Anda di halaman 1dari 93

hiperemesis gravidarum

Selasa, 02 Juli 2013


ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. M UMUR 26 TAHUN
G3P1A1 USIA KEHAMILAN 9 MINGGU 3 HARI DENGAN
HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI BPS DESI ANDRIANI, AMD. KEB
GARUNTANG BANDAR LAMPUNG TAHUN 2013
BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Setiap tahun terdapat sekitar 200.000 juta jiwa wanita hamil di Negara berkembang, yang
mana lebih dari 50% wanita hamil tersebut mengalami komplikasi kehamilan yang berat.
Serta lebih dari 500.000 di antaranya meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan
kehamilan yang beresiko (Safe Motherhood, 2001).

Menurut data World Health Organization (WHO), sebanyak 99 % kematian ibu akibat
masalah persalinan atau kelahiran terjadi Negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di
Negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu
kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di Sembilan Negara maju
dan 51 negara persemakmuran. Menurut WHO, 81% angka kematian ibu (AKI) akibat
komplikasi selama hamil dan bersalin, dan 25 % selama masa post partum (WHO, 2011).

Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 tercatat,

angka ibu melahirkan sebesar 228 per 100 ribu kelahiran dan angka kematian bayi sebesar 34
per seribu kelahiran hidup.

Namun hasil SDKI tahun 2012 tercatat, angka kematian ibu melahirkan sudah mulai turun
perlahan bahwa tercatat sebesar 102 per seratus ribu kelahiran hidup dan angka kematian bayi
sebesar

23

per

seribu

kelahiran

hidup.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung setiap tahunnya terlihat kasus kematian
ibu maupun bayi yang selalu meningkat. Pada kasus kematian ibu tahun 2012 tercatat 175
kasus, hal itu meningkat cukup pesat dibanding 2011 dengan 152 kasus. Sementara tahun
2010 dan 2009 tercatat 142 kasus dan 144 kasus (http://lampost.co/berita/kematian-ibu dan
anak-jadi-kendala-dilampung).
Kematian ibu atau kematian maternal adalah kematian seorang ibu sewaktu hamil atau dalam
42 hari sesudah berakhirnya kehamilan, tidak tergantung pada tempat atau usia kehamilan.
Kematian ibu ini dibagi menjadi kematian langsung dan kematian tidak langsung. Kematian
ibu langsung adalah ini sebagai akibat komplikasi kehamilan, persalinan, nifas, dan segala
intervensi atau penangannya tidak tepat dari komplikasi tersebut. Kematian ibu tidak
langsung sebagai akibat penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu
kehamilan. sebagian besar penyebab ini adalah perdarahan, infeksi dan abortus atau penyebab
lainnya seperti di sebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum
kehamilan atau persalinan, misalnya hipertensi, penyakit jantung, diabetes, anemia, malaria
dan termasuk hiperemesis gravidarum yang memperberat kehamilan sehingga kehamilan
dapat mengalami komplikasi.
Salah satu upaya penurunan AKI adalah dengan melakukan pelayanan antenatal yaitu dengan
program 4 kali kunjungan. Penyuluhan kepada ibu hamil perlu dilakukan karena banyak ibu

hamil yang tidak mengerti arti pentingnya pemeriksaan kehamilan, terutama penyuluhan
tentang komplikasi sebagai akibat langsung kehamilan yang merupakan hal yang patologis
salah satunya Hyperemesis Gravidarum.

Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari (Prawirohardjo, 2009; h. 815).

Penyebab hiperemesis gravidarum belum di ketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa
penyakit ini belum di ketahui secara pasti. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan
hiperemesis gravidarum adalah kemungkinan vili kariolis masuk kedalam pembuluh darah,
adanya faktor alergi, adanya faktorpredisposisi seperti primigravida, overdistensi rahim, mola
hidatidosa, hepatitis, serta adanya faktor psikologis seperti ketidakharmonisan rumah tangga,
kehamilan tidak diinginkan atau ketidaksiaapan memiliki anak (Sulistyawati, 2009; h. 153).
Dampak hiperemesis gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan klien, namun dapat
menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat badan lahir rendah, kelahiran
premature dan malformasi pada bayi baru lahir. Selain dampak fisiologis pada kehidupan
klien dan janinnya, hiperemesis gravidarum juga memberikan dampak secara psikologis,
sosial, spiritual, pekerjaan. Secara psikologis dapat menimbulkan dampak kecemasan, rasa
bersalah, dan marah (Runiari,2010; h. 14).

Hasil survey di BPS Desi Andriani, Amd. Keb jumlah ibu hamil dari bulan Januari- Mei 2013
terdapat 120 ibu hamil dan 13 ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul Asuhan

kebidanan ibu hamil pada Ny. M umur 26 tahun G3P1A1 usia kehamilan 9 minggu 3 hari
Dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Desi Andriani, Amd. Keb, Garuntang
Bandar Lampung Tahun 2013.

II. Rumusan masalah


Bagaimanakah Asuhan kebidanan ibu hamil pada Ny. M umur 26 tahun G3P1A1 usia
kehamilan 9 minggu 3 hari Dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di BPS Desi Andriani,
Amd. Keb, Garuntang Bandar Lampung Tahun 2013 ?

III. Tujuan penulisan


A. Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1
terhadap Ny. M umur 26 tahun G3P1A1 di BPS Desi Andriani, Amd. Keb sesuai dengan
standar

yang

telah

ditetapkan.

B. Tujuan Khusus
1. Dapat melakukan pengkajian data dasar kebidanan pada Ny. M dengan Hiperemesis
gravidarum di BPS Desi Andriani, Amd. Keb.
2. Dapat melakukan intervensi data untuk melakukan diagnosa, masalah dan kebutuhan pada
Ny. M dengan hiperemesis gravidarum di BPS Desi Andriani, Amd. Keb.
3. Dapat membuat antisipasi masalah potensial pada Ny. M dengan hiperemesis gravidarum di
BPS. Desi Andriani, Amd. Keb.
4.Dapat melaksanakan tindakan segera atau kolaborasi terhadap Ny. M dengan hiperemesis
gravidarum diBPS Desi Andriani, Amd. Keb.

5. Dapat merencanakan tindakan asuhan kebidanan terhadap Ny.M dengan hiperemesis


gravidarum

di

BPS

Desi

Andriani,

Amd.

Keb.

6. Dapat melaksanakan tindakan sesuai perencanaan terhadap Ny. M dengan hiperemesis


gravidarum di BPS Desi Andriani, Amd. Keb.
7. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah di berikan terhadap Ny. M dengan
hiperemesis gravidarum di BPS Desi Andriani, Amd. Keb.

IV. Ruang lingkup


A. Sasaran
Ny. M usia 26 tahun G3P1A1 umur kehamilan 9 minggu 3 hari dengan Hiperemesis
gravidarum tingkat I.
B.

Tempat
Penelitian dilakukan di BPS Desi Andriani, Amd. Keb dan dilanjutkan di rumah Ny. M .

C.

Waktu
Dilaksanakan dari tanggal 21 28 Mei 2013.

V. Manfaat Penulisan
Diharapkan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi :
A. Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan perkembangan bagi mahasiswa kebidanan, serta dapat
mengetahui perkembangan secara nyata dilapangan dan dapat dijadikan bahan referensi
untuk pendidikan.
B. Lahan Praktek
Mengetahui perkembangan secara nyata dilapangan sesuai teori yang ada, serta dapat dijadikan
sebagai bahan bacaan untuk lahan praktek.

C. Masyarakat
Meningkatkan

pengetahuan

masyarakat

mengenai

kehamilan

khususnya

mengenai

pengetahuan penanganan hiperemesis gravidarum pada kehamilan yang diderita oleh ibu
hamil.
D. Penulis
Memberikan manfaat bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan, wawasan dan
pengalaman. Serta dapat menerapkan secara langsung ilmu yang pernah didapat selama
kuliah.

VI. Metodologi Penelitian dan Teknik Memperoleh Data


A. Metodologi penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah dilakukan secara deskriftif yang dapat
didefinisikan sebagai suatu penelitian yang di lakukan untuk menggambarkan suatu
fenomena yang terjadi untuk menggambarkan masalah kesehatan serta yang terkait dengan
kesehatan kelompok penduduk atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu.
B. Tekhnik memperoleh data
1. Teknik memperoleh data berdasarkan sumbernya, penulis memperoleh data penulis selama
studi kasus kebidanan ini dapat dikelompokan dalam dua jenis yaitu data primer dan data
sekunder.
a. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti secara langsung dari
sumber datanya. Untuk mendapatkan data primer, penulis harus mengumpulkan secara
langsung. Teknik yang dapat digunakan penulis untuk mengumpulkan data primer antara lain
observasi, wawancara, diskusi terfokus. Anamnesa atau wawancara yang dilakukan penulis
dalam pengumpulan data secara allo anamnesa artinya penulis langsung melakukan
wawancara terhadap klien. Selain dari anamnesa yang dilakukan penulis juga memperoleh

data dari pengkajian fisik yang dilakukan secara head totoe, serta pemeriksaan penunjang
seperti kadar hemoglobin dalam darah, dan pemeriksaan urine.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan penulis dari berbagai sumber
yang telah ada (penulis sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai
sumber Biro Pusat Statistik (BPS), buku laporan, jurnal, dan lain-lain
(Notoatmodjo,S,2005; h. 102).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

Tinjauan Teori Medis

A. Kehamilan
1. Pengertian kehamilan
Menurut Obstetri Ginekologi internasional, kehamilan di definisikan sebagai penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan di lanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila di hitung dari
saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40
minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional (Prawirohardjo, 2009; h.
213).

Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan yang terdiri dari ovulasi
pelepasan ovum kemudian terjadi migrasi spermatozoa dan ovum, terjadilah konsepsi dan
pertumbuhan zigot kemudian zigot bernidasi pada uterus, setelah itu terjadilah pembentukan
plasenta dan tumbuh kembang embrio hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, 2009; h. 95).

Kehamilan adalah suatu hal yang fisiologis dimana bertemunya ovum dan sperma dan
membentuk zigot kemudian melakukan pembelahan dan bernidasi didalam kavum uteri dan
menghasilkan

embrio

(Sulistyawati,

2009;

h.

2).

Kehamilan adalah mulai dari ovulasi sampai partus lamanya 280 hari (40 minggu) dan tidak
lebih

dari

300

hari

(43

minggu)

(Ai

yeyeh,

2009;

h.

2).

Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. kehamilan dikatakan
beresiko tinggi adalah kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia dibawah 20 tahun
bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna, mental
dan psikisnya belum siap, dan keluarga atau suami yang tidak bisa menerima kehamilannya
hal ini tentu menyulitkan proses kehamilan dan persalinan. Sedangkan kehamilan diatas usia
35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan
antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama
(Manuaba, 2010; h. 9).
2. Usia kehamilan
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, yaitu :
a. Kehamilan trimester kesatu (berlangsung dalam 0-13 minggu)
b. Kehamilan trimester kedua (minggu ke-14 hingga ke-27)
c. Kehamilan trimester ketiga (minggu ke-28 hingga ke-40)
(Sulistyawati, 2009; h. 4).

Kehamilan terbagi dalam 3 trisemester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12


minggu, trimester kedua berlangsung 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester
ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40) (Prawirohardjo, 2009; h. 213).

B. Konsepsi, Fertilisasi, dan Implantasi.


1. Konsepsi
Konsepsi adalah pertemuan antara ovum matang dan sperma sehat yang memungkinkan
terjadinya kehamilan. Konsepsi ini dapat terjadi jika terpenuhi beberapa kriteria, yaitu sbb :
a.

Senggama harus terjadi pada bagian siklus reproduksi wanita yang tepat

b.

Ovarium wanita harus melepaskan ovum yang sehat pada saat ovulasi

c.

Pria harus mengeluarkan sperma yang cukup normal dan sehat selama ejakulasi

d. Tidak ada barrier atau hambatan yang mencegah sperma mencapai, melakukan penetrasi,
sampai akhirnya membuahi ovum
2. Fertilisasi
Merupakan kelanjutan dari proses konsepsi yaitu terjadi penyatuan sperma dan ovum, sampai
dengan terjadi perubahan fisik dan kimiawi ovumsperma hingga menjadi buah kehamilan.
Gambaran proses fertilisasi :
a. Kepala sperma membesar dan intisel sperma membentuk pronekleus pria
b. Intisel ovum membentuk pronekleus wanita
c. Kedua pronekleus berfusi. Dalam proses ini kedua pronekleus bersatu dan membentuk zigot
yang terdiri atas bahan genetik pria dan wanita. Dalam beberapa jam setelah konsepsi
terjadilah proses pembelahan zigot. Akhirnya dalam waktu 3 hari terbentuk suatu kelompok
sel-sel yang sama besarnya disebut morulla, proses selanjutnya perubahan morulla menjadi
blastula. Hasil konsepsi tiba kedalam kavum uteri pada tingkat blastula.
3. Implantasi
Nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi kedalam endometrium, blastula
diselubungi oleh simpai disebut trofoblast, yang mampu menghancurkan atau mencairkan
jaringan. Ketika blastula mencapai rongga rahim jaringan endometrium berada dalam fase

sekresi. Blastula yang berisi massa sel dalam akan mudah masuk kedalam desidua,
menyebabkan luka kecil yang kemudian sembuh dan menutup kembali. Itulah sebabnya pada
saat nidasi sering terjadi perdarahan yang di sebut dengan tanda harmant
(Sulistyawati, 2009; h. 35-37).

C. Tanda tanda kehamilan


1. Tanda pasti kehamilan
a.

Terdengar denyut jantung janin (DJJ)

b.

Terasa gerakan janin

c.

Pada pemeriksaan USG terlihat adanya kantong kehamilan, adanya gambaran embrio

d.

Pada pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin (>16 minggu) (Sulistyawati, 2009; h.
83).

2. Tanda kemungkinan hamil


a.

Perut membesar

b. Uterus membesar terjadi perubahan dalam bentuk besar dan konsistensi dari rahim
c.

Tanda hegar yaitu adanya uterus segmen bawah rahim yang lebih lunak

d. Tanda chadwick yaitu perubahan warna pada serviks dan vagina menjadi kebiru-biruan
e.

Tanda piskacek yaitu tempat yang kosong pada uterus karena embrio biasanya terletak
disebelah atas

f.

Braktons hicks yaitu kontraksi-kontraksi kecil pada uterus bila dirangsang

g. Teraba ballotement
h. Reaksi kehamilan positif

3. Tanda tidak pasti kehamilan

a.

Amenore

b. Mual muntah (nause dan vomiting)


c.

Mengidam

d. Pingsan
e.

Tidak ada selera makan

f.

Lelah

g. Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri


h. Miksi yaitu sering kencing
i.

Konstipasi

j.

Pigmentasi

kulit

(Dewi dan Sunarsih, 2010; h. 111-112).

D.

Perubahan Anatomi dan Fisiologi Kehamilan


1. Sistem reproduksi

a. Uterus
Pada kehamilan cukup bulan, ukuran uterus adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih
dari 4.000 cc. Hal ini memungkinkan bagi adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin
(Sulistyawati, 2009; h. 59).

Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan
hiperplasi sehingga seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Otot rahim menjadi lebih besar
dan lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena pertumbuhan janin. Perubahan
pada isthmus menjadi lebih panjang dan lunak. Perlunakan ini disebut dengan tanda hegar
(Manuaba,

2009;

h.

106).

Pada bulan-bulan pertama kehamilan, bentuk rahim seperti buah alpukat, Pada kehamilan
empat bulan berbentuk bulat, sedangkan pada akhir kehamilan berbentuk bujur telur, ukuran
rahim kira-kira sebesar telur ayam, pada kehamilan dua bulan seperti telur bebek, dan
kehamilan tiga bulan sebesar telur angsa (Dewi dan Sunarsih, 2010; h. 89).
Tabel 2.1
Perabaan TFU pertigajari

Usia kehamilan

Tinggi Fundus Uteri (TFU)

(Minggu)
12

3 jari di atas simfisis

16
20
24
28
32
36
40

Pertengahan pusat simfisis


3 jari di bawah pusat
Setinggi pusat
3 jari di atas pusat
Pertengahanpusatprosesus xiphoideus (px)
3 jari di bawah prosesus xiphoideus (px)
Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)

Sumber : Sulistyawati, 2009; h. 60.


