Anda di halaman 1dari 14

Makalah teknologi pengolahan limbah

LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH)

Oleh:

Bobby Fahreza

1305105010025

Masrura Hayati

1305105010037

Nurul Fitri

1305105010050

Sakirin Manik

1305105010029

Taswin

1305105010040

M. Ikram

14051050100

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH

2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kebutuhan daging di masyarakat semakin hari semakin meningkat terutama di daerah

kota-kota besar. Permintaan daging yang semakin tinggi dan higenis menjadi peluang usaha
untuk membangun rumah potong hewan. Untuk membangun rumah potong hewan maka
pelaku usaha harus memenuhi persyaratan tata cara dan tata letak untuk mendapatkan daging
yang berkualitas tinnggi.
Rumah potong hewan atau sering disingkat dengan RPH adalah suatu bangunan
dengan desain dan kontruksi khusus agar memenuhi persyaratan untuk tempat pemotongan
hewan (Permeneg lingkungan hidup, 2006). Rumah potong hewan ini harus memiliki tata
letak dari awal penyembelihan hingga dikemas secara terstruktur ddan higienis agar
memenuhi kriteria aman, sehat, utuh, halal dan berdaya saing tinggi. RPH tidak hanya
menghasilkan daging saja namun juga menghasilkan limbah. Limbah RPH ini tergolong
kedalam limbah organik yang berupa darah, lemak, tinja, urin, rumen dan usus, bila limbah
ini tidak dikendalikan secara maksimal dan baik maka akan mengakibatkan pencemaran
lingkungan.
Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah dapat berupa pencemaran
sungai, air tanah karena limbah yang paling cepat terkotaminasi dengan 2 tempat ini adalah
limbah cair. Limbah cair dari RPH adalah darah, urine dan tinja. Limbah cair ini tinggi akan
protein, lemak, dan karbohidrat yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba. Pengolahan
limbah pada RPH adalah dengan cara meminimalisasi limbah, lalu dilakukan pengolahan
limbah sebelum limbah dibuang. Laimbah cair ini dapat diatasi dengan cara pengolahan
secara fisik yaitu menggunakan bak-bak sedimentasi dan proses biologis.

1.2.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari limbah rumah potong hewan adalah sebagai berikut :
1.

Bagaimana tata letak yang baik untuk rumah potong hewan ?

2.

Dimana tempat yang cocok untuk membangun rumah potong hewan ?

3.

Apa saja limbah yang dihasilkan dari rumah potong hewan ?

4.

Untuk mengolah limbah rumah potong hewan langkah apa yang diperlukan?

5.

Berapa kadar BOD dan COD dari limbah cair rumah potong hewan?

1.3.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui cara mengolah limbah

rumah potong hewan yang baik agar dapat dibuang tanpa mencemari lingkungan. Tata letak
dan lokasi yang baik untuk rumah potong hewan sehingga tidak mengganggu hidup warga
sekitar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Limbah cair adalah air buangan dari kawasan pemukiman, pertanian, bisnis ataupun
industri yang berupa campuran air dan padatan terlarut atau tersuspensi. Air limbah biasanya
merupakan sisa dari suatu usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. Limbah utama dari
RPH berasal dari penyembelihan, pemindahan, pembersihan bulu, pengaturan, pemerosesan
dan pembersihan (Sanjaya dkk, 1996).
Menurut SK menteri lingkungan hidup nomor 23 tahun 2006, rumah pemotongan
hewan yang selanjutnya disebut RPH yaitu merupakan suatu bangunan atau kompleks
bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan
higienis tertentu serta digunakan sebagai tempat pemotongan hewan, usaha dan/atau kegiatan
RPH meliputi: pemotongan, pembersihan lantai tempat pemotongan, pembersihan kandang
penampung, pembersihan kandang isolasi, dan/atau pembersihan isi perut dan air sisa
perendaman ( Asdar, 2014).
Teknik pengolahan air limbah yang ada secara umum dapat dibagi menjadi tiga metode
pengolahan,yaitu pengolahan secara fisika, kimia, dan biologi. Limbah RPH yang berupa
feses urin, isi rumen atau isi lambung, darah, daging atau lemak, dan air cuciannya dapat
bertindak sebagai media pertumbuhan dan perkembangan mikroba sehingga limbah tersebut
mudah mengalami proses dekomposi atau pembusukan. Proses pembusukannya di dalam air
menimbulkan bau yang tidak sedap yang dapat mengakibatkangangguan pada saluran
pernapasan manusia yang ditandai dengan reaksi fisiologik tubuh berupa rasa mual dan
kehilangan selera makan. Selain menimbulkan gas berbau busuk, penggunaan oksigen
terlarut yang berlebihan oleh mikroba dapat mengakibatkan kekurangan oksigen bagi biota
air ( Jenny dan Rahayu, 1993).
RPH dengan standar internasional biasanya dilengkapi dengan peralatan moderen dan
canggih, rapi bersih dan sistematis menunjang perkembangan ruangan dan modular sistem.
Produk sehat dan halal dapat dijamin dengan RPH yang memiliki sarana untuk pemeriksaan
kesehatan hewan potong, memiliki sarana menjaga kebersihan, dan mematuhi kode etik dan
tata cara pemotongan hewan secara tepat. Selain itu juga harus bersahabat dengan alam, yaitu

