Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mata pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang bisa dikatakan
sulit,hal tersebut terbukti dari banyak siswa yang menjadikan fisika sebagai mata pelajaran
yang sangat menakutkan. Tetapi tidak sedikit pula siswa yang menggemari mata pelajaran
tersebut.Apakah yang sebenarnya menyebabkan banyak siswa tidak berminat untuk belajar
fisika?
Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang
dipergunakan oleh guru atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang
dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas,
agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik.
Salah satu teknik penyajian pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
penyajian pelajaran eksperimen atau disebut juga dengan metode eksperimen.Dengan adanya
kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi.
Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen, yaitu salah satu
cara mengajar di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati
prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan
kekelas dan dievaluasi oleh guru.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini adalah:
1. Apa penyebab rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika?
2. Apa hal yang mempengaruhi minat belajar siswa?
3. Bagaimana membuat siswa menjadi berminat dan tertarik untuk belajar fisika?
4. Bagaimana proses pendekatan eksperimen?
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan yang
ingin dicapai dalam makalah ini adalah :
1.

Mengetahui penyebab rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.

2.

Mengetahui hal yang mempengaruhi minat belajar siswa.

3.

Membuat siswa menjadi berminat dan tertarik untuk belajar Fisika.

4.

Mengetahui proses pendekatan eksperimen.


1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Rendahnya Minat Belajar Siswa terhadap Mata Pelajaran Fisika
Pelajaran fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada jenjang
pendidikan SMP dan SMA di Indonesia. Fisika merupakan bagian dari sains yang
mempelajari fenomena dan gejala alam secara empiris, logis, sistematis dan rasional yang
melibatkan proses dan sikap ilmiah. Ketika belajar fisika, siswa akan dikenalkan tentang
produk fisika berupa materi, konsep, asas, teori, prinsip dan hukum-hukum fisika. Siswa juga
akan diajarkan untuk bereksperimen di dalam laboratorium atau di luar laboratorium sebagai
proses ilmiah untuk memahami berbagai pokok bahasan dalam fisika.
Siswa berpendapat bahwa pelajaran fisika sulit karena mereka banyak menjumpai
persamaan matematik sehingga ia diidentikkan dengan angka dan rumus. Bagi siswa, konsep
dan prinsip fisika menjadi sulit dipahami dan dicerna oleh kebanyakan mereka.Hal ini
berdampak pada rendahnya minat siswa untuk belajar fisika.Masalah ini merupakan salah
satu masalah klasik yang kerap dijumpai oleh para guru fisika di sekolah.
Ketidaksukaan pada pelajaran fisika, dapat berdampak pula pada sikap siswa terhadap
guru fisikanya.Tidak sedikit guru fisika yang kurang mendapat simpati dari para muridnya
karena ketidakberhasilan siswa dalam belajar fisika.Nilai yang buruk dalam tes formatif dan
sumatif fisika menempatkan guru sebagai penyebab kegagalan di mata siswa dan orang tua.
Sikap siswa akan sangat berbeda pada guru kesenian atau olah raga misalnya, pelajaran yang
menjadi favorit bagi kebanyakan siswa.
Peran guru fisika sebagai motivator dalam belajar mengajar di kelas akan selalu perlu
untuk dilakukan dan dioptimalkan. Materi fisika yang memerlukan analisis pemahaman dan
penalaran, akan membutuhkan motivasi belajar yang relatif kuat dan stabil. Faktor-faktor
penyebab rendahnya motivasi dan berbagai cara yang dapat diterapkan di kelas dalam upaya
peningkatan motivasi belajar siswa perlu selalu dikaji dan dianalisa.
Kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran fisika juga dapat disebabkan karena
siswa terkadang hanya dituntut untuk menghapal rumus dan mengaplikasikan penggunaan
rumus tersebut di dalam soal-soal latihan.Mereka tidak memahami konsep yang mendasari
rumus-rumus tersebut.Mereka hanya berkutat dengan rumus-rumus yang diberikan oleh guru
mereka dan jarang sekali diberikan contoh nyata alam kehidupan sehari-hari dari penerapan
rumus tersebut. Pengakuan dari seorang siswa SMA bahwa ia mendapat kesulitan
2