2.

Servik
Serviks uteri bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak, kondisi ini yang disebut dengan
tanda goodel.
3.

Ovarium

Dengan Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum
akan

meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16

minggu. Kejadian ini tidak dapat lepas dari kemampuan vilikorealis yang mengeluarkan
hormon korionikgonadotropin yang mirip dengan hormon luteotropik hifofisis anterior
(Manuaba, 2009; h.108).

4.

Vagina

dan

Vulva

Vagina dan vulva mengalami perubahan karena pengaruh estrogen. Akibat dari
hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiruan. Warna livid pada
vagina disebut dengan tanda chadwick (Dewi dan Sunarsih, 2012; h. 91).
5. Payudara
Payudara sebagai organ target untuk proses laktasi mengalami banyak perubahan sebagai
persiapan setelah janin lahir. Beberapa perubahan yang dapat di amati oleh ibu adalah sebagai
berikut:
a.

Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat

b.

Dapat teraba nodul-nodul, akibat hipertropi kelenjar hipertrofi

c.

Bayangan vena-vena lebih membiru

d.

Hiperpigmentasi pada areola dan puting susu

e.

Kalau di peras akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning (Sulistyawati, 2009;
h. 65).

6. Kulit
Topeng kehamilan adalah bintikbintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan
pipi. Peningkatan pigmentasi juga terjadi disekeliling puting susu, sedangkan diperut bawah
bagian tengah biasanya tampak garis gelap yaitu spider angioma (pembuluh darah kecil yang
seperti labalaba) bisa muncul dikulit dan biasanya diatas pinggang. Pelebaran pembuluh
darah kecil yang berdinding tipis sering kali tampak ditungkai bawah.
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robekan serabut elastis di
bawah kulit, sehingga menimbulkan striae gravidarum. Kulit perut pada linea alba bertambah
pigmentasinya disebut linea nigra. Adanya vasodilatasi kulit menyebabkan ibu mudah

berkeringat. Ibu hamil mulai akan mengalami hiperpigmentasi pada muka biasanya terjadi
pada usia kehamilan 12 minggu akibat dari pengaruh hormon (Sulistyawati, 2009; h. 65).

7.

Sistem

endokrin

Selama mingguminggu pertama, korpus luteum dalam ovarium menghasilkan estrogen dan
progesteron fungsi utamanya pada stadium ini adalah untuk mempertahankan pertumbuhan
desidua dan mencegah pelepasan serta pembebasan desidua tersebut. Selsel trofoblast
menghasilkan hormon korionik gonadotropin yang akan mempertahankan korpus luteum
sampai plasenta berkembang penuh dan mengambil alih produksi estrogen dan progesteron
dari korpus luteum (Rukiyah, 2009; h. 43).

8.

Sistem

perkemihan

Selama kehamilan ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya
meningkat (sampai 30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24
minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang
akibat penekanan rahim yang membesar). Dalam keadaan normal, aktivitas meningkat ketika
berbaring dan menurun ketika berdiri. Keadaan ini semakin menguat pada saat kehamilan,
karena itu wanita hamil sering ingin merasa berkemih ketika mereka mencoba untuk
berbaring atau tidur. Pada akhir kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar
terjadi pada wanita hamil yang tidur miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim
pada vena yang membawa darah dari tungkai sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang
selanjutnya akan meningkatkan aktivitas ginjal dan curah jantung (Sulistyawati, 2009; h. 62).

Menurut Kusmiyati (2010; h. 59) pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing
tertekan sehingga sering timbul kencing. Keadaan ini akan hilang dengan tuanya kehamilan

bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Volumenya meningkat 60 ml dari 10 ml pada
wanita yang tidak hamil.

9.

Sistem

pencernaan

Biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormon progesteron yang meningkat. Selain itu
perut kembung juga terjadi karena adanya tekanan uterus yang membesar dalam rongga perut
yang mendesak organ-organ dalam perut khususnya saluran pencernaan, usus besar, kearah
atas dan lateral. Hemoroid cukup sering pada kehamilan sebagian besar akibat konstipasi dan
naiknya vena-vena dibawah uterus termasuk vena hemoroid, panas perut (heart burn) terjadi
karena aliran balik asam gastrik ke dalam esopaghus bagian bawah (Kusmiyati, 2010; h. 66).
10.

Sistem

kardiovaskuler

Selama kehamilan jumlah darah yang di pompa oleh jantung yang di pompa setiap menitnya
atau biasa disebut sebagai curah jantung (cardiac autput) meningkat sampai 30-50%
peningkatan ini mulai terjadi pada usia kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada
usia kehamilan 16-28 minggu. Oleh karena curah jantung yang meningkat, maka denyut
jantung pada saat istirahat juga meningkat (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 8090 kali/menit). Setelah mencapai usia kehamilan 30 minggu curah jantung agak menurun
karena pembesaran rahim menekan vena yang membawa darah dari tungkai ke jantung.
Peningkatan curah jantung selama kehamilan kemungkinan terjadi karena adanya perubahan
dalam aliran darah ke rahim. Janin yang terus tumbuh, menyebabkan darah lebih banyak
dikirim ke rahim ibu. Pada akhir usia kehamilan, rahim menerima seperlima dari seluruh
darah ibu (Sulistyawati, 2009; h. 61-62).
11.

Sistem

Respirasi

Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami perubahan. Ruang abdomen yang

membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan hormon progesteron
menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita hamil bernafas lebih
cepat dan lebih dalam kerena memerlukan lebih banyak oksigen untuk janin dan untuk
dirinya. Lingkar dada ibu hamil agak membesar. Lapisan saluran pernafasan menerima lebih
banyak darah tekanan dan kualitas ibu hamil juga agak berubah (Sulistyawati, 2009; h. 69).
12. Perubahan berat badan
Pertambahan berat badan ibu hamil menggambarkan status gizi selama hamil, oleh karena itu
perlu dipantau setiap bulan.
Perkiraan peningkatan berat badan :
a. 4 kg dalam kehamilan trimester I
b. 0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III
c. Totalnya sekitar 15-16 kg.
Komponen pertambahan berat badan ibu selama kehamilan :
1)

Jaringan ekstrauterin

: 1 kg

2)

Janin

: 3- 3,8 kg

3)

Cairan amnion

: 1 kg

4)

Plasenta

: 1 1,1 kg

5)

Payudara

: 0,5 2 kg

6)

Tambahan darah

: 2 2,5 kg

7)

Tambahan cairan jaringan

: 1,5 2,5 kg

8)

Tambahan jaringan lemak

: 2 2,5 kg

Total
(Sulistyawati,

: 11,5 16 kg
2009;

h.

69).

Tabel

2.2

Ketidaknyamanan pada masa kehamilan dan cara mengatasinya

Kegelisahan

Penyebab

Apa yang Harus Dilakukan

Mual /
Muntah (T
rimester
1)

Perubahan hormon estrogen


dan progesterone
menyebabkan mual dan
muntah yang biasa disebut
morning sickness. Anda
mungkin merasa sakit perut,
muntah, atau hanya tidak
doyan makan.
Morning sickness dapat
terjadi setiap saat pada
setiap harinya, terutama
ketika perut Anda
kosong. (Bagi kebanyakan
wanita, morning sickness
mulai hilang sekitar bulan
keempat kehamilan)

Makan secara teratur,


bahkan jika Anda merasa
mual. Karena jika Anda
Tidak makan ini justru tidak
mengurangi mual. Tidak
makan menyebabkan gula
darah Anda menurun,
sehingga membuat rasa
mual menjadi memburuk.
Makan Makanan kecil atau
makanan ringan setiap satu
sampai dua jam.
Makan roti kering, biskuit,
atau sereal kering sebelum
Anda bangun dari tempat
tidur di pagi hari. Karena
Makanan tersebut
mengandung banyak
Karbohidrat yang mudah
dicerna dan ini dapat
membantu meredakan rasa
mual..
Pastikan Anda minum
cukup cairan. Minum
beberapa ml cairan setiap
satu sampai dua jam. Limun
dan Gatorade/minuman
isotonik (jika Anda dapat
mentolerir itu) adalah
pilihan yang baik.
Jika Anda kesulitan untuk
minum cairan, cobalah
makan makanan yang tinggi
dalam air, seperti es loli
atau buah semangka.
Pilih makanan rendah lemak
dan makanan
ringan. Hindari makanan
berminyak, makanan pedas,
rokok dan alkohol.Hindari
bau yang menyengat. bau
Makanan dapat
meningkatkan rasa
mual. Hindari makanan
berbau tajam dan mencoba
makan makanan yang
dingin. Jika memungkinkan,
biarkan pasangan Anda
menyiapkan makanan.
Istirahat yang cukup.

Payudara
mengenca
ng(Trimes
ter 1, 2, 3)

Perubahan hormonal.
Saat payudara Anda
membesar, mungkin
membuat Anda tidak
nyaman.

Kenakan bra yang


mendukung baik dengan tali
bahu yang luas.
Memakai bra - bra olahraga
mungkin paling nyaman atau T-shirt ketat waktu
Anda tidur di malam hari.
Lakukan gerakan olahraga
dengan memutar bahu Anda
ke depan dan kembali
kebelakang untuk
meringankan nyeri otot
yang disebabkan oleh
payudara yang berat.

Sakit
punggung(
Trimester
1, 2, 3)

Semakin umur janin anda


meningkat, maka rahim
Anda akan bertambah besar,
sehingga terjadi peregangan
otot perut dan otot perut
bagian bawah (dekat
selakangan) Anda kembali
menegang.
Berat rahim dan payudara
yang membesar akan
menarik ke depan tubuh
Anda. Perbaiki postur Anda.

Pakailah sepatu bertumit


rendah.
Perhatikan postur tubuh
Anda.
Pastikan untuk menekuk
lutut dan menjaga punggung
lurus ketika Anda
membungkuk atau
mengangkat beban. Angkat
dengan kaki, bukan
punggung.
Lakukan pelvic rocking,
dengan memiringkan
panggul dan latihan pose
Cat (merangkak dengan
melengkungkan dan
merilekskan punggung)
Tidur miring dengan bantal
di letakkan antara kaki
Anda.
Ketika duduk, meletakkan
kaki Anda di bangku kecil
untuk menjaga pinggul dan
lutut selaras.
Ketika berdiri untuk waktu
yang lama, letakkan satu
kaki pada bangku rendah.
mandi hangat dan pijat
dapat menenangkan.
toko persalinan dan toko
peralatan medis biasanya
menjual ikat pinggang dan
bahan pengikat yang
membantu ibu untuk tetap
merasa nyaman menyangga
rahim.
Sakit punggung yang
dirasakan bisa lebih nyaman
dengan istirahat dan
kompres dingin
Hindari sembelit. Makan
banyak serat
Anda juga dapat

mengunjungi chiropractor
untuk membantu
memperbaiki sakit
punggung Anda.
Pada trimester kedua dan
ketiga, nyeri punggung
yang datang dan pergi setiap
beberapa menit mungkin
merupakan awal
persalinan. Hubungi
dokter/bidan anda.
Gigi
bermasala
h (Trimest
er 1, 2, 3)

Tubuh Anda membuat


pembuluh kapiler
(pembuluh darah kecil)
meningkat dalam
kehamilan. Sehingga
meningkatkan resiko
perdarahan gusi saat sikat
gigi
Hormon progesteron
kehamilan membuat terjadi
dilatasi pembuluh darah,
yang dapat membuat gusi
bengkak dan berdarah lebih
dari biasanya.

Gunakan sikat gigi


lembut.Membersihkan gigi
dan gusi dengan pasta gigi
mengandung fluoride.
Jika Anda tidak dapat
mengontrol perdarahan
gusi, hubungi dokter Anda.
Jika Anda memiliki masalah
dengan gusi atau gigi
sebelum kehamilan,
berbicara dengan dokter
gigi Anda. Anda mungkin
dapat menjadwalkan
beberapa kunjungan ke
dokter gigi selama
kehamilan Anda.
Pergi ke dokter gigi Anda
segera untuk menghindari
infeksi jika Anda memiliki
masalah gigi atau gusi.

Sembelit (
Trimester
1, 2, 3)

hormon Progesteron yang


meningkat saat kehamilan
dapat melemaskan saluran
pencernaan dan
memperlambat gerakan dan
efisiensi dari usus Anda.
Pil zat besi/penambah darah
atau vitamin prenatal dapat
menambah sembelit juga.

Makan makanan berserat


tinggi, seperti buah-buahan,
sayuran, biji-bijian, dan
sereal. Cobalah untuk
makan 25-30 gram serat
sehari.
Konsumsi sereal, saus apel,
dan yogurt. (Minum banyak
cairan)
Minum setidaknya 8-10
gelas cairan non-kafein
sehari (air putih)
Olahraga teratur sangatlah
membantu. lakukan jalan
cepat setiap hari.
Ambil vitamin kehamilan
anda atau besi dengan jus
buah, bukan susu.
Ketika Anda merasa ingin
untuk buang air besar,
jangan menunda atau
masalahnya mungkin
bertambah buruk.
Minum cairan yang
panas/hangat dapat memicu

buang air besar.


Jika konstipasi berlanjut,
hubungi dokter/bidan
Anda. Periksa dengan dia
sebelum mengkonsumsi
obat pencahar.
Pingsan /
pusing
(Trimester
1, 2, 3)

Karena tekanan darah Anda


lebih rendah selama
kehamilan, Anda mungkin
mudah merasa pusing.
Perubahan posisi mendadak
(misalnya dari duduk ke
berdiri) menyebabkan
perubahan cepat Hal ini
dapat membuat Anda
merasa pusing.
Kondisi udara yang terlalu
panas, atau dehidrasi dapat
membuat Anda pusing juga.
Anemia (rendah jumlah sel
darah merah).

Cobalah untuk tidak berdiri


atau duduk untuk waktu
yang lama.Ubah posisi
perlahan dan sering.
Jika Anda berbaring,
cobalah miringkan badan
Anda dahulu selama
beberapa detik. Lalu duduk
di sisi tempat tidur sesaat
sebelum bangun.
Berhati-hatilah saat keluar
dari bak mandi hangat
(Seandainya Anda Mandi
berendam Air hangat)
Makan dan minum secara
berkala. Pastikan untuk
minum banyak cairan
sepanjang hari.
Hindari berbaring telentang
setelah trimester pertama
terutama jika itu membuat
Anda pusing. rahim Anda
dapat menekan pembuluh
darah utama.
Minum tablet penambah
darah, ingat minumlah di
malam hari sebelum tidur.

Merasa
Cepat
Lelah (Tri
mester 1,
3)

Tuntutan fisik dan emosi


selama kehamilan dapat
membuat Anda merasa
lelah, terutama pada
trimester pertama dan
terakhir.
Kurang tidur karena
ketidaknyamanan umum
kehamilan dapat membuat
keluhan kelelahan lebih
buruk.
Anemia (rendah jumlah sel
darah merah).

Ubah aktivitas Anda sesuai


kebutuhan. Perhatikan
ketika sinyal tubuh Anda
mengahatakn bahwa Anda
membutuhkan untuk
istirahat.
Latihan relaksasi setiap hari
mungkin membuat Anda
lebih mudah untuk tidur di
malam hari.
Makan teratur, namun
mengurangi gula.
Meditasi atau latihan
relaksasi dapat membantu
mengembalikan energi
Anda.
Extra tidur dapat
membantu.Cobalah untuk
tidur lebih awal dan tidur
kemudian kapanpun Anda
bisa.
Anda mungkin perlu
tambahan zat

besi. Makanlah makanan


yang kaya zat besi.
Sering
kencing
dan
Masalah
perkemiha
n
(Trimester
1, 3)

Selama trimester pertama,


pengaruh hormonal pada
kandung kemih membuat
Anda merasa seolah-olah
Anda perlu sering buang air
kecil.
Seiring dengan rahim Anda
yang tumbuh, maka terjadi
penekanan pada kandung
kemih Anda.Tekanan ini
membuat Anda merasa
seolah-olah Anda harus
buang air kecil.
Buang air kecil sering juga
umum di trimester ketiga
ketika bayi mungkin turun
ke panggul.
Wanita hamil sering
kehilangan control
berkemih ketika mereka
batuk, tertawa, atau bersin
karena tekanan pada
kandung kemih dari rahim.

