Anda di halaman 1dari 16

GULA RAFINASI

A. PENGERTIAN GULA

Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi
perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat.
Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula
sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam),
menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.
Gula merupakan hal paling banyak digunakan dan memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia. Berbagai makanan dan minuman menggunakan bahan dari gula untuk
pemanis misalnya dari makanan kue, biscuit, roti, martabak manis dll. Karena kebutuhan gula
semakin bertambah hanpir 95%, maka produksi gula pun semakin meningkat. Mengenai sejarah
negara-negara maju, gula sangat di perlukan selamanya, sehingga kebutuhan akan gula semakin
meningkat.
Industri gula merupakan indutri yang sangat strategis dan dapat menghasilkan pendapatan
yang sangat besar. Produksi gula dengan kualitas yang sangat baik, sangat diperlukan sehingga
didirikan pabrik gula Indonesia.

B.

PROSES KIMIA DALAM PEMBUATAN GULA

Proses kimia dalam pembuaan gula rafinasi terjadi pada tahap pembuatan nira(cairan hasil dari
penggilingan tebu) sebagai bahan untuk membuat raw sugar (bahan baku gula rafinasi) ,berikut
ini adalah tahap dari proses pembuatan raw sugar

1.

Proses Pembuatan Gula (Raw Sugar)

v Penggilingan(pemerasan tebu)
Langkah pertama dalam proses pembuatan gula adalah pemerasan tebu pada gilingan. Pada
proses ini
tebu yang di tebang dicacah menggunakan alat pencacah tebu., biasanya terdiri cutter,hammer

shredder atau kombinasi dari keduanya,berikut ini adalah gambarnya


kemudian tebu diperas untuk menghasilkan nira, setelah itu di lakukan proses pemurnian,

v Pemurnian
Setelah tebu diperas kemudian diperoleh nira mentah,(raw juice) lalu dimurnikan.dalam nira
mentahengandung gula, terdiri dari sukrosa,gula invert (glukosa+fruktosa) zat gula terdiri dari
atom2 (Ca,Fe,Mg,Al),pada proses pemurnian zat2 lain dipisahkan dengan zat yang mengandung
gula.
Proses pemurnian nira terdapat tiga buah jenis proses, yaitu:
1.

Defikasi

2.

Sulfitasi

3.

Karbonasi

Sebagian besar pabrik gula di indonesia menggukan proses sulfitasi, pada proses sulfitasi nira
mentah terlebih dahulu dipanaskan melalui (heat exchanger) sehingga suhu naik menjadi 70
C.kemudian dialirkan ke dalam defaktor dicampur dengan bahan kimia lain yiatu
,kapur,belerang,fosfat,soda dll.fungsi dari bahan tersebut yaitu untuk membentuk inti endapan
sehingga dapat mengadsorp bahan selain gula,pada proses defikasi dilakukan tiga kali tahapan
sehingga diperoleh ph akhir sekitar 8,5- 10 berikut reaksinya:

Ca2+ + HPO4(1)

>>

CaHPO4

Ca2+ + 2H2PO4(2)

>>

Ca(H2PO4)2

2CaHPO4 + 2Ca3(PO4)2
(3)

->>

Ca3(PO4)2 + 2Ca2+ + HPO42- + H2O


(4)

>>

Ca8H2(PO4)6
Ca5(PO4)3OH + 2H+

Setelah itu nira akan dialirkan kedalam sulfitator, dan direaksikan dengan gas SO2. Reaksi antara
nira dan gas SO2 akan membentuk endapan CaSO3, yang berfungsi untuk memperkuat endapan
yang telah terjadi sehingga tidak mudah terpecah, pH akhir dari reaksi ini adalah 7.
Tahap akhir dari proses pemurnian nira dialirkan ke bejana pengendap (clarifier) sehingga
diperoleh nira jernih dan bagian yang terendapkan adalah nira kotor. Nira jernih dialirkan ke
proses selanjutnya (Penguapan), sedangkan nira kotor diolah dengan rotary vacuum filter
menghasilkan nira tapis dan blotong.

v Penguapan
Hasil dari proses pemurnian adalah nira jernih (clear juice). Langkah selanjutnya dalam proses
pengolahan gula adalah proses penguapan. Penguapan dilakukan dalam bejana evaporator.
Tujuan dari penguapan nira jernih adalah untuk menaikkan konsentrasi dari nira mendekati
konsentrasi jenuhnya.
Pada proses penguapan menggunakan multiple effect evaporator dengan kondisi vakum.
Penggunaan multiple effect evaporator dengan pertimbangan untuk menghemat penggunaan uap.
Sistem multiple effect evaporator terdiri dari 3 buah evaporator atau lebih yang dipasang secara
seri. Di pabrik gula biasanya menggunakan 4(quadrupple) atau 5 (quintuple) buah evaporator.
Pada proses penguapan air yang terkandung dalam nira akan diuapkan. Uap baru digunakan pada
evaporator badan I sedangkan untuk penguapan pada evaporator badan selanjutnya
menggunakan uap yang dihasilkan evaporator badan I. Penguapan dilakukan pada kondisi vakum
dengan pertimbangan untuk menurunkan titik didih dari nira. Karena nira pada suhu tertentu ( >
1250 C) akan mengalamai karamelisasi atau kerusakan. Dengan kondisi vakum maka titik didih
nira akan terjadi pada suhu 700 C. Produk yang dihasilkan dalam proses penguapan adalah nira
kental

