Anda di halaman 1dari 7

MOSI : PRIVATISASI SELURUH PERUSAHAAN TAMBANG OLEH NEGARA

Argumen Kontra :

- Pihak yang tidak setuju dengan privatisasi berargumen bahwa apabila privatisasi tidak dilaksanakan, maka
kepemilikan BUMN tetap di tangan pemerintah. Dengan demikian segala keuntungan maupun kerugian
sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Mereka berargumentasi bahwa devisit anggaran tahun 2002 harus
ditutup dengan sumber lain, bukan dari hasil penjualan BUMN. Mereka memprediksi bahwa defisit APBN juga
akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Apabila BUMN dijual setiap tahun untuk menutup defisit APBN,
suatu ketika BUMN akan habis terjual dan defisit APBN pada tahun-tahun mendatang tetap akan terjadi.
- tidak bisa mengembalikan kondisiperekonomian sebagaimana yang diharapkan, malah sebaliknya,menjadikan
kekhawatiran banyak pihak terhadap nasib bangsa dan rakyat Indonesia karena akan "disetir" oleh pihaklain
akibat dikuasainya perusahaan-perusahaan yang termasuk kategori "identitas" sebuahbangsa oleh bangsa lain
(karena mayoritas pemilik saham baru perusahaan-perusahaan tersebut adalah perusahaan yang berasal dari
swasta).
- Berbagai alasan dikemukakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menolak privatisasi BUMN, antara lain (1)
privatisasi dianggap merugikan negara, (2) privatisasi kepada pihak asing dianggap tidak nasionalis, (3) belum
adanya bukti tentang manfaat yang diperoleh dari privatisasi.
-Dalam UU BUMN ini pula mendefinisikan privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun
seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat
bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat. Dari definisi tersebut diatas
dapat dilihat bahwa titik berat dari privatisasi menurut hemat undang-undang adalah sektor permodalan.
Sehingga bila titik tolak dari privatisasi hanya sektor permodalan saja tanpa melakukan privatisasi terhadap
manajemennya maka privatisasi tersebut tidak akan sampai pada tujuannya.
- Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (persero)
dalam privatisasi manajemen bagi persero yang dikelolah oleh swasta, dan hal ini bertentangan dengan hakikat
dari privatisasi itu sesungguhnya.Pasal-Pasalnya hanya mengatur mekanisme privatisasi mengenai sektor
permodalan saja, tidak mengatur sektor manajemen.
- Selain dari permasalah permodalan sebagaimana yang diutarakan diatas, definisi dari privatisasi sebagaimana
yang dimaksud oleh UU BUMN memungkinkan penjualan seluruh sahamnya kepada pihak swasta sehingga
pertanyaanya, bila dijual seluruh sahamnya, maka tidak lagi merupakan BUMN, akibat hukumnya bahwa
negara tidak lagi menguasai cabang-cabang penting bagai negara sebagaimana yang menjadi pikiran dasar dari
timbulnya BUMN yang diatur dalam Pasal 33 (ayat 2) UUD 1945 sehingga memungkinkan swasta melakukan
penguasaan atas cabang penting yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri atau kelompok atau setidaktidaknya menciptakan mekanisme pasar dalam pengelolaan cabang tersebut yang identik pada paham
liberalisme.
- Dalam praktek, penerapan privatisasi menurut beberapa kalangan masih jauh harapan dan sasaran. Privatisasi
yang dilakukan oleh pemerintah saat ini dinilai kalangan tidak menerapkan prinsip-prinsip yang ada baik
transparansi, akuntabilitas, pertanggung jawaban sebagaimana yang dimaksud oleh undang-undang baik pada
proses pra privatisasi, maupun pasca privatisasi, kesediaan informasi yang diberikan pada publik dirasa sangat
kurang.
- Permasalahan pokok yang ada dalam privatisasi menurut kalangan terletak pada pengalihan aset BUMN yang
beralih pada pihak asing. Dengan adanya privatisasi, memungkinkan aset-aset penting yang dimiliki oleh
Indonesia berpindah keluar negeri, seperti halnya salah satu pertambangan kita dikuasai oleh pihak asing. Hal
tersebut dapat menyebabkan cabang-cabang penting kita akan dikuasai oleh asing dan bangsa ini akan kembali
terjajah secara ekonomi oleh pihak asing, dan tersebut tentu saja bertentangan dengan konstitusi yang kita
sepakati bersama.

