Anda di halaman 1dari 19

HUKUM PERCERAIAN VIA GADGET

A. PENDAHULUAN
Pernikahan adalah sunnatullah yang umum dan berlaku pada
semua makhluk dan merupakan hal yang sakral bagi manusia,
karena tujuan pernikahan diantaranya untuk membentuk sebuah
keluarga yang harmonis, membentuk suasana bahagia menuju
terwujudnya ketenangan, kenyamanan bagi suami isteri serta
anggota keluarga.
Pernikahan adalah sarana yang terbaik untuk mewujudkan
rasa kasih sayang sesama manusia daripadanya dapat diharapkan
untuk melestarikan proses historis keberadaan manusia dalam
kehidupan di dunia ini yang pada akhirnya akan melahirkan
keluarga sebagai unit kecil sebagai bagian dari kehidupan dalam
masyarakat.

Adanya

suami

dan

isteri

dalam

suatu

ikatan

pernikahan mempunyai satu visi misi yang sama, satu dengan


yang lain sebagai unsur perekat dan penyatu dalam membangun
rumah tangga yang sakinah, mawaddah da rahmah1. Hal ini
dinyatakan dalam firman Allah:




Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya

pada

yang

demikian

itu

benar-benar

terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. AlRuum: 21).2

1 Linda Azizah, Analisis Perceraian dalam Kompilasi Hukum Islam,


dalam Jurnal Al-Adalah, Vol. X, No. 4 Juli 2012, (415-422), h. 415.
2 QS. Al-Ruum (30): 21.

Guna mencapai tujuan pernikahan tersebut, suami dan istri


harus melakukan hak dan kewajibannya secara baik dan benar.
Kondisi

ideal

terwujudnya

bangunan

keluarga

seperti

itu

merupakan harapan semua orang yang terlibat dalam perkawinan


ketika sedang prosesi akad ijab qabul. Seiring dengan perjalanan
waktu

dan

perkembangan

dinamika

bahtera

rumah

tangga,

ditemukan banyak rintangan dan gangguan dalam mewujudkan


atau menguatkan hakekat perkawinan. Suami dan isteri mengambil
keputusan untuk mengakhiri perkawinan dengan menanggung
segala akibat yang ditimbulkan dari perceraian tersebut. Bangunan
rumah tangga telah runtuh dan perceraian merupakan pilihan
terakhir suami isteri.
Kasus-kasus perceraian dewasa ini sudah menjadi fenomena
sosial

yang

menggejala

dalam

masyarakat.

Bahkan

tingkat

perceraian mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Adanya


dominasi suami terhadap isteri dalam hal thalak sangat kuat dan
isteri seakan menjadi pihak yang lemah, menjadikan sebuah
perceraian (thalak) sebagai suatu fenomena yang wajar dan dapat
dilakukan dengan mudah.3
Lebih

lanjut

seiring

dengan

perkembangan

tekhnologi

komunikasi pada saat ini, ada satu persoalan yang muncul dalam
masalah ini, yaitu ucapan thalak tersebut tidak diikrarkan secara
langsung oleh suami kepada isteri, tetapi hanya melalui gadget,
seperti melalui sms atau email dan semacamnya.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis dalam
pembahasan ini akan lebih menfokuskan untuk berbicara seputar
problematika dalam keluarga, khususnya yang berkaitan dengan
perceraian melalui gadget.
B. KONSEP PERCERAIAN
1. Definisi Perceraian
Perceraian dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah
thalaq. Kata Thalaq diambil dari kata ithlaq yang berarti
3 Linda Azizah, Analisis Perceraian,h. 415.

melepaskan atau menanggalkan atau secara harfiah berarti


membebaskan seekor binatang.4
Secara

istilah

umum,

perceraian

adalah

putusnya

hubungan atau ikatan perkawinan antara seorang pria atau


wanita (suami-isteri). Sedangkan dalam syariat Islam peceraian
disebut dengan talak, yang mengandung arti pelepasan atau
pembebasan (pelepasan suami terhadap isterinya). 5
Dalam fikih Islam, perceraian atau talak berarti bercerai
lawan dari berkumpul. Kemudian kata ini dijadikan istilah oleh
ahli fikih yang berarti perceraian antar suami-isteri. 6
Sedangkan para ulama memberikan pengertian perceraian
(talak) sebagai berikut:7
a. Sayyid Sabiq mendefinisikan, thalaq adalah melepaskan tali
perkawinan

atau

bubarnya

hubungan

perkawinan

mengakhiri hubungan suami-istri.


b. Abdur Rahman al-Jiziri mendefinisikan,
menghilangkan
pelepasan

ikatan

ikatannya

perkawinan
dengan

thalaq

atau

dan

adalah

mengurangi

menggunakan

kata-kata

tertentu.
c. Muhammad Ismail Al-Kahlani mendefinisikan, thalaq menurut

bahasa yaitu membuka ikatan, yang diambil dari kata ithlaq


yaitu melepaskan atau menanggalkan.