v Kristalisasi
Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal gula. Sebelum dilakukan kristaliasi dalam
pan masak ( crystallizer ) nira kental terlebih dahulu direaksikan dengan gas SO2 sebagai
bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan (nira). Dalam proses kristalisasi gula
dikenal sistem masak ACD, ABCD, ataupun ABC.
Tingkat masakan (kristalisasi) tergantung pada kemurnian nira kental. Apabila HK nira kental >
85 % maka dapat dilakukan empat tingkat masakan (ABCD). Dan apabila HK nira kental < 85 %
dilakukan tiga tingkat masakan (ACD). Pada saat ini dengan kondisi bahan baku yang rendah
pabrik gula menggunakan sistem masakan ACD, dengan masakan A sebagai produk utama.

Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan
airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus menerus koefisien
kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu pola kristal
sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit, yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam pan
masak kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal
harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun terbentuk tidak beraturan.
Setelah diperkirakan proses masak cukup, selanjutnya larutan dialirkan ke palung
pendingin(receiver) untuk proses Na Kristalisasi. Tujuan dari palung pendingin ialah :
melanjutkan proses kristalisasi yang telah terbentuk dalam pan masak, dengan adanya
pendinginan di palung pendingin dapat menyebabkan penurunan suhu masakan dan nilai
kejenuhan naik sehingga dapat mendorong menempelnya sukrosa pada kristal yang telah
terbentuk. Untuk lebih menyempurnakan dalam proses kristalisasi maka palung pendingin
dilengkapi pengaduk agar dapat sirkulasi

v Pemisahan (centrifugal proses)


Setelah masakan didinginkan proses selanjutnya adalah pemisahan. Proses pemisahan kristal
gula dari larutannya menggunakan alat centrifuge atau puteran. Pada alat puteran ini terdapat
saringan, sistem kerjanya yaitu dengan menggunakan gaya sentrifugal sehingga masakan diputar
dan strop atau larutan akan tersaring dan kristal gula tertinggal dalam puteran. Pada proses ini
dihasilkan gula kristal dan tetes. Gula kristal didinginkan dan dikeringakan untuk menurunkan
kadar airnya. Tetes di transfer ke Tangki tetes untuk di jual.

v Packing
Gula Produk dikeringkan di talang goyang dan juga diberikan hembusan uap kering. Produk gula
setelah mengalami proses pengeringan dalam talang goyang, ditampung terlebih dahulu ke dalam
sugar bin, selanjutnya dilakukan pengemasan atau pengepakan. Berat gula dalam pengemasan
untuk masing-masing pabrik gula tidak sama, ada yang per sak plastiknya 25 kg atau 50 kg.
Setelah itu gula yang berada di sak plastik tidak boleh langsung dijahit, harus dibuka dulu supaya
temperatur gula dalam sak plastik mengalami penurunan suhu/temperatur. Suhu gula dalam
karung tidak boleh lebih dari 30 oC/suhu kamar, setelah gula dalam plastik dinyatakan dingin
maka boleh dijahit. Jika gula dalam sak plastik dalam keadaan panas dijahit maka berakibat
penurunan kualitas gula.

2.

Macam macam Gula

gula terbagi kedalam beberapa macam berdasarkan warnanya yaitu :

1)

Raw Sugar

Raw Sugar adalah gula mentah berbentuk kristal berwarna kecoklatan dengan bahan baku dari
tebu. Untuk mengasilkan raw sugar perlu dilakukan proses seperti berikut : Tebu Giling Nira
Penguapan Kristal Merah (raw sugar). Raw Sugar ini memiliki nilai ICUMSA sekitar 600
1200 IU5. Gula tipe ini adalah produksi gula setengah jadi dari pabrik-pabrik penggilingan
tebu yang tidak mempunyai unit pemutihan yang biasanya jenis gula inilah yang banyak diimpor
untuk kemudian diolah menjadi gula kristal putih maupun gula rafinasi.