Masalah ini akan berangsur


lebih baik pada trimester
kedua, karena ketika rahim
naik keluar dari panggul
dan masuk ke rongga perut
Anda.
Kosongkan kandung kemih
Anda lebih sering
Kenakan underpad atau
pembalut jika Anda
memiliki masalah dengan
control berkemih.
Lakukan Latihan Kegel
untuk memperkuat otot-otot
panggul Anda.
Hubungi dokter Anda jika
buang air kecil yang
menyakitkan. mungkin
terjadi infeksi saluran
kencing, yang harus diobati.

Sakit
kepala
(Trimester
1, 2, 3)

Sakit kepala yang tidak


biasa selama
kehamilan.Mereka sering
disebabkan oleh stres atau
ketegangan.
Gula darah yang rendah
selama kehamilan dapat
menyebabkan sakit kepala.
Hormon kehamilan
membuat lapisan lendir dari
hidung dan sinus
membengkak.Beberapa
sakit kepala mungkin
disebabkan oleh kongesti
atau bengkak pada sinus.
Wanita yang tiba-tiba
mengurangi konsumsi
kafein mungkin akan
menderita "
sakitkepalaselama beberapa
hari.

Praktek latihan relaksasi


untuk mengurangi stres dan
ketegangan.
Makan dan minum secara
berkala.
Kurangi kafein secara
bertahap.
Kain dingin ditekankan di
dahi Anda dapat membantu.
Menghirup uap hangat di
kamar mandi bisa
menghilangkan kongesti
sinus.
Anda dapat mengambil
acetaminophen jika
diperlukan. Jangan minum
aspirin, ibuprofen atau
natrium naproxen kecuali
yang direkomendasikan
oleh seorang
dokter. Pastikan untuk
memeriksa dengan dokter
Anda sebelum
mengkonsumsi penghilang
rasa sakit lain selain
asetaminofen.
sakit kepala parah yang
tidak berkurang dengan
acetaminophen harus segera
di periksakan ke dokter. Ini
mungkin tanda tekanan

darah tinggi, yang bisa


serius selama kehamilan.
Mimisan
(Trimester
1, 2, 3)

Jumlah kapiler (pembuluh


darah kecil) meningkat
untuk menambah volume
darah selama kehamilan.
Hormon progesteron
kehamilan membuat dilatasi
pembuluh darah, yang dapat
menyebabkan perdarahan
lebih dari normal.

Untuk menghentikan
mimisan tempelkan kain
dingin dan tekanan pada
batang hidung Anda.
Tekan bibir atas Anda tepat
di bawah lubang hidung
Anda.
Posisikan kepalanya sedikit
ke depan sehingga darah
tidak mengalir kembali ke
tenggorokan anda.
Jaga tekanan selama 5
menit, jika masih belum
berhenti mencoba lima
menit lagi.
Jika udara di rumah Anda
terlalu kering, gunakan
humidifier. Hal ini dapat
menjaga membran hidung
dari semakin kering dan
teriritasi.

Kaki
Kram (Tri
mester 1,
2, 3)

Nyeri kram otot kaki dan


betis yang umum selama
kehamilan.
Kaki kram mungkin terjadi
sebagai menyesuaikan
tubuh Anda terhadap
perubahan berat badan dan
pusat gravitasi.
Beberapa dokter percaya
kram kaki mungkin terkait
dengan kekurangan kalsium
kaki Anda mungkin sakit
juga, jika kamu berdiri
untuk jangka waktu yang
lama.

Hindari berdiri dalam


jangka waktu yang lama
dengan salah satu kaki
Anda.
Jika Anda kram, jangan
pijat kaki Anda. Pegang
kaki Anda dengan tangan
Anda dan perlahan tarik ke
arah Anda. Anda
Regangkan kaki sehingga
titik jari-jari kaki ke arah
hidung Anda.
Dunakan baju lang longgar
saat sedan istirahat.
Mandi hangat sebelum tidur
sangat membantu otot kaki
Anda menjadi lebih rileks
Tidur dengan bantal di
bawah lutut Anda.
Periksakan ke dokter jika
kram kaki menetap atau
memburuk.

Gangguan
Tidur (Tri
mester 1,
2, 3)

Anda mungkin sering


bangun untuk buang air
kecil.
Janin Anda yang
menendang membuat Anda
terbangun atau kemudian
sulit untuk tertidur.
Pada bulan-bulan terakhir
kehamilan,

Latihan siang hari (minimal


2-3 jam sebelum tidur)
dapat membantu Anda
tertidur lebih mudah.
Relaksasi dan latihan
meditasi dapat
menenangkan.
Mandi air hangat sebelum
tidur, makanan ringan, atau

ketidaknyamanan yang
Anda rasakan membuat
Anda merasakan gangguan
tidur.
Kecemasan mungkin
membuat Anda tetap
terjaga.
Bermimpi adalah umum
selama kehamilan.
(kadang-kadang
menakutkan) mimpi ini
dapat membangunkan
Anda. Anda mungkin
merasa sulit untuk tidur
lagi.

susu hangat dapat


membantu.
Letakkan Sebuah bantal
ekstra selipkan di bawah
perut Anda atau antara kaki
Anda dapat membantu Anda
menemukan posisi yang
lebih nyaman.
Seiring dengan peningkatan
ukuran rahim Anda, Anda
dapat beristirahat lebih
nyaman ketika tidur
sendirian.
Mimpi yang Menakutkan,
yang dapat mengganggu, ini
biasanya Anda rasakan jika
Anda merasa takut dan
cemas Cobalah untuk
mengidentifikasi dan
mengatasi ketakutan
Anda. Anda Diskusikan
keprihatinan dengan
seorang teman yang Anda
percayai, bidan atau dokter
Anda.

Wasir
(Trimester
2, 3)

Tekanan di anus dari


kehamilan menyebabkan
pembuluh darah di daerah
tersebut membengkak.
Tekanan berasal dari kepala
bayi, atau mengejan saat
buang air besar dapat
berkontribusi pada wasir.
Gejala termasuk gatal, rasa
tidak nyaman, dan kadangkadang rasa sakit atau
pendarahan saat
mengosongkan isi perut
atau setelah.
Jika tidak diobati, pembuluh
darah meradang dan
bengkak dapat menonjol
melalui anus atau berdarah,
nah ini dapat menyebabkan
sakit bertambah parah.

Cobalah untuk mencegah


sembelit (lihat di atas), yang
dapat mengakibatkan
tegang dan duduk lama saat
buang air besar.
Jangan menunda buang air
besar ketika Anda
merasakannya (walaupun
ini mendesak).
Rendam daerah di air
hangat dangkal (mandi sitz).
Cobalah untuk tidak berdiri
atau duduk untuk waktu
yang lama.
Kompres es pak, bola kapas
atau kain kasa yang
dibasahi pad witch hazel,
atau handuk hangat ke
daerah itu untuk
memberikan bantuan
sementara.
Jika wasir bertambah parah,
mintalah dokter Anda untuk
merekomendasikan sebuah
salep.

Vaginal
Discharge
(Trimester
1, 2, 3)

Perubahan hormon dapat


meningkatkan produksi
lendir leher rahim atau
cairan vagina. ini biasanya
berwarna kuning muda, atau
putih, dan tidak

Anda mungkin merasa lebih


nyaman memakai pad
mini/pantyliners, namun
jangan terlalu
sering/sepanjang hari pakai
panty (kurang sehat!)

menimbulkan rasa sakit atau


gatal.
Perubahan hormon juga
membuat Anda lebih rentan
terhadap infeksi jamur.

Pakailah pakaian katun


untuk membantu mencegah
infeksi jamur.
Jangan melakukan douche
selama kehamilan.
Jika lendir berwarna putih
dan seperti keju cottage, dan
menyebabkan gatal dan
nyeri, Anda mungkin
memiliki infeksi
jamur. Panggil dokter Anda
sebelum menggunakan obat
tanpa resep.
Panggil dokter jika Anda
mengalami nyeri vagina,
atau keputihan semakin
berwarna atau berbau
busuk. Anda mungkin
menderita infeksi yang
memerlukan perawatan.
Peningkatan pengeluaran
lender vagina mungkin
tanda bahwa serviks
pembukaan (dilatasi). Hal
ini terjadi sebelum 37
minggu, hubungi
dokter/bidan anda segera.

Varises(Tr
imester 1,
2, 3)

penipisan katup dalam vena


dapat menghambat
peredaran darah dari kaki
menuju jantung.Selama
kehamilan, ini mungkin
katup meregang. darah
Extra mengumpul di
pembuluh darah,
menyebabkan
membengkak.
Rahim yang membesar juga
dapat membatasi peredaran
darah kembali dari kaki.
Varises (bengkak)
pembuluh darah biasanya
terjadi pada paha dan betis,
tetapi mungkin terjadi pada
vulva.Vena ini dapat
menyakitkan.
Varises dapat memperburuk
dengan setiap kehamilan.

Hindari menyilangkan kaki


Anda dan berdiri untuk
waktu yang lama.
Kaki latihan membantu
menjaga darah
bergerak/beredar dengan
lancar melalui kaki.
Letakkan kaki lebih tinggi
dari kepala selama 10-20
menit. Hal ini sangat
berguna bagi wanita yang
kakinya sakit.
Hindari pakaian ketat.
lakukan cukup berolahraga.
berjalan kaki merupakan
pilihan
Untuk varicosities vulva,
mandi sitz dingin,

Heartburn
&
pencernaa
n
terganggu
(Trimester
1, 2, 3)

Perubahan hormon
memperlambat motalitas
saluran pencernaan,
sehingga asam lambung
kadang kembali ke
kerongkongan. Hal ini
menyebabkan sensasi
terbakar di tengah dada

Makan sedikit tapi sering


Makan duduk dan mencoba
untuk tetap santai saat
makan.
Mengunyah makanan secara
menyeluruh.
Jangan berbaring segera
setelah makan. Tunggu 60-

Anda.
Pada trimester selanjutnya,
rahim mendorong di perut
Anda, juga memaksa asam
lambung kembali ke
kerongkongan.

90 menit.
Jangan minum satu sampai
dua jam setelah makan.
Hindari makanan yang
mengiritasi perut
Anda. Sebagai contoh:
kafein, saus tomat, coklat,
berminyak, makanan
berlemak atau digoreng, dan
beberapa rempah-rempah.
Jangan konsumsi natrium
bikarbonat atau baking
soda.
antasida Cair atau tablet
kunyah dapat membantu.

Pembengk
akan
(edema)
(Trimester
3)

Selama kehamilan, tubuh


Anda mempertahankan air,
yang dapat menyebabkan
pembengkakan (edema).Hal
ini biasanya terjadi pada
kaki dan pergelangan kaki,
tapi kadang-kadang tangan,
lengan, dan wajah. Anda
mungkin mengalami
pembengkakan saat cuaca
panas, setelah Anda telah
berdiri untuk waktu yang
lama, atau setelah makan
sangat makanan asin.
Pembengkakan ini biasa
terjadi ketika bepergian
jarak jauh dalam, mobil bus
pesawat, atau kereta.
Sebagian besar
pembengkakan bukanlah
tanda dari masalah medis
serius.

Letakkan kaki Anda (sangga


menggunakan kursi pendek)
bila memungkinkan.
Beristirahat miring Anda
membantu cairan bergerak
melalui ginjal.
Kurangi konsumsi garam
yang ber;lebihan
Pastikan untuk minum 8-10
gelas cairan sehari.
Lepaskan cincin anda jika
mereka tampaknya akan
semakin ketat.
Laporkan setiap bengkak
tiba-tiba wajah atau tangan
untuk dokter Anda.

Sesak
napas
(Trimester
3)

Saat bayi tumbuh, rahim


Anda menekan diafragma
Anda, sehingga sulit untuk
bernapas bebas.
Progesteron, salah satu
hormon kehamilan,
membuat Anda bernapas
lebih dalam dan lebih
sering.
Anemia (rendah jumlah sel
darah merah).

Duduklah ketika Anda


merasa sesak
napas. Berjongkok atau
membungkuk dapat
membantu jika tidak ada
kursi yang
tersedia.Berpegang pada
sesuatu untuk menenangkan
diri..
Ambil vitamin prenatal atau
pil besi, seperti yang
ditentukan. Makan makanan
kaya zat besi seperti daging
merah tanpa lemak, hati,
kacang kering, dan gandum
atau roti diperkaya.
Anda dapat bernapas lebih
leluasa pada bulan terakhir
kehamilan jika bayi turun

rendah di panggul Anda


sebelum tenaga kerja.
Hubungi dokter/bidan Anda
jika sesak napas menjadi
berat.

Sumber:http://www.bidankita.com/beta/index.php?option= com_content&view=article&id

Sedangkan menurut Sulistyawati (2009; h. 123) ketidaknyamanan pada ibu hamil Pada
trimester I yaitu ibu hamil sering mengalami keluhan BAK, kelelahan, keputihan, mengidam,
mual

muntah,

yang

merupakan

perubahan

fisiologis

yang

dapat

menyebabkan

ketidaknyamanan pada ibu pada masa kehamilan.

Selain perubahan fisiologis ibu hamil juga mengalami perubahan psikologis yaitu :
1. Perubahan psikologis TM I (Periode penyesuaian)
Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya, kadang muncul
penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan, bahkan kadang ibu berharap agar dirinya
tidak hamil saja. Kadang ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil.
Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapatkan perhatian yang
seksama, oleh karena perutnya masih kecil kehamilan merupakan rahasia seseorang yang
mungkin akan diberitahukan kepada orang lain atau malah mungkin dirahasiakannya. Hasrat
berhubungan seksnya pun berbeda-beda pada tiap wanita, tapi kebanyakan akan mengalami
penurunan.
2. Perubahan psikologis TM II (Periode kesehatan yang baik)
Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbisa dengan kadar hormon yang tinggi, ibu sudah bisa
menerima kehamilannya, mulai merasakan gerakan janinnya, merasa terlepas dari
ketidaknyamanan dan kekhawatiran, libido meningkat, menuntut perhatian dan cinta, merasa
bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya.

3. Perubahan psikologis pada TM III (Periode penantian dengan penuh kewaspadaan).


Rasa tidak nyaman muncul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik, merasa
tidak menyenangkan ketika bayinya tidak lahir tepat waktu, takut akan rasa sakit dan bahaya
fisik yang timbul pada saat melahirkan dan khawtir akan keselamatannya. Khawatir bayi
yang akan dilahirkannya dalam keadaan tidak normal, merasa sedih karena akan terpisah
dengan bayinya, merasa kehilangan perhatian, perasaan mudah terluka,dan libido menurun.
(Sulistyawati, 2009; h. 76-77).

E. Kebutuhan ibu hamil


1. Kebutuhan energi atau nutrisi
Kebutuhan makanan pada ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat
meneyebabkan anemia, abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca perslinan, sedangkan
kelebihan makanan karena beranggapan pemenuhan makanan untuk dua orang akan berakibat
kegemukan, pre eklamsi, janin terlalu besar.

a.

Karbohidrat

Widya karya pangan dan gizi nasional menganjurkan pada ibu hamil untuk meningkatkan
asupan energinya menjadi 285 kkal perhari. Karbohidrat sumbernya seperti nasi, jagung,
kentang.
b.

Protein
Protein peningkatan kebutuhan protein sebanyak 75-100 gram. Sumber protein seperti daging
tak berlemak, ikan, telur, susu, tahu, tempe. Zat besi sebesar 3060 gram setiap hari,
sumbernya
(Sulistyawati, 2009; h. 108).

seperti

sayur-sayuran

hijau

c.

Vitamin

dan

mineral

Vitamin A ditambah 50 mg/hari, tiamin 0,2 mg/ hari, riboflavin 0,2 mg/hari, niacin 2 mg/
hari, vitamin C 20 mg /hari, kalsium 0,6 mg/ hari dan banyak mengkonsumsi buahbuahan
(Hj. Salmah, 2006; h. 114).
d.

Kebutuhan

pertrisemester

Pada trimester pertama kehamilan, kualitas zat gizi ibu hamil lebih diutamakan. Fase ini
ditandai dengan dimulainya pembentukan sistem saraf, otak, jantung, dan organ-organ lain,
disamping keadaan ibu hamil muda yang sering mengalami mual muntah akibat pengaruh
hormonal

HCG

dan

estrogen fase

ini.