mempelajari fisika karena minimnya contoh yang dapat ia dapatkan untuk dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran fisika yang hanya berkutat dengan rumus tentu saja dapat membuat para
siswa menjadi bosan dalam mempelajari fisika sehingga minat mereka dalam mendalami
lebih jauh mengenai fisika menjadi rendah.
Pelajaran fisika dimata para siswa berbeda-beda, ada yang berpendapat bahwa pelajaran
fisika itu adalah pelajaran yang seru dan mengasyikan, ada pula yang berpendapat bahwa
pelajaran fisika itu rumit dan membosankan, dimana kita ketahui dalam belajar semua
tergantung dari diri kita, tergantung minat serta kemampuan kita. Bagi yang berpendapat
bahwa fisika itu seru dan mengasyikan tentu tidaklah salah, karena pelajaran yang satu ini
memang mengasyikan apalagi jika dalam belajar kita didukung oleh fasilitas-fasilitas yang
memadai dan menghilangkan kejenuhan. Contohnya saja dengan selingan-selingan media
internet, dengan belajar ditempat yang nyaman , dengan tambahan aplikasi-aplikasi yang
menarik, serta dengan ditunjang dengan berbagai macam faktor yang dapat mengurangi
kejenuhan, apalagi jika guru bidang study tersebut sangat menarik dan mengasyikan,
sehingga mampu menjaga moody belajar siswa untuk tidak terbebani dengan pelajaran yang
sedang dihadapinya.
Salah satu cara untuk menambah minat seseorang belajar antara lain mengikutsertakan
kemajuan teknologi dalam pelajaran. Sehingga siswa tidak terlalu jenuh dan bosan ketika
harus berhadapan dengan rumus-rumus yang demikian memusingkan. Dalam proses belajar
mengajar juga diperlukan keterkaitan dan penyatuan jiwa antara guru dengan muridnya,
sehingga seorang murid tidak merasa terasing ketika harus berkompetensi dengan siswa-siswi
lainnya.
2.2. Beberapa Hal Yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa
Dalam lingkungan pelajar banyak sekali hal yang dapat mempengaruhi minat belajar,
selain dari faktor luar ada juga faktor pribadi yang mampu memengaruhi minat belajar
seorang siswa, antara lain :
a). Masalah Pribadi
Seorang siswa yang memiliki masalah pribadi akan memiliki beban tersendiri, dia juga
tidak bisa berkonsentrasi dengan palajarannya. Masalah yang timbul bukan hanya dari
lingkungan persahabatan, bisa juga dari keluarga, bahkan dari pacar.

Untuk bisa

berkonsentrasi penuh seorang siswa harus fokus terhadap pelajaran sehingga tidak ada
fikiran-fikiran lain yang mengganggu terutama ketika proses belajar mengajar dimulai, karna
3

