Anda di halaman 1dari 19

KEMISKINAN

MAKALAH
Diajukan sebagai tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan
Dosen : Hj Nina Herlina Ir., MM

Oleh:
HERLAN
3402150196
Kelas : H

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GALUH
CIAMIS
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang
KEMISKINAN ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya, dan
juga saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Hj Nina Herlina Ir., MM. selaku
Dosen mata kuliah Ekonomi Pembangunan Universitas Galuh yang telah
memberikan tugas makalah ini kepada saya.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai kemiskinan yang tejadi di pedesaan.
Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya ucapkan mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya menerima
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan makalah ini
di waktu yang akan datang.

Ciamis, 19 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................

DAFTAR ISI......................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................

A.
B.
C.
D.

Latar Belakang........................................................................................
Rumusan Masalah...................................................................................
Tujuan......................................................................................................
Metode.....................................................................................................

1
2
2
2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 3
A. Pengertian Kemiskinan........................................................................... 3
B. Mengukur Kemiskinan............................................................................ 4
C. Penyebab Kemiskinan............................................................................. 5
D. Menghilangkan Kemiskinan................................................................... 7
E. Kasus Kemiskinan di Pedesaan......................................................... 10
1. Studi Kasus Kemiskinan di Desa Buanamekar................................. 10
2. Pembahasan Kasus............................................................................ 12
BAB III PENUTUP........................................................................................... 15
A. Kesimpulan............................................................................................... 15
B. Saran - Saran............................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini, kemiskinan adalah masalah yang sangat sulit diatasi apalagi bagi
negara berkembang. Kemiskinan menjadi momok dan kata yang sangat
menakutkan karena semua orang pasti tidak mau menjadi miskin. hal itu
berawal dari dua sebab, yaitu diri sendiri dan orang lain. Pertama, kurangnya
kemampuan individu untuk mengembangkan kemampuan dirinya sendiri
memperoeh kehidupan yang lebih baik. Kedua, kelicikan orang yang
berpangkat merampas harta yang bukan miliknya alias korupsi.
Negara Indonesia merupakan negara agraris, akan tetapi perekonomian
masih

rendah di Indonesia terutama di desa, itu semua

menyebabkan

kemiskinan. Kemiskinan disebabkan pekerjaan masyarakat yang tidak


menentu. Kebanyakan masyarakat desa bekerja sebagai buruh dan petani
dengan pendapatan yang rendah. Masyarakat petani tergolong masyarakat
miskin karena masyarakat petani tersebut mempunyai banyak keterbatasan
salah satunya yaitu, pengetahuan dan teknologi.
Masalah kemiskinan di Indonesia masih merupakan hal yang perlu
memperoleh perhatian. Jumlah orang yang hidup dibawah garis kemiskinan
nasional masih signifikan. Dicatat bahwa pada tahun 1985 Indonesia
menduduki peringkat negara termiskin di dunia. Pada tahun 1966 Pendapatan
Nasional Brutonya hanya US$50,- per kapita per tahun; sekitar 60 persen
orang Indonesia dewasa tidak dapat membaca dan menulis; dan mencapai 65
persen penduduk negara tersebut hidup dibawah garis kemiskinan
(Tambunan, 2006).
Kemiskinan salah satu penghalang kesejahteraan hidup masyarakat desa,
untuk itu masyarkat desa harus bekerja sama untuk meningkatkan
pembangunan perekonomian dan pemerintah harus peka terhadap masalah
kemiskinan yang masih terjadi di dalam masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kemiskinan ?
2. Bagaimana cara mengukur kemiskinan ?
3. Apa saja penyebab kemiskinan ?
4. Bagaimana cara menghilangkan kemiskinan ?
5. Bagaimana dampak dan penanggulangan studi kasus kemiskinan yang
terjadi di Desa Buanamekar Kec. Panumbangan Kab. Ciamis?
C. Tujuan
Memahami dampak dan penanggulangan kemiskinan dari studi kasus
yang terjadi di Desa Buanamekar Kec. Panumbangan Kab. Ciamis.
D. Metode
Metode yang digunakan untuk penulisan makalah ini adalah metode
refrensi literatur, artikel-artikel, dan jurnal yang didapat dari perpustakaan,
desa dan internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang
biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, dan air
minum. Hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan
kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan
yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan
yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif,
sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara
berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang
"miskin".
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya
mencakup:
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan
sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan
dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan

pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan,

dan

ketidakmampuan

untuk

berpartisipasi

dalam

masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial


biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah

masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.
Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian
politik dan ekonomi di seluruh dunia.

B. Mengukur Kemiskinan

Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu


Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan Relatif. Kemiskinan absolut mengacu
pada satu set standar yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan
tempat/negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari
populasi yang makan dibawah jumlah yang cukup menopang kebutuhan tubuh
manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki-laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan
pendapatan dibawah USD $1 per hari dan Kemiskinan menengah untuk
pendapatan dibawah $2 per hari, dengan batasan ini maka diperkiraan pada
2001 1,1 miliar orang di dunia mengkonsumsi kurang dari $1 per hari dan 2,7
miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $2 per hari. Proporsi
penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrim telah
turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001. Melihat pada periode
1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis
kemiskinan $1 per hari telah berkurang separuh. Tetapi, nilai dari $1 juga
mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Berikut adalah contoh data jumlah dan persentase penduduk miskin
menurut daerah dan menurut pulau yang diambil dari data Badan Pusat
Statistik.
Tabel 1
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Menurut Daerah, September 2015Maret 2016
Daerah/Tahun
(1)

Jumlah Penduduk
Miskin (Juta)

Persentase Penduduk
Miskin

(2)

(3)

Perkotaan
September 2015
Maret 2016

10,62
10,34

8,22
7,79

Perdesaan
September 2015
Maret 2016

17,89
17,67

14,09
14,11

Kota+Desa
September 2015
Maret 2016

28,51
28,01

22,31
21.90

Sumber: Diolah dari data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2015 dan Maret 2016

Tabel 2
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Pulau, September 2011

Persentase
Penduduk
Miskin (%)

Jumlah
Penduduk
Miskin (000)

Pulau

2.045,34
7.527,73
645,32
266,03
354,15
116,01

4.273,53
9.216,68
1.420,50
705,86
1.798,00
1.520,99

Kota+De
sa
6.318,87
16.744,41
2.065,82
971,88
2.152,15
1.637,00

10.954,
58

18.935,
56

29.890,1
4

Kota
Sumatera
Jawa
Bali dan Nusa
Tenggara
Kalimantan
Sulawesi
Maluku dan Papua
Indonesia

Desa

Kota
10,10
9,28
12,29
4,45
5,96
6,09
9,09

Desa
13,55
16,08
17,51
8,65
15,32
33,21
15,59

Kota+De
sa
12,20
12,09
15,46
6,88
12,17
25,25
12,36

Sumber: Diolah dari data Susenas September 2011.

Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia


bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di
negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang
berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin.
Kemiskinan dapat dilihat sebagaikondisi kolektif masyarakat miskin, atau
kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara
kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negaranegara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.
C. Penyebab Kemiskinan
Umumnya, kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai
akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan
keluarga;
penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan
dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan
sekitar;
penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang
lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.

Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah


sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per
kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan
sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana
bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.
Kemiskinan petani pedesaan barangkali dapat juga dijelaskan melalui
capability approach yang diketengahkan oleh Amartya Sen (1999) didalam
Development As Freedom. Menurut Sen, kemiskinan berkaitan dengan
freedom of choice; orang miskin sama sekali tidak memiliki freedom of
choice karena terjadi capability deprivation. Capability mengacu pada dua
perkara, yaitu ability to do dan ability to be. Petani miskin dipedesaan benarbenar mengalami ability to do dan ability to be yang rendah karena mereka
dalam posisi yang dirampas.
Berbagai macam deprivation dapat diketengahkan disini:
1. Structural devrivarion. Struktur berkaitan dengan: (1) power relations,
dimana posisi petani selalu dalam posisi yang lemah; (2) adanya
kebijakan pemerintah yang memengaruhi kebijakan dalam penangulangan
kemiskinan; (3) dualisme ekonomi yang muncul dalam wajah baru.
2. Social capability deprivation: orang miskin tidak dapat meraih
kesempatan, informasi, pengetahuan, ketrampilan, partisipasi dalam
organisasi.
3. Economic capability deprivation: orang miskin tidak dapat mengakses
fasilitas keuangan pada lembaga-lembaga keuangan resmi seperti
perbankan, tetapi mereka terjebak pada Bank Plecit dan kaum rentenir
yang tidak membutuhkan prosedur yang berbelit-belit.
4. Technological capability deprivation: dimana orang miskin tidak dapat
memiliki teknologi baru yang memerlukan modal yang cukup besar.
Teknologi tradisional seperti pembuatan alat-alat dari bahan lokal (tanah,
bambu, kayu, dll) telah digantikan oleh alat-alat pabrikan.
5. Political capability deprivation: petani miskin di pedesaan tidak mampu
memengaruhi keputusan politik yang dirumuskan oleh Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR), tidak didengarkan aspirasinya, tidak memiliki kemampuan
untuk melakukan collective action.
6. Psychological deprivation: petani miskin pedesaan selalu memperoleh
stigma sebagai orang-orang yang kolot, bodoh, malas, tidak aspiratif.

Stigma inilah yang berakibat mereka menjadi rendah diri dan merasa
disepelekan, merasa teralienasi di dalam kehidupan sosial dan politik.
Kemiskinan petani dipedesaan semakin diperparah dengan munculnya
sistem ekonomi global yang menganut paham neo-liberalisme. Tiga alat neolib yaitu World Bank, International Moneteray Fund (IMF) dan World trade
organization kelihatannya tidak memihak pada petani miskin (catatan:
sekarang para staf ahli dari Bank Dunia seperti Sen, Stilgitz, Woolcock dan
Narayan) telah membaca tanda-tanda meningkatnya kemiskinan global
karena perilaku neo-lib yang menyarankan untuk menghapus kemiskinan
dinegara ketiga melalui structural adjustment programs, yaitu (1) free trade,
(2) penghapusan tarif, dan (3) mengganti tanaman pangan dengan tanaman
komoditas. Akibatnya adalah fatal, jumlah kemiskinan dunia meningkat
menjadi lebih dari dua miliar penduduk. Di India jumlah orang miskin
meningkat menjadi dua kali lipat. Dan yang paling menikmati kemiskinan
penduduk dunia ketiga adalah negara-negara kapitalis.
D. Menghilangkan Kemiskinan
Peneliti mengetengahkan suatu pendekatan kemiskinan yang sekarang
ini juga disarankan oleh para penasehat Bank Dunia. Pendekatan yang
dimaksud adalah pendekatan modal sosial. Pendekatan ini telah ditunjukkan
oleh banyak peneliti yang menyatakan bahwa pengentasan kemiskinan
berkaitan erat dengan peranan modal sosial. Modal sosial berkaitan dengan
social networking, norm of trust, mutual reciprocity dan mutual benefit. Hasil
penelitian Grootaert (1999), Putnam (2000; 2002), Coleman (2000), Woolcock
(2002), Slamet (2010) menunjukkan bahwa modal sosial dapat membantu
dalam pengentasan kemiskinan. Menurut hasil penelitian Slamet (2010) modal
sosial dapat diciptakan melalui 11 pembangunan institusi-institusi sosial.
Institusi sosial memungkinkan terbentuknya modal sosial yang pada
gilirannya dapat mengentaskan kemiskinan.
Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin.
Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman
pertengahan.

Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang


dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan,
termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung
kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk
orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti
orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat
orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
Saat ini permasalahan ekonomi yang mendesak adalah pengangguran
dan rakyat miskin yang jumlahnya sangat besar. Ini disebabkan karena gerak
ekonomi berjalan lamban (down turn). Investasi yang berjalan tidak mampu
menyerap pertambahan tenaga kerja yang tumbuh sementara tenaga kerja
penganggur yang ada selama ini jumlahnya juga sudah besar. Ini telah
berjalan bertahun tahun sehingga berakumulasi menjadi jumlah di luar batas
kewajaran. Akibatnya, tercipta masyarakat miskin yang berjumlah besar pula.
Kemiskinan ini berakibat pada semakin rendahnya pendapatan riil dan
merusak sendi-sendi kehidupan lainnya seperti pedidikan dan kesehatan.
Yang terkena imbasnya tidak sekadar pengurangan pengeluaran konsumsi
yang dilakukan oleh masyarakat tetapi juga pada kualitas pendidikan dan
kualitas kesehatan. Pendidikan masyarakat menjadi mundur dalam pengertian
tidak saja semakin banyak anak-anak berusia sekolah yang tidak bersekolah
tetapi mutunya juga menurun.
Demikian juga dengan tingkat kesehatan. Pengeluaran kesehatan
menjadi pengeluaran mewah karena biayanya tinggi dan banyak anggota
masyarakat yang tidak mampu membayar biaya dimaksud. Itu berarti secara
perlahan kualitas hidup pun menjadi menurun.

Gurita pengangguran dan

kemiskinan ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus dihentikan dengan suatu


aktivitas ekonomi yang besar (big push) melalui penanaman modal oleh
pemerintah ataupun pihak perusahaan swasta.
Namun, pemerintah sendiri atau pihak usaha swasta juga belum
mampu mendorong perputaran aktifitas ekonomi dalam gerakan yang lebih
besar. Kondisi mereka juga dalam sempoyongan. Itu berarti untuk saat ini kita
harus menunggu sampai itu terjadi saat di mana pemerintah atau pengusaha
swasta mampu dan mau menanamkan modalnya (investasi). Jika demikian

halnya apa yang akan terjadi pada masa menunggu ini. Tentu semakin banyak
anggota

masyarakat

yang

menganggur

dan

miskin.

Timbul pertanyaan siapa yang menganggur dan siapa yang miskin


tersebut? Jawabannya adalah masyarakat jelata, yang umumnya adalah
mereka yang tidak mempunyai akses ke sektor formal, berpendidikan rendah
dan berdaya ekonomi marjinal. Maka kalau harus menunggu tentu nasib para
warga yang menganggur dan miskin tersebut menjadi semakin parah. Tentu
hal ini tidak dapat dibiarkan karena dampak yang muncul bukan saja pada diri
warga tersebut tapi juga pada kenyamanan dan kestabilan masyarakat lainnya.
Dalam

konteks

yang

seperti

inilah

pemerintah

perlu

mendorong

perkembangan ekonomi rakyat Mengapa, karena penganggur dan rakyat


miskin tersebut adalah rakyat jelata yang merupakan masyarakat marjinal di
mana ekonomi rakyat itu bekerja. Apa itu ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat
adalah kegiatan ekonomi yang berskala kecil yang dilakukan oleh rakyat dan
biasanya bersifat informal. Ekonomi rakyat mampu menekan tingkat
pengangguran dan merupakan salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat
miskin untuk ukuran yang sebanding.
Jika begitu halnya maka ekonomi rakyat harus dikembangkan dalam
rangka untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Ekonomi
rakyat, sesuai dengan ukurannya, diharapkan mampu menyelesaikan kedua
masalah tersebut secara langsung. Cara ini lebih fokus pada penyelesaian
masalah yang dihadapi oleh masyarakat jelata.
Oleh sebab itu, mengembangkan ekonomi rakyat dapat dianggap
sebagai salah satu pilihan untuk mengatasi masalah pengangguran dan
kemiskinan yang terdapat di masyarakat. Cara ini pun dianggap lebih
terhormat di mana mereka bukan sebagai orang yang minta dikasihani. Cara
ini adalah cara bagaimana mereka diberdayakan dengan memberikan
peluang/kesempatan untuk berusaha pada bidang ekonomi rakyat. Yang
diharapkan adalah suatu pengertian dari pemerintah sekaligus mengaturnya
secara tepat agar ekonomi rakyat berjalan seperti yang diharapkan.
Pemerintah diharapkan dapat memberi kesempatan kepada mereka sehingga
mendorong mereka untuk tetap bertahan hidup.

