Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL PENELITIAN

IMPLEMENTASI KONSEP PEMERINTAHAN YANG BAIK


(GOOD GOVERNANCE) KECAMATAN DI KOTA
PEMATANGSIANTAR

Oleh
SAUT PARLINDUNGAN SINAGA
127024038/SP

PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

DAFTAR ISI
Halaman
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan Penulisan

..
..
..

1
7
6

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Jenis Penelitian

3.2. Lokasi Penelitian

3.3. Populasi Penelitian

3.4. Teknik Pemilihan Informan

3.5. Definisi Konsep

3.6. Teknik Pengumpulan Data

3.7. Teknik Analisa Data

3.8. Teknik Keabsahan Data

22
24
25
25
27
29
30
30

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................

31

BAB II : PEMBAHASAN
2.1.
2.2.
2.3.

Daftar Tabel

Daftar Gambar

Gambar.3.1. Proses Analisa Data

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Laporan Penilaian Global Tahun 2009 pada Reproduksi
Resiko Bencana juga memberikan peringkat yang tertinggi untuk Indonesia pada
level pengaruh bencana terhadap manusia peringkat 3 dari 153 untuk gempa bumi
dan peringkat 1 dari 265 untuk tsunami. Bencana yang sering terjadi di Indonesia
akhir-akhir ini adalah bencana letusan gunung berapi dan menurut data Indonesia
mempunyai 129 buah gunung berapi aktif atau sekitar 13% dari gunung api aktif
di dunia. Seluruh gunung api tersebut berada pada jalur tektonik yang memanjang
mulai dari pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Kepulauan Banda, Halmahera,
dan Kepulauan Sangir Talaud yang menempati seperenam dari luas daratan
Nusantara. Berkumpulnya gunung api di Nusantara karena Indonesia tepat berada
pada pertemuan tiga lempeng tektonik raksasa, yakni lempeng Pasifik, Australia,
dan Eurasia. Wilayah sepanjang garis pertemuan ini di kenal dengan sebutan
busur Cincin Api Pasifik atau Pasifik Ring of Fire. Sepanjang pergerakan lempeng
terus terjadi, maka sepanjang itu pula ke 129 gunung berapi di Indonesia akan
terus menggeliat aktivitasnya, dan kelak tentu meletus (Minarjo, 2007)
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara kembali meletus
pada Hari Minggu (15 September 2013) pukul 02.00 dan diikuti letusan-letusan
berikutnya. Letusan terakhir terjadi Rabu, 18 September 2013 pukul 01.03, di
mana abu vulkanik menyembur hingga 1.500 meter diikuti lontaran material pijar.
Gunung Sinabung berketinggian 2.460 meter dari permukaan laut dan mempunyai
4 kawah (Kawah I, II, III, dan IV). Gunung bertipe strato tersebut mempunyai

catatan letusan seperti diperlihatkan pada Tabel 1.1 di bawah. Letusan Gunung
Sinabung kali ini menyebabkan 15.281 jiwa menjadi pengungsi, lebih banyak dari
pengungsi pada letusan tahun 2010 yang hanya 12.000 jiwa. Jumlah pengungsi
sempat melonjak hingga 15.691 jiwa yang tersebar di 24 titik pengungsian, yang
akhirnya difokuskan di 16 titik. (Sumber : Sutopo, BNPB 2015)
Tabel 1.1.Sejarah Letusan Gunung Sinabung
Tahun
Sebelum Tahun 1600
1912
2010

2013-2015

Letusan
Berupa muntahan batuan piroklastik serta aliran
lahar yang mengalir ke arah selatan.
Aktivitas Solfatara terlihat di puncak dan lereng
atas
22 Agustus7 September terjadi beberapa kali
letusan yang di antaranya merupakan freatik.
Satus Gunung Sinabung berubah dari tipe B
menjadi tipe A.
Terjadi letusan pada Minggu dini hari, 15
September 2013. Letusan masih terjadi lagi
hingga beberapa kali kemudian. Saat ini status
gunung pada level III atau siaga. Jumlah
pengungsi di Posko Bencana Kabupaten Karo
mencapai lebih dari 11.000 jiwa. Dan sampai
sekarang erupsi masih berlangsung serta korban
erupsi masih berada di pengungsian

Sumber : kompas, 2013


Dampak Letusan gunung sinabung di Kabupaten Karo, yang dirangkum
dari beberapa penelitian sebelumnya memiliki banyak kesamaan, kesimpulan
penelitian mengenai Dampak yang Ditimbulkan Erupsi Gunung Sinabung kepada
masyarakat sekitar antara lain berdasarkan hasil penelitian Sinulingga, 2015)
sebagai berikut :
1. Dampak Sosial
Para petani sebagian meminjam uang kepada koperasi dan juga bank untuk
memulai pekerjaan mereka sebagai modal awal untuk membeli benih,
pupuk, upah pekerja, obat-obatan pertanian, dll. Erupsinya Gunung
2

