Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulilah atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan


rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Konsep Teoritis penyakit Miastenia Gravis dan Askepnya ini dengan baik. Tujuan
pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah System Imun dan
Hematologi sebagai panduan belajar.
Makalah ini belum sepenuhnya sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan.
Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna bagi
pembaca dan memberikan informasi yang baru dan menambah pengetahuan bagi kita semua.
Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan
makalah ini terutama dosen Pengajar, dan teman-teman yang telah mendukung.

Bengkulu, April 2010

Penulis

Daftar Isi
Kata pengantar.....................................................................................................................i
Daftar Isi..............................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
-

Latar Belakang Penulisan..........................................................................................1

Tujuan......................................................................................................................1

Sistematika Penulisan...............................................................................................1
BAB II Konsep Teori

Definisi.....................................................................................................................2

Etiologi.....................................................................................................................2

Patogenesis / Patofisiologi........................................................................................3

Manifestasi klinis......................................................................................................4

Woc / Web of Caution...............................................................................................6

Penatalaksanaan.......................................................................................................7

Komplikasi................................................................................................................7

Pemeriksaan Diagnostik / penunjang.........................................................................7


BAB III Konsep askep

Pengkajian: Riwayat kesehatan ( Sekarang, Dahulu, dan Keluarga)............................10

Pemeriksaan fisik (fokus)..........................................................................................11

Analisa data (data, etiologi, masalah keperawatan)...................................................13

Kemungkinan diagnosa keperawatan........................................................................14

NCP / Rencana askep untuk 3 diagnosa......................................................................16


BAB IV Penutup
-

Kesimpulan...............................................................................................................17

Daftar Pustaka.......................................................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Saat ini banyak sekali penyakit baru yang dapat menyerang sistem imun atau system
kekebalan dalam tubuh kita yang merusak komunikasi antara syaraf dan otot, yang
mengakibatkan peristiwa kelemahan otot. Salah satunya yaitu penyakit miastenia gravis
yaitu penyakit yang mempengaruhi tranmisi neuromuscular pada otot tubuh yang kerjanya di
bawah kesadaran seseorang (volunter). Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang
berlebihan, dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunteer dan hal itu dipengaruhi
oleh fungsi saraf cranial, serangan dapat terjadi pada beberapa usia, ini terlihat paling sering
pada wanita 15 sampai 35 tahun dan pada pria sampai 40 tahun.
Gangguan yang menyerang otot yang dikendalikan oleh saraf kranial wajah, bibir, lidah,
leher,

dan

tenggorokan)

tetapi

dapat

juga

menyerang

otot-otot

lainnya.

Miastenia Gravis mengikuti terjadinya ledakan kemarahan dan remisi periodik yang tidak
dapat diramalkan. Pengobatannya pun tidak diketahui, tetapi terapi obat-obatan dapat

memperbaiki gejala dan memungkinkan penderita hidup relatif normal, kecuali pada saat
ledakan

kemarahan

terjadi.

Bila penyakit melibatkan sistem pernafasan, maka dapat membahayakan jiwa


Dasar ketidaknormalan pada miastenia gravis adalah adanya kerusakan pada tranmisi
impuls saraf menuju sel otot karena kehilangan kemampuan atau hilangnya reseptor normal
membrane postsinaps pada sambungan neuromuscular. Penelitian memperlihatkan adanya
penurunan 70 % sampai 90 % reseptor asetilkolin pada sambungan neuromuscular setiap
individu. Miastenia gravis dipertimbangkan sebagai penyakit autoimun yang bersikap
lansung melawan reseptor asetilkolin (AChR) yang merusak tranmisi neuromuscular.
Dari uraian dan penjelasan di atas, maka kelompok tertarik untuk membahas masalah
mengenai Konsep Teoritis Penyakit Miastenia Gravis dan Asuhan Keperawatannya.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien yang menderita Miastenia
Gravis.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.

Untuk mengetahui konsep dasar teoritis penyakit Miastenia Gravis.

2.

Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan Miastenia Gravis,
yang meliputi pengkajian, pemeriksaan fisik, analisa data, diagnosa keperawatan, dan rencana
asuhan keperawatan.
1.3 Sistematika Penulisan
Kata pengantar
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan

Latar Belakang Penulisan

Tujuan

Sistematika Penulisan
BAB II Konsep Teori

Definisi

Etiologi

Patogenesis / Patofisiologi

Manifestasi klinis

Woc / Web of Caution

Penatalaksanaan

Komplikasi

Pemeriksaan Diagnostik / penunjang


BAB III Konsep askep

Pengkajian: Riwayat kesehatan ( Sekarang, Dahulu, dan Keluarga)

Pemeriksaan fisik (fokus)

Analisa data (data, etiologi, masalah keperawatan)

Kemungkinan diagnosa keperawatan

NCP / Rencana askep untuk 3 diagnosa


BAB IV Penutup
-

Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
KONSEP TEORITIS PENYAKIT
2.1 Definisi
Istilah miastenia gravis berarti kelemahan otot yang parah. Miastenia gravis
merupakan satu-satunya penyakit neuromuskular yang merupakan gabungan antara cepatnya
terjadi kelemahan otot-otot voluntar dan lambatnya pemulihan (dapat memakan waktu 10
hingga 20 kali lebih lama dari normal).

Miastenia gravis ialah gangguan oto-imun yang menyebabkan otot skelet menjadi
lemah dan lekas lelah.
Miastenia gravis adalah suatu penyakit yang bermanifestasi sebagai kelemahan dan
kelelahan otot-otot rangka akibat defisiensi reseptor asetilkolin pada sambungan
neuromuskular.
2.2 Etiologi
Miastenia Gravis menyebabkan kegagalan dalam transmisi impuls saraf pada
sambungan neuromuskuler. Secara teoritis, kerusakan seperti ini dapat diakibatkan dari reaksi
autoimun

atau

tidak

dapat

berfungsinya

aktivitas

neurotransmiter.

Miastenia Gravis menyerang semua usia, namun penyakit ini paling banyak ditemukan pada
usia antara 20 sampai 40 tahun. Miastenia Gravis menyerang wanita 3 kali lebih banyak dari
pria, tetapi setelah usia 40 tahun, penyakit ini tampaknya menyerang baik pria maupun
wanita secara seimbang.
Sekitar 20% bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita Miastenia Gravis akan memiliki
miastenia tidak menetap/transient (kadang permanen). Penyakit ini akan muncul bersamaan
dengan gangguan sistem kekebalan dan gangguan tiroid, sekitar 15%
penderita miastenia gravis mengalami thymoma (tumor yang dibentuk oleh jaringan kelenjar
timus). Remisi terjadi pada 25% penderita penyakit ini.
2.3 PATOGENESIS/PATOFISIOLOGI
Dasar ketidaknormalan pada miastenia gravis adalah adanya kerusakan pada tranmisi
impuls saraf menuju sel otot karena kehilangan kemampuan atau hilangnya reseptor normal
membran postsinaps pada sambungan neuromuscular. Penelitian memperlihatkan adanya
penurunan 70% - 90% reseptor asetilkolin pada sambungan neuromuscular setiap individu.
Miastenia gravis dipertimbangkan sebagai penyakit autoimun yang bersikap langsung
melawan reseptor asetilkolin (AChR) yang merusak tranmisi neuromuscular.
Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat penting pada patofisiologi
miastenia gravis. Observasi klinik yang mendukung hal ini mencakup timbulnya kelainan
autoimun yang terkait dengan pasien yang menderita miastenia gravis, misalnya autoimun
tiroiditis, sistemik lupus eritematosus, arthritis rheumatoid, dan lain-lain.
Sejak tahun 1960, telah didemonstrasikan bagaimana autoantibodi pada serum
penderita miastenia gravis secara langsung melawan konstituen pada otot. Hal inilah yang
memegang peranan penting pada melemahnya otot penderita dengan miatenia gravis. Tidak
diragukan lagi, bahwa antibody pada reseptor nikotinik asetilkolin merupakan penyebab
utama kelemahan otot pasien dengan miastenia gravis. Autoantibodi terhadap asetilkolin

