Anda di halaman 1dari 7

STEP

PERMASALAHAN

1) Aktivitas seperti apa yang dilakukan oleh dokter gigi sehingga terkena Musculoskeletal disorders
(MSDs) ?
2) Bagaimana bekerja secara ergonomi ?
3) Bagaimana sistem kerja four handed dentistry ?
4) Apa manfaat manajemen praktek bagi seorang dokter gigi ?
STEP
ANALISIS MASALAH

1) Penyebab MSDs, yaitu:


Pekerjaan yang dilakukan sendiri oleh dokter gigi tanpa bantuan asisten seperti halnya
mengambil alat sendiri secara terus-menerus dalam waktu yang lama dan tiba-tiba duduk,
berdiri dan membungkuk tanpa ada jeda.
Posisi kerja yang tidak benar.
Usia dokter gigi.
Kondisi fisik dokter gigi.
Ketegangan pada otot leher yang melihat rongga mulut pasien dan pada pergelangan
tangannya tumpuan kurang tepat.
2) Bekerja secara ergonomi yaitu:
Menggunakan dental chair yang sesuai standart
Pasien dan dokter gigi harus sesuai posisinya dan senyaman mungkin
Ada jeda antara perawatan tiap pasien
Meletakkan alat-alat yang mudah dijangkau
Posisi sesuai dengan tinggi kita
Memperkecil kelelahan dan beban yang statis
Pada prinsipnya bekerja secara ergonomi, meliputi :
1. Eliminate mengurangi alat
2. Combine mengangkat alat untuk sekali prosedur
3. Re-arrange persiapan alat, prosedur, jadwal
4. Simplify menyederhanakan alat-alat dan prosedur
3) Sistem four handed dentistry
Penerapan four handed dentistry dimana dokter gigi dibantu oleh asisten dalam melakukan
perawatan sehingga bekerja secara ergonomic dapat tercapai.
Penerapan sistem kerja four handed dentistry di luar negeri dan Indonesia sedikit terdapat
perbedaan. Seperti halnya di Amerika yang merupakan negara maju, sistem kerja pelayanan
dibentuk dalam tim yang terdiri dari dentist, dental hygienist, dental assistant, dan dental
technician. Dentist merupakan dokter gigi yang memberikan pelayanan kedokteran gigi. Dental
hygienist tugasnya mengisi rekam medis serta melakukan tindakan preventive dentistry. Dental
assistent tugasnya sebagai asisten yang membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan,
mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta mengatur cahaya lampu selama prosedur perawatan
berlangsung. Dental technician bekerja di laboratorium.
Sedangkan di Indonesia hanya dikenal 2 profesi kesehatan gigi selain dokter gigi yaitu
perawat gigi dan tekniker gigi. Perawat gigi ini merangkap tugas sebagai dental assistant dan dental
hygienist. Tekniker gigi tugasnya sama seperti dental technician yang bekerja di laboratorium.
Mengacu kepada sistem kerja di luar negeri dengan 4 profesi kesehatan gigi yang bekerja
pada pelayanan gigi maka disebutlah konsep four handed dentistry. Oleh karena itu konsep four
handed dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi dan di sisi
kiri didesain untuk dental assistant bekerja.
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 1

Konsep four handed dentistry sesuai dengan arah jarum jam maka dikenal dengan clock
concept. Clock concept ini dibagi menjadi 4 zona, yaitu:
Static zone
: arah jam 11 sampai 2
Assistens zone : arah jam 2 sampai 4
Transfer zone : arah jam 4 sampai 8
Operators zone : arah jam 8 sampai 11
Posisi pasien sendiri dijadikan pusat, dimana posisi pasien mengarah pada arah jam 6 dan
letak bagian belakang kepala tepat pada jam 12.

Clock Concep (Nusanti, 2000)


Static Zone merupakan zona tanpa pergerakan Dokter Gigi maupun Perawat Gigi serta tidak
terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang
berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang dapat membuat pasien takut. Assistants Zone
merupakan zona tempat pergerakan Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan
Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap.
Transfer Zone adalah zona tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan
tangan Perawat Gigi. Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi.
4) Manfaat manajemen praktek bagi dokter gigi, yaitu:
a. Agar dokter gigi bisa memaksimalkan keprofesionalan dalam perawatan
b. Meringankan beban kerja dokter gigi
c. Mengoptimalkan kualitas pelayanan
d. Mengurangi ketidaknyamanan operator saat bekerja sehingga MSDs diminimalisir.
e. Menghemat waktu dan biaya
f. Untuk membangun kepercayaan pasien. Karena kerja yang efisien dan kenyamanan terhadap
pasien akan memberikan rasa kepercayaan pasien kepada dokter gigi dan membina hubungan
yang positif antara pasien dan dokter gigi.
STEP
PEMBAHASAN DARI LEARNING OBJECTIVE