4 Slamet Abidin, Fiqih Munakahat II, (Bandung : Pustaka Setia, 1999),


h. 9.
5 Nurul Fadhlilah, Faktor-Faktor Penyebab Perceraian (Studi Terhadap
Perceraian Di Desa Batur Kec. Getasan Kab. Semarang), Skripsi pada Program
Studi Akhwal Syakhshiyah, Jurusan Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Salatiga, 2013, h. 13.

6 Kamal Mukhtar, sebagaimana dikutip Linda Azizah, Analisis


Perceraian dalam Kompilasi Hukum Islam, dalam Jurnal Al-Adalah, Vol.
X, No. 4 Juli 2012, (415-422), h. 417.
7 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2003),
h.192.

d. Abu

Zakaria

Al-Anshari

mendefinisikan,

thalaq

adalah

melepas tali akad nikah dengan kata talak dan yang


semacamnya.
Perceraian di dalam hukum Islam atau fiqh munakahat
dikenal dengan istilah thalak dan khuluk. Thalak merupakan
perceraian yang inisiatifnya berasal dari suami, sedangkan
khuluk merupakan perceraian dengan inisiatif berasal dari isteri.
Thalak dan khuluk ini dipahami sebagai perbuatan hukum yang
berakibat pada lepasnya ikatan perkawinan suami isteri dengan
tata cara yang makruf atau sesuai adat istiadat yang baik. 8
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat di pahami
perceraian adalah putusnya ikatan perkawinan antara suamiisteri dalam rangka membina rumah tangga yang utuh, kekal
dan abadi, sehingga antara keduanya tidak halal lagi bergaul
sebagaimana layaknya suami-isteri.
Perceraian dianggap sah apabila dilakukan oleh orangorang

yang

perbuatan

tindakannya

dapat

diminta

pertanggungjawaban hukum (human responsibility). Orang yang


perbuatannya dapat diminta pertangungjawaban hukum ini
disebut dengan istilah mukallaf. Suami isteri yang akan cerai
harus sudah cukup dewasa, sudah terkena beban hukum/taklif
dan tidak ada unsur paksaan/ikrah.9
2. Rukun dan Syarat Perceraian
Rukun talak ialah unsur pokok yang harus ada dalam talak
dan terwujudnya talak bergantung ada dan lengkapnya unsurunsur dimaksud. Rukun talak ada empat, sebagai berikut: 10
a. Suami.
8 Ali Imron, Memahami Konsep Perceraian dalam Hukum Keluarga,
dalam Jurnal Buana Gender, Vol.I, No. I,Januari-Juni 2016, (15-27), h.
16.
9Muhammad Syatha Al-Dimyati, sebagaimana dikutip Ali Imron, Memahami
Konsep Perceraian dalam Hukum Keluarga, dalam Jurnal Buana Gender, Vol.I,
No. I,Januari-Juni 2016, (15-27), h.20.

10 Nurul Fadhlilah, Faktor-Faktor,h. 15.

Suami adalah yang memiliki hak talak dan yang berhak


menjatuhkannya,

selain

suami

tidak

berhak

menjatuhkannya.
b. Istri.
Sahnya talak, pada istri yang ditalak disyaratkan
kedudukan istri yang ditalak itu harus berdasarkan atas akad
perkawinan yang sah dan istri itu masih tetap berada dalam
perlindungan kekuasaan suami. Istri yang menjalani masa
iddah talak raji dari suaminya oleh hukum islam dipandang
masih berada dalam perlindungan kekuasaan suami,.
c. Sighat talak.
Shighat talak ialah kata-kata yang diucapkan oleh
suami terhadap istrinya yang menunjukkan talak, baik yang
sarih (jelas) maupun yang kinayah (sindiran), baik berupa
ucapan lisan, tulisan, dan isyarat bagi suami tuna wicara.
d. Qashdu (sengaja).
Artinya bahwa dengan ucapan talak itu memang
dimaksudkan oleh yang mengucapkannya untuk talak, bukan
untuk maksud lain.
Islam sungguh telah menetapkan beberapa batasan dan
sejumlah syarat untuk talak, yaitu sebagai berikut: 11
a. Dari segi individu, ia harus seorang yang baligh, berakal,
taat, dan terpilih. Maka talak tidak terjadi pada anak kecil,
orang gila, orang yang dipaksa, dan orang yang mabuk.
b. Dari segi ucapan, para ulama fiqih menyatakan bahwa talak
tidak terjadi kecuali menggunakan kata-kata yang jelas
dengan talak, seperti engkau aku talak.
c. Dari segi tujuan, talak haruslah dengan maksud ucapan. Bagi
orang yang berniat dalam dirinya menalak istrinya dan tidak
diucapkan dengan talak maka talaknya tidak terjadi. Bagi
seorang yang mengucapkan talak karena dipaksa atau saat

