Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gigi yang tersusun pada tulang rahang membentuk struktur lengkung yang berbeda
secara alamiah, dari segi ukuran maupun bentuk yang dipengaruhi oleh bentuk tulang
penyokong lengkung gigi, erupsi, dan kerusakan pada gigi. Banyak permasalahan yang dapat
terjadi pada struktur gigi baik secara fungsional maupun estetis yang dapat mempengaruhi
penampilan seseorang.
Ukuran dan bentuk lengkung rahang memiliki pengaruh penting dalam diagnosis dan
rencana perawatan kasus ortodontik, estetik, serta stabilisasi dari geligi. Kegagalan dalam
menyesuaikan bentuk kawat lengkung dengan bentuk lengkung pasien dapat meningkatkan
resiko terjadinya relaps dan menyebabkan senyuman yang tidak natural.Bentuk lengkung
rahang merupakan refleksi dari morfologi tulang di bawahnya. Kestabilan bentuk lengkung
adalah salah satu tujuan dari perawatan ortodontik.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud dengan lengkung gigi?


Apa saja bentuk dari lengkung gigi?
Bagaimana cara menentukan lebar lengkung gigi?
Bagaimana cara menentukan panjang lengkung gigi?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui pengertian dari lengkung gigi.


Mengetahui bentuk dari lengkung gigi.
Mengetahui cara menentukan lebar lengkung gigi.
Mengetahui cara menentukan panjang lengkung gigi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Lengkung Gigi


Menurut Barber (1982 cit. Budiarjo 2003), lengkung gigi atau dental arch merupakan
suatu garis lengkung imaginer yang menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan rahang
bawah. Bentuk lengkung gigi ini berhubungan dengan bentuk kepala misalnya pasien dengan
bentuk kepala brachychepalic cenderung memiliki bentuk lengkung yang lebar.
Telah diteliti bahwa selama periode tumbuh-kembang geligi terjadi perubahan dan
karakteristik dimensi lengkung gigi. Hal ini mengikuti perubahan variable garis vektor
pertumbuhan, perbedaan ukuran gigi sulung dan gigi permanen, perkembangan oklusi, serta
fungsi rongga mulut. Dimensi lengkung gigi adalah lebar interkaninus, lebar intermolar, panjang,
dan sekeliling lengkung gigi.

Gambar 1.Dimensi lengkung rahang gigi permanen.


2.1.1 Perubahan dimensi lengkung gigi
Perubahan dimensi lengkung gigi telah banyak diteliti, dan telah dibuktikan bahwa
perbedaan ukuran gigi sulung dan gigi tetap sangat berperan terhadap perubahan tersebut. Selain
ukuran gigi, Sillmans (1964) juga melaporkan bahwa ukuran dan bentuk rahang tidak statis, hal
ini dihubungkan dengan transisi periode geligi, ekspansi sutura di maksila, remodeling tulang
alveolar, kontraksi otot dan oklusi. Perubahan lengkung gigi yang berlaku pada jangka hidup
seseorang adalah penting kepada praktek klinik dokter gigi yang terlibat dalam perawatan
maloklusi. Pengertian dalam perubahan ini bukan saja membantu praktek klinik dokter gigi
dalam perencanaan perawatan tetapi juga dapat membantu menjelaskan kepada pasien tentang
perubahan yang mungkin terjadi pada waktu perawatan.
2.2 Bentuk Lengkung Gigi
Setelah Angle, banyak orthodontis mencarikan satu bentuk lengkung rahang yang ideal
yang dapat memastikan hasil perawatan yang stabil. Hasil yang didapati dari penelitian

memastikan bahwa tidak ada bentuk lengkung rahang yang ideal dan universal tetapi terdapat
lebih kurang lima tipe bentuk yang sering dijumpai pada orang dewasa yang mempunyai oklusi
yang normal. Raberin (1993) melakukan penelitian pada bangsa Perancis dan melaporkan

