Anda di halaman 1dari 50

ANAMNESIS

Pengertian Anamnesis
Anamnesis adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara
seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui
tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.
Tujuan Anamnesis
Tujuan pertama anamnesis adalah memperoleh data atau informasi tentang permasalahan
yang sedang dialami atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat
maka informasi yang didapatkan akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan
tidak jarang hanya dari anamnesis saja seorang dokter sudah dapat menegakkan diagnosis.
Secara umum sekitar 60-70% kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan
hanya dengan anamnesis yang benar.
Tujuan berikutnya dari anamnesis adalah untuk membangun hubungan yang baik antara
seorang dokter dan pasiennya. Umumnya seorang pasien yang baru pertama kalinya bertemu
dengan dokternya akan merasa canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga cederung
tertutup. Tugas seorang dokterlah untuk mencairkan hubungan tersebut. Pemeriksaan
anamnesis adalah pintu pembuka atau jembatan untuk membangun hubungan dokter dan
pasiennya sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan kerjasama dari pasien untuk
tahap-tahap pemeriksaan selanjutnya.
Jenis Anamnesis
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau
Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu
anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab
semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis
terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang
sesungguhnya dia rasakan.
Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan. Pada
pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau
pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya.
Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau
Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama
auto dan alloanamnesis.
Persiapan untuk anamnesis
Anamnesis yang baik hanya dapat dilakukan apabila dokter yang melakukan anamnesis
tersebut menguasai dengan baik teori atau pengetahuan kedokteran. Tidak mungkin seorang
dokter akan dapat mengarahkan pertanyaan-pertanyaannya dan akhirnya mengambil
kesimpulan dari anamnesis yang dilakukan bila dia tidak menguasai dengan baik ilmu
kedokteran. Seorang dokter akan kebingungan atau kehilangan akal apabila dalam melakukan
anamnesis tidak tahu atau tidak mempunyai gambaran penyakit apa saja yang dapat
menimbulkan keluhan atau gejala tersebut, bagaimana hubungan antara keluhan-keluhan

tersebut dengan organ-organ tubuh dan fungsinya. Umumnya setelah selesai melakukan
anamnesis seorang dokter sudah harus mampu membuat kesimpulan perkiraan diagnosis atau
diagnosis banding yang paling mungkin untuk kasus yang dihadapinya. Kesimpulan ini hanya
dapat dibuat bila seorang dokter telah mempersiapkan diri dan membekali diri dengan
kemampuan teori atau ilmu pengetahuan kedokteran yang memadai.
Meskipun demikian harus disadari bahwa tidak ada seorang dokterpun yang dapat dengan
yakin menyatakan bahwa dia pasti selalu siap dan mampu mendiagosis setiap keluhan
pasiennya. Bahkan seorang dokter senior yang sudah berpengalaman sekalipun pasti pernah
mengalami kebingungan ketika menghadapi pasien dengan keluhan yang sulit dianalisa.
Cara melakukan anamnesis
Dalam melakukan anamnesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang dokter,
antara lain :
1. Tempat dan suasana
Tempat dan suasana dimana anamnesis ini dilakukan harus diusahakan cukup nyaman bagi
pasien. Anamnesis akan berjalan lancar kalau tempat dan suasana mendukung. Suasana
diciptakan agar pasien merasa santai, tidak tegang dan tidak merasa diinterogasi.
2. Penampilan dokter
Penampilan seorang dokter juga perlu diperhatikan karena ini akan meningkatkan
kepercayaan pasiennya. Seorang dokter yang tampak rapi dan bersih akan lebih baik dari
pada yang tampak lusuh dan kotor. Demikian juga seorang dokter yang tampak ramah, santai
akan lebih mudah melakukan anamnesis daripada yang tampak galak, ketus dan tegang.
3. Periksa kartu dan data pasien
Sebelum anamnesis dilakukan sebaiknya periksa terlebih dahulu kartu atau data pasien dan
cocokkan dengan keberadaan pasiennya. Tidak tertutup kemungkinan kadang-kadang terjadi
kesalahan data pasien atau mungkin juga kesalahan kartu data, misalkan pasien A tetapi kartu
datanya milik pasien B, atau mungkin saja ada 2 pasien dengan nama yang sama persis.
Untuk pasien lama lihat juga data-data pemeriksaan, diagnosis dan terapi sebelumnya.
Informasi data kesehatan sebelumnya seringkali berguna untuk anamnesis dan pemeriksaan
saat ini.
4. Dorongan kepada pasien untuk menceritakan keluhannya
Pada saat anamnesis dilakukan berikan perhatian dan dorongan agar pasien dapat dengan
leluasa menceritakan apa saja keluhannya. Biarkan pasien bercerita dengan bahasanya
sendiri. Ikuti cerita pasien, jangan terus menerus memotong, tetapi arahkan bila melantur.
Pada saat pasien bercerita, apabila diperlukan ajukan pertanyaan-pertanyaan singkat untuk
minta klarifikasi atau informasi lebih detail dari keluhannya. Jaga agar jangan sampai
terbawa cerita pasien sehingga melantur kemana mana.
5. Gunakan bahasa/istilah yang dapat dimengerti
Selama tanya jawab berlangsung gunakan bahasa atau istilah umum yang dapat dimengerti

pasien. Apabila ada istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau sulit
dimengerti, berika penjelasan atau deskripsi dari istilah tersebut.
6. Buat catatan
Adalah kebiasaan yang baik untuk membuat catatan-catatan kecil saat seorang dokter
melakukan anamnesis, terutama bila pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang panjang.
7. Perhatikan pasiennya
Selama anamnesis berlangsung perhatikan posisi, sikap, cara bicara dan gerak gerik pasien.
Apakah pasien dalam keadaaan sadar sepenuhnya atau apatis, apakah dalam posisi bebas atau
posisi letak paksa, apakah tampak santai atau menahan sakit, apakah tampak sesak, apakah
dapat bercerita dengan kalimat-kalimat panjang atau terputus-putus, apakah tampak segar
atau lesu, pucat dan lain-lain.
8. Gunakan metode yang sistematis
Anamnesis yag baik haruslah dilakukan dengan sistematis menurut kerangka anamnesis yang
baku. Dengan cara demikian maka diharapkan tidak ada informasi yang terlewat.
Tantangan dalam Anamnesis
1. Pasien yang tertutup
Anamnesis akan sulit dilakukan bila pasien membisu dan tidak mau menjawab pertanyaanpertanyaan dokternya. Keadaan ini dapat disebabkan pasien merasa cemas atau tertekan,
tidak leluasa menceritakan keluhannya atau dapat pula perilakunya yang demikian karena
gangguan depresi atau psikiatrik. Tergantung masalah dan situasinya kadang perlu orang lain
(keluarga atau orang-orang terdekat) untuk mendampingi dan menjawab pertanyaan dokter
(heteroanamnesis), tetapi kadang pula lebih baik tidak ada seorangpun kecuali pasien dan
dokternya. Bila pasien dirawat di rumah sakit maka anamnesis dapat dilanjutkan pada harihari berikutnya setelah pasien lebih tenang dan lebih terbuka.
2. Pasien yag terlalu banyak keluhan
Sebaliknya tidak jarang seorang pasien datang ke dokter dengan begitu banyak keluhan dari
ujung kepala sampai ujung kaki. Tugas seorang dokter untuk memilah-milah keluhan mana
yang merupakan keluhan utamanya dan mana yang hanya keluh kesah. Diperlukan kepekaan
dan latihan untuk membedakan mana yang merupakan keluhan yang sesungguhnya dan mana
yang merupakan keluhan mengada-ada. Apabila benar-benar pasien mempuyai banyak
keluhan harus dipertimbangkan apakah semua keluhan itu merujuk pada satu penyakit atau
kebetulan pada saat tersebut ada beberapa penyakit yang sekaligus dideritanya.
3. Hambatan bahasa dan atau intelektual
Seorang dokter mungkin saja ditempatkan atau bertugas disuatu daerah yang mayoritas
penduduknya menggunakan bahasa daerah yang belum kita kuasai. Keadaan semacam ini
dapat menyulitkan dalam pelaksanaan anamnesis. Seorang dokter harus segera belajar bahasa
daerah tersebut agar dapat memperlancar anamnesis, dan bila perlu dapat meminta bantuan
perawat atau petugas kesehatan lainnya untuk mendampingi dan membantu menerjemahkan

selama anamnesis. Kesulitan yang sama dapat terjadi ketika menghadapi pasien yang karena
intelektualnya yang rendah tidak dapat memahami pertanyaan atau penjelasan dokternya.
Seorang dokter dituntut untuk mampu melakukan anamnesis atau memberikan penjelasan
dengan bahasa yang sangat sederhana agar dapat dimengerti pasiennya.
4. Pasien dengan gangguan atau penyakit jiwa
Diperlukan satu tehnik anamnesis khusus bila seorang dokter berhadapan dengan penderita
gangguan atau penyakit jiwa. Mungkin saja anamnesis akan sangat kacau, setiap pertanyaan
tidak dijawab sebagaimana seharusnya. Justru di dalam jawaban-jawaban yang kacau tersebut
terdapat petunjuk-petunjuk untuk menegakkan diagnosis. Seorang dokter tidak boleh bingung
dan kehilangan kendali dalam melakukan anamnesis pada kasus-kasus ini.
5. Pasien yang cenderung marah dan menyalahkan
Tidak jarang dijumpai pasien-pasien yang datang ke dokter sudah dalam keadaan marah dan
cenderung menyalahkan. Selama anamnesis mereka menyalahkan semua dokter yang pernah
memeriksanya, menyalahkan keluarga atau orang lain atas masalah atau keluhan yang
dideritanya. Umumnya ini terjadi pada pasien-pasien yang tidak mau menerima kenyataan
diagnosis atau penyakit yang dideritanya. Sebagai seorang dokter kita tidak boleh ikut
terpancing dengan menyalahkan sejawat dokter lain karena hal tersebut sangat tidak etis.
Seorang dokter juga tidak boleh terpancing dengan gaya dan pembawaan pasiennya sehingga
terintimidasi dan menjadi takut untuk melakukan anamnesis dan membuat diagnosis yang
benar.
Sistematika Anamnesis
Sebuah anamnesis yang baik haruslah mengikuti suatu metode atau sistematika yang baku
sehingga mudah diikuti. Tujuannya adalah agar selama melakukan anamnesis seorang dokter
tidak kehilangan arah, agar tidak ada pertanyaan atau informasi yang terlewat. Sistematika ini
juga berguna dalam pembuatan status pasien agar memudahkan siapa saja yang membacanya.
Sistematika tersebut terdiri dari :
1. Data umum pasien
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
6. Riwayat kebiasaan/sosial
7. Anamnesis sistem
1. Data umum pasien
a. Nama pasien
Sebaiknya nama lengkap bukan nama panggilan atau alias.
b. Jenis kelamin
Sebagai kelengkapan harus juga ditulis datanya
c. Umur
Terutama penting pada pasien anak-anak karena kadang-kadang digunakan untuk

menentukan dosis obat. Juga dapat digunakan untuk memperkirakan kemungkinan


penyakit yang diderita, beberapa penyakit khas untuk umur tertentu.
d. Alamat
Apabila pasien sering berpindah-pindah tempat maka tanyakan bukan hanya alamat
sekarang saja tetapi juga alamat pada waktu pasien merasa sakit untuk pertama kalinya.
Data ini kadang diperlukan untuk mengetahui terjadinya wabah, penyakit endemis atau
untuk data epidemiologi penyakit.
e. Pekerjaan
Bila seorang dokter mencurigai terdapatnya hubungan antara penyakit pasien dengan
pekerjaannya, maka tanyakan bukan hanya pekerjaan sekarang tetapi juga pekerjaanpekerjaan sebelumnya.
f. Perkawinan
Kadang berguna untuk mengetahui latar belakang psikologi pasien
g. Agama
Keterangan ini berguna untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh (pantangan)
seorang pasien menurut agamanya.
h. Suku bangsa
Berhubungan dengan kebiasaan tertentu atau penyakit-penyakit yang berhubungan
dengan ras/suku bangsa tertetu.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan atau yang paling berat sehingga
mendorong pasien datang berobat atau mencari pertolongan medis. Tidak jarang pasien
datang dengan beberapa keluhan sekaligus, sehingga seorang dokter harus jeli dan cermat
untuk menentukan keluhan mana yang merupakan keluhan utamanya. Pada tahap ini
sebaiknya seorang dokter sudah mulai memikirkan beberapa kemungkinan diagnosis banding
yang berhubungan dengan keluhan utama tersebut. Pemikiran ini akan membantu dalam
mengarahkan pertanyaan-pertanyaan dalam anamnesis selanjutnya. Pertanyaan diarahkan
untuk makin menguatkan diagnosis yang dipikirkan atau menyingkirkan kemungkinankemungkinan diagnosis banding.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Dari seluruh tahapan anamnesis bagian inilah yang paling penting untuk menegakkan
diagnosis. Tahapan ini merupaka inti dari anamnesis. Terdapat 4 unsur utama dalam
anamnesis riwayat penyakit sekarang, yakni : (1) kronologi atau perjalanan penyakit, (2)
gambaran atau deskripsi keluhan utama, (3) keluhan atau gejala penyerta, dan (4) usaha
berobat. Selama melakukan anamnesis keempat unsur ini harus ditanyakan secara detail dan
lengkap.
Kronologis atau perjalanan penyakit dimulai saat pertama kali pasien merasakan munculnya
keluhan atau gejala penyakitnya. Setelah itu ditanyakan bagaimana perkembangan
penyakitnya apakah cenderung menetap, berfluktuasi atau bertambah lama bertambah berat
sampai akhirnya datang mencari pertologan medis. Apakah munculnya keluhan atau gejala
tersebut bersifat akut atau kronik, apakah dalam perjalanan penyakitnya ada faktor-faktor
yang mencetuskan atau memperberat penyakit atau faktor-faktor yang memperingan. Bila
keluhan atau gejala tersebut bersifat serangan maka tanyakan seberapa sering atau frekuensi

munculnya serangan dan durasi atau lamanya serangan tersebut.


