Anda di halaman 1dari 2

Hello Sehat > Stroke > Mengatasi Atrofi atau Kondisi Lemah Otot Setelah Stroke

Mengatasi Atrofi atau Kondisi Lemah Otot


Setelah Stroke
Oleh Lika Aprilia Samiadi. Data medis direview oleh Thu Truong, PharmD

Jika Anda pernah mengalami stroke, Anda mungkin akan menderita kelemahan otot wajah,
lengan, atau kaki. Biasanya, hanya salah satu sisi tubuh yang akan terpengaruh. Stroke yang
mempengaruhi koordinasi tubuh dapat mengakibatkan kesulitan bergerak bahkan ketika otot
Anda tidak menjadi lemah.
Selain itu, setelah stroke, banyak penderita stroke menderita kebingungan, kesulitan
berkomunikasi, kesulitan menelan, nyeri kepala, perubahan suasana hati, dan berbagai
masalah lain yang membuat kesulitan untuk bangun dan bergerak dengan aman.
Pasien yang menderita komplikasi stroke parah dan mengancam kehidupan dapat dimonitor
di unit perawatan intensif sampai bahaya tersebut ditangani. Kadang-kadang, pasien yang
tidak stabil secara fisik butuh berbaring di tempat tidur demi keamanannya.
Rehabilitasi merupakan bagian penting dari pemulihan stroke dan beberapa pasien cukup
beruntung untuk dapat memulai terapi fisik atau terapi okupasi setelah stroke.

Mengapa kelemahan otot terjadi?


Ketika otot-otot tidak digunakan, suatu kondisi yang disebut atrofi sering terjadi. Atrofi
adalah menyusutnya jaringan otot. Jika latihan fisik di gym akan melatih otot, memicu otot
untuk tumbuh kuat dan lebih besar, atrofi justru sebaliknya. Atrofi adalah berkurang atau
hilangnya massa otot akibat otot sudah terlalu lama tidak digunakan.
Kurangnya aktivitas menyebabkan otot menyusut dan lemah. Setelah penderita stroke siap
untuk aktif kembali, lemahnya otot atrofi ditambah lemah akibat dari stroke membuat
olahraga menjadi tantangan yang sulit.

Bagaimana cara mengendalikan dan mengatasi atrofi?


Salah satu metode yang digunakan untuk memulai aktivitas fisik sebelum pasien siap
melakukan terapi adalah menggerakan lengan dan kaki pasien secara perlahan. Hal ini sering
dilakukan untuk pasien stroke di rumah sakit yang tidak mampu untuk melakukan aktivitas.
Ada beberapa manfaat dari menggerakkan otot pasif, yaitu membantu untuk menghindari
luka akibat tekanan pada satu bagian tubuh ketika berbaring di tempat tidur atau duduk di
kursi dalam waktu yang lama. Hal ini dapat membantu mencegah penggumpalan darah yang
dapat terjadi pada lengan atau kaki karena kurang bergerak. Gerakan pasif telah juga diyakini
sebagai metode mencegah pembekuan darah. Gerakan pasif dapat membantu untuk
meminimalkan beberapa kerusakan saraf dan kekakuan otot yang biasanya terjadi selama
tidak aktifnya otot dalam waktu lama.

Meski atrofi adalah kondisi yang tidak menyenangkan, ini dapat disembuhkan. Banyak
pasien stroke menjadi tertekan ketika mereka mengamati tubuh kurus mereka yang tampak
lemah dan kurang gizi. Setelah stroke, gangguan makan merupakan hal umum bagi penderita
stroke sehingga berat badan langsung turun setelah stroke. Bahkan dengan upaya optimal
memberikan makan di rumah sakit, banyak pasien yang mengalami kesulitan menelan
sehinggaberat badan pun tetap turun drastis. Keluarga sering kali sangat prihatin melihat otot
kurus anggota keluarga yang disayanginya itu.
Namun, melanjutkan nutrisi dan aktivitas fisik secara perlahan dapat membantu
menyembuhkan atrofi, memungkinkan otot untuk memperbaiki ukuran dan bentuknya. Butuh
beberapa waktu untuk mengembangkan dan membangun kembali otot. Setelah penderita
stroke mulai melanjutkan kegiatan fisik dengan terapi fisik yang aman di rumah, nafsu makan
akan mulai membaik. Sering kali dibutuhkan perencanaan dan perhatian khusus untuk
menjaga asupan protein yang baik dan kalori yang cukup. Kegiatan ringan seperti berjalan
beberapa langkah atau bahkan mandi mungkin tampak melelahkan pada awalnya. Ekspektasi
dan peningkatan secara bertahap dapat membantu mencegah keputusasaan. Otot yang
terganggu akibat stroke masih bisa membaik berkat gerakan pasif jangka panjang. Hal ini
membantu koordinasi dan kesehatan secara keseluruhan.

Apa yang harus saya ingat?


Atrofi merupakan konsekuensi umum dari kurangnya penggunaan otot. Dengan waktu,
latihan, dan gizi yang baik penderita stroke dapat pulih dari atrofi.