E. KASUS KEMISKINAN DI PEDESAAN


1. Studi Kasus Kemiskinan di Desa Buanamekar Kec. Panumbangan,
Kab. Ciamis
Kasus kemiskinan yang terjadi di desa Buanamekar itu adalah
kurangnya pendidikan bagi masyarakat yang ada di desa tersebut, tidak
adanya bantuan dari pemerintahan misalnya dalam memperhatikan masalah
yang melanda rakyatnya. Alangkah lebih baiknya apabila dana-dana bantuan
tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya
manusia (SDM), seperti di berikannya beasiswa bagi anak sekolah yang
kurang mampu yang berada di bawah garis kemiskinan, serta dibebaskannya
biaya-biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Selain
itu ada faktor lain penyebab terjdinya kemiskinan di desa Buanamekar yaitu
kurangnya kesadaran dari masyarakat bahwa pendidikan dan mencari ilmu itu
penting demi kesejahteraan hidupnya. Masyarakat di desa Buanamekar lebih
memilih menjadi petani (buruh petani) daripada harus melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Perlu adanya perubahan pada pola
pikir masyarakat desa Buanamekar agar tidak terjadi kemiskinan yang
berkepanjangan dan perlu ditingkatkannya sumber daya manusia untuk
memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran
Dari data yang ada di desa Buanamekar, Kec. Panumbangan, pada
bulan Juli 2016 sebanyak 448 KK (Kepala Keluarga) adalah penerima beras
Raskin dari Total 1125 KK (Kepala Keluarga) artinya sebanyak 39,82 %
kepala keluarga adalah penerima beras raskin. Jika dibandingkan pada
tahun sebelumnya, pada tahun 2015 dari total 1092 KK (Kepala Keluarga)
sebanyak 516 KK (Kepala keluarga) adalah penerima beras Raskin atau
sebesar 47,25 % kepala keluarga menerima beras raskin. Hal ini tentu
mengalami penurunan sebesar 7,43 % dalam jangka waktu satu tahun.
Tabel 3
Berikut adalah penerima beras raskin berdasarkan Dusun

Nama Dusun

Tahun
2015

2014

2016

Penerima

Jumlah

Penerima

Jumlah

Penerima

Jumlah

(KK)

KK

(KK)

KK

(KK)

KK

Cipeundeuy
Cibulakan
Pasirjaya
Sindangsuka
Nangkapandak
Lebakranca
Jumlah
Presentase

62
122
91
82
77
91
525

133
218
211
172
160
169
1063
49,39 %

60
121
92
80
73
90
516

137
223
217
176
164
175
1092
47,25 %

54
108
84
71
63
68
448

142
230
221
183
169
180
1125
39,82 %

Sumber : Data dari Bagian Kesejahteraan Rakyat (KESRA) Desa Buanmekar

Tabel 4
Berikut ini angka kemiskinan di Desa Buanamekar, baik relatif maupun absolut:
Statistik Kemiskinan dan Ketidaksetaraan di Desa Buanamekar:
2011

2012

2013

Kemiskinan Relatif
(% dari Populasi)

4,8

4,2

3,9

Kemiskinan Absolut
(Orang)