Keluhan atau gejala penyerta adalah semua keluhan-keluhan atau gejala yang menyertai
keluhan atau gejala utama. Dalam bagian ini juga ditanyakan usaha berobat yang sudah
dilakukan untuk penyakitnya yang sekarang. Pemeriksaan atau tindakan apa saja yang sudah
dilakukan dan obat-obat apa saja yag sudah diminum.
4. Riwayat Penyakit dahulu
Seorang dokter harus mampu mendapatkan informasi tentang riwayat penyakit dahulu secara
lengkap, karena seringkali keluhan atau penyakit yang sedang diderita pasien saat ini
merupakan kelanjutan atau akibat dari penyakit-penyakit sebelumnya.
5. Riwayat penyakit Keluarga
Untuk mendapatkan riwayat penyakit keluarga ini seorang dokter terkadang tidak cukup
hanya menanyakan riwayat penyakit orang tuanya saja, tetapi juga riwayat kakek/nenek,
paman/bibi, saudara sepupu dan lain-lain. Untuk beberapa penyakit yang langka bahkan
dianjurkan untuk membuat susunan pohon keluarga, sehingga dapat terdeteksi siapa saja yang
mempunyai potensi untuk menderita penyakit yang sama.
6 Riwayat Kebiasaan/Sosial
Beberapa kebiasaan berakibat buruk bagi kesehatan dan bahkan dapat menjadi penyebab
penyakit yang kini diderita pasien tersebut. Biasakan untuk selalu menanyakan apakah pasien
mempunyai kebiasaan merokok atau minum alkohol. Tanyakan sudah berapa lama dan
berapa banyak pasien melakukan kebiasaan tersebut. Pada masa kini bila berhadapan dengan
pasien usia remaja atau dewasa muda harus juga ditanyakan ada atau tidaknya riwayat
penggunaan obat-obatan terlarang seperti narkoba, ekstasi dan lai-lain.
7. Anamnesis Sistem
Anamnesis sistem adalah semacam review dimana seorang dokter secara singkat dan
sistematis menanyakan keluhan-keluhan lain yang mungkin ada dan belum disebutkan oleh
pasien. Keluhan ini mungkin saja tidak berhubugan dengan penyakit yang sekarang diderita
tapi mungkin juga merupakan informasi berharga yang terlewatkan.
Kesimpulan Anamnesis
Pada akhir anamnesis seorang dokter harus dapat membuat kesimpulan dari anamnesis yang
dilakukan. Kesimpulan tersebut berupa perkiraan diagnosis yang dapat berupa diagnosis
tunggal atau diagnosis banding dari beberapa penyakit. Kesimpulan yang dibuat haruslah
logis dan sesuai dengan keluhan utama pasien. Bila menjumpai kasus yang sulit dengan
banyak keluhan yang tidak dapat dibuat kesimpulannya, maka cobalah dengan membuat
daftar masalah atau keluhan pasien. Daftar tersebut kemudian dapat digunakan untuk
memandu pemeriksaan fisik atau pemeriksaan penunjang yang akan dilaksanakan, sehingga
pada akhirnya dapat dibuat suatu diagosis kerja yang lebih terarah.

TANDA-TANDA VITAL
MELAKUKAN PEMERIKSAAN TANDA- TANDA VITAL
A.

Pengertian :

Pemeriksaan tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan
sistem tubuh. Tanda vital meliputi: Suhu tubuh, Denyut Nadi, Frekuensi Pernapasan, dan
Tekanan Darah.
Tujuan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

a.

Pengukuran suhu tubuh dilakukan untuk mengetahui rentang suhu tubuh.


Mengetahui denyut nadi (Irama, Frekuensi, dan Kekuatan)
Menilai kemampuan kardiovaskuler
Mengetahui frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan
Menilai kemampuan fungsi pernapasan
Mengetahui nilai tekanan darah.
Tanda-tanda vital adalah pengukuran tanda-tanda fungsi vital tubuh yang paling

dasar. Tanda vital utama antara lain :


Tekanan darah
Tekanan darah adalah kekuatan yang mendorong darah terhadap dinding arteri,
Tekanan ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang dipompa, dan ukuran serta
fleksibilitas dari arteri, diukur dengan alat pengukur tekanan darah dan stetoskop. Tekanan
darah terus-menerus berubah tergantung pada aktivitas, suhu, makanan, keadaan emosi,
sikap, keadaan fisik, dan obat-obatan.
Dua angka dicatat ketika mengukur tekanan darah. Angka yang lebih tinggi, adalah
tekanan sistolik, mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung berkontraksi dan
memompa darah ke seluruh tubuh. Angka yang lebih rendah, adalah tekanan diastolik,
mengacu pada tekanan di dalam arteri ketika jantung beristirahat dan pengisian darah. Baik
tekanan sistolik dan diastolik dicatat sebagai mm Hg (milimeter air raksa). Perbedaan
antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut. Di Indonesia, tekanan darah
biasanya diukur dengan tensimeter air raksa.
Jumlah tekanan darah yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
- Bayi usia di bawah 1 bulan
- Usia 1 - 6 bulan
- Usia 6 - 12 bulan
- Usia 1 - 4 tahun

: 85/15 mmHg
: 90/60 mmHg
: 96/65 mmHg
: 99/65 mmHg

- Usia 4 - 6 tahun

: 160/60 mmHg

- Usia 6 - 8 tahun

: 185/60 mmHg

- Usia 8 - 10 tahun

: 110/60 mmHg

- Usia 10 - 12 tahun

: 115/60 mmHg

- Usia 12 - 14 tahun

: 118/60 mmHg

- Usia 14 - 16 tahun

: 120/65 mmHg

- Usia 16 tahun ke atas

: 130/75 mmHg

- Usia lanjut

: 130-139/85-89 mmHg

Seseorang dikategorikan hypertensi berdasarkan tekanan darahnya adalah:


* Hipertensi rendah : 140 - 159/ 90-99 mmHg
* Hipertensi sedang : 160 - 169/100-109 mmHg
* Hipertensi berat : 180 - 209/110-119 mmHg
Tempat untuk mengukur tekanan darah seseorang adalah:
* Lengan atas
* Pergelangan kaki
Pelaksanaan
1.
Alat dan bahan
Sfigmomanometer (tensimeter) yang terdiri dari
Stetoskop
Buku catatan tanda vital
Pena
2.
Cara kerja
Cara palpasi
Jelaskan prosedur pada klien.
Cuci tangan.
Atur posisi pasien
Letakkan lengan yang hendak diukur pada posisi telentang.
Lengan baju di buka.
Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa cubiti (jangan terlalu
ketat maupun terlalu longgar)
Tentukan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinister
Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba
Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg lebih tinggi dari titik radialis tidak
teraba
Letakkan diafragma stetoskop di atas nadi brakhialis dan kempeskan balon udara manset
secara perlahan dan berkesinambungan dengan memutar sekrup pada pompa udara
berlawanan arah jarum jam.
Catat mmHg manometer saat pertama kali denyut nadi teraba kembali. Nilai ini
menunjukkan tekanan sistolik secara palpasi.
Catat hasil.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
Cara auskultasi
Jelaskan prosedur pada klien.
Cuci tangan.
Atur posisi pasien
Letakkan lengan yang hendak diukur dalam posisi telentang.
Buka lengan baju.

Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa cubiti (jangan terlalu
ketat maupun terlalu longgar).
Tentukkan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra.
Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba.
Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg dari titik radialis tidak teraba.
Letakkan diafragma stetoskop di atas arteri brakhialis dan dengarkan.
Kempeskan balon udara manset secara perlahan dan berkesinambungan dengan memutar
sekrup pada pompa udara berlawanan arah jarum jam.
Catat tinggi air raksa manometer saat pertama kali terdengar kembali denyut.
Catat tinggi air raksa pada manometer
Suara Korotkoff I: menunjukkan besarnya tekanan sistolik secara auskultasi
Suara Korotkoff IV/V: menunjukkan besarnya tekanan diastolik secara auskultasi.
Catat hasilnya pada catatan pasien.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
b. Nadi
Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh darah arteri yang
berdasarkan systol dan gystole dari jantung. Denyut nadi adalah jumlah denyut jantung, atau
berapa kali jantung berdetak per menit. Mengkaji denyut nadi tidak hanya mengukur
frekuensi denyut jantung, tetapi juga mengkaji irama jantung dan kekuatan denyut jantung.
Denyut merupakan pemeriksaan pada pembuluh nadi atau arteri. Ukuran kecepatannya
diukur pada beberapa titik denyut misalnya denyut arteri radialis pada pergelangan tangan,
arteri brachialis pada lengan atas, arteri karotis pada leher, arteri poplitea pada belakang lutut,
arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior pada kaki. Pemeriksaan denyut dapat
dilakukan dengan bantuan stetoskop. Denyut nadi dapat meningkat pada saat berolahraga,
menderita suatu penyakit, cedera, dan emosi.
Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:
- Bayi baru lahir

: 140 kali per menit

- Umur di bawah umur 1 bulan

: 110 kali per menit

- Umur 1 - 6 bulan

: 130 kali per menit

- Umur 6 - 12 bulan

: 115 kali per menit

- Umur 1 - 2 tahun

: 110 kali per menit

- Umur 2 - 6 tahun

: 105 kali per menit

- Umur 6 - 10 tahun

: 95 kali per menit

- Umur 10 - 14 tahun

: 85 kali per menit

- Umur 14 - 18 tahun

: 82 kali per menit

- Umur di atas 18 tahun

: 60 - 100 kali per menit

- Usia Lanjut

: 60 -70 kali per menit

Jika jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut bradicardi.
Jika jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi.
Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
- Ateri radalis

: Pada pergelangan tangan

- Arteri temporalis

: Pada tulang pelipis

- Arteri caratis

: Pada leher

- Arteri femoralis

: Pada lipatan paha

- Arteri dorsalis pedis

: Pada punggung kaki

- Arteri politela : pada lipatan lutut


- Arteri bracialis
- Ictus cordis

: Pada lipatan siku


: pada dinding iga, 5 7

Pelaksanaan
Alat dan bahan
Arloji (jam) atau stopwatch
Buku catatan nadi
Pena
Cara kerja
Jelaskan prosedur pada klien
Cuci tangan
Atur posisi pasien (manusia coba)
Letakkan kedua lengan telentang di sisi tubuh
Tentukan letak arteri (denyut nadi yang akan dihitung)
Periksa denyut nadi (arteri) dengan menggunakan ujung jari telunjuk, jari tengah, dan jari
manis. Tentukan frekuensinya per menit dan keteraturan irama, dan kekuatan denyutan.
Catat hasil.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
c. Suhu

Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan dari proses
pemompaan jantung. Pemeriksaan nadi seharusnya dilakukan dalam keadaan tidur atau
istirahat. Kondisi hipertermia dapat meningkatkan denyut nadi sebanyak 15 20 kali per
menit setiap peningkatan suhu 1 derajat celcius. Pemeriksaan suhu digunakan untuk menilai
kondisi metabolisme di dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi
melalui metabolisme darah. Keseimbangan suhu harus diatur dalam pembuangan dan
penyimpanannya di dalam tubuh yang diatur oleh hipotalamus.
Pemeriksaan suhu akan memberikan tanda suhu inti yang secara ketat dikontrol
karena dapat dipengaruhi oleh reaksi kimiawi. Suhu tubuh normal seseorang bervariasi,
tergantung pada jenis kelamin, aktivitas, lingkungan, makanan yang dikonsumsi, gangguan
organ, waktu. Suhu tubuh normal, menurut American Medical Association, dapat berkisar
antara 97,8F atau setara dengan 36,5C sampai 99F atau 37,2C.
Seseorang dikatakan bersuhu tubuh normal, jika suhu tubuhnya berada pada 36C 37,5C. Seseorang dikatakan bersuhu tubuh rendah (hypopirexia/hypopermia), jiak suhu
tubuhnya < 36C
Seseorang dikatakan bersuhu tubuh tinggi/panas jika:
- Demam : Jika bersuhu 37,5 C - 38C
- Febris : Jika bersuhu 38C - 39C
- Hipertermia : Jika bersuhu > 40C
Persiapan pasien dan lingkungan
Prosedur
1. Mengukur suhu pada aksila

