Anda di halaman 1dari 73

Cara Praktis Menguji Kondisi Trafo

Sebenarnya saya sudah pernah membuat tulisan mengenai bagaimana cara memprediksi
kualitas trafo daya, tulisan tersebut saya taruh pada link ini . Namun saya menilai bahwa
pesan dari tulisan tersebut umumnya agak sulit diterima oleh para pembacanya, hal ini
saya ketahui dari feedback yang saya terima dari para pembaca tulisan tersebut, mungkin
karena dasar dari tulisan tersebut terlalu bersifat teknis dan tidak umum. Kemudian
saya terdorong untuk membuat tulisan ini, untuk menguraikan bagaimana cara menguji
kondisi trafo secara sederhana dan hasilnya pun adalah hasil aktual yang bisa langsung
digunakan untuk menilai sebuah trafo secara langsung dan bukan sebuah prediksi.
Peralatan yang diperlukan dalam pengujian ini cukup sederhana, hanya diperlukan sepotong
kabel (kira2 1m), stop kontak dan lampu bohlam beserta rumahnya.
Rangkaian uji kondisi trafo bisa anda lihat pada gambar berikut ini :

Gambar 1,
Rangkaian uji kondisi trafo
Sebelum trafo ditempatkan dalam rangkain, anda harus memastikan dahulu bahwa trafo
tidak putus baik pada gulungan primer maupun sekunder nya, hal ini bisa anda lakukan
dengan bantuan multimeter. Dan terminal sekunder dari trafo tidak boleh terhubung
dengan beban, melainkan harus terbuka.
Untuk trafo daya, metoda ini bisa digunakan dengan efektif, namun untuk trafo output
tube amp, metode ini lebih cocok untuk trafo output push pull dengan impedansi primer
lebih dari 5kohm.

Rating daya dari bohlam yang digunakan tidaklah sama untuk setiap trafo, panduan
berikut bisa digunakan untuk memilih bohlam :
Trafo s/d 50W gunakan bohlam 5W
Trafo 50-100W gunakan bohlam 10W
Trafo 100-300W gunakan bohlam 20W
Trafo 300-500W gunakan bohlam 40W

Setelah trafo dan bohlam terangkai dengan baik, anda kemudian bisa menghubungkan
rangkain dengan listrik, dan hanya akan ada tiga kondisi yang mungkin terjadi pada
lampu sbb :
1. Lampu nyala terang
Kondisi ini menunjukkan bahwa trafo dalam keadaan rusak
2. Lampu nyala redup atau berkedip
Kondisi ini menunjukan bahwa trafo tidak rusak namun rancangan ataupun bahan yang
digunakan tidak berkualitas bagus, trafo seperti ini akan mudah menjadi panas
walaupun tidak sedang dalam keadaan mensupply listrik. Timbulnya panas dalam
keadaan tidak mensupply listrik juga mengindikasikan bahwa trafo ini memiliki
efisiensi rendah atau boros listrik.
3. Lampu mati total
Kondisi ini menunjukkan bahwa trafo dalam keadaan bagus dan juga dirancang dengan
bagus, material yang digunakan juga berkualitas bagus.

Menguji murni tidaknya sebuah trafo


Uraian di atas bisa menjadi panduan yang akurat dalam menentukan kondisi trafo, tapi
mungkin tidak sepenuhnya memadai untuk mengetahui murni atau tidaknya sebuah trafo.
Ada trafo yang dibuat dengan cara yang baik sehingga bisa lolos pengujian dengan
metode di atas namun sesungguhnya trafo ini tidak murni, sebagai contoh sebuah trafo
yang dibuat dengan baik untuk mengalirkan arus sebesar 3A, namun oleh pabriknya ditulis
5A.
Untuk memahami metode pengecekan murni tidaknya sebuah trafo, anda bisa baca link
berikut ini.

Memprediksi Kualitas Trafo Daya

Transformator merupakan suatu peralatan listrik yang digunakan untuk mengubah besaran
tegangan arus listrik bolak-balik (AC), seperti menaikkan atau menurunkan tegangan listrik
(voltase). Transformator bekerja berdasarkan prinsip fluks listrik dan magnet dimana antara sisi
sumber (primer) dan beban (sekunder) tidak terdapat hubungan secara fisik tetapi secara
elektromagnetik (induksi-elektromagnet).

Transformator terdiri atas sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis dan dua
buah kumparan (lilitan kawat), yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder.
Prinsip kerja transformator adalah berdasarkan hukum Ampere dan hukum
Faraday, yaitu : arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan sebaliknya
medan magnet dapat menimbulkan arus listrik. Jika pada salah satu kumparan
pada transformator diberi arus bolak-balik (AC) maka jumlah garis gaya magnet
akan berubah-ubah. Akibatnya pada sisi primer terjadi induksi. Sisi sekunder
menerima garis gaya magnet dari sisi primer yang jumlahnya berubah-ubah pula.
Maka di sisi sekunder juga timbul induksi, akibatnya antara dua ujung kumparan
(lilitan) terdapat beda tegangan

Dalam transformator terdapat perhitungan untuk menentukan jumlah lilitan


primer dan sekunder agar dapat dihasilkan keluaran dengan tegangan rendah dan
arus besar. Rumus yang digunakan adalah :

Keterangan :
Np = Jumlah lilitan primer
Ns = Jumlah lilitan sekunder
Vp = Tegangan Input (primer)
Vs = Tegangan Output (sekunder)
Ip = Arus primer (Input)
Is = Arus Output (sekunder)
Jenis-jenis transformator
1. Step-Up
DC.Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan sekunder
lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penaik
tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada pembangkit tenaga listrik
sebagai penaik tegangan yang dihasilkan generator menjadi tegangan tinggi
yang digunakan dalam transmisi jarak jauh.

Simbol transformator step-up

2. Step-Down
Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan
primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transformator jenis ini
sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor AC-DC.

Simbol transformator step-down


3. Autotransformator
Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut secara
listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lilitan
primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus dalam lilitan sekunder selalu
berlawanan dengan arus primer, sehingga untuk tarif daya yang sama lilitan
sekunder bisa dibuat dengan kawat yang lebih tipis dibandingkan
transformator biasa. Keuntungan dari autotransformator adalah ukuran
fisiknya yang kecil dan kerugian yang lebih rendah daripada jenis dua lilitan.
Tetapi transformator jenis ini tidak dapat memberikan isolasi secara listrik
antara lilitan primer dengan lilitan sekunder.

Simbol autotransformator
Selain itu, autotransformator tidak dapat digunakan sebagai penaik tegangan
lebih dari beberapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).
4. Autotransformator variabel
Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator biasa yang
sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan perbandingan lilitan
primer-sekunder yang berubah-ubah

Simbol autotransformator variabel


5. Transformator isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama dengan
lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer.
Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak
untuk mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai
isolasi antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah
banyak digantikan oleh kopling kapasitor.
6. Transformator pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus untuk
memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini menggunakan
material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus primer mencapai titik
tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena GGL induksi pada lilitan
sekunder hanya terbentuk jika terjadi perubahan fluks magnet, transformator
hanya memberikan keluaran saat inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan
primer berbalik arah.
7. Transformator tiga fasa
Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang
dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya
dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan secara delta
().
8. Trafo penyesuai frekuensi
9. Trafo penyaring frekuensi
10. Trafo penyesuai impedansi
Kerugian dalam transformator
1. Kerugian tembaga. Kerugian I2.R dalam lilitan tembaga yang disebabkan
oleh resistansi tembaga dan arus listrik yang mengalirinya.

