Anda di halaman 1dari 26

PANDUAN

Pelayanan Pasien Tahap Terminal

DAFTAR ISI
PANDUAN PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL
HALAMAN DOKUMEN.................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................

BAB II DEFINISI...........................................................................................

BAB III RUANG LINGKUP.............................................................................

BAB IV TATA LAKSANA...............................................................................

BAB V DOKUMENTASI................................................................................

14

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BIOMEDIKA


NOMOR:
TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL RUMAH
SAKIT BIOMEDIKA
DIREKTUR RUMAH SAKIT BIOMEDIKA
,
Menimbang :
a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan Hak Pasien dan Keluarga
yang mengacu pada akreditasi rumah sakit versi 2012, maka perlu
dibuatkan Panduan Pelayanan Pasien Tahap Terminal;
b. bahwa agar Panduan Pelayanan Pasien Tahap Terminal dapat
berjalan dengan baik, perlu ditetapkan pemberlakuan Panduan
Pelayanan Pasien Tahap Terminal Rumah Sakit Biomedika;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Rumah Sakit Biomedika;
Mengingat :
1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
2. Undang-undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 116,
tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
3. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

290/menkes/per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;


4. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1691/menkes/per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah


Sakit;
5. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

269/menkes/per/III/2011 tentang Rekam Medis;


6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 tahun
2012 tentang Rahasia Kedokteran;

7. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

129/menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit;


8. Keputusan

Direktur

Jenderal

Pelayanan

Medik

Departemen

Kesehatan Republik Indonesia Nomor : HK 00.06.3.5.1866 tanggal 12


april 1999 tentang Persetujuan/Penolakan Tindakan Medis;

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU

Memberlakukan Panduan Pelayanan Pasien Tahap Terminal


Rumah Sakit Biomedika.

KEDUA

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, bila


kemudian hari diketemukan kekeliruan akan diadakan
perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Mataram
Pada Tanggal:
DIREKTUR
Rumah Sakit Biomedika

(dr. Stephanus Gunawan)

PANDUAN
Pelayanan Pasien Tahap Terminal

BAB I
PENDAHULUAN
Peningkatan pengetahuan medis dan teknologi juga diikuti dengan
peningkatan pilihan untuk kesehatan. Namun ketika keputusan timbul mengenai
pengobatan pasien yang sekarat, pilihan ini menyajikan dilema etika yang
kompleks. Begitu banyak dilemma dalam mengambil keputusan yang harus diambil
untuk memberikan pengobatan terbaik untuk meringankan penderitaan pasien pada
akhir kehidupan (pasien terminal).
Pasien yang menuju akhir hidupnya, dan keluarganya, memerlukan asuhan
yang terfokus akan kebutuhan mereka yang unik. Pasien dalam tahap terminal
dapat mengalami gejaia yang berhubungan dengan proses penyakit atau terapi
kuratif atau memerlukan bantuan yang berhubungan dengan masalah-masalah
psikososial, spiritual dan budaya yang berkaitan dengan kematian dan proses
kematian. Keluarga dan pemberi pelayanan dapat diberikan kelonggaran dalam
melayani anggota keluarga pasien yang sakit terminal atau membantu meringankan
rasa sedih dan kehilangan.
Tujuan rumah sakit untuk memberikan asuhan pada akhir kehidupan harus
mempertimbangkan tempat asuhan atau pelayanan yang diberikan (seperti hospice
atau unit asuhan palliatif), tipe pelayanan yang diberikan dan kelompok pasien yang
dilayani. Rumah sakit mengembangkan proses untuk mengelola pelayanan akhir
hidup. Proses tersebut adalah :
Memastikan bahwa gejala-gejalanya akan dilakukan asesmen dan dikelola
secara tepat.
Memastikan bahwa pasien dengan penyakit terminal dilayani dengan hormat
dan respek.
Melakukan asesmen keadaan pasien sesering mungkin sesuai kebutuhan untuk
mengidentifikasi gejala-gejala.
Merencanakan pendekatan preventif dan terapeutik dalam mengelola gejalagejala.
Mendidik pasien dan staf tentang pengelolaan gejala-gejala.