Sebelum kerja cuci tangan

Menurunkan aiar raksa sampai batas reservoir

Bila perlu lengan baju pasien dibuka, jika ketiak pasien basah harus dikeringkan

Termometer dipasang tepat pada tengah ketiak dijepitkan, lengan pasien dilipat di
dada

Setelah 10 menit termometer di angkat langsung di baca dengan teliti dan di catat
pada buku catatan suhu

Termometer dibersihkan dengan larutan sabun, memakai tissue kemudian di


masukkan dalam larutan desinfektan lalu dibersihkan dengan air bersihdan
dikeringkan

Air raksa diturunkan dan termometer dimasukkan ke dalam tempatnya

2. Mengukur denyut nadi dan pernafasan

Pengaturan posisi pasdien berbaring / duduk

Menetukan tempat pengukura nadi dengan menggunakan tiga jari : jari telunjuk,
tengah, manis

Menghitung denyut nadi dalam 1 menit

Mengitung pernafasan tanpa diketahui pasien selama 1 menit

Mencatat hasil

Adanya komunikasi dengan pasien

3. Mengukur tekanan darah

Mengatur posisi tidur terlentang / semi fowler

Lengan baju di buka / digulung

Manset tensimeter di pasang pada lengan atas dan pipa karet berda di sisiluar lengan

Manset di pasang tidak terlalu kuat

Pompa tensimeter dipasang

Meraba denyut nadi brachialis

Sekrup balon karet ditutup , pengunci air raksa dibuka

Mempopa balon karet pelan- pelan sampai denyut nadi brachialis terdengar

Sekrup balon di buka perlahan- lahan, pandanga mata sejajar air raksa

Mencatat hasil

Manset dibuka dan digulung, air raksa di masukkan dalam reservoir, kunci air raksa di
tutup , tensimeter di tuutp dengan rapi

Mencuci tangan sesudah bekerja

Hasil
1. Data yang diperoleh valid sesuai sebagai hasil pemeriksaan
2. Posisi pasien pada keadaan semula
3. Alat alat dalam keadaan siap pakai
Pelaksanaan
Alat dan bahan
Termometer
Tiga buah botol
botol pertama berisi larutan sabun
botol kedua berisi larutan desinfektan
botol ketiga berisi air bersih
Bengkok
Kertas/tisu
Vaselin
Buku catatan suhu
Sarung tangan
Pemeriksaan suhu aksila
Jelaskan prosedur kepada klien
Cuci tangan
Gunakan sarung tangan
Atur posisi pasien
Tentukan letak aksila (Ketiak) dan bersihkan daerah aksila dengan menggunakan tissue
Turunkan suhu termometer dibawah anatara 34C 35C.

Letakkan termometer pada daerah aksila dan lengan pasien fleksi diatas dada (mendekap dada)
Setelah 3 5 menit, angkat termometer dan baca hasilnya
catat hasil
Bersihkan termometer dengan kertas / tissue
Cuci termometer dengan air sabun, desinfektan, bilas dengan air bersih dan keringkan.
Cuci tangan setelah prosedur dilakukan
Termometer
d. Pernapasan
Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen
dan pengeluaran karbondioksida. Menilai frekuensi, irama, kedalaman dan tipe atau pola
pernapasan. Tingkat respirasi atau respirasi rate adalah jumlah seseorang mengambil napas
per menit. Tingkat respirasi biasanya diukur ketika seseorang dalam posisi diam dan hanya
melibatkan menghitung jumlah napas selama satu menit dengan menghitung berapa kali dada
meningkat. Respirasi dapat meningkat pada saat demam, berolahraga, emosi. Ketika
memeriksa pernapasan, adalah penting untuk juga diperhatikan apakah seseorang memiliki
kesulitan bernapas.
Jumlah pernapasan seseorang adalah:
- Bayi : 30 - 40 kali per menit
- Anak : 20 - 50 kali per menit
- Dewasa : 16 - 24 kali per menit
Pelaksanaan
Alat dan bahan
Arloji (jam) atau stop-watch
Buku catatan
Pena
Cara kerja
Jelaskan prosedur pada klien
Cuci tangan
Atur posisi pasien (manusia coba).
Hitung frekuensi dan irama pernapasan.
Catat hasil.

Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik adalah peninjauan dari ujung rambut sampai ujung kaki pada setiap system
tubuh yang memberikan informasi objektif tentang klien dan memungkinkan perawat untuk
mebuat penilaian klinis. Keakuratan pemeriksaan fisik mempengaruhi pemilihan terapi yang
diterima klien dan penetuan respon terhadap terapi tersebut.(Potter dan Perry, 2005)
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian
tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif,
memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan
keperawatan yang tepat bagi klien. ( Dewi Sartika, 2010)
Tujuan Pemeriksaan Fisik
Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat
keperawatan.
Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaan.
Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan.
Namun demikian, masing-masing pemeriksaan juga memiliki tujuan tertentu yang akan
dijelaskan nanti di setiap bagian tubuh yang akan dilakukan pemeriksaan fisik.
MANFAAT PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi
kesehatan lain, diantaranya:
Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan
TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK
Ada 4 teknik dalam pemeriksaan fisik yaitu :
1. Inspeksi
Inspeksi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran dan
penciuman. Inspeksi umum dilakukan saat pertama kali bertemu pasien. Suatu gambaran atau
kesan umum mengenai keadaan kesehatan yang di bentuk. Pemeriksaan kemudian maju ke
suatu inspeksi local yang berfokus pada suatu system tunggal atau bagian dan biasanya
menggunakan alat khusus seperti optalomoskop, otoskop, speculum dan lain-lain. (Laura
A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang
diperiksa melalui pengamatan (mata atau kaca pembesar). (Dewi Sartika, 2010)
Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi,
kesimetrisan, lesi, dan penonjolan/pembengkakan. Setelah inspeksi perlu dibandingkan hasil
normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata kuning

(ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain.


2. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba dengan meletakkan tangan
pada bagian tubuh yang dapat di jangkau tangan. Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997).
Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang menggunakan indera peraba ; tangan dan jari-jari,
untuk mendeterminasi ciri-ciri jaringan atau organ seperti: temperatur, keelastisan, bentuk,
ukuran, kelembaban dan penonjolan.(Dewi Sartika,2010).
Hal yang dideteksi adalah suhu, kelembaban, tekstur, gerakan, vibrasi, pertumbuhan atau
massa, edema, krepitasi dan sensasi. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama
palpasi :
Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai.
Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
Kuku jari perawat harus dipotong pendek.
Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.
Misalnya : adanya tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
3. Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan tubuh unutk menghasilkan
bunyi yang akan membantu dalam membantu penentuan densitas, lokasi, dan posisi struktur
di bawahnya (Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997).
Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk
membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri/kanan) dengan menghasilkan suara, yang
bertujuan untuk mengidentifikasi batas/lokasi dan konsistensi jaringan. (Dewi Sartika, 2010).
Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah :
Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada
pneumonia.
Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung, perkusi
daerah hepar.
Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong, misalnya
daerah caverna paru, pada klien asthma kronik.
4. Auskultasi
Auskultasi adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh bermacam-macam
organ dan jaringan tubuh.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997). Auskultasi Adalah
pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh
tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan
adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.(Dewi Sartika, 2010).
Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :
Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus pernafasan
mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia,
TBC.
Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat ekspirasi.
Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru.
Wheezing : bunyi yang terdengar ngiii.k. bisa dijumpai pada fase inspirasi maupun
ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.

Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar kering seperti suara gosokan amplas pada
kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.
Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan:
1. Head to toe (kepala ke kaki)
Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki. Mulai dari :
keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan
tenggorokan, leher, dada, paru, jantung, abdomen, ginjal, punggung, genetalia, rectum,
ektremitas.
2. ROS (Review of System / sistem tubuh)
Pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh sistem tubuh, yaitu : keadaan umum, tanda
vital, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem persyarafan, sistem perkemihan,
sistem pencernaan, sistem muskuloskeletal dan integumen, sistem reproduksi. Informasi yang
didapat membantu perawat untuk menentukan sistem tubuh mana yang perlu mendapat
perhatian khusus.
3. Pola fungsi kesehatan Gordon, 1982
Perawat mengumpulkan data secara sistematis dengan mengevaluasi pola fungsi kesehatan
dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus meliputi : persepsi kesehatanpenatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat,
kognitif-pola perseptual, peran-pola berhubungan, aktifitas-pola latihan, seksualitas-pola
reproduksi, koping-pola toleransi stress, nilai-pola keyakinan.
Dalam melakukan pemeriksaan fisik, ada prinsip-prinsip yang harus di perhatikan, yaitu
sebagai berikut:
Kontrol infeksi
Meliputi mencuci tangan, memasang sarung tangan steril, memasang masker, dan membantu
klien mengenakan baju periksa jika ada.
Kontrol lingkungan
Yaitu memastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan untuk
melakukan pemeriksaan fisik baik bagi klien maupun bagi pemeriksa itu sendiri. Misalnya
menutup pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privasi klien.
Komunikasi (penjelasan prosedur)
Privacy dan kenyamanan klien
Sistematis dan konsisten ( head to toe, dr eksternal ke internal, dr normal ke abN)
Berada di sisi kanan klien
Efisiensi
Dokumentasi
PEMERIKSAAN TANDA VITAL
A. Pemeriksaan Nadi
Denyut nadi merupakan denyutan atau dorongan yang dirasakan dari proses pemompaan
jantung. Pemeriksaan nadi seharusnya dilakukan dalam keadaan tidur atau istirahat. Kondisi
hipertermia dapat meningkatkan denyut nadi sebanyak 15 20 kali per menit setiap
peningkatan suhu 1 derajat celcius.
Penilaian denyut nadi yang lain adalah takikardia sinus yang ditandai dengan variasi 10 15
denyutan dari menit ke menit dan takikardia supraventrikuler paroksimal ditandai dengan

nadi sulit dihitung karena terlalu cepat (lebih dari 200 kali per menit).Bradikardia merupakan
frekuensi denyut jantung lebih lambat dari normal. Pemeriksaaan nadi yang lain adalah
iramanya, normal atau tidak. Disritmia (aritmia) sinus adalah ketidakteraturan nadi, denyut
nadi lebih cepat saat inspirasi dan lambat saat ekspirasi.
B. Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemeriksaan tekanan darah indikator penting dalam menilai fungsi kardiovaskuler. Dalam
prosesnya perubahan tekanan darah dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ;
1. Tolakan Perifer. Merupakan sistem peredaran darah yang memiliki sistem tekanan
tertinggi (arteria) dan sistem tekanan terendah (pembuluh kapiler dan vena), diantara
keduanya terdapat arteriola dan pembuluh otot yang sangat halus.
2. Gerakan memompa oleh jantung. Semakin banyak darah yang dipompa ke dalam arteria
menyebabkan arteria akan lebih menggelembung dan mengakibatkan bertambahnya tekanan
darah. Begutu juga sebaliknya.
3. Volume darah. Bertambahnya darah menyebabkan besarnya tekanan pada arteria.
4. Kekentalan darah. Kekentalan darah ini tergantung dari perbandingan sel darah dengan
plasma.
C. Pemeriksaan Pernapasan
Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen dan
pengeluaran karbondioksida. Menilai frekuensi, irama, kedalaman dan tipe atau pola
pernapasan
D. Pemeriksaan suhu
Pemeriksaan suhu digunakan untuk menilai kondisi metabolisme di dalam tubuh, dimana
tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme darah. Keseimbangan suhu
harus diatur dalam pembuangan dan penyimpanannya di dalam tubuh yang diatur oleh
hipotalamus. Pembuangan atau pengeluaran panas dapat terjadi melalui berbagai proses,
diantaranya ;
1. Radiasi, yaitu proses penyebaran panas melalui gelombang elektromagnet.
2. Konveksi, yaitu proses penyebaran panas karena pergeseran antara daerah yang
kepadatannya tidak sama seperti dari tubuh pada udara dingin yang bergerak atau pada air
kolam renang.
3. Evaporasi, yaitu proses perubahan cairan menjadi uap.
4. Konduksi, yaitu proses pemindahan panas pada objek lain dengan kontak langsung tanpa
gerakan yang jelas, seperti bersentuhan dengan permukaan yang dingin dan lain lain.
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik perawat harus melakukan kontrak dengan pasien,
yang didalamnya ada penjelasan maksud dan tujuan, waktu yang di perlukan dan terminasi/
mengakhiri.
Tahap-tahap pemeriksaan fisik haruskan dilakukan secara urut dan menyeluruh dan dimulai
dari bagian tubuh sebagai berikut:
1.
Kulit, rambut dan kuku
2.
Kepala meliputi: mata, hidung, telinga dan mulut
3.
Leher : posisi dan gerakan trachea, JVP
4.
Dada : jantung dan paru

