Anda di halaman 1dari 2

Nama

: Fuad Abdul Hamid

NIM

: 3504130067

Prodi

: Administrasi Negara

Mata Kuliah :

Upaya Penanggulangan Koupsi Sejak Dini


KORUPSI adalah fenomena sosial yang telah menjadi budaya di kalangan
masyarakat, entah dari korupsi waktu hingga uang (alih-alih dijadikan suatu jalan untuk
meraih kekayaan). Bahkan, pelaku korupsi, yang biasa kita sebut dengan koruptor atau
penjahat kerah putih, tidak memandang usia dan gender .
Menurut WJS Poerwadarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia (1976), arti
harfiah dari korupsi adalah perbuatan yang buruk, seperti penggelapan uang, penerimaan
uang sogok, dan sebagainya.
Sedangkan Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagai tingkah laku individu
yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan
kepentingan umum, serta merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi
keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan
menggunakan wewenang dan kekuatan-kekuatan formal (misalnya dengan alasan hukum dan
kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
Dengan demikian, secara harfiah dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya istilah
korupsi memiliki arti yang sangat luas, yaitu penyelewengan atau penggelapan (uang negara
atau perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain.
Belakangan ini muncul kasus-kasus korupsi yang terungkap dari pelaksanaan
pemberantasan korupsi oleh lembaga-lembaga hukum negara. Akan tetapi, penanganan kasus
tersebut pun tiada ujungnya. Bahkan, seiring dengan berjalannya waktu, muncul kasus-kasus
korupsi yang lain. Karena itu, bila pemberantasan hanya sekadar menjadi angin lalu, maka
pencegahan korupsi secara dini kian diperlukan.
Adapun pencegahan perilaku korupsi sejak dini bisa dilakukan dengan cara:
1. Penanaman kejujuran sejak dini
Kejujuran adalah suatu hal yang sangat penting dari pembentukan karakter seseorang,
bila kejujuran ditanamkan secara dini, bukan tidak mungkin kita akan mendapatkan pejabatpejabat pemerintahan yang jujur.

2. Kedisiplinan dan taat pada hukum yang berlaku


Tidak dimungkiri, kedisiplinan merupakan suatu karakter dari seseorang yang sangat
diperlukan dalam hidupnya. Bila seseorang disiplin dan taat pada hukum yang berlaku, maka
perilaku korupsi bisa musnah dengan sendirinya.
3. Kesadaran mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi
Bila seseorang lebih mementingkan kepentingan umum, maka dia tidak akan egois
tentang kepentingan pribadinya. Jika perilaku korupsi bisa terpinggirkan, maka bukan tidak
mungkin kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat pun terjamin.
4. Penerapan Pajak kekayaan yang tinggi
Perilaku korupsi bisa disebabkan oleh keegoisan seseorang dalam meraih kekayaan.
Guna mencegah kekayaan yang berlimpah, maka pajak kekayaan yang tinggi akan menjadi
solusi yang baik. Dengan begtiu. seseorang enggan untuk menambah kekayaannya. Langkah
ini bisa juga dimaksudkan untuk penurunan tingkat korupsi berdasarkan keinginan untuk
kaya.
5. Hidup sederhana, dan bersyukur
Tekanan ekonomi yang tinggi bisa memunculkan suatu ide dan gagasan seseorang
mencari jalan pintas guna meraih kekayaan. Untuk mencegah hal tersebut, perlu
ditananmkan kesederhanaan kepada seseorang sejak dini dan tak lupa rasa syukur kepada
illahi atas apa yang kita miliki.