Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN KLIEN GANGGUAN SENSORI


BLEFARITIS

Di Susun Oleh :
Gita Paradisma

( P27820714002 )

Adeng Hidayatullah

( P27820714007 )

Nuris Fitria Hartiyanti

( P27820714024 )

Asrti Rejeki

( P27820714028 )

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


POLTEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS


BLEFARITIS
A. Definisi
Blefaritis adalah radang pada kelopak mata, sering mengenai
bagian kelopak mata dan tepi kelopak mata. Pada beberapa kasus disertai
tukak atau tidak pada tepi kelopak mata, biasanya melibatkan folikel dan
kelenjar rambut.
Blefaritis adalah peradangan bilateral sub akut/menahun pada tepi
kelopak mata (margo palpebra).
Blefaritis adalah inflamasi pada pinggir kelopak mata biasanya
disebabkan oleh sthopilokokus.
B. Klasifikasi
1. Blefaritis Bakterial
a. Blefaritis Superfisial
Bila infeksi kelopak superfisial disebabkan oleh staphylococcus
maka pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti
sulfasetamid dan sulfisolksazol. Sebelum pemberian antibiotik krusta
diangkat dengan kapas basah. Bila terjadi blefaritis menahun maka
dilakukan penekanan manual kelenjar meibom untuk mengeluarkan
nanah dari kelenjar meibom (Meibormianitis), yang biasanya
menyertai.
b. Blefaritis Seboroik
Merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya.
Biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 tahun), dengan keluhan
mata kotor, panas, dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah sekret yang
keluar dari kelenjar meiborn, air mata berbusa pada kantus lateral,
hiperemia, dan hipertropi pupil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat
terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis, poliosis, dan jaringan
keropeng. Pengobatannya adalah dengan membersihkan menggunakan

kapas lidi hangat. Kompres hangat sela 5-10 menit. Kelenjar meibom
ditekan dan dibersihkan dengan shampo bayi.
c. Blefaritis Skumosa
Blefaritis skuamosa adalah blefaritis disertai adanya skuama atau
krusta pada pangkal bulu mata yang bila dikupas tidak mengakibatkan
terjadinya luka kulit. Merupakan peradangan tepi kelopak terutama
yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata dan sering terdapat pada
orang yang berambut minyak. Penyebabnya adalah kelainan metabolik
ataupun oleh jamur. Pasien dengan blefaritis skuamosa akan terasa
gatal dan panas. Pada blefaritis skuamosa terdapat sisik berwarna halushalus dan penebalan margo palpebra disertai madarosis. Sisik ini mudah
dikupas dari dasarnya mengakibatkan pendarahan. Pengobatan blefaritis
skuamosa ialah dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampo
bayi, salep mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki
metabolisme pasien.

d. Blefaritis Ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan tukak
akibat infeksi staphylococcus. Pada blefaritis ulseratif terdapat
keropeng berwarna kekuning-kuningan yang bila diangkat akan terlihat
ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah disekitar bulu mata. Pada
blefaritis ulseratif skuama yang terbentuk bersifat kering dan keras,
yang bila diangkat akan terjadi luka dngan disertai pendarahan.
Pengobatan dengan antibiotik dan higiene yang baik sedangkan pada
blefaritis ulseratif dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau

basitrasin. Apabila ulseratif mengalami peluasan, pengobatan harus


ditambah antibiotik sistemik dan diberi roboransia.

e. Blefaritis Angularis
Merupakan infeksi staphlococcus pada tepi kelopak di sudut
kelopak atau kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak
mata (kantus eksternus dan internus) sehingga dapat mengakibatkan
gangguan pada fungsi puntum lakrimal. Blefaritis angularis disebabkan
oleh Staphylococcus aureus. Kelainan ini biasanya bersifat rekuren.
Befaritis angularis diobati dengan sulfa, tetrasiklin dan seng sulfat.
Penyulit pada punctum lakrimal bagian medial sudut mata yang akan
menyumbat duktus lakrimal.

f. Blefaritis Meibomianitis
Merupakan

infeksi

pada

kelenjar

meibom

yang

akan

mengakibatkan tanda peradangan lokal pada kelenjar tersebut.


Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat, penekanan

dan pengeluaran nanah dari dalam berulang kali disertai antibiotik


lokal.