Sinabung membuat petani kehilangan hasil panen selama beberapa bulan,


akibatnya hutang tersebut susah dibayar karena tidak memiliki penghasilan
lagi. Masyarakat berpotensi terkena stress, depresi dan trauma, serta
hilangnya privasi yang akan menghambat peluang untuk mengembangkan
diri dan ketidakpastian masa depan. Masyarakat harus mampu beradaptasi
pada tempat tinggal baru di pengungsian
2. Dampak Ekonomi
Ekonomi masyarakat menjadi krisis karena situasi lahan pertanian yang
dijadikan sumber-sumber pendapatan tidak dapat diharapkan lagi
diakibatkan debu vulkanik, lahar dingin, sertat erputusnya jalan desa.
3. Dampak Pendapatan
Pendapatan masyarakat terutama petani kopi nihil karena hilangnya mata
pencaharian sementara.
4. Dampak Sarana Prasarana dan Lingkungan
5. Lingkungan yang mengalami perubahan, yaitu atap rumah rusak, aliran
listrik mati, aliran air rusak dan disfungsi, tanaman dan pohon mati,
jalanan umum rusak, licin dan penuh bebatuan. Lingkungan pengungsian
yang kurang layak karena terbatasnya tempat tidur, fasilitas MCK dan
dapur, serta makanan dan pakaian.
6. Dampak Pertahanan Keamanan (Hankam)
Keikutsertaaan TNI mulai dari menyiapkan posko pengungsian, jalur
evakuasi dengan melakukan perbaikan jalan yang rusak, serta sosialisasi
kepada masyarakat. Sehingga bertambahnya tugas TNI untuk membantu
masyarakat korban erupsi Gunung Sinabung.

7. Dampak Politik
Diberhentikannya Bupati Karo, yaitu Kena Ukur Surbakti karena kurang
tanggap mengurus puluhan ribu pengungsi letusan Gunung Sinabung.
Hasil penelitian yang di rangkum (Sinulingga, 2015) dari berbagai sumber
menunjukkan bahwa, sepanjang terjadinya erupsi Sinabung pada tahun 20122014, Kabupaten Karo mengalami penurunan pertumbuhan berkisar 45 persen.
Selain itu, tercatat tamatan SMA yang melanjutkan ke S-1 menurun 70 persen,
produktivitas pertanian menurun 35 persen dan pariwisata menurun 49 persen.
Infrastruktur yang rusak di antaranya jalan sepanjang 30 km , 25 unit puskesmas,
2.824 Ha daerah irigasi, 95 sarana pendidikan dan 65.000 Ha lahan pertanian.
(Sinulingga, 2015).
Dalam UU Penanggulangan Bencana sendiri disebutkan pengertian
pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar
dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat
dampak buruk bencana. (Sumber : UU Penanggulangan Bencana R.I. 2013)
Pada Pasal 5 UU Penanggulangan. Bencana ditegaskan bahwa pemerintah
dan pemerintah daerah bertanggung jawab melaksanakan penyelenggaraan
penanggulangan bencana. Salah satu prinsip dalam penyelenggaraan itu adalah
prinsip nondiskriminasi dalam pengertian bahwa negara dalam melakukan
penanggulangan bencana tidak boleh memberikan perlakukan yang berbeda
terhadap jenis kelamin, suku, agama, ras, dan aliran politik apapun.
Berdasarkan prinsip nondiskriminasi tersebut, penanggulangan bencana
seharusnya juga dilakukan dengan memperhatikan permasalahan dan kebutuhan
pengungsi untuk pasangan suami istri untuk menyediakan sarana dan prasarana
penyaluran biologis (seks) bagi pasangan suami isteri yang berada di lokasi
pengungsian.

Para pengungsi Gunung Sinabung, Kabupaten Tanah Karo yang hingga


kini masih bertahan di 41 titik pengungsian, berharap Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara menyediakan ruangan biologis (bercinta). Pasalnya, hingga kini
para pengungsi Sinabung belum dapat menyalurkan hasrat seksualnya, akibat
ketiadaan fasilitas dari pemerintah. Padahal mereka sudah berada di pengungsian
sekitar 4 bulan. Keberadaan ruangan biologis ini untuk mengantisipasi jatuhnya
korban jiwa saat erupsi terjadi. Karena banyak pengungsi yang nekad pulang ke
rumahnya, hanya untuk berhubungan seks.
Hal tersebut dapat dilihat dari bebepa kutipan dari harian online yang
menyatakan pentingnya untuk segera membangun sarana penyaluran biologis
(seksual) di lokasi penngungsian korban erupsi Gunung Sinabung sebagai berikut:
"Banyak pasangan suami istri yang pulang ke rumahnya dengan
cara mencuri-curi kesempatan untuk melakukan hubungan seks.
Karena tempat tidak tersedia, sementara uang untuk menyewa
penginapan enggak ada. Padahal ini kan membahayakan," (Sumber
:
Darman
Sinuraya,
2014,
dapat
diakses
di
http://www.beritasumut.com/view/Peristiwa/13585/PengungsiSinabung-Butuh-Ruangan-Bercinta.html)
"Saya pikir ini pengadaan ruangan biologis bagi pengungsi
Siabung sudah layak kita sediakan. Karena, selain pengungsi
membutuhkan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup, pengungsi
yang sudah 4 bulan berada di pengungsian juga butuh tempat untuk
menyalurkan hasratnya bagi pasangan suami istri, (Sumber :
Darman
Sinuraya,
2014,
dapat
diakses
di
http://www.beritasumut.com/view/Peristiwa/13585/PengungsiSinabung-Butuh-Ruangan-Bercinta.html)
Perubahan perilaku masyarkat pengungsi dalam lokasi pengungsian sudah
tentu akan terjadi, karena di lokasi pengungsan masyarakat tidak bisa melakukan
kaktifitas seperti sehari-hari dalam kehidupan normal, baik itu bekerja, perbedaa
suasana di rumah dan ditempat pengungsian yang berbeda, rasa takut dan trauma

