Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

oleh :
Joy Natasha

14140110176

Fenny

14140110177

Reviana Kristin

14140110180

Jesslyn Septiani

14140110182

Ursula Natasha

14140110184

1. Q : Fungsi komunikasi non-verbal bagi komunikasi verbal


A : Fungsi dari komunikasi nonverbal adalah non verbal bisa
mengkotradiksikan komunikasi verbal dari sarkasme dan juga sindiran
sindrian lain. Komunikasi non verbal juga bisa mengganti pesan dari
komunikasi verbal. Misalnya, ketika kita ingin berdamai dengan
orang, bisa dengan mengacungkan dua jari kita membentuk tanda V
yang bisa juga diartikan sebagai peace. Fungsi dari komunikasi non
verbal juga bisa mengatur pesan verbal. Pesan pesan dari knon
verbal berfungsi sebagai pengendali dari sebuah interaksi menjadi
cara yang yang lebih sesuai dan lebih halus. Komunikasi non verbal
juga bisa memberikan penekanan pada pesan verbal Komunikasi non
verbal juga bisa menjadi pelengkap pesan verbal dengan mengubah
pesan verbal.
2. Q : Invisible dalam aspek komunikasi
A:
a. Meaning
Manusia menciptakan symbol atau lambang sebagai aspek untuk
berkomunikasi . Simbol atau lambang tersebut pasti memiliki makna atau
arti. Makna atau arti ini ditanggapi oleh setiap individu dengan berbedabeda sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan dari individu itu
sendiri.
Misalnya : Saat di bandara terdapat orang Jepang bersama anaknya yang
masih balita, saat anak orang Jepang ini jatuh kemudian menangis mereka
membiarkannya begitu saja tanpa membantu anak tersebut untuk berdiri
kembali dan meredakan tangisannya. Dan orang-orang Indonesia yang
ada di bandara tersebut memiliki pandangan tindakan orang tua yang
berasal dari Jepang tersebut jahat, padahal orang tua yang berasal dari
Jepang itu mengambil tindakan agar anaknya itu dapat berdiri sendiri
tanpa dibantu.
b. Learning
Agar dapat memaknai dan mengartikan simbol, lambang, ataupun

informasi yang ada di sekitar kita, kita harus melalui proses pembelajaran
karena pola dan perilaku komunikasi tidak diturunkan begitu saja secara
genetik. Kita sebagai manusia yang melakukan interaksi komunikasi harus
belajar agar dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan
kita. Proses belajar ini dapat dilakukan dengan membaca, menulis, dan
berhitung.
Misalnya : Seorang anak SD diajarkan calistung agar bisa menerapkan di
dalam kehidupan sehari-harinya kelak. Agar anak tersebut dapat
menghitung kembalian saat ia jajan di sekolah misalnya, atau agar anak
tersebut bisa menjadi seorang wirausaha yang menghitung pendapatan
dan pengeluarannya sendiri.
c. Subjectivity
Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, yang berarti
membuat pola pikir mereka untuk melakukan penilaian terhadap suatu hal
juga berbeda. Sama halnya ketika seseorang memaknai simbol atau
menerima suatu pesan atau informasi. Antara pengirim dan penerima
pesan bisa memiliki penilaian yang berbeda
Misalnya : Ada sebagian masyarakat yang menilai bahwa gambar seram
yang tertera pada bungkus rokok tidak akan memberi efek jera bagi para
perokok. Namun, sebagian masyarakat menilai bahwa gamabr seram
tersebut bisa memberikan efek jera bagi para perokok untuk tidak
merokok lagi.
d. Negotiation
Setiap orang memiliki keunikan dan memberikan makna yang berbeda
pada setiap simbol atau . pesan. Dan di dalam proses berkomunikasi agar
tujuannya sendiri tercapai, ada usaha untuk mempengaruhi orang lain
dengan melakukan negosiasi agar muncul kesepakatan dan kesepahaman
diantara pihak-pihak yang berkomunikasi.
Misalnya : PKL yang melakukan negosiasi kepada pemerintah setempat
agar diberikan tempat untuk berjualan setelah ditertibkan paksa oleh
petugas keamanan.
e. Culture
Terdapat keanekaragaman di dalam kehidupan bermasyarakat. Supaya
terciptanya proses komunikasi yang baik, maka setiap individu memiliki
proses belajar akibat partisipasi berbagai simbol dari orang lain,
kelompok, organisasi dan masyarakat. Simbol dan makna adalah

bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita pelajari
agar dapat beradaptasi. Budaya diciptakan, dipertahankan dan
dirubah melalui komunikasi. Budaya menciptakan cara pandang.
Misalnya: Budaya dalam pernikahan, sang mempelai pria
memberikan seserahan berupa barang-barang kepada mempelai
wanita.
f. Interacting levels and context