PRINSIP PELAYANAN PASIEN PADA TAHAP TERMINAL


a. Rumah sakit memberikan dan mengatur pelayanan akhir kehidupan.
b. Asuhan pasien dalam proses kematian harus meningkatkan kenyamanan dan
kehormatannya.
MAKSUD DAN TUJUAN PELAYANAN PADA TAHAP TERMINAL
Pasien yang dalam proses kematian mempunyai kebutuhan khusus untuk
dilayani dengan penuh hormat dan kasih. Untuk mencapai ini semua staf harus
sadar akan uniknya kebutuhan pasien dalam keadaan akhir kehidupannya.
Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek
asuhan selama stadium akhir hidup. Asuhan akhir kehidupan yang diberikan rumah
sakit termasuk :
a. Pemberian pengobatan yang sesuai dengan gejaia dan keinginan pasien dan

keluarga;
b. Tidak menyampaikan isu yang sensitif seperti autopsi dan donasi organ;
c. Menghormati nilai yang dianut pasien, agama dan preferensi budaya;
d. Mengikutsertakan pasien dan keluarganya dalam semua aspek pelayanan;
e. Memberi respon pada masalah-masalah psikologis, emosional, spiritual dan budaya
dari pasien dan keluarganya.
Untuk mencapai tujuan ini semua staf harus menyadari akan kebutuhan pasien yang
unik pada akhir hidupnya (lihat juga HPK.2.5, Maksud dan Tujuan). Rumah sakit
mengevaluasi mutu asuhan akhir-kehidupan, berdasarkan evaluasi (serta persepsi)
keluarga dan staf, terhadap asuhan yang diberikan.

BAB II
DEFINISI

A. Pengertian
1. Kondisi terminal adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh cedera atau
penyakit dimana terjadi kerusakan organ multiple yang dengan pengetahuan
dan teknologi kesehatan terkini tak mungkin lagi dapat dilakukan perbaikan
sehingga akan menyebabkan kematian dalam rentang waktu yang singkat.
Aplikasi terapi untuk memperpanjang/mempertahankan hidup hanya akan
berefek dan memperlama proses penderitaan/sekarat pasien.
2. Pasien tahap terminal adalah pasien dengan kondisi terminal yang makin
lama makin memburuk.
3. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit baik dalam
keadaan sehat maupun sakit.
4. Mati klinis adalah henti nafas (tidak ada gerak nafas spontan) ditambah henti
sirkulasi Q'antung) total dengan semua aktivitas otak terhenti, tetapi tidak
ireversibel.
5. Mati biologis adalah proses mati/ rusaknya semua jaringan, dimulai dengan
neuron otak yang menjadi nekrotik setelah kira-kira 1 jam tanpa sirkulasi,
diikuti oleh jantung, ginjal, paru dan hati yang menjadi nekrotik selama
beberapa jam atau hari.
6. Mati batang otak adalah keadaan dimana terjadi kerusakan seluruh
saraf/neuronal intrakranial yang tidak dapat pulih termasuk batang otak dan
serebelum.
7. Alat bantu napas (Ventilator ) adalah alat yang digunakan untuk membantu
sebagian atau seluruh proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi.
8. Witholding life support adalah penundaan bantuan hidup.
9. Withdrawing life support adalah penghentian bantuan hidup.
10. Mengelola akhir kehidupan (End of Life) adalah pelayanan tindakan
penghentian bantuan hidup (Withdrowing life support) atau penundaan
bantuan hidup (Witholding life support).
11. Informed consent dalam profesi kedokteran adalah pernyataan setuju
(consent) atau ijin dari seseorang (pasien) yang diberikan secara bebas,

rasional, tanpa paksaan (voluntary) terhadap tindakan kedokteran yang akan


dilakukan terhadapnya sesudah mendapatkan informasi yang cukup
(informed) tentang kedokteran yang dimaksud.
12. Donasi organ adalah tindakan memberikan organ tubuh dari donor kepada
resipien.

13. Perawatan

paliatif

adalah

upaya

medik

untuk

meningkatkan

mempertahankan kualitas hidup pasien dalam kondisi terminal.

