Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

(Media Pembiakan Mikroba)

Disusun Oleh : Kelompok 7


1. Yuni Puspita Sari
2. Muhammad Bachtiar
3. Christine Natalia NY

1515041004
1515041010
1515041056

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I.

Judul Praktikum

Praktikum Mikrobiologi yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal


27 Desember 2016 pukul 09.30 WIB berjudul Media Pembiakan
Mikroba
II.

Tujuan Praktikum
Tujuan dilaksanakan praktikum mikrobiologi tentang media pembiakan
mikroba yaitu :
2.1 Mempelajari cara menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam
pembiakan mikroba.
2.2 Mengamati hasil dari media pembiakan mikroba yang telah dibuat
sebelumnya.

III.

Landasan Teori
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara
(nutrient) yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan
bermacam-macam media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian
sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba (Sutedjo,1996).
Supaya mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu media, maka medium
tersebut harus memenuhi syarat-syarat antara lain :
a. Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba.
b. Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang
sesuai dengan kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan.
c. Harus mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroba.
d. Harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan, agar mikroba yang
diinginkan dapat tumbuh baik (Sutedjo,1996).

Macam-macam media
Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan kimianya, sifat

wujudnya dan fungsinya. Penggolongan media berdasarkan susunan kimia :


1. Media anorganik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik.
2. Media organik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik.
3. Media sintetik (media buatan). Yaitu media yang susunan kimianya
diketahui dengan pasti. Media ini umumnya digunakan untuk mempelajari
kebutuhan makanan suatu mikroba.

4. Media non sintetik. Yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat
ditentukan dengan pasti. Media ini umumnya digunakan untuk
menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba (Sutedjo,1996).

Penggolongan media berdasarkan sifat wujudnya :


1. Media cair yaitu media yang berbentuk cair.
2. Media padat. Yaitu media yang berbentuk padat. Media ini dapat
berupa bahan organik alamiah, misalnya yang dibuat dari kentang,
wortel, dan lain-lain, atau dapat juga berupa bahan anorganik
misalnya silica gel.
3. Media padat yang dapat dicairkan, (semi solid), yaitu yang apabila
dalam keadaan panas berbentuk cair, sedangkan dalam keadaan
dingin berbentuk padat, misalnya media agar (Sutedjo,1996).

Penggolongan media berdasarkan fungsinya


1. Media diperkaya. Yaitu media yang ditambahi zat-zat tertentu
misalnya serum darah ekstrak tanaman dan lain sebagainya,
sehinggan dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang
bersifat heterotrof.
2. Media selektif. Yaitu media yang ditambahi zat kimia tertentu
untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain (bersifat selektif).
Misalnya media yang mengandung Kristal violet pada kadar
tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa
mempengaruhi pertumbuhan bakteri gram negative.
3. Media diferensial. Yaitu media yang ditambahi zat kimia (bahan)
tertentu

yang

menyebabkan

suatu

mikroba

membentuk

pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat


dibedakan tipe-tipenya. Misalnya media daerah agar dapat
digunakan untuk membedakan bakteri homolitik (pemecah darah)
dan bakteri non hemolitik.
4. Media penguji. Yaitu media dengan susunan tertentu yang
digunakan untuk pengujian vitamin. Vitamin asam-asam amino,
antibiotika dan lain sebagainya.

5. Media untuk perhitungan jumlah mikroba. Yaitu media spesifik


yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu
bahan.
6. Media khusus. Yaitu media untuk menentukan tipe pertumbuhan
mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahanperubahan kimia tertentu (Sutedjo,1996).