Namun paling tidak dari segi kualitas kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan asupan zinc
(pemberian suplemen FE 30-60 gram setiap hari) dan asam folat (pemberian suplemen asam
folat dengan besaran 280 mikrogram untuk TM I). Adapun peningkatan kebutuhan energi
pada trimester pertama yaitu sekitar 180 kalori per hari dari kebutuhan energi sebelum masa
kehamilan.
Pada trimester kedua dan ketiga, peningkatan nutrisi secara kuantitas harus diperhatikan
selain secara kualitas. Pada dua trimester tersebut terjadi perkembangan dan pertumbuhan
janin yang sangat cepat sampai siap untuk dilahirkan. Oleh karena itu dibutuhkan
penambahan energi lebih banyak yaitu sebesar 300 kalori perhari dari sebelum kehamilan.
Selama kehamilan memang dibutuhkan peningkatan energi sekitar 285-300 kalori dalam
sehari dari kebutuhan energi sebelum kehamilan. Atau dapat dikatakan, kebutuhan energi
total pada kehamilan sekitar 2.300-2.500 kalori per hari. Walaupun demikian untuk ibu hamil
yang sebelumnya mempunyai status gizi kurang, perlu penambahan kalori/energi lebih
banyak. Sebaliknya, untuk ibu hamil yang sebelum kehamilannya mempunyai berat badan
atau status gizi lebih, perlu dikurangi asupan kalorinya, tetapi bukan berarti harus berdiet atau
menurunkan berat badan. Dianjurkan ibu seperti itu mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan

tubuh pada usia kehamilan. Tidak dianjurkan untuk mengurangi asupan protein, vitamin, dan
mineral, tetapi boleh mengurangi jenis makanan berkalori tinggi seperti bahan makanan
sumber

lemak

dan

karbohidrat

Sumber: (http//www.tabloid-nakita.com kebutuhan nutrisi pertrimester)


2. Lingkungan yang bersih
Salah satu pendukung untuk keberlangsungan kehamilan yang sehat dan aman adalah adanya
lingkungan yang bersih, karena kemungkinan terpapar dan zat toksis yang berbahaya bagi ibu
dan janin akan terminimalisir. Lingkungan yang bersih di sini adalah termasuk adalah bebas
dari polusi udara seperti asap rokok.

Selain udara, prilaku hidup bersih dan sehat juga perlu di laksanakan seperti menjaga
kebersihan diri, makanan yang di makan, buang air besar di jamban dan mandi menggunakan
air yang bersih (Sulistyawati, 2009; h. 110).

3. Pakaian
Meskipun pakaian bukan merupakan hal yang berakibat langsung dalam kesejahteraan ibu
dan janin, Pemakaian pakaian dan kelengkapannya yang kurang tepat akan mengakibatkan
beberapa ketidaknyamanan yang akan menganggu fisik dan psikologis ibu. Beberapa hal
yang perlu di perhatikan dalam pakaian ibu hamil adalah sebagai berikut:
a.

Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut

b.

Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat

c.

Pakailah bra yang menyokong payudara

d.

Memakai hak sepatu dengan hak rendah

e.

Pakaian dalam yang selalu bersih.

4. Kebersihan tubuh
Kebersihan tubuh ibu hamil perlu di perhatikan karena dengan perubahan sistem metabolisme
mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel di kulit dan
memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Jika tidak di bersihkan
(dengan mandi) maka ibu hamil sangat mudah untuk terkena penyakit ibu hamil sangat
mudah

untuk

terkena

penyakit

kulit.

Bagian tubuh lain yang sangat membutuhkan perawatan kebersihan adalah daerah vital,
karena saat hamil terjadi pengeluaran sekret vagina yang berlebihan selain dengan mandi,
mengganti celana dalam secara rutin minimal dua kali sehari sangat di anjurkan.

5. Perawatan payudara
Payudara merupakan aset yang penting sebagai persiapan penyambutan kelahiran sang bayi
dalam proses menyusui. Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam perawatan payudara
adalah sebagai berikut:
a. Hindari pemakaian bra dengan ukuran yang terlalu ketat dan yang menggunakan busa karena
akan mengganggu penyerapan keringat payudara
b. Gunakan bra dengan bentuk yang menyangga payudara
c. Hindari membersihkan puting dengan sabun karena akan menyebabkan iritasi, bersihkan
puting dengan minyak kelapa lalu bilas dengan air hangat
d. Jika di temukan pengeluaran cairan yang berwarna kekuningan dari payudara berarti produksi
ASI sudah di mulai
(Sulistyawati, 2009; h. 117-118).

6. Eliminasi

Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan eliminasi adalah konstipasi dan sering
buang air kemih. Konstipasi sering terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron yang
mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus. Selain itu desakan usus
oleh pembesaran janin yang menyebabkan bertambahnya konstipasi. Tindakan pencegahan
yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum
air putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika
perut dalam keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah
mengalami dorongan maka segeralah untuk buang air besar agar tidak terjadi konstipasi.

Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum di rasakan ibu hamil, terutama pada
trimester I dan III, hal ini tersebut adalah kondisi yang fisiologi, ini terjadi karena awal
kehamilan terjadi pembesaran uterus yang mendesak kantong kemih sehingga kapasitasnya
berkurang. Sedangkan pada trimester III terjadi pembesaran janin yang juga menyebabkan
desakan pada kantong kemih. Tindakan mengurangi asupan cairan untuk mengurangi keluhan
ini sangat tidak dianjurkan, karena akan menyebabkan dehidrasi (Sulistyawati, 2009; h. 119).
7. Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama tidak ada riwayat sering abortus
dan kelahiran prematur, perdarahan pervaginam, koitus harus di lakukan dengan hati-hati
terutama pada minggu terakhir kehamilan, bila ketuban sudah pecah koitus dilarang karena
dapat menyebabkan infeksi janin intrauteri.

8. Pekerjaan
Wanita hamil tetap dapat bekerja namun aktivitas yang di jalaninya tidak boleh terlalu berat.
Istirahat untuk ibu hamil sangat di anjurkan sesering mungkin. Seorang wanita hamil di
sarankan untuk menghentikan aktivitasnya apabila merasakan gangguan dalam kehamilan.

Pekerjaan yang membutuhkan aktifitas fisik berat, berdiri dalam jangka waktu lama,
pekerjaan dalam industri mesin, atau pekerjaan yang memiliki efek samping lingkungan
contohnya limbah (Sulistyawati, 2009; h. 127).

9. Pola istirahat dan tidur


Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat yang teratur khususnya seiring
kemajuan kehamilannya. Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik karena
istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk
kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin. Tidur pada malam hari selama kurang
lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rileks pada siang hari selama 1 jam (Kusmiyati,
2010; h. 124).

10. Kebersihan tubuh


Kebersihan tubuh ibu hamil perlu diperhatikan karena dengan

perubahan sistem

metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel


dikulit meningkatkan kelembapan kulit dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya
mikroorganisme. Jika tidak dibersihkan dengan mandi, maka ibu hamil akan sangat mudah
terkena penyakit kulit. Bagian tubuh lain yang sangat membutuhkan perawatan kebersihan
adalah daerah vital, karena saat hamil terjadi pengeluaran sekret vagina berlebihan. Selain
dengan mandi, mengganti celana dalam secara rutin minimal dua kali sehari sangat
dianjurkan (Sulistyawati, 2009; h. 118).

11. Imunisasi
Imunisasi saat kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang dapat
menyebabkan kematian pada ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah tetanus

toxoid (TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi yang sangat dibutuhkan oleh
ibu hamil, imunisasi yang lain menyesuaikan sesuai dengan indikasi.

Tabel

2.3

Pemberian suntikan TT

Status

Jenis suntikan TT

T0

Belum pernah suntik TT

T1
T2

TT1
TT2

T3

TT3

T4

TT4

T5

TT5

Interval
waktu

4 mg dari
TT1
6 bln dari
TT2
Minimal 1
tahun dari
TT3
1 tahun dari
TT4

Lama
perlindungan

Presentase

3 tahun

80
95

5 tahun

99

10 tahun

99

Seumur hidup

Sumber: Sulistyawati, 2009; h. 121.

F. Anemia pada kehamilan


1. Pengertian
Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, dan
jumlah eritrosit dibawah nilai normal. Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang
darah, kadar sel darah dibawah nilai normal. Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi
untuk pembentukan darah misalnya zat besi, asam folat dan vitamin B12. Tetapi yang sering
terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi (Rukiyah, 2010; h. 114).

Fadlun (2012; h. 37) menyatakan Anemia kehamilan yaitu ibu hamil dengan kadar Hb < 11 gr
% pada trimester I dan III atau Hb < 10, 5 gr % pada trimester II sedangkan menurut

Rukiyah (2010; h. 115) didasarkan pada kriteria WHO ditetapkan 3 kategori anemia yaitu
normal 11 gr %, ringan 8-11 gr %, berat < 8 gr %.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi antara lain karena
kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorpsi di usus,
perdarahan akut maupun kronis dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita
hamil, masa pertumbuhan dan masa penyembuhan dari penyakit.
2. Patofisiologis anemia pada kehamilan
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah karena perubahan sirkulasi yang
semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat
45-65 % dimulai pada Tm II kehamilan dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan
meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali normal 3
bulan setelah partus (Rukiyah, 2010; h. 115).
Sedangkan menurut Manuaba (2009; h. 109) Volume darah semakin meningkat dimana
jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam
pengenceran darah (haemodilusi) dengan puncaknya pada usia kehamilan 32 minggu dan
mulai nampak sekitar usia kehamilan 16 minggu.
3. Etiologi
Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah, pertambahan darah tidak
sebanding dengan pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, kebutuhan zat
besi meningkat.
4. Gejala klinis anemia

Manifestasi klinis dari anemia sangat bervariasi bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejalagejala penyakit dasarnya yang menonjol ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama
dengan gejala penyakit dasarnya.
Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan
epitel kuku, gangguan sistem neeurumaskular, lesu, lemah, lelah, disphagia, dan pembesaran
kelenjar limfa.
5. Dampak anemia
Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadi
gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus immaturus atau prematur), pada
persalinan (atonia, partus lama), pada post partum (sub involusio uteri, infeksi, kurang
produksi asi), dan gangguan pada janin (abortus, dismatur, BBLR, kematian perinatal)
(Dewi, 2010; h. 115).

6. Pencegahan dan terapi anemia


a. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi
Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging,
ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacangkacangan, tempe), makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C (daun
katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, nanas) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
b. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan tablet tambah darah
c. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti kecacingan,
malaria, dll
(Fadlun, 2010; h. 38).

G. Hiperemesis gravidarum dalam kehamilan


1. Pengertian
Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan yang terjadi pada ibu hamil
sehingga menyebabkan ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat badan,
dehidrasi, ketosis, dan kekurangan nutrisi. Hal ini terjadi pada minggu keempat sampai
minggu kesepuluh kehamilan, sebaliknya akan membaik pada usia kehamilan 20 minggu,
namun pada beberapa kasus akan terus berlanjut sampai pada tahap kehamilan berikutnya
(Runiari, 2010; h. 8).

Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari (Prawirohardjo, 2009; h. 815).

Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah yang berlebihan pada ibu hamil. Insiden
dari hiperemesis gravidarum adalah 0,5-10/1.000 kehamilan. Penyakit ini rata-rata muncul
pada usia kehamilan 8-12 minggu. Hiperemesis gravidarum sering disertai dengan dehidrasi
dan dan kehilangan BB > 5 %, gangguan elektrolit dan ketosis (Fadlun, 2012; h. 39).

Hiperemesis Gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah yang
berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga mengganggu kesehatan
dan pekerjaan sehari-hari.
(http//catatan-ranhae.blogspot.com/.../mual-muntah-saat-keh)

2.

Etiologi

Kejadian hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor
predisposisi dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Faktor adaptasi dan hormonal
Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum dapat
dimasukan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia. Wanita
primigravida, overdistensi rahim pada kehamilan ganda, dan hamil molahidatidosa, jumlah
hormon terlalu tinggi menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum (Rukiyah, 2010; h.
119).

b. Faktor psikologis
Besar kemungkinan karena wanita takut hamil, takut persalinan, takut kehilangan pekerjaan,
keretakan hubungan dengan suami diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis
gravidrum (Manuaba, 2009; h. 210).
Menurut teori psikomatik, hiperemesis gravidarum merupakan keadaan gangguan psikologis
yang dirubah dalam bentuk gejala fisik. Kehamilan tidak direncanakan dan tidak diinginkan,
serta tekanan pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan berduka, serta
konflik.

Selain faktor psikologis, faktor budaya juga dapat pemicu terjadinya hiperemesis gravidarum.
Menurut Tiran (2004) dalam Runiari (2010; h. 9-10) menyatakan bahwa faktor budaya yang
merupakan hal penting adalah berkaitan dengan pemilihan jenis makanan yang akan
dikonsumsi. Penelitian lain mengenai pengaruh budaya terhadap hiperemesis gravidarum
dilakukan juga oleh Rabinerson, hasil penelitiannya menemukan kejadian bahwa kejadian
hiperemesis gravidarum dapat meningkat pada wanita yang mengalami pembatasan dalam
intake nutrisi (contohnya pada wanita yang menjalankan puasa).

c.

Faktor alergi

Pada kehamilan diduga terjadi invasi jaringan vili korialis yang masuk dalam pembuluh darah
ibu (Manuaba, 2009; h. 210).

Kejadian hiperemesis

gravidarum

lebih

sering

dialami

oleh

primigravida

dari

pada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat kestressan dan usia ibu saat
mengalami kehamilan pertama. Pada ibu primigravida faktor psikologik memegang peranan
penting pada penyakit ini, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung
jawab sebagai seorang ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual
dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai
pelarian kesukaran hidup. Ibu primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon
estrogen dan khorionik gonadotropin. Peningkatan hormon ini membuat kadar asam lambung
meningkat, hingga munculah keluhan rasa mual. Keluhan ini biasanya muncul di pagi hari
saat perut ibu dalam keadaan kosong dan terjadi peningkatan asam lambung.

Hyperemesis gravidarum terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu
diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini terjadi lebih berat, gejala mual dan muntah yang
berlangsung sampai kehamilan 4 bulan dimana pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan
keadaan umum menjadi berat dan buruk (Wiknjosastro, 2005; h. 275).
3.

Diagnosis
Diagnosis dapat dengan mudah ditegakan yaitu melalui beberapa gambaran klinis seperti :

a. Amenore
b. Mual muntah berlebihan sampai mengganggu aktivitas sehari hari

c. Nyeri perut bagian bawah yaitu nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan
normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen mungkin menunjukan masalah yang mengancam
kesehatan jiwa dengan ciriciri nyeri hebat, menetap, dan tidak hilang setelah istirahat. Hal
ini dapat mengindikasikan terjadinya kehamilan ektopik, abortus, apendiksitis, penyakit
radang panggul, persalinan prematur, gastritis, infeksi saluran kemih (Sulistyawati, 2009; h.
154).

4.

Patofisiologis
Hiperemesis yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi
terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkolosis
hipokloremik. Serta dapat menyebabkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai
untuk keperluan energi. Kekurangan intake dan kehilangan cairan karena muntah
menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan
klorida dalam darah maupun dalam urine turun, selain itu dehidrasi menyebabkan
hemokonsentrasi sehingga menyebabkan aliran darah ke jaringan berkurang. Kekurangan
kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi leat ginjal menyebabkan
frekuensi muntah bertambah banyak, sehingga dapat merusak hati. Keadaan dehidrasi dan
intake yang kurang mengakibatkan penurunan berat badan yang terjadi berpariasi tergantung
durasi dan beratnya penyakit. Pada beberapa kasus berat, kekurangan vitamin B1, B6, B12
yang menyebabkan neuropati

perifer dan anemia, bahkan pada kasus berat dapat

meneyebabkan terjadinya wernickle enchepalopati (Runiari, 2010; h. 11).


5.

Tanda dan gejala


Hiperemesis gravidarum memiliki gejalagejala yang berbeda sesuai tingkatannya,
berdasarkan tingkat keparahannya dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu:

a.