5. Abdomen: pemeriksaan dangkal dan dalam


6.
Genetalia
7.
Kekuatan otot /musculosekletal
8.
Neurologi
Tahap-tahap pelaksanaanya adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Kulit, Rambut dan Kuku:
Kulit:
Untuk mengetahui turgor kulit dan tekstur kulit
Untuk mengetahui adanya lesi atau bekas luka
Tindakan:
I = Inspeksi: lihat ada/tidak adanya lesi, hiperpigmentasi (warna kehitaman/kecoklatan),
edema, dan distribusi rambut kulit.
P = Palpasi: di raba dan tentukan turgor kulit elastic atau tidak, tekstur : kasar /halus, suhu :
akral dingin atau hangat.
Rambut:
Untuk mengetahui warna, tekstur dan percabangan pada rambut
Untuk mengetahui mudah rontok dan kotor
Tindakan:
I = disribusi rambut merata atau tidak, kotor atau tidak, bercabang
P = mudah rontok/tidak, tekstur: kasar/halus
Kuku:
Untuk mengetahui keadaan kuku: warna dan panjang
Untuk mengetahui kapiler refill
Tindakan:
I = catat mengenai warna : biru: sianosis, merah: peningkatan visibilitas Hb, bentuk:
clubbing karena hypoxia pada kangker paru, beaus lines pada penyakit difisisensi fe/anemia
fe
P = catat adanya nyeri tekan, dan hitung berapa detik kapiler refill (pada pasien hypoxia
lambat s/d 5-15 detik.
b. Pemeriksaan Kepala:
Untuk mengetahui bentuk dan fungsi kepala
Untuk mengetahui luka dan kelainan pada kepala
Tindakan:
I = Lihat kesimetrisan wajah jika, muka ka.ki berbeda atau misal lebih condong ke kanan
atau ke kiri itu menunjukan ada parese/kelumpuhan, contoh: pada pasien SH.
P = Cari adanya luka, tonjolan patologik, dan respon nyeri dengan menekan kepala sesuai
kebutuhan
Mata:
Untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata (medan pengelihatan, visus dan otot-otot mata)
Untuk mengetahui adanya kelainan atau peradangan pada mata
Tindakan:
I = Kelopak mata ada radang atau tidak, simetris ka.ki atau tidak, reflek kedip baik/tidak,

konjungtiva dan sclera: merah/konjungtivitis, ikterik/indikasi hiperbilirubin/gangguan pada


hepar, pupil: isokor ka,ki (normal), miosis/mengecil, pin point/sangat kecil (suspek SOL),
medriasis/melebar/dilatasi (pada pasien sudah meninggal)
Inspeksi gerakan mata:
Anjurkan pasien untuk melihat lurus ke depan
Amati adanya nistagmus/gerakan bola mata ritmis(cepat/lambat)
Amati apakah kedua mata memandang ke depan atau ada yang deviasi
Beritahu pasien untuk memandan dan mengikuti jari anda, dan jaga posisi kepala pasien
tetap lalu gerakkan jari ke 8 arah untuk mengetahui fungsi otot-otot mata.
Inspeksi medan pengelihatan:
Berdirilah didepan pasien
Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan menutup mata yang tidak di periksa
Beritahu pasien untuk melihat lurus ke depan dan memfokuskan pada satu titik pandang,
misal: pasien disuruh memandang hidung pemeriksa.
Kemudian ambil benda/ballpoint dan dekatkan kedepan hidung pemeriksa kemudian tarik
atau jauhkan kesamping ka.ki pasien, suruh pasien mengatakan kapan dan dititik mana benda
mulai tidak terlihat (ingat pasien tidak boleh melirik untuk hasil akurat).
Pemeriksaan visus mata:
Siapkan kartu snllen (dewasa huruf dan anak gambar)
Atur kursi pasien, dan tuntukan jarak antara kursi dan kartu, misal 5 meter (sesuai
kebijakkan masing ada yang 6 dan 7 meter).
Atur penerangan yang memadai, agar dapat melihat dengan jelas.
Tutup mata yang tidak diperiksa dan bergantian kanan kiri
Memulai memeriksa dengan menyuruh pasien membaca dari huruf yang terbesar sampai
yang terkecil yang dapat dibaca dengan jelas oleh pasien.
Catat hasil pemeriksaan dan tentukan hasil pemeriksaan.
Misal: hasil visus:

OD (Optik Dekstra/ka): 5/5


Berarti : pada jarak 5 m, mata masih bisa melihat huruf yang seharusnya dapat dilihat/dibaca
pada jarak 5 m
OS (Optik Sinistra/ki) : 5/2
Berarti : pada jarak 5 m, mata masih dapat melihat/membaca yang seharusnya di baca pada
jarak 2 m.
P = Tekan secara ringan untuk mengetahui adanya TIO (tekanan intra okuler) jika ada
peningkatan akan teraba keras (pasien glaucoma/kerusakan dikus optikus), kaji adanya nyeri
tekan.
Hidung:
Untuk mengetahui bentuk dan fungsi hidung
Untuk mendetahui adanya inflamasi/sinusitis
Tindakan:
I = Apakah hidung simetris, apakah ada inflamasi, apakah ada secret
P = Apakah ada nyeri tekan, massa

Telinga
Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga
Untuk mengetahui fungsi pendengaran
Tindakan
Telinga luar:
I = Daun telinga simetris atau tidak, warna, ukuran, bentuk, kebresihan, adanya lesy.
P = Tekan daun telinga apakah ada respon nyeri, rasakan kelenturan kartilago.
Telinga dalam:
Note : Dewasa : Daun telinga ditarik ke atas agar mudah di lihat
Anak : Daun telinga ditarik kebawah
I = Telinga dalam menggunakan otoskop perhatikan memberan timpani (warna, bentuk)
adanya serumen, peradangan dan benda asing, dan darah.
Pemeriksaan pendengaran:
1)
Pemeriksaan dengan bisikan
Mengatur pasien berdiri membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m
Mengistruksikan pada klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa.
Membisikan suatu bilangan misal 6 atau 5
Menyuruh pasien mengulangi apa yang didengar
Melakukan pemeriksaan telinga yang satu
Bandingkan kemempuan mendengar telinga kanan kiri
2)
Pemeriksaan dengan arloji
Mengatur susasana tenang.
Pegang sebuah arloji disamping telinga klien.
Menyuruh klien menyatakan apakah mendengar suara detak arloji.
Memimndahkan arloji secara berlahan-lahan menjauhi. telinga dan suruh pasien
menyatakan tak mendengar lagi.
Normalnya pada jarak 30 cm masih dapat didengar.
3)
Pemeriksaan dengan garpu tala:
a.
Tes Rinne
Pegang garpu tala (GT) pada tangkainya dan pukulkan ketelapak tangan
Letakkan GT pada prosesus mastoideus klien
Menganjurkan klien mangatakan pada pemeriksa sewaktu tidak merasakan getaran
Kemudian angkat GT dengan cepat dan tempatkan didepan lubang telinga luar jarak 1-2
cm, dengan posisi parallel dengan daun telinga.
Mengistrusikan pada klien apakah masih mendengara atau tidak.
Mencatat hasil pemeriksaan
b. Tes Weber
Pegang GT pada tangkainya dan pukulkan pada telapak tangan atau jari
Letakkan tangkai GT di tengah puncak kepala/os. Frontalis atas.
Tanayakan pada klien apakah bunyi terdengar saama jelas antara telinga ka.ki atau hanya
jelas pada satu sisi saja.
Mencatat hasil pemeriksaan
c.
Tes Swebeck
Untuk mengetahui membandingkan pendengaran pasien dengan pemeriksa

Dekatkan GT pada telinga klien kemudian dengan cepat di dekatkan ke telinga pemeriksa.
Mulut dan Faring:
Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut
Untuk mengetahui kebersihan mulut

Tindakan:
I = Amati bibir apa ada klainan kogenital (bibir sumbing), warna, kesimetrisan, kelembaban,
pembengkakkan, lesi.
Amati jumlah dan bentuk gigi, gigi berlubang, warna, plak, dan kebersihan gigi
Inspeksi mulut dalam dan faring:
Menyuruh pasien membuka mulut amati mucosa: tekstur, warna, kelembaban, dan adanya
lesi
Amati lidah tekstur, warna, kelembaban, lesi
Untuk melihat faring gunakan tongspatel yang sudah dibungkus kassa steril, kemudian
minta klien menjulurkan lidah dan berkata AH amati ovula/epiglottis simetris tidak
terhadap faring, amati tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel).
P = Pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/ tumor, pembengkakkan
dan nyeri.
Lakukkan palpasi dasar mulut dengan menggunakkan jari telunjuk dengan memekai
handscond, kemudian suruh pasien mengatakan kata EL sambil menjulurkan lidah, pegang
ujung lidah dengan kassa dan tekan lidah dengan jari telunjuk, posisi ibu jari menahan dagu.
Catat apakah ada respon nyeri pada tindakan tersebut.
c. Leher
Untuk menentukan struktur integritas leher
Untuk mengetahui bentuk leher dan organ yang berkaitan
Untuk memeriksa sistem limfatik
Tindakkan:
I = Amati mengenai bentuk, warna kulit, jaringan parut
Amati adanya pembengkakkan kelenjar tirod/gondok, dan adanya massa
Amati kesimeterisan leher dari depan, belakang dan samping ka,ki.
Mintalah pasien untuk mengerakkan leher (fleksi-ektensi ka.ki), dan merotasi- amati
apakah bisa dengan mudah dan apa ada respon nyeri.
P = Letakkan kedua telapak tangan pada leher klien, suruh pasien menelan dan rasakan
adanya kelenjar tiroid (kaji ukuran, bentuk, permukaanya.)
Palpasi trachea apakah kedudukan trachea simetris atau tidak.

d. Dada/Thorax
Paru/Pulmonalis
Untuk mengetahui bentuk, kesimetrisan, ekspansi paru
Untuk mengetahui frekuensi, irama pernafasan
Untuk mengetahui adanya nyeri tekan, adanya massa, peradangan, edema, taktil fremitus.
Untuk mengetahui batas paru dengan organ disekitarnya

Mendengarkan bunyi paru / adanya sumbatan aliran udara


Tindakkan:
I = Amati kesimetrisan dada ka.ki, amati adanya retraksi interkosta, amati gerkkan paru.
Amati klavikula dan scapula simetris atau tidak
P = Palpasi ekspansi paru:
Berdiri di depan klien dan taruh kedua telapak tangan pemeriksa di dada dibawah papilla,
anjurkan pasien menarik nafas dalam, rasakkan apakah sama paru ki.ka.
Berdiri di belakang pasien, taruh telapak tangan pada garis bawah scapula/setinggi costa
ke-10, ibu jari ka.ki di dekatkan jangan samapai menempel, dan jari-jari di regangkan lebih
kurang 5 cm dari ibu jari. Suruh pasien kembali menarik nafas dalam dan amati gerkkan ibu
jari ka.ki sama atau tidak.
Palpasi Taktil vremitus posterior dan anterior:
Meletakkan telapak tangan kanan di belakang dada tepat pada apex paru/stinggi supra
scapula (posisi posterior) .
Menginstrusikkan pasien untuk mengucapkkan kata Sembilan-sembilan (nada rendah)
Minta klien untuk mengulangi mengucapkkan kata tersebut, sambil pemeriksa
mengerakkan ke posisi ka.ki kemudian kebawah sampai pada basal paru atau setinggi
vertebra thoraxkal ke-12.
Bandingkan vremitus pada kedua sisi paru
Bila fremitus redup minta pasien bicara lebih rendah
Ulangi/lakukkan pada dada anterior

Pe/Perkusi =
Atur pasien dengan posisi supinasi
Untuk perkusi anterior dimulai batas clavikula lalu kebawah sampai intercosta 5
tentukkan batas paru ka.ki (bunyi paru normal : sonor seluruh lapang paru, batas paru hepar
dan jantung: redup)
Jika ada edema paru dan efusi plura suara meredup.
Aus/auskultasi =
Gunakkan diafragma stetoskop untuk dewasa dan bell pada anak
Letakkan stetoskop pada interkostalis, menginstruksikkan pasien untuk nafas pelan
kemudian dalam dan dengarkkan bunyi nafas: vesikuler/wheezing/creckels
Jantung/Cordis
I = Amati denyut apek jantung pada area midsternu lebih kurang 2 cm disamping bawah
xifoideus.
P = Merasakan adanya pulsasi
Palpasi spasium interkostalis ke-2 kanan untuk menentukkan area aorta dan spasium
interkosta ke-2 kiri letak pulmonal kiri.
Palpasi spasium interkostalis ke-5 kiri untuk mengetahui area trikuspidalis/ventikuler
amati adanya pulsasi
Dari interkosta ke-5 pindah tangan secara lateral 5-7 cm ke garis midklavicula kiri dimana
akan ditemukkan daerah apical jantung atau PMI ( point of maximal impuls) temukkan

pulsasi kuat pada area ini.


