Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan zaman serba digital dan serba instan tidak terasa membentuk karakter
seseorang menjadi manusia yang malas dan serba ingin praktis, belum dari teknologi
kehadiran smartphone yang bisa digunakan untuk semua kegiatan manusia menambah
manusia menjadi hidup dalam dunia maya, tanpa banyak memperhatikan dunia nyata
disekelilingnya. Lebih luas, tantangan

perkembangan

system politik yang berkembang saat ini

yang begitu deras intervensi dari kepentingan Negara lain, sehingga muncul gerakangerakan radikal internasional, seperti teroris, bahkan banyak letupan letupan gerakan di
Indonesia yang menginginkan NKRI ini terpecah-pecah.
Perkembangan terakhir kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini sangat
memilukan dan memprihatinkan, yang sedang hangat saat ini adalah mengenai dugaan
penistaan agama yang dilakukan sesorang, selain itu banyak terjadi kekacauan, kerusuhan
antar kelompok agama, kelompok masyarakat, antar pelajar, demonstrasi mahasiswa di luar
toleransi atau sudah menjurus anarkisme bahkan kriminalitas. Aspirasi yang mereka bawa
dalam tuntutan demontrasi tidak murni lagi, mudah dihasut oleh orang atau kelompok yang
tidak bertanggungjawab demi kepentingan orang atau kelompok tersebut, hal itu salah satu
sebabnya kurangnya pengetahuan, pemahaman mereka para generasi muda, atau para
pemuda harapan bangsa terhadap makna Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tunggal
Ika, serta kurangnya pemahaman mereka terhadap nilai-nilai persatuan, kurang mewarisi
semangat perjuangan, pudarnya rasa nasionalisme, maupun rasa patriotisme serta hilangnya
rasa cinta terhadap tanah air, bangsa, dan Negara.
Semua fenomena negatif yang selama ini kita lihat dan rasakan harus diakhiri dengan
membangkitkan semangat, pengetahuan kita mengenai pentingnya empat pilar kehidupan
berbangsa dan bernegara sebab dengan adanya sosialisasi dari MPR RI kita mendapat
pengetahuan sebagai bekal kedepan dalam mendampingi dan mengisi kemerdekaan serta
mempertahankan NKRI ini.

Revitalisasi, reaktualisasi dan transformasi nilai-nilai yang terkandung dalam 4 pilar


kehidupan berbangsa dan bernegara (Pancasila sebagai dasar negara, falsafah dan
pandangan hidup bangsa ; UUD Negara Republik Indonesia Tahun. 1945 sebagai landasan
kostitusional dalam bernegara ; NKRI sebagai konsensus yang harus dijaga keutuhannya ;
Bhineka Tunggal Ika sebagai semangat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,
harus senantiasa kita lakukan meskipun kita memiliki berbagai perbedaan).
Bung Karno pernah menyatakan, arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa
semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tidak memilikinya
atau jika konsepsi dan cita-cita menjadi kabur dan usang, bangsa itu berada dalam keadaan
yang berbahaya,
Maka melalui reformating dan refresing 4 pilar tersebut kita diingatkan dan
ditumbuhkan tentang cita-cita luhur para pendahulu kita, tentang konsepsi pendirian negara
kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang
harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai 4 pilar yang telah diwariskan oleh para
pendahulu kita.
Akhirnya, semoga juga partai politik lebih bisa berperan dalam mengaktualisasikan
nilai-nilai yang terkandung dalam 4 pilar kebangsaan ini, sehingga terdapat sinergi dalm
kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya dengan mengesampingkan perannya yang
terkesan selama ini hanya sibuk dengan orientasi kekuasaan, pragmatis, oportunis.

1.2 Permasalahan
1.
2.
3.
4.

Apakah yang di maksud empat pilar kebangsaan ?


Apa saja yang termasuk dalam empat pilar kebangsaan ?
Apa manfaat dari empat pilar kebangsan ?
Bagaimana wujud sikap yang mencerminkan empat pilar kebangsaan ?