2. Kerugian kopling. Kerugian yang terjadi karena kopling primer-sekunder tidak sempurna,
sehingga tidak semua fluks magnet yang diinduksikan primer memotong lilitan sekunder.
Kerugian ini dapat dikurangi dengan menggulung lilitan secara berlapis-lapis antara primer dan
sekunder.
3. Kerugian kapasitas liar. Kerugian yang disebabkan oleh kapasitas liar yang
terdapat pada lilitan-lilitan transformator. Kerugian ini sangat
mempengaruhi efisiensi transformator untuk frekuensi tinggi. Kerugian ini
dapat dikurangi dengan menggulung lilitan primer dan sekunder secara
semi-acak (bank winding).
4. Kerugian histeresis. Kerugian yang terjadi ketika arus primer AC berbalik
arah. Disebabkan karena inti transformator tidak dapat mengubah arah
fluks magnetnya dengan seketika. Kerugian ini dapat dikurangi dengan
menggunakan material inti reluktansi rendah.
5. Kerugian efek kulit. Sebagaimana konduktor lain yang dialiri arus bolakbalik, arus cenderung untuk mengalir pada permukaan konduktor. Hal ini
memperbesar kerugian kapasitas dan juga menambah resistansi relatif
lilitan. Kerugian ini dapat dikurang dengan menggunakan kawat Litz, yaitu
kawat yang terdiri dari beberapa kawat kecil yang saling terisolasi. Untuk
frekuensi radio digunakan kawat geronggong atau lembaran tipis tembaga
sebagai ganti kawat biasa.
6. Kerugian arus eddy (arus olak). Kerugian yang disebabkan oleh GGL
masukan yang menimbulkan arus dalam inti magnet yang melawan
perubahan fluks magnet yang membangkitkan GGL. Karena adanya fluks
magnet yang berubah-ubah, terjadi olakan fluks magnet pada material inti.
Kerugian ini berkurang kalau digunakan inti berlapis-lapisan.
Pemeriksaan Transformator
Untuk mengetahui sebuah trafo masih bagus atau sudah rusak adalah dengan
menggunakan AVO meter. Caranya posisikan AVO meter pada posisi Ohm meter,
lalu cek lilitan primernya harus terhubung. Demikian juga lilitan sekundernya juga
harus terhubung. Sedangkan antara lilitan primer dan skunder tidak boleh
terhubung, jika terhubung maka trafo tersebut konslet (kecuali untuk jenis trafo
tertentu yang memang didesain khusus untuk pemakaian tertentu). Begitu juga
antara inti trafo dan lilitan primer/skunder tidak boleh terhubung, jika terhubung
maka trafo tersebut akan mengalami kebocoran arus jika digunakan. Secara fisik
trafo yang bagus adalah trafo yang memiliki inti trafo yang rata dan rapat serta
jika digunakan tidak bergetar, sehingga efisiensi dayanya bagus. Dalam
penggunaannya perhatikan baik2 tegangan kerja trafo, tiap tep-nya biasanya
ditulis tegangan kerjanya misalnya pada primernya 0V 110V 220V, untuk
tegangan 220 volt gunakan tep 0V dan 220V, sedangkan untuk tegangan 110 volt
gunakan 0V dan 110V, jangan sampai salah atau trafo kita bakal hangus! Dan

pada skundernya misalnya 0V 3V 6V 12V dsb, gunakan 0V dan tegangan


yang diperlukan. Ada juga jenis trafo yang menggunakan CT (Center Tep) yang
artinya adalah titik tengah. Contoh misalnya 12V CT 12V, artinya jika kita
gunakan tep CT dan 12V maka besarnya tegangan adalah 12 volt, tapi jika kita
gunakan 12V dan 12V besarnya tegangan adalah 24 volt.
Komponen-Komponen Transformator / Trafo
1. Inti Besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, magnetik yang
ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempenganlempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugirugi besi) yang ditimbulkan oleh arus pusar atau arus eddy (eddy current).
2. Kumparan Transformator
Kumparan transformator adalah beberapa lilitan kawat berisolasi yang
membentuk suatu kumparan atau gulungan. Kumparan tersebut terdiri dari
kumparan primer dan kumparan sekunder yang diisolasi baik terhadap inti besi
maupun terhadap antar kumparan dengan isolasi padat seperti karton,
pertinak dan lain-lain. Kumparan tersebut sebagai alat transformasi tegangan
dan arus.
Transformator Ideal
Pada transformator ideal, tidak ada energi yang diubah menjadi bentuk energi lain
di dalam transformator sehingga daya listrik pada kumparan skunder sama
dengan daya listrik pada kumparan primer. Atau dapat dikatakan efisiensi pada
transformator ideal adalah 100 persen. untuk transformator ideal berlaku
persamaan sebagai berikut :

Efisiensi Transformator
Efisiensi transformator didefinisikan sebagai perbandingan antara daya listrik
keluaran dengan daya listrik yang masuk pada transformator. Pada transformator
ideal efisiensinya 100 %, tetapi pada kenyataannya efisiensi tranformator selalu
kurang dari 100 %.hal ini karena sebagian energi terbuang menjadi panas atau
energi bunyi.
Efisiensi transformator dapat dihitung dengan :

Transmisi Listrik Jarak Jauh


Pusat pembangkit listrik biasanya terletak jauh dari pemukiman atau pelanggan.
Sehingga listrik yang dihasilkan pusat pembangkit listrik perlu ditransmisikan
dengan jarak yang cukup jauh. Transmisi energi listrik jarak jauh dilakukan dengan
menggunakan tegangan tinggi, dengan alasan sebagai berikut:

Bila tegangan dibuat tinggi maka arus listriknya menjadi kecil.

Dengan arus listrik yang kecil maka energi yang hilang pada kawat
transmisi (energi disipasi) juga kecil.

Juga dengan arus kecil cukup digunakan kawat berpenampang relatif lebih
kecil, sehingga lebih ekonomis.

Energi listrik atau daya listrik yang hilang pada kawat transmisi jarak jauh dapat
dihitung dengan persamaan energi dan daya listrik sebagai berikut:

W = energi listrik (joule)


I = kuat arus listrik (ampere)
R = hambatan (ohm)
t = waktu
P = daya listrik (watt)

Transmisi energi listrik jarak jauh menggunakan tegangan tinggi akan mengurangi
kerugian kehilangan energi listrik selama transmisi oleh disipasi.

Contoh Soal :
Contoh cara menghitung jumlah lilitan sekunder :
Untuk menyalakan lampu 10 volt dengan tegangan listrik dari PLN 220 volt
digunakan transformator step down. Jika jumlah lilitan primer transformator 1.100
lilitan, berapakah jumlah lilitan pada kumparan sekundernya ?
Penyelesaian :
Diketahui : Vp = 220 V
Vs = 10 V
Np = 1100 lilitan
Ditanyakan : Ns = ?
Jawab :

Jadi, banyaknya lilitan sekunder adalah 50 lilitan.

Contoh cara menghitung arus listrik sekunder dan arus listrik primer :
Sebuah transformator step down mempunyai jumlah lilitan primer 1000 dan lilitan sekunder 200,
digunakan untuk menyalakan lampu 12 V, 48 W.
Tentukan :
a. arus listrik sekunder
b. arus listrik primer
Penyelesaian :
Diketahui: Np = 1000 lilitan
Ns = 200 Lilitan
Vp = 12 V
Ps = 48 W
Ditanyakan :
a. Is = .. ?
b. Ip = .. ?
Jawab :

P=I.V

Jadi, kuat arus sekunder adalah 4 A

Jadi, kuat arus sekunder adalah 0,8 A


Contoh cara menghitung daya transformator :
Sebuah transformator mempunyai efisiensi 80%. Jika lilitan primer dihubungkan
dengan tegangan 200 V dan mengalir kuat arus listrik 5 A,
Tentukan:
a. daya primer,
b. daya sekunder
Penyelesaian :
Diketahui :

Ditanyakan :
a. Pp = .. ?
b. Ps = .. ?
Jawab :

Jadi, daya primer transformator 1000 watt.

Jadi, daya sekunder transformator 800 watt.