bahwa ras kaukasoid memiliki lima bentuk lengkung rahang bawah, yaitu, narrow (sempit),
wide (lebar), mid (sedang), pointed (tajam), flat (datar) dengan presentase terbesar adalah
bentuk lengkung narrow sebanyak 23,7%.
Untuk mengatasi banyaknya variasi lengkung gigi, beberapa klinisi membuat klasifikasi
bentuk lengkung gigi guna memudahkan pekerjaannya. Model dilihat dari oklusal kemudian
diamati bentuk lengkung gigi. Taner dkk mengkombinasi lima bentuk lengkung gigi dengan
persamaan kubik Bezier menggunakan sistem komputerisasi dan menghasilkan empat template
bentuk lengkung gigi yaitu tapered, ovoid, normal dan narrow tapered.
Titik referensi pada sistem pentamorphic ini adalah titik tengah insisal gigi insisivus
sentral dan lateral, puncak cusp gigi kaninus, puncak cusp bukal gigi premolar pertama dan
kedua, dan puncak cusp mesiobukal gigi molar pertama. Bentuk lengkung gigi yang telah
dijabarkan oleh para peneliti pada dasarnya dikategorikan atas tiga bentuk, yaitu tapered, ovoid,
dan square (Gambar 1). Variabel terpenting dalam menentukan ketiga bentuk lengkung gigi ini
adalah lebar interkaninus, yang berjarak sekitar 5 mm. Bagian posterior dari ketiga bentuk
lengkung gigi ini pada umumnya hampir sama, dan dapat melebar atau meyempit sesuai yang
dibutuhkan.

Gambar 1. Tipe bentuk lengkung gigi menurut Clarity, MBT

2.3 Lebar Lengkung Gigi

Menurut Ling dan Wong, lebar lengkung gigi diantara gigi kontralateral telah diukur
dalam berbagai macam cara, yaitu antara titik paling labial, titik paling palatal atau titik paling
lingual atau dihitung rata-ratanya antara titik paling labial dan titik paling palatal (Gambar 3).

Gambar 2. Bentuk lengkung gigi menurut Raberin.

Menurut Raberin, lebar lengkung gigi adalah yang diukur dalam arah transversal yang
dikategorikan atas:
1. L33 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol kaninus kiri ke kaninus kanan (lebar
interkaninus)
2. L66 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol mesio-bukal molar pertama permanen
kiri ke molar pertama permanen kanan (lebar intermolar pertama)
3. L77 yaitu jarak yang diukur antara puncak tonjol disto-bukal molar kedua permanen
kanan ke molar kedua permanen kiri (lebar intermolar kedua).

Gambar 3. Pengukuran lebar lengkung gigi menurut Ling dan Wong.

Menurut Uysal, lebar lengkung gigi rahang bawah dapat diukur dari:
1. Lebar interkaninus rahang bawah, yaitu jarak antara puncak tonjol kaninus kiri dan
kanan rahang bawah.
2. Lebar interpremolar rahang bawah, yaitu jarak antara puncak tonjol premolar pertama
kiri dan kanan rahang bawah.
3. Lebar intermolar rahang bawah, yaitu jarak antara tepi groove bukal molar pertama kiri
dan kanan rahang bawah (Gambar 4).

Gambar 4. Pengukuran lebar lengkung gigi rahang bawah menurut Uysal.

Menurut Poosti dan Jalali, lebar lengkung dibagi menjadi lebar interkaninus dan lebar
intermolar. Pengukuran interkaninus dilakukan pada daerah bukal dan palatal. Pada daerah bukal,
lebar interkaninus diukur 5 mm apikal ke pertengahan mesiodistal margin gingival dari gigi
kaninus disatu sisi ke titik yang sama pada sisi yang berlainan. Pada daerah lingual, lebar
interkaninus diukur dari titik tengah servikal gigi kaninus di satu sisi ke titik yang sama pada sisi
berlainan. Kedua prosedur diatas digunakan untuk mengukur lebar intermolar (Gambar 5).

Gambar 5. Lebar intermolar bukal dan lingual menurut Poosti dan Jalali

2.4 Panjang Lengkung Gigi


Thu dan Winn mengukur panjang lengkung anterior dengan menarik garis tegak lurus dari
bagian depan labial insisivus sentralis sampai terhubung dengan garis yang ditarik dari titik
terdalam fisur kedua premolar permanen pertama (Gambar 6).

Gambar 6. Pengukuran panjang lengkung rahang maksila menurut Thu dan Winn.