1.3 Tujuan Pembahasan


1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui arti dari empat pilar kebangsaan


Untuk mengetahui macam-macam pilar kebangsaan
Untuk mengetahui manfaat dari empat pilar kebangsaan
Untuk mewujudkan sikap yang mencermikan empat pilar kebangsaan

1.4 Manfaat Pembahasan


2

Dalam makalah ini memiliki manfaat baik langsung maupun tidak langsung yang
dapat dirasakan. Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang dapat kami jabarkan
sebagai berikut :
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa menjadi lebih tahu dan lebih mengerti betapa pentingnya keempat pilar
tersebut bagi bangsa Indonesia dan agar mahasiswa tetap menjaga keseimbangan
bangsa ini dengan berpegang teguh dari keempat pilar tersebut.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat menjadi tahu apa saja pilar pilar kebangsaan yang dimiliki
bangsa Indonesia secara lebih luas dan masyarakat menjadi sadar untuk menjaga
bangsa ini agar tetap kokoh.

BAB II
PEMBAHASAN
3

2.1 Pengertian Pilar


Pilar adalah tiang penyangga suatu bangunan. Pilar memiliki peran yang sangat sentral
dan menentukan, karena bila pilar ini tidak kokoh atau rapuh akan berakibat robohnya
bangunan yang disangganya. Dalam bahasa Jawa tiang penyangga bangunan disebut
soko, bahkan bagi rumah joglo, yakni rumah yang atapnya menjulang tinggi terdapat
empat soko di tengah bangunan yang disebut soko guru. Soko guru ini sangat menentukan
kokoh dan kuatnya bangunan, terdiri atas batang kayu besar dan jenis kayu yang dapat
dipertanggung jawabkan. Dengan demikian orang yang bertempat di rumah tersebut akan
merasa nyaman, aman dan selamat dari berbagai bencana dan gangguan.
Demikian pula halnya dengan bangunan negara-bangsa, membutuhkan pilar atau yang
merupakan tiang penyangga yang kokoh agar rakyat yang mendiami akan merasa nyaman,
aman, tenteram dan sejahtera, terhindar dari segala macam gangguan dan bencana. Pilar
bagi suatu negara-bangsa berupa sistem keyakinan atau belief system, atau philosophische
grondslag, yang berisi konsep, prinsip dan nilai yang dianut oleh rakyat negara-bangsa
yang bersangkutan yang diyakini memiliki kekuatan untuk dipergunakan sebagai landasan
dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Seperti halnya soko guru, belief system juga harus memenuhi syarat agar dapat menjaga
kokohnya bangunan sehingga mampu bertahan serta menangkal segala macam ancaman
dan gangguan. Pilar yang berupa belief system suatu negara-bangsa harus menjamin kokoh
berdirinya negara-bangsa, menjamin terwujudnya ketertiban, keamanan, dan kenyamanan,
serta mampu mengantar terwujudnya kesejahteraan dan keadilan yang menjadi dambaan
warga bangsa.
Pilar yang dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun
program kerja dan dalam melaksanakan kegiatan. Pilar Negara Kesatuan Republik
Indonesia dimanfaatkan sebagai landasan atau penyanggah dalam menyusun program kerja
dan dalam melaksanakan setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa 4 pilar kebangsaan adalah 4 penyangga yang menjadi panutan
dalam keutuhan bangsa indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar, Bhineka
Tunggal Ika, NKRI

