Anda di halaman 1dari 16

Prosiding

Seminar Nasional 2013


Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

Efektifitas Komunikasi Terapeutik Terhadap Perilaku Kekerasan pada


Pasien Skizoprenia di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor Tahun 2013

I Nengah Mustika1
Khaerudin2
1

Program Studi Keperawatan Bogor


2
Politeknik Kemenkes Bandung

Abstrak
Gangguan jiwa (skizofrenia) merupakan suatu reaksi psikotik yang dapat mempengaruhi pikiran,
perasaan, persepsi, perilaku dan hubungan sosial individu kearah maladaptif. Pasien dengan
gangguan jiwa akan tampak dari gejala yang ditunjukan dan dapat dikenali baik secara fisik,
emosional, kognitif, sosial, dan perilaku. Perilaku kekerasan merupakan salah satu bentuk perilaku
yang menyertai pasien skizofrenia. Perilaku ini umumnya mengarah pada perilaku melukai atau
mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan baik secara verbal atau fisik. Tercatat dari 43
pasen skizofrenia yang dirawat di RS Marzoeki Mahdi, 15,7% dengan gejala perilaku kekerasan.
Komunikasi terapeutik dapat menjadi jembatan penghubung antara perawat sebagai pemberi
pelayanan dan pasien sebagai pengguna pelayanan, oleh karena komunikasi terapeutik dapat
mengakomodasi pertimbangan status kesehatan yang dialami oleh pasien. Komunikasi terapeutik
memperhatikan pasien secara holistik, meliputi aspek keselamatan, menggali penyebab dan
mencari jalan terbaik atas permasalahan pasien. Juga mengajarkan cara-cara yang dapat dipakai
untuk mengekspresikan kemarahan yang dapat di terima oleh semua pihak tanpa harus merusak
(asertif). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang efektifitas komunikasi
terapeutik terhadap perilaku kekerasan pada pasen Skizoprenia. Penelitian dilakukan di RS
Marzoeki Mahdi Bogor. Quasi Experimental Pre-Post Test with Control Group Design,
dilakukan intervensi komunikasi terapeutik dengan jumlah sampel sebesar 52 orang. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efektifitas komunikasi terapeutik
terhadap perilaku kekerasan, sehingga dapat didesain intervensi yang tepat untuk menurunkan
perilaku kekerasan pada pasen gangguan jiwa.
Kata kunci: Komunikasi terapeutik, perilaku kekerasan.

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

sosial
dan
pekerjaan
yang
sebelumnya
biasa
dilakukan.
Gangguan
jiwa
berat
selain
berdampak terhadap diri sendiri,
keluarga, dan masyarakat sekitar
juga membebani negara. Stuart
(2009) menyebutkan bahwa lebih
dari 70% pembayaran pajak di
Amerika Serikat dialokasikan untuk
pengobatan klien gangguan jiwa dan
seluruhnya dihabiskan oleh pasien
skizoprenia.
Data
tersebut
menggambarkan bahwa semakin
bertambahnya pasien gangguan jiwa,
artinya semakin banyak hari
produktif yang hilang, namun biaya
yang harus dikeluarkan semakin
tinggi. Kejadian seperti ini jika tidak
ditangani dengan baik akan semakin
membebani negara.
Gangguan
jiwa
selama
berpuluh-puluh tahun dianggap
sebagai
penyakit
yang
membahayakan karena tidak mampu
mengendalikan psikologis, emosi
sehingga sering ditunjukkan dengan
respon perilaku yang aneh antara
lain: menarik diri, mengisolasi diri,
marah-marah, perilaku merusak diri
dan lingkungan, bunuh diri. Kejadian
ini membuat kebanyakan individu
meyakini bahwa mereka perlu
diasingkan dari masyarakat dan
dirawat di rumah sakit. Pandangan
masyarakat yang keliru akan
semakin merugikan pasien gangguan
jiwa dan keluarga mereka, oleh
karena itu perlu pemahaman yang
tepat mengenai gangguan jiwa di
tengah-tengah masyarakat.
Gangguan jiwa (skizoprenia)
merupakan suatu reaksi psikotik

Pendahuluan
Dalam upaya meningkatkan
kualitas asuhan keperawatan di
rumah sakit diharapkan semua
perawat
mampu
dan
mau
menerapkan teknik komunikasi
terapeutik kepada klien, keluarga,
masyarakat serta tim kesehatan
lainnya perlu dilakukan suatu
penelitian. Penelitian Suryana tahun
1998 di ruang inap cardio intensive
care unit Rumah Sakit Umum Pusat
Hasan Sadikin Bandung didapatkan
data 45,46% dari perawat kurang
mempunyai pengetahuan tentang
teknik komunikasi terapeutik dan
43,5% mempunyai sikap yang
kurang baik terhadap komunikasi
terapeutik. Pada kenyataannya masih
dirasakan
munculnya
ketidakakuratan
pelaksanaan
komunikasi itu sendiri, hal ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain: pengetahuan, sikap,
fasilitas, umur, jenis kelamin dan
peran
pembimbing
klinik
dilapangan/rumah
sakit.
Dalam
upaya meningkatkan kualitas asuhan
keperawatan
di
rumah
sakit
diharapkan semua perawat mampu
dan mau menerapkan teknik
komunikasi terapeutik kepada klien,
keluarga, masyarakat serta tim
kesehatan lainnya perlu dilakukan
suatu penelitian.
Gangguan jiwa berat yang
dialami oleh individu menyebabkan
mereka menjadi tidak produktif
bahkan sangat tergantung kepada
orang lain. Mereka akan mengalami
hambatan dalam menjalankan peran