Menurut Raberin, panjang lengkung gigi adalah jarak yang diukur dalam arah sagital
yang dikategorikan atas:
1. L31 yaitu jarak yang diukur dari pertengahan insisivus sentralis tegak lurus terhadap
garis yang menghubungkan puncak tonjol kaninus kiri dan kanan (kedalaman kaninus).
2. L61 yaitu jarak yang diukur dari pertengaham insisivus sentralis tegak lurus terhadap
garis yang menghubungkan puncak tonjol mesiobukal molar pertama permanen kiri dan kanan
(kedalaman molar pertama).
3. L71 yaitu jarak yang diukur dari pertengahan insisivus sentralis tegak lurus terhadap
garis yang menghubungkan puncak tonjol distobukal molar kedua permanen kiri dan kanan
(kedalaman molar kedua).
Menurut Poosti dan Jalali, panjang lengkung gigi diukur dari garis tegak lurus titik kontak
antara gigi insisivus sentral permanen ke garis yang menghubungkan permukaan distal gigi molar
pertama permanen (Gambar 7).

Gambar 7. Pemgukuran panjang lengkung gigi menurut Poosti dan Jalali

Menurut Nojima, panjang lengkung gigi rahang bawah dapat diukur dari kedalaman
kaninus (jarak terpendek dari garis yang menghubungkan titik puncak kaninus kiri dan kanan
terhadap pertengahan insisivus sentralis) dan kedalaman molar (jarak tependek dari garis yang
menghubungkan tonjol mesiobukal molar pertama kiri dan kanan terhadap pertengahan insisivus
sentralis) (Gambar 8).

Gambar 8. Pengukuran panjang lengkung gigi rahang bawah menurut Nojima.

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Ukuran


Lengkung Ligi Rahang Atas dan Bawah
Menurut Dockrell (1952) dan Moyers (1988) menyatakan faktor yang mempengaruhi
perubahan lengkung gigi antara lain genetik dan lingkungan seperti kebiasaan oral, malnutrisi,
dan fisik. Menurut Van der Linden (1986), faktor yang mempengaruhi perubahan dan
karakteristik lengkung gigi antara lain fungsi rongga mulut, kebiasaan oral dan otot-otot rongga
mulut. Faktor lain seperti prematur loss gigi desidui, ras dan jenis kelamin juga mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi.
2.5.1 Genetik
Genetik merupakan faktor yang penting dalam menentukan ukuran dan bentuk rahang
gigi. Arya (1973), dan Hue (1991) menunjukkan bahwa faktor genetik berperan pada dimensi
lebar, panjang, dan keliling lengkung gigi. Penelitian Cassidy menerangkan bahwa hubungan
bagian bukal yaitu hubungan molar pertama antara maksila dan mandibula dalam arah sagital
pada remaja saudara kandung lebih serupa daripada remaja yang tidak ada hubungan biologis.
2.5.2 Lingkungan
Faktor lingkungannya termasuk kebiasaan oral, malnutrisi dan fisik.
a. Kebiasaan Oral
Kebiasaan oral yang mempengaruhi lengkung gigi antara lain menghisap ibu jari atau
jari-jari tangan, menghisap dot, bernafas melalui mulut, dan penjuluran lidah. Peran kebiasaan
oral terhadap perubahan dan karaktristik lengkung gigi tergantung dari frekuensi, intensitas dan
lama durasi. Hasil penelitian Aznar (2006) dan peneliti lain, menunjukkan kebiasaan hisap jari
untuk jangka waktu yang panjang akan menyebabkan penambahan jarak antara molar mandibula.
Aznar juga menunjukkan bahwa kebiasaan menghisap mainan akan menyebabkan pengurangan
lengkung gigi maksila terutama di bagian kaninus dan kebiasaan bernafas melalui mulut
menyebabkan pengurangan ukuran pada rahang atas dan bawah. Aktivitas kebiasaan buruk ini
berkaitan dengan otot-otot rongga mulut. Aktivitas ini sangat sering ditemukan pada anak-anak
usia muda dan bisa dianggap normal pada masa bayi, meskipun hal ini menjadi tidak normal jika
berlanjut sampai masa akhir anak-anak.

(a)

(b)

Gambar 2. Efek menghisap ibu jari, (a) asimetris dari anterior open bite, dan (b) bilateral crossbite .

