Anda di halaman 1dari 47

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Daftar isi ..........................................................................................................i,ii
Daftar Gambar ..................................................................................................iii
Daftar Tabel .......................................................................................................iv
A.
B.
C.
D.

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah ..1
Pokok Masalah ......................................................................3
Tujuan..............3
Sistematika Penulisan..................................................4

BAB II PEMBAHASAN
A. DEFENISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN....5
1. Study (Kajian)....7
2. Ethical Practice (Etika Praktek)..9
3. Facilitating (Memfasilitasi).....10
4. Learning (Belajar)11
5. Improving (Meningkatkan).12
6. Performance (Kinerja)13
7. Creating (Menciptakan)..14
8. Using (Pemanfaatan).14
9. Managing (Pengelolaan)15
10. Appropriate (Tepat)16
11. Technological (Teknologi).17
12. Process (Proses)17
13. Resource (Sumber Daya).17
Kesimpulan18
B. MEMFASILITASI PEMBELAJARAN......19
1. Teori Pembelajaran dari Teori ke Instructional...22
2. Perspektif Apakah Konsekuensi......23
3. Pembelajaran yang ditetapkan dan dilihat dari berbagai
perspektif...24
Behaviorisme dalam Teknologi Pendidikan24
Behaviorisme dan Memfasilitasi Pembelajaran..27
Cognitifisme...28
1). Teori Piaget's. 28
2).Teori pemrosesan informasi. 29
3). Teori skema.29
4). Neuroscience..30
Cognitivism dalam Teknologi Pendidikan...30
a). Media audiovisual..31
b). Pembelajaran visual..31
c). Auditori Pembelajaran...32

d). Multimedia...32
Cognitivism dan memfasilitasi Pembelajaran.33
Konstruktifisme....36
Mendefinisikan Masalah Konstruktivisme....36
1). Konstruktivis Prescriptions.. 38
2). Terletak kognisi..38
3). Berlabuh instruksi...39
4). Pembelajaran Berbasis Masalah.39
5). Collaborative Pembelajaran.39
Konstruktivisme adalah Teknologi Pendidikan...40
Konstruktivisme dan Memfasilitasi Pembelajaran..41
Memperingatkan muncul dari penelitian..41
Pembelajaran Formal dan Informal...44
Media melawan Metode.46
Kesimpulan..47
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................51
B. Saran.............................................................53
Daftar Pustaka
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang kajian khusus dalam ilmu
pendidikan. Dalam teknologi pendidikan banyak di jabarkan tentang proses belajar
dan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi utaman teknologi informasi dan
komunikasi, belajar bukan hanya dilakukan oleh dan untuk individu, melainkan oleh
dan untuk kelompok, bahkan juga diperuntukkan oleh organisasi secara
keseluruhan.

Dengan

adanya

teknologi

pendidikan,

maka

kita

dapat

memanfaatkannya untuk meningkatkan keefektifan belajar karena belajar dapat


dilakukan di mana saja, kapan saja, pada siapa saja, mengenai apa saja, dengan
cara dan sumber dari mana saja. Dan di sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.
Sekarang dengan berkembang pesatnya Teknologi informasi dan Komunikasi,
guru serta penggiat pendidikan di seluruh dunia dapat menggunakan media internet
untuk mempermudah penyampaian ilmu kepada siapapun yang membutuhkannya,
seperti penggunaan Website, Web Blog, Youtube, mailinglist, chatting dan
sebagainya. Dengan menggunakan layanan yang ada di internet seoarang guru
dapat menjangkau seluruh dunia yang terhubung dengan fasilitas internet untuk
saling berbagi informasi.
Tujuan utama teknologi pendidikan salah satunya adalah untuk memecahkan
masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Teknologi pembelajaran
juga sebagai perangkat lunak (software) yang berbentuk cara-cara sistematis dalam
memecahkan masalah pendidikan semakin canggih dan mendapat tempat secara
luas dalam dunia pendidikan. Dengan demikian aplikasi praktis teknologi pendidikan
dalam memecahkan suwatu masalah belajar mempunyai bentuk kongret dengan
danya sumber belajar yang memfasilitasi peserta didik.
Teknologi pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang
melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisis
masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola
pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Fungsi-

fungsi teknologi pendidikan meliputi : Sumber Belajar, Pengelolaan Pendidikan dan


Pengembangan Pendidikan.[1]
Kawasan Teknologi Pendidikan/Pembelajaran Meliputi Desain, Pengembangan,
Penggunaan produk-produk baru, Pengelolaan dan evaluasi untuk meningkatkan
hasil pendidikan. Teknologi pendidikan sama dengan Teknologi Pembelajaran.
Teknologi pendidikan tumbuh dan berkembang dari praktik pendidikan dan gerak
komunikasi audiovisual. Teknologi pendidikan semula di lihat sebagai teknologi
peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan dan sarana
untuk mencapai tujuan pendidikan atau kegiatan pembelajara dengan audiovisual.
Teknologi

pendidikan

merupakan

gabungan

dari

tiga

aliran

yang

saling

berkepentingan yaitu media pendidikan, psikologi pembelajaran, dan pendekatan


system untuk pendidikan. Asosiasi yang membidangi masalah teknologi pendidikan
yakni AECT (Assosiation for Educational Communication and Technolog)
Teknologi

pendidikan

berupaya

untuk

merancang,

mengembangkan,

dan

memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau memfasilitasi


seseorang untuk belajar di mana saja, kapan saja, oleh siapa, dan dengan cara dan
sumber

belajar

apa

saja

yang

sesuai

dengan

kebutuhanya.

Berdasarkan

perkembangan dalam bidang teknologi pendidikan dan disiplin ilmu lainya, yang relevan
dengan landasan teori pembelajaran, kemungkinan ke depan akan semakin
berkembang mengenai kawasan dan ruang lingkup beserta kategori teknologi
pendidikan. Karena teknologi pendidikan sangat penting maka kita perlu mengetahui
seluk beluk mengenai teknologi pendidikan, mulai dari apa itu teknologi pendidikan,
termasuk defenisinya serta bagaimana teknologi pendidikan dapat di gunakan untuk
memfasilitasi proses pembelajaran, proses dan sumber-sumber teknologi pendidikan,
bagaimana kita dapat meningkatkan kinerja dan kreasi pembelajaran, penggunaan dan
pemanfaatan sumber-sumber teknologi, bagaimana integrasi teknologi dan keefektifan
teknologi dalam dunia pendidikan, serta bagaimana teknologi pendidikan digunakan
untuk membantu anak berkebutuhan khusus dalam belajar.
B. POKOK MASALAH

Berdasarkan Latar belakang yang telah disampaikan, maka dapat diambil pokok
masalah yang nantinya akan dibahas didalam makalah ini, yaitu :
1. Apa defenisi teknologi pendidikan?
2. Bagaimana teknolog pendidikan dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran?
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui defenisi dari teknologi pendidikan
2. Untuk mengetahui bagaimana teknologi pendidikan digunakan dalam mefasilitasi
proses pembelajaran di dalam dunia pendidikan.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. BAB I, berisikan tentang latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan dan
sistematika penulisan
2. BAB II, berisikan tentang Pembahasan isi makalah
3. BAB III, berisikan tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFENISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN


Definisi dan Terminologi Komite Asosiasi untuk Pendidikan Teknologi dan Komunikasi
KONSEP TEKNOLOGI PENDIDIKAN telah berkembang dari tahun ke tahun, dan
konsep tersebut terus berkembang hingga sekarang.

Oleh karena itu, konsep

teknologi pendidikan saat ini merupakan konsep sementara, sebuah potret waktu.
Dalam konsep saat ini, teknologi pendidikan bisa didefinisikan sebagai konsep abstrak
atau sebagiai bidang praktek. Yang pertama, definisi konsep adalah sebagai berikut:
Educational technology is the study and ethical practice of facilitating Learning
and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological
processes and resources.
Teknologi pendidikan adalah kajian dan praktek yang berlandaskan etika dalam
mefasilitasi

dan

meningkatkan

kinerja

melalui

pencitptaan,

penggunaan,

dan

pengelolaan berbagai proses dan sumber teknologi yang tepat.


Teknologi pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks dan terintegrasi
meliputi manusia, alat, dan sistem, termasuk diantaranya gagasan, prosedur, dan
organisasi.[2]
Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan
adanya usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian
dan aplikasi praktis perluasan, serta peningkatan sumber belajar.[3]

Defenisi Teknologi pendidikan menurut National Centre for Programmed


Learning yaitu Education technology is the application of scientific knowledge about
learning, and the conditions of learning, to improve the effectiveness and efficiency of
teaching and training. In the absence of scientifically established principles, educational
technology implements techniques of empirical testing to improve learning situations.[4]
Kekhasan defenisi Teknologi Pendidikan tahun 2004 yakni adanya penekanan
etika penggunaan teknologi, penilaian/evaluasi tidak begitu ditekankan lagi, adanya
memfasilitasi pembelajaran, dan sekarang digunakan/ memberdayakan sumber daya
teknologi yang ada secara maksimal.
Unsur-unsur dari Defenisi/Pengertian
Setiap istilah utama yang digunakan dalam definisi akan dibahas sebagai makna
yang dimaksudkan dalam konteks definisi. Hal ini tergambar seperti di bawah ini

Gambar 1.1. Sebuah Ringkasan gambaran unsur-unsur kunci dari definisi saat ini
1. Study (Kajian)
Pemahaman teoretis dari teknologi pendidikan serta praktek memerlukan
pembentukan pengetahuan dan perbaikan secara terus-menerus melalui penelitian dan
praktek reflektif (berfikir) yang dicakup dalam istilah study.
Study mengacu pada pangumpulan informasi dan analisis terhadap konsepkonsep tradisional penelitian. Penelitian disini termasuk penelitian kualitatif dan
penelitian kuantitatif serta bentuk-bentuk lain dari inquiri disiplin seperti teori, analisis
filosofis, penyelidikan historis, proyek-proyek pembangunan, analisis kesalahan,
analisis sistem, dan evaluasi. Secara tradisional, penelitian merupakan sebuah
generator ide-ide baru dan proses evaluative untuk membantu memperbaiki praktek.
Penelitian dalam teknologi pendidikan telah berkembang dari penyelidikan yang
mencoba untuk membuktikan bahwa media dan teknologi merupakan alat-alat yang
efektif untuk belajar, pemeriksaan-pemeriksaan yang dirumuskan untuk memeriksa
penerapan proses dan teknologi yang tepat untuk peningkatan pembelajaran.
Hal yang penting untuk penelitian baru dalam teknologi pendidikan adalah
penggunaan lingkungan otentik, suara dari pelaksana dan pengguna teknologi
pendidikan

serta

peneliti

teknologi

pendidikan.

Yang

melekat

dalam

kata research (penelitian) adalah mencakup proses yang berulang-ulang. Penelitian


mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan meneliti solusi-solusi permasalahan
tersebut. Tentu saja, ide praktek berfikir dan inkuiri berdasarkan pengaturan otentik
merupakan perspektif yang bernilai dalam penelitian. Pelaksana reflektif teknologi
pendidikan mempertimbangkan masalah-masalah yang ada di lingkungan mereka
(contohnya masalah belajar siswa) dan mencoba untuk menyelesaikan masalah
dengan perubahan dalam praktek, baik berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman
professional. Refleksi pada proses ini mengarah pada perubahan dalam solusi dan
usaha-usaha selanjutnya untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang ada
di lingkungan, sebuah siklus proses/refleksi yang dapat mengarah pada perbaikan
praktek (Schon, 1990).

Letak masalah inquiry dalam teknologi pendidikan saat ini sering ditentukan oleh
masuknya teknologi baru dalam praktek pendidikan. Sejarah dalam lapangan
menunjukkan banyaknya program penelitian yang dimulai dengan adanya perhatian
terhadap munculnya teknologi baru, meneliti bagaimana cara terbaik dalam merancang,
mengembangkan, menggunakan, dan mengatur produk-produk teknologi baru. Namun,
baru-baru ini program penyelidikan dalam teknologi pendidikan telah dipengaruhi oleh
pertumbuhan dan perubahan di posisi teoritis utama dalam teori belajar, manajemen
informasi, dan bidang-bidang sejenis lainnya.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa istilah studi merujuk pada
pemaknaan studi sebagai usaha untuk mengumpulkan informasi dan menganalisisnya
melebihi pelaksanaan riset yang tradisional, mencakup kajian-kajian kualitatif dan
kuantitatif untuk mendalami teori, kajian filsafat, pengkajian historik, pengembangan
projek, kesalahan analisis, analisa sistem, dan penilaian. Studi dalam teknologi
pendidikan telah berkembang terutama dalam kaitannya dengan pengembangan model
pembelajaran, efektifitas kedudukan media dan teknologi dalam pelaksanaan
pembelajaran, dam penerapan teknologi dalam perbaikan belajar. Kajian mutakhir
banyak difokuskan pada penempatan posisi teori belajar, managemen informasi, dan
perkembangan pemanfaatan teknologi untuk memecahkan masalah belajar yang
dihadapi peserta didik. Istilah studi dalam definisi tersebut pada hakekatnya ditujukan
untuk memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik melalui
kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar yang tepat.

