Anda di halaman 1dari 4

LO

1a. Penerapan Prinsip Ergonomi dalam Kedokteran Gigi :

2
3

Pemilihan kursi yang digunakan dokter gigi.


a Bentuk tempat duduk yang membantu tubuh dalam posisi yang benar dekat
dengan kursi gigi.
b Bentuk sandaran yang mendukung punggung agar otot punggung bagian
bawah tetap tegak dan lengkungannya dipertahankan.
c Sebaiknya ada sandaran lengan dirancang untuk mengurangi tekanan dan
kelelahan pada otot-otot punggung bagian atas, leher dan bahu dengan
membentuk sudut tegak lurus terhadap siku lengan dokter gigi.
Penggunaan Dental-loupe yaitu alat bantu lihat yang dapat memperbesar obyek yang
dilihat sehingga memungkinkan dokter gigi dapat duduk lebih nyaman.
Pencahayaan, dipilih lampu yang arah sinarnya fokus sehingga tidak menyebabkan
bayangan yang mengganggu kenyamanan pasien dan dokter gigi. Dental unit yang
dirancang secara ergonomis, tombol untuk menyalakan dan memadamkan dental light
sudah menyatu pada meja kursi dental dan juga pada assistant console. Sehingga
dengan menerapkan sistem ergonomis tersebut mudah dijangkau tanpa harus
memegang tangkai lampu yang kurang ergonomis.
Menggunakan sarung tangan yang sesuai dengan ukurannya, agar tidak menambah
tekanan di bagian punggung tangan dan ibu jari, yang dapat mengakibatkan CTS
(Carpal Tunnel Syndrome).

b. Ruang dan Bangunan.

a. Bangunan kuat, terpelihara, bersih, dan tidak memungkinkan terjadinya gangguan


kesehatan dan kecelakaan.
b. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, dan bersih.
c. Setiap orang mendapatkan ruang udara minimal 10 m3 / karyawan.
d. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu terkena percikan
air terbuat dari bahan yang kedap air.
e. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,50 m dari lantai.
f. Atap kuat dan tidak bocor.
g. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya minimal 1/6
kali luas lantai.
LO 2
Posisi kerja sesuai arah jarum jam
Di bawah ini ada beberapa gambaran mengenai posisi kerja berdasarkan arah
jarum jam, walaupun sebenarnya posisi kerja bisa juga berubah tergantung dari
lingkungan klinik, perawatan yang dilakukan (misal: pencabutan, penambalan,
scalling dll) serta kenyamanan dari masing-masing individu.
3.3.1 Posisi kerja pada perawatan Rahang Atas kanan
Posisi operator yang nyaman pada jam 10, asisten pada jam 3, sedangkan
meja instrument pada jam 2. Kepala pasien menoleh ke kiri, jari telunjuk tangan
kanan fixasi pada permukaan bukal Molar 1 Rahang Atas, kaca mulut posisi di
dekat I1 atau I2 Rahang Bawah. Bisa juga melakukan penambalan dengan posisi
operator di jam 11/12 dengan cara merangkul pasien/dibelakang pasien. Posisi
asisten dan meja instrumen menyesuaikan.

3.3.2 Posisi kerja pada perawatan Rahang Atas kiri


Operator pada posisi jam 9 atau 10. Kepala pasien menoleh ke arah
operator, kaca mulut agak jauh dari bagian oklusal gigi RA kiri, dekat dengan
bibir bawah. Daerah proksimal dan gingiva akan mudah terlihat. Fiksasisi jari
pada gigi Molar 1, juga berfungsi untuk membuka mukosa pipi dan bibir.

3.3.3 Posisi kerja pada perawatan Rahang Bawah kiri


Posisi operator di jam 9, kepala pasien menghadap ke arah operator.
Kaca mulut dekat dengan molar RB. Tangan operator menyilang, tangan kiri
yang memegang kaca mulut terletak dibawah tangan kanan yang memegang
instrument lain. Asisten operator berada di posisi jam 2. Sinar lampu
direfleksikan lewat kaca mulut.

3.3.4 Posisi kerja pada perawatan Rahang Bawah kanan


Posisi operator yang nyaman adalah di jam 9. Sebaiknya posisi pasien
membentuk sudut 45O, kepala pasien menghadap kearah operator, rahang pasien
sejajar siku operator. Fiksasi dilakukan pada permukaan bukal gigi molar
dengan bantuan kaca mulut dan gigi lain yang dekat dengan handpiece.

