Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN

Sistem pengendalian manajemen dikategorikan sebagai bagian dari pengetahuan


perilaku terapan (applied behavioral science). Pada dasarnya, sistem ini berisi
tuntutan kepada kita mengenai cara menjalankan dan mengendalikan perusahaan /
organisasi yang dianggap baik berdasarkan asumsi-asumsi tertentu. Dalam hal ini
dianggap baik berarti mampu mengejawantahkan / menerjemahkan antara lain :

Tolok ukur kinerja yang mencerminkan perusahaan / organisasi berjalan

secara efisien, efektif, dan produktif.


Kebijakan dalam menentukan tolok ukur di atas. Apresiasi kepada sumber

daya yang dimiliki perusahaan organisasi.


Masing-masing perusahaan memiliki kompleksitas

berbeda

dalam

pengendalian manajemen, makin besar skala perusahaan akan semakin


kompleks.
Pengendalian manajemen bersifat menyeluruh dan terpadu, artinya lebih
mengarah ke berbagai upaya yang dilakukan manajemen agar tujuan organisasi
terpenuhi. Jadi sitem pengendalian manajemen dapat diterapkan pada berbagai bentuk
organisasi, sebab hakikatnya setiap organisasi mempunyai komponen sama, yaitu
Work (Pekerjaan), Employee (Tenaga Kerja), Relationship (Hubungan), dan
Environment (Lingkungan)
Sistem pengendalian manajemen dapat dikatakan sebagai pengetahuan teoritispraktis. Karena itu dalam SPM akan lebih mudah mencernanya kalau dalam
mempelajarinya senantiasa membayangkan dan mengakitkannya dengan perilaku
manusia dalam kehidupan organisasi / perusahaan.
Sistem pengendalian manajemen merupakan alat untuk memonitor atau
mengamati pelaksanaan manajemen perusahaan yang mencoba mengarahkan pada

tujuan organisasi dalam perusahaan agar kinerja yang dilakukan oleh pihak
manajemen perusahaan dapat berjalan lebih efesien dan lancar. Yang dimonitor atau
yang diatur dalam sistem pengendalian manajemen adalah kinerja dari perilaku
manajer di dalam mengelola perusahaan yang akan dipertanggungjawabkan kepada
stakeholders (Soobaroyen, 2006). Menurut Merchant (1998; 5) yang mengatakan
bahwa orientasi perilaku berhubungan dalam lingkungan pengendalian manajemen,
perilaku berpengaruh dalam desain sistem pengendalian manajemen untuk
membantu, mengendalikan, memotivasi manajemen dalam mengambil keputusan dan
memonitor perilaku yang dapat mengendalikan aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam
sebuah organisasi.

BAB 2 DASAR TEORI

A. Sistem Pengendalian Manajemen


Sistem Pengendalian Manajemen adalah sejumlah struktur komunikasi yang
saling berhubungan yang mengklasifikasikan proses informasi yang dapat membantu
manajer dalam mengkoordinasi bagiannya untuk merubah perilaku dalam pencapaian
tujuan organisasi yang diharapkan pada dasar yang berkesinambungan (Maciarriello
dan Kirby, 1994: 17). Selanjutnya terdapat beberapa definisi sistem pengendalian
manajemen. Edy Sukarno menyatakan sistem pengendalian manajemen adalah suatu
sistem terintegrasi antara proses, strategi, pemrograman, penganggaran, akuntansi,
pertanggungjawaban, yang hakikatnya untuk membantu orang dalam menjalankan
organisasi atau perusahaan agar hasilnya optimal. Sedangkan Anthony and
Govindarajan dalam bukunya Management Control System mengungkapkan
Management control is the process by which managers influence other members of
the organization to implement the organizations strategies. Sistem pengendalian
manajemen mempunyai beberapa ciri penting, yaitu :

Sistem pengendalian manajemen digunakan untuk mengendalikan seluruh


organisasi, termasuk pengendalian terhadap seluruh sumber daya (resources)
yang digunakan, baik manusia, alat-alat dan teknologi, maupun hasil yang
diperoleh organisasi, sehingga proses pencapaian tujuan organisasi dapat

berjalan lancar.
Pengendalian manajemen bertolak dari strategi dan teknik evaluasi yang
berintegrasi dan menyeluruh, serta kurang bersifat perhitungan yang pasti

dalam mengevaluasi sesuatu.


