Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Besi cor merupakan material yang sekarang ini sering dipergunakan
dalam dunia permesinan. Besi cor memiliki beberapa klasifikasi diantaranya
besi cor putih, besi cor kelabu, besi cor nodular, besi cor malleable dan lain
sebagainya. Setiap jenis besi cor memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Hal ini
disebabkan setiap besi cor memiliki sifat dan struktur mikro yang beda.
Besi cor nodular merupakan besi cor yang memiliki bentuk grafitnya
bulat. Dengan grafit bentuk bulat ini sifat besi cor mendekati baja. Oleh sebab
itu besi cor nodular ini disebut juga nodular cast iron. Penggrafitan terjadi pada
saat pembekuan, sehingga besi cor nodular mempunyai sifat cair seperti besi
cor pada umumnya yaitu titik cair rendah, fluiditas baik mampu cor mampu
mesin, dan tahan aus yang baik. Karena bentuk grafit bulat, didapat matrik yang
kontinyu sehingga menyerupai sifat baja, seperti kekuatan tinggi, ketangguhan,
ductility, mampu dikerjakan panas, dan mampu keras. Penggunaan besi cor
nodular biasanya pada poros engkol, rumah pompa dan lain-lain.
Besi cor malleable merupakan jenis besi cor yang bahan dasar
pembuatanya dari besi cor putih. Besi cor putih dilakukan proses pemanasan
sampai temperatur austenitsasi dn didinginkan secara lambat. Besi cor
malleable merupkan jenis besi yang memilikigrafit berbentuk gumpalan. Sifat
yang menguntungkan dari besi cor maleabel yaitu mampu mesin baik, begitu
pula ketangguhan serta ductilitynya, ketahanan terhadap korosi penggunaan
tertentu, kekuatan untuk pemakaian yang luas, sifat magnetik, serta
homogenitas yang merata pada seluruh coran setelah proses laku panas. Sifat
dari besi maleabel terutama dikaitkan dengan struktur mikronya. Secara
struktur mikro besi cor maleabel yaitu paduan Fe - C dengan temper karbon
dalam marik ferit dimana Si larut didalamnya. Struktur yang demikian
merupakan hasil proses laku panas (maleablizing) dari besi cor putih.

1.2 Permasalahan
Dalam memahami tentan besi cor nodular dan malleable ini terdapat
beberapa aspek permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini yaitu
sebagai berikut :
1. Pengertian dari besi cor nodular dan malleable
2. Proses pembekuan dan pencairan besi cor nodular dan malleable
3. Proses perlakuan panas pada besi cor nodular dan malleable
1.3 Tujuan
Makalah tentang besi cor nodular dan malleable ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari besi cor nodular dan malleable
2. Mengetahui dan memahami proses pencairan dan pembekuan besi cor
nodular dan malleable
3. Mengetahui dan memahami proses perlakuan panas besi cor nodular dan
malleable

BAB II
BESI COR NODULAR

2.1 Definisi
Besi cor nodular yaitu besi cor yang bentuk grafitnya bulat. Dengan
grafit bentuk bulat ini sifat besi cor mendekati baja. Oleh sebab itu besi cor
nodular ini disebut juga nodular cast iron. Struktur mikro besi cor ductile
ditunjukkan pada Gambar 2.1

Perlit

Grafit

Fe

Gambar 2.1 Besi cor nodular dengan matrik ferit-perlit, 50x

Penggrafitan terjadi pada saat pembekuan, sehingga besi cor nodular


mempunyai sifat cair seperti besi cor pada umumnya yaitu titik cair rendah,
fluiditas baik mampu cor mampu mesin, dan tahan aus yang baik. Karena
bentuk grafit bulat, didapat matrik yang kontinyu sehingga menyerupai sifat
baja, seperti kekuatan tinggi, ketangguhan, ductility, mampu dikerjakan panas,
dan mampu keras.
Klasifikasi besi cor menurut ASTM seperti ditunjukkan pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 American Society for Testing and Material (ASTM) A536-70
Class