Komunikasi manusia berjalan dalam berbagai konteks dan


tingkatan; individual, antar individu, kelompok, organisasi dan
masyarakat, dimana semuanya saling mempengaruhi.
g. Self-reference
Makna yang diberikan terhadap suatu simbol dipengaruhi oleh
pengalaman masing-masing individu. Jadi komunikasi manusia
pada dasarnya bersifat self- reference dan autobiografis.
Contoh : apa yang kita katakan tentang orang lain sering kali
mencerminkan tentang kita juga.
h. Self- reflexivity
manusia memiliki kemampuan untuk memikirkan
dirinya, perilakunya, harapannya dan
sebaliknya mengenali
kekurangan, kegagalan dan harapan yang tidak dicapainya. Inti dari
proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya
sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada
komunikasi.
i. Inevitability
Kita tidak dapat mengelak untuk terlibat dalam proses
komunikasi. Pada gilirannya, kita akan terus-menerus dan tak
terhindarkan memproses informasi tentang orang-orang, situasi,
dan objek di lingkungan kita, dan tentang diri kita sendiri.
Dari perspektif ini, kita dapat
melihat bahwa kerusakan komunikasi adalah mitos. Paling sering,
"gangguan" dan "kegagalan" hasil komunikasi bukan dari
kurang efektifnya pengiriman pesan
dan penerimaan, tetapi justru dari perbedaan penafsiran pesan,
harapan, niat, atau hasil.
3. Q : Faktor yang mempengaruhi persepsi (Julia T. Wood)
A:
Fisiologi
Alasan yang paling jelas mengapa ada persepsi berbeda-beda
adalah karena setiap orang berbeda dalam kemampuan sensoris
dan fisiologi. Tingkat fisiologi kita mempengaruhi persepsi. Seperti
misalnya, jika seseorang sedang lelah, stress, atau sedang ada
masalah maka ia cenderung lebih sensitif terhadap lingkungan,
perkataan orang lain.
Usia juga memengaruhi persepsi kita. Semakin umur kita
bertambah, semakin rumit persepsi kita terhadap orang lain. Seperti
contohnya dulu uang seratus ribu saja sudah terasa banyak, namun

sekarang perlengkapan sehari-hari pun tidak cukup dengan uang


seratus ribu, yang paling merasakan dampak ini adalah contohnya
seperti orang tua, rata-rata yang sudah berumur 50 ke atas. Mereka
sangat merasakan perbedaan yang dulu dengan yang sekarang,
makin hari harga-harga makin naik.

Budaya
Suatu budaya terdiri dari kepercayaan, nilai, pemahaman,
praktik, dan cara menafsirkan pengalaman yang dirasakan oleh
beberapa orang. Seperti contohnya budaya Amerika Utara yang
sangat individualistis namun budaya lain cenderung lebih komunual.
Dalam budaya komunual orang yang lebih tua sangat dihormati dan
disayang, dan anak-anak dijaga oleh seluruh komunitas.
Beberapa tahun terakhir para ahli menyadari bahwa kita tidak
hanya dipengerahi oleh budaya secara keseluruhan tetapi juga
lokasi kita dalam budaya. Teori sudut pandang adalah suatu budaya
terdiri dari sejumlah komunitas sosial yang memiliki derajat status
sosial dan hak istimewa yang berbeda-beda.
Peran Sosial
Persepsi kita dibentuk oleh peran social yang orang lain
komunikasikan kepada kita. Pesan yang mengatakan bahwa kita
diharapkan untuk memenuhi peran tertentu, maupun tuntutan
actual dari peran tersebut akan memengaruhi bagaimana kita
memersepsikan dan berkomunikasi.
Peran social dalam komunikasi memiliki peran yang sangat penting
dalam perilaku organisasi. Persepsi social berhubungan secara
langsung dengan individu, dan melihat tanggapan bagaimana
melihat dan memahami orang lain.
Contoh: Para pembicara lebih cenderung memperhatikan akustik
ruangan presentasi daripada penonton.

Kemampuan Kognitif
Kompleksitas Kognitif Setiap orang berbeda dalam jumlah dan
tipe skema pengetahuan yang mereka gunakan untuk mengatur
dan menginterpretasikan orang lain dan situasi. Kompleksitas
kognitif (cognitive complexity) merujuk pada jumlah konstruksi yang
digunakan, betapa abstrak mereka, dan sejauh mana mereka
berinteraksi untuk membentuk persepsi.
Sebagian besar anak memiliki system kognitif yang cukup
sederhana. Mereka mengandalkan beberapa skema, lebih berfokus
pada kategori konkret (tinggi-tidak tinggi) daripada kategori abstrak
(intropeksi-tidak intropeksi), dan seringkali tidak melihat hunbungan
antara persepsi yang berbeda. Misalnya, anak kecil

mungkinmemanggil semua laki-laki Ayah karena mereka belum


mempelajari cara yang lebih rumit untuk membedakan laki-laki.