Anda di halaman 1dari 31

10.

A SEIZURE
Defenisi
Sebelum kita memahami definisi mengenai kejang, perlu kita ketahui tentang seizure dan
konvulsi. Yang dimaksud dengan seizure adalah cetusan aktivitas listrik abnormal yang terjadi
secara mendadak dan bersifat sementara di antara saraf-saraf di otak yang tidak dapat
dikendalikan. Akibatnya, kerja otak menjadi terganggu. Manifestasi dari seizure bisa bermacammacam, dapat berupa penurunan kesadaran, gerakan tonik (menjadi kaku) atau klonik
(kelojotan), konvulsi dan fenomena psikologis lainnya. Kumpulan gejala berulang dari seizure
yang terjadi dengan sendirinya tanpa dicetuskan oleh hal apapun disebut sebagai epilepsi (ayan).
Sedangkan konvulsi adalah gerakan mendadak dan serentak otot-otot yang tidak bisa
dikendalikan, biasanya bersifat menyeluruh. Hal inilah yang lebih sering dikenal orang sebagai
kejang. Jadi kejang hanyalah salah satu manifestasi dari seizure.
Klasifikasi
Kejang dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu kejang umum atau kejang sebagian. Kejang
sebagian adalah manifestasi dari gangguan sebagian kecil saraf di otak. Sementara kejang umum
merupakan manifestasi dari gangguan keseluruhan saraf di otak dan dapat menyebabkan
kehilangan kesadaran. Pada jenis kejang yang terakhir ini adalah jenis yang membutuhkan
bantuan segera. Beberapa gejala umum kejang yang dapat kita waspadai adalah :

menangis kuat

terjatuh

kehilangan kesadaran

seluruh badan kaku

gerakan-gerakan mendadak yang tidak terkontrol

Gejala-gejala yang dapat timbul setelah kejang adalah, otot-otot menjadi lebih lunak, dan dalam
beberapa kejadian seseorang dapat menjadi bingung dan lupa akan kejadian sebelumnya,
mengantuk dan sakit kepala. Waktu durasi kejang bervariasi antara 1 hingga 5 menit, sedangkan
kejang demam dapat mencapai 10 menit.
Penyebab
Beberapa etiologi kejang adalah :

Demam tinggi pada anak-anak.

Kejang tipe ini disebut sebagai kejang demam. Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6
bulan s/d 4 tahun. Kejang tipe ini tidak berbahaya.

Epilepsi,

merupakan gangguan pada otak. Kejang merupakan gejala yang sering pada epilepsi

Tersengat listrik

Cuaca panas

Racun

Infeksi

Reaksi obat atau overdosis obat

Vaksinasi

Tidak diketahui

Pencegahan Kejang Demam


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang saat demam tinggi
(walaupun bervariasi antar individu). Adalah usaha untuk menurunkan demam secepat mungkin,
hal ini dapat dilakukan dengan pemberian obat antipiretik atau dengan menggunakan kompress.

Pada kasus-kasus yang ekstrim, panas yang tinggi dapat diturunkan dengan cepat dengan
merendam pasien di bak yang penuh dengan Es, tetapi cara ini hanya dapat dilakukan sebentar
untuk mencegah hipotermi pada pasien.
Hal-hal yang harus dilakukan jika anak anda menderita demam:

Pakaikan pakaian yang tipis, jangan selimuti anak dengan selimut tebal

Kompres dengan air biasa (tidak panas dan tidak dingin) pada dahi dan
lehernya. Basahi kulit bagian tubuh lainnya dengan spons. Jangan
gosok dengan alkohol.

Berikan asetaminofen atau parasetamol dengan dosis 10-15 mg/kg


berat badan/kali jika diperlukan. Jangan berikan aspirin atau apapun
yang mengandung salisilat kepada anak yang berusia di bawah 19
tahun karena dapat menimbulkan komplikasi serius

Turunkan demam sampai suhu tubuh lebih rendah dari 38,9 derajat
celcius

Yang dapat dilakukan pertama kali saat menemui pasien kejang.

Jangan panik, berpikirlah dengan kepala jernih.

Lindungi kepala penderita dari trauma

Jauhkan benda-benda tajam

Longgarkan pakaian penderita pada daerah leher

Letakkan penderita pada posisi tidur menyamping sehingga jika


terdapat cairan atau benda asing pada mulut penderita dapat keluar
dan tidak menyumbat saluran napas

Bersihkan mulut dari benda asing atau muntahan (jika ada)

Jangan memegangi penderita yang sedang kejang

Jangan letakkan sendok atau apapun di mulut untuk mencegah lidah


tergigit

Jangan berikan makanan atau minuman

Jangan berikan obat apapun

Jangan siram muka penderita dengan air

Perhatikan durasi kejang, dan gejala gejala yang timbul untuk


dilaporkan kepada petugas kesehatan

B.FEBRILE SEIZURE
Tentang Febrile Seizures
Febrile seizures adalah kejang yang tidak berbahaya pada anak, akibat lonjakan suhu tubuh yang
tiba-tiba. Febrile seizures diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu : Simple febrile seizures,
kejang yang akan hilang dengan sendirinya (sekitar 10 menit). Complex febrile seizures, kejang
yang terjadi lebih dari 15 menit, bisa terjadi beberapa kali dalam sehari. Febrile seizures tidak
menyebabkan kerusakan otak, keterbelakangan mental juga bukan indikasi dari epilepsi.
Gejala Febrile Seizures
Gejala-gejala febrile seizures yaitu :

Bola mata berputar.

Otot-otot menjadi kaku.

Panas tinggi (suhu tubuh diatas 38 derajat).

Kehilangan kesadaran.

Muntah.

Menggigit lidah.

Kesulitan bernapas dan membiru.

Penyebab Febrile Seizures


Febrile seizures disebabkan oleh infeksi bakteri, virus (misalnya virus roseola, yang
menyebabkan bengkaknya kelenjar getah bening dileher atau ruam) atau dampak setelah
imunisasi.
Faktor Resiko Febrile Seizures
Febrile seizures dipicu oleh faktor usia (antara 6 bulan sampai dengan 5 tahun) dan faktor
keturunan.
Diagnosa Febrile Seizures
Untuk mendiagnosa febrile seizures, dapat melakukan tes fisik, tes darah, tes urin, EEG dan
spinal tap.
Pengobatan Febrile Seizures
Selama kejang terjadi,

Letakan selimut tebal sebagai alas dibawah tubuh anak.