Daya listrik 2 MW ditransmisikan sampai jarak tertentu melalui kabel


berhambatan 0,01 ohm. Hitung daya listrik yang hilang oleh transmisi tersebut,
jika:
1. menggunakan tegangan 200 Volt,
2. menggunakan tegangan 400 kiloVolt ?
Penyelesaian:
Diketahui:
P = 2 MW = 2.106 watt
R = 0,01 ohm
Ditanyakan:
a. P(hilang) pada tegangan 200 Volt = .?
b. P(hilang) pada tegangan V= 4.105 volt = .?

Jadi, energi yang hilang di perjalanan setiap detiknya 106 watt. Nilai ini sangat
besar karena setengah dayanya akan hilang.

Jadi, energi yang hilang di perjalanan setiap detiknya hanya 0,25 watt

Contoh Soal
1. Sebuah trafo memiliki perbandingan lilitan 10 : 2 dihubungkan ke sumber listrik
100V untuk menyalakan sebuah lampu 25 W. Hitunglah tegangan listrik yang
diserap oleh lampu dan kuat arus yang masuk kedalam trafo
Jawab :
Diket: Np:Ns = 10 : 2
Vp = 100 V
Ps = 25 W
Dit. Vs =
Ip =
Jawab:
Np : Ns = Vp : Vs

Pp = Ps

10 : 2 = 100 : Vs

Vp . Ip = Ps

Vs = 20 V

100 . Ip = 25
Ip = 0,25 A

2. Sebuah trafo memiliki perbandingan lilitan kumparan 10:1 dihubung-kan ke


listrik 100 V untuk menyalakan sebuah lampu 7,5 W. Jika efisiensi trafo 75 %,
berapakah arus listrik pada kumparan primer?
Diket: Np : Ns = 10:1
Vp = 100 V
Ps = 7,5W
= 75%
Dit Ip =
Jawab:
= (Ps/Pp)X100 %

Pp = Vp . Ip

75 % = 7,5/Pp X 100%

10 = 100 . Ip

0,75 = 7,5/Pp

Ip = 0,1 A

Pp = 7,7/0,75 = 10 W
PERENCANAAN PENGGULUNGAN TRANSFORMATOR
Bahanbahan yang diperlukan untuk menggulung suatu transformator antara
lain :
a. Kern
Kern atau teras besi lunak yang terbentuk dari kumparan besi lunak yang
mengandung silicon yang berbentuk seperti :
huruf E dan I
b. Koker
Koker atau rumah atau tempat mengulung kumparan primer dan sekunder

c. Kawat email
Kawat email yang terbuat dari tembaga yang dilapiskan bahan isolasi yang tahan
panas.
Penentuan Gulungan atau volt
Pada system penggulungan trafo, biasa terjadi penyimpangan kerugian. Seperti
kerugian kawat email dan kerugian panas tidak diperhitungkan. Kerugian seperti ini
sekitar 20% sampai 30% dari tembaga gulunganPrimer.
Apabila kita ingin merencanakan gulungan sekunder 100 watt, maka tenaga
primer harus lebih 20% sampai 25% dari tenaga sekunder. Yang harus selalu
diingat bahwa setiap kali tegangan gulungan sekunder diberi beban tegangannya
akan turun.
Keterangan :
I2 = arus yang mengalir ke beban
E1 = tegangan gulungan primer dari PLN
E2 = tegangan gulungan sekunder
Di negara kita tegangan listrik berfrekuensi sekitar 50 sampai 60 circle/second.
Oleh sebab itu untuk menghitung gulungan pervolt kita dapat memakai rumus :
Circle per second x 1 gulungan
Keliling besi kern untuk koker
Untuk menghindarkan panasnya transformator tenaga kita dapat memakai
standar 56 circle/second sebagai dasar perhitungan. Jadi rumus perhitungan
jumlah gulungan per volt :
56 x 1 gulungan
Keliling besi kern untuk koker
GULUNG PER VOLT
Yang dimaksud dengan gulungan per volt yaitu sejumlah gulungan kawat yang
disesuaikan untuk tegangan sebesar 1 Volt. Untuk menetapkan besar jumlah
gulung per volt dipakai ketentuan :
Rumus :
gpv = f / O

Dimana
Gpv = jumlah gulung per volt
f = frekuensi listrik (50 Hz)
O = luas irisan teras diukur dengan cm2. (hasil kali dari lebar dan tinggi tempat
gulungan

Contoh 1 :
Sebuah tempat gulung kawat transformator mempunyai ukuran lebar 2,5 cm dan
tinggi 2 cm. Besar jumlah gulungan per volt ?
Jawab :
gpv = f / O
f = 50 Hz
O = 2,5 x 2 = 5 Cm2
gpv = 50 / 5
= 10 gulung / volt

(setiap 10 lilitan kawat berlaku untuk tegangan sebesar 1 volt


Contoh 2 :
Dibutuhkan sebuah transformator dengan tegangan 220 V untuk gulung primer
dan tegangan 6 V digulungan sekundernya, lebar tempat gulungan kawat 2,5 cm
dan tinggi 2 cm. Berapa jumlah gulungan atau banyaknya lilitan untuk
kawatprimer dan sekunder.
Jawab :
O = 2,5 x 2 = 5 cm2
gpv = 50 / 5 = 10
Jadi untuk gulung primer dibutuhkan sejumlah 220 x 10 = 2200 lilitan. Untuk
gulungan sekunder dibutuhkan 6 x 10 = 60 lilitan. Mengingat selalu adanya

tenaga hilang di tansformator jumlah lilitan digulungan sekunder ditambahkan


10% = 60 +6 = 66 lilitan.
Dengan jumlah lilitan tersebut diatas, maka bila gulung primer dihubungkan
kepada tegangan listrik jalajala sebesar 220 V, gulungan sekundernya
menghasilkan tegangan sebesar 6 volt.
GARIS TENGAH KAWAT
Garis tengah atau tebal kawat tembaga menentukan kemampuan kawat dilalui
arus listrik. Bila listrik yang mengalir di dalam kawat melebihi kemapuan dari
kawat, maka akan mengakibatkan kawat menjadi panas dan jika arus yang
melaluinya jauh lebih besar dari kemampuan kawat, kawat akan terbakar dan
putus.

Contoh 3
Suatu alat memakai tenaga listrik 400 Watt dipasang pada tegangan 20 V. Berapa
garis tengah kawat yang dibutuhkan untuk menghubungkan alat tersebut ke
sumber aliran?
W = 400 Watt
E = 200 Volt
I = W/E I = 400/200 I = 2 Ampere
Agar mampu dilewati arus sebesar 2 A dipakai kawat dengan ukuran garis tengah
1 mm. Transformator jala-jala umumnya mempunyai gulungan yang bercabang
guna menyesuaikan tegangan.

Contoh perencanaan mengulung trafo


Perencanakan sebuah transformator jala-jala dengan data-data sebagai berikut :
Teras besi yang dipergunakan mempunyai lebar 2,5 cm dan tinggi 2 cm.
Dikehendaki gulungan primer untuk dipasang pada tegangan 110 V atau 220 V
dan gulungan sekunder yang menghasilkan tegangan 6 V dan 9 V, yang
menghasilkan arus 500 mA.
Tentukan berapa jumlah gulung primer dan gulung sekunder beserta cabangcabangnya. Berapa ukuran tebal kawat yang dibutuhkan.
Pemecahannya:

0 = 2,5 x 2 = 5 Cm2
gpv = 50/5 = 10
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Jumlah

gulungan primer untuk 110 V : 110 X 10 = 1100 lilitan


gulung primer untuk 220 V : 220 X 10 = 2200 lilitan.
gulungan sekunder untuk 6 V : 6 X 10 = 60 lilitan + 10% = 66 lilitan.
gulungan sekunder untuk 9 V : 9 X 10 = 90 lilitan + 10% = 99 lilitan.