lokasi sebaiknya di luar kota dan jauh dari pemukiman dan memiliki saluran pembuangan
dan pengolahan limbah yang sesuai dengan AMDAL (Laksmi, 1993).
Paramater air limbah yang ditetapkan di Permenlh Nomor 02 Tahun 2006 meliputi
BOD (Biological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh tumbuhan
dan hewan air untuk dapat bertahan hidup di dalam air. Semakin banyak polutan organik di
dalam air maka akan semakin banyak oksigen yang dibutuhkan oleh organisme hidup akuatik
Kadar BOD maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 100
mg/l. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Angka COD merupakan ukuran
pencemaran oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses
mikrobiologi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air. Kadar COD
maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 200 mg/l (Laksmi,
1993).
TSS (Total Suspended Solid) adalah padatan yang tidak larut dan tidak dapat
mengendap langsung yang menyebabkan kekeruhan air (turbiditi). Padatan tersuspensi
biasanya terdiri dari partikel-partikel halus ataupun floks (lempung dan lanau) yang ukuran
maupun berat partikelnya lebih rendah dari sedimen pasir.Bahan-bahan kimia toksik dapat
melekat pada padatan tersuspensi ini. Kadar TSS maksimum yang diperbolehkan bagi
kegiatan rumah potong hewan adalah 100 mg/l. Minyak dan lemak yang mencemari air
sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan yang mengapung di atas permukaan air.
Pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat mereduksi penetrasi sinar
matahari, menghambat pengambilan oksigen dari atmosfir, dan mengganggu kehidupan
tanaman dan satwa air. Komponen-komponen hidrokarbon jenuh yang menyusun minyak
yang mempunyai titik didih rendah diketahui dapat menyebabkan anestesi dan narkosis pada
berbagai hewan tingkat rendah dan jika terdapat pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan
kematian. Kadar minyak dan lemak maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah
potong hewan adalah 15 mg/l (Padmono, 2005).

BAB III
PEMBAHAASAN
3.1. Tata Letak untuk Rumah Potong Hewan
Rumah Potong Hewan yang selanjutnya disebut dengan RPH adalah suatu bangunan
atau kompleks bangunan dengan desain dan syarat tertentu yang digunakansebagai tempat
memotong hewan bagi konsumsi masyarakat umum (Permentan No.13/2010 tentang RPH).
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa RPH merupakan unit pelayanan masyarakat dalam penyediaan
daging yang aman, sehat, utuh, dan halal, serta berfungsi sebagai sarana untuk melaksanakan:
a. pemotongan hewan secara benar, (sesuai dengan persyaratan kesehatanmasyarakat
veteriner, kesejahteraan hewan dan syariah agama);
b. pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong (ante-mortem inspection) dan
pemeriksaan karkas, dan jeroan ( post-mortem inspektion) untuk mencegah penularan
penyakit zoonotik ke manusia;
c. pemantauan dan surveilans penyakit hewan dan zoonosis yang ditemukan pada
pemeriksaan

ante-mortem

dan pemeriksaan

post-mortem

guna pencegahan,

pengendalian, dan pemberantasan penyakit hewan menular dan zoonosis didaerah asal
hewan.
Pada

SNI

tentang

rumah

potong

hewan

No.

