Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH METODE TPR (TOTAL PHYSICAL RESPONSE) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS PADA MATERI POKOK ACTIVITY SISWA KELAS III MI BADRUSSALAM SURABAYA

PAPER

PENGARUH METODE TPR (TOTAL PHYSICAL RESPONSE) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS PADA MATERI POKOK ACTIVITY SISWA

Oleh :

Nur Indria Ningsih

071024006

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

2013

PENGARUH METODE TPR (TOTAL PHYSICAL RESPONSE) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS PADA MATERI POKOK ACTIVITY SISWA KELAS III MI BADRUSSALAM SURABAYA

Nur Indria Ningsih 1 , Prof. Dr. Rusijono, M.Pd. 2 Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya C_r03t@yahoo.com 1

Abstrak: Metode Total Physical Response (TPR) adalah metode pembelajaran yang efektif diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris terutama untuk siswa setingkat SD/MI. Metode pembelajaran ini lebih menekankan pada keaktifan siswa, yakni kegiatan langsung yang berhubungan dengan kegiatan fisik (physical) dan gerakan (movement). Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di MI Badrussalam Surabaya belum optimal karena proses pembelajarannya masih berorientasi pada keaktifan guru sebagai pengajar, dengan demikian upaya inovasi dan kreatif yang mengarah kepada pencapaian kompetensi materi secara mutlak diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut diantaranya dengan menerapkan metode pembelajaran TPR (Total Physical Response) dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah metode penelitian eksperimen semu dengan desain kedua yaitu one group pretest-posttest design. Subyek penelitian adalah siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya yang berjumlah 32 siswa. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan tes. Jenis data berupa data kuantitatif yaitu skor hasil observasi penilaian terhadap kegiatan mengajar oleh guru dan tes hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif, dengan menggunakan rumus prosentase penskoran. Hasil yang diperoleh dari data observasi dalam penelitian ini adalah penerapan metode TPR (Total Physical Response) hasilnya menunjukkan 88,88%, maka dapat dikategorikan dalam kategori baik sekali. Hasil analisis data pada bab IV, diketahui bahwa terdapat kenaikkan yang signifikan antara hasil sebelum pembelajaran dan setelah pembelajaran, hal ini dibuktikan melalui tes uji-t yang diperoleh nilai 8,93 dengan db 31 taraf signifikan 5%, sehingga diperoleh t tabel 2,052. Dan diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 8,93>2,052.Oleh sebab itu, secara umum metode pembelajaran TPR (Total Physical Response) tersebut efektif digunakan sebagai metode pembelajaran Bahasa Inggris kelas III MI Badrussalam Surabaya. Sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya.

Kata

Kunci:

penerapan

metode

pembelajaran

TPR

meningkatkan hasil belajar siswa.

(Total Physical Response) dapat

1.

PENDAHULUAN

Bahasa Inggris adalah bahasa

yang sangat penting dalam dunia internasional khususnya di era

globalisasi.

Peran

bahasa

Inggris

penting sekali dalam menguasai ilmu komunikasi dan berinteraksi langsung dengan dunia global. Selain itu, kedudukan bahasa Inggris semakin menguat karena bahasa tersebut

dipakai dalam semua bidang seperti:

ilmu pengetahuan dan teknologi, komunikasi, politik, ekonomi, perdagangan, perbankan, budaya, seni dan film. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Inggris semestinya memang harus di berikan sejak usia dini, demi mempersiapkan diri siswa untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan bahasa Inggris

di tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa yang digunakan untuk menyertai tindakan serta untuk interaksi yang bersifat here and now, dengan topik pembicaraan berkisar pada hal-yang ada dalam konteks situasi.

Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia saat ini diberikan seoptimal mungkin, akan tetapi kurang merata. Masih terdapat perbedaan antara pembelajaran bahasa Inggris di sekolah perkotaan dan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah pinggiran. Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah perkotaan ditunjang dengan fasilitas-fasilitas yang sangat lengkap, guru yang sudah sangat profesional, buku penunjang, bahkan tak jarang juga sekolah perkotaan yang menyediakan ruangan khusus sebagai ruang laboratorium bahasa Inggris. Hal ini berpengaruh besar pada hasil belajar bahasa Inggris para siswa di sekolah tersebut. Sedangkan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah pinggiran yang mempunyai fasilitas terbatas, bahkan hanya buku dan guru sebagai panduan mereka, buku pun hanya buku teks dan lembar kerja siswa (LKS) yang diberikan sebagai panduan dalam pelajaran bahasa Inggris saja. Sehingga hasil belajar mata pelajaran bahasa Inggris yang diperolehpun rata-rata dinilai kurang. MI Badrussalam Surabaya adalah sekolah pinggiran yang berada di daerah sebelah barat wilayah Surabaya, pembelajaran bahasa Inggris yang di terapkan di kelas III MI Badrussalam Surabaya masih kurang efektif karena pembelajarannya masih berorientasi pada keaktifan guru sebagai pengajar, berdasarkan hasil