2)

Refined Sugar/Gula Rafinasi

Refined Sugar atau gula rafinasi merupakan hasil olahan lebih lanjutdari gula mentah atau raw
sugar melalui proses defikasi yang tidak dapat langsung dikonsumsi oleh manusia sebelum
diproses lebih lanjut. Yang membedakan dalam proses produksi gula rafinasi dan gula kristal
putih yaitu gula rafinasi menggunakan proses Carbonasi sedangkan gula kristal putih
menggunakan proses sulfitasi. Gula rafinasi memiliki standar mutu khusus yaitu mutu 1 yang
memiliki nilai ICUMSA < 45 dan mutu 2 yang memiliki nilai ICUMSA 46-806. Gula rafinasi
inilah yang digunakan oleh industri makanan dan minuman sebagai bahan baku. Peredaran gula
rafinasi ini dilakukan secara khusus dimana distributor gula rafinasi ini tidak bisa sembarangan
beroperasi namun harus mendapat persetujuan serta penunjukan dari pabrik gula rafinasi yang
kemudian disahkan oleh Departemen Perindustrian. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi
rembesan gula rafinasi ke rumah tangga.

3)

White sugar/ Gula Kristal Putih

Gula kristal putih memiliki nilai ICUMSA antara 250-450 IU. Departemen Perindustrian
mengelompokkan gula kristal putih ini menjadi tiga bagian yaitu Gula kristal putih 1 (GKP 1)
dengan nilai ICUMSA 250, Gula kristal putih 2 (GKP 2)dengan nilai ICUMSA 250-350 dan
Gula kristal putih 3 (GKP 3) dengan nilai ICUMSA 350-4507. Semakin tinggi nilai ICUMSA
maka semakin coklat warna dari gula tersebut serta rasanya pun yang semakin manis. Gula tipe
ini umumnya digunakan untuk rumah tangga dan diproduksi oleh pabrik-pabrik gula didekat

perkebunan tebu dengan cara menggiling tebu dan melakukan proses pemutihan, yaitu dengan
teknik sulfitasi. Berikut rangkaian prosesnya :

C.

PROSES PEMBUATAN GULA RAFINASI

PENGERTIAN GULA RAFINASI

Kata Rafinasi di ambil dari kata refinery artinya menyulin, meyaring, dan membersihkan. Jadi
bisa di katakan gula rafinasi adalah gula yang mempunyai kualitas kemurnian yang sangat tinggi.
Bedanya dengan gula lokal yaitu warna gula rafinasi lebih putih dan lebih bersih dan rasanya
lebih manis dibandingkan dengan gula lokal yang warnanya sedikit kotor dan kecoklatan.
Dengan proses pengolahan gula rafinasi ini sifatnya adalah kontinyu dengan bahan baku raw
sugar. Proses produksi terdiri dari beberapa tahap adalah : penanganan raw sugar, affinasi,
kristalisasi, centrifugal, drying,dan packing.
*

Penanganan Raw Sugar

Raw Sugar di bongkar dari bulk vessel kemudian di bawa dengan drum truck menuju pabrik,
setelah di timbang di weighbridge raw sugar di lewatkan pada Belt Conveyor dan Bellow Floor
Reclaim System yang akan membawa Raw Sugar menuju gedung proses.
Macam-macam Raw Sugar
Raw sugar merupakan bahan baku utama gula dalam bentuk Kristal dengan ukuran partikel yang
bervariasi dan masih banyak mengandung kotoran-kotoran yang terlarut dalam gula tersebut,
dengan warna kuning atau kecoklatan yang belum memenuhi standar industri pangan dan belum
layak untuk di konsumsi .

* Affinasi
Affinasi adalah proses penghilangan pengotor pada permukaan Kristal Raw Sugar dengan cara di
bawah ini:

Raw Sugar di campur dengan sirup pekat kemudian di aduk dalam magma mingler untuk
membersihkan permukaan Kristal raw sugar dari pengotor dan lapisan (film molasses ).
Kristal di pisahkan dari sirup dengan cara sentrifugasi, Kristal yang didapat di sebut Affined
Sugar. Selanjutnya affineed sugar dilarutkan pada melter dengan menggunakan sweet water
menjadi raw liquor.

Karbonisasi

Karbonisasi adalah proses penghilangan pengotor dalam Raw Liqour di campur dengan susu
kapur CaO kemudian di hembuskan dengan gas CO2 dari boiler sehingga membantu endapan
tersebut kemudian di saring sehingga menghasilkan filtrate yang di sebut Filtrate Liquor.

Filtrasi

Filtrasi adalah proses untuk memisahkan antara endapan dan filtrate yang bersih dalam
Carbonated Liquor. Filtrasi yang bersih di sebut dengan Leaf Sludge dip roses kembali pada
filter press untuk memisahkan antara Sweet Water dengan pengotor padat yang di sebut Filter
Cake.