11 Ali Yusuf As-Subki, Fiqh Keluarga, (Jakarta: Amzah 2010), h. 333334.

mabuk maka talaknya tidak terjadi karena ia kehilangan


akalnya.
d. Adapun dari segi jumlah, Al-quran telah menjadikan talak
tiga kali secara terpisah. Berdasarkan firman Allah dalam
surat al-Baqarah ayat 229 sebagai berikut :


Artinya: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu
boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf . (QS. AlBaqarah: 229)
e. Dari segi kesaksian, menurut mayoritas ulama fiqih bahwa
kesaksian adalah wajib dalam talak. Berdasarkan firman
Allah SWT dalam surat Ath-Thalaq ayat 2 sebagai berikut:


Artinya: Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang
adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan
kesaksian itu karena Allah. (QS. Ath-Thalaq: 2)
3. Macam-Macam Talak
Secara garis besar talak ditinjau dari boleh atau tidaknya
rujuk kembali, talak terbagi menjadi dua macam, yaitu:12
a. Talak bain adalah talak di mana seorang suami masih
mempunyai hak untuk menikah kembali kepada sang istri
yang ditalaknya.
b. Talak raji adalah talak dimana suami masih mempunyai hak
untuk merujuk kembali istrinya atau talak yang dijatuhkan
kepada istri yang sudah disetubuhi, terlepas dari penggantian
uang dan belum didahului dengan adanya talak sama sekali.
Ditinjau dari segi bentuk talak dan lafalnya, talak terbagi
menjadi dua macam, yaitu:

13

a. Talak sharih adalah talak dengan mempergunakan kata-kata


yang

terang-terangan

tegas

dan

jelas,

dapat

dipahami

12 Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, (Jakarta: Rajawali Pers,


2013), h. 230-231.
13 Ibid., h. 236.

sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan, tidak


mungkin dipahami lagi.
b. Talak kinayah adalah
mempergunakan

talak

kata-kata

yang

sindiran,

diucapkan
atau

dengan

samar-samar

bergantung dengan niat suami.


Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya talak itu, talak
terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

14

a. Talak sunni adalah talak yang terjadi sesuai ketentuan agama,


yaitu

seorang

suami

mentalak

istrinya

yang

telah

dicampurinya dengan sekali talak di masa bersih dan belum ia


sentuh kembali di masa bersihnya itu.
b. Talak bidi adalah talak yang dijatuhkan pada waktu dan
jumlah yang tidak tepat dan bertentangan dengan tuntunan
sunnah. Seperti mentalak isteri dalam keadaan haid, nifas,
setelah disetubuhi, mentalak dengan tiga sighat talak dalam
satu kalimat.
c. Talak la sunni wala bidi, yaitu talak yang tidak termasuk
kategori talak sunni dan tidak pula termasuk talak bidi.
Ditinjau dari segi waktu kejadiannya, talak terbagi menjadi
dua bagian, yaitu:15
a. Talak munajjaz adalah talak yang tidak digantungkan kepada
syarat dan tidak pula disandarkan kepada suatu masa yang
akan

datang,

tetapi

talak

yang

dijatuhkan

pada

saat

diucapkannya talak itu sendiri atau kontan.


b. Talak muallaq adalah talak yang jatuhnya disandarkan pada
suatu masa yang akan datang. Umpamanya, suami berkata
kepada istrinya, engkau tertalak besok atau engkau tertalak
yang akan datang.
Ditinjau dari segi cara suami menyampaikan talak terhadap
istrinya, talak ada beberapa macam, yaitu sebagai berikut: 16
14 Ibid., h. 237-238.
15 Ibid., h. 241.
16 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat,h.199-200.

a. Talak dengan ucapan, yaitu talak yang disampaikan oleh


suami

dengan

ucapan

di

hadapan

istrinya

dan

istri

mendengan secara langsung ucapan suaminya itu.