observasi dapat dikatakan bahwa siswa menunjukkan rasa antusiasnya pada awal pembelajaran, akan tetapi hal ini tidak berlangsung lama, masalah pembelajaran yang dialami siswa adalah siswa kurang terbiasa melakukan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris terutama saat mata pelajaran bahasa Inggris berlangsung, sehingga siswa merasa kesulitan dalam memahami apa yang di ajarkan oleh guru, dan hal ini berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yakni nilai siswa kelas III dalam pembelajaran bahasa Inggris dari 32 yaitu yang mendapat nilai < 60 ada 16 siswa.

Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia saat ini sudah cukup baik, hal ini dapat dilihat dengan pembelajaran bahasa Inggris yang sudah banyak diberikan pada usia dini, tak jarang lagi siswa TK (Taman Kanak-kanak) diberikan pembelajaran bahasa Inggris meskipun hanya sekedar dalam bentuk nyanyian atau penyajian gambar Meningkatnya hasil belajar adalah salah satu bentuk tercapainya tujuan pembelajaran, sehingga diperlukan adanya sesuatu yang dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris pada siswa dengan keterbatasan yang ada demi mencapai tujuan pembelajaran yang di harapkan. Joni (1992/1993) dalam Sri Anitah (2008:1.24) mengemukakan bahwa yang menjadi acuan utama dalam penentuan strategi pembelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, segala kegiatan pembelajaran yang dilakukan yang tidak berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran tidak dapat dikategorikan sebagai strategi pembelajaran. Metode pembelajaran

adalah salah satu hal yang sangat penting dalam strategi pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran. Joni (1992/1993) dalam Sri Anitah (2008:1.24) mengemukakan bahwa metode adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang dibutukan dalam pembelajaran bahasa Inggris kelas III MI Badrussalam Surabaya adalah metode pembelajaran yang berorientasi pada keaktifan siswa, sehingga siswa ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran Total Physical Response (TPR) adalah metodologi untuk mengajar bahasa dengan melibatkan siswa dalam aktivitas fisik. Karena metode Pembelajaran Total Physical Response (TPR) menerapkan pendekatan pembelajaran siswa aktif, dimana pembelajarannya lebih mengutamakan kegiatan langsung berhubungan dengan kegiatan fisik (physical) dan gerakan (movement). Dalam Total Physical Response (TPR) siswa belajar bereaksi terhadap perintah yang diberikan baik oleh guru atau sesama siswa. Asher juga mendeskripsikan metode pembelajaran Total Physical Response (TPR) sebagai metode pembelajaran yang dimulai dengan menerapkan periode kebisuan atau yang biasa disebut “silent period”, artinya selama periode kebisuan anak- anak diberikan pemahaman melalui perintah yang diberikan oleh guru, pemahaman tidak diberikan dengan cara memberikan terjemahan dari bahasa yang dipelajari, akan tetapi dengan cara percakapan bahasa tubuh

“body language conversations”

(Berty

Segal

Cook.

The

Total

Physical

Response, know world-wide as TPR:

http:www.tprsource.com/asher.htm ) (28 November 2012)

2. KAJIAN PUSTAKA

TPR (Total Physical Response) adalah sebuah metode pengajaran bahasa yang dikembangkan oleh James Asher, seorang profesor emeritus psikologi di San Jose State University. Hal ini didasarkan pada koordinasi bahasa dan gerakan fisik. Dalam TPR (Total Physical Response), instruktur atau guru memberikan perintah kepada siswa dalam bahasa asing, siswa merespon dengan seluruh gerakan tubuh atau tindakan. TPR (Total Physical Response) adalah contoh dari pendekatan pemahaman dengan pengajaran bahasa asing. Metode dalam pendekatan pemahaman bahasa Inggris menekankan pentingnya mendengarkan pada pengembangan bahasa Inggris, dan tidak memerlukan output diucapkan pada tahap awal belajar, meskipun diharapkan siswa dapat melakukan itu dengan disertai gerakan fisik. Dalam metode TPR (Total Physical Response) siswa tidak dipaksa untuk langsung bisa berbicara, sebaliknya guru menunggu sampai siswa memperoleh bahasa yang cukup melalui mendengarkan sampai mereka mulai berbicara spontan. Secara khusus Asher mengatakan bahwa pelajar terbaik menginternalisasikan bahasa ketika mereka merespon dengan gerakan fisik sebagai tanda bahwa mereka mengerti dan paham tentang pelajaran yang diberikan.