Cara pembuatan media


Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan

adalah sebagai berikut :


1. Mencampur bahan-bahan : bahan-bahan yang dilarutkan dalam air suling.
Kemudian dipanaskan dalam pemanas air supaya larutannya homogeny.
2. Menyaring : beberapa jenis media kadang-kadang perlu disaring, dan
sebagai penyaringan dapat digunakan kertas saring, kapas atau kain. Untuk
media agar atau gelatin penyaringan harus dilakukan dalam keadaan
panas.
3. Menentukan dan mengatur pH : penentuan pH media dapat dilakukan
dengan menggunakan kertas pH, pH meter atau dengan komparator blok.
Pengaturan pH media dapat dilakukan dengan penambahan asam atau basa
(organik atau anorganik).
4. Memasukkan media ke dalam tempat tertentu : sebelum disterilakan,
media dimasukkan ke dalam tabung reaksi, Erlenmeyer atau wadah lain
yang bersih, kemudian dibungkus kertas sampul (kertas perkamen) supaya
tidak basah sewaktu disterilkan.
5. Sterilisasi : pada umumnya sterilisasi media dilakukan dengan uap panas
di dalam autoclave, pada suhu 121 C selama 15-30 menit (Sutedjo,1996).

Media biak dan persyaratan bagi pertumbuhan.


Media biak kompleks. Untuk banyak mikroorganisme bertuntutan

tinggi belum dikenal benar bahan-bahan makanan yang diperlukan. Orang


membiakkannya dalam larutan biak yang mengandung ekstrak ragi, otolisat
ragi, pepton, atau ekstak daging. Untuk beberapa kelompok organisme lazim
juga digunakan : rempah-rempah, dekok rumput kering, sari buah prem, sari
buah wortel, santan dan untuk cendawan kupofil juga sari perasan tahi kuda.

Mengingat biaya, larutan-larutan baik tidak dibentuk dari senyawa-senyawa


murni tetapi lebih disukai untuk menggunakan zat-zat kompleks, seperti air
didih, melaso, air rendaman jagung atau ekstrak kedelei, yang sebagai produk
sisa tersedia dengan harga murah. Media bak seperti ini disebut media bak
kompleks. (Schlegel, 1994).
Media biak padat. Untuk membuat bak padat pada larutan bak cair di
tambahkan bahan pemadat yang member konsistensi seperti selai pada larutan
air. Hanya untuk keperluan tertentu masih digunakan gelatin, karena sudah
mencair pada suhu 26-300 C dan banyak mikroorganisme mampu mencairkan
gelatin.
Kadar ion hydrogen. Diantara semua ion, ion H + dan OH- adalah ionion yang paling mobil ; oleh sebab itu perubahan kadar yang kecil saja sudah
menimbulkan pengaruh yang besar. (Schlagel, 1994).
Karbondioksida, larutan bak yang diperlukan untuk pertumbuhan
mikroorganisme yang ototrof yang memfikasi CO2 biasanya ditambahi Nabikarbonat dan diinkubasi dibawah atmosfir yang mengandung CO 2 dalam
wadah tertutup (Schlagel, 1994).
Kadar air dan tekanan osmotik. Mikroorganisme menunjukkan
perbedaan yang luas dari segi tuntutan keperluan akan kadar air (Schlagel,
1994).
Suhu. Memilih tuntutan mengenai suhu inkubasi mikroorganisme
berbeda-beda perilakunya. Aerasi untuk semua mikroorganisme aerob obligat,
oksigen merupakan akseptor electron yang sangat penting. Biak anaerob.
Untuk menumbuhkan jenis bakteri yang anaerob kuat penyingkiran O 2 udara
merupakan persyaratan yang amat perlu (Schlegel, 1994)
Zat hara yang ditambahkan ke dalam media. Untuk pertumbuhan
diperlukan zat hara. Berbagai zat hara yang diperlukan adalah :
1. Nitrogen :
Pada umumnya bakteri tidak dapat langsung menggunakan N2 bebas
dari udara, sehingga keperluannya diberikan dalam bentuk garam. Nitrogen
diperlukan sebagai bahan dasar untuk protein, asam nukleat dan vitamin.
Dalam media bahan yang mengandung N ini berupa :