2. Ethical Practice (Etika Praktek)


Teknologi pendidikan telah lama memiliki kode etik. Komite etik AECT telah aktif
mendefinisikan standar etik lapangan dan memberikan contoh-contoh kasus untuk
mendiskusikan dan memahami maksud etika praktek. Sebenarnya, menurut komite
AECT, perhatian masyarakat akhir-akhir ini terhadap penggunaan etika media massa
dan terhadap kekayaan intelektual telah ditujukan untuk bidang teknologi pendidikan.
Telah ada peningkatan dan perhatian terhadap masalah-masalah etik dalam
teknologi pendidikan. Etik bukan hanya peraturan-peraturan atau harapan-harapan,

tetapi etik merupakan sebuah dasar untuk melakukan praktek. Sebenarnya, etika
praktek bukanlah kumpulan harapan, batasan ataupun hukum-hukum baru, etika
praktek merupakan sebuah pendekatan atau gagasan untuk bekerja. Definisi sekarang
mempertimbangkan praktek etik penting untuk kesuksesan professional, tanpa
pertimbangan etik, sukses tidak mungkin. Etika kontemporer menugaskan para
teknolog pendidikan untuk memperhatikan peserta didik, lingkungan belajar, kebutuhan,
masyarakat ketika mengembangkan praktek.
Kode etik AECT dibagi menjadi tiga kategori yaitu komitment kepada individu,
seperti perlindungan terhadap hak mengakses materi dan usaha untuk melindungi
kesehatan dan keselamatan professional; komitment kepada masyarakat, seperti
pernyataan jujur publik berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan, praktek
yang jujur dan merata dengan memberikan pelayanan kepada profesi; dan komitment
kepada profesi, seperti peningkatan pengetahuan dan kecakapan professional dan
memberikan

penghargaan

yang

tepat

untuk

pekerjaan

serta

ide-ide

yang

dipublikasikan. Masing-masing tiga bidang utama tersebut telah mencatat beberapa


komitmen yang membantu menginformasikan pendidikan teknologi professional yang
berhubungan dengan tindakan-tindakan yang tepat, tanpa mamperhatikan kontek
ataupun perannya. Pertimbangan diberikan untuk mereka yang bekerja sebagai
peneliti, professor, consultan, designer (perancang), pimpinan sumber-sumber belajar,
sebagai contoh untuk membantu membentuk perilaku professional mereka dan etika
perilaku.

3. Facilitating (Memfasilitasi)
Perubahan pandangan dalam istruksi dan belajar yang tercermin dalam teori
pembelajaran konstruktif dan kognitif telah menimbulkan asumsi tentang hubungan
antara istruksi dan belajar. Definisi yang sebelumya menggambarkan sebuah hubungan
sebab akibat yang langsung antara intervensi instruksional dan belajar. Misalnya,
definisi AECT formal yang pertama (Ely, 1963) disebut design and penggunaan pesan
yang mengendalikan proses pembelajaran. Definisi yang selanjutnya kurang begitu
jelas, namun menunjukkan sebuah hubungan langsung secara keseluruhan antara

instruksi yang dirancang dan disampaikan dengan baik dan pembelajaran efektif.
Dengan pergeseran paradigm terakhir dalam teori belajar menyebabkan munculnya
pengakuan yang lebih besar tentang peran peserta didik sebagai seorang konstruktor
pengetahuan bukan penerima pengetahuan. Dengan pengakuan tanggung jawab dan
kepemilikan peserta didik ini membuat peran teknologi bersifat lebih fasilitatif daripada
hanya pengendali (to control).
Selain itu, ketika tujuan belajar di sekolah, kampus, dan organisasi-organisasi
lain bergeser kearah yang lebih dalam, lingkungan belajar harus menjadi lebih imersif
dan otentik. Dalam lingkungan ini, kunci utama teknologi tidak banyak untuk
menyampaikan

informasi

dan

memberikan

latihan

dan

praktek

(mengontrol

pembelajaran), namun untuk memberi ruang masalah dan alat untuk menyelidikinya
(mendukung proses belajar). Teknologi pendidikan lebih digunakan untuk memfasilitasi
belajar dari pada untuk menyebabkan atau mengendalikan belajar, oleh kerena itu,
teknologi pendidikan dapat membantu menciptakan lingkungan yang membuat proses
belajar lebih mudah berlangsung.
Memfasilitasi meliputi merancang lingkungan, mengorganisasikan sumbersumber, dan menyediakan peralatan yang kondusif untuk mendukung proses
pembelajaran sesuai kebutuhan, efektif, efisien dan menarik. Peristiwa belajar dapat
terjadi secara tatap muka atau lewat dunia maya, seperti microworld dan pendidikan
jarak jauh.

4. Learning (Pembelajaran)
Istilah Pembelajaran tidak mengandung arti seperti apa yang dikonotasikan 40
tahun yang lalu ketika pertama kali definisi AECT dikembangkan. Ada kesadaran
perbedaan yang tinggi antara sekedar penyimpanan informasi untuk tujuan pengujian
dan perolehan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang digunakan diluar kelas.
Menurut Lefrancois dalam Martinis Yamin Stategi & metode dalam model
pembelajaran berpendapat bahwa pembelajaran merupakan persiapan kejadiankejadian eksternal dalam suatu situasi belajar dalam rangka memudahkan pembelajar

belajar, menyimpan (kekuatan mengingat informasi), atau mentransfer pengetahuan


dan ketrampilan. [5]
Salah satu unsur kritis design pembelajaran adalah untuk mengidentifikasi tugastugas belajar dan memilih metode penilaian untuk mengukur pencapaian. Tugas-tugas
belajar dapat dikategorikan menurut berbagai taksonomi. Salah satu tipe belajar yang
disarankan oleh Perkins (1992), adalah penyimpanan informasi. Di sekolah dan
perguruan tinggi, belajar bisa dinilai dengan alat-alat test (pensil dan kertas) yang perlu
disimpan. Unit pembelajaran berbasis computer (seperti dalam system pembelajaran
terintegrasi) dapat memasukkan tes multiple-choice, matching (pencocokan), dan tes
dengan jawaban singkat sebanding dengan tes yang menggunakan kertas dan pensil.
Tujuan belajar bisa meliputi pemahaman serta daya ingat dalam belajar.
Penilaian yang memerlukan penyelesaian masalah bisa membuka jalan adanya
pemahaman dalam belajar. Berbagai bentuk penilaian lebih menantang bagi para
perencana karena mereka lebih intensive dalam menyusun dan mengevaluasi.

5. Improving (Meningkatkan)
Untuk sebuah bidang yang mengklaim dukungan publik harus bisa membuat
argumen yang masuk akal untuk menawarkan beberapa keuntungan kepada publik.
Argumen itu harus memberikan cara yang unggul untuk mencapai beberapa tujuan
yang berharga. Misalnya, koki yang mengklaim menjadi seorang kuliner professional,
mereka harus bisa menyajikan makanan yang lebih baik dari mereka yang bukan
spesialis dalam bidang masakan, lebih menarik, lebih aman, lebih bernutrisi, lebih cepat
dalam mempersiapkan, dan lainnya. Dalam hal teknologi pendidikan, meningkatkan
kinerja sering mensyaratkan keefektifan, yaitu suatu proses untuk membuat produk
berkualitas, perubahan dalam kemampuan terbawa dalam penerapan dunia nyata.
Efektif sering kali berdampak pada efisiensi, yaitu hasil yang dicapai dengan
penggunaan waktu, tenaga, dan biaya seminim mungkin. Namun apa yang dimaksud
dengan efisien sangatlah tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Jika anda ingin
mengemudi dari San Fransisco ke Los Angeles dalam waktu yang paling singkat,
Interstate Highway 5 merupakan jalan yang paling efisien. Namun, jika tujuan anda

sesungguhnya adalah untuk melihat pemandangan laut selama perjalanan, State


Highway 1 yang dipenuhi dengan hembusan angin sepanjang pantai, akan menjadi
lebih efisien. Demikian juga, perancang/perencana pembelajaran mungkin tidak setuju
pada suatu metode pembelajaran jika mereka tidak memiliki tujuan pembelajaran yang
sama. Untuk sebagian besar, gerakan pengembangan instruksional secara sistematis
telah didorong oleh perhatian terhadap efisiensi. Hal ini untuk membantu pelajar
mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya yang diukur oleh penilaian-penilaian
yang objective.
Konsep efisiensi digambarkan secara berbeda dalam pendekatan kostruktifis.
Dalam pendekatan ini, perencana/perancang pembelajaran lebih menekankan pada
daya tarik instruksi dan pada sejauh mana siswa di berdayakan untuk memilih tujuan
dan jalan mereka sendiri dalam belajar. mereka lebih suka mengukur kesuksesan
dalam istilah pengetahuan yang sangat dipahami, dialami, dan dapat diterapkan ke
dalam masalah-masalah di dunia nyata. Pihak-pihak yang telah menyetujui tujuan,
keefisiensian dalam mencapai tujuan akan dianggap sebagai nilai lebih.

6. Performance (Kinerja)
Performance mengacu pada kemampuan peserta didik untuk menggunakan dan
mengaplikasikan kompetensi baru yang telah dicapainya. Secara historis, teknologi
pendidikan selalu memiliki komitmen khusus untuk hasil. Teknologi pendidikan
dicontohkan dengan instruksi terprogram yaitu proses pertama yang akan diberi label
teknologi pendidikan. Materi instruksi terprogram dinilai sejauh mana pengguna
teknologi pendidikan dapat melaksanakan tujuan akhir setelah adanya instruksi. Tujuan
akhir dibentuk dalam hal kondisi sebenarnya dimana orang dilatih atau dididik, mereka
dinilai menurut seberapa baik mereka berfungsi dibawah kondisi ini.

7. Creating (Menciptakan)
Creating mencakup berbagai macam aktivitas, tergantung pada pendekatan
design yang digunakan. Pendekatan desain bisa berkembang dari pola pikir
pengembang yang berbeda seperti estetika, ilmiah, teknik, psikologis, prosedural atau

sistematis yang bisa digunakan untuk menciptakan materi serta kondisi yang diperlukan
untuk pembelajaran yang efektif.
Proses perancangan dan pengembangan dipengaruhi oleh berbagai macam
teknologi digital dan analog untuk menciptakan materi pembelajaran dan lingkungan
belajar. Yang diciptakan bukan hanya materi pembelajaran dan lingkungan belajar
sekitar, tetapi juga alat-alat yang mendukung sebagai database untuk managemen
pengetahuan.

8. Using (Pemanfaatan)
Unsur ini mengacu pada teori dan praktek untuk membawa peserta didik
berhubungan dengan kondisi dan sumber belajar. Dengan demikian, pemanfaatan
merupakan pusat tindakan, dimana solusi mengatasi masalah. Pemanfaatan dimulai
dengan penyeleksian proses serta sumber-sumber materi dan metode yang tepat, baik
dilakukan oleh peserta didik maupun seorang pengajar. Penyeleksian yang baik
didasarkan pada evaluasi materi untuk menentukan apakah sumber-sumber yang ada
itu cocok untuk para peserta serta tujuan yang ditetapkan atau tidak. Kemudian,
pertemuan peserta didik dengan sumber belajar terjadi dalam beberapa lingkungan
yang mengikuti beberapa prosedur, dan sering dibawah bimbingan seorang instructor,
dimana perencanaan dan pelaksanaan sesuai dengan label pemanfaatan. Jika sumber
daya melibatkan media asing atau metode, kegunaan mereka dapat diuji sebelum
digunakan.
Dalam pendekatan system, tim perancang juga akan bertanggung jawab
terhadap

perubahan

managemen,

mengambil

tahapan-hahapan

untuk

setiap

perkembangan yang meyakinkan stakeholder dan pengguna untuk menerima,


mendorong, dan menggunakan hasil akhir produk.