2. Blefaritis Virus
a. Herpes Zoster
Virus ini dapat memberikan infeksi pada ganglion saraftrigeminus
Biasanya virus ini akan mengenai orang dengan usia lanjut. Bila yag
terkena ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala
herpes zoster pada mata dan kelopak mata atas. Gejala tidak akan
melampaui garis medin kepala dengan tanda-tanda yang terlihat pada
mata adalah rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan terasa
demam. Pada kelopak mata terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea
bila mata terkena. Lesi vesikel pada cabang oftalmik saraf trigeminus
superfisial merupakan gejala yang khusus pada infeksi herpes zoster
mata.

b. Herpes Simplex

Vesikel kecil dikelilingi eritema yang dapat disertai dengan


keadaan yang sama pada bibir merupakan tanda herpes simplex
kelopak. Dikenal bentuk blefaritis simplex yang merupakan radang tepi
kelopak ringan dengan terbentuknya krusta kuning basah pada tepi bulu
mata, yang mengakibatkan kedua kelopak lengket.

3. Blefaritis Jamur
1. Infeksi superfisial
2. Infeksi jamur dalam
3. Blefaritis pedikulosis : kadang-kadang pada penderita dengan higiene
yang buruk akan dapat bersarang tuma atau kutu pada pangkal silia di
daerah margo palpebra.
Ada 2 macam blefaritis :
a. Infeksi yang terjadi pada kelopak mata
Pada kasus ini bulu mata rontok dan tidak diganti oleh yang baru
karena ada destriksi folikel rambut. Pada pangkal rambut terdapat sisik
kering (krusta) berwarna kuning pada bulu mata. Palpebra merah
(matabertepi merah)
b. Blefaritis seborrheik
Inflamasi kelenjar kulit didalam bulu mata/kelenjar bulu mata.
Pada kasus ini bulu mata cepat jatuh tetapi dapat diganti yang baru
karena tidak ada destruksi folikel rambut. Didapatkan skuama (sisik
berminyak) tepian palpebra tidak begitu merah.

C. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya blefaritis dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Blefaritis Ulseratif
Penyebabnya adalah staphylococcus aureus (stafilikokus epidermis).
2. Blefaritis Non-Ulseratif
Penyebabnya adalah kelainan metabolisme dan jamur pitirusponem
ovale.
Secara umum :
a. Infeksi/alergi yang biasanya berjalan kronik/akibat disfungsi kelenjar
meibom.
Contoh : Debu, asap, bahan kimia, iritatif/bahan kosmetik.
b. Infeksi bakteri stafilokok, streptococcus alpha/beta hemolyticus,
pnemokok, psedomonas, demodex folliculorum, hingga pityrosporum
ovale.
c. Infeksi oleh virus disebabkan herpes zoster, herpes simplex, vaksinia
dan sebagainya.
d. Jamur dapat menyebabkan superfisial (sistemik).
Blefaritis dapat disebabkan infeksi staphlococcus, dermatitis
seboroik, gangguan kelenjar meibom, atau gangguan dari ketiganya.
Blefaritis anterior biasanya disebabkan karena infeksi staphylococcus
aureus, didapatkan pada 50% pada pasien yang menderita blefaritis, tapi
hanya 10% orang yang tidak memberikan gejala blefaritis namun
ditemukan bakteri staphylococcus. Infeksi staphylococcus epidermis
didapatkan sekitar 95% pasien. Blefaritis seboroik serupa dengan
dermatitis seboroik, dan posterior blefaritis (meibomian blefaritis)
disebabkan gangguan kerja kelenjar meibom. Kelenjar meibom yang ada
sepanjang batas kelopak mata, dibelakang batas bulu mata, kelenjar ini
menghasilkan minyak ke kornea dan konjungtiva. Kelenjar ini
disekresikan dari lapisan luar air mata yang bisa menghambat penguapan
air mata, dan membuat permukaan mata menjadi tetap halus, serta
membantu menjaga struktur dan keadaan mata. Sekresi protein pada