2.2 Macam Macam Pilar


a. Pancasila
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Pancasila berasal dari bahasa
sanskerta , panca artinya 5 (lima) dan sila berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan
rumusan atau pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selain bersifat yuridis formal yang seluruh peraturan perundang-undangan berlandaskan
Pancasila (sering disebut sumber dari segala sumber hukum), Pancasila juga bersifat
filosofis. Pancasila merupakan dasar filosofis dan perilaku kehidupan. Artinya, Pancasila
merupakan falsafah negara dan pandangan bagi bangsa Indonesia dalam menjalankan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai cita-cita nasional.
Sebagai dasar negara dan pandangan hidup, Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang
harus dihayati dan dipedomani oleh warga negara Indonesia dalam hidup dan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Lebih dari itu, nilai-nilai Pancasila sepatutnya
menjadi karakter masyarakat Indonesia sehingga Pancasila menjadi identitas atau jati diri
bangsa Indonesia.
Oleh karena kedudukan dan fungsinya yang sangat fundamental bagi negara dan bangsa
Indonesia, maka dalam pembangunan karakter bangsa, Pancasila merupakan landasan
utama. Sebagai landasan, Pancasila merupakan rujukan, acuan, dan sekaligus tujuan dalam
pembangunan karakter bangsa. Dalam konteks yang bersifat subtansial, pembangunan
karakter bangsa memiliki makna membangun manusia dan bangsa Indonesia yang
berkarakter Pancasila. Berkarakter Pancasila berarti manusia dan bangsa Indonesia
memiliki ciri dan watak religius, humanis, nasionalis, demokratis, dan mengutamakan
kesejahteraan rakyat. Nilai-nilai fundamental ini menjadi sumber nilai luhur yang
dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa.
Salah satu tokoh PDIP yaitu Taufiq Kiemas mengungkapkan bahwa 4 Pilar, terutama
Pancasila, merupakan rumusan cita-cita besar bangsa Indonesia. "Pancasila adalah
dorongan hati manusia Indonesia ke dalam dimensi sosial-politik. Dalam Pancasila, bangsa
Indonesia melihat sebagaimana ia mencita-citakannya," kata Taufiq. Dan zberpendapat
bahwa Pancasila berfungsi sebagai pedoman untuk melihat peristiwa sosial-politik,
ekonomi dan kebudayaan yang terjadi di tengah masyarakat dari berbagai dimensi.

Menurut Taufiq, mayoritas warga negara Indonesia adalah moderat-toleran dan hanya
sebagian kecil yang prilakunya ekstrem karena adanya pembiaran oleh negara.
Lima sendi utama penyusuan pancasila adalah :
1.
2.
3.
4.

Ketuhanan yang maha esa,


Kemanusian yang adil dan beadab,
Persatuan indonesia,
Kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratn

perwakilan
5. Dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila :
a. Kedamaian
Kedamaian adalah situasi yang menggambarkan tidak adanya konflik dan kekerasan.
Segala unsur yang terlibat dalam suatu proses sosial berlangsung secara selaras, serasi dan
seimbang, sehingga menimbulkan keteraturan, ketertiban dan ketenteraman. Segala
kebutuhan yang diperlukan manusia dapat terpenuhi, sehingga tidak terjadi perebutan
kepentingan. Hal ini akan terwujud bila segala unsur yang terlibat dalam kegiatan bersama
mampu mengendalikan diri.
b. Keimanan
Keimanan adalah suatu sikap yang menggambarkan keyakinan akan adanya kekuatan
transendental yang disebut Tuhan Yang Maha Esa. Dengan keimanan manusia yakin bahwa
Tuhan menciptakan dan mengatur alam semesta. Apapun yang terjadi di dunia adalah atas
kehendak-Nya, dan manusia wajib untuk menerima dengan keikhlasan.
c. Ketaqwaan
Ketaqwaan adalah suatu sikap berserah diri secara ikhlas dan rela diatur oleh Tuhan
Yang Maha Esa, bersedia tunduk dan mematuhi segala perintah-Nya serta menjauhi segala
larangan-Nya.
d. Keadilan
Keadilan adalah suatu sikap yang mampu menempatkan makhluk dengan segala
permasalahannya sesuai dengan hak dan kewajiban serta harkat dan martabatnya secara
proporsional diselaraskan dengan peran fungsi dan kedudukkannya.
e. Kesetaraan
6

Kesetaraan adalah suatu sikap yang mampu menempatkan kedudukan manusia tanpa
membedakan jender, suku, ras, golongan, agama, adat dan budaya dan lain-lain. Setiap
orang diperlakukan sama di hadapan hukum dan memperoleh kesempatan yang sama
dalam segenap bidang kehidupan sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.
f. Keselarasan
Keselarasan adalah keadaan yang menggambarkan keteraturan, ketertiban dan ketaatan
karena setiap makhluk melaksanakan peran dan fungsinya secara tepat dan proporsional,
sehingga timbul suasana harmoni, tenteram dan damai. Ibarat suatu orkestra, setiap pemain
berpegang pada partitur yang tersedia, dan setiap pemain instrumen melaksanakan secara
taat dan tepat, sehingga terasa suasana nikmat dan damai.
g. Keberadaban
Keberadaban adalah keadaan yang menggambarkan setiap komponen dalam kehidupan
bersama berpegang teguh pada ketentuan yang mencerminkan nilai luhur budaya bangsa.
Beradab menurut bangsa Indonesia adalah apabila nilai yang terkandung dalam Pancasila
direalisasikan sebagai acuan pola fikir dan pola tindak.
h. Persatuan dan Kesatuan
Persatuan dan kesatuan adalah keadaan yang menggambarkan masyarakat majemuk
bangsa Indonesia yang terdiri atas beranekaragamnya komponen namun mampu
membentuk suatu kesatuan yang utuh. Setiap komponen dihormati dan menjadi bagian
integral dalam satu sistem kesatuan negara-bangsa Indonesia.
i. Mufakat
Mufakat adalah suatu sikap terbuka untuk menghasilkan kesepakatan bersama secara
musyawarah. Keputusan sebagai hasil mufakat secara musyawarah harus dipegang teguh
dan wajib dipatuhi dalam kehidupan bersama.