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

yang dapat mempengaruhi pikiran,


perasaan, persepsi, perilaku dan
hubungan sosial individu kearah
maladaptif. Respon maladaptif ini
mudah dikenali dari gejala-gajala
yang ditunjukkan oleh klien dengan
skizoprenia. Menurut PPDGJ III (
dalam
Maslim,
2001)
gejala
skizoprenia dibagi dalam dua gejala
utama yaitu gejala positif dan gejala
negatif. Gejala positif diantranya
delusi,
halusinasi,
kekacauan
kognitif, disorganisasi bicara, dan
perilaku katatonik seperti keadaan
gaduh gelisah. Gejala negatif atau
gejala samar yang dialami oleh klien
skizoprenia dapat berupa afek datar,
tidak memiliki kemauan, merasa
tidak nyaman, dan menarik diri dari
masyarakat (Videbeck, 2008). Gejala
negatif dari skizoprenia juga tampak
dari menurunnya motivasi, hilangnya
kemampuan melakukan aktivitas
sehari-hari,
ketidak
mampuan
merawat diri sendiri, tidak mampu
mengekspresikan perasaan, serta
hilangnya spontanitas dan rasa ingin
tahu (Fontain, 2009).
Gejala positif dan negatif
dijadikan dasar oleh kalangan medis
dalam
menegakkan
diagnosa
skizoprenia. Gejala negatif seperti:
sikap apatis, bicara jarang, afek
tumpul, menarik diri. Gejala lain
dapat
bersifat
non-skizofrenia
meliputi kecemasan, depresi dan
psikosomatik. Perilaku yang sering
muncul pada klien skizofrenia:
motivasi kurang (81%), isolasi sosial
(72%), perilaku makan dan tidur
buruk (72%), sukar menyelesaikan
tugas (72%), sukar mengatur

keuangan (72%), penampilan tidak


rapih (64%), lupa melakukan sesuatu
(64%), kurang perhatian pada orang
lain (56%), sering bertengkar (47%),
bicara pada diri sendiri (41%), dan
tidak teratur makan obat (47%)
(Stuart & Laraia, 2005).
Hasil wawancara dan observasi
pendahuluan pada pasien baru yang
menjalani rawat inap di ruang kresna
sebelum
pasien
mendapatkan
pelayanan komunikasi terapeutik
sesuai standar yang ada. Diperoleh
informasi bahwa angka kejadian
perilaku kekerasan di Ruang Kresna
bulan Januari tahun 2012 sebanyak
33 pasien atau 15,7%. Perilaku
kekerasan biasanya dilakukan oleh
pasien skizoprenia jenis akut,
paranoid, hebepfrenik. Karena pada
jenis
ini
pasien
seolah-olah
mendapatkan ancaman, tekanan
psikologis, dan menganggap orang
lain sebagai musuh. Jenis pelayanan
kesehatan yang biasa dilakukan pada
penanganan
pasien
skizofrenia
dengan perilaku kekerasan di atas
adalah: isolasi ruangan, pemberian
medika
mentosa
(pengobatan),
pengikatan, dan pembentukan tim
krisis (Stuart and Sundeen, 1998).
Semuanya masih mengarah pada
perlindungan
pada
aspek
keselamatan pada pasien dan juga
orang lain di sekitarnya, namun
belum mengarah pada aspek
penyebab kekerasan itu sendiri dan
kurang memperhatikan respon fisik
dan
psikologis
dari
pasien.
Pelaksanaan komunikasi terapeutik
berupaya mengekspresikan persepsi,
pikiran,
dan
perasaan
serta

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

menghubungkan hal tersebut untuk


mengamati dan melaporkan kegiatan
yang dilakukan (Stuart and Sundeen,
1998).
Komunikasi terapeutik dapat
merjadi jembatan penghubung antara
perawat sebagai pemberi pelayanan
dan pasien sebagai pengguna
pelayanan. Karena Komunikasi
terapeutik dapat mengakomodasi
pertimbangan status kesehatan yang
dialami
pasien.
Komunikasi
terapeutik memperhatikan pasien
secara holistik, meliputi aspek
keselamatan, menggali penyebab dan
mencari
jalan
terbaik
atas
permasalahan
pasien.
Juga
mengajarkan cara-cara yang dapat
dipakai untuk mengekspresikan
kemarahan yang dapat di terima oleh
semuapihak tanpa harus merusak
(asertif).
Menurut Stuart dan Sundeen
komunikasi
terapeutik
adalah
hubungan timbal balik antara
manusia
yang
memfasilitasi
pertumbuhan,
perkembangan,
kematangan, peningkatan fungsi dan
penyesuaian diri. Dengan menguasai
komunikasi terapeutik diharapkan
seseorang akan lebih efektif dan
efisien menjalin/membina hubungan
saling percaya dengan pasien dan
merupakan
kunci
keberhasilan
tindakan keperawatan. Perawat hadir
secara utuh (fisik dan psikologis)
pada waktu berkomunikasi dengan
pasien, perawat tidak cukup hanya
mengetahui teknik komuniksasi dan
isi komunikasi, tetapi yang penting
adalah sikap dalam penampilan
berkomunikasi.