9. Managing (Pengelolaan)
Salah satu tanggung jawab profesional bidang teknologi pendidikan adalah tugas
mengelola media dan proses pengembangan pembelajaran dalam skala yang lebih
rumit dan besar. Sebagai contoh, program pendidikan jarak jauh yang berbasis pada

pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), teknologi pendidikan terlibat


dalam

pengelolaan

sistem

pengiriman,

yang

memerlukan

langkah-langkah

pengendalian mutu untuk memantau tindakan dan hasilnya untuk perbaikan secara
berkelanjutan

dalam

proses

pengelolaan

(manajemen).

Dalam

semua

fungsi

managerial, ada beberapa subfungsi managemen personal dan informasi yang


berkenaan dengan masalah-masalah pengorganisasian pekerjaan dan perencanaan
serta pengawasan proses informasi. Pengelolaan juga memerlukan program evaluasi.
Dalam pendekatan system juga memerlukan langkah-langkah pengontrol kualitas untuk
memantau hasil guna kelanjutan proses pengelolaan.

10. Appropriate (Tepat)


Istilah Teknologi yang tepat guna digunakan secara luas secara di dunia
internasional di bidang pengembangan masyarakat untuk merujuk pada alat atau
praktik yang merupakan solusi yang paling sederhana terhadap suatu

masalah.

Konsep ini tumbuh dari gerakan lingkungan tahun 1970-an, dipicu oleh buku
berjudul Small is Beautiful (Schumacher, 1975), di mana istilah itu diciptakan. Dalam hal
ini, teknologi yang tepat guna adalah mereka yang terhubung dengan pengguna dan
budaya lokal dan berkelanjutan sampai keadaan ekonomi lokal. Keberlanjutan ini
sangat penting dalam pengaturan negara-negara berkembang, untuk memastikan
bahwa solusi tersebut menggunakan sumber daya dengan hati-hati, meminimalkan
kerusakan lingkungan, dan akan tersedia untuk generasi mendatang.
Standar profesional AECT telah mengakui bahwa ketepatan memiliki dimensi
etika. Sebuah praktek atau sumber daya dikatakan tepat jika ia cenderung mampu
menghasilkan suatu hasil. Hal ini mengindikasikan sebagai suatu kriteria efektivitas
atau kegunaan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Sebagai contoh, sebuah
permainan simulasi berbasis komputer tertentu mungkin akan dipilih oleh seorang guru
ilmu sosial jika pengalaman masa lalu mampu mampu mendorong jenis diskusi yang
dimaksudkan. Ini akan dinilai tepat dalam hal kegunaan.

Ketepatan kadang-kadang digunakan sebagai upaya untuk menyensor buku


atau bahan instruksional lainnya. Singkatnya, pemilihan metode dan media harus dibuat
atas dasar praktek terbaik yang dapat diterapkan pada situasi tertentu.

11. Technological (Teknologi)


Dalam istilah leksikografi, tidak diinginkan menggunakan kata teknologi dalam
definisi teknologi pendidikan. Dalam hal ini, penggunaan itu dibenarkan karena
teknologi adalah sebuah istilah singkat yang mendeskripsikan sebuah pendekatan
aktivitas manusia berdasarkan definisi teknologi yaitu sebagai aplikasi ilmiah yang
sistematis atau pengetahuan lain yang diatur untuk tujuan praktek (Galbraith, 1967,
hal. 12). Teknologi merupakan cara berfikir yang diringkas secara rapi dalam satu kata.
Akan lebih janggal jika menguraikan konsep teknologi dalam definisi baru dari pada
hanya menggunakan istilah singkatan.
Istilah mengubah prosses dan sumber. Yang pertama, mengubah proses, ada
proses non teknologi yang dapat digunakan dalam merencanakan dan menerapkan
instruksi, seperti proses pembuatan keputusan oleh guru setiap hari yang sungguh
dapat berbeda dari mereka yang dianjurkan di bidang ini. Yang kedua, istilah juga
mengubah sumber, hardware dan software yang diperlukan dalam mengajar yaitu
gambar, video, audiokaset, satelit, program computer, DVD, dan sebagainya. Ini
merupakan aspek teknologi pendidikan yang paling diketahui oleh masyarakat.

12. Process (Proses)


Sebuah proses dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang diarahkan
untuk suatu hasil tertentu. Teknologi pendidikan sering menggunakan proses khusus
untuk merancang, mengembangkan, dan memproduksi sumber belajar, termasuk
dalam proses yang lebih besar pengembangan instruksional.

13. Resource (Sumber Daya)


Sumber belajar adalah pusat untuk identitas lapangan. Kelompok sumber daya
telah berkembang dengan inovasi teknologi dan pengembangan pemahaman tentang
bagaimana alat-alat teknologi dapat membantu peserta didik. Sumber daya dapat
berupa manusia, peralatan, teknologi, dan materi yang dirancang untuk membantu
peserta didik. Sumber daya dapat mencakup teknologi tinggi sistem TIK, sumber daya
masyarakat seperti perpustakaan, kebun binatang, museum, dan orang-orang dengan
pengetahuan khusus atau keahlian. Mereka termasuk media digital, seperti CD-ROM,
situs Web dan WebQuests, dan sistem pendukung elektronik kinerja (EPSS). Dan
mereka termasuk media analog, seperti buku dan materi cetak lainnya, rekaman video,
dan bahan audiovisual tradisional.
KESIMPULAN
Apa yang dikemukakan di sini adalah revisi definisi konsep teknologi pendidikan, yang
dikembangkan AECT atas definisi sebelumnya tentang defenisi teknologi pembelajaran
( Seels dan Richey , 1994) . Teknologi pendidikan dipandang sebagai suatu gagasan
yang lebih besar dari teknologi pembelajaran, pendidikan yang lebih umum dari
pembelajaran.

Konsep teknologi pendidikan harus dibedakan dari bidang dan profesi teknologi
pendidikan. Setiap kebenaran dapat dinilai secara terpisah dari yang lainnya dan dapat
dinilai dari kriteria yang berbeda.
Defenisi ini berbeda dari sebelumnya dalam beberapa pandangan. Pertama istilah
study sebagai penelitian yang dipandangan lebih luas dari berbagai bentuk informasi,
mencakup kebiasaan berpikir. Kedua, membuat sebuah tanggungjawab yang tegas
dengan

perbuatan

yang

etis.

Ketiga

sasaran

teknologi

pendidikan

adalah

memberikanfasilitas pembelajaran, sebuah pernyataan yang lebih sederhana dari


pengawasan atau penjelasan pembelajaran. Keempat, secara sengaja belajar
ditempatkan pada pusat defenisi untuk menunjukkan pentingnya belajar teknologi
pendidikan. Itulah tujuan memperkenalkan pembelajaran khususnya di lapangan
digabungkan dengan lapangan yang lain seperti informasi teknologi atau hasil
teknologi. Kelima, meningkatkan kinerja " menyatakan, pertama, kriteria kualitas ,

tujuan memfasilitasi pembelajaran lebih baik daripada yang dilakukan dengan


pendekatan

lain

selain

teknologi pendidikan. Keenam, menjelaskan fungsi utama lapangan ( penciptaan,


penggunaan, dan pengelolalaan) yang lebih luas, istilah teknis kurang dari definisi
sebelumnya

menurut

yang digambarkan dengan pandangan yang dipilih dari proses desain. Ketujuh, definisi
menetapkan bahwa alat dan metode dilapangan tersebut dicocok pengertiannya untuk
orang-orang dan kondisi yang mereka diterapkan . Akhirnya itu membuat atribut "
teknologi " secara tegas, dengan alasan bahwa alat-alat dan metode bukan alat
teknologi yang terletak luar batas-batas bidang .
Istilah meningkatkan dan penyesuain secara tegas dimasukkan defenisi dalam
menurut sentralitas nilai-nilai tersebut kepada makna inti teknologi pendidikan . Jika
pekerjaan lapangan tidak dilakukan " baik " olehprofesional daripada oleh amatir,
lapangan tidak memiliki pembenaran untuk pengakuan publik atau dukungan . Ini harus
mewakili beberapa keahlian khusus yang diterapkan dengan suara profesional . '

B. MEMFASILITASI PEMBELAJARAN
Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etika untuk memfasilitasi pembelajaran
dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan , menggunakan , dan mengelola
teknologi yang sesuai proses dan sumber daya.

Fokus di Pembelajaran
Definisi dimulai dengan proposisi bahwa "teknologi pendidikan adalah studi dan
praktek etis memfasilitasi Pembelajaran ...." menunjukkan bahwa membantu orang
untuk Pembelajaran adalah utama dan tujuan hakiki dari teknologi pendidikan. Semua
definisi AECT sejak 1963 telah menyebut Pembelajaran sebagai produk akhir dari
teknologi pendidikan.
Fokus pada pesan dan kontrol. Definisi tahun 1963 berpusat pada "desain dan
penggunaan pesan yang mengendalikan proses Pembelajaran" (Ely, 1963, hal 18).

Dalam versi ini, fokusnya adalah pada pesan, secara spesifik pesan yang
mengendalikan Pembelajaran.
Klaim manajemen Pembelajaran. Hoban (1965) mengamati bahwa "masalah
pusat pendidikan tidak belajar tetapi manajemen Pembelajaran, dan bahwa hubungan
Pembelajaran-mengajar adalah dimasukkan di bawah pengelolaan Pembelajaran"(hal.
124).
Fokus pada proses. Berbagai definisi yang diusulkan pada 1970-an terfokus
pada pengajaran, pemecahan masalah dan desain sistematis. Dan dalam definisi lain
periode itu, bidang ini digambarkan sebagai sebuah studi tentang cara sistematis yang
tujuan pendidikan dapat dicapai (Seels & Richey, 1994, hal 19).
The AECT (1977) dan Seels dan Richey (1994) definisi lebih terfokus pada
proses yang merupakan aktivitas kerja teknologi pendidikan. dan kemudian nama
proses Pembelajaran manusia sebagai tujuan akhir dari proses-proses tersebut tanpa
menentukan baik "mengendalikan" atau "memfasilitasi" Pembelajaran. Definisi tahun
1977 kembali ke ide "yang melibatkan" orang-orang dan sumber daya lain untuk
menganalisis masalah dan menerapkan solusi untuk masalah-masalah itu "terlibat
dalam semua aspek Pembelajaran manusia. Memfasilitasi Pembelajaran tidak
melibatkan organisasi kompleks, proses dan sumber daya termasuk orang-orang,
bahan, pengaturan, dan seterusnya. Tetapi memfasilitasi Pembelajaran menempatkan
penekanan pada peserta didik dan minat dan kemampuan mereka (atau cacat), bukan
pada entitas luar mengidentifikasi dan mendefinisikan "masalah" yang harus
dipecahkan. Dalam pandangan ini, peserta didik memiliki tanggung jawab lebih.
sebenarnya mendefinisikan apa yang akan masalah Pembelajaran serta pengendalian
internal mereka sendiri proses mental.
Definisi tahun 1994 Aktivitas kerja menghasilkan "proses dan sumber daya
untuk Pembelajaran tetapi definisi pusat tampaknya pada aktivitas kerja daripada di
didik atau Pembelajaran.
Pratanda definisi sebelumnya dan sekarang. Mengingat sifat umum bangsa,
manajemen dan kontrol dalam tahun 1970-an, agak mengejutkan bahwa definisi tahun
1972 dekat dengan saat ini: "Teknologi pendidikan adalah bidang yang terlibat dalam
fasilitasi proses Pembelajaran manusia ...." (Ely, 1972, hal 36). Memfasilitasi

dimaksudkan untuk menyampaikan pandangan kontemporer bahwa Pembelajaran


dikendalikan secara internal, bukan eksternal, dan bahwa agen eksternal dapat, yang
terbaik, mempengaruhi proses.
Untuk meringkas, semua definisi dalam satu atau lain cara menentukan bahwa
Pembelajaran adalah tujuan ke arah mana teknologi pendidikan ditujukan. Batasan
yang berlaku sekarang, seperti tahun 1972 , secara eksplisit mengadopsi istilah
memfasilitasi untuk menghindari tentang bagaimana Pembelajaran terjadi. Istilah ini
menunjukkan nama-muradif seperti mempromosikan, membantu, dan dukungan, yang
adalah agen eksternal - seperti guru - dapat dilakukan, sementara pemPembelajaran
sendiri benar-benar mengelola dan mengendalikan Pembelajaran mereka sendiri.
Tujuan tentang pembahasan memfasilitasi pembelajaran ini adalah untuk
menyajikan suatu kerangka kerja untuk berpikir tentang variabel yang terlibat dalam
memfasilitasi Pembelajaran melalui lensa berbeda perspektif ilmiah. Oleh karena itu,
bab ini menyajikan berbagai perspektif pada proses Pembelajaran-mengajar, mencoba
untuk memberikan gambaran yang seimbang perbedaan-perbedaan dalam terminologi
dan konsekuensi dari perspektif ini untuk teknologi pendidikan. Ini juga membahas
informal

dan

formal

kegiatan

Pembelajaran

dan

metode

pengajaran,

dan

mempertimbangkan penilaian dan evaluasi Pembelajaran peserta didik yang telah


dipermudah dengan menggunakan kegiatan ini.
1. Teori Pembelajaran dari Teori ke Instructional
Teori Pembelajaran mencoba untuk menggambarkan bagaimana manusia
Pembelajaran. Mereka memberikan penjelasan tentang apa yang merupakan elemen
kunci dalam proses mendapatkan pengetahuan dan kemampuan baru dan bagaimana
elemen-elemen tersebut berinteraksi. Sebagai contoh, behaviorisme diamati berfokus
pada peristiwa-peristiwa yang mendahului dan mengikuti perilaku tertentu, disimpulkan
cognitivism berfokus pada kondisi mental - rantai kegiatan intern yang terkait dengan
Pembelajaran. Teori Pembelajaran berguna untuk memperluas bahwa mereka
memungkinkan kita untuk mengartikulasikan isu-isu masuk akal dan untuk melakukan
penyelidikan untuk menguji hipotesis yang mengalir dari teori.

