Anda di halaman 1dari 10

BPK Berencana Audit Pendapatan Negara dari Sektor Perikanan

LOMBOK BARAT - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI berencana mengaudit pendapatan


negara dari sektor perikanan dan kelautan. BPK menilai, selama ini pendapatan negara dari
sektor ini tidak sebanding dengan potensi perikanan dan kelautan di Indonesia.
Sejauh ini memang belum ada audit BPK terkait pendapatan dari laut, tapi kami segera
melakukannya untuk sektor perikanan dan kelautan ini, kata anggota BPK RI Ali Masykur
Musa, Senin (3/9) usai membuka Technical Meeting BPK RI dengan Jawatan Audit Negara
(JAN) Malaysia, di Hotel Sheraton Senggigi, Lombok Barat.
Ali mengatakan, potensi perikanan dan kelautan Indonesia sangat besar meliputi 17.506 pulau
dengan panjang garis pantai 80.507 km, dan luas laut territorial mencapai 285.005 km. Namun
faktanya, pada tahun 2011 tercatat sumbangan pendapatan negara dari sektor perikanan dan
kelautan hanya berkisar 3,35 Miliar US Dollar.
Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding pendapatan Vietnam dari sektor yang sama yang mencapai
25,5 Miliar US Dollar di tahun yang sama.
Ini yang akan ditelusuri melalui audit. Intinya audit yang akan kami lakukan adalah untuk
menyelamatkan potensi pendapatan negara dari sektor perikanan kelautan ini, katanya.
Dipaparkan, selain unsur pemerintah seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, objek audit
BPK juga akan menyasar stakeholders lain yang berhubungan dengan perikanan dan kelautan.
Kelompok usaha perikanan, hingga perusahaan pemegang ijin penangkapan ikan juga akan
diperiksa untuk audit ini.
Bisa saja ada perusahaan penangkap ikan yang tidak melaporkan hasil tangkapannya, dan ini
mengurangi pendapatan Negara, katanya.
Menurutnya, audit akan dilakukan seperti audit pada sektor pertambangan yang suda dilakukan
BPK sejak tiga tahun terakhir. Pada tahun pertama BPK berhasil menyelamatkan keuangan
Negara mencapai Rp1,2 Triliun dari sektor pertambangan ini, berikutnya Rp488 Miliar di tahun
kedua, dan Rp428 Miliar di tahun ketiga 2011 lalu.
Dana itu didapat dari hak-hak royalty yang belum berhasil terkumpul oleh lembaga-lembaga
pemerintah, yang seharusnya menjadi pendapatan Negara.
BPK sudah punya pengalaman audit di pertambangan, dan untuk perikanan kelautan kita juga
akan lakukan untuk memaksimalkan potensi pendapatan Negara, katanya.
Pertemuan BPK RI dengan JAN Malaysia di Lombok, dihadiri oleh Deputy Auditor General of
JAN Malaysia, Dato Haji Anwari Bin Suri, Menteri LIngkungan Hidup Balthasar Kambuaya,
dan Gubernur NTB KH M Zainul Majdi.

Dalam sambutannya Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya mengatakan, menyambut