(Margarent Silver,and friends. 2003. The Total

Physical

Response

(or

TPR).

http:www.tpr_world.com/asher.htm ) (29 November 2012)

Teori

yang

mendasari

pembelajaran

metode

TPR

(Total

Physical Response) terhadap hasil belajar bahasa Inggris pada materi pokok Activity siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya adalah Teori Behaviouristik. Teori behaviourisme adalah teori yang dikembangkan oleh B.F Skinner, yakni teori yang melihat pembelajaran hanya sebagai akibat dari pembentukan imitasi, praktik, penguatan, dan kebiasaan. Menurut behaviourisme, seseorang akan menunjukkan perilaku tertentu karena imitasi. Jika ia kemudian menerima umpan balik yang cukup positif, orang ini akan terus menunjukkan perilaku semacam ini dan akhirnya tindakan akan berkembang menjadi sebuahkebiasaan. Perkembangan bahasa dipandang sebagai akibat dari pembentukan kebiasaan, pandangan pembelajaran menjadi jelas dalam TPR berkaitan dengan fokus pada kinerja oleh guru dan imitasi oleh siswa. Belajar menurut pandangan behaviouristik juga mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon (Budianingsih, 2005:20). Skinner (dalam Dimyati dan Mudjiono 2010) juga menjelaskan bahwa dalam belajar terdapat beberapa hal yang ditemukan, yaitu kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pebelajar, respon si pebelajar, konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut.

Edgar dale (dalam Dimyati 2010) mengemukakan bahwa dalam belajar hal yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung, karena tidak hanya sekedar mengamati tetapi terlibat langsung dalam perbuatan dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Prinsip pengulangan juga masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran,Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk mengerjakan

latihan yang berulang-ulang untuk satu macam permasalahan. Dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan metode pembelajaran TPR (Total Physical Response) ini materi diberikan melalui gerakan langsung atau pengalaman langsung dan diberikan berulang-ulang, materi yang diberikan dapat berupa contoh atau demonstrasi gerakan yang di selanjutnya di jabarkan sebagai bentuk perintah yang diberikan secara berulang-ulang dan selanjutnya direspon dengan gerakan fisik oleh siswa, perintah atau materi yang diberikan secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan sampai siswa mengerti dan merespon dengan gerakan fisik mereka. Pada dasarnya ada beberapa penekanan yang dikemukakan oleh Asher agar anak memiliki pemahaman bahasa asing yang disebut sebagai pendekatan pemahaman (Comprehension Approach) yaitu:

  • a. Kemampuan pemahaman diikuti dengan gerakan tubuh mereka

  • b. Pengajaran berbicara

harus ditunda dulu sebelum kemampuan pemahaman anak sudah terbangun

  • c. Keahlian

didapat

melalui mendengar yang ditransfer

kepada keahlian lain

  • d. Pengajaran

harus

meminimalkan kadar stres pembelajar. Penekanan pada pemahaman (Comprehension) dan menggunakan gerakan fisik dalam mengajar bahasa asing pada level pengenalan sebenarnya merupakan tradisi yang dilakukan sejak lama dalam pembelajaran bahasa yang disebut sebagai “Based Teaching Strategy” atau “English Trough Action”

yang kemudian berkembang menjadi “Total Physical Response (TPR)”.

Contoh pembelajaran dengan menggunakan metode ini adalah sebagai berikut: Ketika mengenalkan kata stand up (berdiri), guru mengatakan kata stand up sambil berdiri, semua anak ikut berdiri sambil mendengarkan (listening) kata stand up dan hal tersebut dilakukan berulang-ulang.

Kita tidak harus menekankan pengenalan bahasa tulis meskipun sekali-kali menuliskan bahasa tersebut, akan tetapi tidak menjadi keharusan. Kita bisa menguatkan pengenalan kata tersebut sambil bernyanyi dan sambil bergerak sesuai perintah lagu. Kegiatan pengenalan dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat berlangsung secara terus-menerus dan bertahap apalagi pembelajaran dengan cara menarik sehingga anak bisa senang dan ceria sehingga bisa memaksimalkan kemampuan belajar bahasa kedua anak sehingga akan muncul anak-anak yang kedepannya mampu dan fasih dalam berbahasa Inggris.

Eli Tohonan. 2007. Metode Total Physical Response dalam Pembelajaran Bahasa Inggris.

(20 November 2012).