10

atau

BAB III
RUANG LINGKUP
1. Aspek Keperawatan

Banyak masalah yang melingkupi kondisi terminal pasien, yaitu mulai dari titik
yang aktual dimana pasien dinyatakan kritis sampai diputuskan meninggal dunia
atau mati. Seseorang dinyatakan meninggal/ mati apabila fungsi jantung dan paru
berhenti, kematian sistemik atau kematian sistem tubuh lainnya terjadi dalam
beberapa menit, dan otak merupakan organ besar pertama yang menderita
kehilangan fungsi yang ireversibel, selanjutnya organ-organ lain akan mati.
Respon pasien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik,
psikologis, sosial yang dialami, sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap
individu juga berbeda. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang
ditunjukan oleh pasien terminal. Menurut Elisabeth Kubler-Ross, M.D., ada 5 fase
menjelang kematian, yaitu:
a. Denial (fase penyangkalan /pengingkaran diri)

Mulai ketika orang disadarkan bahwa ia menderita penyakit yang parah dan dia
tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin
mengingkarinya. Sangkalan ini merupakan mekanis pertahanan yang seringkali
ditemukan pada hampir setiap pasien pada saat pertama mendengar berita
mengejutkan tentang keadaan dirinya.
b. Anger, (fase kemarahan)

Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan
meninggal. Masanya tiba dimana ia mengetahui, bahwa kematian memang
sudah dekat. Tetapi kesadaran ini seringkali disertai dengan munculnya
ketakutan dan kemarahan. Kemarahan ini seringkali diekspresikan dalam sikap
rewel dan mencari- cari kesalahan pada pelayanan di rumah sakit atau di
rumah. Umumnya pemberi pelayanan tidak menyadari, bahwa tingkah laku
pasien sebagai ekspresi dari frustasi yang dialaminya. Sebenarnya yang
dibutuhkan pasien adalah pengertian, bukan argumentasi-argumentasi dari
orang-orang yang tersinggung oleh karena kemarahannya.

11

c. Bargaining ( fase tawar menawar).

Ini adalah fase di mana pasien akan mulai menawar untuk dapat hidup sedikit
lebih lama lagi atau dikurangi penderitaannya. Mereka bisa menjanjikan
macam-macam hal kepada Tuhan, 'Tuhan, kalau Engkau menyatakan kasihMu, dan keajaiban kesembuhan-Mu, maka aku akan mempersembahkan
seluruh hidupku untuk melayaniMu.
d. Depresion (fase depresi)

Setelah ternyata penyakitnya makin parah, masuk fase depresi. Penderita


merasa putus asa melihat masa depannya yang tanpa harapan.
e. Acceptance (fase menerima /pasrah) Tidak semua pasien dapat terus menerus

bertahan menolak kenyataan yang dialami. Pada umumnya, setelah jangka


waktu tertentu mereka akan dapat menerima kenyataan, bahwa kematian
sudah dekat. Mereka mulai kehilangan kegairahan untuk berkomunikasi dan
tidak tertarik lagi dengan berita dan persoalan- persoalan di sekitarnya. Pasien
dalam kondisi terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik,
psikologis, maupun sosio-spiritual, antara lain:
a. Problem oksigenisasi; nafas tidak teratur, cepat atau lambat, pernafasan

cheynestokes, sirkulasi perifer menurun, perubahan mental, agitasi-gelisah,


tekanan darah menurun, hipoksia, akumulasi sekret dan nadi ireguler.
b. Problem eliminasi; Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat
peristaltik, kurang diet serat dan asupan makanan juga mempengaruhi
konstipasi, inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau
kondisi penyakit (contoh: Ca Colon), retensio urin, inkontinensia urin terjadi
akibat penurunan kesadaran atau kondisi penyakit misalnya trauma medulla
spinalis, oliguri terjadi seiring penurunan intake cairan atau kondisi penyakit
misalnya gagal ginjal.
c. Problem nutrisi dan cairan; asupan makanan dan cairan menurun, peristaltik
menurun, distensi abdomen, kehilangan berat badan, bibir kering dan
pecah- pecah, lidah kering dan membengkak, mual, muntah, cegukan, serta
dehidrasi terjadi karena asupan cairan menurun.

