan pelatihan sesuai kebutuhan dengan kegiatan
diantaranya pelatihanmengenai teknologi tepat guna yang sudah
dilaksanakan hotel budi family dengan peserta sebanyak 30 orang
pelaku usaha.
d. Pengembangan
Dinas koperasi, perindustrian dan perdagangan kabupaten
ciamis melaksanakan pengembangan dengan program sebagai berikut:
1. Pengembangan sistem pendukung bagi UMKM dengan
intermediasi UMKM dan kepada Lembaga Bank/Non Bank
2. Menfasilitasi pengembangan sarana promosi dan hasil produksi
dengan mengikutsertakan UMKM dalam pameran produk
daerah dan lain-lain

19

3. Peningkatan kemampuan teknologi industri dengan perluasan


penerapan standar produksi industri
4. Pengembangan sentra-sentra industri

potensial

dengan

sosialisasi dan penataan sentra industri potensial industri kecil


makanan ringan dan logam serta kerajinan
Dalam pengembangan Industri Kecil Menengah Kabupaten
Ciamis Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan membagi
daerah industri sebagai berikut:
1. Kawasan industri
Kawasan industri Kabupaten Ciamis terletak di Jalur Lingkar
Selatan
2. Kawasan peruntukan industri
Kawasan peruntukan industri direncakan terletak di kawasan
strategis seperti keluar jalan tol.
3. Sentra industri
Sentra industri kabupaten ciamis yang sudah berjalan yaitu
3.1.2

diantaranya suka senang dan galendo.


Hambatan-hambatan dalam Pengelolaan dan Pengembangan Industri Kecil
Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas
Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Ciamis
Hambatan-hambatan dalam Pengelolaan dan Pengembangan Industri
Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Keci Menengah (UMKM) oleh
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Ciamis yaitu
diantaranya :
1. Masih rendahnya manajemen dan daya saing para pelaku usaha yang
tercermin dengan kualitas dan inovasi produk UMKM yang relatif rendah
semisal para pelaku cenderung bersikap praktis, setengah jadi dan tidak

20

sampai finishing dalam proses produksi seperti pengusaha tahu bulat


yang memasarkan produknya dalam bentuk kantong besar (per-ball).
2. Rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) pelaku usaha sehingga
sehingga pola kemitraan sulit diterapkan dalam bidang produksi,
teknologi dan pemasaran hal ini disebabkan dengan tingkat pendidikan
para pelaku usaha yang rendah.
3. Masih adanya UMKM yang belum berbadan hukum dan legitimasi usaha
serta hukum atas aset sehingga menghambat pengembangan usaha.
4. Kurang berkembangnya sentra-sentra industri daerah karena infrastruktur
yang belum memadai dan belum tertatanya informasi sentra industri
5. Masih banyaknya IKM yang belum memiliki izin usaha dan terbatasnya
akses terhadap permodalan yang menyebabkan banyak IKM yang kurang
berkembang.
6. Masih rendahnya kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga
belum mampu mengoptimalkan kualitas produk industri seperti
rendahnya daya saing produk IKM dalam menghadapi dampak
globalisasi.
3.1.3

Upaya-upaya yang dilakukan untuk Mengatasi Hambatan-hambatan dalam


Pengelolaan dan Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM)

Usaha

Mikro Keci Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan


Koperasi Kabupaten Ciamis.
Upaya-upaya yang dilakukan untuk Mengatasi Hambatan-hambatan
dalam Pelaksanaan PembinaanIndustri Kecil Menengah (IKM) Usaha Mikro
Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan
Koperasi Kabupaten Ciamis yaitu sebagai berikut :
21