Pindahkan hanya jika anak berada dilokasi yang membahayakan.

Lepaskan pakaiannya (terutama disekitar leher dan pinggang keatas).

Miringkan tubuh anak jika muntah.

Keluar liur atau lendir.

Lap tubuhnya dengan lap dingin.

Jangan memasukan apapun ke dalam mulut anak untuk mencegahnya menggigit lidah,
karena justru akan menambah resiko cedera.

Jangan mencoba menahan tubuhnya untuk menghentikan kejang.

Pencegahan Febrile Seizures


Segera berikan obat penurun panas jika anak terkena demam.

11. tension headache

Sakit Kepala Tegang (Tension Headache)

Tension Headache
Tension Headache adalah jenis sakit kepala paling umum di kalangan orang dewasa. Tension
headache ini sering disebut juga sebagai stress headache.
Tension headache dapat muncul secara periodik (disebut episodik, yaitu kurang dari 15 hari
dalam sebulan) atau harian (disebut kronis, yaitu lebih dari 15 hari dalam sebulan).

Tension headache episodik, dapat digambarkan sebagai nyeri konstan yang ringan sampai
sedang, atau tekanan di sekitar dahi atau belakang kepala dan leher.Sakit kepala tersebut dapat
berlangsung dari 30 menit sampai beberapa hari. Tension headache episodik umumnya dimulai
secara bertahap, dan sering terjadi pada siang hari.
Tingkat keparahan tension headache meningkat signifikan seiring dengan bertambahnya
frekuensi terjadinya. Tension headache kronis dapat timbul dan hilang dalam jangka waktu
lama. Umumnya rasa sakitnya berdenyut dan mempengaruhi bagian depan, atas, atau sisi kepala.
Meskipun intensitas rasa sakit sepanjang hari dapat bervariasi, namun rasa sakit hampir selalu
ada. Tension headache kronis tidak mempengaruhi penglihatan, keseimbangan, atau kekuatan.
Tension headache umumnya tidak menyebabkan seseorang terhalang dalam melakukan tugas
sehari-hari.
Siapa saja yang Dapat Menderita Tension Headache?
Sekitar 30% -80% dari orang dewasa di Amerika, sesekali mengalami tension headache, Sekitar
3% sering mengalami tension headache kronis. Kaum wanita mempunyai peluang dua kali lebih
besar untuk mengalami tension headache dibanding laki-laki.
Kebanyakan penderita tension headache episodik, mengalami tension headache tidak lebih dari
sekali atau dua kali dalam sebulan, tetapi sakit kepala dapat terjadi lebih sering.
Tension headache kronis cenderung lebih banyak terjadi pada wanita. Banyak orang dengan
tension headache kronis umumnya mengalami sakit kepala selama lebih dari 60-90 hari.
Apa Penyebab Tension Headache?
Tidak ada penyebab utama untuk tension headache. Sakit kepala jenis ini bukan faktor turunan.
Pada beberapa orang, tension headache disebabkan oleh otot-otot yang menegang di bagian
belakang leher dan kulit kepala. Ketegangan otot tersebut dapat disebabkan oleh:

Istirahat yang kurang

Buruknya postur tubuh

Faktor emosional atau stres mental, termasuk depresi

Kegelisahan

Kelelahan

Kelaparan

Bekerja berlebihan

Namun perlu dicatat bahwa ketegangan otot tidak selalu merupakan penyebab dari tension
headache. Hingga sekarang beberapa orang bisa mengalami tension headache dan tidak
diketahui apa penyebabnya.
Tension headache biasanya dipicu oleh faktor lingkungan atau stres internal. Sumber paling
umum dari stres yaitu keluarga, hubungan sosial, teman, pekerjaan, dan sekolah. Beberapa
contoh pemicu stres sebagai berikut:

Memiliki masalah di rumah / kehidupan keluarga yang sulit

Memiliki anak yang baru lahir

Tidak memiliki teman dekat

Kembali ke sekolah atau pelatihan, mempersiapkan untuk tes atau ujian

Pergi berlibur

Memulai pekerjaan baru

Kehilangan pekerjaan

Kelebihan berat badan

Tenggat waktu di tempat kerja

Bersaing dalam olahraga atau kegiatan lainnya

Sifat perfeksionis yang selalu ingin sempurna

Tidak cukup tidur

Aktifitas berlebihan (terlalu banyak terlibat dalam kegiatan / organisasi)

Tension headache episodik biasanya dipicu oleh situasi stres yang terisolasi atau stres yang
menumpuk. Stres yang dialami sehari-hari dapat menyebabkan tension headache kronis.
Apa Saja Gejala Tension Headache?
Penderita tension headache umumnya melaporkan keluhan / gejala-gejala sebagai berikut:

Nyeri ringan sampai sedang atau tekanan yang mempengaruhi bagian depan, atas atau sisi kepala

Sakit kepala yang terjadi nanti

Kesulitan untuk tertidur dan tetap tidur

Kelelahan kronis

Lekas marah

Konsentrasi terganggu

Sensitivitas berlebih terhadap cahaya atau suara

Sakit otot

Tension Headache atau Migrain?


Tension headache tidak sama dengan migrain. Pada penderita tension headache tidak ada gejala
neurologis, seperti lemah otot atau penglihatan kabur. Selain itu, sensitivitas berlebih terhadap
cahaya atau suara, sakit perut, mual, dan muntah, bukan gejala umum yang terkait dengan
tension headache.

Bagaimana Mengobati Tension Headache?