Banyak ahli teori Pembelajaran sendiri menetapkan dengan melompat ke


kesimpulan tentang implikasi pengajaran teori-teori mereka. Hal ini tidak mengherankan
bahwa banyak penganut lain Pembelajaran teori, mereka yakin deskriptif akurasi,
cepat-cepat bergegas untuk menguraikan implikasi praktis, yang mereka anggap
memiliki banyak preskriptif sebagai akurasi deskriptif. Ini penggabungan teori
Pembelajaran dan teori instruksional menyebabkan mandul argumen tentang manfaat
dari satu teori atau yang lain.
Pada saat ini, adalah konvensional untuk mengelompokkan berbagai teori
Pembelajaran menjadi tiga kategori: behaviorisme, cognitivism, dan konstruktivisme
( Ertmr & Newby, 1993). Kirschner, Sweller, dan Clark (2006) menunjukkan, "The
konstruktivis deskripsi Pembelajaran adalah akurat, tapi konsekuensi pengajaran yang
disarankan oleh konstruktivis tidak harus mengikuti" (hal. 78).
Suatu kesalahpahaman umum tentang "konstruktivis" teori mengetahui (bahwa
pengetahuan yang ada digunakan untuk membangun pengetahuan baru) adalah bahwa
guru seharusnya tidak pernah memberitahu siswa apa-apa secara langsung, tetapi,
sebaliknya, harus selalu memungkinkan mereka untuk membangun pengetahuan untuk
diri mereka sendiri.

2. Perspektif Apakah Konsekuensi


Bagaimana

menciptakan, menggunakan, dan mengelola sumber-sumber

Pembelajaran sangat tergantung pada keyakinan seseorang tentang bagaimana orang


Pembelajaran. Sebagai contoh, seorang guru diilhami oleh perspektif behavioris
diharapkan untuk menentukan apa yang pelajar sudah tahu, pilih tujuan yang sesuai
untuk Pembelajaran, memberikan petunjuk untuk membimbing mereka ke arah perilaku
yang diinginkan, dan mengatur reinforcers bagi orang-orang tentang perilaku yang
diinginkan. Di sisi lain, seorang guru yang diilhami oleh Montessori's (2004) perspektif
perkembangan yang diharapkan untuk menentukan status perkembangan yang anak
pilih dan aktivitas kerja yang sesuai, model kegiatan, dan langkah kembali ke pengamat
dan mendukung upaya anak untuk menguasai tugas baru tersebut .

Pandangan seseorang tentang bagaimana Pembelajaran terjadi juga dapat


mempengaruhi pengambilan keputusan tentang kebijakan pendidikan. Bila kita
menganggap Pembelajaran berada di bawah kontrol guru-percaya bahwa sama dengan
Pembelajaran-mengajar itu sepenuhnya masuk akal untuk mendukung kebijakan yang
membuat para guru secara langsung bertanggung jawab atas hasil tes siswa. Guru
adalah pekerja dan mahasiswa Pembelajaran adalah produk yang dihasilkan.
Asumsinya adalah bahwa jika guru "bekerja lebih keras" siswa akan Pembelajaran lebih
baik. Sebuah variasi dari pandangan ini adalah bahwa mahasiswa sebagai pelanggan,
sebuah metafora yang telah menjadi sangat populer di pendidikan tinggi dan pelatihan
perusahaan, sering disebut "mengajar berpusat pada peserta didik." Mahasiswa dilihat
sebagai penerima layanan yang diberikan oleh guru, mirip dengan memotong rambut.
Dalam pandangan ini, ajaran adalah sesuatu yang dilakukan untuk pelajar, jadi, jelas,
operator selular adalah orang bertanggung jawab atas hasilnya.

3. Pembelajaran yang ditetapkan dan dilihat dari berbagai perspektif


Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai " perubahan dalam kinerja manusia
atau potensi kinerja .... sebagai akibat dari pengalaman Pembelajaran dan interaksi
dengan dunia "(Driscoll, 2005, hal 9).
Behaviorisme dalam Teknologi Pendidikan
Skinner (1954) menjadi tertarik pada kemungkinan persyaratan instrumental
menerapkan Pembelajaran akademis. Analisisnya masalah kelompok tradisional
berbasis instruksi dan penemuan alat mekanis untuk Pembelajaran interaktif, disebut
sebagai "mesin pengajaran," mendapat perhatian nasional. Organisasi yang pedagogis
rangsangan, tanggapan, dan mesin reinforcers dalam mengajar diprogram dikenal
sebagai instruksi, dan diprogram instruksi pelajaran dalam format buku diterbitkan
dalam kelimpahan yang besar di tahun 1960-an. pada pertengahan tahun 1960-an,
Skninner (1965; 1968) dilihat diprogram instruksi sebagai aplikasi praktis dari
pengetahuan ilmiah untuk tugas-tugas praktis pendidikan dan sehingga ia merujuk
kepada strategi instruksional sebagai "teknologi pengajaran."

1). Pengajaran diprogram mesin dan instruksi.


Antara tahun 1960 dan 1970, fokus penelitian dari apa yang telah di bidang pendidikan
audiovisual beralih tajam terhadap pekerjaan mengajar diprogram mesin dan instruksi,
mendorong perubahan nama lapangan untuk teknologi pendidikan. Torkelson (197)
memeriksa isi artikel yang dipublikasikan dalam komunikasi AV Review antara tahun
1953 dan 1977 dan menemukan bahwa pengajaran topik mesin dan instruksi yang
diprogram jurnal mendominasi pada 1960-an. pada kenyataannya, antara tahun 1963
dan 1967, topik-topik ini mewakili pluralitas dari semua artikel yang dipublikasikan.
2). Diprogram bimbingan. Diprogram les dikembangkan untuk mengatasi beberapa
kelemahan diri diprogram bahan pengajaran, secara khusus, mereka yang terbatas
pada "pengetahuan tentang respon yang benar" sebagai reinforcer dan mereka benarbenar strategi ekspositoris.
3). Instruksi langsung. Direct Instruction (DI) adalah berbasis empiris, yang ditulis metode
instruksi untuk kelompok kecil; ia menyediakan berjalan cepat, konstan interaksi antara
siswa dan guru (Englemann, 1980). Walaupun tidak secara sadar berasal dari
behaviorisme, yang prosedur tampak berlaku behavioris resep, khususnya pelajar
kontinu tanggap atas petunjuk guru diikuti dengan penguatan atau perbaikan, yang
sesuai.
4). Sistem personalisasi Instruksi (PSI). F.S. Keller (1968) Sistem Personalized Instruction
(PSI), atau "Keller Plan," adalah metode untuk mengorganisir seluruh isi dari
keseluruhan program studi atau kurikulum. Subyek dibagi menjadi unit berurutan (dapat
bab dari buku teks atau diciptakan secara khusus modul) yang dipelajari secara mandiri
oleh peserta didik, terus berkembang dengan langkah mereka sendiri. Pada akhir unit,
peserta didik harus lulus uji kompetensi sebelum diizinkan untuk maju ke unit
berikutnya. Segera setelah ujian, mereka menerima pembinaan dari pengawas untuk
memperbaiki kesalahan. Prosedur ini akan melindungi siswa dari kebodohan dan jatuh
menumpuk semakin jauh di belakang jika mereka kehilangan titik kunci (Keller, FS,
1968). .
5). Instruksi dengan bantuan komputer (CAI). CAI awal mengikuti latihan dan praktek atau
menyerupai format tutorial terprogram instruksi: informasi unit-unit kecil diikuti dengan
pertanyaan dan respon siswa. Sebuah respon yang benar dikonfirmasi, sedangkan

respon yang salah mungkin cabang pelajar ke urutan perbaikan atau pertanyaan yang
lebih mudah.
Lebih Inovatif dan lebih banyka pelajar-program terpusat dikembangkan di
proyek TIC CIT di Universitas Brigham Young di tahun 1970-an. Program canggih ini
menghasilkan program yang suskes dalam komposisi matematika dan bahasa inggris.
Proyek PLATO di University of Illinois dimulai pada tahun 1961, yang bertujuan
untuk menghasilkan instruksi hemat murah jaringan menggunakan terminal dan bahasa
pemrograman yang disederhanakan untuk pengajaran, TUTOR. Sebagian besar
program-program awal pada dasarnya latihan dan praktek dengan beberapa derajat
percabangan, tetapi berbagai mata pelajaran ini dikembangkan di tingkat perguruan
tinggi. Seiring waktu, terminal di universitas-universitas terpencil terhubung ke
mainframe pusat dalam sistem operasi time sharing, tumbuh ke ratusan situs dan
ribuan jam materi yang tersedia di kurikulum perguruan tinggi. Seperti melanjutkan
pengembangan perangkat lunak, banyak sistem tampilan inovatif berkembang,
termasuk browser Web grafis. Dengan pengalaman dan dengan hardware yang lebih
mampu, lebih bervariasi macam strategi pengajaran menjadi mungkin, termasuk
laboratorium dan metode yang berorientasi penemuan.
Sistem yang dipelopori PLATO online forum dan papan pesan, e-mail, chat room,
instant

messaging,

layar

remote

sharing,

dan

permainan

multiplayer,

yang

menyebabkan munculnya apa yang mungkin pertama di dunia komunitas online


(Woollye, 1994). Itu terus tumbuh dan berkembang kanan sampai awal 2000-an,
memicu perluasan pengembangan CAI lokal dan menemukan ceruk di militer dan
pendidikan kejuruan.
Behaviorisme dan Memfasilitasi Pembelajaran.
Bagaimana behaviorisme berkontribusi untuk memfasilitasi Pembelajaran? Untuk
satu hal, teknologi berbasis behaviorisme menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk
mencapai keuntungan tes prestasi dramatis melalui kontrol berhati-hati untuk
kemungkinan di antara stimulus, respon, dan konsekuensi, seperti diklaim. Analisis
mendalam tentang tugas-tugas Pembelajaran, spesifikasi yang tepat tujuan, pembagian
konten ke dalam langkah-langkah kecil, memunculkan tanggapan aktif, dan