12

d. Problem suhu; ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai


selimut.
e. Problem sensorik; Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat
mendekati kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, pendengaran
menurun dan kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun. Penglihatan
kabur, pendengaran berkurang dan sensasi menurun.
f. Problem nyeri ; Ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara
intra vena, pasien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan
dan meningkatkan kenyamanan
g. Problem kulit dan mobilitas; seringkali tirah baring lama menimbulkan
masalah pada kulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi
yang sering.
h. Masalah

psikologis;

pasien

terminal

dan

orang

terdekat

biasanya

mengalami banyak respon emosi, perasaan marah dan putus asa.


2. Perawatan Paliatif

Perawatan paliatif bertujuan mencapai quality of life dan quality of death.


Perawatan paliatif menyangkut psikologis, spiritualis, fisik, keadaan sosial. Terkait
hal ini, memberikan pemahaman bagi keluarga dan pasien sangat penting agar
keluarga mengerti betul bahwa pasien tidak akan sembuh, sehingga mereka
akan memberikan perhatian dan kasih sayang diakhir kehidupan pasien tersebut.
3. Aspek Medis

Banyak

kalangan

dalam

dunia

kedokteran

dan

hukum

sekarang

ini

mendefinisikan kematian dalam pengertian mati otak (MO) walaupun jantung


mungkin masih berdenyut dan ventilasi buatan (ventilator) dipertahankan. Akan
tetapi banyak pula yang memakai konsep mati batang otak (MBO) sebagai
pengganti MO dalam penentuan mati. Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan
dan teknologi dibidang kedokteran maka banyak pilihan pengobatan yang
berguna memberi bantuan hidup terhadap pasien tahap terminal. Pilihan ini
seringkali menimbulkan dilema terutama bagi keluarga pasien karena mereka
menyadari bahwa tindakan tersebut bukan upaya penyembuhan dan hanya akan
menambah penderitaan pasien. Keluarga menginginkan sebuah proses di mana

13

berbagai intervensi medis (misalnya pemakaian ventilator) tidak lagi diberikan


kepada pasien dengan harapan bahwa pasien akan meninggal akibat penyakit
yang mendasarinya. Ketika keluarga/ wali meminta dokter menghentikan bantuan
hidup (withdrawing life support) atau menunda bantuan hidup (withholding
lifesupport) terhadap pasien tersebut, maka dokter harus menghormati pilihan
tersebut. Pada situasi tersebut, dokter memiliki legalitas dimata hukum dengan
syarat sebelum keputusan penghentian atau penundaan bantuan hidup
dilaksanakan, tim dokter telah memberikan informasi kepada keluarga pasien
tentang kondisi terminal pasien dan pertimbangan keputusan keluarga / wali
tertulis dalam informed consent.

14

BAB IV
TATA LAKSANA
1. Aspek Keperawatan
1.1 Asesmen Keperawatan
Perawat dapat berbagi penderitaan pasien menjelang ajal dan
mengintervensi dengan mefakukan asesmen yang tepat sebagai berikut:
a. Asesmen tingkat pemahaman pasien dan atau keluarga :

a. Closed Awareness: Pasien dan atau keluarga percaya bahwa pasien


akan segera sembuh.
b. Mutual Pretense: Keluarga mengetahui kondisi terminal pasien dan
tidak

membicarakannya

lagi,

Terkadang

keluarga

menghindari

percakapan tentang kematian demi menghindar dari tekanan.


c. Open Awareness: Keluarga telah mengetahui tentang proses kematian
dan tidak merasa keberatan untuk membicarakannya walaupun terasa
sulit dan sakit. Kesadaran ini membuat keluarga mendapatkan
kesempatan untuk menyelesaikan masalah-masalah, bahkan dapat
berpartisipasi dalam merencanakan pemakaman. Pada tahapan ini,
perawat atau dokter dapat menyampaikan isu yang sensitif bagi
keluarga seperti autopsi atau donasi organ.
b. Asesmen faktor fisik pasien