Metode Penelitian
Desain yang digunakan dalam
penelitian
ini
adalah
Quasi
Experimental Pre-Post Test with
Control Group dengan Intervensi
Komunikasi Terapeutik. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui
perubahan gejala perilaku kekerasan
pada pasien Skizoprenia sebelum dan
sesudah
dilakukan
komunikasi
terapeutik.
Penelitian
ini
membandingkan dua kelompok
pasien dengan perilaku kekerasan
(gejala perilaku kekerasan) yang
sedang di rawat di ruang rawat inap
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi
Bogor, yaitu kelompok intervensi
(kelompok yang diberikan intervensi
komunikasi terapeutik dan kelompok
kontrol (kelompok yang tidak
diberikan komunikasi terapeutik).
Penggunaan desain ini diharapkan
mampu menggambarkan efektivitas
komunikasi terapeutik terhadap
perubahan tingkat gejala perilaku
kekerasan.
Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh pasien skizofrenia
yang mengalami perilaku kekerasan
yang berada di ruang rawat inap
(ruangan Yudistira dan ruangan
Sadewa) Rumah Sakit Marzoeki
Mahdi Bogor sebanyak 52 orang.
Sampel merupakan obyek yang
diteliti dan dianggap mewakili
seluruh populasi (Notoatmodjo,
2010). Sastroasmoro dan Ismael
(2008) menyatakan sampel adalah
bagian dari populasi yang dipilih
dengan cara tertentu sehingga dapat
dianggap mewakili populasinya.
Sampel penelitian ini adalah pasien

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

dengan skizoprenia yang mengalami


perilaku kekerasan dimana kriteria
inklusinya adalah :
a. Usia 18 55 tahun
b. Alasan masuk rumah sakit
karena
perilaku
kekerasan
(menciderai diri sendiri, orang
lain dan lingkungan).
c. Klien tidak dalam keadaan
perilaku kekerasan aktif (agresifdestruktif)
d. Klien
bersedia
menjadi
responden
e. Klien dapat membaca dan
menulis
f. Klien mempunyai diagnosa
medis skizofrenia
g. Klien sudah mendapat terapi
psikofarmaka.
h. Tidak sedang menjalani terapy
Electro Shock Teraphy.
i. Tidak sedang di isolasi, di
fikxir/pengikatan.
j. Pendidikan Menengah ke bawah
(SMA ke bawah)
k. Pernah Bekerja
l. Pernah menikah
m. Pernah dirawat sebelumnya
Besar sampel dalam penelitian ini
ditentukan berdasarkan estimasi
(perkiraan) untuk menguji hipotesis
beda rerata 2 kelompok independen
dengan rumus sebagai berikut
(Sastroasmoro & Ismail, 2010):
n1 =n2 = 2

[Z+ Z ].S

penelitian pada CI 95 % ( = 0,05),


maka Z = 1,96
Z
: Bila = 0,05 dan power =
80% maka Z = 0,842
S
: Simpangan baku dua
kelompok penelitian terdahulu = 9.8
( Ketut
Sudiatmika 2011)
X1-X2 : Perbedaan klinis yang
diinginkan (clinical judgment)
Berdasarkan perhitungan
dengan menggunakan rumus diatas,
maka:
[1,96+ 0,842].9,8 2
n1 = n2 = 2
8

n1= n2 = 23,56 dibulatkan menjadi


23
Maka besar sampel untuk penelitian
ini adalah 23 responden untuk setiap
kelompok.
Untuk mengantisipasi adanya drop
out dalam proses penelitian, maka
kemungkinan berkurangnya sampel
perlu diantisipasi dengan cara
memperbesar taksiran ukuran sampel
agar presisi penelitian tetap terjaga.
Adapun rumus untuk mengantisipasi
berkurangnya subyek penelitian
(Sastroasmoro & Ismael, 2010) ini
adalah :
n

n =

(1 f)

23

n =

(X1-X2)
maka
Keterangan:
N
: Besar sampel
Z
: Harga kurva normal tingkat
kesalahan yang ditentukan dalam

n =

(1 0,1)

25,55 dibulatkan menjadi 26

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

Keterangan :
n

: Ukuran sampel setelah revisi

: Besar sampel yg dihitung

peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau


sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya (Notoatmodjo,
2010).
Sampel dalam penelitian ini
adalah pasien dengan skizofrenia
yang mengalami perilaku kekerasan
yang dirawat inap di Rumah Sakit
Marzoeki Mahdi Bogor serta
memenuhi syarat sesuai dengan
kriteria inklusi dari penelitian ini.
Sampel tersebut selanjutnya akan
dibagi menjadi dua kelompok yaitu
kelompok intervensi dan kelompok
kontrol. Klien yang bernomor ganjil
akan diambil menjadi responden
untuk
kelompok
intervensi
sedangkan yang bernomor genap
akan menjadi responden untuk
kelompok kontrol.