Tujuan pengobatan tension headache adalah untuk mencegah serangan lebih lanjut dan
mengurangi rasa sakit yang dialami. Pencegahan tension headache meliputi:

Minum obat yang direkomendasikan oleh dokter Anda, seperti


o

Penghilang rasa nyeri

Relaksan otot

Anti depresi

Menghindari atau meminimalkan penyebab atau pemicu tension headache

Manajemen stres / latihan relaksasi

Mengobati Sakit Kepala


Obat painkiller (penghilang rasa nyeri) yang dijual bebas di pasaran, seringkali perawatan
pertama yang direkomendasikan untuk mengatasi tension headache. Beberapa obat penghilang
rasa sakit tersebut juga dapat digunakan untuk mencegah sakit kepala pada orang dengan tension
headache kronis.
Jika obat painkiller umum tidak membantu, maka dokter anda dapat merekomendasikan obat
painkiller dengan resep dokter atau relaksan otot.
Perawatan pencegahan umumnya dilakukan dengan meresepkan obat seperti antidepresan, obat
tekanan darah, dan obat anti-kejang. Obat-obat tersebut dikonsumsi setiap hari meskipun Anda
sedang tidak mengalami sakit kepala, supaya saat Anda benar mengalami tension headache,
tidak diperlukan dosis tinggi. Tujuannya, seiring waktu berjalan, dosis yang diberikan akan
semakin berkurang.
Namun perlu diingat bahwa obat-obatan tidak menyembuhkan sakit kepala dan seiring waktu,
perada rasa nyeri dan obat lainnya mungkin akan kehilangan efektivitasnya. Selain itu, semua

obat memiliki efek samping. Jika Anda minum obat secara teratur, termasuk obat yang dapat
dibeli bebas, sebaiknya diskusikan risiko dan manfaat obat dengan dokter Anda. Penting juga
diingat bahwa obat pereda nyeri bukan pengganti untuk mengenali dan mengatasi pemicu stres
yang dapat menyebabkan sakit kepala Anda.
Tension headache paling baik ditangani ketika gejala pertama dimulai dan masih ringan, sebelum
akhirnya menjadi lebih sering dan menyakitkan.

Miestenia gravis

Miastenia gravis adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan melemahnya otot lurik selama
berkegiatan, namun akan membaik ketika beristirahat. Otot yang biasanya terserang adalah yang
mengendalikan mata, kelopak mata, dan ekspresi wajah serta yang terlibat saat menelan,
berbicara, dan mengunyah. Otot di leher, tungkai, dan yang mengendalikan pernapasan juga
mungkin terserang.

Miastenia gravis menyerang siapa pun pada usia berapapun. Namun, kondisi ini lebih sering
terjadi pada wanita berumur di atas 40 dan laki-laki di atas 60 tahun. Kondisi ini tidak dapat
disembuhkan, tetapi gejalanya dapat diobati sehingga pasien dapat kembali hidup normal.
Kondisi ini tidaklah bersifat umum. Faktanya, di Amerika Serikat, hanya terdapat sekitar 20
penderita dari 100.000 orang. Miastenia gravis tidak bersifat turun-temurun atau menular,
meskipun ada kasus di mana lebih dari satu orang dalam satu keluarga didiagnosis dengan
kondisi tersebut.
Penyebab Miastenia Gravis

Miastenia gravis disebabkan oleh sistem imun yang tidak normal. Otak mengendalikan otot lurik
dengan mengirimkan impuls ke saraf. Impuls dikirim ke serat otot melalui saraf. Namun, serabut
saraf dan serat otot tidak benar-benar terhubung. Terdapat ruang di antara ujung saraf dan serat
otot yang disebut sambungan neuromuskuler.
Ujung saraf mengirimkan bahan kimia yang disebut asetilkolin pada sambungan neuromuskuler
ke lokasi reseptor serat otot. Setelah reseptor menerima asetilkolin, otot akan berkontraksi.
Namun, jika seseorang terserang miastenia gravis, antibodinya akan menghalangi reseptor otot.
Dengan demikian, serat otot gagal berkontraksi dan melemah dengan mudah. Antibodi
merupakan bagian penting sistem kekebalan tubuh dan bertugas untuk menghancurkan bakteri
dan virus berbahaya. Sayangnya, pada kasus miastenia gravis, antibodi tidak menyerang virus
atau bakteri, melainkan menyerang lokasi reseptor.
Tanpa astetilkolin otot akan menjadi lemah, tetapi otot akan kembali normal ketika otot tidak lagi
mengirimkan saraf impuls untuk mengaktifkan serat otot, yang berarti bahwa tubuh sedang
beristirahat.
Miastenia gravis tidak hanya melemahkan otot, namun juga komplikasi dapat terjadi. Beberapa
komplikasi ynag paling umum adalah krisis miastenia, tumor timur, dan tiroid yang terlalu atau
kurang aktif, serta kondisi autoimun.

Krisis miastenia ditandai dengan melemahnya otot-otot pernapasan. Kondisi ini dapat
mengancam jiwa, sehingga membutuhkan perhatian medis segera. Di sisi lain, tumor timur
merupakan pertumbuhan daging yang berkembang pada timus, yaitu kelenjar di bawah tulang
dada. Tumor ini biasanya bersifat ganas (non-kanker).
Gejala Utama Miastenia Gravis

Gejala utama dari miastenia gravis adalah melemahnya otot. Otot yang terserang akan menjadi
lemah setiap kali diaktifkan. Namun, ketiaka seseorang sedang beristirahat, otot biasanya akan
sembuh, kemudian lemah kembali ketika digunakan.
Ketika kondisi ini mempengaruhi mata atau kelopak mata, kondisi ini dapat menyebabkan ptosis
(kelopak mata turun) atau penglihatan ganda. Jika miastenia gravis mempengaruhi tenggorokan
dan otot wajah, orang dapat memperlihatkan gejala, seperti gagap bicara, masalah mengunyah,
masalah menelan, atau ekspresi wajah yang terbatas.
Kondisi ini dapat menyebabkan leher, kaki, serta tangan melemah dan kesulitan berjalan.
Kondisi ini juga dapat menghlangi pasien memegang sesuatu atau menjaga kepalanya tetap
tegak.
Jika Anda melihat gejala tersebut, Anda harus segera menjadwalkan kunjungan dengan dokter
Anda. Namun, jika Anda merasa sulit untuk bernapas, segera kunjungi unit gawat darurat rumah
sakit atau memanggil layanan darurat kesehatan.
Siapa yang Harus Dikunjungi dan Pengobatan yang Tersedia

Jika Anda mengalami otot melemah yang tidak dapat dijelaskan, Anda harus segera mengujungi
dokter keluarga Anda. Namun, melemahnya otot merupakan gejala umum dari banyak gangguan
dan penyakit. Bahkan, dokter akan jarang menduganya sebagai miastenia gravis dengan segera.
Kebanyakan pasien bahkan tidak menerima diagnosis yang tepat dalam beberapa waktu. Pada
beberapa pasien, butuh dua tahun sebelum kondisi didagnosis dengan benar dan bentuk
perawatan yang tepat diberikan.