memberikan umpan balik kepada mereka tanggapan merupakan suatu formula sukses,
setidaknya untuk jenis tertentu tujuan Pembelajaran. Selain itu, proses perencanaan
pelajaran yang diperlukan untuk menghasilkan semacam ini melahirkan perencanaan
yang lebih besar metodologi yang sekarang dikenal sebagai desain sistem instruksional
(Magliaro, Lockee, & Burton, 2005)
Instruksi diprogram menunjukkan bahwa individu pemPembelajaran bisa secara
efektif dengan langkah mereka sendiri tanpa bimbingan seorang guru hidup,
membebaskan instruksi dari guru-sentris, kelompok berbasis paradigma. Dalam
melakukannya, hal ini juga membuat peserta didik aktif dalam proses Pembelajaran,
tidak berarti bahwa peserta didik telah menguasai proses, tetapi dalam arti bahwa
mereka perlu untuk merespon secara terang-terangan dan pada interval yang sering
merenung, yang mengharuskan mereka untuk tinggal terlibat dengan materi.
COGNITIFISME
Cognitivism adalah label untuk berbagai ragam teori-teori dalam psikologi yang
berusaha untuk menjelaskan fungsi mental internal melalui metode ilmiah. Dari
perspektif ini, pelajar menggunakan memori dan proses berpikir untuk menghasilkan
strategi serta menyimpan dan memanipulasi penggambaran mental dan ide.
1). Teori Piaget's.
Jean Piaget, seorang ahli biologi, menjadi sangat tertarik dalam melakukan proses
berpikir ilmiah, khususnya dalam pengembangan pemikiran, yang ia sebut "genetik
epistemologi." Melalui wawancara dengan anak-anak, ia mengembangkan teori bahwa
anak-anak membangun sistem klasifikasi dan coba agar sesuai dengan objek dan
peristiwa-peristiwa dari pengalaman sehari-hari mereka ke dalam kerangka kerja yang
ada (dia disebut asimilasi ini).
Ketika mereka menemui kontradiksi-hal yang tidak cocok-mereka diubah struktur
mental mereka (ia disebut akomodasi ini). Ketika ia meneruskan penyelidikan anakanak, ia mencatat bahwa ada periode dimana didominasi asimilasi, akomodasi
didominasi periode di mana, dan periode relatif kesetimbangan, dan bahwa periode ini

hampir sama di antara berbagai anak-anak, memimpin dia untuk menyimpulkan bahwa
ada tahap tetap perkembangan kognitif.
2).Teori pemrosesan informasi.
Teori pengolahan informasi, menggunakan komputer sebagai metafora dan pandangan
Pembelajaran sebagai serangkaian transformasi informasi melalui berbagai (hipotesis)
proses mental. Ini berfokus pada bagaimana informasi disimpan dalam memori. Dalam
teori ini, informasi dianggap diproses dalam serial, terputus ketika bergerak dari satu
tahap ke tahap berikutnya, dari memori sensorik, mendapat rangsangan eksternal dan
dibawa ke dalam sistem saraf, untuk memori jangka pendek, panjang jangka memori
(Atkinson & Shiffrin, 1968).
3). Teori skema.
Menunjukkan bahwa materi yang tersimpan dalam memori jangka panjang diatur dalam
struktur terorganisasi. Ausubel's (1963) mengusulkan bahwa subsumption teori
Pembelajaran

verbal

bermakna

melibatkan

superordinate,

representasi,

dan

kombinatorial proses yang terjadi selama penerimaan informasi. Proses utama


subsumption, di mana materi baru yang terintegrasi dengan ide-ide yang relevan dalam
struktur kognitif yang ada.Teori beban kognitif menggabungkan pengertian dari
pengolahan informasi dan teori-teori skema, mengusulkan bahwa siswa menjadi ahli
ketika mereka memperluas dan meningkatkan skemata mental mereka. Namun, untuk
skema akuisisi berhasil terjadi beban kognitif harus dikontrol saat memproses sedang
terjadi dalam memori kerja karena memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas
(Sweller, 1988).
4). Neuroscience.
Pendekatan yang neuroscience telah menjadi layak hanya dengan pengembangan
teknologi pencitraan yang memungkinkan kegiatan pengamatan neurologis. Ia
mencoba untuk memahami proses mental oleh lebih atau kurang observasi langsung
terhadap fungsi fisik otak dan sistem saraf. Leamnson (2000) menyediakan account
yang dapat diakses dari dasar biologis Pembelajaran, mengacu pada fungsi neuron,

dendrit, dan akson. Pembelajaran pada dasarnya terdiri dari menciptakan dan
menstabilkan koneksi sinaptik antara neuron. Dalam otak, lobus frontal adalah situs
utama pengorganisasian pikiran, dan lobus frontal berkomunikasi dengan sistem limbik,
situs emosi. Leamnson melihat pendidikan menjadi tantangan untuk membangkitkan
emosi yang mengilhami peserta didik untuk fokus pada tugas-tugas Pembelajaran (hal
39). Singkatnya, cognitivism berbeda dari behaviorisme dalam kepercayaan bahwa
proses mental internal dapat dan harus dipahami dalam rangka untuk memiliki teori
yang memadai proses Pembelajaran manusia.
Cognitivism dalam Teknologi Pendidikan.
Cognitivist lebih berfokus pada sisi presentasi Pembelajaran persamaan organisasi konten sehingga masuk akal untuk para pelajar dan mudah diingat.
Tujuannya adalah untuk mengaktifkan proses berpikir peserta didik sehingga materi
baru dapat diproses dengan rupa sehingga memperluas skemata mental peserta didik.
a). Media audiovisual.
Teknologi audiovisual, yang dapat merangsang banyak akal, menyediakan alat baru
untuk mengatasi keterbatasan buku pelajaran dan guru berbicara. Sejak awal gerakan
instruksi visual, yang diwakili oleh CF Hoban, C.F. Hoban, Jr, dan Zisman (1937),
bidang kosong perjuangan melawan verbalism atau hafalan . Lembah (1946), awal
penganjur lingkungan Pembelajaran yang kaya, memperluas pengertian instruksi visual
dengan mengusulkan dalam Cone of Experience bahwa pengalaman Pembelajaran
bisa jadi tersusun dalam sebuah spektrum dari konkret ke abstrak, masing-masing
dengan tempatnya yang tepat dalam perangkat . Resep-resep yang diberikan dalam
era ini cenderung diambil dari psikologi Gestalt, yang mencoba untuk menggambarkan
bagaimana manusia dan primata lain dirasakan rangsangan dan digunakan prosesproses kognitif untuk memahami dan memecahkan masalah.

Perspektif Gestalt,

dengan penekanan pada indra asli persepsi dan bagaimana manusia membangun
makna dari potongan-potongan informasi auditori dan visual, mempunyai daya tarik
yang besar bagi mereka dalam pendidikan audiovisual.

b). Pembelajaran visual.


Di bawah payung cognitivist konvensional, telah diusulkan untuk menjelaskan
bagaimana manusia membangun dan menafsirkan visual, menurut Anglin, Vaez, dan
Cunningham (2004). Selain itu, berbagai skema klasifikasi telah diusulkan untuk
berbagai keperluan tiga kategori besar; representasional (gambar yang mirip dengan
hal atau gagasan membayangkan), analogis (showing tahu objek dan menyiratkan
kesamaan dengan konsep yang tidak diketahui), dan sewenang-wenang ( grafik atau
diagram yang mencoba berpikir tentang sebuah konsep tetapi tidak secara fisik mirip
itu). Mengusulkan kategori lain yang berfokus pada fungsi mental yang lebih spesifik,
seperti hiasan, representasional (Carney & Levin, 2002; Lohr, 2003; Clark, R., & Lyons,
2004).
c). Auditori Pembelajaran.
Pembelajaran didasarkan pada pendengaran, juga telah diselidiki teori mengenai
pengolahan, penyimpanan, dan mengambil informasi pendengaran (Barron, 2004).
Barron's review penelitian tentang pendengaran, visual, dan verbal pengolahan
menunjukkan bahwa modalitas indera ini diproses secara berbeda di dalam otak (hal.
9570). Banyak variabel yang mempengaruhi penggunaan produktif bahan-bahan audio
dalam pengajaran, termasuk beban kognitif Situasi menjadi lebih kompleks ketika
mempertimbangkan

kombinasi

audio,

visual,

sebuah

informasi

verbal

dalam

Pembelajaran multimedia. Moore, Burton, dan Myers (2004) mencoba untuk meringkas
yang agak berbeda dari penelitian di beberapa saluran presentasi dengan mengamati
hal itu.
d). Multimedia.
Komputer menarik perhatian cognitivists. Pertama, format digital multimedia sekarang
dapat menampilkan lebih mudah dan lebih murah daripada yang mungkin dengan
eguipment analog sebelumnya. Learner penggunaan berbagai modalitas sensorik
seperti disajikan dalam komputer multimedia yang lebih mirip dengan sistem kognitif
manusia. Kedua, komputer dapat mengubah informasi dari satu sistem simbol yang
lain. Misalnya, Anda masukan data matematika dan komputer dapat mengubah data

tersebut

menjadi

graps.

Selain

itu,

kemampuan

hypertext

memungkinkan

menghubungkan komputer ide-ide, baik oleh penulis dan oleh peserta didik, Kozma dan
Johnston (1991), melihat pada kemampuan komputer:
" Dari penerimaan untuk pertunangan," bergerak dari penerimaan pasif kuliah untuk
lebih

aktif

terlibat

dilingkungan

yang

mendalam.

"Dari kelas untuk dunia nyata." Menyatakan bahwa teknologi dapat membawa
masalah dan sumber daya dari dunia nyata ke dalam kelas, dan dapat memungkinkan
siswa untuk Pembelajaran menjadi terfokus di luar lingkungan kelas
melalui

sumber

daya

dan

orang-orang

yang

memiliki

mereka
akses

web

"Dari teks ke beberapa representasi, 'memungkinkan penggunaan matematis, grafis,


auditori,

visual,

dan

sistem

lain,

bukan

hanya

simbol-simbol

verbal.

"Dari cakupan untuk penguasaan," dengan simulasi, permainan, dan latihan-latihan


dan program-program yang mendorong praktik berulang keterampilan dasar sampai
mereka

automatized.

"Dari isolasi ke interkoneksi," mengubah pengalaman pelajar dari soliter satu untuk
acollaborative

satu.

"Dari produk untuk proses," membantu siswa untuk terlibat dalam proses kerja dan
cara

berpikir

di

bidang

pilihan

mereka.

"Dari mekanika untuk memahami di laboratorium," memungkinkan siswa untuk


menggunakan simulasi komputer yang memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi
lebih hipotesis dan mencakup lebih banyak proses yang berbeda dalam waktu kurang
kurang waktu dan biaya. (Pp.16-18)
Cognitivism dan memfasilitasi Pembelajaran.
Bagaimana cognitivism berkontribusi untuk memfasilitasi Pembelajaran? Untuk
memulainya, kita harus mengakui keterbatasan cognitivist teori ini dimaksudkan untuk
diterapkan ke dalam Pembelajaran domain kognitif pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
evaluasi, dan metacognition. Hal ini jauh lebih sedikit untuk mengatakan tentang
keterampilan motorik atau sikap kecuali menganggap unsur-unsurkognitifketerampilanketerampilan.

Cognitivism's penekanan pada susunan konten untuk membuatnya bermakna,


dipahami, diingat, dan menarik perhatian untuk masalah desain pesan. Cognitivist
resep mencakup pelajar yang menunjukkan bagaimana pengetahuan baru yang
terstruktur (misalnya, lanjut panitia), memanggil perhatian mereka pada fitur menonjol
dengan menyatakan tujuan-tujuan, materi ke unit dicerna, meletakkan teks untuk
memudahkan pemahaman, dan melengkapi teks dengan membantu visualisasi (Silber,
KH & foshay, 2006 hal 374)
Kedua teori pengolahan informasi dan teori skema menyarankan bahwa urutan
langkah-langkah mental adalah bagian penting untuk memfasilitasi Pembelajaran, jadi
instruksional teoretikus telah mengusulkan sejumlah pelajaran kerangka kerja atau
template untuk mengatur langkah-langkah kegiatan Pembelajaran (Molenda & Russell,
2006, hal 351-360). Contoh seperti kerangka pelajaran Gagne's (Gagne & Medsker,
1996 p.140). Peristiwa Instruksi, yang merekomendasikan rangkaian peristiwa khusus
untuk pelajaran yang sukses: (a) Laba pemPembelajaran perhatian dengan
mengatakan kepada atau mendramatisir alasan untuk menguasai keterampilan ini, (b).
kepada mereka dengan jelas apa yang mereka diharapkan dapat melakukan setelah
sesi Pembelajaran, (c). mengingatkan mereka tentang apa yang mereka sudah tahu
dan bagaimana pelajaran saat ini dibangun di atas itu; (d). menunjukkan keterampilan
baru atau menyajikan informasi baru; (e) membimbing peserta didik dalam penguasaan
konten dengan menyarankan mnemonic perangkat, mengajukan pertanyaan, atau
memberi petunjuk; (f). memberikan kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan
baru atau keterampilan; (g). selama latihan, mengkonfirmasi benar tanggapan atau
kinerja

yang

diinginkan

dan

memberikan

umpan

balik

untuk

membantu

pemPembelajaran mengatasi kesalahan; (h). menguji peserta didik telah menguasai


mereka sebaiknya dengan menggunakan pengetahuan baru, keterampilan, dan sikap
dalam masalah yang nyata atau simulasi situasi; dan (i). membantu para
pemPembelajaran mentransfer keterampilan baru mereka dengan memberikan
pekerjaan pada praktek atau simulasi latihan yang melibatkan beragam masalah.
Melakukan suatu pelajaran dalam urutan ini mencontohkan sebuah pendekatan
deduktif ekspositoris: memberitahu para pemPembelajaran "titik" konsep, aturan, atau
prosedur yang seharusnya untuk menguasai dan kemudian membiarkan mereka

menerapkan "titik" pada beberapa pengaturan praktek. Kadang-kadang sebuah


penemuan atau pendekatan induktif dapat diperinci, menempatkan latihan dan umpan
balik

(langkah

sebuah

g)

sebelum

menyatakan

tujuan,

tinjauan

sebelum

Pembelajaran, presentasi, dan bimbingan Pembelajaran (langkah b, c, d dan e).