1 f : Perkiraan proporsi drop out,


yang diperkirakan 10 % (f = 0,1)
Jumlah
sampel
akhir
yang
dibutuhkan dalam penelitian ini
berdasarkan rumus di atas adalah 26
responden untuk setiap kelompok
(26 responden untuk kelompok
intervensi dan 26 responden untuk
kelompok kontrol), sehingga jumlah
total sampel adalah 52 responden.
Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini
adalah
Purposive
Sampling.
Pengambilan
sampel
secara
purposive
didasarkan
pada
pertimbangan tertentu yang dibuat
Hasil Penelitian

Tabel 1
Distribusi Karakteristik Klien Perilaku Kekerasan pada Kelompok Intervensi dan
Kelompok Kontrol di RSMM Bogor Tahun 2013 (n = 52)
Karakteristik
Kelompok Intervensi Kelompok Kontrol Jumlah
P Value
(n=26)
(n=26)
(n=52)
N
%
N
%
N
%
1. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
15
57.7
13
50.0
28 53.8 0.781
b. Perempuan
11
42.3
13
50.0
24 46.2
2. Pendidikan
a. SD
9
34.6
5
19.2
14 26.9
b. SMP
5
19.2
3
11.5
8
15.4 0.412
c. SMA
9
34.6
14
53.8
23 44.2
d. Akademi/PT
3
11.5
4
15.4
7
13.5
3. Pekerjaan
a. Tidak bekerja
20
76.9
20
76.9
40 76.9
b. Swasta
2
7.7
1
3.8
3
5.8
0.105
c. Wiraswasta
4
15.4
1
3.8
5
9.6
d.PNS/ABRI
4
15.4
4
7.7
4. Status perkawinan
0.450
a. Kawin
8
30.8
11
42.3
19 36.5

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

b. Belum kawin
c. Duda
5. Riwayat gangguan jiwa
a. Ada
b. Tidak ada

17
1

65.4
3.8

15

57.7

32
1

61.5
1.9

16
10

61.5
38.5

15
11

57.7
42.3

31
22

59.6
40.4

Berdasarkan uraian hasil analisis


karakteristik pada tabel 1. diketahui
bahwa karakteristik klien dengan
perilaku kekerasan dalam penelitian
ini lebih banyak laki-laki 28 orang
(53.8%), sebagian besar tidak
bekerja 40 orang (76.9%), memiliki
jenjang pendidikan SMA 23 orang
(44.2%), sebagian besar tidak kawin
32 orang (61.5%), adanya riwayat
gangguan jiwa 31 orang (59.6%).
Tabel 1 juga menunjukkan hasil
analisis uji statistik kesetaraan

1.000

karakteristik
berdasarkan
jenis
kelamin, pekerjaan, pendidikan,
status perkawinan, dan riwayat
gangguan jiwa pada klien perilaku
kekerasan didapatkan tidak ada
perbedaan yang bermakna antara
kelompok intervensi dan kelompok
kontrol. Hasil analisis uji statistik
tersebut menunjukkan bahwa kedua
kelompok memiliki varian yang
sama atau homogen (p value
0,05).

Tabel 2
Analisis Usia dan Frekuensi Dirawat Klien Perilaku Kekerasan pada Kelompok Intervensi
dan Kelompok Kontrol di RSMM Bogor Tahun 2013
(n = 52)
Variabel

Usia

Frek. dirawat

Jenis Kelompok

Mean

Median

SD

Min-Maks

P Value

Intervensi

26

31.96

31.50

6.78

22-45

0.013

Kontrol

26

29.42

36

5.65

25 50

Total

52

34.19

35.00

6.58

22-50

Intervensi

26

1.54

0.71

1-3

Kontrol

26

1.00

0.67

1-4

Total

52

1.69

0.70

1-4

Hasil analisis usia klien dengan


perilaku kekerasan pada tabel 2
menjelaskan bahwa rata-rata berusia
34.19 tahun dengan usia termuda 22
tahun dan tertua 50 tahun. Uji
statistik kesetaraan karakteristik
berdasarkan usia menunjukkan ada
perbedaan yang bermakna rata-rata
usia klien perilaku kekerasan pada

0.114

kelompok intervensi dan kelompok


control dengan p value < 0.05
dengan p value 0.05.
Tabel 2 juga menjelaskan bahwa
rata-rata klien perilaku kekerasan
memiliki pengalaman frekuensi
dirawat sebesar 1.69 dengan paling
sedikit sebanyak 1 kali dan paling
banyak 4 kali. Uji statistik kesetaraan

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

karakteristik berdasarkan frekuensi


dirawat menunjukkan tidak ada
perbedaan yang bermakna rata-rata

usia klien perilaku kekerasan pada


kelompok intervensi dan kelompok
kontrol dengan p value 0.05.

Tabel 3.
Analisis Perubahan Gejala Perilaku Kekerasan Sebelum dan Setelah Dilakukan komunikasi
terapeutik pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Di RSMM Bogor 2013 (n = 52)
Gejala Perilaku Kekerasan Kelompok
Mean
Mean
Mean
SD
Sebelum