b. Talak dengan tulisan, yaitu talak yang disampaikan oleh suami
secara tertulis lalu disampaikan kepada istrinya, kemudian
istri membacanya dan memahami isi dan maksudnya.
c. Talak dengan isyarat, yaitu talak yang dilakukan dalam bentuk
isyarat oleh suami yang tuna wicara.
d. Talak dengan utusan, yaitu talak yang disampaikan oleh suami
kepada istrinya melalui perantara orang lain sebagai utusan
untuk menyampaikan maksud suami itu kepada istrinya.
4. Hukum Perceraian dalam Islam
Dalam Islam, perceraian menjadi semacam pilihan dan
alternatif

terakhir

yang

dilegalkan

namun

sangat

tidak

direkomendasikan. Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadis


yang diriwayatkan dari Abu Dawud yang mengatakan bahwa
perceraian adalah perkara yang dibolehkan namun paling
dibenci Allah.17
Selain hadis
menyiratkan

tidak

tersebut,

beberapa

ayat

direkomendasikannya

al-Quran

perceraian,

juga
Allah

berfirman:




Artinya: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga
laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.
jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan
perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-

17 Sunan Abu Dawud, sebagaimana dikutip Agus Khaeroni, Cerai Gugat


Akibat Disfungsi Pola Relasi dalam Keluarga (Analisis Putusan Perkara Nomor.
81/Pdt.G/2007/Pa.Srg), Skripsi pada Program Studi Akhwal Syakhshiyah,
Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,
Jakarta, 2011, h. 2.

isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi


Maha Mengenal. (Qs. An-Nisa: 35).18
Ayat ini menyarankan adanya mediasi yang sehat antara
suami dan istri yang tengah didera konflik dan atau keinginan
untuk bercerai.
Talak adakalanya wajib, kadang-kadang haram, mubah, dan
kadang-kadang

dihukumi

sunah.

Talak

wajib,

misalnya

perselisihan suami dan istri yang sudah tidak dapat didamaikan


lagi, dan kedua belah pihak memandang perceraian sebagai
jalan terbaik untuk menyelesaikan persengketaan mereka.
Termasuk talak wajib ialah talak dari orang orang yang
melakukan ila, terhadap istrinya setelah lewat waktu empat
bulan.19
Adapun talak yang diharamkan, yaitu talak yang tidak
diperlukan. Talak ini dihukumi haram karena merugikan suami
dan istri serta tidak ada manfaatnya. Talak mubah terjadi hanya
apabila

diperlukan,

pergaulannya

jelek,

misalnya
atau

karena

tidak

dapat

istri

sangat

diharapkan

jelek,
adanya

kebaikan dari pihak istri. Talak sunah yaitu talak yang dijatuhkan
kepada istri yang sudah keterlaluan dalam melanggar perintahperintah Allah, misalnya meninggalkan shalat atau kelakuannya
sudah tidak dapat diperbaiki lagi atau istri sudah tidak menjaga
kesopanan dirinya.20
Apabila

perselisihan

suami

isteri

itu

menimbulkan

permusuhan, menanam bibit kebencian antara keduanya atau


terhadap kaum kerabat mereka, sehingga tidak ada jalan lain,
sedangkan ikhtiar untuk perdamaian tidak dapat disambung lagi,
maka thalak (perceraian) itulah jalan satu-satunya yang menjadi
18QS. An-nisa (4): 35.
19 Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat,h. 250.
20 Ibid.

pemisah antara suami isteri, sebab menurut hukum asalnya


perceraian adalah makruh.21
Sungguh Islam telah menjadikan hak talak di tangan lakilaki. Hal tersebut dikarenakan berakhirnya kehidupan keluarga
dan keputusan keburukan keluarga haruslah berada dalam
kekuasaan

orang

yang

mampu

berpikir

dengan

mempertimbangkan dan ketentuan yang selamat. Tidak bagi


orang yang melampaui kasih sayangnya dan ia lupa akan akibatakibat serta lari dari para pengikutnya.
Perempuan dengan karakter yang berubah-ubah, kehalusan
yang

tidak

terpengaruh,

tetap

pada

terkadang

satu

keadaan.

pada

suatu

Ia

hari

dengan
ia

benci

cepat
dan

keesokannya ia mencintai. Jika kepemimpinan keluarga dijadikan


di tangannya maka sungguh guncangan yang besar akan
menimpa keluarga.
5. Hukum Perceraian dalam Undang-Undang Perkawinan di
Indonesia
Secara yuridis, perceraian telah diatur dalam pasal 38 huruf
b Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di
dalamnya dijelaskan bahwa putusnya suatu perkawinan dapat
terjadi karena adanya kematian, perceraian, dan putusan
pengadilan. Dalam undang-undang tersebut terlihat jelas bahwa
putusnya perkawinan karena perceraian adalah berbeda halnya
dengan putusnya perkawinan karena kematian.22
Sedangkan dalam pasal 39 Undang-undang perkawinan
dijelaskan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan
sidang Pengadilan. Pasal ini dimaksudkan untuk mengatur
tentang perkara talak pada perkawinan menurut Agama Islam.
Pada Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 digunakan istilah
cerai talak dan cerai gugat, hal ini dimaksudkan agar dapat
21Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo,
2011), h. 401.
22 Linda Azizah, Analisis Perceraian,h. 416.

