Anda di halaman 1dari 25

EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE PBL ( Problem Based

Learning ) TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI


POKOK BAHASAN JURNAL KHUSUS KELAS XII IS I SMA PGRI
WIROSARI PURWODADI
AGUS , 3301405637 (2009) EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE PBL ( Problem Based Learning )
TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI POKOK BAHASAN JURNAL KHUSUS KELAS XII IS I
SMA PGRI WIROSARI PURWODADI. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

PDF (EFEKTIVITAS PENERAPAN METODE PBL ( Problem Based Learning ) TERHADAP


PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI POKOK BAHASAN JURNAL KHUSUS KELAS XII IS
I SMA PGRI WIROSARI PURWODADI) - Published Version
Restricted to Registered users only
Request a copy
Abstract
PBL (Problem Based Learning) atau Pembelajaran Berdasarkan Masalah. PBL adalah proses
pembelajaran yang dimulai dengan problem dan bukannya paparan/penjelasan mengenai pengetahuan
atau knowledge (D.Boud, G. Feletti, 1987 dalam Pengantar PBL, Djauhari Widjajakusumah). Dalam PBL,
problem disajikan terlebih dahulu sebelum knowlegde diberikan. Problem yang disajikan harus
menanyakan suatu masalah secara komprehensif, aplikasi, analisa dan sintesa. Peserta didik harus
memilih knowledge yang dibutuhkan, mempelajari hal tersebut, dan menghubungkannya dengan problem
yang diberikan.Pemakaian metode PBL (Problem-Based Learning) muncul dari konsep bahwa siswa
akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan
temannya dan selalu aktif dalam proses pembelajaran. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk
saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi pengunaan kelompok sejawat
menjadi aspek utama dalam pembelajaran PBL (Problem-Based Learning). Berdasarkan kenyataan
tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: Efektivitas Penerapan Metode PBL
(Problem Based Learning) Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Pokok Bahasan Jurnal Khusus
Perusahaan Dagang Kelas XII IS 1 SMA PGRI Wirosari Purwodadi Hasil penelitian menunjukkan bahwa
melalui proses pembelajaran PBL (Problem Based Learning) mampu meningkatkan hasil belajar siswa
pada materi Jurnal Khusus Perusahaan Dagang. Rata-rata kemampuan siswa pada siklus I sebesar 6,78,
pada siklus II dengan rata-rata sebesar 7,28 dan pada siklus III mencapai 8,55. Adanya peningkatan ini
menunjukkan bahwa pembelajaran PBL (Problem Based Learning) efektif untuk melatih kemampuan
siswa memahami dan membuat Jurnal Khusus Perusahaan Dagang. PBL merupakan suatu model
pembelajaran dimana sebelum proses belajar mengajar didalam kelas dimulai, siswa terlebih dahulu
diminta mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan yang
muncul, serta mendiskusikan permasalahan dan mencari pemecahan masalah dari permasalahan
tersebut. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang untuk berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan
masalah yang ada serta mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan
perspektif yang berbeda di antara mereka.

Metode Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based


Learning)
Oleh Suyatno
Setelah Metode Kolaboratif dimunculkan garduguru di beberapa hari yang lalu, berikut ini dipaparkan
Metode Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning dengan harapan dapat
memperkaya guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

merupakan metode pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Seperti halnya CL, metode ini juga berfokus
pada keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik tidak lagi diberikan materi
belajar secara satu arah seperti pada metode pembelajaran konvensional. Dengan metode ini,
diharapkan peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan mereka secara mandiri. PBL juga
memberi kesempatan peserta didik untuk mempelajari teori melalui praktek. Peserta didik bukan hanya
perlu mencari konklusi tetapi juga perlu menganalisis data.
Boud dan Felleti (1991, dalam Saptono, 2003) menyatakan bahwa Problem Based Learning is a way of
constructing and teaching course using problem as a stimulus and focus on student activity. H.S.
Barrows (1982) menyatakan bahwa PBM adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada
prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau
mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai
sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya.
PBM adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan
nyata lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan
dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge
ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil
merupakan poin utama dalam penerapan PBL.
Tidak selamanya proses belajar dengan metode PBM berjalan dengan lancar. Ada beberapa hambatan
yang dapat muncul. Yang paling sering terjadi adalah kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar
dengan metode ini. Peserta didik dan pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional,
pemberian materi terjadi secara satu arah. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu. Proses PBM
terkadang membutuhkan waktu yang lebih banyak. Peserta didik terkadang memerlukan waktu untuk
menghadapi persoalan yang diberikan. Sementara, waktu pelaksanaan PBM harus disesuaikan dengan
beban kurikulum.
Dengan menggunakan pendekatan PBM ini, siswa akan bekerja secara kooperatif dalam kumpulan untuk
menyelesaikan masalah sebenarnya dan yang paling penting membina kemahiran untuk menjadi siswa
yang belajar secara sendiri (Hamizer, dkk, 2003).
Siswa akan membina kemampuan berpikir secara kritis secara kontinu berkaitan dengan ide yang
dihasilkan serta yang akan dilakukan. Dalam melaksanakan proses pembelajaran PBM ini, Bridges
(1992) dan Charlin (1998) telah menggariskan beberapa ciri-ciri utama seperti berikut.
1.Pembelajaran berpusat dengan masalah.
2.Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi oleh
siswa dalam kerja profesional mereka di masa depan.
3.Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh siswa saat proses pembelajaran disusun berdasarkan
masalah.
4.Para siswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.
5.Siswa aktif dengan proses bersama.
6.Pengetahuan menyokong pengetahuan yang baru.
7.Pengetahuan diperoleh dalam konteks yang bermakna.
8.Siswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.
9.Kebanyakan pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok kecil.
Berikut langkah-langkah PBM. Guru memulai sesi awal PBM dengan presentasi permasalahan yang