j. Kebijaksanaan
Kebijaksanaan adalah sikap yang menggambarkan hasil olah fikir dan olah rasa yang
bersumber dari hati nurani dan bersendi pada kebenaran, keadilan dan keutamaan. Bagi
bangsa Indonesia hal ini sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila.
k.

Kesejahteraan
7

Kesejahteraan adalah kondisi yang menggambarkan terpenuhinya tuntutan kebutuhan


manusia, baik kebutuhan lahiriah maupun batiniah sehingga terwujud rasa puas diri,
tenteram, damai dan bahagia. Kondisi ini hanya akan dapat dicapai dengan kerja keras,
jujur dan bertanggungjawab.
Dengan memahami konsep, prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila, yang
tentu masih akan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia,
permasalahan berikutnya adalah bagaimana konsep, prinsip dan nilai tersebut dapat
diimplementasikan secara nyata dalam berbagai bidang kehidupan dalam berbangsa dan
bernegara.
Sejarah perumusan Pancasila :
a. Terdapat usulan-usalan yang di kemukakan, yaitu oleh :
1. Mr. Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 merumuskan : Peri
Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan dan Kesejahteraan
rakyat.
2. Prof. Dr. Mr. Supomo, yang berpidato tanggal 31 Mei 1945 merumuskan : Paham
Negara

Kesatuan,

Perhubungan

Negara

dengan

Agama,

Sistem

Badan

Permusyawaratan, Sosialisasi Negara, dan Hubungan Antar Bangsa


3. Ir. Soekarno, 1 Juni 1945, dalam pidatonya lahirnya pancasila mengemukakan dasardasar : Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau
Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Yang
kemudian beliau member nama Pancasila
b. Pada tanggal 22 Juni 1945 panitia kecil mengadakan pertemuan yang menghasilkan
rumusan dasar Negara :
1. Ketuhanan dengan berkewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk
pemeluknya
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
c. Kemudian rancangan rumusan dasar tersebut disebut Piagam Jakarta atau Jakarta
Charter. Namun rumusan dasar pertama menimbulkan masalah karena tidak semua warga

Negara Indonesia memeluk agama Islam sehingga diganti dengan Ketuhanan Yang Maha
Esa
Setelah rumusan Pancasila di terima sebagai dasar negara, secara resmi beberapa
dokumen penetapannya adalah :
a. Rumusan Pertama : Piagam Jakarta (Jakarta Charter) - tanggal 22 Juni 1945
b. Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar - tanggal 18 Agustus 1945
c. Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat - tanggal 27
Desember 1949
d. Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara - tanggal 15
e.

Agustus 1950
Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama
(merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Jadi dapat disimpulkan bahwa, Pancasila dinilai memenuhi syarat sebagai pilar bagi
negara-bangsa Indonesia yang pluralistik dan cukup luas dan besar ini. Pancasila mampu
mengakomodasi keanekaragaman yang terdapat dalam kehidupan negara-bangsa Indonesia.
Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung konsep dasar yang
terdapat pada segala agama dan keyakinan yang dipeluk atau dianut oleh rakyat Indonesia,
merupakan common denominator dari berbagai agama, sehingga dapat diterima semua
agama dan keyakinan. Demikian juga dengan sila kedua, kemanusiaan yang adil dan
beradab, merupakan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Manusia didudukkan
sesuai dengan harkat dan martabatnya, tidak hanya setara, tetapi juga secara adil dan
beradab. Pancasila menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, namun dalam implementasinya
dilaksanakan