10

membedakan pengertian yang dimaksud oleh huruf c pada


undang-undang tersebut.23
Dalam
menjatuhkan

talak

seorang

suami

harus

mengajukan perkaranya ke Pengadilan dengan alasan-alasan


yang menjadi sebab ingin menceraikan istrinya. Undang-Undang
No. 1 Tahun 1974 cenderung mempersulit terjadinya suatu
perceraian. Namun bila suatu perkara tidak dapat diselesaikan
dengan cara kekeluargaan oleh pihak-pihak yang berperkara,
maka jalan terakhir yang dapat ditempuh adalah dengan cara
meminta

bantuan

kepada

Pengadilan

Agama

dengan

mengajukan permohonan gugatan oleh istri kepada suaminya. 24


Apabila Pengadilan Agama telah memproses dan
memutuskan

untuk

menceraikan,

maka

akta

cerai

dapat

dikeluarkan oleh Pengadilan Agama. Perceraian semacam ini


disebut dengan cerai gugat, namun bila suami yang melaporkan
istrinya ke Pengadilan Agama dan perceraianpun diputuskan,
maka cerai semacam ini lazim disebut dengan cerai talak. 25
Pada Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974

yang

menentukan

bahwa

Perceraian

hanya

dapat

dilakukan di depan Sidang Pengadilan, setelah Pengadilan yang


bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua
belah pihak. Jadi jika dalam Sidang Pengadilan Hakim dapat
mendamaikan kedua belah pihak yang akan bercerai itu, maka
perceraian tidak jadi dilakukan. 26
Perceraian berdasarkan pasal 114 Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yaitu putusnya perkawinan yang disebabkan karena
23 Ibid.
24 Ibid.
25 Ibid.
26 Masyitah Mardatillah, Semangat Egalitarian Al-Quran dalam Otoritas
Menginisiasi dan Prosedur Perceraian, Jurnal Esensia, Vol. VI, No.I, April 2015, (1-14),
h. 13.

11

perceraian dapat terjadi karena talak, atau berdasarkan gugatan


perceraian, namun lebih lanjut dalam pasal 116 Kompilasi
Hukum Islam (KHI) dijelaskan beberapa alasan atau alasanalasan perceraian yang akan diajukan kepada pengadilan untuk
di proses dan ditindak lanjuti. Adapun alasan-alasan tersebut
adalah:27
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk,
pemadat,
b.

penjudi,

dan

sebagainya

yang

sukar

di

sembuhkan.
Salah pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun
berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang

sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.


c. Salah pihak mendapat hukuman penjara selama lima tahun
atau

hukuman

yang

lebih

berat

selama

perkawinan

berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiyayaan
berat yang membahayakan pihak lain.
e. Salah satu pihak mendapatkan cacat badan atau penyakit
dengan
f.

akibat

tidak

dapat

menjalankan

kewajibannya

sebagai suami-isteri.
Antara suami-isteri terjadi perselisihan dan pertengkaran
dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah

tangga.
g. Suami melanggar talik talak.
h. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya
ketidak rukunan dalam rumah tangga.28
C. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERCERAIAN
Guna mencapai tujuan perkawinan, suami dan istri harus
melakukan hak dan kewajibannya secara baik dan benar. Diantara
kewajiban suami adalah memberikan nafkah kepada istri, baik
berupa nafkah lahir maupun nafkah batin. Nafkah lahir antara lain
27Sheila Fakhria, Talak di Media Internet dalam Perspektif Hukum
Perkawinan Islam (Studi terhadap Situs www.darussalaf.or.id), Skripsi
pada Program Studi Akhwal Syakhshiyah, Fakultas Syariah dan Hukum,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014, h.11.
28 Ibid.

12

adalah berupa sandang, papan, dan pangan. Jika hak dan


kewajiban

tidak

dijalankan

dengan

baik

dan

benar

akan

menimbulkan permasalahan yang akan berujung pada perceraian.