akan dihadapi oleh siswa. Siswa terstimulus untuk berusaha menyelesaikan permasalahan di lapangan.
Siswa mengorganisasikan apa yang telah mereka pahami tentang permasalahan dan mencoba
mengidentifikasi hal-hal terkait. Siswa berdiskusi dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang
tidak mereka pahami. Guru mendampingi siswa untuk fokus terhadap pertanyaan yang dianggap penting.
Setelah periode self-study, sesi kedua dilakukan. Pada awal sesi ini siswa diharapkan dapat membagi
pengetahuan baru yang mereka peroleh. Siswa menguji validitas dari pendekatan awal dan
menyaringnya. Siswa berlatih mentransfer pengetahuan dalam konteks nyata melalui pelaporan di kelas.
PBM berbeda dengan metode konvensional. Metode konvensional berupa ceramah yang memusatkan
perhatian siswa sepenuhnya kepada guru sehingga yang aktif di sini hanya guru, sedangkan siswa hanya
tunduk mendengarkan penjelasan yang dipaparkan. Partisipasi siswa rendah karena hanya diberi
kebebasan untuk bertanya mengenai materi yang telah dijelaskan oleh guru sehingga metode
konvensional masih kurang menggugah daya pemikiran siswa. Sedangkan, metode PBM adalah metode
pembelajaran yang berbasis kepada partisipasi para siswa. Pada jam pertama pembelajaran, metode
yang diterapkan adalah diskusi. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa yang ditunjuk secara acak.
Pertanyaan yang diajukan bersifat menggali pendapat dan mengembangkan kemampuan analisis siswa.
Kemudian, pada satu jam terakhir, guru memberikan rangkuman dan inti dari diskusi pada hari itu disertai
dengan inti dari konteks materi dihubungkan dengan implementasi di lapangan.
Perlu diingat, PBM bukanlah satu-satunya metode yang baik. Masih banyak metode pembelajaran yang
baik pula. Untuk itu, guru perlu berpikir divergen dalam menggunakan metode pembelajaran sehingga
tidak selalu mengagungkan sebuah metode pembelajaran karena metode pembelajaran adakalanya
buruk jika tidak dapat mencapai tujuan.
Abstract: One of problem faced our education is the weakness of learning study. In course
of study, child less pushed to develop ability to think. One of the approach can be used is to
determine the quality of education process is through approach of system. Through
approach of system study of us can see various aspects able to influence efficacy and
process. In this case approach of study base on problem can become choice of metodik to
all lecturer and also teacher. PBL have idea that study can reach by if activity of education
concentrated on problems or duties which is otentik-relevan and presented in a context. PBL
alternatively pedagogic model start popular in teacher environment. Basis for theory of PBL
is collaborativisme, in perspective which have a notion that student will compile knowledge
by developing thinking from all knowledge which have owned of and from all that is
obtained as result of activity of have interaction with individual humanity. Method Five Step
of PBL is fundamental or basic concept, defining the problem, self learning, exchange
knowledge, and assessment.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan
kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan anak
untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai
informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkan
dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka
pintar teoritis tetapi mereka miskin aplikasi. Pendidikan di sekolah terlalu menjejali otak

anak dengan berbagai bahan ajar yang harus dihafal. Pendidikan tidak diarahkan untuk
mengembangkan dan membangun karakter serta potensi yang dimiliki. Dengan kata lain,
proses pendidikan kita tidak diarahkan membentuk manusia cerdas, memiliki kemampuan
memecahkan masalah hidup, serta tidak diarahkan untuk membentuk manusia kreatif dan
inovatif.
Permasalahan lain juga terjadi pada kalangan perguruan tinggi. Belajar di perguruan tinggi
yang merupakan pilihan strategis untuk mencapai tujuan individual yang berkompeten
ternyata masih jauh dari harapan. Belajar di perguruan tinggi tidak hanya dituntut
mempunyai keterampilan teknis tetapi juga mempunyai daya dan kerangka pikir serta sikap
mental, kepribadian, kearifan, dan mempunyai wawasan yang luas dan berbeda. Buchori
(2000) menyebutkan bahwa manusia yang arif adalah manusia yang mempunyai: (1)
pengetahuan yang luas, (2) kecerdikan, (3) sikap hati-hati, (4) pemahaman terhadap
norma-norma kebenaran, (5) kemampuan mencerna informasi, dan (6) akal sehat.
Selain hal tersebut di atas, kemampuan penalaran (reasoning) juga merupakan bagian
penting dari kearifan. Kondisi belajar mengajar di perguruan tinggi belum dapat mengubah
secara nyata wawasan dan perilaku akademik. Hal ini dapat dilihat dari kualitas penalaran
dan pemahaman mahasiswa pada saat pendadaran atau ujian komprehensif.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas proses pendidikan
adalah melalui pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem pembelajaran, kita bisa
melihat berbagai aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu proses. Pendekatan
pembelajaran berbasis masalah dapat menjadi pilihan metodik bagi para guru maupun
dosen.

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)


Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan
pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta
didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi kuliah atau materi
pelajaran.
Landasan teori PBL adalah kolaborativisme, suatu perspektif yang berpendapat bahwa
mahasiswa akan menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua
pengetahuan yang sudah dimilikinya dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan
berinteraksi dengan sesama individu. Hal tersebut juga menyiratkan bahwa proses
pembelajaran berpindah dari transfer informasi fasilitator-mahasiswa ke proses konstruksi
pengetahuan yang sifatnya sosial dan individual. Menurut paham konstruktivisme, manusia
hanya dapat memahami melalui segala sesuatu yang dikonstruksinya sendiri.
PBL memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat dicapai jika kegiatan pendidikan
dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik, relevan, dan dipresentasikan
dalam suatu konteks. Cara tersebut bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman

sebagaimana nantinya mereka menghadapi kehidupan profesionalnya. Pengalaman tersebut


sangat penting sebagaimana dinyatakan dalam model pembelajaran Kolb (1976) yang
menekankan bahwa pembelajaran akan efektif bila dimulai dengan pengalaman yang
kongkret. Pertanyaan, pengalaman, formulasi, serta penyusunan konsep tentang
permasalahan yang mereka ciptakan sendiri merupakan dasar untuk pembelajaran.
spek penting dalam PBL adalah bahwa pembelajaran dimulai dengan permasalahan dan
permasalahan tersebut akan menetukan arah pembelajaran dalam kelompok. Dengan
membuat permasalahan sebagai tumpuan pembelajaran, para mahasiswa didorong untuk
mencari informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu
keuntungan PBL adalah para mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan yang
telah dimilikinya kemudian mengembangkan keterampillan pembelajaran yang independen
untuk mengisi kekososongan yang ada. Hal tersebut merupakan pembelajaran seumur
hidup karena keterampilan tersebut dapat ditransfer ke sejumlah topik pembelajaran yang
lain, baik di dalam maupun di luar universitas. Dengan PBL yang memfokuskan pada
permasalahan yang mampu membangkitkan pengalaman pembelajaran maka mahasiswa
akan mendapat otonomi yang lebih luas dalam pembelajaran. Oleh karena itu perancangan
permasalahan perlu dilakukan dengan sangat hatihati untuk meyakinkan bahwa sebagian
besar tujuan perkuliahan dapat tercapai.

PENGEMBANGAN TUJUAN
Dalam PBL, tujuan adalah sangat penting karena menyangkut formulasi permasalahan,
tujuan pembelajaran mahasiswa, dan penilaian. Salah satu cara untuk mengembangkan
tujuan adalah menyatakan segala sesuatu yang harus dimiliki oleh para mahasiswa setelah
selesai mengikuti kuliah dalam hal pengetahuan (berkaitan dengan kandungan mata
kuliah), keterampilan (berkaitan dengan kemampuan mahasiswa mulai dari mengajukan
pertanyaan, penyusunan esai, searching basis data, dan presentasi makalah), dan sikap
(berkaitan dengan pemikiran kritis, keaktifan mendengar, sikap terhadap pembelajaran, dan
respeknya terhadap argumentasi mahasiswa lain).