pasien yang menderita kelainan kelenjar meibom berbeda komposisi dan


kuantitas dari orang dengan mata normal. Ini menjelaskan kenapa pada
pasien dengan kelainan kelenjar meibom jarang menderita sindrom mata
kering. Kelenjar meibom berasal dari glandula sebasea.
D. Patofisiologi
Blefaritis terjadi dimulai dari invasi jamur pitirusporum (b.seboreik) ,
stafilokokus (b.ulseratif) di area kelopak mata dan adanya kelainan
metabolic (b.seboreik) pada sekitar kelopak mata yang merusak system
imun dan menginfeksi kelopak mata. Akibatnya pada blefaritis seboreik
terjadi pelepasan lapisan tanduk di kulit dan daerah kelopak mata,
gangguan folikel rambut menyebabkan bulu mata cepat jatuh dan terjadi
trikiasis menggesek kornea menyebabkan gangguan kornea. Sedangkan
pada blefaritis ulseratif terjadi hyperemia, pelepasan krusta berwarna
kuning kering terasa gatal, destruksi folikel rambut yang menyebabkan
bulu mata cepat jatuh dan tidak diganti dengan yang baru, dapat pula
menyebabkan gangguan pada kornea, serta terbentuk ulkus kecil-kecil
yang mudah berdarah (Istiqomah, 2004).
E. Patway
F. Manifestasi klinis
Gambaran Klinik blefaritis gejala blefaritis berupa rontok bulu mata
Gejala :
1. Blefaritis menyebabkan kemerahan dan penebalan, bisa juga terbentuk
sisik dan keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.
2. Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya.
Mata dan kelopak mata terasa gatal, panas, dan menjadi merah. Bisa
terjadi pembengkakan kelopak mata dan beberapa helai bulu mata
rontok.
3. Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang. Bisa
juga terbentuk keropeng yang melekat erat pada tepi kelopak mata; jika
keropeng dilepaskan, bisa terjadi pendarahan.
4. Selama tidur, sekresi mata mengering sehingga ketika bangun kelopak
mata sukar dibuka.

Tanda :
1. Skuama pada tepi kelopak
2. Jumlah bulu mata berkurang
3. Obstruksi dan sumbatan duktus meibom
4. Sekresi Meibom keruh
5. Infeksi pada tepi kelopak
6. Abnormalitas film air mata.
G. Komplikasi
Komplikasi yang berat karena lefaritis jarang terjadi. Komplikasi
yang paling sering terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak.
Mungkin sebaiknya disarankan untuk sementara waktu menggunakan alat
bantu lain seperti kaca mata sampai gejala blefaritis hilang.
1. Syndrome mata kering
Adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada blefaritis.
Syndrome mata kering (keratokonjungtivis sica) adalah kondisi dimana
mata pasien tidak bisa memproduksi air mata yang cukup, atau air mata
menguap terlalu cepat. Ini bisa menyebabkan mata kekurangan air dan
menjadi meradang. Syndrome ini dapat terjadi karena dipengaruhi
gejala blefaritis, dermatitis seboroik, dan dermatitis rosea, namun dapat
juga disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik.
Gejalanya ditandai dengan nyeri atau kering, sekitar mata, dan ada
yang mengganjal di dalam mata dengan penglihatan yang buram.
Semua gejala tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan obat
tetes mata yang mengandung cairan yang dibuat untuk bisa
menggantikan air mata.
2. Konjungtivitis
Adalah peradangan pada mata. Ini terjadi ketika ada bakteri
didalam kelopak mata. Kondisi ini menyebabkan efek buruk pada
penglihatan. Pada banyak kasus konjungtivitis akan hilang setelah dua
atau tiga minggu tanpa perlu pengobatan. Antibiotik berupa obat tetes
mata disarankan untuk mengurangi gejala, atau untuk menghindari

infeksi berulang. Akan tetapi, pada beberapa kasus masih didapatkan


bahwa penggunaan antibiotik tetes tidak lebih cepat memperbaiki
kondisi dibanding dengan menunggu sampai kondisi itu kembali lagi
tanpa pengobatan apapun.
3. Kista meibom
Adalah pembengkakan yang terjadi pada kelopak mata. Ini bisa
terjadi ketika salah satu kelenjar meibom meradang da menyebabkan
blefaritis. Kista umumnya tapa rasa sakit, kecuali jika disertai dengan
infeksi, yang memerlukan antibiotik. Penggunaan kompres hangat untuk
kista bisa membuat kista mengecil, akan tetapi kista itu sering menghilang
dengan sendirinya. Jika kista tetap ada, ini dapat dihilangkan dengan
bedah sederhana dengan anastesi lokal.
4. Bintil pada kelopak mata
Bintil pada kelopak mata ini merupakan benjolan yang nyeri yang
terbentuk di luar kelopak mata. Ini disebabkan karena infeksi bakteri pada
folikel bulu mata ( yang berlokasi di dasar bulu mata). Pada kasus ringan
bisa disembuhkan dengan kompres hangat pada daerah sekitar bintil.
Namun, pada kasus yang berat perlu diberikan antibiotik salep dan tablet.

H. Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaan mikrobiologi untuk mengetahui penyebabnya:
a. Uji Laboratorium
b. Radiografi
Fluorescein Angiografi
Computed Tomografi
Pemeriksaan dengan slit lamp
I. Pengobatan
Pengobatan tergantung dari jenis blefaritisnya, namun kunci dari
semua jenis blefaritis adalah menjaga kebersihan kelopak mata dan
menghindarkan dari kerak. Sangat dianjurkan untuk mengurangi dan

menghentikan penggunaan bedak atau kosmetik saat dalam penyembuhan


blefaritis, karena jika kosmetik tetap digunakan maka akan sulit untuk
menjaga kelopak mata tetap bersih. Kompres dengan air hangat untuk
mengurangi kerak. Bila belum terjadi komplikasi bahan pembersih seperti
campuran air dan shampo bayi atau dengan menggunakan produk
pembersih kelopak mata dapat pula dipergunakan. Untuk kasus yang
disebabkan oleh infeksi bakteri, antibiotik dapat dipergunakan sedangkan
untuk membasmi bakteri terkadang diberikan salep antibiotik (misalnya
erythroicyn atau sulfacetamide) atau antibiotik per oral (misalnya
tetracycline).
Jika terdapat dermatitis seboroik maka harus diobati terlebih dahulu.
Jika terdapat kutu, bisa dihilangkan dengan mengoleskan dengan jeli
petroleum pada dasar bulu mata. Jika kelenjar kelopak mata tersumbat,
maka perlu dilakukan pemijitan pada kelopak mata untuk mengeluarkan
sisa yang mengumpul sehingga bisa menghambat aliran kelenjar kelopak
mata. Cairan air mata buatan atau minyak pelembut disarankan pada
beberapa kasus. Jika pasien menggunakan lensa kontak, sebaiknya
disarankan untuk menghentikan pemakaiannya terlebih dahulu selama
proses pengobatan. Blefaritis tidak dapat disembuhkan secara sempurna
meski pengobatan telah berhasil, kemungkinan kembali terserang penyakit
ini sangat mungkin terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. EGC :


Jakarta
Barbara C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah 2. Padjajaran Bandung;
Bandung.
Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan,
edisi 6.Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC Barbara C.
Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah 2. Padjajaran Bandung;
Bandung.
Istiqomah, dkk. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Mata.
EGC; Jakarta.
Radjamin, Tamin. 1984. Ilmu Penyakit Mata. Airlangga University : Surabaya.

ASUHAN KEPERAWATAN TEORI


a. Pengkajian
Data Subjektif
-

Pasien mengeluh ada rasa terbakar dan gatal pada tepi kelopak mata yang
mengalami iritasi

Nyeri (ringan sampai berat) pada kelopak mata

Lakrimasi (mata selalu berair)

Sensitif terhadap cahaya (fotofobia)

Gelisah akibat gatal-gatal/nyeri

Penderita merasa ada sesuatu di matanya

Malu dan kurang percaya diri akibat efek dari penyakitnya (bulu mata rotok
dan tidak terganti)

Pandangan mata kabur

Data objektif
-

Kemerahan pada palpebra

Kelopak mata dapat menjadi rapat ketika tidur

Pada kelopak mata terdapat ulkus kecil-kecil di tepian palpebra

Bulu mata rontok

Iritasi pada tepi kelopak mata

Pada pangkal bulu mata terdapat sisik kering (krusta) berwarna kuning atau
terdapat skuama

Terjadi pertumbuhan bulu mata yang mengarah ke dalam atau kearah bola
mata (trikiasis) yang akan menyebabkan ulserasi kornea.

Lakrimasi

b. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d agen injuri biologis (iritasi dan fotofobia
sekunder akibat peradangan di margo papebra ) ditandai dengan rasa
terbakar dan gatal pada palpebra, sensitive terhadap cahaya.
2. Kerusakan integritas kulit b.d proses inflamasi kelenjar kulit di daerah bulu
mata ditandai dengan pelepasan lapisan tanduk di kulit dan di daerah bulu
mata, ulkus kecil di tepian palpebra.
3. Gangguan citra tubuh b.d perubahan kondisi fisik : bulu mata rontok dan
tidak diganti dengan yang baru, adanya krusta berwarna kuning , adanya
skuama pada palpebra ditandai dengan klien malu tidak percaya diri
4. Ansietas b.d penyakit yang diderita ditandai dengan klien tampak cemas dan
selalu bertanya tentang penyakitnya
5. Kurang pengetahuan (tentang penyakit dan penatalaksanaannya) yang b.d
kurang paparan informasi ditandai dengan pasien tidak mengerti
kondisinya, menggosok-gosok mata.
6. Resiko tinggi injury b.d defisif pengetahuan.
7. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasif.