- Pengaturan mengenai privatisasi memungkinkan pihak asing untuk menguasai BUMN karena dalam UU
BUMN memungkinkan penjualan seluruh aset ke pada swasta, namun tidak membatasi untuk pihak luarnegeri,
apalagi tatacara privatisasi baik secara go public, maupun direct pleacement membuka peluang bahwa BUMN
dikuasai oleh pihak asing dan ini akan berpotensi pindahnya cabang-cabang penting kita dikuasai oleh orang
asing atau pihak luar negeri (capital fly), dan ini merupakan suatu bentuk penjajahan ekonomi model baru,
sehingga perlu adanya pengaturan secara ketat di level undang-undang.
- Dalam penerapan privatisasi, seringkali tidak mengindahkan prinsipprinsip yang ada dalam UU BUMN seperti transparansi, kemandirian,
akuntabilitas, pertanggungjawaban, dan kewajaran. Seperti misalnya
privatisasi PT. Semen Padang terhadap Cemex, yang mana PT.Semen
Padang tidak transparan dalam melakukan privatisasinya dan ketika
terdapat permasalahan yang mana penduduk setempat tidak mengizinkan
penjualan saham tersebut, pihak BUMN, tidak bertanggungjawab atas
permasalahan tersebut, sehingga permasalahan tersebut tidak
terselesaikan dengan baik

Argumen Pro :
-karena banyaknya permasalahan dan kendala-kendala dilapangan, menyebabkan keberadaan BUMN terkadang
lebih dianggap sebagai beban terutama dalam hubungannya dengan defisit APBN. Kendala yang dihadapi
BUMN tidak terlepas dari intervensi berlebih dari pemerintah yang tidak memiliki kompetensi utama dalam
berbisnis sehingga terjadi ketidakprofesionalan dalam pengelolaan BUMN. Sejumlah penelitian telah dilakukan
untuk meneliti permasalahan dalam pengelolaan BUMN (penelitian Wicaksono (2009) pada BUMN di
Indonesia).
- Pengertian pengertian privatisasi sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN menyebutkan
bahwa: privatisasi adalah penjualan saham Persero (Perusahaan Perseroan),baik sebagian maupun seluruhnya,
kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara
dan masyarakat, serta memperluas sahamoleh masyarakat.
- Privatisasi sebenarnya bukanlah menjual asset negara, namun memberi kesegaran bagi perusahaan.
Perusahaan dapat berkembang dengan bertambahnya modal. Namun banyak orang yang menilai bahwa
privatisasi membawa dampak yang kurang baik dari segi kepemilikannya. Dengan penguasaan saham yang
mayoritas dimiliki oleh perusahaan asing seolah-olah memberi kesan bahwa kita akan diatur atau disetir oleh