Untuk mengetahui pulsasi aorta palpasi pada area epigastika atau dibawah sternum.
Pe =
Perkusi dari arah lateral ke medial untuk menentukkan batas jantung bagian kiri,
Lakukan perkusi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui batas jantung kanan.
Lakukan dari atas ke bawah untuk mengetahui batas atas dan bawah jantung
Bunyi redup menunjukkan organ jantung ada pada daerah perkusi.
Aus =
Menganjurkan pasien bernafas normal dan menahanya saat ekspirasi selesai
Dengarkkan suara jantung dengan meletakkan stetoskop pada interkostalis ke-5 sambil
menekan arteri carotis
Bunyi S1: dengarkan suara LUB yaitu bunyi dari menutupnya katub mitral (bikuspidalis)
dan tikuspidalis pada waktu sistolik.
Bunyi S2: dengarkan suara DUB yaitu bunyi meutupnya katub semilunaris (aorta dan
pulmonalis) pada saat diastolic.
Adapun bunyi : S3: gagal jantung LUB-DUB-CEE S4: pada pasien hipertensi DEE..LUB-DUB.
e. Perut/Abdomen
Untuk mengetahui bentuk dan gerak-gerakkan perut
Untuk mendengarkan bunyi pristaltik usus
Untuk mengetahui respon nyeri tekan pada organ dalam abdomen
Tindakkan:
I = Amati bentuk perut secara umum, warna kulit, adanya retraksi, penonjolan, adanya
ketidak simetrisan, adanya asites.
P = Palpasi ringan: Untuk mengetahui adanya massa dan respon nyeri tekan letakkan telapak
tangan pada abdomen secara berhimpitan dan tekan secara merata sesuai kuadran.
Palpasi dalam: Untuk mengetahui posisi organ dalam seperi hepar, ginjal, limpa dengan
metode bimanual/2 tangan.
Hepar:
Letakkan tangan pemeriksa dengan posisi ujung jari keatas pada bagian hipokondria
kanan, kira;kira pada interkosta ke 11-12
Tekan saat pasien inhalasi kira-kira sedalam 4-5 cm, rasakan adanya organ hepar. Kaji
hepatomegali.
Limpa:
Metode yang digunakkan seperti pada pemeriksaan hapar
Anjurkan pasien miring kanan dan letakkan tangan pada bawah interkosta kiri dan minta
pasien mengambil nafas dalam kemudian tekan saat inhalasi tenntukkan adanya limpa.
Pada orang dewasa normal tidak teraba
Renalis:
Untuk palpasi ginjal kanan letakkan tangan pada atas dan bawah perut setinggi Lumbal 34 dibawah kosta kanan.
Untuk palpasi ginjal kiri letakkan tangan setinggi Lumbal 1-2 di bawah kosta kiri.

Tekan sedalam 4-5 cm setelah pasien inhalasi jika teraba adanya ginjal rasakan bentuk,
kontur, ukuran, dan respon nyeri.
Genetalia
Untuk mengetahui adanya lesi
Untuk mengetahui adanya infeksi (gonorea, shipilis, dll)
Untuk mengetahui kebersihan genetalia
Tindakan
Genetalia laki-laki:
I = Amati penis mengenai kulit, ukuran dan kelainan lain.
Pada penis yang tidak di sirkumsisi buka prepusium dan amati kepala penis adanya lesi
Amati skrotum apakah ada hernia inguinal, amati bentuk dan ukuran
P = Tekan dengan lembut batang penis untuk mengetahui adanya nyeri
Tekan saluran sperma dengan jari dan ibu jari
Genetalia wanita:
I = Inspeksi kuantitas dan penyebaran pubis merata atau tidak
Amati adanya lesi, eritema, keputihan/candidiasis
P = Tarik lembut labia mayora dengan jari-jari oleh satu tangan untuk mengetahui keadaan
clitoris, selaput dara, orifisium dan perineum.
Rektum Dan Anal
Untuk mengetahui kondisi rectum dan anus
Untuk mengetahui adanya massa pada rectal
Untuk mengetahui adanya pelebaran vena pada rectal/hemoroid
Tindakkan
Posisi pria sims/ berdiri setengah membungkuk, wanita dengan posisi litotomi/terlentang
kaki di angkat dan di topang.
Inspeksi jaringan perineal dan jaringan sekitarnya kaji adanya lesi dan ulkus
Palpasi : ulaskan zat pelumas dan masukkan jari-jari ke rectal dan rasakan adanya nodul
dan atau pelebaran vena pada rectum.
Pemeriksaan Muskuloskeletal
- Untuk memperoleh data dasar tentang otot, tulang dan persendian
- Untuk mengetahui mobilitas, kekuatan otot, dan gangguan-gangguan pada daerah tertentu.
Tindakkan:
Muskuli/Otot:
Inspeksi mengenai ukuran dan adanya atrofi dan hipertrofi (ukur dan catat jika ada
perbedaan dengan meteran)
Palpasi pada otot istirahat dan pada saat otot kontraksi untuk mengetahui adanya
kelemahan dan kontraksi tiba-tiba
Lakukan uji kekuatan otot dengan menyuruh pasien menarik atau mendorong tangan
pemeriksa dan bandingkan tangan ka.ki
Amati kekuatan suatu otot dengan memberi penahanan pada anggota gerak atas dan
bawah, suruh pasien menahan tangan atau kaki sementara pemeriksa menariknya dari yang
lemah sampai yang terkuat amati apakah pasien bisa menahan.
Tulang/Ostium:
Amati kenormalan dan abnormalan susunan tulang

Palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan pembengkakkan


Persendiaan/Articulasi:
Inspeksi semua persendian untuk mengetahui adanya kelainan sendi.
Palpasi persendian apakah ada nyeri tekan
Kaji range of mosion/rentang gerak (abduksi-aduksi, rotasi, fleksi-ekstensi, dll)
Pemeriksaan Sistem Neurologi
Untuk mengetahui integritas sistem persyrafan yang meliputi fungsi nervus cranial,
sensori, motor dan reflek.
Tindakkan:
Pengkajian 12 syaraf cranial (O.O.O.T.T.A.F.A.G.V.A.H)
1. I. Olfaktorius/penciuman:
Meminta pasien membau aroma kopi dan vanilla atau aroma lain yang tidak menyengat.
Apakah pasien dapat mengenali aroma.

2. II. Opticus/pengelihatan:
Meminta kilen untuk membaca bahan bacaan dan mengenali benda-benda disekitar, jelas atau
tidak.
3. III. Okulomotorius/kontriksi dan dilatasi pupil:
Kaji arah pandangan, ukur reaksi pupil terhadap pantulan cahaya dan akomodasinya.
4. IV. Trokhlear/gerakkan bola mata ke atas dan bawah:
Kaji arah tatapan, minta pasien melihat k etas dan bawah
5. V. Trigeminal/sensori kulit wajah, pengerak otot rahang:
Sentuh ringan kornea dengan usapan kapas untuk menguji reflek kornea (reflek nagatif
(diam)/positif (ada gerkkan))
Ukur sensasi dari sentuhan ringan sampai kuat pada wajah kaji nyeri menyilang pada kuit
wajah
Kaji kemampuan klien untuk mengatupkan gigi saat mempalpasi otot-otot rahang
6. VI. Abdusen/gerakkan bola mata menyamping:
Kaji arah tatapan, minta pasien melihat kesamping ki.ka
7. VII. Facial/ekspresi wajah dan pengecapan:
Meminta klien tersenyum, mengencangkan wajah, menggembungkan pipi, menaikan dan
menurunkan alis mata, perhatikkan kesimetrisanya.
8. VIII. Auditorius/pendengaran:
kaji klien terhadap kata-kata yang di bicarakkan, suruh klien mengulangi kata/kalimat.
9. IX. Glosofaringeal/pengecapan, kemampuan menelan, gerakan lidah:
Meminta pasien mengidentifikasi rasa asam, asin, pada bagian pangkal lidah.
Gunakkan penekan lidah untuk menimbulkan reflek gag
Meminta klien untuk mengerakkan lidahnya
10. X. Vagus/sensasi faring, gerakan pita suara:
Suruh pasien mengucapkan ah kaji gerakkan palatum dan faringeal
Periksa kerasnya suara pasien
11. XI. Asesorius/gerakan kepala dan bahu:
Meminta pasien mengangkat bahu dan memalingkan kepala kearah yang ditahan oleh

pemeriksa, kaji dapatkah klien melawan tahanan yang ringan


12. Hipoglosal/posisi lidah:
Meminta klien untuk menjulurkan lidah kearah garis tengah dan menggerakkan ke berbagai
sisi.
Pengkajian syaraf sensori:
Tindakkan:
Minta klien menutup mata
Berikkan rasangan pada klien:
Nyeri superficial: gunakkan jarum tumpul dan tekankan pada kulit pasien pada titik-titik
yang pemeriksa inginkan, minta pasien untuk mengungkapkan tingkat nyeri dan di bagian
mana
Suhu: sentuh klien dengan botol panas dan dingin, suruh pasien mengatakkan sensasi yang
direasakan.
Vibrasi: tempelkan garpu tala yang sudah di getarakan dan tempelkan pada
falangeal/ujung jari, meminta pasien untuk mengatakkan adanya getaran.
Posisi: tekan ibu jari kaki oleh tangan pemeriksa dan gerakkan naik-turun kemudian
berhenti suruh pasien mengtakkan diatas/bawah.
Stereognosis: berikkan pasien benda familiar ( koin atau sendok) dan berikkan waktu
beberapa detik, dan suruh pasien untuk mengatakkan benda apa itu.
Pengkajian reflex:
1.
Refleks Bisep
Fleksikan lengan klien pada bagian siku sampai 45 derajat, dengan posisi tangan pronasi
(menghadap ke bawah)
Letakkan ibu jari pemeriksa pada fossa antekkubital di dasar tendon bisep dan jari-jari lain
diatas tendon bisep
Pukul ibu jari anda dengan reflek harmmer, kaji refleks
2.
Refleks Trisep
Letakkan lengan tangan bawah pasien diatas tangan pemeriksa
Tempatkan lengan bawah diantara fleksi dan ekstensi
Meminta pasien untuk merilekkan lengan
Raba terisep untuk mmeastikan otot tidak teggang
Pukul tendon pada fossa olekrani, kaji reflek
3.
Refleks Patella
Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur/kursi
Rilexkan pasien dan alihkan perhatian untuk menarik kedua tangan di depan dada
Pukul tendo patella, kaji reflex
4.
Refleks Brakhioradialis
Letakkan lengan tangan bawah pasien diatas tangan pemeriksa
Tempatkan lengan bawah diantara fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Pukul tendo brakhialis pada radius bagian distal dengan bagian datar harmmer, catat
reflex.
5.
Reflex Achilles
Minta pasien duduk dan tungkai menggantung di tempat tidur/kursi seperti pada

pemeriksaan patella
Dorsofleksikan telapak kaki dengan tangan pemeriksa
Pukul tendo Achilles, kaji reflek
6.
Reflex Plantar (babinsky)
Gunakkan benda dengan ketajaman yang sedang (pensil/ballpoint) atau ujung stick
harmmer
Goreskan pada telapak kaki pasien bagian lateral, dimulai dari ujung telapak kaki sampai
dengan sudut telapak jari kelingking lalu belok ke ibu jari. Reflek positif telapak kaki akan
tertarik ke dalam.
7.
Refleks Kutaneus
a) Gluteal
Meminta pasien melakukan posisi berbaring miring dan buka celana seperlunya
Ransang ringan bagian perineal dengan benda berujung kapas
Reflek positif spingter ani berkontraksi
b) Abdominal
Minta klien berdiri/berbaring
Tekan kulit abdomen dengan benda berujung kapas dari lateal ke medial, kaji gerakkan
reflek otot abdominal
Ulangi pada ke-4 kuadran (atas ki.ka dan bawah ki.ka)
c) Kremasterik/pada pria
Tekan bagian paha atas dalam menggunakkan benda berujung kapas
Normalnya skrotum akan naik/meningkat pada daerah yang diransang
PEMERIKSAAN PER-SYSTEM
SISTEM CARDIOVASKULER
Inspeksi
a. Jantung, secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum.
b. Lakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi
sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis
mitral dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita.
c. Pulsasi ini letaknya sesuai dengan apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan
punctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu sistolis
ventrikel. Bila ictus kordis bergeser ke kiri dan melebar, kemungkinan adanya pembesaran
ventrikel kiri.
Palpasi
a. Denyut apeks jantung (iktus kordis)
Dalam keadaaan normal, dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat
didalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial dari linea midclavicularis sinistra. Pada
anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV.
b. Denyutan nadi pada dada
Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan pada aorta.
Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II kanan,
sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a.
pulmonalis dan aneurisma aorta descenden.

c. Getaran/Trhill
Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katup bawaan atau penyakit jantung
congenital. Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut
melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat.
Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung.
Perkusi
Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung. Perkusi jantung mempunyai
arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi pericardium dan aneurisma aorta.
- Batas kiri jantung
Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial.
Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas
jantung kiri.
Normal: Atas : ICS II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung)
Bawah: ICS V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri (tempat iktus)
- Batas Kanan Jantung
Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.
Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan
thorak
Normal: Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan, di linea
parasternalis kanan. Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis
kanan.
Auskultasi
Auskultasi bunyi jantung dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :
Dengarkan BJ I pada :
ICS IV line sternalis kiri (BJ I Tricuspidalis)
ICS V line midclavicula/ICS III linea sternalis kanan (BJ I Mitral)
Dengarkan BJ II pada :
ICS II lines sternalis kanan (BJ II Aorta)
ICS II linea sternalis kiri/ICS III linea sternalis kanan (BJ II Pulmonal)
Dengarkan BJ III (kalau ada)
Terdengar di daerah mitral
BJ III terdengar setelah BJ II dengan jarak cukup jauh, tetapi tidak melebihi separo dari fase
diastolik, nada rendah
Pada anak-anak dan dewasa muda, BJ III adalah normal
Pada orang dewasa/tua yang disertai tanda-tanda oedema/dipneu, BJ III adalah tanda
abnormal.
BJ III pada decomp. disebut Gallop Rythm.
Dari jantung yang normal dapat didengar lub-dub, lub-dub, lub-dub. Lub adalah suara
penutupan katup mitral dan katup trikuspid, yang menandai awal sistole. Dub adalah suara
katup aorta dan katup pulmonalis sebagai tanda awal diastole. Pada suara dub, apabila pasien
bernafas akan terdengar suara yang terpecah.
SISTEM PENCERNAAN
Inspeksi
a. Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh.