akan letusan dan gempa, dan lain-lain. Hal demikian akan berdampak pada
perubahan perilaku pengungsi di lokasi pengungsian begitu juga dengan perilaku
seks pengungsi bagi pasangan suami istri yang tidak bisa menyalurkan hubungan
biologis karena tidak tersedianya sarana (bilik bercinta) untuk suami istri korban
pengungsi Gunung Sinabung.
Untuk itu kajian mengenai perubahan perilaku sosial dan seksualitas
pengungsi Gunung Sinabung di lokasi pengungsian, menurut peneliti perlu
dilakukan untuk mengetahui keadaan perubaha perilaku tersebut, tujuannya agar
memberikan masukan berupa sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Daerah
dalam menangani pengungsi khususnya Pem.Kab. Karo dalam menangani
perubahan perilaku sosial dan seksualitas pengungsi erupsi Gunung Sinabung di
lokasi pengungsian.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka
perumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perilaku sosial seperti apa yang terjadi kepada pengungsi yang
berada di lokasi pengungsian korba erupsi Gunung Sinabung ?
2. Apakah terdapat perubahan perilaku seksual pengungsi dikarenakan tidak
tersedianya sarana penyaluran biologis bagi pasangan suami isteri di lokasi
pengungsian erupsi Gunung Sinabung ?

1.3. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penulisan kajian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui perubahan perilaku masyarkat pengungsi yang berada
di posko pengungsian erupsi Gunung Sinabung.

2. Untuk mengetahui perubahan perilaku seksual masyarkat pengungsi di


posko pengungsian dikarenakan tidak tersedianya fasilitas penyaluran
hubungan seksual bagi suami isteri di posko pengungsian erupsi Gunung
Sinabung.
1.4. Manfaat Penelitian
1.

Secara teoritis hasil penelitian diharapkan dapat memberi sumbangan


untuk perkembangan ilmu sosial.

2.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk penelitianpenelitian lanjutan yang berhubungan dengan perilaku sosial yang terjadi
di pengusian

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai perubahan yang terjadi didalam

atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan

sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Berbicara tentang perubahan, kita
membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu; kita berurusan
dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka
waktu tertentu. Untuk dapat menyatakan perbedaannya. Konsep dasar perubahan
sosial mencakup tiga gagasan:
1. Perbedaan.
2. Pada waktu berbeda.
3. Diantara keadaan sistem sosial yang sama.
Perubahan sosial menurut Hawley yaitu : Perubahan sosial adalah setiap
perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan (Sztompka,
2010).
Perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa

jenis, tergantung

pada sudut pengamatan, apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem
sosialnya. Ini disebabkan keadaan sistem sosial itu tidak sederhana, tidak hanya
berdimensi tunggal, tetapi muncul sebagai kombinasi atau gabungan hasil dari
berbagai komponen. Dan pengertian perubahan sosial menurut para ahli yaitu :
1. Menurut Macionis perubahan sosial itu adalah transformasi dalam
organisasi masyarakat, dalam pola berfikir dan dalam perilaku pada waktu
tertentu (Sztompka, 2010)
2. Perubahan sosial menurut Persell adalah modifikasi atau transformasi
dalam organisasi masyarakat (Sztompka, 2010)
3. Sedangkan Ritzer berpendapat bahwa perubahan sosial mengacu pada
variasi hubungan antara individu, kelompok,organisasi, kultur dan
masyarakat pada waktu tertentu (Sztompka, 2010)

4. Menurut Farley perubahan sosial adalah perubahan polaprilaku, hubungan


sosial, lembaga, dan struktur sosial pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 )
5. Gillin dan gillin menyatakan bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi
dari cara- cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan karena
perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi
penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat tersebut. (Sztompka, 2010 )
6. Wiliam F. Ogburn berusaha memberikan sesuatu pengertian bahwa ruang
lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik material
maupun immaterial, dimana yang ditekankan adalah pengaruh besar unsurunsur kebudayaan material terhadap immaterial. (Sztompka, 2010 )
Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang,
organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut struktur sosial atau pola nilai
dan norma serta peran. Dengan demikian, istilah yang lebih lengkap mestinya
adalah perubahan sosial-kebudayaan kerena memang antara manusia sebagai
makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri.
Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan
fungsi suatu system sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya
ide-ide pembaruan yang diadopsi oleh para anggota sistem sosial yang
bersangkutan. Proses perubahan sosial biasa terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1. Invensi, yakni proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.
2. Difusi, yakni proses dimana ide-ide baru itu dikomunikasikan kedalam
sistem sosial.

3. Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam system sosial


sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan
perubahan sosial adalah perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat
yang mencakup aspek- aspek struktur dari suatu masyarakat karena terjadinya
perubahan dari

faktor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk,

keadaan geografis, serta berubahnya keadaan sistem hubungan sosial, maupun


perubahan pada lembaga kemasyarakatannya.
2.1.1. Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan
Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan diantaranya adalah perubahan
perubahan sosial yang tidak dikehendaki. Perubahan yang tidak dikehendaki atau
yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan
pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat
socialyang tidak diharapkan oleh masyarakat. (Sztompka, 2010 )
2.1.2. Kejutan kebudayaan atau cultural shock
Culture

Shock

adalah

perubahan

nilai

budaya

seiring

dengan

perkembangan jaman dan wawasan yang makin berkembang ini biasanya terjadi
pada orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan
yang baru (Sztompka, 2010 )
2.1.3. Proses proses Perubahan Sosial
Pada dasarnya masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Perubahan
tersebut dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat dalam satu
waktu dengan keadaan yang lampau. Menurut Alvin L. Bertrond, proses
perubahan sosial dalam (Sztompka, 2010 ) adalah sebagai berikut :

10

1. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu


individu ke individu yang lain, dari satu golungan ke golongan yang lain,
atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain, Difusi dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu:
a. Difusi intra-masyarakat yaitu Difusi unsur kebudayaan antara
individu/golongan dalam satu masyarakat.
b. Difusi antarmasyarakat, yaitu difusi unsur kebudayaan dari satu
masyarakat ke masyarakat yang lain.
2. Akulturasi atau kontak kebudayaan merupakan proses sosial yang timbul
apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan
dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsurunsur kebudayaan tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam
kebudayaannya tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan
asal.
3. Asimilasi adalah proses social tingkat lanjut yang timbul apabila terdapat
golongan golongan manusia yang mempunyai latar belakang kebudayaan
berbeda saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam
waktu yang lama sehingga kebudayaan dari masing-masing golongan
tersebut berubah sifatnya dari yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan
baru yang berbeda dengan asalnya.
4. Akomodasi dikenal pula dengan sebutan adaptasi. Akomodasi dapat
berarti keadaan atau proses. Sebagai suatu keadaan, akomodasi menunjuk
kepada adanya keseimbangan dalam interaksi antara individu dengan
kelompok sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai social yang

11

berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada


usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau
usaha-usaha untuk mencapai kestabilan sosial.
2.1.4. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial
Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan kedalam beberapa
bentuk (Sztompka, 2010 ) yaitu :
1. Perubahan lambat (Evolusi)
Perubahan secara lambat atau evolusi memerlukan waktu yang
lama. Perubahan ini biasanya merupakan rentetan perubahan kecil
yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan
terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu.
Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan dengan keperluan,
keadaan, dan kondisi baru yang ditimbul sejalan dengan
pertumbuhan masyarakat.
2. Perubahan Cepat (Revolusi)
Perubahan yang berlangsung secara cepat dinamakan dengan
revolusi. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat
direncanakan terlebih dahulu maupun tanpa direncanakan. Selain
itu dapat dijalankan tanpa kekerasan maupun dengan kekerasan.
Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relative karena
revolusi pun dapat memakan waktu lama. Perubahan-perubahan
tersebut dianggap cepat Karena mengubah sendi-sendi pokok
kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan dan hubungan
antara manusia.

12

3.

Perubahan kecil
Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada
unsur-unsur struktur social yang tidak membawa pengaruh
langsung atau berarti bagi masyarakat. Seperti contohnya yaitu
pada zaman dahulu, kaum perempuan di Indonesia setiap harinya
mengenakan baju kebaya. Seiring dengan perkembangan zaman
dan perubahan mode, model pakaian yang mereka kenakan pun
mengalami perubahan. Ada yang memakai rok panjang, rok mini,
celana panjang, kaos dan lain lain.

4. Perubahan Besar
Perubahan besar adalah perubahan yang berpengaruh terhadap
masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti dalam system kerja,
system hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan stratifikasi
masyarakat.
5. Perubahan yang dikehendaki
Perubahan ini adalah perubahan yang diperkirakan atau yang telah
direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak
mengadakan perubahan dalam masyarakat. Pihak-pihak ini
dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok
orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin
dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.
6. Perubahan Struktural
Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang
menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat.

13

7. Perubahan Proses
Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar.
Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari
perubahan sebelumnya.
2.1.5. Faktor-faktor Yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan (Sztompka,
2010 ) yaitu :
1. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan
a. Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain Kontak dengan
kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi
dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah
dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari
kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing
dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong
pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang
ada.
b. Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama
membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional,
dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk
menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi
perkembangan zaman atau tidak.
c. Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain Penghargaan terhadap
hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya
lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk

14

menghasilkan karya-karya lain.


d. Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang Penyimpangan
sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak
pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial
budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta
hal-hal baru yang kreatif.
e. Sistem Terbuka Masyarakat (Open Stratification). Sistem terbuka
memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang
lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi
mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan
sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu
untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
f. Heterogenitas Penduduk

Di dalam masyarakat heterogen yang

mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda


akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan
kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong
terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam
upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.
g. Orientasi ke Masa Depan Pemikiran yang selalu berorientasi ke
masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan
mendorong

terciptanya

penemuan-penemuan

baru

yang

disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.


h. Ketidakpuasan

masyarakat

terhadap

bidang-bidang

tertentu

Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat

15

dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan


gerakan revolusi untuk mengubahnya.
i. Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk
Memperbaiki Hidupnya ikhtiar harus selalu dilakukan manusia
dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan
menggunakan sumber daya yang terbatas.
2.2.6. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan menurut (Sztompka, 2010) sebgai
berikut :
1. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain Kehidupan terasing
menyebabkan

suatu masyarakat tidak mengetahui

perkembangan-

perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola


pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis.
2. Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan Kondisi ini dapat
dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya
masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama
berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).
3. Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional Sikap yang mengagungagungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit
menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika
masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konservatif
(kolot).
4. Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan Integrasi
kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini
dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang

16

telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini


dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang
telah ada.
5. Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat
(Vested Interest Interest) Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan
strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang
mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan
statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses
perubahan.
6. Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing) Sikap
yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah
oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua
hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman
pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri
dari pengaruh-pengaruh asing.
7. Hambatan-Hambatan yang bersifat ideologis setiap usaha perubahan pada
unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang
berlawanan dengan ideologi masyarakat yang sudah menjadi dasar
integrasi masyarakat tersebut.
8. Adat atau Kebiasaan yang telah mengakar merupakan pola-pola perilaku
bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk
diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan
perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat

17

mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan


masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka
mesin pemotong padi tidak akan digunakan.
9. Nilai bahwa hidup ini pada hakikatnya buruk dan tidak mungkin
diperbaiki pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat
cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan
telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak
akan memacu
2.2.

Perubahan Perilaku Seks


Menurut Simkins (1984) dalam Sarwono (2010), perilaku seksual adalah

segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan
jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa
bermacam-macam, mulai dari membaca buku porno, nonton film porno, perasaan
tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek
seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Murti,
2008). Sedangkan menurut Mohammad (1998), perilaku seksual dapat
didefinisikan sebagai interaksi antara perilaku prokreatif dengan situasi fisik
serta sosial yang melingkunginya. Perilaku seksual meliputi 4 tahap (Kinsey
(1965) dalam Murti, 2008) yaitu:
1. Bersentuhan

(touching),

mulai

dari

berpegangan

tangan

sampai

berpelukan.
2. Berciuman (kissing), mulai dari ciuman singkat hingga berciuman bibir
dengan mempermainkan lidah (deep kissing).
3. Bercumbuan (petting), menyentuh bagian-bagian yang sensitif dari tubuh

18

pasangannya dan mengarah pada pembangkitan gairah seksual.


4. Berhubungan kelamin (sexual intercouse).
2.2.1. Penyimpangan Seksual
Pada dasarnya semua aktifitas seks yang diperoleh dengan cara yang tidak
wajar termasuk ke dalam kelompok penyimpangan seksual. Berikut ini beberapa
jenis penyimpangan seks yang paling sering terjadi di era modern saat ini:
1. Homoseksual dan Lesbian
Homoseksual adalah aktifitas seks yang terjadi akibat perubahan orientasi
pasangan seks, pelakunya disebut gay atau homo untuk pria dan lesbian
untuk penyuka sesama jenis wanita. Beberapa ahli tidak memasukkan
homoseksualitas sebagai penyakit melainkan rasa ketertarikan atau
romantisme biasa terhadap sesama jenis.
2. Sadomasokis
Aktifitas ini salah satu jenis penyimpangan seks yang berbahaya sebab jika
dilakukan secara ekstrim dapat menyebabkan kematian. Kepuasan seks
diperoleh dengan cara menyiksa parner seks terlebih dahulu sebelum
melakukan hubungan intim. Semakin keras rasa sakit yang ditimbulkan
maka pelaku akan semakin terangsang. Sementara masokis adalah perilaku
menyimpang dimana penderita merasa puas jika disiksa atau disakiti
selama berhubungan intim.
3. Ekshibisionisme
Ekshibisionisme adalah perilaku seks menyimpang dimana pelaku akan
memperoleh kenikmatan dengan cara memperlihatkan organ seksnya
kepada orang lain. Objek yang kaget, malu, takut, dan menjerit akan

19

semakin membuat pelaku terangsang. Meski penyimpangan seks ini


sebagian besar diidap kaum pria, banyak juga wanita yang senang
mempertontonkan anggota tubuh vitalnya kepada orang lain di depan
publik atau melalui media sosial seperti facebook dan twitter.
4. Voyeurisme
Voyeurisme adalah perilaku seks menyimpang dimana pelaku akan
memperoleh kepuasan seks dengan cara mengintip orang lain yang sedang
telanjang atau mandi atau bahkan saat berhubungan seks. Pelaku
umumnya tidak akan melakukan kekerasan fisik kepada korban, dia hanya
mengintip dan melakukan masturbasi setelah atau selama mengintip.
5.

Fetishisme
Aktifitas fethishisme disebut aneh karena pelaku hanya bisa menyalurkan
hasrat seksnya terhadap benda-benda tertentu seperti BH, celana dalam,
kaos kaki atau benda lain. Pelaku akan melakukan masturbasi dengan
memegang objek tersebut sambil mengkhayalkan bersetubuh dengan
pemilik objek tersebut.

6. Pedophilia
Pedophilia bukan hanya penyimpangan seks tetapi juga pelanggaran
hukum yang sangat fatal. Pedophilia adalah ketertarikan melakukan
aktifitas seks terhadap anak kecil di bawah umur. Pelaku sebagian besar
adalah orang dekat korban seperti tetangga atau keluarga dekat.
7. Bestially
Bestially adalah perilaku seks menyimpang dimana penderita memiliki
ketertarikan melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kuda,

20

anjing, ular, ayam, dan lain-lain.