apabila siswa yang mampu berkonsentrasi setidaknya ia mampu menyerap apa yang
disampaikan oleh guru pengajar, berbeda dengan siswa yang sedang tidak konsentrasi, dia
juga tidak bisa menyerap semua pelajaran yang disampaikan. Apalagi untuk mencernanya.
b). Pergaulan
Pergaulan bisa juga mempengaruhi minat belajar seseorang, apalagi ketika yang dimiliki
adalah sahabat yang senangnya bermain dan tidak memperdulikan kewajiban dan tanggung
jawabnya sebagai seorang pelajar, teman yang seperti itu akan mempengaruhi minat siswa,
sebab apabila siswa memiliki sahabat yang seperti itu, maka ia merasa memiliki pendukung
untuk tetap menjadi dirinya yang malas dan tidak baertanggung jawab terhadap kewajibannya
disekolah sebagai seorang siswa. Tapi jika siswa berteman dengan siswa lain yang rajin, giat
dan maka setidaknya ia akan terbawa rajin juga.
c). Dorongan Orang Tua
Peran orang tua untuk mendorong anaknya agar mau belajar dirumah sangat penting, karna
akan menimbulkan semangat tersendiri bagi siswa tersebut, sehingga siswa merasa lebih
mencintai kewajibannya sebagai seorang siswa, dan seorang siswa yang mendapat perhatian
penuh dari orang tuanya selalu merasa dirinya bersemangat dan bisa menghadapi pelajaran
disekolah, berbeda dengan orang tua yang tidak perduli, maka tidak akan ada yang
mengingatkan ketika siswa sedang lalai dengan tugas-tugsanya. Harusnya orang tua memberi
perhatian ekstra kepada anaknya, jangan sampai membiarkan anaknya lalai dengan tugas, dan
jangan sampai siswa terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, karna itu akan
mengakibatkan siswa kehilangan waktunya untuk belajar

2.3. Membuat Siswa menjadi Berminat dan Tertarik untuk Belajar Fisika
Dalam upaya meningkatkan minat belajar guru harus memiliki ide-ide kreatif yang
dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran fisika ialah :
1.

Guru dapat memanfaatkan teknologi yang sudah maju saat ini sebagai alat bantu dalam
kegiatan pembelajaran fisika. Sekarang ini sudah tersedia banyak program pembelajaran
yang dapat mendukung kelancaran proses pembelajaran fisika. Materi-materi abstrak
dalam fisika yang tidak dapat diamati secara langsung, dapat disimulasikan dengan
program-program tersebut, misalnya materi mengenai atom yang tidak dapat kita amati
secara langsung. Cara ini akan lebih memudahkan siswa dalam memahami konsep
dibandingkan dengan hanya penjelasan dari guru. Walaupun guru sudah dapat terbantu
4

kerjanya dengan teknologi, tetapi hendaknya guru tetap menerangkan mengenai materi
pelajaran kepada siswa dengan sebaik mungkin karena ada beberapa siswa yang tidak
dapat belajar hanya dari melihat simulasinya saja tetapi juga membutuhkan penjelasan
2.

dari guru.
Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pelajaran fisika tidak bisa
terlepas dari eksperimen atau percobaan. Walaupun guru dapat memanfaatkan teknologi
yang sudah maju, tetapi tetap saja, bagi beberapa siswa, mengadakan percobaan yang
dapat dilihat dan diamati secara langsung akan lebih mudah untuk dapat dimengerti
dibandingkan hanya melihat videonya. Tetapi, untuk materi pelajaran yang benar-benar
tidak bisa dilakukan percobaannya secara langsung, maka video simulasi akan sangat
bermanfaat dalam proses pemahaman pembelajaran fisika, misalnya mengenai atom.
Bagi sekolah-sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang masih terbatas, maka
dibutuhkan ide kreatif dari guru agar tetap bisa mengadaan percobaan sederhana dengan

3.

alat dan bahan yang tersedia di sekitar kita.


Dalam mewujudkan pembelajaran fisika yang menarik dan tidak membosankan, maka
dibutuhkan guru yang kreatif yang dapat mengantarkan siswa pada pemikiran bahwa
fisika bukanlah mata pelajaran yang menakutkan., karena guru merupakan ujung tombak
yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Tidak sedikit siswa yang tidak menyukai
suatu mata pelajaran disebakan karena guru yang mengajarnya membosankan.Oleh
karena itu, kekreatifan guru memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
Dengan menerapkan beberapa yang telah disebutkan di atas, diharapkan memberi

pengaruh terhadap siswa dalam membangkitkan motivasi belajarnya terhadap mata pelajaran
fisika.

2.4. Pendekatan Eksperimen


Dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maka segala sesuatu
memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik
eksperimen, yaitu salah satu cara mengajar di mana siswa melakukan suatu percobaan
tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil
pengamatan itu disampaikan kekelas dan dievaluasi oleh guru.