reseptor (anti-AChRs), telah dideteksi pada serum 90% pasien yang menderita acquired
myasthenia gravis generalisata.
Mekanisme pasti tentang hilangnya toleransi imunologik terhadap reseptor asetilkolin
pada penderita miastenia gravis belum sepenuhnya dapat dimengerti. Miastenia gravis dapat
dikatakan sebagai penyakit terkait sel B, dimana antibodi yang merupakan produk dari sel
B justru melawan reseptor asetilkolin. Peranan sel T pada patogenesis miastenia gravis mulai
semakin menonjol. Timus merupakan organ sentral terhadap imunitas yang terkait dengan sel
T. Abnormalitas pada timus seperti hiperplasia timus atau thymoma, biasanya muncul lebih
awal pada pasien dengan gejala miastenik.
Pada pasien miastenia gravis, antibodi IgG dikomposisikan dalam berbagai subklas
yang berbeda, dimana satu antibodi secara langsung melawan area imunogenik utama pada
subunit alfa. Subunit alfa juga merupakan binding site dari asetilkolin. Ikatan antibodi
reseptor asetilkolin pada reseptor asetilkolin akan mengakibatkan terhalangnya transmisi
neuromuskular melalui beberapa cara, antara lain : ikatan silang reseptor asetilkolin terhadap
antibodi anti-reseptor asetilkolin dan mengurangi jumlah reseptor asetilkolin pada
neuromuscular junction dengan cara menghancurkan sambungan ikatan pada membran post
sinaptik, sehingga mengurangi area permukaan yang dapat digunakan untuk insersi reseptorreseptor asetilkolin yang baru disintesis.
2.4 Manifestasi klinisnya
Miastenia gravis diduga merupakan gangguan otoimun yang merusak fungsi reseptor
asetilkolin dan mengurangi efisiensi hubungan neuromuskular. Keadaan ini sering
bermanifestasi sebagai penyakit yang berkembang progresif lambat. Tetapi penyakit ini dapat
tetap terlokalisir pada sekelompok otot tertentu saja.
Gambaran klinis miastenia gravis sangat jelas yaitu dari kelemahan local yang ringan
sampai pada kelemahan tubuh menyeluruh yang fatal. Kira-kira 33% hanya terdapat gejala
kelainan okular disertai kelemahan otot-otot lainnya. Kelemahan ekstremitas tanpa disertai
gejala kelainan okular jarang ditemukan dan terdapat kira-kira 20% penderita didapati
kesulitan mengunyah dan menelan.
Pada 90% penderita, gejala awal berupa gangguan otot-otot okular yang menimbulkan
ptosis dan diplopia. Mula timbul dengan ptosis unilateral atau bilateral. Setelah beberapa
minggu sampai bulan, ptosis dapat dilengkapi dengan diplopia (paralysis ocular).
Kelumpuhan-kelumpuhan bulbar itu timbul setiap hari menjelang sore atau malam. Pada pagi
hari orang sakit tidak diganggu oleh kelumpuhan apapun. Tetapi lama kelamaan kelumpuhan
bulbar dapat bangkit juga pada pagi hari sehingga boleh dikatakan sepanjang hari orang sakit

tidak terbebas dari kesulitan penglihatan. Pada pemeriksaan dapat ditemukan ptosis unilateral
atau bilateral, salah satu otot okular paretik, paresis N III interna (reaksi pupil).Diagnosis
dapat ditegakkan dengan memperhatikan otot-otot levator palpebra kelopak mata. Walaupun
otot levator palpebra jelas lumpuh pada miastenia gravis, namun adakalanya masih bisa
bergerak normal. Tetapi pada tahap lanjut kelumpuhan otot okular kedua belah sisi akan
melengkapi ptosis miastenia gravis. Bila penyakit hanya terbatas pada otot-otot mata saja,
maka perjalanan penyakitnya sangat ringan dan tidak akan menyebabkan kematian.
Miastenia gravis juga menyerang otot-otot wajah, laring, dan faring. Pada
pemeriksaan dapat ditemukan paresis N VII bilateral atau unilateral yang bersifat LMN,
kelemahan otot pengunyah, paresis palatum mol/arkus faringeus/uvula/otot-otot farings dan
lidah. Keadaan ini dapat menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika pasien mencoba
menelan, menimbulkan suara yang abnormal, atau suara nasal, dan pasien tidak mampu
menutup mulut yang dinamakan sebagai tanda rahang yang menggantung
.