Tensil Strength
minimum psi

60-40-18
65-45-12
80-55-026
100-70-03
120-90-02

60,000
65,000
80,000
100,000
120,000

Yield Strength
(0.2% Offset)
Minimum psi
40,000
45,000
55,000
70,000
90,000

Elongation
(2-in.g.i.)
Minimum %
18
12
6
3
2

quench-tempering heat treatment specific


1 psi = 0.006899476 Mpa

2.2 Pembekuan pada Besi Cor Nodular


Walaupun komposisi kimia besi cor kelabu dan nodular mendekati
sama (kecuali S dan Mg), namun model pembekuannya sangat berbeda.
Pada besi cor kelabu, melibatkan eutektik grafit flake dan austenit.
Pembekuan eutektik ini akibat kontak antara autenit dan grafit dengan cairan
eutektik. Pembekuan berlangsung dengan tumbuhnya cel austenit dan grafit
flake pada cairan eutektik. Karena pada dasarnya besi cor kelabu adalah paduan
Fe-C-Si, maka pembekuan terjadi pada selang temperatur tertentu (antara
temperatur liquidus dan solidus).
Pendinginan selanjutnya setelah dalam keadaan padat, yaitu keluarnya karbon
dari austenit yang selanjutnya presipitasi pada grafit yang sudah ada. Proses ini
berjalan sampai temperatur eutektoid. Pendinginan pada daerah eutektoid akan
mempengaruhi matrik yang terjadi yaitu dari ferit sampai semua perlit,
tergantung pada laju pendinginan serta unsur paduan yang ada.
Pada besi cor nodular pembekuan grafit nodul di mulai pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur eutektik austenit grafit serpih,
pada karbon ekivalen yang sama. Dalam hal ini grafit bulat dikelilingi oleh
austenit. Sehingga hanya ada satu fasa (austenit) yang kontak dengan cairan
eutektik.
Pertumbuhan menjadi grafit nodul ini terdapat dua pendapat yaitu :

Grafit yang tumbuh karena selalu mencabang sehingga membentuk


nodul seperti ditunjukkan pada Gambar 2.2

Terbentuk gelembung gas, kemudian grafit menempati rongga tersebut,


seperti ditunjukkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.2. Grafit nodul akibat percabangan

Gambar 2.3. Pertumbuhan grafit nodul dari gelembung gas


A. Gelembung gas C. Logam cair
B. Serabut grafit
D. Besi yang sudah padat

Bentuk grafit yang terjadi diklasifikasikan seperti ditunjukkan pada gambar 2.4

Gambar 2.4. Klasifikasi bentuk grafit pada besi cor nodular

Sedangkan besarnya grafit diklasifikasikan seperti ditunjukkan pada Gambar


2.5.

Gambar 2.5 Klasifikasi besar grafit nodul berdasarkan besar bola pada pembesaran 100x

2.3 Proses Pembuatan Besi Cor Nodular


Tahapan proses pembuatan besi cor nodular yaitu :
Pencairan
Perlakuan dengan Mg (Mg treatment)
Inokulasi
Penuangan

Pencairan
Bahan baku pada pembuatan besi cor nodular harus berkadar S
rendah. Karena kadar S yang tinggi akan mengurangi efektifitas
penambahan Mg. Proses pencairan dapat dilakukan pada kupola, atau
dapur listrik. Bila digunakan kadar S yang agak tinggi maka diperlukan
proses desulfurisasi, sebelum dilakukan Mg treatment.

Perlakuan dengan Mg

Untuk menghasilkan grafit nodul, diperlukan penambahan Mg.


Banyaknya Mg yang dibutuhkan tergantung kadar S dan oksigen yang ada
pada besi cair. Secara umum Mg sisa minimum yang memadai adalah
0.015 - 0.05%. Mg yang ditambahkan berupa paduan besi - magnesium
atau disebut master alloy. Berbagai jenis master alloy seperti berikut
1

Magnesium-nickel alloy
a

15% Mg, 85% Ni

15% Mg, 55% Ni, 30% Si

Magnesium-ferrosilicon alloys
a 9% Mg, 45% Si, 1.5% Ca, balance Fe
b 9% Mg, 45% Si, 1.5% Ca, 0.5% Ce, balance Fe

Magnesium-silicon alloys
a 18% Mg. 65% Si, 2.0% Ca, 0.6%

Besarnya Mg yang dapat tertinggal pada besi cair (Mg recovery)


tergantung pada jenis master alloy, temperatur treatment dan metoda
penambahan seperti ditunjukkan pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Persen recovery Magnesium tergantung tipe master
alloy dan metoda penambahan
Method of Addition
Type of Alloy