01-6159-1999

dan

Peraturan

MenteriPertanian No. 13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang Persyaratan Rumah Potong


Hewan Ruminansia dan Unit Penanganan Daging diatur beberapa persayaratan yang
harusdipenuhi oleh sebuah rumah potong hewan, persyaratan tersebut mengatur mengenai:
1. Persyaratan lokasi:
a. Tidak bertentangan dengan rencana umum tata ruang dan rencana detail tataruang
wilayah
b. Tidak berada ditengah kota, letak lebih rendah dari pemukiman penduduk
c. Tidak berada dekat industri logam atau kimia serta daerah rawan banjir
d. Lahan luas
2. Persyaratan sarana :
Jalan yang baik, cukup sumber air dan Tenaga listrik yangcukup.
3. Persyaratan bangunan dan tata letak bangunan yang harus ada antara lain:
Kandang istirahat, Kandang isolasi, Kantor administrasi dan kantor dokter hewan,
Tempat istirahat karyawan, kantin dan mushala, Tempat penyimpanan barang
pribadi/ruang ganti pakaian, Kamar mandi, Sarana pengolahan limbah, Incinerator,
Tempat parkir, rumah jaga dan menara air.

4. Persyaratan peralatana:
a. Semua alat terbuat dari bahan yang mudah korosif dan mudah dibersihkan
b. Alat yang langsung bersentuhan dengan daging tidak bersifta toksik
c. Dilengkapi dengan system rel dan alat penggantung karkas
d. Dilengkapi sarana desinfektane.
e. Dilengkapi peralatan khusus karyawan
5. Persyaratan karyawan dan perusahaana.
a. Setiap karyawan harus sehat dan diperiksa kesehatannya min 1 x setahun
b. Karyawan mendapat pelatihan tentang hygiene dan mutu
c. Karyawan daerah kotor dan bersih dipisah
6. Pengawasan kesmaveta
a. Diberlakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem
b. Memiliki tenaga dokter hewan
7. Kendaraan pengangkut daging : dengan menggunakan box tertutup yang
dilengkapialat pendingin dan alat penggantung karkas.
8. Persyaratan ruang pendinginan/pelayuan ; bersih, cukup cahaya, sanitasi lancar
9. Persyaratan pembekuan; bersih, cukup cahaya, sanitasi lancar
10. Persyaratan ruang pembagian karkas dan pengemasan daging
11. Persyaratan laboratorium.
Selain beberapa persyaratan tersebut di atas, bangunan induk RPH harusmengacu pada
Standar internasional dan meliputi :
1. Bangunan Utama terdiri atas: Rumah Pemotongan (slaughter house), Kandang
Penampungan Sementara (lairage), Karantina (quarantine), Tempat Penurunan Sapi
(cattle ramp), Ruang Pembakaran (incenerator), Rumah Diesel (power house),
Pengolaha Limbah Cair (waste water treatment), Perkantoran (office), Laboratorium
(laboratory) dan gang-gang disekitar RPH ( gangway).
2. Bangunan pendukung terdiri atas: Gudang (workshop), garasi (garage), pos jaga
(guard house), perumahan (housing), kantin (canteen), ruang istirahat (rest room) dan
tempat ibadah (prayer place).
3. Infrastruktur terdiri atas: Jalan-jalan dan areal parkir (roads and parking), tower
tempat air (water plant) dan pagar/tembok pembatas (yard fencing).
3.2. Tempat yang Cocok Membangun Rumah Potong Hewan
Adapun lokasi pembangunan rumah potong hewan yang baik juga diatur dalam
Peraturan MenteriPertanian No. 13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang Persyaratan Rumah
Potong Hewan Ruminansia dan Unit Penanganan Daging dimana:
a. Lokasi RPH harus sesuai dengan dengan Rencana

Umum Tata

Ruang

Daerah (RUTRD) dan Rencana Detil Tata Ruang Daerah (RDTRD) atau
daerah yang diperuntukkan sebagai area agribisnis.

b. Lokasi RPH harus memenuhi persyaratan paling kurang sebagai berikut:


1. Tidak berada di daerah rawan banjir, tercemar asap, bau, debu dan kontaminan
lainnya;
2. Tidak menimbulkan gangguan dan pencemaran lingkungan;
3. Letaknya lebih rendah dari pemukiman;
4. Mempunyai akses air bersih yang cukup untuk pelaksanaan pemotongan
hewan dan kegiatan pembersihan serta desinfeksi;
5. Tidak berada dekat industri logam dan kimia;
6. Mempunyai lahan yang cukup untuk pengembangan RPH;
7. Terpisah secara fisik dari lokasi kompleks RPH Babi atau dibatasi dengan pagar
tembok dengan tinggi minimal 3 (tiga) meter untuk mencegah lalu lintas orang,
alat dan produk antar rumah potong.
3.3. Limbah Hasil Rumah Potong Hewan (RPH)
Dalam Rumah Potog Hewan (RPH) selain menghasilkan daging juga menghasilkan
produk samping lain seperti limbah. Limbah yang dihasilkan dari RPH antara lain darah,
lemak tinja, isi rumen dan usus yang apabila tidak ditangani secara benar akan mencemari
lingkungan.
Limbah utama dari RPH berasal dari penyembelihan, pemindahan, pembersihan bulu,
penjadian (rendening), pengaturan, pemerosesan dan pembersihan. Limbah RPH mempunyai
sfat umum yaitu darah, lemak, protein, kelarutan dan campuran zat organik tinggi (Manendar,
2010). Karakteristik limbah RPH yang mengandung kadar protein tinggi akan menyebabkan
penyuburan air, sehingga memungkinkan tumbuhnya tumbuhan air yang tidak dikehendaki
atau disebut dengan gulma air. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali akan merusak
badan air dan menyebabkan terjadinya pendangkalan. Limbah organik itu bila dibiarkan
tanpa dikelola, tidak hanya akan menunjukkan keburukan sanitasi lingkungan, melainkan
juga akan menarik binatang penyebab dan penyebar penyakit seperti insecta, rodentia dan
lain sebagainya.
3.3.1. Limbah Cair Secara Keseluruhan
Limbah cair yang dihasilkan dari rumah potong hewan sebagian besar dihasilkan dari
air pembersih ruang potong, air pembersih entestinal dan air pembersih kandang ternak.
Jumlah limbah cair yang spesifik dan beban pencemaran dikaitkan dengan ternak sulit
diperhitungkan. Hal ini disebabkan penggunaan air pembersih tdak menggunakan keran
pengatur, sehingga air terus mengalir selama pemotongan tanpa terkendali.
3.3.2. Darah
Setiap pemotongan seekor sapi, petugas pemotong telah menyiapkan drum-drum untuk
menampung darah dengan ukuran 20 liter. Mulai dari proses penggantungan sapi hingga

pembedahan sapi, petugas terus mengikuti dan menampung darah dari sapi tersebut. Darah
yang tidak tertampung adalah darah semburan pertama saat pemotongan yang jumlahna lebih
kurang 5 liter.
3.3.3. Isi Rumen dan Intestinal
Isi rumen walaupun didapaatkan dari ternak yang sehat juga ditemukan bakateri, virus
dan parasit (cacing) yang jumlahnya tidak sedikiit. Oleh karena itu, rumen dan intensial tidak
bisa dibuang sembarangan karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan yang
membawa penyakit bagi manusia.
3.4. Langkah Pengolahan Limbah RPH
3.4.1. Penangan Limbah Padat
Menurut Sahwal et al., (1993) limbah padat yang dihasilkan dari RPH dapat ditangani
agar tidak mencemari lingkungan dengan cara:
a. Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN,
vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan
esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun
didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak
sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah
banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi
secara anaerob.
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti menghasilkan
biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti
feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% +
isi rumen 50%.
b. Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik
Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk organik
dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk organik. Penggunaan
pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur hara pada tanah juga dapat
meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah dan memperbaiki struktur tanah tersebut.
c. Pemanfaatan Untuk Biogas
Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan
menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang

dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk
menghasilkan bahan bakar biogas. Untuk mengurangi pencemaran yang dihasilkan dari
ternaknya, beliau mengolah limbah sapi-sapinya menjadi biogas untuk bahan baku energi,
dan sisanya dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. Kotoran ternak ruminansia memang sangat
baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas. Ternak ruminansia mempunyai
sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya
yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi.
Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa
yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung
22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik,
1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K .
Biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan
hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas
metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Biogas memiliki nilai kalor yang cukup tinggi,
yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor
8900 kkal/m3. Produksi biogas sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak,
penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima
orang per hari.
Pembentukan biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga
tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis
terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang
komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer.
Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap
hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari
gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat,
alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak.
3.4.2. Limbah Cair
Beberapa sifat limbah cair yang perlu diketahui antara lain volume aliran. konsentrasi
organik, sifat-sifat karakteristik dan toksisitas. Pengukuran BOD dan COD adalah salah satu
parameter pengukuran terhadap kadar organik dari limbah. Apabila limbah cair mempunyai
COD tinggi dan BOD rendah maka studi toksisitas mungkin diperlukan. Untuk menangani
limbah yang dihasilkan oleh kegiatan RPH, maka ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan

yaitu identifikasi limbah, karakterisasi dan pengolahan limbah. Hal ini haruss dilakukan agar
dapat ditentukan suatu bentuk penanganan limbah RPH yang efektif (Alfi et al., 2010).
Menurut Suparman (2001) penangan limbah cair dapat dilakukan dengan cara:
a. Pengenceran atau Dilution
Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian baru
dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti
makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu
banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula maka cara ini tidak dapat
dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya bahaya
kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya
menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan
sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.
b. Kolam Oksidasi atau Oxidation Ponds
Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang
(algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke
dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan
dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah
pemukiman dan di daerah yang terbuka sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
Cara kerjanya untuk kolam oksidasi atau Oxidation Ponds adalah sebagai berikut:

Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar
matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dengan butir khlorophylnya
dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari

sehingga tumbuh dengan subur.


Pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh
chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 atau oksigen. Kemudian
oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat

organik yang terdapat dalam air buangan disamping itu terjadi pengendapan.
Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan berkurang sehingga relatif

aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air seperti kali, danau, sungai.
c. Irigasi
Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan merembes
masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu
air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan

sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari
rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainnya di mana
kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman.
3.5. Kadar BOD dan COD Limbah Cair RPH
3.5.1. BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD (Biological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
tumbuhan dan hewan air untuk dapat bertahan hidup didalam air. Semakin banyak polutan
organik didalam air maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan oleh organisme hidup
akautik.
3.5.2. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengurangi seluruh bahan organik yang terkandung didalam air. Angka COD merupakan
ukuran pencemaran oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses
mikrobiologi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air.

Berikut tabel kadar BOD dan COD limbah cair dari rumah potong hewan berdasarkan
Permenlh No 02 Tahun 2006:

BAB IV
KESIMPULAN
1. Rumah potong hewan atau sering disingkat dengan RPH adalah suatu bangunan
dengan desain dan kontruksi khusus agar memenuhi persyaratan untuk tempat
pemotongan hewan (Permeneg lingkungan hidup, 2006).
2. Limbah RPH ini tergolong kedalam limbah organik yang berupa darah, lemak, tinja,
urin, rumen dan usus, bila limbah ini tidak dikendalikan secara maksimal dan baik
maka akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.
3. BOD (Biological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh
tumbuhan dan hewan air untuk dapat bertahan hidup didalam air. Semakin banyak
polutan organik didalam air maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan oleh
organisme hidup akautik.
4. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengurangi seluruh bahan organik yang terkandung didalam air. Angka COD
merupakan ukuran pencemaran oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat
dioksidasi melalui proses mikrobiologi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen
terlarut didalam air.

DAFTAR PUSTAKA
Asdar, Z. 2014. ANALISIS PROSES PENGELOLAAN PEMOTONGAN SAPI
DAN KEBAU DI RUMAH POTONG HEWAN TAMANGAPA KECAMATAN
MANGGALA MAKASSAR. Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin.

Jenie. B.S.L. dan W.P.Rahayu. 1993. PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI


PANGAN. PUSAT ANTAR. UNIVERSITAS PANGAN DAN GIZI, IPB.
Laksmi, S. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan, Kanisius, Yogyakarta
Padmono, D. 2005. ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH RUMAH
POTONG HEWAN- CAKUNG ( SUATU STUDI KASUS). Penelitian di pusat
pengkajian dan penerapan teknologi lingkungan.
Permenlh RI. 2006. PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN
HIDUP NOMOR 02 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU BAGI KEGIATAN AIR
LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN. hal. 1 hal. 9.
Sanjaya, A.W., Sudarwanto, M., dan Pribadi, E. S. 1996. PENGELOLAAN
LIMBAH CAIR RUMAH POTONG HEWAN DI KABUPATEN DATI II BOGOR.
Tugas Akhir, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Bogor, hal. 1 hal. 9.