b. Inspeksi cavum oris, lidah untuk melihat ada tidaknya kelainan.


c. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi
otot- otot abdomen.
d. Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen.
e. Pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen,
bentuk perut, simetrisitas, jaringan parut, luka, pola vena, dan striae serta bayangan vena dan
pergerakkan abnormal.
f. Perhatikan posisi, bentuk, warna, dan inflamasi dari umbilikus.
g. Perhatikan pula gerakan permukaan, massa, pembesaran atau penegangan. Bila abdomen
tampak menegang, minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada
tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul, tanyakan kepada pasien apakah
abdomen terasa lebih tegang dari biasanya.
h. Bila terjadi penegangan abdomen, ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/ perban
seputar abdomen melalui umbilikus. Buatlah simpul dikedua sisi tali/ perban untuk menandai
dimana batas lingkar abdomen, lakukan monitoring, bila terjadi peningkatan perenggangan
abdomen, maka jarak kedua simpul makin menjauh.
i. Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal.
j. Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau
denyutan aortik.
Palpasi
Abdomen
a. Posisi pasien berbaring terlentang dan pemeriksa disebelah kanannya.
b. Lakukan palpasi ringan di tiap kuadran abdomen dan hindari area yang telah diketahui
sebelumnya sebagai titik bermasalah, seperti apendisitis.
c. Tempatkan tangan pemeriksa diatas abdomen secara datar, dengan jari- jari ekstensi dan
berhimpitan serta pertahankan sejajar permukaan abdomen.
d. Palpasi dimulai perlahan dan hati-hati dari superfisial sedalam 1 cm untuk mendeteksi area
nyeri, penegangan abnormal atau adanya massa.
e. Bila otot sudah lemas dapat dilakukan palpasi sedalam 2,5 7,5 cm, untuk mengetahui
keadaaan organ dan mendeteksi adanya massa yang kurang jelas teraba selama palpasi
f. Perhatikan karakteristik dari setiap massa pada lokasi yang dalam, meliputi ukuran, lokasi,
bentuk, konsistensi, nyeri, denyutan dan gerakan
g. Perhatikan wajah pasien selama palpasi untuk melihat adanya tanda/ rasa tidak nyaman.
h. Bila ditemukan rasa nyeri, uji akan adanya nyeri lepas, tekan dalam kemudian lepas
dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tekanan.
i. Minta pasien mengangkat kepala dari meja periksa untuk melihat kontraksi otot-otot
abdominal
Hepar
a. Posisi pasien tidur terlentang.
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c. Letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga
kesebelas dan keduabelas dan tekananlah kearah atas.
d. Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior
pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas

bawah hati.
e. Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas.
f. Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
Kandung Empedu
a. Posisi pasien tidur terlentang.
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c. Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dibawah dada kanan posterior pasien pada iga XI
dan XII dan tekananlah kearah atas.
d. Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior
pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas
bawah hati.
e. Kemudian tekan lembut ke dalam dan ke atas.
f. Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis.
g. Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus.
h. Bila diduga ada penyakit kandung empedu, minta pasien menarik napas dalam selama
palpasi.
Limpa
a. Posisi pasien tidur terlentang
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
c. Letakkan secara menyilang telapak tangan kiri pemeriksa di bawah pinggang kiri pasien
dan tekanlah keatas.
d. Letakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari ektensi diatas abdomen dibawah tepi kiri
kostal.
e. Tekanlah ujung jari kearah limpa kemudian minta pasien untuk menarik napas dalam.
f. Palpasilah tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa
g. Apabila dalam posisi terlentang tidak bisa diraba, maka posisi pasien berbaring miring
kekanan dengan kedua tungkai bawah difleksikan.
h. Pada keadaan tertentu diperlukan Schuffner test
Aorta
a. Posisi pasien tidur terlentang
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien
c. Pergunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan.
d. Palpasilah dengan perlahan namun dalam ke arah abdomen bagian atas tepat garis tengah.
Pemeriksaan Asites
a. Posisi pasien tidur terlentang.
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c. Prosedur ini memerlukan tiga tangan.
d. Minta pasien atau asisten untuk menekan perut pasien dengan sisi ulnar tangan dan lengan
atas tepat disepanjang garis tengah dengan arah vertikal.
e. Letakkan tangan pemeriksa dikedua sisi abdomen dan ketuklah dengan tajam salah satu sisi
dengan ujung- ujung jari pemeriksa.
f. Rasakan impuls / getaran gelombang cairan dengan ujung jari tangan yang satunya atau
bisa juga menggunakan sisi ulnar dari tangan untuk merasakan getaran gelombang cairan.
Colok Dubur

Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan
sehingga ditaruh paling akhir). Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi
miring (symposisi), lithotomi, maupun knee-chest. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan satu
tangan maupun dua tangan (bimanual, satu tangannya di atas pelvis).
Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif, mudah kontraksi. Oleh karena itu
colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. Sebaiknya penderita
kencing terlebih dahulu. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi
jam yakni jam 3 sebelah kanan, jam 9 sebelah kiri, jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah
pubis.
Auskultasi
a. Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi.
b. Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala.
c. Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma di daerah kuadran kiri bawah. Berikan tekanan
ringan, minta pasien agar tidak berbicara. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus
untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus.
d. Dengarkan bising usus apakah normal, hiperaktif, hipoaktif, tidak ada bising usus dan
perhatikan frekwensi/karakternya.
e. Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan
dengarkan tiap kuadran abdomen.
f. Kemudian gunakan sisi bel stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian
epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta torakal.
Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta.
Perkusi
Abdomen
Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya
dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus,
kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas,
ginjal.
Perkusi Batas Hati
a. Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien.
b. Lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas,
sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut.
c. Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati.
d. Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.
e. Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai ke celah tulang iga ke 7.
f. Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati
pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 3 cm.
Perkusi Lambung
a. Posisi pasien tidur terlentang.
b. Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
c. Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.
d. Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani
PENGKAJIAN SISTEM PERNAFASAN
Inspeksi

1) Pemeriksaan dada dimulai dari thorax posterior, klien pada posisi duduk.
2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang lainnya.
3) Inspeksi thorax poterior terhadap warna kulit dan kondisinya, lesi, massa, gangguan tulang
belakang seperti : kyphosis, scoliosis dan lordosis, jumlah irama, kedalaman pernafasan, dan
kesimetrisan pergerakan dada.
4) Observasi type pernafasan, seperti : pernafasan hidung atau pernafasan diafragma, dan
penggunaan otot bantu pernafasan.
5) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I) dan fase ekspirasi (E). ratio
pada fase ini normalnya 1 : 2. Fase ekspirasi yang memanjang menunjukkan adanya obstruksi
pada jalan nafas dan sering ditemukan pada klien Chronic Airflow Limitation (CAL)/COPD.
6) Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior (AP) dengan diameter
lateral/tranversal (T). ratio ini normalnya berkisar 1:2 sampai 5:7, tergantung dari cairan
tubuh klien.
7) Kelainan pada bentuk dada :
a) Barrel Chest, Timbul akibat terjadinya overinflation paru. Terjadi peningkatan diameter
AP: T (1:1), sering terjadi pada klien emfisema.
b) Funnel Chest (Pectus Excavatum), Timbul jika terjadi depresi dari bagian bawah dari
sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar, yang akibatkan murmur.
Kondisi ini dapat timbul pada ricketsia, marfans syndrome atau akibat kecelakaan kerja.
c) Pigeon Chest (Pectus Carinatum), Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum,
dimana terjadi peningkatan diameter AP. Timbul pada klien dengan kyphoscoliosis berat.
d) Kyphoscoliosis, Terlihat dengan adanya elevasi scapula. Deformitas ini akan mengganggu
pergerakan paru-paru, dapat timbul pada klien dengan osteoporosis dan kelainan
muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thorax.
e) Kiposis ,meningkatnya kelengkungan normal kolumna vertebrae torakalis menyebabkan
klien tampak bongkok.
f) Skoliosis : melengkungnya vertebrae torakalis ke lateral, disertai rotasi vertebral.
8) Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan atau tidak adekuatnya
ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru atau pleura.
9) Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi, yang dapat
mengindikasikan obstruksi jalan nafas.
Palpasi
1) Dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas,
mengidentifikasi keadaan kulit dan mengetahui vocal premitus (vibrasi).
2) Palpasi thoraks untuk mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi seperti : massa,
lesi, bengkak.
3) Kaji juga kelembutan kulit, terutama jika klien mengeluh nyeri.
4) Vocal premitus : getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara.
Perkusi
1) Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada
disekitarnya dan pengembangan (ekskursi) diafragma.
2) Jenis suara perkusi:
Suara perkusi normal resonan (sonor): dihasilkan untuk mengetahui batas antara bagian
jantung dan paru.

Auskultasi
1. Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas
normal, suara tambahan (abnormal), dan suara.
2. Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke
alveoli, dengan sifat bersih.
3. Suara nafas normal :
a) Bronchial : Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch. Fase
ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase
tersebut.
b) Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari
ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.
c) Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular.
Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang
dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding
dada.
SISTEM MUSKULOSKELETAL
Inspeksi
1) Pada saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk menampakkan seluruh tubuh.
2) Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amati adanya atrofi
atau hipertrofi. Kelurusan tulang belakang, diperiksa dengan pasien berdiri tegak dan
membungkuk ke depan.
3) Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur keduanya dengan menggunakan
meteran.
4) Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontraktur yang ditunjukkan
oleh malposisi suatu bagian tubuh.
5) Amati kenormalan susunan tulang dan adanya deformitas.
6) Skoliosis ditandai dengan kulvatura lateral abnormal tulang belakang, bahu yang tidak
sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetris, dan skapula yang menonjol, akan lebih jelas
dengan uji membungkuk ke depan.
7) Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan Persendian.
8) Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian.
9) Inspeksi pergerakkan persendian.
Palpasi
1) Palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot bergerak secara aktif dan pasif untuk
mengetahui adanya kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba-tiba secara involunter (spastisitas)
2) Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong tangan pemeriksa,
bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri.
3) Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.
4) Palpasi sendi sementara sendi digerakkan secara pasif akan memberikan informasi
mengenai integritas sendi. Normalnya, sendi bergerak secara halus. Suara gemletuk dapat
menunjukkan adanya ligament yang tergelincir di antara tonjolan tulang. Permukaan yang
kurang rata, seprti pada keadaan arthritis, mengakibatkan adanya krepitus karena permukaan
yang tidak rata tersebut yang saling bergeseran satu sama lain.

5) Periksa adanya benjolan, rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritis menimbulkan


benjolan yang khas. Benjolan dibawah kulit pada rheumatoid arthritis lunak dan terdapat di
dalam dan sepanjang tendon yang memberikan fungsi ekstensi pada sendi biasanya,
keterlibatan sendi mempunya pola yang simetris. Benjolan pada GOUT keras dan terletak
dalam dan tepat disebelah kapsul sendi itu sendiri.
6) Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovetts (memiliki nilai 0 5)
0 = Tidak ada kontraksi sama sekali.
1 = Gerakan kontraksi.
2 = Kemampuan untuk bergerak, tetapi tidak kuat kalau melawan tahanan atau gravitasi.
3 = Cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.
4 = Cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh.
5 = Kekuatan kontraksi yang penuh.
Perkusi
1) Refleks patela, Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul
dengan refleks hammer. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari
lutut.
2) Refleks biceps, lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90, supinasi dan lengan
bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). Jari pemeriksa ditempatkan pada tendon m.
biceps (diatas lipatan siku), kemudian dipukul dengan refleks hammer. Normal jika timbul
kontraksi otot biceps, sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. Bila
hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi
bahu.
3) Refleks triceps, lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 90, tendon triceps diketok
dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Respon
yang normal adalah kontraksi otot triceps, sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan
hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin
ada klonus yang sementara.
4) Refleks achilles, posisi kaki adalah dorsofleksi, untuk memudahkan pemeriksaan refleks
ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan/disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral.
5) Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar
fleksi.
6) Refleks abdominal, dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus.
Kalau digores seperti itu, umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores.
7) Refleks Babinski, merupakan refleks yang paling penting . Ia hanya dijumpai pada
penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral
telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki.
Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar.
Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki.
SISTEM ENDOKRIN
Inspeksi
a. (warna kulit): Hiperpigmentasi ditemukan pada klien addison desease atau cushing
syndrom. Hipopigmentasi terlihat pada klien diabetes mellitus, hipertiroidisme,
hipotiroidisme.
b. Wajah: Variasi, bentuk dan struktur muka mungkin dapat diindikasikan dengan penyakit