Kerangka pelajaran lain berdasarkan teori instruksional cognitivist ditawarkan oleh
Foshay, KH Silber, dan Stelnicki (2003) dalam bentuk "model pelatihan kognitif."
Mereka merekomendasikan 17 spesifik taktik strategis diorganisir sekitar lima
fase: (1) memperoleh dan memusatkan perhatian, (2) menghubungkan dengan
pengetahuan, (3) mengatur konten, (4) asimilasi pengetahuan baru, dan (5)
memperkuat retensi dan transfer pengetahuan baru (hal. 29). Contoh dari taktik-taktik
yang direkomendasikan oleh Foshay et al. diperlihatkan pada Tabel 2.1. Lima tahap
mereka tumpang tindih dengan Gagne's (Gagne & Medsker, 1996)
Tabel 2.1. Contoh atau pengajaran yang dipilih taktik yang direkomendasikan dalam
model pelatihan kognitif.
Tahap Pembelajaran
1. Pilih informasi

Mendukung Taktik Instruksional


untuk E.g. kirim pelajar "Apa untungnya bagi

menghadiri

saya"
E.g. membandingkan

informasi baru

2. Link informasi baru pada dan pengetahuan yang ada.


pengetahuan yang ada

E.g. mempekerjakan "chunking" mengatur

3. Mengatur informasi

dan

membatasi

batas

pemrosesan

informasi
Eg
4.

Mengasimilasi

baru

dengan

menunjukkan

informasi kehidupan

pengetahuan

yang ada

pengetahuan

nyata

Menyimpan

E.g. memberikan praktek

mentransfer pengetahuan

dan

bagaimana

baru diterapkan

simulasi pengaturan
5.

contoh-contoh

nyata

atau

KONSTRUKTIFISME
Yang paling berbicara tentang perspektif Pembelajaran pada dekade terakhir
diberi label konstruktivisme. Sulit untuk ciri klaim konstruktivisme karena ada sejumlah
penggugat memeluk keragaman pandangan. Label itu sendiri diidentifikasi paling dekat
dengan diri berpendidikan filsuf, ahli logika, ahli bahasa, dan teori kognitif, Ernst von
Glasersfeld (1984), dimulai dengan risalah, pengenalan konstruktivisme radikal. Von
Glasersfeld

(1992)

berusaha

untuk

membangun

sebuah

epistemologi,

teori

pengetahuan, di mana "dunia pengalaman terbentuk dan struktur oleh sendiri yang tahu
cara dan sarana untuk memahami dan dalam pengertian dasar ini selalu subjektif dan
tidak dapat ditarikkembali.
Mendefinisikan Masalah Konstruktivisme
Konstruktivisme digunakan sebagai istilah umum untuk berbagai ide yang
diambil dari perkembangan terakhir di psikologi kognitif (yang tidak selalu bergantung
pada "epistemologi baru"). Piaget dan Vygotsky juga biasanya mengutip sebagai
formatif pengaruh pada perkembangan perspektif ini.
Vygotsky mengamati bahwa kemampuan mental dikembangkan menyeluruh
interaksi sosial anak dengan orang tua, tetapi juga orang dewasa lainnya. Melalui
interaksi ini, anak-anak Pembelajaran kebiasaan pikiran budaya mereka-pola bicara,
bahasa tertulis, dan pengetahuan simbolik lain yang mempengaruhi bagaimana mereka
membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Karena pentingnya pengaruh
sosial dan budaya dalam teori, itu disebut sebagai pendekatan sociolcultural
Pembelajaran dan cabang yang mengikuti teori ini sering disebut konstruktivisme sosial.
Analisis "konstruktivis didactics" oleh Terhart (2003) mencoba untuk mengurai mana
unsur-unsur teori didaktik constuctivist tergantung pada paradigma baru pendidikan
yang ditemui dalam literatur, dari prinsip-prinsip cognitivists. Di sisi lain, konstruktivisme
radikal "pada akhirnya akan membuat pikiran didaktik aktivitas iklan dalam mata
pelajaran

tertentu

mungkin

serta

secara

moral

tidak

sah"

(hal.33).

Terhart

menyimpulkan. Konstruktivis didactics benar-benar tidak punya ide-ide baru asli untuk

dipersembahkan kepada praksis mengajar. Sebaliknya, ia merekomendasikan metode


pengajaran dan pengaturan Pembelajaran diri, penemuan Pembelajaran, Pembelajaran
praktis, Pembelajaran kooperatif dalam kelompok. Saya berpikir bahwa konstruktivis
didactics

baru

pada

akhirnya

hanyalah

metode

pengajaran

lama

Dalam pandangan ini banyak berbeda-beda dan kadang-kadang bertentangan aliran


pemikiran, Driscoll (2005) menyimpulkan, "Tidak ada satu teori costructivist instruksi"
(p.386). Dia mengutip sebagai konstruktivisme's common denominator asumsi "bahwa
pengetahuan dibangun oleh peserta didik ketika mereka mencoba untuk memahami
pengalaman mereka" (p.387). Ini tumpang tindih dengan asumsi cognitivists.
perspektif konstruktivis adalah salah satu yang memegang "komando dataran
tinggi" di teknologi pendidikan penelitian dan pengembangan pada awal abad ke-21.
1). Konstruktivis Prescriptions.
Prinsip preskriptif berasal dari konstruktivisme menurut Driscoll (2005): "1. Embed
Pembelajaran yang kompleks, realistis, dan lingkungan yang relevan. 2. Menyediakan
negosiasi sosial sebagai bagian integral dari Pembelajaran. 3. Mendukung berbagai
perspektif dan penggunaan berbagai cara representasi. 4. Mendorong kepemilikan
dalam Pembelajaran. 5. Memupuk kesadaran diri dari proses konstruksi pengetahuan
"(hal. 394-395). Apa macam strategi instruksional berasal dari prinsip-prinsip ini?
terletak kognisi (yang berhubungan dengan magang kognitif), berlabuh pengajaran, dan
Pembelajaran berbasis masalah plus Pembelajaran kolaboratif
2). Terletak kognisi.
Teori terletak kognisi menekankan gagasan bahwa semua pikiran manusia yang
dikandung dalam konteks tertentu - suatu waktu, tempat, dan latar sosial, JS Brown,
Collins, dan Duguid (1989) menunjukkan bahwa Pembelajaran akademis terletak di
lingkungan kelas dan karenanya cenderung menjadi "pengetahuan diam", tidak
ditransfer dengan kehidupan di luar kelas. Teori ini menempatkan aspek sosial di
tengah proses Pembelajaran, melihat keahlian sebagai berkembang dalam komunitas
praktek

Kognitif magang, yang mewujudkan dua prinsip pertama yang dikutip oleh
Driscoll (2005), memberikan kerangka teoretis untuk proses membantu siswa menjadi
ahli melalui satu-ke-satu petunjuk.
3). Berlabuh instruksi.
The Cognition and Technology Group at Vanderbilt (CTGB) diperkenalkan berlabuh
instruksi sebagai strategi pada 1990-an untuk menggabungkan wawasan kognisi ke
kelas terletak instruksi. CTGB dikembangkan videodiscs interaktif yang memungkinkan
siswa dan guru untuk terjun ke dalam kompleks, masalah realistis yang membutuhkan
penggunaan prinsip-prinsip matematika dan sains untuk memecahkan.
4). Pembelajaran Berbasis Masalah.
Masalah mewujudkan strategi berbasis prinsip pertama, kompleks dan realistik
lingkungan, dan biasanya semua prinsip-prinsip yang lain juga. Konstruktivis
cenderung untuk merekomendasikan merendam pemPembelajaran dalam versi
Sederhana masalah untuk memulai dengan, bergerak ke arah versi lebih kompleks
sebagai pelajar menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk
mengatasi meningkatnya kompleksitas..
5). Collaborative Pembelajaran.
Negosiasi sosial (berasal dari teori Vygotsky dari sifat pengetahuan sosiokultural),
diwakili dalam Pembelajaran kolaboratif, yang termasuk di sebagian besar strategi
pengajaran konstruktivis dibahas sebelumnya. Komputer mendukung Pembelajaran
kolaboratif sekarang ini format yang paling menonjol. Roschelle dan Pea (2002)
berspekulasi bahwa perangkat genggam nirkabel akan memungkinkan berkembang ke
arah baru dari mereka mungkin di laboratorium komputer tradisional
Konstruktivisme adalah Teknologi Pendidikan.
Prinsip-prinsip Pembelajaran yang terlibat seperti yang dipromosikan oleh
(Tinzmann, Rasmussen, & Foertsch, 1999) meliputi banyak komponen konstruktivisme
dan penggunaan teknologi pendidikan sebagai alat untuk mencapai Pembelajaran.

Deskripsi Pembelajaran termasuk Penjelajah siswa, guru, murid kognitif, produsen


pengetahuan, dan direksi dan manajer dari Pembelajaran mereka sendiri. Guru adalah
fasilitator, panduan, dan colearners; mereka mencari pertumbuhan profesional, desain
kurikulum, dan melaksanakan penelitian. Tugas-tugas Pembelajaran yang autentik,
menantang, dan multidisiplin. Penilaian adalah otentik, berdasarkan kinerja, mulus dan
berkelanjutan, dan menghasilkan Pembelajaran baru.
Terlibat

Pembelajaran,

sebagaimana

dikembangkan

oleh

guru

melalui

penggunaan teknologi, yang bermanfaat ketika membantu siswa mencapai distrik


penting, negara bagian, dari standar nasional. Banyak guru telah Pembelajaran melalui
pendidikan awal mereka, pengembangan staf, atau penataran pendidikan untuk
merencanakan kegiatan siswa yang mewakili terlibat Pembelajaran, adalah otentik,
yang berharga, dan melibatkan prinsip-prinsip konstruktivis sementara pendidikan
menggunakan teknologi sebagai alat untuk Pembelajaran. Pendukung konstruktivisme
telah berulang kali mendorong perkembangan tersebut melalui teks dan artikel untuk
pendidik, berdasarkan cita-cita konstruktivis
Pendukung ini juga sering menunjukkan perubahan yang diperlukan dalam
metode Pembelajaran yang dinilai. Penilaian adalah ruang kelas tersebut juga harus
otentik dan terfokus pada kinerja, gunakan kegiatan kompleks dan bermakna,
didasarkan pada pengetahuan konstruksi dan bukan pengulangan fakta-fakta, dan
dapat dilakukan melalui observasi, presentasi, dan realistis, di dunia nyata berbasis
kegiatan ( Jonassen, Howland, Moore, & Marra 2003).
Konstruktivisme dan Memfasilitasi Pembelajaran.
Bagaimana

konstruktivisme

memberikan

kontribusi

untuk

memfasilitasi

Pembelajaran? Pertama, advokasi yang kuat yang dikemukakan oleh para pengikutnya
telah menangkap perhatian teknologi pendidikan. Sejak akhir 1980-an, percakapan
dalam teknologi pendidikan telah berkisar sekitar klaim konstruktivisme, berdebat jasajasa mereka dan membayangkan implikasinya.
Setidaknya, sejumlah inovasi sebelumnya, seperti instruksi berlabuh, problembased Pembelajaran (PBL), dan kolaborasi Pembelajaran, telah dipelajari sebagai
instantiations dari teori konstruktivis.