Ion Exchanger Resin (penukaran ion)

Yaitu proses penangkapan ion warna yang ada dalam Leaf Filtrat hingga di peroleh Fine Liqour.
Filtrat Liquor selanjutnya di lewatkan pada Ion Exchanger Resin (IER) di mana dalam proses ini
terjadi pembersihan dari zat pengotor berwarna. Cairan dari proses dekolorisasi selanjutnya di
lewatkan pada Falling Film Evaporator untuk di pekatkan.

Evaporasi

Yaitu proses penguapan air dalam Fine Liquor yang di lakukan secara bertahap agar konsentrasi
dan kekentalan yang lebih tinggi yang di sebut thick liquor.

Kristalisasi

Yaitu proses pengkristalan gula (sukrosa) pada thick liquor pada pan kristalisasi dilakukan
bertingkat untuk mendapatkan Kristal sebanyak-banyaknya dan menekan kehilangan gula dalam
final molasses sekecil-kecilnya. Hasil dari proses krristalisasi di sebut Mascuite , dengan cara:
cairan pekat dari proses evaporasi pada proses sebelumya. Pada proses selanjutnya di pekatkan
lebih lanjut hingga terbentuk Kristal gula rafinasi dalam vacuum pan. Setelah Kristal mencapai
ukuran yang di inginkan, proses kristalisasi di hentikan.

Pemutaran Dryer and Coller

Pemutaran merupakan bagian dalam tahap proses gula rafinasi, pemutaran di laksanakan dalam
centrifugal untuk memisahkan antara Kristal dan larutan. Kristal gula rafinasi hasil setrifugasi
selanjutnya dikeringkan dalam rotary dryer yang di aliri udara panas lalu Kristal didinginkan
dalam rotary cooler.

Pengeringan

Pengeringan (Drying) adalah proses pemisahan air dari zat padat dengan memberikan panas yang
cukup untuk menguapkan air yang masih menempel pada gula. Gula yang dikeringkan tidak
boleh pada suhu tinggi harus di lakukan pendinginan terlebih dahulu. Oleh karna itu pengeringan
di ikuti dengan pendinginan. Pada pendinginan udara yang dingin atau udara atau udara yang
luar di hembuskan melewati lapisan gula untuk memisahkan air yang tidak terikat dan
mendinginkan pada suhu yang mendekati udara luar,
Dari semuua proses diatas didapatlah gula produk rafinasi.
Spesifikasi gula produk
Gula produk merupakan produk akhir dari proses rafinasi setelah melewati beberapa tahap
pemasakan dan penganalisaan. Maka, gula produk rafinasi ini dapat di golongkan berdasarkan
kualitas gula produknya, yaitu meliputi
R1 merupakan gula produkyang berkualitas tinggi
R2 merupakan gula produk yang brerkualitas sedang

packing (pengepakan)

Pengepakan adalah prses pengemasan gula produk yang di peroleh dari gula rafinasi yang telah
kering , selanjutnya diayak utuk memisahkan ukuran Kristal yang diinginkan.

Kristal gula rafinasi hasil pengayakan selanjutnya ditampung dalam sugar bin untuk selanjutnya
ditimbang dan dikemas dalam karung dengan berat 50kg atau 1 ton.
Pengepakan dibagi dari dua jenis kualitas produk, yaitu: R1 dikemas dengan karung cap tebu
merah, R2 dengan karung cap tebu hijau hasil pengemasan disimpan dalam gudang produksi.
Gula rafinasi yang berupa gula Kristal yang di hasilkan melalui proses rafinery (rafinasi).
Gula rafinasi di gunakan sebagai bahan pencampuran makanan dan minuman. Penjualan gula
rafinasi adalah dalam kemasan karung.

D. TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN ALAT

jawamanis menghormati lingkungan di mana ia beroperasi dan berkomitmen untuk proses


perbaikan berkelanjutan termasuk pemantauan kinerja dan review. Perusahaan akan mematuhi
semua persyaratan hukum untuk mencegah polusi.
Situs Jawamanis adalah terakreditasi "bendera biru" situs dalam hal Departemen Urusan
Lingkungan peraturan yang berarti kita diizinkan untuk mengoperasikan pabrik pengolahan air
limbah dan tidak mematuhi peraturan yang ditetapkan dalam jangka emisi dan pengelolaan
limbah bahan . Semua bahan limbah, padat, cair atau gas diperlakukan sesuai kebutuhan, untuk
kepuasan dari otoritas terkait.
Namun, Jawamanis bermaksud untuk menjadi "kerugian nol" situs dan dengan demikian,
Jawamanis memiliki departemen Pengelolaan Lingkungan yang mengelola aspek operasi setiap
hari. Juli 2011 Jawamanis telah mencapai standar ISO 14001 di seluruh situs serta membuat
perubahan fisik tanaman untuk memastikan bahwa emisi ke lingkungan luar yang praktis nol.
Kilang menggunakan sistem pembangkit listrik yang menghasilkan uap dan listrik. Gas alam
adalah bahan bakar yang digunakan dalam boiler untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi
untuk mengemudi pembangkit listrik alternator turbo. Uap knalpot dari alternator turbo kembali
digunakan untuk menyediakan uap proses dalam apa yang diakui sebagai salah satu proses yang
paling efisien bahan bakar yang tersedia. Efisiensi ini mengurangi penggunaan bahan bakar dan
emisi memastikan lingkungan yang dijaga agar tetap minimum. Listrik dari alternator turbo
cukup untuk memenuhi semua persyaratan kekuatan situs.