Cara menggulung kawatnya untuk tegangan 110 V dan 220 V tidak digulung
sendiri-sendiri, tetapi cukup mencabang sebagai berikut:
Digulung dulu sebanyak 1100 lilitan untuk 110 V, kemudian ujung dari akhir
gulungan disalurkan keluar sebagai cabang untuk kemudian digulung lagi
sebanyak 1100 lilitan lagi untuk tegangan 2200 V.
Demikian halnya pada gulungan sekunder: kawat digulung dulu sebesar 66 lilitan
untuk tegangan 6 V kemudian di cabang, untuk kemudian ditambah gulungan lagi
sebesar 33 lilitan buat tegangan 9 V.
Selanjutnya untuk menentukan tebal atau diameter kawat digulung primer dan
digulung sekunder dilakukan sebagai berikut:
Tebal kawat sekunder :
Karena gulung sekunder telah ditentukan mempunyai besar arus 500 mA,
diperlukan kawat yang mempunyai diameter 0,5 mm (dilihat di daftar tebal kawat)
Tebal kawat primer :
Untuk menentukan tebal kawat untuk kawat gulungan primer harus diketahui
besar arus primer .
Besar arus primer: II = WL/EI
Dimana :
II = besar arus primer.
WL = tenaga digulung primer.
EI = tegangan primer.
Karena besar tegangan primer juga belum diketahui, maka dapat ditentukan
dengan memakai rumus :
W1 = 1,25 x W2 (rendemen dianggap 80%)
W1 = besar tegang digulung primer
W2 = besar tegangan digulung sekunder.

Besar tegangan sekunder W2 = E2 X 12.


W2 = tegangan sekunder.
E2 = tegangan sekunder.
Besar arus dan tegangan sekunder telah diketahui yaitu: 9 V, 0,5 A. (500mA)
Besar tegangan sekunder : W2 = 0 X 0,5 = 4,5 Watt
Besar tegangan primer : W1 = 1,25 X W2
= 1,25 X 4,5
= 5,625 Watt dibutuhkan 5,6 Watt
Besar arus primer : I1 = W1/E1
I1 = 5,6/220
= 0,025 A = 25 mA.
Menurut daftar tebal kawat primer untuk untuk 25 mA berukuran: 0,15 mm. Dari
keterangan di atas transformator yang direncanakan mempunyai ukuran-ukuran
seperti dibawah ini:
Jumlah gulung primer untuk 110 V : 1100 lilitan, diberi cabang kemudian digulung
lagi sebanyak 1100 lilitan, untuk 220 V.
Gulung sekunder untuk 6 V : 66 lilitan, diberi cabang dan ditambah 33 lilitan untuk
9 V. Tebal kawat 0,15 mm. Tebal kawat sekunder 0,5 mm.
Cara menggulung kawat trafo dilakukan dengan melilitkan kawat secara merata
syaf demi syaf. Antara syaf satu dengan yang lainnya diberi isolasi kertas tipis.
Pembuatan cabang dari lilitan dilakukan dengan membengkokkan kawat diluar
lilitan, untuk kemudian dilanjutkan manggulung lagi kawat sampai selesai.
Guna melakukan itu semua, pada lobang tempat gulungan dimasukkan sepotong
kayu ukuran yang sesuai yang pada kedua belah ujung intinya dimasukkan as dari
logam yang berhubungan dengan alat pemutar.
Apakah bagian primer atau sekunder yang digulung terlebih dulu tidak menjadi
soal karena keduanya akan memberikan hasil yang sama.

DOWNLOAD TRANSFORMATOR

34 Komentar
1. salam kenal. thanks artikel bagus nih. mengenai penggulungan trafo ada yg mau sy
tanyakan mas
1.mengenai ukuran kluas teras trafo apakah ada cara untuk menentukan luasnya ( rumus
bakunya).
2.jika dalam penggulungan trafo, tidak menggunakan inti ( hanya koker saja), tentunya induksi
yg di bangkitkan ke kumparan S akan berkurang, pertanyaan sy bgmn pembuktiannya secara
teoritik. mohon bantuannya karena sy berniat untuk perancangan generator mini tanpa inti
menggunakan magnet permanent.
atas perhatian dan tanggapannya sy ucapkan trimakasih
Komentar oleh budi | 12 Februari 2010 | Balas
2. kelihatannya rumus gpv = f / O tidak berlaku untuk frekuensi sangat tinggi, misal pembuatan
trafo AC matic dengan inti ferit, rumusnya jadi salah semakin tinggi frekuensi jumlah lilitan
akan semakin sedikit dengan besar tegangan yang sama.
Komentar oleh Gunadi | 20 Februari 2010 | Balas
o Terimakasih atas masukannya, kita sama-sama belajar. Apabila ada yang kurang tepat
saya mohon maaf
Komentar oleh cnt-121 | 20 Februari 2010 | Balas
3. Pasaya ingin belajar menggulung transformator. tempat yang bagus yang dapat saya belajar
dimana ya pa?
saya tinggal dijakarta.skalian menjadi bahan kerja praktek saya pa.
Komentar oleh echad rmln | 20 Februari 2010 | Balas
4. maaf ikut nanggapi
Vp = 4,44.f.n.B.a
Vp = tegangan primer
f = frekuensi
n = jumlah lilitan

B = rapat fluksi
a = luas penampang kern
atau
Vp = 4,44.f.n.
= fluksi
untuk B dapat dilihat dari grafik hubungan B dan H dari sebuah inti cari nilai yang masih linier.
Atau mencari mr .Hm0.B = H sendiri H = n.I/l
mo = permiabilitas udara
mr = permiabilitas bahan inti
jadi untuk membuat trafo inti udara silahkan otak atik mo dan mr (baca miu)
sebetulnya masih banyak untuk menurunkan rumus trafo tapi itu yang pokok
Komentar oleh paijo | 24 Februari 2010 | Balas
5. maaf simbolnya salah karena dari word dicopy ke sini simbolnya berubah
B=mo.mr.H
Vp=4.44.f.n.fluksi
Komentar oleh paijo | 24 Februari 2010 | Balas
6. komplit.
masih seputer devices
Komentar oleh erik | 7 Maret 2010 | Balas
7. kalo mau bikin trafo buat inverter gmn ya????
untuk 400va, input 24 V
tolong kasih referensi ya.biar bentuk trafonya bisa lebih kecil
Komentar oleh the dhe | 27 Maret 2010 | Balas
8. Tolong dong, tempat saya jauh dari jangkauan PLN saya mau bikin PLTA mikro hitungan
dinamonya bagaimana ( saya butuh 2000-3000 watt. ditunggu balasanya
Komentar oleh ANAK ELEKTRO NVRC | 30 Maret 2010 | Balas
o pakai generator kecil aja yang murah, kalau hasilnya listrik AC langsung pakai trafo
step-up, kalau hasilnya DC pakai inverter dulu baru di step-up.gampang kan. hehe
Komentar oleh sri maryadi | 29 Mei 2012 | Balas