Setelah

Selisih

Selisih

p Value

Intervensi

14.96

12.85

2.12

3.15

0.002

Kontrol

13.04

12.85

0.19

0.80

0.232

Intervensi

14.00

12.12

2.12

2.30

0.000

Kontrol

13.31

12.92

0.38

0.75

0.015

Intervensi

17.38

13.00

3.88

3.54

0.000

Kontrol

15.04

14.62

0.42

0.81

0.013

Intervensi

1.88

1.54

0.35

0.48

0.001

Kontrol

1.73

1.62

0.12

0.33

0.083

Intervensi

12.65

9.50

3.15

2.86

0.000

Kontrol

10.31

10.00

0.31

0.62

0.018

Komposit

Intervensi

61.12

49.50

11.62

10.70

0.000

Perilaku Kekerasan

Kontrol

54.42

53.00

1.42

1.63

0.000

Kognitif
Emosi
Perilaku
Sosial
Fisiologis

Dari tabel 3. menjelaskan bahwa


berdasarkan an uji statistik yang
dilakukan pada kelompok intervensi
terdapat perubahan yang bermakna
sesudah pelaksanaan komunikasi
terapeutik. Respon kognitif klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 3.15 pada p value 0.05,
respon emosi klien menurun secara
bermakna dengan selisih 2.30 pada p
value 0.05, respon perilaku klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 3.54 pada p value 0.05,
respon sosial klien menurun secara
bermakna dengan selisih 0.48 pada p
value 0.05 dan respon fisiologis
klien menurun secara bermakna
dengan selisih 2.86 pada p value
0.05 serta komposit PK klien

menurun secara bermakna dengan


selisih 10.70 pada p value 0.05.
Berdasarkan hasil uji statistik diatas
maka dapat disimpulkan pada 5%
ada penurunan gejala yang bermakna
baik dari respon kognitif, emosi,
perilaku, sosial, fisiologis dan
komposit klien dengan perilaku
kekerasan
setelah
dilakukan
intervensi
dengan
pendekatan
komunikasi terapeutik.
Dari tabel 3. juga menjelaskan
bahwa berdasarkan uji statistik yang
dilakukan pada kelompok control
juga terjadi perubahan gejala yang
bermakna pada respon emosi dengan
selisih 0.75, pada p value 0.05,
respon perilaku klien menurun secara
bermakna dengan selisih 0.81 pada p
value 0.05, dan respon fisiologis

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

klien menurun secara bermakna


dengan selisih 0.62 pada p value
0.05 serta komposit PK klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 1.63 pada p value 0.05.
Berdasarkan hasil uji statistik diatas
maka dapat disimpulkan pada 5%
ada perubahan yang bermakna dari

respon, emosi, perilaku, fisiologis


dan komposit klien yang tidak
diberikan
intervensi
dengan
pendekatan komunikasi terapeutik,
namun tidak mengalami perubahan
bermakna pada respon kognitif dan
sosial.

Tabel 4
Analisis Perbedaan Gejala Perilaku Kekerasan Sesudah Pelaksanaan komunikasi terapeutik
di RSMM Bogor Tahun 2013 (n = 52)

Gejala PK
Kognitif
Emosi
Perilaku

Kelompok
1. Intervensi
2. Kontrol
1. Intervensi
2. Kontrol
1. Intervensi
2. Kontrol

n
26
26
26
26
26
26

Mean
12.85
12.85
12.12
12.92
13.00
14.62

SD
3.15
0.80
2.30
0.75
3.54
0.81

Min Max
Agust-22
Nop-16
Agust-16
Nop-16
Des-16
Des-18

p Value
1.000
0.164

0.005
Sosial
Fisiologis
Komposit

1. Intervensi
2. Kontrol
1. Intervensi
2. Kontrol
1. Intervensi
2. Kontrol

26
26
26
26
26
26

1.54
1.62
9.50
10.00
49.50
53.00

Tabel 4 menunjukkan respon


perilaku
pada
klien
perilaku
kekerasan yang diberikan intervensi
dengan pendekatan komunikasi
terapeutik terjadi penurunan lebih
bermakna daripada yang tidak
diberikan intervensi dengan p value
< 0.05. sedangkan perubahan
respon fisik, emosi, kognitif, dan
sosial tidak ada perbedaan yang
bermakna..
Hasil uji statistik juga dapat
disimpulkan bahwa pada 5%

0.48
0.33
2.86
0.62
10.70
1.63

01-Feb
01-Feb
07-Des
Jul-14
38-59
47-61

0.583
0.322
0.098

respon perilaku klien dengan


perilaku kekerasan yang diberikan
intervensi
dengan
pendekatan
komunikasi terapeutik menurun lebih
bermakna daripada klien yang tidak
mendapatkan intervensi.
Pembahasan
Efektifitas
Komunikasi
Terapeutik Terhadap Perubahan
Gejala Perilaku Kekerasan pada
penelitian ini dilihat dari asfek
kognitif, emosi, perilaku, sosial,

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

fisiologis. Klien yang mendapatkan


terapi
komunikasi
terapeutik
ditemukan mengalami perubahan
bahwa berdasarkan uji statistik yang
dilakukan pada kelompok intervensi
terdapat perubahan yang bermakna
sesudah pelaksanaan komunikasi
terapeutik. Respon kognitif klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 3.15 pada p value 0.05,
respon emosi klien menurun secara
bermakna dengan selisih 2.30 pada p
value 0.05, respon perilaku klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 3.54 pada p value 0.05,
respon sosial klien menurun secara
bermakna dengan selisih 0.48 pada p
value 0.05 dan respon fisiologis
klien menurun secara bermakna
dengan selisih 2.86 pada p value
0.05 serta komposit PK klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 10.70 pada p value 0.05.
Penelitian Suryana tahun 1998
di ruang inap cardio intensive care
unit Rumah Sakit Umum Pusat
Hasan Sadikin Bandung didapatkan
data 45,46% dari perawat kurang
mempunyai pengetahuan tentang
teknik komunikasi terapeutik dan
43,5% mempunyai sikap yang
kurang baik terhadap komunikasi
terapeutik.
Shives
ngemukakan
pelaksanaan komunikasi terapeutik
dipengaruhi oleh berbagai faktor
yaitu pengetahuan, sikap, tempat,
waktu, fasilitas, umur, jenis kelamin
dan peran pembimbing klinik
dilapangan/rumag sakit.
Arip(1998)
mengemukakan
bahwa 77,78% responden yang
memiliki tingkat pengetahuan tinggi