dengan

bersendi

pada

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan Sedang kehidupan berbangsa dan bernegara ini adalah untuk


mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan untuk kesejahteraan
perorangan atau golongan. Nampak bahwa Pancasila sangat tepat sebagai pilar bagi negarabangsa yang pluralistik.
b. Undang Undang Dasar 1945
UUD 1945 atau UUD 45, adalah hukum dasar tertulis (basic law), konstitusi
pemerintahan negara Republik Indonesia saat ini. UUD 1945 disahkan sebagai undangundang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Sejak tanggal 27 Desember
9

1949, di Indonesia berlaku Konstitusi RIS, dan sejak tanggal 17 Agustus 1950 di Indonesia
berlaku UUDS 1950. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kembali memberlakukan UUD 1945,
dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh DPR pada tanggal 22 Juli 1959.
Pada kurun waktu tahun 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan
(amandemen), yang mengubah susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan
Republik Indonesia.
Prinsip yang terkandung dalam UUD 1945 :
1. Sumber Kekuasaan
Di alinea ketiga disebutkan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia itu atas berkat
rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yang bermakna bahwa kemerdekaan yang dinyatakan
oleh bangsa Indonesia itu semata-mata karena mendapat rahmat dan ridho Allah Yang
Maha Kuasa. Dengan kata lain bahwa kekuasaan yang diperoleh rakyat Indonesia dalam
menyatakan kemerdekaan dan dalam mengatur kehidupan kenegaraan bersumber dari Allah
Yang Maha Kuasa. Hal ini ditegaskan dalam dasar negara sila yang pertama Ketuhanan
Yang Maha Esa.
Namun, juga pada alinea ke-empat disebutkan Negara Republik Indonesia tersusun
dalam bentuk kedaulatan rakyat, yang berarti sumber kekuasaan juga terletak di tangan
rakyat. Hal ini ditegaskan lebih lanjut dalam Bab I, pasal 1 ayat (2) yang menyatakan
bahwa Kedaulatan adalah di tangan rakyat
Dari frase-frase terbut di atas jelas bahwa sumber kekuasaan untuk mengatur kehidupan
kenegaraan dan pemerintahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini bersumber dari
Tuhan Yang Maha Esa dan Rakyat. Terdapat dua sumber kekuasaan yang diametral.
Perlu adanya suatu pola sistem penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang
bersumber dari dua sumber kekuasaan tersebut. Perlu pemikiran baru bagaimana
mengintegrasikan dua sumber kekuasaan tersebut sehingga tidak terjadi kontroversi.
2. Hak Asasi Manusia
Berikut disampaikan beberapa rumusan tentang kepedulian para founding fathers
tentang hak asasi manusia yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 :

10

Kemerdekaan yang dinyatakan oleh rakyat dan bangsa Indonesia adalah untuk
menciptakan kehidupan kebangsaan yang bebas,salah satu hak asasi manusia yang selalu
didambakan, dan dituntut oleh setiap manusia.
Kemerdekaan Negara Indonesia berciri merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,
merupakan gambaran tentang negara yang menjunjung hak asasi manusia. Hak kebebasan
dan mengejar kebahagiaan diakui di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keseluruhan alinea kesatu Pembukaan UUD 1945 merupakan suatu pernyataan tentang
hak asasi manusia, yakni kebebasan dan kesetaraan. Kemerdekaan, perikemanusiaan dan
perikeadilan merupakan realisasi hak kebebasan dan kesetaraan.
Sementara pasal 27, 28, 29, 30 dan 31 dalam batang tubuh UUD 1945 adalah pasalpasal yang merupakan penjabaran hak asasi manusia.
Dari frase-frase yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945, dan beberapa pasal dalam
UUD 1945 telah memuat ketentuan mengenai hak asasi manusia. Tidak benar bila UUD
1945 yang asli tidak mengakomodasi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, apalagi setelah perubahan UUD.
3. Sistem Demokrasi
Sistem pemerintahan Indonesia terdapat dalam dalam alinea ke-empat

yang

menyatakan: maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu


Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan berasab,
Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