E.

HASIL PRODUK DAN PEMASARAN

a.

Hasil produk

Hasil produksi PT Jawamanis Rafinasi Yaitu Gula Rafinasi Yang tergolong menjadi merk yaitu:
1.

Merk jawamanis dari tebu merah (R1)

2.

Merk jawamanis dari tebu hijau (R2)

R1 dan R2 produk terutama dikemas dalam 50 kg karung polypropylene tas luar dengan
polietilen kapal batin dijahit di bagian atas dan bawah. Namun, di mana kebutuhan pelanggan
dan fasilitas memerlukannya, kita juga dapat memberikan massal setengah dalam 1 (satu)
kantong jumbo ton.
b.

Pemasaran

Untuk pemasaran PT Jawamanis,produk jawamanis dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan


industri farmasi, kualitas makanan internasional dan minuman manufaktur dan industri kecil dan
menengah.

F.

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH PABRIK GULA

Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau hasil samping, antara lain ampas,
blotong dan tetes. Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan bakar
ketel uap. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira kotor yang di tapis di rotary vacuum
filter, sedangkan tetes merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan gulanya
melalui kristalisasi berulangkali sehingga tak mungkin lagi menghasilkan kristal.

LIMBAH BAGASSE

Satu diantara energi alternatif yang relatif murah ditinjau aspek produksinya dan relatif ramah
lingkungan adalah pengembangan bioetanol dari limbah-limbah pertanian (biomassa) yang
mengandung banyak lignocellulose seperti bagas (limbah padat industri gula). Indonesia
memiliki potensi limbah biomassa yang sangat melimpah seperti bagas. Industri gula khususnya
di luar jawa menghasilkan bagas yang cukup melimpah.

Potensi bagasse di Indonesia menurut Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) tahun
2008, cukup besar dengan komposisi rata-rata hasil samping industri gula di Indonesia terdiri
dari limbah cair 52,9 persen, blotong 3,5 persen, ampas (bagasse) 32,0 persen, tetes 4,5 persen
dan gula 7,05 persen serta abu 0,1 persen.

Bagasse tebu (Saccharum officinarum L.) semula banyak dimanfaatkan oleh pabrik kertas,
namun karena tuntutan dari kualitas kertas dan sudah banyak tersedia bahan baku kertas lain
yang lebih berkualitas, sehingga pabrik kertas mulai jarang menggunakannya. Material bahan
organik yang dimiliki pabrik gula cukup banyak, sebagai contoh adalah limbah hasil proses
pasca panen di lapangan, yaitu klaras dan daun tebu, serta limbah proses pabrik gula, antara lain
blotong dan ampas tebu yang kadar bahan organiknya dapat mencapai di atas 50% (Unus, 2002).
Limbah padat pabrik gula (PG) berpotensi besar sebagai sumber bahan organik yang berguna
untuk kesuburan tanah. Menurut Budiono (2008), ampas (bagasse) tebu mengandung 52,67%
kadar air; 55,89% C-organik; N-total 0,25%; 0,16% P2O5;
dan 0,38% K2O.

Kompos adalah hasil dekomposisi biologi dari bahan organik yang dapat dipercepat secara
artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba (bakteria, actinomycetes dan fungi) dalam
kondisi lingkungan aerobik atau anaerobic. Hasil pengomposan campuran blotong, ampas
(bagasse) dan abu ketel diinkubasi dengan bioaktivator mikroba selulolitik selama 1 dan 2
minggu, kemudian diaplikasikan ke lahan tebu. Pemberian kompos 10 ton/ha mampu
meningkatkan bobot tebu sebanyak 16,8 ton/ha. Bioaktivator adalah inokulum campuran
berbagai jenis mikroorganisme (mikroba lignolitik, selulolitik, proteolitik, lipolitik, amilolitik,
dan mikroba fiksasi nitrogen non simbiotik) untuk mempercepat laju pengomposan bahan
organik . Bibit perombak Katalek merupakan bioaktivator pembuatan kompos yang diteliti
selama beberapa tahun akan keefektifan mikrobanya dalam mempercepat perombakan bahanbahan organik menjadi unsur hara yang berguna bagi tanah. Bibit perombak Katalek
mengandung 13 macam mikroba (diantaranya Bacillus, Lactobacillus, Pseudomonas,
Streptomyces, Clostridium, Aspergillus) yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi
limbah oirganik sampai berubah menjadi kompos. Sedangkan penggunaan bibit pengaya Katalek
yang terdiri dari beberapa mikroba diantaranya Azotobacter, Trichoderma, Aspergillus,
Pseudomonas) akan menghasilkan kompos yang lebih kaya akan unsur hara (N, P dan K)
sehingga dapat mempengaruhi produktivitas tanaman.