71

49

25

Sumber : Sensus Desa Buanamekar

Dalam beberapa tahun belakangan ini angka kemiskinan di Desa


Buanmekar memperlihatkan penurunan yang signifikan. Meskipun demikian,
diperkirakan penurunan ini akan melambat di masa depan. Mereka yang
dalam beberapa tahun terakhir ini mampu keluar dari kemiskinan adalah
mereka yang hidup di ujung garis kemiskinan yang berarti tidak diperlukan
sokongan yang kuat untuk mengeluarkan mereka dari kemiskinan. Namun
sejalan dengan berkurangnya kelompok tersebut, kelompok yang berada di
bagian paling bawah garis kemiskinanlah yang sekarang harus dibantu untuk
bangkit. Ini lebih rumit dan akan menghasilkan angka penurunan tingkat
kemiskinan yang berjalan lebih lamban dari sebelumnya.
Ada dua masalah pokok dalam kemiskinan, yaitu faktor penyebab dan
dampak-dampak yang ditimbulkannya serta penanganannya :
Faktor penyebab kemiskinan adalah berbagai situasi yang memberi
ruang akan terjadinya insiden kemiskinan, baik yang menyangkut situasi
sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya maupun situasi-situasi alami yang

terjadi di luar perhitungan manusia. Termasuk dalam kategori ini adalah


berbagai krisis yang terjadi baik akibat situasi dalam negeri maupun akibat
dampak persoalan global. Krisis moneter sebagai dampak persoalan global
merupakan faktor yang sangat berpengaruh
Dampak yang ditimbulkan akibat kemiskinan sangat beragam
mencakup hampir semua dimensi kehidupan masyarakat dan negara.
Terjadinya berbagai permasalahan sosial seperti kejahatan, ketunasosialan,
keterlantaran, keterasingan, merupakan manifestasi dan kemiskinan. Dengan
kata lain, kemiskinan terbukti menjadi faktor utama rapuhnya ketahanan
tatanan sosial sebuah keluarga, suatu komunitas, kelompok atau masyarakat,
bangsa dan bahkan negara.
2. PEMBAHASAN KASUS

Langkah-langkah penanggulangan kemiskinan ini tidak dapat


ditangani sendiri oleh satu sektor tertentu, tetapi harus multi sektor dan lintas
sektor dengan melibatkan stakeholder terkait untuk meningkatkan efektivitas
pencapaian program yang dijalankan. Oleh sebab itu, langkah-langkah yang
ditempuh dalam penanggulangan kemiskinan dijabarkan ke dalam program
sebagai berikut :
1. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
a) Pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya.
b) Pengadaan, peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana
puskesmas.
c) Pengadaan peralatan dan perbekalan termasuk obat generik.
d) Peningkatan pelayanan kesehatan dasar mencakup kesehatan ibu dan
anak, keluarga berencana, pemberantasan penyakit menular dan
peningkatan gizi.
e) Pengadaan dan Peningkatan SDM tenaga kesehatan.
2. Program Pelayanan Pendidikan
a) Peningkatan Pendidikan Dasar
b) Peningkatan Pendidikan Menengah dan Tinggi
c) Peningkatan Pendidikan Luar Sekolah
d) Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian dan IPTEK
e) Peningkatan Apresiasi seni
f) Pelestarian dan Pengembangan Desa Buanamekar.
Pemerintah melalui Pendidikan Luar Sekolah, sebenarnya telah
membuka peluang bagi masyarakat untuk mengikuti program pendidikan

keterampilan sesuai dengan keinginan dan keperluan masing-masing.