Persatuan Indonesia, dan


kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan srosial bagi


seluruh rakyat Indonesia. Frase ini menggambarkan sistem pemerintahan demokrasi.
Istilah kedaulatan rakyat atau kerakyatan adalah identik dengan demokrasi. Namun
dalam penerapan demokrasi disesuaikan dengan adat budaya yang berkembang di Negara
Indonesia. Sumber kekuasaan dalam berdemokrasi adalah dari Tuhan Yang Maha Esa
sekaligus dari rakyat. Dalam menemukan sistem demokrasi di Indonesia pernah
berkembang yang disebut demokrasi terpimpin, suatu ketika demokrasi Pancasila,
ketika lain berorientrasi pada faham liberalisme.
11

4. Faham Kebersamaan, Kegotong-royongan


Hal ini dapat ditemukan pada :
Misi Negara di antaranya adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia, bukan untuk melindungi masing-masing individu. Namun
dengan rumusan tersebut tidak berarti bahwa kepentingan individu diabaikan.
Yang ingin diwujudkan dengan berdirinya Negara Indonesia adalah ;suatu keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indnesia. Sekali lagi dalam rumusan tersebut tidak tersirat
dan tersurat kepentingan pribadi yang ditonjolkan, tetapi keseluruhan rakyat Indonesia.
Tujuan, Pokok, Fungsi UUD1945 :

Landasan Konstitusional atas landasan ideal yaitu Pancasila

Alat pengendalian sosial (a tool of social control)

Alat untuk mengubah masyarakat ( a tool of social engineering)

Alat ketertiban dan pengaturan masyarakat.

Sarana mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin.

Sarana penggerak pembangunan.

Fungsi kritis dalam hukum.

Fungsi pengayoman

Alat politik.

c. Bhinneka Tunggal Ika


Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari
bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat Berbeda-beda tetapi
tetap satu.
Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti beraneka ragam atau berbedabeda. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti macam dan menjadi pembentuk kata
aneka dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti satu. Kata ika berarti itu. Secara
harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan Beraneka Satu Itu, yang bermakna
meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu

12

kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa
daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.
Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin
Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kakawin
ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.
Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:
Rwneka dhtu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan iwatatwa tunggal,
Bhinnka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Bhinneka Tunggal Ika tidak dapat dipisahkan dari Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia,
dan Dasar Negara Pancasila. Hal ini sesuai dengan komponen yang terdapat dalam
Lambang Negara Indonesia. Menurut pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 1951
disebutkan bahwa : Lambang Negara terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1. Burung Garuda yang menengok dengan kepalanya lurus ke sebelah kanannya;
2. Perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan
3. Semboyan yang ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Di atas pita tertulis
dengan huruf Latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa Kuno yang berbunyi :
BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Adapun makna Lambang Negara tersebut adalah sebagaki berikut:


Burung Garuda disamping menggambarkan tenaga pembangunan yang kokoh dan kuat,
juga melambangkan tanggal kemerdekaan bangsa Indonesia yang digambarkan oleh bulu13

bulu yang terdapat pada Burung Garuda tersebut. Jumlah bulu sayap sebanyak 17 di tiap
sayapnya melambangkan tanggal 17, jumlah bulu pada ekor sebanyak 8 melambangkan
bulan 8, jumlah bulu dibawah perisai sebanyak 19, sedang jumlah bulu pada leher sebanyak
45. Dengan demikian jumlah bulu-bulu burung garuda tersebut melambangkan tanggal hari
kemerdekaan bangsa Indonesia, yakni 17 Agustus 1945.
Sementara itu perisai yang tergantung di leher garuda menggambarkan Negara
Indonesia yang terletak di garis khalustiwa, dilambangkan dengan garis hitam horizontal
yang membagi perisai, sedang

lima segmen menggambarkan sila-sila Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan bintang bersudut lima yang terletak di
tengah perisai yang menggambarkan sinar ilahi. Rantai yang merupakan rangkaian yang
tidak terputus dari bulatan dan persegi menggambarkan kemanusiaan yang adil dan
beradab, yang sekaligus melambangkan monodualistik manusia Indonesia. Kebangsaan
dilambangkan oleh pohon beringin, sebagai tempat berlindung; Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawa-rakatan/perwakilan
dilambangkan dengan banteng yang menggambarkan kekuatan dan kedaulatan rakyat.
Sedang Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan kapas dan padi yang
menggambarkan kesejahteraan dan kemakmuran