memiliki
praktik
komunikasi
terapeutik yang baik. Demikian juga
Mediarti (2001) dan Permatasari
(1996) menyatakan bahwa terdapat
hubungan
bermakna
antara
pengetahuan responden yang tinggi
dengan
praktik
komunikasi
terapeutik. Seseorang yang terdidik
atau mempunyai pengetahuan baik
tentang
komunikasi
terapeutik
cendrung akan lebih baik dalm
mempraktikannya.
Pengetahuan
adalah komplek kompleks gagasan
yang berada dalam pikiran manusia
yang diperoleh dari proses belajar di
sekolah formal maupun informal.
Azrul menyatakan tindakan yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dibandingkan dengan tanpa
didasari oleh pengetahuan.
Green
dalam
Notoatmojo(1997), mengemukakan
sikap akan mempengaruhi seseorang
untuk bertindak. Sikap yang positif
akan
bertindak
mendukung
keyakinan
untuk
melakukan
komunikasi terapeutik. Dominic
(1998) menyatakan sikap yang
diinginkan klien dari tim kesehatan
dan perawat adalah sikap yang
konsisten,
peka,
memiliki
kemampuan dan pengetahuan yang
cukup dan bisa mengerti klien.
Disamping itu sikap perawat
diharapkan adalah tanggap terhadap
keluhan klien, serta empati kepada
klien. Komunikasi merupakan proses
yang sangat khusus dan berarti dalam
hubungan antar manusia. Pada
profesi keperawatan komunikasi
menjadi lebih bermakna karena
merupakan metoda utama dalam

10

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

mengimplementasikan
proses
keperawatan.
Pengalaman
ilmu
untuk menolong sesama memerlukan
kemampuan khusus dan kepedulian
sosial yang besar (Abdalati, 1989).
Untuk itu perawat memerlukan
kemampuan khusus dan kepedulian
sosial yang mencakup ketrampilan
intelektual,
tehnical
dan
interpersonal yang tercermin dalam
perilaku caring atau kasih saying
atau cinta (Johnson, 1989) dalam
berkomunikasi dengan orang lain.
Perawat yang memiliki ketrampilan
berkomunikasi secara terapeutik
tidak saja akan mudah menjalin
hubungan rasa percaya dengan klien,
mencegah terjadinya masalah legal,
memberikan kepuasan profesional
dalam pelayanan keperawatan dan
meningkatkan
citra
profesi
keperawatan serta citra rumah sakit
(Achir Yani), tetapi yang paling
penting
adalah
mengamalkan
ilmunya
untuk
memberikan
pertolongan
terhadap
sesama
manusia. Perawat harus memiliki
tanggung jawab moral yang tinggi
yang didasari atas sikap peduli dan
penuh kasih sayang, serta perasaan
ingin membantu orang lain untuk
sembh.
(Maramis,
1994).
Pada
perilaku kekerasan tingkat ringan,
komunikasi
terapeutik
yang
diberikan dua kali dengan rentang 24
jam (1 hari) ini didapati dari nilai
sama hasil antara pretes & postest
sebesar
20%.
Dan
mampu
menurunkan tingkat PK ringan
sebesar
13%,
sebanyak
6,6
mengalami kenaikan tingkat PK

sebanyak 3 responden. Kenaikan ini


disebabkan oleh gangguan proses
pikir dan emosi yang sering berubah
juga adanya kemauan yang tidak
mampu untuk dikontrol.
Angka independen T test
sebesar 0.032 ini membuktikan
pengaruh yang diberikan oleh
penerapan komunikasi terapeutik
terhadap perilaku kekerasan ini
signifikan, karena bernilai kurang
dari 0,05%. Dan uji ini di usahakan
membebaskan dari faktor lain yang
dapat mempengaruhi hasil jalannya
penelitian. Faktor-faktor lain yang
dapat mempengaruhi hasil dari
penelitian ini adalah,pemberian
pengobatan, pengikatan, isolasi
ruangan, (Djoko Witojo dan Arif
Widodo).
Menurut
Yuwono
(1985)
komunikasi
adalah
keinginan
mengajukan pengertian dari pengirim
pesan kepada penerima pesan dan
menimbulkan perubahan tingkah
laku. Penerapan proses komunikasi
terapeutik ini berarti dapat dipakai
untuk meurbah perilaku kekerasan
klien. Menurut Keliat (1994) tanda
dan
perilaku marah
meliputi
beberapa aspek antara lain biologis,
emosional, intelektual, spiritual, dan
sosial. Dari penelitian ini berarti
bahwa komunikasi terapeutik dapat
dipakai untuk menurunkan aspek
biologis, emosional, meningkatkan
aspek
intelektual,
memperbaiki
hubungan sosial, dan meningkatkan
kemampuan spiritual yang dialami
pasien skizofrenia.
Simpulan

11

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

pada p value 0.05, respon sosial


klien menurun secara bermakna
dengan selisih 0.48 pada p value
0.05 dan respon fisiologis klien
menurun secara bermakna dengan
selisih 2.86 pada p value 0.05
serta komposit PK klien menurun
secara bermakna dengan selisih
10.70 pada p value pada p value
0.05.
Respon perilaku pada klien
perilaku kekerasan yang diberikan
intervensi
dengan
pendekatan
komunikasi
terapeutik
terjadi
penurunan lebih bermakna daripada
yang tidak diberikan intervensi
dengan p value < 0.05. sedangkan
perubahan respon fisik, emosi,
kognitif, dan sosial tidak ada
perbedaan yang bermakna.