Pada kondisi terminal atau menjelang ajal, pasien dihadapkan pada


berbagai masalah menurunnya fisik, perawat harus mampu mengenali
perubahan fisik yang terjadi pada pasien terminal meliputi:
1. Pernapasan (breath)
a. Apakah teratur atau tidak teratur,
b. Apakah ada suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, stridor,
crackles, dll,
c. Apakah terjadi sesak napas,

15

d. Apakah ada batuk, bila ada apakah produktif atau tidak apakah ada
sputum, bila ada bagaimana jumlah, warna, bau dan jenisnya.
e. Apakah memakai ventilasi mekanik (ventilator) atau tidak.
2. Kardiovaskuler (blood)
a. Bagaimana irama jantung, apakah reguler atau ireguler.
b. Bagaimana akral, apakah hangat, kering, merah, dingin, basah dan
pucat.
c. Bagaimana pulsasi, apakah sangat kuat, kuat teraba, lemah teraba,
hilang timbul atau tidak teraba.
d. Apakah ada pendarahan atau tidak, bila ada dimana lokasinya.
e. Apakah ada CVC atau tidak, bila ada berapa ukurannya dalam
CmH20.
f. Berapa tensi dan MAP (Mean arterial pressure) dalam ukuran
mmHg,
g. Lain - lain bila ada.
3. Persyarafan (brain)
a.

Bagaimana ukuran GCS (Gasglow cosmna scale) total untuk


mata, verbal, motorik dankesadaran pasien.

b.

Berapa ukuran ICP (Intra cerebzal presure) dalam CmH20.

c.

Apakah ada tanda TIK seperti nyeri kepala atau muntah proyektil.

d.

Bagaimana konjungtiva, apakah anemis atau kemerahan.

e.

Lain - lain bila ada.

4. Perkemihan (blader)
a.

Bagaimana area genital, apakah bersih atau kotor.

b.

Berapa jumlah cairan masuk dalam hitungan cc/hari.

c.

Bagaimana cara buang air kecil, apakah spontan atau dengan


bantuan kateter.

d.

Bagaimana produksi urin, berapa jumlah cc / jam, bagaimana


warnanya, bagaimana baunya.

5. Pencemaan (bowel)
a.

Bagaimana nafsu makan, apakah baik atau menurun.

16

b.

Bagaimana porsi makan, habis atau tidak.

c.

Minum berapa cc/hari, dengan jenis cairan apa.

d.

Apakah mulut bersih, kotor dan berbau.

e.

Apakah ada mual atau muntah.

f.

Buang air besar berapa kali sehari, apakah teratur atau tidak,
bagaimana konsistensi, warna dan bau dari feses.

6. Muskuloskeletal / intergumen
a. Bagaimana kemapuan pergerakan sendi, bebas, atau terbatas.

b. Bagaimana warna kulit, apakah ikterus, sianotik, kemerahan,


pucat atau hiperpigmentasi.
c. Apakah ada edema atau tidak, bila ada dimana lokasinya.
d. Apakah ada dekubitus atau tidak, bila ada dimana lokasinya.
e. Apakah ada luka atau tidak bila ada dimana lokasinya dan apa
jenis lukanya.
f. Apakah ada kontraktur atau tidak, bila ada dimana lokasinya.
g. Apakah ada fraktur atau tidak, bila ada dimana lokasinya dan
apa jenis frakturnya.
h. Apakah ada jalur infus atau tidak bila ada dimana lokasinya.
c. Asesmen tingkat nyeri pasien

Lakukan asesmen rasa nyeri pasien. Bila nyeri sangat mengganggu, maka
segera lakukan menajemen nyeri yang memadai.
d. Asesmen faktor kultur psikososial

a. Tahap Denial: Asesmen pengetahuan pasien, kecemasan pasien dan


penerimaart pasien terhadap penyakit, pengobatan dan hasilnya.
b. Tahap Anger: Pasien menyalahkan semua orang, emosi tidak
terkendali, komunikasi ada dan tiada, orientasi pada diri sendiri.
c. Tahapan Bargaining: Pasien mulai menerima keadaan dan berusaha
untuk mengulur waktu, rasa marah sudah berkurang.
d. Tahapan Depresi: Asesmen potensial bunuh diri, gunakan kalimat
terbuka untuk mendapatkan data dari pasien.