FORMULASI PERMASALAHAN
Formulasi permasalahan merupakan kunci keberhasilan PBL. Untuk mengembangkan
permasalahan perlu diperhatikan beberapa aspek. Mahasiswa memerlukan informasi yang
lebih banyak daripada yang telah dipresentasikan. Informasi yang tidak lengkap akan
menyadarkan mereka apa yang sesungguhnya terjadi dan membantu mereka menentukan
tindakan apa saja yang harus diambil untuk menyelesaikan permasalahan.
Tidak ada formula yang pasti untuk melakukan investigasi, karena satu permasalahan dan
permasalahan lain memiliki perbedaan. Permasalahan akan mengalami perubahan saat ada
tambahan informasi. Para mahasiswa membuat keputusan serta memberikan penyelesaian
pada permasalahan yang real. Hal tersebut akan membawa pada kenyataan bahwa mungkin
jawaban yang benar tidak hanya satu.

Dari sisi dosen, PBL mendukung pembelajaran yang open-mind, reflektif, kritis, dan aktif.
Dalam PBL, peran dosen/guru berubah dari penyedia fakta menjadi fasilitator lingkungan
pembelajaran dan membangun komunitas pembelajaran. Konsep tersebut secata etis
maupun moral sangat baik karena memberikan respect pada dosen maupun mahasiswa
sebagai individual dengan pengetahuan, pemahaman, dan minat yang sama, yang
bergabung dalam suatu wadah untuk berbagi pengetahuan dalam satu proses
pembelajaran. Penerapan PBL dimulai pada beberapa mata kuliah secara parsial dan dalam
perjalanannya dikembangkan dengan mengintegrasikan beberapa mata kuliah sebagai
kelompok dengan sebuah skenario PBL.
Tidak semua mata kuliah atau mata pelajaran dalam kurikulum dimungkinkan untuk
dilaksanakan dengan metode PBL. Mata kuliah tingkat lanjut lebih cocok diajarkan dengan
metode PBL karena dalam PBL pembelajaran mahasiswa dilakukan dengan cara
membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa dan dari
semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu. Mata
kuliah yang sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah mata kuliah kelompok
Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB). Mata kuliah selain kelompok MKB tetap perlu
ditingkatkan untuk mendukung pelaksanaan mata kuliah ber-PBL dan mendukung
paradigma student-centered learning. Proses pembelajaran dalam mata kuliah tersebut
ditingkatkan dengan mengadopsi pilar student-centered learning.
IMPLEMENTASI PBL
Sebelum melaksanakan perkuliahan dengan metode PBL perlu dilakukan persiapan yang
lebih intensif. Dalam perkuliahan dengan metode PBL ada tiga komponen yang akan bekerja
yaitu (1) institusi, (2) dosen dan asisten dosen, dan (3) mahasiswa. Ketiga komponen ini
bekerja sesuai peran atau tugas masing-masing untuk mendapatkan capaian pembelajaran
dalam mata kuliah ber-PBL secara optimal.
.
Institusi
Institusi dalam hal ini adalah sekolah atau satuan pendidikan. Institusi ini akan mendukung
pelaksanaan pembelajaran ber-PBL antara lain: (1) mempersiapkan sarana perkuliahan,
perpustakaan, dan alat-alat laboratorium, (2) menjamin keterlaksanaan perkuliahan dengan
mengganti kuliah yang tak terselenggara dan bila mana diperlukan membentuk tim dosen
pengampu mata kuliah, (3) menyediakan asisten perkuliahan, (4) mempersiapkan sarana
jaringan komputer, dan (5) merekam kehadiran perkuliahan mahasiswa dalam database
sehingga informasinya dapat digunakan untuk evaluasi pelaksanaan mata kuliah ber-PBL.
.
Dosen dan Asisten Perkuliahan
Dalam PBL, peran dosen dan asisten adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan

membangun komunitas pembelajaran. Peran dosen adalah: Pertama, mempersiapkan


skenario yang akan dibahas pada tiap sesi dan mengatur silabus mata kuliah dalam format
Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS). Jumlah sesi disesuaikan
dengan cakupan materi, output, dan outcome dari perkuliahan. Kedua, secara bertahap
mempersiapkan materi perkuliahan dalam bentuk file elektronik dan memberikan beberapa
sumber antara lain buku referensi dan link website.
Ketiga, sebagai fasilitator, dosen mendorong para mahasiswa untuk mengekplorasi
pengetahuan yang telah mereka miliki dan menentukan pengetahuan yang diperlukan
selanjutnya. Dosen umumnya diharapkan untuk menahan diri tidak memberikan informasi,
sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar para mahasiswa.
Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah: (1) melakukan klarifikasi (misal terhadap
perspektif yang muncul dalam diskusi), (2) mendorong pemikiran yang divergen (misalnya,
adakah kemungkinan solusi yang lain?), (3) meletakkan permasalahan sesuai konteks
(misalnya, apakah isu yang dibahas mengingatkan dosen pada berbagai informasi lain yang
telah teridentifikasi sebelumnya?), (4) membuat urutan prioritas (misalnya apakah berbagai
informasi yang telah diidentifikasi dapat diurutkan sesuai relevansinya terhadap
permasalahan?), dan (5) memoderasi diskusi (misalnya apakah ada kemajuan dalam
diskusi, kalau tidak, identifikasi apa saja yang salah dan kembalikan diskusi pada tujuan
yang semula).
Keempat, sebagai evaluator. Walaupun peran dosen tidak lagi dominan dalam pelaksanaan
perkuliahan ber-PBL, namun tetap dosen bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan
pelaksanaan dan pencapaian tujuan perkuliahan. Untuk itu secara berkelanjutan dosen
perlu mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan dan melakukan perbaikan segera bilamana
diperlukan baik dari sisi content maupun proses.
.
Mahasiswa
Peran mahasiswa secara umum dalam perkuliahan ber-PBL adalah mempersiapkan diri
untuk belajar dan bekerja secara kelompok serta berperan aktif dalam kuliah. Peran serta
mahasiswa yang dimaksud adalah seperti menghadiri dan mengikuti keseluruhan
perkuliahan dan tidak diperkenankan mendrop mata kuliah disaat mata kuliah tersebut
sedang berjalan.
LIMA LANGKAH DALAM PBL
Mata kuliah yang diselenggarakan dengan metode PBL dalam pelaksanaannya akan
mengikuti metode Lima Langkah PBL dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya
disesuaikan dengan mata kuliah yang bersangkutan. Lima Langkah tersebut adalah (1)
Konsep Dasar (Basic Concept), (2) Pendefinisian Masalah (Defining the Problem), (3)
Pembelajaran Mandiri (Self Learning), (4) Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge),
dan (5) Penilaian (Assessment).