Karakteristik dari 52 orang


pasien yang menjadi responden yang
dilakukan dalam penelitian ini ratarata berusia 34.19 tahun dengan usia
termuda dan tertua 50 tahun, jenis
kelamin lebih banyak laki-laki
(57,7%),
memiliki
jenjang
pendidikan SD (34,6%) dan SMA
(34,6%), perguruan tinggi (13,5%),
sebagian besar tidak bekerja
(76,9%), sebagian besar belum
kawin
(61,4%),
ada
riwayat
gangguan jiwa (59.6%). Dari hasil
uji statistic kesetaraan karakteristik
berdasarkan
jenis
kelamin,
pekerjaan,
pendidikan,
status
perkawinan dan riwayat gangguan
jiwa pada pasien perilaku kekerasan
didapatkan tidak ada perbedaan yang
bermakna
antara
kelompok
intervensi dan kelompok control.
Hasil analisis uji statistic tersebut
menunjukkan
bahwa
kedua
kelompok memiliki varian yang
sama atau homogeny (pvalue
0,05).
Komunikasi Terapeutik Efektif
dalam merubah/menurunkan gejala
perilaku kekerasan baik pada asfek
kognitif, emosi, perilaku, sosial,
fisiologis, bahwa berdasarkan uji
statistik yang dilakukan pada
kelompok
intervensi
terdapat
perubahan yang bermakna sesudah
pelaksanaan komunikasi terapeutik.
Respon kognitif klien menurun
secara bermakna dengan selisih 3.15
pada p value 0.05, respon emosi
klien menurun secara bermakna
dengan selisih 2.30 pada p value
0.05, respon perilaku klien menurun
secara bermakna dengan selisih 3.54

Saran
Berdasarkan simpulan diatas,
ada beberapa saran yang dapat
peneliti sampaikan sebagai berikut:
Aplikasi keperawatan, perawat
kesehatan jiwa di rumah sakit
diharapkan selalu memotivasi pasien
dan mengevaluasi kemampuankemampuan yang telah dipelajari dan
dimiliki oleh pasiensehingga latihan
yang diberikan membudaya. Apabila
terjadi kemunduran pada pasien
hendaknya
perawat
ruangan
mengkonsultasikan perkembangan
kliennya yang telah mendapat terapi
spesialis kepada perawat spesialis
yang dimiliki pihak rumah sakit.
Rumah
sakit
hendaknya
membuat program terapi spesialis
(komunikasi terapeutik) sehingga
pasien yang telah mendapatkan

12

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

terapi komunikasi terapeutik dapat


melanjutkan terapinya walaupun
pasien telah pulang dari rumah sakit.
Program ini nantinya dapat memberi
follw up terhadap perkembangan
pasien sehingga kekambuhan pasien
dengan maslah yang sama yaitu
perilaku kekerasan dapat dicegah.
Pengembangan keilmuan, hasil
penelitian ini hendaknya digunakan
sebagai base evidence dalam
mengembangkan terapi komunikasi
terapeutik baik pada individu
maupun kelompok, sehingga menjadi
modalitas terapi keperawatan jiwa
dalam mengatasi masalah kesehatan
jiwa dan meningkatkan derajat
kesehatan jiwa.
Penelitian lebih lanjut perlu
dilakukan pada klien dengan perilaku
kekerasan dengan cohort untuk
melihat pencapaian kemampuan
dalam menurunkan gejala dan
meningkatkan
kemampuan
mengontrol prilaku kekerasan.
Perlu dibuat kuesioner yang
mampu mewakili pengungkapan
kemarahan baik kognitif, emosi,
perilaku, sosial, fisiologis sehingga
data yang diperolh optimal.

Universitas Indonesia. Jakarta.


2001.
Brereton M. L. Communication
inverting nursing context: The
theory-practice relationship,
Journal of Advanced Nursing,
21, pg 314-324.1995
Birchwood. (2009). Cognitive
behaviour therapy for
commend hallucination.
http//publications.cpaapc.org/media,php?mid=503,
diperoleh tanggal 10 Februari
2011.
Boyd, M.A. & Nihart, M.A. (1998).
Psychiatric Nursing
Contemporary Practice. USA.
Lippincott Raven Publisher.
Bungin, B. (2010). Metodologi
penelitian kuantitatif. Jakarta:
Kencana.
Carson. (2000). Mental health
nursing. United State of
America: W.B. Sauders
Company.
Caroline. (2008). Pengaruh
penerapan standar asuhan
keperawatan halusinasi
terhadap kemampuan klien
mengontrol halusinasi di RS
Jiwa Soeharto Heerdjan
Jakarta. Tesis. Tidak
dipublikasikan.