9. Kalo cara menghitung berapa konsumsi daya yg diperlukan sebuah trafo bgaimana?saya punya
trafo toroid tegangan primer 220v,sekunder 25v/5A.
Dan berapa nilai kapasitor yg harus saya pasang agar coz phi menjadi 0,95?
Mohon penjelasannya.trimakasi.ass
Komentar oleh Tizz | 28 April 2010 | Balas
10. wah makasih mas udah mo share pengetahuan disini
salam kenal
My WordPress
kampus unand
Komentar oleh irwan kurniawan | 14 Mei 2010 | Balas
11. Top abizzzzzzz..
sangat berguna Ilmunya.
terima ksih banyak .
Komentar oleh bionic | 2 Juli 2010 | Balas
12. artikel bagus nih, klo boleh lengkapi dengan cara praktek membuat trafo, mulai dari memilih
kern, koker (bobin), kerta isolator, varnish dll.
terus apa bedanya trafo CT dan NCT, misalnya apakah trafo NCT dgn Vs=0-45v sama dengan
trafo CT dgn Vs=45-CT-45 juga apakah sama dengan multi voltage spt 45-0-0-45 ?
jika sama bagaimana penerapan prakteknya (teknik menggulung kawatnya)
thank you.
Komentar oleh qmara | 15 Agustus 2010 | Balas
13. halo para suhu. gmn cr menghitung trapo step up, dan cara menentukan berapa besar kawat
tembag
Komentar oleh budiyanto_tan | 16 September 2010 | Balas
14. Saya berencana memberi daftar tabel gulungan trafo dari mulai luas penampang kern, jumlah
lilitan dan diameter kawat.
mudah-mudahan tidak lama lagi akan selesai.
Komentar oleh yonix | 19 September 2010 | Balas
o Ditunggu banget kontribusinyakalau sudah siap bisa dikirim ke sini dan nanti akan di
publis biar bisa membantu pengunjung yang membutuhkan. Trim sebelumnya

Komentar oleh cnt-121 | 20 September 2010 | Balas


15. berapa nilai hasil pengujian untuk trafo step down 150/20 kV 60 MVA,,,,,
tolong dibantu ya.
Komentar oleh goedhoet | 29 Oktober 2010 | Balas
16. saya mau beli travo step up, waktu itu di toko ada 2 merk. kata tokonya yang harga 160rb itu
bisa keluar sktr 300W tapi yang 60rb bisa keluar sekitar 200W. padahal amper sama 5A.
sedangkan saya butuh yang keluar 700W. erus saya harus beli yang seperti apa untuk memenuhi
itu??? dan cara mengetes travo tanpa harus di coba itu bisa tidak???
Komentar oleh Dhidik Pranata | 3 November 2010 | Balas
o ini hny dr pengalaman aj; Untuk memperbesar kapasitas output trafo bs sj
menggabungkan 3 trafo yg masing2 300 W, yaitu dgn cara ketiga trafo tsb dihubung
paralel. catatan, tap-tap tegangan yang dipilih harus sama, dan lebih baik klo merek trafo
yg dibeli jg sama.
Komentar oleh fauz | 15 Januari 2011 | Balas
17. mohon bantuannyaada yang mengerti tentang stacking core dan wound core pada trafo ga?
trus masing-masing keuntungan dan kerugian dari model itu apa ya..?thanks
Komentar oleh wahono | 21 November 2010 | Balas
18. sip mtur nuwun
Komentar oleh fauz | 15 Januari 2011 | Balas
19. om saya mau bertanya saya agak kurag jelas dalam hal merencanakan sebuah tranformator
.dalam data di atas kan tertulis seperti ini W1 = 1,25 x W2 (rendemen dianggap 80%)
yang ingin saya tanyakan adalah 1,25 nya itu hasil dari mana apakah setiap transformator
mempunyai data 1,25 itu tadi ( standar transformator ) dan apa yang dimaksud rendemen 80%
Komentar oleh iman | 20 Februari 2011 | Balas
20. Bos kalo mau bikin trafo untuk las, gimana rancangannya, Nwn
Komentar oleh agus | 22 Februari 2011 | Balas
21. apakah bisa digunakan tafo ini jd trafo sit dwon menjadi step up?????
Komentar oleh stevanussinuraya | 8 April 2011 | Balas

22. mas artikelnya keren, tapi bisa gak kita ngerancang trafo step up 220 to 280 untuk generator
3kVA
Komentar oleh novan | 11 April 2011 | Balas
23. Saya butuh Info
kenapa Trafo 3 Phase Step-Up 1000V (sekunder)..jika digabung dengan Trafo Step-down
(Primer)Trafo Step-Upnya Hangus
Komentar oleh rae | 19 April 2011 | Balas
24. ada yang tau macam2 transformator step down pada mesin las g? tolon ifonya dum,.
jalu_cancer@yahoo.co.id
Komentar oleh jalu | 20 April 2011 | Balas
25. mantap tutorialnnya mas.. kita sesama pecinta elektronika bukan pecinta wanita lho haaaa
jhaaaa..salam kenal
Komentar oleh Ihsan Prawoto | 3 Mei 2011 | Balas
26. tengkew gan ilmunya sangat membantu e
Komentar oleh cliklagi | 20 Mei 2011 | Balas
27. lam kenal
numpang bertanya maaf kalau salah bertanya
mau tanya kalau cari keren trafo ada yang jual gak ya
Komentar oleh amri | 27 Juni 2011 | Balas
28. lam kenal
saya baru beli trafo 20 ampere ct. tapi setelah di cek tahanan untuk gulungan primernya tidak
ada. tolong para suhu untuk menanggapinya.
Komentar oleh omri dana | 28 Juni 2011 | Balas
29. salam kenal pak..numpang lewat aja..mohon pertanyaan dr mas agus sm mas jalu
ditanggapi.soalnya sy jg pengin tau cara mbuat trafo las(ukuran terserah) dan rangkaianya(bs jg
diberi gambar).biar ada bayang2 si dia.,trimaksih byk
Komentar oleh arrief | 28 Agustus 2011 | Balas
30. ohya gan giman cara menentukan jumlah lilitan

kalu yang diketahui cuman


frekuinsi, luas penampang, kerapatan flux, jika tegangan 33000/230 volt
Komentar oleh anggara | 17 Maret 2012 | Balas

o Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment


kapasitor palsu.lagi?
June 19, 2012
kali ini coba bongkar ELNA LP5

tulisan elna nya bold

karet pantatnya

cuma ke ukur 3390 uF (nilai tetulis di body 4700 uF),


kedua kapasitor yang aku punya terukur hampir sama, jadi sepertinya bukan karena rusak/kering
elektrolitnya

cuma ada 1 lapisan pembungkusnya

tampak atas

isinya lebih kecil dari bungkusnya, ruang kosongnya cukup banyak?


apakah kapasitor ini palsu?
jika dilihat dari pengukuran dan isinya, sepertinya PALSU
Posted in Elektronik | Leave a Comment
another fake capacitor
June 18, 2012
hari ini kiriman capacitance meter dari san-eshop datang

sebagaimana kecurigaan sebelumnya kalau kapasitorku palsu, langsung deh aku bongkar lagi ampliku
aku beli dua kapasitor ini di waktu yang berbeda, kebetulan yang jualin ngambilin yang beda dan
langsung aku bayar aja,
ngga nanya dulu mana yang bagus dan mana yang biasa,

yang kiri Onkyo Integra (palsu) harga 15ribu, yang kanan nichicon LK(M) harga 30ribu

yang nichicon keukur 11.460uF


aku cukup yakin kalau yang ini asli
emang sih aku cari di websitenya ngga ketemu seri LK, tapi menurut mouser (dan dia punya
datasheetnya) kapasitor LK ini sudah discontinyu, belum standar RoHS, belum ramah lingkungan
mungkin karena sudah diskontinyu dan sepertinya ini bukan kapasitor yang di desain khusus untuk
audio jadi harganya murah saja

si Onkyo diukur hanya dapat 4.430uF, ngga ada separonya

tulisan di body:
for HIFI
ONKYO Integra
50V
10000uF (M)
CEW (85C) JAPAN

panjang 6cm

lebar 3,5cm kurang lebih

tampak pin bawah

setelah bungkus pertama yang warna biru tampak bungkus lagi warna hitam dengan merek Marcon
10.000uf 50V

bukngkus pertama dan kapasitor di dalamnya

tampak atas

tampak bawah

tampak atas setelah bungkus terakhir dibuka

pas lagi gergaji sudah kerasa nggergaji lubang kosong


dan
ternyata.. sodara..sodara.isinya 2 biji kapasitor kecil (mungkin 2200uF,aku belum bongkar
lagi)
kesimpulanya kapasitor ini

karena sudah dibongkar otomatis ampli ngga bisa hidup. langsung deh cabut ke toko langganan Edy
jaya electronic di tanjung redeb, beli kapasitor 1 biji yang nichicon LK(M) 10.000uF 50V. kapasitor
baru tenaga baru
jadi pertanyaannya : apakah anda yakin kapasitor yang sekarang anda pakai asli?
yang perlu disikapi dengan bijaksana ketika ternyata anda membeli kapasitor palsu adalah anda tidak
boleh serta merta langsung menyalahkan penjualnya. karena si penjual juga belum tentu tau secara
detail kapasitor tersebut, biasanya mereka hanya tau mereka jual beberapa macam kapasitor dengan
nilai yang sama dari harga yang murah sampai yang mahal, terserah pembeli mau memilih yang mana.
yang murah ya dapat jelek, yang mahal ya dapat bagus