Metode eksperimen adalah cara penyajian bahan pelajaran di mana siswa melakukan
eksperimen (percobaan) dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen, siswa diberi pengalaman untuk
mengalami sendiri tentang suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan
tentang suatu objek keadaan. Dengan demikian siswa dituntut untuk mengalami sendiri,
mencari suatu kebenaran, mencari suatu data baru yang diperlukannya, mengolah sendiri,
membuktikan suatu dalil atau hukum dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya
itu.
Eksperimen atau percobaan yang dilakukan tidak selalu harus dilaksanakan di dalam
laboratoriom tetapi dapat dilakukan pada alam sekitar.Contoh : untuk mengetahui bahwa
tumbuhan dapat menerima rangsangan, siswa anda dapat dibawa ke halaman sekolah yang
ada tumbuhan sekejut (Mimosa Spec). Daun patah tulang atau kamboja bila dipatahkan akan
mengeluarkan getah. Begitu pula dengan batang karet yang disadap.
Apabila seseorang mencoba sesuatu yang belum diketahui hasilnya maka ia melakukan suatu
eksperimen. Kualitas hasil suatu produksi dapat diselidiki dengan melakukan suatu
eksperimen. Guru dapat menugaskan murid-murid untuk melakukan eksperimen sederhana,
baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Untuk memudahkan pemahaman konsep-konsep
teoristis yang disajikan, guru hendaknya menugaskan murid-murid untuk melakukan
eksperimen.Sebuah eksperimen dapat dilakukan murid-murid untuk menguji hipotesis suatu
masalah dan kemudian menarik kesimpulan. Dengan menggunakan metode eksperimen
murid diharapkan : (1) ikut aktif mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan belajar untuk
dirinya. (2) Murid belajar menguji hipotesis dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, ia
berlatih berpikir ilmiah dan (3) mengenal berbagai alat untuk melakukan eksperimen dan
memiliki keterampilan menggunakan alat-alat tersebut.

Kelebihan metode Eksperimen

1. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
2. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi)
tentang ilmu dan teknologi.
3. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru

dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
kesejahteraan hidup manusia.
4. Anak didik memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam melakukan eksperimen
5. Siswa terlibat aktif mengumpulkan fakta dan informasi yang diperlukan untuk percobaan.
6. Dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan berfikir ilmiah.
7. Dapat memperkaya pengalaman dan berpikir siswa dengan hal-hal yang bersifat objektif,
realitas dan menghilangkan verbalisme.
8. Melalui eksperimen siswa dapat menghayati sepenuh hati dan mendalam, mengenai
pelajaran yang diberikan.
9. Siswa dapat aktif mengambil bagian untuk berbuat bagi dirinya, dan tidak hanya melihat
orang lain, tanpa dirinya melakukan.
10. Siswa dapat aktif mengambil bagian yang besar, untuk melaksanakan langkah-langkah
dalam cara berpikir ilmiah. Jalan ini dilakukan melalui pengumpulan data-data observasi,
memberikan penafsiran serta kesimpulan.
Kekurangan metode Eksperimen
1. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan
mengadakan ekperimen.
2. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk
melanjutkan pelajaran.
3. Kesalahan dan kegagalan siswa yang tidak terdeteksi oleh guru dalam bereksperimen
berakibat siswa keliru dalam mengambil kesimpulan.
4. Sering mengalami kesulitan dalam melaksanakan eksperimen karena guru dan siswa
kurang berpengalaman melakukan eksperimen.
5. Kesalahan dan kegagalan siswa yang tidak terdeteksi oleh guru dalam bereksperimen
berakibat siswa keliru dalam mengambil keputusan.
6. Memerlukan keterampilan/kemahiran dari pihak guru dalam menggunakan serta membuat
alat-alat eksperimen
7. Bagi guru yang telah terbiasa dengan metode ceramah secara rutin misalnya.Cenderung
memadang metode eksperimen sebagai suatu pemborosan dan memberatkan.

