Anda di halaman 1dari 4

2.

PENOLAKAN

Reaksi kaum kafir Quraisy menolak dakwah Rasulullah Saw yang berlangsung
sejak adanya dakwah yang dilakukan secara terang-terangan oleh Rasulullah
Saw pada periode Mekah. Dan penolakan tersebut dipicu karena adanya
beberapa sebab, diantaranya:
a. Rasulullah Saw mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan
antara semua orang. Mulia tidaknya seseorang tergantung ketakwaannya
terhadap Allah Swt. orang miskin yang bertakwa, di hadapan Allah Swt lebih
mulia daripada orang kaya yang durhaka (lihat Q.S. Al-Hujurat, 49: 13)
Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan
ajaran persamaan hak ini. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta
dalam masyarakat. Mereka ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan
ajaran Rasulullah Saw (Islam) melarangnya.
b. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam
kubur dan alam akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa maka si
alam kuburnya akan memperoleh kenikmatan dan di alam akhirat akan masuk
surga. Sedangakn manusia yang ketika di dunianya durhaka dan banyak berbuat
jahat, maka di alam kuburnya akan disiksa dan di alam akhiratnya akan masuk
neraka.
Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tersebut, karena mereka
merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
c. Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Rasulullah Saw yang menolak
dawah tersebut juga disebabkan karena mereka merasa berat meninggalkan
agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka. Mereka
berkata,Cukup bagi kami apa yang telah kami terimah dari nenek moyang
kami. (Q.S. Al-Maidah, 5: 104)

d. Islam melarang menyembah berhala, memperjualbelikan berhala-berhala, dan


melarang penduduk Mekah dan luar Mekah berziarah memuja berhala, padahal
itu semua mendatangkan keuntungan di bidang ekonomi terhadap kaum kafir
Quraisy. Oleh karena itulah, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha
menghentikan dakwah Rasulullah Saw.
Reaksi kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Rasulullah Saw juga
ditunjukan oleh para kaum kafir Quraisy dalam berbagai usaha penolakan
dan penghentian yang mereka lakukan seperti berikut:
Para budak yang telah masuk Islam, seperti Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu
Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh
para pemiliknya diluar batas perikemanusian. Bahkan, Az-Zanirah disiksa
hingga mengalami kebutaan dan Ummu Amr binti Yasir, budak milik Bani
Makhzum disiksa oleh tuannya sampai mati.
Abu Bakar Ash Shidiq r.a. tidak tega melihat saudara-saudaranya seiman disiksa
seperti itu, lalu beliau memerdekakan beberapa orang dari mereka termasuk
Bilal, dengan cara memberikan sejumlah uang tebusan kepada tuannya.
Setiap keluarga dari kalangan kaum kafir Quraisy diharuskan menyiksa
anggota keluarganya yang telah masuk Islam, sehingga ia kembali menganut
agama keluarganya (agama Watsani).
Nabi Muhammad Saw sendiri dilempari kotoran oleh Ummul Jamil (istri Abu
Lahab) dan dilempari isi perut kambing oleh Abu Jahal.
Kaum kafir Quraisy meminta Abu Thalib, paman dan pelindung Rasulullah
Saw, agar Rasulullah Saw menghentikan dakwahnya. Namun tatkala Abu Thalib
menyampaikan keinginan kaum kafir Quraisy tersebut Rasulullah Saw
bersabda:Wahai pamanku demi Allah, biarkan mereka meletakkan matahari
di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan
dakwah agama Allah ini, hingga menang, atau aku binasa karenanya.

Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad Saw agar


permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir
Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam
menganut agama kaum kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap
berhala.
Usulan tersebut ditolak oleh Nabi Muhammad Saw, karena menurut ajaran
Islam mencampuradukkan akidah dan ibadah Islam dengan akidah dan ibadah
bukan Islam, termasuk perbuatan haram dan merupakan dosa besar (silakan
baca dan pahami Q.S. Al-Kafirun, 109: 1-6).
Aspek Sosial-Budaya bangsa Arab Pra- Islam
Sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali
daerah Yaman yang terkenal subur. Sebagai imbasnya, mereka yang hidup di
daerah itu menjalani hidup dengan cara pindah dari suatu tempat ke tempat lain.
Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Mereka tidak mengenal
hidup cara lain selain pengembaraan itu. Seperti juga di tempat-tempat lain, di
sini pun [Tihama, Hijaz, Najd, dan sepanjang dataran luas yang meliputi negerinegeri Arab] dasar hidup pengembaraan itu ialah kabilah. Kabilah-kabilah yang
selalu pindah dan pengembara itu tidak mengenal suatu peraturan atau tata-cara
seperti yang kita kenal. Mereka hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan
keluarga, dan kebebasan kabilah yang penuh.
Keadaan itu menjadikan loyalitas mereka terhadap kabilah di atas
segalanya. Ciri-ciri ini merupakan fenomena universal yang berlaku di setiap
tempat dan waktu. Bila sesama kabilah mereka loyal karena masih kerabat
sendiri, maka berbeda dengan antar kabilah. Interaksi antar kabilah tidak
menganut konsep kesetaraan; yang kuat di atas dan yang lemah di bawah. Ini
tercermin, misalnya, dari tatanan rumah di Mekah kala itu. Rumah-rumah
Quraysh sebagai suku penguasa dan terhormat paling dekat dengan Kabah lalu
di belakang mereka menyusul pula rumah-rumah kabilah yang agak kurang
penting kedudukannya dan diikuti oleh yang lebih rendah lagi, sampai kepada
tempat-tempat tinggal kaum budak dan sebangsa kaum gelandangan. Semua itu
bukan berarti mereka tidak mempunyai kebudayaan sama-sekali.
Fakta di atas menunjukkan bahwa pengertian Jahiliah yang tersebar luas
di antara kita perlu diluruskan agar tidak terulang kembali salah pengertian.
Pengertian yang tepat untuk masa Jahiliah bukanlah masa kebodohan dan
kemunduran, tetapi masa yang tidak mengenal agama tauhid yang menyebabkan
minimnya moralitas.

b). Agama bangsa Arab Pra-Islam


Paganisme, Yahudi, dan Kristen adalah agama orang Arab pra-Islam.
Pagan adalah agama mayoritas mereka. Ratusan berhala dengan bermacammacam bentuk ada di sekitar Kabah. Agama pagan sudah ada sejak masa
sebelum Ibrahim. Setidaknya ada empat sebutan bagi berhala-hala itu: s anam,
wathan, nus ub, dan h ubal. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang
berziarah ke tempat itu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya
sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa paganisme sudah berumur ribuan
tahun.
Yahudi dan Kristen dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib
dan Yaman. Tidak banyak data sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting
agama ini di Jazirah Arab, kecuali di Yaman..
Salah satu corak beragama yang ada sebelum Islam datang selain tiga
agama di atas adalah Hanfyah, yaitu sekelompok orang yang mencari agama
Ibrahim yang murni yang tidak terkontaminasi oleh nafsu penyembahan
berhala-berhalam, juga tidak menganut agama Yahudi ataupun Kristen, tetapi
mengakui keesaan Allah. Mereka berpandangan bahwa agama yang benar di sisi
Allah adalah Hanfyah.
c). Ekonomi bangsa Arab Pra-Islam
Sebagian besar daerah Arab adalah daerah gersang dan tandus, kecuali
daerah Yaman yang terkenal subur dan bahwa ia terletak di daerah strategis
sebagai lalu lintas perdagangan. Ia terletak di tengah-tengah dunia dan jalurjalur perdagangan dunia, terutama jalur-jalur yang menghubungkan Timur Jauh
dan India dengan Timur Tengah melalui jalur darat yaitu dengan jalur melalui
Asia Tengah ke Iran, Irak lalu ke laut tengah, sedangkan melalui jalur laut yaitu
dengan jalur Melayu dan sekitar India ke teluk Arab atau sekitar Jazirah ke laut
merah atau Yaman yang berakhir di Syam atau Mesir. Oleh karena itu,
perdagangan merupakan andalan bagi kehidupan perekonomian bagi mayoritas
negara-negara di daerah-daerah ini.
Perekonomian orang Arab pra-Islam yang sangat bergantung pada
perdagangan daripada peternakan apalagi pertanian. Mereka dikenal sebagai
pengembara dan pedagang tangguh. Mereka juga sudah mengetahui jalan-jalan
yang bisa dilalui untuk bepergian jauh ke negeri-negeri tetangga.