Pengendalian manajemen lebih

berorientasi

pada

manusia,

karena

pengendalian manajemen lebih ditujukan untuk membantu manager


mencapai strategi organisasi dan bukan untuk memperbaiki detail catatan.
Oleh sebab itu dalam pengendalian manajemen, peranan pertimbanganpertimbangan psikologis lebih dominan. Berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas, dapat

diketahui bahwa tugas terpenting dari manajemen melalui pengendalian manajemen


adalah beusaha mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Agar tugas tersebut dapat dijalankan dengan baik, pada tahap pertama manajer
harus memutuskan, apa yang akan dicapai oleh organisasi dan cara untuk
mencapainya, lewat keputusan ini akan diketahui seperangkat tujuan organisasi dan
strategi menjadi sejumlah kebijakan-kebijakan yagn dapat menuntut arah, maupun
program-program kegiatan untuk tercapainya tujuan tersebut. Setelah keputusankeputusan tersebut dibuat, maka pengendalian manajemen mulai bertugas untuk
memastikan bahwa kehendak manajemen telah dilaksanakan oleh seluruh organisasi.
a) Fungsi Pengendalian Manajemen
Pengendalian manajemen merupakan usaha yang tersistematis dari perusahaan
untuk mencapai tujuannya dengan cara membandingkan prestasi kerja dengan
rencana dan membuat tindakan yang tepat untuk mengoreksi perbedaan yang penting.
Pengendalian biaya yang efektif akan tergantung pada komunikasi yang baik antara
informasi akuntansi dengan manajemen.
Dengan membuat laporan prestasi kerja, controller memberikan saran kepada
berbagai tingkat manajemen mengenai tindakan perbaikan yang diperlukan dalam
suatu kegiatan. Laporan bisa berbentuk pernyataan langsung ataupun tertulis dari
kontroler

kepada

tingkat

manajemen

perusahaan

yang

berisikan

laporan

penyimpangan dari rencana yang telah ditentukan, sesuai dengan prinsip manajemen
berdasarkan penyimpangan. Laporan ini selain laporan penyimpangan rencana (jika
ada) juga memberikan laporan prestasi kerja yang telah dicapai oleh para pekerja.
b) Sistem Pengendalian Manajemen Mempunyai Unsur-Unsur :
Terdapat 4 unsur dalam sitem pengendalian manajemen yaitu : Detektor,
Selektor, Efektor, Komunikator. Unsur-unsur ini satu sama lain saling berhubungan
dan membentuk suatu proses kerja. Proses yang terjadi berawal ketika detektor

mencari informasi tentang aktivitas. Detektor ini dapat berupa sistem informasi baik
formal maupun informasi, yang menyediakan informasi kepada pimpinan mengenai
apa yang terjadi di dalam suatu aktivitas. Setelah informasi diperoleh, aktivitas yang
terekam didalamnya dibandingkan dengan standar atau patokan berupa kriteria
mengenai apa yang seharusnya dilaksanakan dan seberapa jauh perlunya pembenaran.
Proses perbaikan dilaksanakan oleh efektif, sehingga penyimpanan-penyimpanan
diubah agar kegiatan kembali mengikuti kriteria yang telah ditetapkan. Begitulah
proses pengendalian manajemen, dinamis dan berkelanjutan.
c) Proses Pengendalian Manajemen
Proses pengendalian manajemen yang baik sebenarnya formal, namun sifat
pengendalian informal masih banyak terjadi. Pengendalian manajemen formal
merupakan tahap-tahap yang saling berkaitan satu sama lain, terdiri dari proses :
1. Pemrograman (Programming). Dalam tahap ini perusahaan menentukan
program-program yang akan dilaksanakan dan memperkirakan sumber daya
yang akan alokasikan untuk setiap program yang telah ditentukan.
2. Penganggaran (Budgeting). Pada tahap penganggaran ini

program

direncanakan secara terinci, dinyatakan dalam satu moneter untuk suatu periode
tertentu, biasanya satu tahun. Anggaran ini berdasarkan pada kumpulan
anggaran-anggaran dari pusat pertanggungjawaban.
3. Operasi dan Akuntansi (Operating and Accounting). Pada tahap ini
dilaksanakan pencatatan mengenai berbagai sumber daya yang digunakan dan
penerimaan-penerimaan yang dihasilkan. Catatan dan biaya-biaya tersebut
digolongkan sesuai dengan program yang telah ditetapkan dan pusat-pusat
tanggungjawabnya. Penggolongan yang sesuai program dipakai sebagai dasar
untuk pemrograman di masa yang akan datang, sedangkan penggolongan yang
sesuai dengan pusat tanggung jawab digunakan untuk mengukur kinerja para
manajer.