1) Bekerja secara ergonomis dalam praktek dokter gigi :


Prinsip Ergonomi
1. Re-arrangement
Menyusun kembali letak alat yang akan digunakan untuk melakukan prosedur dari suatu perawatan
sehingga mengurangi pergerakan tidak perlu selama perawatan.
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 2

2. Elimination
Mengeliminasi alat dan bahan yang tidak perlu atau tidak akan digunakan dalam suatu perawatan.
3. Combination
Menggabungkan 2 alat atau gerakan. Misal menggunakan 1 tahap untuk 2 fungsi dan menggunakan
double ended instruments.
4. Simplify
Menyederhanakan alat dan prosedur dengan tata letak alat yang baik sesuai tahapan prosedur suatu
perawatan sehingga pengambilan alat menjadi mudah.
Prinsip Ergonomis dalam Mengorganisir Ruang :
1. Kenyamanan, peralatan yang paling sering digunakan adalah ditempat yang paling nyaman untuk
operator.
2. Posisi, duduk untuk akses ke pasien tanpa penyimpangan postur, seperti membungkuk, rotasi dan
mencondongkan.
3. Frekuensi, operasi yang paling sering / prosedur dilakukan secara bersamaan ditempatkan sedekat
mungkin.
Penerapan Prinsip Ergonomi dalam Kedokteran Gigi :
1. Pemilihan kursi yang digunakan dokter gigi.
a. Bentuk tempat duduk yang membantu tubuh dalam posisi yang benar dekat dengan kursi gigi.
b. Bentuk sandaran yang mendukung punggung agar otot punggung bagian bawah tetap tegak
dan lengkungannya dipertahankan.
c. Sebaiknya ada sandaran lengan dirancang untuk mengurangi tekanan dan kelelahan pada
otot-otot punggung bagian atas, leher dan bahu dengan membentuk sudut tegak lurus
terhadap siku lengan dokter gigi.
2. Penggunaan Dental-loupe yaitu alat bantu lihat yang dapat memperbesar obyek yang dilihat sehingga
memungkinkan dokter gigi dapat duduk lebih nyaman.
3. Pencahayaan, dipilih lampu yang arah sinarnya fokus sehingga tidak menyebabkan bayangan yang
mengganggu kenyamanan pasien dan dokter gigi. Dental unit yang dirancang secara ergonomis,
tombol untuk menyalakan dan memadamkan dental light sudah menyatu pada meja kursi dental dan
juga pada assistant console. Sehingga dengan menerapkan sistem ergonomis tersebut mudah
dijangkau tanpa harus memegang tangkai lampu yang kurang ergonomis.
4. Menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan ukurannya, agar tidak menambah tekanan di bagian
punggung tangan dan ibu jari, yang dapat mengakibatkan CTS (Carpal Tunnel Syndrome).
Bekerja secara ergonomis:
1. Visual Ergonomi
Surgical loupe disesuaikan dengan sudut inklinasi mata sesuai dengan postur leher dan
sebagai pembantu visual. Apabila operator tidak menggunakan magnifikasi maka operator akan
membengkokkan punggung untuk mendapatkan kemudahan untuk melihat, namun dengan hal ini
akan mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak baik. Selain itu, iluminasi seharusnya sejajar dengan
garis penglihatan operator.
2. Cara Duduk dan Desain Kursi
Apabila medula spinalis tidak dipertahankan maka akan mengakibatkan sakit dibawah
punggung, leher, dan bahu. Kursi saddle harus pada posisi tegak saat operatur duduk dan desain
harus dapat mempertahankan medula spinalis. Cara duduk yang benar adalah:
- Sudut pada sendi paha 45
- Paha dalam posisi abduksi
- Telapak kaki rata pada lantai
3. Tumpuan dan Sandaran Jari
Pengaturan penempatan jari manis dari tangan yang memegang alat membantu dalam
mengontrol kerja dan untuk meperbesar aksi instrumen sebagai pengungkit, dimana pergelangan dan
lengan sebagai tuas. Berikut macam-macam sandaran intraoral:
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 3