Bila Anda berkonsultasi dengan dokter Anda dengan keluhan otot melemah, dokter akan mencari
informasi tentang penyakit pada keluarga Anda. Anda kemudian akan menjalani pemeriksaan
fisik dan saraf. Jika miastenia gravis diduga berada pada stadium ini, dokter akan meminta tes
darah untuk mendeteksi antibodi reseptor asetikolin atau molekul kekebalan tubuh.
Anda juga akan menjalani beberapa tes lagi, seperti tes edrofonium, elektromiografi serat
tunggal, CT scan, MRI, atau tes fungsi paru.
Setelah dipastikan terserang miastenia gravis, dokter akan memutuskan metode perawatan
terbaik. Dokter akan menjelaskan bahwa penyakit ini tidak ada obatnya, namun gejalanya dapat
diobati sehingga Anda akan kembali hidup normal.
Perawatan akan mencakup penggunaan berbagai obat, seperti agen antikolinesterase dan obat
imunosupresif. Agen antikolinesterase membantu meningkatan transmisi neuromusuler dan
memperkuat otot. Sementara itu, obat imunosupresif menekan produksi antibodi yang abnormal.
Penderita miastenia gravis biasanya memiliki kelenjar timus yang abnormal. Dokter akan
menganjurkan pengangkatan kelenjar timus melalui tindakan yang disebut timektomi untuk
mengobati gejala penyakit.
Perawatan juga dapat mencakup terapi, seperti plasmapheresis. Terapi ini melibatkan
penggantian antibodi yang abnormal dalam darah dan menggantinya dengan yang normal yang
diperoleh dari darah donor.
Dalam perawatan miastenia gravis, dokter ahli saraf sering dikonsultasi untuk menentuan tingkat
kelemahan yang dialami pasien. Setelah ditentukan, dokter akan dapat menentukan perawatan
yang tepat. Tujuan dari perawatan miastenia gravis adalah untuk memperkuat otot yang terserang
sehingga pasien dapat kembali hidup normal. Perawatan juga akan mencegah kegagalan
pernapasan, yaitu suatu kondisi yang membutuhkan perawatan medis darurat.
Hingga saat ini, National institute of Neurological Disorders (NINDS) terus melakukan berbagai
penelitan miastenia gravis untuk menentukan penyebab pasti penyakit ini, yang dapat mengarah

pada perkembangan pengobatan untuk kondisi tersebut.

Spina bifida
Spina bifida adalah cacat lahir yang mana ditandai dengan terbentuknya celah pada tulang
belakang bayi. Kelainan ini dipicu oleh pembentukan tulang belakang yang tidak sempurna pada
bayi selama dalam kandungan. Perkembangan tidak sempurna ini disebut cacat tabung saraf, dan
spina bifida termasuk salah satunya.
Pada kondisi normal, embrio akan membentuk tabung saraf yang kemudian berkembang menjadi
tulang belakang dan sistem saraf. Jika proses ini tidak berjalan dengan lancar, beberapa ruas
tulang belakang tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menciptakan celah.

Struktur Tulang Belakang


Tulang belakang melindungi kanal spinal yang berisi cairan tulang belakang dan saraf tulang belakang.
Saraf tulang belakang berisi kumpulan serabut saraf yang menghubungkan otak dengan berbagai organ di
tubuh. Di dalam kanal spinal, saraf dilapisi oleh lapisan yang dinamakan meninges. Di luar dari tulang
belakang, terdapat jaringan kulit.

Bila celah mencapai sebagian jaringan kulit, misalnya pada kulit di bagian punggung bawah,
cairan tulang belakang dapat mendorongnya sehingga terbentuk kantung yang dapat terlihat di
punggung bawah.
Penyebab dan Faktor Risiko Spina Bifida
Penyebab di balik spina bifida belum diketahui secara pasti. Namun para pakar menduga ada beberapa
faktor yang mungkin menjadi pemicunya. Di antaranya adalah:

Kekurangan asam folat. Memiliki kadar asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama
masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko melahirkan anak dengan spina bifida.
Ini merupakan faktor pemicu yang paling signifikan dalam spina bifida serta jenis cacat tabung
saraf lain.

Faktor keturunan. Orang tua yang pernah memiliki anak yang mengidap spina bifida
mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki bayi dengan jenis kelainan yang sama.

Jenis kelamin. Kondisi ini lebih sering dialami oleh bayi perempuan.

Obat-obatan tertentu. Khususnya asam valproat dan carbamazepine yang digunakan untuk
epilepsi atau gangguan mental (seperti bipolar).

Diabetes. Wanita yang mengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi
dengan spina bifida. Kadar glukosa berlebih dalam darah bisa mengganggu perkembangan anak.

Obesitas. Obesitas pada masa sebelum kehamilan akan meningkatkan risiko seorang wanita
untuk memiliki bayi yang mengidap spina bifida.

Wanita yang memiliki faktor-faktor pemicu tersebut dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan dokter
agar langkah penanggulangan bisa dilakukan. Terutama bagi wanita yang sedang merencanakan
kehamilan.

Jenis-jenis Spina Bifida


Spina bifida dapat dibagi dalam tiga kelompok, berdasakan lokasi serta ukuran celah yang terbentuk.
Ketiga jenis spina bifida tersebut meliputi:

Spina bifida okulta. Jenis ini termasuk spina bifida yang paling ringan dan umum karena hanya
mengakibatkan terbentuknya celah kecil di antara ruas tulang punggung. Spina bifida okulta
umumnya tidak memengaruhi saraf sehingga pengidapnya cenderung mengalami gejala ringan
atau bahkan tanpa gejala.

Meningosel. Pada jenis ini, pembukaan yang terbentuk berukuran cukup besar sehingga ada
membran pelindung saraf tulang belakang mencuat keluar dari celah di beberapa ruas tulang
punggung dan membentuk kantung. Isi dari kantung adalah cairan tulang belakang dan membran
pelindung, tanpa ada saraf tulang belakang. Meningosel merupakan jenis spina bifida yang paling
jarang terjadi.

