Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.
Meskipun Indonesia mempunyai penduduk Islam terbanyak namun eksistensi umat
Islam di Indonesia baik dalam kehidupan berpolitik modern belum begitu besar. Hal
ini berbeda dengan apa yang terjadi pada masa sebelum kemerdekaan Republik
Indonesia, dimana umat islam mempunyai peran sentral dalam memperoleh
kemerdekaan dari tangan penjajah dan ikut serta dalam membangun Indonesia. Hal
diatas ditandai dengan Mohammad Natsir menjadi perdana mentri Indonesia.
Mohammad Natsir merupakan anggota dari Partai Masyumi (Majelis Syuro
Indonesia), dimana Masyumi merupakan partai berbasis Islam pertama di Indonesia.
Selain itu juga banyak anggota kabinet Nasir yang berasal dari partai Masyumi.
Namun setelah munculnya orde lama hingga masa reformasi eksistensi Islam
dalam dunia perpolitikan di Indonesia berkurang dibandingkan dengan masa
sebelumnya. Beberapa tanda yang mengindikasikan islam mulai kehilangan tempat
di Indonesia adalah dibubarkanya masyumi, dileburnya partai-partai islam pada
zaman orde baru menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan kalahnya partai
islam dalam setiap pemilu yang diadakan di Indonesia. Terdapat beberapa faktor
yang menyebabkan eksistensi islam mulai berkurang diataranya adalah adanya
intervensi pemerintah terhadap Islam yang disebabkan pengalaman masa lalu, kurang
cakapnya tokoh-tokoh Islam yang ada dibandingkan sebelumnya.
Umat islam yang selama ini dianggab sebagai sleeping giant telah mulai
menampakan eksistensinya setelah adanya kejadian penistaan agama yang
dituduhkan Oleh Petahana Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menistakan
surah Al-Maidah ayat 51. Akibat dari kejadian ini adalah adanya aksi damai 4
September 2016 yang diikuti oleh jutaan umat muslim dari seluruh Indonesia. Aksi
damai tersebut dapat menjadi salah satu pertanda bahwa umat Islam mulai
menunjukan eksistensinya dalam perpolitikan nasional.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada makalah ini diantaranya :
a) Tafsir Surat Al-Maidah 51
b) Kebangkitan Politik Islam
c) Al-maidah 51 dan Kebangkitan Politik Islam di Indonesia
1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah
a) Mengetahui tentang Tafsir Surat Al-Maidah 51
b) Mengetahu tentang kebangkitan politik islam
c) Mengetahui tentang Al-Maidah 51 dan kebangkitan poltik islam di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Surah Al-Maidah 51

Surat Al-Maidah (bahasa Arab: , al-M'idah, "Jamuan Hidangan") adalah


surah ke-5 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan
surah Madaniyah. Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini
diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa
Haji wada. Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para
pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk
mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112). Selain itu, Surah AlMa'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama
surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap
Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah
ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.
Dalam surah Al-Maidah dalam ayat 51 yang berbunyi




(51)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian); sebagian mereka adalah wali bagi
sebagian yang lain.
Allah S.W.T melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin mengangkat orangorang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali mereka, karena mereka adalah
musuh-musuh Islam dan para penganutnya; semoga Allah melaknat mereka.
Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi
sebagian yang lain. Selanjutnya Allah mengancam orang mukmin yang melakukan
hal itu melalui firman-Nya. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Kasir ibnu Syihab, telah menceritakan kepada kami Muhammad (Yakni Ibnu
Sa'id ibnu Sabiq), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Sammak
ibnu Harb, dari Iyad, bahwa Umar pernah memerintahkan Abu Musa Al Asyari untuk
melaporkan kepadanya tentang semua yang diambil dan yang diberikannya (yakni
pemasukan dan pengeluarannya) dalam suatu catatan lengkap. Dan tersebutlah bahwa

yang menjadi sekretaris Abu Musa saat itu adalah seorang Nasrani. Kemudian hal
tersebut dilaporkan kepada Khalifah Umar r.a. Maka Khalifah Umar merasa heran
akan hal tersebut, lalu ia berkata, "Sesungguhnya orang ini benar-benar pandai,
apakah kamu dapat membacakan untuk kami sebuah surat di dalam masjid yang
datang dari negeri Syam?" Abu Musa Al-Asy'ari menjawab, "Dia tidak dapat
melakukannya." Khalifah Umar bertanya, "Apakah dia sedang mempunyai jinabah?"
Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Tidak, tetapi dia adalah seorang Nasrani." Maka
Khalifah Umar membentakku dan memukul pahaku, lalu berkata, "Pecatlah dia."
Selanjutnya Khalifah Umar membacakan firman Allah S.W.T.: Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi wali (kalian).
(Al-Maidah:51), hingga akhir ayat Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan
kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, dari
Muhammad ibnu Sirin yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Atabah pernah
berkata, "Hendaklah seseorang di antara kalian memelihara dirinya, jangan sampai
menjadi seorang Yahudi atau seorang Nasrani, sedangkan dia tidak menyadarinya."
Menurut Muhammad ibnu Sirin, yang dimaksud olehnya menurut dugaan kami
adalah firman Allah S.W.T. yang mengatakan: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian).
(Al-Maidah : 51), hingga akhir ayat. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id
Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, dari Asim, dari Ikrimah, dari
Ibnu Abbas, bahwa ia pernah ditanya mengenai sembelihan orang-orang Nasrani
Arab. Maka ia menjawab, "Boleh dimakan." Allah S.W.T. hanya berfirman: Barang
siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang
itu termasuk golongan mereka (Al-Maidah: 51). Hal yang semisal telah diriwayatkan
dari Abuz Zanad.
2.2