Langkah-langkah dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode TPR (Total Physical Response) adalah sebagai berikut:

  • a. Guru memberikan kosa kata atau kata kerja baru dalam bahasa Inggris yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.

  • b. Guru

memberikan

pelatihan kepada siswa yang berhubungan dengan materi

  • c. Guru menyuruh siswa mendengarkan dan mengamati perintah atau pelatihan yang diberikan.

  • d. Materi yang dipelajari

diberikan secara tepat dan berulang-ulang.

  • e. Pemberian

kosakata

atau perintah baru diberikan secara

bertahap.

  • f. Apabila siswa mengalami kekeliruan atau kesalahan dalam berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris guru harus mentoleransi kesalahan mereka dan memberikan jawaban yang benar untuk mereka. Pada kawasan teknologi pembelajaran penerapan metode pembelajaran masuk dalam kawasan desain yaitu strategi pembelajaran. Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar. Strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pelajaran. Strategi pembelajaran adalah subdomain yang ketiga, yang didefinisikan sebagai spesifikasi untuk menyeleksi dan mempembelajarkan peristiwa dan kegiatan dalam suatu pelajaran (Seels & Richey, 1994). Secara praktek strategi pembelajaran berinteraksi dengan kondisi belajar. Hasil interaksi ini sering digambarkan oleh model pembelajaran, pemilihan model pembelajaran yang cocok bergantung pada kondisi belajar, yakni

karakteristik pebelajar, sifat isi, dan jenis tujuan belajar. (Rusijono dan Mustaji, 2008: 5) Menurut Isjoni (2009: 7), secara harfiah model pembelajaran adalah strategi yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar,

sikap belajar dikalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal. Model pembelajaran TPR (Total Physical Response) merupakan strategi pembelajaran yang digunakan guru dengan cara memberikan perintah kepada siswa dalam proses pembelajarannya. Penggunaan metode pembelajaran TPR (Total Physical Response) dalam memecahkan masalah pembelajaran merupakan suatu teori dan praktek bila digambarkan dalam kawasan teknologi pembelajaran.

3. METODOLOGI PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, maka penelitian dengan judul “Pengaruh Pengunaan Metode TPR (Total Physical Response) Terhadap Hasil Belajar Bahasa Inggris Pada Materi Pokok Activity Siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya” adalah metode penelitian eksperimen semu model kedua, yaitu one group pretest- postest design. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian yang dilakukan dengan tanpa melibatkan kelompok pembanding”. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Teknik analisis data untuk menghitung data hasil penelitian menggunakan rumus presentase.

   

f

 

P

=

x

 

_____

100%

 

N

Keterangan:

 

P

: prosentase nilai yang diperoleh

 

f

:frekuensi

yang

sedang

dicari

presentasenya

 

N

: Banyak individu/jumlah individu

 

(Sudijono 2006:40)

Sedangkan untuk mengetahui perubahan hasil belajar melalui pre test dan post test digunakan uji-t

T hitung =

T hitung =

Keterangan :

 

Md

: mean dari perbedaan pretest dan post test

Xd

: deviasi masing-masing subyek

 

∑x 2 d

:

perbedaan

standar

deviasi

dengan

N

mean deviasi : banyak subyek

 

db

: ditentukan dengan N-1 (Arikunto, 2006: 308)

4. HASIL DAN ANALISIS DATA

Penelitian ini dilaksanakan di MI Badrussalam Surabaya pada tanggal 3

Mei – 2 Juni 2012. Proses pelaksanaan dimulai dengan Melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran awal yang diberikan guru, kemudian Memberikan Pre-Test kepada siswa kelas III tentang materi “Activity”, setelah itu Melakukan penelitian terhadap pembelajaran siswa dengan menggunakan metode TPR. Tahap akhir untuk mengetahui pengaruh metode TPR terhadap hasil belajar siswa adalah dengan cara Memberikan Post- Test kepada siswa kelas III dan melakukan evaluasi.

Data yang di dapat dari penelitian ini adalah data hasil observasi dengan menggunakan rumus prosentase dan data hasil pre-test dan post-test terhadap siswa dengan menggunakan uji-t. Adapun hasil prosentase merupakan hasil dari angka prosentase setiap instrumen yang ada dalam setiap item observasi yaitu 88,88% yang berarti tergolong kriteria Baik Sekali.

Data hasil tes di gunakan untuk mengetahui perubahan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan berupa penerapan metode pembelajaran Total Physical Response (TPR) dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, Berdasarkan hasil pengolahan data diatas diketahui bahwa rata-rata kemampuan siswa sebelum diberikan perlakuan adalah 6l,6. Kemudian setelah diberi perlakuan dengan menggunakan metode pembelajaran TPR pada proses pembelajaran bahasa Inggris “Activity” meningkat 72,5. Selisih nilai pre test dan post test adalah 10,9 poin. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan pemahaman siswa terhadap pokok bahasan activity serta meningkatnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Inggris pokok bahasan activity.