Mielomeningosel. Ini merupakan jenis spina bifida yang paling serius. Pada jenis ini, kantung
yang terbentuk berisi cairan tulang belakang, membran pelindung, dan saraf tulang belakang.
Pada mieloskisis, kasus spina bifida terberat, kantung ini tidak memiliki kulit. Akibatnya, bayi
lebih rentan untuk mengalami infeksi yang bisa mengancam jiwa.

Gejala dan Komplikasi Spina Bifida


Tingkat keparahan gejala yang dialami masing-masing pengidap spina bifida bisa bermacam-macam. Ini
terjadi karena celah di tulang belakang bisa terbentuk pada lokasi yang berbeda-beda pada tiap pengidap.
Selain lokasi, tingkat keparahan bergantung pada bagian apa saja yang tidak menutup sempurna.

Terdapat beragam gejala yang mungkin disebabkan oleh spina bifida. Secara umum, gejalagejalanya dapat dikelompokkan menjadi:

Gangguan mobilitas. Kondisi yang ditandai dengan tubuh bagian bawah yang mengalami lemah
otot atau bahkan lumpuh.

Gangguan saluran kemih dan pencernaan. Pengidap spina bifida umumnya mengalami
inkontinensia urine atau tinja karena adanya gangguan saraf yang mengatur saluran kemih dan
pencernaan.

Hidrosefalus. Kondisi di mana terjadi penumpukan cairan dalam otak sehingga dapat
menyebabkan kejang dan gangguan penglihatan.

Pengidap spina bifida juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami meningitis serta gangguan dalam
belajar di kemudian hari. Contoh gangguan dalam proses belajar yang mungkin terjadi meliputi gangguan
bahasa atau menghitung serta sulit konsentrasi.

Diagnosis Spina Bifida


Pemeriksaan terhadap ada tidaknya spina bifida dan cacat lahir lain termasuk pada pemeriksaan
antenatal ibu hamil. Jenis pemeriksaan terkait spina bifida adalah tes darah serta USG.
Melalui tes darah, dokter akan memeriksa kadar alfa-fetoprotein yang terkandung dalam darah
ibu hamil. Kadar alfa-fetoprotein yang tinggi bisa menandakan janin berkemungkinan mengidap
cacat tabung saraf, terutama spina bifida.
Setelah itu, dokter akan menganjurkan pemeriksaan melalui USG untuk memastikan diagnosis.
Kelainan spina bifida umumnya dapat diketahui melalui proses USG, khususnya saat usia
kehamilan berkisar antara 4,5 hingga 5 bulan.
Tes lebih lanjut yang juga mungkin disarankan adalah amniosentesis. Amniosentesis adalah
prosedur pengambilan sampel cairan ketuban yang kemudian akan diperiksa di laboratorium.
Sebelum menjalani tes ini, ibu hamil dianjurkan untuk mendiskusikan risikonya terlebih dulu
dengan dokter karena tes ini berpotensi membahayakan janin.
Tes lain yang mungkin diperlukan adalah tes pada bayi pasca kelahiran. Bayi yang terlahir
dengan spina bifida harus menjalani beberapa tes seperti USG, CT scan, atau MRI untuk
menentukan tingkat keparahan dan membantu menentukan teknik pengobatan mana yang paling
tepat.
Penanganan Spina Bifida
Tiap pengidap spina bifida membutuhkan langkah penanganan yang berbeda-beda. Ini tergantung pada
jenis spina bifida yang dialami, tingkat keparahan gejala, serta kondisi pasien.

Langkah utama dalam menangani spina bifida adalah dengan operasi. Langkah ini umumnya
dilakukan segera setelah sang bayi lahir, dalam waktu satu hingga dua hari. Tujuannya adalah
untuk menutup celah yang terbentuk dan menangani hidrosefalus.
Setelah operasi, pengidap spina bifida juga biasanya membutuhkan beberapa perawatan lanjutan.
Langkah ini bisa meliputi:

Terapi untuk membantu pasien beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, contohnya terapi
okupasi atau terapi fisik.

Alat bantu, misalnya tongkat atau kursi roda.

Penanganan untuk gangguan saluran kemih dan pencernaan dengan obat-obatan maupun operasi.

Pencegahan Spina Bifida


Langkah utama untuk menghindarinya adalah dengan mencukupi kebutuhan asam folat, terutama selama
masa kehamilan.

Konsumsi asam folat umumnya dianjurkan sejak sebelum hamil. Dosis asam folat yang
disarankan adalah sebanyak 400 microgram per hari.
Selain ibu hamil dan wanita yang sedang merencanakan kehamilan, para pakar menghimbau agar
wanita pada usia subur untuk mengonsumsi suplemen asam folat. Zat ini juga dapat diperoleh
secara alami dengan mengonsumsi makanan yang kaya asam folat, seperti bayam, kuning telur,
kacang-kacangan, serta brokoli.

Bels palsy
Bells palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi otot di wajah yang yang
bersifat sementara. Kondisi ini menyebabkan salah satu sisi dari wajah akan terlihat melorot.

Meski belum dimengerti alasan sepenuhnya, Bells palsy lebih umum terjadi pada wanita hamil,
penderita diabetes, dan HIV.
Saraf yang rusak pada bagian wajah akan berdampak kepada indera perasa dan cara tubuh Anda
menghasilkan air mata dan ludah. Bells palsy datang secara tiba-tiba dan umumnya kondisi ini
akan membaik dalam hitungan minggu.

Bells palsy tidak berhubungan dan bukan terjadi karena stroke. Berikut ini beberapa kondisi
yang bisa menyebabkan terjadinya kelumpuhan Bells palsy pada wajah.

Kelumpuhan wajah turunan. Kondisi ini terjadi pada anak yang terlahir dengan kelemahan atau
kelumpuhan pada wajah.

Cedera karena kecelakaan. Terjadi karena luka robek pada dagu atau retak pada tulang
tengkorak.

Cedera karena operasi. Kondisi ini umumnya terjadi saat operasi kelenjar parotid.

Pada kebanyakan kasus Bells palsy, kelumpuhan pada salah satu sisi wajah bisa pulih sepenuhnya. Jika
Anda mengalami kelumpuhan di salah satu sisi wajah, segera temui dokter untuk memahami kondisi yang
terjadi.
Gejala Bells Palsy
Bells palsy memiliki gejala yang berbeda-beda pada sebagian orang. Kelumpuhan yang terjadi pada
salah satu sisi wajah bisa dijelaskan sebagai kelumpuhan sebagian (kelemahan otot ringan) atau sebagai
kelumpuhan total (tidak ada gerakan sama sekali, tapi jarang sekali terjadi). Mulut serta kelopak mata
juga akan terpengaruh akibat Bells palsy, kedua bagian ini akan kesulitan untuk dibuka dan ditutup.