Kelemahan otot non-bulbar umumnya dijumpai pada tahap yang lanjut sekali. Yang
pertama terkena adalah otot-otot leher, sehingga kepala harus ditegakkan dengan tangan.
Kemudian otot-otot anggota gerak berikut otot-otot interkostal. Atrofi otot ringan dapat
ditemukan pada permulaan, tetapi selanjutnya tidak lebih memburuk lagi. Terserangnya otototot pernapasan terlihat dari adanya batuk yang lemah, dan akhirnya dapat berupa serangan
dispnea dan pasien tidak mampu lagi membersihkan lendir.
Biasanya gejala-gejala miastenia gravis dapat diredakan dengan beristirahat dan
dengan memberikan obat antikolinesterase. Gejala-gejala dapat menjadi lebih atau
mengalami eksaserbasi oleh sebab:
1. Perubahan keseimbangan hormonal, misalnya selama kehamilan, fluktuasi selama siklus
haid atau gangguan fungsi tiroid.
2. Adanya penyakit penyerta terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan infeksi
yang disertai diare dan demam.

3. Gangguan emosi, kebanyakan pasien mengalami kelemahan otot apabila mereka berada
dalam keadaan tegang.
4. Alkohol, terutama bila dicampur dengan air soda yang mengandung kuinin, suatu obat
yang mempermudah terjadinya kelemahan otot, dan obat-obat lainnya.

2.5 WOC / Web of caution

2.6 Penatalaksanaan
Walaupun belum ada penelitian tentang strategi pengobatan yang pasti, tetapi
miastenia gravis merupakan kelainan neurologik yang paling dapat diobati. Antikolinesterase
(asetilkolinesterase inhibitor) dan terapi imunomudulasi merupakan penatalaksanaan utama
pada miastenia gravis. Antikolinesterase biasanya digunakan pada miastenia gravis yang
ringan. Sedangkan pada pasien dengn miastenia gravis generalisata, perlu dilakukan terapi
imunomudulasi yang rutin.
Terapi imunosupresif dan imunomodulasi yang dikombainasikan dengan pemberian
antibiotik dan penunjang ventilasi, mampu menghambat terjadinya mortalitas dan
menurunkan morbiditas pada penderita miastenia gravis. Pengobatan ini dapat digolongkan
menjadi terapi yang dapat memulihkan kekuatan otot secara cepat dan terapi yang memiliki
omset lebih lambat tetapi memiliki efek yang lebih lama sehingga dapat mencegah terjadinya
kekambuhan.
2.7 Komplikasi
Bisa timbul miastenia crisis atau cholinergic crisis akibat terapi yang tidak diawasi

Pneumonia

Bullous death
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis dapat ditegakkkan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik.
Penting sekali untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari miastenia gravis. Diagnosis dapat
dibantu dengan meminta pasien melakukan kegiatan berulang sampai timbul tanda-tanda
kelelahan. Untuk kepastian diagnosisnya, maka diperlukan tes diagnostik sebagai berikut:

1. Antibodi anti-reseptor asetilkolin

Antibodi ini spesifik untuk miastenia gravis, dengan demikian sangat berguna untuk
menegakkan diagnosis. Titer antibodi ini meninggi pada 90% penderita miastenia gravis
golongan IIA dan IIB, dan 70% penderita golongan I. Titer antibodi ini umumnya berkolerasi
dengan beratnya penyakit.
2. Antibodi anti-otot skelet (anti-striated muscle antibodi)
Antibodi ini ditemukan pada lebih dari 90% penderita dengan timoma dan lebih
kurang 30% penderita miastenia gravis. Penderita yang dalam serumnya tidak ada antibodi
ini dan juga tidak ada antibodi anti-reseptor asetilkolin, maka kemungkinan adanya timoma
adlah sangat kecil.
3. Tes tensilon (edrofonium klorida)
Tensilon adalah suatu penghambat kolinesterase. Tes ini sangat bermanfaat apabila
pemeriksaan antibodi anti-reseptor asetilkolin tidak dapat dikerjakan, atau hasil
pemeriksaannya negatif sementara secara klinis masih tetap diduga adanya miastenia gravis.
Apabila tidak ada efek samping sesudah tes 1-2 mg intravena, maka disuntikkan lagi 5-8 mg
tensilon. Reaksi dianggap positif apabila ada perbaikan kekuatan otot yang jelas (misalnya
dalam waktu 1 menit), menghilangnya ptosis, lengan dapat dipertahankan dalam posisi
abduksi lebih lama, dan meningkatnya kapasitas vital. Reaksi ini tidak akan berlangsung
lebih lama dari 5 menit. Jika diperoleh hasil yang positif, maka perlu dibuat diagnosis
banding antara miastenia gravis yang sesungguhnya dengan sindrom miastenik. Penderita
sindrom miastenik mempunyai gejala-gejala yang serupa dengan miastenia gravis, tetapi
penyebabnya ada kaitannya dengan proses patologis lain seperti diabetes, kelainan tiroid, dan
keganasan yang telah meluas. Usia timbulnya kedua penyakit ini merupakan faktor pembeda
yang penting. Penderita miastenia sejati biasanya muda, sedangkan sindrom miastenik
biasanya lebih tua. Gejala-gejala sindrom miastenik
biasanya akan hilang kalau patologi yang mendasari berhasil diatasi.Tes ini dapat
dikombinasikan dengan pemeriksaan EMG.
4. Foto dada
Foto dada dalam posisi antero-posterior dan lateral perlu dikerjakan, untuk melihat
apakah ada timoma. Bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan dengan sken tomografik.
5. Tes Wartenberg
Bila gejala-gejala pada kelopak mata tidak jelas, dapat dicoba tes Wartenberg.
Penderita diminta menatap tanpa kedip suatu benda yang terletak di atas bidang kedua mata
beberapa lamanya. Pada miastenia gravis kelopak mata yang terkena menunjukkan ptosis.