baik kerjasama audit BPK dan JAN Malaysia, terutama di bidang lingkungan hidup.
Menurutnya, pembangunan berkelanjutan harus mempertimbangkan kelestarian lingkungan, di
saat mengeksploitasi sumber daya alam.
BPK RI sudah beberapa kali melakukan audit lingkungan, dan Kementerian Lingkungan Hidup
juga banyak belajar dan berbenah dari laporan hasil audit BPK tersebut, katanya.
Ia berharap kerjasama BPK RI dan JAN Malaysia dalam hal audit lingkungan bisa mendorong
pengeloaan SDA dan kebijakan lingkungan yang efektif dan efisien di dua Negara.
Saya berharap pertemuan ini bisa mendorong transparansi, akuntabilitas, dan mendorong
pengelolaan lingkungan yang baik untuk kesejahteraan masyarakat, katanya.
Anggota BPK RI Ali Masykur Musa menjelaskan, pertemuan di Lombok merupakan pertemuan
ke sepuluh yang membahas rencana pelaksanaan parallel audit terkait Illegal, Unreported, dan
Unregulated (IUU) Fishing dan pemeriksaan kinerja atas pelayanan ekspor barang yang dipungut
bea keluar, serta perencanaan pemeriksaan atas pengelolaan sumber daya air.
Pertemuan ini, lanjutnya, merupakan tindaklanjut kerjasama antara BPK RI dengan JAN
Malaysia yang ditandatangani pada 2007.
Paralel audit yang dilakukan sebelumnya oleh BPK RI dan JAN Malaysia meliputi pemeriksaan
pengelolaan Hutan (Audit on Management of Forest) pada 2007-2009, dan pemeriksaan
pengelolaan hutan mangrove (Audit on Management of Mangrove) Selat Malaka tahun 20092011.
Terkait IUU Fishing, BPK dan JAN menyepakati kerjasama parallel audit karena Indonesia
sebagai negara kepulauan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, memiliki permasalahan
yang sama dalam IUU Fishing, katanya.
Dalam pertemuan di Lombok dibahas pelaksanaan pemeriksaan IUU Fishing berdasarkan
rencana yang telah disepakati serta penyusunan outline laporan parallel audit. BPK dan JAN
Malaysia juga bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam metodologi pemeriksaan, khususnya
pelaksanaan pemeriksaan lapangan, termasuk kendala dan tantangan, serta pelajaran yang dapat
diambil.
Hasil pertemuan audit paralel IUU nantinya akan dipresentasikan BPK dan JAN pada pertemuan
kelompok kerja audit lingkungan organisasi badan pemeriksa se-Asia (ASOSAI- WGEA) pada
pertengahan September 2012 di Penang, Malaysia. (koranberitaonline)

Ekonomi Jepang
Belum Diperiksa

Ekonomi pasar bebas dan terindustrisasi Jepang merupakan ketiga terbesar di dunia setelah
Amerika Serikat dan Cina dalam istilah paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat
efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan ke perdagangan internasional, tapi
produktivitas lebih rendah di bidang agriklutur, distribusi, dan pelayanan.
Setelah mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dari 1960-an ke 1980-an, ekonomi
Jepang merosot secara drastis pada awal 1990-an, ketika "ekonomi gelembung" jatuh. Persediaan
kepemimpinan industri dan teknisi, pekerja yang berpendidikan tinggi dan bekerja keras,
tabungan dan invesatasi besar dan promosi intensif pengembangan industri dan perdagangan
internasional telah memproduksi ekonomi industri yang matang.
Jepang memiliki sumber daya alam yang rendah, tetapi perdagangan menolongnya mendapatkan
sumber daya untuk ekonominya.
Meskipun prospek ekonomi jangka panjang Jepang masih bagus, namun sekarang dia berada
dalam resesi terburuknya sejak Perang Dunia II. Harga saham dan properti tetap yang turun,
menandai akhir dari "ekonomi busa" 1980-an. GDP nyata di Jepang tumbuh rata-rata sekitar 1%
antara 1991-98, dibandingkan dengan 1980-an sekitar 4%. Pertumbuhan di Jepang pada dekade
ini lebih rendah dari pertumbuhan negara maju lainnya. Jepang memasuki masa resesi pada awal
millenia, dimulai oleh resesi di Amerika Serikat, tetapi sejak 2003 telah mulai tumbuh kembali
dengan kuat dan pada 2004 menikmati pertumbuhan tertinggi sejak 1990.

Daftar isi

Sumber Daya Alam & Lingkungan (BI-09)

Kekayaan Dan Potensi Dari Sumber Daya Kelautan Di


Indonesia
Oleh: Guman Eko, Publish on: 1 April 2014 00:00 wib

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki puluhan ribu
pulau. Setidaknya terdapat 13.466 pulau yang bernaung di wilayah Negara Kesatua Republik
Indonesia, sedangkan luas daratan dan lautan memiliki perbandingan yang cukup signifikan, dari
data statistik yang diperoleh setidaknya total luas daratan Indonesia mencapai 1.910.000 km2
sedangkan total luas lautan mencapai 6.279.000 km2 (menkokesra.go.id). Dengan total
keseluruhan luas laut di Indonesia dan potensi sumber daya alam yang dianugerahkan Tuhan
kepada negeri ini, baik berupa hayati dan non hayati merupakan asset besar bagi Indonesia.

Dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tertera pada alinea
ke 4 tertulis bahwa : Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
I.