Bells palsy adalah gangguan yang terjadi hanya pada otot dan saraf wajah. Kondisi ini tidak
berdampak kepada kinerja otak atau bagian tubuh lainnya. Apabila kelumpuhan di salah satu sisi
wajah Anda dibarengi dengan kelumpuhan atau kelemahan pada bagian tubuh lain, segera
periksakan ke dokter.
Penyebab Terjadinya Bells Palsy
Hingga kini, belum diketahui dengan pasti apa yang menyebabkan terjadinya Bells palsy. Kondisi ini
dipercaya muncul ketika saraf yang mengendalikan otot pada wajah tertekan atau terganggu. Selain itu,
kelumpuhan juga diduga disebabkan karena peradangan infeksi virus. Salah satu virus yang diperkirakan
menyebabkan Bells palsy adalah virus herpes.
Diagnosis Bells Palsy
Untuk memastikan diagnosis Bells palsy, dokter akan menanyakan perkembangan gejala yang Anda
alami. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan saraf untuk mengetahui fungsi saraf
wajah. Apabila gejala yang dialami tidak jelas, Anda perlu melakukan beberapa tes, seperti
elektromiografi, MRI, atau CT scan.
Mengobati Bells Palsy
Untuk mengurangi pembengkakan yang terjadi pada saraf wajah, prednisolone atau prednison (kelompok
obat kortikosteroid) bisa digunakan. Sedangkan untuk mencegah munculnya masalah pada mata yang
tidak bisa menutup, Anda mungkin memerlukan obat tetes mata. Sedangkan untuk menutup mata, Anda
membutuhkan isolasi.

Bells palsy bisa kembali pulih sepenuhnya pada 70 persen pasien yang mengalaminya. Pada
sebagian besar orang yang menderita Bells palsy, gejala mulai membaik setelah dua atau tiga

minggu. Tapi untuk bisa pulih sepenuhnya akan membutuhkan sekitar sepuluh bulan. Pemulihan
yang terjadi tergantung pada tingkat kerusakan saraf yang diderita.
Komplikasi Bells Palsy
Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat Bells palsy.

Gangguan pada mata.

Kesulitan makan, minum, dan bicara.

Kelemahan atau kelumpuhan otot secara terus-menerus.

Otot wajah berkedut.

Kemampuan indera perasa menurun.

Khususnya pada Bells palsy yang terkait dengan faktor keturunan, ada kemungkinan kondisi ini
akan terulang kembali di masa mendatang.
Gejala yang muncul pada Bells palsy berkembang dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam
waktu dua hari. Gejala yang terjadi bisa berbeda-beda. Berikut ini adalah gejala yang biasanya
muncul pada Bells palsy.
Salah satu sisi wajah akan mengalami kelumpuhan atau kelemahan. Sisi wajah yang terpengaruh
akan terlihat melorot dan Anda tidak bisa menggerakkannya. Anda akan kesulitan untuk
membuka atau menutup mata dan mulut.

Sakit telinga pada sisi wajah yang mengalami kelumpuhan.

Telinga yang terpengaruh akan lebih sensitif terhadap suara.

Berdenging di salah satu telinga atau keduanya.

Penurunan atau perubahan pada indera perasa.

Bagian mulut yang terpengaruh akan mudah berliur.

Mulut terasa kering.

Rasa sakit pada sekitar rahang.

Sakit kepala dan pusing.

Kesulitan untuk makan, minum, dan berbicara.

Gejala-gejala yang muncul di atas biasanya akan mulai membaik dalam waktu dua hingga tiga
minggu dan akhirnya pulih sepenuhnya dalam waktu sembilan hingga sepuluh bulan.
Tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis terhadap Bells palsy. Tes
dilakukan untuk memastikan gejala yang ada bukan karena kondisi lain yang bisa menyebabkan
kelumpuhan atau kelemahan wajah, seperti stroke. Kondisi lain yang bisa memunculkan gejala
yang mirip adalah:

Tumor. Pertumbuhan jaringan secara abnormal.

Stroke. Terputusnya pasokan darah ke beberapa bagian otak yang berbahaya dan bisa
mengancam nyawa.

Sindrom Moebius. Kondisi yang sangat jarang terjadi dan muncul sejak lahir.

Infeksi telinga tengah. Kondisi yang cukup umum terjadi pada anak-anak yang
disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.

Penyakit Lyme. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang disebarkan oleh kutu.

Cedera kepala. Kondisi yang bisa terjadi pada semua orang akibat pukulan, terjatuh,
atau kecelakaan.

Kolesteatoma. Jaringan kulit abnormal yang ada di telinga bagian tengah.

Dokter akan memeriksa kepala, telinga, dan leher Anda. Kemudian dokter juga akan memeriksa
otot-otot wajah untuk memastikan apakah hanya saraf wajah yang terpengaruh. Jika dokter tidak
mendapati adanya kondisi lain, bisa disimpulkan gejala yang terjadi itu adalah akibat Bells
palsy.
Berikut ini beberapa tes yang dilakukan bisa dilakukan:

Elektromiografi. Pemeriksaan ini berguna untuk mengukur aktivitas elektrik dari otot
dan saraf Anda. Informasi yang diberikan alat ini bisa digunakan untuk mengetahui
apakah terdapat kerusakan saraf.

MRI. Prosedur ini bisa dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya tekanan pada
saraf wajah Anda.

CT scan. Prosedur ini dilakukan untuk mengetahui kondisi lain yang menyebabkan
gejala yang Anda alami, memeriksa apakah terdapat infeksi atau tumor. Prosedur ini juga
bisa menentukan apabila terdapat keretakan tulang pada wajah.

VERTIGO
ertigo merupakan suatu gejala dengan sensasi diri sendiri atau sekeliling terasa berputar yang
terjadi secara tiba-tiba. Ada kondisi vertigo yang ringan serta tidak terlalu terasa dan ada yang
parah sehingga menghambat rutinitas.
Serangan vertigo bisa bervariasi, mulai dari pusing yang ringan dan muncul secara berkala
hingga yang parah dan berlangsung lama. Serangan yang parah bisa terus berlangsung selama
beberapa hari sehingga penderitanya tidak bisa beraktivitas dengan normal.