6. Tes prostigmin
Prostigmin 0,5-1,0 mg dicampur dengan 0,1 mg atropin sulfas disuntikkan
intramuskular atau subkutan. Tes dianggap positif apabila gejala-gejala menghilang dan
tenaga membaik.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Identitas klien

: Meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, status

Keluhanutama
Riwayat kesehatan

Kelemahan

otot

: Diagnosa miasenia didasarkan pada riwayat dan pesentasi klinis.

Riwayat kelemahan otot setelah aktivitas dan pemulihan kekuatan pasial setelah istirahat
sangatlah menunukkan miastenia gravis, pasien mugkin mengeluh kelemahan setelah
melakukan pekerjaan fisik yang sederhana . riwayat adanya jatuhnya kelopak mata pada
pandangan atas dapat menjadi signifikan, juga bukti tentang kelemahan otot.

B1 (Breathing)
Dispnea, resiko terjadi aspirasi dan gagal pernafasan akut

B2 (Bleeding)
Hipotensi / hipertensi, takikardi / bradikardi

B3 (Brain)
Kelemahan otot ektraokular yang menyebabkan palsi ocular, jatuhnya kelopak mata atau
dislopia intermien, bicara klien mungkin disatrik

B4 (Bladder)
Menurunkan fungsi kandung kemih, retensi urine, hilangnya sensasi saat berkemih.

B5 ( Bowel)
Kesulitan menelan-mengunyah, disfagia, kelemahan otot diafragma dan peristaltic usus turun.

B6 (Bone)
Gangguan aktifitas/ mobilitas fisik, kelemahan otot yang berlebihan.
3.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang cermat harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis suatu
miastenia gravis. Kelemahan otot dapat muncul dalam berbagai derajat yang berbeda,
biasanya menghinggapi bagian proksimal dari tubuh serta simetris di kedua anggota gerak
kanan dan kiri. Refleks tendon biasanya masih ada dalam batas normal. Miastenia gravis
biasanya selalu disertai dengan adanya kelemahan pada otot wajah. Kelemahan otot wajah
bilateral akan menyebabkan timbulnya a mask-like face dengan adanya ptosis dan senyum
yang horizontal.
Kelemahan otot bulbar juga sering terjadi pada penderita dengan miastenia gravis.
Pada pemeriksaan fisik, terdapat kelemahan otot-otot palatum, yang menyebabkan suara
penderita seperti berada di hidung (nasal twang to the voice) serta regurgitasi makanan
terutama yang bersifat cair ke hidung penderita. Selain itu, penderita miastenia gravis akan
mengalami kesulitan dalam mengunyah serta menelan makanan, sehingga dapat terjadi
aspirasi cairan yang menyebabbkan penderita batuk dan tersedak saat minum. Kelemahan
otot-otot rahang pada miastenia gravis menyebakan penderita sulit untuk menutup mulutnya,
sehingga dagu penderita