1. Peningkatan bantuan.
2. Pemerintah menfasilitasi pelaku usaha sesuai dengan kebutuhan.
3. Pemerintah menyediakan peraturan/regulasi yang jelas mengenai legalitas
usaha.
4. Pemerintah menyediakan petugas penyuluh lapangan atau petugas
pendamping UMKM dan IKM
5. Dilakukan pelatihan dan pengembangan bagi UMKM dan IKM sehingga
diharapkan para pelaku usaha dapat berinovasi dan berkreativitas dalam
menunjang pemasaran produknya sehingga memiliki nilai tambah dalam
memasarkan produknya.
3.2 Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul.
Dalam Perda Nomor 16 Tahun 2007 tentang Pembentukan Dinas di
Lingkungan Kabupaten Bantul susunan organisasi Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi terdiri atas :
a. Kepala Dinas;
b. Sekretariat terdiri atas :
1. Sub Bagian Umum;
2. Sub Bagian Program;
3. Sub Bagian Keuangan;
c. Bidang Perindustrian terdiri atas :
1. Seksi Sarana dan Usaha Industri;
2. Seksi Pengembangan Produksi Industri;
d. Bidang Perdagangan, terdiri atas;
1. Seksi Sarana dan Usaha Perdagangan;
2. Seksi Pengembangan Perdagangan Dalam dan Luar Negeri;
e. Bidang Koperasi, terdiri atas:
1. Seksi Pembedayaan Koperasi dan UKM;
2. Seksi Faslitasi Pembiayaan dan Simpan Pinjam;
f. Bidang Penanaman Modal, terdiri atas:
1. Seksi Promosi dan Kerjasama Investasi;
2. Seksi Sarana dan Pengendalian Investasi;
g. Unit Pelaksana Teknis;
h. Kelompok Jabatan Fungsional.
22

Visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan kebijakan D inas Koperasi


Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Bantul sebagai berikut :
a. Visi
Visi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Bantul
adalah : TERWUJUDNYA USAHA KECIL MENENGAH DAN KOPERASI
YANG KUAT, SERTA PEENINGKATAN INVESTASI YANG TERARAH
SEBAGAI PENDUKUNG PEREKONOMIAN DAERAH.
b. Misi
Misi Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Bantul
adalah :
1. Mewujudkan peningkatan produksi dan nilai tambah, serta pemanfaatan
hasil potensi daerah yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.
2. Mewujudkan peningkatan investasi, kemantapan kelembagaan, jiwa
enterpreneur dan kesejahteraan UMKM.
3. Mewujudkan peningkatan perdagangan dalam rangka menggerakkan
perekonomian daerah, dan perlindungan konsumen.
c. Tujuan Misi
1. Meningkatkan daya saing pada era globalisasi dengan meningkatkan
produksi, nilai tambah serta pemanfaatan hasil potensi daerah melalui,
pemberdayaan, peningkatan kapasitas IPTEK, SDM, sistem produksi dengan
mengacu

pada

lingkungan.
2. Peningkatan

pembangunan

pertumbuhan

yang

investasi

berkelanjutan
daerah

yang

dan

berwawasan

terarah

melalui

pengembangan sistem pendukung usaha bagi KUKM serta peningkatan nilai


investasi dan investor.
3. Peningkatan sistem distribusi dan lembaga usaha perdagangan yang baik

23

4. Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa demi terwujudnya


perlindungan konsumen serta pengamanan perdagangan.
d. Sasaran Misi
1. Peningkatan produksi, dan nilai tambah melalui

pemberdayaan,

peningkatkan kapasitas IPTEK, SDM, sistem produksi serta mewujudkan


peningkatan pemanfaatan hasil potensi daerah dan teknologi yang tepat serta
berwawasan lingkungan.
2. Meningkatkan dan mengembangkan sistem pendukung usaha bagi KUKM
serta pertumbuhan investasi daerah.
3. Peningkatan sistem distribusi dan lembaga usaha perdagangan yang baik.
4. Peningkatan perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan.
e. Strategi
1. Meningkatkan kapasitas aparatur dan pelayanan prima
2. Tersedianya laporan perencanaan, pelaporan capaian kinerja dan keuangan
3. Fasilitasi perijinan dan pelatihan UKM
4. Fasilitasi, revitalisasi dan pembinaan KUKM
5. Terselenggaranya temu bisnis
6. Terselenggaranya pemantauan lingkungan
7. Fasilitasi FGD dan pemanfaatan IPTEK
8. Penyusunan kajian potensi sentra
9. promosi dan kerjasama investasi
10. sosialisasi, koordinasi kepada masyarakat dan pelaku usaha
11. meningkatkan pemberdayaan dan fasilitasi terhadap KUKM
12. Fasilitasi kemitraan dan pelatihan kelembagaan
13. Fasilitasi pelatihan tentang kewirausahaan
14. Meningkatkan promosi perdagangan serta kapasitas SDM pelaku eksport
15. fasilitasi promosi serta pengaturan distribusi dan lembaga usaha yang baik
16. pembangunan pasar tradisional
17. penataan dan pembinaan PKL
18. Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa serta sosialisasi
perlindungan konsumen.
f. Kebijakan
1. Meningkatkan Kinerja dan Pelayanan.
2. Pelaksanaan pemerintahan yang akuntabel dan transparan serta terukur.
3. Pemberdayaan dan peningkatan kapasitas produksi, nilai tambah melalui
fasilitasi terhadap KUKM.
24