Pengembangan teknologi bioproses etanol dengan menggunakan enzim pada proses hidrolisisnya
diyakini sebagai suatu proses yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan enzim sebagai zat

penghidrolisis tergantung pada substrat yang menjadi prioritas, penelitian telah dilakukan untuk
mengantikan asam yaitu menggunakan jamur pelapuk putih untuk perlakuan awal kemudian
dengan menggunakan enzim selulase untuk menghidrolisis selulosa menjadi glukosa, kemudian
melakukan fermentasi dengan menggunakan S. cerivisiae untuk mengkonversi menjadi etanol.
Namun, pemanfaatan enzim selulase dan yeast S. cerivisiae tidak mampu mengkonversi
kandungan hemiselulosa pada bagas. Padahal sekitar 20-25% komposisi karbohidrat bagas
adalah hemiselulosa. Jika kita mampu mengkonversi hemiselulosa berarti akan meningkatkan
konversi bagas menjadi etanol. Material berbasis lignoselulosa (lignocellulosic material)
memiliki substrat yang cukup kompleks karena didalamnya terkadung lignin, polisakarida, zat
ekstraktif, dan senyawa organik lainnya. Bagian terpenting dan yang terbanyak dalam
lignocellulosic material adalah polisakarida khususnya selulosa yang terbungkus oleh lignin
dengan ikatan yang cukup kuat. Dalam kaitan konversi biomassa seperti bagas menjadi etanol,
bagian yang terpenting adalah polisakarida. Karena polisakarida tersebut yang akan dihidrolisis
menjadi monosakarida seperti glukosa, sukrosa, xilosa, arabinosa dan lain-lain sebelum
dikonversi menjadi etanol. Proses hidrolisis umumnya digunakan pada industry etanol adalah
menggunakan hidrolisis dengan asam (acid hydrolysis) dengan menggunakan asam sulfat
(H2SO4) atau dengan menggunakan asam klorida (HCl). Proses hidrolisis dapat dilakukan
dengan menggunakan enzim yang sering disebut dengan enzymatic hydrolysis yaitu hidrolisis
dengan menggunakan enzim jenis selulase atau jenis yang lain. Keuntungan dari hidrolisis
dengan enzim dapat mengurangi penggunaan asam sehingga dapat mengurangi efek negatif
terhadap lingkungan. Kemudian setelah proses hidrolisis dilakukan fermentasi menggunakan
yeast seperti S. cerevisiae untuk mengkonversi menjadi etanol. Proses hidrolisis dan fermentasi
ini akan sangat efisien dan efektif jika dilaksanakan secara berkelanjutan tanpa melalui tenggang
waktu yang lama, hal ini yang sering dikenal dengan istilah Simultaneous Sacharificatian dan
Fermentation (SSF). Keuntungan dari proses ini adalah polisakarida yang terkonversi menjadi
monosakarida tidak kembali menjadi poliskarida karena monosakarida langsung difermentasi
menjadi etanol. Selain itu dengan menggunakan satu reaktor dalam prosesnya akan mengurangi
biaya peralatan yang digunakan.

Seperti halnya pakan ternak dari limbah yang mengandung serat pada umumnya, bagas tebu
mempunyai faktor pembatas, yaitu kandungan nutrisi dan kecernaannya yang sangat rendah.
Bagas tebu mempunyai kadar serat kasar dan kadar lignin sangat tinggi, yaitu masing-masing
sebesar 46,5% dan 14%. Pendekatan bioproses dalam rumen melalui suplementasi amonium
sulfat dan defaunasi yang dilakukan pada kambing yang mendapat ransum berbahan dasar
limbah tebu belum berhasil meningkatkan produktivitas kambing. Pendekatan melalui teknik
pengolahan pakan sebelum pakan dikonsumsi akan dapat meningkatkan daya guna bagas tebu.
Rekayasa teknologi pengolahan pakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi
bagas tebu adalah teknik amoniasi dan fermentasi. Proses amoniasi akan melemahkan ikatan
lignoselulosa bagas tebu serta fermentasi telah terbukti dapat menurunkan kadar serat kasar dan

meningkatkan kadar protein kasar. Mikroba yang sering digunakan sebagai agen fermentasi
limbah yang mengandung serat kasar tinggi adalah kapang Trichoderma viride. Kapang tersebut
akan menghasilkan enzim untuk mencerna serat kasar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
pakan.