Posisi Strategis Indonesia


1. 1.

Letak Astronomis

Indonesia berada pada garis Lintang dan garis Bujur. Garis lintang adalah garis yang melintang
melingkari bumi secara horizontal, sedangkan garis bujur adalah garis khayal yang
menghubungkan kutub utara dan kutub selatan. Letak astronomisnya yaitu berada di 6o LU 11o
LS dan 95o BT 141o BT. Berdasarkan letak astronomis Indonesia berada pada garis khatulistiwa
menyebabkan Negara Indonesia memiliki iklim tropis.

1. 2.

Letak Geografis

Pada posisi geografis, Negara Kesatua Republik Indonesia terhimpit oleh dua Benua yakni
Benua Asia dan Benua Australia kemudian terapit pula oleh dua samudra besar yakni Samudra
Hindia dan Samudra Pasifik. Berdasarkan letak geografisnya, Negara Indonesia sangat
diuntungkan dari segi potensi kelautan yang dimiliki, karena terdapat dua samudera yang
berhimpitan dan terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan baik dari sisi kelautan,
perikanan, bio teknologi, wilayah pesisir lestari, wisata bahari, minyak bumi dan lain sebagainya.

1. II.

Potensi Sumber Daya Laut Indonesia


1. 1.

Perikanan

Salah satu potensi Indonesia yaitu dibidang perikanan. Indonesia memiliki potensi di bidang
perikanan adalah 65 juta ton/ tahun, namun masih 20% yang dimanfaatkan.
Tercatat bahwa nilai ekonomi yang terbantu dari sisi potensi perikanan ini jika dikalkulasikan
maka pendapatan negara bisa mencapai US$ 47.000.000.000/tahun ditambah lagi dengan
kerugian yang diakibatkan oleh illegal fishing dari tahun 2001 2013 di laut Arafuru. Dari laut
Arafuru ini, Negara mendapat kerugian sebesar Rp. 520.000.000.000.000 ( 520 T ).

1. 2.

Wilayah Pesisir Lestari

Potensi pesisir yang dimiliki Indonesia berupa keanekaragaman hayati dan non hayati. Tercatat
bahwa panjang pantai di Indonesia mencapai 95.181 km dengan luas wilayah laut 5,4 juta km2,
mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7,1 juta km2 (World Resources Institute,
1998)
Kontribusi perekonomian yang berasal dari wilayah pesisir ini sebesar US$ 82.000.000.000/
tahun. Jika dioptimalkan, maka akan lebih besar pendapatanya per tahun.

1. 3.

Garam

Garam yang merupakan kebutuhan pokok dalam setiap masakan yang tersaji di atas meja makan,
mampu memperolah US$ 28.000.000.000. disamping sebagai bahan masakan yang wajib
dimiliki, garam pula dapat berpotensi sebagai salah satu sumber penghasilan Negara. Industry
garam pun membantu perekonomian negara.

1. 4.

Wisata Bahari

Dengan negara yang berjuluk Negara Kepulauan Potensi dari segi pariwisata di bidang bahari
yang tersebar di 241 kabupaten/kota dapat mencapai US$ 29.000.000.000/ tahun.

1. 5.

Bioteknologi laut

Tingginya kelimpahan dan keanekaragaman hayati di laut Indonesia, digunakan untuk


pengembangan industri bioteknologi bahan pangan, obat-obatan, kosmetika dan bioremediasi.
Pemanfaatan di bidang bioteknologi laut ini berpotensi paling besar diantara potensi lainya.
Tercatat bahwa potensi bioteknologi laut ini mencapai US$ 330.000.000.000/ tahun.
Pemanfaatan bioteknologi ini akan berdampak besar jika pengelolaan maksimal oleh pemerintah.

1. 6.

Minyak Bumi

Potensi sumber daya alam yang lainya yaitu minyak bumi dan gas offshore, minyak bumi dan
gas offshore ini 70% dari total keseluruhan berasal dari laut. Terdapat sebanyak 40 dari 60
cekungan potensial yang mengandung minyak bumi dan gas yang terletak di lepas pantai.
Sedangkan 14 lainya terdapat di pesisir laut dan hanya 6 yang terdapat di daratan.