Pressure ladle or
injection

Open ladle

Plunging

Mg-Si

50

60

Mg-Ni-Si

40

Mg-Fe-Si

35

45

Mg-Si

35

Mg chips

20

Mg ingot

50

Berbagai metoda penambahan master alloy diantaranya O


Open ladle o Pluging
o

Sandwich

T Knock

Injection

Mg treatment dengan open ladle, yaitu master alloy diletakkan pada dasar
ladle. Reaksi terjadi saat dituangkan besi cair dari dapur. Proses ini
menghasilkan Mg recovery yang rendah
Mg treatment dengan plunging, yaitu master alloy dimasukkan kedalam
sangkar, kemudian dicelupkan kedalam besi cair. Proses ini dapat
menghasilkan Mg recovery yang besar, namun kesulitan pada pembuatan
sangkarnya. Bahan sangkar harus tahan terhadap sock temperatur.
Mg Treatment dengan sandwicth hampir sama dengan metoda open ladle.
Hanya saja master alloy tidak kontak langsung dengan besi cair. Melainkan
diberi tutup plat. Seperti ditunjukkan pada Gambar 11.6.
Mg treatment dengan metoda T Knock, yaitu besi cair dialirkan secara
tangensial. Akibatnya akan terbentuk pipa. Master alloy ditambahkan
lewat lubang pipa tersebut. Metoda ini menghasilkan Mg recovery yang
tinggi sebab master alloy terletak didalam aliran logam cair, dan
pencampuran terjadi secara kontinyu.
Mg treatment dengan injection, dimaksudkan agar didapat
pencampuran yang cepat dan homogen. Hal ini disebabkan master alloy
cenderung mengapung pada besi cair.
Hal yang perlu diingat yaitu pada proses Mg treatment ini akan
terjadi sinar yang sangat kuat, serta asap yang banyak. Oleh sebab itu
peralatan harus mempunyai alat pelindung buat operator

Inokulasi

Maksud inokulasi yaitu :


-

Memberikan inti awal sehingga didapat distribusi grafit yang merata.


Memperkecil efek cill, atau ketebalan coran tidak

Penuangan
Seperti telah dibahas dimuka, bahwa penuangan harus dilakukan
sebelum waktu tertentu. Setelah waktu tersebut sisa besi cair dituang
sebagai besi scrap. Untuk dapat mengevaluasi hasil coran, dibuat coran
standar sebagai spesimen seperti ditunjukkan pada Gambar 2.6

Gambar 2.6. a). Keell block untuk tes kupon besi cor nodular,
panjang 6 in. b). Y Blok untuk tes kupon besi cor
nodular

2.4 Pengaruh Besar Cor terhadap Jumlah Besar Nodul


Jumlah nodul/satuan luas sangat tergantung pada besar (tebal) coran
seperti ditunjukkan pada Gambar 2.7

Gambar 2.7. Pengaruh tebal coran terhadap jumlah nodul.

2.5 Proses Laku Panas


Berbagai laku panas yang diberikan kepada besi cor nodular biasanya
1

Stress relief : digunakan untuk menghilangkan internal stress Daam coran,


yaitu

dengan menahan pada temperatur 1000 - 1250 F selama 1 jam, dan


tambahan 1 jam tiap tebal 1 in.
2

Annealing : Untuk mendapatkan ductility yang maksimum, serta mampu


mesin yang baik.

Berbagai metoda digunakan


a

Dipanaskan sampai 1650 F 1 jam, dan tambahan 1 jam tiap tebal 1 in


0

Didinginkan ke temperatur 1275 F dan ditahan selama 5 jam, dengan


tambahan 1 jam tiap tebal 1 in, kemudian didinginkan ke temperatur
kamar.
b

Dipanaskan sampai 1650 F, dan ditahan seperti diatas, tetapi didinginkan


O

didapur dari 1450 - 1200 F dengan laju kurang dari 35 /jam.


c

Dengan aneal subkritik yaitu pemanasan sampai 1300 F dan ditahan


selama 5 jam, dengan tambahan 1 jam untuk ketebalan 1 in. Kemudian
didinginkan
0

didapur paling tidak sampai 1100 F.


Proses laku panas yang lain yaitu meliputi pengerasan (martensitic
hardening), dan tempering, austempering dan martempering, yang
semuanya menyerupai proses laku panas pada baja

Struktur mikro martensit ditunjukkan pada Gambar 2.8. Besi cor nodular
biasanya di surface hardening dengan flame atau induction method. Dalam hal
ini diutamakan bila matriknya perlit. Sebab pada pemanasan perlit akan segera
menjadi austenit.

Gambar 2.8. Besi cor nodular dengan matrix full ferritic

Sifat besi cor nodular yang lain seperti ditunjukkan pada Tabel 11.3

BAB III
BESI COR MALLEABL
3.1 Definisi

Besi cor maleabel yaitu hasil proses maleabelisasi dari besi cor putih
sehingga

karbon

memisahkan

diri

membentuk

grafit.