Berbagai

penyebab perceraian

itu

di

antaranya karena

pasangan tidak memiliki keturunan; pernikahan dilakukan secara


jarak jauh (long distance); suami tidak menafkahi dan jarang
pulang; kekerasan dalam rumah tangga (KDRT); perekonomian keluarga belum mantap; kesenjangan ekonomi antara suami dengan
isteri, penghasilan isteri jauh lebih tinggi dibanding suami; dan
pihak perempuan yang tidak bersedia dimadu. Berbagai alasan
yang menjadi penyebab perceraian ini dapat dinilai bahwa para
pihak ada yang berpegang pada hal-hal yang dianggapnya prinsip,
namun terdapat juga hal yang sebenarnya bukan tergolong prinsip
untuk dapat dijadikan penyebab perceraian. 29
D. HUKUM PERCERAIAN VIA GADGET
Pada pasal 39 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang perkawinan dijelaskan Perceraian hanya dapat dilakukan
di depan sidang Pengadilan, setelah Pengadilan yang bersangkutan
berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. 30
Hal serupa juga disebutkan dalam Undang-Undang Peradilan
Agama Nomor 7 Tahun 1989 jo Nomor 3 Tahun 2006 Pasal 56:
Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan,
setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil
mendamaikan kedua belah pihak.31
Dalam hal ini adanya ketentuan bahwa perceraian harus
dilakukan di depan Sidang Pengadilan, semata-mata ditujukan
demi kepastian hukum dari perceraian itu sendiri. Seperti diketahui
bahwa putusan yang berasal dari lembaga peradilan mempunyai
29 Budi Prianto et.al, Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai
Sebab Perceraian, Jurnal Komunitas, Vol. V, No. 2 September 2013,
(208-218), h. 211.
30 Masyitah Mardatillah, Semangat Egalitarian,h. 13.
31 Sheila Fakhria, Talak di Media,h. 11.

13

kepastian hukum yang kuat dan bersifat mengikat para pihak yang
disebutkan dalam keputusan itu.
Lebih lanjut, kata pisah, thalak ataupun cerai dalam Islam
memang tidak diatur harus diucapkan di Pengadilan Agama, tetapi
perundang-undangan

mengharuskan

bahwa

setiap

perceraian

tersebut harus melalui peraturan yang berlaku yaitu dibuat oleh


Keputusan Menteri Agama. Hal ini dengan tujuan untuk menjamin
keselamatan antara kedua belah pihak, di mana selepas terjadinya
perceraian tidak menimbulkan permasalahan baru atau pertikaian
yang berkepanjangan.32
Seiring dengan perkembangan

teknologi,

dewasa

ini

perceraian semakin dinamik. Perceraian dilakukan oleh suami


dengan melalui tekhologi modern sehingga pengucapan cerai yang
diberikan oleh suami kepada isteri tidak secara langsung, tetapi
melalui perantara teknologi seperti menggunakan gadget.
Apabila suami menceraikan melalui SMS, email dan faksimili
maka dapat dianalogikan atau diqiyaskan dengan hukum talak bil
kitabah yaitu talak melalui tulisan surat sebab ada kesamaan
keduanya merupakan pesan cerai melalui teks yang bukan verbal
(lisan). Menurut ulama fiqh (fuqaha) sepakat bahwa hal itu efektif
jatuh talak (Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami Wa
Adillatuhu, VII/382).33
Dalam masalah cerai melalui SMS, email dan faksimili yang
sangat diperlukan

menurut para ulama, sebagaimana dalam

masalah cerai melalui surat, adalah akurasi kebenaran alamat atau


nomor

penerima

dan

pengirim

serta

konfirmasi

niat

atau

kesengajaan penjatuhan talak. Bila hal itu memang terbukti benar


melalui

pengecekan

nomor

telepon

seluler

keduanya

dan

konfirmasi langsung, maka jatuh talak satu. Hal itu sebenarnya


telah efektif meskipun tanpa melalui pengadilan sehingga segala
konsekuensinya harus dipenuhi secara syari. proses pengadilan
32 Linda Azizah, Analisis Perceraian,h. 416
33 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, (Jakarta: Gema Insani, 2003),
h.116.