Potensi ekonomi yang didapatkan dari minyak bumi dan gas alam ini sebanyak US$
68.000.000.000/ tahun. Sangat disayangkan kepemilikan sumber daya alam ini banyak dikuasai
oleh Negara asing sehingga Bangsa sendiri tidak bisa menikmati secara bebas dari hasil bumi
yang diperoleh ini.

1. 7.

Energi Terbarukan

Potensi yang dimiliki dari hasil energy terbarukan ini mencapai US$ 80.000.000.000/ tahun.
Alangkah sayang jika potensi yang dimiliki ini disiakan begitu saja. Energy terbarukan dari
potensi laut yang Negara Indonesia miliki ini berupa energy arus laut, energy pasang surut,
energy gelombang laut, energy biofuel alga dan energy panas laut.

1. 8.

Transportasi Laut

Dari transportasi laut ini, potensi yang dimiliki merupakan sarana yang efektif bagi masyarakat
menengah untuk berpindah dari tempat satu ke tempat lainya. Potensi yang dimiliki oleh
transportasi laut ini setidaknya menyumbang US$ 90.000.000.000/ tahun.

1. 9.

Seabed Mineral

Dari pengelolaan dasar laut yang maksimal akan tercipta lingkungan dasar laut yang indah dan
dapat bermanfaat bagi generasi selanjutnya. Pesona keindahan dasar laut ini membuat turis
domestic dan mancanegara berdatangan untuk dapat menikmati keindahan yang terdapat di dasar
laut Indonesia. Setidaknya tercatat US$ 256.000.000.000/ tahun yang berasal dari sumbangsih
potensi keindahan dasar laut.
10. Industri Jasa Maritim
Dalam hal industri jasa di bidang maritim ini, banyak sekali potensi yang dapat dimanfaatkan.
Tidak seperti potensi lainya, industry jasa maritim di Negara Indonesia ini cukup diperhatikan
oleh dunia. Dengan omzet US$ 72.000.000.000.000/ tahun industri yang dapat menguntungkan
di bidang maritim ini.
( Sumber : KKP dan DKP )

1. III.

KESIMPULAN

Dari kekayaan alam yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mampu
memberikan kontribusi di bidang perekonomian Indonesia. Total keseluruhan sumber daya
kelautan yang dimiliki oleh Indonesia tercatat sebanyak US$ 1.000.000.000.000/ tahun atau
setara dengan Rp. 11.392.000.000.000.000.00/ tahun nya.
Sebagai anak Bangsa Indonesia yang cinta akan negerinya, saya selaku penulis menghimbau dan
mengajak kepada pembaca untuk dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimiliki
oleh Negara ini untuk kepentingna Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan
hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan.

Minggu, 06 Januari 2013 - 10:29 WIB


Kekayaan Laut Indonesia Yang Galau
Oleh : Agil Iqbal Cahaya, S.AP.*)
- Dibaca: 7748 kali

Kekayaan laut indonesia yang galau


Indonesia memiliki wilayah sebagian besar laut, tidak bisa dipungkiri kekayaan laut di Indonesia
sangatlah besar. Sejak zaman purbakala Indonesia dikenal memiliki kekayaan laut yang sangat
kaya akan keragamannya, sehingga menjadi rebutan oleh bangsa-bangsa penjajah agar dapat
dikuras kekayaan lautnya. Dengan wilayah laut yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke,
wilayah laut Indonesia memiliki potensi kerawanan dalam pencurian hasil laut dari berbagai
negara, terutama negara-negara tetangga yang berbatasan langsung.
Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8
juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), serta
terdiri lebih dari 17.500 pulau, menyimpan kekayaan yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik,
potensi kelautan Indonesia diperkirakan dapat memberikan penghasilan lebih dari 100 miliar
dolar AS per tahun. Namun yang dikembangkan kurang dari 10 persen. Persoalannya dengan
luas wilayah laut Indonesia yang begitu besar penjagaan keamanan laut dari para pencuri
menjadi pekerjaan rumah yang masih belum selesai bagi pemerintah. Dengan laut yang maha
luas itu, potensi ekonomi laut Indonesia diperkirakan mencapai 1,2 triliun dollar AS per tahun,
atau dapat dikatakan setara dengan 10 kali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
2012. Oleh karena itu, apabila seluruh potensi kelautan ini dikelola dengan baik maka
diperkirakan 85% perekonomian nasional bakal sangat bergantung pada sumber daya kelautan.
Kerugian akibat pencurian ikan timbul antara lain karena lemahnya pengawasan dan
kongkalikong aparat. Kepala Pusat Analisis Kerjasama Internasional dan Antar
Lembaga,Sekretariat Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Anang Noegroho
menyebutkan, rata-rata selama satu dekade terakhir negara mengalami kerugian sebesar Rp 30
triliun pertahun dari pencurian oleh negara asing. Jika harga satu kilogram ikan adalah dua
dolar, artinya ikan yang dicuri 166 ton pertahun.