b. Malnutrisi
Nutrisi yang baik adalah penting pada waktu remaja untuk memperoleh pertumbuhan oral
yang baik. Pengambilan nutrisi atau energi yang kurang dapat mempengaruhi pertumbuhan
sehingga membatasi potensi pertumbuhan seseorang. Malnutrisi dapat mempengaruhi ukuran
bagian badan, sehingga terjadi perbandingan bagian yang berbeda-beda dan kualitas jaringan
yang berbeda-beda seperti kualitas gigi dan tulang. Adanya malnutrisi dapat berakibat langsung
pada organ-organ tubuh.
c. Fisik
Perubahan dalam kebiasaan diet seperti tekstur makanan yang lebih halus menyebabkan
penggunaan otot pengunyahan dan gigi berkurang. Akibat pengurangan pengunyahan akan
menyebabkan perubahan pada perkembangan fasial sehingga maksila menjadi lebih sempit. Hasil
penelitian Moore dkk (1968) mengenai dimensi rahang dan gigi sejak zaman Neolitik sampai
zaman modern menunjukkan bahwa diet modern kurang membutuhkan pengunyahan sehingga
kurang memberi stimulus terhadap pertumbuhan rahang dibandingkan dengan diet yang lebih
primitif. Penelitian Defraia mendapati anak-anak pada zaman sekarang mempunyai lengkung gigi
atas yang lebih kecil dari subjek yang diteliti 40 tahun yang lalu oleh Lindsten dkk.

2.5.3 Otot-otot rongga mulut


Otot pengunyahan yang kuat meningkatkan mekanisme pengunyahan rahang dan ini
memicu pertumbuhan sutura dan aposisi tulang yang mengakibatkan peningkatan pertumbuhan
rahang. Hal ini didukung oleh penelitian Kiliaridis (2003) terdapat hubungan antara ukuran otototot pengunyahan dengan lebar kraniofasial. Penelitiannya mendapati bahwa perempuan yang
otot masseternya lebih tebal mempunyai lengkung rahang yang lebih lebar dari perempuan yang
otot masseternya lebih tipis.
2.5.4 Kehilangan dini gigi desidui
Kehilangan dini gigi desidui biasanya disebabkan oleh karies gigi, trauma dan resorpsi
prematur akar gigi. Definisi prematur loss gigi adalah kehilangan gigi desidui sebelum waktu
penanggalannya. Prematur loss gigi desidui dapat mengurangi lengkung rahang yang diperlukan
untuk gigi pengganti maka cenderung menyebabkan gigi berjejal, rotasi, dan impaksi gigi
permanen.
2.5.5 Keturunan / Ras
Keturunan merupakan faktor yang penting terhadap perkembangan dental individu.
Menurut Sassouni dan Ricketts (Argyropoulos, 1989) berpendapat bahwa kelompok ras yang
berbeda akan menampilkan pola kraniofasial yang berbeda. Pada ras yang berbeda pertumbuhan
pada masing-masing ras juga berbeda, begitu juga waktu maturasi, pembentukan tulang,
kalsifikasi gigi dan waktu erupsi gigi.
2.5.6 Jenis kelamin
Penelitian menunjukkan bahwa ukuran lengkung rahang laki-laki lebih besar dari
perempuan dalam arah transversal. Lavele (1979 cit. Desi, 2007) menyatakan bahwa perbedaan
ukuran lengkung gigi rahang bawah antara laki-laki dan perempuan disebabkan adanya faktor
kekuatan fungsional, kebiasaaan makan, sikap tubuh dan trauma dimana lebih berpengaruh pada
laki-laki daripada perempuan. Ditemui bahwa lelaki dan perempuan mempunyai dimensi skeletal
fasial yang berbeda (Wei, 1970; Ingerslev dan Solow, 1975; Chung dan Wong, 2002; Chung dan
Mongiovi, 2003) dan perbedaan ukuran lengkung maksila dan mandibula (Moyers dkk. 1976;
Christie, 1977).

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Lengkung gigi atau dental arch merupakan suatu garis lengkung imaginer yang
menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan rahang bawah. Raberin (1993) melakukan

penelitian pada bangsa Perancis dan melaporkan bahwa ras kaukasoid memiliki lima bentuk
lengkung rahang bawah, yaitu, narrow (sempit), wide (lebar), mid (sedang), pointed (tajam),
flat (datar) dengan presentase terbesar adalah bentuk lengkung narrow sebanyak 23,7%.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17870/4/Chapter%20II.pdf, tanggal akses 11
September 2016
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33647/4/Chapter%20II.pdf, tanggal akses 11
September 2016
Savitri, Puteri Islami.,dkk.2014.Frekuensi Susunan Gigi Tidak Berjejal dan Berjejal
Rahang
Bawah
Pada
Bentuk
Lengkung
Narrow
Rahang
Bawah.Banjarmasin:Dentino (Jur. Ked. Gigi), Vol II. No 2.hal.131.

12