Anda di halaman 1dari 4

Budidaya Teripang, Potensi Primadona Marikultur

(Bagian 1)
Teripang, makhluk hidup laut dengan tubuh menyerupai mentimun,
menjadi komoditas andalan marikultur karena bernilai ekonomis tinggi.
Tak hanya pasar domestik, teripang menjadi komoditas ekspor ke
mancanegara dengan harga yang menggiurkan.
Teripang merupakan hewan laut yang
memiliki sejuta manfaat. Dalam bahasa
Inggris, teripang dikenal dengan sebutan
sea cucumber (mentimun laut). Disebut
demikian karena bentuknya menyerupai
mentimun. Meskipun demikian, makhluk
hidup ini bukan termasuk kategori
tumbuhan, akan tetapi sejenis hewan
laut.
Khasiat teripang
Teripang sudah dikenal memiliki banyak
manfaat dalam dunia kesehatan. Hewan
yang dikenal dengan nama gamat ini
dapat mengobati luka, tonik ginjal,
jerawat, darah tinggi, tumor, kanker,
kista, stroke, dan menjaga kesehatan
jantung, kesehatan liver, menurunkan
kadar kolesterol dalam darah, dan
menambah kekuatan tulang.
Khasiat teripang yang tinggi tersebut
tidak
terlepas
dari
kandungan
proteinnya yang tinggi. Menurut peneliti
LIPI, Dr. Ir. Ahkam Subroto, M.App.Sc,
kandungan protein hewan tak bertulang
belakang ini dapat mencapai 86,8%.
Selain itu, teripang juga berkhasiat
mengobati penyakit gula (diabetes
mellitus). Lebih jauh lagi, Zaiton Hassan,
salah seorang professor peneliti dari
Universitas Putra Malaysia (UPM) dan MA
Kaswandi dari Universitas Kebangsaan
Malaysia,
memaparkan,
kandungan
asam dokosaheksanat (DHA) dalam
teripang dapat menurunkan kadar
trigliserida
dalam
darah,
yang
menyebabkan penyakit jantung. Peneliti
lainnya, Prof. Dr. Ridzwan Hashim dari

Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM),


mengungkapkan, kandungan protein
teripang mudah diuraikan oleh enzim
pepsin dalam tubuh manusia. sebagian
besar kandungan protein tersebut
berupa kolagen, zat yang berperan
besar dalam pertumbuhan tulang dan
kulit.
Di antara berbagai spesiesnya, teripang
emas (golden stichopus variegatus)
merupakan spesies teripang terbaik.
Pasalnya,
teripang
spesies
ini
mempunyai kandungan protein yang
sangat tinggi, hingga mencapai 86.8%.
Tak hanya itu, spesies ini memiliki
kandungan zat antiseptic alami, kolagen
80%, Kondroitin, berbagai mineral,
omega 3, 6 dan 9, Mukopolisakarida,
Glucosaminoglycans. Di samping itu,
teripang/gamat juga memiliki zat anti
kanker alamiah.
Komoditas ekspor andalan
Dengan
berbagai
khasiatnya,
tak
mengherankan jika teripang menjadi
komoditas komersial bernilai ekonomi
tinggi yang banyak dicari di pasar. Di
pasar lokal, harga teripang berada pada
kisaran Rp 30.000 Rp 150.000 per kg,
jumlah yang menggiurkan. Tak hanya
dalam negeri, hewan laut ini menjadi
komoditas ekspor ke berbagai negara.
Tercatat, beberapa negara tujuan ekspor
teripang antara lain Hongkong, China,
Korea,
Malaysia,
dan
Singapura.
Permintaan
untuk
pasar
ekspor
diperkirakan berkisar 20.000 ton hingga
30.000 ton setiap tahunnya. Faktanya,

Indonesia masih menjadi


teripang terbesar di dunia.

produsen

Karena potensinya ekonominya, teripang


menjadi salah satu komoditas bernilai
ekonomi tinggi dalam pembangunan
poros maritim yang dikembangkan
Dirjen
Perikanan
Budidaya
KKP.
Potensinya
dipandang
dapat
meningkatkan
taraf
hidup
dan
pendapatan
masyarakat
melalui
pengembangan budidaya komoditas
perikanan laut (marikultur).
Dari tahun ke tahun, produksi teripang
mengalami
kenaikan
sebagai
konsekuensi permintaan pasar yang kian
meningkat. Pada tahun 1994, produksi
teripang Indonesia baru mencapai
1.318.000
kg.
satu
dasawarsa
berikutnya, berdasarkan data dari Dirjen
perikanan Budidaya, produksi teripang
melonjak menjadi 42 ton dalam kurun
waktu 1 tahun (2004). Kenaikan
produksi ini tidak terlepas dari adanya
usaha budidaya jaring apung teripang di
lepas pantai. Terang saja, jika tanpa
budidaya,
produksi
teripang
yang
mengandalkan
tangkapan
alam
jumlahnya
kian
menurun. Namun,
dengan
adanya
praktik
budidaya
marikultur teripang, produksinya di
masa mendatang akan jauh lebih besar
lagi.
Potensi marikultur teripang
Karena penangkapan yang semakin
intensif, jumlah teripang hasil tangkapan
alam semakin menurun setiap tahunnya.
Kabar
baiknya,
teripang
dapat
dibudidayakan sehingga masyarakat
tidak hanya mengandalkan pasokan dari
alam.
Bagi
masyarakat
Indonesia,
praktik budidaya teripang ini bukan
barang baru. Terbukti, masyarakat di
Sulawesi
Selatan
sudah
lama
mempraktikkan budidaya teripang baik
di laut maupun di pantai. Tak hanya itu,