Kebangkitan Politik Islam

Kebangkitan islam merupakan fenomena sosial yang berate kembalinya


kesadaran, kepekaan dirinya, kebanggaan dalam agamanya, idependensi dalam
politik, ekonomi, intelektual, dan berusaha untuk bangkit dengan peran alamiahnya
dalam membangun peradaban manusia, ditinjau dari posisinya sebagai bangsa terbaik
dimuka bumi yang dilahirkan untuk umat manusia. Taufik Abdullah dalam bukunya
Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara memberikan keterangan bahwa
kebangkitan dapat diartikan dalam tiga hal yaitu :
a) Kebangkitan Islam itu merupakan suatu pandangan dari kaum Muslimin sendiri
mengenai bertambahnya penganut agama Islam dari waktu ke waktu.
b) Kebangkitan Islam itu ada kaitannya dengan kebangkitan islam yang terjadi di
masa lalu.
c) Kebangkitan Islam bermakna suatu tantangan, bahkan bisa jadi suatu ancaman
bagi pengikut bagi orang-orang yang mempunyai pandangan lain diluar Islam.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadi kebangkitan Islam
diberbagai negara diantaranya :
a) Semakin luasnya hegemoni barat dalam seluruh kehidupan sosial, politik,
budaya di negara-negara Islam.
b) Adanya kesadaran intelektual muslim bahwa umat islam telah dijauhkan dari
nilai-nilai ajaran islam, sehingga mereka mengajak agar kembali kepada
tuntutan agama.
c) Adanya kekecewaan terhadap sistem barat yang diadopsi oleh pemerintah saat
ini yang belum memberikan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat.
Adapun usaha untuk memulihkan kembali kekuatan islam pada umumnya
didorong oleh dua faktor, pertama, pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing
yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam seperti gerakan Wahabiyah
yang dipelopori oleh Muhammad bin Abd al-Wahhab di Saudi Arabia, Syah
Waliyullah di India dan gerakan Sanusiyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Said
Muhammad Sanusi dari Aljazair.

Kedua adalah adanya pengembangan ilmu

pengetahuan yang diperoleh dari barat, hal ini terlihat dari pengiriman para pelajar

muslim oleh penguasa Turki dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu
pengetahuan dan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya karya barat dalam
bahasa mereka.
2.3 Al-maidah 51 dan Kebangkitan Politik Islam di Indonesia
Mulai bangkitnya umat Islam di Indonesia dilatarbelakangi banyak hal
diantaranya adanya intimidasi, pendiskriditan bahkan dijajah secara ekonomi dan
politik. Hal ini mencapai puncaknya ketik Gubernur DKI Jakarta diduga melakukan
penistaan agama dengan melakukan penghinaan terhadap Al-quran terutama surah Almaidah ayat 51. Hal tersebut diawali ketika Bapak Ahok melakukan orasi didepan
masyarakat Kepulauan Pramuka, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 tentang
masyarakat muslim yang tidak boleh memilih pemimpin muslim berdasarkan surah
Al-maidah 51. Hal tersebut akhirnya tersebar di dunia maya sehingga menimbulkan
gelombang protes umat Islam yang mengakibatkan aksi damai pada tanggal 4
September 2016 yang diiikuti oleh jutaan umat Islam di seluruh Indonesia. Aksi
damai ini menuntut agar pemerintah dapat melakukan proses hukum sesuai undangundang tentang penistaan agama yang telah dilakukan oleh Bapak Ahok.
Aksi damai yang telah dilakukan oleh umat Islam dari penjuru provinsi di
Indonesia, menimbulkan sinyalemen bangkitnya Islam di Indonesia hal ini ditandai
dengan banyak umat islam yang mengikuti aksi damai tersebut. Hal ini menandakan
bahwa islam memiliki potensi yang sangat besar yang potensi tersebut sering
diabaikan oleh para elit politik yang ada di Indonesia.
Kejadian yang dilakukan oleh Bapak Ahok memeberikan dampak positif
terhadap umat Islam itu sendiri yang pertama umat Islam yang awalnya banyak
berpaling dari Al-Quaran sekarang banyak yang membuka kembali. Kedua, umat
Islam mulai berani menunjukan identitas sebagai muslim dengan ikut serta dalam aksi
damai tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil penyusunan makalah ini bahwa adanya dugaan

penistaan agama melalui surat Al-Maidah 51 telah menunjukan bahwa umat islam

masih memiliki kemampuan untuk bangkit dan menunjukan eksistensi politik islam
di Indonesia seperti zaman paska kemerdekaan.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.iphi.web.id/2016/11/18/energi-al-maidah-dan-kebangkitan-umat-islamindonesia/
http://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2016/11/19/105638/energi-almaidah-dan-kebangkitan-islam.html