19-06-2012
update tambahin foto

ternyata yang putih-putih cuma lilin

ini nih yang bikin berat, kerikil2

2 kapasitornya pun beda

karet pantatnya beda juga

kapsitor kecilnya pun bekas juga, pin nya pendek di sambung kawat
Tags: capacitor, fake capacitor, kapasitor palsu
Posted in Elektronik | Leave a Comment
upgrade komponen tone control
June 16, 2012
upgrade kapasitor kopling (dc blocking untuk jalur sinyal) tone control TDA7442
awalnya agak skeptis baca-baca di forum kalau komponen audiophile punya efek yang signifikan ke
kualitas audio
meskipun elektronik sudah jadi makanan sejak kecil tapi maklum di kota kelahiranku (purbalingga)
dulu ngga ada dan belum tau barang ginian
jadi inget jaman SMP dulu, kalau beli kapasitor pasti rubycon (ngga tau dulu tipenya apa),
eh sekarang cari rubycon sudah ngga ada yang jual.yang ada kapasitor merek cina yang kecil2 yang
murah
karena alasan ekonomi dari obrolan dengan pemilik toko langganan di sana (Toko Asia Purbalingga),
timah merek pancing pun kurang/tidak laku,
tukang servis lebih memilih timah(lupa mereknya) yang baunya wangi dan harganya jauh lebih
murah agar margin keuntungan bertambah
kebetulan sebulan yang lalu habis belanja kapasitor di langsung jadi electronic beberapa kapasitor wima
MKS4 2,2uF 63v, sama MKS2 100nF 63v
sudah kepakai 2 biji di input gainclone

pemilihan wima mks4 ini alasan utmanya sebenernya hanya dari sisi dimensi,
awalnya aku pikir kalau kapasitor MKM standar (biasanya warna kuning) atau tantalum (polar) itu
sudah bagus,
dulu pas ngerakit equalizer pcb nya Ronica ada tulisan kalau kapasitornya sebaiknya kertas, MKM dan
Tantalum > pemahaman ini sempat mendarah daging
ternyata tantalum (polar ini) distorsinya besar dan setelah dibandingkan ternyata lebih noisy (bikin
desis)
sebenarnya kalau menurut suhu2 audiohile untuk kopling masih banyak yang jauh lebih baik dibanding
si wima ini,
seperti misalnya audionote, auricap, solen, aura-t (asal sebut yang keingat, bukan urutan)
yang jadi masalah buat aku kapasitor2 tsb masih terlalu over budget (masih ada kebutuhan yg lebih
penting) dan over dimensi
masih tanda tanya kenapa rating volt untuk kapasito2 tsb besar sekali salah satunya bikin dimensi
makin besar
-mungkin jawabannya (sebatas tebakanku) kapasitor tersebut awalnya dibuat untuk sistem tabung
(tube) yang tegangannya sampai ratusan volt
kalau aku sendiri belum merasa perlu kapasitor dengan working voltage setinggi itu,
karena supply tone control juga cuma 9V DC terus tegangan sinyal (TDA7442) nya maksimal 2Vrms
berikut fotonya

akhirnya keterusan juga, sisa kapasitor 100nF nya dipakai juga untuk upgrade bagian bass, loudness
dan kapasitor decoupling

box kelihatan penuh. pengin ganti box tapi belum nemu yang lebih bagus.
box model 36W ini sudah favorit dari jaman SMP/SMA dulu.
dari ampli ocl 150W model jengkol, model TIP, ampli2 IC pernah coba dimasukin dengan segala cara
(rasanya senang punya ampli kecil (dimensinya) tapi bertenaga besar
aku suka karena bentuknya yang kotak

tinggal menunggu pesanan capacitance meter, aku curiga elco 10.000uf/50v ku jangan2 palsu, gede di
badan doang
baru diputuskan apa perlu di upgrade
kesimpulan :
setelah upgrade selesai kemudian di test pakai mp3 (ngga punya audio CD coy) Cry just a little by
Avantasia dengan bitrate 320kbps.
kalau pakai mp3 bitrate cuma 128kbps ngga kerasa karena sudah kualitas mp3nya sendiri jelek
rasanya suaranya jadi lebih rame (rame tidak sama dengan berisik) lebih detail maksudnya..ah ingung
deskripsiinnya
treblenya juga jadi lebih lembut meskipun pakai tweeter piezo (kapan2 kalau pas pulang ke jawa cari
yg bagusan) cuma ada speaker asbun dengan driver apa adanya dan juga tanpa crossover
dengung tidak ada (dari awal memang tidak dengung)>sudah cukup lihai dengan ground loop
desis makin hilang. hanya terdengar ketika kuping ditempelin ke tweeter. dari jarak 1 meter 20cm ngga
kedengaran apalagi pada jarak listening normal
padahal pas masih pakai tone control model baxandall ngga ada desis sama sekali
masih kepikiran biar desis hilang sama sekali.
sumber desis yang dicurigai :
1. power supply/regulatornya yang kurang bagus atau mungkin power supply rangkaian cpu atmega
perlu dipisah.
2. trafo terlalu dekat (maklum ukuran box terbatas). kepengin juga pakai trafo toroid.tapi nyari yang
agak kecil ngga tau dimana (disini cuma ada 20A), terus kalau dikirim ke berau (kaltim) mahal di
ongkir (kurang lebih 50rb/kg)
3. dari frekuensi x-tall osilator microcontroller, kepikiran pakai atmega8535 yang TQFP dan pesan pcb
dengan ground plane yang lebih bagus
dulu aku pikir orang yang mau keluar duit sampai jutaan cuma buat beli kapasitor 1 biji adalah orang
gila
sekarang mungkin orang lain gantian berpikir kalau aku sudah mulai termasuk gila itu
masih ada lagi yang bikin aku tertarik salah satunya
kalau kepengin suara natural seperti aslinya, lupa baca dimana The Best Capacitor is No Capacitor
(kapasitor kopling yang dimaksud disini)
sepertinya sangat mungkin direalisasikan menggunakan rangkaian2 opamp dengan catu simetris dengan
memainkan zero offset dan desain yang benar
tapi bagi yang menginginkan citarasa tertentu jenis/merek kapasitorlah bumbu rahasianya
Tags: Digitally controlled tone control, sound processor, TDA7442, tone control
Posted in Elektronik, Musik | Leave a Comment

nyobain gainclone LM3886


June 13, 2012
di tengah kekecewaan karena BJT amplifier yang ternyata gagal (padahal manis banget tampilannya)

baru kali ini ngerakit BJT amlifier bisa segagal ini.(ada tegangan di output speaker, sepertinya ada yg
salah jalur)
tapi mau nge-trace kok rasanya males
terus keingat ada stok LM3886TF (gainclone) yang belum sempat dicoba
awalnya aku beli IC ini karena baca di forum2 IC ini begitu melegenda, bahkan ada blind test segala
akhirnya aku coba asal buat yg penting bunyi
PCB (aku ngga suka point to point)tidak terlalu besar : ukuran BOX nya kecil
PCB harus bisa dibuat hand made (pakai cutter): mau pesan masih sayang, ongkos kirim mahal,
kualitas suara belum dengar, mau buat pakai ferrie chloride males kotor dan limbahnya beracun
akhirnya setelah di gambar dengan kicad dan jalurnya dibuat untuk mudah di silet,
beginilah penampakan amplinya
komponen audiograde yang dipakai hanya kapasitor input Wima 2,2uf sama wima 100nF. yang lain
komponen standar