.
Konsep Dasar
Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau
link dan skill yang diperlukan dalam perkuliahan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar
mahasiswa lebih cepat masuk dalam atmosfer perkuliahan dan mendapatkan peta yang
akurat tentang arah dan tujuan perkuliahan. Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk
memastikan mahasiswa mendapatkan kunci utama materi perkuliahan sehingga tidak ada
kemungkinan terlewatkan oleh mahasiswa seperti yang bisa terjadi jika mahasiswa
mempelajari secara mandiri. konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam
bentuk garis besar saja sehingga mahasiswa dapat mengembangkannya secara mandiri
secara mendalam.
Pada bagian ini dimungkinkan juga tidak berupa paparan konsep dasar oleh dosen tetapi
penggalian teori pendukung dari perkuliahan pendukung pada semester sebelumnya yang
dibutuhkan untuk mendasari pemahaman dalam mata kuliah ini oleh mahasiswa secara
mandiri. Untuk memastikan mahasiswa mengikuti langkah ini maka langkah konsep dasar
dilakukan dengan mengikuti petunjuk.
.
Pendefinisian Masalah
Langkah kedua dari metode Lima Langkah PBL adalah Pendefinisian Masalah (Defining The
Problem). Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan
dalam kelompoknya, mahasiswa melakukan berbagai kegiatan. Pertama, brainstorming.
Brainstroming ini dilaksanakan dengan cara semua anggota kelompok mengungkapkan
pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas sehingga dimungkinkan
muncul berbagai macam alternatif pendapat. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang
sama dalam memberikan dan menyampaikan ide dalam diskusi serta mendokumentasikan
secara tertulis pendapat masing-masing dalam kertas kerja.
Selain itu, setiap kelompok harus mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario
tersebut dan berusaha mendiskusikan maksud dan artinya. Jika ada mahasiswa yang
mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada teman yang lain. Jika ada bagian yang
belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis dalam permasalahan kelompok.
Selanjutnya, jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis
sebagai isu dalam permasalahan kelompok.
Kedua, melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus. Ketiga,
menentuan permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari
referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi pilihanpilihan yang diambil mahasiswa. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum
disinggung oleh mahasiswa, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan
alasannya.Pada akhir langkah ini mahasiswa diharapkan memiliki gambaran yang jelas

tentang apa saja yang mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan
pengetahuan apa saja yang diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap
mahasiswa mengikuti langkah ini maka pendefinisian masalah dilakukan dengan mengikuti
petunjuk.
.
Pembelajaran Mandiri
Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing mahasiswa mencari berbagai sumber yang
dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud bisa dalam
bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar
dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama yaitu (1) agar
mahasiswa mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan
permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu
tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat
dipahami.
Di luar pertemuan dengan fasilitator, mahasiswa bebas untuk mengadakan pertemuan dan
melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan tersebut mahasiswa akan saling bertukar
informasi yang telah dikumpulkannya dan pengetahuan yang telah mereka bangun.
Mahasiswa juga harus mengorganisasi informasi yang didiskusikan sehingga anggota
kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap permasalahan yang dihadapi.
Proses pelaksanaan pembelajaran mandiri dapat dimulai bila seleksi alternatif dan
pembagian tugas sudah dilakukan. Setiap mahasiswa melakukan pendalaman materi sesuai
dengan pembagian tugas dalam kelompok masing-masing. Pendalaman materi dapat
dilakukan melalui referensi (buku, jurnal, majalah, browsing internet, dan informasi dari
ahli), atau percobaan (simulasi dan perancangan perangkat keras).
.
Pertukaran Pengetahuan
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah
pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya mahasiswa berdiskusi dalam
kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan
kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara mahasiswa berkumpul
sesuai kelompok dan fasilitatornya.
Tiap kelompok menentukan ketua diskusi dan tiap mahasiswa menyampaikan hasil
pembelajaran mandiri dengan cara mengintegrasikan hasil pembelajaran mandiri untuk
mendapatkan kesimpulan kelompok. Langkah selanjutnya presentasi hasil dalam pleno
(kelas besar) dengan mengakomodasi masukan dari pleno, menentukan kesimpulan akhir,
dan dokumentasi akhir. Untuk memastikan setiap mahasiswa mengikuti langkah ini maka
dilakukan dengan mengikuti petunjuk.

.
Penilaian
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan
(skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup
seluruh kegiatan perkuliahan yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian
tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan
dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajran baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap
dititikberatkan pada penguasaan soft skill yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi,
kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran perkuliahan. Bobot penilaian untuk
ketiga aspek tersebut ditentukan oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan.
EVALUASI PELAKSANAAN PBL
Program studi melalui dosen melakukan evaluasi pelaksanaan PBL dalam perkuliahan untuk
mendapatkan informasi berupa (1) tingkat keberhasilan pelaksanaan perkuliahan, meliputi
keluaran perkuliahan, manfaat bagi mahasiswa, relevansi dengan kebutuhan kemampuan
lulusan dan (2) kendala atau masalah yang timbul, yang meliputi fasilitas penunjang
perkuliahan PBL, resistensi dosen, resistensi mahasiswa, dan informasi yang diperoleh
dilakukan untuk melakukan perbaikan pelaksanaan perkuliahan.
KESIMPULAN DAN SARAN
PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu
konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari materi pelajaran.
Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam
situasi berorientasi pada masalah.
Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu kemampuan
berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual dan belajar menjadi pembelajar
yang otonom. Keuntungan PBL adalah mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
Pembelajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihannya sendiri,
yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dunia nyata dan membangun pemahaman
tentang fenomena tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Albanese, M.A. & Mitchell, S.. 1993. Problem-based Learning: a Review of The Literature on
Outcomes and Implementation Issues. Academic Medicine
Barrows, H.S. & Tamblyn, R.M.. 1980. Problem-based Learning: an Approach to Medical
Education. New York: Springer Publishing
Melvin L. & Silberman. 1996. Active Learning:101 Strategies to Teach any Subject. USA:

Allyn & Bacon


Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: PT Grasindo
Proyek DUeLike Universitas Indonesia. 2002. Panduan Pelaksanaan Collaborative Learning &
Problem Based Learning. Depok: UI

Sumber : http://www.baylor.edu/content/imglib/48994.jpg
Menurut pendapat dari David Bound dan Grahame I Feletti (1997: 37) problem based learning is a conception of knowledge, understanding,
and education profoundly different from the more usual conception underlying subject-based learning. Berdasarkan pendapat tersebut
problem based learning merupakan gambaran dari ilmu pengetahuan, pemahaman, dan pembelajaran yang sangat berbeda dengan
pembelajaran subject based learning.
Menurut Bound dan Feletti (Barbara, 2001: 6) The basic principle supporting the concept of PBL is older than formal education itself; learning
is initiated by a posed problem, query, or puzzle that the learner want to solve. Pendapat Bound tersebut jika diterjemahkan mengandung
arti bahwa prinsip dasar yang mendukung konsep dari PBL lebih tua dari pendidikan formal itu sendiri. Belajar diprakarsai dengan adanya
masalah, pertanyaan, atau permainan puzel yang akan diselesaikan oleh peserta didik sendiri.
Metode PBL merupakan bagian dalam pembelajaran kontekstual dimana guru memberikan suatu permasalahan untuk dipecahkan oleh siswa.
Atau dengan kata lain pembelajaran yang berbasis pada masalah yang relevan dengan materi yang dipelajari. Guru menjelaskan tujuan
logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat aktif pemecahan masalah yang dipilih, membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Setelah itu guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah. Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas
dengan teman. Kegiatan selanjutnya mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil
kerja.
Menurut Nurhadi (2004: 100) pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pengertian pembelajaran berbasis masalah
adalah proses kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan pemikiran bagi
siswa dalam memecahkan masalah untuk memperoleh pengetahuan dari suatu materi pelajaran.
Adapun, ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, serta menghasilkan karya dan
peragaan.
Albion dan Gibson mengemukakan pendapatnya mengenai metode PBL dan peranannya yaitu sebagai berikut.
Problem-based learning has been used for training professionals in diverse fields like medicine, engineering, law and business. Its
characteristic focus is on the presentation of authentic cases as the starting point for learning. This approach can be used to enhance
students motivation to learn and augment their ability to integrate knowledge from foundation disciplines in pursuit of a solution to practical
professional problems (Lin Juan Chan, 2007: 1)
Dari informasi di atas, metode PBL telah digunakan para pengajar professional di berbagai bidang seperti kedokteran, teknik mesin, hokum
dan bisnis. Metode PBL ini dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu juga membantu siswa dalam menerapkan
ilmu yang dimiliki untuk memecahkan masalah-masalah praktis.
Barrow dalam (David O Neville, 2007: 2) mengemukakan pendapat mengenai PBL yaitu:
Instead of promoting a teacher-centered learning environment, PBL places students in the center of the instructional paradigm. This shift in