4. Laporan dan Analisis (Reporting and Analysis). Tahap ini paling penting
karena menutup suatu siklus dari proses pengendalian manajemen agar data
untuk proses pertanggungjawaban akuntansi dapat dikumpulkan.
Analisis laporan manajemen antara lain dapat berupa :

Perlu tidaknya strategi perusahaan diperiksa kembali.


Perlu tidaknya dilakukan penghapusan, penambahan, atau pengubahan

program di tahun yang akan datang.


Dari analisis penyimpangan dapat disimpulkan perlunya diadakan

perubahan anggaran, apabila sudah tidak realistis.


Dari laporan-laporan dapat diambil kesimpulan perlu adanya perbaikanperbaikan untuk masalah yang tidak dapat diantisipasi.

B. Unsur Pengendalian Manajemen


Menurut (Halim,2004) terdapat dua unsur yang penting dalam sistem
pengendalian manajemen yaitu lingkungan pengendalian dan proses pengendalian.
Lingkungan pengendalian manajemen Dalam proses pengendalian manajemen
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Dua aspek penting dari lingkungan
tersebut adalah eksternal dan internal. Faktor internal dalam hal ini adalah struktur
organisasi, struktur program, struktur rekening, faktor administratif, faktor perilaku,
dan faktor budaya. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pengendalian
manajemen yang meliputi perilaku organisasi dan pusat-pusat pertanggungjawaban.
Proses pengendalian manajemen. Tahap-tahap dalam proses pengendalian manajemen
antara lain (Mahmudi,2007):

Perumusan Strategi adalah penentuan arah dan tujuan dasar organisasi


merupakan bentuk perumusan strategi yang kemudian diwujudkan dalam
visi, misi, tujuan dan nilai dasar organisasi. Perwujudan visi, misi, tujuan
dan nilai dasar sebaiknya melibatkan semua anggota organisasi dari level
atas sampai level bawah.

Perencanaan Srategik merupakan aktivitas untuk melahirkan programprogram baru yang dapat berupa rencana strategik, sasaran strategik, inisiatif
strategik dan target. Rencana strategik merupakan hasil penerjemahan visi,
misi, tujuan, nilai dasar dan strategi ke dalam rencana organisasi. Sasaran
strategik merupakan hasil penerjemahan strategi ke dalam sasaran-sasaran
yang hendak dicapai organisasi dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan
tujuan organisasi. Target merupakan tonggak-tonggak yang digunakan untuk

mengetahui tingkat pencapaian strategi.


Pembuatan Program merupakan tahap yang dilakukan setelah perencanaan
strategik. Rencana-rencana strategik, sasaran-sasaran strategik, dan inisiatif
strategik merupakan rerangka konseptual yang harus dijabarkan dalam
bentuk program-program. Program merupakan rencana kegiatan dan
aktivitas yang dipilih untuk mewujudkan sasaran strategik tertentu beserta

sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakannya.


Penganggaran. Program-program yang telah ditetapkan harus dikaitkan
dengan biaya. Biaya program tersebut merupakan gabungan dari biaya
aktifitas untuk melaksanakan program. Secara agregatif biaya seluruh
program tersebut akan diringkas dalam bentuk anggaran. Selain anggaran
biaya, dibuat juga anggaran pendapatan dan anggaran investasi (modal)

untuk melaksanakan program.


Implementasi. Selama tahap implementasi, manajer bertanggungjawab
untuk memonitor pelaksanaan kegiatan dan bagian akuntansi melakukan
pencatatan atas penggunaan anggaran (input) dan output-nya dalam sistem
akuntansi keuangan. Pencatatan penggunaan sumber daya penting digunakan

sebagai dasar dalam penentuan program tahun yang akan datang.


Pelaporan Kinerja Pada tahap implementasi bagian akuntansi melakukan
proses pencatatan, penganalisaan, pengklasifikasian, peringkasan dan
pelaporan transaksi atau kejadian ekonomi yang berkaitan dengan keuangan.
Informasi akuntansi tesebut akan disajikan dalam bentuk laporan keuangan.

Laporan keuangan tersebut merupakan salah satu bentuk pelaporan kinerja


sektor publik, terutama kinerja finansial. Pelaporan kinerja keuangan yang
dihasilkan dalam sistem informasi akuntansi harus dilengkapi dengan

informasi mengenai kinerja non-keuangan.


Evaluasi Kinerja harus memiliki manfaat utama bagi pihak internal dan
eksternal. Laporan kinerja bagi pihak internal digunakan sebagai alat
pengendalian manajemen untuk menilai kinerja manajemen dan staf.
Sedangkan untuk pihak eksternal, laporan kinerja berfungsi sebagai alat

pertanggungjawaban organisasi.
Umpan Balik merupakan tahap akhir dalam proses pengendalian
manajemen. Tahap ini dilakukan sebagai sarana untuk melakukan tindak
lanjut atas prestasi yang dicapai.