14

hanya sebagai pengukuhan dan reconfirm (konfirmasi ulang) duduk


masalah di samping sebagai tuntutan administrasi dan kelaziman
hukum positif yang berlaku.34
Hukum perceraian melalui gadget, apabila suami menceraikan
melalui

telepon

berarti

langsung

secara

verbal

dengan

menggunakan kata-kata yang jelas maka dapat dianalogikan atau


diqiyaskan dengan hukum talak sharih, yaitu talak yang diucapkan
menggunakan kata-kata yang jelas dan tidak ragu-ragu lagi bahwa
yang dimaksud adalah memutuskan ikatan perkawinan, talak
sharih ini tidak perlu dengan niat, berarti apabila dikatakan oleh
suami,

berniat

perkataannya

atau

bukan

tidak

berniat

berupa

maka

hikayat.

jatuh

Namun

talak,

apabila

asal
suami

menggunakan kata-kata sindiran maka diqiyaskan dengan hukum


talak

kinayah,

yaitu.

talak

yang

diucapkan

dengan

mempergunakan sindiran bergantung dengan niat suami.


Berdasarkan hal tersebut maka melakukan thalak melalui
gadget dalam Islam adalah sah hukumnya selagi cukup rukun dan
syaratnya35,

sedangkan

dalam

sudut

pandang

Perundang-

undangan Perkawinan di Indonesia belum sah sebab perceraian


hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan sebagaimana
dalam pasal 39 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
tentang perkawinan.
Namun demikian, meskipun perceraian melalui gadget dapat
menjadi sarana atau media penjatuhan talak, namun sebenarnya
bila dapat dilakukan melalui media lain yang lebih arif dan
bijaksana tentunya perceraian melalui gadget tersebut sangat
tidak manusiawi, tidak etis, dan tidak beradap. Sebab, hal itu
sangat bertentangan dengan semangat dan prinsip dasar syariah
dalam

ikatan

pernikahan,

terlalu

menggampangkan

masalah

34 Ibid.
35 Raehana, Perceraian Menggunakan SMS, Email dan Faksimili di
Mahkamah Syariah Daerah Pontian Johor Malaysia, dalam Jurnal Al
Risalah, Vol. XII, No. 1 Juni 2012, (87-106), h. 104.

15

sebagai

bentuk

mabuk

teknologi

dan

sebagai

sikap

yang

bertentangan dengan proses dahulunya untuk dapat mencapai


jenjang pernikahan yang dilakukan dengan penuh saksama dan
disertai segala bentuk penghargaan dan penghormatan kepada
pihak wanita.
E. HUKUM AKIBAT PERCERAIAN
Perceraian pada dasarnya tidak dilarang apabila alasan-alasan
perceraian tersebut berdasarkan atas ketentuan-ketentuan yang
mengatur,

yaitu

berdasarkan

Undang-undang

Perkawinan.

Walaupun perceraian tidak dilarang, akan tetapi itu merupakan


sesuatu yang paling dibenci oleh Allah SWT. Akibat yang paling
pokok

dari

putusnya

hubungan

perkawinan

adalah

masalah

hubungan suami-isteri, pembagian harta bersama, nafkah dan


pemeliharaan bagi kelangsungan hidup anak-anak mereka. 36
Adanya perceraian membawa akibat terputusnya ikatan suami
isteri. Apabila dalam perkawinan telah dilahirkan anak, maka
perceraian juga membawa akibat hukum terhadap anak, yaitu
orang tua tidak dapat memelihara anak secara bersama-sama lagi.
Untuk itu pemeliharaan anak diserahkan kepada salah satu dari
orang tua. Berkaitan dengan masalah pemeliharaan anak setelah
perceraian, di dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
terdapat ketentuan yang mengatur hal ini. Adapun bunyi ketentuan
Pasal 41 tersebut adalah:37
1. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan
mendidik

anak-anaknya,

semata-mata

berdasarkan

kepentingan anak-anak, bilamana ada perselisihan mengenai


penguasaan anak-anak, pengadilan memberi putusan.

36 Nunung Rodliyah, Akibat Hukum Perceraian Berdasarkan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dalam Jurnal
Keadilan Progresif, Vol. V, No.1 Maret 2014, (121-136), h. 122.
37 Abdurrahman, sebagaimana dikutip oleh Nunung Rodliyah, Akibat Hukum
Perceraian Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan, dalam Jurnal Keadilan Progresif, Vol. V, No.1 Maret 2014, (121136), h. 122.