pedagogical focus requires students to take control of their own learning by identifying what they need to know to better understand and
manage the problem on which they are working and determining where they will get that information
Barrow berpendapat bahwa PBL dapat menjadikan pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan menerapkan metode PBL siswa dapat
mengontrol sendiri proses pembelajarannya. Siswa dapat mengidentifikasi apa yang mereka ingin pelajari, mengendalikan masalah yang
muncul dan bagaimana mencari sumber informasinya.
Menurut Mestre, dalam (David O Neville, 2007 : 2) The primary aim of the student-centered learning environment is the creation of effective
problem-solving strategies. These strategies foster the ability of students to recognize patterns in related problem structures and to come up
with universal approaches for the solution of these problems.
Tujuan utama dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa adalah penciptaan strategi pemecahan masalah yang efektif. Strategi ini
mendorong kemampuan siswa untuk mengenali pola dalam struktur masalah yang berkaitan dan yang akan datang dengan pendekatan
universal untuk solusi masalah ini. Selanjutnya menurut David O Neville (2007: 2)
For undergraduates preparing for a competitive job market, the development of problem-solving strategies and deep linguistic competence
in a specific field would be extremely beneficial. Pendapat tersebut mengandung arti bahwa untuk mahasiswa, PBL dapat mempersiapkan
pasar kerja yang kompetitif, pengembangan strategi pemecahan masalah dan kompetensi linguistik yang mendalam di bidang tertentu akan
sangat bermanfaat.
Pendapat di atas selaras dengan pendapat Dunlop (dalam Micchele Keley 2006: 1) PBL capstone experience is effective in increasing student
perceptions of preparedness, self-efficacy, and personal ability, and serves as an excellent bridge between the academic and professional
worlds. Menurut Dunlop, PBL efektif dalam persepsi mahasiswa meningkatkan kesiap-siagaan, efektivitas diri, dan kemampuan pribadi, dan
berfungsi sebagai jembatan yang sangat baik antara dunia akademik dan profesional.
Referensi:

Problem-based learning (PBL) is a student-centered pedagogy in which students learn about a subject
in the context of complex, multifaceted, and realistic problems (not to be confused with project-based
learning). The goals of PBL are to help the students develop flexible knowledge, effective problem solving
skills, self-directed learning, effective collaboration skills and intrinsic motivation. [1] Working in groups,
students identify what they already know, what they need to know, and how and where to access new
information that may lead to resolution of the problem. The role of the instructor (known as the tutor in
PBL) is that of facilitator of learning who provides appropriate scaffolding and support of the process,
modelling of the process, and monitoring the learning. [2] The tutor must build students confidence to take
on the problem, encourage the student, while also stretching their understanding. [3]
PBL was pioneered in the medical school program at McMaster University in Hamilton, Ontario, Canada
in the late 1960s by Howard Barrows and his colleagues. [4] The PBL curriculum was developed in order to
stimulate the learners, assist the learners in seeing the relevance of learning to future roles, maintain a
higher level of motivation towards learning, and to show the learners the importance of responsible,
professional attitudes (Barrows, 1996).
Problem-Based Learning subsequently has been adopted by other medical school programs (Barrows,
1996), adapted for undergraduate instruction (Boud and Feletti, 1997; Duch et al., 2001; Amador et al.,
2006) as well as elementary and high school (Barrows, 1996; Gasser, 2011). The use of PBL has
expanded from its initial introduction into medical school programs to include education in the areas of
other health sciences, math, law, education, economics, business, social studies, and engineering
(Barrows 1996; Gasser, 2011). The use of PBL, like other student-centered pedagogies, has been
motivated by recognition of the failures of traditional instruction (Wingspread, 1994; Boyer, 1998) and the
emergence of deeper understandings of how people learn (National Research Council, 2000). Unlike
traditional instruction, PBL actively engages the student in constructing knowledge. PBL includes
problems that can be solved in many different ways and have more than one solution. [5] A good problem is
authentic, meets students level of prior knowledge, engages students in discussion, and is interesting. [2]

The Six core characteristics of problem based learning: [6]


-consists of student-centred learning
-learning occurs in small groups
-teachers act as facilitators or guides (referred to as tutors)
-a problem forms the basis for organized focus and stimulus for learning
-problems stimulate the development and use of problem solving skills
-new knowledge is obtained through means of self-directed learning

In PBL, students are encouraged to take responsibility for their group and organize and direct the learning
process with support from a tutor or instructor. Advocates of PBL claim it can be used to enhance content
knowledge while simultaneously fostering the development of communication, problem-solving, critical
thinking, collaboration, and self-directed learning skills. [3][7]
PBL may position students in a simulated real world working and professional context which involves
policy, process, and ethical problems that will need to be understood and resolved to some outcome. By
working through a combination of learning strategies to discover the nature of a problem, understanding
the constraints and options to its resolution, defining the input variables, and understanding the
viewpoints involved, students learn to negotiate the complex sociological nature of the problem and how
competing resolutions may inform decision-making.
Schmidt (1983) describes the process of Problem-based learning as being seven steps:
- clarifying and agreeing on terms and concepts that are unclear
- define the problem and review terms which need more depth or explanation
- analyze, brainstorm and create potential hypothesis
- discuss, evaluate and organize possible explanations into potential hypothesis
- generate and prioritize learning objectives, divide research workload
- private study time to research objectives
- during next tutorial report back gained information, create an explanation and synthesize new
information in relation to the problem