Tingkat I

Ringan ditandai dengan muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,
terjadi dehidrasi, tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, dan dapat disertai dengan
naiknya suhu tubuh, nyeri epigastrium, merasa lemah dan nafsu makan menurun
(Sulistyawati, 2009; h. 153).

Gejala hiperemesis gravidarum tingkat I adalah muntah terus menerus yang mempengaruhi
keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun,
dan nyeri epigastrum, nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan darah sistolik menurun,
turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung (Rukiyah, 2010; h. 122).
b.

Tingkat II
Dehidrasi bertambah ditandai dengan turgor kulit makin berkurang, lidah kering dan kotor,
berat badan menurun, mata cekung. Jika mengalami gangguan sirkulasi darah yang ditandai
dengan nadi cepat dan tekanan darah turun, terjadi hemokonsentrasi, oliguria, obstipasi
(Rukiyah, 2010; h. 122).

c.

Tingkat III
Dehidrasi makin berat, mual muntah berhenti, terjadi perdarahan esofagus dan retina.
Gangguan fungsi lever yang terus meningkat, penurunan kesadaran samnolen sampai koma
(Sulistyawati, 2009; h. 154).

6.

Penatalaksanaan
Penanganan hiperemesis gravidarum berdasarkan klasifikasi :
a.

Hiperemesis Gravidarum Tingkat I

Dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisilogik, kemudian dengan menganjurkan mengubah makan
sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi

jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi duanjurkan untuk makan roti kering dan biskuit
dengan teh hangat. Makan dan minum sebaiknya disajikan hangat, banyak istirahat dan tidur
akan mengurangi muntah, minum obat anti muntah misalnya B1 dan B6.
Hiperemesis gravidarum tingkat I hanya perlu rawat jalan dengan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering (Runiari, 2010; h. 17).

b.

Hiperemesis Gravidarum Tingkat II

1. Pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang

kehamilan sebagai suatu

proses yang fisikologik. Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala
yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan
mengnjurkan makan seharihari dengan jumlah kecil tapi sering.
2. Terapi obat, sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan
Vitamin B1 dan B6 keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti disiklomin
hidrokhloride atau khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti dramamin,
avomin
(Rukiyah, 2010; h. 123).
3. Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit.
4. Kadang-kadang pada beberapa wanita hanya tidur di rumah sakit saja telah banyak
mengurangi mual muntahnya.
5. Isolasi.

Jangan terlalu banyak tamu, Kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang masuk. Kadang
kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah (Runiari, 2010;
h. 20).
6. Terapi psikologik.
Berikan pengertian bahwa kehamilan suatu hal yang wajar, normal dan fisiologi, jadi tidak
perlu takut dan khawatir cari dan hilangkan faktor psikologis seperti keadaan ekonomi dan
pekerjaan lingkungan.
7. Penanganan cairan, Berikan cairan-parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan Glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter per hari. Bila perlu
dapat ditambah Kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. Bila ada
kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
8. Selama pemberian cairan perhatian keseimbangan cairan yang masuk dan keluar, bila
pengeluaran urin lancar menandakan keadaan wanita berangsurangsur baik.
9. Mengobservasi suhu, nadi, tekanan darah, dan pernafasan 3 kali sehari.
10. Bila keadaan membaik melakukan mobilisasi ringan
11. Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum, dapat
dipertimbangkan suatu abortus buatan.

c.

Hiperemesis Gravidarum Tingkat III


Pemberian oksigen, pemberian cairan IV, monitor intake dan out put, observasi kesadaran
dan tanda vital, observasi perdarahan, observasi kesejahteraan janin, kolaborasi terminasi
kehamilan (Runiari, 2010; h. 55).

7. Diet

Ciri khas diet hiperemesis gravidarum adalah penekanan karbohidrat kompleks terutama pada
pagi hari, serta menghindari makanan yang berlemak dan berminyak untuk menekan rasa
mual dan muntah, sebaiknya diberi jarak dalam pemberian makan dan minum.
Ada tiga macam diet pada hiperemesis gravidarum yaitu:
a. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering
dan buah-buahan. Cairan tidak di berikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya.
Makanan ini kurang akan zat-zat gizi kecuali vitamin C karena itu hanya di berikan selama
beberapa hari.
b. Diet hiperemesis II di berikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai di
berikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemberian minum tidak diberikan
bersamaan dengan makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zt gizi kecuali vitamin A
dan D.
c. Diet hiperemesis III diberikan pada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan
penderita minuman boleh di berikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat
gizi kecuali kalsium.
d. Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah roti panggang, biscuit,
crakers, buah segar dan sari buah, teh hangat. Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan
adalah makanan yang pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam.
Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan makanan yang mengandung zat
pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak dianjurkan
(Rukiyah, 2010; h. 124-125).

8. Resiko atau komplikasi


1. Maternal

Akibat defisiensi tiamin akan menyebabkan diplopia, ataksia, kejang. Jika hal ini tidak segera
ditangani akan mengakibatkan menurunnya kemampuan untuk beraktifitas, ataupun
kematian. Oleh karena itu untuk hiperemesis gravidarum tingkat III perlu dipertimbangkan
kehamilannya.
2. Fetal
Penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian gangguan pertumbuhan janinm
dalam rahim
(Prawirohardjo, 2009; h. 816-817).

Menurut (Wiknjosastro, 2005) dalam Rukiyah (2010 ; h. 128-129) dampak yang ditimbulkan
dapat terjadi pada ibu dan janin, seperti ibu akan kekurangan nutrisi dan cairan sehinga
keadaan fisik ibu menjadi lemah dan lelah dapat pula mengakibatkan gangguan asam basa,
pneumoni aspirasi, robekan mukosa pada hubungan gastroesofagi yang menyebabkan
peredaran ruptur esofagus, kerusakan hepar dan kerusakan ginjal, ini akan memberikan
pengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau
tidak sesuai dengan kehamilan, yang mengakibatkan peredaran darah janin berkurang.

Pada bayi, jika hiperemesis ini terjadi hanya diawal kehamilan tidak berdampak terlalu serius,
tetapi jika sepanjang kehamilan ibu menderita hiperemessis gravidarum, maka kemungkinan
bayinya mengalami BBLR, IUGR, Prematur hingga terjadi abortus. Peningkatan peluang
retardasi pertumbuhan intrauterus jika ibu mengalami penurunan berat badan sebesar 5% dari
berat badan sebelum kehamilan, karena pola pertumbuhan janin terganggu oleh metabolisme
maternal. Terjadinya pertumbuhan janin terhambat sebagai akibat kurangnya pemasokan
oksigen dan makanan yang kurang adekuat dan hal ini mendorong terminasi kehamilan lebih
dini.

Dampak hiperemesis gravidarum tidak hanya mengancam kehidupan klien, namun dapat
menyebabkan efek samping pada janin seperti abortus, berat badan lahir rendah, kelahiran
premature dan malformasi pada bayi baru lahir. Selain dampak fisiologis pada kehidupan
klien dan janinnya, hiperemesis gravidarum juga memberikan dampak secara psikologis,
social, spiritual, dan bersalah, dan marah (Runiari, 2010; h. 14).

II. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan


A. Pengertian
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai
metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan,
serta keterampilan dalam rangkaian tahap-tahap yang logis untuk pengambilan suatu
keputusan yang berfokus pada pasien.

Manajemen kebidanan terdiri atas tujuh langkah yang berurutan, Proses dimulai dari
pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ke-tujuh langkah tersebut membentuk
suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap
langkah dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih detail dan ini biasa berubah
sesuai dengan kebutuhan klien
(Sulistyawati, 2009; h. 165).

B. Langkah dalam manajemen kebidanan menurut Varney


1. Pengumpulan data dasar
Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua
sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Pengumpulan data dilakukan dengan anamnesa.

Anamnesa adalah pengkajian dalam rangka mendapatkan data tentang pasien melalui
pertanyaan-pertanyaan. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
a.

Auto anamnesa
Adalah anamnesa yang dilakukan kepada pasien langsung. Jadi data yang di peroleh adalah
data primer, karena langsung dari sumbernya.

b.

Allo anamnesa
Adalah anamnesa yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang
pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk
memberikan data yang akurat.
Anamnesa dilakukan untuk mendapatkan data anamnesa terdiri dari beberapa kelompok
penting sebagai berikut:
1. Data subjektif
a. Biodata

1) Nama pasien dikaji untuk membedakan pasien satu dengan yang lain.
2) Umur pasien dikaji untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat- alat
reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap.
3) Agama pasien dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau
mengarahkan pasien untuk berdoa.
4) Suku pasien dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan seharihari yang berhubungan dengan
masalah yang dialami.
5) Pendidikan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan metode komunikasi yang
akan disampaikan.
6) Pekerjaan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi pasien, karena ini juga
berpengaruh pada gizi pasien.

7) Alamat pasien dikaji untuk mengetahui keadaan lingkungan sekitar pasien, dan kunjungan
rumah bila diperlukan.

2. Riwayat pasien
a. Keluhan utama
Keluhan ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
b. Riwayat kebidanan
Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data acuan jika pasien mengalami
penyulit postpartum.
1. Menstruasi
Data ini memang secara tidak langsung berhubungan, namun dari data yang kita peroleh kita
akan mempunyai gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data
yang harus diperoleh dari riwayat menstruasi antar lain sebagai berikut :
a.

Menarche

Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya
mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun.
b.

Siklus
Siklus menstruasi adalah jarak anatar menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya,
dalam hitungan hari, Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.
c.

Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan. Kadang kita akan
kesulitan untuk mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya kita gunakan kriteria
banyak, sedang, dan sedikit. Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat subjektif,
namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dalam beberapa pertanyaan pendukung, misalnya
sampai berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.

d. Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi,
misalnya nyeri hebat, sakit kepala sampai pingsan, jumlah darah yang banyak. Ada beberapa
keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk pada diagnosis tetentu.
2. Gangguan kesehatan alat reproduksi
Beberapa data yang perlu kita kaji dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami
gangguan seperti berikut ini:
a.

Keputihan

b.

Infeksi

c.

Gatal karena jamur

d.

Tumor

3.

Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu


Tabel 2.4
N
o

Tahun
Persalin
an

U
K

Jenis
Persalin
an

Temp
at

Penyuli
t

Penolo
ng

Bayi
J
K

B
B

P
B

Ket.

4. Riwayat kehamilan sekarang


a.

Riwayat kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda (warning) akan adanya
penyulit masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang
melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami
gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui
adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes
mellitus, hipertensi atau hipotensi, ginjal, dan hepatitis.

b.

Status perkawinan
Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai
suasana rumah tangga pasangan.

c.

Pola makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi
asupan gizinya selama hamil. Kita bisa menggali dari pasien tentang makanan yang disukai
dan yang tidak disukai, seberapa banyak dan sering ia mengonsumsinya, sehingga jika kita
peroleh data yang tidak sesuai dengan standar pemenuhan, maka kita dapat memberikan
klarifikasi dalam pemberian pendidikan kesehatan mengenai gizi ibu hamil.
Beberapa hal yang perlu kita tanyakan adalah :

1) Menu
Ini dikaitkan dengan pola diet seimbang bagi ibu hamil.jika pengaturan menu makan yang
dilakukan oleh pasien kurang seimbang sehingga ada kemungkinan beberapa komponen gizi
tidak terpenuhi, maka bidan dapat memberikan penyuluhan tentang gizi. Kita dapat
menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk,
buah, makanan selingan dan lain-lain)
2) Frekuensi
Data ini memberi petunjuk bagi kita tentang seberapa banyak asupan makanan yang
dikonsumsi ibu.
3) Jumlah per hari
Data ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan yang ibu makan dalam waktu
satu kali makan.
4) Pantangan
Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan pasien berpantangan justru pada
makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan atau telur.

d.

Pola minum
Kita juga harus dapat memperoleh data dari kebiasaan pasien dalam memenuhi kebutuhan
cairannya. Apalagi dalam masa kehamilan asupan cairan yang cukup sangat dibutuhkan. Halhal yang perlu ditanyakan :
1. Frekuensi
Kita dapat tanyakan pada pasien berapa kaliia minum dalam sehari dan dalam sekali minum
menghabiskan berapa gelas.

2. Jumlah per hari


Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu minum dalam sekali waktu minum akan
didapatkan jumlah asupan cairan dalam sehari.
3. Jenis minuman
Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya kurang baik untuk kesehatannya.
e.

Pola istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan perlu menggali kebiasaan
istirahat ibu supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang
senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat. Bidan dapat menanyakan tentang berapa
lama ia tidur dimalam dan siang hari.

1. Istirahat malam hari


Rata rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam
2.

Istirahat

siang

hari

Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat kita
sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting unuk menjaga kesehatan selama
hamil.
f.

Aktifitas sehari-hari

Kita perlu mengkaji aktifitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang
seberapa berat aktifitas yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika kegiatan pasien terlalu
berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulakn penyulit masa hamil, maka kita dapat
memberikan peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi dulu aktifitasnya
sampai ia sehat dan pulih kembali. Aktifitas yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus
dan persalinan premature.
g. Personal hygiene
Data ini perlu kita kaji karena bagaimanapun juga hal ini akan memengaruhi kesehatan
pasien dan bayinya. Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan
kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberikan bimbingan mengenai cara perawatan
kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin. Beberapa kebiasaan yang dilakukan dalam
perawatan kebersihan diri diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Mandi
Kita dapat menanyakan pada pasien berapa kali ia mandi dalam sehari dan kapan waktunya
(jam berapa pagi dan sore)
2) Keramas
Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan kebersihan rambutnya karena mereka
beranggapan keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan. Jika kita menemukan
pasien yang seperti ini maka kita harus memberikan pengertian kepadanya bahwa keramas
harus selalu dilakukan ketika rambut kotor karena bagian kepala yang kotor merupakan
sumber infeksi. Kepala akan terasa gatal yang secara spontan ibu akan menggaruk garuk
kepalanya, padahal saat itu ia akan menyentuh bayinya. Kulit bayi yang masih sensitif akan
mudah iritasi dan infeksi.
3) Ganti baju dan celana dalam

Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali. Namun
jika sewaktu-waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya diganti tanpa harus
menunggu waktu untuk ganti berikutnya.
4) Kebersihan kuku
Kuku ibu hamil harus selalu dalam keadaan pendek dan bersih. Kuku ini selain sebagai
tempat yang mudah untuk bersarangnya kuman sumber infeksi, juga dapat menyebabkan
trauma pada kulit bayi jika terlalu panjang. Kita dapat menanyakan pada pasien setiap berapa
hari ia memotong kukunya, atau apakah ia selalu memanjangkan kukunya supaya terlihat
menarik.
h.Aktifitas seksual
Walaupun ini dalah hal yang cukup privasi bagi pasien, namun bidan harus menggali data
dari kebiasaan ini, karena terjadi beberapa kasus keluhan dalam aktifitas seksual yang cukup
mengganggu pasien namun ia tidak tahu kemana harus berkonsultasi. Dengan teknik yang
senyaman mungkin bagi pasien. Hal- hal yang ditanyakan:
1. Frekuensi
Kita tanyakan berapa kali melakuakn hubungan seksual dalam seminggu.
2. Gangguan
Kita tanyakan apakah pasien mengalami gangguan ketika melakukan hubungan seksual.
i. Respon keluarga terhadap kehamilan ini
Bagaimanapun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan psikologis ibu. Adanya respon
yang positif dari keluarga terhadap kehamilan akan mempercepat proses adaptasi ibu dalam
menerima perannya.

j. Respon ibu terhadap kelahiran bayinya


Dalam mengkaji data ini kita dapat menanyakan langsung kepada pasien mengenai
bagaimana perasaannya terhadap kehamilan ini.
k.Respon ayah terhadap kehamilan ini
Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan ini kita dapat menanyakan
langsung pada suami pasien atau pasien itu sendiri. Data mengenai respon ayah ini sanagat
penting karena dapat kita jadikan sebagai salah satu acuan mengenai bagaimana pola kita
dalam memberikan asuhan kepada pasien.
l. Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan masa hamil
Untuk mendapatkan data ini bidan sangat perlu melakukan pendekatan terhadap keluarga
pasien, terutama orang tua. Hal ini penting yang biasanya mereka anut berkaitan dengan masa
hamil adalah menu makan untuk ibu hamil, misalnya ibu hamil pantang makanan yang
berasal dari daging, ikan telur, dan gorengan karena dipercaya akan menyebabkan kelainan
pada janin. Adat ini akan sangat merugikan pasien dan janin karena hal tesebut justru akan
membuat pertumbuhan janin tidak optimal dan pemulihan kesehatannya akan terhambat.
2. Data objektif
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam menegakan diagnosis,
maka kita harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi,
auskultasi dan perkusi.
Langkah-langkah pemeriksaanya sebagai berikut :
a. Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan.
Hasil pengamatan kita laporkan dengan criteria sebagai berikut :
1) Baik

Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta
secara fisik paien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
2) Lemah
Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan
sendiri.
b. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian
tingkat kesadaran mulai dari keadaan compos mentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
koma (pasien tidak dalam sadar)
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi:
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi)
2) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya).