17

e. Tahapan Acceptance: Asesmen keinginan pasien untuk istirahat /


menyendiri .
e. Asesmen faktor spiritual

Asesmen kebutuhan pasien akan bimbingan rohani atau seseorang yang


dapat membantu kebutuhan spiritualnya, biasanya pada saat pasien
sedang berada di tahapan bargaining.
1. Intervensi keperawatan
a. Pertahankan kebersihan tubuh, pakaian dan tempat tidur pasien.
b. Atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien.
c. Lakukan "suction" bila terjadi penumpukan secret pada jalan nafas/
d. Berikan nutrisi dan cairan yang adekuat.
e. Lakukan perawatan mata agar tidak terjadi kekeringan/ infeksi
kornea.
f. Lakukan oral hygiene.
g. Lakukan reposisi tidur setiap 2 jam sekali dan lakukan masase pada
daerah penonjolan tulang dengan menggunakan minyak kayu putih
untuk mencegah dekubitus.
h. Lakukan manajemen nyeri yang memadai.
i. Anjurkan keluarga untuk mendampingi dan mengajak pasien berdoa.
j.

Tunjukkan perhatian dan empati serta dukungan kepada keluarga


yang berduka.

k. Ajak keluarga untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan

terhadap asuhan pasien, seperti penghentian bantuan hidup


(withdrawing life support) atau penundaan bantuan hidup (with
holding life support).
2. Aspek Medis
2.1 Intervensi Med is
Ketika pasien mengalami cedera berat atau sakit yang serius, maka beberapa
intervensi medis dapat memperpanjang hidup pasien, sebagai berikut:
a. Tindakan Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO)

18

Pemberian bantuan hidup dasar dan lanjut kepada pasien yang


mengalami henti napas atau henti jantung. RJPO diindikasikan untuk
pasien yang tidak bernapas dan tidak menunjukan tanda-tanda sirkulasi,
dan tanpa instruksi DNR di rekam medisnya.
b. Pemakaian Alat Ventilasi Mekanik (Ventilator)

Pemakaian ventilator, ditujukan untuk keadaan tertentu karena penyakit


yang berpotensi atau menyebabkan gagal napas.
c. Pemberian Nutrisi

Feeding

1.

Tube,

Seringkali

pasien

sakit

terminal

tidak

bisa

mendapatkan makanan lewat mulut langsung, sehingga perlu dilakuan


pemasangan feeding tube untuk memenuhi nutrisi pasien tersebut
Parenteral Nutrition, adalah sebuah upaya untuk mengirim nutrisi

2.

secara langsung ke dalam pembuluh darah, yang berguna untuk


menjaga kebutuhan nutrisi pasien.
d. Tindakan Dialisis

Tindakan dialisis diberikan pada pasien terminal yang mengalami


penurunan fungsi ginjal, baik yang akut maupun yang kronik dengan LFG
(laju filtrasi glomerulus) < 15 mL/menit. Pada keadaan ini fungsi ginjal
sudah sangat menurun sehingga terjadi akumulasi toksin dalam tubuh
yang disebut sebagai uremia.
e. Pemberian Antibiotik.

Pasien terminal, memiliki risiko infeksi berat 5-10 kali lebih tinggi
dibandingkan pasien lainnya. Infeksi berat ini paling sering ditemukan
pada saluran pemapasan, saluran kemih, peredaran darah, atau daerah
trauma/operasi. Infeksi tersebut menyebabkan peningkatan morbiditas
dan mortalitas, pemanjangan masa perawatan, dan pembengkakan biaya
perawatan. Penyebab meningkatnya risiko infeksi ini bersifat multi
faktorial, meliputi penurunan fungsi imun, gangguan fungsi barrier usus,
penggunaan antibiotik spektrum luas, katekolamin, penggunaan preparat
darah, atau dari alat kesehatan yang digunakan (seperti ventilator).
Pasien menderita penyakit terminal dengan prognosis yang buruk