harus terus ditopang dengan tangan. Otot-otot leher juga mengalami kelemahan, sehingga
terjadi gangguan pada saat fleksi serta ekstensi dari leher.
Otot-otot anggota tubuh tertentu mengalami kelemahan lebih sering dibandingkan
otot-otot anggota tubuh yang lain, dimana otot-otot anggota tubuh atas lebih sering

mengalami kelemahan dibandingkan otot-otot anggota tubuh bawah. Deltoid serta fungsi
ekstensi dari otot-otot pergelangan tangan serta jari-jari tangan sering kali mengalami
kelemahan. Otot trisep lebih sering terpengaruh dibandingkan otot bisep. Pada ekstremitas
bawah, sering kali terjadi kelemahan saat melakukan fleksi panggul, serta melakukan
dorsofleksi jari-jari kaki dibandingkan dengan melakukan plantarfleksi jari-jari kaki.
Kelemahan otot-otot pernapasan dapat dapat menyebabkan gagal napas akut, dimana
hal ini merupakan suatu keadaan gawat darurat dan tindakan intubasi cepat sangat diperlukan.
Kelemahan otot-otot interkostal serta diafragma dapat menyebabkan retensi karbondioksida
sehingga akan berakibat terjadinya hipoventilasi. Kelemahan otot-otot faring dapat
menyebabkan kolapsnya saluran napas atas, pengawasan yang ketat terhadap fungsi respirasi
pada pasien miastenia gravis fase akut sangat diperlukan.
Biasanya kelemahan otot-otot ekstraokular terjadi secara asimetris. Kelemahan sering
kali mempengaruhi lebih dari satu otot ekstraokular, dan tidak hanya terbatas pada otot yang
diinervasi oleh satu nervus cranialis. Hal ini merupakan tanda yang sangat penting untuk
mendiagnosis suatu miastenia gravis. Kelemahan pada muskulus rektus lateralis dan medialis
akan menyebabkan terjadinya suatu pseudointernuclear ophthalmoplegia, yang ditandai
dengan terbatasnya kemampuan adduksi salah satu mata yang disertai nistagmus pada mata
yang melakukan abduksi

3.3 Analisa Data


NO
1

DATA

ETIOLOGI

DO:
Klien tampak

Kelemahan

sesak

pernafasan

tampak Kelemahan
keletihan umum
lelah, dan lemas

otot Kerusakan pertukaran gas

DO:
Klien

MASALAH KEPERAWATAN

otot, Deficit perawatan diri

DO:
Klien tampak

Disfagia,

pucat, lemas dan

paralisis otot

intubasi, Perubahan nutrisi

berat badannya
menurun
3.4 Kemungkinan diagnosa keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan potensial pasien dapat meliputi hal
berikut:

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan


2. Deficit perawatan diri yang berubungan dengan kelemahan otot, keletihan umum
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia,
intubasi, atau paralisis otot.
Pembahasannya:
1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan
Tujuan :
- Pasien akan mempertahankan pertukaran gas yang adekuat
a. Lakukan pendekatan pada klien dengan komunikasi alternative jika klien menggunakan
ventilator
b. Catat saturasi O2 dengan oksimetri, terutama dengan aktifitas
c. Ukur parameter pernafasan dengan teratur
d. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat antikolinergik
e. Sucktion sesuai kebutuhan (obat-obatan antikolinergik meningkatkan sekresi bronkial)
2. Deficit perawatan diri yang berubungan dengan kelemahan otot, keletihan umum
Tujuan ;

-Pasien akan mampu melakukan sedikitnya 25 % aktifitas diri dan berhias


a. Buat jadwal perawatan diri dengan interval
b. Berikan waktu istirahat diantara aktivitas
c. Lakukan perawatan diri untuk pasien selama kelemahan otot yang sangat berlebihan atau
sertakan keluarga
d. Peragakan tehnik-tehnik penghematan energi
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia,
intubasi, atau paralisis otot.
Tujuan :
-Masukan kalori yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik
a. Kaji reflek gangguan menelan dan refek batuk sebelum pemberian peroral
b. Hentikan pemberian makan peroral jika pasien tidak dapat mengatasi sekresi oral atau jika
reflek gangguan menelan atau batuk tertekan
c. Pasang selang makan kecil dan berikan makan perselang jika terdapat disfagia.
d. Catat intake dan output
e. Lakukan konsultasi gizi untuk mengevaluasi kalori
f. Timbang pasien setiap hari.
3.5 NCP / Rencana askep untuk 3 diagnosa
Meliputi diagnosa keperawatan :
1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan

2. Deficit perawatan diri yang berubungan dengan kelemahan otot, keletihan umum
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan disfagia, intubasi,
atau paralisis otot.
Diagnosa

Tujuan

Kriteria hasil

Intervensi

Rasionalisasi

Keperawatan
Kerusakan
pertukaran

Pasien

akan Meningkatkan

gas mempertahankan

yang

pertukaran

berhubungan

yang adekuat

pertukaran

Memberikan
gas bantal

gas dalam pernafasan

Merelaksasikan

agar otot

pasien

otot

yang

merasa lemah, agar dapat

nyaman.

memperbaiki

dengan

kondisi

kelemahan otot

pernafasan pasien

pernafasan
Deficit
perawatan

Pasien
diri mampu

akan

Menunjukkan

Sedikit

rasa nyeri yang keluhan

yang

melakukan

berubungan

sedikitnya 25 % terkontrol

hilang

Mengistirahatkan

nyeri, sendi sendi yang

dan catat factor nyeri


factor

maupun

yang sakit,

dengan

aktifitas diri dan


mempertahankan

Terlihat rileks, dapat


kelemahan otot, berhias
posisi netral dan
dapat
tidur mempercepat
keletihan umum
dan tanda mencegah
ataupun
beristirahat

dan tanda rasa sakot terjadinya

beraktivitas sesuai nonverbal


kemampuan

kelelahan

Biarkan pasien dan

umum

kekakuan

sendi,

mengambil
posisi

yang menstabilkan

nyaman

pada sendi, mengurangi

waktu

tidur gerakan atau rasa

atau duduk di sakit pada sendi.


kursi

maupun

di tempat tidur.
Tingkatkan
istirahat
tempat

di
tidur

Perubahan
nutrisi
dari

Masukan

kurang yang

kalori Tercapainya

adekuat pemenuhan nutrisi asupan

kebutuhan untuk memenuhi yang adekuat.

tubuh

yang kebutuhan

berhubungan

yang

Meningkatkan

nutrisi intake

metabolic

atau

sesuai pemasukan nutrisi

dengan kondisi kedalam


tubuh pasien

dengan disfagia,
intubasi,

sesuai indikasi.
Pemberian

sesuai

tubuh
dengan

kebutuhan pasien.

atau

paralisis otot.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Miastenia gravis adalah suatu penyakit yang bermanifestasi sebagai kelemahan dan
kelelahan otot yang bersifat progresif, dimulai dari otot mata dan berlanjut keseluruh tubuh
hingga ke otot pernapasan.
2. Miastenia gravis disebabkan oleh kerusakan reseptor asetilkolin pada hubungan
neuromuskular akibat penyakit otoimun.

3. Gejala utama miastenia gravis adalah kelemahan otot setelah mengeluarkan tenaga yang
sembuh kembali setelah istirahat.
4. Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan gambaran klinis,
serta tes diagnostik yang terdiri atas: antibodi anti-reseptor asetilkolin, antibodi anti-otot
skelet, tes tensilon, foto dada, tes wartenberg, dan tes prostigmin.
5. Pengobatan miastenia gravis adalah dengan menggunakan obat-obat antikolinesterase yang
kerjanya menghancurkan asetilkolin.

DAFTAR PUSTAKA
- http://hesa-andessa.blogspot.cop/2010/04/askep-miastenia-gravis.html
- http://forum.um.ac.id/index.php?topic=12465,0
- http://community.um.ac.id/archive/index.php/t-61305.html
- http://medlinux.blogspot.com/2009/02/miastenia-gravis.html
- http://medicastore.com/penyakit/328/Miastenia_Gravis_Myasthenia_Gravis.html
- Doenges, E. M (2000), Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian, ed. 3, EGC,
Jakarta.
- Hudak & Gallo. (1996). Keperawatan kritis : pendekatan holistic. Vol. 2. EGC.jakarta.
- Ramali, A.( 2000 ). Kamus Kedokteran. Djambatan, Jakarta.