8. Incest
Incest adalah hubungan intim yang dilakukan terhadap sesama anggota
keluarga seperti antara anak dengan Ayah atau Ibu, Paman dengan
kemenakan, antara sepupu atau antara saudara dengan saudara. Hubungan
rahasia ini biasanya tersembunyi sangat rapat dan sangat jarang diketahui
atau terbongkar.
9. Necrophilia/Necrofil
Adalah jenis penyimpangan seks dimana pelaku melakukan hubungan seks
dengan mayat. Umumnya pelaku adalah pria yang mengalami gangguan
perilaku dan keterhambatan sosial dan menjadikan mayat yang tidak
berdaya sebagai objek seks.
10. Frotteurisme/Frotteuris
Di Jepang disebut dengan istilah Chikan, dimana seseorang mendapatkan
kepuasan seks dengan cara menggosok-gosokkan alat kelaminnya ke
tubuh wanita di tempat umum seperti di kereta, bis atau tempat keramaian.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

21

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian


deskriptif, dengan pendekatan kualitatif yaitu menggambarkan secara tepat sifatsifat suatu keadaan subjek atau objek Penelitian deskriptif dalam pelaksanaannya
lebih terstruktur, sistematis dan terkontrol, peneliti memulai dengan subjek yang
telah jelas dan mengadakan penelitian atas populasi atau sampel dari subjek
tersebut untuk menggambarkannya secara akurat. (Silalahi, 2009).
Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan
menggambarkan atau medeskripsikan obyek dan fenomena yang diteliti.
Termasuk di dalamnya bagaimana unsur-unsur yang ada dalam variabel penelitian
itu berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung
(Siagian, 2011).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, yaitu untuk
mendeskripsikan perubahan perilaku sosal dan seksualitas masyarakat pengungsi
di posko pengungsian Erupsi Gunung Sinabung.
3.2.

Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di lokasi posko pengungsi erupsi Gunung

Sinabung di Gedung Serba Guna Kabanjahe.

3.3.

Populasi
Secara sederhana populasi dapat diartikan sebagai sekumpulan obyek,

benda, pristiwa ataupun individu yang akan dikaji dalam suatu penelitian, dengan
catatan bahwa individu atau obyek yang menjadi populasi penelitian harus

22

memiliki ciri atau sifat yang memiliki persamaan (Siagian, 2011).


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengungsi yang berada di
Gedung Serba Guna Kabanjahe sebanyak 2.352 Kepala Keluarga yang telah
menempati rumah di pemukiman baru di Desa Siosar Kecamatan Merek
Kabupaten Karo.
3.4.

Teknik Pemilihan Informan


Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini adalah non-probability

sampling atau non-random samples karena tidak semua orang dijadikan informan
dalam penelitian ini. Seperti dijelaskan Alston and Bowles (1998, h. 90) non
probability sampling seeking information in targets subject or cases who typify
the issue to be studied. (non-probability sampling mencari informasi dalam target
yang menjadi subyek atau kasus yang melambangkan masalah yang akan
dipelajari).
Teknik pemilihan informan pada penelitian ini menggunakan purposive
sampling dan snowball sampling. Purposive sampling menurut Alston and Bowles
(1998,h. 93) adalah select sample gives insight into a particular issue related to
the study area.( pengambilan sampel secara purposive dimana sampel yang
dipilih untuk memberikan wawasan ke dalam isu tertentu terkait dengan wilayah
yang dikaji), sedangkan snowball sampling menurut Neuman, (2006, h. 203)
adalah which researcher select be fins with one case, and then based information
about interrelationshios from that case, identifies other case, and repeats the
process again and again. (yang mana seorang peneliti memilih memulai dengan
bagian satu kasus, dan kemudian informasi yang diperoleh saling berhubungan

23

dari satu kasus dengan kasus lainnya, dan berulang-ulang pada proses yang terus
menerus).
Berdasarkan pendapat di atas maka informan penelitian dipilih
berdasarkan purpossif sampling yang memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Pihak Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Bupati Kabupaten Karo yang
bertanggung jawab mengenai masalah prngungsi korban erupsi Gunung
Sinabung.
2. Pihak Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Bappeda Kabupaten Karo
yang mengetahui perencanaan dan pendanaan pengungsi di Gedung Serba
Guna Kabanjahe.
3. Kepala BNPB yang mengetahui masalah pengungsi korban Erupsi Gunung
Sinabung
4. Pihak TNI AD yang membantu menangani masalah pengungsi di Gedung
Serbu Guna Kabanjahe.
5. Pihak Polri yang membantu menangani masalah pengungsi di Gedung
Serbu Guna Kabanjahe
6. NGO-NGO yang mengetahui kondisi atau perilaku sosial masyarakat
pengungsi di Gedung Serbu Guna Kabanjahe
7. Pihak Pemerintah Desa yang diwakili Kepala Desa yang mengetahi
perubahan perilaku warganya di lokasi pengungsian.
8. Tokoh masyarakat yang mengetahui perubahan perilaku sosial pengungsi
Gunung Sinabung.
9. Tokoh adat dari perubahan perilaku sosial pengungsi Gunung Sinabung.
10. Masyarakat pengungsi (suami-isteri) yang berada di lokasi pengungsian

24

Gedung Serbaguna Kabanjahe


3.5.