B. Langkah II (Interpretasi Data Dasar)


Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data dalam tiga bagian, yaitu sebagai
berikut:
1. Diagnosis kebidanan/ nomenklatur
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain:
a.

Paritas
Paritas adalah riwayat repsoduksi seorang wanita yang berkaitan dengan primigravida (hamil
yang pertama kali), dibedakan dengan multigravida (hamil yang kedua atau lebih).
Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data adalah sebagai berikut:

1) G1(gravid 1) atau yang pertama kali

2) P0 (Partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan


3) A0( Abortus) berarti belum pernah mengalami abortus
4) Multigravida.
1.

G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilan yang ketiga

2.

P1 (Partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu kali

3.

A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalimi abortus satu kali

5) Usia kehamilan dalam minggu


6) Keadaan janin
7) Normal atau tidak normal
b.

Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah masalah dan diagnosis. Kedua istilah tersebut
dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap
perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering
berhubungan dengan bagaimana wanita itu menngalami kenyataan terhadap diagnosisnya.

c.

Kebutuhan pasien
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya

C. Langkah III (Identifikasi Diagnosis/ Masalah Potensial dan Antisipasi Penangannya).


Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah dididentikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan
bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah potensial ini bener-bener terjadi.

D.

Langkah IV (Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi Segera dengan Tenaga


Kesehatan Lain)

Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan
segera bersama anggota tim kesehatan lain dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu,
seorang bidan mungkin juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau
tim kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi
baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk
menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan.

E.

Langkah

V(

Menyusun

Rencana

Asuhan

Menyeluruh)

Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkahlangkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap dapat
dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala hal yang sudah teridenfikiasi
dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman
antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal yang
akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah bidan perlu
merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait social, ekonomi, kultural, atau psikologis.
Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan
dengan semua aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu
bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan secara efektif. Semua keputusan yang telah
disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan in harus bersifat rasional dan
valid yang didasarkan pada pengetahuan, teori terkini (up to date), dan sesuai dengan asumsi
tentang apa yang akan dilakukan klien.

F.

Langkah VI (Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman)


Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman.
Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien
atau anggota tim kesehatan yang lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia
tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.Dalam situasi ketika
bidan berkonsultasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi,
bidan tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh
tersebut.

G.

Langkah

VII

(Evaluasi)

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan
kepada pasien dengan mengacu kepada beberapa pertimbangan. Dalam melakukan evaluasi
seberapa efektif tindakan dan asuhan yang diberikan, kita perlu mengakji respon pasien dan
peningkatan

kondisi

yang

kita

targetkan

pada

penyususnan

rencana

(Sulistyawati, 2009; h. 166-187).

III.

TEORI LANDASAN HUKUM


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010
tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1. Kewenangan normal:
a. Pelayanan kesehatan ibu
b. Pelayanan kesehatan anak
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter

Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan. Kewenangan ini
meliputi:
1.

Pelayanan kesehatan ibu


a. Ruang lingkup:

1)

Pelayanan konseling pada masa pra hamil

2)

Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

3)

Pelayanan persalinan normal

4)

Pelayanan ibu nifas normal

5)

Pelayanan ibu menyusui

6)

Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan


b. Kewenangan:

1)

Episiotomi

2)

Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

3)

Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

4)

Pemberian tablet Fe pada ibu hamil

5)

Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

6)

Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi air susu ibu (ASI) eksklusif

7)

Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum

8)

Penyuluhan dan konseling

9)

Bimbingan pada kelompok ibu hamil

10)

Pemberian surat keterangan kematian

11)

Pemberian surat keterangan cuti bersalin

2. Pelayanan kesehatan anak


a. Ruang lingkup:
1)

Pelayanan bayi baru lahir

2)

Pelayanan bayi

3)

Pelayanan anak balita

4)

Pelayanan anak pra sekolah


b. Kewenangan:

1)

Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resusitasi, pencegahan hipotermi,
inisiasi menyusu dini (IMD), injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada masa
neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat

2)

Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk

3)

Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan

4)

Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah

5)

Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah

6)

Pemberian konseling dan penyuluhan

7)

Pemberian surat keterangan kelahiran

8)

Pemberian surat keterangan kematian

3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, dengan kewenangan:


a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatanreproduksi perempuan dan keluarga
berencana
b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom

Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi bidan yang
menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan tambahan untuk melakukan
pelayanan kesehatan yang meliputi:
1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan memberikan pelayanan
alat kontrasepsi bawah kulit
2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis tertentu (dilakukan di bawah
supervisi dokter)
3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak, anak usia
sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan
5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak sekolah
6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
7) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual
(IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya
8)Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui
informasi dan edukasi
9) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id.)

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. M UMUR 26 TAHUN G3P1A1 UK 9


MINGGU 3 HARI DENGAN HIPEREMESIS GARAVIDARUM
TINGKAT I DI BPS DESI ANDRIANI, AMD. KEB
GARUNTANG BANDAR LAMPUNG

TAHUN 2013
I.

Pengkajian
Tanggal

: 21 Mei 2013

Jam

: 13.00 Wib

Tempat

: BPS Desi Andriani, Amd. Keb.

Nama Mahasiswa
Nim

A.

: Elva Triska
: 2010.570

Data subyektif

1. Identitas pasien
Istri

Suami

Nama

: Ny. M

Nama

: Tn.A

Umur

: 26 th

Umur

: 29 th

Agama

: Islam

Agama

Suku bangsa : Sunda

Suku bangsa : Sunda

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

Alamat

: Jl.Skip Gunung
Kunyit, Sukaraja

Bandar Lampung.

2.

: Islam

Alamat

: SMP
: Swasta
: Jl. Skip Gunung
Kunyit, Sukaraja

Bandar Lampung.

Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya.

3.

Keluhan utama

Ibu mengatakan mual muntah pagi, siang, malam, lebih dari 10 kali sehari dan tubuh terasa
lemas.

4. Riwayat kesehatan
a. Sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit menular dan menurun
b. Yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita suatu penyakit apapun
c. Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit menular dan menurun
d. Prilaku kesehatan
Ibu mengatakan tidak pernah mengkonsumsi jamu, tidak pernah merokok.
5. Riwayat obstetri
a.

Riwayat haid
Menarche

: 13 tahun

Siklus

: 28 hari

Teratur/tidak

: Teratur

Lama

: 6 hari

Volume

: 2 kali ganti pembalut dalam sehari

Warna

: Merah

Disminorhea

: Ya

Bau

: Khas darah

Flour albus

: Tidak ada

HPHT

: 17 Maret 2013

TP

: 24 desember 2013

b. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu


Tabel 3.1
Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
N
Tahun
o Persalinan

UK

39
mg

2009

Jenis
Persalin
an

Tempat

Sponta
n

BPS

Penyulit

Tidak
ada

Penolong

Bidan

Bayi
J B P
K B B
P 3
k
g

Hamil ini

9 mg
3 hari

c. Tanda-tanda kehamilan
Amenorea, mual muntah

: Ya

Tes kehamilan

: Di lakukan

Tanggal

: 30 April 2013

Hasil

: Positif

d. Pergerakan janin belum di rasakan


e.

f.

Riwayat kehamilan sekarang (data di dapat dari KIA)


Trimester I

: 2 kali melakukan kunjungan ibu hamil

Trimester II

:-

Trimester III

:-

Keluhan yang di rasakan:


Rasa lelah

: Ada saat beraktifitas

Mual-muntah

: Ada, > 10 kali/hari

Pegal pada kaki dan pinggang

: Tidak ada

Malas beraktifitas

: Ada karena lemas

Panas menggigil

: Tidak ada

5
0

K
e
t.
S

um hamil

Sakit kepala

: Tidak ada

Penglihatan kabur

: Tidak ada

Rasa nyeri/ panas waktu BAK

: Tidak ada

Rasa gatal pada vulva, vagina

: Tidak ada

Nyeri kemerahan pada tungkai

: Tidak ada

g. Riwayat pernikahan
Menikah 1 kali lamanya 4 tahun 5 bulan
h. Riwayat KB
KB suntik 3 bulan lamanya 3,5 tahun
i.

Riwayat imunisasi TT
Belum pernah mendapatkan imunisasi TT saat kehamilan ini

j.

Riwayat sosial
Kehamilan saat ini di rencanakan

: Ya

Kepercayaan yang berhubungan dg kehamilan


dan nifas

: Tidak ada

Susunan anggota keluarga yang tinggal serumah


Tabel 3.2
Susunan anggota keluarga yang tinggal serumah
N
o
1
2

6.

JenisKelamin

Umur

Hubungan

Pendidikan

Laki-laki
Perempuan

26 th
4 th

Suami
Anak

SMP
PAUD

Pekerjaan

Ket.

Buruh
-

Sehat
Sehat

Pola kebutuhan sehari-hari

a. Nutrisi
: Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan Nasi 1 porsi, sayur 1 mangkuk sedang dan lauk
1 potong serta minum air putih 6-7 gelas per hari

: Ibu mengatakan selama hamil kurang nafsu makan karena mual muntah yang dialami oleh ibu, ibu
makan tidak teratur dengan porsi sedikit. dan minum 3-4 gelas perhari.
b. Pola eliminasi

um hamil : Ibu mengatakan BAK 6-7 kali sehari warna kuning jernih dan berbau khas urine, dan BAB 1-2
kali perhari sekali warna kuning kecoklatan.

ama hamil : Ibu mengatakan BAK 4-5 kali sehari warna kuning pekat, berbau khas urine, dan BAB 1 hari
sekali warna kuning kecoklatan.
c. Pola istirahat

elum hamil : Ibu mengatakan tidur malam 7-8 jam dan tidur siang 1-2 jam perhari.

ama hamil

: Ibu mengatakan tidur malam 7 jam dan tidur siang 1 jam perhari.
d. Personal hygiene

belum hamil : Ibu mengatakan ganti celana dalam 2 kali dalam sehari, mandi 2 kali sehari, gosok gigi 2 kali
sehari, keramas 2 hari sekali dan potong kuku 1 minggu sekali.

elama hamil : Ibu mengatakan ganti celana dalam3 kali sehari dan mandi 3 kali sehari, gosok gigi 3 kali
sehari dan keramas 2 hari sekali, potong kuku 1 minggu sekali.
e.

Pola sexual
Sebelum hamil : 2 kali seminggu
Selama hamil

f.

: 2 kali seminggu

Pekerjaan

elum hamil : Ibu bekerja sebagai ibu rumah taangga yaitu memasak, mencuci dan mengerjakan pekerjaan

ama hamil

rumah lainnya dan mengantar anaknya kesekolah.


: Ibu mengurangi aktivitasnya seperti masak, nyuci dan mengantar anaknya kesekolah karena
keadaan ibu yang lemah.

7. Pola psikososial

Ibu dapat bersosialisasi dengan baik pada keluarga dan tetangganya, tidak ada pantangan atau
adat istiadat apapun yang dianut oleh keluarganya, ibu tidak pernah mengkonsumsi alkohol,
jamu dan merokok.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum

: lemah

b. Kesadaran

: Composmentis

c. Tekanan darah

: 90/70 mmHg

d. Nadi

: 90x/menit

e. Suhu

: 36,40C

f.

: 24x/menit

RR

g. Tinggi badan

: 150 cm

h. Berat badan sebelum hamil


Berat

badan

i. LILA

: 38 kg
sekarang
: 23,5 cm

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala

: Tidak ada nyeri tekan

b. Rambut

: Bersih, penyebaran warna rambut merata

c. Muka
Cloasma

: Tidak ada

Oedema

: Tidak ada

d. Mata
Kelopak mata : Cekung

37

kg

Konjungtiva
Sklera

: Merah muda
: Putih

e. Hidung

: Simetris, tidak ada pembesaran polip

f. Telinga

: Simetris kanan dan kiri


Tidak ada gangguan pendengaran.

g. Mulut

: Bersih, lidah & bibir kering.

h. Gigi

: Tidak ada caries

i. Leher
Kelenjar tyroid

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar getah bening

: Tidak ada pembesaran

j. Payudara
Pembesaran

: Simetris kanan dan kiri

Puting susu

: Menonjol

Benjolan

: Tidak ada

Rasa nyeri

: Tidak ada

Hiperpigmentasi
Pengeluaran

: Tidak ada
: Tidak ada

k. Abdomen
Bekas luka operasi

: Tidak ada

Pembesaran

: Belum teraba

Konsistensi

: Lunak

Linea

: Tidak ada

Acites

: Tidak ada

Tumor

: Tidak ada

Pembesaran liver/lien

: Tidak ada

Uterus
l.

: Tidak di lakukan

Punggung
Posisi punggung

m.

: Normal

Pinggang
Nyeri ketuk pinggang

: Tidak ada

n. Genetalia
Perineum

: Tidak ada bekas luka parut

Vulva dan vagina

: Merah muda

Pengeluaran pervaginam

: Tidak ada

Kelenjar bartholini

: Tidak ada pembesaran

o. Periksa dalam

: Tidak di lakukan

p. Anus

: Tidak ada hemoroid

q. Ekstremitas
Oedema

: Tidak ada

Kemerahan

: Tidak ada

Varices

: Tidak ada

Refleks patella

: Positif kanan dan kiri

Pemeriksaan penunjang
a.

Pemeriksaan Hb

: 10 gr% tanggal 16 Mei 2013

b.

Protein urine

: Tidak dilakukan

c.

Glukosa urine

: Tidak dilakukan

BAB IV
PEMBAHASAN
I.

Pengumpulan data dasar

Pada pengkajian yang di lakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien
pada Ny. M umur 26 tahun G3P1A1 dengan Hiperemesis gravidarum di dapatkan hasil
sebagai berikut :
Data subjektif
A. Umur
1. Menurut Tinjauan teori
Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20-35 tahun. Kehamilan dikatakan
beresiko tinggi adalah kurang dari 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia dibawah 20 tahun
bukan masa yang baik untuk hamil karena organ-organ reproduksi belum sempurna, mental
dan psikisnya belum siap, dan keluarga atau suami yang tidak bias menerima kehamilannya
hal ini tentu menyulitkan proses kehamilan dan persalinan. Sedangkan kehamilan diata susia
35 tahun mempunyai resiko untuk mengalami komplikasi dalam kehamilan dan persalinan
antara lain perdarahan, gestosis, atau hipertensi dalam kehamilan, distosia dan partus lama
(Manuaba, 2010; h. 9).

2.

Menurut

tinjauan

kasus

Umur Ny. M 26 tahun


3. Pembahasan
Pada kasus ini kejadian hiperemesis yang dialami oleh Ny. M ini ada kesenjangan karena
umur Ny. M 26 tahun. Umur tersebut sudah cukup siap untuk menerima kehamilannya.
Namun Ny. M tetap mengalami hiperemesis gravidarum ada kemungkinan karena riwayat
abortus sebelumnya yang menyebabkan kecemasan.

B. Pendidikan
1. Menurut tinjauan teori
Pendidikan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan metode komunikasi yang
akan disampaikan (Sulistyawati, 2009; h. 166-187).
2.