NH4Cl N inorganik
NaNO3
Pepton N organik

2. Karbon :
Sebagai sumber karbon digunakan bernagai gula, pati, glikogen. Gula
yang dipakai berupa 5C, 6C, atau disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltose).
Untuk dapat menggunakan sumber karbon ini bakteri dapat menguraikannya
menjadi molekul yang lebih kecil yang kemudian digunakan untuk bahan
dasar protein, polisakarida, lipida dan asam nukleat.
3. Vitamin dan Faktor pertumbuhan :
Berbagai vitamin yang diperlukan bakteri adalah thiamine, riboflavin,
asam nikotinat, asam pantotenas biotin. Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim
atau bagian lain dari bahan dasar sel (Hastowo,1992).
Mikroorganisme sebagai makhluk hidup sama dengan organisme hidup
lainnya, sangat membutuhkan energi dan bahan-bahan untuk membangun
pertumbuhannya, seperti dalam sintesa protoplasma dan bagian-bagisn sel
yang lainnya. Bahan-bahan tersebut disebut nutrien. Untuk memanfaatkan
bahan-bahan tersebut, maka sel memerlukan sejumlah kegiatan, sehingga
menyebabkan perubahan kimia di dalam selnya. Semua reaksi yang terarah
yang berlangsung di dalam sel ini disebut metabolisme. Metabolisme yang
melibatkan berbagai macam reaksi di dalam sel tersebut, hanya dapat
berlangsung atas bantuan dari suatu senyawa organik yang disebut katalisator
organik atau biasa disebut biokatalisator yang dinamakan enzim. Untuk dapat
memahami tentang nutrisi dan metabolisme ini, pengetahuan dasar biokimia
angat dibutuhkan (Natsir dan Sartini, 2006).
Medium adalah substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan
(nutrien)

yang

digunakan

untukpemeliharaan

dan

pertumbuhan

mikroorganisme. Mikroorganisme juga merupakan makhluk hidup, untuk


memeliharanya dibutuhkan medium yang harus mengandung semua zat yang
dibutuhkan untuk pertumbuhannya, yaitu senyawa-senyawa organik yang
terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Medium

digunakan untuk melihat gerakan dari suatu mikrooranisme apakah bersifat


motil atau nonmotil, medium ini ditambahkan bahan pemadat 50% (Ratna,
1990).
Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun
sel dan sebagai akseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang
menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri
dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber akseptor elektron, sumber
mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. Selai itu, secra umum nutrien
dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting
untuk sintesis biologik organisme baru (Michael, 2005).
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan
dapat pula hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk cairan atau larutan.
Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk padat
tergolong

tipe

holozoik.

Mikroorganisme

yang

dapat

menggunakan

makanannya dalam bentuk cairan atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa
mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk
padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna di luar sel dengan
bantuan enzim ekstraseluler (Unus, 1995).
Medium

yang

digunakan

untuk

menumbuhkan

dan

mengembangbiakkan mikroorganisme harus sesuai susunannya dengan


kebutuhan

jenis-jenis

mikroorganisme

yang

bersangkutan.

Beberapa

mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang
hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti
gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang
sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan
kompleks lainnya (Volk, 1993).
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan
untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan
berbagai macam ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium
untuk organisme bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai
komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel.
Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika

agar merupakan media tumbuh yang ideal yang diperkenalkan melalui metode
bacteriaological (Hadioetomo, 1993).
Medium dapat

diklasifikasikan berdasar

atas

susunan kimia,

konsistensi dan fungsinya. Klasifikasi medium berdasarkan susunan kimianya,


yakni medium organik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik;
medium anorganik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan anorganik;
medium sintetik, yaitu medium yang susunan kimiawinya dapat diketahui
dengan pasti; dan medium nonsintetik, yaitu medium yang susunan
kimiawinya tidak dapat diketahui dengan pasti (Oram, 2001).
Menurut Dwidjoseputro (1994), supaya mikroba dapat tumbuh dengan
baik, dalam suat medium perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) Medium harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh
mikroba.
2) Medium harus mempunyai tekanan osmosis.
3) Medium tidak mengandung zat-zat yang menghambat.
4) Medium harus steril, tidak ada kontaminan dari mikroorganisme yang
tidak diinginkan.
Menurut Kusnadi (2003), bahan-bahan media pertumbuhan mikroba meliputi:
A. Bahan dasar
1) Air (H2O) sebagai pelarut
2) Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar
sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair
pada suhu 45oC.
3) Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah
polimer

asam amino

yang

diproduksi

dari

kolagen.

Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu


menguraikannya dibanding agar.
4) Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya
juga sebagai pemadat media. Silika gel khusus digunakan untuk
memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.

Nutrisi atau Zat Makanan


Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk

metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti Carbon (C), Hidrogen (H),

Oksigen (O), Nitrogen (N), Phospor (P), dan unsur mikro seperti Fe, Mg dan
unsur pelikan/trace element.
Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa
organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof
memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak,
protein, dan asam organik.
Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa
bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik
seperti urea.

Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium

dengan

tujuan

tertentu,

misalnya phenol

red (indikator

asam

basa)

ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik


hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan
mikroba non-target/kontaminan.

Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media, antara lain:


1) Agar
Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk
dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai
pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther
Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak
akan larut. Untuk melarutkannya harus diaduk dan dipanasi, pencairan dan
pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan
kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
2) Peptone
Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati
seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin, dan kedelai.
Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara
memperolehnya.

3) Meat extract
Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa,
plasenta, dan daging sapi.
4) Yeast extract
Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat
alkohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin B
kompleks.
5) Karbohidrat
Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam
amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya
digunakan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol,
dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi
adalah 0,5-1%.
Menurut Pelczar (1996), klasifikasi medium berdasarkan fungsinya
digolongkan menjadi 7 golongan, yaitu:
a. Medium umum, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan yang
bertujuan menstimulasi pertumbuhan mikroba secara umum.
Contoh: Nutrien Agar (NA) untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri,
Potato Dextose Agar (PDA) untuk menstimulasi pertumbuhan
fungi.
b. Medium khusus, merupakan medium untuk menentukan tipe pertumbuhan
mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan
kimia tertentu.
Contoh: Medium tetes tebu untuk Saccharomyces cerevisiae.
c. Media

diperkaya

(enrichment

media),

merupakan

media

yang

ditambahkan bahan-bahan tertentu untuk menstimulasi pertumbuhan


mikroba yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk menstimulasi
pertumbuhan mikroba yang jumlahnya sedikit dalam suatu campuran
berbagai mikroba.

Contoh: Chocolatemedia dan Yeast-Extract-poptasium Nitrat Agar.


d. Media selektif, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu
yang akan menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan yang
ada dalam suatu spesimen. Inhibitor yang digunakan berupa antibiotik,
garam dan bahan-bahan kimia lainnya.
e. Media differensial, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan
kimia atau reagensia tertentu yang menyebabkan mikroba yang tumbuh
memperlihatkan perubahan-perubahan spesifik sehingga dapat dibedakan
dengan jenis lainnya.
f. Medium penguji (Assay medium), merupakan medium dengan susunan
ertentu yang digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa tertentu dengan
bantuan bakteri.
Contoh: medium untuk menguji vitamin-vitamin, antibiotik, dan lain-lain.
g. Medium perhitungan jumlah mikroba yaitu medium spesifik yang
digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan. Contoh:
medium untuk menghitung jumlah bakteri E. Coli air sumur.
IV.
No
.
1.

Hasil Pengamatan
Media
Media Cair

Gambar

Keterangan

Steril
Jernih
dan
bening
Tidak ada jamur
atau kotoran

2.

Media Agar

3.

Media Agar
Miring

V.