Gejala Lain yang Menyertai Vertigo


Gejala lain yang berhubungan dengan vertigo adalah kehilangan keseimbangan. Tanda-tanda ini akan
memicu pengidap vertigo mengalami kesulitan berdiri atau berjalan, mual, muntah, berkeringat, kadang
disertai nistagmus (gerakan mata yang tidak normal) dan pusing.

Harap konsultasikan ke dokter jika vertigo Anda tidak kunjung sembuh. Dokter biasanya akan
menanyakan gejala Anda, melakukan pemeriksaan sederhana, serta menganjurkan pemeriksaan
lebih lanjut. Terutama apabila frekuensi vertigo termasuk sering dialami, sehingga diagnosis
vertigo bisa dipastikan.
Berbagai Penyebab Vertigo
Vertigo biasanya disebabkan oleh gangguan pada telinga bagian dalam. Gangguan ini akan memicu
masalah mekanisme keseimbangan tubuh. Sementara penyebab umum lainnya meliputi:

Vertigo Posisi Paroksismal Jinak atau istilah umumnya Benign Paroxysmal Positional
Vertigo (BBPV) vertigo yang dipicu oleh perubahan posisi kepala tertentu.

Migrain sakit kepala tidak tertahankan.

Penyakit Meniere gangguan yang menyerang telinga bagian dalam.

Vestibular neuronitis, yaitu inflamasi saraf vestibular pada telinga bagian dalam.

Gangguan pada otak, misalnya tumor.

Obat-obatan tertentu yang menyebabkan kerusakan telinga.

Trauma atau luka di kepala dan leher.

Pengobatan dan Pencegahan Vertigo


Vertigo sendiri termasuk gejala dan bukan penyakit. Karena itu, cara mengatasi vertigo tergantung pada
penyakit yang menyebabkannya.

Sebagian kasus vertigo bisa sembuh tanpa pengobatan. Hal ini mungkin terjadi karena otak
berhasil beradaptasi dengan perubahan pada telinga bagian dalam.

Ada juga beberapa penyebab vertigo yang membutuhkan langkah pengobatan khusus. Di
antaranya adalah:

Manuver Epley untuk menangani BBPV.

Obat-obatan, seperti prochlorperazine dan antihistamin. Namun, obat-obatan ini biasanya hanya
efektif untuk tahap awal dan sebaiknya tidak digunakan jangka panjang.

Terapi rehabilitasi vestibular guna membantu otak untuk beradaptasi dengan sinyal
membingungkan dari telinga yang jadi penyebab vertigo, sehingga frekuensinya berkurang.

Selain penanganan dari dokter atau ahli terapi, kita juga bisa melakukan sejumlah cara untuk mengurangi
atau mencegah gejala-gejala vertigo. Langkah-langkah tersebut meliputi:

Menghindari gerakan secara tiba-tiba agar tidak terjatuh.

Segera duduk jika vertigo menyerang.

Gunakan beberapa bantal agar posisi kepala saat tidur menjadi lebih tinggi.

Gerakkan kepala secara perlahan-lahan.

Hindari gerakan kepala mendongak, berjongkok, atau tubuh membungkuk.

Kenalilah pemicu vertigo Anda dan lakukan latihan yang dapat memicu vertigo Anda. Otak Anda
akan menjadi terbiasa dan malah menurunkan frekuensi kambuhnya vertigo. Lakukan latihan ini
dengan meminta bantuan orang lain.

Bagi Anda yang juga menderita penyakit Meniere, batasi konsumsi garam dalam menu seharihari.

Pada umumnya, vertigo merupakan gejala yang dipicu oleh gangguan mekanisme keseimbangan
pada telinga bagian dalam. Namun, ada beberapa penyakit lain yang juga bisa menjadi
penyebabnya.

Jenis vertigo bisa dibagi menjadi dua kategori sesuai dengan penyebabnya. Dua kategori tersebut
adalah:

Vertigo perifer. Ini adalah jenis vertigo yang paling umum. Vertigo perifer dipicu oleh gangguan
pada mekanisme keseimbangan yang terletak pada telinga bagian dalam. Gangguan tersebut
meliputi labirinitis, vestibular neuronitis, vertigo posisi paroksismal jinak (BPPV), dan penyakit
Meniere.

Vertigo sentral. Gangguan atau masalah pada serebelum (otak kecil) yang terletak di bawah otak
besar atau batang otak (bagian bawah otak yang terhubung dengan saraf tulang belakang)
berpotensi menyebabkan vertigo ini. Penyebab vertigo sentral yang lain
meliputi migrain, sklerosis multipel, stroke dan transient ischaemic attack (TIA), akibat obatobatan tertentu, serta tumor otak yang terletak di otak kecil ataupun tumor jinak pada saraf
pendengaran (neuroma akustik).

Berikut ini adalah gangguan yang menyebabkan vertigo perifer, antara lain:
Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (Benign Paroxysmal Positional Vertigo/BPPV)
BPPV termasuk pemicu utama vertigo dan umumnya disebabkan oleh perubahan posisi dan gerakan
kepala secara tiba-tiba. Misalnya:

Mendongak.

Bangkit berdiri dari posisi jongkok

Memutar atau menundukkan kepala.

BPPV juga dapat menyerang tanpa sebab jelas. Atau bisa juga terjadi setelah penderita mengalami infeksi
telinga, operasi telinga, cedera kepala, serta lama terbaring.