C. Pusat Pertanggungjawaban
Pusat pertanggungjawaban ialah setiap unit kerja dalam organisasi yang
dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggungjawab atas aktivitas yang dilakukan
atau unit organisasi yang dipirnpinnya. Dalam kaitan ini, suatu organisasi terdiri dari
kumpulan

dari

beberapa

pusat

pertanggungjawaban.

Keseluruhan

pusat

pertanggungjawaban ini membentuk jenjang hirarki dalam organisasi tersebut. Pada


tingkatan yang terendah bentuk dan pusat pertanggungjawaban ini kita dapatkan
sebagai seksi, regulernya bergilir, serta unit-unit kerja lainnya, Pada tingkatan yang
lebih tinggi pusat pertanggungjawaban dibentuk dalam departernen-departemen
ataupun divisi-divisi. Biasanya istilah pusat pertanggungjawaban hanya kita terapkan
untuk unit-unit kecil dalam organisasi ataupun unit-unit kerja yang terletak pada
tingkat bawah dalam suatu lingkup organisasi.
Pengertian pusat pertanggungjawaban yang dijelaskan oleh beberapa ahli antara lain :
Hansen, Mowen (2005:116) mengartikan pusat pertanggungjawaban sebagai
berikut :Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu segmen bisnis yang
manajernya bertanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu.

Sedangkan pusat pertanggungjawaban menurut Moriarty and Allen (1991: 5) adalah


sebagai berikut : A Responsibility centeries an activity on collection of activities
supervised by a single individual.
Setiap pusat pertanggungjawaban membutuhkan masukan yang berupa sejumlah
bahan baku, tenaga kerja, ataupun jasa-jasa yang akan di proses dalam pusat
pertanggungjawaban, hasil proses tersebut menghasilkan keluaran yang berupa
produk atau jasa. Ada empat tipe pusat pertanggungjawaban yang didasarkan kepada
sifat masukan dalam bentuk biaya dan keluaran dalam bentuk pendapatan ataupun
secara bersama-sama yaitu :

Pusat Pendapatan (Revenue Center) adalah pusat pertanggungjawaban yang


outputnya dapat diukur dengan satuan moneter, sedangkan inputnya tidak.
Jadi, prestasi manajernya dinilai atas dasar pendapatan pada pusat
pertanggungjawaban yang dipimpin. Dalam pusat pendapatan, keluaran
(dalam bentuk pendapatan) diukur dengan satuan moneter, tetapi tidak
terdapat hubungan yang erat dan nyata antara masukan (biaya) dengan

pendapatan.
Pusat Pembiayaan (Cost Center) bentuk segmen terkecil dari aktivitas atau
pusat

pertanggungjawaban

yang

hanya

bertanggungjawab

dalam

mengendalikan biaya-biaya yang terjadi didalamnya tanpa menghubungkan


dengan nilai uang dari keluaran yang dihasilkan. Tujuan dari manajer pusat
biaya ini adalah meminimalkan perbedaan antara realisasi biaya dengan
anggarannya. Pusat biaya dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu : pusat

biaya teknik dan pusat biaya kebijakan


Pusat Laba (Profit Center) adalah pusat pertanggungjawaban dimana baik
masukan (biaya yang dikonsumsi) maupun keluarannya (pendapatan yang
berhasil dicapai) dapat diukur dengan satuan moneter. Selisih antara
pendapatan dengan biaya adalah laba yang diperoleh atau rugi yang diderita.

Pusat Investasi (Investment.Center) merupakan pusat pertanggungjawaban


yang paling luas, karena manajer berwenang mengendalikan pendapatan dan
biayanya, baik biaya operasi atau biaya yang timbul sehubungan dengan usaha
memperoleh sumber daya dan menentukan barang modal yang akan dibeli.
Manajemen pusat investasi diharapkan memperoleh laba sebesar jumlah yang
ditetapkan untuk setiap nilai rupiah yang diinvestasikan. Prestasi pusat
investasi ini diukur dengan menilai tingkat residual, income maupun
tingkat return on investment.