Teknologi pembuatan papan partikel dari ampas tebu PSUH 94-3 merupakan komponen
teknologi pemanfaatan hasil samping tebu. Kompo-sisi bahan dan teknologi pembuatan papan
partikel telah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) seperti terlihat pada tabel hasil uji coba.
Papan partikel dari ampas tebu dibuat dengan cara pengeringan, penggilingan, dan pe-nyaringan
ampas, pencampuran ampas dengan perekat, resin dan parafin wax serta pencetakan dengan
tekanan hidrolik pada kondisi tekanan 10 kg per cm2, suhu 150?C selama 15 menit. Perekat
terdiri dari urea formaldehide, hardener, ammonia, dan air.

LIMBAH BLOTONG

Salah satu limbah yang dihasilkan PG dalam proses pembuatan gula adalah blotong, limbah ini
keluar dari proses dalam bentuk padat mengandung air dan masih ber temperatur cukup tinggi <
panas >, berbentuk seperti tanah, sebenarnya adalah serat tebu yang bercampur kotoran yang
dipisahkan dari nira. Komposisi blotong terdiri dari sabut, wax dan fat kasar, protein kasar,gula,
total abu,SiO2, CaO, P2O5 dan MgO. Komposisi ini berbeda prosentasenya dari satu PG dengan
PG lainnya, bergantung pada pola prodkasi dan asal tebu.

Selama ini pemanfaatan blotong umumnya adalah sebagai pupuk organik, dibeberapa PG daur
ulang blotong menjadi pupuk yang kemudian digunakan untuk produksi tebu di wilayah-wilayah
tanam para petani tebu. Proses penggunaan pupuk organik ini tidak rumit, setelah dijemur selama
beberapa minggu / bulan untuk diaerasi di tempat terbuka, dimaksudkan untuk mengurangi
temperatur dan kandungan Nitrogen yang berlebihan. Dengan tetap menggunakan pupuk
anorganik sebagai starter, maka penggunaan pupuk organik blotong ini masih bisa diterima oleh
masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya, upaya pemanfaatan blotong sebagai pengganti
kayu bakar mulai dilirik setelah kampanye penggunaan energi alternaif didengungkan.
Pemanfaatan blotong sebagai kayu bakar, sebenarnya sudah lama dijalankan oleh masyarakat di
sekitar PG, hal ini diawali dari pengalaman mereka setelah melihat bahwa blotong bisa terbakar,

dan timbulah pemikiran untuk memanfaatkan blotong sebagai pengganti kayu bakar dengan cara
menghilangkan kadar air yang terkandung didalamnya.\ untuk memudahkan dalam
penggunaanya sebagai kayu bakar, mereka mencetak dalam ukuran yang mudah diangkut dan
sesuai dengan ukuran mulut kompor didapur mereka,

Proses pembuatan blotong pengganti kayu bakar sangat sederhana, limbah blotong dari pabrik
yang masih panas, diangkut dengan dump truk menuju lokasi pengrajin/pembuat blotong kayu
bakar, blotong ini kemudian dijemur di terik matahari selama 2 3 minggu dengan intensitas
matahari penuh. Sebelum total kering, lapisan blotong ini dipadatkan dengan tujuan untuk
mempersempit pori dan membuang sisa kandungan air, kemudian dipotong seukuran batu bata
untuk memudahkan pengangkutan. Setelah dirasa cukup kering pada satu permukaan, bata
blothong ini dibalik, supaya sisi lainnya juga kering. Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah
blothong seukuran batu bata yang bobotnya ringan karena kandungan airnya sudah hilang.
Penggunaan, untuk keperluan memasak di kompor tanah mereka, blothong kering tersebut masih
harus dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil menyesuaikan lubang pemasukan kompor. Dari
satu rit blothong tersebut, setelah diolah dan kering, kemudian dipindahkan ke dapur sebagai
cadangan kayu bakar. Cadangan blothong / kayu bakar ini cukup untuk memenuhi kebutuhan
memasak sampai dengan musim giling tahun depan.

Blotong dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein. Kandungan protein dari nira sekitar 0.5 %
berat zat padat terlarut. Dari kandungan tersebut telah dicoba untuk melakukan ekstraksi protein
dari blotong dan ditemukan bahwa kandungan protein dari blotong yang dipress sebesar 7.4 %.
Protein hanya dapat diekstrak menggunakan zat alkali yang kuat seperti sodium dodecyl sulfate.
Kandungan dari protein yang dapat diekstrak antara lain albumin 91.5 %; globulin 1 %; etanol
terlarut 3 % dan protein terlarut 4 %. Dengan demikian blotong dapat juga digunakan sebagai
pakan ternak dengan cara dikeringkan dan dipisahkan partikel tanah yang terdapat didalamnya.
Untuk menghindari kerusakan oleh jamur dan bakteri blotong yang dikeringkan harus langsung
digunakan dalam bentuk pellet