Memperingatkan muncul dari penelitian. Yang berlimpah penelitian dan


pengembangan telah memberikan hasil yang memungkinkan beberapa kesimpulan
yang dapat ditarik tentang kemanjuran dari metode ini untuk audiens yang berbeda dan
tujuan Pembelajaran. Salah satu sintesis paling jelas dari penelitian ini adalah yang
ditawarkan oleh Kirschner, sweller dan RW Clark (2006), yang memeriksa "minimal
petunjuk". Berbasis masalah atau pertanyaan-program berbasis sering diatur sehingga
peserta didik menjelajahi ruang bebas masalah, dengan sedikit bimbingan. Kirschner et
al. menemukan bahwa, bagi peserta didik yang berada pada tahap pemula atau
menengah, program-program semacam itu kurang efektif serta kurang efisien daripada
program-program dengan bimbingan instruksional yang kuat. Lebih jauh lagi, minimal
program dipandu "mungkin memiliki hasil negatif ketika siswa memperoleh konsep yang
salah atau tidak lengkap atau tidak teratur pengetahuan" (hal. 84). Mereka berhipotesis
bahwa lingkungan Pembelajaran minimal subjek membimbing peserta didik untuk
kognitif yang berat beban yang mengganggu penggunaan kemampuan pengolahan
kognitif mereka.
Dalam bidang kedokteran dan program studi ilmu pengetahuan, penyelidikan
pendekatan berbasis sering dibenarkan atas dasar bahwa pasukan pelajar untuk
"berpikir seperti ilmuwan." Kirschner et al (2006) menunjukkan, "cara dan pakar Mereka
bekerja dalam / nya domain (epistemologi ) tidak sama dengan cara seseorang
Pembelajaran di daerah itu (pedagogi) "(hal. 78). Jadi, secara konsisten hasil miskin
metode ini jika diterapkan pada peserta didik yang berada pada tahap pemula atau
menengah tidak boleh mengejutkan. Kembali ke proposisi asli von Glasersfeld, sebuah
"epistemologi baru" tidak perlu menyamakan dengan yang baru atau unik resep
instruksional
Singkatnya, sulit untuk mengidentifikasi teori Pembelajaran tertentu atau strategi
pengajaran sebagai konstruktivis tegas. Namun, metode pengajaran yang paling sering
menganjurkan dengan kedok t konstruktivisme tampaknya yang paling cocok untuk
memfasilitasi Pembelajaran untuk maju atau tujuan Pembelajaran yang kompleks
dikejar-kejar oleh peserta didik yang telah memiliki tingkat keterampilan tinggi dalam
domain.

Perspektif eklektif menggabungkan prinsip-prinsip dari teori yang berbeda, bisa


menghasilkan

perpaduan

yang

baik

dalam

prakteknya.

Secara

filosofi

mempertentangkan bersama doktrin-doktrin dapat menghasilkan teori yang tidak logis,


tapi secara prakteknya, elektisme sering dapat dimengerti. Para pendidik dapat dengan
mudah melihat bahwa teori yang berbeda pada Pembelajaran pada teori Pembelajaran
yang menawarkan petunjuk pada tujuan Pembelajaran yang berbeda. Teori-teori ini
tidak saling bertentangan satu dengan yang lain.Ertmer dan newby (1993)
menyarankan salah satu formula sederhana untuk menggabungkan perspektif teoristis
dibahas disini. Menggunakan perspektif behavioris dalam situasi dimana siswa
mempunyai level pengetahuan lebih rendah dan untuk tujuan Pembelajaran butuh
proses kognitif lebih renda; menggunakan perspektif kognitifis untuk level pengetahuan
sedang dan proses kognitif; dan dengan mempertimbangkan perspektif konstruktivis
pada situasi dimana siswa mempunyai level pengetahuan lebih tinggi, seperti pada
penyelesaian masalah yang kompleks pada masalah yang tidak terstruktur. (pp. 68-69)
Sementara semua tidak setuju dengan rekomendasi ini, ini digambarkan pada bagian
sintesis yang dapat mengalir dari pendekatan eklektik.
Sejak akhir tahun 1990an memayungi perspektif berbeda, khususnya pada
kognitifis dan konstruktifis, bertemu pendidikan yang berpusat pada siswa. Konsep ini
mendapat kepercayaan luas ketika ini disahkan oleh APA Badan/dinas urusan
pendidikan dalam bentuk 14 prinsip, ditunjukkan pada table 2.2. APA Pelajar berpusat
prinsip-prinsip psikologis.
1. Sifat dari proses pembelajaran
2. Tujuan dari proses pembelajaran
3. Konstruksi pengetahuan
4. Pemikiran strategis
5. Strategi berfikir
6. Konteks pembelajaran
7. Pengaruh motivasi dan emosional pada pembelajaran
8. Motivasi intrinsik untuk belajar
9. Pengaruh motivasi pada usaha
10. Pengaruh perkembangan pada pembelajaran

11. Pengaruh sosial pada pembelajaran


12. Perbedaan individu dalam pembelajaran
13. Pembelajaran dan keragaman
14. Standar dan penilaian
Prinsip-prinsip ini menunjuk pada kognitif dan meta kognitif, afektif dan motivasi,
perkembangan, sosial dan factor-faktor individu yang berbeda. Mereka adalah
berpusat pada siswa bahwa mereka berusaha mendapat implikasi Pembelajaran dari
penelitian pada proses Pembelajaran dan menganjurkanmenyesuaikan Pembelajaran
pada Pembelajaran individu. Daftar tersebut agak membingungkan dimana daftarnya
observasi (deskripsi) tentang proses Pembelajaran, tetapi itemnya menunjuk pada
prinsipnya secara tidak langsung saran petunjuk. Dalam beberapa peristiwa, APA
prinsip berpusat pada siswa memainkan peranan penting dalam pembentukan diskusi
tentang bagaimana memfasilitasi Pembelajaran diawal abad 21.
Pembelajaran Formal dan Informal.
Sampai sekarang kami mempunyai pendapat Pembelajaran menjadi formal, proses
yang terencana seperti dihubungkan dengan sekolah. Ini menarik untuk dicatat,
bagaimanapun definisi teknologi pendidikan dan tujuannya memfasilitasi Pembelajaran
yang tidak hanya terbatas pada proses formal. AECT (1977) definisi termasuk definisi
pemPembelajaran sebagai individu dipakai memperoleh keahlian baru, sikap atau
pengetahuan dengan serangkaian instruksi yang ditentukan dengan atau bermacam
stimuli acak (hal 209). Jadi Pembelajaran bisa diartikan dapat menjadi formal atau
informal, dan Pembelajaran lingkungan dapat terstruktur dan tidak terstruktur.
Ini penting mempertimbangkan Pembelajaran informal sebagai aspek yang
menonjol untuk teknologi pendidikan sebagi teknologi dan media berkelanjutan dan
memperluas kesempatan Pembelajaran untuk semua siswa disemua usia. Ini tidak bisa
dikatakan bahwa Pembelajaran terbanyak terjadi di sekolah/training. Individu dapat
dimotivasi Pembelajaran melalui Web, materi tercetakdan secara informal bertemu
dengan ahli dalam masyarakat. Pembelajaran informal ini tidak didesain dan dinilai oleh
pendidik, tetapi harus dipertimbangkan ketika kita membahas peranan memfasilitasi

Pembelajaransiswa pada semua umur dan aspek kehidupan. Pada dasarnya butuh
meningkatkan kesadaran sumber daya umum itu sendiri dan menindaklanjuti potensi
Pembelajaran mereka baik memotivasi dan menghasilkan kesempatan Pembelajaran.
Faktanya bahkan pada Pembelajaran formal, tidak hanya instruksi yang terncana
paling penting tapi juga factor kesuksesan dan kegagalan dalam Pembelajaran. Untuk
memudahkan pada situasi kompleks kita dapat mengatakan bahwa Pembelajaran
tergantung pada tiga factor yaitu kecerdasan, usaha dan Pembelajaran (Walberg.
19840 Mereka yang berasal dari level tinggi pada kemampuan aslinya. Kecerdasan
bisa sukses tanpa mencoba/ menerima kualitas Pembelajaran dengan susah. Atau
mereka memakai usaha keras bisa sukses bahkan jika mereka mempunyai kecerdasan
terbatas dan Pembelajaran biasa.
Oleh karena itu ini penting mengenali bahwa Pembelajaran tidak masalah
bagaimana didesain dan dijalankan dengan baik, adalah salah satu bagian persamaan
pembejaran, sering dialihkan kepada kemampuan perkembangan siswa, kebutuhan
dan minat mereka Pendesain Pembelajaran dapat mempengaruhi usaha melalui desain
motivasi- membuat materi semenarik dan serelevan mungkin dan menyusun total
Pembelajaran lingkungan. Sehingga siswa mempunyai harapan sukses dan mencapai
hasil memuaskan.(Keller, J.M.1987). Meskipun demikian, motivasi berasal dari ruang
kelas itu sendiri dan lebih dalam lagi pada waktu control pendesain Pembelajaran.
Melihat setting Pembelajaran sebagi total system dan melihat bagaimana bermacam
factor berinteraksi dibahas pada bab 3.
Media melawan Metode
Beberapa orang menggunakan media untuk meningkatkan Pembelajaran yang terlihat
hanya menanamkan isi kedalam format media lebih baru yang secara otomatis
meningkatkan keefektifannya. Asumsi ini sudah dipatahkan sejak R.E Clark (1983)
mengatakan bahwa fakta terbaik sekarang adalah media adalah kendaraan yang
mengantar Pembelajaran tetapi tidak mempengaruhi siswa lebih dari truk yang
mengantar kebutuhan pokok kita yang mengubah nutrisi kita (hal 445). Dia mendasari
kesimpulan ini pada beratus-ratus penelitian analisis.
Dari penelitian dimana presentasi Pembelajaran dalam satu format media
dibandingkan dengan presentasi data format berbeda. RE Clark menyimpulkan ini tidak

terlihat dimana media tetapi variable seperti metode Pembelajaran yang lebih
mengembangkan Pembelajaran (hal449).
Perdebatan

tentang

Media

melawan

metode

ramai

untuk

satu

decade.Perlawanan yang paling efektif oleh Kozma (1991) yang berpendapat bahwa
penelitian oleh R.E Clark (1983) didasarkan pada paradigma presentasi siswa melihat
atau mendengar untuk presentasi.
Kozma menyetujui bahwa, dibawah kondisi tersebut, format media yang berbeda
hanya membuat perbedaan dalam waktu dan biaya, tidak pada keefeltifan
Pembelajaran. Kozma mengusulkan bahwa bahwa hasil yang berbeda dapat
diharapkan dari paradigma Pembelajaran berbeda, salah satunya dimana media
digunakan sebagai alat oleh siswa, tidak sebagai presentasi. Dengan kata lain, bukan
Pembelajaran dari media (istilah clark), tetapi Pembelajaran dengan media (istilah
kozma) tahun sekarang. Sebagai penggunaan media lebih dan lebih mengarah pada
media digital, teknologi pendidikan melihat pada agenda peelitian baru, mempelajari
kemungkinan paradigma baru ini..
KESIMPULAN
Definisi teknologi pendidikan secara eksplisit akhir-akhir ini mengambil istilah
memfasilitasi Pembelajaran agar supaya menekankan pengertian bahwa Pembelajaran
dikontrol dan dimilki oleh siswa. Guru dan pendesain dapat dan memberi pengaruh
Pembelajaran, tetapi pengaruhnya adalah lebih pada fasilitatif daripada kausatif. Istilah
memfasilitasi Pembelajaran ditujukan sebagai tujuan bidangnya, tidak sebagai hasil
proses. Teori Pembelajaran dan instruksi yang berbeda menekankan pada variabelyang
berbeda pula pada proses Pembelajaran, Jadi memfasilitasi mempunyai makna yang
berbeda untuk masing-masing teori. Pengertian implikasi teori yang berbeda dipisahkan
oleh

praktek teori Pembelajaran dengan teori Pembelajaran bahkan secara

epistemologinya. Tujuan bab ini inti teori dipandang sederhana sebagai perspektif
berbeda