Sifat

yang

menguntungkan dari besi cor maleabel yaitu mampu mesin baik, begitu pula
ketangguhan serta ductilitynya, ketahanan terhadap korosi penggunaan tertentu,
kekuatan untuk pemakaian yang luas, sifat magnetik, serta homogenitas yang
merata pada seluruh coran setelah proses laku panas.
Penggunaan utama dari coran besi cor maleabel yaitu automotive dan
truck industries, konstruksi permesinan, dan peralatan pertanian. Contoh
penggunaan besi cor maleabel pada truk ditunjukkan pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Penggunaan besi cor maleabel - perlitik untuk komponen truk

Sifat dari besi maleabel terutama dikaitkan dengan struktur mikronya.


Secara struktur mikro besi cor maleabel yaitu paduan Fe - C dengan temper
karbon dalam marik ferit dimana Si larut didalamnya. Struktur yang demikian
merupakan hasil proses laku panas (maleablizing) dari besi cor putih.
Komposisi kimia besi cor putih yang memungkinkan dilakukan panas menjadi
besi cor maleabel seperti ditunjukkan pada Tabel 3.1

Tabel 3.1. Komposisi kimia besi cor putih yang memungkinkan dilaku panas
menjadi besi cor maleabel
ASTM No, 32510
ASTM No, 35018
Cupola Malleable
%C
2.30-2.65
2.00-2.45
2.80-3.30
%Si
0.9-1.40
0.90-1.30
0.60-1.10
%Mn
0.25-0.55
0.21-0.55
Less than 0.65
%P
0.18
Less than 0.18
Less than 0.20
%S
0.05-0.18
0.05-0.18
Less than 0.25
Struktur mikro besi cor putih hasil coran (as cast) seperti ditunjukkan pada
Gambar 3.2

Gambar 3.2 Struktur mikro besi cor putih. Putih adalah karbida, gelap adalah perlit

Sedangkan setelah proses laku panas, struktur mikronya ditunjukkan pada


Gambar 3.3. Dengan laku panas tersebut maka karbida (Fe3C) dalam massive
carbide dan perlit pada besi cor putih berubah menjadi ferit (Fe ) dan temper
carbon atau dapat ditulis :
Fe3C

--> Fe + Gr

Secara kimia, dengan proses laku panas tersebut akan merubah karbon dalam
bentuk senyawa (combined carbon) menjadi temper carbon atau grafit (Gr).
Setelah proses laku panas tersebut karbon yang masih dalam bentuk senyawa
biasanya kurang dari 0,15%.

Gambar 3.3. Struktur mikro besi cor maleabel standart. Ferit dan grafit

Dengan struktur mikro Gr dalam matrik ferit tersebut, maka besi cor maleabel
mempunyai sifat mekanik seperti ditunjukkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Kekuatan tarik besi cor maleabel
Type

Minimum tensile

Minimum yield Minimum elongation,

Brinell-hardness

strength, psi

strength, psi

range, typical

% in 2.0 in

Standard ferrite malleable


35018

53.000

35.000

18.0

110-145

32510

50.000

32.500

10

110-145

Pearlitic malleable
45010

65.000

45.000

10

163-207

45007

68.000

45.000

163-217

48004

70.000

48.000

163-228

50007

75.000

50.000

179-228

53004

80.000

53.000

197-241

60003

80.000

60.000

197-255

100.000

80.000

241-269

Kekuatan tarik serta kekerasan diatas berdasarkan pada Si yang larut dalam
ferit sebesar 1%

Kecuali proses laku panas, proses pembuatan besi cor rnaleabel secara
garis besar sama dengan proses pembuatan besi cor yang lain. Proses tersebut

meliputi Pembuatan cetakan, inti, pembersihan, pencairan, penuangan dan


sebagainya.
3.2 Pencairan
Pencairan besi cor maleabel umumnya dilakukan pada dapur nyala api,
kupola, dapur induksi, busur listrik, atau duplex yaitu kombinasi dari dapur-dapur
tersebut.

Proses pencairan secara batch


Dapur nyala api seperti ditunjukkan pada Gambar 3.4.

Gambar 12.4. Penampung dapur nyala api

Digunakan untuk pencairan secara batch. Dapur nyala api (air furnance) ini
adalah reverberatory-type furnance, yang dinyalakan dengan bahan bakar
minyak, atau kokas yang dibuat tepung. Kapasitas dapur umumnya antara 15 40 ton.
Dapur terbentuk segi empat, dengan ketinggian besi cor biasanya kurang dari
12 in. Saluran keluar (tap hole) terletak disamping. Dinding sisi dibuat dari
batu tahan api yang ditumpu oleh konstruksi baja, sedang pada bagian bawah
dengan batu tahan api atau pasir silika, Sebagai tutup digunakan sekelompok
batu tahan api yang dapat dilepas, yang bisa disebut "bung". Dengan melepas
beberapa "bung" tersebut maka

memungkinkan memasukkan muatan dalam keadaan dingin kedalam dapur


lewat bagian atas.