Pada saat ini pemanfaatan blotong antara lain sebagai bahan bakar alternative dalam bentuk
briket. Untuk pembuatan briket blotong dipadatkan lalu dikeringkan. Keuntungan menggunakan
briket blotong adalah harganyayang lebih murah daripada kayu bakar dan bahan bakar lain. Akan
tetapi untuk membuat briket ini diperlukan waktu cukup lama antara 4 sampai 7 hari
pengeringan, selain itu juga tergantung dari kondisi cuaca. Pada saat ini semakin banyak
masyarakat yang memanfaatkan blotong sebagai bahan bakar rumah tangga pengganti MITAN
dan kayu bakar. Kedepannya perlu ada kajian apakah briket blotong ini juga bisa digunakan
sebagai bahan bakar ketel sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.

Blotong dapat digunakan langsung sebagai pupuk, karena mengandung unsur hara yang
dibutuhkan tanah. Untuk memperkaya unsur N blotong dikompos dengan ampas tebu dan abu
ketel (KABAK). Pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau komposnya per
hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan. Kandungan hara kompos
ampas tebu (KAT), blotong dan komposdari ampas tebu, blotong dan abu ketel (KABAK)
disajikan pada Tabel

Tabel Hasil Analisis Kimia KAT, Blotong dan KABAK

LIMBAH TETES

Tetes atau molasses merupakan produk sisa (by product) pada proses pembuatan gula. Tetes
diperoleh dari hasil pemisahan sirop low grade dimana gula dalam sirop tersebut tidak dapat
dikristalkan lagi. Pada pemrosesan gula tetes yang dihasilkan sekitar 5 6 % tebu, sehingga
untuk pabrik dengan kapasitas 6000 ton tebu per hari menghasilkan tetes sekitar 300 ton sampai
360 ton tetes per hari. Walaupun masih mengandung gula, tetes sangat tidak layak untuk
dikonsumsi karena mengandung kotoran-kotoran bukan gula yang membahayakan kesehatan.
Penggunaan tetes sebagian besar untuk industri fermentasi seperti alcohol, pabrik MSG, pabrik
pakan ternak dll.

Secara umum tetes yang keluar dari sentrifugal mempunyai brix 85 92 dengan zat kering 77
84 %. Sukrosa yang terdapat dalam tetes bervariasi antara 25 40 %, dan kadar gula reduksi nya
12 35 %. Untuk tebu yang belum masak biasanya kadar gula reduksi tetes lebih besar daripada
tebu yang sudah masak. Komposisi yang penting dalam tetes adalah TSAI ( Total Sugar as
Inverti ) yaitu gabungan dari sukrosa dan gula reduksi. Kadar TSAI dalam tetes berkisar antara
50 65 %. Angka TSAI ini sangat penting bagi industri fermentasi karena semakinbesar TSAI
akan semakin menguntungkan, sedangkan bagi pabrik gula kadar sukrosa menunjukkan
banyaknya kehilangan gula dalam tetes.

Komposisi Tetes
Tetes merupakan bahan yang kaya akan karbohidrat yang mudah larut (48-68)%, kandungan
mineral yaqng cukup dan disukai ternak karena baunya manis. Selain itu tetes juga mengandung

vitamin B komplek yang sangat berguna untuk sapi yang masih pedet. Tetes mengandung
mineral kalium yang sangat tinggi sehingga pemakaiannya pada sapi harus dibatasi maksimal
1,5-2 Kg/ekor/hari. Penggunaan tetes sebagai pakan ternak sebagai sumber energi dan
meningkatkan nafsu makan, selain itu juga untuk meningkatkan kualitas bahan pakan dengan
peningkatan daya cernanya. Apabila takaran melebihi batas atau sapi belum terbiasa maka
menyebabkan kotoran menjadi lembek dan tidak pernah dilaporkan terjadi kematian karena
keracunan tetes.

Pembuatan bioethanol molase melalui tahap pengenceran karena kadar gula dalam tetes tebu
terlalu tinggi untuk proses fermentasi, oleh karena itu perlu diencerkan terlebih dahulu. Kadar
gula yang diinginkan kurang lebih adalah 14 %. Kemudian dilakukan penambahan ragi, urea dan
NPK kemudian dilakukan proses fermentasi. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66
jam atau kira-kira 2.5 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat
lagi adanya gelembung-gelembung udara. Kadar etanol di dalam cairan fermentasi kurang lebih
7% 10 %. Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam evaporator
atau boiler dan suhunya dipertahankan antara 79 81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap,
tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa
pengeluaran distilator. Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila
kadar etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi hingga kadar etanolnya 95%.
Apabila kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk
menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Setelah itu didistilasi lagi
hingga kadar airnya kurang lebih 99.5%.