Hal yang perlu diperhatikan


Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan
atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.
2. Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau
mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang
digunakan harus baik dan bersih.
3. Dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan,
maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian
kebenaran dari teori yang dipelajari itu.
4. Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk
yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta
ketrampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih
obyek eksperimen itu.
5. Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa
segi kehidupan social dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya
suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan karena alatnya belum ada.

Prosedur eksperimen
Menurut Roestiyah (2001:81) prosedur eksperimennya adalah :
1. Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen, mereka harus memahami masalah
yang akan dibuktikan melalui eksprimen.
2. Memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan
dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan
eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat.
3. Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu
memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
4. Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa,
mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.

Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta
emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar
memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat
tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan
dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan
rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep
fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Siswa belajar secara aktif dengan
mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri
konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Tahap Eksperimen
Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut Palendeng (2003:82) meliputi tahap-tahap
sebagai berikut :
1. Percobaan awal, Pembelajaran diawali dengan melakukan percobaan yang
didemonstrasikan guru atau dengan mengamati fenomena alam. Demonstrasi ini
menampilkan masalah-masalah yang berkaitan dengan materi fisika yang akan dipelajari.
2. Pengamatan, merupakan kegiatan siswa saat guru melakukan percobaan. Siswa diharapkan
untuk mengamati dan mencatat peristiwa tersebut.
3. Hipoteis awal, siswa dapat merumuskan hipotesis sementara berdasarkan hasil
pengamatannya.
4. Verifikasi, kegiatan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan awal yang telah
dirumuskan dan dilakukan melalui kerja kelompok. Siswa diharapkan merumuskan hasil
percobaan dan membuat kesimpulan, selanjutnya dapat dilaporkan hasilnya.Aplikasi konsep,
setelah siswa merumuskan dan menemukan konsep, hasilnya diaplikasikan dalam
kehidupannya.Kegiatan ini merupakan pemantapan konsep yang telah dipelajari.
5. Evaluasi, merupakan kegiatan akhir setelah selesai satu konsep.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami
konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan,
tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain, siswa memiliki kemampuan
untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait
dengan pokok bahasan.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Faktor yang menyebabkan rendahnya minat siswa terhadap mata pelajaran fisika
ialah faktor intearnal. Dimana siswa merasa kesulitan dalam memahami materi-materi yang
tardapat dalam lingkup mata pelajaran fisika.Kurangnya ketertarikan siswa dalam belajar
fisika juga menjadi penyebab siswa menjadi tidak meminati mata pelajaran fisika.
Metode eksperimen adalah salah satu metode yang sangat sesuai jika dikaitkan
dengan tujuan pengajaran IPA karena : dengan melakukan eksperimen, siswa terlibat
langsung menggunakan metode ilmiah dalam menghadapi segala hal, mereka lebih aktif
berpikir dan berbuat, dimana hal ini sangat dikehendaki dalam pengajaran modern, siswa
dalam melakukan proses eksperimen, di samping memperoleh pengalaman, juga menemukan
pengalaman praktis serta keterampilan sehingga lebih mudah dalam memahami konsepkonsep IPA, dan dengan eksperimen siswa menemukan sendiri perolehannya (konsep dan
teori) sehingga akan berubah sikap mereka terhadap hal-hal yang tidak masuk akal.

3.2. Saran
Supaya para siswa menjadi penggemar mata pelajaran fisika, diharapkan beberapa
pembaharuan dalam dalam melakukan pembelajaran.Terutama dalam mata pelajaran fisika.

10

Guru diharapkan dapat memberikan motivasi-motivasi kepada siswa agar siswa tergerak
untuk menjadi pencinta mata pelajaran fisika.

11

DAFTAR PUSTAKA

http://erviiagotteberry.blogspot.com/2010/10/penyebab-kurangnya-minatbelajar-siswa.html

12