Bahan baku yang dimasukkan dengan komposisi sebagai berikut


Material
Pig iron (malleable),%
Sprue
Malleable scrap, %
Steel scrap, %
Fuel
Coke, lb/ton melt
Coal, lb/ton melt
Electricity, kw/ton
Flux, lb/ton melt

Batch-melting
(air furnace charge)
25-35
45-55
5-20
0-10

Duplexing
(cupola charge)
12
50
10
38

0
700-1000
0
0

100-200
180-220
480 (duplex, arc furnace)
60-80 (cupola)

Bahan baku dengan ukuran kecil diletakkan pada bagian bawah. Dari
daftar diatas terlihat bahwa jumlah sprue mencapai 50%. Hal ini mengingat
remelt dari industri pengecoran utamanya terdiri dari sprue. Analisa bahan
baku pada dapur
nyala api diharapkan :
C = 2,65 - 2,85%
P, S

< dari yang diijinkan

Mn, Si

dari yang diharapkan

Cr < 0,07% atau lebih baik 0,03%


Karena Cr akan menghambat proses laku panas
Proses pencairan terjadinya akibat nyala api pembakaran bahan bakar dengan

temperatur sekitar 3080-3150 F, dan dipertahankan oksidasi pada logam


minimum. Slag terbentuk selama proses pencairan akibat hasil oksidasi logam
dan erosi lapisan tahan api. Selama proses pencairan tersebut dan begitu besi
o

cair mencapai temperatur 2600 F, slag diambil. Kemudian temperatur besi


cair dinaikkan sesuai dengan temperatur penuangan yang dikehendaki,
biasanya 2880 - 2900F. Perubahan komposisi selama proses pencairan secara
garis besar sudah dibahas di Bab IX. Berkurangnya Si dan Mn terjadi selama
o

proses pencairan dan terus berlangsung sampai temperatur 2700 F semakin


tinggi temperatur, kehilangan karbon akan semakin cepat, akibat oksidasi
dengan atmosfir, namun kemungkinan Si akan menangkap dari batu tahan api
dan slag. Kenaikan Si kira-kira 0,05 - 0,15% /jam

pada temperatur 2800 - 2900 F, akibat reduksi silika oleh karbon dari besi.
Perubahan komposisi selama dalam dapur seperti ditunjukkan pada Tabel
12.3.

Tabel 3.3 Perubahan komposisi pada pencairan dalam dapur nyala api.
Period of heat

%C

%Si

%Mn

%P

%S

Charge

2.80-3.20 1.10-1.25 0.45-0.55 0.14 max 0.09

After meltdown

2.70-2.90 0.90-1.10 0.30-0.40 0.14 max 0.09

Preliminary analysis 40-60 min before tapping

2.50-2.60

0.96

0.37

0.14 max 0.10

2.30

1.05

0.35

0.14 max 0.10

Final analysis

Kehilangan karbon tersebut diimbangi dengan pencairan pada perbandingan


bahan bakar - udara yang tinggi (reducing), yaitu dengan penambahan grafit,
kokas, atau carburizer, atau dengan menjatuhkan tepung kokas ke permukaan
besi cair lewat burner.
Dengan berubahnya komposisi pada proses pencairan tersebut
dengan sendirinya dapat mempengaruhi sifat besi cor yang dihasilkan.
Biasanya untuk menganalisa besi cor yang dihasilkan ini digunakan
pengetesan sprue, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Sprue test. Bagian kiri menunjukkan karakteristik patahan kadar karbon
tinggi pada awal pencairan. Dekarburasi pada besi menyebabkan
perubahan dari patahan abu-abu ke mottled ke putih akibat kadar C
yang semakin rendah.