3.3.1 Posisi kerja pada perawatan gigi Anterior RA dan RB

Biasanya posisi operator di jam 8. Bekerja dengan bantuan operator


terutama pada bagian lingual dan palatum. Tetapi untuk perawatan pada sebelah
labial, pandangan langsung dengan mata, kaca mulut digunakan untuk
membuka mukosa labial.

LO 4a
Musculoskeletal Disorder (MSDs)
Penyebab MSDs :
Penggunaan sarung tangan yang terlalu ketat dan berulang kali.
Cara menggenggam yang salah
Faktor predisposisi yaitu dari penyakit sistemik yang berhubungan dengan
metabolisme tubuh. Misal penyakit diabetes mellitus, arthritis, dan hipotiroid.
Karena metabolisme tubuh yang terganggu, akan mengakibatkan kurangnya
energi bagi tubuh maupun otot untuk beraktivitas
Mikroklimat, termasuk di dalamnya adalah suhu, udara, kelembaban, panas
radiasi dan kecepatan gerakan udara.Kaitannya dengan suhu adala bahwa suhu
di Indonesia dirasa nyaman 24-26 derajat celcius dengan toleransi 2-3 derajat di
atas atau di bawahnya. Paparan suhu yang terlalu dingin akan dapat
menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga gerakan
pekerja menjadi lamban, sulit bergerak dan disertai menurunnya kekuatan otot.
Begitu pula dengan suhu yang terlalu panas. Perbedaan suhu lingkungan
dengan suhu tubuh yang terlampau besar akan menyebabkan sebagian energi
dalam tubuh termanfaatkan oleh tubuh untuk adaptasi dengaan lingkungan
tersebut. Mikroklimat yang tidak dikendalikan dengan baik akan berpengaruh
terhadap tingkat kenyamanan pekerja dan gangguan kepekaan, sehingga
meningkatkan beban kerja sehingga mempercepat munculnya kelelahan.

Daftar pustaka:
Andayasari, Lelly dan Anorital. 2012. Gangguan Muskuloskeletal pada Praktik Dokter Gigi
dan Upaya Pencegahannya. Media Litbang Kesehatan Volume 22 Nomor 2.
Anonim. Ergonomics And Dental Works. Occupational Health Clinics For Ontario Workers
Inc.
Endro, H. 2004. Perspektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1
Volume 8.
Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. 2001. Practice Management for Dental Team. St Louis :
Mosby.
Martin, Max M et al. 2004. An Introduction to Ergonomics: Risk Factors, MSDs, Approaches
and Interventions. American Dental Association.
OSH, Answer. 2014. Work Related Musculoskeletal Disorder-Risk Factor. Canada: Canadian
Centre for Occupational.
Chaikumarn, M., 2004, Working Conditions and Dentists Attitude Towards Proprioceptive
Derivation, Int. J Occup. Safety and Ergonomics (JOSE), 10 (2): 137.
Gandavadi, A., 2007, Assessment of Dental Student Posture in Two Seating Conditions using
RULA methodology-A Pilot Study, British Dent. J., 203 (10): 601.
Finkbeinr BL. Four-handed Dentistry Revisited. J Contemp Dent Pract 2000; 1(4):3-5.
Manji I. Designing Better Dentistry: The Ergonomic Approach. J Can Dent Assoc 1992;
58(3):172-3.
Anononim. Ergonomi. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI Design by Feel
Papers. www.designbyfeel.com. Diakses 4 Juli 2006.
Dougherty, M. Information for Consideration in an Ergonomic Standard for Dentistry.
Endro, H. Presfektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1 Volume 8.
Januari
2004.
Hal 4-5.
Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. Practice Management for Dental Team. St Louis :
Mosby. 2001.
Heizer, J. dan B. Render. Operation Management. Sixth Edition. Upper Saddle River :
Prentice Hall.
Jones. Klinik Gigi Toothfairy, Periksa Gigi di Ruang Biru. 115 Sudut Ruang Usaha.
Jakarta : PT Samindra Utama. Hal 72-75.
Kilpatrick. H. Work Simplification in Dental Practice. Philadhelphia : WB Saunders
Company. 1974