c. Intervensi Keperawatan
Dx 1 :Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d agen injuri biologis (iritasi dan
fotofobia sekunder akibat peradangan di margo papebra )
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri
dapat ditoleransi
Kriteria Hasil :
-

Klien melaporkan nyeri berkurang secara verbal

Skala nyeri menurun ( skala nyeri 0 4 pada skala nyeri 0 - 10)

Klien mampu beristirahat.

Intervensi :

1. Observasi karakteristik nyeri klien ( PQRST )


Rasional : Mengetahui karakteristik nyeri dan memudahkan intervensi
selanjutnya.
2. Kompres daerah mata dengan air hangat.
Rasional : Kompres menggunakan air hangat dapat mengurangi rasa nyeri.
3. Berikan dan ajarkan klien teknik relaksasi atau teknik distraksi
Rasional : Teknik relaksasi akan membantu mengurangi nyeri yang
dirasakan klien dan teknik distraksi akan membantu mengalihkan perhatian
sehingga nyeri berkurang.
4. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat menghilangkan nyeri.
Dx 2 : Kerusakan integritas kulit b.d proses inflamasi kelenjar kulit di
daerahbulu mata.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan terjadi
perbaikan integritas kulit/ penyembuhan luka.
Kriteria Hasil :
-

Skuama / sisik berkurang.

Gatal berkurang sampai hilang

Kondisi ulkus membaik.

Intervesi Keperawatan :
1. Bersihkan daerah palpebra secara teratur dan setiap hari
Rasional : Pembersihan secara cermat setiap hari akan menjaga kebersihan
palpebra sehingga luka cepat sembuh
2. Gunakan teknik aseptic, pasien atau perawat mengangkat krusta, skuama
Rasional : Teknik aseptic akan mencegah iritasi yang lebih berat/ kontak
dengan bakteri.
3. Kompres tepi kelopak mata dengan air hangat 3 kali atau sesuai kebutuhan
Rasional : Kompres membersihkan tepi kelopak mata dari krusta /skuama
4. Kolaborasi pemberian antibiotika dan steroid topical untuk kasus yang
disebabkan oleh infeksi bakteri.

Rasional : Mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut dan mengurangi


peradangan

Dx 3

:Gangguan citra tubuh b.d perubahan kondisi fisik : bulu mata

rontok dan tidak diganti dengan yang baru, adanya krusta berwarna
kuning , adanya skuama pada palpebra

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien
tidak merasa malu dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan fisiknya
Kriteria Hasil :
-

Menunjukkan penerimaan terhadap kondisi diri

Secara aktif berpartisipasi dalam program terapi

Intervensi Keperawatan :
1. Jalin hubungan terapeutik antara perawat dengan pasien
Rasional : Dengan hubungan terapiutik, pasien akan merasa dihargai dan
lebih terbuka
2.

Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan


Rasional : Dengan bercerita akan dapat mengurangi beban perasaan klien.

3. Identifikasi masalah peran pasien saat ini


Rasional : Untuk mengetahui permasalahan klien.

4. Dorong pasien untuk mengargai hidup sendiri dengan cara lebih sehat
dengan membuat keputusan sendiri dan menerima diri sebagai diri sendiri
saat ini.
Rasional : Untuk mengetahui permasalahan klien.
Dx 4 : Ansietas b.d penyakit yang diderita
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan ansietas
klien berkurang dan dapat beradaptasi terhadap penyakitnya.
Kriteria Hasil :
-

Klien melaporkan cemas berkurang sampai hilang

Klien juga melaporkan pengetahuan yang cukup terhadap penyakitnya

Klien menerima penyakit yang dialami

Intervensi Keperawatan :
1. Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas
Rasional : Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan
insomnia. Ansietas berat yang berkembang kedalam keadaan panik dapat
menimbulkan perasaan terancam, ketidakmampuan untuk berbicara dan
bergerak.
2. Tinggal bersama pasien, mempertahankan sikap yang tenang. Mengakui
atau menjawab kekhawatirannya
Rasional : Menegaskan pada pasien atau orang terdekat bahwa walaupun
perasaan pasien diluar kontrol lingkungannya tetap aman
3. Berikan informasi yang akurat dan jujur tentang penyakitnya dan beri tahu
bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah gangguan penglihatan
Rasional : Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan
kesalahan interpretasi yang dapat berperan pada reaksi ansietas
4. Dorong klien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaannya.
Rasional : Dengan bercerita dan mengekspresikan perasaanya klien akan
merasa lebih tenang