d. Negara Kesatuan Republik Indonesia


Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bentuk dari negara Indonesia, dimana
negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan, selain itu juga bentuk negaranya
adalah republik, kenapa NKRI, karena walaupun negara Indonesia terdiri dari banyak
pulau, tetapi tetap merupakan suatu kesatuan dalam sebuah negara dan bangsa yang
bernama Indonesia.
Keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dapat dipisahkan dari
peristiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, karena melalui peristiwa proklamasi
tersebut bangsa Indonesia berhasil mendirikan negara sekaligus menyatakan kepada dunia
luar (bangsa lain) bahwa sejak saat itu telah ada negara baru yaitu Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
14

Apabila ditinjau dari sudut Hukum Tata Negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945 belum sempurna sebagai negara, mengingat saat
itu Negara Kesatuan Republik Indonesia baru sebagian memiliki unsur konstitutif
berdirinya negara. Untuk itu PPKI dalam sidangnya tanggal 18 Agustus 1945 telah
melengkapi persyaratan berdirinya negara yaitu berupa pemerintah yang berdaulat dengan
mengangkat Presiden dan Wakil Presiden, sehingga PPKI disebut sebagai pembentuk
negara. Disamping itu PPKI juga telah menetapkan UUD 1945, dasar negara dan tujuan
negara.
Para pendiri bangsa (the founding fathers) sepakat memilih bentuk negara kesatuan
karena bentuk negara kesatuan itu dipandang paling cocok bagi bangsa Indonesia yang
memiliki berbagai keanekaragaman, untuk mewujudkan paham negara integralistik
(persatuan) yaitu negara hendak mengatasi segala paham individu atau golongan dan
negara mengutamakan kepentingan umum.
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang dibentuk berdasarkan
semangat kebangsaan (nasionalisme) oleh bangsa Indonesia yang bertujuan melindungi
segenap bangsa dan seluruh tampah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

TUJUAN NKRI :
Tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdapat dalam Pembukaan
Undang Undang Dasar 1945 alinea keempat yaitu Kemudian daripada itu untuk
membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dari rumusan tersebut, tersirat adanya tujuan nasional / Negara yang ingin dicapai
sekaligus merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh Negara, yaitu:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
2. Memajukan kesejahteraan umum;
15

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa;


4. Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan social.
Setelah membahas apa saja 4 pilar berbangsa dan bernegara, lalu akan mencoba
membahas kenapa 4 pilar tersebut penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kalau kita hanya berpikir bahwa Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa
Indonesia, juga sebagai alat pemersatu bangsa, UUD 1945 adalah merupakan konstitusi
dalam bernegara. Dua hal ini saja sudah menjadi sesuatu yang sangat fundamental bagi
bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan negara, tetapi bagi Almarhum Taufik Kiemas,
dua pilar ini belumlah cukup, beliau mengeluarkan gagasan Empat Pilar Berbangsa yakni,
Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Dalam pemikiran almarhum Empat Pilar ini adalah mutlak dan tidak bisa
dipisahkan dalam menjaga dan membangun keutuhan bangsa.
Lalu apakah implementasi empat pilar ini sudah terlaksana dengan baik, rasanya seperti
jauh panggang dari api. Dua pilar Pancasila dan UUD 1945 saja masih belum terasa
penerapannya. Pancasila baru saja masuk kedalam kurikulum pendidikan, sementara
amanat UUD 1945 masih banyak yang diabaikan. Semangat persatuan dan kesatuan bangsa
saat ini sudah mulai tercabik-cabik, dan itu pada akhirnya akan mengancam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keprihatinan terhadap hancurnya persatuan dan kesatuan bangsa inilah agaknya yang
menginspirasi Taufik Kiemas mengeluarkan gagasan Empat Pilar Kebangsaan. Memang
kalau dicermati empat pilar ini memanglah penyanggah persatuan dan kesatuan bangsa,
dan empat pilar inilah yang menjadi inspirasi kekuatan para pejuang kemerdekaan
Republik Indonesia, yang terus digelorakan sebagai penyemangat perjuangan mereka,
lantas bagaimanakah dengan saat ini? Kita sudah kehilangan Roh ke empat pilar tersebut,
melihat segala realita yang sedang terjadi di negara Indonesia ini.
Bangsa ini terutama para pemimpinnya sudah mengalami degradasi moral secara
signifikan, melakukan tindak kejahatan korupsi bukan lagi dianggap sesuatu yang
memalukan, kejahatan korupsi sudah dianggap prestasi dalam mengumpulkan pundi-pundi
kekayaan, mengumpulkan kekayaan menjadi tugas utama mereka saat menjadi pejabat
negara, sehingga tugas negara terabaikan begitu saja. Sungguh suatu hal yang sangat
16