praktik inipun sudah lama dilakukan di


Sulawesi Tenggara (Kolaka); Papua,
Lampung dan Riau.
Mengingat habitatnya di air laut,
budidaya teripang dapat dilakukan baik
di laut maupun di kawasan pantai. Hal
ini menjadi keuntungan tersendiri bagi
Indonesia sebagai negara maritim.
Betapa tidak, sebagai negara kepulauan,
Indonesia memiliki wilayah laut yang
lebih
luas
dari
wilayah
daratan,
2
mencapai 5 juta km . Dengan panjang
garis pantai mencapai 100.000 km,
menempatkan Indonesia sebagai negara
dengan garis pantai terpanjang ke-2 di
dunia. Sudah tentu, potensi alam ini
menjadi peluang bagi rakyat Indonesia
untuk
memanfaatkannya
untuk
kesejahteraan.
Karakteristik teripang
Teripang termasuk ke dalam kelompok
hewan
tak
bertulang
belakang
(invertebrata Holothuroidea). Hewan
mirip mentimun ini bergerak lambat,
hidup di permukaan substrat yang
berpasir, lumpur berpasir, maupun
dalam terumbu. Lingkungan hidupnya
terbentang dari daerah pasang surut
hingga laut dalam, saat ini, sudah
ditemukan sebanyak 1400 jenis teripang
yang hidup tersebar di perairan laut
seluruh dunia.
Dari beberapa penelitian, diketahui
bahwa hewan laut ini hidup secara
berkelompok.
Sehingga,
padat
penebaran tinggi. Metode budidaya
teripang terbilang sederhana dan tidak
memerlukan teknologi dengan modal
besar. Hewan ini memakan ganggang
yang hidup di air, detritus, molusca kecil
yang melimpah.
Metode budidaya teripang
Metode budidaya teripang yang lazim
dipraktikkan masyarakat di antaranya

adalah proses penangkaran. Budidaya


dengan sistem penangkaran ini tidak
memerlukan biaya investasi dan modal
yang besar. Yang dibutuhkan hanya
kandang atau tempat yang terbuat dari
kawat anti karat yang dapat direndam di
dasar laut di daerah karang.
Proses penangkaran bertujuan untuk
membesarkan ukuran teripang hingga
mencapai ukuran konsumsi. Benihnya
biasanya
mengandalkan
tangkapan
alam. Meskipun demikian, sejak tahun
1992, Balai Budidaya Laut Lampung,
telah berhasil memijahkan teripang
putih (Holothuria scabra). Sehingga,
dengan adanya pasokan tidak hanya
mengandalkan dari tangkapan alam,
ketersediaan benih dapat menunjang
proses
budidaya
penangkaran/
pembesaran.
Beberapa spesies teripang telah dikenal
memiliki
nilai
ekonomis
karena
manfaatnya bagi manusia. beberapa
spesies tersebut di antaranya adalah
teripang putih (Holothuria scabra),
teripang koro (Microthele nobelis),
teripang pandan (Theenota ananas),
teripang dongnga (Stichopu ssp). Jenis
teripang yang termasuk dalam kategori
utama, relatif mahal, yaitu teripang
pasir atau teripang putih, holothuria
scabra, teripang susuan h. nobilis dan h.
fuscogilva, teripang nenas thelenota
ananas.
Di Indonesia sendiri, sejauh ini telah
ditemukan
sebanyak
tiga
genus
teripang, yaitu Holothuria, Muelleria,
dan Stichopus. Dari 3 genus tersebut,
jenis teripang yang mempunyai prospek
untuk pembudidayaan di Indonesia H.
scabra, yang lebih dikenal dengan nama
teripang pasir, teripang putih atau
teripang kapur (teripang susu). Di
habitat aslinya, jenis teripang ini banyak
ditemukan dalam perairan jernih dengan

dasar berpasir, sekitar terumbu karang,


atau serpihan batu karang.
Pemilihan lokasi
Kriteria pemilihan tempat yang baik
untuk budidaya teripang:
-

Tempat yang terlindung dari arus


dan gelombang yang kuat. Selain
itu, tempat budidaya juga terlindung
dari empasan ombak yang kuat dan
angin kencang.
Kedalaman perairan antara 50 150
cm ketika terjadi pasang surut.
Area budidaya mempunyai sirkulasi
air yang lancar.
Teripang
memiliki
kemampuan
pengaturan osmotik yang terbatas,
sehingga tidak dapat bertahan hidup
dalam lingkungan perairan dengan
perubahan salinitas yang terjadi
secara drastis. Salinitas air yang
ideal untuk pertumbuhan optimum
adalah 30 33 ppt, tingkat
kecerahan air 50 150 cm, dan suhu
air 25 30oC.
Perairan
tidak
tercemar
dan
mempunyai
aksesibilitas
yang
mudah.
Dasar perairan dapat berupa pasir,
pasir berlumpur, berkarang atau
dasar yang ditumbuhi tanaman
lamun (rumput lindung).
Area tempat budidaya idealnya
ditumbuhi rumput laut (sea weed)
dan alang-alang laut (sea grass).

Metode budidaya yang lazim digunakan


saat ini adalah sistem kurungan pen
(pen culture). Dalam sistem ini, teripang
dimasukkan ke dalam wadah yang
menyerupai kandang. Terdapat tiangtiang kandang yang ditancapkan pada
permukaan dasar laut/ pantai. Setiap
tiang tersebut dihubungkan oleh jaring
sehingga
membentuk
persegi.
Fungsinya agar teripang tidak dapat
meloloskan diri dan agar hama yang lain

tidak dapat masuk ke dalam kandang


tersebut.
Disarikan dari beberapa referensi: Ir.
Rustam, M.Si, Ir. Joko Martoyo SM, Ir.

Nugroho
TjahyoWinanto, B.Sc. (noerhidajat)

Aji