16

2. Biaya

pemeliharaan

dan

pendidikan

anak-anak

menjadi

tanggung jawab pihak bapak, kecuali dalam pelaksanaannya


pihak bapak tidak dapat melakukan kewajiban tersebut, maka
pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya
tersebut
3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk
memberikan biaya penghidupan dan atau menentukan suatu
kewajiban bagi bekas isteri.38
Akibat hukum dari adanya perceraian diantaranya adalah
masalah perwalian anak dan pembagian harta bersama. Dalam hal
ini yang paling penting diperhatikan dalam menentukan pemberian
pemeliharaan anak adalah kepentingan anak itu sendiri, dalam arti
akan dilihat siapakah yang lebih mampu menjamin kehidupan
anak, baik dari segi materi, pendidikan formal, pendidikan akhlak
dan kepentingan-kepentingan anak lainnya.
F. PENUTUP
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa perceraian merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh
suami-isteri apabila rumah tangga sudah tidak dapat diperbaiki
kembali. Namun perceraian yang diharapkan adalah perceraian
yang berakhir secara sempurna dan tidak ada pertikaian ataupun
persoalan baru dari proses sampai akhir perceraian.
Pada masa kini, bentuk perceraian semakin dinamik, pada
saat ini perceraian tersebut dibuat oleh suami dengan melalui
tekhologi modern sehingga pengucapan cerai yang diberikan oleh
suami kepada isteri tidak secara langsung, tetapi melalui perantara
teknologi seperti gadget.
Hukum perceraian melalui gadget, apabila suami menceraikan
melalui

telepon

berarti

langsung

secara

verbal

dengan

menggunakan kata-kata yang jelas maka dapat diqiyaskan dengan


hukum talak sharih, namun apabila suami menggunakan kata-kata
sindiran maka diqiyaskan dengan hukum talak kinayah dan apabila
suami

menceraikan melalui SMS, email dan faksimili maka

38 Ibid.

17

diqiyaskan dengan hukum talak bil kitabah. Berdasarkan hal


tersebut maka melakukan thalak melalui gadget dalam Islam
adalah sah sedangkan dalam sudut pandang Perundang-undangan
Perkawinan di Indonesia belum sah sebab perceraian hanya dapat
dilakukan di depan sidang Pengadilan..
Perceraian melalui gadget bukanlah sebuah perceraian yang
baik dan tidak memiliki adab perceraian dalam Islam. Jika ini
dilakukan, maka suami telah menjatuhkan martabat isterinya.
Padahal perceraian tersebut tidak dibenarkan untuk menjatuhkan
martabat isteri dan seharusnya diakhiri dengan baik sehingga hakhak perempuan ataupun isteri masih tetap terjadi.

18

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 2003.
Ali Imron, Memahami Konsep Perceraian dalam Hukum Keluarga,
dalam Jurnal Buana Gender, Vol.I, No. I,Januari-Juni 2016.
Ali Yusuf As-Subki, Fiqh Keluarga, Jakarta: Amzah 2010.
Budi Prianto et.al, Rendahnya Komitmen dalam Perkawinan sebagai
Sebab Perceraian, Jurnal Komunitas, Vol. V, No. 2 September
2013.
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Semarang:
CV.Toha Putra, 1989.
Linda Azizah, Analisis Perceraian dalam Kompilasi Hukum Islam,
dalam Jurnal Al-Adalah, Vol. X, No. 4 Juli 2012.
Masyitah Mardatillah, Semangat Egalitarian Al-Quran dalam Otoritas
Menginisiasi dan Prosedur Perceraian, Jurnal Esensia, Vol. VI,
No.I, April 2015.
Nurul Fadhlilah, Faktor-Faktor Penyebab Perceraian (Studi Terhadap
Perceraian Di Desa Batur Kec. Getasan Kab. Semarang),
Skripsi pada Program Studi Akhwal Syakhshiyah, Jurusan
Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga,
2013.
Nunung Rodliyah, Akibat Hukum Perceraian Berdasarkan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dalam
Jurnal Keadilan Progresif, Vol. V, No.1 Maret 2014.
Raehana, Perceraian Menggunakan SMS, Email dan Faksimili di
Mahkamah Syariah Daerah Pontian Johor Malaysia, dalam
Jurnal Al Risalah, Vol. XII, No. 1 Juni 2012.
Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual, Jakarta: Gema Insani, 2003.
Sheila Fakhria, Talak di Media Internet dalam Perspektif Hukum
Perkawinan Islam (Studi terhadap Situs www.darussalaf.or.id),
Skripsi pada Program Studi Akhwal Syakhshiyah, Fakultas
Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2014.
Slamet Abidin, Fiqih Munakahat II, Bandung : Pustaka Setia, 1999.
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo, 2011.
Sunan Abu Dawud, sebagaimana dikutip Agus Khaeroni, Cerai Gugat
Akibat Disfungsi Pola Relasi dalam Keluarga (Analisis Putusan
Perkara Nomor. 81/Pdt.G/2007/Pa.Srg), Skripsi pada Program
Studi Akhwal Syakhshiyah, Fakultas Syariah dan Hukum,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2011.
Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, Jakarta: Rajawali Pers,
2013.

19