Pemelajaran Dengan Metode PBL Dan CL


Beserta Evaluasinya
1. Problem Based Learning (PBL)
A. Definisi
Problem Based Learning (PBL) adalah sebuah proses pemelajaran aktif yang menggunakan
permasalahan sebagai stimulus untuk didiskusikan oleh peserta didik untuk menemukan informasiinformasi yang dianggap penting untuk diketahui oleh para peserta didik. Proses pemelajaran PBL
ini dipandu oleh fasilitator dan pada akhir sesi pemelajaran akan diklarifikasi kebenaran informasinya
oleh narasumber.
Barrows (1982) mendefinisikan PBL sebagai a learning method based on the principle of using
problems as a starting point for the acquisition and integration of new knowledge.
B. Karakteristik
Ciri utama dari proses PBL adalah menjadikan suatu kasus nyata dan relevan yang sebagai stimulus
untuk didiskusikan oleh para peserta didik. Masalah yang dijadikan sebagai stimulus untuk
didiskusikan harus bersifat sangat netral, jangan sampai secara tersurat maupun tersirat
mengarahkan peserta diskusi untuk berpendapat terhadap satu isu tertentu saja.
Jika diibaratkan permasalahan yang dijadikan stimulus adalah tentang seekor kerbau dan informasi
penting yang ingin diperoleh setelah pemelajaran adalah tentang seekor kerbau, maka bahan
referensi yang dipersiapkan adalah berbagai macam sumber referensi tentang seekor kerbau secara
utuh. Apapun bahan referensi yang menjelaskan tentang seekor kerbau harus dipersiapkan dan
diberikan kepada peserta didik. Sumber bahan referensi beragam ini diharapkan nantinya akan
menjadi satu pemahaman tentang kerbau secara utuh setelah diklarifikasi kebenaran informasi
diskusi tentang seekor kerbau secara utuh oleh narasumber pada akhir sesi pemelajaran.
C. Pelaksanaan
Supaya peserta didik bisa mengetahui semua informasi penting terhadap suatu isu permasalahan
yang disajikan dengan isu permasalahan yang netral, maka setiap peserta didik diberikan bahan
referensi yang beragam. Tujuannya adalah agar pada sesi diskusi, setiap peserta didik bisa
menampilkan materi yang didapat dari setiap bahan referensi yang berbeda tersebut, sehingga
masing-masing peserta didik bisa mendapatkan informasi penting yang sangat beragam.
Diharapkan pada pelaksanaannya setiap peserta didik mendapatkan kesempatan untuk
menyampaikan hal-hal penting yang telah didapat dari bahan referensi yang sangat beragam
tersebut sehingga semua peserta didik pada akhir sesi pemelajaran bisa mendapatkan informasi
penting yang sangat beragam tentang suatu topik yang dijadikan isu permasalahan pada proses
pemelajaran ini. Jangan sampai ada peserta didik yang tidak berbicara atau tidak menjelaskan

bahan referensi yang telah dibaca, karena hal ini akan berujung pada kurangnya ragam informasi
penting yang seharusnya didapat oleh setiap didik pada akhir proses pemelajaran.
D. Langkah-langkah
Adapun langkah-langkah proses PBL adalah diawali dengan penyajian permasalahan yang
digunakan sebagai stimulus topik yang akan dibahas secara netral, kemudian dilanjutkan dengan
persiapan bahan referensi beragam tentang isu permasalahan yang dijadikan topik pemelajaran,
berikutnya isu permasalahan disajikan di dalam pemelejaran dan setiap peserta didik mendapatkan
materi yang beragam dan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Pada akhir proses
pemelajaran narasumber mengklarifikasi beragam informasi penting yang telah diperoleh dari hasil
diskusi setiap peserta didik.

Skema PBL
Sumber: Tugas Kelompok 1 Pelatihan PEKERTI gel. II tentang Problem Based Learning
Perlu diingat bahwa fasilitator bertanggung jawab terhadap penjelasan istilah-istilah baru, kurang
jelas, dan tentunya penting yang terkait dengan diskusi pada peroses pemelajaran. Penjelasan dan
klarifikasi ini sebaiknya diberikan pada awal proses pemelajaran sebelum proses diskusi
berlangsung. Fasilitator juga tidak disarankan untuk menjawab langsung pertanyaan dan
permasalahan yang terkait dengan content materi pemelajaran.
E. Evaluasi
Evaluasi untuk metoda pemelajaran ini bisa dilakukan dengan penilaian presentasi dan post-test.
2. Collaborative Learning (CL)
A. Definisi
Collaborative Learning (CL) adalah proses pemelajaran aktif yang melibatkan siswa bekerja dalam
tim untuk mencapai tujuan bersama, di bawah kondisi yang meliputi unsur-unsur berikut (Johnson,
Johnson, dan Smith, 1991)
1.

Positive interdependence.
Anggota tim diwajibkan untuk bergantung pada satu sama lain untuk mencapai tujuan. Jika ada
anggota tim gagal melakukan bagian mereka, semua orang menderita konsekuensi.
2. Individual accountability.
Semua peserta didik dalam kelompok bertanggung jawab untuk menyelesaikan bagian mereka dan
untuk penguasaan semua materi yang akan dipelajari.
3. Face-to-face promotive interaction.

Meskipun beberapa dari tugas kelompok dapat dibagi-bagi dan dilakukan secara individual,
beberapa harus dilakukan secara interaktif, dengan anggota kelompok dan memberikan umpan
balik.
4. Appropriate use of collaborative skills.
Peserta didik didorong untuk mengembangkan kepercayaan, kepemimpinan, pengambilan
keputusan, komunikasi, dan keterampilan manajemen konflik.
5. Group processing.
Anggota tim menetapkan tujuan kelompok, secara berkala menilai apa yang mereka lakukan baik
sebagai sebuah tim.
Menurut Bagus Takwim, tiga faktor yang menentukan efektifitas CL adalah:
1.

Komposisi kelompok

2.

Jenis dan bentuk tugas

3.

Media komunikasi
B. Karakteristik
Ciri utama dari proses pemeljaran CL adalah pembagian peserta didik ke dalam beberapa
kelompok, yaitu yang biasa disebut dengan home group dan focus group. Jika diambil contoh topik
seperti PBL di atas, yaitu bahasan mengenai seekor kerbau, maka pada metoda CL ini setiap
kelompok justru mendapatkan bahan referensi bagian-bagian tertentu saja dari seekor kerbau.
Nantinya diharapkan setiap peserta didik yang berada di kelompok yang berbeda dengan informasi
yang berbeda-beda pula tentang informasi dari bagian-bagian tertentu dari seekor kerbau dapat
berbagi dengan peserta didik lainnya, sehingga pada akhir sesi pemelajaran seluruh peserta didik
bisa mendapatkan informasi utuh tentang seekor kerbau secara keseluruhan.
C. Pelaksanaan
Masing-masing peserta didik ditempatkan dalam dua kelompok: focus group dan home group.Focus
group diberi satu tugas spesifik yg merupakan sub-materi dari keseluruhan materi yg harus dikuasai.
Home group diberi tugas untuk menguasai materi secara menyeluruh. Jumlah focus
groupdisesuaikan dengan jumlah sub-materi yg hendak dipelajari. Jumlah home group disesuaikan
dengan jumlah focus group.
Setelah masing-masing focus group menguasai sub-materi yang menjadi tugas mereka, masingmasing anggotanya masuk ke home group yg sudah ditentukan. Setiap anggota home
groupditugaskan untuk menjelaskan (menampilkan) sub-materi yang telah dikuasainya di
dalam focus group.
Kelompok diminta menanggapi penjelasan dari tiap anggotanya tentang sub-materi tertentu.