a. Konvensional: tumpuan diletakkan pada permukaan gigi tetangga dari gigi yang diinstrumentasi.
b. Berseberangan: tumpuan diletakkan pada permukaan gigi seberang pada lengkung rahang yang
sama.
c. Berlawanan: tumpuan diletakkan pada permukaan gigi dilengkung rahang yang berlawanan.
d. Jari diatas jari: tumpuan diletakkan pada jari manis diatas telunjuk atau ibu ajri dengan yang tidak
bekerja.
Pergerakan pergelangan tangan dan lengan, keduanya menyatu menjadi satu sebagai satu
tumpuan sehingga pekerjaan akan lebih efisien. Apabila pergelangan ditekuk, otot pada telapak
meregang sehingga kerja menjadi tidak efektif dan cepat lelah dalam waktu yang lama akan terjadi
inflamasi ligamen dan saraf pergelangan tangan atau yang biasa disebut dengan sindrom karpal tunel.
4. Posisi pasien
Pasien diposisikan hampir sejajar lantai dan punggung kursi sedikit dinaikkan. Sedangkan
kepala dekat puncak sandaran. Posisi punggung kursi tergantung perawatan pada kuadran
gigi yang mana, yaitu:
- Perawatan kuadran 1 dan 2: harus sehorizontal mungkin
- Perawatan kuadran 3: sandaran kursi membentuk sudut 30
- Perawatan kuadran 4: sandaran kursi membentuk sudut 40
Cold Stress
Jika pekerja terkena lingkungan yang begitu dingin sehingga tubuh tidak dapat
mempertahankan suhu inti tubuh, maka akan terjadi hipotermia, yang juga dapat mengancam hidup.
Gejala yang disebabkan oleh cold stress meliputi:
1) Gemetaran
2) Keluarnya kabut dari hidung;
3) Rasa sakit pada bagian extrimitas;
4) Dilatasi pupil;
5) Berkurangnya kekuatan pegangan dan koordinasi; dan / atau
6) Kemungkinan fibrilasi ventrikel dapat terjadi.
Agar ruang kerja dapat memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan upaya-upaya
sebagai berikut dalam manajemen suhu dan kelembaban ruang praktek dokter gigi :
1. Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
2. Bila suhu > 28C perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC), kipas angin,
dan lain-lain.
3. Bila suhu udara luar < 18C perlu menggunkan pemanas ruangan.
4. Bila kelembaban ruang kerja :
a. > 60% perlu menggunakan alat dehumidifier.
b. < 40% perlu menggunakan alat humidifier (misalnya: mesin pembentuk aerosol).
Untuk ruangan kerja yang ber AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas
lantai.
Sebaiknya dalam praktik dokter gigi harus bekerja secara ergonomik yaitu dokter gigi tidak
melakukan pekerjaannya sendirian agar tidak terjadi muskuluskeletal disorders. Pekerjaan dokter gigi di
klinik bisa dibantu oleh perawat gigi sebagai asisten dokter.
Tindakan Untuk Mengurangi Gangguan Muskuloskeletal
Masalah muskuloskeletal dapat dikelola atau dikurangi secara efektif menggunakan pendekatan
multifaset yang termasuk :
1. postural Teknik Kesadaran
Diantara nya :
a. Mempertahankan kurva punggung bawah
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 4