Kecakapan hidup, sebenarnya lebih bermanfaat bagi masyarakat, terutama
kaum perempuan yang akhirnya bertindak sebagai manager keuangan dalam
rumah tangganya. Bisa kita lihat berapa banyak perempuan yang rela
berdagang, berapa banyak yang rela menjadi penjaga jasa dan berapa banyak
yang harus menerima sebagai pemulung karena mereka tidak bisa berkreasi
atau tidak ahli dalam bidang keterampilan. Padahal jika mereka terampil,
misalkan sebagai pengrajin, sebagai pengelola salon kecantikan, maupun ahli
di bidang lainnya, tentulah mereka bakal mendapatkan penghasilan tambahan
yang berguna sebagai penopang ekonomi keluarga.
Pelayanan kesehatan bagi orang miskin sering menjadi sorotan
pemerintah, seiring meningkatnya jumlah orang miskin dan naiknya
pelayananan pengobatan. Adanya program ASKESKIN atau program baru-baru
ini yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari pemerintah memang sedikit
membantu bagi orang miskin namun pelaksanaannya banyak menemui kendalkendala. Program pelayanan kesehatan bagi orang miskin perlu diperbaiki
dengan cara mengajak partisipasi aktif dari masyarakat sekitar untuk
mendukung program pelayanan ini yang telah berjalan meskipun masih
mandek-mandek

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan merupakan masalah yang selalu ada pada setiap Negara
ataupun Desa. Permasalahan kemiskinan tidak hanya terdapat di negara-negara
berkembang saja, bahkan di negara maju juga mempunyai masalah dengan
kemiskinan. Kemiskinan tetap menjadi masalah yang rumit, walaupun fakta
menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di negara berkembang jauh lebih besar
dibanding dengan negara maju. Hal ini dikarenakan negara berkembang pada
umumnya masih mengalami persoalan keterbelakangan hampir di segala bidang,
seperti : kapital, teknologi, kurangnya akses-akses ke sektor ekonomi, dan lain
sebagainya.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni
kemiskinan alamiah dan buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat
sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana
alam. Kemiskinan buatan terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat
membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi
dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin.
Penyebab orang menjadi miskin adalah karena ia terjebak dalam
perangkap kemiskinan materil, kelemahan jasmani, isolasi, kerentanan, dan
ketidakberdayaan. Ini masalah sosial dan kultural. Makanya penanggulangan
kemiskinan mesti melibatkan transformasi sosial dan kultural juga, termasuk
perubahan nilai-nilai (misal : etos kerja). Pembagian sesuatu yang gratis adalah
langkah tidak efektif karena membudayakan kemiskinan.
Pembangunan ekonomi yang salah satu tujuannya menghapus atau
setidak-tidaknya mengurangi kemiskinan, dalam realitasnya justru sering kali
menimbulkan kemiskinan baru. Bahkan lebih daripada sekadar paradoks, realitas
kemiskinan diyakini atau paling tidak disinyalir justru merupakan salah satu
produk pembangunan. Dalam konteks itulah pembicaraan mengenai modal
menjadi amat relevan sebab faktanya orang kerap kali menjadi miskin (mengalami
pemiskinan) dalam proses pembangunan karena orang tersebut tidak memiliki
cukup modal.

B. Saran
Bagi mahasiswa yang mempelajari tentang ekonomi pembangunan,
makalah ini hanya merupakan bagian terkecil dari sekian banyak referensi
penelitian pengentasan kemiskinan di pedesaan, dan sedikit banyaknya
menjelaskan masalah umum tentang kemiskinan yang bisa diambil dan
dimanfaatkan

ilmunya

dalam

kehidupan

bermasyarakat.

Apabila

ingin

mengembangkan untuk menjadi model penelitian sejenis, akan lebih baik jika
referensi yang digunakan lebih komprehensif dan lebih terarah demi pencapaian
maksud yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. Berita Resmi Statistik (2012). Profil Kemiskinan di
Indonesia September 2011. No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012.
https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
http://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomimakro/kemiskinan/item301?
http://bps.go.id/brs/view/1158/
https://www.bps.go.id/brs/view/id/1229
https://www.spi.or.id/profil-kemiskinan-di-indonesia-2016-dalam-angkaberkurang-namun-di-desa-makin-dalam-dan-parah/