Setelah penjelasan masing-masing anggota selesai dan dapat dipahami oleh kelompok, makahome
group ditugaskan menyelesaikan masalah tertentu yg menuntut penguasaan keseluruhan materi.
Selama proses CL, fasilitator mengawasi dan memotivasi peserta didik untuk aktif terlibat dalam
aktivitas kelompok. Fasilitator memberi tanggapan dan umpan-balik terhadap presentasi tugas
setiap home group.
Pada akhir proses pemelajaran narasumber mengklarifikasi kebenaran semua informasi yang telah
didiskusikan, dibahas, dan dipresentasikan oleh setiap peserta didik baik yang dilakukan di
dalam focus group, maupun yang dilakukan di dalam home group.
D. Langkah-langkah
Langkah-langkah pelaksanaan motoda CL diawali dengan persiapan berbagai macam bahan
referensi terkait topik yang akan dipelajari. Dalam pelaksanaannya diawali dengan pembagian
peserta didik ke dalam focus group dan home group. Berikutnya pemelajaran bisa dilaksanakan
dengan panduan dan umpan balik dari fasilitator. Fasilitator diharapkan dapat memberikan umpan
balik dan tidak menjawab langsung pertanyaan dan permasalahan yang muncul
terkaitcontent materi pemelajaran.
E. Evaluasi
Evaluasi untuk metoda pemelajaran ini bisa dilakukan dengan penilaian presentasi, pre-post
test, peer evaluation.
Sumber
-Bagus Takwin (Dasar Pemikiran, Mekanisme dan Prosedur Pelaksanaannya)
-Bahan Pelatihan PEKERTI gelombang II Universitas Indonesia (28 Juni -2 Juli 2010)
-D.W., R.T. Johnson and K.A. Smith, Cooperative Learning: Increasing College Faculty Instructional
Productivity, ASHE-ERIC Higher Education Report No. 4, George Washington University, 1991.
-National Institute for Science Education (http://www.gdrc.org/kmgmt/c-learn/what-is-cl.html)
-Tugas kelompok Pelatihan PEKERTI gelombang II Universitas Indonesia (28 Juni -2 Juli 2010)
. Metode Problem Based Learning (PBL)
H.S. Barrows dalam M. Taufiq Amir (1980) sebagai pakar PBL menyatakan bahwa PBL adalah sebuah metode
pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk
mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak
didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya. PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal
pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata, lalu dari masalah ini siswa dirangsang untuk
mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya sehingga

dari ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil
merupakan poin utama dalam penerapan PBL.

Melaksanakan proses pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini, menurut Tan dalam M. Taufiq Amir (2003:30)
telah menggariskan beberapa ciri-ciri utama yang perlu ada di dalamnya seperti berikut:
1.

Pembelajaran berpusat atau bermula dengan masalah.

2.

Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi oleh siswa di
masa depan.

3.

Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh siswa semasa proses pembelajaran disusun berdasarkan
masalah.

4.

Para siswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.

5.

Siswa akan bersifat aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.

6.

Pengetahuan yang ada akan menyokong pembangunan pengetahuan yang baru.

7.

Pengetahuan akan diperoleh dalam konteks yang bermakna.

8.

Siswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.

Menurut Dutch dalam M. Taufiq Amir (1994) PBL adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal
cara belajar dan bekerja sama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata.
Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek.
PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan
secara tepat sumber-sumber pembelajaran. Metode ini dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil,
banyak kerja sama dan interaksi, mendiskusikan hal-hal yang tidak atau kurang dipahami serta berbagi peran untuk
melaksanakan tugas dan saling melaporkan.
2. Langkah-langkah Teknik Belajar Mengajar
1.

Guru membuka proses belajar mengajar

2.

Guru mengajukan permasalahan pada siswa untuk dipecahkan memakai metode Problem Based
Learning (PBL)

3.

Siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 5 atau 6 anggota
kelompok

4.

Memberi waktu kepada siswa untuk saling mendiskusikan permasalahan yang berkaitan dengan materi
tersebut

5.

Mengawasi dan membantu mengarahkan jalannya diskusi

6.

Pengumpulan tugas secara kelompok

7.

Guru mengacak kelompok untuk presentasi terhadap permasalahan yang sudah didiskusikan

8.

Guru melakukan klarifikasi atas hasil presentasi siswa

3. Kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan metode pembelajaran PBL


Kelebihan:
1.

Mengajak siswa berfikir secara rasional

2.

Menjadi lebih ingat dan meningkatkan pemahamannya atas materi pelajaran

3.

Dapat merangsang siswa untuk berfikir dan menghubungkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam
masyarakat

4.

Memotivasi siswa giat belajar

5.

Membangun kerja tim, kepemimpinan dan keterampilan siswa

Kelemahan:
1.

Waktu yang dibutuhkan untuk menerapkan metode Problem Based Learning (PBL) cukup lama.

2.

Kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan, karena permasalahan diberikan diawal pelajaran
sehingga siswa belum paham dengan materi pelajaran.

4. Prinsip Dasar Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)


Menggunakan metode PBL di dalam kelas, ada beberapa konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan
oleh guru. Adapun prinsip-prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut :
1.

Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas

2.

Merumuskan masalah

3.

Menganalisis masalah

4.

Menata gagasan secara sistematis dan menganalisisnya dengan dalam

5.

Memformulasikan tujuan pembelajaran

6.

Mencari informasi tambahan dari sumber yang lain

7.

Mensintesa ( menggabungkan) dan menguji informasi baru serta membuat laporan hasil diskusi

5. Perbedaan Metode Konvensional dengan Problem Based Learning (PBL)


Metode konvensional atau ceramah yang memusatkan perhatian siswa sepenuhnya kepada guru sehingga yang
aktif di sini hanya guru, sedangkan siswa hanya tunduk mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh guru.
Partisipasi siswa rendah karena siswa hanya diberi kebebasan untuk bertanya mengenai materi yang telah
dijelaskan oleh guru sehingga metode konvensional masih kurang menggugah daya pemikiran siswa. Sedangkan,
metode PBL adalah metode pembelajaran yang berbasis kepada keaktifan para siswa.
Perbedaan metode konvensional dengan metode Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
Metode Konvensional :

Berfokus pada guru.

Guru menerangkan dan siswa mendengarkan.

Guru menjelaskan seluruh materi.

Guru hanya menyiapkan materi.

Siswa hanya menghafal materi dan kemudian lupa.

Siswa pasif (keaktifan rendah).

Siswa membaca menjelang ujian.

Metode Problem Based Learning (PBL)

Berfokus pada siswa.

Siswa menjelaskan.

Guru merangkum materi berdasarkan hasil diskusi/pemikiran siswa.

Guru tidak hanya menyiapkan materi, tetapi juga harus menguasai metode penyampaian materi yang
efektif.

Siswa membaca sesuai silabus sebelum proses pembelajaran dimulai

Siswa aktif (keaktifan tinggi).

Siswa dapat dengan mudah menangkap esensi dari proses pembelajaran.