Pada awal pemanasan, besi cair dicor diameter 1 -2, panjang 8 - 10 in,
yang akan membeku sehingga besi cor kelabu atau mottled. Mottling akibat
terbentuknya menjadi besi cor putih. Begitu temperatur naik menjadi diatas
o

2600 F, dan karbon dalam besi turun, secara bertahap mottled hilang.
Akhirnya sebelum tapping, test bar

akan menjadi besi cor putih, dengan patokan yang berwarna putih seperti
ditunjukkan pada Gambar 3.5. diatas. Secara umum target kualitas
pencairan besi cor putih, yang bebas grafit serpih. Hal ini mengingat grafit
serpih akan menurunkan sifat dari besi cor maleabel. Kondisi pencairan
yang dapat menghasilkan besi cor putih yaitu digunakannya temperatur
yang tinggi, kondisi oksidasi, C dan Si yang rendah, penambahan baja
sebagai bahan baku, kebasahan udara, dan sejumlah pengalaman praktek
yang lain. Bila telah dicapai batas komposisi yang dikehendaki dan telah
diketahui akan menghasilkan besi cor putih, maka besi cair dikeluarkan
dari dapur (tapping). Penambahan FeSi maupun FeMn dalam dapur
diperlukan untuk mengontrol komposisi besi cair. Temperatur tapping
o

sekitar 2800 - 2900 F, sedang temperatur penuangan antara 2600 - 2800F,


tergantung pada ketebalan coran. Waktu tapping dapat berkisar 30 min lebih dari 1 jam, tergantung pada besarnya dapur, serta fasilitas penuangan
yang tersedia.

Duplexing
Bila dikehendaki pencairan dan tapping yang kontinyu, maka
digunakan duplex, Pada sistim duplex besi dicairkan didalam kupola,
kemudian dimasukkan kedalam dapur nyala api atau dapur listrik untuk
pemurnian serta pengontrolan temperatur. Peralatan sistim duplex ini
seperti ditunjukkan pada Gambar 3.6. berikut :

Gambar 3.6. Instalasi dapur duplex. Logam cair ditransfer dari kupola ke dapur nyala api

Sistim duplex dapat terdiri dari kupola-dapur nyala api atau kupola-electric
arc furnace. Pada kedua jenis tersebut pencairan dilakukan didalam kupola.
Operasi dari kupola sudah dibahas didepan. Pada bahan baku dimasukkan
steel scrap lebih banyak, dengan pig iron yang lebih sedikit. Hal ini untuk
mengimbangi

tertangkapnya

karbon

selama

pencairan.

Perubahan

komposisi pada sistem duplex seperti ditunjukkan pada Tabel : 3.4.


Tabel 3.4. Perubahan komposisi kimia pada pencairan sistem duplex
Period of heat

%C

%Si

%Mn

%P

%S

Cupola charge

1.40-2.20

1.50-1.65

0.55-0.60

0.05

0.12

Cupola gains or loses

Gain

10-25 (loss) 15-20 (loss) No change

Gain

Cupola tap

2.60-3.0

1.20-1.40

0.45-0.50

0.05

0.12-0.17

Air-furnace tap (2 hours in the furnace)

2.35-2.65

1.25-1.50

0.45-0.50

0.05

0.12-0.17

Kupola ditap secara kontinyu masuk kedalam dapur nyala api.


Sedangkan dapur nyala api di tap secara berkala dimasukkan kedalam
transfer ladle, yang selanjutnya dituang kedalam cetakan. Dari sini terlihat
bahwa dapur nyala api berfungsi sebagai pengurangan kadar C, dan
mengurangi variasi komposisi logam cair hasil kupola. Jika digunakan
electric furnace, dapat ditambahkan baja kedalam logam cair, untuk
mengurangi kadar C dan Si yang terbawa dari kupola. Setiap penambahan
4% baja dapat menurunkan kadar C dan Si sekitar 0,05% dalam dapur
listrik, dan secara drastis menurunkan tendensi mottling. Super heat mudah
dilakukan, untuk mencapai temperatur penuangan yang dikehendaki.
3.3 Proses Laku Panas (Annealing)

Proses laku panas anil atau disebut maleableization karena bertujuan


merubah besi cor putih yang keras dan rapuh menjadi besi cor maleabel.
Struktur mikro awal sebelum laku panas yaitu terdiri dari perlit, massive
carbide, dan sebagian eutektik. Siklus termal proses laku panas tersebut
ditunjukkan pada Gambar 3.7 berikut :

Gambar 3.7. Siklus termal proses maleablising besi cor putih

Proses laku panas ini terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama yaitu pengintian grafit.
Hal ini terjadi pada saat pemanasan mencapai temperatur puncak dan sesaat
sebelum holding time. Tahap kedua yaitu penahanan pada temperatur 1600 o

1750 F, dimana terjadi tahap pertama penggrafitan (FSG). Pada tahap kedua
tersebut bertujuan menghilangkan massive carbide. Tahap ketiga yaitu
pendinginan lambat pada daerah temperatur transformasi eutektoid, atau
disebut tahapan penggrafitan kedua (SSG). Tujuan dari tahapan terakhir ini
adalah untuk menghilangkan karbida dalam perlit, sehingga didapat besi cor
maleabel feritik. Seperti diketahui karbida adalah fasa yang tidak stabil. Oleh
sebab itu dengan proses laku panas yang sesuai akan terjadi inti penggrafitan,
sampai penggrafitan sempurna dalam keadaan padat.