Definisi Konsep dan Definisi Operasional

3.5.1. Definisi Konsep


Suatu konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri-ciri yang berkaitan
dengan berbagai peristiwa, objek, kondisi, situasi dan hal lain-lain yang sejenis.
Konsep diciptakan dengan mengelompokkan objek-objek atau peristiwa-peristiwa
yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Definisi konsep bertujuan untuk
merumuskan sejumlah pengertian yang digunakan secara mendasar dan
menyamakan persepsi tentang apa yang akan diteliti serta menghindari salah
pengertian yang dapat mengaburkan tujuan Penelitian. (Silalahi, 2009)
Konsep adalah suatu makna yang berada dialam pikiran atau di dunia
kepahaman manusia yang dinyatakan kembali dengan sarana lambang perkataan
atau kata-kata (Sugiyono, 2008).
Untuk lebih mengetahui pengertian mengenai konsep-konsep yang
digunakan maka peneliti membatasi konsep yang digunakan sebagai berikut :
1. Konsep Perubahan Sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi
antar orang, organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut struktur
sosial atau pola nilai dan norma serta peran. Dengan demikian,
istilah yang lebih lengkap mestinya adalah perubahan sosialkebudayaan kerena memang antara manusia sebagai makhluk sosial tidak
dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri.
3.5.2. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan seperangkat petunjuk atau kriteria atau
operasi yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan bagaimana

25

mengamatinya dengan memiliki rujukan-rujukan empiris. Bertujuan untuk


memudahkan penelitian dalam melaksanakan penelitian di lapangan. Maka perlu
operasionalisasi dari konsep-konsep yang menggambarkan tentang apa yang harus
diamati. (Silalahi, 2009).
Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan
bagaimana cara mengukur suatu variabel (Singarimbun, 1989). Definisi
operasional bertujuan untuk memudahkan penelitian dalam melaksanakan
penelitian dilapangan, maka perlu operasionalisasi dari konsep-konsep yang
digunakan untuk menggunakan prilaku atau gejala yang diamati dengan kata-kata
yang dapat diuji dan diketahui kebenarannya oleh orang lain. Untuk mengetahui
variabel dalam penelitian ini, maka peneliti meggunakan 5 W + 1 H yaitu (what,
who, when, where, why, dan how ) yang akan dijadikan sebagai patokan dalam
melakukan penelitian
3.6.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:
1. Studi literatur dan dokumentasi dari berbagai jurnal, buku, hasil penelitian
dan media lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian, selain itu
dilakukan juga studi dokumentasi untuk memperoleh data sekunder.
Menurut Alston and Bowles (1998) to discover what knowledge is
already available about the issue you wish to investigate, to determine hoe
your study will differ from existing work:. (untuk memperoleh pengetahuan
yang sudah ada sebelumnya mengenai permasalahan yang diteliti, untuk

26

mengetahui bagaimana penelitian yang dilakukan berbeda dari penelitian


yang sudah ada sebelumnya).
2. Wawancara mendalam terhadap informan penelitian yang dipilih melalui
purposive sampling dan snowball sampling. Wawancara dalam penelitian
ini dilakukan dengan semi terstruktur dan mendalam
3. Obeservasi lapangan, pengamatan yang didasarkan pada topik penelitian
dan realita lapangan yang ditemukan. (Moleong, 2010) menjelaskan
kegiatan observasi dilakukan melalui pengamatan yang memungkinkan
peneliti untuk mencatat peristiwa yang berkaitan dengan pengetahuan
langsung dari data yang diperoleh.
3.7.

Teknik Analisa Data


Dalam penelitian kualitatif teknik analisa data dilakukan dengan menelaah

seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Analisa data dalam pendekatan
kualitatif menitikberatkan pada analisis induktif, sehingga data analisis secara
deskriptif dapat diilustrasikan dengan contoh-contoh meliputi kutipan-kutipan,
rangkuman dari dokumen dan analisis verbal. (Moleong, 2010).
Dengan demikian, upaya analisis data dipenelitian ini dilakukan dengan
jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memiliah data menjadi satuan
yang dapat dikelola dan dapat menemukan pola yang dipelajari sehingga dapat
memutuskan apa yang diceritakan atau dideskripsikan. Untuk jelasnya dapat
dilihar dari gambar.1. berikut:

Gambar 3.1. Proses Analisa Data

Listen

Sound Recording

Short
and
Classify
Open
Coding
Axial
Coding
Interpret
27
&
Elaborat
e

Dat
a1

Observe

Da
ta
2

Visual
Recording

Interview

Dat
a3

Fields Notes

Collect Data

Analyze Data
Sumber: Ellen (dalam Neuman, 2005, h.468)

Penjelasan: Data 1 adalah data mentah dan pengalaman peneliti, data 2


adalah rekaman data, pengelaman dokumen fisik, dan data 3 adalah seleksi data,
pemprosesan data dan laporan akhir.
Berdasarkan gambar proses analisa data tersebut maka tahapan analisa
data dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Tahap pengorganisasian data. Pada tahap ini data-data yang diperoleh
masih berupa data mentah dari kegiatan interview informan yang telah
direkam, catatan lapangan hasil observasi dan dokumen yang berasal dari
lembaga atau pihak terkait. Setelah itu, data mentah yang diperoleh
melalui kegiatan di atas dilakukan pengorganisasian dan diseleksi agar
sesuai dengan tujuan dari topik penelitian. Hasil pengorganisasian data
akan

dimasukkan

dalam

transkrip

wawancara

setelah

dilakukan

pengkategorisasian data
2. Tahap pengolahan data, setelah data diseleksi akan diolah dengan cara me
review dan menyatukan serta memformulasikan data sehingga data yang