akromegali mata.
c. Kuku dan rambut : Peningkatan pigmentasi pada kuku diperlihatkan oleh klien dengan
penyakit addison desease, kering, tebal dan rapuh terdapat pada penyakit hipotiroidisme,
rambut lembut hipertyroidisme. Hirsutisme terdapat pada penyakit cushing syndrom.
d. Inspeksi ukuran dan proporsional struktur tubuh klien : Orang jangkung, yang disebabkan
karena insufisiensi growth hormon. Tulang yang sangat besar, bisa merupakan indikasi
akromegali.
e. Tanda trousseaus dan tanda chvoteks : Peningkatan kadar kalsium tangan dan jari-jari klien
kontraksi (spasme karpal).
Palpasi
a. Kulit kasar, kering ditemukan pada klien dengan hipotiroidisme. Dimana kelembutan dan
bilasan kulit bisa menjadi tanda pada klien dengan hipertiroidisme. Lesi pada ekstremitas
bawah mengindikasikan DM.
b. Palpasi kelenjar tiroid (tempatkan kedua tangan anda pada sisi lain pada trachea dibawah
kartilago thyroid. Minta klien untuk miringkan kepala ke kanan Minta klien untuk menelan.
Setelah klien menelan. pindahkan pada sebelah kiri. selama palpasi pada dada kiri bawah) :
Tidak membesar pada klien dengan penyakit graves atau goiter.
Auskultasi
Auskultasi pada daerah leher diata tiroid dapat mengidentifikasi bunyi "bruit. Bunyi yg
dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Normalnya tidak ada bunyi.
SISTEM INTEGUMEN
Inspeksi
a. Kaji integritas kulit warna flushing, cyanosis, jaundice, pigmentasi yang tidak teratur
b. Kaji membrane mukosa, turgor, dan keadaan umum, kulit
c. Kaji bentuk, integritas, warna kuku.
d. Kaji adanya luka, bekas operasi/skar, drain, dekubitus.
Palpasi
a. Adanya nyeri, edema, dan penurunan suhu.
b. Tekstur kulit.
c. Turgor kulit, normal < 3 detik
d. Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi, temperatur, bentuk, mobilisasi.
e. Palpasi Capillary refill time : warna kembali normal setelah 3 5 detik.
SISTEM NEUROLOGI
Inspeksi
a. Kaji LOC (level of consiousness) atau tingkat kesadaran : dengan melakukan pertanyaan
tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat dan orang.
b. Kaji status mental.
c. Kaji adanya kejang atau tremor.
Palpasi
a. Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi, tipe dan
pengobatannya.
b. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya
hilang rasa, rasa terbakar/panas dan baal.
c. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur.

Perkusi
a. Refleks patela, diketuk pada regio patela (ditengah tengah patela).
b. Refleks achilles, dipukul dengan refleks hammer, respon normal berupa gerakan plantar
fleksi kaki.
SISTEM REPRODUKSI
Inspeksi
1. Keadaan umum, pemeriksaan khusus obstetri, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan
tambahan.
2. Inspeksi tentang status gizi : anemia, ikterus.
3. Kaji pola pernapasan (sianosis, dispnea).
4. Apakah terdapat edema, bagaimana bentuk dan tinggi badan, apakah ada perubahan
pigmentasi, kloasma gravidarum, striae alba, striae lividae, striae nigra, hiperpigmentasi, dan
areola mamma.
Palpasi
1. palpasi menurut Leopold I-IV
2. Serviks, yaitu untuk mengetahui pelunakan serviks dan pembukaan serviks.
3. Ketuban, yaitu untuk mengetahui apakah sudah pecah atau belum dan apakah ada
ketegangan ketuban.
4. Bagian terendah janin, yaitu untuk mengetahui bagian apakah yang terendah dari janin,
penurunan bagian terendah, apakah ada kedudukan rangkap, apakah ada penghalang di
bagian bawah yang dapat mengganggu jalannya persalinan.
5. Perabaan forniks, yaitu untuk mengetahui apakah ada bantalan forniks dan apakah bagian
janin masih dapat didorong ke atas.
Auskultasi
Auskultasi untuk mengetahui bising usus, gerak janin dalam rahim, denyut jantung janin,
aliran tali pusat, aorta abdominalis, dan perdarahan retroplasenter.
SISTEM PERKEMIHAN
Inspeksi
a. Kaji kebiasaan pola BAK, output/jumlah urine 24 jam, warna, kekeruhan dan ada/tidaknya
sedimen.
b. Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK, adanya dysuria dan hematuria, serta riwayat
infeksi saluran kemih.
c. Inspeksi penggunaan condom catheter, folleys catheter, silikon kateter atau urostomy atau
supra pubik kateter.
d. Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem
perkemihan.
Palpasi
a. Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih)
b. Untuk melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. Tangan kiri
diletakkan di belakang penderita, paralel pada costa ke-12, ujung cari menyentuh sudut
costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan). Tangan kanan diletakkan dengan
lembut pada kuadran kanan atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada
puncak inspirasi tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap

ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran, nyeri tekan ga). Pasien diminta membuang
nafas dan berhenti napas, lepaskan tangan kanan, dan rasakan bagaimana ginjal kembali
waktu ekspirasi.
c. Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita, Tangan kanan
untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Tangan kiri diletakkan dengan lembut pada
kuadran kiri atas di lateral otot rectus, minta pasien menarik nafas dalam, pada puncak
inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar
kedua tangan (normalnya jarang teraba).
Perkusi
Untuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan mempersilahkan penderita
untuk duduk menghadap ke salah satu sisi, dan pemeriksa berdiri di belakang penderita. Satu
tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1
dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kanan). Satu tangan diletakkan
pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul
dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kiri). Penderita diminta untuk memberiksan
respons terhadap pemeriksaan bila ada rasa sakit.
Evaluasi
Perawat bertanggung jawab untuk asuhan keperawatan yang mereka berikan dengan
mengevaluasi hasil intervensi keperawatan. Keterampilan pengkajian fisik meningkatkan
evaluasi tindakan keperawatan melalui pemantauan hasil asuhan fisiologis dan perilaku.
Keterampilan pengkajian fisik yang sama di gunakan untuk mengkaji kondisi dapat di
gunakan sebagai tindakan evaluasi setelah asuhan diberikan.
Perawat membuat pengukuran yang akurat, terperinci, dan objektif melalui
pengkajian fisik. Pengukuran tersebut menentukan tercapainya atau tidak hasil asuhan yang
di harapkan. Perawat tidak bergantung sepenuhnya pada intuisi ketika pengkajian fisik dapat
digunakan untuk mengevaluasi keefektifan asuhan.
Dokumentasi
Perawat dapat memilih untuk mencatat hasil dari pengkajian fisik pada pemeriksaan atau
pada akhir pemeriksaan. Sebagian besar institusi memiliki format khusus yang
mempermudah pencatatan data pemeriksaan. Perawat meninjau semua hasil sebelum
membantu klien berpakaian, untuk berjaga-jaga seandainya perlu memeriksa kembali
informasi atau mendapatkan data tambahan. Temuan dari pengkajian fisik dimasukkan ke
dalam rencana asuhan.
Data didokumentasikan berdasarkan format SOAPIE, yang hamper sama dengan langkahlangkah proses keperawatan.
Format SOAPIE, terdiri dari:
Data (riwayat) Subjektif, yaitu apa yang dilaporkan klien
Data (fisik) Objektif, yaitu apa yang di observasi, inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
oleh perawat.
Assessment (pengkajian) , yaitu diagnosa keperawatan dan pernyataan tentang kemajuan
atau kemunduran klien
Plan (Perencanaan), yaitu rencana perawatan klien
Implementation (pelaksanaan), yaitu intervensi keperawatan dilakukan berdasarkan

rencana
Evaluation (evaluasi), yaitu tinjauan hasil rencana yang sudah di implementasikan.

PENUTUP
KESIMPULAN
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian
tertentu yang dianggap perlu, untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif,
memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan
keperawatan yang tepat bagi klien.
Pemeriksaan fisik mutlak dilakukan pada setiap klien, tertama pada klien yang baru masuk ke
tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat, secara rutin pada klien yang sedang di rawat,
sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di
lakukan pada kondisi tersebut, baik klien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.
Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat, baik untuk untuk
menegakkan diagnosa keperawatan, memilih intervensi yang tepat untuk proses keperawatan,
maupun untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan.
Saran
Agar pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan baik, maka perawat harus memahami ilmu
pemeriksaan fisik dengan sempurna dan pemeriksaan fisik ini harus dilakukan secara
berurutan, sistematis, dan dilakukan dengan prosedur yang benar.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus
dengan mengambil bahan atau sampel dari penderita, dapat berupa urine (air kencing), darah,
sputum (dahak), dan sebagainya untuk menentukan diagnosis atau membantu menentukan
diagnosis penyakit bersama dengan tes penunjang lainya, anamnesis, dan pemeriksaan lainya.
Sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dirancang, untuk tujuan tetrtentu misalnya
untuk mendeteksi penyakit, menentukan resiko, memantau perkembangan penyakit,
memantau perkembangan pengobatan, dan lalin-lain. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau
penyakit yang banyak di jumpai dan potensial membahayakan. Pemeriksaan yang juga
merupakan proses General medical check up (GMC) meliputi : Hematologi Rutin, Urine
Rutin, Faeces Rutin, Bilirubin Total, Bilirubin Direk, GOT, GPT, Fotafase Alkali, Gamma
GT, Protein Elektroforesis, Glukosa Puasa, Urea N, Kreatinin, Asam Urat, Cholesterol Total,
Trigliserida, Cholesterol HDL, Cholesterol LDL-Direk.
Tes atau pemeriksaan dapat secara kimia klinik, hematologi, imunologi, serologi,
mikrobiologi klinik, dan parasitologi klinik. Metode pemeriksaan pemeriksaan terus
berkembang dari kualitatif, semi kuantitatif, dan dilaksanakan dengan cara manual,
semiotomatik, otomatik, sampai robotik. Hal ini berarti peralatanpun berkembang dari yang
sederhana sampai yang canggih dan mahal hingga biaya tespun dapat meningkat. Oleh
karena itu hasi suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa,
memantau perjalanan penyakit, serta menentukan prognosa dari suatu penyakit atau keluhan
pasien.
A.
1.

Pemeriksaan Kimia Darah


Diabetes
Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang kronik ditandai oleh

hiperglikemia. Tes untuk menentukan diabetes melitus adalah:


a. Glukosa puasa.
Kadar glukosa darah pada waktu puasa atau di singkat glukosa darah puasa di tujukan untuk :
1.
Tessaring diabetes melitus,karena tidak adanya atau defisiensi insulin,maka kadar glukosa

meninggi.
Memonitor terapi diabetes melitus.
Nilai rujukan : 70 100 mg/dl
Abnormal
: >140 mg/dl atau >126 mg/dl (Usulan ADA 1997)
enunjukan peninggian nilai ambang yang perlu
2.

konfirmasi dengan tes glukosa 2 jam post pradial atau tes toleransi glukosa oral. Bila nilai >200 mg/dl,
maka diagnosis adalah diabetes

melitus. Meninggi juga pada pankreatitis,post infrak

miocard, sindrom cushing, akromegali. Menurun pada hiperinsuliniisme, myxoederma,


insufisiensi adrenal, dan hipopituitarisme.

b.

Glukosa 2 jam PP
Tes ini merupakan tes saring untuk menentukan diabetes melitus. Tes dilakukan bila ada

kecurigaan DM (misalnya polydipsi dan polyuri). Atau bila glukosa darah puasa 140 mg/dl.
: Makan yang mengandung karbohidrat sebelum
2 jam dan hentikan merokok serta
ga,hentikan obat-obatan pada waktu
Nilai rujukan: <140 mg/dl
Abnormal
: 200 mg/dl menujukan DM, namun dapat juga
pada pankreatitis, sindrom cushing, akromegali, mungkin juga pada penyakit hati kronis,
sindromnefrotik, tumor otak, dan anoksia.
Nilai menurun seperti keadaan pada glukosa darah puasa.
2.
Faal Hati
Hati adalah organ tunggal dalam tubuh yang paling besar dan kompleks. Dengan bobot

kan
l

sekitar 2 kg, hati mempunyai tugas penting yang rumit demi kelangsungan seluruh fungsi
tubuh. Fungsi hati yaitu. Membuat empedu suatu zat yang membantu pencernaan lemak,
memproses dan mengikat lemak pada pengangkutnya (protein) termasuk kolesterol.
Gabungan lemak dan protein disebut lipoprotein (Chylomicron, VLDL, LDL, HDL),
menyimpan gula dan membantu tubuh untuk mengangkut dan menghemat energi.
Membantu mengurai dan mendaurulang sel-sel darah merah.
Jika hati rusak, maka fungsinya dalam mengeluarkan racun tidak berfungsi.
Akibatnya racun akan menumpuk dalam darah dan akhirnya ke otak. Untuk menghindari
hal ini, ada baiknya menjalani gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat akan menjaga fungsi hati
agar tetap optimal.
a.