Pendahuluan:
Tujuan utama pendidikan kedokteran adalah perbaikan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Pendidikan kedokteran
saja kurang dapat menanggapi perubahan pada sistim pelayanan kesehatan , kemajuan teknologi dan menanggapi
kebutuhan serta harapan dari masyarakat. Sehingga diperlukan perubahan mendasar pada standard tersebut.
Hal tersebut menimbulkan konsep 2 (dua) tingkat yang berbeda:
a.

Standard dasar / kebutuhan dasar

b.

Standard pengembangan kualitas.

Secara prinsip gugus kerja kesehatan sudah mendunia dan mudah bergerak, sehingga harus ada standard untuk
menjamin mutu secara internasional. Untuk itu World Federation of Medical Education (WFME) mempunyai 3
(tiga) fase pendidikan kedokteran yaitu:
1.

Pendidikan kedokteran dasar

2.

Pendidikan kedokteran setelah lulus

3.

Pengembangan keprofesian yang berkelanjutan.

Continuing Professional Development (CPD) dilaksanakan pada periode setelah lulus pendidikan dasar
kedokteran dan berlanjut selama kehidupan profesional seorang dokter , yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan
dokter itu sendiri dengan aktivitas secara practice-based learning , dengan tujuan untuk mempertahankan dan
mengembangkan kompetensinya (dalam hal pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku).
Pada saat menentukan standard global untuk CPD , WFME tidak dapat menunjuk suatu institusi tertentu seperti
fakultas kedokteran pada pendidikan kedokteran dasar dan pelatihan kedokteran pasca lulus. Penerapan /
pelaksanaan CPD melibatkan berbagai pihak mulai dari dokter itu sendiri sampai ke penyelenggara CPD
multinasional, yang tanggung jawab dan interaksinya sangat bervariasi serta peran dan kompetensinya juga tidak
mudah ditentukan dengan pasti.

Karenanya WFME menunjuk organisasi profesi kedokteran sebagai badan yang mempunyai tanggung jawab utama
untuk perencanaan dan koordinasi CPD, termasuk rekomendasi dan dokumentasi kegiatan CPD.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang CPD IDSAI silahkan membuka:

STEP Qualifications

Continuing Professional Development

CPD Examples

The Key Benefits of CPD

Who should do CPD?

STEP Careers Centre

STEP : The Society of Trust an

Professional Development

Continuing Professional Development

Continuing Professional Development


What is CPD?
The maintenance and development of skills and competencies, to keep up-to-date and meet the reasonable
expectations of clients.

Who should do CPD?


Full members (TEP's), Associates and Affiliates of STEP are required to undertake and demonstrate the full 35
hour CPD requirement and be prepared to submit CPD records on request.

Why should I do CPD?


As a professional, you have a requirement to keep your skills and knowledge up-to-date. CPD is an opportunity
to develop yourself; the nature and measure of the benefit depends entirely on you. The credibility of your Society is
based on the willingness of each professional to embrace new skills, knowledge and experience.

CPD is crucial because it enables individuals to progress and develop their professional self, as well as remaining
current with their skills and competencies. CPD aids you to turn responsibility into a positive opportunity to identify
and achieve your own career objectives.

CPD - The key to managing your career


Professional development is a fundamental part of our working lives. It is the process, by which we keep up-to-date
with knowledge, improve our skills, progress into new roles and it keeps us employable throughout our lives.

The key benefits of CPD


COMPETENCE - CREDIBILITY - CAREER

Sample CPD activities


Many people are already doing CPD but do not realise it. Here are some examples of CPD activities.

Kurikulum Fakultas Kedokteran (KURFAK) 2005 adalah kurikulum


berbasis kompetensi yang merupakan cetak biru pendidikan dokter
di FKUI. Program yang disusun serta kompetensi yang ingin dicapai
dalam KURFAK 2005 ini menerapkan strategi dasar serta strategi
pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dengan RENSTRA FKUI
2000 - 2010 sehingga diharapkan dapat menunjang pencapaian VISI
FKUI 2010.
Kurikulum FKUI terdiri atas 3 tahap; tahap general
education, medical sciences serta tahapclinical practice dengan
tujuan akhir mencapai 7 kompetensi dasar serta 3 kompetensi
pendukung sbb:

Kompetensi Utama
1. Komunikasi efektif
2. Keterampilan klinik dasar
3. Ilmu dasar dalam praktek kedokteran
4. Pengelolaan masalah kedokteran dan kesehatan
5. Teknologi informasi
6. Mawas diri dan belajar sepanjang hayat
7. Etika, moral dan profesionalisme dalam praktek

Kompetensi Pendukung
1. Riset
2. Pengelolaan kegawat-daruratan kedokteran dan
kesehatan
3. Manajemen pelayanan kesehatan
Pendahuluan
Mencetak dokter-dokter unggul adalah proses panjang yang membutuhkan
pengabdian dan kerja keras. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
sangat menyadari hal tersebut sehingga kurikulum merupakan sebuah isu
yang
sangat
penting
bagi
kami.
Sebagai isu yang sangat penting, kurikulum di FKUI lahir melalui pemikiran
dan pertimbangan yang sangat mendalam, terutama dalam memenuhi
kebutuhan dunia kesehatan saat ini dan menjawab tantangan di masa
mendatang. Kurikulum yang ada pun harus diselaraskan dengan visi dan
misi FKUI. Visi dan misi tersebut telah dijabarkan dalam Rencana Strategis
(RENSTRA) FKUI 2000-2010. Oleh karena itu, kurikulum yang diterapkan
merupakan
realisasi
dari
RENSTRA
tersebut.

Kurikulum Fakultas Kedokteran (KURFAK) 2005 adalah kurikulum yang


sekarang diterapkan di FKUI. Dengan menekankan pada pencapaian
kompetensi, kurikulum tersebut memberikan stimulasi kepada mahasiswa
untuk aktif dalam proses pembelajaran, kritis dalam memahami materi
pelajaran, profesional dalam pengelolaan pasien, dan berempati secara
tulus.
Kurikulum FKUI terdiri atas tiga tahap: tahap general education, medical
sciences serta tahap clinical practice. Tahap general education ditempuh
mahasiswa semester satu. Selanjutnya pada semester 2-6 mahasiswa akan
melanjutkan ke tahap medical sciences. Tahap akhir yaitu clinical
practice dijalankan pada semester 7-10. Tahap pendidikan ini dilengkapi
dengan masa internship selama satu tahun. Selama masa praktik ini, dokter
umum baru akan memegang pasien secara langsung di bawah supervisi
konsulen atau dokter yang lebih senior.
Tujuan akhir dari KURFAK 2005 adalah pencapaian 7 kompetensi dasar serta 3
kompetensi
pendukung.
Kompetensi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

adalah

Komunikasi
Keterampilan
klinik
Ilmu
dasar
dalam
praktek
Pengelolaan
masalah
kedokteran
dan
Teknologi
Mawas
diri
dan
belajar
sepanjang
Etika,
moral
dan
profesionalisme
dalam

efektif
dasar
kedokteran
kesehatan
informasi
hayat
praktek

Kompetensi

Utama

tersebut

Pendukung

1.
Riset
2.
Pengelolaan
kegawat-daruratan
kedokteran
3. Manajemen pelayanan kesehatan

meliputi
dan

kesehatan