D. Organisasi
E. Stuktur Organisasi

BAB 3 PEMBAHASAN
Implementasi Pengendalian Manajemen Dalam Organisasi
Pada perusahaan yang kecil, pemilik dapat dengan mudah memastikan seluruh
kegiatan di perusahaan berjalan seperti apa yang ia inginkan. Saat perusahaan sudah
berkembang,

pemilik

tersebut

mulai

membutuhkan

manajer-manajer

untuk

mengendalikan beberapa bagian dari perusahaannya. Pada titik ini, pemilik secara
tidak langsung sudah kehillangan kesempatan untuk memastikan seluruh kegiatan di

seluruh bagian perusahaan berjalan seperti apa yang ia inginkan. Bahkan, pada saat
perusahaan sudah menjadi sangat besar sekali, pemilik cenderung lepas tangan dan
mengutus jajaran manajemen untuk mengelola perusahaan karena adanya
keterbatasan kemampuan pemilik perusahaan. Pada kondisi seperti ini, sebenarnya
pemilik telah kehilangan kemampuan untuk memastikan secara langsung apakah
kegiatan di perusahaan berjalan seperti apa yang ia inginkan.
Ketidaksesuaian antara pelaksanaan kegiatan aktual dan yang seharusnya dapat
terjadi karena jajaran manajemen yang ditunjuk belum tentu dapat bekerja sesuai
dengan yang diinginkan pemilik. Jajaran manajemen tersebut bisa saja bekerja untuk
kepentingan diri mereka sendiri. Jika hal ini terjadi maka hal ini disebut juga konflik
keagenan (agency conflict). Oleh karena itu, dibutuhkan sistem pengendalian
manajemen untuk meminimalisisr kemungkinan terjadinya konflik keagenan dan
memastikan jajaran manajemen berkerja untuk kepentingan pemilik.
Menurut (Kren, 1997) sistem pengendalian manajemen digunakan untuk
memberi motivasi anggota organisasi agar bertindak dan dapat membuat keputusan
secara konsisten dengan tujuan organisasi

BAB 4 PENUTUP

Pengendalian

manajemen

meliputi

beberapa

aktivitas,

yaitu:

(1)

perencanaan, (2) koordinasi, (3) komunikasi informasi, (4) pengambilan


keputusan, (5) memotivasi, (6) pengendalian, dan (7) penilaian kinerja.
Akuntansi manajemen memegang peran kunci sebagai penyedia informasi bagi
manajer untuk perencanaan dan pengendalian. Proses pengendalian manajemen
pada organisasi dapat dilakukan dengan menggunakan saluran komunikasi
formal maupun informal. Sistem pengendalian manajemen suatu organisasi
dirancang untuk mempengaruhi orang-orang di dalam organisasi tersebut agar
berperilaku sesuai dengan tujuan organisasi. Sistem pengendalian manajemen
harus didukung dengan struktur organisasi yang baik. Struktur organisasi
termanifestasi dalam bentuk struktur pusat pertanggungjawaban (responsibility
centers).
Pusat pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh
manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas pusat pertanggungjawaban
yang dipimpinnya. Tanggung jawab manajer pusat pertanggungjawaban adalah
untuk menciptakan hubungan yang optimal antara sumber daya input yang
digunakan dengan output yang dihasilkan dikaitkan dengan target kinerja. Tiaptiap pertanggungjawaban bertugas untuk melaksanakan program atau aktivitas
tertentu,

dan

penggabungan

pertanggungjawaban

tersebut

program-program
seharusnya

dari

tiap-tiap

pusat

mendukung

program

pusat

pertanggungjawaban pada level yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya


tujuan umum organisasi dapat tercapai. Pusat pertanggungjawaban dapat
berfungsi sebagai jembatan untuk dilakukannya bottom-up budgeting. Karena
pusat pertanggungjawaban mengemban fungsi sebagai budget holder, maka
proses penyiapan dan pengendalian anggaran harus menjadi fokus perhatian
manajer pusat pertanggungjawaban. Pusat pertanggungjawaban merupakan
basis kinerja, yaitu perbandingan antara apa yang telah dicapai oleh unit
organisasi dengan anggaran yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N dan Govindarajan,
System,Salemba Empat, Jakarta.

Vijay,

2005, Manajement

Control

Halim,Abdul dkk.2003.Sistem Pengendalian Manajemen Edisi Revisi. Yogyakarta:


UPP AMP YKPN

Hansen dan Mowen. 2005. Akuntansi Manajemen Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Leslie Kren, 1997. The Role of Accounting Information in Organization Control
The State of the Art, American Accounting Association
Mahmudi (2007). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: Unit Penerbit dan
Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN
Merchant, Kenneth.A., 1982. The Control Function of Management. Sloan
Management Review 24: 43-55
Soobaroyen Teerooven. 2006. Management Control System and Dysfunctional
Behavior: an Empirical Investigation. Accounting Behavior. Email:
trs@aber.ac.uk