Menurut

tinjauan

kasus

Pendidikan terakhir Ny. M adalah jenjang SMP


3. Pembahasan
Pendidikan terakhir Ny. M adalah SMP dimana Ny. M belum mampu untuk mengerti
mengenai kehamilannya saat ini. Begitu juga mual muntah yang di alaminya, Jadi tidak ada
kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus.
C. Keluhan utama
1. Menurut tinjauan teori
Keluhan yang ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan (Sulistyawati, 2009; h. 166-187).
Gejala hiperemesis gravidarum tingkat I adalah muntah terus menerus yang mempengaruhi
keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun,
dan nyeri epigastrum, nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan darah sistolik menurun,
turgor kulit mengurang, lidah dan bibir mengering dan mata cekung (Rukiyah, 2010; h. 121).
Faktor psikologis besar kemungkinan karena wanita takut hamil, takut persalinan, takut
kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami diduga dapat menjadi faktor
kejadian hiperemesis gravidrum (Manuaba, 2009; h. 210).
2. Menurut tinjauan kasus
Ny. M mengeluh mual-muntah setiap pagi, siang, dan malam sehari lebih dari 10 kali dan
ibu merasa lemah dan ibu mengatakan takut akan mengalami abortus kembali.

3.

Pembahasan
Berdasarkan pengkajian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa tidak terjadi kesenjangan
antara teori yang didapat dengan tinjauan kasus terhadap Ny. M yang mengalami
hiperemesis gravidarum, karena Ny. M mengalami mual-muntah pada pagi, siang dan
malam lebih dari 10 kali dan ibu merasa lemah dan adanya faktor psikologis ibu takut
mengalami keguguran kembali.

D. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


1. Tinjauan teori
Kejadian hiperemesis

gravidarum

lebih

sering

dialami

oleh

primigravida

dari

pada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat kestresan dan usia ibu saat mengalami
kehamilan pertama, pada ibu primigravida faktor psikologik memegang peranan penting pada
penyakit ini, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai
seorang ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah
sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian
kesukaran hidup. Ibu primigravida belum mampu beradaptasi terhadap hormon estrogen dan
khorionik gonadotropin. Peningkatan hormon ini membuat kadar asam lambung meningkat,
hingga

muncullah

keluhan

rasa

mual.

Hyperemesis gravidarum terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60% multigravida. Satu
diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini terjadi lebih berat, gejala mual dan muntah yang
berlangsung sampai kehamilan 4 bulan dimana pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan
keadaan umum menjadi berat dan buruk (Wiknjosastro, 2005; h. 275).
2. Tinjauan kasus

Kehamilan yang sedang di alami Ny. M saat ini merupakan kehamilannya yang ketiga
(multigravida), pada kehamilan pertama Ny. M melahirkan anaknya pada tahun 2009 dengan
jenis kelamin perempuan, BB 3000 kg, PB 50 cm dan tidak ada komplikasi selama
kehamilannya dan persalinan, dan pada kehamilannya yang kedua Ny. M mempunyai
riwayat abortus .
3. Pembahasan
Ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena ini merupakan kehamilan
yang ketiga Ny. M. Sedangkan menurut teori kejadian hiperemesis gravidarum lebih sering
dialami oleh primigravida dari pada multigravida Ny. M mengalami hiperemesis gravidarum
karena merasa takut dengan kehamilannya disebabkan karena Ny. M mempunyai riwayat
abortus.

E. Keluhan yang di rasakan


1. Tinjauan teori
Pada trimester I ibu hamil sering mengalami kelelahan, keputihan, mengidam, mual muntah,
yang merupakan perubahan fisiologis yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu
pada masa kehamilan (Sulistyawati, 2009; h. 123).
2. Tinjauan kasus
Keluhan yang dirasakan Ny. M pada kehamilan ini adalah rasa lelah, mual-muntah, malas
beraktifitas, sehingga mengganggu aktifitasnya.
3. Pembahasan
Keluhan yang dirasakan Ny. M tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus, karena pada kehamilannya seperti rasa lelah, mual-mual, malas beraktifitas,
merupakan perubahan fisiologis yang dialami ibu pada kehamilannya di trimester I.

F. Riwayat sosial
1. Kehamilan saat ini direncanakan
a. Tinjauan teori
Menurut teori psikomatik, hiperemesis gravidarum merupakan keadaan gangguan psikologis
yang dirubah dalam bentuk gejala fisik. Kehamilan tidak direncanakan dan tidak diinginkan,
serta tekanan pekerjaan dan pendapatan menyebabkan terjadinya perasaan berduka, serta
konflik. Hal ini memicu penolakan kehamilan (Runiari, 2010; h. 9-10 ).
b.
c.

Tinjauan

kasus

Kehamilan Ny. M saat ini direncanakan


Pembahasan
Berdasarkan landasan teori bahwa kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan
dinilai memicu perasaan mual dan muntah ini. Sedangkan dari hasil anamnesa didapatkan
data bahwa kehamilan Ny. M saat ini direncanakan dan keluarganya menerima kehamilan ini
dengan baik, namun Ny. M tetap mengalami hiperemesis gravidarum yang mungkin dapat
disebabkan oleh beban psikologis Ny. M akan kehamilannya. Jadi terdapat kesenjangan
antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena Ny. M tidak menolak kehamilannya tetapi
sebaliknya dia menerima kehamilannya.

2. Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan


a. Tinjauan teori
Selain faktor psikologis, faktor budaya juga tidak dapat menjadi pemicu terjadinya
Hyperemesis gravidarum. Factor budaya yang merupakan hal penting adalah berkaitan
dengan pemilihan jenis makanan yang akan dikonsumsi (Runiari, 2010; h. 9-10).
b. Tinjauan kasus
Keluarga Ny. M tidak memiliki kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan.
c.

Pembahasan

Berdasarkan landasan teori tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus, karena Ny. M tidak memiliki kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan.

G. Pola kebutuhan sehari-hari


1. Nutrisi
a. Tinjauan teori
Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual muntah yang berlebihan pada ibu hamil.
Heperemesis gravidarum biasanya disertai dehidrasi, gangguan elektrolit, dan ketosis. Insiden
dari hiperemesis gravidarum adalah 0,5-10/1.000 kehamilan. Penyakit ini rata-rata muncul
pada usia kehamilan 8-12 minggu. Hiperemesis gravidarum sering disertai dengan dehidrasi
dan kehilangan BB > 5 %, gangguan elektrolit dan ketosis (Fadlun, 2012; h. 39).
Diet hiperemesis III diberikan pada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut
kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan.Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi kecuali kalsium. Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II,
dan III adalah roti panggang, biscuit, crakers, buah segar dan sari buah, teh hangat.
Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang pada umumnya merangsang
saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi
dan makanan yang mengandung zat pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak
dianjurkan (Rukiyah, 2010; h. 124-125).
b. Tinjauan kasus
Pola asupan nutrisi Ny. M kurang adekuat karena selama kehamilan ini Ny. M hanya makan
sangat sedikit dari porsi sebelum hamil akibat dari mual muntah yang dialami oleh Ny. M
mengalami penurunan BB dari 38 kg sebelum hamil menjadi 37 kg Ny. M hanya minum 4-5
gelas/hr sehingga Ny. M mengalami dehidrasi.
c. Pembahasan

Dari hasil pengkajian didapatkan hasil pada tinjauan kasus bahwa asupan nutrisi dan cairan
Ny. M kurang adekuat selama kehamilannya Ny. M hanya makan sedikit dari porsi sebelum
hamil sehingga menimbulkan rasa mual yang semakin lama semakin berat karena Ny. M
tidak merubah pola kebutuhan nutrisinya, hal ini didukung oleh data subjektif Ny. M yang
mengatakan bahwa Ny. M hanya makan sedikit selama masa kehamilannya. Jadi tidak
terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.

2. Eliminasi
a. Tinjauan teori
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan eliminasi adalah konstipasi dan sering
buang air kemih. Konstipasi sering terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron yang
mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus. Selain itu desakan usus
oleh pembesaran janin yang menyebabkan bertambahnya konstipasi. Tindakan pencegahan
yang dapat di lakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum
air putih, terutama ketika lambung dalam keadaan kosong. Meminum air putih hangat ketika
perut dalam keadaan kosong dapat merangsang gerak peristaltik usus. Jika ibu sudah
mengalami dorongan maka segeralah untuk buang air besar agar tidak terjadi konstipasi.
Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum dirasakan ibu hamil, terutama pada
trimester I dan III, hal ini tersebut adalah kondisi yang fisiologis, ini terjadi karena awal
kehamilan terjadi pembesaran uterus yang mendesak kantong kemih sehingga kapasiatasnya
berkurang. Sedangkan pada trimester III terjadi pembesaran janin yang juga menyebabkan
desakan pada kantong kemih. Tindakan mengurangi asupan cairan untuk mengurangi keluhan
ini sangat tidak dianjurkan, karena akan menyebabkan dehidrasi (Sulystyawati, 2009; h. 119).
b.

Tinjauan

Pola eliminasi Ny. M dalam sehari adalah 4-5 kali BAK perhari dan BAB 1 kali sehari.
c. Pembahasan

kasus

Pola eliminasi Ny. M dalam sehari adalah BAB 1 kali dan4-5 kali BAK perhari yang
menunjukan bahwa produksi urine Ny. M menurun yang disebabkan karena Ny. M mulai
mengalami dehidrasi dan harus segera ditangani karena dapat membahayakan ibu. Jadi dalam
pembahasan ini ada kesenjangan pada kasus ini antara tinjauan teori dan tinjauan kasus
karena BAK Ny. M menurun karena nutrisi dan cairan kurang yang disebabkan mual muntah
yang dialami oleh Ny. M sedangkan pada ibu hamil TM I sering buang air kecil

3. Pola istirahat
a. Tinjauan teori
Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat yang teratur khususnya seiring
kemajuan kehamilannya. Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik karena
istirahat dan tidur yang teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk
kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin. Tidur pada malam hari selama kurang
lebih 8 jam dan istirahat dalam keadaan rileks pada siang hari selama 1 jam ( Kusmiyati,
2010; h. 124).

Sedangkan ibu pada trimester I mengalami beberapa perubahan psikologis seperti yang
diungkapkan oleh Sulistyawati (2009; h. 76-77) yaitu diantaranya Ibu merasa tidak sehat dan
kadang merasa benci dengan kehamilannya, kadang muncul penolakan, kekecewaan,
kecemasan, dan kesedihan. Bahkan kadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja.
b. Tinjauan kasus
Selama kehamilannya ini Ny. M tidur 7 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari.
c. Pembahasan

Berdasarkan landasan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena intensitas
tidur Ny. M sudah dikategorikan cukup, yaitu Ny. M tidur 7 jam pada malam hari, 1 jam pada
siang hari.
H. Pola psikososial
1. Tinjauan teori
Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, Besar kemungkinan
karena wanita takut hamil, takut persalinan, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan
dengan suami diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidrum (Manuaba, 2009;
h. 210).
2. Tinjauan kasus
Ny.M dapat memiliki hubungan baik dengan suami, keluarga dan tetangganya.
3. Pembahasan
Menurut tinjauan teori dan tinjauan kasus terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena dengan pola hubungan psikososial yang baik Ny. M tetap mengalami
hyperemesis gravidarum yang dapat diakibatkan oleh rasa takut dan ketidaktahuan Ny. M
sehingga menyebabkan mual-muntah pada Ny. M.

I. Data objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Tinjauan teori
Menurut Rukiyah (2010; h. 121) gejala hiperemesis gravidarum tingkat I adalah muntah terus
menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak
ada, berat badan menurun, dan nyeri epigastrum, nadi meningkat sekitar 100 permenit,
tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata cekung.
b. Tinjauan kasus
1) Keadaan umum
2) Kesadaran

: Lemah
: Compos Mentis

3)
4)
5)
6)
7)
8)
c.

Tekanan darah
Nadi
Suhu
RR
Berat badan sebelum hamil
Berat badan sekarang
Pembahasan

: 90/70 mmHg
: 90 x/ menit
: 36,40C
: 24 x/ menit
: 38Kg
: 37 Kg

Menurut tinjauan teori keadaan yang dialami Ny. M merupakan tanda dan gejala hyperemesis
gravidarum tingkat I seperti keadaan umum ibu merasa lemah, sedangkan pada tinjauan kasus
Hyperemesis gravidarum keadaan umum ibu lemah. Tingkat kesadaran ibu masih compos
mentis hal ini menunjukan bahwa ibu masih berada dalam hyperemesis gravidarum tingkat I.
Tekanan darah sistolik ibu dengan Hyperemesis gravidarum akan menurun, begitu pula
dengan Ny. M tekanan darah sistoliknya menurun. Nadi Ny. M 90 kali/menit, pada tinjauan
teori nadi meningkat 100 permenit ini terjadi kesenjangan. Suhu 36,4 0C, jadi ada kesenjangan
antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena pada Hiperemesis gravidarum tingkat I dapat
disertai dengan peningkatan suhu. Berat badan Ny. M menurun1 kg berat badannya dari
sebelum hamil yaitu 38 kg , jadi tidak ada kesenjangan pada berat badan Ny. M karena sesuai
dengan teori yaitu BB menurun.

2. Pemeriksaan fisik
a. Muka
1) Tinjauan teori
Pada banyak perempuan Topeng kehamilan (cloasma gravidarum) adalah bintikbintik
pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi. Peningkatan pigmentasi juga terjadi
disekeliling puting susu, sedangkan diperut bawah bagian tengah biasanya tampak garis gelap
yaitu spider angioma (pembuluh darah kecil yang seperti labalaba) bisa muncul dikulit dan
biasanya diatas pinggang. Pelebaran pembuluh darah kecil yang berdinding tipis sering kali
tampak ditungkai bawah. Ibu hamil mulai akan mengalami hiperpigmentasi pada muka

biasanya terjadi pada usia kehamilan 12 minggu akibat dari pengaruh hormon (Sulistyawati,
2009; h. 65).
2) Tinjauan kasus
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan tidak terdapat cloasma gravidarum.
3)

Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus Ny. M belum mengalami

hiperpigmentasi pada muka karena usia kehamilan Ny. M baru berusia 9 minggu 3 hari
b. Mata
1)
Tinjauan
teori
Gejala hiperemesis gravidarum tingkat I adalah muntah terus menerus yang mempengaruhi
keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun,
dan nyeri epigastrum, nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan darah sistolik menurun,
turgor kulit mengurang, lidah dan bibir mengering dan mata cekung (Rukiyah, 2010; h. 121).
2)
Tinjauan
kasus
3)

Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan didapatkan bahwa mata Ny. M cekung.
Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus, hal ini disebabkan
karena Ny. M mengalami hiperemesis tingkat I dan ibu mengalami dehidrasi ringan yang
disebabkan karena nafsu makan yang berkurang dan segala makanan dan minuman yang di
makan dimuntahkan kembali sehingga mengakibatkan masuknya makanan berkurang hal ini

menyebabkan mata Ny. M cekung


c. Mulut
1)

Tinjauan

teori

Hyperemesis gravidarum tingkat I ditandai dengan muntah terus-menerus yang


mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat
badan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium, turgor kulit mengurang, lidah
dan bibir mengering dan mata cekung (Rukiyah, 2010; h. 121).

2)

Tinjauan

kasus

Pada pemeriksaan mulut yang dilakukan pada Ny. M didapatkan hasil lidah dan bibir Ny. M
kering.
3)

Pembahasan
Jadi antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan lidah dan bibir Ny.
M kering hal ini disebabkan karena kekurangan nutrisi dan cairan.

3. Pemeriksaan penunjang
a.

Tinjauan

teori

Menurut Rukiyah (2010; h. 115) didasarkan pada kriteria WHO ditetapkan 3 kategori anemia
yaitu

normal

11

gr,

ringan

8-11

gr,

berat

<

gr.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia antara lain karena kurangnya
asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorpsi di usus, perdarahan akut
maupun kronis dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa
pertumbuhan

dan

masa

penyembuhan

dari

penyakit.

Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi hiperemesis gravidarum dapat
dimasukan dalam ruang lingkup faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan anemia.
b.
Tinjauan

kasus

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil Hb 10 gr%


c.

Pembahasan
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil Hb 10 gr% dan menurut teori anemia terjadi
karena ibu kekurangan nutrisi, zat besi dan protein. Pada pembahasan ini tidak terdapat
kesenjangan karena anemia yang dialami Ny. M disebabkan karena mual muntah yang
dialaminya sehingga intake nutrisi dan cairan tidak adekuat.