Ada berbagai modus pencurian ikan yang dilakukan antara lain: modus transshipment yang
artinya pemindahan muatan ikan yang terjadi di tengah lautan lepas dari kapal dalam negeri ke
kapal asing. Modusnya, kapal itu menjual ikannya di laut lepas tanpa melaporkan hasil
tangkapannya, baru pada tangkapan terakhir atau saat periode perizinan hampir berakhir, mereka
biasanya melaporkan kepada pejabat yang berwenang di Indonesia. Saat di kapal pun, pencatatan
jumlah ikan yang ditangkap tidak dihitung kembali secara cermat. Hal-hal seperti ini menjadi
angka rugi yang tersamarkan.
Modus lainnya adalah dokumen perizinan yang sama atau ganda yang dimiliki oleh beberapa
kapal, dokumen atau surat izin palsu, serta penggunaan bendera Indonesia ataupun menggunakan
anak buah kapal atau awak dari Indonesia oleh kapal-kapal asing. Pencurian yang dilakukan oleh
negara tetangga menurut data KIARA tahun 2011, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, pelaku
pencurian ikan di perairan Indonesia berasal dari China dan enam negara anggota ASEAN, yakni
Vietnam, Thailand, Myanmar, Malaysia, Filipina, dan Kamboja. Jenis ikan yang paling banyak
diminati adalah yang bernilai ekonomis, seperti jenis ikan kerapu, kakap, napoleon, tuna sirip
kuning, cakalang, udang dan lobster.
Keberadaan coastguard di Tanah Air sangat dibutuhkan karena penegakan hukum di laut kita
hingga sekarang ini masih sedikit rumit dan menimbulkan kondisi yang cukup membingungkan
bagi mereka yang menjadi obyek upaya penegakan hukum itu. Dengan dibentuknya coastguard,
kita bisa berharap kondisi tersebut dapat diperbaiki sedikit demi sedikit. Saat ini penegakan
hukum dan keamanan di laut Nusantara memang masih tumpang-tindih (overlapping). Untuk
menegakkan hukum di laut terdapat banyak lembaga yang terlibat seperti Polisi Air, Airud,
Angkatan Laut, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Bea dan Cukai hingga
Administrator Pelabuhan (Adpel). Hal ini menjadikan kegiatan kegiatan pemeriksaan hingga
penangkapan kapal niaga nasional semakin marak sehingga dikeluhkan oleh para operator
pelayaran nasional.
Situasi tersebut telah menimbulkan kebingungan bagi obyek penegakan hukum di laut seperti
kapal niaga, kapal penangkap ikan, nelayan, pelaut dan mereka yang karena sifat pekerjaannya
harus bersinggungan dengan laut. Mereka mengungkapkan, instansi tertentu sering
memberhentikan dan naik ke kapal di tengah lautan untuk memeriksa berbagai persyaratan yang
harus ada di atas kapal atau dokumen/surat yang harus dimiliki oleh ABK. Bagi mereka ini sahsah saja. Yang menjadi persoalan, manakala instansi itu selesai menjalankan tugasnya dan kapal
akan bergerak kembali, ada instansi lain lagi yang memberhentikan dan naik ke kapal tak lama
kemudian. Parahnya, setiap kali kapal ingin melanjutkan perjalanan kapten harus merogoh
dalam-dalam koceknya agar tidak muncul permasalahan yang kadang dibuat-buat oleh oknum
aparat tertentu. Persoalan akan sedikit runyam jika kapal yang diberhentikan dan diperiksa itu
adalah kapal berbendera asing.
Menurut praktek yang lazim di dunia pelayaran, kapal adalah the mobile state (negara yang
berjalan) sehingga hanya tunduk kepada aturan hukum yang berlaku di negara benderanya. Jika
ingin diproses dengan hukum negara lain, ada sejumlah aturan main yang juga berlaku
internasional yang harus dipenuhi. Salah satunya melalui admiralty court/pengadilan. Mungkin
inilah salah satu sebab mengapa main line operator/MLO (pelayaran besar kelas dunia) enggan
sandar di pelabuhan di Indonesia. Hal ini karena biaya yang timbul akibat tumpang tindih