pada

pengajaran

dan

Pembelajaran

behaviorisme,

kognitifisme

dan

konstruktifisme yang masing-masing disarankan menarik dan penerapan teknologi


pendidikan yang sukses. Masing-masing telah ditambahkan pada keseluruhan
pengertian bagaimana orang Pembelajaran dan bagaimana Pembelajaran boleh
ditingkatkan. Ini mungkin memimpikan sebuah elektic memayungi penggunaan

berbagai kreatifitas dapat digabung menghasilkan lingkungan yang kaya untuk


Pembelajaran aktif.
Metode penilaian dan evaluasi berhubungan erat pada rantai implementasi yang
sukses pada inovasi instruksional pada behaviorisme, kognitifis atau konstruktifis. Jika
program inovatif berusaha keras pada tujuan lebih dalam, level lebih tinggi,
metakognitif/pengetahuan terapan, hasilnya tidak akan cukup dibuat oleh kertas dan tes
tertulis biasa.
Meskipun kebanyakan diskusi pada bab ini pada situasi Pembelajaran formal,
definisi sekarang ini juga dimaksudkan untuk menerapkan Pembelajaran informal.
Faktanya, salah satu alas an memilih definisi yaitu istilah teknologi pendidikan daripada
teknologi Pembelajaran, adalah pada pemakaian istilah dengan konotasi lebih luas agar
supaya membuat situasi Pembelajaran yang terencana dan spontan.
Kami menyimpulkan beberapa komentar tentang nilai yang mendasari
keseluruhan bab ini. Dalam memfasilitasi proses Pembelajaran, tanpa memperhatikan
perspektif teoritikal, praktek teknologi pendidikan benar-benar membantu/menghalangi
orang yang mencari Pembelajaran. Dengan kata lain kita melakukan apa yang kita
lakukan sebagai teknologi pendidikan tidak banyak memfasilitasi pembelaaran itu
sendiri tetapi memfasilitasi Pembelajaran yang ditujukan pada audiensi. Penekanan
perubahan ini dari proses untuk orang yang yang menunjukkanpeningkatan focus dan
kesadaran siswa sebagai inti aktifitas kita sebagai teknologi pendidikan. Ketika siswa
adalah fokusnya, tidak hanya tertuju pada hardware, desain atau materinya kemudian
ide memfasilitasi Pembelajaran juga harus focus pada siswa dan kemampuan juga
tanggungjawab mereka. Pemikiran berpusat pada siswa mengingatkan kita bahwa
intinya, Pembelajaran masih sebagai keanehan/sedikit aktifitas terkontrol yang tidak
lengkap. Sebagai instruktur dan pendesain kita mengambil keuntungan generalisasi
tentang orang dan cara mereka Pembelajaran. Dalam usaha kita memfasilitasi
Pembelajaran yang sebenarnya, kita harus mengakui perbedaan individu.
Kita mungkin tidak mampu selalu memfasilitasi Pembelajaran untuk orang
tertentu, tetapi kita tidak harus melupakan tujuan memfasilitasi Pembelajaran untuk
setiap

individu.

Fasilitas

menyarankan

kita

mengikuti

siswa

pada

setting.

Mempertimbangkan kontek dan lingkungan dan berusaha menghubungkan desain kita

terhadap aspek budaya dan sosial seperti kita mendesain/menciptakanPembelajaran


lingkungan.

Perbedaan

siswa

ditujukan

dan

Pembelajaran

didukung

dengan

penggunaan baik hardware dan software dan faktanya ini jadi tujuan penyatuan
teknologi ke Pembelajaran.
Prinsip Psikologi berpusat siswa
Dasar proses Pembelajaran: Pembelajaran masalah kompleks adalah paling
efektif ketika ini adalah proses pembentukan makna dari informasi dan pengalaman
yang disengaja.
Tujuan proses Pembelajaran : siswa yang sukses adalah dengan waktu banyak
dan dukungan dan petunjuk Pembelajaran dapat menciptakan hal yang bermakna,
gambaran pengetahuan yang logis.
Susunan Pengetahuan Siswa yang sukses dapat menghubungkan informasi
baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam cara yang berarti.
Strategi berfikir : Siswa yang sukses dapat menciptakan dan menggunakan
strategi berfikir dan alasan yang tersusun untuk meraih tujuan Pembelajaran yang
komplek
Pemikiran tentang berfikir : Strategi urutan lebih tinggi untuk menyeleksi dan
memonitor operasi mental kreatif dan berfikir kritis.
Kontek Pembelajaran : Pembelajaran dipengaruhi oleh factor lingkungan
termasuk budaya teknologi dan praktek Pembelajaran.
Pengaruh motivasi dan emosi pada Pembelajaran : apa dan bagaimana
Pembelajaran dipengaruhi oleh motivasi siswa. Motivasi untuk Pembelajaran, juga
dipengaruhi oleh emosi individu, kepercayaan minat dan tujuan dan kebiasaan berfikir.
Motivasi instrinsik (dalam) untuk Pembelajaran, kreatifitas siswa susunan berfikir
lebih

tinggi

dan

keingintahuan

alami

menyumbang

dalam

memotivasi

unuk

Pembelajaran. Motivasi instrinsik dirangsang oleh tugas-tugas baru yang optimal dan
kesulitan, relevan pada minat pribadi dan menghasilkan pilihan dan control pribadi.
Efek motivasi/akibat motivasi pada usaha : Penguasaan pengetahuan dan
keahlian yang komplek butuh usaha siswa yang besar dan praktek yang terinci. Tanpa
motivasi siswa ntuk Pembelajaran, kemauan memakai usaha ini tidak mungkin tanpa
paksaan.

Pengaruh

perkembangan

pada

Pembelajaran

Sebagai

individu

yang

berkembang ada kesempatan yang berbeda dan rintangan untuk Pembelajaran.


Pembelajaran paling efektif ketika perkembangan berbeda dan penjelasan pisik,
intelektual,
Pengaruh sosial pada Pembelajaran : Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi
sosial, hubungan interpersonal dan komunikasi dengan yang lain.
Perbedaan individu pada Pembelajaran : siswa mempunyai strategi yang
berbeda, pendekatan dan kemampuan untuk Pembelajaran yaitu fungsi dari
pengalaman dan keturunan sebelumnya.
Pembelajaran dan perbedaan : Pembelajaran lebih efektif ketika perbedaan
dalam bahasa siswa, budaya dan latar belakang sosial diperhitungkan.
Ukuran dan penilaian : Penyusunan standar nilai adalah bagian integral dari
proses Pembelajaran.

BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Definisi teknologi pendidikan disini adalah definisi yang paling baru diciptakan
oleh AECT. Teknologi pendidikan dipandang sebagai gagasan yang lebih besar
dibandingkan dengan teknologi instruksional, seperti pendidikan yang lebih umum
daripada instruksi. Selanjutnya, teknologi pendidikan atau teknologi instruksional dapat
dilihat sebagai elemen yang berbeda dalam kinerja teknologi. Pendekatan holistik

digunakan untuk meningkatkan kinerja di tempat kerja melalui sarana yang berbeda,
termasuk pelatihan.
Konsep teknologi pendidikan harus dibedakan dari jenis bidang dan profesi
teknologi pendidikan tersebut. Validitas dari masing-masing dapat dinilai secara
terpisah dari yang lain dan dapat dinilai dengan kriteria yang berbeda.
Definisi teknologi pendidikan ini berbeda dari yang sebelumnya dalam beberapa
hal. Pertama, istilah studi bukanlah penelitian, hal ini yang menyiratkan pandangan
yang lebih luas dari berbagai bentuk penyelidikan, termasuk praktek. Kedua, itu
membuat komitmen eksplisit untuk praktek etis (ethical practice).
Ketiga, obyek teknologi pendidikan adalah berperan sebagai pemfasilitas
belajar, sebuah pernyataan yang lebih sederhana daripada mengendalikan atau
menyebabkan terjadinya proses belajar.
Keempat, belajar ditempatkan di pusat definisi, untuk menyoroti sentralitas
belajar teknologi pendidikan.
Kelima, meningkatkan kinerja berarti sebagai kriteria kualitas.
Keenam, menjelaskan fungsi utama dari lapangan (penciptaan, penggunaan,
dan manajemen) yang lebih luas.
Ketujuh, menetapkan bahwa alat-alat dan metode lapangan menjadi tepat
guna, yang berarti bahwa alat-alat dan metode itu cocok untuk orang-orang dan
kondisi dimana mereka diterapkan.
Prinsip Psikologi berpusat siswa
Dasar proses Pembelajaran: Pembelajaran masalah kompleks adalah paling
efektif ketika ini adalah proses pembentukan makna dari informasi dan pengalaman
yang disengaja.
Tujuan proses Pembelajaran : siswa yang sukses adalah dengan waktu banyak
dan dukungan dan petunjuk Pembelajaran dapat menciptakan hal yang bermakna,
gambaran pengetahuan yang logis.
Susunan Pengetahuan Siswa yang sukses dapat menghubungkan informasi
baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam cara yang berarti.

Strategi berfikir : Siswa yang sukses dapat menciptakan dan menggunakan


strategi berfikir dan alasan yang tersusun untuk meraih tujuan Pembelajaran yang
komplek
Pemikiran tentang berfikir : Strategi urutan lebih tinggi untuk menyeleksi dan
memonitor operasi mental kreatif dan berfikir kritis.
Kontek Pembelajaran : Pembelajaran dipengaruhi oleh factor lingkungan
termasuk budaya teknologi dan praktek Pembelajaran.
Pengaruh motivasi dan emosi pada Pembelajaran : apa dan bagaimana
Pembelajaran dipengaruhi oleh motivasi siswa. Motivasi untuk Pembelajaran, juga
dipengaruhi oleh emosi individu, kepercayaan minat dan tujuan dan kebiasaan berfikir.
Motivasi instrinsik (dalam) untuk Pembelajaran, kreatifitas siswa susunan berfikir
lebih

tinggi

dan

keingintahuan

alami

menyumbang

dalam

memotivasi

unuk

Pembelajaran. Motivasi instrinsik dirangsang oleh tugas-tugas baru yang optimal dan
kesulitan, relevan pada minat pribadi dan menghasilkan pilihan dan control pribadi.
Efek motivasi/akibat motivasi pada usaha : Penguasaan pengetahuan dan
keahlian yang komplek butuh usaha siswa yang besar dan praktek yang terinci. Tanpa
motivasi siswa ntuk Pembelajaran, kemauan memakai usaha ini tidak mungkin tanpa
paksaan.
Pengaruh

perkembangan

pada

Pembelajaran

Sebagai

individu

yang

berkembang ada kesempatan yang berbeda dan rintangan untuk Pembelajaran.


Pembelajaran paling efektif ketika perkembangan berbeda dan penjelasan pisik,
intelektual,
Pengaruh sosial pada Pembelajaran : Pembelajaran dipengaruhi oleh interaksi
sosial, hubungan interpersonal dan komunikasi dengan yang lain.
Perbedaan individu pada Pembelajaran : siswa mempunyai strategi yang
berbeda, pendekatan dan kemampuan untuk Pembelajaran yaitu fungsi dari
pengalaman dan keturunan sebelumnya.
Pembelajaran dan perbedaan : Pembelajaran lebih efektif ketika perbedaan
dalam bahasa siswa, budaya dan latar belakang sosial diperhitungkan. Dan Ukuran dan
penilaian : Penyusunan standar nilai adalah bagian integral dari proses Pembelajaran.

2. SARAN
Dalam penulisan makalah ini banyak sekali terdapat kekurang, baik dari segi tata
bahasa, maupun pemberian contoh, oleh karena itu penulis sangat mengaharapkan
saran serta kritik dari pembaca untuk penyempurnaan dari makalah ini demi kemajuan
dunia pendidikan di indonesai, dan provinsi jambi khususnya.

Ishak Abdulhak, Deni Darmawan, Teknologi Pendidikan, ( Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2013), hal 109.
[2] Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011), hal 6
[3] Ibid
[4] Dewi Salma Prawiradilaga, Wawasan Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2012) hal, 37.
[5] Martinis Yamin, Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: Referensi, 2013),
hal 15.
[1]

DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, Ishak dan Darmawan, Deni. Teknologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013
Januszewski, A., & Molenda, M. Educational Technology. New York: Lawrence Erlbaum
Associates, 2008
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakara : Kencana Prenada Media
Group, 2011.
Prawiradilaga, Dewi Salma, Wawasan Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana Prenada Media
Group, 2012.
Yamin, Martinis, Strategi & Metode dalam Model Pembelajaran, Jakarta : Referensi (GP Press
Group), 2013.