1. Cawan petri kiri:


Sedikit keruh
Steril
Tidak ada jamur
atau kotoran
2. Cawan petri kanan:
Sedikit keruh
Tutup berembun
Sedikit keruh
Steril
Tidak ada jamur
atau kotoran

Pembahasan
Media adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang

dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba,


medium dapat digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifatsifat fisiologi dan perhitungan mikroba. Pada praktikum ini kami membuat
media pembiakan sintesik untuk perkembangbiakan bakteri. Bahan-bahan
yang digunakan dalam pembuatan media sintetik ini adalah 1,4 gram
dipotasium pospat (K2HPO4), 0,4 gram potasium pospat monobase (KH2PO4),
0,04 gram magnesium sulfat (MgSO4.7H20), 0,2 gram amonium sulfat
((NH4)2SO4), 1 gram glukosa, dan 100ml air suling.
Setelah menyiapkan bahan-bahan tersebut, masukan ke dalam
gelas beker. Masing-masing bahan memiliki fungsi tersendiri dalam media.
Dipotasium pospat (K2HPO4) dan potasium pospat monobase (KH2PO4)
mengandung fosfor yang berfungsi untuk metabolisme energi dan stabilitor
membran sel. Magnesium sulfat (MgSO4.7H20) merupakan garam anorganik
yang berfungsi untuk meningkatkan kandungan fosfat dan pembentukan
protein. Amonium sulfat ((NH4)2SO4) mengandung nitrogen yang berfungsi
untuk membentuk protein, lemak, dan berbagai senyawa organik lain, selain
itu berfungsi juga dalam pembentukan embrio. Glukosa merupakan
karbohidrat mengandung karbon yang diperlukan sebagai sumber energi bagi

reaksi-reaksi sintesis dalam pertumbuhan, pemeliharaan keseimbangan


cairan, dan lain-lain.
Setelah semua bahan sudah dimasukan ke gelas beker, kami
menambahkan air suling. Dalam pembuatan media harus menggunakan air
suling atau air murni, karena air sadah pada umumnya mengandung mineralmineral lain yang dapat mengkontaminasi media. Setelah larutan sudah
homogen, ukur pH larutan menggunakan pH meter. pH dalam media haruslah
dalam kondisi netral berkisar antara 7,2-7,4 dengan menambahkan NaOH 1N
atau HCl 1N. Kondisi terlalu asam atau terlalu basa tidak cocok untuk
dijadikan media mikroba karena mikroba tidak dapat hidup dalam kondisi
tersebut. Kemudian kami memasukan larutan tersebut ke dalam tabung reaksi
sebanyak sekitar tabung. Tabung ditutup dengan kertas alumunium foil
agar tidak terkontaminasi dan pada saat dipanaskan di waterbath larutan tidak
bercampur dengan uap.
Selain media sintetik cair kami juga membuat media sintetik agar.
Kedalam larutan yang tersisa ditambahkan 1,44 gram agar-agar yang
berfungsi untuk memadatkan larutan tersebut menjadi media padat. Agar-agar
dipilih karena tidak bereaksi dengan senyawa-senyawa penyusun media dan
agar-agar memiliki keadaan beku yang stabil.
Setelah larutan sudah dicampur dengan agar-agar, larutan tersebut
dipanaskan diatas hot plate dengan suhu 200oC dan diaduk dengan
menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 200 rpm dengan tujuan agar
larutan homogen. Larutan didiamkan sampai homogen dan mendidih,
kemudian larutan dituangkan larutan ke cawan petri untuk menjadi media
agar. Sisa larutan kami masukan ke dalam tabung reaksi sebanyak sekitar
tabung dan dimiringkan untuk menjadi media agar miring.
Selanjutnya kami memasukan media cair dan media agar tersebut
ke dalam waterbath dengan suhu 65 oC selama 15 menit dengan tujuan untuk
mensterilisasi media. Lalu kami menyimpan media di dalam inkubator agar
tidak terkontaminasi untuk diamati keesokan harinya.
Keesokan harinya kami mengamati media cair dan media agar
yang sudah kami buat, kami menemukan media dalam keadaan baik dan

masih steril, kecuali 1 media agar di cawan petri. Pada tutup cawan petri
tersebut ada sedikit embun. Faktor yang dapat menyebabkan adanya embun di
tutup cawan petri tersebut salah satunya adalah pencucian alat belum bersih
yang menyebabkan tutup cawan petri tersebut sudah terkontaminasi.
Pada saat praktikum kami tidak menemukan kendala yang berarti,
hanya saja sangat disayangkan kami tidak dapat menggunakan autoclave
untuk proses sterilisasi media.
VI.

