Anda di halaman 1dari 5

Undang-Undang No 22 th 2001

KETENTUAN UMUM
AZAS DAN TUJUAN
o PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN
o KEGIATAN USAHA HULU
o KEGIATAN USAHA HILIR
o PENERIMAAN NEGARA
o HUBUNGAN KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS
BUMI DENGAN HAK ATAS TANAH
o PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
o BADAN PELAKSANA DAN BADAN PENGATUR
PENYIDIKAN
o
o

Isi

MODEL PEMBINAAN DAN PENGAWASAN


20

LANDASAN
1. Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah
Kabupatenl Kota sesuai dengan kewenangannya.
2. Menteri dapat melimpahkan kepada Gubernur untuk melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/ Kota
3. Menteri, Gubernur, dan Bupati/ Walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK
4. Gubernur dan Bupati/Walikota wajib melaporkan pelaksanaan usaha pertambangan di
wilayahnya masing-masing sekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan kepada
Menteri.
5. Pemerintah dapat memberi teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam pelaksanaan
kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dan ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya
PP 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan Mineral dan
Batubara
1 : Pembinaan terhadap penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan
Pasal 3-11

2 Pembinaan atas Pelaksanaan kegiatan Usaha


pertambangan
Pasal 12
3 Pengawasan terhadap penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan
Pasal 14-15
4 Pengawasan atas Pelaksanaan kegiatan Usaha
pertambangan
Pasal 16-34
5 Pelaksanaan pengawasan Pasal 36-37

PEMBINAAN & PENGAWASAN


Pembinaan : usaha, tindakan dan kegiatan yg
dilakukan secara efisien dan efektif untuk
memperoleh hasil yg lebih baik
Pengawasan : aktivitas yang dilaksanakan dalam
sistem manajemen dalam upaya memastikan
bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang
direncanakan
Pembinaan dan Pengawasan terhadap
penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan
(Dari pemerintah kepada Daerah)
Pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan
kegiatan usaha pertambangan (Dari
Pemerintah/daerah kepada pemegang
IUP/IUPK/IPR)

Undang-Undang No 4 th 2009
Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara terperincl dan teliti tentang lokasi, bentuk,
dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian,
serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.

Tahapan eksplorasi
Suatu eksplorasi geologi memerlukan
pentahapan tertentu.
Maksud dari pentahapan itu tidak lain
untuk mendapatkan data awal,
sedangkan tujuannya adalah untuk
mempercepat tercapainya sasaran
obyek penelitian.
Secara garis besar pentahapan eksplorasi
geologi tersebut adalah:
1. Tahap penelitian awal
2. Tahap penelitian lapangan
A. Recognize
B. Penelitian lanjut
(b-1). Pemetaan geologi permukaan
(b-2). Pemetaan geologi bawah

permukaan.
Penghitungan cadangan:

Parameter
Parameter yang harus diketahui didalam penghitungan cadangan antara lain:
Luas, dapat dihitung berdasarkan planimeter, perhitungan geometri, atau
dengan
software (jika peta telah didigitasi)
Ketebalan, dapat dihitung berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, dari
MS,
dari penampang geologi, maupun dari pemboran
Dari angka tebal dan luas akan didapat besarnya volume
Densitas, masa per volume sangat penting dalam perhitungan cadangan.
Beberapa
komoditas bahan galian harus diketahui beratnya (terutama bahan galian
logam),
sedangkan yang lain tidak harus (terutama bahan galian industri)
Kadar, perhitungan kadar diperlukan untuk jumlah bahan galian tertentu yang
berada atau bercampur material lain yang tidak berguna. Perhitungan kadar
sangat
penting terutama untuk bahan galian logam
15
MENGHITUNG CADANGAN
CADANGAN = VOLUME ATAU BERAT X KADAR
Contoh:
Berat bijih Au 20 ton
Kadar rata-rata Au 2 ppm (gr/ton)
Maka cadangan Au = 2 gr/ton x 20 ton = 40 gr
Volume bijih bentonit 5.000.000 m3
Kadar rata-rata bentonit dalam batuan 10%

Maka Volume bentonit = 5.000.000 m3 x 10%= 500.000 m3


Densitas bentonit rata-rata = 2,5 ton/m3
Maka cadangan bentonit = 500.000 m3 x 2,5 ton/m3 = 1.250.000 ton
KOREKSI CADANGAN
Selama proses pengukuran topografi, identifikasi bahan tambang,
kondisi geologi, proses penambangan, hingga transfortasi akan
menyebabkan jumlah nyata cadangan berbeda dengan pada saat
penghitungan awal. Jumlah cadangan yang terhitung harus
dikoreksi dengan faktor-faktor tersebut.
Contoh:
Koreksi tebal soil : 5%
Koreksi kesalahan pengukuran 5%
Koreksi kerusakaan dan kehilanganpada saat penambangan 10%
Koreksi kehilangan saat transportasi 5%

Penetapan WP akan menjadi dasar di dalam pelaksanaan


kegiatan pertambangan sehingga dapat memberikan
kepastian hukum dan berusaha.
Diharapkan agar Pemerintah Daerah segera menyampaikan
rencana WPR kepada Menteri dan Gubernur, agar WPR
tidak tumpang tindih dengan rencana WUP dan WPN.
Penetapan WPR dilakukan setelah WP ditetapkan oleh
Menteri.
PENETAPAN WP
1) Inventarisasi Data :
a. Formasi Pembawa Mineral dan Batubara
b. Potensi Mineral dan Batubara
c. Potensi Mineral Radioaktif
d. Eksisting KK, PKP2B, IUP dan IPR
e. Tata Guna Kawasan Hutan
f. Rencana Tata Ruang
3) Tumpangsusun (overlay) data WUP, WPN dan
WPR untuk penyusunan Peta Usulan WP
pada 7 Pulau dan Gugusan Pulau
2) Tumpangsusun (overlay) data dari poin a. s.d f.
untuk penyusunan Peta Usulan WUP, WPN dan
WPR

Berdasarkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,

Wilayah Pertambangan ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Pemerintah


Daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.
Kementerian ESDM telah menyusun Rancangan Wilayah Pertambangan (WP)
sesuai Pasal 9 UU No 4 Tahun 2009 Jo. Pasal 2 PP No 22 Tahun 2010 dan
disampaikan ke DPR dengan surat No 5265/30/MEM.B/2010 Tanggal 11 Agustus
2010 dan telah dilakukan 4 kali RDP terkait WP (tanggal 7 Februari 2011, tanggal
16 Juni 2011, tanggal 27 September 2011, dan tanggal 10 Oktober 2011).
Hasil konsultasi rancangan WP antara Pemerintah dengan DPR adalah dasar
untuk penetapan Wilayah Pertambangan.
Penetapan WP amat ditunggu oleh seluruh stakeholder pertambangan untuk
dapat memberikan kepastian usaha dan ruang bagi kegiatan pertambangan.
1. Pasal 1 Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara:
Ayat (29):Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki potensi
mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan
yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.
Ayat (30):Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian dari WP yang
telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
2. Pasal 9 Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara:
Ayat (1): WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan kegiatan
pertambangan.
Ayat (2): WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pemerintah setelah berkoordinasi
dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan rakyat Republik
Indonesia.
3. Pasal 10 Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara:
Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:
a. Secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b. Secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait, masyarakat,
dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan
lingkungan; dan
c. Dengan memperhatikan aspirasi daerah