kewenangan penjagaan laut dan pantai sangat mahal dengan proyeksi hingga ratusan miliar
rupiah mengingat jumlah kapal niaga nasional saat ini mencapai 10.919 unit. Namun, angka
kerugian tersebut bisa lebih tinggi hingga dua kali lipat jika kerugian akibat tumpang tindih
kewenangan dalam kegiatan penjagaan laut dan pantai itu dihitung dari tambahan biaya
operasional kapal pelayaran rakyat atau Pelra hingga angkutan Sungai, Danau dan
Penyeberangan atau ASDP.
Pemerintah Indonesia dalam penanganan permasalahan laut bukannya tanpa koordinasi, namun
Indonesia memiliki Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) yang bertugas
mengkoordinasikan penyusunan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan operasi keamanan laut
secara terpadu. Bakorkamla telah dibentuk tahun 1972 dan pada tanggal 29 Desember 2005
ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut
(BAKORKAMLA) yang menjadi dasar hukum dari organisasi ini. Namun, Bakorkamla sampai
saat ini belum bisa memberikan gambaran yang maksimal mengenai perannya dalam mengatasi
dan mengurangi kerugian akibat pencurian di laut. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran mengamanatkan agar pemerintah membentuk badan Sea and Coast Guard
sebagai lembaga tunggal yang berwenang dalam kegiatan penegakan aturan di bidang pelayaran.
Namun, hingga kini pembentukan badan tunggal tersebut semakin tidak jelas akibat belum
terbitnya Peraturan Pemerintah tentang Sea and Coast Guard (Penjagaan Laut dan Pantai).
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan segera oleh pemerintah dalam upaya mengurangi
kerugian akibat pencurian laut yaitu: pertama, melakukan reformasi secara menyeluruh antara
lain mempercepat penyelesaian Peraturan Pemerintah tentang Coastguard agar terdapat
kepastian tentang lembaga mana yang berwenang untuk melakukan penjagaan laut sehingga
tumpang tindih (overlapping) yang banyak dikeluhkan oleh pihak yang berkepentingan dengan
laut (terutama pelaku usaha dan nelayan) dapat diminimalisasi. Selain itu, dengan adanya
kesatuan penjagaan laut, maka biaya operasional untuk penjagaan laut bisa diefisienkan. Dan
yang paling penting perlunya pengawasan yang ketat pada para aparat penegak hukum di laut
agar tidak terjadi kongkalikong dengan pencuri laut dan hukuman yang keras bagi para pencuri
ikan dan aparat yang terbukti melakukan kolusi dan kongkalikong dengan pencuri di laut.
Kedua, perlu dievaluasi kembali izin kepada pihak swasta yang melakukan penipuan, pencurian
laut dengan modus-modus yang sering lazim dilakukan seperti modus transshipment. dan modus
lainnya dalam melakukan pencurian hasil laut. Ketiga, perlunya peran pemerintah dalam
penanganan hasil tangkapan ikan oleh nelayan Indonesia agar tidak dimonopoli oleh cukongcukong ikan sehingga ikan dijual oleh nelayan dibeli dengan harga yang sangat murah akibatnya
nelayan kurang sejahtera, dan lebih memilih menjual kepada nelayan asing.
Keempat banyaknya nelayan dalam negeri dan asing yang menggunakan bahan peledak
berbahaya, aparat keamanan harus bisa mengurangi dan mengatasi para sindikat tersebut.
Harapannya semoga kita dapat menjadi negara yang kaya dan sejahtera dengan hasil kekayaan
laut yang kita miliki tanpa merasa galau karena dapat menjaga dan memberdayakan untuk
kepentingan masyarakat Indonesia.
*) Analis Kebijakan Bidang Pertahanan, Keamanan dan Pertanahan, Deputi Bidang
Polhukam, Setkab