GOT (glutamic oxal-acetic transaminase)


GOT mengkatalisis konversi bagian nitrogen asam amino menjadi energi. GOT ditemukan
dalam sitoplasma dann mitokondria sel hati, jantung, otot skelet, ginjal, pankreas, dan

eritrosit. Pada kerusakan sel-sel tersebut di atas, GOT dalam serum meninggi.
Tujuan
: Test in vitro kinetik untuk penentuan secara
Kuantitatif GOT (AST =aspartat aminotransferase) dalam serum dan plasma.
: 6-30 /l
: 20 x pada virus hepatitis akut,trauma otot, post operasi, kerusakan hati karena obat.

pada
infark miokardi
ukleosis infeksia dan cirrhosis karena alkohol.
b.
GPT (Glutamic-Pyruvic Transminase) atau Alanine Amino Transferase (ALT)
ALT mengkatalisis kelompok asam amino dalam siklus
Krebs untuk menghasilkan energi dijaringan. ALT terdapat di sitoplasma sel hati, jantung,
dan otot skelet. Pada kerusakan sel hati ALT meninggi di dalam serum hingga
merupakan indikator kerusakan sel hati.
: Test in vitro kinetik untuk penentuan secara kuantitatif GPT (ALT= alanine
aminotransferase) dalam serum dan plasma.
: 7-32 /l
: 20-50 x pada hepatitis virus atau karena

hepatitis atau kolesistis dan pada penyembuhan hepatitis.


c.
Bilirubin.
Bilirubin merupakan produk utama katabolisme hemoglobin dalam hal ini terjadi uncojugated
dalm bilirubin seterusnya dalam hati akan di rubah menjadi conjugated (direct post hepatict).

Bilirubin yang menumpuk di otak dapat menimbulkan bahaya yang sukar diperbaiki.
uan test
: 1). Mengevaluasi fungsi hepatobilier dan
opoetik (gangguan hemolitik transfusi darah).
Mendeferinsial diagnosis ikterus dan

memonitor progresifitasnya.

Mendiferensial diagnosis obstruksi bilier (bilirubin direct) dan anemia hemolitik (bilirubin
indirect).

ukan

: Bilirubin indirect 0,75 mg/dl

n direck 0,05-0,3 mg/dl

n total 0,2-1,0 mg/dl

al

: Bilirubin indirek meninggi pada anemia hemolitika pada gangguan hati dan defisiensi enzim
kongenital. Bilirubin direck meninggi menunjukan obstruksi biliar patitis, cirosis. Bila
obstruksi menerus maka kedua bilirubin meninggi.
d.

Alkali Fostafase
Alkali fostafase didapatkan di hati, tulang, ginjal, usus, dan plasenta. Pda orang dewasa kadar
tinggi terutama dihati, tulang, usus, dan plasenta. Pada waktu trimester kehamilan.
Tujuan test
: Menentukan lesilokal dihati karena obstruksi
bilier karena tumor,batu atau abses. Identifikasi penyakit tulang dengan aktifitas osteoblastik
atau respon tyerhadap pengobatan dengan vitamin D pada riketsia.
: < 240 /l

rmal

: Meninggi sekali (>5x) pada obstruksi bilier total,agak meninggi (<3x) pada hepatitis
kronis,kehamilan awal,penyembuhan fraktur,anak yang sedang tumbuh,vitamin D dosis
tinggi,penyakit jantung kongestif,menurun pada hipo-fostatemia protein dan magnesium.
e.

Protein
: untuk menentukan kadar dan defisiensi protein

an
.
i normal
: 6,6 -8,7 mg/dl
ormal
: Meninggi ; inflamasi kronik misalnya artritis
rasi,DM asidosis. Menurun ; gangguan
malapsorpsi, malnutrisi, dan diabetes
tus.
f.

dan memperbaiki jaringan. Selama proses dialysis, albumin dalam darah membantu
pembuangan cairan dengan cara menarik cairan yang berlebih dalam jaringan kembali ke
dalam darah untuk kemudian disaring oleh ginjal buatan (dialyzer).
: penentuan secara kuantitatif albumin dalam

serum dan plasma manusia.

: 3,4 4,8 mg/dl

al

dapat menyebabkan penyakit kolagen, diare, kronik, malnutrisi, hipertiroid,

penyakit ginjal, hati darah dan AIDS


3.
a.

Lemak.
Kolesterol
Kolesterol adalah suatu zat lemak yang beredar di dalam darah, diproduksi oleh hati dan
sangat diperlukan oleh tubuh. Tetapi kolesterol berlebih akan menimbulkan masalah,
terutama pada pembuluh darah jantung dan otak.
: Penentuan secara kuantitatif kolesterol dalam

Nilai normal

an
normal

Albumin.
Albumin adalah protein yang ada dalah darah yang diperlukan oleh tubuh untuk memelihara

b.

serum dan plasma.

: < 200 mg/dl.


HDL Klolesterol (High Density Lipoprotein)
: Penentuan secara kuantitatif HDL kolesterol
: Laki-laki 35 55 mg/dl, perempuan 45 55 mg/dl.

dalam serum dan plasma.

HDL bersifat menangkap kolesterol yang sedang dalam keadaan bebas di pembuluh darah
untuk kemudiannya terbawa ke dalam hati untuk diproses lebih lanjut. Oleh karenanya HDL
disebut sebagai kolesterol yang baik.

c.

LDL Kolesterol (Low Density Lipoprotein)


: Penentuan secara kuantitatif LDL kolesterol dalam serum dan plasma.
: <130 mg/dl

an
ai normal

Jika pembuluh darah tersumbat oleh timbunan lemak tersebut, maka dampak lebih jauhnya
diantaranya adalah stroke, serangan jantung, dan lainnya yang mengarah fatal kepada tubuh
manusia. Oleh karena itu LDL dikenal sebagai sebutan kolesterol jahat.
d.

Trigliserida

an

: Untuk penentuan secara kuantitatif trigliserida dalam serum dan plasma.


: < 200 mg/dl

etahui keadaan pembuluh darah dan jantung

mal

mal

4.

Faal Ginjal
Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh dan berfungsi untuk membuang sampah
metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urin / air seni. Ginjal mengatur pH, konsentrasi
ion mineral, dan komposisi air dalam darah. Sebagai sistem filter dan membuang sampah dari

tubuh Menjaga keseimbangan cairan tubuh


a. Ureum
Ureum adalah hasil metabolesme protein,ureum di bentuk dari amonia dalam hati dan di
ekskresi oleh ginjal.
: Penentuan kuantitatif urea dalam serum plasma dan urin.
Nilai normal: 10,0 50,0 mg/dl
b. Creatinin
Creatinin merupakan hasil akhir metabolisme creatin yang di filtrasi glomeruli ginjal.
: Penentuan invitro secara kuantitatif creatinin dalam serum dan plasma manusia.
laki-laki 0,70 -1,20 mg/dl, perempuan 0,50 0.90 mg/dl.
c. Asam urat
Asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya tidak boleh berlebih.
: Laki-laki 3,4 7,0 mg/dl, perempuan 2,4 5,7 mg/dl.
Apabila terjadi perubahan pada ginjal menyababkan kerusakan ginjal
5.
a.

Pemeriksaan Darah
Haemoglobin.
Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah

merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
Tujuan
: untuk memeriks kemungkinan anemia.
Nilai normal : Laki laki 14 16 , perempuan 12 14 gr %
b. Eritrosit (sei darah merah)
Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke
jaringan-jaringan tubuh.
Tujuan : untuk menetahui kualitas darah dalam tubuh.

Nilai normal : laki-laki 4,5 5,5, perempuan 4-5 juta/UL


c.
Leukosit (sel darah putih)
Leukosit adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk
membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan
tubuh.dan merupakan pertahanan badan terhadap benda asing
Tujuan
: Untuk mengetahui kemampuan tubuh melawan
infeksi.
Nilai normal
: 5-10.000/UL
d. Trombosit (keping darah)
Trombosit adalah sel kecil yang beredar dalam darah.
Tujuan : Untuk melihat kemampuan tubuh mengontrol
pendarahan.
Nilai normal
: 150 -400.000/UL
B.

Urinalisis
Merupakan tes saring yang paling sering diminta oleh dokter karena persiapanya tak
membebani pasien.
:

untuk menentukan infeksi saluran kemih, terutama yang berbau busuk karena nitrit

leokosit dan atau bakteri, menentukan kemungkinan gangguan metabolisme misalnya


diabetes melitus atau komplikasi kehamilan dan menentukan berbagai jenis ginjal.

hasil tes saring pada urinalisis


n

Pemeriksaa

o
1

n kimia
Kejernian

Bau

Warna

pH

Nilai rujukan

Contoh abnormal

Tes diagnosis

jernih

Keruh,berawan

antara lain
Mungkin

Tidak berbau

gelap
Busuk,atau

porfirin
Sesuaikan

amoniak

dengan hasil

Kuning tua

sedimen
Tes faal hati

coklat

Tes faal hati

Merah coklat
< diet protein

pH darah kalau

asidosis

perlu

< diet sayur

pH darah kalau

alkalosis

perlu biakan

Kuning mudah

4.5 8.0

kuman

Berar jenis

1.010 -1.020

Pekat diabetes

Glukosa darah

melitus

C.
1.

THIROID
T3 (Triodotironin)
: Untuk menentukan kadar T3 di dalam serum atau plasma.
: Enzime immunoassay fase padat satu tahap dengan prinsip kompetitif. Tes menggunakan
antibodi momoklonal yang sangat spesifik terhadap T3.
: T3 merupakan perantara sebagian besar kerja hormon tiroid tingkat molekuler. Klirens T3

estasi

dari darah jauh lebih cepat dibandingkan T4. Sehinngga penentuan kadar T3 yang di hasilkan
kelenjar tiroid tidak begitu penting artinya dalam menilai fungsi. Penentuan kadar T3 serum
juga tidak berguna untuk menegakan diagnosis hipotiroidisme,karena kadarnya baru turun

bila hipotiroidisme sudah berat.


ai normal
: 0,8 2,0 mg/ml
2.
T4 ( Tiroksin)
Tujuan : Untuk menentukan kadar T4 didalam serum atau
plasma.
ip
: Enzime immunoassay fase padat satu tahap yang mengukur thyroxin bentuk terikat
dengan prinsip kompetitif.
: Tirotoksikosis merupakan akibat peningkatan kadar T3 dan T4 dalam darah. Sedangkan

restasi

hipertiroidisme adalah hiperfungsi tiroid yaitu peningkatan biosintesis dan sekresi hormon
oleh kelenjar thiroid.
: 50 113 mg/ml

normal
3.

FT 3 (Free Triiodothyronin)
uan
: Untuk mendeteksi FT3 dalam serum atau plasma.
sip
: Enzime immunoassay fase padat dua tahap dengan
sip titrasi balik.
rprestasi
: Peningkatan kadar FT3 bersama dengan
ningkatnya kadar FT4 disertai penurunan TSHs
agnosis hipertiroidisme dengan API normal atau
gi bila FT3 normal atau tinggi didiagnosis
ertiroidisme dengan API rendah.
ai normal
: 4,4 -9,3 Pmol/ L
4.
FT4 ( Free Thyroxine)
Tujuan : Untuk menentukan kadar di dalam serum atau
plasma.
Prinsip

: Enzime immunoassay fase padat dua tahap dengan


prinsip titrasi balik.

rprestasi

: Penurunan kadar FT4 di sertai peningkata TSHs dapat

Nilai normal
5.

didiagnosis hipotiroidisme primer.

: 10 27 Pmol/L

TSHs (thyroid stimulating hormone


Tujuan : Untuk menentukan kadar TSH di dalam serum atau
plasma.
:

Enzime immunoassay fase padat dua tahap dengan

prinsip

sandwich.

stasi

: TSHs dan FT4 merupakan kombinasi tes terbaik untuk

ujukan

menentukan status thiroid.

: 0,20 3,20 m IU/L


D.

Elektrolit.
Elektrolit dalam darah berupa kation misalnya Na +,K+,anion misalnya Cl. Kadar kation dan
anion pada keadaan normal sama sehingga keadaan listrik serum adalah netral.
1. Chlorida (Cl-)
Chlorida darah membantu regulasi voleme darah,tekana arteri dan keseimbangan asam basa
(asidosis-alkalosis). Kadar chlorida menurun misalanya sekresi cairan berlebihan dapat
menyebabkan alkalosis metabolik sedang retensi chlorida atau makan dengan garam
berlebihan dapat menimbulkan hiperchloremia dengan asidosis metabolik.
Nilai normal : 9.600 106.00 gr/dl
2. Natrium (Na+)
Natrium darah memelihara tekana osmotik cairan ekstraseluler dan berhubungan dengan
cairan tubuh serta membantu fungsi neuromuskuler. Natrium juga membantu keseimbangan
asam basa. Kadar natrium meninggi dapat karena kekurangan minum air kehilangan banyak
air misalnya pada diabetes insifidus, fungsi ginjal terganggu atau makan yang mengadung
natrium berlebihan.
Nilai normal : 135.37- 145.00 g/dl
3. Kalium (K+)
Kaluim merupakan kation utama dalam sel . kalium darah memelihara keseimbangan osmotik
dal;am sel, meregulasi aktifitas otot, enzim dan keseimbangan asam basa.kafar kalim
meninggi bila kaluim ion masuk kedalam darah seperti pada trauma, terbakar,diabetes.
Nilai normal : 3.48 5.50 g / dls