memilukan, melihat kondisi saat ini yang sudah tidak sesuai lagi dengan 4 pilar kehidupan
berbangsa dan bernegara.Mungkin sudah saatnya gagasan empat pilar oleh Taufik Kiemas
tersebut sudah selayaknya dilanjutkan dan diimplementasikan secara benar, agar negara ini
tidak melupakan bahwa negara ini mempunyai 4 pilar penting yang harus selalu dijaga dan
juga harus dijalankan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.3 Fungsi 4 Pilar Kebangsaan


1.

Sebagai tombak untuk tetap kokohnya berdirinya bangsa

2.

Menginspirasi rakyat Indonesia untuk kembali ke revolusi atau tujuan yang benar

3.

Menjaga kemurnian UUD 1945

4.

Membangun kepahaman tentang jiwa bangsa secara utuh

5.

Membangun karakter bangsa

6.

Membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka


mencerdaskan

kehidupan bangsa

7.

Sarana pembangunan hukum bangsa

8.

Sarana pembaharuan masyarakat

9.

Sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

10. Alat ketertiban dan pengaturan masyarakat

2.4 Wujud sikap yang mencerminkan 4 pilar kebangsaan


1.

Setia dan cinta tanah air

2.

Mengembangkan persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika

3.

Tidak menjadi koruptor

4.

Tidak membuat pernyataan atau keputusan yang merugikan bangsa

5.

Tidak membedakan ras, suku, agama, adat, maupun bahasa

6.

Tidak menyalahgunakan kekuasaan

7.

Menjaga ketertiban dan keamanan

8.

Peduli terhadap bangsa dan Negara

9.

Saling tolong menolong

10. Saling menghormati antar sesama manusia

17

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Empat pilar kebangsaan yaitu empat tiang penyangga dalam suatu negara, dimana tiangtiang penyangga tersebut saling berhubungan satu sama lain. Sehingga negara tersebut
dapat berdiri dengan sangat kokohnya. Berdiri kokohnya NKRI pada akhirnya berpulang
pada apakah kita masih menggunakan empat pilar kebangsaan. Pembangunan karakter
bangsa yang saling keterkaitan dengan pilar kebangsaan ini oleh karenanya haruslah dalam
asas yang berkesesuaian dan terintegrasi, yang bernafaskan Pancasila yang konstitusional,
18

dalam kerangka NKRI, dan untuk menjamin keanekaragaman budaya, suku bangsa dan
agama. Jika salah satu foundasi pilar kebangsaan itu tidak dijadikan pegangan, karakter
bangsa yang dicita citakan sekedar wacana dan angan angan belaka. Maka akan
goyahlah Negara Indonesia disebabkan oleh hal tersebut. Jika penopang yang satu tak kuat,
maka akan berpengaruh pada pilar yang lain. Pada akhirnya bukan tak mungkin Indonesia
akan ambruk secara bertahap, bergantung pada seberapa jauh dan seberapa dalam kita
menggunakan empat pilar kebangsaan tersebut. Tentunya, ambruknya NKRI merupakan
sesuatu yang tak diinginkan dan tak terlintas sedikitpun dalam benak kita sebagai bagian
dari NKRI.

3.2 Saran
a. Terus menanamkan rasa cinta tanah air agar tidak mudah terpengaruh arus
globalisasi.
b. Mencoba pelajari nilai nilai pancasila dan menanamkan nya di kehidupan seharihari
c. Sebagai masyarakat yang baik harus selalu bersikap aktif terhadap program
pemerintah
d. Dan terus memajukan kerja pemerintah agar semakin baik dan mampu membina
warga menuju bangsa yang adil dan makmur.

19