Nucleation
Hasil akhir proses laku panas sangat ditentukan tahap awal yaitu
pengintian grafit. (Graphite nucleation). Jika jumlah inti grafit memadai,
maka proses laku panas dapat berjalan baik. Pada saat pemanasan bila
temperatur melampaui temperatur transformasi eutektoid, maka perlit
berubah menjadi austenit. Setelah dicapai temperatur maksimum (puncak)
maka strukturnya austenit (karbon larut padat) dan massive carbide, dan
inti grafit. Pengintian pertama terjadi pada perlit yaitu interface antara
karbida besi dengan austenit, atau pada lokasi inklusi bukan logam. Hal hal yang mempengaruhi pengintian diantaranya
1

Laju pemanasan, laju pemanas yang cepat menurunkan jumlah inti

Besar/ketebalan : Coran yang tipis menghasilkan inti yang lebih


banyak.

Analisa kimia : Si yang tinggi dengan Mn dan S yang seimbang (2 x


% S + 0,15) = %Mn) mudah terjadi pengintian.

Pretreatment, laku panas pendahuluan yaitu penahanan pada

temperatur 600 F sampai 1200 F selama sampai 20 jam, akan


menaikkan pengintian.
Requenching. Pemanasan sampai austenit kemudian diquench, akan

menaikkan jumlah inti, bila selanjutnya di maleablishing.


6

Slag dengan FeO tinggi, yaitu lebih dari 25%, akan menurunkan
secara drastis pengintian.

Ladle addition. Pengintian pada maleablizing akan naik dengan


ditambahkannya 0,001 - 0,003% Br atau beberapa perseribu % Al atau
Ti kedalam logam cair pada ladle.

Grafit yang terbawa oleh bahan baku pada proses pencairan dalam
dapur akan mendorong pengintian pada proses laku panas.

Baja dalam bahan baku akan mengurangi pengintian.

10 Kondisi pencairan oksidasi dalam kupola atau electric furnace


mengurangi pengintian.
11 Nukleasi akan berkurang dengan adanya Bi dan Te

Perhitungan nodul
Jumlah nodul tiap satuan luas dapat dihitung sebagai berikut :
-

Diamati pada mikroskop dengan pembesaran 100x

Harga rata-rata diambil dari 5-10 lokasi yang berbeda.

Hubungan jumlah nodul/satuan luas terhadap jumlah nodul/vol seperti


ditunjukkan pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Hubungan jumlah nodul per mm3 volume dan jumlah nodul per mm2

Grafitisasi tahap pertama (FSG)


Grafitisasi yang berlangsung pada temperatur FSG terjadi akibat
proses larutan dan presipitasi. Karbida larut didalam austenit, kemudian
karbon berdifusi ke inti dan presipitasi sebagai grafit. Grafit terus tumbuh
sampai karbide hilang dari austenit. Waktu yang diperlukan pada FSG ini
tergantung pada jumlah inti, kelarutan dari karbida, dan laju difusi karbon
pada temperatur tersebut. Waktu yang diperlukan sehingga fungsi dari
kadar Si dan temperatur ditunjukkan pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Hubungan temperatur terhadap persentase Si pada besi cor putih
dan waktu yang diperlukan untuk FSG

Unsur penstabil karbida seperti Cr, Mn yang berlebihan Mo, mencegah


tuntasnya penggrafitan FSG.

Grafitasi tahap kedua (SSG)


Grafitisasi tahap kedua akibat laju pendinginan lambat pada
o

daerah transformasi eutektoid sekitar 1450 F turun sampai 1300 F. Laju


pendinginan ini sedemikian lambatnya, sehingga memungkinkan austenit
kembali menjadi ferit dan presipitasi karbon menjadi grafit.
Pendinginan yang cukup cepat akan menyebabkan terbentuk perlit, dan
dengan quench akan terbentuk martensit seperti pada baja. Laju
o

pendinginan berkisar antara 3 - 30 F/jam. Hal-hal yang mempengaruhi


pada FSG juga berpengaruh terhadap SSG. Proses SSG akan berlangsung
lebih cepat bila jumlah nodul grafit juga cukup banyak.