Kasus-kasusnya ditandai dengan serangan vertigo yang singkat, intens, dan berulang (biasanya
berlangsung selama beberapa detik atau beberapa menit). Gejala-gejala yang menyertainya juga
bisa berupa mual, muntah, pusing, limbung, serta nistagmus (gerakan bola mata yang tidak
terkendali) yang berlangsung secara singkat sehingga Anda tidak bisa fokus.
Para ahli menduga bahwa BPPV terjadi akibat serpihan debris (kristal kalsium karbonat) yang
lepas dari dinding saluran telinga bagian dalam. Serpihan ini hanya menyebabkan gangguan

ketika masuk ke saluran telinga bagian dalam yang penuh cairan. Dan akhirnya memicu gerakan
cairan yang abnormal pada saat kita melakukan gerakan kepala tertentu. Gerakan itulah yang
akan mengirim sinyal membingungkan ke otak dan menyebabkan vertigo.
BPPV umumnya menyerang lansia berusia 50 tahun ke atas. Namun, tidak menutup
kemungkinan untuk dialami oleh orang yang lebih tua dan muda.
Vertigo dan Labirinitis
Labirin adalah saluran berliku-liku dan penuh cairan pada telinga bagian dalam yang berfungsi
mengendalikan pendengaran dan keseimbangan. Peradangan akibat infeksi pada struktur sensitif tersebut
dikenal dengan labirinitis.

Labirinitis akan menyebabkan perbedaan informasi yang dikirim ke otak dari telinga yang sakit,
telinga sehat, dan mata. Inilah yang dapat memicu vertigo dan rasa pening.
Penyebab umum labirintitis adalah virus, misalnya pada pengidap pilek atau flu. Namun, bakteri
juga dapat menjadi pemicunya meski jarang terjadi. Vertigo akibat labirintitis biasanya diiringi
oleh gejala-gejala:

Sakit di telinga.

Muntah.

Mual.

Tinnitus atau telinga berdenging.

Kehilangan pendengaran.

Demam tinggi.

Vestibular Neuronitis di Balik Vertigo


Inflamasi pada saraf yang menghubungkan labirin dan otak disebut vestibular neuronitis. Peradangan ini
juga mungkin tersebar hingga labirin dalam telinga. Vestibular Neuronitis bisa berlangsung selama
beberapa jam hingga beberapa hari, tapi terkadang bisa memakan waktu 1,5 bulan untuk pulih
sepenuhnya.

Penyakit yang sering datang secara tiba-tiba ini biasanya disebabkan oleh infeksi virus.
Sementara, gejala-gejalanya meliputi tubuh yang limbung, mual, dan muntah. Meski demikian,
penderita biasanya tidak mengalami kehilangan pendengaran.
Vertigo Akibat Penyakit Meniere
Penyakit Meniere merupakan penyakit langka yang menyerang telinga bagian dalam. Vertigo yang parah,
kehilangan pendengaran, telinga berdenging, dan sensasi penuh pada telinga merupakan beberapa gejala
umumnya.

Vertigo pada penyakit Meniere akan terjadi secara mendadak dan berlangsung selama berjamjam, atau bahkan berhari-hari. Gejala ini juga sering memicu mual dan muntah.
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, tapi gejala-gejalanya bisa dikendalikan
dengan pola makan serta obat. Kondisi ini jarang membutuhkan operasi sebagai tindak lanjut.
Dampak Cedera Kepala
Vertigo juga terkadang bisa timbul setelah cedera kepala. Segeralah ke dokter atau memeriksakan diri ke
rumah sakit jika terjadi gejala-gejala, seperti pening atau vertigo, setelah benturan kepala. Vertigo sentral
biasa disebabkan oleh gangguan pada serebelum atau otak kecil dan batang otak.
Vertigo Akibat Migrain
Migrain adalah serangan sakit kepala tidak tertahankan, terutama pada bagian depan atau di salah satu sisi
kepala yang terkadang disertai mual dan sensitif terhadap cahaya (fotofobia).

Migrain biasanya dialami oleh kalangan muda dan dianggap sebagai salah satu penyebab umum
dari vertigo. Menghindari pemicu dan mengobati migrain biasanya dapat menyembuhkan
vertigo.

Diagnosis Vertigo
Tahap pertama diagnosis pada tiap penyakit umumnya diawali dengan dokter yang menanyakan
gejala Anda. Pada pengidap vertigo, penggambaran gejala secara detail akan ditanyakan.
Misalnya, mengenai situasi pada serangan pertama Anda, durasi, frekuensi kemunculan, pemicu,
pengaruh gejala pada kehidupan sehari-hari, perubahan pada pendengaran, tinnitus, atau muntahmuntah.

Selain gejala, dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan Anda serta keluarga, dan obatobatan yang Anda konsumsi secara rutin. Begitu juga dengan infeksi telinga atau cedera kepala
yang pernah dialami dalam waktu dekat.
Tahap pemeriksaan lebih lanjut akan dianjurkan jika diperlukan. Beberapa metode pemeriksaan
tersebut meliputi:
Pemeriksaan dengan Cara Memicu Vertigo
Dokter umumnya menganjurkan pemeriksaan kesehatan untuk membedakan penyebab di balik vertigo.
Proses ini meliputi pemeriksaan bagian dalam telinga dan mata guna mengecek ada atau tidaknya gerakan
bola mata yang tidak terkendali (nistagmus).

Dokter juga mungkin akan memeriksa keseimbangan atau memancing vertigo Anda dengan
manuver Dix-Hallpike. Penyebab vertigo yang paling sering didiagnosis dengan proses ini
adalah Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (BPPV).
Pemeriksaan Pendengaran ke Spesialis THT
Pemeriksaan lewat tes garpu tala dan tes audiometri akan dilakukan oleh dokter spesialis telinga, hidung,
dan tenggorokan (THT), terutama jika Anda mengalami tinnitus (telinga berdengung) atau kehilangan
pendengaran.
Pemeriksaan Nistagmus
Nistagmus dapat mengindikasikan adanya masalah pada organ-organ yang mengendalikan keseimbangan
tubuh. Pemeriksaan mendetailnya terkadang menggunakan proses elektronistagmografi (ENG) dan proses
perekaman gerakan mata dengan kacamata videonistagmografi (VNG).
Pengujian Kalorik untuk Organ Keseimbangan
Tes ini menggunakan air hangat atau dingin yang akan dituang ke telinga. Hal ini untuk memeriksa
kinerja organ keseimbangan dalam telinga yang sudah dirangsang oleh perubahan suhu dari air
Posturography untuk Memeriksa Keseimbangan
Posturography akan membantu perencanaan rehabilitasi sekaligus memantau proses pengobatan, dan
menggunakan mesin penguji keseimbangan.
Proses Pemindaian di Kepala
Dokter juga terkadang menganjurkan MRI scan atau CT scan pada bagian kepala untuk memeriksa
penyebab vertigo, misalnya neuroma akustik (tumor jinak).