LM3886 VS TDA 7294


suara LM3886 serasa lebih detail (lebih hidup) meskipun dari sisi tenaga masih kalah dari TDA7294
(cuma kalau aku rasa2, sepertinya ada sesuatu yg kurang dari TDA7294)
secara performa puas, jadi ke ingat Tape double deck S*n* milik bapakku dulu (sudah dilego) yang
pakai Ic LM3875 suaranya bening dan lembut banget
soft startnya LM3886 bener2 bagus, pas hidupin/matiin ngga da suara jeduk

kerok-kerok PCB pakai cutter

hasil kerokan, biar jelek yang penting nyambung

hasil akhir, menggantikan singgasana TDA7294 dalam box

note 1:
RC boucherot (yang dipasang di output) lihat yang dilingkari
aku coba R 10 ohm, C 100 nF dipasang setelah output inductor (inductorku pun tanpa resistor di
dalamnya seperti biasanya orang pakai)
recomendednya national sih R nya 2,7 ohm. kalau searching2 ada yang dipasang sebelum output
inductor ada yang setelah output inductor
ternyata pas di volume kecil bikin suara mirip orang kedinginan (entah karena R nya yg ngga sesuai
atau yg lain) akhirnya aku cabut
note :
kalau mau ngetes kualitas suara sebaiknya pakai cd player jangan pakai mp3
kalaupun adanya mp3 cari yang file mp3 nya punya bitrate minimal 192kbps
kalau pakai cuma 128kbps detailnya sudah hilang, treble pecah
Tags: Amplifier, Gainclone, LM3886
Posted in Elektronik | Leave a Comment

SMPS with TL494 IR2112 IRFP460 MUR1560 part II


June 8, 2012
melanjutkan postingan sebelumnya yg cuma upload foto
PERINGATAN!!!
tegangan di kapasitor mencapai 308V
jangan mencoba rangkaian ini jika anda baru belajar elektronika
jika terjadi kerusakan/kecelakaan baik pada perangkat atau manusia akibat rangkaian ini
bukan tanggung jawab saya. segala resiko anda tanggung sendiri
kali ini baru sempat mencoba SMPS yang sebenarnya sudah dibuat cukup lama
pada waktu itu hanya sebatas di ukur tegangan memakai voltmeter
kali ini di test menggunakan ampli langsung (ampli yang di coba bukan ampli dengan kualitas hi-end)
ampli bisa hidup dan bunyi
dalam keadaan idle tanpa input terdengar suara desis di speaker
ketika dibandingkan dengan trafo toroid, desis yang timbul ketika menggunakan trafo toroid ternyata
lebih rendah
sepertinya ampli ini memang sudah berdesis, mau coba ampli bagus mash sayang
untuk mengurangi desis mungkin perlu perbaikan filter pada SMPS, menggunakan induktor dengan
perhitungan yang lebih baik (aku cuma asal pakai induktor)
menggunakan kapasitor yang Low ESR
mungkin perlu casing/kotak logam sendiri untuk SMPS iniuntuk mengurangi interferensi dari frekuensi
switching
note untuk smps :
smps ini menggunakan topology half bridge,
tegangan pada primer trafo SMPS sekitar V/2 = ~150V (rumus perbandingan lilitan bisa dipakai)
rangkaian PWM/IC SMPS dan mosfet driver tereletak pada HOT area (bagian nyetrum maksudnya)
trafo smps diambil dari bekas trafo tv (aku beli trafo yoke/trafo wansonic seharga 35ribu,dijawa
mungkin lebih murah)
jangan memakai dioda biasa semacam 1N4002 dsb. gunakan dioda fast recovery/ultrafast recovery
untuk safety (takutnya mosfet jebol atau ada yg konslet) rangkaian di seri dengan bohlam 100W pada
bagian tegangan AC 220V
kesimpulannya
cuma pengin nyobain SMPS, dan ternyata berhasil
untuk improvement mungkin di lain waktu

skema

foto percobaan

update 17-08-2012

output inductor menggunakan toroid (lihat yang dilingkari)

berapa lilitan?aku ngarang aja asal penuh


dari percobaan 2 kawat (untuk + dan -) dililit bareng, (lihat foto dibawah)
jangan sampai terbalik, kalau terbalik toroid akan panas, mosfet juga cepat panas

di test lagi menggunakan ampli TDA7294 (mono)

dibandingkan sebelum dan setelah diganti inductornya ternyata ketika menggunakan induktor toroid ini
noise frekuensi tinggi sangat jauh berkurang
plan :

mencoba dengan kapasitor yang Low ESR

kapasitor high voltage diganti dg yang lebih besar

smps ditaruh dalam casing/pelindung dari logam

pesan pcb fiber

Tags: IR2112, IRFP460, SMPS, TL494


Posted in Elektronik | Leave a Comment
tone control untuk box 36W
June 6, 2012
flash back ke project sebelumnya Stereo amplifier TDA7294
ini rangkaian tone control yang aku pakai.
aku buat khusus biar potensionya pas di lubang
fotonya

[Download]
tone 36W NE5532-schema
tone 36W NE5532 pcb
tone 36W bukan berarti dayanya 36W lho ya, maksudnya untuk box 36W
performa ?
desis : no
dengung ; no
Tags: box, NE55332, tone control
Posted in Elektronik | 2 Comments
Older Entries

December 2012
M
Nov

December 2012
M

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

Pages
o Bellman Ford kalkulator
o DIY Tone control
o Eagle Tutorial requested by Aan
o FM Transmitter by restovarius
o Quick Jump
o Uncomplete Contekan Linux v0.1
o WARNING!!!

Categories

Recent Posts
o macam2 generator controller
o ampli ceper
o ampli yang tinggal kenangan
o Trafo toroid dari bekas stavol

o kapasitor palsu.lagi?

Archives

Blogroll
o

restovarius's friends
o :: dipsie :: because pig care
o Aan Banget
o 4h m
o chubby girl
o Dakochan
o I'm here laili's blog
o Sebaris Coretan Perasaan | Ola Ona By Alea
o The True Colour of My Life

search this

Theme: Kubrick. Blog at WordPress.com.


Entries (RSS) and Comments (RSS).
Follow
Follow nothing about me
Get every new post delivered to your Inbox.
Powered by WordPress.com

Toroidal inductors and transformers


From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search

Several small toroidal inductors. The major scale


A small toroidal
is in inches.
transformer.
Toroidal inductors and transformers are electronic components, typically consisting of a circular ringshaped magnetic core of iron powder, ferrite, or other material around which wire is coiled to make an
inductor. Toroidal coils are used in a broad range of applications, such as high-frequency coils and
transformers. Toroidal inductors can have higher Q factors and higher inductance than similarly
constructed solenoid coils. This is due largely to the smaller number of turns required when the core
provides a closed magnetic path. The magnetic flux in a high permeability toroid is largely confined to
the core; the confinement reduces the energy that can be absorbed by nearby objects, so toroidal cores
offer some self-shielding.
In the geometry of torus-shaped magnetic fields, the poloidal flux direction threads the "donut hole" in
the center of the torus, while the toroidal flux direction is parallel to the core of the torus.