Operasi Anil
Dalam pelaksanaannya proses aril dapat dilakukan secara batch
atau kontinyu.
Metoda batch yaitu dengan memasukkan coran kedalam kotak,
kemudian kotak mmasukkan kedalam dapur dan mengalami siklus termal
seperti yang direncanakan. Biasanya dipergunakan bahan bakar tepung
kokas. Karena dapur maupun coran cukup besar, maka laju pemanasan
maupun pendinginannya sangat pelan. Metoda kontinyu dapat dilakukan
dengan tunnel kiln. Untuk laju yang besar dapat digunakan electric furnace
atau continuous conveyor type, gas fired, radiant - tube furnace. Siklus
termal proses anil ini seperti ditunjukkan pada Tabel 3.5.
Tabel 3.5. Siklus anil
Type
Periode oven, Pot
annealing packed
Continous furnace

Heating
To 1650oF in 40 hr

Holding at first
stage temperature

To 1600oF in 45 hr
To 1700-1750oF in
3-5 hr

40 hr at 1650oF

45 hr at 1600oF
45 hr at 1700-1750oF

Cooling and
second stage of
graphitization

1650-110oF in 75 hr

1650-110oF in 60 hr
Cooling to 1300oF in
8-30 hr

3.4 Sifat Mekanik

Sifat terhadap tarikan dari besi cor maleabel seperti tercantum pada
Tabel 3.6 dimuka. Sifat lain adalah sebagai berikut :
BHN

110-145 (115-135 usual range)

Endurance ratio

0.40-0.575

Notch endurance ratio

0.35

Modulus of elasticity in tension


Shear strength

25 x104 psi
0.80 UTS

Compressive strength

Greater than UTS

Impact resistance

6.5-16.5 ft-lb, depending on test condition

Machinability rating

120%*

* The Malleable Founder Society; compare with cold-rolled or cold-drawn B


1112 Besaemer screw stock with a rating of 100 percent

Total
155 hr
150 hr
14-60 hr

Kombinasi kekuatan dan ductility, maka malleabel cast iron memungkinkan


penggunaannya sangat luas. Beberapa keuntungan sifat besi cor maleabel adalah
:
1

Mampu mesin. Diantara logam ferous besi cor maleable mempunyai


mampu mesin yang baik. Kehomogenan mampu mesin dicapai karena
proses laku panas.

Ductility in processing. Untuk komponen mesin yang diperlukan ductility


yang cukup seperti mesin untuk proses coining, punching dsb.

Ductility or toughness in servis. Pada pemakaian tertentu akan lebih baik


coran mampu terdeformasi, dari pada putus. Hal ini seperti terjadi pada
klem, pipe fitting threads, claim linds tractor bolster post dsb.

Surface coating : Ketahanan korosi besi cor mampu tempa dapat dinaikkan
dengan pelapisan seng, aluminium, dan timah. Banyak dilakukan juga hot
dip galvanizing untuk ketahanan korosi terhadap lingkungan seperti pada
sambungan pipa dsb.

Wear resistance. Malleabel cast iron dengan struktur mikro ferit kurang
tahan terhadap keausan. Namun hal ini dapat diatasi dengan proses
pengerasan kulit. Yaitu pemanasan dapat cepat sampai daerah austenit,
diikuti dengan quenching, sehingga pemanasan dapat digunakan flame, atau
induction.

Magnetise properties.

3.5 Besi Cor Maleabel Perlitik

Besi cor maleabel perlitik yaitu besi cor maleabel dengan matrik
perlite (perlit spheroidal atau martensite temper) dan temper karbon. Dengan
matrik perlit maka kekuatan dan ketahanan terhadap keausan akan meningkat.
Struktur mikro besi cor maleabel perlitik seperti ditunjukkan pada Gambar
3.10.
Besi cor maleabel perlitik dibuat sebagai berikut :
1 Mencegah SSG yang sempurna dengan penambahan unsur-unsur seperti
Mn, Mo, atau Cr.
2 Tidak dilakukan SSG.
3 Dengan proses laku panas standard pada besi cor maleabel

Gambar 3.10. Struktur mikro besi cor maleabel perlitik

BAB IV
KESIMPULAN
1. Besi Cor Nodular
Besi Cor Nodular yaitu besi cor yang bentuk grafitnya bulat
sifat besi cor nodular meyerupai baja
Proses pembuatan besi cor Nodular
Contoh penggunaan besi cor nodular seperti, proses engkol, rumah pompa, dll
2. Besi Cor Malleable
Besi cor maleabel merupakan hasil proses maleabelisasi dari besi cor putih
Grafit temper berbentuk rasette, sehingga sifatnya seperti baja
Contoh pengunaan seperti tromol rem, sambungan pipa dll