Kesimpulan
Media adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang
dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan
mikroba, medium dapat digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak,
pengujian sifat-sifat fisiologi dan perhitungan mikroba.
Media cair dan media agar dalam keadaan baik dan masih steril,
kecuali 1 media agar di cawan petri. Pada tutup cawan petri tersebut ada
sedikit embun. Faktor yang dapat menyebabkan adanya embun di tutup
cawan petri tersebut salah satunya adalah pencucian alat belum bersih
yang menyebabkan tutup cawan petri tersebut sudah terkontaminasi.

VII.

Daftar Pustaka
Dwidjoseputro,D.1994.Dasar-dasar Mikrobiologi.Jakarta:Djambatan
Hadioetomo, Ratna. 1990. Mikrobiologi Dalam Praktek.Jakarta : PT
Gramedia
Hastowo, Sugyo. 1992. Mikrobiologi. Bogor : Institut Pertanian Bogor
Kusnadi, Peristiwati dkk. 2003. Mikrobiologi. Bandung : Universitas
Pendidikan Indonesia
Michael J dan E.C.S. Cha.2005.Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2.
Jakarta : UI Press
Natsir, Djide dan Sartini. 2006. Mikrobiologi Farmasi Dasar.
Makassar:
Universitas Hasanuddin
Oram,R.F.S.,Paul.J.Hummer,Jr.2001.Biology Living System. Glencoe
Division Mc Millan Company.Waterville
Pelczar. 1996. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas
Indonesia
Ratna.1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : PT
Gramedia

Schlegel, Hans G. 1994. Mikrobiologi Umum. Yogyakarta : Gajah


Mada
University Press
Sutedjo, Mul Mulyani. 1996. Mikrobiologi Tanah. Jakarta : Rineka
Cipta
Unus Suriawiria. 1995. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung :
Angkasa
Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5.
Jakarta : Erlangga.

LAMPIRAN

Foto Alat dan Bahan serta keterangannya


Gambar

Keterangan

o
Water Batch Shaker, digunakan untuk mensterilkan
alat dan bahan yang akan diamati untuk media
1

pembiakan mikroba.

Pipet Tetes, digunakan untuk mengambil sampel


dan meneteskan larutan ke sampel.

Neraca Analitik, digunakan untuk menimbang


sampel-sampel yang dibutuhkan.

Cawan Petri, digunakan untuk meletakkan sampel


media pembiakan mikroba

Sendok Plastik, digunakan untuk mengambil


sampel yang akan ditimbang di neraca analitik.

Tissue, digunakan untuk mengeringkan dan


membersihkan peralatan yang telah dipakai.

Beaker Glass, digunakan sebagai wadah larutan


yang akan dipanaskan dengan hot plate selain itu
sebagai tempat untuk melarutkan campuran.

Tabung reaksi dan raknya, digunakan untuk


meletakkan sampel media pembiakan mikroba.

Alumunium Foil, digunakan untuk menutup beaker


glass, tabung reaksi dan cawan petri yang telah
diisikan dengan sampel.

10

Hot Plate, digunakan untuk memanaskan sampel


media pembiakan mikroba.

11

Air Suling, digunakan untuk melarutkan sampel.

12

Agar-agar swallow

13

Glukosa

14

MgSO4.7H2O
Magnesium Sulfat

15

(NH4)2SO4
Ammonium Sulfat

16

K2HPO4
Dipotasium Pospat

17

KH2PO4
Potasium Pospat Monobase