orang asing. Namun hal itu tidak perlu dikhawatirkan bila pemerintah tidak menjual sahamnya lebih besar dari
40 %. Hal itu untuk mengatasi peranan kepada investor yang sebagian besar memiliki sahamnya.
- Dalam jangka panjang, keberhasilan privatisasi BUMN dapat mendukung sumber dana APBN. privatisasi
diharapkan menjadi katalis peningkatan kinerja perekonomian sektor riil.
- Dalam kurun waktu 50 tahun semenjak BUMN dibentuk, BUMN secara umum belum menunjukkan kinerja
yang menggembirakan. Perolehan laba yang dihasilkan masih sangat rendah. Sebagai contoh, pada tahun 2000
BUMN memiliki total asset sebesar Rp. 861,52 trilyun hanya mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp.
13,34 Trilyun, atau dengan tingkat Return on Assets (ROA) sebesar 1,55%. Tabel berikut menunjukkan bahwa
tingkat ROA BUMN Indonesia pada lima tahun terakhir hanya berkisar antara 1,55% sampai dengan 3,25%.
Latar belakang : Seiring dengan bertambahnya kebutuhan masyarakat dan persaingan yang ketat yang berasal
dari dalam dan luar negeri. BUMN dituntut agar dapat bersaing dan meningkatkan kualitas pelayanan dan
produksi. Dalam upaya meningkatkan kualitas dan daya saing sebagaimana yang dimaksud, BUMN perlu
meningkatkan modal dan manajemennya. Atas dasar pemikiran tersebut, maka BUMN dianggap perlu
mengikut sertakan swasta didalamnya baik guna meningkatkan manajemen dan permodalannya, belum lagi
beban pemerintah untuk membiayai atau mengaangarkan BUMN tersebut sangat besar sehingga UU BUMN
menganggap perlu adanya privatisasi. Secara teori manfaat dari privatisasi BUMN ini adalah:
1. BUMN akan menjadi lebih transparan, sehingga dapat mengurangi praktek KKN.
2. Manajemen BUMN menjadi lebih independen, termasuk bebas dari intervensi birokrasi.
3. BUMN akan memperoleh akses pemasaran ke pasar global, selain pasar domestik.
4. BUMN akan memperoleh modal ekuitas baru berupa fresh money sehingga pengembangan usaha menjadi
lebih cepat.
5. BUMN akan memperoleh transfer of technology, terutama teknologi proses produksi.
6. Terjadi transformasi corporate culture dari budaya birokratis yang lamban, menjadi budaya korporasi yang
lincah.
7. Mengurangi defisit APBN, karena dana yang masuk sebagian untuk menambah kas APBN.
8. BUMN akan mengalami peningkatan kinerja operasional / keuangan, karena pengelolaan perusahaan lebih
efisien.
------ Inggris sebagai pelopor dari privatisasi, dalam melakukan kebijakannya tidak hanya melakukan
privatasasi semata-mata hanya dari sektor permodalan saja, namun juga sektor manajerial, karena mengingat
pada waktu itu manjerial yang dikelolah oleh negara sangatlah buruk, baik dengan adanya birokrasi yang
berkepanjangan, etos kerja mereka yang buruk, sehingga dengan adanya privatisasi ini manjerial tersebut,
menjadikan BUMN negara Inggris menjadi lebih baik dan Inggris tumbuh menjadi negara terkaya ke-2 di
dunia, bila dibandingakan dengan manajerialnya negara kita yang lebih buruk, seharusnya harus lebih
diperhatikan, apalagi negara Inggris memiliki paham liberal, sedangakan Indonesia berpaham Pancasila yang
lebih mengedepankan musyawarah mufakat guna menciptakan keadilan sosial.

KINERJA BUMN DILIHAT DARI PEROLEHAN


LABA (juta rupiah)
TAHUN TOTAL ASSET
LABA
BERSIH ROA
1997 425,971,407 7,310,092 1.72%
1998 437,756,394 14,226,201 3.25%

1999 607,022,845 14,271,101 2.35%


2000 *) 861,520,494 13,336,582 1.55%
2001 **) 845,186,151 20,186,469 2.39
Sumber: Laporan Perkembangan Kinerja BUMN Dirjen Pembinaan BUMN,
2001
Data tahun 2000 menunjukkan bahwa hanya 78,10% (107 perusahaan) BUMN yang beroperasi dalam keadaan
sehat. Sedangkan sisanya, 16,06% (22 perusahaan) dalam kondisi kurang sehat, dan 5,84% (8 perusahaan)
dalam keadaan tidak sehat.Agar dapat menjalankan fungsinya, BUMN yang ada dalam kondisi kurang sehat
dan tidak sehat perlu dibantu dalam bentuk penyertaan modal. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah
untuk menutup defisit anggaran tersebut adalah melakukan privatisasi BUMN.
- Dalam menjalankan tugasnya, manajemen BUMN dituntut untuk lebih transparan serta mampu menerapkan
prinsip-prinsip good corporate governance. Manajemen BUMN harus sadar bahwa setelah privatisasi,
pengawasan bukan hanya dari pihak pemerintah saja, tetapi juga dari investor yang menanamkan modalnya ke
BUMN tersebut.
- Pada tahun ini dan mendatang, BUMN akan menghadapi persaingan global, di mana batas wilayah suatu
negara dapat dengan mudah dimasuki oleh produsen-produsen asing untuk menjual produk-produk dengan
kualitas yang baik dan dengan harga yang sangat kompetitif. Oleh karenanya, BUMN harus meningkatkan
kualitas produknya serta memperluas jaringan pasar, bukan hanya pada tingkat nasional tetapi juga di pasar
global. Kebijakan privatisasi ini dapat mendorong BUMN untuk mengembangkan jangkauan pasarnya di pasar
luar negeri.
- Privatisasi dapat memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru kepada BUMN, sehingga BUMN
akan mampu memberikan sarana kepada para karyawan untuk terus melakukan pembelajaran dan terus
mengembangkan diri, sehingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas, dengan harga yang kompetitif.
- Masuknya investor baru dari proses privatisasi dapat menimbulkan suasana kerja baru yang lebih produktif,
dengan visi, misi, dan strategi yang baru. Perubahan suasana kerja ini diharapkan menjadi pemicu adanya
perubahan budaya kerja, perubahan proses bisnis internal yang lebih efisien, dengan memanfaatkan ilmu
pengetahuan dan teknologi baru yang diadopsi BUMN setelah proses privatisasi.
- Dalam upaya menghindari mekanisme pasar yang identik pada paham liberalisme, UU BUMN dan peraturan
pemerintahnya mencoba membuat suatu pakem atau aturan main agar pelaksanaan privatisasi ini harus sesuai
dengan sistem perekonomian Pancasila yang dianut oleh Indonesia.
- Sebagai suatu perusahaan tentu BUMN harus melaksanakan prinsip prinsip tata kelola perusahaan yang baik
(good corporate governance) seperti prinsip profesionalisme, efisiensi, transparan, kemandirian, akuntabilitas,
pertanggungjawaban dan kewajaran. Dalam kenyataannya prinsip-prinsip dimaksud belum dilaksanakan
dengan semestinya selama ini di Indonesia oleh BUMN yang ada. Hal tersebutdiakui dalam penjelasan Umum
Undang undang BUMN yang mengatakan pengalaman membuktikan bahwa keterpurukan ekonomi diberbagai
Negara termasuk Indonesia, antara lain disebabkan perusahaan- perusahaan di Negara tersebut tidak
menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) secara konsisten.
(Man. S. Sastrawidjadja, Eksistensi BUMN sebagai Perusahaan, Pembangunan Hukum Bisnis dalam
Kerangka Sistem Hukum Nasional, Fakutas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, hlm 35.)
- Pengaturan dan Mekanisme Privatisasi dalam Hukum Positif
Sebagaimana yang telah disinggung diatas bahwa Indonesia saat ini telah memiliki pengaturan mengenai UU
BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan

(persero) (selanjutnya disebut PP 33) sebagai peraturan pelaksana UU BUMN. Adapun maksud dan tujuan dari
privatisasi tersebut dapat dilihat dari Pasal 74 ayat 1 dan 2 UU BUMN yaitu:
(1) Privatisasi dilakukan dengan maksud untuk:
a. memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero;
b. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan;
c. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang
baik/kuat;
d. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif;
e. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global;
f. menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar.
(2) Privatisasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja dan
nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat
dalam pemilikan saham Persero.
-Dari rumusan maksud dan tujuan dari BUMN, sebagaimana yang diuraikan dalam Pasal 74 ayat 1 dan 2
tersebut diatas, dapat dilihat bahwa dengan adanya privatisasinya tujuan utamanya adalah meningkatkan
kualitas dari BUMN itu sendiri dengan cara memberi ruang bagi masyarakat untuk memiliki, memperbaiki,
meningkatkan kualitas BUMN tersebut. Dalam penjelasan Pasal tersebut disebutkan bahwa dengan
dilakukannya privatisasi diharapkan akan terjadi perubahan atas budaya perusahaan sebagai akibat dari
masuknya pemegang saham baru, baik melalui penawaran umum (go public) ataupun melalui penyertaan
langsung (direct placement). Perusahaan akan dihadapkan pada kewajiban pemenuhan persyaratan-persyaratan
keterbukaan (disclosure) yang merupakan persyaratan utama dari suatu proses go public, atau adanya sasaransasaran perusahaan yang harus dicapai sebagai akibat masuknya pemegang saham baru. Budaya perusahaan
yang berubah tersebut akan dapat mendorong peningkatan kinerja perusahaan yang selanjutnya akan dapat
mempertinggi daya saing perusahaan dalam berkompetisi dengan pesaing-pesaing, baik nasional, regional,
bahkan global sehingga pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap
perekonomian nasional dalam bentuk barang dan jasa yang semakin berkualitas dan terjangkau harganya, serta
penerimaan negara dalam bentuk pajak yang akan semakin besar pula. Dengan demikian maksud dan tujuan
privatisasi pada dasarnya adalah untuk meningkatkan peran Persero dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
umum dengan memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero, serta untuk menunjang stabilitas
perekonomian nasional.
----- Kriteria di atas akan dapat terpenuhi apabila investor baru (1) merupakan perusahaan yang bergerak di
bidang usaha yang sama dengan BUMN yang akan diprivatisasi, (2) memiliki reputasi yang baik di tingkat
internasional, (3) memiliki jaringan pemasaran yang baik di tingkat internasional, (4) telah menerapkan
prinsip-prinsip good corporate governance dalam perusahaannya, (5) telah memiliki budaya kerja yang baik
dalam perusahaannya, serta (6) memiliki keunggulan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan
kriteria investor seperti ini dapat diharapkan BUMN setelah privatisasi akan mampu mengembangkan diri serta
memperluas pasar sehingga unggul dalam persaingan di pasar global, melalui proses pembelajaran dan
pertumbuhan, peningkatan proses bisnis internal, peningkatan kepuasan pelanggan, serta memperkuat keuangan
BUMN.
-Hal yang paling mendesak dalam upaya membenahi BUMN menurut hemat kami terletak pada manajerialnya,
dalam UU BUMN maupun dalam PP 33, tidak mengatur secara detail atau lengkap mengenai manajerial dari
BUMN yang akan diprivatisasi. Pada UU BUMN dan PP 33, menitik beratkan lebih ke persoalan pengalihan
modal dalam bentuk saham kepada pihak swasta, tetapi bagaimana pengelolaan pihak swasta terhadap BUMN
tersebut tidak diatur, sehingga hal tersebut tidak ada aturan main yang jelas mengenai pengelolaan manajerial
sebelum dan sesudah terjadi privatisasi. Dengan tidak adanya pengaturan yang di lengkap mengenai manajerial
BUMN tersebut maka hal tersebut tidak akan membawa dampak positif bagi BUMN.

- Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 ayat (1), maka sistem ekonomi yang dianut Indonesia adalah sistem
ekonomi yang berdasar atas asas kekeluargaan. Konsep sistem ekonomi yang demikian di Indonesia disebut
sebagai konsep Demokrasi Ekonomi. Mubyarto menyebutkan bahwa dalam konsep demokrasi ekonomi, sistem
ekonomi tidak diatur oleh negara melalui perencanaan sentral, akan tetapi dilaksanakan oleh, dari, dan untuk
rakyat. Demokrasi ekonomi mengutamakan terwujudnya kemakmuran masyarakat (bersama) bukan
kemakmuran individu-individu. Demokrasi ekonomi mengartikan masyarakat harus ikut dalam seluruh proses
produksi dan turut menikmati hasil-hasil produksi yang dijalankan di Indonesia.

- Keuntungan Privatisasi Bagi BUMN

1. Dari segi ekonomi mikro meningkatkan produktivitas, profitabilitas, efisiensi dan pengurangan utang
perusahaan BUMN. Privatisasi juga diharapkan dapat meningkatkan good corporate governance (GCG),
masuknya sumber keuangan baru ke perusahaan, dan pengembangan pasar, serta terjadinya perubahan budaya
kerja yang mengarah kepada peningkatan kinerja BUMN. Dari sisi ekonomi makro, tujuan privatisasi
berorientasi pada ekonomi fiskal, yaitu untuk menambah anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)
pemerintah, perbaikan iklim investasi, dan pengembangan pasar modal.
-Penentuan target restrukturisasi yang jelas dapat meningkatkan kinerja pelaksanaan
privatisasi. Strategi seperti ini lebih mengacu pada pandangan bahwa privatisasi untuk
pengembangan perusahaan BUMN dari pada sebagai sumber dana APBN. Dalam jangka panjang, keberhasilan
program privatisasi dapat mendukung sumber dana APBN. Pencapaian
tujuan ekonomi makro dalam privatisasi ditentukan oleh target menghasilkan dana APBN.
Fleksibilitas menerima pemasukan dari sumber alternatif BUMN seperti pajak dan dividen
dapat mendukung optimalisasi program privatisasi. Dalam jangka yang lebih panjang,
privatisasi diharapkan menjadi katalis peningkatan kinerja perekonomian sektor riil.
Demikian juga lembaga legislatif yang memegang fungsi kontrol dapat mendukung kinerja
program privatisasi sebagai motivator peningkatan kinerja perekonomian nasional. Tingkat
divestasi dapat ditingkatkan untuk membawa perusahaan BUMN lebih dekat kepada
mekanisme pasar. Program privatisasi diharapkan dapat meningkatkan perekonomian melalui
peningkatan kinerja internal perusahaan BUMN.