Contents

1 Total B Field Confinement by Toroidal Inductors


o 1.1 Sufficient conditions for total internal confinement of the B field
o 1.2 E Field in the Plane of the Toroid
o 1.3 Torroidal Inductor/Transformer and Magnetic Vector Potential
o 1.4 Toroidal Transformer Action in the Presence of Total B field
Confinement
o 1.5 Toroidal Transformer Poynting Vector Coupling from Primary to
Secondary in the Presence of Total B field Confinement

1.5.1 Explanation of the Figure

2 Notes

3 References

4 External links

Total B Field Confinement by Toroidal Inductors


In some circumstance, the current in the winding of a toroidal inductor contributes only to the B field
inside the windings and makes no contribution to the magnetic B field outside of the windings.
Sufficient conditions for total internal confinement of the B field

Fig. 1. Coordinate system. The Z axis


is the nominal axis of symmetry. The X
axis chosen arbitrarily to line up with
the starting point of the winding. is
called the radial direction. is called
Fig. 2. An axially symmetric toroidal inductor
the circumferential direction.
with no circumferential current.
The absence of circumferential current [1] (please refer to figure 1 of this section for definition of
directions) and the axially symmetric layout of the conductors and magnetic materials [1][2][3] are
sufficient conditions for total internal confinement of the B field. (Some authors prefer to use the H
field). Because of the symmetry, the lines of B flux must form circles of constant intensity centered on
the axis of symmetry. The only lines of B flux that encircle any current are those that are inside the
toroidal winding. Therefore, from Ampere's circuital law, the intensity of the B field must be zero
outside the windings.[3]

Fig. 3. Toroidal inductor with circumferential current


Figure 3 of this section shows the most common toroidal winding. It fails both requirements for total B
field confinement. Looking out from the axis, sometimes the winding is on the inside of the core and
sometimes it is on the outside of the core. It is not axially symmetric in the near region. However, at
points a distance of several times the winding spacing, the toroid does look symmetric.[4] There is still
the problem of the circumferential current. No matter how many times the winding encircles the core
and no matter how thin the wire, this toroidal inductor will still include a one coil loop in the plane of
the toroid. This winding will also produce and be susceptible to an E field in the plane of the inductor.
Figures 4-6 show different ways to neutralize the circumferential current. Figure 4 is the simplest and
has the advantage that the return wire can be added after the inductor is bought or built.

Fig. 6. Circumferential current

Fig. 4. Circumferential current


countered with a return wire.
countered with a split return
Fig. 5. Circumferential current
The wire is white and runs
countered with a return winding.
between the outer rim of the
winding.
inductor and the outer portion
of the winding.
E Field in the Plane of the Toroid

Fig. 7. Simple toroid and the E-field


Fig. 8. Voltage distribution with return
produced. +/- 100 Volt excitation assumed.
winding. +/- 100 Volt excitation assumed.
There will be a distribution of potential along the winding. This can lead to an E-Field in the plane of
the toroid and also a susceptibility to an E field in the plane of the toroid as shown in figure 7. This can
be mitigated by using a return winding as shown on figure 8. With this winding, each place the winding
crosses itself, the two parts will be at equal and opposite polarity which substantially reduces the E field
generated in the plane.
Torroidal Inductor/Transformer and Magnetic Vector Potential

Main article: Magnetic potential

Showing the development of the magnetic vector potential around a symmetric


torroidal inductor.
See Feynman chapter 14[5] and 15[6] for a general discussion of magnetic vector potential. See Feynman
page 15-11 [7] for a diagram of the magnetic vector potential around a long thin solenoid which also
exhibits total internal confinement of the B field, at least in the infinite limit.
The A field is accurate when using the assumption
assumptions:

. This would be true under the following

1. the Coulomb gauge is used

2. the Lorenz gauge is used and there is no distribution of charge,

3. the Lorenz gauge is used and zero frequency is assumed

4. the Lorenz gauge is used and a non-zero frequency that is low enough to
neglect

is assumed.

Number 4 will be presumed for the rest of this section and may be referred to the "quasi-static
condition".
Although the axially symmetric toroidal inductor with no circumferential current totally confines the B
field within the windings, the A field (magnetic vector potential) is not confined. Arrow #1 in the
picture depicts the vector potential on the axis of symmetry. Radial current sections a and b are equal
distances from the axis but pointed in opposite directions, so they will cancel. Likewise segments c and
d cancel. In fact all the radial current segments cancel. The situation for axial currents is different. The
axial current on the outside of the toroid is pointed down and the axial current on the inside of the
toroid is pointed up. Each axial current segment on the outside of the toroid can be matched with an
equal but oppositely directed segment on the inside of the toroid. The segments on the inside are closer
than the segments on the outside to the axis, therefore there is a net upward component of the A field
along the axis of symmetry.

Representing the magnetic vector potential (A), magnetic flux (B), and current
density (j) fields around a toroidal inductor of circular cross section. Thicker lines
indicate field lines of higher average intensity. Circles in cross section of the core
represent B flux coming out of the picture. Plus signs on the other cross section of
the core represent B flux going into the picture. Div A = 0 has been assumed.
Since the equations

, and

(assuming quasi-static conditions, i.e.

) have the same form, then the lines and contours of A relate to B like the lines and contours
of B relate to j. Thus, a depiction of the A field around a loop of B flux (as would be produced in a
toroidal inductor) is qualitatively the same as the B field around a loop of current. The figure to the left
is an artist's depiction of the A field around a totoidal inductor. The thicker lines indicate paths of
higher average intensity (shorter paths have higher intensity so that the path integral is the same). The
lines are just drawn to look good and impart general look of the A field.
Toroidal Transformer Action in the Presence of Total B field Confinement

The E and B fields can be computed from the A and

(scalar electric potential) fields

[8]

[8]
and :
and so even if the region outside
the windings is devoid of B field, it is filled with non-zero E field.

The quantity

is responsible for the desirable magnetic field coupling

between primary and secondary while the quantity


is responsible for the
undesirable electric field coupling between primary and secondary.
Transformer designers attempt to minimize the electric field coupling. For
the rest of this section,
specified.

will assumed to be zero unless otherwise

Stokes theorem applies,[9] so that the path integral of A is equal to the enclosed B flux, just as the path
integral B is equal to a constant times the enclosed current
The path integral of E along the secondary winding gives the secondary's induced EMF (ElectroMotive Force).

which says the EMF is equal to the time rate of change of the B flux enclosed by the winding, which is
the usual result.

Toroidal Transformer Poynting Vector Coupling from Primary to Secondary in the


Presence of Total B field Confinement

In this figure, blue dots indicate where B flux from the primary current comes out
of the picture and plus signs indicate where it goes into the picture.
Explanation of the Figure

This figure shows the half section of a toroidal transformer. Quasi-static conditions are assumed, so the
phase of each field is everywhere the same. The transformer, its windings and all things are distributed
symmetrically about the axis of symmetry. The windings are such that there is no circumferential
current. The requirements are met for full internal confinement of the B field due to the primary
current. The core and primary winding are represented by the gray-brown torus. The primary winding is
not shown, but the current in the winding at the cross section surface is shown as gold (or orange)
ellipses. The B field caused by the primary current is entirely confined to the region enclosed by the
primary winding (i.e. the core). Blue dots on the left hand cross section indicate that lines of B flux in
the core come out of the left hand cross section. On the other cross section, blue plus signs indicate that
the B flux enters there. The E field sourced from the primary currents is shown as green ellipses. The
secondary winding is shown as a brown line coming directly down the axis of symmetry. In normal
practice, the two ends of the secondary are connected together with a long wire that stays well away
from the torus, but to maintain the absolute axial symmetry, the entire apparatus is envisioned as being
inside a perfectly conductive sphere with the secondary wire "grounded" to the inside of the sphere at
each end. The secondary is made of resistance wire, so there is no separate load. The E field along the
secondary causes current in the secondary (yellow arrows) which causes a B field around the secondary
(shown as blue ellipses). This B field fills space, including inside the transformer core, so in the end,
there is continuous non-zero B field from the primary to the secondary, if the secondary is not open
circuited. The cross product of the E field (sourced from primary currents) and the B field (sourced
from the secondary currents) forms the Poynting vector which points from the primary toward the
secondary.