b. Gunakan pembesaran
c. Sesuaikan kursi Operator benar
2. Strategi Penempatan
Diantaranya
a. Hindari posisi statis
b. Bergantian antara berdiri dan duduk
c. Reposisi kaki
d. Posisikan pasien pada kedudukan yang tepat
e. Hindari gerakan memutar
3. Istirahat berkala dan Peregangan
istirahat berkala dan perengangan antar pasien yang ditangani oleh operator sangatlah penting
dilakukan. Hal ini akan membiarkan otot-otot rileks sebentar sehingga baik otot dan sendi tidak
berkontraksi terus-menerus
4. Latihan Penguatan
a. Latihan aerobic
b. Managemen stres. Meliputi : teknik pernapasan, relaksasi progresif,
c. visualisasi, pijat, meditasi atau yoga
5. Edukasi
Untuk melindungi kesehatan mereka sendiri, dokter gigi harus mencari dan menerima pendidikan
tentang kesehatan muskuloskeletal, cedera pencegahan dan dental ergonomi. Idealnya, pendidikan ini
harus dimulai selama sekolah gigi dan sampai menjalani kehidupan dokter gigi profesional.
2) Musculoskeletal Disorder (MSDs)
Penyebab MSDs :
Penggunaan sarung tangan yang terlalu ketat dan berulang kali.
Menggenggam alat dengan tenaga berlebih dan berulang. Misal saat melakukan preparasi saluran
akar konvensional dan scalling.
Posisi duduk operator yang tidak benar sehingga menyebabkan low back pain
Cara menggenggam yang salah
Faktor predisposisi yaitu dari penyakit sistemik yang berhubungan dengan metabolisme tubuh.
Misal penyakit diabetes mellitus, arthritis, dan hipotiroid. Karena metabolisme tubuh yang
terganggu, akan mengakibatkan kurangnya energi bagi tubuh maupun otot untuk beraktivitas
Postur yang berisiko untuk musculoskeletal disorder:
a) Semua posisi dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kelelahan apabila dilakukan
terus menerus dalam waktu yang lama. Contohnya berdiri, dapat menyebabkan sakit
pada kaki, kelelahan otot, serta low back pain. Dalam hal ini ada dua aspek yang
mempengaruhi yang pertama adalah posisi tubuh, dimana bagian tubuh yang dekat
dengan bagian untuk bergerak, melonggarkan, dan menekan terkena langsung pada
tendon dan pembuluh darah. Kedua menahan leher dan pundak pada posisi yang tetap
dapat menyebabkan kontraksi pada bagian pundak dan leher. Kedua aspek ini dapat
menyebabkan menurunnya aliran darah dan rasa tidak nyaman bahkan sakit.
b) Repentitive movement, merupakan suatu gerakan yang sama terus menerus dan
menyebabkan ketidaknyamanan pada sendi dan otot.
c) Vibrasi berefek pada tendon, otot, sendi, serta saraf. Terdapat dua macam vibrasi,
yaitu vibrasi pada seluruh seluruh tubuh yang biasa terjadi pada sopir truk atau bus
dan vibrasi secara lokalisasi. Vibrasi secara lokalisasi ini biasa disebabkan karena
peralatan dengan gejala jari kaku, kesemutan, sakit, posisi tubuh yang aneh karena
sulitnya mengontrol gerakan, dan kehilangan rasa pada tangan dan telapak.
Selain itu terdapat faktor yang menyebabkan MSDs yaitu faktor pekerjaan, faktor individu, dan
faktor lingkungan.
a) Faktor pekerjaan

MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 5

Faktor ini berkaitan dengan posisi, penggunaan tenaga yang dilakukan dalam
waktu lama dan berulang-ulang. Faktor pekerjaan ini meliputi : postur janggal,
postur statis, penggunaan tenaga, dan pergerakan repetitif
b) Faktor Individu
Meliputi : usia, jenis kelamin, kekuatan fisik, masa kerja, dan penyakit sistemik
c) Faktor lingkungan
Vibrasi
Paparan dari getaran lokal terjadi ketika bagian tubuh tertentu kontak dengan
objek yang bergetar seperti alat-alat yang menggunakan tangan. Vibrasi dengan
frekuensi tinggi menyebabkan kontraksi otot bertambah sehingga peredaran darah
tidak lancar dan terjadi penimbunan asam laktat sehingga muncul gejala nyeri.
Mikroklimat
Termasuk di dalamnya adalah suhu, udara, kelembaban, panas radiasi dan
kecepatan gerakan udara.Kaitannya dengan suhu adala bahwa suhu di Indonesia
dirasa nyaman 24-26 derajat celcius dengan toleransi 2-3 derajat di atas atau di
bawahnya. Paparan suhu yang terlalu dingin akan dapat menurunkan kelincahan,
kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan pekerja menjadi lamban, sulit
bergerak dan disertai menurunnya kekuatan otot. Begitu pula dengan suhu yang
terlalu panas. Perbedaan suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar
akan menyebabkan sebagian energi dalam tubuh termanfaatkan oleh tubuh untuk
adaptasi dengaan lingkungan tersebut. Mikroklimat yang tidak dikendalikan dengan
baik akan berpengaruh terhadap tingkat kenyamanan pekerja dan gangguan kepekaan,
sehingga meningkatkan beban kerja sehingga mempercepat munculnya kelelahan.
Macam MSDs :
1. Tension Neck Syndrome, adalah ketegangan pada otot leher yang disebabkan oleh postur leher
flexion ke arah belakang dalam waktu yang lama sehingga timbul gejala kekakuan pada otot leher,
kejang otot, dan rasa sakit yang menyebar ke bagian leher.
2. Trigger finger, adalah rasa sakit dan tidak nyaman pada bagian jari-jari akibat tekanan yang berulang
pada jari-jari (pada saat menggunakan alat kerja yang memiliki pelatuk) yang menekan tendon secara
terus-menerus hingga ke jari- jari.
3. Focal Hand Dystonia. Adalah kram tangan yang biasa dialami oleh penulis ataupun pemusik.
4. Carpal Tunnel Syndrome (CTS), yaitu tekanan pada saraf tengah yang terletak di pergelangan tangan
yang dikelilingi jaringan dan tulang. Penekanan tersebut disebabkan oleh pembengkakan dan iritasi
dari tendon dan penyelubung tendon. Karena aktivitas yang berulang maka menyebabkan penekanan
pada nervus medianus. Gejalanya seperti rasa sakit pada pergelangan tangan, perasaan tidak nyaman
pada jari-jari, dan mati rasa/kebas. CTS dapat menyebabkan seseorang kesulitan menggenggam.
5. Tendinitis, merupakan peradangan (pembengkakan) hebat atau iritasi pada tendon, biasanya terjadi
pada titik dimana otot melekat pada tulang. Keadaan tersebut akan semakin berkembang ketika
tendon terus menerus digunakan untuk merngerjakan hal-hal yang tidak biasa (penggunaan berlebih
atau postur janggal pada tangan, pergelangan, lengan, dan bahu) seperti tekanan yang kuat pada
tangan, membengkokan pergelangan tangan selama bekerja, atau menggerakan pergelangan tangan
secara berulang, jika ketegangan otot tangan ini terus berlangsung, akan menyebabkan tendinitis.
6. Bursitis, adalah kondisi peradangan pada lapisan bursal atau cairan synovial yang terbungkus dalam
bursa. Peradangan dari setiap bursa dapat membatasi aktivitas. Peradangan pada cairan synovial
dapat menyebabkan bursa membesar.
7. Intersection Syndrome, disebabkan oleh rusaknya tendon pergelangan tangan yaitu di daerah ibu jari
dan fleksi pergelangan tangan yang mengalami fleksi dan ektensi yang berulang.
8. Thoracic Outlet Syndrome, merupakan keadaan yang mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan yang
ditandai dengan nyeri, kelemahan, dan mati rasa pada daerah tersebut. Terjadi jika lima saraf utama
dan dua arteri yang meninggalkan leher tertekan. Thoracic Outlet Syndrome disebabkan oleh gerakan
berulang dengan lengan diatas atau maju kedepan.
MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 6

9. Tennis Elbow
Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan
bawah dan berjalan keluar ke pergelangan tangan. Tennis elbow disebabkan oleh gerakan berulang
dan tekanan pada tendon ekstensor.
10. Low Back Pain
Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam
pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada
discus.Hal ini berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi yang tidak ergonomis, dan
peralatan lainnya yang tidak sesuai dengan antopometri pekerja.
11. Tenosynovitis, merupakan inflamasi pada tendon sheath sebagai akibat luka selama pergerakan fisik
yang apabila dibiarkan akan terjadi trigger finger.
12. Sakit leher
Sakit leher merupakan gejala umum yang terjadi di daerah leher. Hal itu terjadi karena adanya
peningkatan ketegangan otot atau myalgia, leher miring atau kaku leher. Dokter gigi bisa mengalami
sakit leher jika tidak menerapkan sistem kerja secara ergonomis yaitu saat menolehkan lehernya
terhadap rongga mulut pasien secara terus-menerus.
DAFTAR PUSTAKA
Andayasari, Lelly dan Anorital. 2012. Gangguan Muskuloskeletal pada Praktik Dokter Gigi dan Upaya
Pencegahannya. Media Litbang Kesehatan Volume 22 Nomor 2.
Anonim. Ergonomics And Dental Works. Occupational Health Clinics For Ontario Workers Inc.
Endro, H. 2004. Perspektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1 Volume 8.
Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. 2001. Practice Management for Dental Team. St Louis : Mosby.
Martin, Max M et al. 2004. An Introduction to Ergonomics: Risk Factors, MSDs, Approaches and
Interventions. American Dental Association.
OSH, Answer. 2014. Work Related Musculoskeletal Disorder-Risk Factor. Canada: Canadian Centre for
Occupational.

MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN Page 7