4. Peningkatan kemitraan pelaku ekonomi.


3.2.1

Pengelolaan dan PengembanganIndustri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha


Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan
Koperasi Kabupaten Bantul.
Pengelolaan

dan

Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil


Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi
Kabupaten Bantul banyak melibatkan stakeholder dan kemitraan dengan
Perguruan Tinggi setempat.
Perguruan Tinggi yang telah mengadakan MoU dengan pemerintah
Kabupaten Bantul turut serta membantu pengelolaan dan pengembangan
Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
hal ini tercermin dengan kegiatan yang telah dilakukan sebagai berikut :
1. Dilaksanakannya kompetisi dalam desain pakaian khas Bantul hal ini
dilakukan dikampus Institut Seni Indonesia.
2. Terdapat MoU dengan kampus Akademik Teknologi Kulit mengenai
desain kulit dan pemasaran.
Berdasarkan hal tersebut tercermin bahwa kerjasama yang dilakukan
oleh Pemerintah dan Perguruan Tinggi dapat menjadi solusi yang selama ini
menghambat pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha
Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam minimnya manajemen dan daya
saing yang tercermin pada kualitas dan inovasi produk Industri Kecil
Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang relatif
rendah.

25

Dengan dilakukan kemitraan antara Pemerintah dan Perguruan Tinggi


diharapkan akan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa yang dapat
mengaplikasikan keilmuan yang telah diterimanya kepada Industri Kecil
Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang di
fasilitasi oleh pemerintah.
3.2.2

Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan pembinaan dan pengelolaan Industri


Kecil Menengah (IKM) danUsaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh
Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul.
Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, sebagai instansi
teknis dalam menjalankan tugas dan fungsinya di bidang perindustrian,
perdagangan, penanaman modal dan koperasi mengalami permasalahanpermasalahan antara lain :
1. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi melalui bidang industri
banyak menerima proposal permohonan bantuan, baik bantuan berupa
peralatan dan bantuan modal, maka diperlukan data yang valid untuk
menyalurkan, agar tidak terjadi ketidakseimbanganan/ketidakadilan,
supaya tidak terjadi permasalahan yang ada dimasyarakat yang tidak
menerima bantuan.
2. Kegiatan-kegiatan pembinaan pada IKM (Industri Kecil Menengah) yang
dilakukan oleh pusat, banyak dilakukan dengan metode sharing, antara
pusat dan daerah tetapi ternyata dana untuk sharing dari APBD Bantul

26

sangat terbatas sekali sehingga pembinaan yang dilakukan oleh pusat juga
sedikit, sesuai dengan sharing yang disediakan oleh daerah.
3. Sementara ini pembinaan IKM hanya diperuntukkan kepada sentra yang
potensial sedangkan sentra-sentra yang belum potensial belum mendapat
pembinaan. Hal ini berdampak sentra yang potensial semakin
maju/berkembang sedangkan sentra yang belum potensial belum bias
berkembang secara optimal karena kurangnya pembinaan.
4. Banyaknya UKM yang belum diikutsertakan dalam pameran yang
difasilitasi oleh pemerintah daerah dan sebetulnya banyak sekali
undangan untuk mengadakan pameran yang dilaksanakan di luar pulau
Jawa seperti Bali atau Batam, yang sebetulnya berdampak pada omset
penjualan/pemesanan produk tetapi tidak dapat terlaksana karena
3.2.3

keterbatasan dana untuk mengikuti pameran tersebut.


Upaya-upaya yang dilakukan dalam Mengatasi Hambatan-hambatan dalam
Pelaksanaan pembinaan dan pengelolaan Industri Kecil Menengah (IKM) dan
Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) oleh Dinas Perindustrian,
Perdagangan dan Koperasi KabupatenBantul.
Adapun upaya yang dilakukan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan
Koperasi Kabupaten Bantul adalah sebagai berikut :
1. Membuat data yang valid untuk penerima bantuan baik bantuan berupa
dana maupun bantuan berupa peralatan supaya tepat sasaran dan tidak
terjadi permasalahan bagi yang tidak menerima bantuan baik dana
maupun peralatan yang ada di masyarakat.
2. Dengan tersedianya data yang valid