Dx 5 :Kurang pengetahuan (tentang penyakit dan penatalaksanaannya)


yang b.d kurang paparan informasi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan klien
mendapat informasi yang cukup tentang penyakit dan penatalaksanaan
penyakitnya.
Kriteria Hasil :
Mengetahui dan mampu menyebutkan kembali tindakan yang harus dilakukan
untuk meningkatkan keadaan umum
Intervensi Keperawatan :
1. Tekankan dan beri tahu klien tentang pentingnya perbaikan keadaan umum,
meliputi kebersihan perorangan terutama mata dan peningkatan gizi.
Rasional : Blefaritis dapat timbul karena penurunan status kesehatan dan
malnutrisi.
2. Anjurkan klien untuk tidak mengerjakan pekerjaan dekat terlalu lama atau
mengucek mata.
Rasional : Akomodasi mata yang berlebihan akan memperberat kondisi
penyakitnya dan mengucek mata akan memperberat keadaan blefaritis
3. Anjurkan klien untuk tidak merokok.
Rasional : Pemajanan asap pada mata akan memperberat iritasi pada mata.
4. Beri tahu klien bahwa pengobatan harus dilakukan secara teratur dan tuntas
Rasional : Pengobatan yang tidak memadai akan membuat blefaritis dan
menjadi menahun serta menimbulkan berbagai macam komplikasi dan
kerusakan kornea karena timbulnya trikiasis
Dx 6 : Resiko tinggi injury b.d defisif pengetahuan
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan resiko
injuri teratasi
Kriteria hasil :
-

Klien mampu menjaga dan merawat matanya.

Klien mampu melihat dengan jelas

Intervensi Keperawatan :
1. Bantu klien dalam melakukan aktivitas
Rasional : mencegah injuri.
2. Beri pencahayaan yang cukup.
Rasional : mempermudah klien melakukan aktivitas.
3. Jauhkan penyebab terjadinya injuri.
Rasional : menjaga keselamatan klien.
4. Berikan informasi seputar blepharitis.
Rasional : menambah pengetahuan tentang penyakit blepharitis.
5. Dorong pasien untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan.
Rasional : mengurangi tingkat ansietas.
Dx 7 : Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasif.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan dapat
meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu,bebas drainase purulen, eritema,
dan demam.
Kriteria hasil :
Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan risiko infeksi.
Intervensi Keperawatan :
1. Observasi tanda terjadinya infeksi
Rasional : Infeksi mata terjadi 2 3 hari setelah proseddur dan memerlukan
upaya intervensi.
2. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati
mata.
Rasional : Menurunkan jumlah bakteri pada tangan.

3. Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar
dengan tisu basah untuk tiap usapan.
Rasional : Teknik aseptik menurunkan resiko penyebab bakteri.
4. Tekankan pentingnya tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi.
Rasional : Mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
5. Kolaborasi dalam pemberian obat steroid sesuai indikasi.
Rasional : Digunakan untuk menurunkan inflamasi.

d. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah tahap yang menggunakan rencana keperawatan dalam
melakukan tindakan keperawatan. definisi secara umum, implementasi
mencakup tindakan penyerahan tindakan dan pencatatan. perawat harus
memperhatikan atau tertuju pada pengembangan dari langkah rencana
keperawatan yang telah dibuat, kemudian selanjutnya melakukan tindakan
yang dicatat dalam aktivitas perawat dan memperhatikan respon klien (Kozier,
et. all, 2000).
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien mencapai tujuan yang
telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping (Nursalam, 2001).
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi adalah
tindakan yang terus menerus, bertujuan untuk menentukan kemampuan klien
dan keperawatan kesehatan profesional yaitu menunjukkan peningkatan kearah
tujuan yang hendak dicapai pada klien dan keefektifan rencana keperawatan.
Evaluasi merupakan aspek yang penting karena memberikan kesimpulan
proses akhir apakah intervensi dihentikan, diteruskan, atau perlu rencana /
intervensi baru (Kozier, et. all, 2000).