19

hendaknya diinformasikan lebih dini untuk menolak atau menerima bila


dilakukan resusitasi maupun ventilator.
2.2 Withdrawing life support & withholding life support
Pengelolaan akhir kehidupan meliputi penghentian bantuan hidup (with
drawing life support) dan penundaan bantuan hidup (with holding life
support) yang dilakukan pada pasien yang dirawat di ruang rawat
intensif care unit (ICU). Keputusan withdrawing / withholding adalah
keputusan medis dan etis yang dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter
spesialis anestesiologi atau dokter lain
yang memiliki kompetensi dan 2 (dua) orang dokter lain yang ditunjuk oleh komite
medis rumah sakit. Adapun persyaratan withdrawing life support / withholding life
support sebagai berikut:
a. Informed Consent

Pada

keadaan

khusus,

dimana

perlu

adanya

tindakan

penghentian/penundaan bantuan hidup (withdrawing/withholding life support)


pada seorang pasien, maka harus mendapat persetujuan keluarga terdekat
pasien. Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh keluarga
terdekat pasien harus diberikan secara tertulis (written consent) dalam
bentuk pernyataan yang tertuang dalam Formulir Pernyataan Pemberian
Informasi Kondisi Terminal (FPPIKT) yang disimpan dalam rekam medis
pasien, dimana pernyataan tersebut diberikan setelah keluarga mendapat
penjelasan dari tim DPJP yang bersangkutan mengenai beberapa hal
sebagai berikut:
1. Diagnosis:

a. Temuan klinis dan hasil pemeriksaan medis sampai saat tersebut.


b. Indikasi dan keadaan klinis pasien yang membutuhkan
withdrawing/withholding life support.
2. Terapi yang sudah diberikan.
3. Prognosis:

a.

Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam)\

b.

Prognosis tentang fungsinya (ad functionam);

c.

Prognosis tentang kesembuhan (ad senationam).

20

b. Kondisi Terminal

Tidak dilakukan tindakan-tindakan luar biasa, pada pasien-pasien yang jika


diterapi hanya memperlambat waktu kematian dan bukan memperpanjang
kehidupan. Untuk pasien ini dapat dilakukan penghentian atau penundaan
bantuan hidup. Pasien yang masih sadar tetapi tanpa harapan, hanya
dilakukan tindakan terapeutik/paliatif agar pasien merasa nyaman dan bebas
nyeri.
c. Mati Batang Otak ( MBO )

Semua bantuan hidup dihentikan pada pasien dengan kerusakan fungsi


batang otak yang ireversibel. Setelah kriteria Mati Batang Otak (MBO) yang
ada terpenuhi, pasien ditentukan meninggal dan disertifikasi MBO serta
semua terapi dihentikan. Jika dipertimbangkan donasi organ, bantuan
jantung paru pasien diteruskan sampai organ yang diperlukan telah diambil.
Keputusan penentuan MBO dilakukan oleh 3 (tiga) dokter yaitu dokter
spesialis anestesiologi atau dokter lain yang memiliki kompetensi, dokter
spesialis saraf dan 1 (satu) dokter lain yang ditunjuk oleh komite medis
rumah sakit dengan prosedur pengujian MBO sebagai berikut:

1. Memastikan hilarignya refleks batang otak dan henti nafas

yang menetap (ireversibel). yaitu:


a.

Tidak ada respons terhadap cahaya.

b.

Tidak ada refleks kornea.

c.

Tidak ada refleks vestibule-okular.

d.

Tidak ada respon motor terhadap rangsang adekuat pada


area somatic.

e.

Tidak ada refleks muntah (gag reflex) atau refleks batuk


karena rangsang oleh kateter insap yang dimasukkan
kedalam trakea.

21

f.

Tes henti nafas positif.

2. Bila tes hilangnya refleks batang otak dinyatakan positif, tes

diulang kembali 25 menit kemudian.