untuk

kelompok

sasaran

penerimabantuan dan kelompok sasaran pembinaan IKM maka kita


27

akanmempunyai dasar yang kuat ketika akan mengajukan rencana


anggaranmelalui APBD Bantul untuk kegiatan pembinaan IKM, yang
dilakukanoleh pusat dengan metode sharing, sehingga pembinaan dapat
dilakukan kepada IKM lebih banyak IKM yang sudah dibina pusat adalah
IKM.
3. IKM yang sudah dibina pusat adalah IKM-IKM yang potensial maka
kitaharus menyiapkan embrio IKM yang nantinya akan dibina oleh
pusatyaitu berupa IKM-IKM yang belum potensial supaya IKM ini
dapatberkembang juga secara optimal, yang selama ini kurang
mendapatpembinaan dari pusat.
4. Fasilitasi kepada UMKM tentang adanya pameran-pameran, hal ini
sangatpenting sekali untuk meningkatkan omset penjualan bagi UMKM,
baikpameran yang diadakan di pulau Jawa maupun pameran yang
diladakan diluar pulau Jawa seperti di Bali atau Batam. Pameran yang
dilakukan dipulau Jawa sudah dapat diakomodir sedangkan pameran yang
dilakukandi luar pulau Jawa seperti Bali dan Batam belum samasekali
terakomodir.

28

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Kabupaten Ciamis memiliki sumber daya alam yang melimpah, sangat
beragam dan dapat dimanfaatkan serta diolah menjadi seni kerajinan dan
aneka jenis olahan pangan yang bermacam-macam. Jika aspek tersebut
dikelola dengan baik dan optimal maka akan menjadi daya tarik tersendiri
yang pada akhirnya dapat mendatangkan pendapatan bagi Pemerintah
Daerah dan mengurangi jumlah pengangguran.
2. Kabupaten Bantul yang dijadikan objek penelitian sebagai suatu studi
komparatif mengenai pengelolaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) telah mampu mengelola
serta mengembangkan UMKM dan IKM dengan baik sehingga menjadi
daya tarik bagi para wisatawan untuk membeli kerajinan dan olahan
pangan khas Bantul.
3. Dalam pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil dan Menengah (IKM), Pemerintah Kabupaten
Ciamis khususnya Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan dan
para pelaku usaha masih belum optimal karena adanya beberapa hambatan
yang sering kali menghalangi kelancaran dalam pengelolaan dan
pengembangan usaha seperti masih rendahnya manajemen dan daya saing
dari para pelaku usaha serta kurang berkembangnya sentra industri karena
infrastruktur yang belum memadai. Berbeda dengan pengelolaan UMKM

29

di Kabupaten Bantul yang telah

dikelola dengan baik sehingga telah

menghasilkan berbagai produk kerajinan dan olahan makanan yang dijual


di sentra oleh-oleh Desa Wisata Kabupaten Bantul.
4. Beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan
dalam pengelolaan dan pengembangan UMKM dan IKM oleh Dinas
Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis diantaranya
Pemerintah menyediakan peraturan/regulasi yang jelas mengenai legalitas
usaha, menyediakan petugas penyuluh lapangan atau petugas pendamping
UMKM dan IKM, serta dilakukannya pelatihan dan pengembangan bagi
para pelaku usaha.
4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka kami perlu menyampaikan saran
bahwa :
1. Dalam pengelolaan dan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Ciamis
agar dapat optimal maka diharapkan pihak pemerintah dan pelaku usaha
dapat bekerja sama dengan baik agar hambatan yang ada dapat
ditanggulangi sehingga akan tercapai tujuan yang diharapkan oleh masingmasing pihak.
2. Pemerintah seyogyanya lebih memberikan perhatian kepada para pelaku
usaha dengan memberikan pelatihan yang lebih intens mengenai tata kelola
atau manajemen dan pemasaran produk yang lebih inovatif dalam
mengemas produk UMKM dan IKM agar menarik sehingga kerajinan serta

30

olahan pangan produk asli Ciamis memiliki ciri khas dan dapat bersaing
dengan produk dari daerah lain.
3. Pemerintah diharapkan dapat membantu pinjaman modal dengan bunga
rendah dan tidak membebani para pelaku usaha. Selain itu, dalam
pemberian hibah mesti adanya transparansi agar besarnya bantuan,
sehingga bantuan yang sampai ke tangan para pelaku usaha dapat diterima
secara utuh.

31

DAFTAR PUSTAKA
Arah Kebijakan dan Program Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi
Kabupaten Bantul Tahun 2012-2015.
Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan Daerah Kabupaten Ciamis Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ciamis
Rencana Strategis Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ciamis
Tahun 2011-2015
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

32