Daftar Pustaka
Arip, Mohamad. 1998. Pengetahuan
Perawat terhadap Komunikasi
Intrapersonal yang Terapeutik
dalam melaksanakan Asuhan
Keperawatan. Skripsi. Fakultas
Ilmu Keperawatan UI. Depok.

Cristopher, E. (2010). Anger,


agression, and irrational
beliefs in adolescents, Cogn
Ter Res. Springer Science LLC

Akemat. Bimbingan klinik


keperawatan professional Jiwa,
Fakultas Ilmu Keperawatan

13

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

diperoleh tanggal 12 Februari


2010.

Hastono, S.P. (2007). Analisis data


kesehatan. Jakarta: Fakultas
Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia (tidak
dipublikasikan).

Dominic, Upton. Attitudes Toward


and Knowledge of Clinical
Effectiveness in Nurses.
Journal of Advanced Nursing:
20. P 885-887.

Herdman, T.H. (2010). Nursing


Diagnoses : Definition and
classification 2009 2011, by
Nanda International, Alih
bahasa : Sumarwati Made,
Widiarti Dwi, Tiar Estu,
Jakarta : EGC.

Erwina, I. (2010) Pengaruh cognitive


behvior therapy terhadap posttraumatic stress disorder pada
penduduk pasca gempa di
kelurahan air tawar barat
kecamatan padang utara
propinsi sumatera barat. Tesis.
Jakarta. FIK UI. Tidak
dipublikasikan.

Jalil, M. (2006). Faktor-faktor yang


mempengaruhi kekambuhan
penderita skizoprenia di RSJ
Prof. Dr. Soeroyo Magelang.
Skripsi. Tidak dipublikasikan.

Fauziah (2009). Pengaruh terapi


perilaku kognitif pada klien
skizoprenia dengan perilaku
kekerasan, Tesis. Jakarta. FIK
UI. Tidak dipublikasikan.

Kaplan & Sadock. (2007). Sinopsis


psikiatri: ilmu pengetahuan
psikiatri klinis. (Jilid 1).
Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Fontaine, K.L. (2003). Mental health


nursing. new jersey. Pearson
Education. Inc.

Kasaan. (2005). Dasar-dasar


pendidikan. Jakarta: Studia
Press.

Fontaine, K.L. (2009). Mental health


nursing. new jersey. Pearson
Education. Inc.

Keliat, B.A. (2003). Pemberdayaan


klien dan keluarga dalam
perawatan klien skizofrenia
dengan perilaku kekerasan di
RSJP Bogor. Disertasi. Jakarta.

Froggatt, W (2005). A brief


introduction to rational
emotive behaviour therapy,
journal of rational emotive
behaviour therapy, version Feb
2005

Keliat, BA, Akemat (2010). Model


Praktik Keperawatan
Profesional Jiwa. Jakarta :
EGC.

Hamid, A.Y. Komunikasi


Terapeutik. Pelatihan
Keperawatan Jiwa Fakultas
Keperawatan UI. Depok. 1996.

Kneisl, C.R., Wilson, S.K., and


Trigoboff, E. (2004).
Psychiatric mental health

14

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

nursing. New Jersey: Pearson


Prentice Hall.

Advanced Nursing, 20. 81-84.


1994.

Kusumawati, F. dan Hartono, Y.


(2010). Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. Jakarta :
Salemba Medika.

Putri, E.D. (2010). Pengaruh


rational emotive behaviour
therapy pada klien dengan
perilaku kekerasan di Rumah
Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.
Tesis. Tidak dipublikasikan.

Kazantzis, Reinecke, and Freeman


(2010). Cognitive and
behavioral Theories in clinical
practice. America: The
Guilford Press.

Permatasari. Pengetahuan Perawat


Rumah Sakit Jiwa Pusat Bogor
Terhadap Pelaksanaan
Komunikasi Terapeutik,
Skripsi S1 Fakultas Ilmu
Keperawatan UI. Jakarta. 1996.

Mediarti, Devi. Hubungan


Pengetahuan dan Sikap
dengan Pelaksanaan
Komunikasi Terapeutik pada
Mahasiswa Akper Depkes
Palembang. Tesis. Program
Pasca Sarjana Fakultas
Kesehatan Masyarakat-UI.
Depok. 2001

Suryana. Pelaksanaan Komunikasi


Terapeutik Perawat terhadap
Pasien Penyakit Jantung
Koroner yang Mengalami
Kecemasan di Ruang Inap ICU
RSUP Hasan Sadikin Bandung.
Skripsi. Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas
Pajajaran. Bandung. 1998.

Maramis, W.F. (2006). Catatan ilmu


kedokteran jiwa. Surabaya.
Airlangga University Press.
Martin & Dahlen (2004). Irrational
beliefs and the experience and
expression of anger, Journal of
rational emotive & cognitif behaviour therapy, Vol 22, No.
1, Spring.
NIMH. (2011). The numbers count
mental disorders in America
http://www.nimh.nih.gov/healt
h/publications/index.shtml,
diperoleh tanggal 20-02-2011.
Nigel, I. Knowledge and level of
consciousness: A[pplication to
nursing practice. Journal of

15

Prosiding
Seminar Nasional 2013
Penanggulangan Masalah Gizi pada Anak Melalui Pendekatan Peka Budaya

16