Setelah diketahui selisih nilai pre test dan post test utuk mengetahui efektifitas atau pengaruh penerapan metode pembelajaran bahasa Inggris TPR (Total Physical Response) terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Inggris kelas III dilakukan penghitungan taraf signifikansi dengan menghitung t hitung (uji-t).

Dari hasil perhitungan didapatkan nilai t hitung sebesar 8,93 diketahui t tabel dengan jumlah data =32 ( db= N-1= 31) adalah

Pada taraf signifikansi 5 % t tabel = 2,052 Pada taraf signifikansi 1 % t tabel = 2,771 Berdasarkan penghitungan diatas diperoleh nilai t hitung > t tabel yaitu 8,93 > 2,052 dan 8,93 > 2,771. Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran bahasa Inggris TPR (Total Physical Response) efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris karena dapat meningkatkan hasil belajar pada materi pokok Activity siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh dari penerapan metode TPR (Total Physical Response) dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas III MI Badrussalam Surabaya, hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan dari hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan berupa penerapan metode TPR (Total Physical Response). Setelah diberikan perlakuan berupa penerapan metode TPR (Total Physical

Response)

hasil

belajar

bahasa

Inggris

siswa

menjadi

meningkat.

Sebelum

diberikan

perlakuan

rata-rata

nilai

tes

siswa adalah 6l,6 kemudian setelah diberi

perlakuan

nilai

tes

siswa

meningkat

menjadi

72,5.

Sedangkan

dari

hasil

observasi

proses

pembelajaran

bahasa

Inggris terhadap guru dengan

menggunakan metode pembelajaran TPR

(Total

Physical

Response)

dengan

menggunakan

rumus

prosentase

didapatkan hasil 88,8 %, maka

dikategorikan baik sekali.

DAFTAR PUSTAKA

Anitah

W,

Sri,

dkk.

2008.

Strategi

Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendidikan Praktek. Edisi

Revisi V. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto,

Suharsimi.

2004.

Prosedur

Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

 

Arikunto,

Suharsimi.

2006.

Prosedur

Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

 

Budiningsih,

Asri.

2005.

Belajar

dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Hamalik,

Oemar.

2006.

Proses

Belajar

Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Hamalik,

Oemar.

2010.

Psikologi

Belajar

Mengajar.

Bandung:

Sinar

Baru

Isjoni.

Algensindo. 2009. Pembelajaran

Kooperatif.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Marno dan Idris. 2009. Strategi & Metode

Pengajaran.

Media

Yogyakarta:

Ar-Ruzz

Masidjo, Ign. 2003. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.

Yogyakarta: Kanisius

Pribadi, Benny. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat

Rusijono

dan

Mustaji.

2008.

Penelitian

Teknologi Pembelajaran. Surabaya:

UNESA University Press

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Prenada Media Group

Jakarta: Kencana

Sanjaya,

Wina.

2008.

Perencanaan dan

Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group

Seels

and

Richey,

1994.

Teknologi

Pembelajaran.

Jakarta:

Unit

Percetakan

Universitas

Negeri

Jakarta

Sudijono,

Anas.

2006.

Pengantar

Statistik

Pendidikan.

Jakarta:

PT

Raja

Grafindo

Sugiyono.

2006.

Metode

Penelitian

Kuantitatif,

Kualitatif,

dan

R&D.

Bandung: Alfabeta

Sugiyono.

2007.

Metode

Penelitian

Kuantitatif,

Kualitatif,

dan

R&D.

Bandung: Alfabeta

Sugiyono.

2009.

Kuantitatif,

Metode

Kualitatif,

Bandung: Alfabeta

Penelitian

dan

R&D.

Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Uno,

Hamzah.

B.

2007.

Perencanaan

Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Warsita

Bambang.

2008.

Teknologi

Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta

Berty

Segal

Cook.

The

Total

Physical

Response, know world-wide as

TPR”. http:www.tprsource.com/asher.htm. (diakses 28 November 2012)

Margarent Silver, and friends. 2003. “The Total Physical Response (Or TPR)”. http:www.tpr_world.com/asher.htm. (diakses tanggal 29 November 2012)

Eli Tohonan. 2007. “Metode Total Physical Response dalam Pembelajaran Bahasa Inggris”. http://www.bpplsp- reg-1.go.id/buletin/read.php. (diakses tanggal 20 November 2012).