3. Bila tes tetap positif, maka pasien dinyatakan mati walaupun

jantung masih berdenyut, dan ventilator harus segera


dihentikan.
4. Pasien dinyatakan mati ketika batang otak dinyatakan mati

dan bukan sewaktu mayat dilepas dari ventilator atau jantung


berhenti berdenyut.
2.3 Donasi Organ
Prosedur donasi organ pasien MBO, adalah sebagai berikut:
a. Seseorang yang telah membuat testimoni donasi organ

harus memberitahukan
b. kepada

Tim

Rumah

Sakit.

b>

Ventilator

dan

terapi

diteruskan sampai organ yang dibutuhkan diambil.


c. Khusus pada penentuan MBO untuk donor organ, ketiga

dokter yang menyatakan MBO harus tidak ada hubungan


dengan tindakan transplantasi.
d. Penentuan MBO untuk donor organ hendaknya segera

diberitahukan kepada tim transplantasi, dan pembedahan


dapat

dilaksanakan

Komunikasi

dengan

sesuai
tim

kesepakatan

transplantasi

tim

operasi.

dilakukan

sedini

mungkin jika ada donor organ dari pasien yang akah


dinyatakan MBO.

22

BAB V
DOKUMENTASI
1. Formulir Asesmen Tahap Terminal.
2. Formulir Informed Consent.
3. Formulir Persetujuan Tindakan Kedokteran.
4. Formulir Penolakari Tindakan Kedokteran.
5. Formulir Pernyataan Pemberian Informasi Kondisi Terminal.

23

LAMPIRAN
Standar Prosedur Oprasional Pelayanan Pasien Tahap Terminal

24

PELAYANAN PASIEN TAHAP TERMINAL


PELAYANAN PASIEN TAHAP PASIEN TERMINAL
Halaman
No. dokumen No. Revisi .
1/1

Diterbitkan
Direktur Rumah Sakit Biomedika

Tanggal Terbit
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL HAK
PASIEN DAN
KELUARGA

(dr. Stephanus Gunawan)


Pengertian

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Suatu perawatan yang diberikan pada pasien dengan keadaan sakit dimana
menurut pemeriksaan medis dan kondisi pasien tidak ada harapan lagi bagi
si sakit untuk sembuh yang disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu
kecelakaan.
1. Mempertahankan pasien nyaman dan bebas nyeri
2. Membuat hari-hari akhir pasien sebaik mungkin untuk pasien maupun
keluarga, dengan sedikit mungkin penderitaan
3. Membantu pasien meninggal dengan damai
4. Memberikan kenyamanan bagi keluarga
SK Direktur No:
tentang Pemberlakuaan Kebijakan Hak
Pasien dan Keluarga di Rumah Sakit Biomedika.
1. Cek dokumentasi /rekam medis pasien
2. Siapkan : Formulir Asesmen pasien terminal ( RM)
3. Beri salam
4. Kenalkan diri
5. Lakukan identifikasi pasien sesuai protap identifikasi pasien ( PT .. )
6. Cuci tangan sesuai protap cuci tangan (PT )
7. Atur posisi pasien ( duduk, berbaring,atau sesuai kondisi pasien)
8. Jaga privacy pasien
9. Lakukan anamnesa kepada pasien / keluarga pasien dan pemeriksaan fisik
berdasarkan formulir asesmen pasien terminal ( RM.. ) meliputi:

a Identitas pasien
b Keadaan umum, tanda-tanda vital
c Data biologis (B6: Breathing, Blood, Brain, Bladder, Bowel, Bone),

25

psikologis, sosial dan spiritual

d Identifikasi hasil pemeriksaan penunjang terkini


e Identifikasi kebutuhan perawatan/pengobatan dari 3 (tiga) aspek,yaitu:
medis, keperawatan dan keluarga.

10 Tentukan rencana perawatan/pengobatan pasien


11 Lakukan verifikasi asesmen oleh DPJP, Ka Ru/Katim, pasien/keluarga pasien.
12 Informasikan kembali rencana perawatan/pengobatan pasien
13 Akhiri kegiatan dengan memberi salam penutup.
14 Bereskan alat
15 Cuci tangan sesuai protap (PT .)
16 Lakukan kolaborasi dengan dokter / petugas kesehatan lain yang ikut dalam
pelayanan pasien ( Kalau perlu)

17 Lakukan dokumentasi asesmen ( RM ) pada rekam medis pasien


Unit terkait

IGD, IRNA, ICU, IBS

26