28

sama dari hasil interview dan data non-interview dapat dikategorisasikan


dan dikoding untuk memudahkan informasi dalam proses analisa data
3. Tahap penafsiran data proses penafsiran data dilakukan melalui
penyusunan dan pengkategorisasian data dari pengolahan data, sehingga
penyatuan tersebut dihubungkan dengan pola yang terdapat pada hasil
temuan dilapangan yang selanjutnya dianalisa menggunakan teori
substansi.
4. Tahap kesimpulan. Pada tahap ini pengambilan kesimpulan peneliti
dilakukan dengan merangkum point penting yang terdapat pada temuan
lapangan dan pembahasan dengan tujuan untuk mengeneralisasikan kajian
penelitian ini, Dengan demikian hasil kesimpulan dapat memberikan
gambaran secara komprehensif terhadap tujuan dari penelitian itu sendiri.
3.8.

Teknik Keabsahan Data


Suatu penelitian dibutuhkan proses prosedur dari keabsahan data yang

sesuai dengan kaedah penelitian. Keabsahan (trustworthiness) dan otentitas


(authenticity) merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan dalam setiap
penelitian, tanpa data yang valid maka penelitian akan menjadi bias dan hasil
penelitian tidak sesuai dengan tujuan penelitian ilmiah. Menurut Daymon and
Hallowey (2008), dalam (Moleong, 2010) teknik untuk menguji otensitas
(authenticity) dan keabsahan (trustworthiness) data pada penelitian kualitatif
meliputi credibility, transferability, dependability dan confirmability
Keabsahan data pada penelitian ini berguna untuk meningkatkan
kredibilitas penelitian, maka peneliti ikut berpartisipasi dalam kegiatan
masyarakat dan lembaga untuk mendapatkan berbagai jenis sumber data dari

29

informan yang berbeda-beda. Sumber data yang diperoleh dari kegiatan


wawancara dan diskusi kelonpok dari tokoh masyarakat, pengelola lembaga, dan
masyarakat akan dibandingkan (triangulasi) pada setianp anggota (member check)
untuk mengecek kembali derajat kepercayaan dan akurasi informasi terhadap data
observasi dan dokumentasi yang didapatkan. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh
(Moleong, 2010) bahwa proses triangulasi dapat dicapai dengan cara (1)
membandingkan

data

hasil

pengamatan

dengan

hasil

wawancara;

(2)

membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakan secara pribadi dan; (3) membandingkan hasil wawancara dengan isi
atau dokumen yang berkaitan
Sedangkan proses transferability dilakukan dengan cara mengumpulkan
kejadian empiris dengan menyediakan dan memperkaya data deskriptif dengan
uraian rinci sesuai dengan karakteristik fokus perhatian dalam kajian penelitian.
Melalui penyediaan data deskriptif yang cukup maka akan dipindahkan pada
situasi lain yang berguna untuk membantu pembaca mengetahui pegetahuan
khusus yang diperoleh dari temuan-temuan penelitian
Data yang didapat dari proses transferability akan diperiksa oleh pihak
luar untuk mempelajari bahan yang tersedia. Proses keabsahan data ini disebut
dependability

DAFTAR PUSTAKA
Martanto, Fakhrudin. 2014. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persoalan
Relokasi Pasca Bencana Lahar Dingin di Kali Putih (Studi Kasus Dusun

30

Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang). ITB :


Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPKK. Vol 3. No.1 Hal 69Minarjo, T., Setyono, B., Sudarmaji. 2007. Dampak Erupsi Gunung Merapi
Terhadap Usahatani Bunga Krisan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian:
Yogyakarta.
Miflen, F. dan Syney C. M. 1986. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: P.T.Raja.
Grafindo
Murti, (2008). Perilaku seksual dan Jenis-Jenis Penyimpangan Seksual Jakarta
:PT.Gramedia
Sarwono (2010) Perilaku Seksual Jakarta : PT.Gramedia
Silalahi, 2009). Metode Penelitian Sosial. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Siagian, 2011. Penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama
Singarimbun, 1989Metode Penelitian Sosial. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utam
Sugiyono, 2008Metode Penelitian Sosial. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta: P.T.Raja. Grafindo
Sztompka, P. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta : PT. Gramedia
Wasty, Soemanto, 1990, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta
Widodo Supriyono. (1990), Psikologi Belajar, Solo : Rineka. Cipta

Sumber dari Undang-Undang :


Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 1 Tentang Penanggulangan
Bencana.

31

Sumber Internet :
Anonim.
2014.
Pengungsi
Butuh
Bilik
Bercinta.[Diakses
dari
http://www.beritasumut.com/view/Peristiwa/13585/Pengungsi-SinabungButuh-Ruangan-Bercinta.html).( tanggal: 2 Feb 2016 , pukul 13.00 WIB)]
Anonimus. 2014. Gunung Sinabung. [Diakses dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung Sinabung (Diakses tanggal: 2
November 2015, 13.00 WIB). ]
Sutopo 2015. banyaknya bantuan kepada pengungsi bencana Gunung Sinabung
ada juga yang menimbulkan ekses negatif [Diakses dari
:.http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/04/n0gfbcbanyak-bantuan-anak-pengungsi-gunung-sinabung-malas-belajar (tanggal:
2 November 2015, 13.00 WIB)].

32