II.
Interpretasi data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah
a. Tinjauan teori
Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data dalam tiga bagian, yaitu sebagai
berikut:
1.

Diagnosis kebidanan/ nomenklatur

Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain:


a. Paritas
Paritas adalah riwayat repsoduksi seorang wanita yang berkaitan dengan primigravida (hamil
yang pertama kali), dibedakan dengan multigravida.
Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data adalah sebagai berikut:
1)

G1(gravid 1) atau yang pertama kali

2)

P0 (Partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan

3)

A0( Abortus) berarti belum pernah mengalami abortus

4)

Multigravida.
1. G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilan yang ketiga
2. P1 (Partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu kali
3. A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalimi abortus satu kali

5)

Usia kehamilan dalam minggu

6)

Keadaan janin

7)

Normal atau tidak normal

b. Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah masalah dan diagnosis. Kedua istilah tersebut
dipakai karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap

perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering


berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya.
c. Kebutuhan pasien
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya
( Sulistyawati, 2009; h. 166-187).
b. Tinjauan kasus
Dari hasil pengkajian data di temukan data fokus Ny. M umur 26 tahun, ibu mengatakan ini
kehamilannya yang ketiga melahirkan satu kali dan keguguran satu kali, ibu mengatakan
HPHT tanggal 17 maret 2013, ibu mengatakan mual dan muntah setiap pagi hari, siang dan
malam, lebih dari 10 kali sehari, serta ibu merasa lemas sehingga mengganggu aktivitas
sehari-hari, mata terlihat cekung, lidah dan bibir kering, BB menurun.
c.

Pembahasan
Berdasarkan data di atas maka penulis menegakkan diagnosa Ny. M adalah : Ny. M umur 26
tahun G3P1A1 usia kehamilan 9 minggu 3 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I.
Diagnosis tersebut secara prinsip tidak bertentangan dengan teori, dan tidak ada kesenjangan.

III.
a.

Diagnosa potensial
Tinjauan teori
Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah dididentikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan
bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah potensial ini bener-bener terjadi (Sulistyawati, 200;
h.

166-187).

Pada Hyperemesis gravidarum tingkat I diagnosa potensial yang mungkin terjadi adalah
Hyperemesis gravidarum tingkat II.

b.

Tinjauan

kasus

Pada kasus sudah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti bibir dan lidah kering, mata cekung.
c.
Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus karena Ny. M sudah
memiliki tanda-tanda dehidrasi yang disebabkan oleh mual muntah yang dialaminya dan
kurangnya intake cairan pada Ny. M yang apabila tidak cepat ditangani memperburuk
keadaan Ny. M dari Hiperemesis gravidarum tingkat I menjadi Hiperemesis gravidarum
tingkat II.

IV.
Tindakan segera ( Tidak ada tindakan segera ).
a. Tinjauan teori
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan konsultasi atau penanganan
segera bersama anggota tim kesehatan lain dengan kondisi klien (Sulistyawati, 2009; h. 166).
b. Tinjauan kasus
Ny. M mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I dan dilakukan tindakan segera dengan
menangani HEG tingkat I dengan cara pemenuhan nutrisi untuk mencegah ke HEG tingkat II.
c.

Pembahasan
Berdasarkan landasan teori dan kasus tidak terdapat kesenjangan, karena dilakukan tindakan
segera.

V.
a.

Perencanaan
Tinjauan

teori

Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkahlangkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis
yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum lengkap dapat
dilengkapi ( Sulistyawati, 2009; h. 166-187).
1. Hiperemesis Gravidarum Tingkat I

Dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisilogik, kemudian dengan menganjurkan mengubah makan
sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi
jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi duanjurkan untuk makan roti kering dan biskuit
dengan teh hangat. Makan dan minum sebaiknya disajikan hangat, banyak istirahat dan tidur
akan mengurangi muntah, minum obat anti muntah misalnya B1 dan B6.
Hiperemesis gravidarum tingkat I hanya perlu rawat jalan dengan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual. Muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering (Runiari, 2010; h. 17).
Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan hiperemesis ringan.Menurut
kesanggupan penderita minuman boleh di berikan bersama makanan.Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi kecuali kalsium.
Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah roti panggang, biscuit,
crakers, buah segar dan sari buah, teh hangat. Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan
adalah makanan yang pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam.
Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan makanan yang mengandung zat
pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak di anjurkan (Rukiyah, 2010; h. 124-125).
b.

Pencegahan dan terapi anemia

1) Meningkatkan konsumsi makanan bergizi


Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging,
ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacangkacangan, tempe), makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C (daun

katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, nanas) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
2) Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan tablet tambah darah
3) Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti kecacingan,
malaria, dll
(Fadlun,

2010;

h.

38).

b. Tinjauan kasus
1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan kondisi ibu saat ini


Jelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami.
Beritahu ibu cara mengurangi mual dan muntah yang di alami
Pantau keadaan ibu
Jelaskan pada ibu mengenai kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi pada hiperemesis
gravidarum

dan

6. Beritahu ibu tentang kebutuhan istirahat dan aktivitas


7. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi obatnya
c.

anemia

Pembahasan

Berdasarkan landasan teori tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus. Karena perencanan dilakukan sesuai dengan teori dan perencanaan diberikan untuk
mengurangi keluhan ibu.

VI.
Pelaksanaan
a. Tinjauan teori
Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan dengan efisien dan aman.
Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien
atau anggota tim kesehatan yang lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri, namun ia
tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya
(Sulistyawati, 2009; h. 166-187).
1. Hiperemesis Gravidarum Tingkat I

Dapat dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisilogik, kemudian dengan menganjurkan mengubah makan
sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi
jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi duanjurkan untuk makan roti kering dan biskuit
dengan teh hangat. Makan dan minum sebaiknya disajikan hangat, banyak istirahat dan tidur
akan mengurangi muntah, minum obat anti muntah misalnya B1 dan B6.
Hiperemesis gravidarum tingkat I hanya perlu rawat jalan dengan memberikan penerapan
tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan
keyakinan bahwa mual . Muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan
makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering (Runiari, 2010; h. 17).
Diet hiperemesis III di berikan pada penderita dengan hiperemesis ringan.Menurut
kesanggupan penderita minuman boleh di berikan bersama makanan. Makanan ini cukup
dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah roti panggang, biscuit,
crakers, buah segar dan sari buah, teh hangat. Sedangkan makanan yang tidak di anjurkan
adalah makanan yang pada umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam.
Bahan makanan yang mengandung alcohol, kopi dan makanan yang mengandung zat
pengawet, pewarna, dan penyedap rasa juga tidak di anjurkan (Rukiyah, 2010; h. 124-125).
b. Pencegahan dan terapi anemia
1) Meningkatkan konsumsi makanan bergizi
Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging,
ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacangkacangan, tempe), makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin C (daun

katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, nanas) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
2) Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan tablet tambah darah
3) Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti kecacingan,
malaria, dll
(Fadlun, 2010; h. 38).
b. Tinjauan kasus
1) Menjelaskan pada ibu tentang keadaan ibu saat ini sesuai dengan hasil pemeriksaan dan
memberitahu usia kehamilan ibu saat ini 9 minggu 3 hari yang memerlukan perhatian yang
2)

khusus oleh ibu dan keluarga.


Menjelaskan pada ibu tentang keluhan yang dialami. Mual dan muntah yang di alami ibu dan
sehingga ibu mengalami penurunan nafsu makan sehingga menimbulkan rasa lemas dan
pusing. Hal yang di rasakan ibu saat ini dalam kehamilan disebut dengan hiperemesis
gravidarum yaitu mual muntah yang berlebih yang mengakibatkan penurunan keadaan umum
ibu hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan hormon, dan hiperemesis ini terjadi

pada usia awal kehamilan <20 minggu


3)
Memberitahu ibu cara penanganan hiperemesis gravidarum ini yaitu tentang cara
mengurangi mual muntah yaitu dengan menghindari makanan berlemak, minyak, pedas dan
berbau terlau menyengat serta mengkonsumsi air putih hangat. Kemudian ibu untuk tidak
segera bangun dari tempat tidur anjurkan ibu untuk minum teh hangat dan makanan roti
kering atau makanan yang di sukai ibu hal ini dilakukan untuk tetap memenuhi nutrisi ibu
dan mengurangi rasa lelah. Dan memberitahu untuk menghilangkan rasa khawatir tentang
kehamilannya.
4) Melakukan kerja sama pada keluarga atau orang terdekat ibu untuk memantau kondisi ibu di
rumah, dan menjelaskan pada keluarga bila kondisi ibu semakin tidak membaik maka segera
membawa ibu ketenaga kesehatan terdekat dan menganjurkan pada keluarga untuk
memperhatikan asupan nutrisi ibu.

5) Menjelaskan pada ibu mengenai kebutuhan nutrisi dan cairan pda hiperemesis gravidarum
yang harus di penuhi yaitu memberikan diit ke-III HEG yaitu makan sesuai kesanggupan ibu
dan minuman boleh di berikan bersama makanan yang cukup energy seperti roti panggang,
biscuit, krekers, buah segar, sari buah,minuman botol ringan, sirup, kaldu tak berlemak, dan
teh serta banyak minum air putih hangat.
Dan menjelaskan mengenai kebutuhan nutrisi dan cairan pada anemia yaitu pemenuhan zat besi
dengan Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani
(daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua,
kacang-kacangan, tempe), makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin
C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk, nanas) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus, dengan mengatur menu dan memasak sesuai
keinginan ibu agar ibu nafsu makan Dan minum lebih kurang 8-9 gelas / hari.
6) Memberitahu ibu tentang kebutuhan istirahat yaitu tidur malam 6-8 jam dan siang 1-2 jam,
dan ibu dianjurkan untuk menambah jam istirahatnya, serta memberitahu ibu untuk
mengurangi aktivitas fisik seperti menghindari pekerjaan yang membahayakan, terlalu berat
7)

terutama pada usia kehamilan muda ini.


Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi obatnya berupa obat anti mual dan vitamin
yaitu B1 dengan dosis 1x1 yang berfungsi untuk menjaga stamina ibu. Dan B6 dengan dosis
3x1 di minum 30 menit sebelum makan untuk menurunkan keluhan mual muntah yang di

alami ibu
c. Pembahasan
Berdasarkan landasan teori tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.
Karena perencanan dilakukan sesuai dengan teori dan perencanaan diberikan untuk
mengurangi keluhan ibu.

VII.

Evaluasi

Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang aspek asuhan yang tidak efektif
untuk mengetahui factor mana yang menguntungkan atau menghambat keberhasilan yang
diberikan. Pada langkah terakhir dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah diberikan.

Ny. M telah diberikan asuhan kebidanan sesuai kebutuhan.Ny. M selama 7 hari. Asuhan
kebidanan yang diberikan pada Ny. M dengan kasus hiperemesis gravidarum dapat dikatakan
berhasil karena dari hari pertama Ny. M sampai hari ketujuh dengan keadaan umum baik,
kesadaran compos mentis, mual-muntah berkurang, TTV: TD 100/70 mmHg, Nadi 80 x/mnt,
respirasi 22 x/mnt dan suhu 36,50C, BB 37,5 kg Dengan diberikannya asuhan secara
menyeluruh, permasalahan pada Ny. M dapat teratasi, keadaan Ny. M baik, dan Ny. M dapat
menjalani kehamilannya. Ny. M dianjurkan untuk selalu menjaga kehamilannya dengan
memperhatikan pola makan, istirahat, aktivitas yang tidak terlalu berat, dan melakukan
pemeriksaan kehamilan secara teratur atau apabila ada keluhan maka segera datang ketenaga
kesehatan.

BAB V
PENUTUP

Setelah penulis membahas tentang asuhan kebidanan dengan hiperemesis gravidarum tingkat
I pada Ny. M umur 26 tahun G31A1di BPS Desi Andriani Amd. Keb Garuntang Bandar
Lampung dari tanggal 21 28 Maret 2013, maka penulis dapat mengambil beberapa
kesimpulan dan saran sebagai berikut :
I. Kesimpulan

A. Penulis dapat melakukan pengumpulan data dasar terhadap Ny. M dengan


hiperemesis gravidarum tingkat I. Pengkajian data yang telah di lakukan terhadap Ny.
M menggunakan tekhnik asuhan kebidanan manajemen langkah varney berdasarkan
format asuhan kebidanan dan secara teori pengkajian data, terdiri atas data subyektif
dan obyektif.
B. Penulis dapat melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil pengumpulan data
terhadap Ny. M Diagnosa yang di tegakkan terhadap Ny. M di tegakkan dari keluhan
dan masalah yang timbul dari hasil pengkajian data Yaitu Ny. M umur 26 tahun
G3P1A1 usia kehamilan 9 minggu 3 hari dengan hiperemesis gravidarum tingkat I.
C. Penulis dapat mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang akan mungkin
terjadi terhadap Ny. M Antisipasi masalah dalam asuhan kebidanan terhadap Ny. M
adalah terjadi hiperemesis tingkat II.
D. Penulis dapat mengidentifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera.
Dalam kasus ini di mana Ny. M mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I yang
tidak menimbulkan kegawatdaruratan terhadap dirinya saat melakukan pemeriksaan
maka tindakan segera tidak di perlukan.
E. Penulis dapat merencanakan asuhan yang sesuai kebutuhan Ny.M rencana di berikan
kepada Ny. M sesuai dengan kebutuhan yang dapat di berikan berdasarkan diagnosa.
F. Penulis dapat melaksanakan asuhan yang sesuai kebutuhan Ny. M pelaksanaan
diberikan kepada Ny. M sesuai dengan kebutuhan yang didapat di perencanaan.

G. Penulis dapat melakukan evaluasi berdasarkan hasil asuhan yang telah di lakukan
terhadap Ny. M Evaluasi hasil asuhan di lakukan setiap setelah pemberian asuhan
kebidanan dan hari selanjutnya dimasukan dalam matrik.

II. Saran
A.

Institusi

Pendidikan

Di harap agar Karya Tulis Ilmiah ini dapat di jadikan sebagai salah satu dokumentasi
akademik dan bahan bacaan bagi mahasiswa kebidanan lainnya serta dapat membantu
memberi bahan untuk penelitian selanjutnya.
B.

Lahan

Praktek

Penulis mengharapkan agar tenaga kesehatan mampu memberikan asuhan kebidanan


terhadap klien yang mengalami hiperemesis gravidarum, serta meningkatkan skrining ANC.

C.

Masyarakat

Diharapkan agar masyarakat khususnya ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan kehamilan
(ANC) sedini mungkin secara teratur dan selalu waspada terhadap segala resiko terjadinya
komplikasi khususnya pada kasus hiperemesis gravidarum .

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, vivian nanny lia dan Tri sunarsih. 2011. Asuhan kehamilan untuk
kebidanan. Jakarta: Salemba medika
Fadlun & Achmad Feryanto. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta; SalembaMedika.
http//catatan-ranhae.blogspot.com/.../mual-muntah-saat-keh..
http://j3ffunk.blogspot.com/2011/05/survey-aki-dan-akb-di-indonesia.html)
http://lampost.co/berita/kematian-ibu-dan-anak-jadi-kendala-di-lampung
http://www.bidankita.com/beta/index.php?option=com_content&view=article&id

http//www.tabloid-nakita.com kebutuhan nutrisi pertrisemester


Kusmiyati, yuni dkk. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya.
Manuaba, Ida Bagus Gde, 2010. Memahami Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Arcan.
Manuaba, I bagus gede dkk. 2009. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka

Cipta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu kebidanan. Jakarta: BP-SP


Rukiyah, ai yeyeh dkk. 2009. Asuhan Kebidanan I ( Kehamilan ). Jakarta: Trans Info Media.
Rukiyah, Ai Yeyeh & Lia Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta:
Trans Info Media
Runiari, Nengah. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis

gravidarum:

Penerapan konsep dan teori keperawatan. Jakarta : SalembaMedika


Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: SalembaMedika
Salmah, dkk. 2006. Asuhan kebidanan antenatal. Jakarta: EGC.
Winkjosastro. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

Diposkan oleh Unknown di 03.49


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2013 (1)
o Juli (1)

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PADA NY. M UMUR 26


TAHU...

Template Tanda Air. Gambar template oleh LonelySnailDesign. Diberdayakan oleh Blogger.